Anda di halaman 1dari 5

2.

1 Pengertian Zionisme
Zionisme, berasal dari kata Zion dalam bahasa Ibrani (Yahudi), yang berarti batu karang.
Maksudnya, ialah batu bangunan istana yang didirikan oleh Nabi Sulaiman di kota Al-Quds,
Yerusalem, Israel. Namun ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa zionisme merupakan
sinonim dari nama yerusalem. Zion berasal dari bahasa inggris, dalam bahasa latin dinamakan
sion, dalam bahasa ibraninya adalah Tsyon. Bila merujuk istilah ini maka berarti “bukit”, bukit
tinggi kota suci Yerusalem. Yang merupakan kota yang tidak terlihat mata. Kota Allah tempat
tinggal Yahweh.
Sedangkan secara istilah “Zionisme adalah gerakan dan ideology yang terkait dengan
sejarah orang-orang yahudi di Negara pembuangan untuk kembali ke negeri nenek moyang
mereka, Palestina. Bangsa Yahudi yang terpaksa “diaspora” menyebar di berbagai wilayah
seperti eropa, amerika, afrika, asia, dan Negara yang ada di timur tengah. Kata “zion” merujuk
kepada kata yang berasal dari asal kata Ibrani, Tsyon.
Ada juga yang menafsirkan bahwa zionisme adalah sebuah gerakan politik kaum Yahudi
yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali lagi ke Zion, (bukit di mana kota Yerusalem
berdiri). Merujuk dalam berbagai definisi diatas maka zionisme dapat disimpulkan sebagai suatu
gerakan Yahudi Internasional yang secara politik disertai dengan penghalalan segala cara untuk
mengembalikan kembali kejayaan bangsa Israel di tanah Palestina.

2.2 Proses dan Pengajaran Bangsa Yahudi


Dalam buku “An Interview of Illan Pappe, “ Baudoin Loos menyebutkan seorang
sejarawan Yahudi Illan Pappe yang menyandang julukan “Orang Israel yang paling dibenci di
Israel”. Pappe adalah salah seorang Yahudi yang memilih memihak pada hati nurani dan tanpa
takut membongkar mitos-mitos Zionisme. Saat ditanya, kenapa orang Israel bisa melakukan
berbagai kekejaman terhadap orang Palestina, Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses
panjang pengajaran paham, indoktrinasi, yang dimulai sejak usia taman kanak-kanak, semua
anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap
yang ditanamkan di sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah
persepsi rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada,
dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini
adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah dirampas
tanahnya.”
Indoktrinasi terhadap anak-anak Israel berlanjut hingga ia besar. Ayat-ayat Talmud
dijadikan satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka. Yang paling utama adalah indoktrinasi
bahwa hanya bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang yang lain adalah hewan.
Penanaman doktrin rasisme yang terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum
Zionis kepada anak-anak mereka sejak dini. Survei yang diadakan oleh Ary Syerabi, mantan
perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia
bergabung dengan London Institute for Economic Studies.
Ary Serabi ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak anak-anak Israel
terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu
Ary memberikan sehelai kertas dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, “Tulislah surat buat
anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka. “
‘Protocols of Learned Elders of Zion’ (Protokol Para Pemuka Agama Yahudi) adalah
rencana praktis atau kertas kerja untuk merealisasikan semua kandungan Taurat dan Talmud.
Jika Talmud merupakan buah pahit dari ajaran Perjanjian Lama (Taurat), maka Protokol Yahudi
ini merupakan kertas kerja yang meringkas semua ajaran Talmud kepada rencana strategis
modern dan kontemporer.1
Metoda kerja yang dipakai oleh ‘Protokol’ untuk menghancurkan suatu masyarakat
cukup jelas. Memahami metoda itu penting jika seseorang ingin menemukan makna dari arus
serta arus-balik yang membuat orang menjadi frustrasi ketika mencoba memahami kekacauan
keadaan masa kini. Orang menjadi bingung dan hilang semangat oleh berbagai teori masa kini
dan suara-suara yang centang-perenang. Setiap suara atau teori itu seakan-akan dapat dipercaya
dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Kalau saja kita dapat memahami makna dari suara
yang centang-perenang dan berbagai teori yang ambur-adul itu, maka hal itu akan menyadarkan
kita bahwa kebingungan dan hilangnya semangat masyarakat merupakan sasaran yang dituju
oleh ‘Protokol’. Ketidakpastian, keragu-raguan, kehilangan harapan, ketakutan, semuanya ini
merupakan reaksi yang diciptakan oleh program yang diuraikan di dalam ‘Protokol’ yang

1
Asy-Syarqawi, Prof. Dr. Muhammad, “Talmud Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan”, Penerbit: Sahara.
diharapkan tercapai. Kondisi masyarakat dewasa ini merupakan bukti efektifnya program
tersebut.2

2.3 Sumber-Sumber Agama Yahudi

Agama Yahudi sebenarnya bersumberkan dua pokok:

1. Kitab Taurat.

Kitab yang kita akui dan mengandung wahyu yang dibawa oleh Nabi Musa. Memang ada
kelompok di kalangan kaum Yahudi yang menolak Talmud, dan tetap berpegang teguh kepada
kitab Taurat (Taurat ada dua Versi : Taurat Asli dan Taurat Versi Perjanjian Lama yang
sekarang). Mereka ini disebut golongan ‘Karaiyah’, kelompok yang sepanjang sejarahnya paling
dibenci dan menjadi korban kedzaliman para pendeta Yahudi orthodoks.

2. Kitab Talmud

Jauh sebelum pena-pena para intelektual dan sejarawan dunia menggores; sebelum para
intelektual kawakan dunia melakukan analisa dan penelitian, Al Qur’an dan Sunnah telah
memaparkan bukti-bukti yang menjelaskan bahwa para rabbi Yahudi telah mengubah dan
menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sangat murah. Bahkan, mereka telah membuat
sebuah kitab sendiri yang sangat jauh dari akal sehat sebagai tandingan bagi kitab Taurat. Itulah
kitab Talmud, sebuah “buku hitam” Israel yang paling berbahaya bagi manusia dan kemanusiaan
secara keseluruhan.3
Keimanan orang Yahudi terhadap Kitab Talmud mengatasi bahkan Kitab Perjanjian
Lama, yang juga dikenal dengan nama Taurat. Bukti tentang hal ini dapat ditemukan dalam
Talmud ‘Erubin’ 2b (edisi Soncino) yang mengingatkan kepada kaum Yahudi. “Wahai anakku,
hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari para Ahli Kitab (Talmud) daripada ayat-ayat
Taurat.”4
Para pendeta Talmud mengklaim sebagian dari isi Kitab Talmud merupakan himpunan
dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa a.s. secara lisan. Sampai dengan kedatangan Nabi

2
Z.A. Maulani, Zionisme: Talmud: Kitab Suci Kaum Qabalis, dalam buku Yahudi Gerakan Menaklukkan Dunia,
Cetakan Kedua, 2002 penerbit daseta, (Edisi Laris, Kompas, * juli 2002).
3
Asy-Syarqawi, Prof. Dr. Muhammad, “Talmud Kitab Hitam Yahudi yang Menggemparkan”, Penerbit: Sahara.
4
Talmud, Kitab Erubin: 2b – Edisi Soncino.
Isa a.s. Kitab Talmud belum dihimpun secara tertulis seperti bentuknya yang sekarang. Nabi Isa
a.s. sendiri mengutuk tradisi ‘mishnah’ (Talmud awal), termasuk mereka yang mengajarkannya
(para hachom Yahudi dan kaum Farisi), karena isi Kitab Talmud seluruhnya menyimpang,
bahkan bertentangan dengan Kitab Taurat. Kaum Kristen, karena ketidak-pahamannya, hingga
dewasa ini menyangka Perjanjian Lama merupakan kitab tertinggi bagi agama Yahudi. Sangkaan
itu keliru. Para pendeta Farisi mengajarkan, doktrin dan fatwa yang berasal dari para rabbi (guru
agama), lebih tinggi kedudukannya daripada wahyu yang datang dari Tuhan. Talmud
mengemukakan hukum-hukumnya berada di atas Taurat, dan bahkan tidak mendukung isi Taurat.
Seorang peneliti Yahudi, Hyam Maccoby, dalam bukunya ‘Judaism on Trial’, mengutip
pernyataan Rabbi Yehiel ben Joseph, bahwa “Tanpa Talmud, kita tidak akan mampu memahami
ayat-ayat Taurat … Tuhan telah melimpahkan wewenang ini kepada mereka yang arif, karena
tradisI merupakan suatu kebutuhan yang sama seperti kitab-kitab wahyu. Para arif itu membuat
tafsiran mereka … dan mereka yang tidak pernah mempelajari Talmud tidak akan mungkin
mampu memahami Taurat.”5
Terhadap tradisi ‘mishnah’ itu para pendeta Yahudi menambah sebuah kitab lagi yang
mereka sebut ‘Gemarah’ (kitab “tafsir” dari para pendeta). Tradisi ‘mishnah’ (yang kemudian
dibukukan) bersama dengan “Gemarah’, itulah yang disebut Talmud. Ada dua buah versi Kitab
Talmud, yaitu ‘Talmud Jerusalem’ dan ‘Talmud Babilonia’. ‘Talmud Babilonia’ adalah kitab
yang paling otoritatif.6
Dalam Al-Quran, surat At-Taubah, ayat 30. Yang artinya: “Orang-orang Yahudi berkata:
“Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.”
Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang
kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”
Dari ayat ini tampak jelas bahwa orang-orang Yahudi telah menghina Allah, karena telah
menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak beranak
dan juga tidak diperanakkan.
Dalam tafsir Al Marâghi dijelaskan bahwa ‘Uzair adalah seorang pendeta Yahudi, ia
hidup sekitar 457 SM. Menurut kepercayaan orang-orang Yahudi ‘Uzair adalah orang yang telah

5
Z.A. Maulani, Zionisme: Talmud: Kitab Suci Kaum Qabalis, dalam buku Yahudi Gerakan Menaklukkan Dunia,
Cetakan Kedua, 2002 penerbit daseta, (Edisi Laris, Kompas, * juli 2002).
6
R.C Musaph-Andriesse, From Torah to Kabbalah: A Basic Intruction to the Writing of Judaism’, h.40 dalam Z.A
Maulani, Zionisme: Menaklukkan Dunia, Cetakan Kedua, 2002 penerbit daseta..
mengumpulkan kembali wahyu-wahyu Allah di kitab At Taurat yang sudah hilang sebelum masa
Nabi Sulaiman as. Sehingga segala sumber yang yang dijadikan rujukan utama adalah yang
berasal dari ‘Uzair, karena menurut kaum Yahudi waktu itu ‘Uzair adalah satu-satunya sosok
yang paling diagungkan, maka sebagian mereka akhirnya menisbatkan ‘uzair sebagai anak Allah.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa penyelewengan dalam masalah akidah merupakan
tindakan yang sangat sesat, karena sekitar 1/3 dari kandungan Al-Quran menjelaskan tentang
akidah/kepercayaan atas semua rukun iman yang harus diyakini oleh setiap manusia.