Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengetahuan adalah persepsi subyek (manusia) atas berbagai obyek yang ada di alam
semesta tanpa penyelidikan lebih lanjut. Pengetahuan hanya terbatas pada apa yang diketahui
saja. Kebenaran dari pengetahuan perlu dipertanyakan kembali. Pengetahuan dimulai dari
rasa ingin tahu yang besar, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai
dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan
apa yang belum kita tahu. Ilmu merupakan pengetahuan yang kita pelajari sejak mulai
bangku sekolah dasar sampai pendidikan tinggi. Ilmu pengetahuan adalah serangkaian
pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan penyelidikan, pengalaman (empiris) dan
percobaan (eksperimen) yang didukung oleh bukti nyata serta dapat dipertanggung jawabkan
secara rasional. Ilmu pengetahuan membatasi diri hanya kepada kejadian yang bersifat
empiris. Jadi, terlihat jelas perbedaan antara pengetahuan (knowledge) dengan ilmu
pengetahuan (science).
Perkembangan ilmu pengetahuan merupakan salah satu prestasi besar dari pikiran
manusia. Tanpa pengetahuan tentang perkembangan atau pertumbuhan ilmu adalah sukar
untuk mengerti sejarah modern dewasa ini. Kesemua hal ini merupakan kemajuan dari proses
berpikir manusia yang berhubungan dengan filsafat. Sehingga pada masa sekarang kita
mengenal adanya filsafat ilmu pengetahuan.
Perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan alam telah mengubah
sejarah kehidupan manusia. Perkembangan itu semakin pesat setelah diketemukannya
komputer yang dapat membantu manusia dalam merancang dan menganalisis hasil-hasil
penelitian. Di dunia kedokteran telah ditemukan berbagai teknik bedah, transplantasi organ,
terapi genetik, bayi tabung, serta obat-obatan penyembuh berbagai penyakit. Itu semua berkat
perkembangan IPA. Ilmu pengetahuan alam adalah ilmu yang mempelajari gejala-gejala alam
dan ingin memahami alam.
Biologi bagian dari sains yang memiliki karakteristik yang sama dengan ilmu sains
lainnya. Adapun karakteristik ilmu pengetahuan alam termasuk biologi (SAINS/IPA) yaitu:
Obyek kajian berupa benda konkret dan dapat ditangkap indera. Dikembangkan berdasarkan
pengalaman empiris (pengalaman nyata) memiliki langkah-langkah sistematis yang bersifat
baku Menggunakan cara berfikir logis, yang bersifat induktif artinya berfikir dengan menarik

Page | 1
kesimpulan dari hal-hal yang khusus menjadi ketentuan yang berlaku umum. Bersifat
deduktif artinya berfikir dengan menarik kesimpulan dari hal-hal yang umum menjadi
ketentuan khusus. Hasilnya bersifat obyektif atau apa adanya, terhindar dari kepentingan
pelaku (subyektif).
Pada masa kini, biologi mencakup bidang akademik yang sangat luas, bersentuhan
dengan bidang-bidang sains yang lain, dan sering kali dipandang sebagai ilmu yang mandiri.
Namun, pencabangan biologi selalu mengikuti tiga dimensi yang saling tegak lurus:
keanekaragaman (berdasarkan kelompok organisme), organisasi kehidupan (taraf kajian dari
sistem kehidupan), dan interaksi (hubungan antarunit kehidupan serta antara unit kehidupan
dengan lingkungannya).
Dalam makalah ini akan dibahas tentang hakikat biologi dan pendidikan biologi
dalam kerangka NOS (Nature of Science). Dimana NOS (Nature of Science) adalah istilah
yang digunakan untuk menunjukkan ilmu yang bersifat natural (alam), biasanya telah
digunakan untuk merujuk pada epistemologi ilmu, ilmu sebagai cara mengetahui, atau nilai-
nilai dan keyakinan yang melekat dengan perkembangan pengetahuan ilmiah.

1.2. Tujuan Penulisan Makalah

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:


1. Memenuhi tugas mata kuliah pengetahuan hayati.
2. Memahami hakikat biologi dan pendidikan biologi.

1.3. Manfaat Penulisan Makalah

Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah ;


1. Sebagai bahan informasi bagi penulis dan pembaca tentang hakikat biologi dan
pendidikan biologi.
2. Sebagai informasi tambahan dalam mata kuliah pengetahuan hayati.

Page | 2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Hakikat Biologi

2.1.1 Pengertian Biologi

Biologi atau ilmu hayat adalah ilmu yang mempelajari aspek fisik kehidupan. Istilah
"biologi" dipinjam dari bahasa Belanda, biologie, yang juga diturunkan dari gabungan kata
bahasa Yunani, βίος, bios ("hidup") dan λόγος,logos ("lambang", "ilmu"). Istilah "ilmu hayat"
dipinjam dari bahasa Arab, juga berarti "ilmu kehidupan". Jadi, biologi adalah ilmu yang
mempelajari sesuau yang hidup beserta masalah-masalah yang menyangkut kehidupan.
Pada masa kini, biologi mencakup bidang akademik yang sangat luas, bersentuhan
dengan bidang-bidang sains yang lain, dan sering kali dipandang sebagai ilmu yang mandiri.
Namun, pencabangan biologi selalu mengikuti tiga dimensi yang saling tegak lurus:
keanekaragaman (berdasarkan kelompok organisme), organisasi kehidupan (taraf kajian dari
sistem kehidupan), dan interaksi (hubungan antarunit kehidupan serta antara unit kehidupan
dengan lingkungannya
Objek kajian biologi sangat luas dan mencakup semua makhluk hidup. Karenanya
dikenal berbagai cabang ilmu biologi yang mengkhususkan diri pada kajian tertentu yang
lebih spesifik, di antaranya anatomi, anastesi, zoologi, botani, bakteriologi, parasitologi,
ekologi, genetika, embriologi, entomologi, evolusi, fisiologi, histologi, mikologi,
mikrobiologi, morfologi, paleontologi, patologi, dan lain sebagainya.

2.1.2 Biologi dalam Perspektif Ilmu

Pada dasarnya cabang-cabang ilmu berkembang dari dua cara utama yakni filsafat
alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural sciences) dan filsafat
moral yang kemudian berkembang menjadi ilmu-ilmu social (the social sciences). Ilmu-ilmu
alam membagi diri kepada kedua kelompok lagi yaitu ilmu alam (the physical sciences) dan
ilmu hayat (the biological sciences). Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk
alam semesta yang terbagi lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energy), kimia
(mempelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda-benda langit), dan ilmu bumi.
Aristoletes (384-322 SM) adalah seorang ilmuwan dan filosof Yunani yang dipercayai
sebagai perintis ilmu biologi. Ia telah mempelajari tentang 500 jenis hewan dengan sistem
klasifikasinya, hal ini memberi pengaruh yang besar pada pemikiran dalam perkembangan

Page | 3
ilmu-ilmu biologi (Salam, 1997). Aristoteles melakukan penelitian sejarah alam di pulau
Lesbos. Hasil penelitiannya, termasuk Sejarah Hewan, Generasi Hewan, dan Bagian Hewan,
berisi beberapa observasi dan interpretasi, dan juga terdapat mitos dan kesalahan. Bagian
yang penting adalah mengenai kehidupan laut. Ia memisahkan mamalia laut dari ikan, dan
mengetahui bahwa hiu dan pari adalah bagian dari grup yang ia sebut Selachē (selachians).
Ilmu biologi banyak berkembang pada abad ke-19, dengan ilmuwan menemukan
bahwa organisme memiliki karakteristik pokok. Biologi kini merupakan subyek pelajaran
sekolah dan universitas di seluruh dunia, dengan lebih dari jutaan makalah dibuat setiap tahun
dalam susunan luas jurnal biologi dan kedokteran. Hal ini juga mendukung perkembangan
ilmu pendidikan biologi, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bagaimana
hubungan pendidikan dengan biologi, bagaimana cara mempelajari dan mengajarkan biologi
dengan baik dan benar, baik pada instusi pendidikan formal maupun non formal.
Biologi menduduki posisi sangat strategis dan mempunyai kedudukan unik dalam
struktur keilmuan. Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam atau natural science, biologi
mempunyai kesamaan dengan cabang atau disiplin lainnya dalam sains, yaitu mempelajari
gejala alam, dan merupakan sekumpulan konsep-prinsip- teori (produk sains), cara kerja atau
metode ilmiah (proses sains), dan di dalamnya terkandung sejumlah nilai dan sikap. Sebagai
bagian dari ilmu-ilmu yang mempelajari manusia, biologi berbeda dari sosiologi atau
psikologi. Biologi mempelajari struktur-fisiologi dan genetika manusia. Sosiologi
mempelajari aspek hubungan sosial antar manusia, sedangkan psikologi aspek perilaku dan
kejiwaan manusia.

2.1.3. Karasteristik Biologi Sebagai Ilmu

Ilmu pengetahuan berkembang karena hakikat manusia yang serba ingin tahu.
Mengembangkan ilmu pengetahuan tidak harus berawal dari nol, melainkan bisa dari hasil
penelitian orang lain asal sesuai dengan karakteristik sains itu sendiri. Biologi yang memiliki
karakteristik yang sama dengan ilmu sains lainnya. Adapun karakteristik biologi sebagai ilmu
yaitu:
 Obyek kajian berupa benda konkret dan dapat ditangkap indera dikembangkan
berdasarkan pengalaman empiris (pengalaman nyata)
 Memiliki langkah-langkah sistematis yang bersifat baku
 Menggunakan cara berfikir logis, yang bersifat induktif artinya berfikir dengan menarik
kesimpulan dari hal-hal yang khusus menjadi ketentuan yang berlaku umum. Bersifat

Page | 4
deduktif artinya berfikir dengan menarik kesimpulan dari hal-hal yang umum menjadi
ketentuan khusus.
 Hasilnya bersifat obyektif atau apa adanya, terhindar dari kepentingan pelaku (subyektif)
Hasil berupa hukum-hukum yang berlaku umum, dimanapun diberlakukan.
 Komponen biologi sebagai ilmu
Biologi merupakan cabang sains yang mempelajari berbagai permasalahan makhluk
hidup, dan untuk mempelajari melalui proses dan sikap ilmiah ini sebagai konsekuensi
biologi. Dengan menggunakan proses dan sikap ilmiah akan memperoleh produk ilmiah.
Dalam mempelajari sains terdiri dari 3 komponen yaitu :

a. Sikap ilmiah
Merupakan sikap yang harus dimiliki untuk berlaku obbyektif dan jujur saat
mengumpulkan dan menganalisa data.

b. Proses ilmiah
Merupakan perangkat ketrampilan kompleks yang digunakan dalam melakukan kerja
ilmiah. Proses ilmiah dapat dilakukan dengan pendekatan ketrampilan proses dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Ketrampilan proses sains dasar, meliputi:
1. Mengobservasi, Mencari gambaran atau informasi tentang objek penelitian melalui
indera. Dalam biologi hasil observasi seringkali dibuat dalam bentuk gambar (misal
gambar dunia dll), bagan (missal bagan siklus hidup kupu-kupu), tabel (misal tabel
pertumbuhan penduduk suatu wilayah), grafik (misal grafik hubungan antara tabel
pertumbuhan kecambah), dan tulisan.
2. Menggolongkan, Untuk mempermudah dalam mengidentifikasi suatu permasalahan
3. Menafsirkan, Memberikan arti sesuatu fenomena/kejadian berdasarkan atas kejadian
lainnya.
4. Mempraktikkan/meramalkan, Memperkirakan kejadian berdasarkan kejadian
sebelumnya serta hukum-hukum yang berlaku. Prakiraan dibedakan menjadi dua
macam yaitu prakiraan intrapolasi yaitu prakiraan berdasarkan pada data yang telah
terjadi; kedua prakiraan ekstrapolasi yaitu prakiraan berdasarkan logika di luar data
yang terjadi.
5. Mengajukan pertanyaan, Berupa pertanyaan bagaimana, karena pertanyaan ini
menuntut jawaban yang diperoleh dengan proses.

Page | 5
2) Ketrampilan proses sains terpadu, yang terdiri dari:
1. Mengidentifikasi variabel
2. Menyusun tabel data
3. Menyusun grafik
4. Mendeskripsikan hubungan antar variabel
5. Perolehan data dan pemrosesan data
6. Menganalisia penyelidikan
7. Merumuskan hipotesis
8. Mendefinisikan variabel secara operasional
9. Melakukan eksperimen
3) Langkah sistematis dalam proses ilmiah/metode ilmiah meliputi:
 Merumuskan masalah
Ada tiga cara dalam merumuskan permasalahan yaitu:
1. Apakah variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat objek eksperimen?
2. Bagaimana pengeruh variabel bebas terhadap variabel terikat objek eksperimen?
3. Apakah ada hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat objek eksperimen?
 Menyusun kerangka berfikir
Kerangka berfikir dicari melalui kepustakaan atau fakta empiris.
 Merumuskan hipotesis
Hipotesis merupakan suatu dugaan yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah
sebelum dibuktikan. Ada 2 macam hipotesis dalam eksperimen yaitu:
1. Hipotesis nol (H0) : tidak ada pengnaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat
2. Hipotesis alternatif (H1) : ada pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat
 Melakukan eksperimen
Untuk mendukung atau menyangkal hipotesa itu perlu dibuktikan melalui eksperimen. Dalam
melakukan eksperimen melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Taraf perlakuan
b. Pengendalian faktor lain
c. Ulangan
d. Pengukuran
 Analisis data
Analisa data dapat menggunakan statistik atau secara deskriptif.

Page | 6
 Menarik kesimpulan
Ada dua kemungkinan dalam kesimpulan yaitu hipotesis diterima (dugaan sementara
sesuai dengan eksperimen) atau ditolak (dugaan sementara tidak sesuai dengan eksperimen).
 Publikasi
Hasil penelitian di publikasikan ke kalayak melalui jurnal penelitian, seminar atau lewat
internet

2.1.4. Didirikannya Biologi Modern

Istilah biologi dalam pengertian modern kelihatannya diperkenalkan secara terpisah


oleh Gottfried Reinhold Treviranus (Biologie oder Philosophie der lebenden Natur, 1802) dan
Jean-Baptiste Lamarck (Hydrogéologie, 1802). Namun, istilah biologi sebenarnya telah
dipakai pada 1800 oleh Karl Friedrich Burdach. Bahkan, sebelumnya, istilah itu juga telah
muncul dalam judul buku Michael Christoph Hanov jilid ke-3 yang terbit pada 1766, yaitu
Philosophiae Naturalis Sive Physicae Dogmaticae: Geologia, Biologia, Phytologia Generais
et Dendrologia

2.1.5. Dampak Mempelajari biologi

Peran biologi dalam kehidupan memberikan dampak negatif dan dampak positif.
Dampak positif atau manfaatnya yaitu:
a. Manusia sadar terhadap hidup dan kehidupan dalam lingkungan
b. Diciptakan bibit unggul yang ramah lingkungan,
c. pemanfaatan mikroorganisme dalam segala bidang.

Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan yaitu :


a. Mengeksploitasi SDA dengan sembarangan,
b. Penggunaan bibit unggul dan pestisida berlebihan yang akan berdampak pada
biodeversitas
c. Penggunaan senjata biologi yang mematikan, yang akan merusak lingkungan biotik
maupun abiotik.
Oleh karena itu kemajuan biologi yang demikian pesatnya harus diimbangi dengan iman
dan takwa, sehingga pemanfaatan lebih optimal dan meminimalkan dampak negatif yang ada.

Page | 7
2.2. Pendidikan Biologi

2.2.1 Pengertian Pendidikan

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedagogy, yang mengandung makna
seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar seorang pelayan. Sedangkan pelayan
yang mengantar dan menjemput disebut paedagogos. Dalam bahasa Romawi, pendidikan
diistilahkan dengan educate yang berarti mengeluarkan sesuatu sesuatu yang berada di dalam.
Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral
dan melatih intelektual (Suwarno, 2006).
Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia muda (Hartoko,
1985; Dryarkara, 2006). Melalui pendidikan banyak aspek diharapkan akan dapat dicapai.
Proses pendidikan merupakan proses aktif, yang dilakukan oleh peserta pendidikan dengan
kesadaran untuk menjadi mandiri dan bertanggung jawab penuh terhadap dirinya dan
terhadap masyarakat. Secara gamblang Dyarkara mendefinisikan mendidikan sebagai
pertolongan atau pengaruh yang diberikan oleh oranga yang bertanggung jawab kepada anak
suaya anak menjadi dewasa. Dalam pendidikan terjadi hidup bersama dalam kesatuan yang
memungkinkan terjadi pemanusiaan anak. Dengan pendidikan terjadi pelaksanaan nilai-nilai
dan manusia berproses untuk akhirnya bisa membudaya (melaksanakan) sendiri sebagai
manusia purnawan (Dryarkara, 2006).

2.2.2 Pendidikan Sebagai Disiplin Ilmu


Para ahli memberikan beragam pengertian ilmu pendidikan. Carter V. Good (1985)
dalam Suwarno (2006) berpendapat bahwa ilmu pendidikan adalah suatu bangunan
pengetahuan sistematis yang mencakup aspek-aspek kuantitatif dan objektif dari proses
belajar, dan juga menggunakan insrumen secara seksama dalam mengajukan hipotetis-
hipotesis pendidikan untuk diuji berdasarkan pengalaman yang sering kali dalam bentuk
eksperimen.
Ilmu pendidikan adalah ilmu yang membahas fenomena pendidikan dalam perspektif
luas dan integrative. Dalam perspektif luas, pendidikan merupakan upaya memanusiakan
manusia agar menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Dalam arti integrative,
pendidikan dikaji secara historis, sosiologis, psikologis, dan filosofis. Upaya pendidikan
mencakup seluruh aktivitas pendidikan, sekaligus pemikiran sistematisnya.
Ilmu pendidikan diarahkan kepada perbuatan mendidik yang mempunyai tujuan, dan tujuan
itu ditentukan oleh nilai normative yang dijunjung tinggi oleh seseorang.

Page | 8
2.2.3 Substansi Pendidikan dan Biologi

Dalam mempertahankan hidupnya di alam, manusia pada awalnya sangat bergantung


pada lingkungan. Manusia mengambil semua keperluan hidupnya dari lingkungan di
sekitarnya. Apabila lingkungan setempat sudah tidak mendukung keperluannya, manusia
mulai berpindah membuka tempat baru. Selanjutnya manusia mulai memanfaatkan
lingkungannya.
Manusia mencoba bercocok tanam dan beternak untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Bahkan manusia mulai mengawetkan bahan-bahan makanan yang berlebih untuk
disimpan sebagai cadangan makanan dan digunakan apabila diperlukan., atau mengadakan
tukar menukar bahan makanan tersebut sehingga manusia dapat menikmati bahan olahan
dengan sesamanya. Setelah memberdayakan lingkungan, manusia mulai mengubah
lingkungan untuk kebutuhannnya sendiri. Manusia mulai membawa taman ke dalam
rumahnya, atau bahkan membawa ”hutan kecil” di lingkungan kediamannya. Manusia mulai
melupakan hubungannya dengan alam atau lingkungan. Manusia memandang dirinya terpisah
dari lingkungannya. Manusia lupa dengan daya dukung alam atau lingkungan. Dengan
bercocok tanam satu jenis tanaman tertentu, manusia mulai mengubah lingkungan menjadi
homogen. Oleh karena hama mulai menyerang tanaman produksi, manusia mulai
menggunakan pestisida untuk memberantasnya. Manusia memasukkan ”zat & energi” ke
dalam ekosistem alami. Manusia mulai mengganggu lingkungan dan ekosistem alami dengan
produk-produk buatan manusia berupa pupuk buatan, insektisida, pestisida dan banyak lagi
bahan lainnya. Mulai terjadi ketidakseimbangan dan manusia juga yang mengalaminya.
Longsor, banjir, kekeringan terjadi di mana-mana. Akibatnya lingkungan manusia tidak lagi
memberikan kenyamanan, karena ulah manusia yang mengubah lingkungan.
Pendidikan biologi mestinya memberikan andil dalam perkembangan biologi dari
waktu ke waktu. Pengenalan berbagai organisme yang berguna diperlukan manusia dalam
kehidupan sehari-hari. Karena yang dikenal manusia banyak, pengetahuan tersebut perlu
dikelompokkan sehingga berkembang taksonomi dan sistematik. Selanjutnya manusia
mempelajari biofungsi, bioperkembangan, dan bioteknologi. Manusia memperoleh banyak
manfaat dari semua itu, tetapi pendidikan biologi perlu membekali biomanajamen dan
bioetika agar penerapan pengetahuan di lingkungannya membawa arah pemberdayaan
berkelanjutan. Seyogianya pendidikan biologi memberi siswa bekal keterampilan,
pengetahuan dan persepsi yang dilandasi kesadaran akan pentingnya etika dalam mengolah
bahan di lingkungannya. Manusia hendaknya menjadi pemelihara keanekaragaman dan

Page | 9
fungsi lingkungan agar manusia tetap dapat mengambil manfaat dari keanekaragaman dan
lingkungan tetap dapat mendukung kehidupan manusia pada masa kini, maupun pada masa
yang akan datang. Jadi dari semua itu sebenarnya pendidikan biologi atau bioedukasi yang
perlu berperan agar lingkungan dan alam tetap bersahabat dengan manusia.
Jadi pendidikan biologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
bagaimana hubungan pendidikan dengan biologi, bagaimana cara mempelajari dan
mengajarkan biologi dengan baik dan benar, baik pada instusi pendidikan formal maupun non
formal. Pendidikan untuk pengajaran Biologi perlu dan dapat dimuati unsur pembentukan
karakter melalui pengembangan sikap ilmiah (scientific attitude). Beberapa jenis sikap ilmiah
yang dapat dikembangkan melalui pengajaran sains antara lain meliputi: curiosity (sikap
ingin tahu), respect for evidence (sikap untuk senantiasa mendahulukan bukti), flexibility
(sikap luwes terhadap gagasan baru), critical reflection (sikap merenung secara kritis),
sensitivity to living things and environment (sikap peka/ peduli terhadap makhluk hidup dan
lingkungan). Cara pengajaran dapat diintegrasikan dengan penyisipan dan penanaman nilai-
nilai sains di dalamnya. Nilai-nilai yang dimaksud antara lain adalah nilai praktis, nilai
intelektual, nilai religius, nilai sosial-ekonomi, dan nilai pendidikan.

2.2.4 Tujuan Pendidikan Biologi

Tujuan pendidikan biologi dapat dijabarkan sebagai berikut:


1. Menumbuhkan kebiasaan membaca literasi ilmiah dan bahasa
2. Menumbuhkan kebiasaan untuk berpikir kritis dan ilmiah
3. Pembelajaran biologi bisa memotivasi generasi muda untuk berpikir kritis dan
memaksimalkan fungsi otak untuk memahami ilmu yang dipelajari.
4. Menumbuhkan sikap ilmiah dan kerja ilmiah
5. Meningkatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
6. Selain sikap ilmiah yang telah dibahas di atas, pada setiap kurikulum sains sikap
mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa menjadi rujukan
perumusan tujuan atau kompetensi. Dengan kata lain selain sikap ilmiah, diharapkan
dikembangkan juga pengembangan nilai-nilai dalam pembelajaran sains, baik berupa
nilai religius, nilai praktis (manfaat), maupun nilai intelektual.
7. Pendidikan biologi sebagai bekal hidup
8. Tidak kalah pentingnya adalah penggunaan pengetahuan dan pandangan biologi
dalam mempersiapkan generasi yang akan datang. Pengetahuan tentang gizi,
perkembangan janin dalam rahim, replikasi DNA beserta kerusakan dan

Page | 10
perbaikannya, sintesis protein dan masih banyak lagi yang lainnya diperlukan untuk
mendidik manusia yang bermoral atau beretika dan saleh. Rekayasa genetic dan
bioteknologi yang menurut Callahan (dalam Shanon, 1985; dalam Rustaman, 2007)
termasuk teknologi perbaikan perlu didampingi dengan bioetika.

Page | 11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Biologi menduduki posisi sangat strategis dan mempunyai kedudukan unik dalam
struktur keilmuan. Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam atau natural science, biologi
mempunyai kesamaan dengan cabang atau disiplin lainnya dalam sains, yaitu mempelajari
gejala alam, dan merupakan sekumpulan konsep-prinsip- teori (produk sains), cara kerja atau
metode ilmiah (proses sains), dan di dalamnya terkandung sejumlah nilai dan sikap.
Ilmu pendidikan adalah ilmu yang membahas fenomena pendidikan dalam perspektif
luas dan integrative. Dalam perspektif luas, pendidikan merupakan upaya memanusiakan
manusia agar menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Dalam arti integrative,
pendidikan dikaji secara historis, sosiologis, psikologis, dan filosofis. Upaya pendidikan
mencakup seluruh aktivitas pendidikan, sekaligus pemikiran sistematisnya.

3.2 Saran

Perlu pengkajian lebih lanjut tentang substansi pendidikan dan biologi sehingga
pembelajaran biologi dapat berlangsung dengan baik. Disarankan kepada para orangtua
memiliki peran yang sangat menentukan kualitas generasi yang akan datang. Ada yang
menyebutkan "lost generation" karena memperhatikan kondisi generasi muda dalam keluarga
yang kurang beruntung dalam memperoleh kesempatan pemerataan pendidikan. Mereka tidak
dapat memperoleh pendidikan yang layak, bahkan mereka terpaksa harus meminta-minta
untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan orangtuanya tanpa dapat memilih. Jadi bukan
rekayasa genetik saja yang patut diwaspadai dalam mempersiapkan generasi yang akan
datang.

Page | 12
DAFTAR PUSTAKA

Al-Khalick, Fouad Abd., Randy L. Bell, dkk. 1998. Journal: The Nature of Science and
Instructional Practice: Making The Unnatural Natural. John Wiley & Sons, Inc. Sci
Ed 82: 417-436, 1998. disajikan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh
Pusat Peniliaian Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan
Nasional.
McComas, W. F. 1998. The Principal Elements of The Nature of Science: Dispelling The
Myths. Adapted from the chapter The Nature of Science in Science Education, 53-70.
Kluwer Academic Publishers, 1998.
Rustaman, N. Y. Tanpa tahun. Pendidikan Biologi dan Trend Penelitiannya. FPMIPA UPI.
Rustaman, N.Y. 2006. Literasi Sains Anak Indonesia 2000 & 2003. Makalah.
Salam, B. 1997. Logika Materiil: Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Suriasumantri, J. S. 2005. Filsafat Ilmu: Sebuah pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar
harapan.
Suwarno, W. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Page | 13