Anda di halaman 1dari 8

KONSEPSI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN

DI KABUPATEN KARANGASEM

Putu Indra Yoga Sariasa

Mahasiswa Magister Perencanaan Desa dan Kota Universitas Udayana


indrasariasa@gmail.com

ABSTRAK
Kawasan agropolitan diartikan sebagai sistem fungsional desa-desa yang ditunjukkan oleh adanya
hirarki keruangan desa yaitu pusat-pusat agropolitan dan kawasan produksi (hinterland) disekitarnya.
Strategi dalam penerapan konsep agropolitan adalah meningkatkan keterkaitan antara desa dan kota
yang bersifat interdependensi/timbal balik dan saling membutuhkan, dimana kawasan pertanian di
perdesaan mengembangkan usaha budidaya dan produk pengolahan skala rumah tangga, sebaliknya
kota menyediakan fasilitas untuk berkembangnya usaha budi daya dan agribisnis seperti penyediaan
sarana pertanian. Untuk tercapainya keterkaitan tersebut diperlukan suatu hirarki yang jelas dan
berjenjang antara pengembangan komoditas unggulan sebagai basis kegiatan ekonomi didalam
kawasan agropolitan dengan struktur dan skala ruang yang dibutuhkan. Struktur tata ruang yang
dimaksud berupa orde-orde kota tani yang berfungsi sebagai simpul jasa koleksi dan distribusi dengan
skalanya masing-masing dan dihubungkan oleh jaringan transportasi yang sesuai (Uton Rustan
Harun, hal 22-24). Dari usaha ini diharapkan, kesatuan ekonomi wilayah dapat terbentuk melalui
integrasi antar kegiatan produksi, pengolahan dan pemasaran.
Studi ini mengambil kasus penelitian di Kabupaten Karangasem dengan harapan melalui pusat
pengembangan agropolitan yang terintegrasi secara ruang dengan kawasan perdesaan sebagai
hinterlandnya ini mampu meningkatkan struktur perekonomian wilayah terutama kawasan perdesaan
di Kabupaten Karangasem.
Kata Kunci : pertanian, agropolitan, wilayah, struktur, ruang

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang dan Permasalahan
Secara struktur ekonomi, Kabupaten Karangasem masih tertinggal dibandingkan dengan
daerah-daerah lain di Propinsi Bali. Sektor industri pariwisata yang menjadi basis ekonomi
ternyata tidak memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap sumber pendapatan
ekonomi wilayah maupun kesejahteraan masyarakat Kabupaten Karangasem secara
umum. Berdasarkan PDRB Kabupaten Karangasem tahun 2012 (atas dasar harga konstan),
kontribusi sektor industri pariwisata hanya sebesar 15,97% dibandingkan sektor pertanian
yang mencapai 27,94%. Tingginya potensi pertanian yang dimiliki ternyata belum mampu
dimanfaatkan dengan baik untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.
Kegiatan pertanian di Kabupaten Karangasem yang berjalan selama ini hanya bergerak
pada usaha budidaya (on farm) saja tanpa diikuti dengan pembangunan agribisnis yang
dapat mendayagunakan keunggulan komparatif yang dimiliki menjadi keunggulan bersaing
mulai dari kegiatan pertanian hulu hingga hilir. Kegiatan industri yang mengolah hasil-hasil
produksi pertanian di Kabupaten Karangasem sebagian besar masih berada pada industri-
industri berskala kecil dan menengah. Pengelolaan hasil pertanian oleh industri-industri
rumah tangga tersebut masih bersifat petik dan jual, belum sampai kepada tahap yang lebih
meningkatkan nilai produk pertanian yaitu olah, kemas, dan jual. Walaupun ada, hanya
sebatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan lokal (subsisten). Tidak adanya sarana dan
prasarana penunjang menyebabkan sulitnya didalam menjamin peningkatan produktifitas,
diferensiasi produk pertanian yang bernilai tambah dan pemasaran hasil pertanian dalam
skala wilayah ekonomi yang lebih luas.
Kabupaten Karangasem memiliki beberapa produk pertanian yang bernilai ekonomis tinggi,
bahkan ada yang sudah dikenal secara nasional seperti salak dan jeruk Bali. Sub sektor
pertanian yang menjadi unggulan Kabupaten Karangasem terletak pada sub sektor
tanaman perkebunan, sub sektor tanaman pangan dan sub sektor perikanan. Selain itu,
potensi yang dimiliki juga didukung oleh kondisi tanah yang subur, kecenderungan
penggunaan lahan yang masih tinggi di sektor pertanian serta sistem irigasi yang baik
(subak), dan beberapa komoditas pertanian memiliki potensi pasar yang besar seperti salak,
jambu mete, vanili, cengkeh dan manggis. Namun, untuk kegiatan pengumpulan dan
pengolahan hasil produk pertanian sebagian besar terpusat di wilayah perkotaan yaitu
Amlapura dan daerah-daerah lain di luar Kabupaten Karangasem (Kota Denpasar dan
Kabupaten Badung), melalui industri pengolahan yang dapat meningkatkan produk
komoditas pertanian menjadi bernilai tambah. Dominansi wilayah perkotaan dalam
pertumbuhan ekonomi wilayah menyebabkan wilayah-wilayah lain menjadi sulit
berkembang terutama wilayah perdesaan. Kondisi ini memerlukan adanya pusat-pusat
distrik agropolitan yang berfungsi sebagai pusat pengembangan perwilayahan kegiatan
usaha pertanian yaitu pusat peningkatan produksi pertanian, pusat kegiatan agro-industri,
dan pusat pelayanan yang meliputi kegiatan usaha yang menunjang pemasaran barang
input dan output pertanian (Uton Rustan Harun, hal 24). Diharapkan melalui pusat
pengembangan agropolitan yang terintegrasi secara ruang dengan kawasan perdesaan
sebagai hinterlandnya ini mampu meningkatkan struktur perekonomian wilayah terutama
kawasan perdesaan di Kabupaten Karangasem.
Dengan demikian untuk mencapai maksud diatas, perlu adanya peningkatan fungsi wilayah
perdesaan dalam pengembangan kawasan pertanian yang memadukan sistem usaha tani
yang tidak hanya berorientasi kepada produksi melainkan juga berorientasi pasar melalui
pembentukkan struktur tata ruang yang mendukung pengembangan kawasan agropolitan
yang terintegrasi.

2. Tujuan dan Sasaran Studi


Studi ini bertujuan untuk merumuskan konsep struktur tata ruang pengembangan wilayah
agropolitan yang sesuai dengan potensi-potensi pertanian yang dimiliki oleh Kabupaten
Karangasem. Untuk mencapai tujuan diatas, maka sasaran studi ini adalah:
1. mengidentifikasi komoditas produk pertanian yang potensial untuk dikembangkan
ditinjau dari aspek penyediaan (supply) dan aspek permintaannya (demand).
2. mengidentifikasi kecamatan-kecamatan yang mempunyai potensi tinggi untuk dijadikan
sebagai pusat pelayanan kegiatan usaha tani (pusat agropolitan) berdasarkan
keunggulan kompetitif lokal yang dimiliki di Kabupaten Karangasem.
3. merumuskan konsep spasial pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten
Karangasem berdasarkan potensi perwilayahan komoditas produk pertanian dan pusat-
pusat pelayanannya (pusat agropolitan).

TINJAUAN TEORI
Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengimplementasikan konsep agropolitan
secara spasial pada saat ini adalah mengintegrasikan antara desa dan kota sebagai
keterkaitan ekonomi yang saling membutuhkan dan bersifat interdependensi. Keterkaitan
dan interdependensi menurut Mike Douglass (1998) menempatkan fungsi kota sebagai
pusat transportasi dan perdagangan pertanian, sedangkan fungsi desa sebagai produksi
dan produktivitas pertanian. Desa dan kota merupakan satu kesatuan muatan fungsional
wilayah yang seharusnya saling bersinergi dan melengkapi (komplementer). Herman
Haeruman (2001) menjelaskan bahwa adanya desa dan kota dalam perwujudan daerah
merupakan dampak dari berbagai kegiatan sosial dan ekonomi yang terbentuk dalam suatu
wilayah. Sistem spasial berguna untuk menyebarkan pertumbuhan ekonomi dan sosial yang
lebih baik dan menyediakan kebutuhan jasa dan barang yang sesuai (ESCAP, hal 98).
Strategi pembangunan pun harus difokuskan untuk mewujudkan pertumbuhan melalui
pemerataan (growth trough equity bukan equity trough growth) melalui keterkaitan antara
desa dan kota. Hal inilah yang merupakan kunci didalam mewujudkan pembangunan
ekonomi wilayah yang adil dan merata.
Rondinelli telah menyadari kegagalan dari teori pusat-pusat pertumbuhan yang disebabkan
karena tidak adanya sistem yang bekerja sebagai kota-kota kedua yang mendukung fungsi-
fungsi kegiatan ekonomi dan administratif yang terdesentralisasi. Aliran produksi dan jasa
hanya berjalan searah dari desa menuju kota akibat konsep pembangunan yang hanya
melihat pada satu sisi, pembangunan kota atau pembangunan desa (dikotomi
pembangunan). Kota kedua disini berperan menghubungkan kegiatan ekonomi antara desa
sebagai wilayah hinterland dan kota utama selaku kosumen yang merupakan pasar dari
produk-produk pertanian yang dihasilkan oleh desa. Menurut Rondinelli, keterkaitan antara
desa dan kota dapat dianggap pendorong pembangunan yang meluas. Keterkaitan tersebut
bersifat krusial karena nilai tambah (surpluses) dari pasar-pasar utama produk pertanian
berada di perkotaan, input-input pendukung pertanian datang dari organisasi yang ada di
kota, para pekerja mencari pekerjaan di kota yang semakin bertambah tinggi pada saat
rendahnya produktivitas tenaga kerja pertanian di perdesaan, dan banyak fasilitas-fasilitas
pelayanan seperti fasilitas sosial, kesehatan, pendidikan dan lain-lain yang memenuhi
kebutuhan dasar manusia didistribusikan dari pusat-pusat kota (Rondinelli, 1983). Selain itu,
menurut Antonius Tarigan (2003) pendekatan keterkaitan desa-kota dalam pembangunan
wilayah perdesaan juga dapat menaikkan nilai tukar produk/jasa masyarakat perdesaan
melalui : (1) upaya memindahkan proses produksi dari kota ke desa untuk meningkatkan
produktivitas dan nilai tambah produk/jasa yang dihasilkan oleh masyarakat perdesaan
melalui bantuan modal, sarana produksi dan pelatihan; (2) memperpendek jalur produksi,
distribusi, dan pemasaran produk/jasa masyarakat untuk mengurangi biaya ekonomi tinggi
melalui pembentukan satuan partisipatif bagi pengembangan produk/jasa secara spesifik;
(3) memberikan akses yang lebih besar bagi masyarakat perdesaan terhadap faktor-faktor
produksi barang/jasa seperti modal, bahan baku, teknologi, sarana dan prasarana.
Pembangunan agropolitan yang terintegrasi bertujuan untuk menghasilkan sistem ruang
terencana yang berperan didalam melayani dan menghubungkan berbagai aktivitas sosial
dan ekonomi dari manusianya. Sistem ruang ini membentuk keterkaitan antar lokasi-lokasi
secara berhirarki (berjenjang) berupa struktur ruang agropolitan. Menurut ESCAP (1979 :
hal. 63) jenjang pusat-pusat yang melayani wilayah pembangunan pertanian terdiri dari kota
regional (regional city), kota distrik (district town), dan kota lokal (local town). Masing-masing
pusat ini memiliki fungsi yang didasarkan kepada kemampuan melayani sejumlah ukuran
penduduk. Apabila dikaitkan dengan konsep secondary cities pemikiran Rondinelli, maka
kota kedua tersebut adalah kota distrik. Rondinelli dan Ruddle (ESCAP, 1979 : hal 65)
mengemukakan bahwa kota distrik merupakan saluran utama didalam memenuhi
kebutuhan dasar barang dan jasa penduduk (petani) sebagai pengganti dari hasil-hasil
pertanian yang mereka jual. Dalam konsep agropolitan, kota kedua ini dapat dianggap
sebagai lokasi pusat-pusat pelayanan pertanian dan perdesaan atau pusat agropolitan.
Pusat agropolitan bersama dengan unit-unit pengembangan (setingkat kecamatan)
membentuk satu kawasan agropolitan, dimana masing-masing memiliki fungsi sebagai
berikut (Douglass, 1986; diambil dari Ruchyat Deni Djakapermana, 2003 : hal. 7) :
1. Pusat agropolitan, berfungsi sebagai :
a. Pusat pedagangan dan transportasi
b. Penyedia jasa pendukung pertanian
c. Pasar konsumen produk non-pertanian
d. Pusat industri pertanian (agro-based industry)
e. Penyedia pekerjaan non pertanian
f. Pusat agropolitan dan hinterlandnya terkait dengan sistem permukiman nasional,
propinsi, dan kabupaten
2. Unit-unit kawasan pengembangan, berfungsi sebagai :
a. pusat produksi pertanian
b. intensifikasi pertanian
c. pusat pendapatan perdesaan dan permintaan untuk barang-barang dan jasa non
pertanian
d. produksi tanaman siap jual dan diversifikasi pertanian

Dalam konsep struktur tata ruang agropolitan (Uton Rustan Harun, 2002 : hal. 23-24),
kawasan agropolitan dibagi kedalam orde-orde kota tani dimana orde tertinggi atau orde
pertama merupakan kota tani utama, orde kedua adalah pusat distrik agropolitan, dan orde
ke tiga adalah pusat satuan kawasan pertanian. Orde-orde tersebut membentuk struktur
hirarki sistem kota-kota agropolitan yang berfungsi sebagai simpul jasa koleksi dan distribusi
dengan skalanya masing-masing. Pusat agropolitan (orde kedua) yang berada didalam
sistem kota-kota agropolitan berperan didalam menghubungkan aktivitas-aktivitas pertanian
antara pusat satuan kawasan pertanian (orde ketiga) dengan kota tani utama (orde kesatu)
secara fungsional dan ekonomis. Pusat agropolitan merupakan inti dari pertumbuhan
kawasan agropolitan yang akan menumbuhkembangkan berbagai kegiatan pertanian yang
terspesialisasi pada wilayah dengan hirarki yang lebih rendah serta membangkitkan
hubungan antara kota dan desa. Perencanaan ruang dapat mempercepat pengembangan
pusat perdesaan, yang mana merupakan elemen terpenting dalam tercapainya penjalaran
perkembangan sosial dan ekonomi (ESCAP, 1979 : hal. 97).

PENENTUAN PERWILAYAHAN KEGIATAN USAHA DAN PUSAT-PUSAT


AGROPOLITAN
1. Pemilihan Komoditas Unggulan
Sebagai awal pemilihan dilakukan
dengan analisis LQ dan Shift Share
terhadap PDRB Kabupaten
Karangasem dan Propinsi Bali yang
menunjukkan bahwa sub sektor
pertanian yang berpotensi untuk
dijadikan sebagai basis ekonomi
pembangunan wilayah adalah sub
sektor pertanian tanaman pangan
dan hortikultura dan sub sektor
perkebunan. Masing-masing sub
sektor memiliki komoditas unggulan
yang dipilih berdasarkan
karakteristik sisi penyediaan Gambar 1. Skema Pemilihan
(supply side) dan sisi penawaran Komoditas Unggulan
(demand side). Namun untuk Sumber : Analisa Pribadi, 2014
melihat jenis komoditas apa saja
yang dapat djadikan sebagai komoditas unggulan di Kabupaten Karangasem diperlukan
kajian yang lebih mendalam baik dari sisi supply maupun demand (lihat gambar 1) yang
menghasilkan 5 komoditas unggulan yaitu 3 komoditas unggulan dari sub sektor tanaman
tanaman pangan dan hortikultura meliputi jagung, ubi kayu, dan salak dan 2 komoditas
unggulan dari sub sektor tanaman perkebunan yaitu kelapa dalam dan jambu mete.

2. Penetapan Perwilayahan Kegiatan Usaha


Perwilayahan kegiatan usaha digunakan untuk menentukan kawasan agropolitan yaitu
kawasan terpilih dari kawasan agribisnis atau sentra produksi pertanian terpilih dimana pada
kawasan tersebut terdapat kota pertanian (agropolis) yang merupakan pusat
pengembangan agribisnis dan memberikan kontribusi yang besar terhadap mata
pencaharian dan kesejahteraan masyarakatnya. Menurut Soekartawi, perwilayahan
kegiatan usaha untuk masing-masing komoditas unggulan juga merupakan salah satu
bentuk diversifikasi pertanian disamping skala ekonomi, efisiensi, keterpaduan dan
teknologi. Kriteria yang dipakai didalam perwilayahan kegiatan usaha pertanian sebagai
kawasan agropolitan di Kabupaten Karangasem adalah kesamaan (homogenitas)
kesesuaian lahan, tingkat produktivitas masing-masing kecamatan untuk tiap-tiap komoditas
unggulan, dan rekomendasi wilayah pengembangan kawasan pertanian menurut RTRW
Kabupaten Karangasem. Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut diperoleh hasil analisis
perwilayahan kegiatan usaha yang menggambarkan kelompok-kelompok kecamatan yang
berpotensi dijadikan sebagai kawasan agropolitan di Kabupaten Karangasem.
Pengelompokkan perwilayahan kegiatan usaha ini dibagi 3 (tiga) kawasan agropolitan yaitu
:
a. Kawasan Agropolitan I
 Terdiri dari kecamatan-kecamatan Kubu, Abang dan Karangasem
 Jenis komoditas unggulan adalah jambu mete, kelapa, jagung dan ubi kayu
b. Kawasan Agropolitan II
 Terdiri kecamatan-kecamatan Bebandem, Manggis dan Sidemen
 Jenis komoditas unggulan adalah salak, kelapa, jagung dan ubi kayu
c. Kawasan Agropolitan III
 Terdiri dari kecamatan-kecamatan Rendang dan Selat
 Jenis komoditas unggulan adalah salak, kelapa, jagung, dan ubi kayu

Tabel 1. Pengelompokkan Produktivitas di Kabupaten Karangasem


Sumber : Analisa Pribadi, 2014
Produktivitas
No. Kecamatan Kategori
Kelapa Jambu Mete Jagung Ubi Kayu Salak
1. Rendang R R T T T T
2. Selat T R S T T T
3. Sidemen T R S S T T
4. Bebandem T S R R T S
5. Manggis T R S S S S
6. Karangasem R R R T R R
7. Abang T S R T R S
8. Kubu R T R R R R

3. Penentuan Pusat-Pusat Agropolitan


Suatu ruang berikut isinya dapat tumbuh dan berkembang layaknya sebuah organisme yang
mandiri memerlukan adanya inti yang mampu melayani dan menggerakkan/membangkitkan
berbagai aktivitas terkait didalamnya. Perwilayahan kegiatan usaha yang berbasiskan
komoditas unggulan membutuhkan adanya pusat-pusat pelayanan yang berfungsi sebagai
lokasi untuk pengembangan sistem dan usaha agribisnis. Dalam hal ini adalah aktivitas para
pelaku agribisnis mulai dari hulu sebagai sentra produksi hingga hilir sebagai sentra
pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Dalam konsep agropolitan, fungsi kota lebih
dititikberatkan sebagai pusat kegiatan non pertanian dan pusat administrasi, bukan sebagai
pusat pertumbuhan. Sebaliknya, kawasan agropolitan justru yang memiliki fungsi sebagai
unit pengembangan. Faktor-faktor yang digunakan didalam penentuan pusat agropolitan ini
adalah jumlah penduduk, tingkat keterpusatan (sentralistis), faktor ketersediaan sarana dan
prasarana transportasi, faktor kelengkapan fasilitas ekonomi, dan faktor kelengkapan
fasilitas sosial. Penilaian potensi pusat-pusat agropolitan untuk kelima faktor diatas
dilakukan dengan metode analisis skalogram sehingga diperoleh lokasi-lokasi strategis
sebagai pusat-pusat agropolitan dalam kawasan agropolitan di Kabupaten Karangasem,
yaitu :
a. Pusat agropolitan I terletak di Kecamatan Abang dengan wilayah pelayanan (kawasan
agropolitan I) meliputi Kecamatan Abang, Kubu dan Karangasem
b. Pusat agropolitan II terletak di Kecamatan Manggis dengan wilayah pelayanan
(kawasan agropolitan II) meliputi Kecamatan Bebandem, Manggis dan Sidemen
c. Pusat agropolitan III terletak di Kecamatan Selat dengan wilayah pelayanan (kawasan
agropolitan III) meliputi kecamatan Rendang dan Selat.

Tabel 2. Pengelompokkan Faktor Penentu Pusat Agropolitan


Sumber : Analisa Pribadi, 2014
Jumlah Kemudahan Fasilitas Fasilitas
No. Kecamatan Sentralisasi
Penduduk Transportasi Ekonomi Sosial
1 Rendang R T T T S
2 Selat R T S T S
3 Sidemen R T S T S
4 Bebandem S S S T S
5 Manggis S S T T S
6 Karangasem T R T T T
7 Abang T S S T S
8 Kubu T R S T S

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


1. Kesimpulan
Sasaran utama dalam penerapan
konsep agropolitan adalah
mempercepat pembangunan wilayah
tertinggal khususnya kawasan
perdesaan dengan cara
memaksimalkan potensi sumber
daya yang dimiliki (komoditas
unggulan) melalui pengembangan
sistem dan usaha agribisnis dari hulu
hingga hilir yang saling terintegrasi
secara spasial. Desa berperan tidak
hanya sebagai produsen saja
melainkan juga sebagai pusat
koleksi, distribusi dan pengolahan
hasil-hasil pertanian (sub sistem
agribisnis hulu). Sedangkan kota
berperan sebagai lokasi pemasaran
dari hasil-hasil pertanian yang
dihasilkan di desa (sub sistem
agribisnis hilir). Ini dibutuhkan
adanya keterkaitan spasial yang
dapat berjalan melalui
pengembangan pusat-pusat
pelayanan atau pusat agropolitan
sebagai kota kedua yang
menghubungkan antara kota dan
desa sehingga interaksi baik secara Gambar 2. Konsep Struktur Ruang Pengembangan
sosial, ekonomi maupun teknologi Kawasan Agropolitan di Kabupaten Karangasem
dapat tercapai yang berdampak Sumber : Analisa Pribadi, 2014
kepada terwujudnya pemerataan pembangunan. Oleh sebab itu, perlu adanya arahan pola
spasial dan pengembangan sarana dan prasarana penunjang serta rekomendasi
pengembangan agropolitan sebagai kesimpulan dari studi ini.

2. Rekomendasi
Studi pengembangan kawasan agropolitan sebagai salah satu upaya bagi pengembangan
wilayah Kabupaten Karangasem ini hanya sampai pada tahap penentuan lokasi secara
geografis atau kecamatan-kecamatan yang memiliki potensi didalam mendorong
pengembangan wilayah berdasarkan faktor-faktor penentu yang dimiliki setiap kecamatan.
Oleh sebab itu, untuk melengkapi studi ini maka dirasa perlu untuk memberikan
rekomendasi sehubungan dengan pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten
Karangasem, yaitu :
1. Perlunya Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Pembangunan
Pembangunan merupakan manifestasi dari masyarakat. Oleh sebab itu, upaya
mewujudkan pembangunan kawasan agropolitan yang lebih baik kedepannya
sebaiknya menekankan kepada pelibatan seluruh peran serta aktif para masyarakat
dalam hal ini adalah masyarakat desa didalam proses perencanaan. Pengambilan
keputusan merupakan hasil dari proses yang timbul akibat adanya kesepakatan dan
kerjasama antara masyarakat dengan pelaku pengambil keputusan. Proses partisipasi
sebaiknya menjadi langkah awal didalam pembangunan kawasan agropolitan melalui
program pendampingan kepada masyarakat (terutama petani dan para pelaku
agribisnis lainnya) untuk mengetahui mengetahui program-program pembangunan yang
diinginkan.
2. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM)
Selain dari segi ketersediaan sumber daya alam (SDA) yang produktif, keberhasilan
pembangunan kawasan agropolitan juga sangat ditentukan dari ketersediaan SDM
yang berkualitas didalam mengolah dan mengorganisasikan potensi sumber daya alam
menjadi berdaya saing (competitive). Upaya yang dapat dilakukan adalah peningkatan
pendidikan petani dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masing-
masing lokasi kawasan agropolitan.
3. Kebijakan komoditas
Sub sektor agribisnis hilir merupakan bidang usaha pertanian yang menghasilkan
produk pertanian yang bernilai tambah, sehingga para pelaku ekonomi yang berada di
hilir meraih keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan para pelaku ekonomi
yang ada di hulu. Hal ini menyebabkan pembagian nilai tambah antara hulu dan hilir
yang tidak adil. Menurut World Bank (Development Economics, 1998), harga produk
primer selama 30 tahun terakhir cenderung mengalami penurunan, sedangkan produk-
produk hilir cenderung mengalami peningkatan. Kondisi ini memerlukan adanya
restrukturisasi keterkaitan sektoral (aktivitas hulu dan hilir) melalui mekanisme kebijakan
yang memberikan kepastian usaha antara pelaku pertanian di sektor hulu dan hilir,
khususnya kebijakan yang akan menentukan arah pengembangan usaha komoditas
pertanian kedepannya bagi petani di sektor hulu. Peran pemerintah sangat penting
didalam mendorong terjadi integrasi antara kegiatan hulu (on farm) dan hilir (off-farm)
didalam mengatasi ketidakpastian usaha tersebut. Melalui integrasi ini, diharapkan nilai
tambah atau keuntungan dari komoditas unggulan sebagai basis pengembangan
kawasan agropolitan dapat lebih banyak berkontribusi terutama bagi petani.
4. Kebijakan pengembangan kelembagaan petani
Keberadaan kelembagaan petani sangat penting didalam mencapai efisiensi proses
pembangunan pertanian yang diterapkan melalui konsep agropolitan. Pengembangan
kelembagaan petani dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan instrumen kebijakan yang
digunakan untuk mempertahankan komoditas unggulan baik pada saat panen maupun
pasca panen terutama dalam hal harga komoditas pada saat terjadinya fluktuasi
permintaan dan pengaruh komparatif komoditas lain.
Tabel 3. Arahan Struktur Ruang Kawasan Agropolitan Di Kabupaten Karangasem
Kecamatan/Permukiman
Fungsi Kaw. Agro Fungsi Utama
Kaw. Agro I Kaw. Agro II
III
a. Pusat perdagangan dan
transportasi
b. Penyedia jasa pendukung
pertanian
Pusat c. Pasar konsumen produk non-
Abang Manggis Selat
Agropolitan pertanian
d. Pusat industri pertanian (agro-
based industry)
e. Penyedia pekerjaan non
pertanian
a. Pusat produksi pertanian
b. Intensifikasi pertanian
c. Pusat pendapatan perdesaan
dan permintaan untuk barang-
barang dan jasa non pertanian
Bebandem,
Pusat Satuan Abang, Kubu d. Produksi tanaman siap jual dan
Manggis, Rendang
Kawasan dan diversifikasi pertanian
dan dan Selat
Pertanian Karangasem e. Pusat koleksi komoditas
Sidemen
pertanian
f. Pusat penelitian, pembibitan,
dan percontohan komoditas
g. Koperasi dan informasi pasar
barang perdagangan
Jambu Mete, Salak Bali, Salak Bali,
Komoditas
Kelapa, Kelapa, Kelapa,
Unggulan Yang
Jagung dan Jagung dan Jagung dan
Dikembangkan
Ubi Kayu Ubi Kayu Ubi Kayu

REFERENSI
Bustanul Arifin, Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia, Penerbit Buku Kompas, Jakarta,
2004
Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri, Pembangunan Wilayah : Perspektif Ekonomi, Sosial,
dan Lingkungan, LP3ES, Jakarta, 2004
John Friedmann dan Mike Douglass, Agropolitan Development : Toward a New Strategy for
Regional Planning in Asia, University of California, Los Angeles, 1975
John Glasson, Pengantar Perencanaan Regional, Terjemahan Paul Sitohang,
LembagaPenerbit Fakultas Ekonomi Indonesia, Jakarta, 1990
Mubyarto, Pengantar Ekonomi Pertanian, PT. Pustaka LP3ES, Jakarta, 1994
Mosher, A.T, Creating A Progressive Rural Structure, Agricultural Development Council,
New York, 1969
Riyadi dan Deddy S.P, Perencanaan Pembangunan Daerah : Strategi Menggali Potensi
Dalam Mewujudkan Otonomi Daerah, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003
Rondinelli, D.A, Apllied Methods of Regional Analysis, A Westview Special Study,
Colorado USA, 1985
Richardson, W.H, Dasar-Dasar Ilmu Ekonomi Regional, Terjemahan Paul Sitohang,
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1991
Rondinelli, A. Dennis, Secondary Cities In Developing Countries, Sage Publication, USA,
1983
Robinsan Tarigan, Ekonomi Regional : Teori dan Apliakasinya, Bumi Aksara, Jakarta, 2004