Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Attention Deficit Hyperaktivity Disorder (ADHD) dicirikan dengan tingkat
gangguan perhatian, impulsivitas dan hiperaktivitas yang tidak sesuai dengan
tahap perkembangan dan gangguan ini dapat terjadi disekolah maupun di rumah
(Isaac, 2005). Sindroma hiperaktivitas merupakan istilah gangguan kekurangan
perhatian menandakan gangguan-gangguan sentral yang terdapat pada anak-
anak, yang sampai saat ini dicap sebagai menderita hiperaktivitas, hiperkinesis,
kerusakan otak minimal atau disfungsi serebral minimal. (Nelson, 1994).
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, Edisi ke-4
(American Psychiatric Association, 1994) Gejala gangguan pemusatan
perhatian atau hiperaktivitas mulai tampak pada anak usia awitan rata-rata 3-4
tahun.

Gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas dijumpai pada anak usia


pra sekolah sampai remaja, bahkan berlanjut sampai usia dewasa, namun
sebagian besar masyarakat di Indonesia belum disadari dan menganggap
gangguan tersebut sebagai sifat buruk yang tidak diterima oleh lingkungannya.
Anak dengan gangguan pemusatan perhatian atau hiperaktivitas menunjukkan
ciri gejala utama yaitu aktivitas yang berlebihan, tidak dapat diam, selalu
bergerak, tidak mampu memusatkan perhatian dan menujukkan impulsivitas.
Gangguan ini adalah gangguan biologis pada fungsi otak yang bersifat kronis,
yang mengakibatkan respon motorik, pemusatan perhatian, pemrosesan
informasi dan persepsi tidak sesuai dengan perkembangan usia anak. (Barkley,
1998)
Apabila gangguan ini tidak mendapat intervensi sejak dini maka akan
mengakibat masalah psikososial yang lebih buruk, seperti kesulitan belajar,
prestasi belajar buruk, gagal sekolah, penyalahgunaan narkotika, alcohol dan
zat adiktif lain, gangguan tingkah laku (kenakalan, perbuatan criminal),

1
kesulitan penyesuaian diri dirumah ataupun sekolah dan konflik dalam
keluarga. Konflik dalam keluarga biasanya dapat menyebabkan kecelakaan dan
terluka.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Konsep Teori Anak Dengan Hiperaktif?
2. Bagaimana Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Anak Dengan
Hiperaktif?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui Bagaimana Konsep Teori Anak Dengan Hiperaktif.
2. Mengetahui Bagaimana Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Anak Dengan Hiperaktif.

1.4 Manfaat
Menambah wawasan pembaca mengenai konsep teori anak dengan
hiperaktif.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Anak Dengan ADHD


Pengertian
Sindroma hiperaktivitas merupakan istilah gangguan kekurangan
perhatian menandakan gangguan-gangguan sentral yang terdapat pada
anak-anak, yang sampai saat ini dicap sebagai menderita hiperaktivitas,
hiperkinesis, kerusakan otak minimal atau disfungsi serebral minimal.
(Nelson, 1994) Hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku yang
menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau
diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau
impulsif. (Dr. Seto Mulyadi dalam bukunya “Mengatasi Problem Anak
Sehari-hari“) Hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal,
disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu
memusatkan perhatian. (Sani Budiantini Hermawan, Psi.,)
Ada tiga tipe anak hiperaktif yaitu :
a. Tipe anak yang tidak bisa memusatkan perhatian (in-atensi)
Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, tetapi tidak
hiperaktif atau Impulsif. Mereka tidak menunjukkan gejala
hiperaktif. Tipe ini kebanyakan ada pada anak perempuan. Anak
dalam tipe ini memiliki ciri-ciri : tidak mampu memusatkan
perhatian secara utuh, tidak mampu mempertahankan konsentrasi,
mudah beralih perhatian dari satu hal ke lain hal, sering melamun
dan dapat digambarkan sedang berada “diawang-awang”, tidak bisa
diajak bicara atau menerima instruksi karena perhatiannya terus
berpindah-pindah, pelupa dan kacau.
b. Tipe anak yang hiperaktif dan impulsive.
Mereka menunjukkan gejala yang sangat hiperaktif dan impulsif,
tetapi bisa memusatkan perhatian. Tipe ini seringkali ditemukan
pada anak- anak kecil. Anak dalam tipe ini memiliki ciri-ciri berikut:

3
terlalu energik, lari ke sana kemari, melompat seenaknya, memanjat-
manjat, banyak bicara, berisik. Ia juga impulsif: melakukan sesuatu
secara tak terkendali, begitu saja bertindak tanpa pertimbangan, tak
bisa menunda respons, tidak sabaran. Tetapi yang mengherankan,
sering pada saat belajar, ia menampakkan tidak perhatian, tetapi
ternyata ia bisa mengikuti pelajaran.
c. Tipe gabungan (kombinasi)
Mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, hiperaktif dan
impulsif. Kebanyakan anak-anak termasuk tipe seperti ini. Anak
dalam tipe ini mempunyai ciri-ciri berikut: kurang mampu
memperhatikan aktivitas dan mengikuti permainan atau
menjalankan tugas, perhatiannya mudah terpecah, mudah berubah
pendirian, selalu aktif secara berlebihan dan impulsif.
Jadi yang dimaksud dengan hiperaktif adalah suatu pola perilaku
pada seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak terkendali,
tidak menaruh perhatian dan impulsif (bertindak sekehendak hatinya). Anak
hiperaktif selalu bergerak dan tidak pernah merasakan asyiknya permainan
atau mainan yang disukai oleh anak-anak lain seusia mereka, dikarenakan
perhatian mereka suka beralih dari satu fokus ke fokus yang lain. Mereka
seakan-akan tanpa henti mencari sesuatu yang menarik dan mengasikkan
namun tidak kunjung datang.

2.2 Etiologi
1) Faktor neurologik
Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir
dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses
persalinan, distresfetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep,
toksimiagravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan
dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi
yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu
yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden
hiperaktif. Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor

4
etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut
adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak
yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna
untuk memelihara proses konsentrasi. Beberapa studi menunjukkan
terjadinya gangguan perfusi darah di daerah tertentu pada anak
hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbital-prefrontal, daerah
orbital-limbik otak, khususnya sisi sebelah kanan.

NEUROTRANS
MITER

2) Faktor toksik
Beberapa zat makanan yang berbahan pengawet memiliki potensi
untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu,
kadar timah (lead) dalam serum darah anak yang meningkat, ibu
yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat
hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.

3) Faktor genetik
Adanya hubungan antara faktor genetik dan penyebab gangguan
ADHD, yaitu pada anak laki-laki dengan kelebihan kromosom Y
(XYY) menunjukkan peningkatan kejadian hiperaktivitas yang
menyertai kemampuan verbal dan performance rendah. Sedangkan
pada anak perempuan dengan jumlah kromosom 45, menunjukkan
kesulitan memusatkan perhatian dan kesulitan menulis serta

5
menggambar ulang. Sebagian besar anak penderita gangguan
ADHD mengalami retardasi mental. Masalah kesulitan memusatkan
perhatian dan kesulitan belajar diakibatkan adanya kecacatan
genetik, namun belum dapat dibuktikan penyebab gangguan ini
adalah adanya kromosom abnormal. Hal ini juga terjadi pada
saudara kembar (Barkley, 1998)
4) Faktor psikososial dan lingkungan
Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap
keliru antara orang tua dengan anaknya.

2.3 Patofisiologi
Kurang konsentrasi/gangguan hiperaktivitas ditandai dengan gangguan
konsentrasi, sifat impulsif, dan hiperaktivitas. Tidak terdapat bukti yang
meyakinkan tentang sesuatu mekanisme patofisiologi ataupun gangguan
biokimiawi.
Penelitian “neuroimaging” pada anak ADHD tak selalu memberikan
hasil yang konsisten, pada tahun 2008 hasil neuroimagingnya hanya
digunakan untuk penelitian, bukan untuk membuat diagnosa. Hasil
penelitian “neuroimaging”, neuropsikologi genetik dan neurokimiawi
mendapatkan ada 4 area frontostriatal yang memainkan peran patofsiologi
ADHD yakni : korteks prefrontal lateral, korteks cingulate dorsoanterior,
kaudatus dan putamen.
Pada sebuah penelitian anak ADHD ada kelambatan perkembangan
struktur otak tertentu rata-rata pada usia 3-4 tahun, di mana gejala ADHD
terjadi pada usia sekolah dasar. Kelambatan perkembangan terutama pada
lobus temporal dan korteks frontalis yang dipercaya bertanggung jawab
pada kemampuan mengontrol dan memusatkan proses berpikirnya.
Sebaliknya, korteks motorik pada anak hiperaktif terlihat berkembang
lebih cepat matang daripada anak normal, yang mengakibatkan adanya
perkembangan yang lebih lambat dalam mengontrol tingkah lakunya,
namun ternyata lebih cepat dalam perkembangan motorik, sehingga tercipta
gejala tak bisa diam, yang khas pada anak ADHD. Hal ini menjadi alasan

6
bahwa pengobatan stimulansia akan mempengaruhi faktor pertumbuhan
dari susunan saraf pusat.

2.4 Manifestasi klinis


Menurut Isaac (2005) anak dengan ADHD atau attention
Deficit Hyperactivity Disorder mempunyai ciri-ciri anrtara lain:
1. Sulit memberikan perhatian pada hal-hal kecil.
2. Melakukan kesalahan yang ceroboh dalam pekerjaan sekolah.
3. Sulit berkonsentrasi pada satu aktivitas.
4. Berbicara terus, sekalipun pada saat yang tidak tepat.
5. Berlari-lari dengan cara yang disruptif ketika diminta untuk
duduk atau diam.
6. Terus gelisah atau menggeliat.
7. Sulit menunggu giliran.
8. Mudah terdistraksi oleh hal-hal yang terjadi di sekelilingnya.
9. Secara impulasif berkata tanpa berpikir dalam menjawab
pertanyaan.

7
10. Sering salah menempatkan tugas-tugas sekolah, buku atau
mainan.
11. Tampak tidak mendengar, sekalipun diajak berbicara secara
langsung.

2.5 Pemeriksaan Penunjang


Menurut Doenges, 2007 pemeriksaan diagnostic yang dilakukan pada
anak dengan ADHD antara lain :
a. Pemeriksaan Tiroid : dapat menunjukkan gangguan hipertiroid atau
hipotiroid yang memperberat masalah.
b. Tes neurologist (misalnya elektroensefalografi (EEG), auditory
evoked potential (ERP)) menentukan adanya gangguan otak organic.
c. Tes psikologis sesuai indikasi : menyingkirkan adanya gangguan
ansietas, mengidentifikasi bawaan, retardasi borderline atau anak
tidak mampu belajar dan mengkaji responsivitas social dan
perkembangan bahasa.
d. Pemeriksaan diagnostic individual bergantung pada adanya gejala
fisik (misalnya ruam, penyakit saluran pernapasan atas, atau gejala
alergi lain, infeksi SSP).
e. Pemeriksaan darah : Ditemukan toksin dalam darah penderita
ADHD.

Selain itu ilakukan skrining DDTK pada anak pra sekolah dengan
ADHD :
Tujuannya adalah untuk mengetahui secara dini anak adnya Gangguan
Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada anak umur 36 bulan
ke atas.

Jadwal deteksi dini GPPH pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi
atau bila ada keluhan dari orang tua/pengasuh anak atau ada kecurigaan
tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PADU, pengelola TPA,

8
dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan
di bawah ini :
a. Anak tidak bisa duduk tenang
b. Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal lelah
c. Perubahan suasan hati yang yang mendadak/impulsive

Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan


Perhatian dan Hiperaktivitas / GPPH (Abbreviated Conners Ratting Scale)
yaitu Formulir yang terdiri dari 10 pertanyaan yang ditanyakan kepada
orangtua / pengasuh anak / guru TK dan pertanyaan yang perlu pengamatan
pemeriksa.

Cara menggunakan formulir deteksi dini GPPH :


a. Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu
perilaku yang tertulis pada formulir deteksi dini GPPH. Jelaskan
kepada orangtua / pengasuh anak untuk tidak ragu-ragu atau takut
menjawab.
b. Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan pertanyaan
pada formulir deteksi dini GPPH.
c. Keadaan yang ditanyakan/diamati ada pada anak dimanapun anak
berada, misal ketika di rumah, sekolah, pasar, took, dll. Setiap saat
dan ketika anak dengan siapa saja.
d. Catat jawaban dan hasil pengamatan perilaku anak selama
dilakukan pemeriksaan. Teliti kembali apakah semua pertanyaan
telah dijawab.

FORMULIR DETEKSI DINI GANGGUAN PEMUSATAN


PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS (GPPH)
(Abbreviated Conners Ratting Scale)
Kegiatan Yang Diamati 0 1 2 3
1. Tidak kenal lelah, atau aktivitas yang
berlebihan
2. Mudah menjadi gembira, impulsive
3. Menganggu anak-anak lain

9
4. Gagal menyelesaikan kegiatan yang
telah dimulai, rentang perhatian pendek
5. Menggerak-gerakkan anggota badan
atau kepala secara terus-menerus
6. Kurang perhatian, mudah teralihkan
7. Permintaannya harus segera dipenuhi,
mudah menjadi frustasi
8. Sering dan mudah menangis
9. Suasana hatinya mudah berubah dengan
cepat dan drastik
10. Ledakkan kekesalan, tingkah laku
eksplosif dan tak terduga.

Jumlah
Nilai Total

Interpretasi :
a. Nilai 0 : jika keadaan tersebut tidak ditemukan pada anak.
b. Nilai 1 : jika keadaan tersebut kadang-kadang ditemukan pada anak.
c. Nilai 2 : jika keadaan tersebut sering ditemukan pada anak .
d. Nilai3 : jika keadaan tersebut selalu ada pada anak.
Beri nilai total 13 atau lebih anak kemungkinan dengan GPPH.

Intervensi :
a. Anak dengan kemungkinan GPPH perlu dirujuk ke Rumah Sakit yang
memiliki : fasilitas kesehatan jiwa atau tumbuh kembang anak untuk
konsultasi lebih lanjut.
b. Beri nilai total kurang dari 13 tetapi anda ragu-ragu, jadwalkan
pemeriksaan ulang 1 bulan kemudian. Ajukan pertanyaan kepada orang-
orang terdekat dengan anak (orang tua, pengasuh, nenek, guru, dsb).

2.6 Penatalaksanaan
a. Keperawatan
Komunikasi atau manajemen terapeutik pada anak dengan ADHD
biasanya melibatkan beberapa pendekatan yang mencakup
pendidikan dan konseling keluarga, pengobatan, penempatan kelas
yang tepat, manipulasi lingkungan, dan psikoterapi untuk anak

10
(Marilyn, dkk., 2005). Sedangkan peawatan yang biasanya
diterapkan meliputi:
1) Pengobatan serta perawatan yang harus dilaksanakan pada anak
yang mengalami gangguan hiperaktif ditujukan kepada keadaan
sosial lingkungan rumah dan ruangan kelas penderita serta
kepada kebutuhan-kebutuhan akademik dan psikososial anak
yang bersangkutan, suatu penjelasan yang terang mengenai
keadaan anak tersebut haruslah diberikan kepada kedua orang
tuanya dan kepada anak itu sendiri.
2) Anak tersebut hendaklah mempunyai aturan yang berjalan
secara teratur menurut jadwal yang sudah ditetapkan dan
mengikuti kegiatan rutinnya itu, dan sebaiknya selalu diberikan
kata-kata pujian.
3) Perangsangan yang berlebihan serta keletihan yang sangat hebat
haruslah dihindarakan, anak tersebut akan mempunyai saat-saat
santai setelah bermain terutama sekali setelah ia melakukan
kegiatan fisik yang kuat dan keras
4) Periode sebelum pergi tidur haruslah merupakan masa tenang,
dengan cara menghindarkan acara-acara televisi yang
merangsang, permainan-permainan yang keras dan jungkir
balik.
5) Lingkungan di sekitar tempat tidur sebaiknya diatur sedemikian
rupa, barang-barang yang membahayakan dan mudah pecah
dihindarkan.
6) Tehnik-tehnik perbaikan aktif yang lebih formal akan dapat
membantu, dengan memberikan hadiah kepada anak tersebut
berupa bintang atau tanda sehingga mereka dapat mencapai
kemajuan dalam tingkah laku mereka.

Menurut Videbeck (2008) intervensi keperawatan yang dapat


dilakukan pada anak dengan Attention Deficyt Hyperactivity
Disorder (ADHD) antara lain :

11
1. Memastikan keamanan anak dan keamanan orang lain dengan :
a. Hentikan perilaku yang tidak aman.
b. Berikan petunjuk yang jelas tentang perilaku yang dapat
diterima dan yang tidak dapat diterima.
c. Berikan pengawasan yang ketat.
2. Meningkatkan performa peran dengan cara :
a. Berikan umpan balik positif saat memenuhi harapan.
b. Manajemen lingkungan (misalnya tempat yang tenang dan
bebas dari distraksi untuk menyelesaikan tugas).
3. Menyederhanakan instruksi/perintah untuk :
a. Dapatkan perhatian penuh anak.
b. Bagi tugas yang kompleks menjadi tugas-tugas kecil.
c. Izinkan beristirahat.
4. Mengatur rutinitas sehari-hari
a. Tetapkan jadual sehari-hari.
b. Minimalkan perubahan.
5. Penyuluhan dan dukungan kepada klien atau keluarga dengan
mendengarkan perasaan dan frustasi orang tua.
6. Berikan nutrisi yang adekuat pada anak yang mengalami ADHD.

b. Diet
ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) merupakan
suatu kondisi yang kompleks di mana anak tidak bisa memusatkan
perhatiannya dan berperilaku hiperaktif. Anak yang mengidap
ADHD akan sulit berkonsentrasi dan tidak bisa tenang.
Pengobatan anak ADHD tidaklah cukup dengan obat-obatan
saja. Diet khusus dengan menerapkan asupan makanan tertentu
dierlukan untuk membantu anak dengan ADHD:
1) Diet Tinggi Protein
Diet tinggi protein membantu anak dalam berkonsentrasi. Selain
itu juga membuat kerja obat ADHD lebih lama. Karena itu, berikan

12
anak olahan makanan yang kaya protein seperti telur, daging, keju,
kacang almond, ikan tuna, tempe, udang, roti gandum.

Orang tua dapat menyiapkannya sebagai bekal sekolah dan


camilan saat anak pulang. Olahlah se-kreatif mungkin agar anak
tidak bosan.
2) Menambahkan karbohidrat komplek
Makanan yang memiliki karbohidrat sederhana seperti permen,
sirup, gula, madu dapat meningkatkan hiperaktivitas anak. Begitu
juga dengan dan olahan dari tepung beras dan tepung terigu.

Sebaliknya, makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks


seperti jeruk, apel, kiwi, anggur dan pir dapat dicerna secara

13
perlahan sehingga anak mudah kenyang. Berikan pada malam hari
agar anak dapat tidur nyenyak.

3) Tambahkan makanan yang kaya asam lemak omega-3


Asupan makanan yang kaya akan omega-3 baik untuk
perkembangan saraf otak anak. Seperti dari ikan tuna, alpukat,
kacang-kacangan, salmon, minyak zaitun atau suplemen omega-3.

4) Hindari makanan yang mengandung zat pengawet


Hindari makanan yang mengandung zat aditif, pewarna buatan,
MSG maupun perisa seperti mie, snack ringan, makanan kalengan,
karena dapat meningkatkan gejala hiperaktif anak.

c. Medis
1) Terapi farmakologi :
Farmakoterapi kerap kali diberikan kepada anak-anak yang
mengalami gangguan hiperaktif. Farmakologi yang sering
digunakan adalah dekstroamfetamin, metilfenidat, magnesium
pemolin serta fenotiazin. obat tersebut mempunyai pengaruh-

14
pengaruh sampingan yang lebih sedikit. Cara bekerja obat
tersebut mungkin sekali adalah dengan mengadakan modifikasi
di dalam gangguan-gangguan fundamental pada rentang
perhatian, konsentrasi serta impulsivitas. Oleh karena respon
yang akan mereka berikan terhadap pengobatan tidak dapat
diramalkan sebelumnya, maka biasanya diperlukan suatu masa
percobaan klinik, mungkin akan dibutuhkan waktu 2-3 minggu
dengan pemberian pengobatan setiap hari untuk menentukan
apakah akan terdapat pengaruh obat itu atau tidak.
2) Dosis:
Obat tersebut diberikan setelah makan pagi dan makan siang,
agar hanya memberikan pengaruh yang minimal kepada nafsu
makan dan tidur penderita.
a. Metilfenidat : dosis awal mereka diberikan 2,5-5 mg/hari,
sekali sehari. Dosis ditingkatkan secara bertahap pada hari
5-7, diikuti dengan pengamatan perbaikan perilaku, fungsi
kognitif dan terjadinya efek samping melalui laporan dari
orang tua atau guru. Apabila telah didapatkan dosis efektif
yang paling rendah, maka dosis tersebut dipertahankan.
Jika tidak ada respon yang diberikan maka dosis di naikan
dengan 2,5 mg dengan selang waktu 5-7 hari. Bagi anak-
anak yang berusia 8-9 tahun dosis yang efektif adalah 15-
20 mg/24 jam. Sementara itu anak yang berusia lebuh lanjut
akan memerlukan dosis sampai 40 mg/jam. Pengaruh obat
ini akan berlangsung selama 2-4 hari. Biasanya anak akan
bersifat rewel dan menangis. Jika pemakaian obat ini sudah
berlangsung lama dan dosis yang diberikan lebih dari 20
mg/jam rata-rata mereka akan mengalami pengurangan 5
cm dari tinggi yang diharapkan.
b. Dekstroamfetamin : dapat diberikan dalam bentuk yang
dilepaskan (showreleased) secara sedikit demi sedikit.
Dosis awalnya adalah 10 mg dengan masa kerja selama 8-

15
18 jam sehingga penderita hanya membutuhkan satu dosis
saja setiap hari, pada waktu sarapan pagi. Dosisnya dalah
kira sebesar setengah dosis metilfenidat, berkisar antara 10-
20 mg/jam
c. Magnesium pemolin : dianjurkan untuk memberikan dosis
awal sebesar 18,75 mg, untuk selanjutnya dinaikan dengan
setengah tablet/minggu. Akan dibutuhkan waktu selama 3-
4 minggu untuk menetapkan keefektifan obat tersebut. Efek
samping dari obat tersebut adalah berpengaruh terhadap
fungsi hati, kegugupan serta kejutan otot yang meningkat.
d. Fenotiazin : dapat menurunkan tingkah laku motorik anak
yang bersangkutan, efek samping : perasaan mengantuk,
iritabilitas serta distonia.
Secara umum efek samping dari pemakaian obat-obatan tersebut
diatas adalah anoreksia dan penurunan berat badan, nyeri perut
bagian atas serta sukar tidur, anak akan mudah menangis serta peka
terhadap celaan ataupun hukuman, detak jantung yang meningkat
serta penekanan pertumbuhan. Jika terjadi hal demikian maka
pengurangan dosis atau penghentian pengguanaan obat-obatan perlu
dihentikan.

2.7 Peran Orang Tua Pada Anak ADHD


1) Sedini mungkin membiasakan anaknya untuk hidup dalam suatu
aturan. Dengan menerapkan peraturan secara konsisten, anak dapat
belajar untuk mengendalikan emosinya.
2) Sedini mungkin memberikan kepercayaan dan tanggungjawab
terhadap apa yang seharusnya dapat dilakukan anak.
3) Kenali kondisi diri dan psikis anak. Dengan mengenali, orang tua
tak akan memberikan tekanan yang berlebihan, yang dapat
menyebabkan penolakan anak untuk melakukan apa yang
seharusnya ia lakukan.

16
4) Upayakan untuk menyediakan ruang belajar yang jauh dari
gangguan televisi, mainan atau kebisingan.
5) Sedini mungkin melakukan monitoring dan evaluasi secara
berkelanjutan, dan konsisten terhadap terapi yang sedang dijalankan
oleh anak anda.
6) Biasakan anak untuk mengekspresikan emosinya dalam bentuk
tulisan atau gambar.
7) Aturlah pola makan anak, hindari makanan dan minuman dengan
kadar gula dan karbohidrat yang tinggi.
8) Ajaklah anak berekreasi ke tempat-tempat yang indah. Hal ini akan
membantu anak untuk berpikiran positif.
9) Ajaklah anak untuk berlatih menenangkan diri. Misalnya dengan
menarik nafas dalam-dalam dan keluarkan lewat mulut. Latihan ini
bisa dilakukan berulang-ulang.

2.8 Perbedaan Anak ADHD dengan Anak Autisme


 Dari segi perhatian
Anak ADHD cenderung menghindari hal-hal yang perlu
fokus tinggi, seperti membaca buku. Mereka bahkan dari awal sudah
terlihat tidak minat dengan hal-hal tersebut. Sedangkan, anak
dengan autisme cenderung ingin berusaha untuk fokus pada hal-hal
yang mereka sukai. Mereka bisa mempelajari hal-hal yang mereka
sukai dengan baik, seperti bermain dengan mainan tertentu.
 Dari segi interaksi dan komunikasi dengan orang lain
Anak dengan ADHD cenderung berbicara tanpa henti.
Mereka bisa mengganggu saat orang berbicara dan suka jika ia
menjadi dominan saat diskusi. Sedangkan, anak dengan autisme
sering mengalami kesulitan memasukkan kata-kata ke dalam pikiran
dan perasaan. Sehingga, mereka mungkin akan lebih sulit dalam
mengutarakan pendapatnya. Mereka juga sulit untuk melakukan
kontak mata.
 Dalam segi rutinitas

17
Anak dengan ADHD cenderung tidak suka jika melakukan
rutinitas yang sama setiap hari atau dalam waktu lama. Sedangkan
anak dengan autisme cenderung suka dengan hal-hal yang sudah
tertata, mereka suka dengan ketertiban, dan tidak suka jika rutinitas
mereka tiba-tiba berubah.

2.9 Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas Klien : meliputi data demografi klien
b. Keluhan utama :
Keluarga mengatakan anaknya tidak bisa diam, kaki atau
tangannya bergerak terus.
c. Riwayat penyakit sekarang :
Orang tua atau pengasuh melihat tanda – tanda awal dari ADHD:
- Anak tidak bisa duduk tenang.
- Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal lelah.
- Perubahan suasan hati yang yang mendadak/impulsive.
d. Riwayat penyakit dahulu :
Tanyakan kepada keluarga apakah anak dulu pernah mengalami
cedera otak.
e. Riwayat penyakit keluarga
Tanyakan kepada keluarga apakah ada faktor genetic yang diduga
sebagai penyebab dari gangguan hiperaktivitas pada anak.
f. Riwayat psiko,sosio, dan spiritual :
Anak mengalami hambatan dalam bermain dengan teman dan
membina hubungan dengan teman sebaya nya karena hiperaktivitas
dan impulsivitas.

g. Riwayat tumbuh kembang :


- Prenatal : Ditanyakan apakah ibu ada masalah asupan
alkohol atau obat-obatan selama kehamilan.

18
- natal : Ditanyakan kepada ibu apakah ada penyulit selama
persalinan. lahir premature, berat badan lahir rendah
(BBLR).
- Postnatal : Ditanyakan apakah setelah lahir langsung
diberikan imunisasi apa tidak.

h. Riwayat imunisasi
Tanyakan pada keluarga apakah anak mendapat imunisasi lengkap.
- Usia <7 hari anak mendapat imunisasi hepatitis B.
- Usia 1 bulan anak mendapat imunisasi BCG dan Polio I.
- Usia 2 bulan anak mendapat imunisasi DPT/HB I dan Polio 2.
- Usia 3 bulan anak mendapat imunisasi DPT/HB II dan Polio 3.
- Usia 4 bulan anak mendapat imunisasi DPT/HB III dan Polio
- Usia 9 bulan anak mendapat imunisasi campak.

i. Pemeriksaan fisik dalam batas normal.


j. Activity daily living ( ADL ) :
1) Nutrisi
Anak nafsu makan nya berkurang (anaroxia).
2) Aktivitas
Anak sulit untuk diam dan terus bergerak tanpa tujuan.
3) Eliminasi
Anak tidak mengalami ganguan dalam eliminasi.
4) Istirahat tidur
Anak mengalami gangguan tidur.
5) Personal Hygiene
Anak kurang memperhatikan kebersihan dirinya sendiri dan
sulit di atur.

2. Diagnosa Keperawatan

19
Menurut Videbeck (2008), Townsend (1998), dan Doenges (2007)
diagnosa keperawatan yang dapat dirumuskan pada anak yang
mengalami ADHD antara lain :
a. Risiko cedera berhubungan dengan hiperaktivitas dan perilaku
impulsive.
b. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak adekuatnya
tingkat kepercayaan diri terhadap kemampuan untuk melakukan
koping.
c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas dan hiperaktif.
3. Intervensi Keperawatan
Menurut Cyntia Taylor (2013), intervensi keperawatan untuk mengatasi
ADHD adalah
a. Risiko Cidera
1) Bantu pasien dan anggota keluarga mengidentifikasi situasi
dan bahaya yang dapat mengakibatkan kecelakaan.
2) Anjurkan pasien dan keluarga untuk mengadakan perbaikan
dan menghilangkan kemungkinan keamanan dari bahaya.
3) Beri dorongan kepada orang dewasa untuk mendiskusikan
peraturan keamanan terhadap anak.
4) Rujuk pasien ke sumber-sumber komunitas yang lebih tepat.

b. Ketidakefektifan Koping
1) Dorong pasien untuk menggunakan sistem pendukung
ketika melakukan koping.
2) Identifikasi dan turunkan stimulus yang tidak perlu dalam
lingkungan.
3) Jelaskan kepada orang tua semua terapi dan prosedur dan
jawab pertanyaan pasien.
4) Rujuk pasien untuk melakukan konseling pada psikolog.

c. Gangguan Pola Tidur

20
1) Observasi pola tidur anak, catat kondisi - kondisi yang
menganggu tidur.
2) Kaji gangguan - gangguan pola tidur
yang berlangsung berhubungan dengan rasa takut dan
ansiatas - ansiatas tertentu.
3) Duduk dengan anak sampai dia tertidur.
4) Pastikan bahwa makanan dan minuman yang mengandung
kafein dihilangkan dari diet anak.
5) Berikan sarana perawatan yang membantu tidur (misalnya:
gosok punggung, latihan gerak relaksasi dengan musik
lembut, dan susu hangat).
6) Buat jam-jam tidur yang rutin.

4. Implementasi
Implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi,
1995). Jenis tindakan pada implementasi ini terdiri dari tindakan
mandiri, saling ketergantungan / kolaborasi, dan tindakan rujukan /
ketergantungan.Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan
dengan rencana tindakan keperawatan.

5. Evaluasi
a. Resiko cedera berhubungan dengan impulsivitas, ketidakmampuan
mendeteksi bahaya dapat teratasi dengan criteria hasil :
- Kecemasan dipertahankan pada tingkat di mana pasien merasa
tidak perlu melakukan agresi.
- Anak mencari staf untuk mendiskusikan perasaan-perasaan
yang sebenarnya.
- Anak mengetahui, mengungkapkan dan menerima
kemungkinan konsekuensi dari perilaku maladaptif diri
sendiri.

21
b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas dan hiperaktif
dapat teratasi dengan criteria hasil :
- Anak mengungkapkan tidak adanya gangguan-gangguan pada
waktu tidur
- Tidak ada gangguan-gangguan yang dialamti oleh perawat
- Anak mampu untuk mulai tidur dalam 30 menit dan tidur
selama 6 sampai 7 jam tanpa terbangun
c. Harga diri rendah berhubungan dengan sistem keluarga yang
disfungsi/ koping idividu tidak efektif dapat teratasi dengan criteria
hasil:
- Mampu mengungkapkan persepsi yang positif tentang diri
- Anak berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas baru tanpa
memperlihatkan rasa takut yang ektrim terhadap kegagalan

22
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sindroma hiperaktivitas merupakan istilah gangguan kekurangan perhatian
menandakan gangguan-gangguan sentral yang terdapat pada anak-anak, yang
sampai saat ini dicap sebagai menderita hiperaktivitas, hiperkinesis, kerusakan otak
minimal atau disfungsi serebral minimal. (Nelson, 1994). Ada tiga tipe anak
hiperaktif yaitu Tipe anak yang tidak bisa memusatkan perhatian (in-atensi), Tipe
anak yang hiperaktif dan impulsive dan tipe gabungan. Etiologi dari hiperaktif yaitu
Faktor neurologic, Faktor toksik, Faktor genetic dan Faktor psikososial dan
lingkungan.
Komunikasi atau manajemen terapeutik pada anak dengan ADHD biasanya
melibatkan beberapa pendekatan yang mencakup pendidikan dan konseling
keluarga, pengobatan, penempatan kelas yang tepat, manipulasi lingkungan, dan
psikoterapi untuk anak (Marilyn, dkk., 2005).
Farmakoterapi kerap kali diberikan kepada anak-anak yang mengalami
gangguan hiperaktif. Farmakologi yang sering digunakan adalah
dekstroamfetamin, metilfenidat, magnesium pemolin serta fenotiazin. obat tersebut
mempunyai pengaruh-pengaruh sampingan yang lebih sedikit. Cara bekerja obat
tersebut mungkin sekali adalah dengan mengadakan modifikasi di dalam gangguan-
gangguan fundamental pada rentang perhatian, konsentrasi serta impulsivitas.

3.2 Saran
Perlu penelitian lebih lanjut mengenai penyebab dan cara penanggulangan
untuk menekan angka penderita ADHD dan agar anak yang terkena gangguan
ADHD dapat diperlakukan dengan benar.

23
DAFTAR PUSTAKA

Nia. 2012. Laporan Pendahuluan dan Askep anak dengan HIPERAKTIF. Sumber
Online :
https://www.academia.edu/6559812/Laporan_Pendahuluan_dan_Askep_
Anak_Hiperaktif [diakses 1 Februari 2019]
Marilyn J.Hockenberry, dkk. 2005. Wong’s Essentials Of Pediatric Nursing,
Seventh Edition. USA : Elsevier Mosby
Nelson. 1996. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15 Vol. 3. Terjemahan oleh A.
Samik Wahab. 2000. Jakarta : ECG
Saputro, D. 2009. ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder). CV. Sagung
Seto: Jakarta

24