Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kelainan laring bukanlah hal yang jarang ditemukan dan masih

merupakan masalah, karena penatalaksanaannya mencakup berbagai faktor.

Yang terpenting pada penatalaksanaan kelainan laring ialah diagnosis dini dan

penanganan yang tepat. Gejala utama yang dapat mudah dikenali pada kelainan

laring adalah suara parau, akibat terjadinya gangguan fungsi fonasi laring.1

Setiap tahun, 11.000 kasus baru karsinoma laring terdiagnosa di Amerika

Serikat (1% dari keseluruhan diagnosa kanker baru), dan sekitar sepertiga dari

pasien ini akan mati. Rasio laki-laki : perempuan untuk keganasan laring adalah

4:1.2 Sedangkan di India proporsi karsinoma laring adalah 2.63% dibandingkan

proporsi tumor ganas yang lain, dimana rasio laki-laki : perempuan adalah 10:1

(4.79% : 0.47%). Terdapat 3.29 kasus baru karsinoma laring pada laki-laki dan

0.42 kasus baru pada perempuan per 100,000 populasi (National Cancer

Registry, ICMR, April 2005 report). Baru-baru ini, insiden pada perempuan telah

meningkat di negara barat karena lebih banyak perempuan yang merokok.

Penyakit ini sebagian besar terdapat pada kelompok usia 40-70 tahun, terkadang

terdapat pada orang-orang di usia 30-an. Menurut letak per bagian dari tumor

laring, insiden tumor supraglotik sebesar 40%, tumor glotik sebesar 59% dan

subglotik sebesar 1%. Insiden tertinggi dari karsinoma laring dalam dekade

keenam dan ketujuh ini terdapat pada kalangan kelompok-kelompok sosial

ekonomi rendah. Lebih dari 90% karsinoma laring adalah karsinoma sel

1
skuamosa dan secara langsung terkait dengan penggunaan tembakau dan

alkohol yang berlebihan.3

Untuk menghindari kesalahan karena pemeriksaan laring yang tidak

lengkap, seorang klinis harus : 1) teliti dalam pemeriksaannya, 2) melihat semua

bagian laring, 3) menetapkan pemeriksaan rutin yang baku, 4) hati-hati dan

selalu teliti dalam mengikuti anatomi regional. Diagnosa ditegakkan berdasarkan

anamnesis dan pemeriksaan klinis. Laringoskopi indirek adalah cara melihat

secara tidak langsung dengan bantuan kaca laring, sedangkan laringoskopi direk

adalah pemeriksaan laring secara visual langsung dengan menggunakan

laringoskopi. Fiber optik laringoskopi (FOL) merupakan laringoskopi direk, yaitu

salah satu pemeriksaan pada laring yang dapat memberikan penilaian lokasi

tumor, penyebaran tumor, kemudian dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi

anatomi.4, 5

Saat ini Poli Bronkoesofagologi IK THT-KL di RSUD dr. Saiful Anwar

Malang turut menangani penderita tumor laring. Pada penelitian ini, penulis ingin

mengetahui profil penderita yang menjalani biopsi laring di RSUD dr. Saiful

Anwar Malang periode 1 Januari 2014-31 Desember 2014.

1.2. Tujuan

1. Sebagai tugas karya ilmiah keempat untuk memenuhi persyaratan

dalam menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis I Ilmu

Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok – Bedah Kepala dan Leher

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.

2
2. Untuk mengetahui profil penderita yang menjalani biopsi laring di

RSUD dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2014 hingga 31

Desember 2014.

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Laring

Laring adalah suatu organ biologis yang terletak pada pertemuan antara

saluran respirasi dan saluran pencernaan. Laring terdiri dari empat komponen

dasar anatomi yaitu tulang rawan, otot intrinsik, otot ekstrinsik, dan mukosa yang

seluruhnya merupakan bagian terpenting dari fonasi. Laring mempunyai tiga

fungsi penting yaitu proteksi saluran pernafasan bawah, pengaturan aliran udara

selama bernafas dan produksi suara atau fonasi.3, 6

Struktur kerangka laring tersusun oleh tulang (hioid), tulang rawan tunggal

(tiroid, krikoid, epiglotis), dan tulang rawan berpasangan (aritenoid, kornikulata,

kuneiformis).6 Otot-otot pada laring dibedakan menjadi dua kelompok besar,

yaitu:6, 7

1. Ekstrinsik, yang berperan dalam gerakan dan fiksasi laring, terdiri dari otot

depresor (otot tirohioid, sternohioid dan omohioid) dan otot elevator (otot

digastrikus anterior dan posterior, stilohioid, geniohioid dan milohioid).

2. Intrinsik, yang berperan mempertahankan dan mengontrol jalan udara

pernapasan melalui laring dan mengontrol tahanan terhadap udara

ekspirasi selama fonasi. Terdiri dari :

a. Abduktor : untuk menggerakkan pita suara ke samping dan hanya

terdapat satu otot yaitu otot krikoaritenoid posterior.

b. Adduktor : otot krikoaritenoid lateral, interaritenoid, tiroaritenoid eksterna

yang berfungsi untuk menggerakkan pita suara ke tengah.

c. Tensor, termasuk dalam kelompok tensor di antaranya :

4
- otot tiroaritenoid interna yang berfungsi untuk mengatur gerakan

vibrasi pita suara sehingga menghasilkan pengontrolan nada yang

baik.

- otot krikotiroid yang berfungsi untuk proses pemanjangan dan

peregangan pita suara

Gambar 2.1 Laring tampak depan dan belakang. Dikutip dari Lalwani AK2

5
Vaskularisasi laring berasal dari cabang arteri tiroidea superior dan

inferior. Drainase venosusnya berasal dari vena laringeus superior dan inferior

yang akan bermuara pada vena jugularis interna dan vena cava superior. Laring

menerima suplai persarafan motorik dan sensorik melalui saraf laringeus superior

dan saraf laringeus inferior atau saraf laringeus rekurens yang merupakan

cabang dari saraf Vagus.7

Gambar 2.2 Pembagian ruang di laring. Dikutip dari Lalwani AK2

2.2. Fisiologi Laring

Laring merupakan organ yang penting yang berfungsi untuk proteksi

saluran pernapasan bawah, fonasi, respirasi, fiksasi dan deglutasi.3

Fungsi laring sebagai proteksi ialah untuk mencegah makanan dan benda

asing masuk ke dalam trakea, dengan jalan menutup aditus laring dan rima glotis

secara bersamaan. Terjadinya penutupan aditus laring ialah karena karena

pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik laring. Dalam hal

6
ini, tulang rawan aritenoid bergerak ke depan akibat kontraksi otot tiroaritenoid

dan otot aritenoid. Selanjutnya otot ariepiglotika berfungsi sebagai sfingter.3

Selain itu dengan refleks batuk, benda asing yang telah masuk ke dalam

trakea dapat dibatukkan ke luar. Demikian juga dengan bantuan batuk, sekret

yang berasal dari paru dapat dikeluarkan.3

Pita suara mempunyai peranan yang penting dalam fonasi dan respirasi.

Ada tiga kemampuan istimewa yang dimiliki oleh pita suara yang merupakan

komponen penting untuk pembentukan suara, yaitu :8

1. Kemampuan pita suara untuk bergerak dan merapat di garis tengah

2. Kemampuan pita suara untuk bergetar di garis tengah

3. Kemampuan pita suara untuk menipiskan dan menebalkan diri

Pada saat respirasi, pita suara akan ditarik ke samping oleh otot abduktor

sehingga rima glotis membuka. Sedangkan pada saat fonasi, pita suara akan

ditarik ke tengah oleh otot-otot adduktor sehingga rima glotis menutup. Fisiologi

pita suara disebut normal bila dapat bergerak ke medial secara simetris dan

merapat dengan baik di garis tengah. Hal ini merupakan syarat terbentuknya

suara yang nyaring. Di samping itu, diperlukan adanya aliran udara yang cukup

kuat dari paru dan anatomi pita suara yang normal.6, 8

Laring merupakan alat fiksasi dengan organ-organ disekitarnya.

Disamping itu laring juga merupakan alat fiksasi udara didalam rongga dada jika

laring menutup, misalnya pada saat orang mengajar.6, 8

Laring membantu proses penelanan pada waktu makanan sudah berada

di faring. Laring diangkat keatas oleh otot-otot ekstrinsik sehingga epiglotis

tertahan oleh pangkal lidah dan makanan meluncur masuk esofagus.6, 8

7
2.3. Kelainan Laring

Kelainan laring dapat berupa kelainan kongenital, peradangan, lesi jinak,

kelumpuhan pita suara serta tumor jinak dan ganas laring.1

2.3.1. Kelainan Kongenital

Kelainan ini dapat berupa laringomalasia, stenosis subglotis, selaput di

faring, kista kongenital, hemangioma dan fistel laringotrakeaesofagus. Pada bayi

dengan kelainan kongenital laring dapat menyebabkan gejala sumbatan jalan

napas, suara tangis melemah sampai tidak ada sama sekali, serta kadang-

kadang terdapat juga disfagia.3

2.3.2. Peradangan Laring

Dapat berupa laringitis akut atau laringitis kronis. Radang akut laring pada

umumnya merupakan kelanjutan dari rinofaringitis (common cold). Pada anak,

laringitis akut ini dapat menimbulkan sumbatan jalan napas, sedangkan pada

orang dewasa tidak secepat pada anak. Pada laringitis akut terdapat gejala

radang umum, seperti demam, malaise, serta gejala lokal, seperti suara parau

sampai tidak bersuara sama sekali (afoni), nyeri ketika menelan atau berbicara,

serta gejala sumbatan laring. Terapi yang tepat adalah dengan istirahat berbicara

dan bersuara selama 2-3 hari, menghirup udara lembab, menghindari iritasi pada

faring dan laring.9

Laringitis kronis sering merupakan radang kronis laring disebabkan oleh

sinusitis kronis, deviasi septum yang berat, polip hidung atau bronkitis kronis.

Mungkin juga disebabkan oleh penyalahgunaan suara (vocal abuse) seperti

berteriak-teriak atau biasa berbicara keras. Terapi yang terpenting ialah

mengobati peradangan di hidung, faring serta bronkus yang mungkin menjadi

8
penyebab laringitis kronis. Pasien diminta untuk tidak banyak berbicara (vocal

rest).9

2.3.3. Lesi Jinak Laring

Nodul pita suara (vocal nodule), kelainan ini biasanya disebabkan oleh

penyalahgunaan suara dalam waktu lama, seperti pada seorang guru, penyanyi

dan sebagainya. Kelainan ini juga disebut “singer’s node”. Terdapat suara parau,

kadang-kadang disertai dengan batuk. Pada pemeriksaan terdapat nodul di pita

suara sebesar kacang hijau atau lebih kecil, berwarna keputihan. Predileksi nodul

terletak di sepertiga anterior pita suara dan sepertiga medial. Nodul biasanya

bilateral banyak dijumpai pada wanita dewasa muda. Penatalaksanaan dengan

istirahat bicara dan terapi suara (voice therapy).9

Polip pita suara biasanya bertangkai. Lesi terletak di sepertiga anterior,

sepertiga tengah bahkan seluruh pita suara. Lesi biasanya unilateral, dapat

terjadi pada segala usia umumnya orang dewasa. Gejalanya sama seperti pada

nodul yaitu suara parau. Penatalaksanaan standar adalah tindakan bedah mikro

laring dan pemeriksaan patologi anatomi.9

2.3.4. Kelumpuhan Pita Suara

Kelumpuhan pita suara adalah terganggunya pergerakan pita suara

karena disfungsi saraf ke otot-otot laring. Hal ini merupakan gejala suatu penyakit

dan bukan diagnosis. Pada kelumpuhan pita suara kongenital (pada bayi) gejala

tersering adalah stridor, penyebab belum dapat diketahui secara pasti.

Kelumpuhan pita suara didapat bisa disebabkan oleh keganasan pada paru,

esofagus atau tiroid. Pengobatan pada kelumpuhan pita suara adalah terapi

suara (voice therapy) dan bedah pita suara (phonosurgery).1, 3, 9

9
2.3.5. Tumor Jinak Laring

Tumor jinak laring tidak banyak ditemukan, hanya kurang 5% dari semua

jenis tumor laring. Tumor jinak laring dapat berupa papilloma laring (terbanyak

frekuensinya), adenoma, kondroma, mioblastoma sel granuler, hemangioma, dan

neurofibroma. Diagnosis berdasarkan anamnesis, gejala klinik, pemeriksaan

laring langsung, biopsi serta pemeriksaan patologi anatomi.4

Papiloma tampak sebagai pertumbuhan kutil yang soliter atau multipel

pada pita suara, akan tetapi dapat juga terletak di supraglotis dan kadang-

kadang di infraglotis. Kondroma terlihat sebagai massa yang berpenampilan

kenyal, licin, kadang-kadang permukaannya berlobul, tumbuh pada kartilago

krikoid atau tiroid.9

Mioma jarang ditemukan, akan tetapi mioblastoma lebih sering. Tumor-

tumor ini adalah tumor jinak yang berasal dari daerah aritenoid berwarna merah.9

Angioma dapat berbentuk hemangioma simpleks atau kavernosa faring

atau laring. Keluhan yang sering adalah perdarahan, seringkali hebat; biasanya

biopsi tumor ini tidak diperlukan. Tumor ini tampak kebiruan dan bila eksofilik

tampak sebagai “kantong cacing biru”.4, 9

Neurofibroma adalah tumor yang jarang ditemukan, yang timbul dari sel

Schwann dan muncul pada bagian ekstrinsik laring. Tampak sebagai massa licin

pada plika ariepiglotik dan diagnosisnya sulit, kecuali diperoleh bahan yang

cukup untuk contoh biopsi tumor.4

10
2.3.6. Tumor Ganas Laring

Tumor ganas laring merupakan penyakit yang kesembuhannya tinggi,

sedangkan tumor ganas laringofaring kesembuhannya pada umumnya kurang,

oleh karena sifatnya yang agresif.4

Penelitian epidemiologi menggambarkan beberapa hal yang diduga

menyebabkan terjadinya karsinoma laring yang kuat ialah rokok, alkohol dan

terpajan oleh sinar radioaktif. Karsinoma sel skuamosa meliputi 95% sampai 98%

dari semua tumor ganas laring.3

Suara parau adalah gejala utama karsinoma laring, merupakan gejala

paling dini tumor laring. Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi fonasi laring.

Adanya tumor di pita suara akan mengganggu gerak maupun getaran kedua pita

suara tersebut. Sesak dan stridor adalah gejala yang disebabkan oleh sumbatan

jalan napas dan dapat timbul pada tiap tumor laring. Gejala ini disebabkan oleh

gangguan jalan napas oleh massa tumor, penumpukan kotoran atau sekret,

maupun oleh fiksasi pita suara. Pada umumnya dispnea dan stridor adalah tanda

prognosis yang kurang baik.1, 3

Keluhan nyeri tenggorok dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa

nyeri yang tajam. Disfagia adalah ciri khas tumor pangkal lidah, supraglotik,

hipofaring dan sinus piriformis. Keluhan ini merupakan keluhan paling sering

pada tumor ganas postkrikoid. Batuk dan hemoptisis jarang ditemukan pada

tumor ganas glotik, biasanya timbul dengan tertekannya hipofaring disertai sekret

yang mengalir ke dalam laring.1, 3

11
2.4. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis.

Pemeriksaan laring dapat dilakukan dengan cara tidak langsung atau langsung

dengan menggunakan laringoskopi. Pemeriksaan ini untuk menilai lokasi tumor,

penyebaran tumor, kemudian dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi

anatomi.4

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan selain pemeriksaan

laboratorium darah, juga pemeriksaan radiologi. Foto toraks diperlukan untuk

menilai keadaan paru, ada atau tidaknya proses spesifik dan metastasis di paru.

CT scan laring dapat memperlihatkan keadaan tumor dan laring lebih seksama,

misalnya penjalaran tumor pada tulang rawan tiroid dan daerah pre-epiglotis

serta metastasis kelenjar getah bening.3, 4, 9

Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologi anatomi dari

bahan biopsi laring dan biopsi jarum halus pada pembesaran kelenjar getah

bening di leher. Dari hasil patologi anatomi yang terbanyak adalah karsinoma sel

skuamosa. Pengambilan sampel bahan biopsi laring bisa dilakukan dengan FOL

atau LD.3, 4

Laringoskopi adalah suatu kata yang berasal dari bahasa latin “laryng”

dan “Scopo” (larynx = laring, tenggorok dan scopo = memeriksa) yang berarti

memeriksa laring.10

Indikasi Fiber optik laringoskopi (FOL) adalah untuk diagnostik (melihat

kelainan-kelainan yang ada, untuk biopsi dan untuk mengambil sekret untuk

pemeriksaan bakteriologis), untuk terapeutik (mengambil benda asing), untuk

“follow up” (evaluasi paska bedah laring dan pro dekanulasi) dan untuk tindakan

intubasi.10

12
Kontraindikasi FOL sebetulnya tidak ada selama ada indikasi untuk

melakukan pemeriksaan. Kontraindikasi absolut tidak ada, yang ada hanya

kontraindikasi relatif yang sangat dipengaruhi oleh dokter yang memeriksa,

misalnya faal paru/jantung yang sangat buruk, kelemahan umum dan febris yang

tinggi.11

Laringoskopi direk (LD) adalah pemeriksaan laring dan hipofaring secara

langsung dengan menggunakan alat-alat yang dapat dipakai untuk menarik ke

samping jaringan-jaringan yang menghalangi pandangan dan membawa laring

ke garis penglihatan.5, 12

Kegunaan laringoskopi direk adalah untuk diagnostik (melihat kelainan

yang ada, untuk biopsi, mengambil sekret untuk pemeriksaan bakteriologis),

terapeutik (mengambil benda asing, ekstirpasi dan stripping saat bedah laring

mikoskopis, bouginasi pada stenosis laring), follow up (evaluasi pasca BLM), dan

tindakan intubasi dan menuntun masuknya bronkoskopi.5, 11

Kesulitan yang dapat terjadi dalam penggunaan laringoskopi direk adalah

kesulitan pemasangan laringoskop karena kurang terampil, alat tidak lengkap,

ukuran alat tidak sesuai, saat yang tepat untuk mulai memasukkan alat dan

kondisi fisik pasien. Komplikasinya antara lain gigi lepas, false route, dan

laringospasme (karena terkumpulnya saliva, sekret, darah didalam laring atau

oleh karena tekanan dari laringoskopi). Kontraindikasi absolut untuk LD adalah

penyakit vertebra servikalis.5

2.5. Penatalaksanaan

Setelah diagnosis dan stadium tumor ditegakkan, maka ditentukan

tindakan yang akan diambil sebagai penanggulangannya. Ada 3 cara yakni

13
pembedahan, radiasi, obat sitostatika atau pun kombinasi daripadanya,

tergantung pada stadium penyakit dan keadaan umum pasien.4

Pada penanganan tumor jinak laring yang terbaik adalah pengangkatan

tumornya sendiri dengan ekstirpasi yaitu dengan cara bedah laring mikroskopi,

kemudian dilakukan pemeriksaan patologi anatomi untuk mengetahui jenis

tumor.4

Penanganan kanker laring tidak selalu sama. Penanganan tergantung

kepada keadaan kanker tersebut (stadium kanker, fasilitas RS dan motivasi dari

pasien). Pada penanganan kanker laring dapat dikelompokan menjadi beberapa

macam, diantaranya dengan radioterapi (penyinaran sinar rontgen), dengan cara

pembedahan atau operasi (kordektomi, hemilaringektomi, laringektomi total,

bahkan dapat dilakukan sekaligus deseksi leher total), dengan menggunakan

obat yang sifatnya menghambat pertumbuhan sel kanker atau sitostatika, dan

dengan penanganan kombinasi antara radioterapi, operasi dan kemoterapi.4

14
BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif untuk melihat

profil penderita yang menjalani biopsi laring baik dengan tuntunan FOL maupun

LD di RSUD dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2014 - 31 Desember

2014

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di poliklinik Bronkoesofagologi SMF IK THT-

KL RSUD dr. Saiful Anwar Malang pada bulan April 2015

3.3 Bahan Penelitian

Subyek penelitian ini adalah penderita yang menjalani biopsi laring baik

dengan tuntunan FOL maupun LD dalam kurun waktu 1 Januari 2014 sampai

dengan 31 Desember 2014

3.4 Variabel Penelitian

Variabel yang akan diteliti adalah sebagai berikut :

15
1. Jenis kelamin

2. Usia

3. Pendidikan

4. Pekerjaan

5. Faktor resiko

6. Keluhan utama

7. Hasil temuan dengan FOL maupun LD

8. Hasil biopsi laring dengan FOL maupun LD

3.5 Metode pengumpulan Data

Data dikumpulkan dengan melihat data rekam medis penderita yang

tersimpan di bagian rekam medis RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Data yang

dikumpulkan berupa jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, faktor resiko,

keluhan utama, hasil temuan dengan FOL maupun LD dan hasil biopsi pada

laring.

3.6 Definisi Operasional Variabel Penelitian

– Jenis kelamin dibedakan antara laki-laki dan perempuan

– Usia yaitu pembagian usia per satu dekade antara lain 1-10 tahun, 11-20

tahun, 21-30 tahun, 31-40 tahun, 41-50 tahun, 51-60 tahun, >60 tahun

– Pendidikan yaitu jenjang pendidikan terakhir penderita. Dibagi menjadi

SD, SLTP, SLTA, Diploma, S1

– Pekerjaan yaitu pekerjaan terakhir penderita, dibagi menjadi ibu rumah

tangga, swasta, supir bus malam, petani, buruh, PNS, pedagang.

– Faktor resiko adalah penderita yang sedang atau riwayat merokok lebih

dari 20 tahun, mengkonsumsi alkohol dan terdapat infeksi kronis laring

17
– Keluhan utama adalah keluhan penderita yang memberikan gejala

kelainan laring yaitu suara parau, sesak, benjolan pada leher, batuk darah

dan nyeri menelan

– Hasil temuan dengan FOL maupun LD adalah hasil temuan pada

penderita kelainan laring dengan tuntunan FOL maupun LD memberikan

gambaran massa di daerah supraglotis, glotis, subglotis, hipofaring dan

suatu radang kronis

– Hasil biopsi laring dengan FOL maupun LD adalah hasil pemeriksaan

patologi anatomi pada penderita dengan gejala kelainan laring. Dibagi

menjadi skuamos sel Ca, papiloma, radang kronis

3.7 Kerangka Operasional

Semua catatan medis penderita yang menjalani biopsi laring

dengan tuntunan FOL maupun LD di RSUD dr. Saiful Anwar Malang

periode 1 Januari 2014 - 31 Desember 2014



Dicatat variabel-variabel penelitian dan disajikan dalam bentuk tabel

3.8 Analisis Data

Semua data yang terkumpul diolah secara deskriptif dan disusun dalam

bentuk tabel.

17
BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Karakteristik umum

Subyek penelitian ini berjumlah 24 penderita tumor laring yang menjalani

biopsi laring dimana 18 pasien dilakukan biopsi dengan tuntunan FOL dan 6

pasien dengan tuntunan LD. Distribusi terbesar adalah laki-laki sebanyak 21

orang (87,5%) dibandingkan perempuan sebanyak 3 orang (12,5%) dengan

perbandingan 8:1. Tumor laring terbanyak pada kelompok usia > 60 tahun

sebesar 50% diikuti oleh usia 51-60 tahun sebesar 25% dan 41-50 tahun sebesar

16,67%. Pendidikan terakhir terbanyak adalah SD sebesar 75% diikuti oleh SLTP

sebesar 16,67%. Pekerjaan terbanyak adalah petani sebesar 45,83% diikuti

buruh sebesar 25%.

Tabel 4.1 Distribusi pasien yang dilakukan biopsi laring berdasarkan jenis kelamin
Jenis
kelamin
N %
Laki-laki 21 87,5
Perempuan 3 12,5
Jumlah 24 100

Tabel 4.2 Distribusi pasien yang dilakukan biopsi laring berdasarkan usia
Kelompok
Usia (tahun) N %
1-10 0 0
11-20 0 0
21-30 1 4,16
31-40 1 4,16
41-50 4 16,67
51-60 6 25
> 60 12 50
Jumlah 24 100

21
Tabel 4.3 Distribusi pasien yang dilakukan biopsi laring berdasarkan pendidikan
Pendidikan
N %
SD 18 75
SLTP 4 16,67
SLTA 2 8,33
Diploma 0 0
S1 0 0
Jumlah 24 100

Tabel 4.4 Distribusi pasien yang dilakukan biopsi laring berdasarkan pekerjaan
Jenis Pekerjaan
N %
Ibu rumah tangga 1 4,16
Swasta 1 4,16
Supir bus malam 1 4,16
Petani 11 45,83
Buruh 6 25
Pedagang 4 16,67
Jumlah 24 100

4.2 Karakteristik klinis

Pasien dibedakan berdasarkan faktor resiko didapatkan sebanyak 20

pasien (83,33%) karena faktor merokok dan 4 pasien (16,67%) karena faktor

infeksi kronis, dimana keluhan utama terbanyak adalah suara parau sebanyak 17

pasien (70,83%), sesak sebanyak 4 pasien (16,67%), benjolan di leher sebanyak

2 pasien (8,33%) dan batuk darah sebanyak 1 pasien (4,17%).

21
Tabel 4.5 Distribusi pasien yang dilakukan biopsi laring berdasarkan faktor resiko
Faktor resiko
N %
Merokok 20 83,33
Infeksi kronis 4 16,67
Jumlah 24 100

Tabel 4.6 Distribusi pasien yang dilakukan biopsi laring berdasarkan keluhan
utama
Keluhan utama
N %
Suara parau 17 70,83
Sesak 4 16,67
Benjolan pada leher 2 8,33
Batuk darah 1 4,17
Jumlah 24 100

Dari jumlah hasil temuan FOL maupun LD didapatkan sebanyak 12

pasien (50%) massa glotis, 5 pasien (20,83%) massa subglotis, 3 pasien (12,5%)

massa supraglotis, 3 pasien (12,5%) infeksi kronis, 1 pasien (4,17%) massa di

hipofaring.

Tabel 4.7 Distribusi hasil temuan kelainan laring dengan menggunakan FOL
maupun LD
FOL LD Total
N % N % N %
Massa di supraglotis 3 16,66 0 0 3 12,5
Massa di glotis 10 55,56 2 33,33 12 50
Massa di subglotis 1 5,56 4 66,67 5 20,83
Massa di hipofaring 1 5,56 0 0 1 4,17
Radang kronis 3 16,66 0 0 3 12,5
Jumlah 18 100 6 100 24 100

Dari jumlah hasil biopsi laring dengan FOL maupun LD didapatkan

sebanyak 19 pasien (79,17%) skuamos sel Ca, 2 pasien (8,33) papilloma dan 3

pasien (12,5%) radang kronis.

21
Tabel 4.8 Distribusi hasil biopsi laring dengan tuntunan FOL maupun LD
FOL LD
N % N %
Skuamos sel Ca 11 68,75 8 100
Papiloma 2 12,5 0 0
Radang kronis 3 18,75 0 0
Jumlah 16 100 8 100

Didapatkan data rekam medis periode 1 januari 2014 – 31 Desember

2015 yaitu terdapat 2 pasien yang dilakukan biopsi laring dengan tuntunan FOL

yang harus diulang dengan biopsi dengan tuntunan LD karena hasil temuan FOL

yang tidak memuaskan atau hasil tidak sesuai dengan gambaran tumornya.

Sebanyak 6 pasien yang dilakukan LD biopsi tanpa dilakukan FOL karena

direncanakan trakeostomi atau penyelamatan jalan nafas atas terlebih dahulu

dan dilanjutkan biopsi laring dengan tuntunan LD, juga karena daerah biopsi

laring yang tidak memungkinkan menggunakan FOL.

21
BAB 5

PEMBAHASAN

Fiber optik laringoskopi dan LD membantu untuk melihat keadaan

anatomi dan fungsi secara jelas dan terang dalam usaha menegakkan diagnosis

dan terapi. Biopsi tumor laring dengan tuntunan FOL memberikan keuntungan

yaitu waktu yang singkat, dengan bius lokal sehingga pengeluaran biaya yang

tidak terlalu mahal dan juga resiko perdarahan yang kecil pada saat biopsi.

Kerugian FOL salah satunya adalah membuat pasien merasa tidak nyaman.

Apabila ada kesulitan dalam pengambilan sampel biopsi tumor laring dengan

tuntunan FOL, maka masih diperlukan pengambilan sampel biopsi tumor laring

dengan LD.

Biopsi tumor laring dengan LD memberikan keuntungan yaitu pasien lebih

koperatif dan relaksasi lebih baik sehingga LD mudah dilakukan. Disamping itu

lebih mudah untuk dokter THT melakukannya. Kerugian LD adalah lebih banyak

efek samping dan komplikasi, penderita tidak dapat disuruh fonasi.

Penelitian ini melibatkan 24 subyek penelitian penderita yang

menjalankan biopsi laring dengan tuntunan FOL maupun LD di RSUD dr Saiful

Anwar Malang periode 1 Januari 2014-31 Desember 2014.

Pada peninjauan karakteristik umum, didapatkan perbandingan jumlah

penderita laki-laki dan perempuan yang menjalani biopsi laring dengan tuntunan

FOL maupun LD adalah 8:1, hal ini mendukung penelitian di India dengan

perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 10:1. Penderita laki-laki lebih

banyak dikarenakan sekitar 90% penderita dengan karsinoma laring mempunyai

riwayat merokok.3

22
Selain jenis kelamin, karakteristik yang dinilai adalah rentang usia, dan di

dapatkan usia terbanyak yang menderita karsinoma laring adalah pada rentang

usia >60 tahun dan diikuti oleh usia 51-60 dan 41-50 tahun, hal ini mendukung

penelitian oleh National Cancer Registry dimana usia terbanyak adalah kelompok

usia 40-70 tahun.3

Peninjauan pendidikan terakhir dan pekerjaan, didapatkan jumlah

terbanyak adalah pendidikan SD dengan pekerjaan petani. Hal ini mendukung

penelitian oleh National Cancer Registry, dimana faktor yang mempengaruhi

terjadinya karsinoma laring adalah pada kelompok-kelompok sosial ekonomi

rendah.3

Keluhan utama terbanyak adalah suara parau dikarenakan terdapat

massa di glotis diikuti keluhan sesak dan benjolan pada leher. Data ini sesuai

dengan Cancer statistic di amerika, dimana insiden tumor glotis terbanyak.

Massa di glotis akan mengganggu pita suara sehingga pita suara tidak dapat

bergerak karena terhalangnya pita suara merapat ditengah, maupun

menghambat getaran kedua pita suara sehingga menghasilkan suara parau.

Hasil biopsi laring dengan FOL maupun LD terbanyak adalah skuamos

sel Ca diikuti oleh papilloma dan radang kronis. Data ini sesuai dengan Cancer

Statistic di amerika, dimana sebagian besar hasil biopsi dari tumor laring adalah

karsinoma sel skuamosa dan sebagian kecil adalah tumor jinak laring. Hal ini

sesuai dengan teori, skuamos sel Ca terbanyak pada karsinoma laring sekitar

90% yang dihubungkan dengan faktor resiko merokok.3

Terdapat 2 pasien yang dilakukan LD biopsi karena hasil temuan FOL

yang tidak memuaskan. Hal ini dikarenakan adanya beberapa faktor yaitu

terambilnya jaringan yang terlalu sedikit dan lokasi massa subglotis yang sulit

23
dijangkau oleh forsep biopsi laring, dan pada koordinasi dengan pasien. Terdapat

data lainnya yaitu 6 pasien yang dilakukan LD biopsi tanpa dilakukan FOL biopsi.

Hal ini dikarenakan adanya beberapa faktor yaitu lokasi tumor yang sulit

dijangkau seperti lokasi tumor yang berada di glotis maupun subglotis,

direncanakan trakeostomi atau penyelamatan jalan nafas atas terlebih dahulu

dan biopsi laring dengan tuntunan LD dilakukan saat itu juga setelah trakeostomi

dan pengambilan jaringan dibeberapa tempat.

24
BAB 6

KESIMPULAN

1. Kelainan laring merupakan masalah yang penting dalam

penatalaksanaannya yaitu diagnosis dini dan penanganan yang tepat

dengan gejala utama suara parau.

2. Penderita yang dilakukan biopsi laring dengan tuntunan FOL maupun LD

periode 1 Januari 2014-31 Desember 2014 sebanyak 24 orang. Pasien

terbanyak adalah laki-laki sebanyak 8:1, dengan usia terbanyak >60

tahun.

3. Peninjauan pendidikan dan pekerjaan penderita, didapatkan pendidikan

SD dan pekerjaan petani, ini memungkinkan bahwa tumor laring

terbanyak pada sosioekonomi rendah.

4. Keluhan utama terbanyak adalah suara parau yang dihubungkan dengan

massa terbanyak di glotis.

5. Pada hasil biopsi laring dengan FOL maupun LD didapatkan bahwa tumor

laring terbanyak adalah skuamos sel Ca dengan faktor penyebab

terbanyak rokok.

6. Pasien yang perlu dilakukan LD biopsi karena hasil FOL biopsi yang tidak

memuaskan, hal ini dikarenakan massa tumor yang terambil sedikit,

butuh koordinasi dengan pasien dan jaringan massa yang sulit dijangkau

seperti massa di subglotis.

7. Biopsi laring dengan FOL maupun LD memiliki keuntungan dan kerugian,

dokter THT harus bisa menentukan pemakaian alat laringoskopi FOL

maupun LD guna diagnostik dan terapeutik pasien tumor laring dan

meminimalisasi komplikasi.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Hermani B, Hutauruk S. Disfonia. In: Soepardi E, Iskandar N, Bashirudin J, Restuti


R, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 7
ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2012. p. 209-219.
2. Lalwani A. Malignant Laryngeal Lesions. In: Lalwani A, editor. Current Diagnosis
& Treatment. 2nd ed. New York: McGraw-Hill's Access Medicine; 2007. p. 1-29.
3. Dhingra P. Diseases of Larynx & Trachea. 5th ed. New York: Elsevier; 2010; p.
301-332.
4. Hermani B, Abdurrachman H. Tumor Laring. In: Soepardi E, Iskandar N,
Bashirudin J, Restuti R, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher. 7th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2012. p. 176-
180.
5. Sulica L. Laryngoscopy, Stroboscopy and Other Tools for the Evaluation of Voice
Disorders. Weill Cornell Medical College. 2013:21-30.
6. Sasaki C, Kim Y, LeVay A. Development, Anatomy and Physiology of the Larynx.
In: Lane AP, Snow JB, editors. Ballenger's Otolaryngology - Head and Neck
Surgery. 17th ed: McGraw-Hill; 2009. p. 847-858.
7. Woodson G. The Larynx. In: Lee KJ, editor. Essential Otolaryngology - Head and
Neck Surgery; 2012. p. 529-558.
8. Sulica L. Voice : Anatomy, Physiology, and Clinical Evaluation. In: Bailey BJ,
Johnson JT, Newlands SD, editors. Head and Neck Surgery - Otolaryngology. 4th
ed. USA: Lippincott Williams and Wilkins; 2006. p. 817-827.
9. Brandwein-Gensler M. Laryngeal Pathology. In: Water TVd, Staecker H, editors.
Otolaryngology: Basic Science and Clinical Review. Miami, Florida: Thieme; 2006.
p. 574-591.
10. Eller R, Ginsburg M, Lurie D, Heman Y, Lyons K, Sataloff R. Flexible Laryngoscopy:
A Comparison of Fiber Optic and Distal Chip Technologies. Part 1: Vocal Fold
Masses. Annual Symposium: Care of the Professional Voice. 2008; 22:746-750.
11. Manukbua A, Andilolo M, Tjandrasusilo H, Kodrat L, Arfandy R. Laringoskopi. In:
Manukbua A, Rachman M, editors. Endoskopi. Ujung pandang: THT FK UNHAS;
1987. p. 61-93.
12. Perdana R. Endoscopic Examination of Pharynx and Larynx. In: Kentjono W,
Juniati S, Romdhoni A, editors. PKB XIII: Update Management on
Pharyngolaryngeal Diseases. Surabaya: FK THT UNAIR-RSUD Dr. Soetomo; 2015.
p. 29-33.

26