Anda di halaman 1dari 12

PENGENDALIAN HAYATI ( Biologi Control ) SEBAGAI SALAH SATU

KOMPONEN PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT)


Oleh:
Sunarno

Abstrak
Kajian penulisan tentang Pengendalian Hayati sebagai Salah Satu Komponen
Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dilakukan di kabupaten Halamahera Utara dengan
tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat petani di kabupaten
Halmahera Utara tentang pentingnya pengendaliaan hayati, sebagai pengendalian yang
ramah lingkungan, Efektif dan Efisien. Didalan suatu ekosistem terjadi hubungan timbal
balik baik intra maupun antarspesies, yang disebut sebagai rantai makanan. Prinsip
pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan cara biologi, yaitu
dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya( agen pengendali biologi ), seperti
predator, parasit dan patogen. Pengendalian hayati memiliki keuntungan dan kelemahan.
Dilihat dari fungsinya musuh alami dapat dikelompokkan menjadi, Parasitoid, Predator
dan Patogen. Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan,
membunuh atau memangsa serangga lain. Patogen adalah golongan mikroorganisme atau
jasad renik yang menyebabkan serangga sakit dan akhirnya mati. Mikroorganisme yang
dapat menjadi patogen adalah virus, bakteri, protozoa, jamur, riketzia dan nenatoda.
Pengelolaan ekosistem dengan cara bercocok tanam, penggunaan varietas yang tahan
hama OPT, pengendalian secara fisik atau mekanik, Pengendalian secara genetik,
penggunaan pestisida secara selektif, Penggunaan OPT dengan peraturan atau karantina,
ini merupakan teknologi PHT.

Kata Kunci : Pengendalian Hayati. PHT

Abstract
Studies on the Control of Biological writing as One Component Integrated Pest
Management (IPM). Conducted in the district of North Halamahera in order to provide
insight to the farmers in the district of North Halmahera about biological importance, as
an environmentally friendly control, Effective and Efficient. In the ecosystem occurs
interrelationships both intra-and interspecific, referred to as the food chain. The
principle of biological control is the control of insect pests by biological means, namely
by using their natural enemies (biological control agents), such as predators, parasites
and pathogens. Biological control has its advantages and disadvantages. Judging from
the function of natural enemies can be grouped into, parasitoids, predators and
pathogens. Predator is a free-living organism to take, kill or prey on other insects.
Pathogens are microorganisms or groups of microorganisms that cause insects sick and
eventually die. Pathogenic microorganisms that could be a virus, bacteria, protozoa,
fungi, and nenatoda riketzia. Ecosystem management by farming, the use of pest resistant
varieties, physical or mechanical control, genetic control, selective use of pesticides, use
of quarantine pests or regulations, this is the IPM technology.
Keywords: Biological Control. IPM
Pendahuluan sepanjang masa, antara herbivora
(pemakan tanaman) dan karnivora (musuh
A. Latar Belakang alami). Tanaman juga disebut dengan
produsen dan pemakan produsen disebut
Setiap makluh hidup menjadi
sebagai konsumen.
penyusun dan pelaku terbentuknya suatu
komonitas yang mampu mengatur dirinya PHT merupakan suatu cara
sendiri secara alami sehingga terjadi pendekatan atau cara berpikir tentang
keseimbangan numerik antara semua pengendalian OPT yang didasarkan pada
unsur penyusun komonitas. Setiap dasar pertimbangan ekologi dan efisiensi
aktifitas organisme dalam komonitasnya ekonomi dalam rangka pengelolaan agro-
selalu berinteraksi dengan aktifitas ekosistem yang berwawasan lingkungan
organisme lain dalam suatu keterikatan yang berkelanjutan. Sebagai sasaran
dan ketergantungan yang rumit yang teknologi PHT adalah : 1) produksi
menghasilkan komonitas yang stabil. pertanian mantap tinggi, 2) Penghasilan
Interaksi antar organisme tersebut dapat dan kesejahteraan petani meningkat, 3)
bersifat antagonistik, kompetitif, atau Populasi OPT dan kerusakan tanaman
bersifat positif seperti simbiotik. ( Untung, tetap pada aras secara ekonomi tidak
2006 ). merugikan dan 4) Pengurangan resiko
pencemaran Lingkungan akibat
Menurut Flint L. M dan Van den
penggunaan pestisida yang berlebihan
Bosch. R, (2000). Ekosistem adalah
(Anonim, 2004).
kesatuan komonitas bersama-sama dengan
sistem abiotik yang mendukungnya. Konsep PHT muncul dan
Sebagai contoh adalah ekosistem pertanian berkembang sebagai koreksi terhadap
sawah dibentuk oleh komonitas makluh kebijakan pengendalian hama secara
hidup bersama-sama dengan tanah, air, konvensional, yang sangat utama dalam
udara dan unsur-unsur fisik lain yang manggunakan pestisida. Kebijakan ini
terdapat di sawah tersebut. Konsep mengakibatkan penggunaan pestisida oleh
ekosistem, seperti konsep biofer petani yang tidak tepat dan berlebihan,
menekankan hubungan dan saling dengan cara ini dapat meningkatkan biaya
ketergantungan yang tetap antara faktor- produksi dan mengakibatkan dampak
faktor hidup dan tak hidup di setiap samping yang merugikan terhadap
lingkungan. lingkungan dan kesehatan petani itu
sendiri maupun masyarakat secara luas.
Dalam kurun waktu tertentu
ekosistem alami dapat menjaga sifat- Akhir-akhir ini disadari bahwa
sifatnya dengan cukup konstan, terutama pemakaian pestisida, khususnya pestisida
karena desakan-desakan yang dibuat oleh sintetis ibarat pisau bermata dua. Dibalik
lingkungan fisik bersama sama dengan manfaatnya yang besar bagi peningkatan
lingkungan timbal balik baik intra maupun produksi pertanian, terselubung bahaya
antarspesies. Salah satu mekanisme yang mengerikan. Tak bisa dipungkiri,
tersebut adalah predasi (peristiwa mangsa- bahaya pestisida semakin nyata dirasakan
memangsa). Sifat mangsa-memangsa masyarakat, terlebih akibat penggunaan
tersebut akan terus berlangsung dalam pestisida yang tidak bijaksana. Kerugian
kehidupan dan dalam ekositem dan berupa timbulnya dampak buruk
disebut dengan rantai makanan. Rantai penggunaan pestisida, dapat
makanan tersebut akan berlansung
dikelompokkan atas 3 bagian: (1). Pembahasan
Pestisida berpengaruh negatip terhadap
kesehatan manusia, (2). Pestisida A. Prinsip Pengendalian Hayati
berpengaruh buruk terhadap kualitas
Anonim ( 2002), menyatakan
lingkungan, dan (3). Pestisida
bahwa pengendalian hayati adalah
meningkatkan perkembangan populasi
pengendalian serangga hama dengan cara
jasad penganggu tanaman.
biologi, yaitu dengan memanfaatkan
Di Daerah Kaupaten Halmahera musuh-musuh alaminya (agen pengendali
Utara, merupakan daerah yang masih biologi), seperti predator, parasit dan
banyak sekali terdapat beberapa jenis patogen. Pengendalian hayati adalah suatu
musuh alami yang diketahui dapat teknik pengelolaan hama dengan sengaja
menjaga keseimbangan ekosistem , akan dengan memanfaatkan/memanipulasikan
tetapi akhir-akhir ini musuh alami tersebut musuh alami untuk kepentingan
makin berkurang dan jarang untuk dapat pengendalian, biasanya pengendalian
ditemui lagi, sebagai misal ada beberapa hayati akan dilakukan perbanyakan musuh
jenis spesies burung, dan juga serangga alami yang dilakukan dilaboratorium.
yang dikenal sebagai pengendali alami Sedangkan Pengendalian alami
hama serangga , saat ini sulit diketemukan merupakan Proses pengendalian yang
dan mungkin saja sedang menuju berjalan sendiri tanpa campur tangan
kepunahan. Penyebab salah satunya adalah manusia, tidak ada proses perbanyakan
akibat pengaruh buruk pestisida terhadap musuh alami.
lingkungan, yang tercemar melalui rantai
Pengendalian hayati dalam
makanan.
pengertian ekologi didifinisikan sebagai
Dari uraian diatas maka penulis pengaturan populasi organisme dengan
tertarik untuk mengangkat judul penulisan musuh-musuh alam hingga kepadatan
dengan judul : ”Pengendalian Hayati ( populasi organisme tersebut berada
Biologi Control) sebagai Salah Satu dibawah rata-ratanya dibandingkan bila
Komponen Pengendalian Hama Terpadu tanpa pengendalian.
(PHT)” Penulisan ini merupakan salah
Menurut Untung (2006). Prinsip
satu bentuk penulisan ilmiah dan
pengaturan populasi organisme oleh
diharapkan dapat memberikan kontribusi
mekanisme saling berkaitan antar anggota
kepada pemerintah, akademisi dan
suatu komonitas pada jenjang tertentu juga
masyarakat khususnya petani di Daerah
terjadi didalam agroekosistem yang
Kabupaten Halmahera Utara, tentang
dirancang manusia. Musuh alami sebagai
pengendalian hayati yang ramah
bagian dari agroekosistem memiliki
lingkungan.efektif, dan efesien
peranan menentukan dalam pengaturan
B. Tujuan penulisan dan pengendalian populasi hama. Sebagai
faktor yang bekerjanya tergantung dari
Penulisan ini bertujuan untuk kepadatan yang tidak lengkap
memberikan pemahaman kepada (imperfectly density dependent) dalam
masyarakat petani di kabupaten kisaran tertentu, populasi musuh alami
Halmahera Utara tentang pentingnya dapat mempertahankan populasi musuh
pengendaliaan hayati, sebagai alami tetap berada disekitar batas
pengendalian yang ramah lingkungan, keseimbangan dan mekanisme umpan
Efektif dan Efisien balik negatif. Kisaran keseimbangan
tersebut dinamakan Planto Homeostatik. musuh alami tidak tentu merugikan
Diluar plato homeostatik musuh alami kehidupan serangga terserang. Hampir
menjadi kurang efektif dalam semua kelompok organisme berfungsi
mengembalikan populasi kearas sebagai musuh alami serangga hama
keseimbangan. Populasi hama dapat termasuk kelompok vertebrata, nematoda,
meningkat menjahui kisaran jasad renik, invertebrata diluar serangga.
keseimbangan akibat bekerjanya faktor Kelompok musuh alami yang paling
yang bebas kepadatan populasi seperti banyak adalah dari golongan serangga itu
cuaca dan akibat tindakan manusia dalam sendiri. Misalnya adalah Letmansia
mengelola lingkungan pertanian. bicolor merupakan musuh alami dari
serangga hama pada tanman kelapa
Menurut Jumar (2000). Secava sp, Serangga kumbang Koksinelid
Pengendalian hayati memiliki keuntungan ( Synkuharmonia octomaculata
yaitu : (1). Aman artinya tidak merupakan musuh alami dari hama
menimbulkan pencemaran lingkungan tanman padi yaitu serangga wereng hijau,
dan keracunan pada manusia dan ternak, wereng punggung putih dan wereng zig-
(2). tidak menyebabkan resistensi hama, zag. Anonim (2006).
(3). Musuh alami bekerja secara selektif
terhadap inangnya atau mangsanya, dan Dilihat dari fungsinya musuh alami
(4). Bersifat permanen untuk jangka waktu dapat dikelompokkan menjadi, Parasitoid,
panjang lebih murah, apabila keadaan Predator dan Patogen.
lingkungan telah setabil atau telah terjadi
keseimbangan antara hama dan musuh B.1. Parasitoid
alaminya.
Merupakan serangga yang
Selain keuntungan pengendalian memarasit serangga atau binatang
hayati juga terdapat kelemahan atau antropoda lainnya. Parasitoid bersifat
kekurangan seperti : (1). Hasilnya sulit parasit pada fase pradewasa, sedangkan
diramalkan dalam waktu yang singkat, (2). dewasanya hidup bebas dan tidak terikat
Diperlukan biaya yang cukup besar pada pada inangnya. Parasitoid hidup
tahap awal baik untuk penelitian maupun menumpang di luar atau didalam tubuh
untuk pengadaan sarana dan prasarana, inangnya dengan cara menghisap cairan
(3). Dalam hal pembiakan di laboratorium tubuh inangnya guna memenuhi
kadang-kadang menghadapi kendala kebutuhan hidupnya . Umumnya
karena musuh alami menghendaki kondisi parasitoid menyebabkan kematian pada
lingkungan yang kusus dan (4). Teknik inangnya secara perlahan-lahan dan
aplikasi dilapangan belum banyak parasitoid dapat menyerang setiap fase
dikuasai. hidup serangga, meskipun serangga
dewasa jarang terparasit.
B. Musuh Alami
Parasitoid menyedot energi dan
Sebagai bagian dari komonitas, memakan selagi inangnya masih hidup
setiap komonitas serangga termasuk dan membunuh atau melumpuhkan
serangga hama dapat diserang atau inangnya untuk kepentingan keturunanya.
menyerang organisme lain. Bagi serangga Kebanyakan parasitoid bersifat monofag
yang diserang organisme penyerang (memiliki inang spesifik), tetapi ada juga
disebut Musuh Alami. Secara ekolo\gi yang oligofag (inang tertentu). Selain itu
istilah tersebut kurang tepat karena adanya
parasitoid memiliki ukuran tubuh yang erionotae – larva pengulung daun
lebih kecil dari inangnya. pisang.
4. Parasitoid larva – pupa : parasit yang
Menurut Untung (2006). Faktor- berkembang mulai dari larva sampai
faktor yang mendukung efektifitas pupa. Cth. Thetrostichus brontispae –
pengendalian hama oleh parasitoid adalah: rontispa.
(1). Daya kelangsungan hidup (Survival) 5. Parasitoid pupa : parasit yang
baik, (2). Hanya satu atau sedikit individu menyerang inang yang berada pada fase
inang diperlukan untuk melengkapi daur pupa atau kepompong. Cth. Opius sp –
hidupnya, (3). Populasi parasitoid dapat kepompong lalat buah.
tetap bertahan meskipun pada aras 6. Parasitoid imago : parasit yang
populasi inang rendah, (4). Sebagian menyerang inang yang berada pada fase
parasitoid monofag, atau oligofag imago atau serangga dewasa. Cth.
sehingga memiliki kisaran inang sempit. Aphytis chrysomphali – Apidiotus
Sifat ini menyebabkan populasi parasitoid destruktor.
memiliki respon numerik yang baik
terhadap perubahan populasi inangnya. Fenomena parasitoid yang
menyerang parasitoid lainya dan
Berdasar posisi makannya, memanfaatkan sebagai inang disebut
parasitoid dapat digolongkan menjadi 2 hiperparasitasi, dan parasitoidnya
yaitu: (1). Ektoparasitoid adalah: dinamakan hiperparasitoid. Parasitoid
parasitoid yang seluruh siklus hidupnya yang menyerang inang utama disebut
ada diluar tubuh inangnya ( menempel sebagai pasarasitoid primer, parasitoid
pada tubuh inangnya ), contohnya: sekunder adalah parasitoid yang
Compsometris spp yang memarasit hama menyerang parasitoid primer, dan
Exopholis sp. (2). Endoparasitoid adalah: seterusnya parasitoid tersier, kuarter dan
parasitoid yang berkembang didalam sebagainya.
tubuh inang dan sebagian besar dari fase
hidupnya ada didalam tubuh inangnya,
contohnya: Letmansia bicolor yang
memarasit telur Sexava sp. B.2.Predator

Parasitoid juga dapat digolongkan Predator adalah binatang atau


berdasarkan fase tubuh inang yang serangga yang memangsa atau serangga
diserang: lain Didaerah kepulaun Maluku pada
umumnya dan khususnya daerah
1. Parasitoid telur: parasit yang Kabupaten Halmahera Utara ada beberapa
menyerang inang pada fase telur dan predator yang sangat efektif
bersifat endoparasit. Cth. Anagrus mengendaalikan hama Sexava yaitu
optabilis – wereng Coklat. burung Taun-taun dan juga burung Pata
2. Parasitoid telur – larva : parasid yang Bagai akan tetapi sekarang jarang untuk di
berkembang mulai dari telur sampai temukan lagi. Predator merupakan
larva. Cth. Chelonus sp – pengerek organisme yang hidup bebas dengan
mayang kelapa. memakan, membunuh atau memangsa
3. Parasitoid larva : parasit yang atau serangga lain, ada beberapa ciri-ciri
menyerang inang yang berada pada fase predator :
larva atau ulat. Cth. Apenteles
1. Predator dapat memangsa semua lain. Syrphus serrarius (famili
tingkat perkembangan mangsanya ( Syrphidae) sebagai predator berbagai
telur, larva, nimfa, pupa dan imago ). jenis aphids.
2. Predator membunuh dengan cara 4. Ordonata, misalnya Agriocnemis
memakan atau menghisap mangsanya femina femina dan Agriocnemis
dengan cepat. pygmaea ( famili Coecnagrionidae )
3. Seekor predator memerlukan dan sebagai predator wereng coklat dan
memakan banyak mangsa selama ngengat hama putih palsu. Anax junius
hidupnya ( famili Aeshnidae ) sebagai predator
4. Predator membunuh mangsanya untuk dari beberapa jenis ngengat.
dirinya sendiri 5. Hemiptera, misalnya Cyrtorhinus
5. Kebanyakan predator bersifat karnifor lividipenis ( famili Miridae ) sebagai
6. Predator memiliki ukuran tubuh lebih predator telur dan nimfa wereng coklat
besar dari pada mangsanya dan wereng hijau.
7. Dari segi perilaku makannya, ada yang 6. Neuroptera, misalnya Chrysopa sp. (
mengunyak semua bagian tubuh famili Chrysopidae ) sebagai predator
mangsanya, ada menusuk mangsanya berbagai hama Apids sp.
dengan mulutnya yang berbentuk 7. Hyminoptera, misalnya Oecophylla
seperti jarum dan menghisap cairanya smaragdina ( famili Formasidae )
tubuh mangsanya. sebagai predator hama tanman jeruk.
8. Metamorfosis predator ada yang .
holometabola dan hemimetabola
9. Predator ada yang monofag, oligofag B.3. Patogen
dan polifag.
Golongan mikroorganisme atau
Menurut Jumar (2000) , hampir
jasad renik yang menyebabkan serangga
semua ordo serangga memiliki jenis yang
sakit dan akhirnya mati. Patogen adalah
menjadi predator, tetapi selama ini ada
salah satu faktor hayati yang turut serta
beberapa ordo yang anggotanya
dalam mempengaruhi dan menekan
merupakan predator yang digunakan
perkembangan serangga hama. Karena
dalam pengendalian hayati. Ordo-ordo
mikroorganisme ini dapat menyerang dan
tersebut adalah :
menyebabkan kematian serangga hama,
1. Coleoptera, misalnya Colpodes maka patogen disebut sebagai salah satu
rupitarsis dan C. saphyrinus (famili musuh alami serangga hama selain
Carabidae) sebagai predator ulat predator dan parasitoid dan juga
penggulung daun Palagium sp. dimanfaatkan dalam kegiatan
Harmonia octamaculata ( Famili pengendalian. Beberapa patogen dalam
Coccniellidae) sebagai predator kutu kondisi lingkungan tertentu dapat menjadi
Jassidae dan Aphididae. faktor mortalitas utama bagi populasi
2. Orthoptera, misalnya Conocephalus serangga tetapi ada banyak patogen
longipennis ( famili Tetigonidae ) pengaruhnya kecil terhadap gejolak
sebagai predator dari telur dan larva populasi serangga.
pengerek batang padi dan walang
Oleh karena kemampuanya
sangit.
membunuh serangga hama sejak lama
3. Diptera, misalkan Philodicus javanicus
patogen digunakan sebagai Agen
dan Ommatius conopsoides ( famili
Penendali hayati (biological control
Asilidae ) sebagai predator serangga
agens). Penggunaan patogen sebagai epicutikula, epidermis, hemocoel serta
pengendali hama sejak abab ke-18 yaitu jaringan-jaringan lainnya, dan pada
pengendali hama kumbang moncong pada akhirnya semua jaringan dipenuhi oleh
bit gula, Cleonus punctiventus dengan miselia jamur. Disamping itu juga ada
menggunakan sejenis jamur. beberapa jamur yang dapat mempengaruhi
pigmentasi serangga dan menghasilkan
Kelompok serangga dalam toksin yang sangat mempengaruhi
kehidupan diserang banyak patogen atau fisiologis serangga.
penyakit yang berupa virus, bakteri,
protozoa, jamur, riketzia dan nenatoda. Ini Penyebaran dan infeksi jamur
merupakan macam patogenik yang dapat sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
digunakan sebagai agen pengendali hayati. antara lain kepadatan inang, kesediaan
spora, cuaca terutama angin dan
a) Bakteri kebasahan. Kebasahan tinggi dan angin
kencang sangant membantu penyebaran
Bakteri yang biasa digunakan
konidia dan pemerataan infeksi patogen
adalah bakteri yang menghasilkan spora.
pada seluruh individu populasi inang.
Bakteri yang menyerang serangga dapat
Contoh : jamur yang sering dipakai dalam
dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu
pengendalian dengan patogen jamur
bakteri yang tidak membentuk spora dan
adalah :
bakteri yang membentuk spora. Bakteri
penghasil spora merupakan bakteri yang Cth. Jamur Metarhizium anisopliae
sangat penting yang saat ini banyak digunakan untuk mengendaliakan
digunakan sebagai insektisida mikrobia. hama Oryctes rhinoceros pada
Contoh bakteri yang biasa digunakan tanaman kelapa dan juga hama
sebagai berikut. awereng hijau yang meyerang
tanaman padi.
Cth - Bacillus popiliae sebagai patogen
dari kumbang jepang Popilie japonika c) Virus
dan kumbang skarabia lainya - Bacillus
thuringiensis sangat efektif dalam Saat ini kurang lebih 1500 virus
mengendaliakan larva dari ordo telah berhasil diisolasi dan diidentifikasi
Lepidoptera dan larva nyamuk. dari serangga antropoda. Virus-virus
antropoda sebagian besar masuk dalam
b) Jamur genera Nucleopolyhidrovirus,
Granulavirus, Iridovirus, Entomopoxvirus,
Jamur yang menginfeksi serangga
Cypovirus dan Nodavirus. Diantara ke-6
disebut Jamur Entopatogenik. Saat ini
genera ini jenis NPV
telah dikenal lebih dari 750 spesies jamur
(Nucleopolyhidrovirus) merupakan genus
entopatogenik dan sekitar 100 genera
terpenting karena 40 % jenis virus yang
jamur. Berbeda dengan virus, jamur
dikenal menyerang serangga termasuk
patogen masuk kedalam tubuh serangga
jenus ini. Selain NPV ada jenus lain yaitu
tidak melalui saluran makanan tetapi
GV (Granulavirus), CPV ( Cytoplasmic
langsung masuk kedalam tubuh melalui
Polyhidrosis Virus ) dan kelompok lain
kulit atau integumen. Setelah konodia
yang lebih kecil jumlahnya.
jamur masuk kedalam tubuh serangga,
jamur memperbanyak diri melalui Larva serangga terinfeksi oleh
pembentukan hife dalam jaringan virus umumnya melemah pada saluran
pencernaan makanan ini terjadi sewaktu Nematoda akan berkembangbiak
larva makan bagian tanaman yang telah dalam tubuh serangga inang sampai
mengandung polyhidra. Selain itu juga menghasilkan keturunan yang sangat
dapat masuk ketubuh serangga sewaktu banyak. Nematoda akan memasuki fase
meletakkan telur atau melalui bagian reproduktif yaitu memperbanyak
tubuh yang terluka, mungkin oleh keturunan apabila populasi nematoda
serangan musuh alami. Virus juga dapat dalam tubuh inang rendah sedangkan bila
ditranmisikan lewat induk ysng telah populasi tinggi akan memasuki fase
terinfeksi melalui telur ysng diturunkan. infektif. Nematoda stadium ketiga sering
Contoh virus yang dapat dipakai untuk disebut juvenil infektif akan keluar dari
pengendalian hayati adalah: tubuh serangga dan berusaha untuk
mencari inang baru. Juvenil infektif
Cth. NPV ( Nucleopolyhedro virus ) mampu bertahan hidup lama sampai
paling banyak menyerang pada memperoleh inang kembali dan fase ini
serangga ordo lepidoptera, merupakan satu-satunya fase yang
Hyminoptera, Diptera serta bersifat infektif terhadap serangga inang.
Coleoptera Contoh nematoda yang sering digunakan
untuk pengendalian hayati adalah :
d) Nenatoda
Cth. Nenatoda Steinernema spp dapat
Disamping, virus, jamur dan
mengendalikan hama dari Ordo
bakteri juga ada banyak spesies nematoda
Lepidoptera dan Coleoptera
yang bersifat parasitik terhadap serangga
hama, baik yang bersifat parasit obligat e) Protozoa dan Rikettsia
maupun fakultatif. Dari 19 famili yang
menyerang serangga Famili Mermithidae Spesies-spesies protozoa yang
merupakan famili yang paling patogenik terhadap serangga pada
banyak/terpenting terdiri atas 50 genera umumnya termasuk dalam sub kelompok
dan 200 spesies. Nematoda muda Mikrosporodia. Telah dikenal kurang
meninggalkan telur dan masuk kedalam lebih 250 spesies mikrospodia yang
tubuh serangga melalui kutikula dan menyerang serangga. Tiga jenis
masuk kedalam homocoel, setelah mikrosporodia yang telah dikenal antara
berganti kulit beberapa kali maka lain Nosema locustae, N. Acridopagus dan
nematoda dewasa keluar dari tubuh N. Cuneatum telah di jadikan sebagai agen
serangga, dan serangga mati sebelum atau hayati untuk mengendalikan hama
sesudan nematoda keluar. belalang kususnya di Amirika.
Keuntungan menggunakan Penyebaran mikrosporadia melalui
nematoda entomopagen adalah makanan dan dipindahkan dari induk yang
kemampuan mematikan inang sangat terinfeksi keketurunanya. Pengaruh
cepat, karena serangan nematoda akan mikrosporodia terhadap kehidupan inang
mengalami kematian dalam waktu 24-48 relatif lambat dan gejala luarnya sangat
jam setelah aplikasi. Tubuh serangga akan bervariasi. Mikrosporodia tersebar luas
lemas terjadi penurunan aktivitas dan secara alami dapat menjadi faktor
terjadi perubahan warna tubuh menjadi mortalitas yang penting bagi serangga
merah kecoklatan jika terserang inangnya. Jenis rikettsia banyak
Steinernema spp dan hitam jika terserang menyerang kumbang. Kematian akibat
Heterorhabditis spp. riketsia akan terjadi 1-4 bulan setelah
aplikasi atau lebih lama dibandingkan inang alternatif parasitoid atau mangsa
kematian akibat agen hayati seperti jamur, alternatif predator
bakteri, nematoda dan virus. Contoh
Protozoa dan Rikettsia yang dapat dipakai Pelepasan musuh alami sebaiknya
dalam pengendalian hayati adalah : dilakukan saat kondisi lingkungan
mendukung aktifitasnya, misalnya pagi
Cth. Cocodia mampu menginfeksi hama atau sore hari, sehingga saat kondisinya
gudang Tribolium confusum lingkungan kurang mendukung misal
cuaca panas, musuh alami telah
mempersiapkan diri untuk mengantisipasi.
Selain itu pelepasan dilakukan saat
C. Strategi Pengendalian Hayati
populasi hama mulai meningkat
Teknik pengendalian hayati meninggalkan batas keseimbangan alami.
dengan menggunakan parasitoid dan
predator yang dilakukan sampai saat ini b) Introduksi
dapat dikelompokkan dalam 3 kategori Menambah atau memasukan
yaitu, Konservasi, Introduksi, dan populasi musuh alami yang digunakan
Augmentasi . Meskipun ketiga teknik dalam jumlah banyak( perbanyakan di
pengendalian hayati tersebut berbeda laboratorium) untuk pengendali baik
tetapi dalam pelaksanaanya sering sebagai parasitoid, predator maupun
digunaka secara bersama. patogen. Teknik introduksi atau importasi
musuh alami seringkali disebut sebagai
a) Konservasi
praktek klasik pengendalian hayati. Hal ini
Menurut Rukmana. dan sugandi, ( disebabkan karena sejak diketahui
2002). Musuh alami mempunyai andil sebagian besar usaha pengendalian hayati
yang sangat besar dalam pembangunan menggunakan teknik introduksi.
pertanian berwawasan lingkungan karena
Keberhasilan teknik introduksi
daya kendali terhadap hama cukup tinggi
misalnya pada : introduksi kumbang
dan tidak menimbulkan dampak negatif
Vedalia, Rodolia carnidalis dari benua
terhadap lingkungan. Agar upaya ini dapat
Australia yang menyerang perkebunan
berlangsung dan berkesinambungan secara
jeruk dikalifornia untuk mengendalikan
terus-menerus musuh alami perlu dijaga
hama kutu perisai Icerya purchasi.
kelestariaanya. Melindungi dan
Keberhasilan ini kemudian dicobakan
mempertinggi populasi musuh alami yang
pada hama-hama lain dan banyak juga
dapat digunakan sebagai pengendali hama
yang berhasil baik secara lengkap,
yang ada dialam baik sebagai parasitoid,
subtansial maupun parsial.
predator maupun patogen. Tujuannya
adalah menghindari tindakan-tindakan Menurut Untung ( 2006 ) ada
yang dapat mengganggu kelestarian beberapa langkah klasik yang dapat
populasi musuh alami misalnya dengan ditempuh untuk melakukan introduksi
memakai sistem tanam yang lebih musuh alami pada suatu tempat. Langkah-
beraneka ragam, menanam dan langkah dapat dilakukan dengan urutan
melestarikan tanaman berbunga sebagai sebagai berikut :
makanan dari musuh alami, menekan
pemakaian pestisida yang berlebihan, 1. Penjelajahan atau Ekplorasi di negeri
melestarikan tanman liar yang mendukung asal
2. Pengiriman parasitoid dan predator 3) Pelepasan Inundatif atau Pelepasan
dari negeri asal Massal
3. Karantina parasitoid dan predator yang
diimpor di dalam negeri Pelepasan ini diharapkan agar
4. Perbanyakan parasitoid dan predator di individu-individu musuh alami yang
laboratorium dilepas secara sekaligus dapat menurunkan
5. Pelepasan dan pemapanan parasitoid populasi hama secara cepat terutama
dan predator yang diimpor setelah ratusan ribu atau jutaan individu
6. Evaluasi efektivitas pengendali hayati parasitoid atau predator dilepaskan. Ada 2
cara Augmentasi : Pelepasan inundatif
parasitoid sering disebut penggunaan
c) Augmentasi Insektisida biologi karena musuh alami
diharapkan dapat bekerja secepat
Teknik Augmentasi adalah upaya insektisida kimia dalam penurunan
peningkatan jumlah dan pengaruh musuh populasi hama, memanipulasi atau
alami yang sebelunya telah berfungsi di memodifikasi ekosistem : Sehingga
ekosistem tersebut, baik dengan cara ekosistem tersebut lebih mendorong
pelepasan sejumlah tambahan baru peningkatan populasi dan efektifitas serta
maupun dengan cara memodifikasi efisiensi musuh alami.
ekosistem sedemikian rupa sehingga
jumlah dan kemamgusan musuh alami
dapat ditingkatkan. Pelepasan secara
augmentasi ini akan berhasil bila D. Keterpaduan Dengan Komponen
dilakukan secara periodik. Ada 3 cara PHT Lain
pelepasan pereodik ádalah sebagai berikut:
Sesuai dengan konsep dasar
1) Pelepasan Inokulatif Pengendalian Hama Terpadu ( PHT ),
pengendalian hayati memegang peranan
Pelepasan musuh alami dilakukan yang sangat penting karena pengendalian
satu kali dalam satu musim atau dalam ini sangat menentukan semua usaha teknik
satu tahun dengan tujuan musuh alami pengendalian yang lain secara bersamaan
dapat mengadakan kolonisasi dan ditujukan untuk mempertahankan dan
menyebarluas secara alami sehingga dapat memperkuat berfungsi dari musuh alami
menjaga keseimbangan. sehingga populasi hama tetap berada
dibawah ambang ekonomi.
Pengendalian hama terpadu (PHT)
2) Pelepasan Suplemen adalah pengendalian hama yang memiliki
dasar ekologis dan menyadarkan diri pada
Pelepasan dilakukan setelah
faktor-faktor mortalitas alami seperti
kegiatan sampling diketahui populasi
musuh alami dan cuaca serta mencari
hama mulai meninggalkan populasi musuh
teknik pengendalian yang mendatangkan
alaminya. Tujuannya adalah untuk
gangguan sekecil mungkin terhadap
membantu musuh alami yang sudah ada
faktor-faktor tesebut. PHT menggunakan
agar kembali berfungsi dan dapat
pestisida hanya setelah adanya
mengendalikan populasi hama.
pemantauan populasi hama yang sistemis
dan pemamtauan musuh alami
menunjukan diperlukannya penggunaan
pestisida. Secara ideal program secara selektif, penggunaan OPT dengan
pengendalian hama terpadu, peraturan atau karantina.
mempertimbangkan semua kegiatan
pengendalian hama yang ada. Dalam PHT
musuh alami, cara-cara bercocok tanam,
Penutup
varietas tanaman, agensia mikrobia,
memanipulasi genetik, senyawa kimia A. Kesimpulan
tertentu ( seperti sex attraktan/penarik
serangga kelamin tertentu ) dan pestisida 1. Didalan suatu ekosistem terjadi
menjadi faktor tergabung dalam proses hubungan timbal balik baik intra
pengendalian hama. maupun antarspesies, mekanisme
hubungan tersebut adalah predasi
Prinsip dasar PHT bukan bertujuan yang kemudian akan disebut sebagai
atau cara pengendalian melainkan suatu rantai makanan.
metode ilmiah untuk mengendalikan hama 2. Prinsip pengendalian hayati adalah
(OPT) agar secara ekonomis tidak pengendalian serangga hama dengan
merugikan, dan untuk mempertahankan cara biologi, yaitu dengan
kelestarian lingkungan. Untuk mencapai memanfaatkan musuh-musuh
Sasaran atau tujuan dari PHT yaitu : alaminya( agen pengendali biologi ),
Produktivitas pertanian mantap tinggi, seperti predator, parasit dan patogen.
kesejahteraan petani meningkat, populasi 3. Pengendalian hayati memiliki
hama atau kerusakan yang ditimbulkannya keuntungan dan kelemahan.
secara ekonomis tidak merugikan, kualitas 4. Dilihat dari fungsinya musuh alami
dan keseimbangan lingkungan terpelihara. dapat dikelompokkan menjadi,
Parasitoid, Predator dan Patogen.
Selain sasaran dan tujuan, yang
5. Parasitoid dapat digolongkan
tidak kalah penting adalah adanya Strategi
berdasarkan fase tubuh inang yang
PHT. Strategi Pengendalian Hama
diserang: Parasitoid telur, Parasitoid
Terpadu yaitu dengan cara : Memadukan
telur – larva, Parasitoid larva,
semua teknik atau metode pengendalian
Parasitoid larva – pupa, Parasitoid
hama secara optimal baik secara ekologis
pupa, Parasitoid imago.
maupun secara ekonomis, pengendalian
6. Predator adalah binatang atau serangga
hama ( OPT ) lebih menekankan pada :
yang memangsa serangga lain.
cara-cara nonkimiawi ( budidaya tanaman
Predator merupakan organisme yang
sehat dan pemanfaatan musuh alami).
hidup bebas dengan memakan,
Penggunaan pesticida selektif pada saat
membunuh atau memangsa serangga
populasi hama mencapai ambang ekonomi
lain.
atau abang pengendali hama OPT
7. Patogen adalah golongan
Selain PHt ekologi ada juga mikroorganisme atau jasad renik yang
teknologi PHT dengan cara : Pengelolaan menyebabkan serangga sakit dan
ekosistem dengan cara bercocok tanam, akhirnya mati. Mikroorganisme yang
penggunaan varietas yang tahan hama dapat menjadi patogen adalah virus,
OPT, pengendalian secara fisik atau bakteri, protozoa, jamur, riketzia dan
mekanik, Pengendalian secara genetik nenatoda.
(jantan mandul), penggunaan pestisida 8. Pengelolaan ekosistem dengan cara
bercocok tanam, penggunaan varietas
yang tahan hama OPT, pengendalian
secara fisik atau mekanik, pengendalian yang akan di lakukan,
Pengendalian secara genetik, ingat bahwa resiko itu tidak pernah
penggunaan pestisida secara selektif, datang di awal akan tetapi muncul
Penggunaan OPT dengan peraturan akhit, dan penyesalan tu tidak pernah
atau karantina, ini merupakan hadir sebelumnya akan tetapi akan
teknologi PHT. timbul setelahnya.
2. Diharapkan kepada Dinas terkait
untuk lebih giat lagi dalam melakukan
B. Saran sosialisasi tentang resiko pemakaian
pestisida yang berlebihan.
1. Petani di Daerah Halmahera Utara
harus lebih jeli dalam memilih teknik

Pustaka
Anonim, 2002. Model Budidaya tanaman Sehat ( Budidaya Tanaman Sayuran Secara
Sehat Melalui Penerapan PHT), Dirjen Perlindungan Tanaman. Jakarta
______, 2004. Pedoman Peengendalian Penyakit Tugro Pada Tanaman Padi.
Direktorat Perlindungan Pangan, Dirjen Tanaman Pangan Deptan. Jakarta.
Flint L. M dan Van den Bosch. R, (2000). Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah
Pengantar. Kanisius. Yogyakarta
Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.
Rukmana.R. dan Sugandi. 2002. Hama Tanaman dan Teknik Pengendaliaanya,
Kanisius.Yogyakarta.
Untung, 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu, Gajah Mada University Press.
Yoyakarta.