Anda di halaman 1dari 35

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang perlu


diwaspadai karena hipertensi menimbulkan angka morbiditas dan angka
mortalitas yang tinggi karena hipertensi merupakan penyebab utama
meningkatnya risiko penyakit stroke, jantung dan ginjal. Selain itu,
hipertensi merupakan penyebab kematian utama ketiga di Indonesia untuk
semua umur setelah stroke dan tuberculosis.

Hipertensi adalah kondisi dimana seseorang mempunyai tekanan darah


systole (Sistolic Blood Pressure) lebih atau sama dengan 140 mmHg atau
tekanan darah diastole (Diastolic Blood Pressure) lebih atau sama dengan
90 mmHg sesuai criteria WHO atau memiliki riwayat penyakit hipertensi
sebelumnya (Bhadoria, Kasar, dan Toppo, 2014). Wu, Chien, Lin, Chou
(2012) menjelaskan bahwa hipertensi menurut diagnosis WHO di Amerika
Serikat ialah tekan sistolik > 140 mmHg dan tekan diastoliknya > 90
mmHg.

Berdasarkan Data menunjukkan dari 225.512 jiwa penduduk samarinda,


jumlah penderita hipertensi sebanyak 22.236 (9%) jiwa pada tahun 2017
dan meningkat menjadi 31.486 (13%) jiwa pada tahun 2018 (Dinkes
Samarinda, 2018).

Menurut Dewi (2013), Data diatas menunjukkan bahwa masih tingginya


kasus hipertensi. Hal ini membutuhkan sikap pencegahan kambuhnya
hipertensi pada klien yang memiliki riwayat hipertensi. Keberhasilan dari
pencegahan kekambuhan hipertensi dapat dilihat dari sikap dan
pengetahuan dari klien yang memiliki riwayat hipertensin Pengetahuan

1
yang perlu diketahui oleh klien riwayat hipertensi yaitu faktor penyebab
hipertensi. Faktor penyebab hipertensi Salah satunya adalah pola makan
yang salah seperti sering mengomsumsi makanan yang asing dan siap saji
yang memiliki kandungan lemak (Novian, 2013). Apabila pengetahuan
seseorang semakin baik maka sikapnya pun semakin baik. Akan tetapi
pengetahuan yang baik tidak disertai dengan sikap maka pengetahuan itu
tidak akan berarti (Notoatmodjo,2003). Kurangnya pengetahuan akan
mempengaruhi pasien hipertensi un-tuk dapat mengatasi kekambuhan
hipertensi. Sikap pencegahan kekambuhan hipertensi bisa dilakukan dengan
mempertahankan berat badan, mengurangi makanan dengan tinggi garam,
makanan yang berlemak, makanan yang tinggi serat dan melakukan
aktivitas olahraga (Zaini, 2015).

Dengan bersikap negative atau kurang tentang cara perawatan


hipertensi. Sebagian besar pengetahuan klien berdasarkan tingkat
pendidikan responden kurang. Persentasi pengetahuan yang kurang tentang
perawatan hipertensi pada tingkat pendidikan menengah kebawah lebih
besar dibanding perguruan tinggi. Kurangnya sikap pencegahan
kekambuhan akan penyakit hipertensi, maka akan menambah jumlah
penderita hipertensi Jika tekanan darah selalu tinggi maka akan
menimbulkan kerusakan beberapa organ tubuh misalkan pada jantung dan
ginjal (Gunawan 2001). Tekanan darah yang tinggi dalam jangka waktu
lama dapat menyebabkan beberapa kejadian berbahaya seperti pecahnya
pembuluh darah, kerusakan ginjal, dan kerusakan jantung (Prasetyaningrum
& Indah, 2014).

Survay pendahuluan didapatkan bahwa dari jumlah pasien hipertensi


secara keseluruhan 1 tahun terakhir (2018) yaitu sebanyak 822 dan jumlah
pasien yang memiliki riwayat hipertensi sebanyak 140 orang (Puskesmas
Puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu, 2018).
Hasil data diatas menunjukkan angka kejadian hipertensi masih tinggi,

2
berdasarkan studi pendahuluan dari 20 penderita yang memiliki riwayat
hipertensi, 10 dari penderita menyatakan bahwa hipertensi adalah
meningkatnya tekanan darah yaitu biasanya 140/90 mmHg dan tahu cara
pencegahnnya, sedangkan yang lainnya tidak tahu tentang penyakit
hipertensi dan tidak tahu cara pencegahannya.

Berdasarkan fenomena dan masalah diatas peneliti tertarik untuk


melakukan penelitian yang berjudul “Gambaran pengetahuan dan sikap
pencegahan kekambuhan hipertensi pada klien riwayat hipertensi di
puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu” .

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap pencegahan kekambuhan
hipertensi pada klien riwayat di puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi
Kecamatan Samarinda Ulu
.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran pengetahuan dan sikap pencegahan
kekambuhan hipertensi pada klien riwayat hipertensi di puskesmas
Segiri Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu .
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi Karasteristik demografi klien riwayat hipertensi di
puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu

1.3.2.2 Untuk mengetahui gambaran pengetahuan klien riwayat hipertensi di


puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu .

3
1.3.2.3 Untuk mengetahui gambaran sikap klien riwayat hipertensi dalam
pencegahan kekambuhan hipertensi di puskesmas Segiri Kelurahan
Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu .

1.4 Manfaat penelitian


1.4.1 Bagi institusi
Penelitian ini dapat memberikan informasi ilmiah bagi kalangan
akademisi baik pengajar maupun mahasiswa keperawatan untuk
mengembangkan proses berpikir ilmiah khususnya dalam memahami
memperkaya wawasan ilmu keperawatan khususnya yang terkait
dengan gambaran sikap klien riwayat hipertensi dalam pencegahan
kekambuhan hipertensi di puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi
Kecamatan Samarinda Ulu .

1.4.2 Bagi Mahasiswa


Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai refrensi untuk
melakukan penelitian selanjutnya.

1.4.3 Bagi Masyarakat


Hasil penelitian ini di harapkan agar masyarakat tahu dan mengerti
tentang pencegahan hipertensi

1.4.4 Bagi Tenaga Kesehatan


Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi Puskesmas
Segiri Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda Uludalam rangka
meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya tentang pencegahan
penyakit hipertensi

4
1.4.5 Bagi Penelitian Selanjutnya
Hasil penelitian dapat menjadi data masukan bagi peneliti selanjutnya
untuk mengembangkan penelitian yang terkait dengan gambaran sikap
klien riwayat hipertensi dalam pencegahan kekambuhan hipertensi di
puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu .

5
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 HIPERTENSI

2.1.1 Definisi

Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit


darah tinggi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang
berada diatas batas normal atau optimal yaitu ≥ 140 mmHg untuk
sistolik dan ≥ 90 mmHg untuk diastolik. Penyakit ini dikategorikan
sebagai the silent dis-ease karena penderita tidak mengetahui dirinya
mengidap hipertensi sebe-lum memeriksakan tekanan darahnya
(Purnomo, 2009).

Hipertensi adalah suatu peningkatan tekanann darah di dalaam


arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala,
dimana tekanan yang abnormal tinggi didalam arteti menyebabkan
meningkatnya resiko tekanan stroke, aneurisma, gagaal jantung,
serangan jantung dan kerusakan ginjal (Faqih, 2009).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada


pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang
dibawa oleh darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkannya. Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang
mengakibatkan angka kesakitan atau morbiditas dan angka kematian
atau mortalitas. Hipertensi merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal atau kronis dalam
waktu yang lama( Saraswati,2009).

6
Hipertensi lebih dikenal dengan istilah penyakit tekanan darah
tinggi. Batas tekanan darah yang dapat digunakan sebagai acuan untuk
menentukan normal atau tidaknya tekanan darah adalah tekanan sistolik
dan diastolik. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu
peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri
secara terus-menerus lebih dari satu periode. Hal ini terjadi bila arteriol-
arteriol kontriksi. Kontriksi arteriol membuat darah sulit mengalir dan
meningkatkan tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah
beban kerja jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan
kerusakan jantung dan pembuluh darah (Udjianti, 2011).

2.1.2 Etiologi Hipertensi

2.1.2.1 Hipertensi Primer atau Esensial

Hipertensi Primer atau Esensial adalah suatu peningkatan


tekanan arteri yang dihasilkan oleh ketidakteraturan mekanisme
kontrol homeostatik normal tanpa subjek yang jelas atau tidak
diketahui penyebabnya. Hipertensi primer memiliki populasi kira-
kira 90% dari seluruh pasien hipertensi. Beberapa faktor diduga
berkaitan dengan berkembangnya hipertensi esensial seperti berikut
ini :

a. Genetik
Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan
hipertensi, berisiko tinggi untuk mendapatkan penyakit ini.

b. Jenis kelamin dan usia

Laki-laki berusia 35-50 tahun dan wanita pasca


menopause berisiko tinggi untuk mengalami hipertensi.

7
c. Diet
Konsumsi diet tinggi garam atau lemak secara langsung
berhubungan dengan berkembangnya hipertensi. Menurut
Widharto (2007) sebenarnya, bukanlah garam (garam dapur)
yang tidak baik bagi tekanan darah, tetapi kandungan natrium
(Na) dalam darah yang dapat mempengaruhi tekanan darah
seseorang. Namun, Na yang masuk dalam darah secara
berlebihan dapat menahan air sehingga meningkatkan volume
darah. Meningkatkannya volume darah mengakibatkan
meningkatnya tekanan pada dinding pembuluh darah sehingga
kerja jantung dalam memompa darah semakin meningkat.
Sebagian besar hipertensi juga disebabkan adanya penebalan
dinding pembuluh arteri oleh lemak atau kolesterol. Jika
penderita hipertensi mengonsumsi makanan berlemak, kadar
kolesterol dalam darahnya dapat meningkat sehingga dinding
pembuluh darah makin menebal. Dampak yang semakin parah,
pembuluh darah tersebut menjadi tersumbat

d. Berat badan
Obesitas (>25% di atas berat badan ideal) dikaitkan
dengan berkembangnya hipertensi. Orang yang kelebihan
berat badan, tubuhnya bekerja keras untuk membakar
berlebihnya kalori yang masuk. Pembakaran kalori ini
memerlukan suplai oksigen dalam darah yang cukup.
Semakin banyak kalori yang dibakar, semakin banyak pula
pasokan oksigen dalam darah. Banyaknya pasokan darah
tentu menjadikan jantung bekerja lebih keras. Dampaknya,
tekanan darah orang gemuk cenderung tinggi (Widharto,
2007).

8
e. Gaya hidup

Merokok dan konsumsi alkohol dapat meningkatkan


tekanan darah jika gaya hidup tersebut menetap.

2.1.2.2 Hipertensi Sekunder atau non Esensial

Hipertensi Sekunder adalah hipertensi yang disebabkan


oleh penyakit lain yaitu kerusakan ginjal, diabetes, kerusakan
vaskuler dan lain-lain. Sekitar 10% dari pasien hipertensi
tergolong hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita
hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-
2% penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat
tertentu (misalnya pemakaian pil KB). Faktor pencetus
munculnya hipertensi sekunder antara lain: penggunaan
kontrasepsi oral, coarctation aorta, neurogenik (tumor otak,
ensefalitis, gangguan psikiatris), kehamilan, peningkatan volume
intravaskuler, luka bakar, dan stress (Udjianti, 2011).

2.1.4 Gejala Hipertensi

Tekanan darah tinggi sering disebut sebagai silent killer, hal ini
diibaratkan sebagai bom waktu yang pada awal tidak menunjukkan
tanda dan gejala yang spesifik, sehingga orang seringkali
mengabaikannya. Gejala-gejalanya itu adalah sakit kepala/rasa berat di
tengkuk, mumet (vertigo), jantung berdebar-debar, mudah lelah,
penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus), dan mimisan.

Namun demikian, jika hipertensinya berat atau sudah


berlangsung lama dan tidak mendapat pengobatan, akan timbul gejala

9
seperti: sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak napas, terengah-
engah, pandangan mata kabur dan berkunang-kunang. Terjadi
pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki, keluar keringat yang
berlebihan, kulit tampak pucat dan kemerahan, denyut jantung yang
kuat, cepat dan tidak teratur. Kemudian muncul gejala yang
menyebabkan gangguan psikologis seperti: emosional, gelisah dan sulit
tidur (Ira, 2014).

2.1.5 Komplikasi Hipertensi

Menurut Corwin (2005) komplikasi hipertensi terdiri dari


stroke, infark miokard, gagal ginjal, ensefalopati (kerusakan otak) dan
pregnancy-included hypertension (PIH). Adapun komplikasi yang
mungkin timbul tergantung pada berapa tinggi tekanan darah, berapa
lama telah dialami, adakah faktor-faktor risiko lain dan bagaimana
penyakit tersebut ditangani

2.1.5.1 Stroke

Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun


global akut, lebih dari 24 jam yang berasal dari gangguan
aliran darah otak dan bukan disebabkan oleh gangguan
peredaran darah. Stroke dengan defisit neurologik yang terjadi
tiba-tiba dapat disebabkan oleh iskemia atau perdarahan otak.
Stroke iskemik disebabkan oleh oklusi fokal pembuluh darah
yang menyebabkan turunnya suplai oksigen dan glukosa ke
bagian otak yang mengalami oklusi.

Stroke dapat timbul akibat pendarahan tekanan tinggi di


otak atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh otak
yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada

10
hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak
mengalami hipertrofi dan menebal, sehingga aliran darah ke
daerah-daerah yang diperdarahi berkurang. Arteri-arteri otak
yang mengalami arterosklerosis dapat melemah sehingga
meningkatkan kemungkinan terbentuknya anurisma.

2.1.5.2. Infark miokardium


Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang
arterosklerotik tidak dapat mensuplai cukup oksigen ke
miokardium atau apabila terbentuk trombus yang menyumbat
aliran darah melalui pembuluh tersebut. Akibat hipertensi
kronik dan hipertensi ventrikel, maka kebutuhan oksigen
miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi
iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga,
hipertrofi dapat menimbulkan perubahaan-perubahan waktu
hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi
distritmia, hipoksia jantung dan peningkatan risiko
pembentukan bekuan.

2.1.5.3 Gagal Ginjal

Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan


ginjal yang progresif dan irreversible dari berbagai penyebab,
salah satunya pada bagian yang menuju ke kardiovaskular.
Mekanisme terjadinya hipertensi pada gagal ginjal kronik oleh
karena penimbunan garam dan air atau sistem renin angiotensin
aldosteron (RAA). hipertensi berisiko 4 kali lebih besar
terhadap kejadian gagal ginjal bila dibandingkan dengan orang
yang tidak mengalami hipertensi Menurut Mansjoer (2011).

11
2.1.5.4 Ensefalopati (kerusakan otak)

Ensefalopati (Kerusakan otak) dapat terjadi terutama


pada hipertensi maligna (hipertensi yang meningkat cepat).
Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan
peningkatan tekanan kapiler dan mendorong ke dalam ruang
intersitium diseluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron
disekitarnya kolaps yang dapat menyebabkan ketulian,
kebutaan dan tak jarang juga koma serta kematian
mendadak. Keterikatan antara kerusakan otak dengan
hipertensi, bahwa hipertensi berisiko 4 kali terhadap
kerusakan otak dibandingkan dengan orang yang tidak
menderita hipertensi (Corwin, 2005).

2.3.7 Faktor Risiko Hipertensi

2.3.7.1 Faktor yang tidak dapat di ubah/di kontrol

a. Umur
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua
seseorang semakin besar resiko terkena hipertensi. Umur lebih dari
40 tahun mempunyai resiko terkena hipertensi, dengan
bertambahnya usia resiko terkena hipertensi lebih besar sehingga
prevalesi hipertensi dikalangan usia lanjut lebih tinggi yaitu umur
diatas 75 tahun 63,8% diikuti usia 65-74 tahun (57,6%), usia 55-64
tahun (45,9%) (Riskesdas, 2013). Kategori untuk pengelompokkan
umur pada penelitian ini menggunakan pengelompokkan umur
berdasarkan Riskesdas 2013, yaitu : 15-24 tahun, 25-34 tahun, 35-
44 tahun, 45-54 tahun, 55-64 tahun dan ≥65 tahun.

12
b. Jenis Kelamin
Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi,
dimana pria lebih banyak yang menderita hipertensi dibandingkan
wanita, dengan rasikosekitar 2,29 untuk peningkatan tekanan darah
sistolik. Pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat
meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan wanita. Namun,
setelah memasuki manopause, prevalensi hipertensi pada wanita
meningkat. Setelah usia 65 tahun, terjadinya hipertensi pada wanita
lebih meningkat dibandingkan dengan pria yang diakibatkan faktor
hormonal. Prevalensi hipertensi berdasarkan jenis kelamin pada
riskesdas 2007 maupun riskesdas 2013 menunjukkan bahwa
prevalensi hipertensi perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki
(Depkes, 2014)

c. Keturunan atau Genetika

Seseorang cenderung menderita tekanan darah tinggi bila kedua


orangtuanya juga menderita tekanan darah tinggi. Penelitian
menunjukkan bahwa tekanan darah seorang anak akan lebih
mendekati tekanan darah orangtuanya bila mereka memiliki
hubungan darah. Hal ini menunjukkan bahwa gen yang diturunkan,
dan bukan hanya faktor lingkungan (seperti makanan atau status
sosial), berperan besar dalam menentukan tekanan darah (Palmer, A
& William, B, 2005). Riwayat keluarga yang menunjukkan adanya
tekanan darah yang meninggi merupakan faktor risiko paling kuat
bagi seseorang untuk mengidap hipertensi di masa datang.

13
2.3.7.2 Faktor yang dapat diubah/dikontrol

a. Konsumsi Garam
Garam merupakan hal yang sangat penting pada mekanisme
timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi
melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan
darah. Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekskresi
kelebihan garam sehingga kembali pada keadaan hemodinamik
yang normal. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku
bangsa dengan asupan garam minimal. Asupan garam kurang dari
3 gram per hari menyebabkan prevalensi hipertensi rendah,
sedangkan apabila asupan garam antara 5-15 gram perhari,
prevalensi hipertensi menngkat menjadi 15-20%. Konsumsi garam
yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram perhari setara dengan 110
mmol natrium atau 2400 mg/hari.

b. Konsumsi lemak jenuh

Kebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan


peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi.
Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko aterosklerosis yang
berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Penurunan konsumsi
lemak jenuh, terutama lemak dalam makanan yang bersumber dari
hewan dan peningkatan konsumsi lemak tak jenuh secukupnya yang
berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain yang
bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan darah (Sheps,
2005).

c. Alkohol
Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum
alkohol berat cenderung hipertensi meskipun mekanisme timbulnya

14
hipertensi belum diketahui secara pasti. Orang-orang yang minum
alkohol terlalu sering atau terlalu banyak memiliki tekanan yang
lebih tinggi dari pada individu yang tidak minum atau minum sedikit.
Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum
jelas. Namun diduga, peningkatan kadar kortisol dan peningkatan
volume sel darah merah serta kekentalan darah merah berperan dalam
meingkatkan tekanan darah. Diperkirakan konsumsi alkohol
berlebihan menjadi penyebab sekitar 5-20% dari semua kasus
hipertensi. Mengkonsumsi 3 gelas atau lebih minuman beralkohol
setiap hari meningkatkan risiko menderita hipertensi sebesar 2 kali.

d. Obesitas

Obesitas diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi


penimbunan lemak yang berlebihan dijaringan lemak tubuh dan dapat
mengakibatkan terjadinya beberapa penyakit. Obesitas merupakan
ciri khas penderita hipertensi. Obesitas bukanlah penyebab hipertensi.
Akan tetapi prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar.
Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang gemuk 5 kali
lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang badannya normal.
Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki berat
badan lebih (overweight).

e. Olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi,
karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan
perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Kurang melakukan
olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas jika
asupan garam juga bertambah akan memudahkan timbulnya
hipertensi. Kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko hipertensi
karena meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Orang tidak aktif

15
juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung lebih tinggi
sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras pada setiap
kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung harus memompa,
makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri (Sheps, 2005).
Melakukan olahraga secara teratur tidak hanya menjaga
bentuk tubuh dan berat badan, tetapi juga dapat menurunkan
tekanan darah. Latihan aerobik sedang selama 30 menit sehari
selama beberapa hari setiap minggu dapat menurunkan tekanan
darah. Jenis latihan yang dapat mengontrol tekanan darah adalah
berjalan kaki, bersepeda, berenang, dan aerobik (Palmer, A &
William, B, 2005)

f. Stres
Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya
transaksi antara individu dengan lingkungannya yang mendorong
seseorang untuk mempersepsikan adanya perbedaan antara tuntutan
situasi dan sumber daya (biologis, psikologis dan sosial) yang ada
pada diri seseorang. Hubungan antara stren dengan hipertensi diduga
melalui aktivitas saraf simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan
darah secara bertahap. Apabila stres menjadi berkepanjangan dapat
berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi (Nurkhalida, 2003).

g. Merokok
Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida
yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat
merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri yang mengakibatkan
proses artereosklerosis dan tekanan darah tinggi. Merokok juga
meningkatkan
denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk disuplai ke otot-otot
jantung. Merokok pada penderita tekanan darah tinggi semakin
meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri.

16
Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2012) bahwa
perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor
predisposisi, faktor pendukung dan faktor penguat.

a. Faktor Predisposisi (predisposing factors)

Faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi


terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap,
keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan sebagainya.
Contohnya seorang ibu mau membawa anaknya ke posyandu,
karena tahu bahwa di posyandu akan dilakukan penimbangan anak
untuk mengetahui pertumbuhannya. Tanpa adanya pengetahuan-
pengetahuan ini ibu tersebut mungkin tidak akan membawa
anaknya ke posyandu.

b. Faktor Pendukung (enabling factors)


Faktor-faktor yang mendukung atau memfasilitasi perilaku atau
tindakan. Yang dimaksud dengan faktor pendukung adalah sarana
dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan,
misalnya: puskesmas, posyandu, rumah sakit, tempat pembuangan
air, tempat pembuangan sampah, tempat olah raga, makanan bergizi,
uang dan sebagainya. Contohnya sebuah keluarga yang sudah tahu
masalah kesehatan, mengupayakan keluarganya untuk menggunakan
air bersih, buang air di WC, makan makanan yang bergizi, dan
sebagainya. Tetapi apakah keluarga tersebut tidak mampu untuk
mengadakan fasilitas itu semua, maka dengan terpaksa buang air
besar di kali/kebun menggunakan air kali untuk keperluan seharihari,
dan sebagainya.

c. Faktor Penguat (reinforcing factors)


Faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya
perilaku. Faktor penguat ini terwujud dalam sikap dan perilaku

17
keluarga atau petugas kesehatan yang merupakan kelompok referensi
dari perilaku masyarakat. Karenanya, petugas kesehatan harus
memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kesehatan.
Selain itu perilaku keluarga dan tokoh masyarakat juga dapat menjadi
panutan orang lain untuk berperilaku sehat. Kadang-kadang
meskipun orang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi
mereka tidak melakukannya. Contohnya seorang ibu hamil tahu
manfaat periksa hamil dan di dekat rumahnya ada polindes, dekat
dengan bidan, tetapi ia tidak mau melakukan periksa hamil karena
ibu lurah dan ibu tokoh-tokoh lain tidak pernah periksa hamil namun
anaknya tetap sehat. Hal ini berarti bahwa untuk berperilaku sehat
memerlukan contoh dari para tokoh masyarakat.

2.2 Pengetahuan

2.2.1 Difinisi

Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil tahu dan ini terjadi


setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan faktor dominan yang
sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang, sebab dari
hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan
akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan (Notoatmodjo, 2012).

Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua


aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek inilah yang

18
akan menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu. Semakin
banyak aspek positif dari objek di ketahui maka menimbulkan sikap
makin positif terhadap objek tesebut.

2.2.2 Klasifikasi Pengetahuan

Riyanto (2013) menyatakan bahwa jenis pengetahuan diantaranya


sebagai berikut:

2.2.1.1 Pengetahuan Implisit


Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih
tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi
faktor-faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan
pribadi, perspektif, dan prinsip. Pengetahuan seseorang
biasanya sulit untuk ditransfer ke orang lain baik secara
tertulis ataupun lisan. Pengetahuan implisit sering kali berisi
kebiasaan dan budaya bahkan bisa tidak disadari.

2.2.2.2 Pengetahuan Eksplisit


Pengetahun eksplisit adalah pengetahuan yang telah
didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa
dalam wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata
dideskripsikan dalam tindakan-tindakan yang berhubungan
dengan kesehatan.

2.2.3 Tingkat Pengetahuan

Menurut (Notoadmodjo, 2012), tahap pengetahuan di dalam domain


kognitif terdiri dari 6 tingkat, yaitu :

19
2.2.3.1 Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang


telah di pelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam
pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)
terhadap yang spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari
atau rangsangan yang telah di terima. Oleh sebab itu tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. Kata kerja
untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang
dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,
mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.

2.2.3.2 Memahami (comprehension)


Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang di ketahui dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
Orangtelah paham terhadap objk atau materi harus dapat
menjelaskan,menyebutkan contoh, menyimpulkan,meramalkan,
dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

2.2.3.3 Aplikasi (application)


Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi yang telah di pelajari pada situasi atau
kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat di artikan
sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,
metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi
yang lain.

2..2.3.4 Analisis (analysis)


Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen,

20
tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan
masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis
ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat
menggambarkan (membuat bagan), membedakan,
memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya

2.2.3.5 Evaluasi (evaluation)


Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria
yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria
yang telah ada.

2.2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Riyanto (2013) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang


mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai berikut:

2.2.4.1 Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan


kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah
(baik formal maupun nonformal), berlangsung seumur hidup.
Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata
laku seseorang atau kelompok dan juga usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan. Pendidikan memengaruhi proses belajar, makin
tinggi pendidikan seseorang, makin mudah untuk menerima
informasi.

21
2.2.4.2 Informasi
Informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui, namun
ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer
pengetahuan. Informasi adalah suatu teknik untuk
mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi,
mengumumkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi
dengan tujuan tertentu

2.2.4.3 Sosial, budaya, dan ekonomi


Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang
tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau
buruk. Dengan demikian, seseorang akan bertambah
pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi
seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas
yang diperlukan untuk kegiatan tertentu sehingga status
sosial ekonomi ini akan memengaruhi pengetahuan
seseorang.

2.2.4.4 Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar
individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.
Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya
pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam
lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi
timbal balik ataupun tidak, yang akan direspon sebagai
pengetahuan oleh setiap individu.

2.2.4.5 Usia
Usia memengaruhi daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin

22
berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga
pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik.

2.3 Sikap

2.3.1 Pengertian Sikap

Menurut Notoatmodjo (2012) sikap merupakan suatu reaksi


atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus
atau objek. Sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat
ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap adalah
suatu tingkatan afeksi yang baik yang bersifat positif maupun dalam
hubungannya dengan objek-objek psikologis. Sikap juga sebagai
tingkatan kecenderungan yang bersifat positif atau negatif yang
berhubungan dengan objek psikologi. Sikap merupakan reaksi atau
respon seseorang yang masih tertutup terhadap stimulus objek dan tidak
langsung terlihat yang berarti seseorang mempunyai kesiapan untuk
bertindak, tetapi belum melakukan aktifitas yang disebabkan oleh
penghayatan pada suatu objek

Thomas dan Znaniecki dalam Wawan dan Dewi (2010)


menyatakan bahwa sikap adalah predisposisi untuk melakukan atau
tidak melakukan suatu perilaku tertentu, sehingga sikap bukan
hanya kondisi internal psikologis yang murni dari individu (purely
psychic inner state), tetapi sikap lebih merupakan proses kesadaran
yang sifatnya individual.

2.3.2 Komponen Pokok Sikap

Menurut Allport dalam Notoatmodjo (2012) menjelaskan bahwa sikap


mempunyai 3 komponen pokok yaitu :

23
2.3.2.1 Kepercayaan (keyakinan) ide dan konsep terhadap suatu
objek artinya bagaimana keyakinan, pendapat atau
pemikiran seseorang terhadap objek.

2.3.2.2 Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap


suatu objek artinya bagaimana penilaian (terkandung
didalamnya faktor emosi) orang tersebut terhadap objek.

2.3.2.4 Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave) artinya


sikap adalah merupakan komponen yang mendahului
tindakan atau perilaku terbuka. Ketiga komponen ini secara
bersama-sama membentuk sikap yang utuh

2.4 Pengertian Kekambuhan hipertensi

Kekambuhan merupakan peristiwa timbulnya kembali gejala-gejala yang


sebelumnya sudah mengalami kemajuan (Stuart & Laraia, 2001).

Hal yang menyebabkan kambuhnya hipertensi :

a. Penyakit hipertensi atau peningkatan kembali setelah satu tahun tanpa


minum obat.

b. Tidak kontrrol tekanan darah.

c. Tidak menjalankan pola hidup sehat, seperti diet yang tepat, olahraga,
berhenti merokok, mengurangi alcohol dan kafein

d. Mengurangi stress terutama pada orang yang mempunyai faktor resiko


hipertensi (Marliani & S, 2007).

a. Pastikan pola hidup yang dijalani sekrang sudah sesuai dengan an-juran

24
b. Konsultasikan kepada dokter pengobatan apa yang akan dijalani,
konsultasi ke dokter sebelumnya

c. Perlu diingat bahwa obat antihipertensi sebagian besar harus dimi-num


seumur hidup (Marliani & S, 2007).

Hal yang harus dilakukan jika kekambuhan terjadi :

a. Pastikan pola hidup yang dijalani sekrang sudah sesuai dengan an-juran

b. Konsultasikan kepada dokter pengobatan apa yang akan dijalani, konsultasi


ke dokter sebelumnya

c. Perlu diingat bahwa obat antihipertensi sebagian besar harus dimi-num


seumur hidup (Marliani & S, 2007).

25
BAB 3

KERANGKA KONSEP

3.1. Kerangka Konsep

Berdasarkan kerangka konsep penelitian, dikembangkan kerangka


konsep peneliti untuk memperjelas alur piker peneliti. Kerangka konsep
yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variable independen yaitu :
gambaran sikap klien riwayat hipertensi dalam pencegahan kekambuhan
hipertensi di puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda
Ulu .

klien yang memiliki Tingkat pengetahuan dan


riwayat hipertensi Sikap pencegahan
kekambuhan hipertensi

Karakteristik yang
mepengaruhi : Pengtahuan Sikap
1. Usia

2. Jenis kelamin Tinggi Rendah Baik Buruk


3. Pekerjaan hhhh

4. Pendidikan

5.riwayat
hipertensi

6. komsumsi obat

26
BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif
yaitu penelitian yang menguraikan fenomena masalah yang terjadi pada
komunitas. Rencana penelitian menggunakan metode deskriptif adalah
penelitian yang bertujuan untuk menguji dan melaporkan segala sesuatu
dengan apa adanya sebagai upaya memahami dan menjelaskannya.peneliti
akan melakukan pengukuran “Gambaran pengetahuan dan sikap
pencegahan kekambuhan hipertensi pada klien riwayat hipertensi di
puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu” .

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian akan dilakukan di Puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi
Kecamatan Samarinda Ulu pada bulan februari – maret 2019. Berdasarkan
survey pendahuluan yang dilakukan ada sebanyak 823 kasus hipertensi dan
jumlah pasien yang memiliki riwayat hipertensi sebanyak 140 orang pada
tahun 2018 di Puskesmas Segiri Kelurahan Sidodadi Kecamatan Samarinda
Ulu

27
4.3 Definisi Operasional Dan Skla Pengukuran
Tabel Definisi operasional variable

Variabel Definisi Parameter Alat ukur Hasil Skala


oprasional ukur

pengetahuan Pengetahuan adalah Pengetahuan Menggunaka Dibagi 2 Ordinal


dan sikap hasil dari tahu yang dalam n Kuesoner Kategori:
pencegahan terjadi melalui proses penelitian ini yang telah
sensoris khususnya mengacu pada dimodifikasi Tinggi
mata dan telinga sikap menggunakan Rendah
terhadap objek pencegahan skala guttman
tertentu. penyakit dan telah
hipertensi, diuji valid Dibagi 2
sikap merupakan dalam hal ini berupa kategori:
suatu reaksi atau meliputi pertanyaan
respons yang masih pengertian, pilihan ganda Baik
tertutup dari tanda dan dengan Buruk
seseorang terhadap gejala, penilaian
suatu stimulus atau komplikasi, benar atau
objek. Sikap itu tidak pengobatan salah yang
dapat langsung serta berisi 11
dilihat, tetapi hanya pencegahan pertanyaan.
dapat ditafsirkan hipertensi.
terlebih dahulu dari
perilaku yang
tertutup.
Sikap
Pendapat atau
keyakinan
dalam
melakukan
pencegahan
kekambuhan
hipertensi

4.4 Populasi

Penelitian ini populasinya adalah seluruh penderita hipertensi yang


memiliki riwayat hipertensi dan masih mengontrol tekanan darah di
Puskesmas segiri sebanyak 140 orang . Pada penelitian ini sampel yang
diambil adalah penderita yang memiliki riwayat hipertensi yang
berobat/mengontrol tekanan darahnya di Puskesmas segiri.

28
4.5 Sempel
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu Total Sampling.
Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana jumlah
sampel sama dengan populasi (Sugiyono, 2007).

1. Kriteria inklusi dan ekslusi

a. Kriteria inklusi

1) Penderita hipertensi yang memiliki riwayat hipertensi

2) Bersedia menjadi responden

b. Kriteria ekslusi
1) Penderita hipertensi yang pada saat penelitian berlangsung sedang
mengalami kekambuhan hipertensi

Besar sampel digunakan dengan menggunakan rumus besar sampel


untuk uji hipotesis satu proporsi dari rumus Slovin, yaitu :

n N
1 + N (e)2

Keterangan :

n = Besar sampel minimum

e = Kesalahan (absolute) yang dapat ditolerir, pada


penelitian ini dipakai e = 0,1 N = Jumlah populasi

29
Setelah dilakukan perhitungan dengan diketahui jumlah populasi
pasien hipertensi di Puskesmas Segiri adalah berjumlah 140 orang
maka didapati besar sampel sebanyak 53 orang.

4.6 Teknik Pengolahan Dan Analisa Data

4.6.1. Teknik pengolahan data

a. Editing (Penyunting Data)

Data yang diperoleh perlu diedit untuk mempermudah peneliti

dalam mengolah data, misalakan menebalkan jawaban. Apabila

ada data yang tidak sesuai dapat dikeluarkan (droup out).

b. Coding

Mengklasifikasi data dan jawaban menurut kategori

c. Processing

Memproses data agar mudah dianalisis menggunakan program

SPSS pada komputer.

d. Data Entry (Memasukan Data)

Memasukan data hasil pengisian kuesioner pada aplikasi SPSS

berdasarkan kode.

e. Cleaning

Pengecekan kembali data yang sudah dientry dimungkinkan

adanya human error.

f. Tabulating

Mengelompokan data agar mudah dalam penjumlahan, disusun,

didata untuk dianalisis.

30
4.6.2. Analisa Data

Pada penilitian ini akan digunakan analisa data secara

komputerisasi dengan analisa univariat. Analisis univariant

bertujuan untuk menguraikan gambaran aktualiasi yang ada

pada mahasiswa. Pada penelitian ini hasil analisa data akan

ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan

prosentase.

4.7 Etika Penelitian

Etika penelitian keperawatan dalam menjalankan penelitian adalah

sebagi berikut :

4.7.1. Otonomi (Autonomy)

Calon responden berhak memilih untuk berpartisipasi dalam

penelitian atau tidak dengan mengisi lembar inform consent.

Adanya persetujuan dari subjek penelitian untuk berpartisipasi

dalam penelitian (inform consent). Agar subjek mengerti

maksud dan tujuan penelitian.

31
4.7.2. Beneficience

Peneliti memberikan penjelasan mengenai manfaat penelitian

bagi calon responden, termasuk bila ingin mengembangkan

penelitian ini dikemudian hari.

4.7.3. Nonmaleficience

Penelitian yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian dan

mengandung unsur bahaya bagi responden penelitian. Hal ini

diterapakan dengan membiarkan responden mengisi saat ada

waktu luang tanpa unsur paksaan.

4.7.4. Kerahasiaan (Confidentiality)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan

jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun

masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah

dikumpulkan dijamin kerahasiannya oleh peneliti, hanya

kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

4.7.5. Veracity

Pada saat bertemu dengan calon responden, peneliti akan

menjelaskan secara langsung, tujuan, manfaat, cara

pengambilan data, dan efek yang mungkin didapatkan oleh

responden di kemudian hari. Selain itu, peneliti juga

32
mencantumkan secara tertulis aspek-aspek dari etika penelitian

pada lembar permohonan menjadi responden.

4.7.6. Justice

Peneliti akan memperlakukan subjek penelitian dengan adil


dan tidak memberikan perlakuan khusus pada responden
tertentu, sehingga responden tidak merasa dirugikan

33
DAFTAR PUSTAKA

Chin lin chou, Cara Mudah Memahami dan Menghindari Hipertensi,


Jantung dan Stroke, Edisi ke-2, Yogyakarta: Dianloka
Printika.

Corwin E. 2005. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC

Depkes RI. 2008.Laporan hasil Risetkesehatan dasar (Riskesdas)


Nasional tahun 2007.CV Metronusa prima: Jakarta

Depkes RI. 2014.Laporan hasil Riset kesehatan dasar (Riskesdas)


Nasional tahun 2013.CV Metronusa prima: Jakarta

Ira, H. S. (2014). Menu Ampuh Atasi Hipertensi. Yogyakarta:


Notebook.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2012.Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-


Prinsip Dasar. Jakarta: P.T Asdi Mahasatya.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2012.Pengantar Pendidikan


Kesehatan Dan Ilmu Perilaku. Edisi 1,Andi Offset,
Yogyakarta.

Nurkhalida, 2003, Warta Kesehatan Masyarakat, Jakarta: Depkes RI

Palmer, A. dan William, B., 2007. Tekanan Darah Tinggi, Jakarta:


Erlangga

Purnomo, H. (2009). Penyakit paling mematikan (hipertensi). Jakarta:


Buana Pustaka

Riyanto, A. 2013. Kuesioner Pengetahuan dan Sikap Dalam


Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

34
Sheps, Sheldon G. 2005. Mayo Clinic Hipertensi, Mengatasi
Tekanan Darah Tinggi. Jakarta: PT Intisari Mediatama.

Sufri, M.R. 2013. Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Tindakan


Penderita Hipertensi Dalam Upaya Mencegah Kekambuhan
Penyakit Hipertensi. Program Internsip Dokter Indonesia
Kabupaten Aceh Barat. Sugiyono. (2007). Metode penelitian
pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D.
Bandung: ALFABETA.

Saras wati (2009). Gambaran pengetahuan dan sikap klien tentang cara
perawa-tan hipertensi. Jurnal care Vol.4, No.3.

Udjianti, W. J., 2011, Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta: Salemba


Medika.

Wawan, A dan Dewi. M. 2010. Teori & Pengukuran Pengetahuan


Sikap Dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika

Widharto. 2007. Bahaya Hipertensi. Jakarta: PT. Sunda Kelapa


Pustaka.

WHO. (2012). Heart Disease and stroke statistic 2012 update. Jakarta :
Intimedia

WHO. (2014). Heart Disease and stroke statistic 2014 update. Jakarta :
Intimedia

35