Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi Post partum merupakan morbiditas dan mortalitas bagi ibu pasca
bersalin. Infeksi post partum ialah infeksi yang terjadi pada traktus genitalia
setelah persalinan. Secara umum suhu 38oC atau lebih yang terjadi antara hari
ke 2-10 post partum dan diukur per-oral sedikitnya 4 kali sehari disebut
sebagai morbiditas puerperalis. Kenaikan suhu tubuh yang terjadi didalam
masa post partum, dianggap sebagai infeksi post partum jika tidak ditemukan
sebabsebab ekstragenital. Infeksi post partum dapat disebabkan oleh beberapa
faktor predisposisi seperti hygiene, kelelahan, proses persalinan bermasalah
(partus lama/macet), persalinan traumatik, kurang baiknya proses pencegahan
infeksi, manipulasi yang berlebihan dan dapat berlanjut ke infeksi dalam masa
post partum (Saifuddin dkk., 2011).
Faktor karakteristik Ibu sebagai penyebab kemungkinan terjadinya infeksi
post partum diantaranya adalah kurangnya pengetahuan tentang vulva hygiene
dengan benar, faktor pendidikan ibu post partum, faktor sosial-ekonomi, nilai
dan kepercayaan (Saifuddin dkk.,2011).
Di Indonesia Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) masih cukup tinggi. Dimana Survey Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan bahwa AKI sebanyak 359 per
100.000 kelahiran hidup sedangkan AKB sebanyak 32 per 1000 kelahiran
hidup, sedangkan 2014 terjadi penurunan AKI menjadi 118 per 100.000
kelahiran hidup sedangkan AKB menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup.
Angka kematian ibu dikabupaten sleman tahun 2017 sebanyak 6 kasus dari
14.025 kelahiran hidup dengan angka kematian ibu melahirkan sebesar 42,4
per 100.000 kelahiran hidup. Diagnosis kematian Ibu di Kabupaten Sleman
antara lain: perdarahan 1 kasus, kejang hipoksia 1 kasus, penyakit jantung 2
kasus, sepsis 1 kasus, dan Bruncapneumonia 1 kasus. Dari jumlah sasaran itu
ada 6 kasus kematian ibu baik waktu hamil, melahirkan dan waktu nifas.
Penyebab langsung kematian maternal yang paling umum di Indonesia
adalah perdarahan (30,1%), eklamsia (27,1%), dan infeksi (7,3%). Penyebab
kematian bayi yaitu BBLR (38,94%), asfiksia lahir (27,97%). Hal ini
menunjukkan bahwa (60,21%) kematian perinatal dipengaruhi oleh kondisi
ibu saat melahirkan. Penyebab tidak langsung kematian ibu antara lain Kurang
Energi Kronis/KEK pada kehamilan (37%) dan anemia pada kehamilan
(40%). (Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2015).
AKI yang tinggi di suatu wilayah pada dasarnya menggambarkan derajat
kesehatan masyarakat yang rendah, penurunan umur harapan hidup dan
berpotensi menyebabkan kemunduran ekonomi serta sosial di level rumah
tangga, komunitas dan nasional. Namun, dampak paling besar merupakan
kematian ibu, yang berupa penurunan kualitas hidup bayi dan anak dan
menyebabkan goncangan dalam keluarga serta memengaruhi tumbuh
kembang anak (Santoso, 2013).
Bidan berperan penting menjaga kelangsungan hidup ibu dan anak,
terutama di daerah pedesaan. Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan
memiliki posisi penting dan strategis dalam penurunan AKI dan AKB,
memberikan pelayanan yang berkesinambungan dan paripurna, berfokus pada
aspek pencegahan melalui pendidikan kesehatan dan konseling, promosi
kesehatan, pertolongan persalinan normal dengan berlandaskan kemitraan dan
pemberdayaan perempuan serta melakukan deteksi dini pada kasus-kasus
rujukan.( dinkes, 2014 )
Berdasarkan data-data tersebut maka penulis tertarik untuk membahas
masalah yang berkaitan dengan masa nifas khususnya pada penulisan makalah
ini adalah hubungan vulva hygiene dengan pencegahan infeksi luka Perineum
pada ibu post partum.

B. Tujuan
Menganalisa hubungan vulva hygiene dengan pencegahan infeksi luka
perineum Perawatan maternitas.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Infeksi Post partum


1. Pengertian Infeksi Post partum
Infeksi post partum atau puerperalis adalah semua peradangan yang
disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat-alat genitalia pada
waktu persalinan dan perawatan masa post partum. Infeksi puerperalis adalah
keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genitalia dalammasa post
partum (Prawirohardjo, 2011).
Jadi yang dimaksud dengan infeksi puerperalis adalah infeksi bakteri
pada traktus genitalia yang terjadi setelah melahirkan, ditandai dengan
kenaikan suhu 38oC. Infeksi post partum/puerperalis ialah infeksi klinis pada
saluran genital yang terjadi dalam 28 hari setelah persalinan (Bobak, 2010).
2. Etiologi
Penyebab infeksi puerperalis ini melibatkan mikroorganisme anaerob dan
aerob patogen yang merupakan flora normal serviks dan jalan lahir atau
mungkin juga dari luar. Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50% adalah
Streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai penghuni
normal jalan lahir. Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi
puerperalis antara lain :
a. Streptococcus haematilicus aerobic
Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan
dari penderita lain, alatalat yang tidak steril, tangan penolong dan
sebagainya.
b. Staphylococcus aurelis
Masuk secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai
penyebab infeksi di rumah sakit.
c. Escherichia coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rektum menyebabkan infeksi
terbatas.
d. Clostridium welchii
Kuman anaerobik yang sangat berbahaya, sering ditemukan pada abortus
kriminalis dan partus yang ditolong dukun dari luar rumah sakit.
3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang timbul pada infeksi post partum antara lain demam,
nyeri di daerah infeksi, terdapat tanda kemerahan pada daerah yang terinfeksi,
fungsi organ terganggu. Gambaran klinis infeksi post partum adalah sebagai
berikut:
a. Infeksi lokal
Warna kulit berubah, timbul nanah, bengkak pada luka, lokea bercampur
nanah, mobilitas terbatas, suhu tubuh meningkat.
b. Infeksi umum
Sakit dan lemah, suhu badan meningkat, tekanan darah menurun, nadi
meningkat, pernafasan meningkat dan sesak, penurunan kesadaran hingga
koma, gangguan involusi uteri, lokea berbau, bernanah dan kotor.
4. Patofisiologi
Setelah kala III, daerah bekas insersio plasenta merupakan sebuah luka
dengan diameter kira-kira 4 cm. Permukaannya tidak rata, terdapat benjolan-
benjolan karena banyak vena yang ditutupi trombus. Daerah ini merupakan
tempat yang baik untuk tumbuhnya kumankuman dan masuknya jenis-jenis
yang patogen dalam tubuh wanita. Serviks sering mengalami perlukaan pada
persalinan, demikian juga vulva, vagina dan perineum yang semuanya
merupakan tempat masuknya kumankuman patogen. Proses radang dapat
terbatas pada lukaluka tersebut atau menyebar di luar luka asalnya. Adapun
infeksi dapat terjadi sebagai berikut :
a. Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada
pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam
vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan
atau alat-alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya
bebas dari kuman-kuman.
b. Droplet infeksi. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri
yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau petugas kesehatan
lainnya yang berada di ruang tersebut. Oleh karena itu, hidung dan mulut
petugas yang bekerja di kamar bersalin harus ditutup dengan masker dan
penderita infeksi saluran pernapasan dilarang memasuki kamar bersalin.
c. Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman-kuman patogen, berasal dari
penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa
dibawa oleh aliran udara kemana-mana, antara lain ke handuk, kain-kain
yang tidak steril, dan alat-alat yang digunakan untuk merawat wanita
dalam persalinan atau pada waktu post partum.
e. Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting,
apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.
f. Infeksi intrapartum sudah dapat memperlihatkan gejala-gejala pada waktu
berlangsungnya persalinan. Infeksi intra partum biasanya berlangsung
pada waktu partus lama, apalagi jika ketuban sudah lama pecah dan
beberapa kali dilakukan pemeriksaan dalam. Gejala-gejalanya antara lain,
kenaikan suhu tubuh biasanya disertai dengan leukositosis dan takikardi,
denyut jantung janin dapat meningkat pula. Air ketuban biasanya menjadi
keruh dan berbau. Pada infeksi intra partum kuman-kuman memasuki
dinding uterus pada waktu persalinan, dan dengan melewati amnion dapat
menimbulkan infeksi pula pada janin.
5. Jenis-Jenis Infeksi Post partum
a. Infeksi uterus
1) Endometritis
Endometritis adalah infeksi pada endometrium (lapisan dalam dari
rahim). Infeksi ini dapat terjadi sebagai kelanjutan infeksi pada serviks
atau infeksi tersendiri dan terdapat benda asing dalam rahim
Endometritis adalah infeksi yang berhubungan dengan kelahiran anak,
jarang terjadi pada wanita yang mendapatkan perawatan medis yang
baik dan telah mengalami persalinan melalui vagina yang tidak
berkomplikasi. Infeksi paska persalinan yang paling sering terjadi
adalah endometritis yaitu infeksi pada endometrium atau pelapis rahim
yang menjadi peka setelah lepasnya plasenta, lebih sering terjadi pada
proses kelahiran caesar, setelah proses persalinan yang terlalu lama
atau pecahnya membran yang terlalu dini. Infeksi ini juga sering terjadi
bila ada plasenta yang tertinggal di dalam rahim, mungkin pula terjadi
infeksi dari luka pada leher rahim, vagina atau vulva (Anonym, 2010).
Tanda dan gejalanya akan berbeda bergantung dari asal infeksi,
yaitu sedikit demam, nyeri yang samar-samar pada perut bagian bawah
dan kadangkadang keluar nanah dari vagina dengan berbau khas yang
tidak enak, menunjukkan adanya infeksi pada endometrium. Infeksi
karena luka biasanya terdapat nyeri tekan pada daerah luka, kadang
berbau busuk, pengeluaran kental, nyeri pada perut, susah buang air
kecil. Kadang-kadang tidak terdapat tanda yang jelas kecuali
peningkatan suhu tubuh. Maka dari itu setiap perubahan suhu tubuh
paska persalinan harus segera dilakukan pemeriksaan (Anonym, 2010).
Infeksi endometrium dalam bentuk akut dengan gejala klinis yaitu
nyeri abdomen bagian bawah, mengeluarkan keputihan, kadang-
kadang terdapat perdarahan, dapat terjadi penyebaran seperti
meometritis (infeksi otot rahim), parametritis (infeksi sekitar rahim),
salpingitis (infeksi saluran tuba), ooforitis (infeksi indung telur), dapat
terjadi sepsis (infeksi menyebar), pembentukan pernanahan sehingga
terjadi abses pada tuba atau indung telur (Anonym, 2010).
Terjadinya infeksi endometrium pada saat persalinan, dimana
bekas implantasi plasenta masih terbuka, terutama pada persalinan
terlantar dan persalinan dengan tindakan terjadinya keguguran, saat
pemasangan alat rahim yang kurang legeartis. Kadang-kadang lokea
tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini
dinamakan lokeametra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu tubuh.
Uterus pada endometritis akan terlihat membesar, serta nyeri pada
perabaan dan teraba lembek (Anonym, 2010).
Pada endometritis yang tidak meluas, penderita merasa kurang
sehat dan nyeri perut pada hari-hari pertama. Mulai hari ke-3 suhu
tubuh meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari
suhu dan nadi menurun dan kurang lebih dalam satu minggu keadaan
sudah kembali normal. Lokea pada endometritis biasanya bertambah
dan kadang-kadang berbau. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya
berat. Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokea yang
sedikit dan tidak berbau. Untuk mengatasinya biasanya dilakukan
pemberian antibiotik dengan sesegera mungkin agar hasilnya efektif.
Dapat pula dilakukan biakkan untuk menentukan jenis bakteri,
sehingga dapat diberikan antibiotik yang tepat (Anonym, 2010).
2. Miometritis (infeksi otot rahim)
Miometritis adalah radang miometrium. Miometrium adalah tunika
muskularis uterus. Gejalanya berupa demam, nyeri tekan pada uterus,
perdarahan pada vagina dan nyeri perut bagian bawah, lokea berbau.
3. Parametritis (infeksi daerah di sekitar rahim).
Parametritis atau disebut juga sellulitis pelvika adalah radang yang
terjadi pada parametrium yang disebabkan oleh invasi kuman. Penjalaran
kuman sampai ke parametrium terjadi pada infeksi yang lebih berat.
Infeksi menyebar ke parametrium lewat pembuluh limfe atau melalui
jaringan di antara kedua lembar ligamentum latum. Parametrium dapat
juga terjadi melalui salfingo-ooforitis. Parametritis umumnya merupakan
komplikasi yang berbahaya dan merupakan sepertiga dari sebab kematian
karena kasus infeksi (Sarwono, 2011).
Penyebab parametritis yaitu kuman–kuman memasuki endometrium
(biasanya pada luka insersio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar
ke seluruh endometrium. Pada infeksi setempat, radang terbatas pada
endometrium. Jaringan desidua bersama bekuan darah menjadi nekrosis
dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keping-keping nekrotis
dan cairan. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat
dilampaui dan terjadilah penjalaran (Anonym, 2010).
b. Syok bakteremia
Infeksi kritis, terutama yang disebabkan oleh bakteri yang melepaskan
endotoksin, bisa mempresipitasi syok bakteremia (septik). Ibu hamil, terutama
mereka yang menderita diabetes mellitus atau ibu yang memakai obat
imunosupresan, berada pada tingkat resiko tinggi, demikian juga mereka yang
menderita endometritis selama periode post partum.
Temuan laboratorium menunjukkan bukti-bukti infeksi. Biakan darah
menunjukkan bakteremia, biasanya konsisten dengan hasil enterik gram
negatif. Pemeriksaan tambahan dapat menunjukkan hemokonsentrasi,
asidosis, dan koagulopati. Perubahan EKG menunjukkan adanya perubahan
yang mengindikasikan insufisiensi miokard, bukti-bukti hipoksia jantung,
paru-paru, ginjal dan neurologis bisa ditemukan. Demam yang tinggi dan
menggigil adalah bukti patofisiologi sepsis yang serius. Ibu yang cemas dapat
bersikap apatis. Suhu tubuh sering kali sedikit menurun menjadi subnormal,
kulit teraba dingin dan lembab, warna kulit menjadi pucat dan denyut nadi
menjadi cepat, hipotensi berat dan sianosis peripheral bisa terjadi, begitu juga
oliguria.
Penatalaksanaan terpusat pada antimikrobial, demikian juga dukungan
oksigen untuk menghilangkan hipoksia jaringan dan dukungan sirkulasi untuk
mencegah kolaps vaskular. Fungsi jantung, usaha pernafasan, dan fungsi
ginjal dipantau dengan ketat. Pengobatan yang cepat terhadap syok bakteremia
membuat prognosis menjadi baik. Morbiditas dan mortalitas maternal
diturunkan dengan mengendalikan distrees pernafasan, hipotensi (Bobak,
2010).
c. Peritonitis
Peritonitis post partum bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi
dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis
pelviks. Kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelviks mengeluarkan
nanah ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Peritonitis yang
bukan peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Gejalagejalanya antara
lain penderita mengalami demam, nyeri pada perut bagian bawah, tetapi
keadaan umum tetap baik, namun gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti
pada peritonitis umum. Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat
patogen dan merupakan penyakit berat. Tanda dan gejalanya antara lain, suhu
tubuh meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan terlihat kecil, perut kembung
dan nyeri. Muka penderita yang mula-mula kemerah-merahan menjadi pucat,
mata cekung, kulit di daerah wajah teraba dingin. Mortalitas peritonitis umum
tinggi.
d. Infeksi saluran kemih
Infeksi saluran kemih (ISK) terjadi pada sekitar 10% wanita hamil,
kebanyakan terjadi pada masa prenatal. Mereka yang sebelumnya mengalami
ISK memiliki kecenderungan mengidap ISK lagi sewaktu hamil. Servisitis,
vaginitis, obstruksi ureter yang flaksid, refluks vesikoureteral, dan trauma
lahir mempredisposisi wanita hamil untuk menderita ISK, biasanya dari
escherichia coli. Wanita dengan PMS kronis, trutama gonore dan klamidia
juga memiliki resiko ISK. Bakteriuria asimptomatik terjadi pada sekitas 5%
sampai 15% wanita hamil. Jika tidak diobati akan terjadi pielonefritis kira-kira
30% pada wanita hamil. Kelahiran dan persalinan prematur juga dapat lebih
sering terjadi. Biakan dan tes sensitivitas urine harus dilakukan di awal
kehamilan, lebih bagus pada kunjungan pertama, spesimen diambil dari urin
yang diperoleh dengan cara bersih. Jika didiagnosis adanya infeksi,
pengobatan akan dilakukan dengan memberikan antibiotik yang sesuai selama
dua sampai tiga minggu, disertai peningkatan asupan air dan obat
antispasmodik traktus urinarius.
e. Septikemia dan piemia
Infeksi nifas yang penyebarannya melalui pembuluh darah adalah
septikemia, piemia dan tromboflebitis. Infeksi ini merupakan infeksi umum
yang disebabkan oleh kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A.
Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena
infeksi nifas Pada septikemia kuman-kuman yang ada di uterus, langsung
masuk ke peredaran darah dan menyebabkan infeksi. Adanya septikemia dapat
dibuktikan dengan jalan pembiakan kuman-kuman dari darah. Pada piemia
terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena di uterus serta sinus-sinus pada
bekas tempat plasenta. Tromboflebitis ini menjalar ke vena uteri, vena
hipogastrika, dan vena ovary (tromboflebitis pelvika). Dari tempat-tempat
trombus itu embolus kecil yang mengandung kuman-kuman dilepaskan. Tiap
kali dilepaskan, embolus masuk ke peredaran darah umum dan dibawa oleh
aliran darah ketempat-tempat lain, antaranya ke paru-paru, ginjal, otak,
jantung, dan sebagainya mengakibatkan terjadinya abses-abses di tempat-
tempat tersebut.
Keadaan ini dinamakan piemia. Kedua-duanya merupakan infeksi berat
namun gejala-gejala septikemia lebih mendadak dari piemia. Pada septikemia,
dari permulaan penderita sudah sakit dan lemah. Sampai tiga hari post partum
suhu tubuh meningkat dengan cepat, biasanya disertai rasa menggigil. Suhu
tubuh berkisar antara 39 – 40°C, keadaan umum cepat memburuk, nadi
menjadi cepat (140 – 160X/menit atau lebih). Penderita meninggal dalam
enam sampai tujuh hari post partum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi
seperti piemia. Pada piemia, penderita post partum sudah merasa sakit, nyeri
perut, dan suhu agak meningkat. Akan tetapi gejala-gejala infeksi umum
dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-kuman dengan
embolus memasuki peredaran darah. Suatu ciri khusus pada piemia ialah
berulang-ulang suhu meningkat dengan cepat disertai menggigil, kemudian
diikuti oleh turunnya suhu. Ini terjadi pada saat dilepaskannya embolus dari
tromboflebitis pelvika. Lambat laun timbul gejala abses pada paru-paru,
pneumonia dan pleuritis. Embolus dapat pula menyebabkan abses-abses di
beberapa tempat lain (Saifuddin, Abdul Bari, 2011).
6. Komplikasi
1) Peritonitis (peradangan selaput rongga perut)
2) Tromboflebitis pelvika (bekuan darah di dalam vena panggul), dengan
resiko terjadinya emboli pulmoner.
3) Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di
dalam darah. Syok toksik bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang berat
dan bahkan menyebabkan kematian.
7. Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Post partum
a. Pencegahan infeksi selama post partum antara lain:
1) Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik.
2) Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus
steril.
3) Penderita dengan infeksi post partum sebaiknya diisolasi dalam
ruangan khusus, tidak bercampur dengan ibu post-partum yang sehat.
4) Membatasi tamu yang berkunjung.
5) Mobilisasi dini.
b. Pengobatan infeksi pada masa post partum antara lain :
1) Segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan servik, luka operasi dan
darah, serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat.
2) Memberikan dosis yang cukup dan adekuat.
3) Memberikan antibiotika spektrum luas sambil menunggu hasil
laboratorium.
4) Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus, transfusi
darah, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh serta
perawatan lainnya sesuai komplikasi yang ada.
8. Pengobatan Kemoterapi dan Antibiotika Infeksi Post partum
Infeksi post partum dapat diobati dengan cara sebagai berikut :
1) Pemberian Sulfonamide – Trisulfa merupakan kombinasi dari Sulfadizin
185 gr, Sulfamerazin 130 gr, dan Sulfatiozol 185 gr. Dosis 2 gr diikuti 1 gr
4-6 jam kemudian peroral.
2) Pemberian Penisilin – Penisilin-prokain 1,2 sampai 2,4 juta satuan IM,
penisilin G 500.000 satuan setiap 6 jam atau metsilin 1 gr setiap 6 jam IM
ditambah ampisilin kapsul 4X250 gr peroral.
3) Tetrasiklin, eritrimisin dan kloramfenikol
4) Hindari pemberian politerapi antibiotika berlebihan
5) Lakukan evaluasi penyakit dan pemeriksaan laboratorium.
9. Perawatan Perineum
Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan
daerah antar paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa
antara kelahiran plasenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti
pada waktu sebelum hamil. Menjaga kebersihan pada masa nifas untuk
menghindari infeksi,baik pada luka jahitan atau kulit (Anggraeni, 2010) :
a. Kebersihan alat genetalia
Setelah melahirkan biasanya perineum menjadi agak bengkak/memar dan
mungkin ada luka jahitan bekas robekan atau episiotomi.
Anjuran :
1) Menjaga alat genetalia dengan mencucinya menggunakan sabun dan
air, kemudian daerah vulva sampai anus harus kering sebelum
memakai pembalut wanita, setiap kali selesai buang air kecil atau
besar, pembalut diganti minimal 3x sehari.
2) Cuci tangan dan sabun dengan air mengalir sebelum dan sesudah
membersihkan daerah genetalia
3) Mengajarkan ibu membersihkan daerah kelamin dengan cara
membersihkan daerah disekitar vulva terlebih dahulu dari depan ke
belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus.
Bersihkan vulva setiap kali buang air kecil atau besar.
4) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut
setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang ulang jika
dicuci dengan baik dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
5) Jika mempunyai luka episiotomi , hindari untuk menyentuh daerah
luka. Ini yang kadang kurang diperhatikan oleh pasien dan tenaga
kesehatan. Karena rasa ingin tahunya, tidak jarang pasien ingin
menyentuh luka bekas jahitan diperineum tanpa memperhatikan efek
yang bisa ditimbulkan dari tindakannya ini. Apalagi pasien kurang
memperhatikan kebersihan tangannya sehingga tidak jarang terjadi
infeksi..
b. Membersikan vagina
Pada prinsipnya urgensi kebersihan vagina pada saat nifas
dilandasi beberapa alasan ( Anggraeni, 2010):
1) Banyak darah dan kotoran yang keluar dari vagina
2) Vagina berada dekat saluran buang air kecil dan buang air besar yang
tiap hari kita lakukan.
3) Adanya luka di daerah perineum yang bila terkena kotoran dapat
terinfeksi
4) Vagina merupakan organ terbuka yang mudah dimasuki kuman untuk
kemudian menjalar ke rahim.
c. Menjaga kebersihan vagina
Langkah-langkah untuk menjaga kebersihan vagina yang benar
(Anggraeni,2010):
1) Siram mulut vagina hingga bersih dengan air setiap kali habis BAK
dan BAB. Air yang digunakan tidak perlu matang asalkan bersih.
Basuh dari arah depan ke belakang hingga tidak ada sisa-sisa kotoran
yang menempel di sekitar vagina, baik itu dari air seni maupun feses
yang mengandung kuman dan bisa menimbulkan infeksi pada luka
jahitan.
2) Vagina boleh dicuci menggunakan sabun maupun cairan antiseptik
karena dapat berfungsi sebagai penghilang kuman yang terpenting
jangan takut memegang daerah tersebut dengan seksama.
3) Bila ibu benar-benar takut menyentuh luka jahitan, upaya menjaga
kebersihan vagina dapat dilakukan dengan cara duduk berendam
dalam cairan antiseptik selama 10 menit. Lakukan setelah BAB atau
BAK
4) Yang kadang terlupakan, setelah vagina dibersihkan, pembalutnya
tidak diganti. Bila seperti itu caranya maka akan percuma saja.
Bukankah pembalut tersebut sudah dinodai darah dan kotoran?
Berarti bila pembalut tidak diganti, maka vagina akan tetap lembab
dan kotor.
5) Setelah dibasuh, keringkan perineum dengan handuk lembut, lalu
kenakan pembalut baru. Ingat pembalut harus diganti setiap habis
BAB atau BAK atau minimal 3 jam sekali atau bila dirasa sudah
tidak nyaman.
6) Setelah semua langkah tadi dilakukan, perineum dapat diolesi salep
antibiotik yang diresepkan dokter.
BAB III

ANALISIS JURNAL

Judul Penelitian: Hubungan Vulva Hygiene Dengan Pencegahan Infeksi Luka


Perineum Pada Ibu Post Partum
ABSTRAK : Vulva hygiene adalah membersihkan vulva dan daerah sekitarnya
pada pasien wanita yang sedang nifas atau tidak dapat melakukannya sendiri.
Vulva hygiene juga bertujuan untuk mencegah infeksi, untuk penyembuhan luka
jahitan perineum dan untuk kebersihan perineum.
Tujuan penelitian tersebut adalah menganalisa hubungan vulva hygiene dengan
pencegahan infeksi luka perineum pada ibu post partum
Desain Penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah desain
deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional.
Sampel diambil dengan teknik Total Sampling.
Hasil Penelitian dengan menggunakan Uji Chi-square diperoleh nilai vulva
hygiene yang bermakna yaitu p=0,001 yang lebih kecil dari á = 0,05.
Kesimpulan dalam penelitian tersebut adalah adanya hubungan vulva hygiene
dengan pencegahan infeksi luka perineum pada ibu post partum.
BAB IV

REKOMENDASI

Angka kematian Ibu di indonesia masih cukup tinggi salah satunya


disebabkan oleh Infeksi pada masa nifas. Sebagai tenaga kesehatan Bidan
berperan cukup penting dalam upaya penurunan Angka Kematian Ibu. Pada
penelitian yang saya ambil sebagai acuan referensi dijelaskan bahwa salah satu
faktor yang menyebabkan terjadinya Infeksi pada masa nifas khususnya infeksi
pada perinium adalah Perilaku Vulva Hygine yang salah. Sehingga dapat saya
simpulkan bahwa disini peran bidan sangat penting dalam hal memberikan KIE
yang berkaitan dengan teknik ataupun cara melakukan vulva hygine yang tepat
dan benar. Penyampaian yang kurang tepat akan menyebabkan pesan yang
disampaikan tidak dapat diterima dengan baik oleh ibu. Semakin ibu dapat
memahami cara yang benar dalam merawat organ genitalianya secara mandiri
maka kemungkinan terjadinya infeksi akan semakin berkurang.