Anda di halaman 1dari 42

Standar Operasional Prosedur (SOP)

1. Sop Ttv 10. Sop Pemeriksaan Rumpleed Pada


2. Sop Pemeriksaan Fisik Pasien DHF
3. Sop Pengkajian Tumbang ( DDST 11. Sop Pendidikan Kesehatan
) 12. Sop Penanganan Hiperbilirubin
4. Sop Imunisasi 13. Sop Pengukuran Status Gizi
5. Sop Perawatan Anak Dengan 14. Sop Pemberian Oksigen Pada
Tranfusi Darah Anak
6. Sop Perawatan Pasien Dengan 15. Sop Suction Pada Anak
Kejang 16. Sop Nebulizer
7. Sop Terapi Bermain 17. Sop Kompres
8. Sop Restrain 18. Sop Pemberian Obat Pada Anak
9. Sop Memasang Dram Slang (
Scortain )

Di Susun Oleh :
Nama : Viola Lastania Jantika
Nim : 820163107

KELAS II A
PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN
STIKES MUHAMMADIYAH KUDUS TAHUN AKADEMIK 2017 / 2018

Jln. Ganesha I, Purwosari, Kudus 59316, Telp/Fax. 0291- 442993/437218


Website : http://www.stikesmuhkudus.ac.id
1. Standar Operasional Prosedur (SOP)
Pemeriksaan Tanda-tanda Vital
Definisi Tanda Vital
Merupakan cara yang cepat dan efisien untuk memantau kondisi klien atau
mengidentifikasi masalah dan mengevaluasi respon klien terhadap intervensi. Tanda vital
meliputi suhu, denyut nadi, pernapasan dan tekanan darah.

Tujuan
Pengukuran tanda vital memberi data untuk menentukan status kesehatan klien yang
lazim (data dasar), seperti respon terhadap stres fisik dan psikologis, terapi medis dan
keperawatan, perubahan tanda vital dan menandakan perubahan fungsi fisiologis. Perubahahn
pada tanda vital dapat juga menandakan kebutuhan dilakukannya intervensi keperawatan dan
medis

Indikasi/waktu pelaksanaan
1. Ketika klien masuk ke fasilitas perawatan kesehatan
2. Di rumah sakit atau fasilitas perawatan pada jadwal rutin sesuai program dokter atau standar
praktik institusi.
3. Sebelum dan sesudah prosedur bedah
4. Sebelum dan sesudah prosedur diagnostik invasif
5. Sebelum dan setelah pemberian medikasi yang mempengaruhi Kardiovaskuler, pernafasan dan
fungsi kontrol suhu.
6. Ketika kondisi umum fisik klien berubah
7. Sebelum dan setelah intervensi keperawatan yang mempengaruhi tanda vital.
8. Ketika klien melaporkan gejala non-spesifik disters fisik.
PENGUKURAN SUHU

Langkah

Tahap Pra Interaksi A. Persiapan Alat dan Bahan


1. Termometer
2. Sarung tangan
3. Tissue
4. Kassa
5. Pelumas
6. Bengkok
7. Pulpen
8. Lembar dokumentasi
B. Ketika mengukur suhu oral, tunggu 20 sampai 30 menit
sebelum mengukur suhu, jika klien merokok atau makan atau
minum yang panas atau dingin.
Tahap Orientasi C. Perkenalkan diri
D. Menjelaskan tujuan prosedur
E. Menjelaskan bagaimana cara mengukur suhu

Tahap Kerja Suhu Oral

1. Cuci tangan
2. Gunakan sarung tangan
3. Untuk termometer kaca, bila disimpan dalam larutan
desinfektan, cuci dengan air dingin sebelum digunakan
4. Siapkan termometer dengan derajat di bawah 35,5 °C atau
turn on pada termometer elektrik
5. Ambil tisu lembut dan lap bagian pentolan termometer
dengan gerakan rotasi. Buang tisu.
6. Minta klien membuka mulut kemudian letakkan ujung
termometer di bawah lidah klien pada sublingual
7. Minta klien menutup mulut
8. Tunggu 3-5 menit atau sampai berbunyi pada termomter
elektrik
9. Ambil termometer dan lepasakan serta buang pembungkus
plastik dan baca hasilnya
10. Lap termometer dengan tisu alkohol kemudian keringkan
dengan kassa. Simpan kembali pada tempatnya
11. Lepaskan dan buang sarung tangan
12. Cuci tangan
13. Catat pada lembar dokumentasi

Suhu Rektal

1. Pasang tirai
2. Cuci tangan
3. Gunakan sarung tangan
4. Lakukan langkah 3-5 seperti sebelumnya
5. Posisikan klien secara sim dengan fleksi kaki bagian atas.
6. Minta klien menurunkan celana dengan hanya memaparkan
area anus atau anal
7. Beri pelumas secukupnya di atas tisu. Lumasi termometer.
8. Dengan tangan non-dominan, regangkan bokong untuk
memaparkan anus
9. Minta klien untuk bernapas perlahan dan rileks
10. Masukkan termometer ke dalam anus, 2,5 – 3,5 cm untuk
dewasa atau 1,2 – 2,5 cm untuk anak-anak. Jangan mendorong
paksa termometer, bila terasa tahanan, tarik segera termometer.
11. Biarkan termometer selama 3 menit atau sampai berbunyi
pada termometer digital
12. Keluarkan termometer dengan hati hati. Lap sekresi dengan
tisu dengan gerakan rotasi daria arah jari ke pentolan. Buang
tisu
13. Baca hasilnya.
14. Lap area anal untuk membuang pelumas atau feses
15. Bantu klien kembali pada posisi nyaman
16. Lap termometer dengan tisu alkohol atau basuh dengan air
hangat bersabun, cuci dengan air dingin kemudian keringkan.
17. Buang sarung tangan. Cuci tangan
18. Catat hasil pada lembar dokumentasi

Suhu Aksilla

1. Pasang tirai
2. Cuci tangan
3. Gunakan sarung tangan
4. Posisikan klien secara nyaman, duduk atau berbaring
5. Singkirkan pakaian pada lengan
6. Keringkan daerah aksilla dengan kassa
7. Lakukan langkah 3-5 seperti sebelumnya
8. Letakkan termometer di tengah aksilla, turunkan lengan
menjepit termometer dan letakkan tangan menyilang pada dada
klien.
9. Biarkan termometer 5-10 menit atau sampai berbunyi pada
termometer digital
10. Ambil termometer. Lap dengan tisu dengan gerakan rotasi
11. Baca hasilnya
12. Lap termometer dengan tisu alkohol, lalu keringkan dengan
kassa
13. Bantu klien memasang pakaiannya kembali
14. Buang sarung tangan. Cuci tangan
15. Catat hasil pada lembar dokumentasi
Suhu Timpani
1. Cuci tangan
2. Gunakan sarung tangan
3. Posisikan klien secara nyaman, dengan kepala berpaling ke
satu sisi, menjauhi perawat
4. Siapkan termometer timpani, pasang pembungkis plastik
sekali pakai
5. Tarik cuping telinga ke arah atas dan belakang pada orang
dewasa atau ke arah bawah dan belakang pada anak-anak
6. Arahkan termometer secara perlahan ke sisi anterior menuju
gendang telinga dengan gerakan memutar sampai masuk
7. Tekan tombol aktifkan
8. Tunggu sampai termometer berbunyi atau muncul tanda
cahaya pada termometer
9. Ambil termometer secara perlahan. buang pembungkus
plastiknya.
10. Baca hasilnya
11. Buang sarung tangan. Cuci tangan
12. Catat hasilnya pada lembar dokumentasi
Tahap Terminasi 1. Rapikan alat
2. Evaluasi perasaan klien
3. Berpamitan dengan klien

PENGUKURAN NADI

Langkah

Tahap Pra Interaksi A. Persiapan Alat dan Bahan


1. Jam tangan dengan jarum penunjuk detik
2. Stetoskop
3. Kapas alkohol
4. Pena dan lembar dokumentasi
Tahap Orientasi B. Perkenalkan diri
C. Jelaskan tujuan prosedur
D. Jelaskan cara mengukur nadi. Anjurkan klien untuk rilekls
dan tidak bicara. (jika klien baru melakukan kegiatan aktif,
tunggu 5 sampai 10 menit.
Tahap Kerja Nadi Perifer
1. Cuci tangan
2. Pilih titik nadi. Biasanya yang digunakan adalah nadi radialis
3. Posisikan klien dengan nyaman.
Jika klien telentang, letakkan tangan bawah menyilangi dada
bawah atau di samping tubuh dengan pergelangan tangan
sedikit fleksi dan telapak tangan menghadap ke bawah. Jika
klien duduk, tekuk siku 90° dan sokong lengan bawah pada
kursi. Fleksikan sedikit pergelangan tangan dengan telapak
tangan menghadap ke bawah
4. Letakkan ujung dua atau tiga jari pertama di atas alur sekitar
bagian radial dengan tidak terlalu kuat. Penggunaan ibu jari
dikontraindikasikan
5. Bila nadi teratur, kaji selama 30 detik kemudian hasilnya
dikalikan 2. Bila tidak teratur, kaji selama 60 detik penuh.
6. Kaji frekuensi, irama dan volume nadi
7. Bantu klien kembali pada posisi nyaman
8. Catat hasil pada lembar dokumentasi
9. Cuci tangan

Nadi Apikal
1. Jaga privasi
2. Cuci tangan
3. Bersihkan earpiece dan diafragma stetoskop dengan kapas
alkohol bila diperlukan
4. Pada klien dengan posisi telentang atau duduk, turunkan
selimut dan buka pakaian untuk memaparkan strenum dan
bagian kiri dada
5. Letakkan diafragma stetoskop pada impuls apikal dan
dengarkan bunyi jantung normal S1 dan S2 yang terdengar
seperti lup-dub
6. Apabila bunyi jantung teratur, hitung denyut jantung selama
3o detik kalikan 2. Bila tidak teratur, hitung selama 60 detik
7. Kaji frekuensi, irama dan kekuatan denyut jantung
8. Bantu klien kembali ke posisi nyaman dan bantu rapikan
pakaian bila perlu.
9. Catat hasil pada lembar dokumentasi
10. Cuci tangan

Tahap Terminasi 1. Rapikan alat


2. Evaluasi perasaan klien
3. Berpamitan dengan klien

PENGUKURAN PERNAPASAN

Langkah

Tahap Pra Interaksi A. Persiapan Alat dan Bahan

1. Jam tangan dengan detik


2. Pena dan lembar dokumentasi
Tahap Orientasi B. Perkenalkan diri
C. Jelaskan tujuan prosedur
D. Jelaskan cara pengukuran pernapasan. Bila klien sedang
aktif tunggu 5 sampai 10 menit
Tahap Kerja E. Pasang tirai
F. Cuci tangan
G. Posisikan klien secara nyaman. Duduk atau berbaring
dengna bagian kepala tempat tidur ditinggikan 45 sampai 60
derajat
H. Pastikan gerakan dada klien dapat terlihat. Buka pakaian dari
dada bila perlu
I. Letakkan tanganklien pada posisi rileks yang tidak
menghalangi pandangan terhadap dada klien, atau letakkan
tangan perawata langsung di atas abdomen
J. Observasi siklus pernapasan penuh
K. Jika irama teratur hitung selama 30 detik kalikan 2. Hitung
selama 60 detik bila irama tidak teratur atau pada bayi atau anak
kecil
L. Kaji frekuensi da irama pernapasan
M. Posisikan kembali klien pada posisi yang nyaman
N. Cuci tangan
O. Catat hasil pada lembar dokumentasi
Tahap Terminasi P. Rapikan alat
Q. Evaluasi perasaan klien
R. Berpamitan dengan klien

PENGUKURAN TEKANAN DARAH

Langkah
Tahap Pra Interaksi A. Persiapan Alat dan Bahan
1. sfigmomanometer
2. katung dan manset
3. stetoskop
4. pena dan lembar dokumentasi

Tahap Orientasi B. perkenalkan diri


C. jelaskan tujuan prosedur
D. jelaskan cara pengukuran darah. Anjurkan klien untuk
menghindari kafein dan merokok 30 menit sebelum pengkajian
Tahap Kerja E. pilih manset sesuai ukuran
F. pastikan ruangan tenang
G. cuci tangan
H. posisikan klien dengan nyaman. Duduk atau berbaring,
posisikan beban lengan atas (sokong bila diperlukan) pada
setinggi jantung dengan telapak menghadap atas
I. gulung lengan baju pada bagian atas lengan
J. palpasi arteri brakialis. Letakkan manset 2,5 cm di atas nadi
brakialis
K. dengan manset masih kempis, pasang manset dengan rata
dan pas sekeliling lengan atas.
L. Letakkan manometer sejajar mata. Pengamat tidak boleh
lebih jauh dari 1 meter.
M. Palapsi arteri radialis atau brakialis dengan ujung jari dari
satu tangan sambil menggembungkan manset dengan cepat
sampai tekanan 30 mmHg di atas titik di manadenyut tidak
teraba
N. Kempiskan manset dan tunggu 30 detik
O. Letakkan earpiece stetoskop pada telinga dan pastikan bunyi
jelas.
P. Letakkan diafragma pada arteri brakialis dengan kontak
langsung pada kulit
Q. Tutup katup balon tekanan searah jarum jam sampai kencang
R. Gembungkan manset 30 mmHg di atas tekanan sistolik yang
dipalpasi
S. Dengan perlahan lepaskan dengan kecepatan 2 smapai 3
mmHg per detik
T. Catat titik pada manometer saat bunyi jelas yang pertama
terdengar
U. Lanjutkan mengempiskan manset, catat dimana titik muffled
atau dampened timbu
V. Kempiskan manset dengan segera hingga tuntas
W. Bantu klien kembali pada posisi nyaman
X. Cuci tangan
Y. Catat hasil pada lembar dokumentasi

Tahap Terminasi Z. Rapikan alat


AA. Evaluasi perasaan klien
BB. Berpamitan dengan klien

Sumber :
Hidayat, Aziz Alimul, Uliyah, Musrifatul. 2012. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar
Manusia. EGC: Jakarta.
SOP
2. PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR

Pengertian kegiatan pengkajian fisik yang dilakukan oleh perawat


terhadap bayi baru lahir
Tujuan 1.untuk memastikan keadaan fisik bayi baru
l a h i r d a l a m keadaan normal atau abnormal
2.ntuk mendeteksi adanya penyimpangan dari normal atau
abnormal
3. kebijakan : semua perawat yang melakukan pengkajian terhadap
pemeriksaanfisik pada bayi baru lahir harus sesuai dengan standar
prosedur kerjayang berlaku.
Kebijakan semua perawat yang melakukan pengkajian terhadap
pemeriksaanfisik pada bayi baru lahir harus sesuai dengan standar
prosedur kerjayang berlaku
Prosedur A. Persiapan Alat
1. Tempat yang datar, rata, kering dan hangat.
2. Temometer
3. Stetoskop
4. Jam tangan atau alat petunjuk detik
5. Timbangan bayi
6. Metline
7. Sarung tangan(handscoon)
B. Persiapan
1. Memberitahukan pada klien bahwa bayinya akan dilakukan
pemeriksaan.
2. Mengambil bayi dari ibu
3. Meletakan bayi ditempat yang sudah disediakan dan tetepm
enjaga kehangatan tubuh bayi.
C. Pelaksanaan
1. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan
dengan air bersih dan kenakan sarung tangan yang bersih.
2. Amati bayi dan ibu sebelum menyentuh bayi.jelaskan
pada ibu bahwa sebaiknya ibu melakukan kontak mata
dengan bayinyadan membelai bayinya dengan seluruh
bagian tangan ibu, bukanhanya jari-jarinya saja.Mintalah
ibu untuk membuka baju bayi dan tidak menyelimutinya.
Periksa bayi didalam pelukan ibu atautempatkan ditempat
yang telah disediakan dan tetep menjagakehangatan bayi
3. Lihat postur normal bayi, tonus, dan aktivitas. Bayi sehat
akan bergerak aktif.
4. Lihat pada kulit bayi. Jelaskan pada ibunya bahwa
wajah, bibir, dan selaput lendir, dada harus berwarna merah
muda, tanpaadanya bintik-bintik kemerahan atau bisul.
5. Hitung pernafasanketika bayi
sedang tidak menangis. Jelaskan pada ibunya bahwa
frekuensi napas normal harus 40-60 kali permenit. Lihat
pernafasan gerakan di dada dan perut. Jelaskan bahwa
harus tidak ada retraksi dinding dada bawah (dada
tertarik kedalam).
6. Stetoskop diletakan pada dada kiri bayi setinggi apeks.
7. Hitung detak jantung dengan stetoskop. Frekuensi denyut
jantungnormal adalah 120-160 kali per menit.
8. Raba kehangatan bayi: jelaskan bahwa punggung atau
dada tidakteraba lebih panas atau dingin dibandingkan
dengan orang sehat. Lakukan pengukuran suhu ketiak.
Suhu normal adalah 36,5-37,5 0C.
9. Lihat dan raba bagian kepala apakah ada pembengkakan
atauabnormalitas.
10. Lihat pada mata: Jelaskan bahwa harus tidak ada cairan.
11. Lihat bagian dalam mulut(lidah, selaput lendir). Jika
bayimenangis, masukan satu jari yang menggunakan
sarung tangan ke dalam dan raba langit-langit, apakah ada
bagian yang terbukadan nilai kekuatan hisap bayi.
12. Lihat dan raba pada bagian perut untuk memastikan
bahwa perutnya terasa lemas.
13. Lihat pada tali pusat. Jelaskan ke ibu bahwa
seharusnya tidak ada perdarahan, cairan, pembengkakan,
bau yang tidak enak, ataukemerahan pada kulit sekitar.
14. Lihat pada punggung dan raba pada tulang belakang.
15. Lihat pada lubang anus dan alat kelamin. Hindari
untukmemasukan alat atau jari dalam melakukan
pemeriksaan anus.
16. Tanyakan pada ibu apakah bayi sudah BAB atauBAK.
Pastikandalam 24 jam pertama bayi sudah BAB dan BAK.
17. Mengukur lingkar kepala bayi, normal: 31-35cm.
18. Mengukur lingkar dada bayi normal: 30,5-33cm.
19. Mengukur panjang badan bayi normal: 48-52cm.
20. Timbang berat badan bayi normal: 2500-4000 gram.
Jelaskankepada ibu tentang perubahan berat badan bayi
bahwa BB bayiakan turun pada umur 7-10 hari, selanjutnya
BB bayi akan naik.
21. Mintalah ibu untuk memakaikan pakaian bayi
kembali/menyelimutinya.
22. Cuci tangan dengan sabun dan keringkan dengan kain
yang bersih dan kering.
23. Menjelaskan pada ibu tentang tanda-tanda bahaya pada
bayi barulahir, seperti:
a.Kejang
b.Hipotermi
c.Mata bernanah
d.Tidak mau menyusu dan memuntahkanya
e.Merintih
f.Ikterus atau sianosis
g.Nafas cepat lebih dari 60 kali per menit.
h.Ada tarikan dinding dada yang dalam.
i.Pusar kemerahan.
j.Diare.
k.Tidak BAB dalam 24 jam.
24. Melengkapi catatan medis atau mendokumentasikan
hasilasuhan.

Hal-hal yang harus 1. Sebelum memegang bayi harus cuci tangan terlebih dahulu.
diperhatikan. 2. Setelah memegang bayi pun harus cuci tangan kembali.
3.
Segera lakukan rujukan apabila terdapat keabnormalan atautan
da-tanda bahaya pada bayi baru lahir.

Unit terkait 1. Ruang Neonatus


2. Ruang OK
3. PONEK

SUMBER :
https://www.scribd.com/doc/309826811/275573968-SOP-Pemeriksaan-Fisik-Bayi-Baru-Lahir-
docx
3.SOP
DDST

DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG


SOP
No. Dokumen : SOP/KIA/---/2016
No. Revisi :
Tanggal terbit :
Halaman : 1 /2

UPT PUSKESMAS SUNGAI dr. Richard Lawalata NIP


MALANG KABUPATEN 19600515 198802 1 003
HULU SUNGAI UTARA

Pengertian Adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara


dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan
anak pra sekolah.

Tujuan Mengetahui secara dini adanya penyimpangan tumbuh


kembang pada balita dan anak pra sekolah

Kebijakan
Referensi Dirjen kesehatan masyarakat.(2006).
Pedoman pelaksanaanstimulasi, deteksi dan intervensi dini
Tumbuh Kembang Anak di tingkat pelayanan kesehatan dasar
.Jakarta:Depkes RI.

Persiapan Pasien 1) Menjelaskan prosedur dan tindakan yang akan dilakukan


2)Mengatur posisi pasien senyaman mungkin

Persiapan Lingkungan Memberikan lingkungan yang tenang, aman dan nyaman.


Persiapan Alat 1) Timbangan
2) Pengukur Tinggi Badan
3) Pita Ukur
4) Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) sesuai umur
anak
5) Instrumen tes daya dengar (TDD)
a. Istrumen TDD menurut umur anak
b. Gambar binatang (ayam, anjing, kucing, manusia)
c. Mainan (boneka, kubus, cangkir,bola)
6) Instrumen tes daya lihat
a. Ruangan yang bersih,tennag, penyinaran baik
b. 2 buah kursi, 1 untuk anak; 1 untuk pemeriksa
c. Poster “E” untuk digantung dan kartu “E” untuk
dipegang
d. Alat penunjuk
7) Koesioner Masalah Mental Emosional (KMME)
8) Check list for autism in toddlers (CHAT)
9) Check list gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
(GPPH)

Prosedur/ Langkah-langkah 1) Menimbang berat badan


2) Mengukur tinggi badan/panjang badan
3) Mengukur lingkar kepala
4) Menanyakan perkembangan anak dengan KPSP sesuai umur
anak
5) Melakukan tes daya dengar pada usia 0– 3 tahun
6) Melakukan tes daya lihat pada usia 36– 72 bulan
7) Melakukan test KMME pada usia 36 –72 bulan
8) Melakukan test CHAT pada usia 18–36 bulan
9) Melakukan test GPPH pada usia 36 bulan ke atas

Evaluasi Sikap 1) Menunjukkan sikap sopan dan ramah


2) Menjamin privacy pasien
3) Bekerja dengan teliti
4) Memperhatikan bodymecanisme

Unit Terkait KIA , GIZI


4. SOP
IMUNISASI
Pengertian Suatu tindakan pemberian kekebalan kepada tubuh anak terhadap
penyakit campak dengan cara penyuntikan secara subcutan

Tujuan Agar mempunyai daya tahan terhadap penyakit campak

kebijakan Bidan dan tenaga kesehatan lainnya dapat melakukan sesuai dengan
standart prosedur kerja yang berlaku

Persiapan alat 1. Baki beralas


2. Bak spuit steril
3. Spuit 5cc dan 1cc
4. Vaksin campak dan pelarut
5. Geragaji ampul
6. Kapas alcohol
7. Kom tutup
8. Handscoon
9. Bengkok
10. Buku KIA

Persiapan diri 1. Petugas cuci tangan


2. Petugas menggunakan handscoon

Pelaksanaan 1. Memberitahu ibu bahwa bayinya akan diberikan imunisasi


campak
2. Petugas cuci tangan
3. Menyiapkan spuit 5cc dan 1cc
4. Menyiapkan vaksin dan pelarutnya
5. Pastikan vaksin dalam keadaan baik
6. Buka tutup vaksin dengan menggunakan gergaji ampul
7. Larutan dengan cairan pelarut campak yang sudah ada (5cc)
8. Ambil 0,5 vaksin campak yang telah dilarutan
9. Gunakan sarungtanagan
10. Bersihkan lengan kiri bagian atas anak dengan kapas alkohol
11. Suntikan secara subcutan (sc)
12. Rapikan alat
13. Cuci tangan
14. Catatan mutu :
a) Buku status bayi
b) Kartu imunisasi

Hal yang perlu di 1. Pastikan umur anak 9 bulan tepat untuk di imunisasi campak
perhatikan
2. Jangan sekali kali menyuntikkan vaksin ketika ada darah yang
keluar dari tempat yang akan dilakukan penyuntikan

Referensi Refference, antara lain Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi
5. SOP
PERAWATAN ANAK DENGAN TRANFUSI DARAH
Pengertian Memasukkan darah yang berasal dari donor ke dalam tubuh pasien
melalui Vena .
Tujuan Melaksanakan tindakan pengobatan dan memenuhi kebutuhan pasien sesuai
program .
Prosedur Pelaksanaan A. Persiapan Klien :
1.Informed consent
2.Atur posisi klien pada posisi yang nyaman.
B. Persiapan Alat :
1 . Transfusi set
2.Cairan NaCl
3.Persediaan darah yang sesuai dengan golongandarah
klien, sesuai dengan kebutuhan.
4.Sarung tangan bersih
5.Perlak alas
C . Prosedur Pelaksanaan:
1.Jelaskan kembali prosedur yang akandilakukan.
2.Bawa alat kedekat klien
3.Periksa kembali sediaan darah yang akandiberikan.
4.Cuci tangan
5.Pasang perlak alas.
6.Pakai sarung tangan
7.Buat jalur intravena, gunakan slang infus yang
menggunakan filter dengan tipe Y (bila ada). Bila tidak ada
slang tipe Y, gunakan slang infus yang telah terpasang
dengan menggantikan cairan Nacl dan darah secara
bergantian.
8.Berikan cairan NaCl terlebih dahulu, kemudian darahnya.
9.Atur tetesan darah sesuai dengan program therapy.
10.Kaji respon klien saat transfusi dilakukan.
11.Bereskan alat
12.Buka sarung tangan dan cuci tangan
13.Evaluasi hasil tindakan
14.Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.

SUMBER :

https://www.scribd.com/document/319829207/121-SOP-Transfusi-Darah
6. SOP
KEJANG DEMAM

KEJANG DEMAM
UPTD. Puskesmas STANDAR No Kode
Ngasem OPERASIONAL No Revisi
Kabupaten Kediri 00
PROSEDUR
Tgl. Mulai Berlaku
Halaman 1 dari 5

TUJUAN Prosedur ini bertujuan sebagai acuan penanganan pelanggan dengan


kejang demam di Ruang Pemeriksaan Umum di UPTD Puskesmas
Ngasem

RUANG LINGKUP Tindakan mulai dari pembebasan jalan napas, pemberian obat-obatan
anti kejang sampai dengan pencatatan ke dalam rekam medis dan
register harian Ruang Pemeriksaan Umum

KRITERIA Semua pelanggan dengan kejang demam tertangani 100% sesuai dengan
PENCAPAIAN prosedur Penanganan Kejang Demam

DEFINISI Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
yang disebabkan oleh proses ekstrakranial

URAIAN UMUM 1. Kejang adalah perubahan fungsi otak mendadak dan sementara
sebagai akibat dari aktifitas neuronal yang abnormal dan sebagai
pelepasan listrik serebral yang berlebihan. Aktivitas ini bersifat dapat
parsial atau vokal, berasal dari daerah spesifik korteks serebri, atau
umum, melibatkan kedua hemisfer otak. Manifestasi jenis ini bervariasi,
tergantung bagian otak yang terkena.
2. Suhu tubuh adalah ukuran dari kemampuan tubuh dalam
menghasilkan dan menyingkirkan hawa panas.
3. Ekstrakranial adalah di luar rongga tengkorak

PERALATAN 1. Alat :
Tongue Spatel
Infus Set
2. Bahan :
Obat-obatan

ALUR PROSES
Petugas membebaskan jalan napas Medis dan Paramedis
Petugas meletakkan tongue spatel antara kedua Medis dan paramedis
rahang supaya lidah tidah tergigit
Petugas melonggarkan pakaian pelanggan Medis dan paramedis
kejang demam
Petugas menempatkan pelanggan pada posisi Medis dan paramedis
supine (terlentang-miring)
Petugas memberikan oksigen Medis dan paramedis
Petugas memasang infuse
Petugas memberikan obat-obatan anti kejang : Medis dan paramedis
a. BB < 10 kg : 0,5mg/kgBB minimal 2,5 mg
atau stesolit supposutoria 5 mg
b. BB > 10 kg : 0,5mg/kgBB minimal 7,5 mg
atau
stesolit suppustoria 10 mg
c. Bila dalam 20 menit tidak berhenti dapat
diulangi dengan dosis yang sama dan bila dalam
20 menit tidak juga berhenti, ulangi dosis yang
sama tetapi im

Jika tidak ada diazepam dapat diberikan Medis dan paramedis


fenobarbital (luminal) im/iv dengan dosis :
a. Usia < 1 thn : 50 mg, dalam 15 menit tidak
berhenti ulangi dengan dosis 30 mg
b. Usia > 1 thn : 75 mg, dalam 15 menit tidak
berhenti ulangi dengan dosis 50 mg

Petugas menurunkan panas dengan kompres air Medis dan paramedis


hangat, dan berikan parasetamol 10-15
mg/kgBB tiap 4-6 jam atau ibuproven 5-10
mg/kgBB tiap 4-6 jam

Petugas memberikan antibiotika Medis dan paramedis

Petugas melakukan pencatatan ke dalam rekam Medis dan paramedis


medis dan buku register harian rawat jalan
Ruang Pemeriksaan Umum

REFERENSI 1. Buku Pedoman Mutu UPTD Puskesmas ngasemTahun 2013


2 Standard Puskesmas, Bidang Bina Pelayanan Kesehatan, Dinkes
Provinsi JATIM, 2013.
3 ISO 9001:2008 klausul 7.5.1 tentang pengendalian produksi dan
penyediaan jasa.
7. Standar Operasional Prosedur (SOP)
TERAPI BERMAIN
Pengertian 1. Cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik
dirinya yang tidak disadari (Wong: 1991)
2. Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
kesenangan yang ditimbulkannya tanpa
mempertimbangkan hasil akhirnya (Hurlock: 1978)
3. Kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan dalam
mengatasi konflik dari dalam dirinya yang tidak disadari
serta dengan keinginan sendiri ubtuk memperoleh
kesenangan (Roster: 1987)

Tujuan 1. Meminimalisir tindakan perawatan yang traumatis


2. Mengurangi kecemasan
3. Membantu mempercepat penyembuhan
4. Sebagai fasilitas komunikasi
5. Persiapan untuk hospitalisasi atau surgery
6. Sarana untuk mengekspresikan perasaan
Kebijakan Dilakukan di Ruang rawat inap, Poli tumbuh kembang, Poli rawat
jalan dan Tempat penitipan anak

Petugas Perawat

Persiapan Pasien 1. Pasien dan keluarga diberitahu tujuan bermain


2. Melakukan kontrak waktu
3. Tidak ngantuk
4. Tidak rewel
5. Keadaan umum mulai membaik
6. Pasien bias dengan tiduran atau duduk, sesuai kondisi klien

Peralatan 1. Rancangan program bermain yang lengkap dan sistematis


2. Alat bermain sesuai dengan umur/jenis kelamin dan tujuan

Prosedur pelaksanaan A. Tahap Pra Interaksi


1. Melakukan kontrak waktu
2. Mengecek kesiapan anak (tidak ngantuk, tidak rewel,
keadaan umum membaik/kondisi yang memungkinkan)
3. Menyaiapkan alat
B. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam kepada pasien dan menyapa nama
pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
3. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum
kegiatan dilakukan
C. Tahap Kerja
1. Memberi petunjuk pada anak cara bermain
2. Mempersilahkan anak untuk melakukan permainan sendiri
atau dibantu
3. Memotivasi keterlibatan klien dan keluarga
4. Memberi pujian pada anak bila dapat melakukan
5. Mengobservasi emosi, hubungan inter-personal,
psikomotor anak saat bermain
6. Meminta anak menceritakan apa yang dilakukan/dibuatnya
7. Menanyakan perasaan anak setelah bermain
8. Menanyakan perasaan dan pendapat keluarga tentang
permainan
D. Tahap Terminasi
Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan
1. Berpamitan dengan pasien
2. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula
3. Mencuci tangan
4. Mencatat jenis permainan dan respon pasien serta keluarga
kegiatan dalam lembar catatan keperawatan dan
kesimpulan hasil bermain meliputi emosional, hubungan
inter-personal, psikomotor dan anjuran untuk anak dan
keluarga

Sumber :
https://www.scribd.com/document/366892032/Sop-Terapi-Bermain-Dan-Penilaian-
Perkembangan-Anak-Menggunakan-Denver-II
8.SOP
RESTRAIN

Tujuan Memungkinkan klien mendapat perawatan dan mengikuti proses


perawatan tanpa melakukan perlawanan, misalnya mencegah
pergerakan yang dapat mengganggu terapi pada ekstremitas yang
terhubung dengan slang atau alat medis lainnya. Sebelum
memasang restrain, perawat harus mengkaji adanya perilaku yang
mengindikasikan kebutuhan restrain, kondisi kulit pada area yang
akan di pasang restrain, kondisi sirkulasi ekstremitas, dan
keefektifan alat pengaman lainnya

Persiapan Alat Tentukan jenis dan ukuran restrain yang dibutuhkan oleh klien.
Berikut ini adalah jenis restrain yang lazim digunakan :
1. Restrain sabuk
2. Restrain rompi
3. Restrain sarung tapak tangan
4. Restrain pergelangan tangan atau pergelangan kaki
5. Restrain siku
6. Restrain mumi

Prosedur Pelaksanaan 1. Jelaskan pada klien dan keluarga mengenai tujuan


pemasangan restrain
2. Pasang restrain yang sudah diidentifikasi sebelumnya
berdasarkan kebutuhan klien

Restrain sabuk
Pastikan sabuk pengaman dalam kondisi baik. Jika menggunakan
sabuk velcro, pastikan kedua ujung velcro dalam kondisi baik
Jika sabung mempunyai bagian yang panjang dan pendek, letakkan
bagian yang panjang di bawah tempat tidur klien dan ikatkan pada
rangka tempat tidur yang dapat digerakkan. Bagian sabuk yang
panjang akan ikut bergerak saat tempat tidur ditinggikan sehingga
tidak menjerat klien. Pasang bagian yang pendek di sekitar
pinggang kilen, di atas baju. Beri jarak satu jari antara klien dan
sabuk
Pasang sabuk di sekitar pinggang dan ikat ke belakang kursi roda
jika klien berada di kursi roda, atau
Ikat sabuk di atas pinggang atau abdomen jika klien berbaring di
brankar. Restrain sabuk harus dikenakan oleh semua klien yang
berbaring di brankar tanpa pengaman bagian tepi.

Restrain Rompi
Pastikan rompi memiliki ukuran yang sesuai dan periksa
kelayakan rompi secara teratur
Pasang rompi pada klien, dalam keadaan terbuka di bagian depan
atau belakang sesuai rekomendasi produsen
Tarik tali di ujung rompi melewati dada, dan masukkan tali ke
lubang restrain rompi pada sisi yang berlawanan
Ulangi prosedur yang sama pada ujung tali lainnya
Gunakan simpul hidup untuk memfiksasi setiap ujung tali pada
tempat tidur yang dapat digerakkan atau dibelakang kursi pada
kaki kursi
Jangan mengikat rompi di bagian kepala tempat tidur
Ikat tali di belakang kursi dengan menggunakan simpul segiempat
Pastikan klien dalam posisi yang sesuai sehingga memfasilitasi
ekspansi dada maksimum untuk bernafas
Restrain Sarung Tapak Tangan
Pasang restrain sarung tapak tangan pada tangan yang akan
dilakukan restain. Pastikan jari dapat fleksi dengan mudah dan
tidak bertumpuk pada jari lainnya
Ikuti petunjuk produsen untuk memasang restrain sarung tapak
tangan
Lepaskan restrain minimal setiap 2-4 jam jika akan dipasang
selama beberapa hari. Cuci dan latih tangan klien, kemudian
pasang kembali restrain sarung tapak tangan yang bersih sesuai
dengan indikasi. Sesuaikan dengan kebijakan Rumah Sakit terkait
interval waktu yag direkomendasikan untuk pelepasan klien
Kaji sirkulasi ke tangan klien secara teratur segera setelah restrain
terpasang
Restrain Pergelangan Tangan atau Pergelangan Kaki
Lapisi area penonjolan tulang pada pergelangan tangan atau kaki
jika perlu
Pasang restrain yang telah disiapkan di sekitar pergelangan tangan
atau kaki
Tarik tali restrain melalui celah di bagian pergelangan tangan atau
lewat gesper restrain
Dengan menggunakan simpul hidup atau simpul segiempat yang
sesuai, ikat ujung tali restrain pada rangka tempat tidur yang dapat
digerakkan. Jangan pernah mengikatkan ujung tali restrain pada
birai tempat tidur atau rangka tempat tidur yang tidak dapat
digerakkan
Restrain Siku
Periksa restrain untuk memastikan keutuhan spatel lidah
Letakkan siku anak di tengah restrain. Pastikan ujung spatel lidah
dilapisi kain
Bungkus lengan klien secara perlahan dengan restrain
Fiksasi restrain menggunakan peniti, tali, atau plester. Pastikan
fiksasi restrain tidak terlalu kencang, yang dapat membendung
sirkulasi darah
Selain restrain terpasang, fiksasi restrain pada baju klien
menggunakan peniti
Restrain Mumi
Gunakan selimut atau kain yang cukup lebar dengan jarak antara
ujung ke ujung sekitar dua kali panjang tubuh bayi. Letakkan
selimut atau kain secara mendatar pada permukaan yang kering
Lipat salah satu ujung ke bawah dan letakkan bayi di atasnya
dengan posisi telentang
Lipat ujung kanan selimut menutupi tubuh bayi, dengan lengan
kiri masih bebas. Lengan kanan berada pada posisi alami di sisi
badan
Lipat sisa ujung bawah selimut ke atas
Dengan lengan kiri bayi dalam posisi alami di sisi tubuh, lipat
ujung kiri selimut menutupi bayi, termasuk lengan dan ujung
bawah selimut
Pasang restrain mumi pada bayi hingga prosedur selesai

DAFTAR PUSTAKA
PT Jamsostek Persero. (2010). Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. Diambil dari
http:/www. Jamsostek. co. id
9. SOP
MEMASANG DRAM SLANG
SOP MEMASANG DRAM SLANG ( SCORTAIN )

STNDAR OPERASIONAL
PROSEDUR

PENGERTIAN Memasukkan pipa rectum ke dalam usus besar melalui anus

TUJUAN 1. Mengeluarkan udara dari usus /menghilangkan ketegangan perut


2. Mengeluarkan faeses yang berbentuk cair terutama pada pasien diare
PETUGAS Perawat
FASE PRA INTERAKSI 1. Persiapan alat :
a. sarung tangan bersih
b. bengkok
c. perlak bokong
d. jelly/vaselin
e. plastik
f. karet gelang
g. plester
h. gunting
i. canul rectal sesuai kebutuhan
2. Verifikasi data
FASE INTERAKSI 1. Mengucapkan salam
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan tujuan
4. Menjelaskan langkah prosedur
5. Menanyakan kesiapan pasien
FASE KERJA 1. Mencuci tangan
2. Menjaga privacy
3. Memakai sarung tangan
4. Memasang alas bokong
5. Memasang plastik diujung rectal tube dan ikat dengan karet
6. Mengolesi ujung rectal tube dengan jelly/vaselin
7. Memberikan posisi sim ke kiri
8. Membuka anus dengan tangan kiri
9. Memasukkan rectal tube perlahan sambil gerakan memutar ke arah
dalam < anak : 5-7,5 cm bayi 2.5 -3,25cm >
10. Memfiksasi rectal tube dengan cara menyilang
11. Melepas sarung tangan,masukkan ke bengkok
12. Mengembalikan posisi pasien seperi semula
13. Membereskan dan merapikan alat yang di gunakan

TERMINASI 1. Merapikan pasien


2. Melakukan evaluasi
3. Menyampaikan rencana tindak lanjut
4. Berpamitan
5. Membereskan peralatan yang di gunakan
6. Mencuci tangan
10. SOP
RUMPLE LEED TEST

Pengertian Rumple leed test adalah pemeriksaan bidang hematologi dengan


melakukan pembendungan pada bagian lengan atas selama 10
menit untuk uji diagnostik kerapuhan vaskuler dan fungsi
trombosit.

Tujuan - Untuk mendeteksi adanya perdarahan di bawah kulit


(petekie) sebagai tanda demam berdarah.
- Untuk mengetahui ketahan/kerapuhan dinding pembuluh
darah derta jumlah dan fungsi trombosit.

Persiapan 1. Persiapan alat:


- Tensimeter lengkap dengan manset
2. Persiapan klien:
- Ucapkan salam.
- Bina hubungan saling percayaperawat dengan klien.
- Klien diberitahu maksud, tujuan dan langkah-
langkahpemeriksaan status kaki.
- Buat kontrak waktupemeriksaan dengan klien.
- Atur posisi kaki klien dengancara meluruskan kaki klien di
tempat tidur.
3. Persiapan Lingkungan:
- Jaga privacy klien dengan caramemasang sampiran
ataumenutup horden pembataskamar.
- Atur pencahayaan ruangan.
- Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.

Prosedur 1. Mendekatkan alat-alat ke sekitar klien.


2. Lakukan cuci tangan.
3. Jelaskan prosedur yang akan di lakukan
4. Atur posisi dalam keadaan berbaring
5. Lakukan pengukuran tekanan darah
6. Hitung batas tekanan sistolik dan tekanan diastolik
kemudian jumlahkan batas kedua tekanan tersebut dan bagi dua
dengan rumus
7. Lakukan pengukuran MAP dengan mempertahankan
tekanan hasil pengukuran MAP sampai kurang lebih 5 menit.
8. Setelah itu turunkan tekanan secara perlahan-lahan
9. Baca hasil positiif
- : Tidak ditemukan petekie (<20)
+ : adanya petekie (> 20)
10. Catat hasil pengukuran
11. Bereskan alat-alat yang telah dipergunakan
12. Rapihkan kembali klien.
13. Ucapkan salam.
14. Buka sarung tangan, lalu buang kedalam bengkok.
15. Lakukan cuci tangan.
16. Dokumentasikan seluruh hasilpengumpulan data pada format
yang telah disiapkan.

SUMBER :
Aziz Alimul Hidayat, A. 2008. Buku Saku Praktikum Keperawatan Anak hlm. 46. Jakarta: EGC
11. SOP
PENDIDIKAN KESEHATAN
Pengertian Kegiatan penyuluhan yang ditampilkan diInstitusi bersangkutan
Tujuan Tercapainya perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan positif dari
individu/Masyarakat dalam bidang kesehatan.
prosedur 1) Persiapan Alat
A. leaflet
B. Poster
C. Lembar balik
D. Computer 1
E. LCD Proyektor
2) Persiapan
1. Menentukan maksud dan tujuan penyuluhan
2.Menentukan sasaran pendengar
3. Mempersiapkan materi
4. Topik yang dikemukakan hanya satu masalah sesuai dengankebutuhan
kelompok sasaran
5. Mempersiapkan alat peraga
6. Absensi peserta
7. Mempersiapkan tempat dan waktu yang tepat
8. Mempersiapkan bahan bacaan ( jika diperlukan )
3) Pelaksanaan
1. Perkenalan diri
2. Mengemukakan maksud dan tujuan
3. Menjelaskan point-point isi penyuluhan
4.Menyampaikan penyuluhan dengan suara jelas dan iramayang
tidak membosankan
5. Tujukan tatapan mata pada setiap pendengar dan tidak tetapduduk di
tempat
6. Selingi dengan humor segar
7. Pergunakan bahasa sederhana
8. Ciptakan suasana relax ( santai ), pancinglah pendengar agar turut
berpartisipasi
9. Jawab setiap pertanyaan secara jujur dan meyakinkan
10. Menyimpulkan penyuluhan sebelum mengakhiri penyuluhan
11.Tutuplah penyuluhan anda dengan mengucapkan terimakasih
12.Bila ada bahan bacaan sebaiknya dibagikan setelah penyuluhan selesai
Unit Terkait 1. Rawat jalan
2. rawat Inap

Sumber :
https://www.scribd.com/doc/309826811/275573968-SOP-Pemeriksaan-Fisik-Bayi-Baru-Lahir-
docx
12. SOP
PENANGANAN HIPERBILIRUBIN
SOP PENANGANAN HIPERBIIRUBIN / ASPHYKSIA / PREMATUR / BBLR / RDS

STNDAR OPERASIONAL
PROSEDUR

PENGERTIAN Memberikan perawatan kepada bayi yang terpasang foto terapi atau
bayi yang mengalami hiperbilirubin merupakan salah satu asuhan
keperawatan untuk memenuhi kebutuhan bayi yang terpasang foto
terapi.
Fototerapi merupakan alat yang berupa sinar, cahaya Flourescent yang
mengandung ultraviolet dengan spectrum ideal 420 – 450 mu.
Mempunyai kemampuan menurunkan kadar bilirubin dan mengeluarkan
dengan oksidasi cahaya sehingga bilirubin pathogen berubah jadi
bilirubin a-pathogen.
TUJUAN 1. Mengurangi/menurunkan kadar bilirubin yang pathogen.
2. Mencegah penumpukan bilirubin indirect dalam sel otak
(mencegah Kern Ikterus)
INDIKASI 1. Bayi kecil (BB < 1500 gr) yang cenderung berlanjut pada kadar
bilirubin patologis
2. Bayi premature dengan memar berat
3. Bayi dengan proses hemolysis sementara menunggu transfuse
ganti
4. Ketidaksesuaian rhesus
5. Inkompatibilitas ABO
KONTRAINDIKASI 1. Hiperbilirubin karena bilirubin direk (hepatitis)
2. Hiperbilirubin obstruksiva (atresia biliaris)

PETUGAS Perawat
PERSIAPAN KLIEN Persiapan Klien
1. Pastikan klien memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar
manusia (minum, aktivitas, tidur, terhindar infeksi, personal
hygiene, keseimbangan suhu)
2. Amati seluruh tubuh klien (warna kulit, mata, aktivitas, kotoran
atau bau)
3. Atur posisi sesuai prosedur yang akan dilakukan
FASE PRA INTERAKSI 1. Siapkan pemberian minum ASI/PASI
2. Pemeriksaan fisik
3. Alat tenun dan pakaian bayi
4. Alat memandikan
5. Tempat sampah
6. Penutup mata dan testis (bahan tak tembus cahaya)
7. Persiapan Lingkungan
8. Amati instalasi yang berhubungan dengan listrik
9. Tidak menempatkan bayi dekat pintu atau jendela yang terbuka
10. Amati lampu foto terapi, lama pemakaian dan keutuhannya
FASE INTERAKSI 1. Mengucapkan salam
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan tujuan
4. Menjelaskan langkah prosedur
5. Menanyakan kesiapan pasien
FASE KERJA 1. Perawat mencuci tangan, alat-alat didekatkan
2. Keluarga diberitahu, lampu fototerapi dimatikan.
3. Lepaskan pelindung mata, amati kotoran dan warna sclera da
bersihkan dengan kapas mata. Catat bila ada hal-hal yang tidak
wajar
4. Pastikan bayi apakah badannya kotor, bau urin atau baung air
besar
5. Bersihkan badan bayi dengan mandi lap didalam incubator
kemudian keringkan dengan handuk
6. Mengganti pakaian/alat tenun/popok basah sesudah dimandikan
7. Observasi TTV, amati seluruh tubuh bayi terutama warna
kuning.
8. Lanjutkan pemberian tindakan lainnya, bila harus mendapat
antibiotic melalui infus, berikan terapi sesuai program (5 benar).
Check kembali TTV. Dokumentasikan pemberian terapi
9. Berikan pemenuhan kebutuhan cairan melalui minum sesuai
jadwal dan kebutuhan bayi. Bila diperkirakan ada kehilangan
cairan karena peningkatan suhu, berikan cairan extra (10 – 15
ml/kgBB)
10. Posisikan kembali bayi untuk melanjutkan pemberian sinar foto
terapi.
11. Pakaian bayi dilepas dalam box/incubator
12. Menutup mata dan testis dengan bahan tidak tembus cahaya.
13. Tidurkan bayi terlentang atau tengkurap
14. Atur jarak bayi 45 – 50 cm dari lampu
15. Atur posisi bayi dalam 3 posisi (mika – miki – tengkurap) setiap
3 – 8 jam
16. Ukur suhu, HR, RR setiap 2 jam
17. Matikan fototerapi bila memberikan minum, penutup mata
dibuka, observasi mata (kotoran), ijinkan ibu kontak dengan
bayi.
18. Catat intake dan output
19. Pantau keseimbangan cairan dan elektrolit (timbang BB 2x
sehari) dan efek samping fototerapi
20. Alat-alat rapihkan dan dibereskan
21. Periksa kadar bilirubin setiap 12-24 jam.
TERMINASI 1. Merapikan pasien
2. Melakukan evaluasi
3. Menyampaikan rencana tindak lanjut
4. Berpamitan
5. Membereskan peralatan yang di gunakan
6. Mencuci tangan
13. SOP
PENGUKURAN STATUS GIZI
Pengertian Suatu kegiatan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi
badan atau panjang badan di seluruh posyandu sehingga diperoleh
data status gizi berdasarkan standart WHO.
Tujuan Untuk mengetahui status gizi balita dan sebagai acuan dalam
melaksanakan penilaian status gizi.
Kebijakan Semua balita harus melakukan penilaian status gizi.
Referensi Permenkes RI No. 75 Tahun 2014 Tentang Pusat kesehatan
masyarakat.
Prosedur A)Persiapan :
1. Alat tulis
2. Timbangan berat badan
3. Alat ukur PB/Tb
4. Buku Catatan
B)Prosedur :
1. Menjelaskan maksud dan tujuan dari penilaian status gizi
2. Menyiapkan timbangan pada tempat yang datar
3. Menyiapkan alat pengukur PB/TB
4. Menimbang balita
5. Mengukur panjang/tinggi badan balita
6. Mencatat hasil penimbangan dan pengukuran PB/TB
7. Merekap hasil penilaian status gizi
8. Menganalisa hasil penilaian status gizi
Unit Terkait 1. Kader posyandu
2. Bidan desa

Sumber :
https://www.Scribd.com/document/344846158/7-Sop-Penilaian-Status-Gizi-Balita
14. SOP
PEMBERIAN OKSIGEN
Pengertian Merupakan alat sederhana yang dimasukkan kedalam lubang hidung
untuk memberikan trherapy o2 dan yangmemungkinkan klien untuk
bernafas melalui mulut dan hidung .

Tujuan 1. mengatasi hipoksemia /hipoksia


2. sebagai tindakan pengobatan
3. untuk mempertahankan metabolisme

Persiapan alat 1. Tabung oksigen ( oksigen dinding ) berisi oksigen lengkap dgn
flowmeter & humidifier yg berisi aquades hingga batas pengisiang
2. Kanulbinasal
3. Cotte budd atau tisue
4. Bengkok
5. Tanda peringatan janganlah merokok
6. Plerter

Persiapan pasien 1. Pasien diberitahu menyangkut tujuan & perosedur tindakan yg


akan dilakukan
2. Pasien diatur dalam posisi aman & nyaman

Persiapan perawat 1. Mengkaji data-data/informasi mengenai kekurangan oksigen (


sesak nafas, nafas cuping hidung, penggunaan otot pernafasan
tambahan, takikardi, gelisah, bimbang & sianosia )
2. Perawat mencuci tangan

Persiapan 1. Mennutup pintu


lingkungan
3. Pencahayaan
2. Jendela
3. Sampiran

Prosedur kerja 1. Siapkan Kateter nasal, kanula nasal atau masker sesuai yang
dibutuhkan dengan 1 set tabung oksigen ( oksigen central )
2. Hubungkan antara kanul binasal, Kateter nasal, atau masker
dengan flowmeter pada tabung oksigen.
3. Bersihkan lubang hidung pasien dengan cotten budd atau tisue
4. Cek fungsi dari slowmeter dengan memutar pengatur konsetrasi
oksigen & mengamati adanya gelembung udara dalam humidifier
5. Cek aliran oksigen dgn cara mengalirkan oksigen lewat kanul
binasal kepunggung tangan perawat
6. Pasang kanul binasal kelubang hidung pasien dengan tepat/sesuai
7. Atur pengikat kanul binasal dengan benar, janganlah terlalu
kencang & jangan sampai terlalu kendur
8. Pastikkan kanul binasal terpasang dengan aman
9. Atur aliran oksigen sesuai dengan program yang telah ditentukan
10. Alat-alat dikembalikan di tempat yg sesuaitempatnya semula
11. Perawat mencuci tangan sesudah melaksanakan tindakan
pemasangan therapy oksigen
12. Mengakhiri tindakan dengan mengucapkan salam kepada klien
13. Kontrak waktu selanjutnya

Evaluasi Respon pasien selama 15 menit setelah dilakukan tindakan pemasangan


therapy oksigen

Dokumentasi 1. Catat tindakan semua di dokumentasikan


2. Catat waktu
3. Evaluasi
4. Respon pasien
5. Paraf
6. Nama perawat jaga

Referensi Eni, Yunani & Achmad. (2013). Keterampilan dan Prosedur


Laboratorium Keperawatan Dasar. Jakarta : EGC
15. SOP
SUCTION
Pengertian Melaksanakan pembersihan saluran pernafasan lebih kedalam
dengan menggunakan alat penghisap lendir (sekresi) baik melalui
hidung, mulut, maupun trakea

Tujuan Saluran pernafasan bebas dari sumbatan semua kotoran atau


lendir sehingga pasien dapat bernafas secara normal

Indikasi 1) Klien dengan retensi sputum


2) Klien dengan respirator atau endotrakeal tube
3) Klien dengan trakeostomi
Kontra indikasi 1) Klien dengan TIK meningkat
2) Klien dengan odema paru

Persiapan Persiapan alat :


1) Mesin penghisap lendir
2) Selang penghisap lendir
· Neonatus 6-8 Fr
· Bayi sampai 6 bulan 6-8 Fr
· 18 bulan 8-10 Fr
· 24 bulan 10 Fr
· 2-4 tahun 10-12 Fr
· 4-7 tahun 12 Fr
· 7-10 tahun 12 Fr
· 10-12 tahun 14 Fr
· Dewasa 12-16 Fr
3) Air steril dan PZ dalam tempatnya
4) Pinset anatomi untuk memegang selang
5) Spatel atau sudip lidah yang terbungkus kasa
6) Sarung tangan
7) Pengalas

Persiapan pasien :
1) Bila sadar dan reflek gag berfungsi, baringkan klien pada
posisi semi fowler dengan kepala miring ke satu sisi untuk
penghisapan oral. Baringkan klien pada posisi fowler dengan
leher ekstensi untuk penghisapan nasal
2) Bila tidak sadar, baringkan klien dengan posisi lateral
menghadap pada anda untuk penghisapan oral atau nasal

Pelaksanaan 1 Siapkan peralatan di samping tempat tidur


2 Cuci tangan
3 Berikan penjelasan pada klien dan keluarganya
4 Tempatkan handuk pada bantal atau di bawah dagu klien
5 Berikan oksigen terlebih dahulu sebelum dilakukan suction
6 Tuangkan air steril atau normal salin ke dalam wadah yang
steril
7 Gunakan tangan yang telah memakai sarung tangan,
sambungkan kateter ke mesin penghisap
8 Basahi ujung keteter dengan larutan steril, pasang penghisap
dengan ujungnya terletak dalam larutan

Penghisapan 1) Orofaringeal:
Dengan perlahan masukkan kateter ke dalam mulut klien dan
arahkan ke orofaring. Jangan lakukan penghisapan selama
pemasangan
Nasofaringeal:
Dengan perlahan masukkan kateter ke salah satu lubang hidung.
Arahkan ke arah medial sepanjang dasar rongga hidung. Jangan
dorong paksa kateter, dan jangan lakukan penghisapan selama
pemasangan.
2) Sumber port penghisap dengan ibu jari. Dengan perlahan
rotasi kateter saat anda menariknya. Keseluruhan prosedur tidak
boleh lebih dari 15 detik.
3) Bilas kateter denagn larutan steril dengan meletakkannya
dalam larutan dan lakukan penghisapan
4) Bila klien tidak mengalami distress pernafasan, biarkan
istirahat 20-30 detik sebelum memasukkan ulang kateter
5) Bila klien mampu minta klien untuk bernafas dalam dan
batuk diantara penghisapan
6) Hisap secret pada mulut atau di bawah lidah setelah
penghisapan orofaring atau nasofaring
7) Buang kateter dengan membungkusnya dalam tangan anda
yang menggunakan sarung tangan dan lepaskan sarung tangan
untuk membungkus kateter
8) Cuci tangan
9) Catat jumlah, konsistensi, warna, dan bau secret serta
respon klien terhadap prosedur

SUMBER :
http://googleweblight.com/i?u=http://rezadarise.blogspot.com/2014/11/sop-
suction.html?m%3D1&hl=id-ID
Kotler B, Erb G, Olivieri R, 1995, Fundamental Of Nursing, Concepts, Process and Prctice, Vol
11, 4 Ed, California;
Potter, Perry, 2000, Buku Paket Prosedur Dan Kemampuan Skil, Ed, 3 St, Lours, Mosby Year
Book Ine.
16. SOP
NEBULIZER
Pengertian Suatu tindakan keperawatan dengan memberikan tindakan
penguapan agar lendir lebih encer sehingga lendir lebih mudah
dihisap

Tujuan Memberikan tindakan penguapan agar lebih encer atau untuk


pengobatan

Manfaat 1) Mengencerkan lendir


2) Mengurangi distress nafas

Indikasi 1) Penderita tidak dapat mengeluarkan secret secara fisiologis


2) Penderita dengan depresi pernafasan
3) Penderita sesak dengan penumpukan sekret

Persiapan Persiapan alat


- Obat bronkodilator kalau perlu
- Nebulizer dengan berbagai bentuk
- Sarung tangan steril
- Kain penutup mata
Persiapan pasien
Inform consern

Pelaksanaan 1) Cuci tangan


2) Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga
tentangprosedur nebulizer
3) Memakai sarung tangan
4) Posisikan klien sesuai dengan kebutuhan
5) Melakukan penguapan selama 10-15 menit di saluran jalan
nafas
6) Lepas sarung tangan dan cuci tangan

SUMBER :
http://googleweblight.com/i?u=http://rezadarise.blogspot.com/2014/11/sop-
suction.html?m%3D1&hl=id-ID
Kotler B, Erb G, Olivieri R, 1995, Fundamental Of Nursing, Concepts, Process and Prctice, Vol
11, 4 Ed, California;
17. SOP
KOMPRES
I. Pengertian Kompres hangat adalah memberikan rasa hangat pada daerah tertentu
dengan menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada
bagian tubuh yang memerlukan. Pemberian kompres dilakukan pada
radang persendian, kekejangan otot, perut kembung, dan kedinginan.

II. Tujuan  Memperlancar sirkulasi darah

 Menurunkan suhu tubuh

 Mengurangi rasa sakit

 Memberi rasa hangat,nyaman dan tenang pada klien

 Memperlancar pengeluaran eksudat

 Merangsang peristaltik usus

III. Indikasi  Klien yang kedinginan(suhu tubuh yang rendah)

 Klien dengan perut kembung

 Klien yang punya penyakit peradangan, seperti radang


persendian

 Sepasme otot

 Adanya abses, hematoma

IV. Alat dan Bahan  Larutan kompres berupa air hangat 40° dalam wadah (kom)

 Handuk / kain / washlap untuk kompres

 Handuk pengering

 Sarung tangan

 Termometer

V. Prosedur Tindakan  Beri tahu klien, dan siapkan alat, klien, dan lingkungan

 Cuci tangan

 Ukur suhu tubuh

 Basahi kain pengompres dengan air, peras kain sehingga tidak


terlalu basah

 Letakkan kain pada daerah yang akan dikompres (dahi, ketiak,


perut, leher, bagian belakang)

 Tutup kain kompres dengan handuk kering

 Apabila kain telah kering atau suhu kain relatif menjadi dingin,
masukkan kembali kain kompres ke dalam cairan kompres dan
letakkan kembali di daerah kompres, lakukan berulang-ulang
hingga efek yang diinginkan dicapai

 Evaluasi hasil dengan mengukur suhu tubuh klien setelah 20


menit

 Setelah selesai, keringkan daerah kompres atau bagian tubuh


yang basah dan rapikan alat

 Cuci tangan

VI. Evaluasi  Respon klien

 Alat kompres terpasang dengan benar

 Suhu tubuh klien membaik

VII. Dokumentasi  Waktu pelaksanaan

 Catat hasil dokumentasi setiap tindakan yang dilakukan dan di


evaluasi

 Nama perawat yang melaksanakan


VIII. Referensi Program Study S-1 Keperawatan STIKES Banyuwangi.2009.Panduan
Keterampilan Prosedur Lab KDM 2. Jawa Timur : EGC
18. SOP
PEMBERIAN OBAT PADA ANAK
Pengertian Pemberian obat oral adalah memberikan obat yang dimasukkan
melalui mulut.

Tujuan Pemberian a. Untuk memudahkan dalam pemberian


b. Proses reabsorbsi lebih lambat sehingga bila timbul efek
samping dari obat tersebut dapat segera diatasi
c. Menghindari pemberian obat yang menyebabkan nyeri
d. Menghindari pemberian obat yang menyebabkan kerusakan
kulit dan jaringan

Tahap Persiapan A.Persiapan Pasien


Jelaskan tujuan pemberian obat dan waktu minum obat

B. Persiapan Lingkungan
1. Bekerja sebaiknya dari sebelah kanan pasien
2. Meletakkan alat sedemikian rupa sehingga mudah bekerja

C. Persiapan alat
1. Baki berisi obat
2. Kartu atau buku berisi rencana pengobatan
3. Pemotong obat (bila diperlukan
4. Martil dan lumpang penggerus (bila diperlukan)
5. Gelas pengukur (bila diperlukan)
6. Gelas dan air minum
7. Sedotan
8. Sendok
9. Pipet
10. Spuit sesuai ukuran untuk mulut anak-anak

Tahap Pelaksanaan A. Pengetahuan


1. Menjelaskan pemberian obat dengan memperhatikan 12
benar
2. Menjelaskan jenis dan bentuk obat yang dapat diberikan
melalui mulut serta waktu pemberiannya

B. Sikap
1. Telita
2. Disiplin
3. Motivasi
4. Kerja sama
5. Tanggung jawab
6. Komunikasi
7. Kejujuran
8. Penampilan Fisik
9. Menjaga privasi pasien
Prosedur kerja 1. Siapkan peralatan dan cuci tangan
2. Kaji kemampuan klien untuk dapat minum obat per oral
(menelan, mual, muntah, adanya program tahan makan atau
minum, akan dilakukan pengisapan lambung dll)
3. Periksa kembali perintah pengobatan (nama klien, nama dan
dosis obat, waktu dan cara pemberian) periksa tanggal kedaluarsa
obat, bila ada kerugian pada perintah pengobatan laporkan pada
perawat/bidan yang berwenang atau dokter yang meminta.
4. Ambil obat sesuai yang diperlukan (baca perintah pengobatan
dan ambil obat yang diperlukan)
5. Siapkan obat-obatan yang akan diberikan. Siapkan jumlah
obat yang sesuai dengan dosis yang diperlukan tanpa
mengkontaminasi obat (gunakan tehnik aseptik untuk menjaga
kebersihan obat).

1) Tablet atau kapsul

1. Tuangkan tablet atau kapsul ke dalam mangkuk disposibel


tanpa menyentuh obat.
2. Gunakan alat pemotong tablet bila diperlukan untuk membagi
obat sesuai dengan dosis yang diperlukan.
3. Jika klien mengalami kesulitan menelan, gerus obat menjadi
bubuk dengan menggunakan martil dan lumpang penggerus,
kemudian campurkan dengan menggunakan air. Cek dengan
bagian farmasi sebelum menggerus obat, karena beberapa obat
tidak boleh digerus sebab dapat mempengaruhi daya kerjanya.

2) Obat dalam bentuk cair


1. Kocok /putar obat/dibolak balik agar bercampur dengan rata
sebelum dituangkan, buang obat yang telah berubah warna atau
menjadi lebih keruh.
2. Buka penutup botol dan letakkan menghadap keatas. Untuk
menghindari kontaminasi pada tutup botol bagian dalam.
3. Pegang botol obat sehingga sisa labelnya berada pada telapak
tangan, dan tuangkan obat kearah menjauhi label. Mencegah obat
menjadi rusak akibat tumpahan cairan obat, sehingga label tidak
bisa dibaca dengan tepat.
4. Tuang obat sejumlah yang diperlukan ke dalam mangkuk obat
berskala.
5. Sebelum menutup botol tutup usap bagian tutup botol dengan
menggunakan kertas tissue. Mencegah tutup botol sulit dibuka
kembali akibat cairan obat yang mengering pada tutup botol.
6. Bila jumlah obat yang diberikan hanya sedikit, kurang dari 5
ml maka gunakan spuit steril untuk mengambilnya dari botol.
7. Berikan obat pada waktu dan cara yang benar :
a. Identifikasi klien dengan tepat.
b. Menjelaskan mengenai tujuan dan daya kerja obat dengan
bahasa yang mudah dimengerti oleh klien.
c. Atur pada posisi duduk, jika tidak memungkinkan berikan
posisi lateral. Posisi ini membantu mempermudah untuk menelan
dan mencegah aspirasi.
d. Beri klien air yang cukup untuk menelan obat, bila sulit
menelan anjurkan klien meletakkan obat di lidah bagian belakang,
kemudian anjurkan minum. Posisi ini membantu untuk menelan
dan mencegah aspirasi.
e. Catat obat yang telah diberikan meliputi nama dan dosis obat,
setiap keluhan, dan tanda tangan pelaksana. Jika obat tidak dapat
masuk atau dimuntahkan, catat secara jelas alasannya.
f. Kembalikan peralatan yang dipakai dengan tepat dan benar,
buang alat-alat disposibel kemudian cuci tangan.
g. Lakukan evaluasi mengenai efek obat pada klien.

Referensi
Johnson, Ruth, Taylor. 2009. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.
Samba, Suharyati, 2008. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC