Anda di halaman 1dari 25

PERDARAHAN ANTEPARTUM

DAN PERDARAHAN POSTPARTUM

Disusun Oleh :
NOVIA BERE APARICIO
1810104438

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA

2018/2019
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur saya haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebab
karena limpahan rahmat serta anugerah dari- Nya saya mampu untuk
menyelesaikan makalah saya dengan judul “perdarahan antepartum dan
perdarahan postpartum” ini tepat waktu. Makalah ini dibuat untuk memenuhi
tugas mata kuliah Patofisiologi dalam kebidanan.
Selanjutnya dengan rendah hati saya meminta kritik dan saran dari
pembaca untuk makalah ini supaya selanjutnya dapat saya revisi kembali. Karena
saya sangat menyadari, bahwa makalah yang telah saya buat ini masih memiliki
banyak kekurangan.
Saya ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada setiap pihak
yang telah mendukung serta membantu saya selama proses penyelesaian makalah
ini hingga rampungnya makalah ini. Demikianlah yang dapat saya sampaikan,
saya berharap supaya makalah yang telah saya buat ini mampu memberikan
manfaat kepada setiap pembacanya.

Yogyakarta, Desember 2018

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................... 2

A. Latar Belakang ............................................................................. 2


B. Tujuan ......................................................................................... 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 3

A. Perdarahan Antepartum ............................................................... 3


B. Perdarahan Postpartum ................................................................ 9

BAB III.TINJAUAN KASUS ................................................................... 19

A. contoh kasus perdarahan Antepartum .......................................... 19


B. contoh kasus perdarahan Antepartum .......................................... 19

BAB IV. PEMBAHASAN......................................................................... 20

A. Pembahasan kasus Perdarahan Antepartum................................. 20


B. Pembahasan Pembahasan Postpartum ......................................... 21

BAB V. PENUTUP .................................................................................. 23

A. Kesimpulan .................................................................................. 23
B. Saran ............................................................................................ 23

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN JURNAL
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perdarahan obstetri merupakan salah satu penyebab terbesar
kematian maternal dan mengakibatkan morbiditas dan mortalitas perinatal
yang tinggi. Hal ini masih menjadi masalah kesehatan di negara maju
terlebih di negara berkembang. Perdarahan obstetri di Indonesia masih
menduduki peringkat pertama sebagai penyebab kematian maternal.
Pendarahan obstetri secara umum dibagi menjadi perdarahan antepartum
dan postpartum.
Indonesia, sebagai negara berkembang dengan tingkat
pertumbuhan penduduk yang tinggi, masih menghadapi masalah tingginya
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Menurut
hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2015,
menunjukkan AKB sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup dan AKI sebesar
228 per 100 ribu kelahiran hidup (Depkes. RI, 2015), Meskipun AKI dan
AKB telah mengalami penurunan, tetapi AKI dan AKB tetap menjadi
masalah kesehatan yang penting untuk diperhatikan.
Penyebab langsung kematian ibu terkait kehamilan dan persalinan
terutama adalah perdarahan (28%). Sebab lain, yaitu eklamsi (24%),
infeksi (11%), partus lama (5%), dan abortus (5%) (Kompas, 2010).
Sedangkan menurut Departemen Kesehatan, pada tahun 2015 jumlah ibu
meninggal karena perdarahan mencapai 38,24% (111,2 per 100 ribu
kelahiran hidup), gestosis 26,47% (76,97 per 100 ribu kelahiran hidup),
akibat penyakit bawaan 19,41 (56,44 per 100 ribu kelahiran hidup), dan
infeksi 5,88% (17,09 per 100 ribu kelahiran hidup) (Depkes. RI, 2015).
Berdasarkan uraian diatas penulis ingin mengkaji secara mendalam
hal-hal yang berkaitan dengan perdaran antepartum dan postpartum.
B. Tujuan
Untuk memahami tentang perdarahan antepartum dan perdarahan postpart
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perdarahan Antepartum
1. Defenisi Perdarahan Antepartum
Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan
28 minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada perdarahan
kehamilan sebelum 28 minggu (Mochtar, 2012). Perdarahan antepartum yang
berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan perdarahan
yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan servik
biasanya tidak seberapa berbahaya. Pada setiap perdarahan antepartum
pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan
plasenta (Mochtar, 2012).
2. Etiologi Perdarahan Antepartum
a) Kelainan implantasi plasenta
1) Plasenta Previa
a. Definisi Plasenta previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat
abnormal yaitu pada segmen bawah rahim (SBR) sehingga menutupi sebagian
atau seluruh permukaan jalan lahir (Ostium uteri Internum) dan oleh
karenanya bagian terendah sering kali terkendala memasuki pintu atas panggul
(PAP) atau menimbulkan kelainan janin dalam lahir. Pada keadaan normal
plasenta umumnya terletak di corpus uteri bagian depan atau belakang agak ke
arah fundus uteri. (Prawirohardjo, 2014).
b. Klasifikasi Plasenta Previa
Menurut Nugroho (2011), plasenta previa dibagi menjadi beberapa jenis :
1. Plasenta previa totalis
Plasenta previa totalis yaitu ostium uteri internum tertutup seluruhnya
oleh plasenta.
2. Plasenta previa parsialis
Plasenta previa parsialis yaitu ostium uteru internum tertutup sebagian
oleh plasenta.
3. Plasenta previa marginalis
Plasenta previa marginalis yaitu pinggir bawah plasenta sampai pada
pinggir ostium uteri internum
4. Plasenta previa letak rendah
Plasenta previa letak rendah yaitu terjadi jika plasenta tertanam di segmen
bawah uterus. Etiologi plasenta previa belum diketahui secara pasti.
Frekuensi plasenta previa meningkat pada grande multipara, primigravida
tua, bekas secsio sesarea, bekas aborsi, kelainan janin, dan leioma uteri.
Penyebab secara pasti belum diketahui dengan jelas.
c. Etiologi Plasenta previa
Menurut beberapa ahli penyebab plasenta previa yaitu:
1. Plasenta previa merupakan implementasi di segmen bawah rahim dapat
disebabkan oleh endometrium di fundus uteri belum siap menerima
implantasi, endometrium yang tipis sehingga diberpulakan perluasan
plasenta untuk mampu memberikan nutrisi pada janin dan vili korealis
pada chorion leave yang persisten.
2. Etiologi plasenta previa belum diketahui pasti namun meningkat pada
grande multi para, primigravida tua, bekas secsio sesarea, bekas operasi
dan leiomioma uteri. (norma, dkk. 2013)
d. Patofisiologi Plasenta Previa
Plasenta previa terjadi akibat gangguan implantasi karena vaskularisasi
endometrium yang abnormal yang terkait dengan atropi dan scaring akibat
trauma atau inflamasi. Hal ini menyebabkan implantasi embrio pada segmen
bawah rahim. Pertumbuhan plasenta menyebabkan plasenta menutupi cervix.
Normalnya plasenta berimplantasi di fundus uteri dan aliran darah di fundus
lebih baik dari segmen bawah uterus. Adanya implantasi abnormal dapat
diakibatkan jaringan parut / skar pada uterus dan kerusakan pada uterus.3
Vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atropi pada desidua akibat
persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta previa, dimana plasenta
yang letaknya normal akan memperluas permukaannya sehingga mendekati
atau menutupi sama sekali pembukaan jalan lahir.
e. Penatalaksanaan
Tatalaksana (Kemenkes RI, 2013):
1) PERHATIAN! Tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan dalam sebelum
tersedia kesiapan untuk seksio sesarea. Pemeriksaan inspekulo dilakukan
secara hati-hati, untuk menentukan sumber perdarahan.
2) Perbaiki kekurangan cairan/darah dengan infus cairan intravena (NaCl
0,9% atau Ringer Laktat).
3) Lakukan penilaian jumlah perdarahan.
4) Jika perdarahan banyak dan berlangsung, persiapkan seksio sesarea tanpa
memperhitungkan usia kehamilan
5) Jika perdarahan sedikit dan berhenti, dan janin hidup tetapi prematur,
pertimbangkan terapi ekspektatif (mempertahankan kehamilan)
Syarat terapi ekspektatif:
 Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti
dengan atau tanpa pengobatan tokolitik
 Belum ada tanda inpartu
 Keadaan umum ibu cukup baik (kadar Hb dalam batas normal)
 Janin masih hidup dan kondisi janin baik.
b) Solusio Plasenta
a. Definisi Solusio Plasenta
Dalam buku patologi kebidanan, Nugroho (2012), solusio plasenta adalah
terlepasnya plasenta yang letaknya normal di korpus uteri yang terjadi setelah
kehamilan 20 minggu dan sebelum janin dilahirkan.
b. Etiologi
Sebab utama solusio plasenta tidak diketahui. Namun, ada beberapa faktor
yang akan diulas berikut ini:
1. Usia, Paritas, dan Faktor Familial. Insiden solusio meningkat sesuai
bertambahnya usia ibu. Pada penelitian first and second trimester
evaluation of risk (FASTER), perempuan yang berusia lebih dari 40 tahun
ditemukan 2,3 kali lipat lebih mungkin mengalami solusio dibandingkan
perempuan berusia 35 tahun. Hubungan familial baru-baru ini dilaporkan
oleh Rasmussen dan Irgens (2009) yang meganalisis keluaran dari register
berbasis-populasi di Norwegia, yang mencakup hampir 378.000
perempuan dengan hubungan saudara kandung dan lebih dari 767.000
kehamilan. Jika seorang perempuan pernah mengalami solusio berat,
resiko untuk saudara perempuannya akan meningkat dua kali lipat, dan
resiko yang dapat diwariskan diperkirakan sebesar 16 persen. Tidak
terdapat peningkatan resiko pada saudara ipar mereka (Cunningham, dkk.
2013).
2. Hipertensi. Kondisi yang sangat dominan berkaitan dengan solusio
plasenta adalah suatu bentuk hipertensi. Hipertensi gestasional,
preeklamsia, hipertensi kronis, atau kombinasi kedua-duanya. Dalam
laporan Parkland Hospital mengenai 408 perempuan yang mengalami
solusio placenta dan keguguran, hipertensi ditemukan pada kurang lebih
separuh perempuan setelah compartment intravascular yang sebelumnya
berkurang dipulihkan. Setengah di antara perempuan-perempuan tersebut,
seperempat dari total 408 memiliki hipertensi kronis (Cunningham, dkk.
2013). Keparahan hipertensi tidak selalu berhubungan dengan insiden
solusio. Selain itu, hasil pengamatan dari Magpie Trial Collaborative
Group memberikan gambaran bahwa perempuan dengan preeklamsia
mungkin mengalami resiko solusio yang lebih rendah bila diterapi dengan
magnesium sulfat (Cunningham, dkk. 2013).
3. Ketuban Pecah Dini dan Pelahiran Kurang Bulan. Tidak ada keraguan
bahwa terjadi peningkatan insiden solusio bila ketuban pecah sebelum
aterm. Major dkk, melaporkan bahwa 5 persen di antara 756 perempuan
dengan ketuban pecah antara minggu 20 dan minggu 36 mengalami
solusio. Survey tahun 1998 melaporkan peningkatkan resiko solusio 3 kali
lipat pada kasus ketuban pecah dini. Resiko ini semakin ditingkatkan oleh
infeksi. Kelompok yang sama telah mengajukan gagasan bahwa
peradangan dan infeksi mungkin merupakan sebab utama solusio plasenta
(Cunningham, dkk. 2013).
4. Merokok. Penelitian terdahulu collaborative Perinatal Project mengaitkan
perokok dengan peningkatan resiko solusio. Dalam suatu meta-analisis
yang mencakup 1,6 juta kehamilan. Resiko ini bertambah menjadi lima
hingga delapan kali lipat jika perokok tersebut mengalami hipertensi
kronis, preeklamsia berat, kali lipat jika perokok tersebut mengalami
hipertensi kronis, preeklamsia berat, atau keduanya (Cunningham, dkk.
2013).
5. Kokain. Perempuan pengguna kokain memilki frekuensi solusio plasenta
yang sangat tinggi. Dalam laporan Bingol dkk, mengenai 50 perempuan
yang menyalahgunakan kokain selama kehamilan, ditemukan delapan
kasus lahir mati akibat solusio plasenta (Cunningham, dkk. 2013).
6. Trombofilia. Selama decade terakhir, sejumlah trombofilia yang
diwariskan atau didapat telah dikaitkan dengan penyakit tromboembolik
selama kehamilan. Beberapa di antara kelainan ini misalnya, mutasi gen
protrombin atau faktor V leiden berkaitan dengan solusio dan infark
plasenta serta preeklamsia (Cunningham, dkk. 2013).
7. Solusio Traumatic. Pada beberapa kasus trauma eksternal, biasanya
berkaitan dengan kecelakaan kendaraan bermotor atau kekerasan fisik,
dapat terjadi pemisahan plasenta. Namun, seiring menurunnya insiden
solusio plasenta selama beberapa tahun ini, solusio traumatic telah menjadi
relative leboh lazim (Cunningham, dkk. 2013).
8. Leiomioma. Tumor-tumor ini khususnya jika terletak dibelakang tempat
implantasi plasenta merupakan prediposisi terjadinya solusio
(Cunningham, dkk. 2013:803).
9. Solusio Berulang. Seorang yang pernah mengalami solusio plasenta
khususnya yang menyebabkan kematian janin memiliki angka rekurensi
yang tinggi. Jadi, Tatalaksana kehamilan setelah terjadinya solusio
merupakan hal yang sulit karena mendadak dapat terjadi solusio
berikutnya, bahkan pada kehamilan yang masih jauh dari aterm. Pada
banyak kasus frekuensi ini, hasil pemeriksaan kesejahtraan janin
sebelumnya terjadi solusio umunya baik. Dengan demikian, pemeriksaan
janin antepartum biasanya tidak prediktif (Cunningham, dkk. 2013).
c. Manifestasi Klinis solusio plasenta
1. Solusio plasenta ringan
Salah satu tanda kecurigaan solusio plasenta adalah perdarahan
pervaginam yang kehitam-hitaman, berbeda dengan perdarahan pada
plasenta previa yang berwarna merah segar (Nugroho, 2012). Perdarahan
pada solusio plasenta ringan yaitu darah yang dikeluaarkan dalam jumlah
sedikit dan hanya dalam bentuk flek-flek kehitaman.
2. Solusio plasenta sedang
- Plasenta telah lepas ¼ - ½ bagian.
- Walaupun perdarahan pervaginam tampak sedikit, seluruh
perdarahannya mungkin telah mencapai 1000 ml.
- Dinding uterus teraba tegang terus menerus dan nyeri terasa.
3. Solusio plasenta berat
- Plasenta telah terlepas lebih dari ½ permukaannya
- Dapat terjadi syok, dan janin meninggal
- Uterus tegang seperti papan, dan sangat nyeri (Nugroho, 2012)
d. Patofisiologi solusio plasenta
Pada kondisi tertentu, arteria speralis desidua pecah dan menimbulkan
hematoma retoplasenta, yang saat bertambah besar, merusak lebih banyak lagi
pembuluh darah sehingga banyak plasenta yang terpisah. Daerah terpisahnya
plasenta dengan cepat meluas dan mencapai tepi plasenta. Karena uterus
masih membesar akibat produk konsepsi, uterus tidak mampu berkontraksi
secara adekuat untuk menekan pembuluh darah yang robek yang mendarahi
lokasi plasenta. Darah yang keluar menyebabkan diseksi membran dari
dinding uterus dan akhirnya tampak dari luar atau tertahan sepenuhnya dalam
uterus (Cunningham, dkk. 2013).
e. Penatalaksanaan Solusio Plasenta
Tatalaksana (Kemenkes RI, 2013):
1) Perhatian! Kasus ini tidak boleh ditatalaksana pada fasilitas kesehatan
dasar, harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Tatalaksana
berikut ini hanya boleh dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap.
2) Jika terjadiperdarahan hebat(nyata atau tersembunyi) dengan tandatanda
awal syok pada ibu, lakukan persalinan segera:
- Jika pembukaan serviks lengkap, lakukanpersalinan dengan
ekstraksivakum
- Jika pembukaan serviks belum lengkap, lakukan persalinan
denganseksio sesarea
3) Waspadalah terhadap kemungkinan perdarahan pascasalin.
4) Jika perdarahan ringan atau sedangdan belum terdapat tanda-tanda syok,
tindakan bergantung pada denyut jantung janin (DJJ):
- DJJ normal, lakukan seksio sesarea
- DJJ tidak terdengar namun nadi dan tekanan darah ibu normal :
pertimbangkan persalinan pervaginam
- DJJ tidak terdengar dan nadi dan tekanan darah ibu bermasalah :
pecahkan ketuban dengan kokher:
Jika kontraksi jelek, perbaiki dengan pemberian oksitosin
Jika serviks kenyal, tebal, dan tertutup, lakukan seksio sesarea
- DJJ abnormal (kurang dari 100 atau lebih dari 180/menit):
lakukanpersalinan pervaginam segera, atau seksio sesarea bila
persalinanpervaginam tidak memungkinkan.

B. PERDARAHAN POSTPARTUM
1. Definisi
Perdarahan postpartum (PPP) didefinisikan sebagai kehilangan 500 ml
atau lebih darah setelah persalinan pervaginam atau 1000 ml atau lebih setelah
seksio sesaria ( WHO, 2012). Perdarahan postpartum merupakan bagian
terbanyak dari perdarahan obstetrik sebagai penyebab kematian maternal.
Kegagalan penanganan perdarahan obstetrik dipegaruhi oleh beberapa faktor
keterlambatan, baik keterlambatan pengenalan adanya perdarahan, intensitas
perdarahan, keterlambatan transportasi dan keterlambatan dalam penanganan.
Keterlambatan rujukan meningkatkan kematian maternal sebanyak 5,27 kali
dan keterlambatan penanganan di rumah sakit 12,73 kali. Perdarahan lebih
dari 1500 ml menaikkan kematian maternal sebanyak 4,18 kali.
2. Etiologi Perdarahan Postpartum
Perdarahan postpartum bisa disebabkan karena :
1) Atonia Uteri
Atonia uteri adalah ketidakmampuan uterus khususnya
miometrium untuk berkontraksi setelah plasenta lahir. Perdarahan
postpartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serat-serat
miometrium terutama yang berada di sekitar pembuluh darah yang
mensuplai darah pada tempat perlengketan plasenta (Wiknjosastro, 2006).
Kegagalan kontraksi dan retraksi dari serat miometrium dapat
menyebabkan perdarahan yang cepat dan parah serta syok hipovolemik.
Kontraksi miometrium yang lemah dapat diakibatkan oleh kelelahan
karena persalinan lama atau persalinan yang terlalu cepat, terutama jika
dirangsang. Selain itu, obat-obatan seperti obat anti-inflamasi nonsteroid,
magnesium sulfat, beta-simpatomimetik, dan nifedipin juga dapat
menghambat kontraksi miometrium. Penyebab lain adalah situs implantasi
plasenta di segmen bawah rahim, korioamnionitis, endomiometritis,
septikemia, hipoksia pada solusio plasenta, dan hipotermia karena
resusitasi masif (Rueda et al., 2013).
Atonia uteri merupakan penyebab paling banyak PPP, hingga
sekitar 70% kasus. Atonia dapat terjadi setelah persalinan vaginal,
persalinan operatif ataupun persalinan abdominal. Penelitian sejauh ini
membuktikan bahwa atonia uteri lebih tinggi pada persalinan abdominal
dibandingkan dengan persalinan vaginal (Edhi, 2013).
2) Laserasi jalan lahir
Pada umumnya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan
trauma. Pertolongan persalinan yang semakin manipulatif dan traumatik
akan memudahkan robekan jalan lahir dan karena itu dihindarkan
memimpin persalinan pada saat pembukaan serviks belum lengkap.
Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomi, robekan spontan
perineum, trauma forsep atau vakum ekstraksi, atau karena versi ekstraksi
(Prawirohardjo, 2010). Laserasi diklasifikasikan berdasarkan luasnya
robekan yaitu (Rohani, Saswita dan Marisah, 2011):
a. Derajat satu
Robekan mengenai mukosa vagina dan kulit perineum.
b. Derajat dua
Robekan mengenai mukosa vagina, kulit, dan otot perineum.
c. Derajat tiga
Robekan mengenai mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum, dan
otot sfingter ani eksternal.
d. Derajat empat
Robekan mengenai mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum, otot
sfingter ani eksternal, dan mukosa rektum.
3) Retensio plasenta
Retensio plasenta adalah plasenta belum lahir hingga atau melebihi
waktu 30 menit setelah bayi lahir. Hal ini disebabkan karena plasenta
belum lepas dari dinding uterus atau plasenta sudah lepas tetapi belum
dilahirkan. Retensio plasenta merupakan etiologi tersering kedua dari
perdarahan postpartum (20% - 30% kasus). Kejadian ini harus didiagnosis
secara dini karena retensio plasenta sering dikaitkan dengan atonia uteri
untuk diagnosis utama sehingga dapat membuat kesalahan diagnosis. Pada
retensio plasenta, resiko untuk mengalami PPP 6 kali lipat pada persalinan
normal (Ramadhani, 2011).
Terdapat jenis retensio plasenta antara lain
a. Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta
sehingga menyebabkan mekanisme separasi fisiologis.
b. Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki
sebagian lapisan miometrium.
c. Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus
lapisan serosa dinding uterus.
d. Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus
serosa dinding uterus.
e. Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri,
disebabkan oleh konstriksi ostium uteri.
4) Koagulopati
Perdarahan postpartum juga dapat terjadi karena kelainan pada
pembekuan darah. Penyebab tersering PPP adalah atonia uteri, yang
disusul dengan tertinggalnya sebagian plasenta. Namun, gangguan
pembekuan darah dapat pula menyebabkan PPP. Hal ini disebabkan
karena defisiensi faktor pembekuan dan penghancuran fibrin yang
berlebihan. Gejala-gejala kelainan pembekuan darah bisa berupa penyakit
keturunan ataupun didapat. Kelainan pembekuan darah dapat berupa
hipofibrinogenemia, trombositopenia, Idiopathic Thrombocytopenic
Purpura (ITP), HELLP syndrome (hemolysis, elevated liver enzymes, and
low platelet count), Disseminated Intravaskuler Coagulation (DIC), dan
Dilutional coagulopathy (Wiknjosastro, 2006; Prawirohardjo, 2010).
Kejadian gangguan koagulasi ini berkaitan dengan beberapa
kondisi kehamilan lain seperti solusio plasenta, preeklampsia, septikemia
dan sepsis intrauteri, kematian janin lama, emboli air ketuban, transfusi
darah inkompatibel, aborsi dengan NaCl hipertonik dan gangguan
koagulasi yang sudah diderita sebelumnya. Penyebab yang potensial
menimbulkan gangguan koagulasi sudah dapat diantisipasi sebelumnya
sehingga persiapan untuk mencegah terjadinya PPP dapat dilakukan
sebelumnya (Anderson, 2010).
3. Klasifikasi Perdarahan Postpartum
Klasifikasi klinis perdarahan postpartum yaitu (Manuaba, 2010) :
a. Perdarahan Postpartum Primer yaitu perdarahan postpartum yang terjadi
dalam 24 jam pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan postpartum
primer disebabkan oleh faktor 4T, yakni tonus (atonia uteri), trauma
(robekan jalan lahir), tissue (retensi plasenta atau sisa plasenta) dan
trombin (kelainan koagulasi darah).
b. Perdarahan Postpartum Sekunder yaitu perdarahan postpartum yang terjadi
setelah 24 jam pertama kelahiran. Perdarahan postpartum sekunder
disebabkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa
plasenta yang tertinggal.
4. Faktor Risiko
Faktor risiko PPP dapat ada saat sebelum kehamilan, saat kehamilan, dan
saat persalinan. Faktor risiko sebelum kehamilan meliputi usia, indeks massa
tubuh, dan riwayat perdarahan postpartum. Faktor risiko selama kehamilan
meliputi usia, indeks massa tubuh, riwayat perdarahan postpartum, kehamilan
ganda, plasenta previa, preeklampsia, dan penggunaan antibiotik. Sedangkan
untuk faktor risiko saat persalinan meliputi plasenta previa anterior, plasenta
previa mayor, peningkatan suhu tubuh >37⁰, korioamnionitis, dan retensio
plasenta (Briley et al., 2014).
Meningkatnya usia ibu merupakan faktor independen terjadinya PPP. Pada
usia lebih tua jumlah perdarahan lebih besar pada persalinan sesar dibanding
persalinan vaginal. Secara konsisten penelitian menunjukkan bahwa ibu yang
hamil kembar memiliki 3-4 kali kemungkinan untuk mengalami PPP
(Anderson, 2008).
Perdarahan postpartum juga berhubungan dengan obesitas. Risiko
perdarahan akan meningkat dengan meningkatnya indeks massa tubuh. Pada
wanita dengan indeks massa tubuh lebih dari 40 memiliki resiko sebesar 5,2%
dengan persalinan normal (Blomberg, 2011).

5. Gejala Klinik Perdarahan Postpartum


Efek perdarahan banyak bergantung pada volume darah sebelum hamil,
derajat hipervolemia-terinduksi kehamilan, dan derajat anemia saat persalinan.
Gambaran PPP yang dapat mengecohkan adalah kegagalan nadi dan tekanan
darah untuk mengalami perubahan besar sampai terjadi kehilangan darah
sangat banyak. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tanda-tanda
syok yaitu penderita pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil,
ekstrimitas dingin, dan lain-lain.
Volume darah Tekanan Tanda Derajat
yang hilang darah dan gejala syok
(sistolik)
500-1000 mL Normal Tidak -
(<15-20%) ditemukan
1000-1500 mL 80-100 Takikardi Ringan
(20-25%) mmHg (<100
kali/menit)
Berkeringat
Lemah
1500-2000 mL 70-80 Takikardi Sedang
(25-35%) mmHg (100-120
kali/menit)
Oliguria
Gelisah
2000-3000 mL 50-70 Takikardi Berat
(35-50%) mmHg (>120
kali/menit)
Anuria
Tabel 1. Gambaran klinis perdarahan obstetri

6. Diagnosis Perdarahan Postpartum


Diagnosis perdarahan postpartum dapat digolongkan berdasarkan tabel berikut
ini :
Tabel 2. Diagnosis Perdarahan Postpartum
No. Gejala dan tanda Gejala dan tanda Diagnosis
yang selalu ada yang kadang- kemungkinan
kadang ada
1. - Uterus tidak - Syok - Atonia
berkontraksi dan Uteri
lembek
-Perdarahan
segera setelah
anak lahir
(Perdarahan
Pascapersalinan
Primer atau P3)
2. - Perdarahan - Pucat -Robekan
segera (P3) - Lemah jalan lahir
- Darah segar yang - Menggigil
mengalir segera
setelah bayi lahir
(P3)
- Uterus kontraksi
baik
- Plasenta lengkap
3. - Plasenta belum -Tali pusat putus -Retensio
lahir setelah 30 akibat traksi Plasenta
menit berlebihan
- Perdarahan -Inversio uteri
segera (P3) akibat tarikan
- Uterus kontraksi -Perdarahan
baik lanjutan
4. - Plasenta atau - Uterus -
sebagian selaput berkontraksi Tertinggalny
tidak lengkap tetapi tinggi a sebagian
- Perdarahan fundus tidak plasenta
segera (P3) berkurang
5. - Uterus tidak - Syok - Inversio
teraba neurogenik uteri
- Lumen vagina - Pucat dan
terisi massa limbung
-Tampak tali pusat
(jika plasenta
belum lahir)
- Perdarahan
segera (P3)
- Nyeri sedikit
atau berat
6. - Sub-involusi - Anemia -Perdarahan
uterus - Demam terlambat
- Nyeri tekan perut -Endometritis
bawah atau sisa
- Perdarahan lebih plasenta
dari 24 jam setelah (terinfeksi
persalinan. atau tidak)
Perdarahan
sekunder atau
P2S.
- Perdarahan
bervariasi (ringan
atau berat, terus
menerus atau tidak
teratur) dan berbau
(jika disertai
infeksi)
7. -Perdarahan - Syok -Robekan
segera (P3) - Nyeri tekan dinding
(Perdarahan perut uterus
intraabdominal -Denyut nadi ibu (ruptura
dan atau vaginum) cepat uteri)
- Nyeri perut berat
Mengenai penanganan perdarahan post partum berdasarkan penyebab adalah
sebagai berikut (Wuryanti, 2010) :
Pasien Dengan Perdarahan Banyak Setelah Melahirkan
Periksa darah lengkap, golongan
darah dan cross test,periksa
faktor Periksa darah lengkap,
koagulasi. golongan darah dan
Predisposisi : cross test,periksa faktor
- atonia uteri koagulasi.
- retensio plasenta
- trauma jalan lahir
- riwayat perdarahan

Perhatikan vagina dan serviks apakah ada trauma


dan perdarahan evaluasi adanya atonia uteri.
Perhatikan kelengkapan plasenta, eksplorasi
uterus bila diperlukan.

Atonia
uteri Evakuasi Laserasi Terdapat
manual kelainan
Evakuasi koagulasi
Kompresi
bimanual kuretase
Oksitosin oksitosin Pada Ruptur uteri
Eksplorasi serviks,
manual vagina,
Prostaglandi vulva
n F2α

Perbaikan laserasi Histerektomi


Perdarahan tetap
berlangsung

Plasma beku
Kompresi uterus segar, transfusi
Evaluasi perdarahan trombosit
Kompresi aorta
Perdarahan sedikit
Perdarahan banyak
Infus vasogensia
Embolisasi, angiografi
Ligasi arteri iliaka
interna bilateral Perdarahan teratasi

Tetap perdarahan
observasi
BAB 3

CONTOH KASUS

A. Contoh Kasus Perdarahan Antepartum


Ny. M G3P2A0 merasa hamil kurang lebih 9 bulan mengatakan
keluar darah dari jalan lahir banyak tanpa rasa nyeri dan mules-mules
sejak pkl 02.00. Pasien juga mengeluh adanya rasa pusing dan lemas serta
mengaku belum keluar lendir campur darah ataupun air-air dari jalan lahir.
Sebelumnya pasien juga mengatakan pernah mengalami perdarahan dari
jalan lahir 2 minggu yang lalu sehingga ia pernah dirawat dengan gejala
yang sama selama kurang lebih 1 minggu. Pasien tidak BAK dan BAB
sejak kemarin. Pasien dapat merasakan gerakan janin pada usia kehamilan
kurang lebih 3 bulan, tetapi sejak kurang lebih 3 hari yang lalu gerakan
janin dirasakan makin berkurang dan terakhir dirasakan sejak semalam.
Riwayat adanya trauma disangkal. Riwayat adanya penyakit darah tinggi
dan pernah dikuret sebelumnya disangkal. Riwayat dua anak sebelumnya
lahir spontan di paraji. Riwayat KB (-).

B. Contoh kasus perdarahan Postpartum


Ny.T datang ke RS. Nusa Indah pada tanggal : 18 Juni 2018 Jam :
08.15 WIB Ibu mengatakan ingin memeriksakan keadaannya pasca
persalinan 7 hari yang lalu. Keluhan yang dirasakan Ibu mengatakan ibu
merasakan nyeri perut, mengeluh lemah, mengantuk, menggigil dan
mengeluarkan darah banyak prongkol prongkol, dari jalan lahir sejak
kemarin malam jam 23.00.
BAB 4

PEMBAHASAN

A. Pembahasan Kasus Perdarahan Antepartum


Tindakan : Dilakukan terminasi kehamilan per-abdominal dengan SC atas
indikasi PAP + IUFD.
Laporan operasi : Operasi dilakukan secara cito pada tanggal 10-04-07 pada
pukul 16.20 dan selesai pada pukul 16.50, dengan :
Operator : dr. Dadan S, SpOG
Diagnosa pra-bedah : G3P2A0 gravida aterm dengan PAP + suspek IUFD
Diagnosa pasca bedah : G3P2A0 gravida aterm dengan plasenta previa totalis
+ IUFD
Jenis operasi : SCTP + Tubektomi bilateral
Kategori operasi : Besar
Desinfeksi : Betadin dan alkohol
Prosedur :
Dilakukan a/antiseptic dengan betadin dan alcohol pada abdomen dan daerah
sekitarnya.
Insisi pff anensteil kira-kira 10 cm, diperdalam sampai peritoneum terbuka.
Tampak uterus aterm.
Identifikasi plika vesico uterina disisihkan ke kaudal, lalu insisi segmen
bawah rahim semilunar.
Bayi lahir dengan meluksur kepala dalam keadaan meninggal dengan berat
badan 2400 g, PB : 42 cm, JK : laki-laki, lalu injeksi uterus dengan oksitosin
Plasenta lahir lengkap kira-kira 500 g. Uterus dijahit 3 lapis, lalu dilakukan
tubektomi bilateral. Rongga abdomen dibersihkan, lalu dinding abdomen
dijahit lapis demi lapis. Kulit dijahit subkutikuler.
Terapi post operasi : Cefotaxim 1g/12 jam iv
Metronidazol 500 mg/8 jam iv
Kaltrofen supp/12 jam
B. Pembahasan Kasus Perdarahan Postpartum
ANALISA
Ny.T Umur 36 tahun P2A0Ah2 postpartum hari ke 7 dengan Curratage
Indikasi Retensio Sisa Plasenta.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahukan kepada ibu mengenai hasil pemeriksaan umum yang
dilakukan pada dirinya, meliputi tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi.
Evaluasi : Ibu mengatakan jelas dengan hasil pemeriksaan yang
diberitahukan yaitu keadaan umum ibu baik, tekanan darah 130/80 mmHg,
nadi 88 kali per menit, suhu 36,5oC, respirasi 20 kali per menit.
2. Melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan apa penyebab
perdarahan.
Evaluasi : Setelah dilakukan pemeriksaan dalam didapatkan hasil servik
terbuka satu jari longgar, tidak dapat dilalui tangan untuk mengambil sisa
plasenta, darah prongkol- prongkol (+), Jaringan sisa plasenta (+).
3. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa
perdarahan yang telah dialaminya disebabkan karena masih tertinggalnya
sisa plasenta.
Evaluasi : Ibu mengatakan takut jika terjadi sesuatu terhadap dirinya dan
ibu tampak gelisah , cemas serta berkeringat dingin.
4. Memberikan dukungan moril kepada ibu agar tetap tenang dan berdo’a.
Evaluasi : Ibu mengatakan sudah mulai agak tenang karena sudah
ditangani oleh bidan dan dokter secara cepat, serta selalu didampingi oleh
suami dan keluarganya.
5. Untuk mengatasi terjadinya syok akibat perdarahan telah dipasang infus
RL 20 tetes per menit.
Evaluasi : Infus sudah terpasang agar tetap menjaga pemenuhan cairan
pada ibu.
6. Memberikan O2 2 Liter per menit pada ibu
Evaluasi : Oksigen sudah terpasang dan Ibu mengatakan bisa bernafas
dengan lega setelah diberikan O2.
7. Meminta keluarga untuk menandatangani inform consent untuk tindakan
medis selanjutnya yaitu Kuretase.
Evaluasi : Ibu mengatakan keluarga bersedia menandatangani inform
consent tersebut.
8. Berkolaborasi dengan dokter spesialis OBSGYN, yaitu :
1) Rehidrasi atau cairan : Memasang infuse RL drip ergometrin 0,2 mg
1x1 amp 20 tpm.
2) Memberikan antibiotika : Amoxilin 500 mg 3x1 tablet
Asam mefenamat 500 mg 3x1 tablet
Evaluasi : Sudah dilakukan kolaborasi dengan dokter OBSGYN dan
ibu telah diberikan infus RL drip ergometrin 0,2 mg 20 tpm dan
pemberian antibiotika : Amoxilin 500 mg 3x1 tablet, Asam mefenamat
500 mg 3x1.
9. Menyiapkan alat kuretase, dan kuretase dilakukan oleh dokter spesialis
OBSGYN.
Evaluasi : Kuretase sudah dilakukan, hasil kesan kavum uteri sudah bersih,
sisa selaput plasenta sudah dikeluarkan.
10. Melakukan observasi keadaan umum ibu, TTV, observasi TFU dan
observasi perdarahan ibu.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah kehamilan 28
minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada perdarahan
kehamilan sebelum 28 minggu (Mochtar, 2012) sedangkan Perdarahan
postpartum (PPP) didefinisikan sebagai kehilangan 500 ml atau lebih darah
setelah persalinan pervaginam atau 1000 ml atau lebih setelah seksio sesaria (
WHO, 2012). Perdarahan antepartum disebabkan oleh plasenta previa, dan
solusio plaenta sedangkan perdarahan antepartum disebabkan oleh atonia
uteri, sisa plasenta, retensio plasenta, dan koagulasi.
B. Saran
Seorang bidan wajib memahami hal-hal berkatan dengan kegawatdaruratan
terutama perdarahan sebagai penyebab kematian tertinggi sehingga mampu
menangani pasien dengan perdarahan secara cepat,tepat dan akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes. 2015. Profil kesehatan Republik Indonesia. Depkes

www.depkes.go.id/../profil/Profil_KES_13.pdf. Diakes pada tanggal 22

Novemebr 2018

Mochtar, R. 2012. Sinopsis Obstetri jilid 1. Jakarta : ECG

Prawirodharjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka. Hlm 89

Cunningham, FG., et al. 2010. Obstetri Williams. Jakarta: EGC

Nugroho. 2012. Patologi Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika.

Saifuddin, AB, 2013. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal. Jakarta: EGC.

WHO., 2014. A Riview of Nutrition Policies. Geneva: World Health

Organization.(http://www.who.int/entity/nutrition.EB128_18_backroundpaper

1_A_review_of_nutritionpolicies.pdf, 23 Oktober 2018). Pp.

Manuaba,IBG. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan KB Untuk

Pendidikan Bidan Edisi 2. Jakarta:EGC

Hasdianah, HR., 2014. Gizi, Pemanfaatan Gizi, Diet, dan Obesitas.

Yogyakarta: Nuha Medika

Rohani.dkk.2011. Asuhan Pada Masa Persalinan. Jakarta : Salemba Medika.

Sondakh, Jenny J.S. 2013. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi BaruLahir.
Penerbit Erlangga.