Anda di halaman 1dari 11

BAB I

DEFENISI

I Pendahuluan

Rumah sakit sering kali harus melayani komunitas dengan berbagai keragaman.
Ada pasien-pasien yang mungkin telah berumur, atau menderita cacat, bahasa atau
dialeknya beragam, juga budayanya, atau ada hambatan lainnya yang membuat proses
mengakses dan menerima perawatan sangat sulit/ mengalami kendala. Untuk
meminimalkan hambatan tersebut, perawat manajer harus mampu meningkatkan
kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif. Rumah sakit mengidentifikasi
hambatan hambatan tersebut dan menerapkan proses untuk mengeliminasi atau
mengurangi hambatan bagi pasien yang berupaya mencari perawatan. Rumah sakit juga
mengambil tindakan untuk mengurangi dampak dari hambatan hambatan yang ada pada
saat memberikan layanan.

II Pengertian

Hambatan dapat diartikan sebagai halangan atau rintangan yang dialami, dalam
konteks komunikasi dikenal pula gangguan (mekanik maupun semantik). Gangguan ini
masih termasuk ke dalam hambatan komunikasi, efektivitas komunikasi salah satunya
akan sangat tergantung kepada seberapa besar hambatan komunikasi yang terjadi.
Didalam setiap kegiatan komunikasi, sudah dapat dipastikan akan menghadapai
berbagai hambatan. Hambatan dalam kegiatan komunikasi yang manapun tentu akan
mempengaruhi efektivitas proses komunikasi tersebut. Karena pada pada komunikasi
massa jenis hambatannya relatif lebih kompleks sejalan dengan kompleksitas komponen
komunikasi massa. Dan perlu diketahui juga, bahwa komunikan harus bersifat
heterogen.
BAB II
RUANG LINGKUP

Jenis – Jenis Hambatan

a. Hambatan Fisik Dalam Proses Komunikasi

Hambatan fisik adalah faktor-faktor lingkungan yang dapat mengambat atau


mengganggu proses komunikasi yaitu jarak, ruang. Jenis hambatan fisik, misalnya cacat
pendengaran (tuna rungu), tuna netra, tuna wicara. Maka dalam hal ini baik
komunikator maupun komunikan harus saling berkomunikasi secara maksimal. Bantuan
panca indera juga berperan penting dalam komunikasi ini.
Contoh: Apabila terdapat seorang perawat dengan pasien berusia lanjut. Dalam hal ini
maka perawat harus bersikap lembut dan sopan tapi bukan berarti tidak pada pasien lain.
Perawat harus lebih memaksimalkan volume suaranya apabila ia berbicara pada pasien
tuna rungu. Begitu pula halnya dengan si pasien. Apabila si pasien menderita tuna
wicara maka sebaiknya ia mengoptimalkan panca inderanya (misal: gerakan tangan,
gerakan mulut) agar si komunikan bisa menangkap apa yang ia ucapkan. Atau si pasien
tuna wicara isa membawa rekan untuk menerjemahkan pada si komunikan apa yang
sebetulnya ia ucapkan.

b. Hambatan Semantik Dalam Proses Komunikasi

Semantik adalah pengetahuan tentang pengertian atau makna kata (denotatif). Jadi
hambatan semantik adalah hambatan mengenai bahasa, baik bahasa yang digunakan
oleh komunikator, maupun komunikan.
Hambatan semantik dibagi menjadi 3, diantaranya:
1. Salah pengucapan kata atau istilah karena terlalu cepat berbicara.
contoh: partisipasi menjadi partisisapi
2. Adanya perbedaan makna dan pengertian pada kata-kata yang pengucapannya sama
Contoh: bujang (Sunda: sudah; Sumatera: anak laki-laki)
3. Adanya pengertian konotatif
Contoh: secara denotatif, semua setuju bahwa anjing adalah binatang berbulu, berkaki
empat. Sedangkan secara konotatif, banyak orang menganggap anjing sebagai binatang
piaraan yang setia, bersahabat dan panjang ingatan.
Jadi apabila ini disampaikan secara denotatif sedangkan komunikan menangkap secara
konotatif maka komunikasi kita gagal.

c. Hambatan Psikologis Dalam Proses Komunikasi

Hambatan psikososial adalah jenis hambatan paling banyak yang dapat menghambat
komunikasi. Hambatan ini terjadi karena adanya perbedaan pada sender dan receiver
dalam latar belakang, nilai-nilai keyakinan, kebutuhan persepsi, prasangka, harapan-
harapan, masalah individu dan keluarga, kurangnya rasa percaya dan perasaan negatif.
Disebut sebagai hambatan psikologis karena hambatan-hambatan tersebut merupakan
unsur-unsur dari kegiatan psikis manusia.
Hambatan psikologi dibagi menjadi 4 :

1. Perbedaan kepentingan atau interest


Kepentingan atau interst membuat seseorang selektif dalam menganggapi/ menghayati
pesan. Seseorang hanya akan memperhatikan perangsang (stimulus) yang ada
hubungannya dengan kepentingannya. Effendi mengemukakan secara gamblang bahwa
apabila kita tersesat dalam hutan dan beberapa hari tak menemui makanan sedikitpun,
maka kita akan lebih memperhatikan perangsang-perangsang yang mungkin dapat
dimakan daripada yang lain. Misalnya dalam situasi demikian kita dihadapkan pada
pilihan antara makanan dan sekantong berlian, maka pastilah kita akan meilih makanan
kemudian berlian baru akan diperhatikan. Sedangkan Effendi mengemukakan,
kepentingan bukan hanya mempengaruhi kita saja tetapi juga menentukan daya tanggap,
perasaan, pikiran dan tingkah laku kita.
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, komunikan pada komunikasi massa bersifat
heterogen. Heterogenitas meliputi perbedaan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan
yang keseluruhannya akan menimbulkan adanya perbedaan kepentingan. Kepentingan
atau interest komunikan dalam suatu kegiatan komunikasi sangat ditentukan oleh
manfaat atau kegunaan pesan komunikasi itu bagi dirinya. Dengan demikian,
komunikan melakukan seleksi terhadap pesan yang diterimanya.
Kondisi komunikan seperti ini perlu dipahami oleh seorang komunikator. Masalahnya,
apabila komunikator ingin agar pesannya dapat diterima dan dianggap penting oleh
komunikan, maka komunikator harus berusaha menyusun pesannya sedemikian rupa
agar menimbulkan ketertarikan dari komunikan.
2. Prasangka
Menurut Sears, prasangka berkaitan dengan persepsi orang tentang seseorang atau
kelompok lain, dan sikap serta perilakunya terhadap mereka. Untuk memperoleh
gambaran yang jelas mengenai prasangka, maka sebaiknya kita bahas terlebih dahulu
pengertian persepsi.
Persepsi adalah pengalaman objek pribadi, peristiwa faktor dari hambatan : personal
dan situasional.
Untuk mengatasi hambatan komunikasi yang berupa prasangka pada komunikan, maka
komunikator yang akan menyampaikan pesan melalui media massa sebaiknya
komunikator yang netral, dalam arti ia bukan orang controversial, reputasinya baik
artinya ia tidak pernah terlibat dalam suatu peristiwa yang telah membuat luka hati
komunikan. Dengan kata lain komunikator itu harus acceptable. Disamping itu memiliki
kredibilitas yang tinggi karena kemampuan dan keahliannya.
3. Stereotip
Adalah gambaran atau tanggapan mengenai sifat atau watak bersifat negatif. Jadi
stereotip itu terbentuk pada dirinya berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang
lengkap dan subjektif.
Contoh: Orang Batak itu berwatak keras sedangkan orang Jawa itu berwatak lembut.
Seandainya dalam proses komunikasi massa ada komunikan yang memiliki stereotip
tertentu pada komunikatornya, maka dapat dipastikan pesan apapun tidak dapat diterima
oleh komunikan.
4. Motivasi
Merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan-alasan atau
dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu.
Motif adalah sesuatu yang mendasari motivasi karena motif memberi tujuan dan arah
pada tingkah laku manusia. Tanggapan seseorang terhadap pesan komunikasi pun
berbeda sesuai dengan jenis motifnya.

Motif dibagi menjadi 2 macam, yaitu:


a. Motif Tunggal
Contoh: Motif seseorang menonton acara “Seputar Indonesia” yang disiarkan RCTI
adalah untuk memperoleh informasi.
b. Motif Bergabung
Contoh: (kasus yang sama dengan motif tunggal) tetapi bagi orang lain motif menonton
televisi adalah untuk memperoleh informasi sekaligus mengisi waktu luang.

d. Jenis - Jenis Hambatan Lain

Ada delapan hambatan penting untuk komunikasi lintas budaya dalam keperawatan:
1. Kurangnya pengetahuan
Perawat kurang memahami tentang perilaku untuk diterima pasien dalam budaya yang
berbeda dapat menimbulkan (misalnya diam, penarikan) penilaian yang salah dalam
melakukan tindakan.
2. Ketakutan dan ketidakpercayaan
Setiap individu akan melewati tahap dibawah ini saat melakukan pertemuan awal
dengan orang lain/ budaya yang berbeda antara lain:
Ketakutan: Setiap orang memandang orang lain sebagai berbeda dan, oleh karena
itu, berbahaya. Biasanya ketika orang-orang menjadi lebih baik mengenal satu
sama lain, ketakutan secara bertahap menghilang, hanya untuk digantikan oleh sukai.
Tidak menyukai: Orang-orang dari budaya yang berbeda sering curiga dari masing-
masing orang lain tindakan dan motif karena mereka kurang informasi
Penerimaan: Biasanya jika dua orang dari berbagi budaya yang berbeda
pengalaman cukup baik selama periode waktu
Respect: Jika individu dari beragam budaya berpikiran terbuka, mereka akan
memungkinkan mereka untuk melihat dan mengagumi kualitas dalam satu sama lain
Percaya: Orang setelah dari beragam budaya telah menghabiskan cukup berkualitas
waktu bersama, mereka biasanya mampu saling percaya.
Menyukai: Untuk mencapai tahap akhir, individu-individu dari beragam budaya harus
mampu berkonsentrasi pada kualitas manusia yang mengikat orang bersama-sama,
bukan perbedaan yang menarik orang terpisah.
3. Rasisme
Di Amerika Serikat dalam bidang keperawatan rasisme menjadi penghalang
transkultural komunikasi antara perawat dan pasien, dan antara perawat dan penyedia
perawatan kesehatan lainnya.
Tipe-tipenya:
1. Rasisme individu: Diskriminasi karena karakteristik biologis
2. Rasisme Budaya: Menganggap budaya sendiri lebih superior
3. Rasisme Kelembagaan: Lembaga (universitas, bisnis, rumah sakit, sekolah
keperawatan) memanipulasi atau mentolerir kebijakan yang tidak adil membatasi
peluang ras tertentu, budaya, atau kelompok.
4. Bias Dan Etnosentrisme
Apapun latar belakang budaya yang dimiliki seseorang, seseorang bisa memiliki
kecenderungan untuk menjadi bias terhadap nilai-nilai budaya mereka sendiri, dan
merasa bahwa nilai-nilai mereka benar dan nilai-nilai dari orang lain adalah salah
atau tidak baik.
5. Stereotipe
Steteotipe merupakan penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap
kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe juga merupakan jalan
pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan
hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.
Namun, stereotipe dapat berupa prasangka positif dan juga negatif, dan kadang-kadang
dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Sebagian orang menganggap
segala bentuk stereotipe negatif. Stereotipe jarang sekali akurat, biasanya hanya
memiliki sedikit dasar yang benar, atau bahkan sepenuhnya dikarang-karang. Jadi
stereotip terbentuk pada dirinya berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang
lengkap dan subjektif.
6. Perilaku Ritual
Perilaku ritual berupaya untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan
dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang
menghadapi stress emosional, penyakit fisik, atau kematian. Kekuatan yang timbul
diluar kekuatan manusia. Keyakinan dan agama merupakan hal yang terpisah, walau
pun seringkali diartikan sama. Pemahaman tentang perbedaan antara tiga istilah tersebut
sangat penting bagi perawat untuk menghindarkan salah pengertian yang akan
mempengaruhi pendekatan yang digunakan perawat.
7. Hambatan Bahasa
Bahasa menyediakan alat-alat (kata) yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan
pikiran dan perasaan mereka.
a. bahasa asing,
b. berbeda dialek dan regionalisms, dan
c. idiom dan "berbicara jalanan"
Ketika perawat dan pasien berbicara dengan menggunakan bahasa yang
sama, kesalahpahaman juga dapat muncul. Apalagi ketika pasien datang dari daerah/
negara lain yang menggunakan bahasa yang berbeda misalnya bahasa Inggris bukan asli
bahasa yang digunakan pasien, hambatan bahasa yang dihasilkan dapat membawa
komunikasi untuk berhenti, menghasilkan frustrasi dan konflik.
Untuk berkomunikasi secara efektif dengan pasien yang tidak mahir dalam Inggris,
dibutuhkan penerjemah bahasa untuk membantu pasien, dan keluarga pasien mengatasi
kecemasan dan frustrasi yang dihasilkan oleh hambatan bahasa
8. Konflik Persepsi Dan Harapan
Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk berkomunikasi, upaya
terbaik mereka dapat digagalkan oleh kesalahpahaman dan konflik yang serius. Di
bidang kesehatan situasi perawatan, kesalahpahaman seringkali muncul ketika perawat
dan pasien memiliki persepsi dan harapan yang berbeda, dan akibatnya salah
menafsirkan satu sama lain pesan.
BAB III
TATALAKSANA

1. Upaya-Upaya dalam Mengatasi Hambatan Berkomunikasi

Untuk mengetahui hambatan tersebut dapat ditanggulangi dengan cara sebagai berikut :
1. Mengecek arti atau maksud yang disampaikan
Bertanya lebih lanjut pada si komunikan apakah ia sudah mengerti apa yang si
komunikator bicarakan.
Contoh: Perawat bertanya pada pasien “Apakah sudah mengerti, Pak?”
2. Meminta penjelasan lebih lanjut
Sama halnya dengan poin pertama hanya saja disini si komunikator lebih aktif
berbicara untuk memastikan apakah ada hal lain yang perlu ditanyakan lagi.
Contoh: “Apa ada hal lain yang kurang jelas, Bu?”
3. Mengecek umpan balik atau hasil
Memancing kembali si komunikator dengan mengajukan pertanyaan mengenai hal atau
pesan yang telah disampaikan kepada komunikan.
Contoh: “Tadi obatnya sudah diminum, Pak?” Sebelumnya si komunikator telah
berpesan pada komunikan untuk meminum obat.
4. Mengulangi pesan yang disampaikan memperkuat dengan bahasa isyarat
Contoh: “Obatnya diminum 3 kali sehari ya” sambil menggerakkan tangan.
5. Mengakrabkan antara pengirim dan penerima
Dalam hal ini komunikator lebih mendekatkan diri dengan berbincang mengenai hal-hal
yang menyangkut keluarga, keadaannya saat ini (keluhan tentang penyakitnya).
6. Membuat pesan secara singkat, jelas dan tepat
Si komunikator sebaiknya menyampaikan hanya hal-hal yang berhubungan pasien (atau
yang ditanyakan pasien) sehingga lebih efisien dan tidak membuang-buang waktu.
2. Tata Cara Mengatasi Atau Membatasi Hambatan Pada Waktu Penerimaan
Pasien

1. Pasien datang ke bagian pendaftaran pasien dan diterima oleh petugas administrasi
(bagian pendaftaran).
2. Petugas administrasi melakukan identifikasi kendala yang ada terhadap pasien (tuli,
bisu, buta, bahasa, budaya dan penghalang lainnya) dengan menggunakan bahasa
isyarat.
3. Setelah mengetahui kendala yang dialami pasien, pihak Rs. Bhayangkara
PALEMBANGsudah mempunyai nama petugas yang mampu untuk mengatasi kendala
yang dialami pasien apabila pasien tidak didampingi oleh keluarganya dan .
4. Apabila ditemukan pasien WNA pada saat pendaftaran, Rumah Sakit Royal Prima
sudah menyediakan petugas administrasi khusus yang mampu berbahasa asing untuk
membantu pasien pada saat proses pendaftaran.
5. Petugas administrasi menghubungi petugas yang mampu mengatasi hambatan yang
dialami pasien untuk proses pendaftaran..
6. Selama proses pendaftaran berlangsung pasien tetap diberikan pelayanan kesehatan
sesuai dengan kemampuan RS.

3. Melaksanakan Komunikasi Dalam Bahasa Isyarat


Langkah-langkah :
1. Mengucapkan salam (mimik wajah dengan senyum) dan mengajak berjabat tangan.
2. Mempertahankan kontak mata dengan posisi berhadapan.
3. Berkomunikasi dengan bahasa tubuh yang jelas.
4. Gerak bibir yang jelas, ekspresi wajah, dan gerakan anggota tubuh, misalnya : gerakan
tangan, anggukan kepala.
5. Sampaikan informasi dengan efektif dan efisien.
6. Pertahankan sikap terbuka dengan misalnya tidak melipat tangan di atas dada, tidak
menyilangkan kaki.
7. Posisi duduk cenderung ke arah klien.
8. Melibatkan keluarga saat komunikasi berlangsung.
9. Meminta klien mengulangi informasi yang telah disampaikan sesuai dengan bahasanya
(dengan gerakan tubuh/ tulisan).
10. Berikan reinforcement atas kemampuannya.
11. Berpamitan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dari pasien:
1. Respon pasien
2. Menanyakan apakah pasien mengerti dengan pelayanan yang dijelaskan oleh petugas.
BAB IV
DOKUMEN

Rs. Bhayangkara PALEMBANG didalam penanganan Pelayanan Penanganan


Hambatan Dalam Populasi Pasien wajib menyiapkan dokumen di setiap unit kerja
terkait sebagai berikut:

1. Dokumen Regulasi
a. Panduan Penanganan Hambatan Dalam Populasi Pasien
b. Panduan Komunikasi Efektif Dalam Pemberian Informasi dan Edukasi
c. SPO Mengatasi Hambatan Dalam Penerimaan Pasien
2. Dokumen Impelementasi
a. Rekam Medis

Demikian buku panduan ini dibuat untuk Panduan Hambatan Dalam Populasi
Pasien, sehingga didalam Prosedur Penanganan Hambatan Dalam Populasi Pasien dapat
berjalan dengan baik dan sesuai standar yang telah ditetapkan undang-undang kesehatan
yang berlaku. Dengan terbitnya Buku Panduan Hambatan Dalam Populasi Pasien di Rs.
Bhayangkara PALEMBANG ini maka segala Pelayanan Penanganan Hambatan Dalam
Populasi Pasien wajib berlandaskan buku panduan ini terhitung setelah ditandatangani
oleh Kepala RS.Bhayangkara PALEMBANG.

Ditetapkan di : Palembang
Pada Tanggal : 09 Februari 2017
KEPALA RUMAH SAKIT BHAYANGKARA PALEMBANG

dr. YANUAR HIDAYATMO. SpB. FINANCS. FICS MARS


AJUN KOMISARIS BESAR POLISI NRP 65010697