Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN

TRAUMA ABDOMEN

Dosen Pembimbing : Sukesih, S. Kep., Ns. M. Kep.

Disusun Oleh Kelompok 5:


1) FITRIYA FITRI ANGGRAENI
2) M. PUTRA WIBOWO
3) SITI NUR AISYAH
4) WAHYU RAFLI JULIANSYAH
5) YOLLAWATI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS


TAHUN AJARAN 2018/2019
Jln. Ganesha I, Purwosari, Kudus 59316, Telp/Fax. +62 291 437 218
Website: www.umkudus.ac.id Email: sekretariat@umkudus.ac.id
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt. Atas limpahan ramat serta
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah asuhan keperawatan “Trauma
Abdomen” ini dengan lancar dan pada waktu yang telah ditentukan.
Dalam kesempatan ini tidak lupa kami ucapkan banyak trima kasih kepada
bapak/ibu Selaku dosen pembimbing dan kepada seluruh pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari kekurangan dan
kelemahan sehingga saran dan kritik diharapkan untuk menambah wawasan kami.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih dan mohon ma’af apabila ada
kekurangan atau kesalahan dalam mengerjakan tugas ini.
Kudus , 13 Maret 2019

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR ISI............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah....................................................................... 1
C. Tujuan......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian................................................................................. 3
B. Klasifikasi.......…….........................................................……. 3
C. Etiologi.......…….............................................................……. 4
A Manifestasi Klinis................................................................... 4
B Pathofisiologi…...................................................................... 5
C Pathway................................................................................... 6
D Pemeriksaan Penunjang.......................................................... 7
E Penatalaksanaan medis............................................................ 8
F Pengkajian....…...................................................................... 10
G Diagnosa……….................................................................... 12
H Intervensi………................................................................... 13

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan.................................................................................. 19
3.2 Saran............................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................……
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera. Trauma juga
mempunyai dampak psikologis dan sosial. Pada kenyataannya, trauma adalah kejadian yang
bersifat holistik dan dapat menyebabkan hilangnya produktivitas seseorang.
Pada pasien trauma, bagaimana menilai abdomen merupakan salah satu hal penting dan
menarik. Penilaian sirkulasi sewaktu primary survey harus mencakup deteksi dini dari
kemungkinan adanya perdarahan yang tersembunyi pada abdomen dan pelvis pada pasien
trauma tumpul. Trauma tajam pada dada di antara nipple dan perineum harus dianggap
berpotensi mengakibatkan cedera intra abdominal. Pada penilaian abdomen, prioritas maupun
metode apa yang terbaik sangat ditentukan oleh mekanisme trauma, berat dan lokasi trauma,
maupun status hemodinamik penderita.
Adanya trauma abdomen yang tidak terdeteksi tetap menjadi salah satu penyebab
kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Sebaiknya jangan menganggap bahwa ruptur organ
berongga maupun perdarahan dari organ padat merupakan hal yang mudah untuk dikenali.
Hasil pemeriksaan terhadap abdomen mungkin saja dikacaukan oleh adanya intoksikasi
alkohol, penggunaan obat-obat tertentu, adanya trauma otak atau medulla spinalis yang
menyertai, ataupun adanya trauma yang mengenai organ yang berdekatan seperti kosta, tulang
belakang, maupun pelvis.Setiap pasien yang mengalami trauma tumpul pada dada baik karena
pukulan langsung maupun deselerasi, ataupun trauma tajam, harus dianggap mungkin
mengalami trauma visera atau trauma vaskuler abdomen.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari Trauma Abdomen?
2. Apa saja klasifikasi dari Trauma Abdomen?
3. Apa saja etiologi dari Trauma Abdomen?
4. Apa saja manifestasi klinik Trauma Abdomen?
5. Bagaimana Pathofisiologi dari Trauma Abdomen?
6. Bagimana pohon masalah Trauma Abdomen?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang Trauma Abdomen?
8. Bagaimana penatalaksanaan Trauma Abdomen?
9. Bagaimana pengaplikasian Asuhan Keperawatan Trauma Abdomen?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian dari Trauma Abdomen
2. Untuk mengetahui klasifikasi dari Trauma Abdomen
3. Untuk mengetahui etiologi dari Trauma Abdomen
4. Untuk mengetahui manifestasi klinik Trauma Abdomen
5. Untuk mengetahui Pathofisiologi dari Trauma Abdomen
6. Untuk mengetahui pohon masalah Trauma Abdomen
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang Trauma Abdomen
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan Trauma Abdomen
9. Untuk mengetahui pengaplikasian Asuhan Keperawatan Trauma Abdomen

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Trauma abdomen didefinisikan sebagai trauma yang melibatkan daerah antara diafragma atas
dan panggul bawah (Guilon, 2011).

Trauma adalah cedera/rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional


Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan
emosional yang hebat.

Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun.
Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan
tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2011).

Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus
serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2010).

B. KLASIFIKASI
Menurut Fadhilakmal (2013), Trauma pada dinding abdomen terdiri dari :
1. Kontusio dinding abdomen
Disebabkan trauma non-penetrasi. Kontusio dinding abdomen tidak terdapat cedera intra
abdomen, kemungkinan terjadi eksimosis atau penimbunan darah dalam jaringan lunak
dan masa darah dapat menyerupai tumor.
2. Laserasi
Jika terdapat luka pada dinding abdomen yang menembus rongga abdomen harus di
eksplorasi. Atau terjadi karena trauma penetrasi. Trauma Abdomen adalah terjadinya atau
kerusakan pada organ abdomen yang dapat menyebabkan perubahan fisiologi sehingga
terjadi gangguan metabolisme, kelainan imonologi dan gangguan faal berbagai organ.

Trauma abdomen pada isi abdomen, menurut Suddarth & Brunner (2002) terdiri dari:
1. Perforasi organ viseral intraperitoneum
Cedera pada isi abdomen mungkin di sertai oleh bukti adanya cedera pada dinding
abdomen.
2. Luka tusuk (trauma penetrasi) pada abdomen
Luka tusuk pada abdomen dapat menguji kemampuan diagnostik ahli bedah.
3. Cedera thorak abdomen
Setiap luka pada thoraks yang mungkin menembus sayap kiri diafragma, atau sayap kanan
dan hati harus dieksplorasi

C. ETIOLOGI
Menurut smaltzer (2009), penyebab trauma abdomen dapat terjadi karena kecelakaan lalu
lintas, penganiayaan, kecelakaan olahraga dan terjatuh dari ketinggian. Penyebab trauma
yang lainnya sebagai berikut:
1. Penyebab trauma penetrasi
a) Luka akibat terkena tembakan
b) Luka akibat tikaman benda tajam
c) Luka akibat tusukan
2. Penyebab trauma non-penetrasi
a) Terkena kompresi atau tekanan dari luar tubuh
b) Hancur (tertabrak mobil)
c) Terjepit sabuk pengaman karna terlalu menekan perut
d) Cidera akselerasi / deserasi karena kecelakaan olah raga

D. MANIFESTASI KLINIS
Pada kasus trauma abdomen ini bias menimbulkan manifestasi klinis meliputi : nyeri tekan
diatas daerah abdomen, distensi abdomen, demam, anorexia, mual dan muntah,takikardi,
peningkatan suhu tubuh, nyeri spontan.
Pada trauma non-penetrasi (tumpul) pada trauma non-penetrasi biasanya terdapat adanya :
1. Jejas atau ruktur dibagian dalam abdomen
2. Terjadi perdarahan intra abdominal
3. Apabila terkena usus, mortilisasi usus terganggu sehingga fungsi usus tidak normal dan
biasanya akan mengakibatkan peritonitis dengan gejala mual, muntah, dan BAB hitam
(melena)
4. Kemungkinan bukti klinis tidak tampak sampai beberapa jam setelah trauma
5. Cedera serius dapat terjadi walaupun tak terlihat tanda kontusio pada dinding abdomen
Pada trauma penetrasi biasanya terdapat :
1. Terdapat luka robekan pada abdomen
2. Luka tusuk sampai menembus abdomen
3. Penanganan yang kurang tepat biasanya memperbanyak perdarahan/ memperparah
keadaan
4. Biasanya organ yang terkena penetrasi bias keluar dari dalam abdomen

E. PATOFISIOLOGI
Menurut Fadhilakmal (2013), Bila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada tubuh manusia
(akibat kecelakaan lalulintas, penganiayaan, kecelakaan olah raga dan terjatuh dari
ketinggian), maka beratnya trauma merupakan hasil dari interaksi antara faktor – faktor
fisik dari kekuatan tersebut dengan jaringan tubuh. Berat trauma yang terjadi berhubungan
dengan kemampuan obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh.

Pada tempat benturan karena terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan tubuh yang
akan menimbulkan disrupsi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari permukaan yang
menghentikan tubuh juga penting. Trauma juga tergantung pada elastitisitas dan viskositas
dari jaringan tubuh. Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk kembali pada keadaan
yang sebelumnya. Viskositas adalah kemampuan jaringan untuk menjaga bentuk aslinya
walaupun ada benturan. Toleransi tubuh menahan benturan tergantung pada kedua keadaan
tersebut.. Beratnya trauma yang terjadi tergantung kepada seberapa jauh gaya yang ada akan
dapat melewati ketahanan jaringan. Komponen lain yang harus dipertimbangkan dalam
beratnya trauma adalah posisi tubuh relatif terhadap permukaan benturan. Hal tersebut dapat
terjadi cidera organ intra abdominal yang disebabkan beberapa mekanisme:
1. Meningkatnya tekanan intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh gaya tekan dari
luar seperti benturan setir atau sabuk pengaman yang letaknya tidak benar dapat
mengakibatkan terjadinya ruptur dari organ padat maupun organ berongga.
2. Terjepitnya organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior dan vertebrae atau
struktur tulang dinding thoraks.
3. Terjadi gaya akselerasi – deselerasi secara mendadak dapat menyebabkan gaya robek
pada organ dan pedikel vaskuler.

F. PATHWAY

Trauma (kecelakaan)

Penetrasi & Non-Penetrasi

Terjadi perforasi lapisan abdomen (kontusio, laserasi, jejas, hematom)

Menekan saraf peritonitis

Terjadi perdarahan jar.lunak dan rongga abdomen

Nyeri

Motilitas usus

Disfungsi usus

Resiko infeksi

Refluks usus output cairan berlebih

Gangguan cairan Nutrisi kurang dari dan eloktrolit kebutuhan tubuh



Kelemahan fisik

Gangguan mobilitas fisik (Sumber : Mansjoer,2001)

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. FotoThoraks
Untuk melihat adanya trauma pada thorax.
2. DR
Pemeriksaan Hb diperlukan untuk base-line data bila terjadi perdarahan terus menerus.
Demikian pula dengan pemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan leukosit yang melebihi
20.000/mm tanpa terdapatnya infeksi menunjukkan adanya perdarahan cukup banyak
kemungkinan ruptura lienalis. Serum amilase yang meninggi menunjukkan
kemungkinan adanya trauma pankreas atau perforasi usus halus. Kenaikan transaminase
menunjukkan kemungkinan trauma pada hepar.
3. Plain Abdomen Foto Tegak
Memperlihatkan udara bebas dalam rongga peritoneum, udara bebas retroperineal dekat
duodenum, corpus alineum dan perubahan gambaran usus.
4. Pemeriksaan Urin Rutin
Menunjukkan adanya trauma pada saluran kemih bila dijumpai hematuri. Urine yang
jernih belum dapat menyingkirkan adanya trauma pada saluran urogenital.
5. VP (Intravenous Pyelogram)
Karena alasan biaya biasanya hanya dimintakan bila ada persangkaan trauma pada
ginjal.
6. Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL)
Dapat membantu menemukan adanya darah atau cairan usus dalam rongga perut.
Hasilnya dapat amat membantu. Tetapi DPL ini hanya alat diagnostik. Bila ada
keraguan, kerjakan laparatomi (gold standard).

Indikasi untuk melakukan DPL sbb :


a. Nyeri Abdomen yang tidak bisa diterangkan sebabnya
b. Trauma pada bagian bawah dari dada
c. Hipotensi, hematokrit turun tanpa alasan yang jelas
d. Pasien cedera abdominal dengan gangguan kesadaran (obat,alkohol, cedera otak)
e. Pasien cedera abdominal dan cedera medula spinalis (sumsum tulang belakang,
Kontra indikasi relatif melakukan DPL sbb :
a. Pernah operasi abdominal.
b. Wanita hamil
c. Operator tidak berpengalaman.
d. Bila hasilnya tidak akan merubah penata-laksanaan.
e. Ultrasonografi dan CT-Scan Bereuna sebagai pemeriksaan tambahan pada penderita
yang belum dioperasi dan disangsikan adanya trauma pada hepar dan
retroperitoneum.

H. PENATALAKSANAAN

1. Abdominal paracentesis menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritonium,


merupakan indikasi untuk laparotomi
2. Pemasangan NGT memeriksa cairan yang keluar dari lambung pada trauma abdomen
3. Pemberian antibiotik mencegah infeksi
4. Pemberian antibiotika IV pada penderita trauma tembus atau pada trauma tumpul bila
ada persangkaan perlukaan intestinal.
5. Penderita dengan trauma tumpul yang terkesan adanya perdarahan hebat yang
meragukan kestabilan sirkulasi atau ada tanda-tanda perlukaan abdomen lainnya
memerlukan pembedahan
6. Prioritas utama adalah menghentikan perdarahan yang berlangsung. Gumpalan kassa
dapat menghentikan perdarahan yang berasal dari daerah tertentu, tetapi yang lebih
penting adalah menemukan sumber perdarahan itu sendiri
7. Kontaminasi lebih lanjut oleh isi usus harus dicegah dengan mengisolasikan bagian usus
yang terperforasi tadi dengan mengklem segera mungkin setelah perdarahan teratasi

Penanganan kegawat daruratan


1. Stop makanan dan minuman
2. Imobilisasi
3. Kirim ke Rumah Sakit

Penanganan awal
1. Trauma penetrasi (trauma tajam)
a) Bila terjadi luka tusuk ( pisau atau benda tajam lainnya), maka tusukan tidak boleh
dicabut kecuali dengan adanya tim medis.
b) Penanganannya bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan kain kassa pada
daerah antara pisau untuk memfiksasi pisau sehingga tidak memperparah luka.
c) Bila ada usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut tidak dianjurkan
dimasukkan kembali ke dalam tubuh, kemudian organ yang keluar dari dalam
tersebut dibalut dengan kain bersih atau bila ada dengan verban steril.
d) Immobilisasi pasien
e) Tidak dianjurkan memberi makan dan minum
f) Apabila ada lika terbuka lainnya maka balut luka dengan menekang.
g) Sesegera mungkin bawa pasien tersebut ke rumah sakit.
2. Trauma penetrasi
a) Bila ada dugaan bahwa ada luka tembus dinding abdomen, seorang ahli bedah yang
berpengalaman akan memeriksa lukanya secara lokal untuk menentukan dalamnya
luka. Pemeriksaan ini sangat berguna bila ada luka masuk dan luka keluaryang
berdekatan.
b) Skrining pemeriksaan rontgen.
c) Foto rontgen torak tegak berguna untuk menyingkirkan kemungkinan hemo atau
pneumotoraks atau untuk menemukan adanya udara intraperitonium. Serta rontgen
abdomen sambil tidur (supine) untuk menentukan jalan peluru atau adanya udara
retroperitoneum.
d) IVP atau Urogram Excretory dan CT Scanning dilakukan untuk mengetahui jenis
cidera yang ada.
e) Uretrografi dilakukan untuk mengetahui adanya rupture uretra.
f) Sistografi ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya cedera pada kandung
kencing, contohnya pada fraktur pelvis.
3. Trauma non-penetrasi
a) Penanganan pada trauma benda tumpul di rumah sakit.
b) Pengambilan contoh darah dan urin
c) Darah diambil dari salah satu vena permukaan untuk pemeriksaan laboratorium rutin,
dan juga untuk pemeriksaan laboratorium khusus seperti pemeriksaan darah lengkap,
potasium, glukosa, amilase dan sebagainya.
d) Pemeriksaan rontgen
e) Pemeriksaan rontgen servikal lateral, toraks anteroposterior dan pelvis adalah
pemeriksaan yang harus di lakukan pada penderita dengan multi trauma, mungkin
berguna untuk mengetahui udara ekstraluminal di retroperitonium atau udara bebas
di bawah diafragma, yang keduanya memerlukan laparatomi segera.
f) Studi kontras Urologi dan Gastrointestinal
g) Dilakukan pada cedera yang meliputi daerah duodenum, kolon ascendens atau
decendens dan dubur.
I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
Menurut krisanty, (2009) pengkajiandan diagnose secara teoritis yaitu:
1. Pengkajian
a) Pengkajian primer
Pengkajian yang dilakukan untuk menentukan masalah yang mengancam nyawa,
harus mengkaji dengan cepat apa yang terjadi di lokasi kejadian. Paramedik mungkin
harus melihat. Apabila sudah ditemukan luka tikaman, luka trauma benda lainnya,
maka harus segera ditangani, penilaian awal dilakukan prosedur ABC jika ada
indikasi, jika korban tidak berespon, maka segera buka dan bersihkan jalan napas.
1) Airway, dengan Kontrol Tulang Belakang, membuka jalan napas menggunakan
teknik ’head tilt chin lift’ atau menengadahkan kepala dan mengangkat dagu,
periksa adakah benda asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya jalan napas.
Muntahan, makanan, darah atau benda asing lainnya.
2) Breathing, dengan ventilasi yang adekuat, memeriksa pernapasan dengan
menggunakan cara ’lihat-dengar-rasakan’ tidak lebih dari 10 detik untuk
memastikan apakah ada napas atau tidak, selanjutnya lakukan pemeriksaan status
respirasi korban (kecepatan, ritme dan adekuat tidaknya pernapasan).
3) Circulation, dengan kontrol perdarahan hebat, jika pernapasan korban tersengal-
sengal dan tidak adekuat, makabantuan napas dapat dilakukan. Jika tidak ada
tanda-tanda sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru segera. Rasio kompresi dada
dan bantuan napas dalam RJP adalah 15 : 2 (15 kali kompresi dada dan 2 kali
bantuan napas.
b) Pengkajian skunder
1) pengkajian fisik
a. Inspeksi
 Harus teliti, meteorismus, darm contour, darm steifung, adanya tumor,
dilatasi vena, benjolan di tempat terjadi hernia, dll
 Sikap penderita pada peritonitis : fleksi artic. coxae dan genue
sehingga melemaskan dinding perut dan rasa sakit

b. Palpasi
 Diperhatikan adanya distensi perut, defans muskuler, sakit tekan
titik McBurney, iliopsoas sign, obturator sign, rovsing sign, rebound
tenderness.
 Rectal toucher : untuk menduga kausa ileus mekanik, invaginasi,
tumor, appendikuler infiltrate.
 Pemeriksaan vaginal
c. Perkusi
 Penting untuk menilai adanya massa atau cairan intra abdominal
d. Auskultasi
 Harus sabar dan teliti
 Borboryghmi, metalic sound pada ileus mekanik
 Silent abdomen pada peritonitis / ileus paralitik.
c) Pengkajian pada trauma abdomen
1) Trauma Tembus abdomen
a. Dapatkan riwayat mekanisme cedera ; kekuatan tusukan/tembakan ; kekuatan
tumpul (pukulan).
b. Inspeksi abdomen untuk tanda cedera sebelumnya : cedera tusuk, memar, dan
tempat keluarnya peluru.
c. Auskultasi ada/tidaknya bising usus dan catat data dasar sehingga perubahan
dapat dideteksi. Adanya bising usus adalah tanda awal keterlibatan
intraperitoneal jika ada tanda iritasi peritonium, biasanya dilakukan laparatomi
(insisi pembedahan kedalam rongga abdomen).
d. Kaji pasien untuk progresi distensi abdomen, gerakkan melindungi, nyeri
tekan, kekakuan otot atau nyeri lepas, penurunan bising usus, hipotensi dan
syok.
e. Kaji cedera dada yang sering mengikuti cedera intra-abdomen, observasi
cedera yang berkaitan.
f. Catat semua tanda fisik selama pemeriksaan pasien.
2) Trauma tumpul abdomen
a. Metode cedera.
b. Waktu awitan gejala.
c. Lokasi penumpang jika kecelakaan lalu lintas (sopir sering menderita ruptur
limpa atau hati). Sabuk keselamatan digunakan/tidak, tipe restrain yang
digunakan.
d. Waktu makan atau minum terakhir.
e. Kecenderungan perdarahan.
f. Penyakit danmedikasi terbaru.
g. Riwayat immunisasi, dengan perhatian pada tetanus.
h. Alergi, lakukan pemeriksaan cepat pada seluruh tubuh pasienuntuk mendeteksi
masalah yang mengancam kehidupan.

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan
2. Nyeri berhubungan dengan adanya trauma abdomen atau luka penetrasi abdomen.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan, tidak adekuatnya pertahanan
tubuh
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan fisik
5. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang kurang.

K. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


No Diagnosa Tujuan & KH Intervensi Rasional
Keperawatan
1 Kekurangan Setelah 1. Kaji tanda-tanda 1. untuk
volume cairan dilakukan vital. mengidentifika
b/d perdarahan tindakan si defisit
keperawatan 2. Pantau cairan volume cairan.
1x24 jam, parenteral dengan 2. mengidentifi
volume cairan elektrolit, antibiotik kasi keadaan
tidak mengalami dan vitamin perdarahan,
kekurangan. serta Penuruna
n sirkulasi
KH: volume cairan
* Intake dan menyebabkan
output seimbang 3. Kaji tetesan infus. kekeringan
* Turgor kulit mukosa dan
baik 4. Kolaborasi : pemekatan
* Perdarahan (-) Berikan cairan urin. Deteksi
parenteral sesuai dini
indikasi. memungkinka
5. Cairan parenteral ( n terapi
IV line ) sesuai pergantian
dengan umur. cairan segera.
6. Pemberian 3. awasi tetesan
tranfusi darah. untuk
mengidentifika
si kebutuhan
cairan.
4. cara
parenteral
membantu
memenuhi
kebutuhan
nuitrisi tubuh.
5. Mengganti
cairan dan
elektrolit
secara adekuat
dan cepat.
6. menggantika
n darah yang
keluar.

2 Nyeri b/d Setelah 1. Kaji karakteristik 1. Mengetahui


. adanya trauma dilakukan nyeri. tingkat nyeri
abdomen atau tindakan 2. Beri posisi semi klien.
luka penetrasi keperawatan fowler. 2. Mengurngi
abdomen. 1x24 jam, Nyeri 3. Anjurkan tehnik kontraksi
klien teratasi. manajemen nyeri abdomen
seperti distraksi 3. Membantu
KH: 4. Managemant mengurangi
 Skala nyeri lingkungan yang rasa nyeri
0 nyaman. dengan
 Ekspresi 5. Kolaborasi pembe mengalihkan
tenang. rian analgetik sesuai perhatian
indikasi. 4. lingkungan
yang nyaman
dapat
memberikan
rasa nyaman
klien
5. analgetik
membantu
mengurangi
rasa nyeri.

3 Resiko infeksi Setelah 1. Kaji tanda-tanda 1. Mengidentifi


. b/d tindakan dilakukan infeksi. kasi adanya
pembedahan, tindakan resiko infeksi
tidak keperawatan 2. Kaji keadaan luka. lebih dini.
adekuatnya 1x24 jam, infeksi 2. Keadaan
pertahanan tidak terjadi. 3. Kaji tanda-tanda luka yang
tubuh. vital. diketahui lebih
KH: awal dapat
* Tanda-tanda 4. Lakukan cuci mengurangi
infeksi (-) tangan sebelum resiko
* Leukosit kntak dengan infeksi.
5000-10.000 pasien. 3. Suhu tubuh
mm3 5. Lakukan naik dapat di
pencukuran pada indikasikan
area operasi (perut adanya proses
kanan bawah infeksi.
6. Perawatan luka 4. Menurunkan
dengan prinsip resiko
sterilisasi. terjadinya
7. Kolaborasi kontaminasi
pemberian mikroorganism
antibiotik e.
5. Dengan
pencukuran
klien terhindar
dari infeksi
post operasi
6. Teknik
aseptik dapat
menurunkan
resiko infeksi
nosokomial
7. Antibiotik
mencegah
adanya infeksi
bakteri dari
luar.
4 Gangguan Setelah 1. Kaji kemampuan 1. identifikasi
. mobilitas fisik dilakukan pasien untuk kemampuan
berhubungan tindakan bergerak. klien dalam
dengan keperawatan 2. Dekatkan mobilisasi.
kelemahan fisik 1x24 peralatan yang 2. meminimalis
jam, diharapkan dibutuhkan pasien. ir pergerakan
dapat bergerak 3. Berikan latihan kien.
bebas. gerak aktif pasif. 3. melatih otot-
4. Bantu kebutuhan otot klien.
KH: pasien. 4. membantu
 Mempertahan 5. Kolaborasi dalam
kan mobilitas dengan ahli mengatasi
optimal fisioterapi. kebutuhan
dasar klien.
5. terapi
fisioterapi
dapat
memulihkan
kondisi klien.

5 Gangguan Setelah 1. Ajarkan dan bantu 1. Keletihan


. nutrisi kurang dilakukan klien untuk istirahat berlanjut
dari kebutuhan tindakan sebelum makan menurunkan
tubuh b/d keperawatan 2. Awasi pemasukan keinginan
intake yang 1x24 jam, nutrisi diet/jumlah kalori, untuk makan.
kurang. klien terpenuhi. tawarkan makan 2. Adanya
KH: sedikit tapi sering pembesaran
 Nafsu makan dan tawarkan pagi hepar dapat
meningkat paling sering. menekan
 BB 3. Pertahankan saluran gastro
Meningkat hygiene mulut yang intestinal dan
 Klien tidak baik sebelum menurunkan
lemah makan dan sesudah kapasitasnya.
makan .
4. Anjurkan makan 3. Akumula
pada posisi duduk si partikel
tegak. makanan di
5. Berikan diit tinggi mulut dapat
kalori, rendah menambah
lemak baru dan rasa
tak sedap yang
menurunkan
nafsu makan.
4. Menurun
kan rasa penuh
pada abdomen
dan dapat
meningkatkan
pemasukan.
5. Glukosa
dalam
karbohidrat
cukup efektif
untuk
pemenuhan
energi,
sedangkan
lemak sulit
untuk
diserap/dimeta
bolisme
sehingga akan
membebani
hepar.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Trauma perut merupakan luka pada isi rongga perut dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya
dinding perut dimana pada penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan dapat pula
dilakukan tindakan laparatomi
B. SARAN
Lingkup keperawatan adalah mencakup seluruh organ dalam tubuh manusia, tidak
terkecuali abdomen atau sistem gastro intestinal. Aktivitas hidup sehari-hari seorang
manusia memungkinkan untuk beresiko cedera atau trauma, sebagai seorang perawat kita
maka bertanggung jawab besar terhadap klien yang mengalami trauma ataupun cedera pada
abdomen. Maka dari itu, semoga hadirnya makalah ini dapat menjadi acuan ataupun bahan
referensi untuk mata kuliah keperawatan gawat darurat ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Guilon, F. 2011. Epidemiology of abdominal trauma. in: CTof the Acute Abdomen. London:
Springer.
2. Heater Herdman, T. 2015. NANDA internasional Inc. nursing : definition & classification
2015-2017. Jakarta: EGC
3. Dorland, W. A. Newman. 2012. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
4. Smeltzer, Suzanne C. 2011. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3.
EGC : Jakarta.