Anda di halaman 1dari 192

GIZI ANAK SEKOLAH SEIMBANG SEBAGAI STRATEGI

INTERVENSI KEPERAWATAN PADA ANAK USIA


SEKOLAH GIZI KURANG DI CISALAK PASAR,
CIMANGGIS, DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR

Herlina
1006833760

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
JANUARI, 2014

xv

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

GIZI ANAK SEKOLAH SEIMBANG SEBAGAI STRATEGI


INTERVENSI KEPERAWATAN PADA ANAK USIA
SEKOLAH GIZI KURANG DI CISALAK PASAR,
CIMANGGIS, DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Ners Spesialis
Keperawatan Komunitas

Herlina
1006833760

Pembimbing I : Dra. Junaiti Sahar, SKp, M.App. Sc, PhD


Pembimbing II : Ns. Widyatuti., M.Kep, Sp.Kom

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS
DEPOK
JANUARI, 2014

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkah dan hidayah-Nya
penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya Ilmiah Akhir dengan judul “ Gizi Anak
Sekolah Seimbang Sebagai Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas Pada Anak
Usia Sekolah Gizi Kurang di Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok” dapat tersusun
sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Ners Spesialis Keperawatan Komunitas
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Penulis menyadari dalam menyelesaikan penulisan Karya Ilmiah Akhir ini banyak
mendapat hambatan, namun berkat bantuan dan bimbingan dari para pembimbing
akhirnya penulis dapat menyelesaikan dengan baik. Penulis menyampaikan terima
kasih yang tidak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang
terhormat:
1. Dra. Junaiti Sahar., S.Kp, M.App.Sc, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia dan sekaligus pembimbing utama telah
memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir
2. Astuti Yuni Nursasi, S.Kp., MN, selaku Ketua Program Studi Pasca Sarjana
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
3. Ns. Widyatuti., M.Kep, Sp.Kom, selaku Pembimbing kedua yang telah
memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir
4. Henny Permatasari., M.Kep., Sp.Kom, selaku supervisor praktik residensi
5. Poppy Fitriani., M.Kep., Sp.Kom, selaku supervisor praktik residensi
6. Segenap Tim Dosen Keperawatan Komunitas dan Dosen Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia
7. Segenap karyawan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
8. Anshori, selaku Kepala Kelurahan Cisalak Pasar yang telah banyak membantu
dalam kelancaran praktik residensi.
9. dr. Hendrik, selaku Kepala Puskesmas Cimanggis yang selalu mendukung dan
membantu dalam kegiatan praktik residensi.
10. Seluruh kader kesehatan RW 01- 07, khususnya RW 03 dan RW 06 di Kelurahan
Cisalak Pasar yang selalu aktif membantu kegiatan praktik residensi.
11. Keluarga binaan yang berada di RW 1, 3, 5 dan 6 di Kelurahan Cisalak Pasar
Kecamatan Cimanggis Kota Depok

iv

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


12. Suamiku Raden Adhe Pramono, anak solehku Muhammad Abid Naufal, dan
calon bidadari kecilku yang ada dalam kandungan dengan support dan do’a
menjadi motivasi penulis.
13. Kedua orang tuaku, mertuaku dan adikku yang selalu mendo’akan kelancaran
saat praktik dalam menyelesaikan studiku.
14. Rekan residen 2 (Pak Jajang, Ibu Uswa, Intan dan Ratna) peminatan spesialis
keperawatan komunitas yang senantiasa membantu dan memotivasi selama
kegiatan praktik residensi.
15. Semua pihak yang telah membantu penulis dan tidak bisa penulis sebutkan satu
persatu.

Semoga Allah SWT memberikan balasan atas segala kebaikan semua pihak yang
telah membantu. Penulis mengharapkan masukan dan saran untuk menyempurnakan
Karya Ilmiah Akhir, karena penulis menyadari ini masih jauh dari sempurna.
Akhirnya penulis berharap Karya Ilmiah Akhir ini dapat bermanfaat untuk
perkembangan Ilmu Keperawatan khususnya Keperawatan Komunitas.

Depok, Januari 2014


Penulis

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
ABSTRAK

Nama : HERLINA
Program Studi : Spesialis Keperawatan Komunitas, Fakultas Ilmu
Keperawatan, Univeristas Indonesia
Judul : Gizi Anak Sekolah Seimbang Sebagai Strategi Intervensi
Keperawatan Komunitas Pada Anak Usia Sekolah Gizi
Kurang Di Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok

Program gizi anak sekolah seimbang yang dijadikan bentuk intervensi keperawatan
komunitas untuk menanggulangi masalah gizi kurang, yang dilakukan oleh keluarga
dan anak usia sekolah dengan pemberdayaan masyarakat dibentuk kelompok
pendukung (KP GASS) sebagai wadah yang mendukung terlaksananya program
inovasi GASS. Penulisan bertujuan memberikan gambaran pelaksanaan GASS dalam
pelayanan asuhan keperawatan komunitas integrasi model manajemen pelayanan
kesehatan, CAP, FCN, dan TPP pada anak usia sekolah gizi kurang di Kelurahan
Cisalak Pasar, Depok. Hasil praktik KM GASS sebagai penilaian penerapan GASS,
terjadinya peningkatan status gizi anak usia sekolah sebanyak 80% anak terjadinya
peningkatan BB dan tinggi badan selama 8 bulan, peningkatan pengetahuan keluarga
7,3, sikap 7,82, dan keterampilan keluarga 23,2 dari 2 SD, KP GASS aktif sampai
akhir evaluasi kader yang aktif 7 orang yang sebelumnya 10 orang, tingkat
kemandirian keluarga dari 10 keluarga 70% keluarga dengan tingkat kemandirian IV.

Kata kunci:

GASS, anak usia sekolah gizi kurang, KP GASS, intervensi keperawatan komunitas,
KM GASS.

vii

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


ABSTRACT

Name : HERLINA
Study Programe : A specialist in nursing community, the faculty of nursing,
Indonesia University
Title : Child Nutrition Balance as the intervention strategy of
nursing community to the children school whom are less
nutritional in the Cisalak Market, Cimanggis, Depok

The Balanced Nutrition program of school-age children as the intervention strategy


of Nursing Community to cope the malnutrition problem, performed by school-age
children and family with the empowerment community in a supported group (as
called KP GASS), it is a forum whom support the GASS innovation program. The
aim of writing is to give the scheme of GASS implementation in the service nursing
community care of health service, integrated with a model of health service
management, CAP, FCN, and TPP on the malnutrition of school-age children in the
Cisalak market district, Depok. The result practice of KM GASS as the assessment of
GASS implementation, an increased occurence of nutrition status of school-age
children as much as 80% of the children have overweight body scale and height for 8
months, the increasing family knowledge being 7.3, the behaviour 7.82 and the
family comprehence skll being 23.2 from two (2) elementary school level, KP GASS
is still active until the end of evaluation cadres active 7 people who formerly 10
people, the level of self-sufficiency family from 10 families with 7 people are still
active as the previous analysis in ten (10) people, 70% family could be in the 4th
level of self-sufficiency.

KEY WORDS: GASS, school age children less nutritional, KP community nursing
interventions, GASS, GASS KM.

viii

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul ................................................................................................. i
Halaman Persyaratan Orisinil ......................................................................... ii
Halaman Pengesahan ...................................................................................... iii
Kata Pengantar ................................................................................................ iv
Halaman Persetujuan Publikasi ....................................................................... vi
Abstrak ............................................................................................................ vii
Daftar Isi .......................................................................................................... ix
Daftar Tabel .................................................................................................... xi
Daftar Bagan/Skema ....................................................................................... xii
Daftar Lampiran .............................................................................................. xiii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Tujuan Penulisan ........................................................................ 9
1.3 Manfaat Penulisan ....................................................................... 10
BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN ........................................................ 11
2.1 Agregat Anak Usia Sekolah sebagai Populasi At Risk ................. 11
2.2 Gizi Kurang Pada Anak Usia Sekolah ........................................... 15
2.3 Pelayanan dan Asuhan Keperawatan Komunitas dalam
Mengatasi Masalah Gizi kurang Pada Anak Usia Sekolah ............ 18
2.4 Peran Perawat Komunitas ............................................................. 30
BAB 3 KERANGKA KONSEP, PROFIL WILAYAH, PROGRAM
INOVASI ............................................................................................ 34
3.1 Kerangka Konsep .......................................................................... 37
3.2 Profil Wilayah ................................................................................ 35
3.2 Program Inovasi ............................................................................. 40
BAB 4 Pelayanan dan Asuhan Keperawatan Komunitas Pada Anak
Usia Sekolah Gizi Kurang ................................................................. 42
4.1 Pengelolaan Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas .... 39
4.2 Asuhan Keperawatan Keluarga ..................................................... 59
4.3 Asuahan Keperawatan Komunitas ............................................... 69

ix

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


BAB 5 Pembahasan ....................................................................................... 78
5.1 Analisis Pencapaian Kesenjangan ................................................ 78
5.2 Keterbatasan ................................................................................... 88
5.3 Implikasi Keperawatan................................................................... 89
BAB 6 Simpulan dan Saran ......................................................................... 92
6.1 Simpulan ...................................................................................... 92
6.2 Saran ............................................................................................... 93
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak ........................ 18

Tabel 4.1 Tingkat Kemandirian Keluarga Dalam Melakukan Perawatan


Keluarga ................................................................................... 25

Tabel 4.2 Rata-rata Standar Deviasi Peningkatan Perilaku KP GASS .... 70

xi

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


DAFTAR SKEMA

Skema 2.1 Kerangka Teori ........................................................................ 33

Skema 3.1 Kerangka Konsep .................................................................... 36

Skema 4.1 Diagram Fish Bone Analisis Manajemen Keperawatan ......... 51

Skema 4.2 Analisis Keperawatan Keluarga .............................................. 63

Skema 4.3 Analisis Keperawatan Komunitas ........................................... 72

xii

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Penapisan Masalah Manajemen Pelayanan Keperawatan

Lampiran 2 Modul KP GASS

Lampiran 3 Soal Pre test dan Post Test

Lampiran 4 Modul Perlengkapan KM GASS

Lampiran 5 Penapisan Masalah Asuhan Keperawatan Keluarga

Lampiran 6 Leaflet

Lampiran 7 Kuesioner Asuhan Keperawatan Komunitas

Lampiran 8 Penapisan Masalah Keperawatan Komunitas

Lampiran 9 Dokumentasi Kegiatan Praktik

xiii

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


BAB 1
PENDAHULUAN

Pendahuluan akan menguraikan latar belakang mengenai anak usia sekolah gizi
kurang, faktor risiko terjadinya masalah gizi kurang, upaya yang telah dilakukan
untuk mengatasi masalah gizi kurang, dan program inovasi menanggulangi
masalah gizi kurang serta inovasi program yang dilakukan oleh penulis dalam
menanggulangi masalah gizi kurang. Bab ini juga menguraikan tujuan penulisan,
manfaat penulisan Karya Ilmiah Akhir bagi pelayanan dan Ilmu keperawatan.

1.1 Latar Belakang


Tubuh memerlukan nutrisi yang adekuat dari sumber makanan yang dimakan
setiap hari untuk tumbuh dan berkembang. Kandungan zat dari nutrisi berfungsi
untuk memelihara jaringan tubuh, memperoleh tenaga, mengatur pekerjaan
didalam tubuh, dan melindungi tubuh terhadap serangan penyakit. Fungsi utama
nutrisi adalah memberikan energi untuk aktivitas, memberikan struktur kerangka
dan jaringan serta mengatur berbagai proses kimiawi tubuh (Siutor &
Hunter,1980). Nutrisi atau gizi adalah substansi organik yang dibutuhkan
organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan
kesehatan (Almatsir, 2004). Proses penyerapan gizi atau nutrisi yang baik oleh
tubuh akan membuat proses tumbuh kembang motorik, kognitif, psikologis anak
sesuai dengan usianya dan akan meningkat motivasi anak belajar dan prestasi
belajar anak akan meningkat disekolah.

Gizi sangat penting untuk anak usia sekolah karena dapat meningkatkan
kecerdasan anak juga menunjang pertumbuhan secara fisik dan mental, oleh sebab
itu anak usia sekolah memerlukan kondisi tubuh yang sehat. Proses tumbuh
kembang anak usia sekolah yang optimal tergantung pada pemberian zat gizi
dengan kualitas dan kuantitas yang baik dan benar (Judarwanto, 2008). Asupan
gizi yang kurang akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak dimasa depan,
karena anak usia usia 6-12 tahun merupakan populasi kedua terbesar setelah

1 Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
2

remaja (WHO, 1998). Berdasarkan sensus penduduk, jumlah penduduk usia


sekolah sebanyak 19,3% (42 juta jiwa). Berdasarkan rentang usia penduduk
Indonesia paling banyak pada usia 5-9 tahun sebanyak 23 juta jiwa (9,78 %), dan
usia 0-4 tahun dan 10-14 tahun masing-masing sebesar 22,6 juta jiwa (9,54%)
(Badan Pusat Statistik, 2012). Hal ini menunjukkan tingginya laju pertumbuhan
penduduk, sehingga diperlukan perhatian khusus untuk meningkatkan derajat
kesehatan bagi calon penerus bangasa dimasa depan, salah satu yang penting
adalah terpenuhinya proses tumbuh kembang anak agar sesuai denganan usia.

Berdasarkan data dari Standing Committee on Nutrition (2012) didapatkan bahwa


5 negara yang berpenghasilan rendah seperti Ghana, Tanzania, Indonesia,
Vietnam dan India, terdapat 34-62% anak usia sekolah mengalami gizi kurang.
Badan kesehatan dunia WHO memperkirakan bahwa 54 persen kematian anak
disebabkan oleh keadaan gizi yang buruk. Sementara masalah gizi di Indonesia
mengakibatkan lebih dari 80 persen kematian anak (WHO, 2011). Berdasarkan
riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007 anak usia 6-12 tahun, 35 persen anak
sekolah dasar pendek dan Riskesdas tahun 2010 prevalensi kependekan 35,6
persen (15,1 persen sangat pendek dan 20 persen pendek). Provinsi Jawa Barat
prevalensi anak usia sekolah status gizi berdasarkan TB/U (tinggi badan/umur)
sangat pendek 13,9 persen dan pendek 20,3 persen, sedangkan status gizi
berdasarkan IMT/U (indeks masa tubuh/umur) sebanyak 3,5 % sangat kurus, 6,7
% kurus (Riskesdas, 2010). Berdasarkan data hasil prevalensi status gizi anak usia
sekolah di Jawa Barat dengan Nasional, masih lebih dari 10,9%. Hal ini
menjelaskan bahwa masalah gizi kurang pada anak usia sekolah di Indonesia
masih tinggi, diatas standar Nasional sehingga perlunya perhatian pemerintah agar
perlu mendapat penanganan masalah yang sifatnya spesifik pada wilayah rawan.

Berdasarkan hasil penjaringan yang dilakukan oleh Dinkes Kota Depok tahun
2011 pada 517 SD/MI, anak yang kurus sekali 7 anak, kurus 1.048 anak, dan
normal 23.683 anak. Hasil skrining yang dilakukan pada 4 SDN (1, 2, 3 Cisalak
Pasar dan SDN 1 Curug dari kelas 1-5) dengan total 660 jumlah anak yang di
skrining, didapatkan 6,8 persen anak sangat kurus (gizi kurang) dan risiko gizi

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
3

kurang (kurus) 11,4 persen. Hasil sebaran 50 kuesioner terdapat tingkat


pendidikan kepala keluarga(KK) SMU 24 persen, pendapatan KK ≤
Rp2.042.000,- sebanyak 34 %, 30 % KK pemenuhan kebutuhan makanan dengan
dibeli, menggunakan penyedap makanan 40% KK, cara mengolah makanan
dipotong baru dicuci 28%, 35% KK belum pernah mendapatkan pendidikan
kesehatan terutama masalah gizi. Data tersebut menunjukkan gizi kurang yang
terjadi pada anak usia sekolah di Cisalak Pasar menunjukkan penyebab terjadi gizi
kurang sesuai dengan teori dan beberapa hasil penelitian. Masalah gizi kurang
pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurang persediaan pangan, kurang
baiknya kualitas lingkungan (sanitasi), kurang pengetahuan masyarakat tentang
gizi, menu seimbang dan kesehatan; adanya daerah miskin gizi atau kekurangan
yodium (Almatsier 2004).

Masalah yang sering terjadi pada anak usia sekolah seperti penyesuaian sekolah,
hubungan dengan teman sebaya dan pengaruhnya, masalah gangguan belajar,
perkembangan seksual, pola makan, status imunisasi dan pengaruh serta
pembatasan tontonan televisi (Stanhope & Lancaster, 2004). Hal ini menyebabkan
anak usia sekolah dikategorikan sebagai salah satu populasi at risk karena
terpaparnya penyakit, bahaya, ketidaknyamanan, ataupun penyiksaan (Botorfft,
1995). Masalah yang timbul pada anak usia sekolah adalah karena faktor
instrinsik dan ekstrinsik seperti faktor sosial ekonomi meliputi pendapatan,
pendidikan, budaya dan agama), risiko perilaku (gaya hidup, jenis aktivitas anak,
pola makan anak yang tidak sehat), risiko biologis (usia, jenis kelamin, dan daya
tahan tubuh), ketersediaan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi tergantung
kualitas, keamanan dan jumlah konsumsi makanan (Hitchcock, Schubert, &
Thomas, 1999; Smith & Maurer, 2009; Saucier, 2009). Anak usia sekolah yang
berada pada tahap pertumbuhan dan perkembangan biologis, psikologis, kognitif,
dan psikososial memiliki risiko mengalami berbagai masalah dalam proses
tumbuh kembangnya.

Menurut Allender & Spradley (2001), masalah pada tumbuh kembang anak usia
sekolah yaitu berhubungan dengan status ekonomi (single parent, droup out

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
4

sekolah, kekerasan dan kriminal, dan lain sebagainya); kecelakaan dan injuri;
penyakit menular; penyakit kronik; masalah perilaku dan ketidakmampuan
belajar; kutu kepala (head lice); kurang nutrisi dan kesehatan gigi; inactivity.
Dengan adanya masalah pada anak usia sekolah yaitu nutrisi yang kurang (gizi
kurang), akan menyebabkan timbulnya masalah tumbuh kembang anak usia
sekolah. Penyebab timbulnya masalah gizi kurang yaitu perekonomian yang
kurang, pemberian makanan anak, penyakit infeksi atau kronis, pemilihan dan
pengolahan makan yang tidak tepat, komposisi makanan yang tidak seimbang
kondisi lingkungan dan pola asuh keluarga (Almatsier, 2004). Pemilihan makanan
dipengaruhi oleh ketidak stabilan pendapatan, pengetahuan gizi akan
mempengaruhi pemilihan makanan yang tepat untuk disajikan kepada anggota
keluarga khususnya pada anak usia sekolah (Kennedy dkk, 1996; Guldan dkk,
2000; Ferguson dkk, 2006, Levenson dkk, 2007; Scaglioni dkk, 2008). Hal ini
membuat anak usia sekolah sangat berisiko mengalami masalah yang dapat
menghambat proses tumbuh kembang yang optimal.

Dampak gizi kurang pada anak usia sekolah yaitu anak akan mudah mengantuk,
kurang bergairah yang dapat mengganggu proses belajar di sekolah dan
menurunkan prestasi belajar, daya pikir anak juga akan berkurang karena
pertumbuhan otak yang tidak optimal (Anindya, 2009). Gizi kurang pada anak
usia sekolah banyak faktor penyebabnya dan dampak yang ditimbulkan juga tidak
sedikit sehingga diperlukan penangan yang serius dalam mengatasinya, salah satu
yang perlu dilakukan adalah dengan pemberian asupan nutrisi yang seimbang
antara zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Pada penelitian Anindya
(2009) dan Nuryanto, dkk (2007) menjelaskan bahwa anak usia sekolah
membutuhkan pola asupan nutrisi yang seimbang untuk proses tumbuh kembang
optimal anak. Kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi asupan makanan atau minum
dirumah maupun diluar rumah, namun karena aktifitas fisik anak lebih banyak
disekolah mengakibatkan pemenuhan nutrisi lebih banyak didapatkan anak usia
sekolah disekolah seperti jajan makanan. Anak usia sekolah gemar sekali jajan
karena mereka dapat menjumpai makanan yang mereka suka seperti gula-gula, es,

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
5

dan makan lain yang nilai gizinya kurang (Moehji & Sjahmien, 2003). Kebiasaan
jajan akan mengurangi nafsu makan anak di rumah.

Jajanan yang didapat anak sering sekali dapat berdampak timbulnya masalah
kesehatan. Berdasarkan hasil Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)
menunjukkan 60% jajanan anak usia sekolah tidak memenuhi standar mutu
keamanan makanan dan 40% adalah jajanan yang berbahaya (BPOM, 2008;
Eunike, 2009). Jajanan yang tidak sehat dapat menimbulkan masalah kesehatan
seperti diare karena makanan yang tercemar dan bahan yang berbahaya (Dwi &
Faisal, 2006). Masalah kesehatan ini akan mengakibatkan daya tahan tubuh
menurun dan anak sakit sehingga tidak dapat bersekolah dan ketinggalan
pelajaran akibatnya prestasi anak dalam belajar akan menurun. Selain jajanan
yang tidak sehat, perilaku hidup bersih sehat (PHBS) anak seperti tidak mencuci
tangan dengan sabun menjadi timbulnya masalah kesehatan seperti anemia,
penyakit infeksi dan sebagainya. Oleh sebab itu, diperlukannya informasi
mengenai gizi dan pola hidup bersih dan sehat pada tatanan rumah tangga dan
disekolah (Riskesdas, 2007).

Informasi yang diperlukan untuk mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia
sekolah tidak hanya seputar pengetahuan saja, tapi diperlukan suatu perubahan
sikap dan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang keluarga.
Menurut Hitchcock, Schubert & Thomas (1999) menjelaskan asupan nutrisi
dipengaruhi oleh faktor ekonomi, budaya, ras, etnis, serta makanan yang biasa
dimakan oleh individu dan keluarga. Peran keluarga sangat besar dalam proses
tumbuh kembang anak. Pola asuh yang diberikan keluarga kepada anak, terutama
dengan masalah gizi kurang dengan indeks masa tubuh (IMT) kurang dari rata-
rata (kurus atau pendek) secara tidak langsung dipengaruhi oleh bagaimana ibu
mempersiap makanan untuk anak, pola asuh dan praktik pemberian peran sebagai
ibu dalam keluarga, pengetahuan dan perilaku keluarga dalam memberikan
asupan makanan bergizi seimbang kepada anak (Enten dan Golan, 2011). Dalam
keluarga ibu memiliki peranan penting dalam upaya pemenuhan kebutuhan gizi
keluarga. Hasil penelitian Hadivian dan Sylvia (2003), ada pengaruh pengetahuan,

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
6

sikap praktik ibu tentang gizi dan pendapatan keluarga terhadap angka kecukupan
gizi dalam keluarga. Gizi seimbang merupakan upaya pencegahan yang dapat
dilakukan keluarga dalam mengatasi masalah akibat gizi kurang.

Gizi seimbang merupakan suatu susunan makanan yang mengandung zat gizi
dimana jenis dan jumlah sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan
variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan dan berat badan ideal (Soekirman,
2009). Di Indonesia susunan zat makanan disesuaikan dengan tumpeng gizi
seimbang yang dapat membantu anak dalam memilih makanan dengan jenis dan
jumlah yang tepat sesuai dengan berbagai kebutuhan usia, dan sesuai dengan
keadaan kesehatan. Pedoman umum gizi seimbang (PUGS) terdapat 13 pesan
dasar dengan tujuan memperbaiki perilaku sehat dalam mempraktekkan gizi
seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Pada beberapa penelitian pendidikan
kesehatn gizi seimbang lebih efektif apabila difokus pada aspek perilaku
(Achterberg &Miller, 2004 dan Contento, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa
intervensi yang digunakan untuk mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia
sekolah tidak hanya sebatas pengetahuan saja, tapi perlunya dilakukan intervensi
langsung atau keterampilan khusus untuk mengtasi masalah gizi kurang sehingga
terdapatnya perubahan sikap dan keterampilan mengenai gizi kurang. Peran
pemerintah sangat diharapkan untuk dapat mendukung agar masalah gizi kurang
dapat teratasi.

Upaya dilakukan pemerintah dalam menangani masalah gizi kurang adalah


dengan adanya Undang-Undang No. 17 tahun 2007, tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 menegaskan
bahwa “Pembangunan dan perbaikan gizi dilaksanakan secara lintas sektor
meliputi produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan dengan
kandungan gizi yang cukup, seimbang, serta terjamin keamanannya”. Pelaksanaan
RPJPN tahun 2005-2025 menjelaskan beberapa rancangan dalam menanggulangi
masalah gizi kurang yaitu dengan program rancangan aksi pangan dan Gizi
(RAN-PG) 2011-2015 dan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD-PG)
2011-2015 di 33 provinsi. Ada 5 pilar yaitu perbaikan gizi masyarakat,

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
7

aksesibilitas pangan, mutu dan keamanan pangan, perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) dan kelembagaan pangan dan gizi. Pemerintah juga sudah membuat
program GSC (generasi Sehat Cerdas), PERGIZI (Program Edukasi dan
Rehabilitasi Gizi), PMT AS dan lain-lain. Program-program ini diharapkan
dapat dilakukan secara terpadu, bersinergi, berkelanjutan, dan berkemitraan
melalui program yang melibatkan lintas program dan lintas sektor, serta
berbasis prakarsa dan pemberdayaan masyarakat.

Program Dinas Kesehatan Depok untuk anak usia sekolah yaitu program UKS
dan termasuk didalamnya yang dijalankan adalah penjaringan dalam menilai
status gizi, PHBS anak usia sekolah, Kartu Menuju Sehat Anak Usia Sekolah
(KMS AS) dan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Program Dinkes Depok
ini selanjutnya akan dijalankan oleh Puskesmas Cimanggis, dimana program
yang berjalan adalah penjaringan saja. Belum ada program khusus
kemasyarakat dalam mengatasi gizi kurang pada anak usia sekolah. Perawat
komunitas memiliki peranan sangat penting untuk bisa memandirikan
masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan. Peran perawat komunitas
sebagai care giver, provider, educator, advokasi, konselor, kolaborator, dan
peneliti (Allender, Rector, & Warner, 2010). Perawat spesialis komunitas
diharapkan memiliki kemampuan dalam memanejerial pelayanan kesehatan untuk
mengatasi masalah kesehatan yang akan ditanganinya, mulai dari pengumpulan
data, perencanaan, pengaturan, kepegawaian, memimpin, dan pengawasan dalam
implementasi yang dilakukan (Gillies, 2000). Menurut Hitchcock, Schubert, &
Thomas (1999), menjelaskan bahwa sebagai seorang perawat spesialis
keperawatan komunitas keterlibatannya sangat penting dalam melakukan asuhan
keperawatan mulai dari pengkajian sampai evaluasi pada masyarakat, keluarga
dan individu (anak usia sekolah gizi kurang) dengan programnya sebagai inovasi
dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah.

Peran perawat spesialis dalam melaksanakan intervensi dalam mengatasi gizi


kurang dapat dilakukan dengan melakukan pendidikan kesehatan untuk meningkat
pengetahuan, perawatan gizi kurang untuk meningkatkan sikap dan keterampilan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
8

keluarga dalam mengatasi masalah gizi kurang. Pelaksanaan intervensi


kemasyarakat dapat dilakukan dengan memberdayakan masyarakat dan keluarga
sebagai fasilitator dalam memotivasi masyarakat, keluarga, dan anak usia sekolah
dalam mengatasi masalah gizi kurang dimasyarakat (Gillies, 2000). Tahap
implementasi dalam mengatasi masalah gizi kurang yaitu dengan pendidikan
kesehatan (gizi kurang, gizi seimbang, PHBS rumah tangga dan jajanan sehat);
praktik perawatan mengatasi masalah gizi kurang dengan meningkatkan nafsu
makan anak dengan ramuan temulawak, dan modifikasi makanan dengan nugget
sayur dan mie sehat. Program inovasi GASS ini menggabungkan beberapa model
intevensi yang pernah dilakukan dalam mengatasi gizi kurang pada anak usia
sekolah. Tahapan dari asuhan keperawatan yang terakhir dengan melakukan
monitoring dan evaluasi hasil pelaksanaan intervensi yang dilakukan dalam
mengatasi masalah gizi kurang.

Pemberian asuhan keperawatan komunitas pada anak usia sekolah yang


mengalami gizi kurang, penulis menitikberatkan pada upaya intervensi
keperawatan komunitas yang berfokus pada promosi kesehatan dan intervensi
yang akan diberikan kepada masyarakat, kelompok, keluarga dan anak usia
sekolah (Allender, Rector, & Warner, 2010). Intervensi yang dilakukan dalam
mengatasi gizi kurang pada anak sekolah seperti penerapan gizi seimbang pada
anak usia sekolah, modifikasi makanan, jadwal makan, pola asuh nutrisi keluarga
(Kemenkes RI, 2007; Almatsier, 2004; Allender & Spradley, 2004). Penerapan
Gizi Anak Sekolah Seimbang (GASS) sebagai bentuk inovasi mengatasi gizi
kurang dengan penerapan gizi seimbang dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
keluarga terutama pada anak usia sekolah.

Asuhan keperawatan komunitas yang dilakukan untuk melaksanakan program


inovasi mengatasi masalah gizi kurang yaitu Gizi Anak Sekolah Seimbang
(GASS) telah diintegrasikan dengan beberapa teori yaitu teori keperawatan
keluarga yaitu FCN (Family Center Nursing Theory), teori asuhan keperawatan
komunitas yaitu CAP (Community As Partner), dan program inovasi Tawana
project-school nutrition programe (TPP). Proses asuhan keperawatan dengan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
9

CAP yang menghimpun segala sistem yang berada dalam lingkup


komunitas/masyarakat yang terdiri dari inti dan subsistem pengkajian yang
membentuk alur sistematis dalam mengatasi masalah yang ada dalam lingkup
komunitas yaitu lingkungan fisik yang menjadi penyebab timbulnya masalah gizi
kurang, perekonomian masyarakat, pendidikan masyarakat serta sarana
pendidikan yang ada di masyarakat dan komunikasi masyarakat yang dapat
berpengaruh terjadinya masalah gizi kurang.

Praktik pelayanan manajemen keperawatan dan praktik CAP yang dilakukan


dengan membentuk KP GASS sebagai kelompok pendukung untuk
mensosialisasikan program GASS yang dilaksanakan untuk mengatasi masalah
gizi kurang pada anak usia sekolah dan proses manajerial dalam membentuk suatu
organisasi yang effektif dan effisien seuai dengan fungsi manajemen menurut
Gillies (2000) yaitu planning, organization, actuating, dan controlling (POAC).
Proses asuhan keperawatan keluarga yang dilakukan dengan melihat data umum
keluarga, perkembangan keluarga, struktur keluarga, dan fungsi keluarga dalam
melakukan fungsi perawatan kesehatan dalam mengatasi masalah gizi kurang
pada anak usia sekolah. Pelaksanaan GASS pada anak usia sekolah gizi kurang
perlunya peran serta keluarga kepada anak usia sekolah, keluarga dengan
masyarakat, masyarakat dengan kader kesehatan yang ada di lingkungan sebagai
upaya bentuk pemberdayaan dan kerja sama dengan masyarakat (Allender,
Rector, & Warner, 2010; Helvie, 1998; Hitchcock, Schbert, & Thomas, 1999).

Program inovasi GASS merupakan suatu pengembangan dari Tawana project-


school nutrition programe (TPP) dimana program ini lebih menitik beratkan
kepada proses menuju diet gizi seimbang dengan cara melakukan pendataan dan
pelatihan mengenai gizi seimbang dengan mengelompokkan makanan yang
seimbang, nutrisi mikro, pentingnya diet menu seimbang, kebersihan makanan,
keanekaragaman makanan yang dimasak dalam melaksanakan TPP. Program
inovasi ini juga memasukkan program UPGS dengan tatalaksana Program Umum
Gizi Seimbang (PUGS) yang terdapat 13 pesan yang berisi tentang apa saja yang
harus dilakukan setiap orang agar tubuhnya tetap sehat dan bisa beraktivitas

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
10

dengan baik (Depkes, 1996), kemudian promosi kesehatan dalam melaksanakan


program inovasi yang akan dilakukan. Model inovasi yang dilakukan adalah Gizi
Anak Sekolah Seimbang (GASS), diintegrasikan dari beberapa teori yaitu CAP,
FCN, manajemen pelayanan kesehatan, PUGS, PHBS rumah tangga, TPP, dan
teori lain dalam mengatasi masalah anak usia sekolah gizi kurang (Allender,
Rector & Warner, 2010; Helvie, 1998; Depkes, 1996; Friedman, 2010; Almatsier,
2004; Hitchcock, Schbert & Thomas, 1999).

Berdasarkan paparan tersebut, maka penulis tertarik untuk memberikan gambaran


tentang pelaksanaan model intervensi GASS pada anak usia sekolah gizi kurang
dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi di Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan
Cimanggis Kota Depok. Pelaksanaan inovasi diukur keefektifan program
penerapan GASS melalui pengukuran/pemantauan status gizi anak secara
periodik, dan pelaksanaan gizi Kartu Menuju Gizi anak Sekolah seimbang (KM
GASS) dengan hasil evaluasi melihat terdapatnya peningkatan pengetahuan,
sikap, dan keterampilan keluarga anak usia sekolah gizi kurang mengenai gizi
seimbang di Keluarahan Cisalak Pasar Kecamatan Ciamnggis Kota Depok.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan gambaran pelaksanaan program gizi anak sekolah seimbang (GASS)
dalam pelayanan dan asuhan keperawatan pada anak usia sekolah dengan gizi
kurang di Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok.

1.2.2 Tujuan Khusus


Tujuan penulisan ini adalah teridentifikasi :
1.2.2.1 Tersusunnya Program Gizi anak Sekolah Seimbang di Kelurahan Cisalak
Pasar Kota Depok.
1.2.2.2 Terbentuknya program Kelompok Pendukung Gizi Anak Sekolah
Seimbang (KP GASS) di Kelurahan Cisalak Pasar.
1.2.2.3 Terbentuknya kelompok keluarga anak usia sekolah GASS di Kelurahan
Cisalak Pasar.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
11

1.2.2.4 Terdapat Peningkatan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) kelompok


Pendukung GASS tentang penanggulangan masalah gizi kurang pada
anak usia sekolah di Kelurahan Cisalak Pasar.
1.2.2.5 Terdapat Peningkatan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) kelompok
keluarga anak usia sekolah tentang penanggulangan masalah gizi kurang
pada anak usia sekolah di Kelurahan Cisalak Pasar.
1.2.2.6 Tergambar peningkatan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap)
kelompok anak usia sekolah dengan gizi kurang tentang penanggulangan
masalah gizi kurang pada anak usia sekolah di Kelurahan Cisalak Pasar.
1.2.2.7 Terdapat peningkatan kemampuan anggota KP GASS dalam melakukan
supervisi dan umpan balik pelaksanaan GASS sebagai startegi intervensi
penanggulangan masalah gizi kurang pada anak usia sekolah di
Kelurahan Cisalak Pasar.
1.2.2.8 Terdapat peningkatan status gizi anak usia sekolah setelah pelaksanaan
GASS pada kelompok anak usia sekolah dengan gizi kurang di Kelurahan
Cisalak Pasar.
1.2.2.9 Terdapat peningkatan kemandirian keluarga dalam melakukan perawatan
anak usia sekolah dengan gizi kurang di Kelurahan Cisalak Pasar.

1.3 Manfaat Penulisan


Karya ilmiah akhir ini diharapkan memberikan manfaat terhadap pelaksanaan
pelayanan keperawatan dan keilmuan keperawatan.
1.3.1 Manfaat Pelayanan Keperawatan
Karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan manfaat pelayanan keperawatan
sebagai berikut:
1.3.1.1 Memberikan informasi bagi perawat komunitas khususnya pada
kelompok anak usia sekolah dengan gizi kurang dalam memberikan
asuhan keperawatan menggunakan program inovasi GASS.
1.3.1.2 Menambah pengetahuan perawat komunitas untuk menerapkan teori
keperawatan dalam tatanan keluarga dan masyarakat dengan asuhan
keperawatan bagi anak usia sekolah dengan gizi kurang.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
12

1.3.1.3 Masukan bagi Puskesmas Cimanggis dan Dinas Kesehatan Kota Depok
dalam melakukan inovasi meningkatkan kualitas asuhan keperawatan
dan pemberian program pelayanan kesehatan bagi anak usia sekolah
dengan gizi kurang dan dapat mengembangkan program GASS di
Kelurahan Cisalak Pasar maupun di wilayah lainnya.

1.3.2 Manfaat bagi Pendidikan


Karya ilmiah ini diharapkan memberikan manfaat keilmuan sebagai berikut:
1.3.2.1 Rujukan bagi institusi pendidikan keperawatan dalam proses belajar
mengajar terutama dalam menerapkan praktik asuhan keperawatan
khususnya keperawatan keluarga dan komunitas.
1.3.2.2 Memperkuat teori keperawatan, memperkaya ilmu pengetahuan
keperawatan, menambah wawasan perawat terutama bagi perawat
spesialis komunitas dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak
usia sekolah dengan gizi kurang.
1.3.2.3 Mempersiapkan mahasiswa sebagai perawat komunitas dalam
melakukan asuhan keperawatan dengan evidence based nursing
1.3.2.4 Masukan bagi pengembangan program inovasi bagi spesialis
keperawatan komunitas selanjutnya tentang kelompok anak usia sekolah
dengan gizi kurang.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
13

BAB 2
TINJAUAN TEORITIS

Bab ini penulis memaparkan beberapa konsep yaitu keperawatan komunitas pada
aggregate anak usia sekolah dengan gizi kurang pada anak usia sekolah, konsep
Aus dan tumbuh kembang anak usia sekolah, model gizi anak sekolah seimbang
(GASS) sebagai salah satu bentuk model intervensi pada aggregate anak usia
sekolah dengan gizi kurang pada anak usia sekolah serta teori dan model
konseptual yang mendasari praktik keperawatan komunitas yaitu Manajemen,
Community as Partner, Family Center Nursing pada kelompok anak usia sekolah.

2.1 Anak Usia Sekolah Sebagai Populasi at Risk


2.1.1 Definisi
Anak usia sekolah adalah anak dengan rentang kehidupan dimulai dari usia 6-12
tahun (Potter & Perry, 2009; Hockenbey & Wilson, 2009; Edelmen & Mandle,
2006; Lewis & Bear, 2002; Muscary, 2001). Pada usia sekolah anak bertugas
untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial, yang berimplikasi pada
membangun rasa percaya diri, dan mengakui pencapaian yang diperolehnya (fase
industri) atau anak berkembang tidak realistis pada pengharapan atau berlebihan
terhadap kritik kasar sebagai petunjuk perhatian yang tidak adekuat (Hitchcock,
Schubert & Tomas, 1999).

Menurut Stanhope & Lancaster (2004), populasi at risk adalah kelompok yang
berisiko tinggi mengalami suatu penyakit atau masalah kesehatan bila
dibandingkan dengan populasi lain yang tinggal dalam suatu karena faktor
lingkungan dari dalam maupun luar. Anak usia sekolah dikatakan sebagai
populasi at risk, karena anak usia sekolah sudah mengenal lingkungan dan akan
lebih mudah terpapar dengan penyebab timbulnya masalah kesehatan. Risiko lain
yang kemungkinan terjadinya penyakit atau cedera yang disebabkan oleh
sekelompok faktor yang mempengaruhi yaitu manusia, lingkungan atau keduanya
(Mc Murray, 2003). Anak usia sekolah termasuk dalam populasi at risk karena
kelompok ini yang berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan akibat dari

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
14

terpaparnya oleh sejumlah bahaya, kehilangan, injuri atau bahaya lain baik dari
faktor manusia, lingkungan atau keduanya.

2.1.2 Karakteristik anak sekolah sebagai populasi at risk


Anak usia sekolah sebagai populasi at risk, Stanhope dan Lancaster (2004)
menjelaskan bahwa kategori faktor risiko kesehatan yang dapat mempengaruhi
kesehatan seseorang terdapat beberapa faktor yaitu risiko bilogi (biological risk),
risiko sosial (social risk), risiko ekonomi (economical risk), risiko gaya hidup (life
style risk), dan risiko transisi kehidupan (life event risk).

2.1.2.1 Risiko Biologi (biological risk)


Usia menjadi suatu karakteristik faktor risiko terkait perkembangan (Swanson &
Nies, 1997). Perkembangan biologi ini akan dapat merubah bentuk secara
fisiologi dan psikologis yang terjadi pada seseorang seperti anak usia sekolah
(Miller, 2004). Allender dan Spradley (2005), menjelaskan bahwa risiko biologi
yang terjadi terdiri dari genetik, usia, gender, ras dan ketidakmampuan fisik
maupun mental.

Anak usia sekolah 6- 12 tahun merupakan masa belajar di dalam dan diluar
sekolah, dimana anak harus menjalani tugas-tugas perkembangan yakni: belajar
keterampilan fisik, sikap sehat, bergaul dengan teman-teman sebaya, membentuk
keterampilan dasar, membentuk konsep- konsep untuk hidup sehari-hari,
memperoleh kebebasan pribadi, dan membentuk hati nurani, nilai moral dan nilai
sosial (Gunarsa, 2004). Anak usia sekolah memiliki risiko timbulnya masalah
kesehatan akibat faktor intrinsik ataupun ekstrinsik dikarenakan anak sudah
terpapar dengan dunia luar, dan proses tumbuh kembangnya. Anak usia sekolah
yang memiliki masalah dikarenakan kurangnya asupan nutrisi yang tidak adekuat
akan mengakibatkan terganggunya status gizi anak, kesehatan fisik karena sistem
kekebalan tubuh yang belum matang dan oleh karena itu anak usia sekolah
berisiko lebih tinggi terkena masalah gizi kurang (Hitchcock, Schubert & Thomas,
1999; Allender & Spradley, 2005).

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
15

2.1.2.2 Risiko Sosial


Risiko sosial meliputi tingkat pendidikan, nilai, budaya dan praktek, sistem
dukungan sosial dan akses pelayanan kesehatan (Allender & Spradley, 2005).
Faktor risiko sosial merupakan salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya
masalah kesehatan pada anak usia sekolah, yaitu tingkat kriminalitas yang tinggi,
fasilitas kesehatan dan rekreasi terbatas, lingkungan yang berpolusi, dan stress
lingkungan akan meningkatkan risiko timbulnya masalah kesehatan kelarga
(Stanhope & Lancaster, 2004). Faktor sosiokultural yang menjadi risiko penyebab
timbulnya masalah kesehatan pada anak usia sekolah adalah: tingkat pendidikan,
nilai budaya, sistem dukungan, dan akses pelayanan kesehatan (Allender dan
Spradley, 2005).

Lingkungan sekitar akan mempengaruhi kebiasaan anak usia sekolah dalam


berperilaku dan bersikap mengenai pemenuhan kebutuhan makanan yang
dikonsumsinya setiap hari, karena teman sebaya memungkinkan anak untk saling
berinteraksi, bergaul dan memberikan motivasi secara emosional. Pengaruh teman
sebaya dan keinginan meniru teman sebaya menjadi prioritas timbulnya masalah
kesehatan gizi kurang pada anak usia sekolah karena keinginan menyamakan atau
ikut-ikutan teman sebaya untuk jajan atau memilih makanan atau kebiasaan
sehari-hari yang dampak timbulnya masalah kesehatan, hal ini bisa
mengakibatkan perilaku negatif dari anak ataupun bisa berdampak positif jika
kelompok sebaya dapat memberikan kontribusi dalam memberikan suatu yang
bermanfaat dalam kelompok atau teman sebaya (Santoso, 2004).

2.1.2.3 Risiko Ekonomi


Karakteristik risko terkait dengan ekonomi atau sumber penghasilan yang dapat
menentukan status seseorang dan bagaimana seseorang tersebut memperoleh
kesehatan secara maksimal (Stanhope & Lancaster, 2004). Status ekonomi dapat
mempengaruhi akses terhadap pelayanan kesehatan sehingga dapat meningkatkan
insidensi penyakit (Mauk, 2010). Menurut Rikesdas (2008) menjelaskan bahwa
status gizi buruk atau gizi kurang disebabkan karena ketahanan pangan penduduk
Indonesia yang jauh tertinggal dengan negara-negara berkembang, hal penyebab

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
16

yang menimbulkan masalah ini adalah faktor ekonomi dikarenakan pendapat


keluarga upah dibawah rata-rata Upah Minimum Regional (UMR) suatu daerah.

Risiko ekonomi merupakan sumber keuangan dengan pendapatan dan


pengeluaran keluarga dalam memenuhi kebutuhan tiap anggota keluarga.
Keluarga dengan perekonomian yang lemah (miskin) cenderung untuk
mengabaikan asupan makanan yang bergizi, yang terpenting kenyang dan
mengabaikan rasa lapar jika uang tidak ada untuk membeli makanan, tempat
tinggal yang memiliki perekonomian yang tinggi (mahal) akan mengakibatkan
kebutuhan nutrisi juga tidak akan terpenuhi dengan baik ((Hitchcock, Schubert &
Thomas, 1999).

2.1.2.4 Risiko Gaya hidup


Gaya hidup seseorang berhubungan dengan pola kebiasaan individu yang
berdampak terjadinya risiko kesehatan dipengaruhi oleh faktor sosiokultural dan
karakteristik personal dalam minum, makan, tidur, waktu bermain anak, dan
komunikasi anak (Stanhope & Lancaster, 2004; Kozier, Erb, Berman, & Synder,
2010; Maurer & Smith, 2005). Karakteristik anak usia sekolah sangat dipengaruhi
oleh lingkungan sekolah yang berpengaruh besar terhadap perilakunya.
Lingkungan yang membentuk karakteritik anak berupa gaya hidup anak sehari-
hari, cenderung dipengaruhi oleh bagaimana didikan orangtua dan teman-teman
sebaya. Diusia sekolah anak lebih mudah terpengaruh dengan lingkungan, atau
lebih banyak meniru gaya hidup lingkungan sekitarnya (Monks, Knoers,
Haditono, 2006).

Risiko gaya hidup akan mengambarkan kebiasaan, perilaku atau gaya hidup
keluarga yang berpengaruh terhadap kesehatan. Keluarga sebagi faktor pembentuk
gaya hidup yang positif terhadap anggota keluarganya. Pengetahuan mengenai
kesehatan akan mempengaruhi pemahaman individu tentang kebiasaan hidup
sehat dan gizi (Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999). Anak akan mengikuti gaya
hidup kedua orangtuanya, orangtua yang makan makanan yang bergizi akan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
17

berpengaruh terhadap pemilihan makanan sehat pada anak (Silvia, Michela &
Cinzia, 2008).

2.1.2.5 Risiko transisi peristiwa kehidup


Kejadian dalam hidup adalah kejadian dalam kehidupan yang akan berisiko
terhadap terjadinya masalah kesehatan (Stanhope & Lancaster, 2004). Kejadian
yang dialami akan menjadi pelajaran hidup bagi seseorang sehingga tidak
terulangnya lagi dengan masalah yang sama. Usia anak sekolah merupakan masa
yang dimana anak mulai mampu menggunakan rasionalisasi terhadap setiap
masalah yang dijumpainya, anak akan mudah mengingat hal-hal yang terjadi pada
dirinya (Santrock, 2005).

Transisi peristiwa kejadian hidup yang dilalui keluarga mampu mengidentifikasi


sumber atau masalah-masalah dalam kehidupan keluarga tersebut, menyusun
rencana, adanya keterampilan baru atau cara keluarga dalam mengantisipasi
terjadinya atau timbulnya masalah (Stanhope & Lancaster, 2004). Peristiwa
kehidupan yang pernah terjadi akan menjadi pengalaman penting untuk bisa atau
mampu mengatasi masalah yang akan terjadi karena sudah belajar dari
pengalaman sebelumnya. Masalah kesehatan yang timbul dalam keluarga, jika
sudah pernah terjadi akan menjadi pedoman keluarga dalam mengatasi masalah
kesehatan tersebut dengan segera. Anak usia sekolah yang berisiko mengalami
masalah kesehatan terutama penyakit infeksi ataupun kronis akan dapat beriko
timbulnya masalah gizi kurang, akibat proses penyakit yang membuat anak sulit
makan atau tidak nafsu makan sehingga akan berdampak timbulnya masalah
kesehatan gizi kurang dan proses penyembuhan penyakit akan sulit diatasi. Setiap
tahap kehidupan terdapat masalah nutrisi yang umum pada tahapannya. Setiap
tahap kehidupan membutuhkan nutrisi sebagai prasyarat kesehatan (Hitchcock,
Schubert & Thomas, 1999).

2.2 Gizi Kurang Pada Anak Usia Sekolah


Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi
secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan,

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
18

metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk


mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ
serta menghasilkan energi (Waryana, 2010). Mengetahui kecukupan asupan
nutrisi yang dikonsumsi seseorang diperlukan standar kecukupan gizi untuk
mencapai derajat kesehatan yang optimal yang disebut angka kebutuhan gizi
(AKG) (Yuniastuti, 2008). Jika tubuh mengalami gangguan yang disebabkan oleh
kurangnya asupan gizi yang seimbang akan mengakibatkan timbulnya masalah
kesehatan yaitu gizi kurang.

Gizi kurang adalah suatu keadaan tubuh yang disebabkan oleh asupan zat gizi
sehari-hari yang berkurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh
(Gibson, 2005). Menurut UNICEF dan WHO (1996) mendefinisikan
undernutrition atau kurang gizi yang meliputi kurangnya berat badan seseorang
berdasarkan usia, tinggi badan dibawah standar (tidak sesuai umur), sangat kurus,
dan gizi kurang adalah akibat dari ketidakcukupan masukan makanan dan
penyakit infeksi yang berulang, vitamin serta mineral.

Fungsi zat gizi bagi tubuh adalah sebagai sumber energi yang didapatkan dari
karbohidrat, lemak dan protein; pertubuhan dan perkembangan jaringan tubuh dari
protein, mineral dan air; mengatur proses tubuh protein, vitamin, dan mineral
(Almatsier, 2009). Pada anak sekolah fungsi makanan adalah sebagi bahan bakar
untuk aktivitas muscular, sebagai suplai unsure dan senyawa kimia yang
diperlukan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh yang rusak serta
memberikan kesenangan dan kepuasaan bagi anak (Villavieja et all, 1987).
Kebutuhan energi pada usia sekolah adalah 1800 kkal (7-9 tahun) dan 2050 kkal
(10-12 tahun); kebutuhan protein 45 gr/hari (7-9 tahun), dan 50 gr/hari (10-12
tahun) (WNPG, 2004).

Pada umumnya gizi kurang disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya persediaan


pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasi), kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan dan adanya daerah miskin
gizi (iodium) (Almatsier, 2009). Faktor lain yang menyebabkan timbulnya

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
19

masalah gizi kurang pada anak usia sekolah adalah konsumsi makanan yang
kurang, adanya penyakit infeksi, asupan makan yang dimakan tidak sehat seperti
jajanan yang tidak sehat akan mengakibatkan nafsu makan akan berkurang dan
menurunnya status kesehatan anak (Eunike, 2009; Joko & Sulchan, 2010;
Supriasa, 2009). Asupan zat gizi dari makanan yang dikonsumsi kemudian akan
menghasilkan dampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak yang dapat
dilihat dari status gizinya (Moore, 1997; Supariasa dkk, 2009).

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi bagi tubuh, bila tubuh mengalami kekurangan satu atau
lebih zat gizi esensial akan menyebabkan timbulnya masalah (Almatsier, 2009).
Masalah gizi kurang akan menimbulkan tanda dan gejala yang dapat ditemukan
pada anak usia sekolah gizi kurang dengan diketahuinya berat badan dan tinggi
badan yang tidak sesuai dengan Indeks Masa Tubuh (IMT), anak tampak lemah
atau tidak aktif (Almatsier, 2009). Menurut penelitian yang dilakukan Anindya
(2009), menjelaskan gizi sangat penting bagi anak usia sekolah untuk proses
tumbuh kembang anak, kekurangan gizi anak akan mudah mengantuk, kurang
bergairah dalam belajar, menurunkan prestasi belajar, daya pikir anak akan
berkurang karena pertumbuhan otak anak tidak optimal. Anak usia sekolah
memerlukan zat gizi yang baik untuk kelanjutan pertumbuhan dan perkembangan
dan agar anak tidak reisten pada penyakit infeksi (Ralston et all, 2008).

Menurut Supriasa (2001), penilaian status gizi anak usia sekolah dapat dilakukan
dengan 4 cara yaitu : 1) Klinis; 2) Biokimia; 3) Biofisik; dan 4) Antropometrik.
Penilaian status gizi secara antropometrik adalah suatu pengukuran dimensi tubuh
dan komposisi dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Beberapa indeks
antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U),
tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan
(BB/TB). Hasil observasi nilai status gizi berdasarkan Kepmenkes tahun 2010,
akan digunakan tabel antropometri (Lampiran 1). Untuk menginterpretasi status
gizi anak usia sekolah maka dibutuhkan ambang batas. Penentuan ambang batas

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
20

yang paling umum digunakan saat ini adalah dengan memakai standar deviasi unit
(SD) atau disebut juga Z-Skor.

IMT : Berat Badan (Kg)


Tinggi Badan (M)2

Z-Skor = Nilai individu subyek - Nilai median Baku Rujukan


Nilai Simpang Baku Rujukan

Tabel 2.1 : Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan
Indeks

Indeks Kategori status gizi Ambang batas (Z-Score)


Indeks massa tubuh Sangat kurus < -3 SD
menurut umur (IMT/U) Kurus -3 SD sampai dengan < -2 SD
Anak umur 5-12 tahun Normal -2 SD sampai dengan 1 SD
Gemuk >1 SD sampai dengan 2 SD
Obesitas >2 SD
Sumber: Kepmenkes Tahun 2010

Pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah yang mengalami hambatan


karena beberapa faktor salah satunya kebiasan pola makan yang tidak sehat. Pola
makan pada anak usia sekolah terbentuk karena kebiasaan keluarga atau pengaruh
teman sebaya, akibatnya anak akan makan dengan proporsi yang kurang dari
kebutuhan tubuhnya (Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999). Pada umumnya anak
usia sekolah memilih makanan tidak sesuai dengan gizi seimbang karena
pemilihan jajanan yang tidak sehat. Menurut Moedji (2003) menjelaskan ada tiga
faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya gizi kurang pada anak usia sekolah
yaitu anak memilih dan menentukan makanan yang tidak dan disukai, kebiasaan
anak untuk jajan, dan malas makan di rumah dengan alasan sudah kenyang atau
lelah pulang sekolah. Dibutuhkan gizi yang seimbang untuk bisa mengatasi
masalah gizi kurang pada anak usia sekolah, pada beberapa penelitian dengan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
21

pendidikan gizi seimbang akan membantu anak untuk bisa memilih makann yang
bergizi (Scaglioni et all, 2008).

Gizi seimbang adalah adalah susunan makanan sehari–hari yang mengandung zat-
zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan
memerhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik,
kebersihan, dan berat badan ideal (Soekirman, 2009). Pedoman umum gizi
seimbang (PUGS) anak sekolah adalah dengan mengkonsumsi aneka ragam
makanan, mengkonsumsi makanan untuk memenuhi kecukupan energi,
mengkonsumsi makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi,
membatasi konsumsi lemak dan minyak (1/4 kecukupan energi, menggunakan
garam beryodium, mengkonsumsi makanan sumber zat besi, membiasakan makan
pagi, minum air bersih yang aman dan dalam jumlah yang cukup, melakukan
aktivitas fisik yang teratur, mengkonsumsi makanan yang aman, dan membaca
label pada makanan yang dikemas (Direktoral Jendral Pendidikan Dasar, 2013).

2.3 Pelayanan dan Asuhan Keperawatan Komunitas dalam Mengatasi


Masalah Gizi Kurang pada Anank Usia Sekolah.
2.3.1 Pelayanan Manajemen
Proses pelaksanaan pelayanan keperwatan melalui upaya staf keperwatan untuk
memberikan asuhan keperawatan, pengobatan, dan rasa aman kepada pasien atau
keluarga serta masyarakat (Gillies, 2000). Pada prosesnya penatalaksanaan dalam
mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah di masyarakat dilakukan
berbagai pihak baik dari pemerintah, masyarakat, keluarga dan individu. Proses
penatalaksanaan dengan fungsi manajemen, di butuhkan seorang yang mampu
memanajerial agar proses penatalaksanaan dalam mengatasi program dengan
berpedoman pada program yang ada dan dapat mengaplikasikannya ke
masyarakat.

Penerapan fungi manajemen dalam mengatasi gizi kurang pada anak usia sekolah
adalah dengan empat fungsi yaitu, fungsi perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengawasan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
22

(controlling) dalam melakukan asuhan keperawatan komunitas di masyarakat


terutama di kelurahan Cisalak Pasar, Depok. Pada proses perencanaan merupakan
suatu berkelanjutan yang diawali dengan merumuskan tujuan dan rencana
tindakan yang akan dilaksanakan, menentukan personal, merancang proses dan
hasilnya, memberikan uman balik pada personal, dan memodifikasi rencana yang
diperlukan (Swanburg, 2006). Hal yang perlu dicermati dalam perencanaan yaitu
sistem yang terdiri input, proses, ouput dan outcomes (Huber, 2006). Perumusan
perencanaan yang baik harus meliputi penetapan visi, misi, pernyataan filosofi,
sasaran, tujuan, kebijakan, dan prosedur atau peraturan. Perencanaan meliputi
beberapa faktor diantaranya perencanaan, perubahan, perencanaan waktu dan
anggaran (Marquis & Huston, 2006).

Fungsi manajemenen pengorganisasian merupakan suatu mengembangkan


material dan struktur SDM ke dalam infrastruktur. Tujuannya adalah
mendapatkan SDM, perlengkapan, sumber material untuk menggerakkan,
mengorganisasi, dan bekerja, sehingga tujuan organisasi dapat dicapai dengan
hubungan erat antara tenaga kerja dengan lingkungan (Fayol, 2010). Pada
pengorganisasian akan terdapat tenaga, aktifitas, tugas, wewenang dan tanggung
jawab, dan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan. Fungsi
pengorganisasian suatu program berupa pembentukan struktur sebagai pelaksana
rencana program, menentukan program pelayanan yang sesuai, pengelompokan
aktivitas untuk mencapai tujuan masing-masing unit, bekerja dalam struktur
organisasi, memahami, menggunakan kekuatan dan kekuasaan yang sesuai
(Marquis & Huston, 2006).

Proses manajemen yang ketiga adalah pengarahan (directing) menggunakan


ketrampilan interpersonal yang dibutuhkan untuk arahan melakukan supervisi
langsung dan memotivasi sehingga akan tercipta lingkungan yang kondusif
(Huber, 2010). Fungsi pengarahan lebih menekankan pada kemampuan manajer
dalam mengarahkan dan menggerakkan semua sumber untuk mencapai tujuan
yang telah disepakati. Pengarahan yang diberikan dapat berupa motivasi melalui

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
23

komunikasi yang baik dalam suatu organisasi sebagai suatu umpan balik dari
implementasi kegiatan organisasi (Marquis & Huston, 2006).

Proses manajemen yang terakhir yaitu pengawasan (controlling) dengan


melakukan monitoring dan evaluasi. Aspek manajerial pengawasan adalah
pengawasan keuangan, kepatuhan, kualitas dan manajemen risiko, mekanisme
umpan balik, penelitian dan analisis terbaru (Huber, 2010). Kegiatan yang
dilakukan dalam pengawasan adalah monitoring dan evaluasi (Marquis & Huston,
2006). Proses proses pengumpulan dan analisis data secara teratur dalam suatu
pelayanan akan digunakan untuk menilai yaitu program berjalan dengan benar,
dan bagaimana kemajuannya, adakah penyimpangan atau masalah; input dan
proses yang dilakukan menghasilkan perbaikan sesuai tujuan; umpan balik tentang
output dan proses dikaitkan dengan input yang ada; dan faktor lingkungan atau
eksternal (masyarakat, geografis, kebijakan setempat) dan faktor internal
(provider dan saran) yang mempengaruhi pelaksanaan pelayanan untuk anak usia
sekolah.

2.3.2 Pelayanan Asuhan Keperawatan Komunitas


proses asuhan keperawatan komunitas yang dilakukan adalah melakukan
pengkajian sampai evaluasi. Asuhan keperawatan komunitas yang dilakukan
melakukan pendekatan kepada masyarakat, keluarga dan individu khususnya anak
usia sekolah.
2.3.2.1 Asuhan Keperawatan Keluarga
Asuhan keperawatan keluarga dimulai dari pengkajian keluarga untuk
mendapatkan data keluarga maupun data individu dalam keluarga secara
komprehensif. Supaya memperoleh data yang valid dibutuhkan alat pengkajian
keluarga yang mewakili. Dalam hal ini akan diuraikan pengkajian keluarga
dengan model Friedman yaitu Family Center Nursing, keluarga merupakan suatu
unit dasar dalam melakukan perawatan kepada individu atau anggota dalam
keluarga dari suatu unit yang lebih luas di masyarakat (Hitchock & Schubert &
Thomas, 1999). Pengkajian keluarga model Friedman meliputi lima komponen
yaitu identifikasi data sosiokultural keluarga, data lingkungan keluarga, struktur

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
24

keluarga, fungsi keluarga, dan strategi stress dan koping keluarga (Friedman,
2003).

Proses asuhan keperawatan keluarga (Family Center Nursing) tujuan untuk


membantu keluarga menolong dirinya sendiri dan mencapai tingkat kemandirian
keluarga dalam mengatasi masalah. Proses keperawatan keluarga dibedakan
menjadi 5 tingkatan keperawatan keluarga yaitu: 1) Keluarga dipandang sebagai
konteks, maka asuhan keperawatan berfokus pada individu; 2) Keluarga
kumpulan dari anggota-anggotanya, maka asuhan keperawatan diberikan kepada
seluruh anggota keluarga; 3) Subsistem keluarga sebagai klien, dimana fokus
pengkajian dan intervensi adalah subsistem keluarga; 4) Keluarga sebagai klien,
dimana keseluruhan anggota keluarga dipandang sebagai klien sedangkan
individu anggota keluarga sebagai konteks; dan 5) Keluarga sebagai komponen
masyarakat, dimana keluarga dipandang sebagai subsistem dalam sebuah sistem
yang lebih besar, yaitu masyarakat. Elemen yang digunakan pada pengkajian
keluarga pada anak usia sekolah gizi kurang adalah pada level 4. Variabel yang
digunakan tugas perawatan keluarga, tugas perkembangan keluarga, pola asuh
orangtua, pola komunikasi, nilai-nilai keluarga, tingkat keluarga dan tingkat
kemandirian keluarga (Friedman, 2003).

Pengkajian keluarga adalah tahapan dimana seorang perawat mengambil


informasi secara terus-menerus terhadap anggota keluarga yang dibina untuk
mendapatkan data keluarga maupun data individu dalam keluarga secara
komprehensif. Pengkajian yang dilakukan meliputi: data sosiokultural berisi
tentang orientasi budaya keluarga termasuk etnik keluarga; kelas sosial keluarga
termasuk strata kelas sosial keluarga; kemiskinan dalam keluarga termasuk
dampak kemiskinan dalam kesehatan keluarga; status ekonomi keluarga;
mobilitas kelas sosial keluarga. Di samping itu budaya sering pula digambarkan
sebagai pola perilaku yang dipelajari dari satu generasi ke generasi selanjutnya
(Gigger dan Davidhizar, 1999 dalam Friedman, dkk , 2003). Current dan Renzetti
(2000 dalam Friedman, et all, 2003), menjelaskan bahwa status kelas sosial adalah
ukuran dari pendapatan individu atau keluarga yang meliputi elemen; kekayaan,

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
25

status dan kekuatan politik. Area pengkajian keluarga data sosiokultural meliputi:
pengkajian komposisi keluarga (genogram keluarga), pengkajian latar belakang
budaya keluarga, pengkajian etnik dan religi keluarga, pengkajian status
sosiokultural dan mobilitas kelas sosial (status kelas sosial, status ekonomi,
mobilitas kelas sosial).

Pengkajian lingkungan berisi tentang kesehatan keluarga dan lingkungan


keluarga; karakteristik lingkungan rumah meliputi strktur rumah, keamanan
rumah bahaya terhadap kesehatan, sumber-sumber dalam lingkungan rumah,
homeless family; karakteristik tetangga dan lingkungan komunitas meliputi
karakteristik fisik dan geografis tetangga, karakteristik sosial dan demografis
tetangga; kesehatan keluarga dan lingkungan sosiopolitik. Area pengkajian
keluarga data lingkungan meliputi: pengkajian lingkungan rumah dan pengkajian
tetangga dan komunitas. Pengkajian dari lingkungan rumah tempat tinggal yang
perlu dikaji adalah tipe tempat tinggal, kondisi rumah (luas rumah, ventilasi,
jumlah dan tipe ruangan, lantai, tangga dll), pengkajian dari karakteristik tetangga
dan komunitas (pedesaan, perkotaan, adakah keikutsertaan dalam organisasi
masyarakat, fasilitas umum, pandangan keluarga tentang tetangga dan komunitas,
dll).

Pengkajian struktur keluarga yaitu 1) Pola dan proses komunikasi keluarga; 2)


Kekuatan keluarga dan pengambilan keputusan; 3) Peran keluarga (peran formal
keluarga dan peran informal keluarga); 4) Nilai-nilai dan norma dalam keluarga.
Keempan struktur diatas memiliki sifat saling terikat sehingga terjadi interaksi dan
umpan balik. Pengkajian fungsi keluarga terdapat empat yang dikaji yaitu: 1)
Fungsi afektif keluarga; 2) Fungsi sosialisasi keluarga; 3) Fungsi perawatan
kesehatan keluarga. Pada fungsi perawatan kesehatan keluarga sangat penting
dilakukan karena menjadi fokus sentral kesehatan keluarga dalam memenuhi
fungsi perawatan kesehatan anggota keluarga.

Area yang dikaji pada fungsi perawatan kesehatan (kepercayaan, nilai dan
perilaku kesehatan keluarga; definisi keluarga dalam sehat-sakit dan tingkat

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
26

pengetahuan keluarga; status penerimaan sehat dan sakit keluarga; praktik diit
keluarga; kebiasaan istirahat tidur keluarga; praktik penggunaan obat, alcohol,
merokok dan terapeutik keluarga; peran keluarga dalam praktek perawatan diri;
praktek kebersihan dan lingkungan keluarga; dasar ukuran pencegahan
pengobatan; terapi pelengkap dan alternatif; riwayat kesehatan keluarga;
pencapaian pelayanan perawatan kesehatan; perasaan dan persepsi mencakup
pelayanan kesehatan; pelayanan kesehatan emergensi; sumber pendapatan; dan
logistik dari penerimaan perawatan), riwayat kesehatan keluarga, dan catatan
kesehatan keluarga (Friedman, et all, 2003).

Pengkajian stress, koping dan adaptasi keluarga yang dikaji yaitu: kemampuan
koping keluarga; konsep dasar koping dan stress; strategi koping dan fase waktu
stress; teori stress keluarga; stressor dan dampaknya; strategi koping keluarga;
strategi koping keluarga disfungsional; faktor yang mempengaruhi koping.
Strategi dan proses koping keluarga adalah hal yang penting untuk menjadikan
keluarga tetap adaptif, sehingga kondisi stress (ketegangan keluarga) keluarga
dapat dihadapi dengan baik. Koping keluarga digambarkan sebagai proses aktif
dimana keluarga memanfaatkan sumber-sumber keluarga yang ada dan
membentuk perilaku dan sumber-sumber yang baru yang akan menguatkan unit
keluarga dan mengurangi dampak kejadian hidup yang stressfull (McCubbin,
1979 dalam Friedman et all, 2003).

Proses asuhan keperawatan keluarga setelah melakukan pengkajian akan


dilakukan perumusan masalah berdasarkan data yang didapat dari keluarga baik
aktual, risiko dan potensial. Perumusan masalah didapatkan masalah keperawatan
dan akan dilakukan penapisan masalah dari tiap masalah keperawatan yang
muncul, kemudian akan didapatkan diagnosa keperawatan actual, risiko dan
potensial. Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu,
keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan dan proses kehidupan aktual
atau potensial (NANDA, 2010). Diagnosa keperawatan yang diangkat akan
dilakukan penanggulangan untuk mengatasi masalah yang ada dengan rencana
intervensi yang disesuaikan dengan 5 fungsi perawatan keluarga.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
27

Proses perencanaan akan dibuat tujuan umum dan tujuan khusus dalam mengatasi
masalah keperawatan yang terjadi. Penyusunan rencana bersifat bantuan,
rehabilitasi, supportif, preventif, observasi, memberikan informasi yang akurat
kepada klien (Friedman et all, 2003). Penggolongan intervensi menurut Wright
dan Leahey (2000) menjadi tiga yaitu 1) Kognitif (intervensi yang diarahkan pada
fungsi keluarga, tingkat kognitif berupa tindakan-tindakan yang memberikan
informasi pengajaran); 2) Afektif yaitu tindakan yang dirancang untuk mengubah
emosi anggota keluarga sehingga dapat menyelesaikan masalah yang efektif; 3)
Prilaku yaitu strategi perawatan yang diarahkan untuk membantu anggota
keluarga berinteraksi dengan anggota keluarga lain dan lingkungannya.

Keterlibatan keluarga dalam tiap rencana intervensi yang dilakukan akan


menentukan keberhasilan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada.
Hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai tingkat kemandirian keluarga yang
berorientasi pada lima fungsi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan yaitu
1) mampu mengenal masalah kesehatannya; 2) mampu mengambil keputusan
tepat untuk mengatasi kesehatan; 3) mampu melakukan tindakan keperawatan
untuk anggota keluarga yang memerlukan; 4) mampu memodifikasi lingkungan
sehigga menunjang upaya peningkatan kesehatan; 5) mampu memanfaatkan
pelayanan kesehatan (Kepmenkes No 279, 2006).

Asuhan keperawatan yang dilakukan untuk menilai tingkat ketercapaian intervensi


yang dilakukan untuk memandirikan keluarga dengan menggunakan indikator
kemandirian keluarga yang ditampilkan pada tabel 2.2 dibawah ini.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
28

Tabel 2.2 Tingkat Kemandirian Keluarga Dalam Melakukan Perawatan


Keluarga

No Kriteria Tingkat Kemandirian


I II III IV
1. Menerima petugas Puskesmas √ √ √ √
2. Menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana √ √ √ √
keperawatan
3. Tahu dan dapat mengungkapkan masalah √ √ √
kesehatannya secara benar
4. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan √ √ √
sesuai anjuran
5. Melakukan tindakan keperawatan sederhana √ √ √
sesuai anjuran
6. Melakukan tindakan pencegahan secara aktif √ √
7. Melakukan tindakan promotif secara aktif √
(Sumber: KepMenKes RI No 279/MENKES/SK/IV/2006)

Proses implementasi dan evaluasi yang dilakukan pada proses asuhan


keperawatan keluarga mengacu kepada perencanaan yang telah disepakati
bersama keluarga. Impelementasi keperawatan yang dilakukan perawat kepada
keluarga yaitu modifikasi prilaku, modifikasi lingkungan, strategi pengajaran,
klasifikasi nilai, model peran, penggunaan kelompok swabantu, manajemen stress,
advokasi keluarga, modifikasi gaya hidup, dukungan sosial, merujuk, manajemen
kasus, kolaburasi, konsultasi, konseling, strategi pemberdayaan dan jaringan
(Wrigth & Leahey, 2000).
Pada evaluasi yang dilakukan perawat kepada keluarga adalah mengevaluasi
kemampuan keluarga setelah dilakukan implementasi, dan memperbaiki strategi
intervensi yang dilakukan perawat bersama keluarga. Hal yang dinilai selama
evaluasi yaitu koginitif, afektif dan psikomotor keluarga (Meiner, 2006).

2.3.2.2 Asuhan Keperawatan Komunitas


Pengkajian yang akan dikembangkan pada agregat anak usia sekolah dengan
masalah gizi kurang adalah model Community As Partner (CAP) yang
dikembangkan oleh Anderson dan McFarlane dari teori Betty Neuman. Model ini
lebih berfokus pada perawatan kesehatan masyarakat yaitu praktek, keilmuan, dan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
29

metodenya melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi penuh dalam


meningkatkan kesehatannya. Pada pengkajian model ini mempunyai dua
komponen utama yaitu core dan subsistem dan terdapat dua faktor utama yaitu
fokus pada komunitas sebagai mitra dan proses keperawatan (Anderson & Mc
Farlan, 2004).

Core yang terdiri dari riwayat terbentuknya aggregat, demografi, suku, nilai, dan
kepercayaan. Pada subsistem terdapat lingkungan fisik, pelayanan kesehatan dan
sosial, ekonomi, transportasi dan keamanan, politik dan pemerintahan,
komunikasi, pendidikan, dan rekreasi. Stresor yang terdiri dari biologis,
psikologis, sosial, spiritual dan kultural yang menembus garis pertahanan
komunitas merupakan langkah pertama yang dilakukan perawat. Model CAP
dikelilingi oleh tiga garis pertahanan, yaitu; garis pertahanan fleksibel, normal,
resisten.

Sumber: Anderson McFarlan, Community as Partner, 2004

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
30

Garis pertahanan fleksibel adalah kesehatan yang dinamis hasil dari respon
terhadap stressor yang tidak menetap seperti mobilisasi tetangga dan stressor
lingkungan. Garis pertahanan fleksibel digambarkan sebagai garis putus-putus di
sekitar masyarakat dan garis pertahanan normal. Garis pertahanan fleksibel
merupakan suatu daerah penyangga yang mewakili suatu tingkatan kesehatan
yang dinamis sebagai hasil suatu tanggapan temporer terhadap stresor.

Garis pertahanan normal adalah angka kematian, tingkat ekonomi masyarakat.


Garis pertahanan normal meliputi karakteristik seperti tingkat imunitas yang
tinggi, angka kematian bayi yang rendah, atau tingkat pendapatan rata-rata. Garis
pertahanan normal juga meliputi pola teladan koping, kemampuan memecahkan
masalah yang merupakan indikator kesehatan masyarakat. Garis utuh yang
melingkupi masyarakat merupakan garis pertahanan normal atau pencapaian
tingkatan kesehatan masyarakat dari waktu ke waktu. Garis pertahanan resisten
adalah mekanisme internal terhadap stressor (Anderson dan McFarlane, 2004).

Ketiga garis pertahanan tanggapan yang temporer ini merupakan pengerahan


lingkungan melawan terhadap suatu stresor lingkungan seperti pengenangan atau
suatu stressor sosial. Delapan subsistem dibagi melalui garis putus-putus untuk
menggambarkan bahwa delapan subsistem tersebut tidaklah terpisah tetapi saling
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh satu sama lain. Sesuai dengan prinsip
ekologi adalah segala sesuatu dihubungkan ke segala sesuatu yang lain. Hal ini
juga berlaku bagi masyarakat secara keseluruhan. Delapan divisi kedua-duanya
menggambarkan subsistem yang utama suatu masyarakat dan menyediakan
perawat komunitas dengan suatu framework untuk pengkajian.

Garis pertahanan resisten merupakan mekanisme internal yang berlaku untuk


melindungi masyarakat terhadap stresor. Bentuk garis pertahanan reisten seperti
program rekreasi untuk anak usia sekolah yang diterapkan untuk mengurangi
kejenuhan dan menghindari perilaku negatif, pemeriksaan gratis untuk
mendiagnosis masalah pada anak usia sekolah. Garis pertahanan resisten ada
sepanjang seluruh masing-masing subsistem dan menghadirkan kekuatan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
31

masyarakat. Pengkajian komunitas terdapat core dan 8 (delapan) subsistem dari


masyarakat. Adanya stresor (Biologis, Psikologis, Sosial, Spiritual dan Kultural)
yang menembus garis pertahanan komunitas merupakan langkah pertama yang
dilakukan perawat.

Stresor merupakan tekanan yang menghasilkan stimuli yang memiliki potensi


menyebabkan ketidakseimbangan didalam sistem. Stressor dapat berasal dari luar
masyarakat (seperti polusi udara dari suatu industri lokal) atau dari dalam
masyarakat (seperti penutupan suatu klinik). Stresor menembus garis pertahanan
normal dan fleksibel sehingga menghasilkan gangguan di masyarakat.
Ketidakcukupan, ketidaklayakan, atau ketidaktersediaan pelayanan dapat menjadi
stressor atas kesehatan masyarakat.

Stresor dan garis pertahanan resisten (kekuatan) bersama-sama menjadi bagian


dari diagnosis keperawatan komunitas dengan menimbulkan derajat reaksi.
Derajat reaksi adalah jumlah ketakseimbangan atau gangguan yang diakibatkan
oleh stresor yang berhubungan dengan bentuk pertahanan masyarakat. Sebagai
contoh, jika ada suatu kasus campak (stresor) didalam suatu sekolah dasar dan
garis pertahanan resisten adalah kuat (99% tentang para siswa mendapatkankan
imunisasi terbaru), derajat reaksi (potensial terjangkit campak) akan terjadi
minimal. Derajat reaksi digambarkan dengan tingkat kesakitan dan kematian,
pengangguran, atau tingkat kriminalitas.

Garis pertahanan fleksibel disebut juga buffer zone, garis ini sangat dinamis
terhadap stresor, stimulus dapat menembus garis pertahanan ini sampai
menyentuh garis pertahanan normal walaupun sementara atau jangka pendek.
Komunitas tidak merasakan adanya stimulus atau stresor atau komunitas berada
dalam keadaan sehat. Walaupun komunitas tidak merasakan ada masalah, masalah
karena ketidak seimbangan nutrisi dan masalah keluarga akan mempengaruhi
kebutuhan dasar dari keluarga terutama pada anak usia sekolah. Banyaknya iklan
makanan atau minuman yang membuat minat anak untuk jajan sangat meningkat
dan nafsu makan anak berkurang karena lebih enak jajan dibanding makan.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
32

Kebutuhan nutrisi yang tidak adekuat akan mengakibatkan anak mengalami


masalah kesehatan gizi kurang.

Proses asuhan keperawatan komunitas yang dilakukan setelah mendapatkan data


maka akan ditegakkan diagnosa keperawatan yang disesuaikan dengan data-data
yang ditemukan pada masyarakat. Diagnosa keperawatan juga mengidentifikasi
penyebab yang berkaitan dengan masalah dan mengetahui tanda dan gejala
sebagai karakteritik masalah (Andersom & McFarlane, 2000). Diagnosa
keperawatan yang didapatkan akan dilakukan intervensi untuk mengatasi masalah.
Langkah awal dalam menetapkan tindakan keperawatan yaitu menentukan tujuan
dan sasaran kegiatannya, selain itu perawat akan mempertimbangkan sifat
masalah, sumber daya masyarakat (dana, dan sarana prasarana).

Pelaksanaan intervensi yang telah ditetapkan bersama masyarakat, akan dilakukan


implementasi dan evaluasi. Dalam penerapan implementasi perawat akan
menggunakan strategi intervensi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat
sebagai klien khususnya pada kelompok yang ada di masyarakat yaitu dengan : 1)
menjalin kerja sama (partnership), 2) proses kelompok,3) pendidikan kesehatan,
dan 4) pemberdayaan masyarakat (empowerment) (Hitchcock, Schuber &
Thomas, 1999 dan Stanhope & Lancaster, 2000). Metode implementasi yang
digunakan untuk bisa melakukan intervensi yang dilakukan adalah dengan
berbagai therapi modalitas dalam melakukan pendidikan kesehatan yaitu
workshops, lectures, support groups, computer-assisted instruction, self-help
groups, dan interactive videotapes (Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999).
Bentuk lain implementasi yang dapat dilakukan adalah dengan penyebaran leaflet,
penempelan poster pada tempat-tempat strategis untuk memberikan informasi
kepada masyarakat dalam mengatasi masalah. Perawat komunitas dapat
memanfaatkan atau memberdayakan masyarakat dalam setiap implementasi yang
dilakukan, dengan pemberdayaan masyarakat untuk memberikan informasi,
komunikasi dan pendidikan kesehatan (WHO, 1994, dalam Nies & McEwen,
2007).

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
33

Hasil implementasi yang dilakukan akan dinilai atau dievaluasi oleh perawat
untuk melihat ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan
langkah menilai seberapa jauh manfaat dari tindakan yang telah diberikan oleh
perawat (Anderson & McFarlane, 2007). Komponen evaluasi yaitu hasil kemajuan
atau peningkatan status gizi anak usia sekolah, peningkatan perilaku masyarakat
(pengetahuan, sikap, dan keterampilan) dalam mengatasi masalah, dan penerapan
program inovasi GASS dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia
sekolah (Anderson & Mc Farlane, 2007; Browden & Jones, 2003).

2.3.3 Intervensi TPP (Tawana Project Programe)


Tawana project merupakan suatu bentuk implementasi yang dilakukan pada anak
sekolah dasar khususnya pada anak perempuan dipedesaan yang mengalami gizi
kurang di Pakistan (lampiran 2). Tawana project didanai oleh pemerintah Pakistan,
strategi inti project ini adalah menciptakan lingkungan yang aman memberdayakan
masyarakat dalam upaya penanggulangan masalah gizi kurang metode yang dipakai
adalah merencanakan makanan seimbang yang ditingkatkan. Project ini mirip
dengan dengan model “Focusing Resources on Effective School Health (FRESH)”
oleh WHO, UNESCO, UNICEF dan bank dunia. Tawana project dilaksanakan
pertama dengan mengukur antropometri badan anak dengan 3 indikator: stunting,
underweight, dan wasting. Anak dibawah -2 standar deviasi. Setiap masyarakat akan
diberi pelatihan dengan 3 sesi materi yaitu 1) Memberikan penjelasan tentang
konsep Tawana Project, 2) Keterampilan organisasi, dan 3) Makan makanan, nutrisi
dan diet seimbang (kelompok makanan, diet seimbang, mikronutrient, diet
seimbang, perencanaan menu, PHBS, dan konservasi nutrisi) dalam mengatasi
masalah gizi kurang pada anak usia sekolah di Pakistan ( Badruddin et all, 2006).

2.3.4 Bentuk Intervensi Keperawatan dalam mengatasi masalah gizi kurang


pada anak usia sekolah
Model Gizi Anak Sekolah Seimbang (GASS) adalah model intervensi yang
digunakan untuk program asupan nutrisi atau gizi seimbang yang dilakukan
keluarga dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah. Program
Inovasi GASS merupakan suatu penerapan gizi seimbang antara zat tenaga, zat

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
34

pengatur dan zat pembangun. Keseimbangan 3 jenis zat gizi ini akan
menyeimbangkan asupan makanan yang dikonsumsi seseorang khususnya pada
anak usia sekolah agar terpenuhi zat gizi untuk proses tumbuh kembang yang
optimal secara fisik maupun psikologiz anak usia sekolah.

GASS merupakan kombinasi dari program pemerintah dan gabungan inovasi yang
diperuntukkan tidak hanya pada anak usia sekolah tapi untuk anggota keluarga
lain. Hasil pengkajian didapatkan masih kurangnya tingkat pengetahuan, sikap
dan keterampilan keluarga, dan anak usia sekolah mengenai masalah gizi kurang,
gizi seimbang, jajanan sehat, PHBS rumah tangga, sikap dan perilaku keluarga
dalam menjaga kesehatan keluarga. Program inovasi GASS tepat digunakan
dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak usia sekolah gizi kurang.

Program inovasi GASS dengan cara memberitahu tentang pengetahuan gizi


seimbang dan kandungan gizi seimbang sesuai dengan kebutuhan anak usia
sekolah usia 6-12 tahun, mengajarkan cara pemilihan, pengolahan dan penyajian
makanan yang sehat serta menjelaskan bagaimana membuat menu dan jadwal
makan sesuai menu seimbang. Selain tentang gizi seimbang juga diberi penjelasan
bagaimana tatanan PHBS dalam rumah tangga, mengetahui status gizi anak
(mengukur berat badan ideal anak), dan mengajarkan anak cara pemilihan jajanan
yang tepat untuk anak usia sekolah. Komponen-komponen dalam GASS akan
dinilai penerapannya dalam keluarga dengan KM GASS (Kartu Menuju Gizi
Anak Sekolah Seimbang).

Komponen dalam KM GASS terdapat 7 komponen yaitu : (1) Kandungan gizi


pada makanan (zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur); (2) cara pengolahan
makanan (mencuci tangan dengan sabun, kebersihan alat masak, cara memasak,
dan penyajian makanan); (3) menu seimbang (jadwal makan, keanekaragaman
makanan, ketertarikan makanan); (4) pola asuh keluarga dalam memberikan
asupan nutrisi (aturan makan, menyuapi makanan, mengambil sendiri, jajan anak,
makan bersama, makanan pengganti, sanksi, dan modifikasi makanan); (5) PHBS
rumah tangga (ketersediaan air bersih, cara mencuci tangan dengan sabun,

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
35

penggunaan jamban, makan buah dan sayuran, aktivitas fisik, dan tidak merokok
dalam rumah); (6) pengukuran status gizi; (7) cara mengatasi gizi kurang yang
dilakukan keluarga (memberikan vitamin penambah nafsu makan, makanan
selingan, obat tradisional, bekal kesekolah, dan mengajarkan cara membeli
jajanan yang sehat).

Hasil KM GASS akan di evaluasi oleh KP GASS, pemberdayaan KP GASS


sebagai fasilitator untuk mengevaluasi ketercapaian KM GASS. Evaluasi dari
inovasi GASS ini adalah KM GASS untuk menilai hasil dari program ini
mencakup keluarga, anak usia sekolah, dan fasilitator untuk meningkatkan
validitas hasil. Proses evaluasi terdiri dari dua hal yaitu formulir kedatangan
keluarga yang terdiri dari absensi, partisipasi dan pengumpulan tugas pada setiap
sesi untuk seluruh peserta. Kemudian nilai yang diberikan oleh fasilitator pada
setiap sesi yang didokumentasikan yaitu adanya perubahan yang terjadi pada
setiap sesi, kepuasan dari sesi tersebut, seberapa paham keluarga akan materi yang
diberikan, dan masukan untuk peningkatan kualitas.

Program ini dimulai dengan orang tua dan anak mengikuti program awal dan sesi
pre tes, satu minggu sebelum sesi pertama. Sesi awal ini dimulai dengan
penjelasan program, manfaat dan risiko yang mungkin diterima oleh keluarga,
serta mengisi formulir informed consent yang harus ditandatangani sebagai
persetujuam mengikuti program sampai selesai. Satu minggu setelah program
selesai, keluarga diberikan tes akhir (post test) menggunakan instrumen yang
sama ketika tes awal. Tes selanjutnya dilakukan pada bulan ke 5 dan ke 8
menggunakan instrumen yang sama untuk menilai konsistensi hasil program.

2.4 Peran Perawat Komunitas pada Kelompok Anak Usia Sekolah dengan
Gizi Kurang
Peran perawat yang dapat diaplikasikan untuk mengatasi masalah gizi kurang
adalah (Danielson etc, 1993 dalam Friedman 2003):
2.4.1 Peran Care Provider

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
36

Peran care provider yaitu pelayanan keperawatan yang dilakukan dengan bentuk
asuhan keperawatan yang fokusnya pada individu, kelompok dan masyarakat
keluarga anak usia sekolah dengan gizi kurang. Kegiatan perawat sebagai
fasilitator seperti memberikan pelayanan sesuai kebutuhan meliputi kebutuhan
individu kelompok dan masyarakat terutama anak usia sekolah gizi kurang,
melakukan kunjungan rumah terhadap keluarga yang memiliki masalah gizi
kurang dan memberikan pelayanan keperawatan di puskesmas dan posyandu yang
terdapat di wilayah tersebut (Rector & Warner, 2010).
2.4.2 Peran edukator
Perawan perawat sebagai edukator yaitu memberikan pendidikan kesehatan pada
semua lapisan masyarakat, keluarga dan kelompok anak usia sekolah tentang
masalah gizi kurang dan gizi seimbang dari mulai pengertian, penyebab, tanda dan
gejala, akibat dan pencegahan dan penanganan masalah untuk meningkat nafsu
makan anak dan modifikasi makanan untuk menarik minat anak untuk makan
(Anonim, 2005; Dinkes, 1996; Almatsier; Allender & Spredley, 2004). Kegiatan
tersebut terdapat dalam kegiatan program inovasi yaitu gizi anak sekolah
seimbang (GASS).
2.4.3 Peran advokator
Kegiatan perawat sebagai advokator yaitu memfasilitasi masyarakat, keluarga dan
anak usia sekolah gizi kurang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,
membantu mengambil tindakan untuk membentuk sistem pelayanan kesehatan
yang lebih berespon terhadap kebutuhan keluarga, advokasi pelayanan sosial, dan
advokasi kebijakan sosial yang lebih responsif. Sebagai dasar yang digunakan
adalah prinsip etik yang meliputi penentuan diri (otonomi), keadilan (setara dan
sejajar), beneficience (berbuat baik), dan nonmaleficence (tidak menyakiti).
2.4.4 Peran kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator adalah melakukan kolaborasi dalam proses
perencanaaan dan tindakan dalam mengatasi gizi kurang pada anak usia sekolah.
Kolaborasi dilakukan dengan tanggung jawab, bekerja sama dalam menyelesaian
masalah. Teknik ini dapat dilakukan bersama dengan pelayanan kesehatan
(Puskesmas, Dinas Kesehatan, ahli gizi), masyarakat, keluarga, dan anak usia
sekolah yang dapat memberikan pelayanan dalam mengatasi masalah gizi kurang.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
37

2.4.5 Peran Leader


Perawat mempunyai fokus terhadap bagaimana kemampuan perawat dalam
memimpin dan mempengaruhi masyarakat untuk berubah dan menjadi agen
pembawa perubahan dalam mengatsi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah.
2.4.6 Peran Peneliti
Peran perawat sebagai peneliti yaitu mampu mengindentifikasi dengan sistematis,
pengumpulan data, analisa data, mencari pemecahan masalah dan menerapkan
solusi atau intervensi dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia
sekolah Hasil penelitian dapat dijadikan sistem pendukung untuk bisa melakukan
praktik asuhan keperawatan dimasyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan.
Sebagai perawat komunitas melakukan praktik asuhan keperawatan menggunakan
evidence base dari literatur dan hasil penelitian keperawatan komunitas yang
bermanfaat untuk mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah
(Allender, Rector & Warner, 2010).

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Manajemen pelayanan keperawatan gizi kurang AUS (Ervin, 2002; Skema 2.1 Kerangka Teori
Gillies, 1994; Swanburg, 2000)
1. Perencanaan (SDM, metode dan kegiatan, penetapan tujuan KURANG INDIKATOR MANAJEMEN
spesifik, kebijakan (program, prosedur, metode, dan sistem
PELAYANAN :
anggaran), penetapan standar pencapaian tujuan)
2. Pengorganisasian (struktur organisasi, staf, tupoksi, koordinasi) Terbentunya KP GASS
3. Pengarahan (supervisi, pelatihan, pendelegasian, motivasi) Manajemen pelayanan : Terdapatnya struktur organisasi KP
4. Pengawasan (monev program, penilaian kinerja) 1. Perencanaan: GASS dan tupoksi
Sosialisasi program GASS, struktur organisasi, Terdapatnya buku kerja KP GASS dan
CAP (Anderson McFarlane, 2011)
sarana pra sarana, tempat dan dana cara penerapan KM GASS
1. Core : demografi (jumlah AUS, jenis kelamin, kondisi keluarga), 2. Pengorganisasian: pembentukan kelompok Terdapatnya sistem monitoring dan
satatistik vital (pemeriksaan fisik), nilai dan keyakinan (nilai dan pendukung (KP GASS) evaluasi sesuai dengan tujuan.
keyakinan masyarakat terhadap perilaku memasak atau mengolah 3. Pengarahan: Pelatihan KP GASS
makanan, pola makan, pola asuh, kebiasaan jajan, menyediakan 4. Pengawasan : supervise, monitoring dan evaluasi Peningkatan pengetahuan, sikap dan
makanan, dan nutrisi seimbang, fungsi keluarga,kemandirian pelaksanaan GASS melalui KM GASS keterampilan KP GASS dalam
keluarga, komunikasi dan peran keluarga). etnitas (kebiasaan mengatasi masalah gizi kurang pada
makan/jenis makanan/mengolah makanan) anak usia sekolah
- Sub system : lingkungan (kondisi rumah, penganekaragaman
Askep Kep Komunitas
makanan,warung/toko makanan, area bermain anak sekolah, jenis
jajanan), pelayanan kesehatan (jenis, akses, program, ketepatan
sasaran program terkait gizi kurang, jarak yankes dengan tempat Masalah diagnosis 1. Screening status gizi. INDIKATOR ASKEP KOMUNITAS :
tinggal, jaminan kesehatan, penyakit AUS gizi kurang dalam 3 bl keperawatan 2. Promosi Kesehatan dengan pendidikan kesehatan
terakhir). Ekonomi (rata-rata pendapatan per bulan, alokasi dana Peningkatan minimal 2SD pretest dan
terkait masalah mengenai gizi kurang, gizi seimbang, jajanan
untuk pemenuhan gizi), komunikasi (media dan sumber informasi kesehatan :
posttest pengetahuan, sikap dan
sehat, PHBS rumah tangga
mengenai kesehatan,), pendidikan (tingkat pendidikan KK, 1. Masalah keterampilan masyarakat tentang
3. Demontrasi perawatan anak gizi seimbang :
pengetahuan tentang gizi kurang AUS). manajemen gpenatalaksanaan gizi kurang pada anak
- Persepsi masyarakat tentang gizi kurang dan gizi seimbang
pembuatan jadwal makan, menu seimbang (nugget
2. Masalah usia sekolah
sayur/mie sayur sehat), ramuan tradisional
keperawatan Peningkatan status gizi anak usia sekolah
temulawak.
komunitas gizi kurang
FCN : (Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Dan Keteknisian 3. Masalah
4. Penyebaran informasi (leaflet/Poster gizi kurang
Medik, 2004; Friedman, Bowden, & Jones, 2003; Maglaya et al., dan gizi seimbang) Masyarakat mampu menggunakan proyek
keperawatan
2009) keluarga inovasi GASS dalam pemenuhan
1. Data umum : usia, jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan kebutuhan nutrisi gizi kurang
orangtua.tipe keluarga
2. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga : riwayat kesehatan Askep Kep Keluarga
AUS, masalah tumbuh kembang keluarga 1. Screening status gizi (monitoring).
3. Lingkungan : fisik (kondisi rumah) dan psikologis (kondisi rumah INDIKATOR ASKEP KELUARGA:
2. Pendidikan kesehatan mengenai gizi kurang, gizi
keluarga, pola asuh keluarga) seimbang, jajanan sehat, PHBS rumah tangga Peningkatan minimal 2SD pretest dan
4. Fungsi keluarga : sosialisasi, ekonomi, afektif, perawatan keluarga 3. Konseling posttest pengetahuan, sikap dan
(mengenal, memutuskan, merawat, memodifikasi lingkungan dan keterampilan keluarga tentang gizi kurang
4. Demontrasi perawatan anak gizi seimbang :
pemanfaatan yankes) pada anak usia sekolah
5. Struktur kekuatan keluarga : komunikasi, peran keluarga dan nilai pembuatan jadwal makan, menu seimbang (nugget
keyakinan sayur/mie sayur sehat), ramuan tradisional 80% keluarga mampu melakukan cara
6. Stress dan koping keluarga (AUS gizi kurang, tingkat kemandirian temulawak. perawatan gizi kurang
keluarga)). 5. Pemberian informasi : leaflet, stiker dan jadwal Tingkat Kemandirian pada tingkat IV
7. Pemeriksaan fisik (TB/ BB, Body Image, LILA, kesehatan gigi dan makan
mulut)
37 Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
BAB 3
KERANGKA KONSEP, PROFIL WILAYAH DAN PROGRAM INOVASI

Bab ini menjelaskan tentang keterkaitan antar konsep yang mendasari praktik
keperawatan komunitas pada aggregat anak usia sekolah dengan masalah gizi
kurang yang menggunakan integrasi teori manajemen keperawatan, Family
Center Nursing dan Community As Patner.

3.1 Kerangka Konsep


Kerangka konsep menggambarkan proses interaksi berbagai faktor atau variabel
dalam melakukan praktik asuhan keperawatan komunitas yang memiliki
hubungan sebab akibat, berisi landasan teori yang digunakan dalam bentuk
diagram (Burn & Grove, 2009; Polit & Beck, 2012). Dalam kerangka konsep akan
menjelaskan proses kerja dalam melakukan intervensi komunitas dengan model
manajemen pelayanan keperawatan, keperawatan komunitas, dan keperawatan
keluarga dan modifikasi program TPP dalam melaksanakan program inovasi
GASS.

Program inovasi GASS menggabungkan beberapa program Dinas Kesehatan.


Dinas Kesehatan Depok program untuk anak usia sekolah berupa UKS dan
penjaringan. Program tersebut secara manajemen pelayanan kesehatan diatur
dalam perencanaan, pengorganisasian, pengerakan, dan pengarahan program yang
dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas Cimanggis. Pelaksanaan program
hanya sebatas sekolah dan tidak ada program khusus anak usia sekolah di
masyarakat.

Sebagai perawat spesialis komunitas, penulis melakukan praktik asuhan


keperawatan komunitas yang dilakukan dalam mengatasi masalah gizi kurang
pada anak usia sekolah adalah gizi anak sekolah seimbang (GASS).
Memberdayakan masyarakat dan keluarga dalam pelaksanaannya. Marquis dan
Houston (2003) dan Gilies (2000) menyatakan bahwa kesuksesan program
tergantung dari fungsi manajemen yang terdiri dari perencanaan,

38 Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
39

pengorganisasian, pegarahan dan pengawasan. Sasaran pelaksanaan GASS yaitu


anak usia sekolah dan keluarga yang ada di Kelurahan Cisalak pasar, khususnya
di RW 03 dan 06.

Praktik pelayanan asuhan keperawatan komunitas, kerangka konsep untuk dapat


menerapkan program inovasi GASS akan dibuat dalam suatu framework
manajemen pelayanan keperawatan fungsi perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengawasan
(controlling), praktik asuhan keperawatan komunitas dengan teori Community As
Partner yang dikembangkan oleh Anderson dan McFarlane yang mempunyai dua
komponen utama yaitu core dan subsistem. Core yang terdiri dari riwayat
terbentuknya aggregat, demografi, suku, nilai, dan kepercayaan. Sedangkan pada
subsistem terdapat lingkungan fisik, pelayanan kesehatan dan sosial, ekonomi,
transportasi dan keamanan, politik dan pemerintahan, komunikasi, pendidikan,
dan rekreasi. Praktik asuhan keperawatan keluarga dengan status sosial ekonomi
keluarga (pendapatan keluarga), lingkungan (sistem pendukung keluarga),
struktur keluarga (pola komunikasi, struktur kekuatan keluarga), fungsi perawatan
keluarga (fungsi perawatan kesehatan, dan ekonomi), tahap perkembangan
keluarga, dan peran dan tingkat kemandirian keluarga dalam mengatasi masalah
gizi kurang pada anak usia sekolah di Kelurahan Cisalak Pasar, Depok.

Model TPP adalah model intervensi yang digunakan untuk program mengatasi
masalah gizi kurang pada anak usia sekolah. TPP adalah program berbasis
masyarakat melalui pelatihan dan keterampilan yang mengatasi gizi kurang pada
suatu wilayah. Program TPP menitik beratkan pada pelaksanaan komunitas dalam
mengatasi masalah gizi kurang dengan sosialisasi gizi seimbang mulai dari
pembentukan kelompok, sosialisasi, dan proses pemberian informasi mengenai
gizi yang diterapkan dalam masyarakat. Program inovasi GASS yang diterapkan
dimasyarakat, dilakukan sosialisasi program GASS setelah didapatkan data anak
usia sekolah gizi kurang di Cisalak Pasar, Depok. Pembentukan KP GASS
sebagai upaya memberdayakan masyarakat dalam mengatasi masalah gizi kurang
pada anak usia sekolah, pemanfaatan KM GASS untuk menilai aplikasi program

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
40

GASS, dan terakhir dilakukan monitoring dan evaluasi program yang digunakan.
Hasil evaluasi akan didapatkan peningkatan status gizi anak usia sekolah, dan
peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan keluarga mengenai gizi kurang
dan gizi seimbang serta cara mengatasi masalah gizi kurang di Cisalak Pasar,
Cimanggis, Depok. Variabel yang digunakan dalam melakukan asuhan
keperawatan komunitas akan digambarkan dalam skema 3.1 kerangka konsep
strategi intervensi dalam menerapkan program Inovasi GASS dalam mengatasi
masalah gizi kurang pada anak usia sekolah.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Skema 3.1 Kerangka Konsep Strategi Intervensi Program Inovasi GASS dalam Mengatasi Masalah gizi Kurang Pada Anak Usia Sekolah
Input KURANG Proses Out put

Manajemen pelayanan : Manajemen pelayanan keperawatan


5. Perencanaan: 1. Terbentunya KP GASS
Sosialisasi program GASS, SDM 2. Tersosialisasinya KP GASS
1. Perencanaan : SDM, biaya, kebijakan, 6. Pengorganisasian: pembentukan 3. Terdapatnya struktur organisasi
2. Pengorganisasian : pembentukan KP GASS, Masalah kelompok pendukung (KP KP GASS dan tupoksi
tupoksi, koordinasi keperatan GASS), 4. Terdapatnya buku kerja KP
3. Pengarahan : pelatihan, komunikasi, dan anak usia 7. Pengarahan: Pelatihan KP GASS GASS
supervisi sekolah 8. Pengawasan : supervisi, 5. Buku panduan KM GASS
monitoring dan evaluasi 6. Terdapatnya sistem monitoring
4. Pengawasan : monitor, evaluasi, dan penilaian gizi kurang Model pelaksanaan GASS melalui KM dan evaluasi sesuai dengan tujuan.
kinerja Interve GASS Askep Keperawatan
7. Peningkatan Komunitas
pengetahuan, sikap
5. Core : demografi (jumlah AUS, jenis kelamin, 1. dan
Terdatanya
keterampilan KP kurang.
Aus gizi GASS
Masalah nsi 2. dalam
Peningkatan status gizi anak
kondisi keluarga), nilai dan keyakinan) Askep Keperawatan Komunitas mengatasi masalah giziusia
Manajeme Progra sekolahpada anak usia sekolah
kurang
6. Sub sistem : lingkungan (fisik dan n 5. Screening status gizi. 3. Peningkatan pengetahuan, sikap
psikologis), pelayanan (skrining), Ekonomi m 6. Pendidikan kesehatan mengenai dan keterampilan masyarakat dan
Keperawat gizi kurang, gizi seimbang,
(pendapatan), komunikasi, pendidikan (gizi an Inovasi keluarga dalam mengatasi
jajanan sehat, PHBS rumah masalah gizi kurang
kurang dan gizi seimbang) Masalah GASS tangga
7. Persepsi masyarakat terhadap masalah Keperawat 7. Sosilisasi KP GASS, KM GASS
kesehatan gizi kurang dan gizi seimbang an 8. Demontrasi perawatan anak gizi
Keluarga kurang : pembuatan jadwal
8. Status Sosial Ekonomi keluarga (pendapatan makan, menu seimbang (nugget
keluarga) Masalah sayur/mie sayur sehat), ramuan
9. Lingkungan (sistem pendukung keluarga) Keperawat tradisional temulawak.
10. Struktur keluarga (pola komunikasi, struktur 9. Penyebaran informasi
an (leaflet/Poster gizi kurang dan
kekuatan keluarga) Komunitas gizi seimbang)
11. Fungsi perawatan keluarga (fungsi perawatan
kesehatan, dan ekonomi) Askep Kep Keluarga
12. Tahap perkembangan keluarga 6. Screening status gizi Askep Kep Keluarga
7. Pendidikan kesehatan mengenai 1. Peningkatan status gizi anak usia
13. Peran dan tingkat kemandirian keluarga
gizi kurang, gizi seimbang, jajanan sekolah gizi kurang dalam
sehat, PHBS rumah tangga keluarga
(Sumber : Anderson McFarlane, 2011; Ervin, 2002; 8. Konseling 2. Peningkatan pengetahuan, sikap
9. Demontrasi perawatan anak gizi dan keterampilan keluarga anak
Friedman, Bowden, & Jones, 2003; Gillies, 1994; Swanburg, 2000; usia sekolah gizi kurang
seimbang : pembuatan jadwal
Maglaya et al., 2009) makan, menu seimbang (nugget 3. Tingkat kemandirian keluarga
sayur/mie sayur sehat), ramuan dalam merawat anak usia sekolah
tradisional temulawak. meningkat pada level IV
10. Pemberian informasi : leaflet,
stiker dan jadwal makan

38 Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
3.2 Profil Wilayah Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Ciamnggis Kota
Depok
Kelurahan Cisalak Pasar merupakan suatu kelurahan yang ada pada wilayah
Kecamatan Cimanggis Kota depok yang memiliki luas wilayah 165 km2. Batas
wilayah kelurahan cisalak pasar sebelah utara kelurahan Mekarsari, selatan
berbatasan dengan Kelurahan Curug, sebelah barat adalah Kelurahan Cisalak dan
sebelah Timur berbatsan dengan dengan Kelurahan Harjamukti (Bapeda.go.is, 2012).
Jumlah penduduk kelurahan cisalak pasar adalah 27.988 jiwa (yang tersebar pada 9
RW dengan 89 RT. Jumlah posyandu 15 buah, kader berjumalh 80 orang (Profil
Kesehatan UPT Puskesmas Kec.Cimanggis, 2013). Jumlah penduduk dan KK di
Cisalak Pasar 25.770 (laki-laki 13.180 dan perempuan 12.590) dan jumlah KK 4284.
Jumlah penduduk kelompok rentan di wilayah Cisalak Pasar anak usia sekolah (SD)
3335. Jumlah penduduk miskin di Cisalak Pasar dari 25.770 terdapat 5898 (23%)
atau KK miskin 503 (8,5%). Jumlah penduduk AUS (5-14 tahun) laki-laki 2210
anak, perempuan 2132. (Lap. Tahunan UPT PKM Cimanggis, 2012).

Jumlah penduduk di Kelurahan Cisalak Pasar tahun 2011 sebanyak 17.869 jiwa,
dengan populasi anak usia sekolah berjumlah 3.066 anak (17,2 %) dari total
penduduk yang ada di kelurahan Cisalak Pasar. Berdasarkan profil kelurahan Cisalak
Pasar tahun 2010, tingkat penduduk yang berpendidikan SD 2235, SLTP berjumlah
5211, pendidikan SLTA 8527 , dan pendidikan akademik atau sarjana 3055 jiwa.
Distribusi penduduk berdasarkan mata pencaharian keluarga adalah swasta, PNS,
TNI/Polri, pedagang, tukang ojek dan buruh. Berdasarkan suku yang terbanyak
adalah sunda dan jawa. Di Cisalak Pasar juga banyak didominasi penduduk
pendatang, tidak banyak penduduk asli dari daerah Cisalak Pasar.

Berdasarkan hasil data pengkajian pada Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan


Cimanggis yang dilakukan pada bulan Maret 2013 didapat bahwa dari populasi anak
usia sekolah, populasi anak usia 5-14 tahun ± 4342 jiwa (Laporan Rekapitulasi
Penduduk Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis Kota Depok, 2011). Hasil
scrining pada 4 SD (SDN Cipas 1,2, 3 dan Curug 1) yang dilakukan oleh penulis
didapatkan bahwa anak yang mengalami masalah kesehatan dengan status gizi
kurang sebanyak 45 anak dan 75 orang anak mengalami status gizi anak kurus (risiko

57 Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
43

gizi kurang). Berdasarkan hasil survey yang dilakukan di wilayah Kelurahan Cisalak
Pasar dengan jumlah responden 50 orang sebagian hasil pengkajian yang dilakukan
di Kelurahan Cisalak Pasar didapatkan 59% keluarga cara mengolah makanan
dengan dipotong baru dicuci, 43% keluarga memiliki tingkat pengetahuan rendah
mengenai gizi kurang dan gizi seimbang, 39% keluarga memiliki sikap kurang baik
dalam pemenuhan nutrisi keluarga, 37% perilaku keluarga kurang baik dalam
pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga, 78% keluarga menggunakan penyedap
makanan (vetsin) pada saat memasak makanan, 73% anak tidak sarapan pagi
sebelum kesekolah.

Hasil observasi terhadap lingkungan di wilayah Cisalak Pasar diperoleh data bahwa
lingkungan dengan pemukiman yang cukup pada, terdapat beberapa perumahan
mewah dan tidak sedikit pula rumah kurang sehat dengan PHBS rumah tangga yang
tidak sehat. Di RW 1,2 dan 3 masih banyak lahan kosong yang tidak dimanfaatkan,
pemukiman yang padat di RW 4, 5, 6, dan 7. Daerah yang rawan banjir adalah RW 5
dan RW 6 karena memiliki dataran rendah, hampir seluruh jalan terbuat dari semen
coran dan jalan setapak. Terdapat beberapa perusahaan besar, kecil dan home
industry di RW 1, 2, 3, 5, dan 6 seperti pabrik kabel, boneka, tahu dan tempe serta
terdapat peternakan yang cukup besar pada RW 5. Transportasi di wilayah Cisalak
pasar sebagian besar kendaraan bermotor dan angkutan. Fasilitas umum di Kelurahan
Cisalak Pasar seperti pasar, fasilitas olahraga, warung kuliner, dan kolam renang.
Fasilitas kesehatan cukup lengkap dari Posyandu, puskesmas sampai dengan RS.
Fasilitas kesehatan yang ada RS TNI, Puskesmas Cisalak, dokter praktik dan Bidan.

Fasilitas pemerintahan yaitu kantor lurah Cisalak Pasar dan kantor Kecamatan.
Fasilitas ibadah seperti mesjid seluruh memiliki lebih dari 3 Mesjid dan beberapa
Musholla, di RW 6 terdapat gereja. Fasilitas pendidikan terdapat 4 SDN dan 2 SD
swasta, 1 SLTP Islam yang berada di RW 2, dan 5. Hampir seluruh RW memiliki
TPA dan Paud. Banyaknya terdapat warung-warung yang menjual makanan kecil
ataupun minum sehingga hal ini yang menjadi faktor mendukung terjadinya masalah
gizi kurang, dan jajanan yang dijual kebanyakan chiki/makanan kecil yang tidak
sehat, permen dan minuman ringan yang menggunakan es, berasal dari penjual es
balok yang tidak sehat, dan juga banyak pedagang yang menjual makan yang tidak

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
44

sehat seperti, sosis curah, cireng curah, dan banyak lagi yang selalu keliling di sekitar
wilayah Cisalak Pasar.

Hasil Winshield survey yang dilakukan penulis,diperoleh data bahwa akses jalan
masuk ke dalam Wilayah Kelurahan Cisalak Pasar hanya bisa dilalui oleh mobil,
namun di RW 4,5, 6, dan 7 hanya bisa dilalui dengan motor karena gang yang
sempit. Kondisi lain yang ditemukan yaitu rumah penduduknya yang berdekatan
sehingga sosialisasi masyarakat sangat baik berinteraksi walaupun dengan berbagai
aneka ragam suku. RW 3, 4, 6 dan 7 yang dekat dengan pasar sehingga memudahkan
keluarga dalam memperoleh bahan makan untuk memasak yang segar.
Terjangkaunya fasilitas pasar tersebut, juga berdampak banyaknya penduduk
menjual jajanan atau cemilan seperti chiki, permen, minuman instan, cemilan siap
saji baik oleh yang dijual di dalam rumah maupun oleh pedagang keliling.

Berdasarkan hasil focus group discussion (FGD) yang dilakukan pada beberapa
keluarga, dan kader didapatkan hasil diskusi bahwa anak usia sekolah yang
mengalami gizi kurang disebabkan bahwa anak tidak mau makan, menyukai mie
instans, jajan (chiki/ minuman teh gelas), dan makan tidak teratur hanya 1x sehari
pada malam hari saja. Menurut keluarga dalam penyediaan makanan jarang
dikhususkan untuk anak, jika ada permintaan anak akan makanan kesukaannya baru
keluarga akan membuat menu tersebut. Keluarga tidak mengetahui anaknya
mengalami gizi kurang, menurut keluarga anak kurus hal biasa dan nanti akan
tumbuh normal serta disebabkan faktor keturunan keluarga yang kecil dan kurus.
Cara mengolah makanan biasanya dipotong dahulu baru dicuci, kemudian bila
memasak jarang ditutup. Belum ada implementasi dalam upaya mengatasi masalah
gizi kurang pada anak usia sekolah, keluarga tidak mengetahui bagaimana kebutuhan
nutrisi anak usia sekolah (gizi seimbang).

Hasil wawancara dengan kader posyandu RW 06 di dapatkan data: banyak anak usia
sekolah dilingkungan sekitar kurus dan kecil, senang jajan dan bermain, RW 06
belum pernah dilakukan, penimbangan Berat Badan (BB), dan pengukuran Tinggi
Badan (TB), penjelasan mengenai status gizi anak, penyuluhan tentang gizi kurang
dan gizi seimbang anak usia sekolah terkait tentang mengatasi masalah gizi kurang.
Di sekolah anak-anak diwajibkan untuk membawa bekal kesekolah, namun masih

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
45

terdapat beberapa anak enggan membawa bekal kesekolah karena malas, masakan
yang dimasak orangtua yang tidak disukai anak, serta anak lebih menginginkan uang
jajan dibandingkan membawa bekal kesekolah.

3.3 Gizi Anak Sekolah Seimbang (GASS) Pada Anak Gizi Kurang
Nutrisi yang seimbang untuk mengatasi masalah gizi kurang merupakan
pengembangan model yang digunakan untuk mengatasi masalah gizi kurang dan
dengan KM GASS (kartu menuju gizi anak sekolah seimbang) untuk bisa memantau
pelaksanaan gizi seimbang oleh keluarga, masyarakat dalam mengatasi masalah anak
usia sekolah gizi kurang. Penerapan KM GASS ini merupakan hasil modifikasi dari
program kesehatan mandiri yang dilakukan keluarga dan anak usia sekolah yang
telah dilaksanakan di Bangladesh-Pakistan dalam Program Tawana Project School
Nutrition program in Pakistan dan program Kartu Menuju Sehat Anak Sekolah
(KMS AS) serta program gizi seimbang yang merupakan pengembangan dari
program 4 sehat 5 sempurna di Indonesia.

KM GASS yang digunakan untuk mengobservasi penerapan GASS dalam keluarga


akan diobservasi dan di nilai dengan bantuan KP GASS (Kelompok Pendukung
GASS) setiap minggunya. Pemantauan status gizi, sikap dan keterampilan keluarga
mengenai gizi seimbang akan memberikan konstribusi dalam mengatasi masalah gizi
kurang. Komponen KM GASS adalah penerapan gizi seimbang, penerapan jadwal
makan yang tepat (sarapan, makan siang, makanan selingan/cemilan, makan malam),
cara pengolahan makanan yang tepat, menu seimbang, penerapan PHBS GASS, pola
asuh nutrisi keluarga, dan cara perawatan gizi seimbang (pengobatan tradisional
temulawak).

Tujuan dari KM GASS adalah (1) meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai


gizi seimbang, (2) memantau status gizi anak usia sekolah, (3) memudahkan KP
GASS untuk menilai pelaksanaan gizi seimbang yang dilakukan keluarga. Manfaat
KM GASS untuk mengobservasi perkembangan status gizi anak usia sekolah dengan
7 komponen yaitu: (1) Kandungan gizi pada makanan, (2) Cara pengolahan
makanan, (3) Menu seimbang, (4) Pola asuh keluarga, (5) PHBS rumah tangga, (6)
Cara keluarga mengatasi gizi kurang, dan (7) Pemeriksaan kesehatan rutin. Dengan 7
komponen ini, maka kegiatan yang dilakukan keluarga dalam meningkatkan status

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
46

gizi anak usia sekolah dapat dinilai berdasarkan program inovasi GASS. Sasaran
GASS adalah anak usia sekolah dari usia 6-12 tahun dengan status gizi kurang dan
risiko gizi kurang.

KM GASS diisi oleh KP GASS secara langsung bersama dengan keluarga dengan
proses tanya jawab, dan observasi langsung kegiatan dalam memenuhi kebutuhan
nutrisi keluarga yang di nilai setiap minggu oleh KP GASS. Mengisi KM GASS, KP
GASS diwajibkan mampu mengisi dan melakukan skrining pada anak usia sekolah,
dan memanfaatkan tabel antropometri Kepmenkes tahun 2010 untuk mengetahui
status gizi anak usia sekolah. KP GASS memiliki peranan penting dalam
pelaksanaan gizi seimbang yang dilakukan oleh keluarga GASS karena KP GASS
merupakan kelompok pendukung untuk dapat meningkatkan status kesehatan
masyarakat dan memotivasi masyarakat dalam meningkatkan derejat kesehatan
mereka (Lanza dan Revenson, 1993).

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
47

BAB 4
PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA
AGGREGAT ANAK USIA SEKOLAH DENGAN GIZI KURANG
DI RW 03 DAN 06 CISALAK PASAR, CIMANGGIS, DEPOK

Bab ini menguraikan mengenai proses pelaksanaan manajemen pelayanan, asuhan


keperawatan komunitas dan asuhan keperawatan keluarga. Proses ini dimulai dari
pengkajian atau analisis situasi dilanjutkan dengan perencanaan, pelaksanaan
kegiatan dan evaluasi terhadap hasil dari intervensi keperawatan yang telah
dilakukan dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah.

4.1 Pengolaan Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas


Pelayanan keperawatana komunitas dalam menanggulangi masalah gizi kurang pada
anak usia sekolah, pengelolaannya dengan cara melakukan analisis situasi
berdasarkan hasil pengkajian dengan menggunakan empat fungsi manajemen
pelayanan keperawatan komunitas yaitu dengan merumuskan masalah, menyusun
rencana inovasi, tindakan dalam penyelesaian masalah, dan melakukan evaluasi
kegiatan serta rencana tidak lanjut untuk mengatasi masalah yang belum teratasi atau
hambatan dalam tiap melakukan tindakan dalam mengatasi masalah yang ada
dikomunitas. Mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah oleh Dinas
Kesehatan Kota Depok, Puskesmas Cimanggis sampai dengan tingkat Kelurahan
Cisalak Pasar berdasarkan kebijakan program kesehatan keluarga khususnya
program UKS dan Gizi pada anak usia sekolah. Metode penerapan fungsi
manajemen dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan yaitu perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan secara berkesinambungan diharapkan
dapat menurunkan masalah kesehatan gizi kurang pada anak usia sekolah.

4.1.1 Analisis Situasi


Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas di identifikasi melalui empat fungsi
manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan
(Gillies, 2000).

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
48

4.1.1.1 Fungsi Perencanaan


Perencanaan manajemen merupakan fungsi manajerial dalam menyeleksi metode dan
prioritas untuk mencapai hasil yang diharapkan (McNamara, 1999, dalam Huber,
2006). Perencanan dalam manajemen pelayanan keperawatan mendorong pemimpin
utuk menganalisa aktifitas dan struktur yang dibutuhkan dalam mengatasi masalah
yang ada. Pada proses perencanaan akan dilakukan pengumpulan data dan analisis
data untuk menggambarkan profil, pelayanan sampai organisasi yang merumuskan
visi misi dan rencana strategi. Menurut Henry Fayol, dalam Huber (2006),
perumusan perencanaan yang baik harus meliputi penetapan visi, misi, pernyataan
filosofi, sasaran, tujuan, kebijakan, dan prosedur atau peraturan.

Proses manajemen ini dilakukan pengumpulan data dengan hasil observasi dan
wawancara terstruktur ditemukan data visi misi, tujuan dan rencana strategik dari
pelaksanaan program. Visi misi Kota Depok ini dibuat sejalan dengan visi misi Dinas
Kesehatan Kota Depok. Visi Dinas kesehatan Kota Depok adalah mewujudkan
masyarakat Depok yang sehat terwujudnya kota Depok sehat dengan layanan
kesehatan merata dan berkualitas dengan 4 misi yang salah satunya adalah
meningkatkan promosi kesehatan dan kualitas lingkungan untuk mendukung
pencegahan penyakit. Hal ini yang menjadi tolak ukur dalam melaksanakan praktik
asuhan keperawatan dalam upaya preventif dalam mengatasi masalah kesehatan yang
ada dimasyarakat. Visi dan misi ini tidak secara khusus dalam mengatasi masalah
gizi khususnya pada anak usia sekolah

Proses perencanaan strategis, awal pengumpulan data yang dilakukan adalah


penjajakan yang dilakukan dengan melakukan pengumpulan data pelaksanaan
program khusus untuk aggregate anak usia sekolah di Dinas Kesehatan(Dinkes)
Depok pada tahun 2013. Data yang didapat pada saat pengumpulan data yang ada
adalah data penjaringan di tahun 2011 yang sudah ada laporan hasilnya. Pemegang
program anak usia sekolah melakukan melakukan penjaringan pada setiap sekolah
yang berada pada wilayah Kota Depok yang dilakukan secara acak dan hanya
dilakukan pada Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang pertama
masuk sekolah (kelas satu). Penjaringan pada 517 SD/MI dengan total anak usia
sekolah 170.700 siswa.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
49

Hasil penjaringan didapatkan hanya 18,2% anak yang dilakukan penjaringan (status
gizi normal 12.280 laki-laki dan 11.403 perempuan, status gizi kurus 496 laki-laki
dan 552 perempuan, dan status gizi AUS kurus sekali 4 laki-laki dan 3 perempuan).
Hal ini menunjukkan bahwa hasil penjaringan anak usia sekolah di Kota Depok
masih dibawah target nasional 80% dan Jawa Barat 50% sehingga pencapaian untuk
mengetahui hasil penjaringan seluruh anak usia sekolah di Kota Depok tidak bisa
diketahui berapa anak di Kota Depok yang mengalami gizi kurang. Perencanan
mengatasi gizi kurang dengan PMT AS dilakukan dibawah suatu instansi BPMK
yang sumber dana berasal dari pemerintah kota Depok, dan pelaksanaanya dilakukan
hanya pada daerah yang benar-benar banyak terdapat anak usia sekolah gizi kurang
diwilayah tersebut.

Proses perencanaan program anak usia sekolah gizi kurang belum ada dikarenakan
program hanya berfokus pada penjaringan dan tidak ada intervensi khusus untuk
mengatasi masalah gizi kurang. Perencanaan di Puskesmas Cimanggis khusus untuk
program anak usia sekolah hanya seputar skrining yang dan BIAS yang dilakukan
pada beberapa sekolah di bawah kawasan kerja Puskesmas Cimanggis. Tidak ada
perencanaan khusus untuk mengatas gizi kurang pada anak usia sekolah. Analisis
SDM atau tenaga kerja pada saat praktik, pemegang program anak usia sekolah
terdapat kekosongan tenaga. Hal ini menunjukkan kurang optimalnya perencanaan
program anak usia sekolah khususnya pada anak usia sekolah gizi kurang. Program
gizi hanya difokuskan kepada bayi dan balita saja melalui program MTBS yang ada
di Puskesmas Cimanggis. Pada hal pelaksanaan perencanaan suatu institusi atau
organisasi aktivitas yang dilakukan adalah melakukan analisis, pengkajian,
penyusunan tujuan jangka panjang dan jangka pendek dalam mengatasi masalah,
baru akan dilakukan prioritas masalah atau memprioritaskan aktivitas dalam
mengatasi masalah (Gillies, 2000).

Perencanaan program gizi untuk anak usia sekolah masuk dalam dalam program
UKS yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Depok dan masih berorientasi pada
pelayanan didalam tatanan sekolah. Penganggaran pelayanan kesehatan anak usia
sekolah dianggarkan melalui APBD, PHP, dan BANGUB yang diusulkan setiap
tahun sekali untuk melayani kegiatan kesehatan anak usia sekolah (penanggung
jawab program kesehatan anak usia sekolah, Dinkes Depok, 2013). Dana program

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
50

anak usia sekolah hanya untuk kegiatan penjaringan dan kegiatan lomba sekolah
sehat. Dana khusus untuk mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah
tidak langsung dipegang oleh Dinas Kesehatan Depok, seperti PMT AS dilakukan
oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga (BPMK) Kota Depok.

Perencanaan kegiatan anak usia sekolah di Dinas kesehatan Depok dilakukan melalui
seksi kesehatan keluarga dibawah tanggung jawab program kesehatan anak dan
remaja. Perencanaan kegiatan secara umum adalah pembinaan kesehatan reproduksi
dan pembinaan pelayanan kesehatan anak sekolah dan remaja yang untuk tahun 2013
ini mencakup 3 jenis kegiatan selain penjaringan data kesehatan anak usia sekolah
melalui sekolah/MI, UKS dan pelatihan dokter kecil dan lomba sekolah sehat
(Rancangan anggaran kesehatan anak dan remaja Dinkes Depok Tahun 2013).
Keterbatasan dana dan tenaga menyebabkan kegiatan manajemen pelayanan tidak
dapat terselenggara dengan baik (Marquis dan Huston, 2010).

Perencanaan pelayanan kesehatan anak usia sekolah lebih ditekankan pada


pembinaan UKS melalui pelatihan petugas kesehatan dan belum ada kegiatan atau
perencanaan strategis khusus atau umum yang biasanya dilakukan tiap 3-5 tahun
dalam mengembangkan program yang direncanakan (Marquis & Huston, 2010). Dari
hasil analisi data yang ada dan rencana program yang ada di Dinas Kesehatan Kota
Depok dan di Puskesmas Cimanggis terlihat jelas belum adanya program khusus atau
perencanaan khusus untuk anak usia sekolah yang mengalami gizi kurang. Dengan
demikian perlunya ada perubahan dalam upaya merencanakan pelayanan kesehatan
untuk anak usia sekolah khususnya gizi kurang, karena masalah gizi kurang pada
anak usia sekolah dapat menghambat proses tumbuh kembang anak usia sekolah dan
dapat menurunkan prestasi belajar akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat (Depkes
RI, 2005).

4.1.1.2 Fungsi Pengoganisasian


Pengorganisasian adalah menggerakkan sumber daya manusia, sumber-sumber
material yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tujuan. Fungsi pengorganisasian pada
suatu organisasi adalah untuk membentuk kerangka dalam menjalankan rencana
yang telah ditetapkan, menentukan jenis pelayanan kesehatan yang paling sesuai,
mengategorikan tindakan dalam mencapai tujuan masing-masing unit, bekerja dalam

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
51

struktur organisasi, serta memahami dan menggunakan kekuatan dan kekuasaan


dengan tepat (Marquis & Huston, 2006). Dinkes Depok dan Puskesmas Cimanggis
struktur organisasi dipegang oleh kepala seksi yang akan mengkoordinir, mengawasi
pelaksanaan program-program dan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
bawahannya. Pengorganisasian merupakan kegiatan penggunaan material dan
pembangunan struktur organisasi sumber daya manusia, sehingga struktur, kekuatan
dan otoritas yang digunakan sangat mempengaruhi pengorganisasian.

Pemegang program anak usia sekolah di Dinkes Depok dan Puskesmas Cimanggis,
menurut penulis terdapat keterbatasan sumber daya manusia karena penanggung
jawab program mempunyai beberapa tanggung jawab. Pengorganisasian pada
program anak usia sekolah di Dinas Kesehatan Kota Depok berada di bawah
koordinasi seksi kesehatan keluarga. Kegiatan pengorganisasian berupa program
UKS yang membina dan melatih kader kesehatan dari anak usia sekolah, guru dan
kepala sekolah. Program UKS yang dilaksanakan disesuaikan dengan Trias UKS
yang hanya dilakukan pada tiap sekolah-sekolah. Proses pengorganisasian meliputi
aktifitas-aktifitas, pembuatan tanggung jawab berdasarkan struktur organisasi,
adanya hubungan kerja melalui komunikasi yang efektif untuk mewujudkan tujuan
bersama (Gillies, 2000; Marquis & Huston, 2006).

Pengorganisasian kegiatan program anak usia sekolah di Puskesmas Cimanggis, dari


pertengahan tahun 2012 hingga awal 2013 tidak penanggung jawab yang memegang
peranan dalam melaksanakan program anak usia sekolah berupa penjaringan.
Pelaksanaan hanya berupa penjaringan, pembinaan UKS dari Puskesmas yang
kesemuanya dilakukan oleh penanggung jawab tidak tetap atau sering diganti-ganti.
Berdasarkan hasil pengorganisasi yang terlihat dari Puskesmas Cimanggis hanya
berupa pelaksanaan penjaringan. Dalam pelaksanaan pengorganisasian UKS di
Puskesmas belum dilaksanakan sesuai dengan proses pengorganisasian karena tidak
ada pelaksana program dan program yang ada belum sesuai dengan proses
pengorganisasian yang ada yaitu belum ada staf (tenaga kerja/penanggung jawab)
untuk melaksanakan program (Gillies, 2000). Program khusus untuk gizi hanya pada
balita yang dilakukan intervensi, yaitu dengan program MTBS bagi anak yang
mengalami gizi kurang (gizi buruk), penatalaksanaan gizi kurang untuk anak usia
sekolah tidak di Puskesmas Cimanggis.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
52

4.1.1.3 Fungsi Pengarahan


Aktifitas pengarahan menurut Kron (1987) dalam Huber (2006) meliputi
pengawasan, penugasan dan pemberian pengarahan, observasi, evaluasi dan
kepemimpinan dalam mendukung mengatasi masalah. Tujuan fungsi pengarahan
adalah menciptakan kerjasama yang lebih efisien; mengembangkan kemampuan dan
keterampilan staf; menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan;
menciptakan suasana lingkungan kerja yang dapat meningkatkan motivasi dan
prestasi kerja staf; dan membuat organisasi berkembang lebih dinamis (Marquis dan
Huston, 2006; Muninjaya, 2004).

Proses pengarahan pada program pelaksanaan kegiatan untuk anak usia sekolah,
pelaksanaan program UKS proses pengarahan yang dilakukan hanya berupa proses
pelaksanaan penjaringan yang dilakukan oleh penanggung jawab program seperti
penentuan jadwal rutin kegiatan penjaringan dan evaluasi kerja program yang
dilaksanakan. Namun pelaksanaan kegiatan belum sesuai dengan fungsi pengarahan
program kesehatan anak usia sekolah yaitu penjaringan data hasil pengkajian terkait
fungsi pengarahan belum ada koordinasi yang jelas terkait lintas program, seperti
upaya untuk mengintegrasikan pihak-pihak terkait dalam komunikasi yang efektif
belum ada, antar pemegang program serta proses pemberian motivasi, pengarahan,
bimbingan dan supervisi terkait program mulai dari tingkat dinas kesehatan,
puskesmas sampai sekolah belum terselenggara dengan optimal. Standar atau
pedoman sebagai bentuk pengarahan seharusnya dapat digunakan sebagai
perwujudan dari fungsi kepemimpinan manajemen keperawatan yang meliputi proses
pendelegasian, pengawasan, koordinasi dan pengendalian implementasi rencana
organisasi (Gillies, 2000; Swansburg, 1999; Marquis & Huston, 2006).

Pelaksanaan supervisi telah dilakukan pada saat kegiatan penjaringan kesehatan yaitu
satu kali setahun setiap penerimaan siswa baru. Pengarahan, bimbingan dan
pemberian motivasi dilakukan pada saat kegiatan supervisi ke kegiatan UKS tersebut
dilakukan namun sifatnya masih sebatas teknis pelaksanaan administrasi dan proses
kegiatan Trias UKS yang dilakukan pada tiap sekolah yang didatangi atau
pelaksanaan penjaringan hanya berupa pengkajian dan menilai saja tanpa dilakukan
intervensi. Berdasarkan uraian diatas maka bisa diketahui pelaksanaan fungsi
pengarahan pada program pelayanan kesehatan penjaringan pada anak usia sekolah

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
53

masih belum optimal, hal ini ditunjukan dengan frekuensi supervisi yang masih
kurang, pengarahan dan bimbingan yang diberikan masih belum optimal mencakup
berbagai hal serta pengetahuan, motivasi dan menyelesaikan masalah yang
ditemukan saat pelaksanaan program yang dilakukan disetiap sekolah.

Hasil penelitian Kirby (1998), menjelaskan supervisi yang terjadwal, perlengkapan


supervisi, manajemen informasi, dan beban kerja pada setiap bagian dalam suatu
organisasi adalah untuk upaya pengembangan peningkatan kinerja melalui supervisi
bisa dilakukan dengan cara; merevisi kembali pedoman kegiatan, menghilangkan
supervisi yang terpusat, mendorong atau memotivasi tanggungjawab harian setiap
bagian organisasi, menciptakan ruang kreatifitas bagi staf, dan menentukan capaian
(indikator) pada setiap unit kerja. Dari hasil analisis fungsi pengarahan Dinkes
Depok dan Puskesmas Cimanggis proses pengarahan tidak ada melakukan supervisi
untuk menilai kinerja dari tenaganya. Setiap pemegang program hanya melaporkan
hasil kerjanya yang dilakukan setiap melaporkan laporan tahunan. Supervisi oleh tim
pembina pusat dilakukan satu kali setahun, tim pembina provinsi dua kali setahun,
tim pembina kabupaten 3 kali setahun dan tim pembina kecamatan empat kali
setahun (Marquis dan Huston, 2006; Kemenkes RI Pusat Promosi Kesehatan, 2011).

4.1.1.4 Fungsi Pengawasan dan pengendalian


Pengawasan merupakan cara untuk memonitor dan menilai tindakan pengawasan.
Menurut swanburg (2000) suatu fungsi pengawasan yang terus menerus dari
manajemen yang terjadi selama perencanaan, pengoganisasian dan pengarahan
aktifitas. Evaluasi membutuhkan standar yang dapat digunakan sebagai ukuran untuk
mengevaluasi kualitas dan kuantitas dari pelayanan. Standar kinerja digunakan untuk
evaluasi kinerja individual, dan kriteria dapat dikembangkan untuk mengevaluasi
keseluruhan kegiatan yang dilakukan. Adanya kesinabungan program dari Dinkes
Depok dengan Puskesmas Cimanggis dilakukan sesuai dengan program, program
anak usia sekolah berupa penjaringan dan UKS yang dilaporkan Puskesmas
Cimanggis kepada Dinkes Depok setiap akhir tahun.

Fungsi pengendalian dalam upaya pengelolaan program anak usia sekolah berupa
program UKS dan penjaringan di Kota Depok sudah dilaksanakan, seperti tenaga
yang bertanggungjawab untuk memonitoring dan mengevaluasi pelaksanaan program

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
54

pembinaan kesehatan anak usia sekolah, terdapat alokasi dana untuk kegiatan
pengawasan dan pengendalian, pelaksanaan kegiatan evaluasi dilakukan tiap selesai
pelaksanaan penjaringan dan evaluasi pada akhir tahun. Pelaksanaan kegiatan
penjaringan di puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Depok dilakukan tiap tahun
terutama pada awal semester anak usia sekolah masuk sekolah dasar (SD/MI), serta
terdapat laporan hasil evaluasi kegiatan program hasil penjaringan dalam setahun.

Berdasarkan hasil analisis, evaluasi terhadap kinerja dari pemegang program anak
usia sekolah dari Dinkes Depok dan Puskesmas Cimanggis belum ada penilaian
kinerja demikian pula pada kinerja kader kesehatan yang ada di masyarakat. Hal ini
akan membuat terjadinya penurunan motivasi kerja dari tiap tenaga pemegang
program. Belum efektifnya fungsi pengawasan ini akan berdampak pada kurangnya
kemampuan dalam pengembangan dan modifikasi program untuk pengendalian
masalah kesehatan yang ada khususnya masalah gizi kurang pada anak usia sekolah.

Pengendalian pada pelaksanaan program anak usia sekolah melalui kegiatan


stratifkasi kegiatan UKS dan penjaringan yang dilakukan tiap anak usia sekolah
masuk sekolah dasar. Fungsi pengendalian program kesehatan anak usia sekolah
belum dilaksanakan dengan baik yaitu; hasil pengkajian ditemukan bahwa kegiatan
penilaian penampilan kerja belum dilakukan, pengawasan hanya meliputi kualitas
pelayanan, kegiatan monitor dan evaluasi (monev) dari dinas kesehatan hanya
dilaksanakan terkait dengan program yang dianggarkan, fungsi pendalian yang tidak
efektif ini akan menyebabkan tidak dapat dilakukannya pengembangan dan
modifikasi program untuk memenuhi kebutuhan anak usia sekolah yang terus
berkembang khususnya masalah kesehatan gizi kurang.

4.1.2 Masalah Keperawatan dan Penapisan Masalah


Pelaksanaan manajemen pelayanan keperawatan komunitas telah diuraikan maka di
rumuskan masalah yang ditemukan maka analisis mengggunakan diagram fish bone.
Masalah manajemen pelayanan keperawatan komunitas pada kelompok anak usia
sekolah dengan gizi kurang dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Belum
optimalnya perencanaan masalah gizi kurang pada anak usia sekolah; (2) Belum
adanya wadah dalam mengatasi masalah gizi kurang anak usia sekolah di Cisalak
Pasar, (3) Belum optimalnya pelaksanaan program dalam penanganan anak usia

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
55

sekolah gizi kurang (4) Belum terkoordinasinya program kegiatan anak usia sekolah
di masyarakat, (5) Belum optimalnya pengawasan , monev terhadap masalah
kesehatan pada anak usia sekolah gizi kurang. Diagram fish bone tentang manajemen
pelayanan kesehatan komunitas dengan kelompok anak usia sekolah dengan masalah
gizi kurang dirumuskan pada skema 4.1 hasil analisis terhadap manajemen pelayanan
keperawatan pada kelompok anak usia (fish bone).

Berdasarkan, analisis masalah manajemen pelayanan pada anak usia sekolah gizi
kurang di Dinas Kesehatan Kota Depok, Puskesmas Cimanggis dan Kelurahan
Cisalak Pasar maka hasil penapisan masalah manajemen terdapat pada lampiran 1.
Masalah keperawatan yang didapatkan berdasarkan penapisan masalah dan akan
dilakukan intervensi untuk mengatasi masalah selama 8 bulan yaitu : 1) Belum
adanya wadah pembinaan anak usia sekolah dengan gizi kurang di Kelurahan Cisalak
Pasar, dan 2) Belum optimalnya pengelolaan program pelayanan dalam mengatasi
masalah gizi kurang pada kelompok anak usia sekolah dimasyarakat Kelurahan
Cisalak Pasar.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Skema 4.1 Diagram Fish Bone Hasil Analisis Terhadap Manajemen Pelayanan Keperawatan Pada Kelompok Anak Usia Sekolah
PERENCANAAN
Belum optimalnya PENGORGANISASIAN
perencanaan masalah gizi Belum ada perencanaan untuk program Risiko tinggi angka anak usia SDM yang terbatas 2 dinkes Tidak optimalnya pelaksanaan
kurang pada anak usia penatalaksanaan Aus dengan gizi sekolah gizi kurang di dan Puskesmas cimanggis program anak usia sekolah
sekolah kurang untuk kemasyarakat masyarakat tidak ada dimasyarakat
Program anak usia sekolah : Belum adanya
Belum adanya wadah dalam Penjaringan & UKS penatalaksanaan gizi kurang
mengatasi masalah gizi Job description yang belum jelas Peran dan fungsi
anak usia sekolah
kurang anak usia sekolah pelaksananaan program
kurang jelas
Anggaran program anak usia Perencanaan program anak
sekolah hanya untuk penjaringan usia sekolah gizi kurang Belum ada perencanaan khusus
dan UKS tidak optimal untuk mengatasi gizi kurang di Meningkatnya kasus gizi kurang di
masyarakat masyarakat

Alur komunikasi antar Kurang motivasi kerja dan KP


pemegang program Program yang ada GASS dalam mengatasi
atau kerjasama antar berjalan sendiri- Belum ada penilaian kinerja bagi masalah pada anak usia sekolah
pemegang program sendiri tiap pemegang program kr minimnya reward
tidak efektif departemen

Kurangnya pelaksanaan program


Belum ada evaluasi terhadap
Kurangnya komitmen antara Tidak semua yang berorientasi pada
pelaksanaan program terhadap
instansi pembinaan program program dalam pengendalian masalah anak
penanggung jawab program
anak usia sekolah melaksanakan sekolah gizi kurang
Belum optimalnya pelaksanaan (penjaringan &UKS)
program dalam penanganan Tidak efektifnya pemantauan anak
Belum adanya sistem
anak usia sekolah gizi kurang Tidak ada tindak lanjut usia sekolah dengan gizi kurang
Kegiatan pembinaan pemantauan kasus anak usia
kesehatan anak usia sekolah program melalui
sekolah gizi secara optimal
belum menjadi fokus utama pembinaan dan Pemegang program kurang
Belum terkoordinasinya program
arah kebijakan bidang pengarahan mengetahaui kelemahan dan
kegiatan anak usia sekolah di
kesehatan dalam renstra Belum adanya kelebihan pelayanan yang telah
masyarakat
Terbatasnya kader yang memiliki pemantauan anak usia diberikan kepada anak usia sekolah
Belum pemerataan pelatihan sekolah gizi kurang
Belum optimalnya pengawasan , kemampuan mengatasi gizi kurang dengan gizi kurang
dan sosialisasi bagi KP GASS
monev terhadap masalah kesehatan pada anak usia sekolah
pada anak usia sekolah gizi kurang PENGAWASAN
PENGARAHAN

56 Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
4.1.3 Penyelesaian Masalah Pengelolaan Pelayanan Manajemen
4.1.3.1 Permasalahan pertama : Belum adanya wadah pembinaan anak usia
sekolah dengan gizi kurang di Kelurahan Cisalak Pasar.
Tujuan Umum : setelah intervensi keperawatan selama 8 bulan, belum adanya
wadah pembinaan anak usia sekolah dengan gizi kurang di Kelurahan Cisalak
Pasar sudah memadai

Tujuan Khusus : setelah dilakukan tindakan keperawatan komunitas selama 12


minggu, diharapkan: 1) Terbentuknya KP GASS (kelompok kader sebagi
pendukung gizi anak sekolah seimbang); 2) Terbentuknya strurktur organisasi
kepengurusan KP GASS di Kelurahan Cisalak Pasar; 3) Peningkatan sikap,
pengetahuan, dan keterampilan sebesar 2 kali standar deviasi; 4) Tersedianya
media informasi (buku kerja KP GASS dan petunjuk pelaksanaan KM GASS); 5)
70% KP GASS mampu melakukan penerapan GASS melalui KM GASS yang
dilakukan oleh keluarga dan anak usia sekolah dengan gizi kurang yang telah
dimodifikasi secara mandiri.

Rencana Intervensi : 1) Koordinasi kegiatan Desiminasi pelaksanaan program


GASS; 2) Bentuk kelompok KP GASS serta struktur kepengurusasn KP GASS; 2)
Sosialisasi KP GASS kemasyarakat; 3) Terlaksana pelatihan KP GASS; 4)
Berikan dukungan kelompok pendukung dalam menyiapkan sarana dan prasarana;
5) Fasilitasi KP GASS dalam penerapan program inovasi GASS yaitu dengan
skrining status gizi anak usia sekolah.

Pembenaran: Proses pelaksanaan dalam pelayanan kemasyarakat dengan


memberdayakan masyarakat melalui kelompok pendukung untuk membantu
keluarga dan individu dalam mengatasi masalah kesehatan yaitu gizi kurang, hal
ini merupakan suatu upaya membantu tenaga kesehatan dalam memberikan
pelayanan atau keperawatan dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada
dimasyarakat baik dari keluarga maupun dari individu. Menurut Helvie (1998),
dengan pemberdayaan masyarakat merupakan suatu gagasan mendorong
masyarakat mampu menentukan sendiri apa akan dilakukan untuk mengatasi

57 Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
58

permasalahan yang dihadapi, sehingga masyarakat memiliki kesadaran dan


kemampuan menentukan masa depannya. Terbentuknya suatu organisasi (wadah)
untuk membantu masyarakat dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia
sekolah. Marquis dan Huston (2006) menulis bahwa pengorganisasian meliputi
pembentukan struktur untuk menjalankan rencana, menentukan jenis pelayanan
kesehatan yang paling sesuai, mengelompokkan aktifitas untuk memenuhi tujuan
masing-masing unit, bekerja dalam struktur organisasi, serta memahami dan
menggunakan kekuatan dan kekuasaan dengan tepat.

Implementasi
1) Melaksanakan desiminasi di Dinas Kesehatan pada tanggal 1 Maret 2013
pemaparan hasil analisis data Program anak usia sekolah di Dinkes Depok dan
memaparkan program Inovasi GASS yang akan dilakukan untuk mengatasi
gizi kurang pada anak usia sekolah di masyarakat, desiminasi program anak
usia sekolah khususnya gizi kurang di Puskesmas Cimanggis pada tanggal 26
Maret 2013 dan pemaparan program inovasi GASS dalam melaksanakan
intervensi mengatasi masalah gizi kurang, dan di lanjutkan lokakarya mini
bersama-sama dengan masyarakat dan pihak Keluarahan Cisalak Pasar,
Kecamatan Cimanggis, Puskesmas Cimanggis dan Dinas Kesehatan Depok
pada tanggal 11 Mei dan 12 Juni 2013 tentang masalah gizi kurang pada anak
usia sekolah dan intervensi yang dilakukan untuk mengatasi masalah gizi
kurang pada anak sekolah, Lokakarya mini kedua tanggal 12 Juni 2013
memaparkan implementasi yang sudah dilakukan dalam mengatasi gizi kurang
pada anak usia sekolah dengan adanya pembentukan KP GASS, dan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat dan keluarga. Adapun tujuan
kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi masalah yang ditemukan dalam
program anak usia sekolah di Kelurahan Cisalak Pasar Kecamatan Cimanggis
Kota Depok, khususnya anak usia sekolah gizi kurang dan menyepakati
perencanaan kegiatan GASS dengan adanya KP GASS dan KM GASS yang
akan dilakukan untuk mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah
gizi kurang.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
59

2) Pembentukan KP GASS di RW 03 pada dan RW 06 pada tanggal 6 Mei 2013


yang dihadiri 10 orang kader, dan di RW 06 pada tanggal 4 September 2013
yang dihadiri oleh 4 orang kader. Tujuan KP GASS diharapkan dapat menjadi
wadah bagi masyarakat dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia
sekolah. Sebelum membentuk KP GASS, dilakukan pertemuan Kader
Kesehatan di RW 03 pada saat selesai kegiatan Poswindu pada tanggal 1 April
2013, sosialisasi program inovasi GASS dan tujuan GASS dalam mengatasi
masalah gizi kurang pada anak usia sekolah.

Pada saat sosialisasi, penulis menjelaskan kepada kader tentang masalah yang
ada di RW 03, adanya masalah gizi kurang pada anak usia sekolah dikawasan
kerja para kader, kemudian dilakukan pembentukan kelompok pendukung (KP
GASS) pada tanggal 23 Mei 2013 dalam upaya mengatasi masalah gizi kurang
pada anak usia sekolah dengan membentuk struktur kepengurusan, melakukan
pelatihan dimana menjelaskan tujuan, manfaat, program kerja, tanggung jawab
KP GASS, dan cara pelaksanaan penerapan KM GASS di keluarga.

Pembentukan KP GASS di RW 06 tidak berjalan lancar, karena kader yang


datang hanya 2 orang. Kegiatan KP GASS tidak dapat dilaksanakan walau
dengan melibatkan masyarakat (ibu-ibu anak usia sekolah) tidak dibuat
struktur khusus KP GASS karena masyarakat yang dijadikan anggota tidak
mampu atau tidak bersedia menjalankan tanggung jawab sebagai KP GASS.
3) Melakukan pelatihan KP GASS di RW 03 pada tanggal 15 Mei 2013 dengan
memberikan pedoman buku kerja KP GASS yang diberikan pada setiap
anggota KP GASS, pelaksanaan pelatihan dilakukan selama 3 kali pertemuan
(3 minggu) dimana pada pertemuan pertama menjelaskan program kerja KP
GASS, tanggung jawab, dan cara melakukan scrining status gizi; pada
pertemuan kedua melakukan penyuluhan gizi kurang dan gizi seimbang;
pertemuan ketiga melakukan demonstrasi cara pencegahan dan penangan
masalah gizi kurang dengan modifikasi makanan yang bergizi seimbang, cara
pembuatan jadwal makan seimbang dan pembuatan ramuan tradisional
temulawak untuk dapat meningkatkan nafsu makan anak.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
60

4) Memfasilitasi KP GASS dalam penerapan program inovasi GASS yaitu


dengan skrining status gizi anak usia sekolah. Setiap KP GASS akan
difasilitasi dengan timbangan dan meteran untuk dapat melakukan skrining
pada anak usia sekolah terutama pada anak gizi kurang, serta memberikan
buku pedoman kerja KP GASS akan dilampirkan pada lampiran 4.
5) Memberikan dukungan dan motivasi kepada KP GASS dalam melaksanakan
program GASS pada saat supervisi pada saat selesai evaluasi KM GASS
diakhir bulan dalam bentuk pertemuan di akhir bulannya dan anggota KP
GASS yang aktif diberikan reward dalam bentuk buku tentang gizi. Anggota
KP GASS yang aktif adalah Ibu Nurbaiti yang aktif mengajak dan memotivasi
keluarga untuk menerapkan KM GASS.
6) Melakukan pendampingan kepada KP GASS dalam pemantauan pelaksanaan
KM GASS oleh keluarga anak usia sekolah gizi kurang yang dilakukan
sewaktu-waktu dan menilai cara kemampuan KP GASS dalam melaksanakan
program kerja dalam mengatasi gizi kurang.

Evaluasi
1) Terlaksananya desiminasi program anak usia sekolah dan pemaparan kegiatan
program inovasi GASS dalam menanggulangi masalah gizi kurang kepada
pihak Dinas Kesehatan Kota Depok, Puskesmas Cimanggis, Kelurahan
Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, dan Masyarakat Cisalak Pasar pada saat
lokakarya mini masyarakat. Terdapatnya kesepakatan bersama dalam
mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah dengan pembentukan
kelompok pendukung GASS (KP GASS).
2) Terbentuknya KP GASS (kelompok kader sebagai pendukung gizi anak
sekolah seimbang) di RW 03, KP GASS melakukan perawatan masalah anak
usia sekolah gizi kurang di masyarakat dan keluarga. Setiap bulan KP GASS
akan melakukan evaluasi atau skrining yang dilakukan pada saat akhir bulan
dan pada saat kegiatan rutin Posyandu balita, anak usia sekolah dihaimbau
untuk melakukan penimbangan dan pengukurang tinggi badan.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
61

Terbentuknya struktur kepengurusan diketuai oleh Ibu Ratna, bendahara Ibu


Rahima, dan Sekretaris Ibu Emma dan 7 anggota KP GASS yaitu Ibu Marwa,
Ibu Ida, Ibu Nuryani, Ibu Siti Mulyana, Ibu Nuryani, dan Ibu Marwah. Namun
dihasil akhir pelaksanaan implementasi KP GASS yang aktif hanya 7 orang
dikarenakan tidak aktif lagi dalam setiap kegiatan KP GASS.
3) Pengetahuan anggota KP GASS mengalami peningkatan menjadi 32,88 (>
standar minimal 23,80), sikap anggota KP GASS mengalami peningkatan
menjadi rata-rata 27, 09 (> standar minimal 23,38); keterampilan KP GASS
meningkat 31,45 (> standar minimal 23,3)
4) Tersedianya media informasi (buku Modul atau buku Kerja KP GASS dan
petunjuk pelaksanaan KM GASS), terlampir pada Lampiran 2 : buku KP
GASS
5) 70% KP GASS termasuk kategori baik dalam melakukan evaluasi penerapan
KM GASS pada keluarga anak gizi kurang dan risiko gizi kurang yang telah
dimodifikasi secara mandiri.

Rencana tindak lanjut : KP GASS melakukan kegiatan secara mandiri setiap


minggu dalam mengevaluasi KM GASS dan mengevaluasi hasil kegiatan yang
dilakukan dalam penerapan GASS. KP GASS memotivasi kader lain untuk ikut
dalam pelaksanaan program gizi anak sekolah seimbang, KP GASS yang telah
terbentuk dapat memotivasi kader di RW lain untuk bisa membagi informasi
mengatasi masalah gizi kurang kepada kader kesehatan lain yang ada di
Kelurahan Cisalak Pasar.
Pihak Kelurahan Cisalak Pasar memfasilitasi KP GASS sebagai kelompok
pendukung yang juga sebagai wadah untuk masyarakat untuk melakukan
perawatan mengatasi masalah gizi terutama masalah gizi kurang.

4.1.4.2 Masalah kedua : Belum optimalnya program pelayanan dalam mengatasi


masalah gizi kurang pada kelompok anak usia sekolah dimasyarakat
Kelurahan Cisalak Pasar

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
62

Tujuan Umum : setelah dilakukan program pelayanan dalam mengatasi gizi


kurang pada kelompok anak usia sekolah di masyarakat Kelurahan Cisalak Pasar
selama 8 bulan dapat optimal.

Tujuan Khusus : setelah dilakukan pelayanan manajemen keperawatan selama


12 minggu, diharakan : 1) Teridentifikasi proses pelayanan dalam mengatasi gizi
kurang dengan pemanfaatan KM GASS pada keluarga anak usia sekolah gizi
kurang; 2) Meningkatnya kemampuan KP GASS dalam melakukan penerapan
KM GASS; 3) KP GASS mampu melakukan skrining status gizi anak usia
sekolah dengan menggunakan antropometri dari Kepmenkes 2010 dari 50%
menjadi 70%; 4) KP GASS mampu melakukan evaluasi pelaksanaan KM GASS
pada keluarga anak usia sekolah gizi kurang; 5) kemampuan kader meningkat
pada saat supervisi pendampingan dalam melakukan penerapan program inovasi
GASS di keluarga anak usia sekolah dengan nilai > 75 dikategorikan baik.
Rencana Intervensi : 1) lakukan pelatihan kepada KP GASS tentang teknik
melakukan skrining status gizi anak usia sekolah dan memperkenalkan KM
GASS; 2) Lakukan pendampingan kepada KP GASS pada kegiatan KM GASS; 3)
Lakukan sosialisasi KM GASS kepada kelompok keluarga anak usia sekolah gizi
kurang dan risiko gizi kurang; 4) Lakukan evaluasi kinerja KP GASS dan
memberikan reinforcement dalam bentuk reward bagi KP GASS yang aktif dan
mampu menerapkan KM GASS ke masyarakat.

Pembenaran : Pelaksanaan upaya pengelolaan program pelayanan dalam


mengatasi masalah gizi kurang pada kelompok anak usia sekolah dimasyarakat
dengan melakukan evaluasi dan supervisi kepada KP GASS dalam melaksanakan
GASS (KM GASS) yang telah dimodifikasi pada keluarga anak usia sekolah
dengan gizi kurang, sehingga dapat meningkatkan kinerja dari anggota KP GASS
dalam melaksanakan KM GASS. Praktik manajemen keperawatan dengan
pelaksanan fungsi pengawasan yaitu monitoring dan evaluasi merupakan salah
satu komponen yang digunakan untuk menilai keberhasilan pelaksanaan tindakan
yang dilakukan dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada (Gillies, 2000).

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
63

Implementasi :
1) Melakukan pelatihan kepada KP GASS tentang teknik melakukan skrining
status gizi anak usia sekolah dan memperkenalkan KM GASS kepada KP
GASS dengan menjelaskan penerapan program inovasi GASS yaitu berisikan
7 komponen penatalaksanaan mengatasi gizi kurang pada anak usia sekolah.
Sebelum pelaksanaan pelatihan dilakukan pre test dan post test untuk menilai
kemampuan KP GASS dalam menanggulangi masalah gizi kurang, soal
pretest dan post test terlampir pada lampiran 3. Proses pelatihan dengan teknik
pendidikan kesehatan dan demontrasi dalam menganggulangi masalah gizi
kurang, KP GASS yang dilatih diberikan buku perlengkapan KP GASS dalam
penerapan KM GASS yang terlampir dalam lampiran 4.
2) Melakukan sosialisasi KM GASS kepada kelompok keluarga anak usia
sekolah gizi kurang dan risiko gizi kurang pada saat pertemuan kegiatan
penyuluhan kesehatan tentang gizi kurang dan gizi seimbang.
3) Melakukan pendampingan atau supervisi kepada KP GASS pada kegiatan KM
GASS. Penulis mendampingi kader dalam pelaksanaan evaluasi rutin yang
dilakukan KP GASS kepada keluarga anak usia sekolah gizi kurang dan risiko
gizi kurang dalam penerapan KM GASS dan akhir pendampingan
memberikan kesimpulan atau masukan kepada keluarga terkait perilaku yang
telah dilakukan dalam penerapan KM GASS.
4) Meakukan evaluasi kinerja KP GASS dan memberikan reinforcement dalam
bentuk reward bagi KP GASS yang aktif dan mampu menerapkan KM GASS
ke masyarakat.

Evaluasi : Dari hasil implementasi yang dilakukan untuk mengatasi masalah


kedua pelayanan manajemen keperawatan, yaitu :
1) KP GASS mampu menerima pelatihan KM GASS yang diberikan dengan
adanya peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan KP GASS (pre test
ke pos test ± 2 SD dengan mean 7,3; keterampilan ± 2 SD dengan mean 23,2
dan Sikap ± 2 SD dengan mean 7,82) terhadap penatalaksanaan penerapan
KM GASS. KP GASS yang hadir sebanyak 7 kader dan aktif hingga proses

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
64

pelaksanaan evaluasi penerapan KM GASS ke keluarga anak usia sekolah gizi


kurang.
KP GASS 70% mampu melakukan skrining status gizi anak usia sekolah
dengan menggunakan antropometri Kepmenkes tahun 2010.
2) Terlaksananya sosialisasi KM GASS pada saat penyuluhan kesehatan pada
kelompok keluarga anak usia sekolah gizi kurang dengan 15 keluarga (ibu)
yang hadir 10 KM GASS dapat diberikan, 5 keluarga lagi menolak untuk
melakukan KM GASS dikarena kesibukan sebagai IRT dan berjualan.
3) Terlaksananya pendampingan atau supervisi kepada KP GASS dalam
melakukan evaluasi KM GASS kepada keluarga anak usia sekolah gizi kurang
dan risiko gizi kurang dengan nilai dari 7 KP GASS 80 % KP GASS mampu
melaksanakan KM GASS dengan nilai > 75 (format nilai supervisi KP GASS
terdapat pada lampiran 6) dan KP GASS mampu melakukan skrining status
gizi dengan benar serta mempersiapkan alat-alat untuk skrining dan lembar
balik untuk melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga.
4) Hasil evaluasi kinerja KP GASS dan memberikan reinforcement dalam bentuk
reward bagi KP GASS yang aktif dan mampu menerapkan KM GASS ke
masyarakat. KP GASS mempersiapkan diri dengan baik untuk melakukan
kunjungan keluarga dan melakukan penerapan GASS dengan penilaian KM
GASS pada keluarga anak usia sekolah gizi kurang dengan lembar evaluasi
pelaksanaan GASS terhadap KP GASS dan alat ukur status gizi (timbangan
dan meteran) anak yang selalu dibawa, KP GASS mampu memberikan
masukan kepada keluarga bagaimana penerapan pelaksanaan GASS di
keluarga untuk meningkatan status gizi anak, KP GASS mampu menjelaskan
atau memberikan umpan balik pada tiap pertanyaan yang diberikan keluarga
dalam upaya mengatasi gizi kurang dan memberikan reinforcement positif
pada tindakan positif keluarga, mahasiswa residen keperawatan komunitas
dapat memberikan masukan atau umpan balik kepada KP GASS dalam
pelaksanaan GASS (KM GASS) yang telah dilakukan pada keluarga anak usia
sekolah gizi kurang.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
65

Rencana tindak lanjut : ketua KP GASS bertanggung jawab dalam memotivasi


anggota dalam melakukan penerapan KM GASS bagi keluarga anak usia sekolah
gizi kurang, KP GASS yang terbentuk mensosialisasikan KM GASS ke kader
kesehatan lain selain diwilayah tanggung jawabnya, KP GASS melakukan
komunikasi terus menerus dengan keluarga anak usia sekolah gizi kurang secara
terus menerus dan menindak lanjuti intervensi selanjut untuk mengatasi masalah
gizi kurang, serta tetap melakukan koordinasi antar anggota KP GASS yang lain.
Dinas kesehatan Kota Depok, dan Puskesmas Cimanggis dalam meningkatkan
kualitas pelayanan terhadap anak usia sekolah gizi kurang dengan selalu
memberikan pengarahan dan supervise terhdap program yang digunakan untuk
anak usia sekolah seperti pelaksanaan sudah pernah dilakukan program GASS
untuk anak usia sekolah di masyarakat.

4.2 Asuhan Keperawatan Keluarga


Pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga yang dilakukan pada 10 keluarga
dengan anak usia sekolah gizi kurang di Kelurahan Cisalak Pasar. Pelaksanaan
asuhan keperawatan keluarga dilakukan dua tahap yaitu tahap pertama 5 keluarga
yang dibina dari bulan Maret – Juni 2013 dan tahap kedua 5 keluarga lagi yang
dibina dari bulan Agustus – November 2013. Asuhan keperawatan keluarga yang
dilakukan dengan menggunakan pendekatan model Family Center Nursing mulai
dari tahap pengkajian, analisis data, scoring, prioritas masalah, intervensi,
implementasi dan evaluasi.

Dari hasil pengkajian yang dilakukan pada 10 keluarga binaan, 2 keluarga dengan
tipe keluarga single parent, 70% tumbuh kembang keluarga dengan anak usia
sekolah, pendapatan keluarga 80% dibawah UMR Depok yaitu < Rp. 2.240.000,- ,
60% KK bekerja sebagai buruh tidak tetap, tingkat pendidikan Ibu adalah 80 %
SMP. Pengkajian yang dilakukan mengenai 5 tugas fungsi perawatan kesehatan
keluarga didapatkan 40% keluarga tidak mengerti tentang masalah yang terjadi
pada anak mereka, 70% keluarga mengatakan tidak mengetahui tentang gizi
kurang (definisi, penyebab, tanda dan gejala, akibat) dan gizi seimbang (definisi,
manfaat, triguna zat gizi), 100% keluarga memutuskan untuk melakukan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
66

perawatan dengan anak gizi kurang, 100% keluarga belum mampu melakukan
perawatan dengan anak gizi kurang, 90% keluarga belum mampu memodifikasi
lingkungan untuk mengatasi gizi kurang, 90% keluarga mengatakan tidak pernah
menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalah gizi kurang
pada anak mereka.

Berdasarkan hasil pengkajian dan observasi pada anak usia sekolah 80% anak
mengatakan jarang sarapan sebelum sekolah, 100% anak mengatakan selalu jajan
disekolah (makanan ringan, es atau soft drink, sosis dan nugget, cireng dan mie),
jarang cuci tangan sebelum makan saat jajan, berdasarkan hasil lapor bayangan
60% anak memiliki indeks prestasi dibawah rata-rata kelas, 90% anak mengatakan
tidak mengetahui jajanan yang sehat. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara
kepada ibu ataupu nenek (mengasuh) mengatakan bahwa, 80% anak makan tidak
teratur, 100% tidak ada jadwal makan untuk anak, 70% ibu mengatakan
membebaskan anak memilih dan membeli makanan yang disukai asal anak mau
makan, 40% keluarga mengatakan bahwa akan memarahi anak dan memukul anak
bila nakal dan tidak mau makan, 80% keluarga mengatakan jarang membuat
makanan selingan untuk anak, 90% keluarga mengatakan tidak ada menanyakan
ingin dimasak ap hari ini, 40% keluarga mengatakan bahwa dalam sebulan anak
ada sakit seperti demam, diare, dan sakit perut.

Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga maka akan dipilih salah salah
satu keluarga untuk dipaparkan masalah dalam mengatasi gizi kurang pada anak
usia sekolah. Salah satu keluarga binaan yang dilakukan pada keluarga Ibu A (51
tahun) dengan anak P (10 tahun) yang dilihat sebagai keluarga binaan yang
berhasil dilakukan intervensi keparawatan keluarga.

4.2.4 Pengkajian Keperawatan Keluarga


Pengkajian pada tanggal 3 september 2013 yang dilakukan kepada keluarga Ibu A
(51 tahun) yang memiliki anak usia sekolah dengan nama An P (10,4 tahun). An P
pada saat dilakukan pengkajian dengan skrining status gizi berat badan 19 Kg dan
tinggi badan 123 cm, IMT 12,6 (< dari 3 Standar deviasi) berada pada garis merah

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
67

yaitu gizi kurang). Data yang ditemukan kepada keluarga adalah An P yang
berasal dari keluarga single parent dengan pendapatan Ibu A yang tidak tetap dan
bekerja serabutan tergolong dalam keluarga sejahtera II yang hanya mampu
memenuhi kebutuhan dasar dan tempat tinggal yang mengontrak dan hidup
seadanya (pendapatan dibawah UMR < dari Rp 2.240.000,-), dalam pemenuhan
kebutuhan nutrisi Ibu A tidak sesuai dengan gizi seimbang, pola makan anak (1-
2x sehari) yang tidak teratur lebih banyak jajan dan bermain. Makan hanya ½
porsi yang dihabiskan, tidak menyukai sayuran, jarang minum ± 1-1,5 liter sehari.
Kondisi rumah yang kurang sehat dan tidak mendukung untuk proses tumbuh
kembang yang lebih baik, tidak terdapat ruangan khusus untuk An P belajar
ataupun bermain. Lingkungan sekitar rumah terdapat banyak warung kecil yang
menjual makanan ringan dan cepat saji sehingga An P lebih banyak jajan
ketimbang makan dirumah.

Menurut Ibu A setelah bercerai dari suami Ibu A sehari-hari hanya mengharapkan
dari tabungan yang pernah disimpan sewaktu masih bersama suami dan pekerjaan
saat tidak tetap dengan pendapatan Rp. 300.000,-/ minggu. Ibu A mengatakan An
P sulit sekali disuruh makan, pagi hari jarang sarapan dan ketika pergi sekolah
siang jarang mau makan. An P lebih banyak jajan dalam sehari bisa mencapai Rp.
10.000,-/hari, jajanan yang dibeli seperti makanan ringan, mie instan dan
minuman ringan. Setiap hari An P banyak bermain, kegiatan les tidak ada,
mengaji pada waktu magrib dan belajar jarang hanya ketika ada PR. Ibu A tidak
ada membuat jadwal kegiatan atau memberikan An P tanggung terhadap
pekerjaan rumah. Pola asuh yang digunakan ibu A lebih bersifat permisif, lebih
mempersilahkan anak memilih kegiatan apa yang diinginkan tanpa ada bimbingan
atau aturan-aturan.

An A tidak ada mengalami masalah penyakit kronis, hanya berupa penyakit


infeksi akut seperti ISPA, dan demam dengan membeli obat diwarung akan
sembuh sendiri. Ibu A jarang memanfaat fasilitas pelayanan kesehatan karena
keterbatasan keuangan dan jarak yang cukup jauh. Ibu A tidak mengetahui tentang
gizi kurang yang dialami oleh An P, baik dari penyebab, tanda dan gejala serta

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
68

akibat yang ditimbulkan bila masalah kesehatan tidak diatasi. Untuk masalah tidak
nafsu makan ibu A pernah memberikan suplemen makanan tapi tidak ada
perubahan dari nafsu makan. Ibu A dan An P mengatakan disekolah atau
dilingkungan tempat tinggal tidak pernah diberi pendidikan kesehatan mengenai
gizi.

Berdasarkan hasil indeks prestasi belajar An P, dibawah rata-rata kelas 7,5 dalam
belajar tidak konsentrasi dan daya tangkap yang lambat. An P dalam 1 bulan
sekali ada mengalami sakit seperti sakit perut atau demam, mata yang sayu
dengan konjungtiva yang anemis, bibir kering, terdapat caries gigi, postur tubuh
yang kurus, personal hiegine bersih dan citra tubuh baik. Pada saat dilakukan
permeriksaan pulsasi nadi normal 78 x/I, kulit kering, dan bising usus 20 x/i.
Menurut Ibu A, An P mudah mengantuk setiap sudah belajar, dan senang belajar
kelompok bersama teman.

Tingkat kemandirian keluarga dalam melakukan perawatan pada An P yang


mengalami gizi kurang pada saat awal pengkajian berada pada level I yaitu :
menerima petugas kesehatan masyarakat, dan menerima pelayanan keperawatan
yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan. Ketidak mampuan keluarga
dalam melakukan perawatan anak dengan gizi kurang yang menjadi salah satu
timbulnya masalah dan faktor lingkungan fisik dan psikologis keluarga.

Data pengkajian diatas didapatkan masalah kesehatan seperti, asupan nutrisi yang
tidak adekuat, prestasi belajar kurang baik, kebiasaan jajan yang tidak sehat dan
masalah risiko terjadinya penyakit infeksi akut karena pola hidup tidak sehat.
Berikut ini digambarkan (Web of Coution) WOC yang dapat terjadi pada anak
usia sekolah yang mengalami gizi kurang :

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
69

Skema 4.2: Analisa Masalah Keperawatan Keluarga Ibu A dengan gizi kurang
pada An P

Risiko penurunan prestasi


belajar

Risiko keterlambatan
perkembangan

Pemehuhan kebutuhan nutrisi


kurang dari kebutuhan tubuh : Risiko infeksi :
Proses pertumbuh kembang
gizi kurang penyakit ISPA, Diare
anak tidak optimal

Asupan nutrisi kurang

Pola makan yang tidak


sehat

Daya beli keluarga kurang

Pola asuh nutrisi


Pengetahuan keluarga tentang
keluarga tidak efektif
gizi kurang dan gizi seimbang
Keterbatasan sumber keluarga

Kondisi ekonomi/ Kurang informasi mengenai gizi untuk


keuangan terbatas proses tumbuh kembang anak usia
sekolah

4.2.2 Masalah Asuhan Keperawatan Keluarga


Analisa hasil pengkajian yang telah dilakukan berdasarkan pohon masalah diatas,
maka dirumuskan diagnosa keperawatan yang telah dilakukan perumusan masalah
berdasarkan scoring, dengan 4 kriteria yaitu :
4.2.2.1 Sifat masalah yaitu dengan menentukan masalah tersebut bersifat
potensial yang berarti kondisi yang terjadi menuju ke arah pencapaian
tingkat fungsi yang lebih tinggi; risiko berarti masalah yang akan terjadi;
sedangkan aktual berarti masalah sudah terjadi saat pengkajian

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
70

4.2.2.2 Kemungkinan masalah dapat diubah mencakup mudah, sebagian, dan


tidak dapat dengan pembenaran pengetahuan dan teknologi serta tindakan
yang dapat dilakukan untuk menagani masalah, sumber daya yang
dimiliki keluarga (fisik, keuangan, dan tenaga), sumber daya perawat atau
tenaga kesehatan (pengetahuan, keterampilan, dan waktu), serta sumber
daya masyarakat (fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat, dukungan
sosial masyarakat).
4.2.2.3 Potensial masalah dapat dicegah bersifat tinggi, cukup, atau rendah
dengan memperhatikan kepelikan masalah yang berhubungan dengan
penyakit, jangka masalah tersebut terjadi serta tindakan yang sedang
dijalankan cukup sesuai untuk menyelesaikan masalah, dan adanya
kelompok resiko tinggi yang sangat peka.
4.2.2.4 Menonjolnya masalah dengan menentukan masalah tersebut berat segera
ditangani, tidak perlu segera ditangani, dan tidak dirasakan dengan
memperhatikan persepsi keluarga terhadap masalah yang terjadi, dan jika
keluarga menyadari adanya masalah dan merasa perlu untuk segera
ditangani maka harus diberi skor yang tinggi.

Berdasar prioritas masalah hasil scoring yang paling tinggi maka diagnosa
keperawatan yang diangkat adalah (hasil scoring analisis masalah terlampir pada
Lampiran 5):
1. Pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An P
2. Risiko penurunan prestasi belajar pada An P

4.2.3 Penyelesaian Masalah Pengelolaan Asuhan Keperawatan Keluarga


4.2.3.1 Pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An P
Tujuan Umum : Setelah dilakukannya tindakan keperawatan 2 kali seminggu
selama 6 minggu, diharapkan nutrisi An P terpenuhi

Tujuan Khusus : 1) Mengenal masalah gizi kurang; 2) Mengidentifikasi adanya


risiko gizi kurang sehingga dapat memutuskan untuk mencegah/ mengatasi gizi
kurang ; 3) Melakukan perawatan anak usia sekolah dengan gizi kurang

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
71

(pembuatan jadwal menu, membuat menu seimbang ; nugget sayur dan mie sayur
sehat, ramuan tradisional temulawak) ; 4) Memodifikasi lingkungan untuk dalam
perawatan anak usia sekolah agar meningkatkan nafsu makan akibat gizi kurang;
5) Mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk mengatasi masalah gizi kurang

Intervensi keperawatan : 1) Diskusikan dengan keluarga tentang pengertian gizi


kurang, gizi seimbang dari pengertian, penyebab, tanda dan gejala, akibat gizi
kurang; 2 ) Bantu keluarga mengidentifikasi adanya gangguan gizi pada anak usia
sekolah; 3) Diskusikan cara mencegah mengatasi masalah gizi kurang:
mendemonstrasikan cara memilih bahan makanan yang baik, cara mengolah
bahan makanan yang benar, mendemostrasikan cara menyajikan makanan yang
menarik, mendemonstrasikan pembuatan menu seimbang (nugget sayur),
mendemontrasikan cara meningkat nafsu makan anak dengan ramuan tradisional
temulawak; 4) Memodifikasi lingkungan untuk dalam perawatan anak usia
sekolah agar meningkatkan nafsu makan akibat gizi kurang; 5) Memanfaatkan
fasilitas kesehatan untuk mengatasi masalah gizi kurang

Pembenaran : Pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga dengan diketahuinya


masalah yang ada dalam keluarga, intervensi yang dilakukan untuk mengatasi gizi
kurang dapat dilakukan melakukan kegiatan dari pendidikan kesehatan tentang
masalah gizi kurang mulai dari pengertian, cara mengatasi gizi kurang,
memodifikasi lingkungan dan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan dalam
mengatasi masalah gizi kurang (Allender, Rector, & Warner, 2010; Ervin, 2002;
Maglaya et al., 2009). Gizi anak sekolah seimbang merupakan upaya dalam
mengatasi masalah gizi kurang (Almatsier, 2004; Depkes RI, 2005).

Implementasi : 1) mendiskusikan dengan keluarga tentang pengertian gizi


kurang, gizi seimbang dari pengertian, penyebab, tanda/gejala, akibat gizi kurang;
2 ) membantu keluarga mengidentifikasi adanya risiko/gangguan gizi pada anak
usia sekolah; 3) mendiskusikan cara mencegah/mengatasi masalah gizi kurang:
mendemonstrasikan cara memilih bahan makanan yang baik, cara mengolah
bahan makanan yang benar, mendemostrasikan cara menyajikan makanan yang

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
72

menarik, mendemonstrasikan pembuatan menu seimbang (nugget sayur),


mendemontrasikan cara meningkat nafsu makan anak dengan ramuan tradisional
temulawak; 4) memodifikasi lingkungan fisik (menjaga kebersihan ruangan) dan
lingkungan psikologis keluarga (makan bersama) untuk meningkatkan selera
makan; 5) memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan.

Evaluasi : 1) keluarga mengatakan telah mengenal tentang gizi kurang dan gizi
seimbang, penyebab gizi kurang, dan tanda gejalanya gizi kurang, serta apa akibat
jika masalah gizi tidak segera diatasi; 2) keluarga telah mampu memutuskan untuk
merawat An P agar ada peningkatan status gizi; 3) keluarga telah mampu
memberikan makanan bergizi seimbang (menerapkan GASS dengan KM GASS)
dengan menu seimbang, jadwal makan teratur, dan meningkatnya nafsu makan An
P; 4) Ibu A mengatakan An P sudah bisa membiasakan makan pagi sedikit dan
makan sebelum pergi sekolah dan jajanan yang dibeli sudah sesuai dengan jajanan
sehat; 5) Ibu A telah mampu memotivasi anak untuk makan teratur, membatasi
jajan anak dan berperilaku positif dalam pemilihan jajanan; 6) peningkatan berat
badan An P setiap bulan 200-500 gram sebulan (24 Kg); 7)An P sudah menyukai
makan sayur.

Rencana tindak lanjut : Keluarga harus membuat keputusan untuk selalu


mengontrol status gizi anak dengan pemanfaatan Posyandu untuk bisa mengukur
tinggi badan dan berat badan, keluarga dapat menerapkan GASS setiap hari dan
memodifikasi selalu menu makanan untuk mencegah kebosanan, mendelegasikan
atau melakukan koordinasi dengan KP GASS untuk memantau pelaksanaan KM
GASS oleh keluarga anak usia sekolah gizi kurang.

4.2.3.2 Risiko penurunan prestasi belajar An P


Tujuan Umum : Setelah dilakukannya tindakan keperawatan selama 8 kali
pertemuan, diharapkan prestasi belajar An P meningkat.

Tujuan Khusus : 1) Mengenal masalah kesulitan belajar yang dialami anak usia
sekolah (pengertian, mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kesulitan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
73

belajar), ; 2) Mengambil keputusan terhadap permasalahan kesulitan belajar; 3)


Keluarga mampu menyebutkan cara merawat/mengatasi masalah gangguan
belajar (Melaksanakan peran keluarga dalam proses belajar anak, Mengajarkan
pada anak bagaimana membuat jadwal belajar dan memberikan terapi modifikasi
perilaku, Mendemonstrasikan 4 langkah kesiapan belajar dan brain gym untuk
meningkatkan konsentrasi anak untuk belajar) ; 4) Keluarga mampu
mememodifikasi lingkungan yang sesuai untuk mengatasi masalah kesulitan
belajar.

Intervensi keperawatan : 1) Diskusikan dengan keluarga tentang pengertian


kesulitan belajar, mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar
pada An P; 2) Bantu keluarga dalam mengambil keputusan terhadap
permasalahan kesulitan belajar pada An P; 3) Diskusikan cara merawat/mengatasi
masalah gangguan belajar yaitu melaksanakan peran keluarga dalam proses
belajar anak pada An P (ajarkan pada anak bagaimana membuat jadwal belajar
dan memberikan terapi modifikasi perilaku, mendemonstrasikan 4 langkah
kesiapan belajar dan brain gym untuk meningkatkan konsentrasi anak untuk
belajar); 4) Ajak keluarga untuk mampu memodifikasi lingkungan yang sesuai
untuk mengatasi masalah kesulitan belajar.

Pembenaran : Intervensi yang dilakukan dengan melakukan pendidikan sehatan


akan terjadi peningkatan pengetahuan untuk mencegah risiko penurunan prestasi
belajar pada anak usia sekolah. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan dengan
membuat jadwal kegiatan atau belajar, membuat jadwal harian. Jadwal belajar
anak akan memberikan aturan kepada anak untuk belajar pada waktunya, belajar
adalah suatu proses dan bukan suatu hasil, karena itu belajar berlangsung secara
aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk
mencapai tujuan (Soemanto,1998). Djamarah (2002), mengungkapkan bahwa
perubahan yang terjadi akibat belajar adalah perubahan yang bersentuhan dengan
aspek kejiwaan dan mempengaruhi tingkah laku dan gangguan yang
menyebabkan seseorang mengalami kesulitan belajar dapat berupa sindrom
psikologis yang dapat berupa ketidakmampuan belajar (learning disability).

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
74

Implementasi : 1) Mendiskusikan bersama keluarga tentang pengertian kesulitan


belajar, mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar pada An P;
2 ) Membantu keluarga dalam mengambil keputusan terhadap permasalahan
kesulitan belajar pada An P; 3) Mendiskusikan cara merawat/mengatasi masalah
gangguan belajar dengan melaksanakan peran keluarga dalam proses belajar anak
pada An P dengan mengajarkan pada anak bagaimana membuat jadwal belajar
dan memberikan terapi modifikasi perilakub positif untuk anak P,
mendemonstrasikan 2 dari 4 langkah kesiapan belajar yang dilakukan sebelum
belajar yaitu dengan minum air putih, dan pijatan saklar otak, dan brain gym
untuk meningkatkan konsentrasi anak untuk belajar; 4) mengajak keluarga untuk
mampu memodifikasi lingkungan yang sesuai untuk mengatasi masalah kesulitan
belajar.

Evaluasi : Ibu A mengatakan An P sudah mampu memanfaatkan waktu belajar;


2) Ibu A mengatakan setiap belajar An P mampu konsentrasi dengan mengabaikan
teman yang mengajak bermain; 3) prestasi belajar An P mengalami peningkatan
dengan hasil UTS sesuai batas rata-rata kelas.

Rencana tindak lanjut : bersama keluarga dan An P untuk tetap menjalankan


jadwal kegiatan yang telah disepakati, perawat selalu memotivasi Ibu A untuk
selalu memantau konsentrasi anak P dalam belajar dengan menemani atau
memotivasi An P untuk tekun belajar atau mengulangi pelajaran serta selalu
menanyakan hal yang dipelajari disekolah tadi, mendelegasikan kepada KP GASS
untuk selalu memotivasi dan memantau lingkungan sekitar anak-anak untuk
mengatur jadwal belajar anak sekolah dan waktu bermain.

Asuhan keperawatan keluarga yang dilakukan pada 10 keluarga selama 8 bulan,


digambarkan hasil penilaian tingkat kemandirian keluarga melakukan perawatan
dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada dalam keluarga.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
75

Tabel 4.1 Tingkat Kemandirian Keluarga Pada Akhir Evaluasi Dalam


Mengatasi Masalah Gizi Kurang Pada Anak Usia Sekolah.

No. Nama Kepala Keluarga Tingkat Kemandirian Keluarga


I II III IV
1. Ibu A (An P) √
2. Bpk C (An T) √
3. Bpk M (An B) √
4. Bpk S (An R) √
5. Bpk D (An A) √
6. Bpk K (An F) √
7. Bpk M (An W) √
8. Bpk R (An F) √
9. Bpk Y (An. K) √
10. Bpk K (An S) √

Pelaksanaan evaluasi tingkat kemandirian keluarga dalam mengatasi masalah gizi


kurang pada anak usia sekolah didapatkan bahwa 70 % keluarga mampu mandiri
(tingkat IV) dalam melakukan tindakan perawatan dalam mengatasi gizi kurang
pada anak usia sekolah, 20% keluarga mampu mandiri pada level tingkat III, dan
10% keluarga pada tingkat kemandirian II karena keterbatasan pengetahuan dari
keluarga dan perekonomian keluarga.

4.3 Asuhan Keperawatan Komunitas


Asuhan keperawatan komunitas yang digunakan dengan model community as
partner yang dikembangkan oleh Anderson dan Mc Farlan dari teori Betty
Neuman dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah (Anderson
& Mc Farlan, 2004). Pada pengkajian model ini mempunyai dua komponen utama
yaitu core (riwayat terbentuknya aggregat, demografi, suku, nilai, dan
kepercayaan) dan subsistem (lingkungan fisik, pelayanan kesehatan dan social,
ekonomi, komunikasi, dan pendidikan) dan terdapat dua faktor utama yaitu fokus
pada komunitas sebagai mitra dan proses keperawatan. Mendapat data diperlukan
suatu pertanyaan yang dilakukan secara observasi langsung, wawancara terpimpin
dan diskusi pada kelompok tertentu untuk mengetahui masalah yang ada
dimasyarakat, kuesioner yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang dibutuhkan
terlampir pada lampiran 6).

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
76

4.3.1 Analisis Situasi


Pengumpulan data yang dilakukan untuk dapat melaksanakan asuhan keperawatan
komunitas dilakukan dengan metode study literature, dokumen, observasi,
wawancara dan penyebaran angket/kuesioner. Proses pengumpulan data dengan
mengidentifikasi responden yang akan digunakan sebagai populasi dan sampel.
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
(Sugiyono, 2006). Teknik pengambilan sampel dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
N : Jumlah Sampel
Z ½ α : nilai standar normal untuk alpha 10% adalah 1,65
p : prevalensi anak usia sekolah dengan gizi kurang yaitu 20 % (0,2)
d : tingkat kesalahan yang dipilih yaitu 0,1

N = 44,56 atau 45
Hasil sampel yang digunakan, kemudian dikoreksi untuk menghindari terjadinya
droup out maka dilaukan penghitungan kembali deng rumus :
n* = n/(1-f)
= 45/(1-0,1)
= 50
Keterangan : f = perkiraann proporsi drop out = 10%
n* = besar sampel setelah koreksi
Jadi, sampel yang akan digunakan dalam pengumpulan data yaitu 50 responden
yaitu anak usia sekolah dengan gizi kurang yang berasal dari RW 1 sampai RW 7
di Kelurahan Cisalak Pasar Depok. Hasil sebaran angket yang dilakukan pada 45
responden mengenai masalah gizi kurang dan gizi seimbang pada anak usia

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
77

sekolah yaitu: perilaku keluarga anak usia sekolah mengenai perawatan gizi
kurang.

Tabel 4.2 Rata-rata dan standar deviasi perilaku keluarga anak usia sekolah
terhadap perawatan gizi kurang di Kelurahan Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok
Maret 2013 (n = 50)
Perilaku Keluarga AUS Rata-rata Standar Deviasi
Pengetahuan 23,80 5,043
Keterampilan 23,43 4,54
Sikap 23,38 2,415

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan keluarga anak usia sekolah
mengenai perawatan gizi kurang adalah 23,80 dengan SD = 5,043; rata-rata
keterampilan keluarga anak usia sekolah gizi kurang terhadap perawatan gizi
kurang adalah 23,43 dengan SD = 4,54; dan rata-rata sikap keluarga anak usia
sekolah terhadap perawatan gizi kurang adalah 23,38 dengan SD = 2,415.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada keluarga anak usia sekolah,
anak usia sekolah, kader, tokoh masyarakat, Puskesmas Cimanggis mengenai
masalah gizi kurang pada anak usia sekolah yaitu wawancara keluarga pada
keluarga binaan mengatakan tidak mengetahui mengenai gizi kurang dan menurut
mereka anak kurus sudah biasa dan itu sudah turun temurun, anak makan tidak
teratur, anak lebih banyak bermain, belajar malas, dalam sebulan ada sakit seperti
demam ataupun sakit perut.

Hasil wawancara dengan anak usia sekolah didapatkan data bahwa anak lebih
senang jajan dibandingkan makan nasi dirumah, jajan yang dibeli biasanya chiki,
mie, dan minuman ringan, tidak mau sarapan karena takut BAB sebelum
kesekolah, tidak menyukai sayur dan ikan/daging. Wawancara yang dilakukan
kepada kader dan pembina kelurahan Cisalak Pasar dari Puskesmas mengatakan
tidak ada Posyandu atau wadah khusus di masyarakat untuk membantu
masyarakat mengatasi masalah kesehatan pada anak usia sekolah dan belum

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
78

pernah dilakukan pendidikan kesehatan mengenai gizi kepada masyarakat. Hasil


wawancara dan observasi menunjukkan bahwa tidak ada kelompok khusus untuk
mendukung anak usia sekolah atau keluarga dalam mengatasi masalah seperti gizi
kurang.

Data lain yang ditemukan bahwa, dari 50 responden terdapat anak usia sekolah
gizi kurang berdasarkan jenis kelamin 52% (50) perempuan. Penghasilan
keluarga < dari Rp. 2.042.000,- sebanyak 67% (50), memasak menggunakan
penyedap sebanyak 78% (50), cara mengolah bahan makanan dari dipotong dan
dicuci sebanyak 59% (50) KK, dan pengalaman mendapatkan pendidikan
kesehatan tidak pernah sebanyak 67% (50) KK.

Hasil pengkajian pada masyarakat Kelurahan Cisalak Pasar, ditemukan masalah-


masalah yang menimbulkan terjadi peningkatan kasus gizi kurang pada anak usia
sekolah yang akan dijelaskan pada WOC asuhan keperawatan komunitas Skema
4.3:

Skema 4.3 WOC (Web of Causation) Asuhan Keperawatan Komunitas

Risiko peningkatan kasus gizi


kurang pada anak usia sekolah

Dukungan masyarakat kurang


terhadap gizi anak usia sekolah Tidak efektif pemeliharaan
kesehatan terkait gizi anak usaa
sekolah

Kebiasaan & budaya masyarakat


yang kurang peduli terhadap gizi Perilaku tidak sehat keluarga dan
anak usia sekolah anak dalam pemenuhan gizi sesuai
usia anak

Pengetahuan masyarakat tentang gizi


rendah

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
79

4.3.2 Masalah Pengelolaan Asuhan Keperawatan Komunitas


Berdasarkan analisis data yang ditemuka di masyarakat Cisalak Pasar ditemukan
masalah. Diagnosa keperawatan ditegakkan berdasarkan hasil analisis data pada
skema pohon masalah dan hasil perhitungan skoring dalam menentukan prioritas
dengan proses penapisan (Ervin, 2002). Hasil penapisan masalah keseperawatan
komunitas didapatkan 2 diagnosa keperawatan yang akan dilakukan intervensi
bersama masyarakat dan kelompok pendukung (lampiran 7)
4.3.2.1 Risiko peningkatan kasus gizi: gizi kurang pada anak usia sekolah di
Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok
4.3.2.2 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan pada anak usia sekolah gizi
kurang di Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok

4.3.3 Penyelesaian Masalah Pengelolaan Asuhan Keperawatan Komunitas


4.3.3.1 Risiko peningkatan kasus gizi: gizi kurang pada anak usia sekolah di
Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok
Tujuan Umum : Setelah intervensi keperawatan selama 8 bulan terjadi
penurunan risiko terjadinya kejadian gizi kurang pada anak usia sekolah di
Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok.

Tujuan Khusus : 1) Peningkatan pengetahuan kelompok anak usia sekolah dengan


gizi kurang sebesar 2SD minimal dari 21,5 (SD = 1,63); 2) Peningkatan
keterampilan kelompok anak usia sekolah dengan gizi kurang sebesar 2SD
minimal dari 20,9 (SD = 4,3); 3) Peningkatan sikap kelompok anak usia sekolah
dengan gizi kurang sebesar 2SD minimal dari 21,38 (SD = 2,3); 4) Peningkatan
status gizi anak usia sekolah gizi kurang; 5) 80 % Anak usia sekolah dapat
melakukan praktik cuci tangan dengan sabun secara benar.

Intervensi Keperawatan : 1) Lakukan skrining status gizi anak usia sekolah di


Kelurahan Cisalak Pasar; 2) Kumpulkan keluarga anak usia sekolah gizi kurang
dan risiko gizi kurang untuk melakukan penyuluhan kesehatan tentang gizi kurang
dan gizi seimbang; 3) Lakukan perawatan anak usia sekolah gizi kurang dengan
demonstrasi cara mengatasi pembuatan menu seimbang dengan pembuatan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
80

makanan berbahan dasar mie dengan dimodifikasi sesuai gizi seimbang dan
nugget sayur sehat, membuat jadwal makan dan pembuatan ramuan tradisional
temulawak meningkatkan nafsu makan anak; 4) Lakukan Skrining status gizi anak
usia sekolah; 5) Lakukan penyebaran leaflet dan poster gizi seimbang; 6) KP
GASS mendampingi kelompok keluarga anak usia sekolah gizi kurang atau
sebagai fasilitator dalam kegiatan penyuluhan; 7) Penyuluhan kesehatan ke
sekolah dasar yang ada di Cisalak Pasar dan TPA.

Pembenaran: sejumlah keluarga atau kelompok dikumpulkan dalam sutau tempat


dan waktu dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, siakp dan
keterampilan keluarga merupakan upaya yang dilakukan dalam mengatasi
masalah yang ada dimasyarakat. Perawat komunitas bersama dengan masyarakat
melakukan upaya mengatasi masalah dengan pembentukan peer atau social
support dengan melihat kondisi dan kebutuhan dari masyarakat tersebut (Stanhope
& Lancaster, 2004; Hitchock, Schuber & Thomas, 1999). Intervensi keperawatan
komunitas yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan
keterampilan masyarakat mengenai gizi kurang dan gizi seimbang serta penerapan
GASS merupakan upaya dalam mengatasi gizi kurang (Dinkes RI, 2005;
Soekidjo, 1999; Madanijah, 2003). Gizi seimbang dalam setiap pemberian asupan
nutrisi kepada anak usia sekolah akan meningkatkan asupan nutrisi yang
seimbang bagi pertumbuhan anak usia sekolah.

Implementasi :
1) Melakukan pendidikan kesehatan tentang gizi kurang dan gizi seimbang yang
meliputi (pengertian, penyebab, tanda dan gejala, akibat gizi kurang,
pengertian gizi seimbang, manfaat gizi seimbang, 13 pesan PUGS).
2) Melakukan demonstrasi cara mengatasi gizi kurang pada anak usia sekolah
gizi kurang meliputi cara mengolah makanan yang baik, memodifikasi
makanan, membuat menu seimbang (nugget sayur/mie sehat), membuat
jadwal makanan seimbang anak, membuat ramuan tradisional temulawak).
3) Melakukan sosialisasi KM GASS ke kelompok keluarga anak usia sekolah
gizi kurang, dan KP GASS sebagai fasilitator dalam penjelasan KM GASS.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
81

4) Melakukan promosi kesehatan tentang gizi seimbang, jajanan sehat, dan


praktik cuci tangan pada kelompok anak usia sekolah di SDN 01 Cisalak Pasar
dan TPA di RW 06 serta di kawasan RW 03.
5) Melakukan penyebaran leaflet, poster dan stiker mengenai gizi seimbang
(lampiran 8)

Evaluasi ;
1) Kelompok keluarga (ibu-ibu) anak usia sekolah gizi kurang dan risiko gizi
kurang hadir pada pelaksanaan penyuluhan sebanyak 15 orang dari 20
undangan yang disebarkan. Pada saat sebelum pelaksanaan penyuluhan terjadi
peningkatan pengetahuan kelompok keluarga dan anak usia sekolah sebesar
24,4 persen; keterampilan kelompok keluarga dan anak usia sekolah sebesar
28,9 persen; dan sikap kelompok keluarga dan anak usia sekolah sebesar 25,7
persen.
2) KM GASS yang tersebar 10 kartu, dari total 15 orang ibu.
3) KP GASS sangat antusias dan memfasilitasi keluarga untuk bisa
melaksanakan KM GASS di dalam tatanan keluarga.
4) Pelaksanaan demonstrasi nugget dayur dan ramuan temulawak yang juga
dihadiri anak usia sekolah, menikmati hasil demonstrasi makanan dan
minuman.
5) Peningkatan pengetahuan anak usia sekolah mengenai gizi seimbang dan
jajanan sehat setelah dilakukan penyuluhan kesehatan dengan media kartu
kwartet gizi seimbang serta memahami cara mencuci tangan yang benar di
SD, TPA dan di masyarakat RW 3 dan 06.
6) Terjadi peningkatan status gizi anak usia sekolah > 50% setelah minggu 6
bulan pertemuan.
7) 80% Anak usia sekolah gizi kurang melakukan penimbangan secara berkala
8) 80 % Anak usia sekolah dapat melakukan praktik cuci tangan dengan sabun
secara benar

Rencana Tindak Lanjut : 1) Lakukan pendidikan kesehatan tentang masalah gizi


kurang dan gizi seimbang pada anak usia sekolah dan keluarga setiap ada

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
82

pertemuan masyarakat seperti arisan, pengajian dan kelompok bermain anak usia
sekolah dengan memberdayakan KP GASS; 2) Lakukan kegiatan penerapan
GASS kepada setiap keluarga untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi anggota
keluarga; 3) Lakukan penyuluhan tentang jajanan sehat kepada pemilik warung
jajanan; 4) Lakukan skrining status gizi secara berkala tiap minimal 3 bulan sekali
dengan bekerjasama KP GASS.

4.3.3.2 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan pada anak usia sekolah gizi


kurang di Cisalak Pasar, Cimanggis, Depok
Tujuan Umum : Setelah intervensi keperawatan selama 8 bulan terjadi efektifnya
pemeliharaan kesehatan pada anak usia sekolah gizi kurang di Cisalak Pasar,
Cimanggis, Depok.

Tujuan Khusus: 1) Peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan keluarga


mengenai PHBS rumah tangga dan cara mencuci tangan dengan sabun; 2)
keluarga dan anak usia sekolah memantau status gizi anak secara berkala; 3)
Kelompok anak usia sekolah dan keluarga dengan gizi kurang melakukan GASS
secara mandiri; 4) penyebaran leaflet dan poster tentang cara mencuci tangan
dengan sabun dan PHBS rumah tangga.

Intervensi Keperawatan : 1) Lakukan skrining secara berkala kepada anak usia


sekolah; 2) Lakukan penerapan GASS dengan pemanfaatan KM GASS kepada
keluarga anak usia sekolah; 3) Lakukan penyuluhan kesehatan tentang jajanan
sehat pada anak usia sekolah; 4) Lakukan demontrasi tentang PHBS mencuci
tangan kepada anak usia sekolah gizi kurang; 5) Lakukan penyuluhan kesehatan
tentang jajanan sehat kepada anak usia sekolah gizi kurang

Pembenaran : Melakukan intervensi keperawatan pada anak usia sekolah dengan


upaya promotif dan preventif merupakan suatu model keperawatan health
promotion (Pender, 1999). Promosi kesehatan dengan pendidikan kesehatan
merupakan upaya dalam meningkatkan pengetahuan untuk meningkatkan derejat
kesehatan yang optimal. Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses yang akan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
83

berhubungan dengan tingkah laku kesehatan sesuai infomasi yang didapatkan


untuk meningkatkan kesehatan (Notoadmojo, 2005). Pendidikan kesehatan kepada
masyarakat akan dapat meningkatkan penegtahuan masyarakat dari tidak tahu
menjadi tahu untuk bisa mengatasi masalah kesehatannya (Purwanto, 1999).

Implementasi:
1) Melakukan skrining secara berkala kepada anak usia sekolah dengan
mengukur tinggi badan dan menimbang berat badan anak, mengukur IMT dan
penentuan status gizi anak dengan bekerja sama dengan KP GASS
2) Melakukan penyuluhan kesehatan tentang jajanan sehat pada anak usia
sekolah meliputi pengertian jajanan sehat, tujuan, manfaat, jenis jajanan sehat,
dan akibat jajan yang tidak sehat, role play penentuan jajanan sehat.
3) Melalukan penyuluhan tentang PHBS rumah tangga kepada kelompok
keluarga anak usia sekolah.
4) Mendemontrasikan cara mencuci tangan dengan benar
5) melakukan penerapan GASS dengan pemanfaatan KM GASS kepada keluarga
anak usia sekolah

Evaluasi :
1) Peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap keluarga dan anak usia
sekolah tentang pemantau status gizi anak dengan pemanfaatan KM GASS
sebesar 2 SD
2) Terjadi peningkatan status gizi anak usia sekolah setelah menerapkan GASS
3) 80% Anak usia sekolah gizi kurang melakukan penimbangan secara berkala
4) Anak usia sekolah dan keluarga dengan gizi kurang melakukan GASS secara
mandiri
5) 80% kelompok keluarga anak usia sekolah yang mengalami gizi kurang
menggunakan KM GASS untuk menilai penerapan GASS dalam rumah
tangga.

Rencana Tindak Lanjut : Lakukan penerapan GASS dengan pemanfaatan KM


GASS, dan Lakukan koordinasi dengan KP GASS untuk memantau status gizi

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
84

anak usia sekolah gizi kurang, mengadakan sarana dan prasarana untuk
mendukung kegiatan mencuci tangan dengan sabun pada tempat-tempat strategis,
dan KP GASS dapat memfasilitasi dan memotivasi keluarga untuk menjaga PHBS
rumah tangga yang benar.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
85

BAB 5
PEMBAHASAN

Pembahasan pada penulisan karya ilmiah akhir menguraikan analisis dari


pelayanan asuhan keperawatan manajemen, keluarga dan komunitas serta
kesenjangan yang ditemukan selama melakukan praktik keperawatan komunitas
dalam mengatasi masalah gizi kurang pada kelompok anak usia sekolah

5.1 Analisis Pencapaian Kesenjangan


5.1.1 Pelayanan Keperawatan Manajemen
Proses pelayanan keperawatan manajemen yang dilakukan selama 8 bulan, hasil
evaluasi pelayanan keperawatan manajemen yaitu terbentuk kelompok pendukung
yang diharapkan dapat menjadi wadah mayarakat untuk bisa mengatasi masalah
gizi kurang pada anak usia sekolah. Upaya yang dilakukan dengan
memberdayakan masyarakat yang ada, perawat komunitas dapat menggunakan
strategi pemberdayaan untuk membantu masyarakat mengembangkan
keterampilan dalam menyelesaikan masalah, menciptakan jejaring, negosiasi,
lobbying, dan mendapatkan informasi untuk meningkatkan kesehatan (Nies &
McEwen, 2007). Membentuk kelompok baru atau bekerja sama dengan kelompok
yang telah ada salah satu upaya yang dilakukan perawat komunitas (Stanhope &
Lancaster, 2002). KP GASS yang dibentuk diberikan pelatihan untuk merapkan
program inovasi GASS. Menurut Sahar (2002) pada hasil disertasi menyatakan
bahwa ada berbagai metode pelatihan seperti pengajaran interaktif, kelompok
diskusi, demonstrasi, studi kasus, role play, praktik individual dan supervisi.

Hasil evaluasi dari tiap kegiatan pelatihan terdapatnya peningkatan pengetahuan,


sikap dan keterampilan KP GASS dalam melaksanakan program GASS.
Keberhasilan dalam pelaksanaan pelatihan akan meningkatkan kemampuan KP
GASS agar bisa melakukan penanggulangan masalah gizi kurang pada anak usia
sekolah ke masyarakat. Kelompok pendukung ini yang akan memberikan bantuan
pelayanan, informasi dan umpan balik konstruktif serta pengakuan terhadap

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
86

orangtua balita yang menjadi binaannya (Antonucci, Kahn, & Akiyama, 1989;
House, 1981 dalam Pender, Murdaugh, & Parson, 2002).

Menurut Gillies (2000) aktivitas yang dilakukan selama perencanaan adalah


analisis, pengkajian suatu sistem, penyusunan tujuan jangka panjang (strategi) dan
jangka pendek (operasional) serta memprioritaskan aktivitas termasuk alternatif
pemecahan masalah. Hasil penelitian Ugboro, Obeng, dan Spann (2010)
menjelaskan bahwa untuk menghasilkan perencanaan strategik yang efektif perlu
melibatkan semua staf, semua divisi, dan manajer puncak dari semua struktur
organisasi. Perencanaan program kesehatan yang baik perlu melibatkan
stakeholder atau berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap program
untuk mendapatkan hasil perencanaan yang lengkap dan baik (Dubois et all
(2001)

Pembentukan suatu organisasi dengan memberdayakan masyarakat sebagai proses


individu, organisasi dan masyarakat untuk bisa melakukan penugasan yang
diberikan sebagai tanggung jawab yang diemban dalam melaksanakan tujuan dari
organisasi tersebut (Rappaport, 1984 dalam Helvie, 1998). Pada pembinaan dalam
memberdayakan masyarakat dalam tiap kegiatan sesuai dengan strategi program
pemerintah dalam menanggulangi gizi kurang dengan mendorong pemberdayaan
keluarga dan masyarakat melalui peningkatan pengetahuan dan perilaku sehat
untuk upaya preventif dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada dimasyarakat
terutama masalah gizi kurang (Depkes RI, 2005; Azwar, 2004).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siti Aisyah (2009) mengenai proses edukasi
dengan memberdayakan sumber daya manusia yang ada di sekolah dalam upaya
mengatasi risiko gizi kurang pada kelurahan Pancoranmas menjelaskan bahwa,
dengan memberdayakan teman sebaya, guru disekolah dapat meningkat upaya
mengatasi risiko gizi kurang di sekolah tersebut dan terdapat peningkatan
pengetahuan, sikap dan perilaku anak usia sekolah yang mengalami risiko gizi
kurang. Berdasarkan teori juga menjelaskan bahwa suatu organisasi (KP GASS)
perlunya dibentuk struktur organisasi dan tugas dan tanggung jawab dari anggota

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
87

organisasi yang telah disepakati untuk mencapai tujuan dari suatu organisasi
(Gillies, 1994). Pembentukan struktur organisasi berkaitan dengan keefektifan
dalam komunikasi (Gillies, 2000; Swansburg, 1999; Marquis & Huston, 2006).
Dengan komunikasi yang efektif akan memberikan dampak positif bagi
ketercapaian tujuan suatu organisasi dalam meningkatkan upaya mengatasi
masalah.

Analisis penulis dalam memberdayakan masyarakat dalam memberntuk suatu


organisasi adalah salah satu upaya mendekatkan diri antara kader dengan individu
masyarakat terutama keluarga anak usia sekolah yang mengalami gizi kurang,
dengan terbentunya kelompok pendukung gizi anak sekolah seimbang (KP GASS)
menjadi unsur pokok menentukan ketercapaian masalah kesehatan yang ada
dimasyarakat dapat diatasi segera dan dapat memberikan kemudahan bagi penulis
dalam melaksanakan asuhan keperawatan dalam mengatasi gizi kurang pada anak
sekolah. Struktur organisasi yang dibentuk, adanya tugas dan tanggung jawab dari
KP GASS akan mempermudah KP GASS dalam melaksanakan fungsinya dalam
suatu organisasi untuk mencapai tujuan dalam mengatasi masalah gizi kurang
pada anak usia sekolah dimana sasaran yang paling penting adalah pendekatan
kepada keluarga karena, keluarga sebagai orang pertama yang membentuk anak
dan sebagai tolak ukur keberhasilan tumbuh kembang anak usia sekolah optimal.
KP GASS sebagai orang yang dekat kemasyarakat dapat melakukan pendekatan
dan memberi kontribusi dalam memotivasi masyarakat untuk bisa melakukan
program GASS dalam upaya mengatasi gizi kurang pada anak usia sekolah.

Keanggotaan KP GASS yang dibentuk dari kader kesehatan yang ada di


masyarakat, pada awalnya berjumlah 10 orang namun diakhir pelaksanaan KP
GASS yang aktif hanya 7 orang. Melakukan perencanaan dalam membentuk
stuktur ketenagaan dibutuhkan SDM yang cukup untuk bisa merangkum seluruh
masyarakat atau keluarga yang mengalami masalah gizi kurang pada anak usia
sekolah. Menurut Barney (2011) ada empat keuntungan yang diperoleh dengan
dengan adanya perencanaan sumber daya yang baik, yaitu; keuntungan nilai

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
88

organisasi, mempertahankan keunggulan, sedikit kesalahan, dan keberlangsungan


sumber daya manusia yang berkelanjutan.

KP GASS dalam melaksanakan program GASS dalam upaya mengatasi masalah


gizi kurang pada anak usia sekolah diberikan modal pengetahuan, keterampilan
untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan kader dalam mengatsi
masalah gizi kurang. Pendidikan kesehatan mengenai gizi kurang, gizi seimbang,
dan terutama program dari GASS. KP GASS diberi pelatihan khusus untuk dapat
melaksanakan GASS kemasyarakat dengan mengajarkan cara melakukan
komunikasi terapeutik sebagai dasar untuk bisa mensosialisasikan program yang
akan dilaksanakan. Penulis berdama ketua KP GASS akan melakukan pengarahan
untuk tiap kegiatan yang dilakukan, agar kegiatan dapat berjalan sesuai dengan
tujuan bersama dalam menanggulangi masalah gizi kurang pada anak usia
sekolah. Fungsi pengarahan sebagai memberi bimbingan namun istilah tersebut
lebih sering diartikan sebagai penggerak atau pelaksanaan. Tujuan fungsi
pengarahan adalah menciptakan kerjasama yang lebih efisien; mengembangkan
kemampuan dan keterampilan staf; menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai
pekerjaan; menciptakan suasana lingkungan kerja yang dapat meningkatkan
motivasi dan prestasi kerja staf; dan membuat organisasi berkembang lebih
dinamis (Marquis dan Huston, 2006; Muninjaya, 2004).

Mengarahkan KP GASS dalam melaksanakan kegiatan program inovasi GASS


pada tatanan masyarakat dan keluarga dengan menjadwalkan kegiatan rutin,
sasaran yang akan menjadi target intervensi dalam mengatasi gizi kurang, dan
bagaimana cara melakukan komunikasi dengan masyarakat untuk bisa menerima
dan mau mengatasi masalah yang ada di keluarga ataupun di masyarakat.
Kemampuan KP GASS tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap upaya
dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah di Kelurahan
Cisalak Pasar, karena kemampuan tersebut dapat digunakan dalam mendidik
keluarga bisa menerapkan GASS, memberikan perawatan dalam mengatasi
masalah kesehatan yang diakibatkan oleh gizi kurang pada anak usia sekolah
sehingga dapat membantu masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
89

Program Dinas kesehatan Depok, Puskesmas Cimanggis berupa program


penjaringan dan UKS yang dilaksanakan di sekolah saja, tidak ada program
khusus untuk kemasyarakat untuk mengatasi masalah pada anak usia sekolah
terutama masalah gizi kurang di masyarakat, hal ini mengakibatkan belum adanya
wadah khusus untuk mengatasi gizi kurang pada anak usia sekolah sehingaga
mengakibatkan belum optimalnya pelaksanaan kegiatan program GASS
dimayarakat. Hasil evaluasi pada penerapan fungsi manajemen dalam mengatasi
masalah belum optimalnya sistem monitoring kesehatan anak usia sekolah gizi
kurang terlihat dari pelaksanaan fungsi pengawasan dan pengendalian yang
diterapkan dapat meningkatkan sistem monitoring dan evaluasi pada pelaksanaan
program GASS. Pengawasan menurut Swanburg (2000) adalah suatu fungsi
manajemen yang terus menerus terjadi selama proses perencanaan, pengorganisasi
dan pengarahan aktivitas. Proses dari standar pengawasan yang buat kemudian
digunakan, diikuti oleh umpan balik yang menimbulkan adanya perbaikan dari
pelayanan yang diberikan.

Proses evaluasi membutuhkan suatu standar yang dapat digunakan sebagai ukuran
untuk mengevaluasi kualitas dan kuantitas dari pelayanan. Sistem monitoring dan
evaluasi dalam setiap kegiatan yang digunakan dalam mengatasi gizi kurang
memberikan hasil penilaian ketercapaian dari program GASS yang dilaksanakan.
Mengoptimalkan program GASS untuk mengatasi gizi kurang anak usia sekolah
dengan dibentuknya struktur organisasi KP GASS dan adanya tugas pokok tiap
anggota dalam melaksanakan program telah dilakukan dan hasil evaluasi
menunjukkan peningkatan dalam proses supervisi kepada KP GASS dalam
melakukan evaluasi kepada keluarga yang melaksanakan KM GASS. KP GASS
yang aktif dan mampu melakukan kegiatan sesuai dengan tupoksi yang diemban,
namun dalam sistem pelaksanaan pengontrol seluruh aktifitas KP GASS dan
pelaksanaan KM GASS dalam melaksanakan program GASS di masyarakat
belum didukung oleh instasi pelayanan masyarakat seperti Puskesmas dan Dinas
Kesehatan dikarenakan kegiatan hanya berpusat pada sekolah saja.
Pengorganisasian program renstra jangka panjang dan jangka pendek Kota Depok

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
90

tidak ada adanya program khusus untuk mengatasi masalah gizi kurang.
Pelayanan yang dilakukan tidak hanya berpusat pada satu sasaran agar
pelaksanaan program dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Upaya
pelayanan kesehatan paripurna sebagai dasar yang dilakukan seperti upaya
prmotif, preventif, kuratif dan rehabilitative setidaknya dilakukan dan disusun dan
dikembangkan seperti PMT AS yang dilakukan tidak hanya sebatas sekolah tetapi
juga masyarakat, program PUGS tetap dilaksanakan dengan adanya POZI (pojok
gizi) yang ada di setiap RW sehingga adanya wadah untuk upaya preventif agar
tiidak terjadinya masalah gizi kurang.

Kondisi belum optimalnya sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan program


anak usia sekolah gizi kurang menurut penulis konndisi ini belum adanya program
khusus untuk anak usia sekolah dimasyarakat dan kegiatan khusus diluar sekolah
tidak ada dimasyarakat. Kader kesehatan yang bekerja dan memiliki tanggung
jawab hanya seputar posyandu balita dan posbindu untuk lansia yang monitoring
dan evaluasi hanya berupa pencatatan dan pelaporan tiap bulan kegiatan posyandu
dan posbindu. Proses pengorganisasian kurang berjalan lancar sehingga sistem
koordinasi kerja para kader tidak ada evaluasi dari Puskesmas. Kader yang dipilih
dan yang telah dibentuk sebagai kelompok pendukung program GASS telah
diberikan pengetahuan dalam melakukan monitoring dan mengevaluasi program
GASS namun perlu adanya sistem pendukung dari tanaga kesahatan (Puskesmas
dan Dinkes) untuk bisa memberikan motivasi dan dukungan agar evaluasi dan
monitoring kegiatan GASS dan KM GASS dimasyarakat tetap berjalan.
Pengawasan menurut Swanburg (2000) adalah suatu fungsi manajemen yang terus
menerus terjadi selama proses perencanaan, pengorganisasi dan pengarahan
aktivitas. Proses dari standar pengawasan yang buat kemudian digunakan, diikuti
oleh umpan balik yang menimbulkan adanya perbaikan dari pelayanan yang
diberikan. Evaluasi dan monitoring selama supervise akan memberikan arah
terhadap pencapaian standar atau indicator program melalui pembenaran dan
pengarahan kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan (Marquis & Hiuston, 2006).

5.1.2 Asuhan Keperawatan Keluarga

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
91

Praktik asuhan keperawatan keluarga dibutuhkan suatu intervensi keperawatan


keluarga menggunakan 5 fungsi perawatan kesehatan keluarga. Tahapan yang
dilakukan mulai dari pengkajian sampai evaluasi yang dilakukan dengan beberapa
kali pertemuan pada keluarga diharapakan dapat meningkatkan pengetahuan,
sikap dan keterampilan keluarga dalam mengatasi masalah gizi kurang dengan
program GASS dan mengatasi masalah risiko penurunan prestasi belajar pada
anak gizi kurang. Dua masalah diatas menjadi prioritas utama dari 10 keluarga
binaan untuk bisa diatasi secara bersama keluarga dan anak usia sekolah dalam
mengatasi masalah gizi kurang.

Proses implementasi dalam mengatasi risiko kurangnya pemenuhan kebutuhan


nutrisi dengan melaksanakan proses intervensi dengan 5 tugas fungsi perawatan
keluarga, dimana keluarga mampu mengenal masalah gizi kurang dan gizi
seimbang, keluarga mampu memutuskan untuk mengatasi masalah gizi kurang,
melakukan perawatan dalam mengatasi gizi kurang dengan GASS, memodifikasi
lingkungan untuk meningkatkan nafsu makan anak dan pemanfaatan pelayanan
kesehatan untuk dapat mengatasi masalah gizi kurang. pendidikan kesehatan
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi ketidakmampuan
dalam upaya untuk mengaktualisasikan potensi kesehatan dari individu, keluarga,
komunitas dan masyarakat (Nies & McEwen, 2007). Pengetahuan gizi merupakan
pengetahuan tentang makanan dan zat gizi, sumber-sumber zat gizi pada
makanan, makanan yang aman dikonsumsi sehingga tidak menimbulkan penyakit
dan cara mengolah makanan yang baik agar zat gizi dalam makanan tidak hilang
serta bagaimana hidup sehat (Notoatmojo, 2003)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dalam mengatasi masalah gizi kurang
pada tatanan keluarga dengan gizi seimbang adanya peningkatan status gizi anak
dengan intervensi yang dilakukan untuk meningkat pengetahuan keluarga, dan
dengan pendidikan keluarga akan mempengaruhi pada status gizi anak usia
sekolah, Menurut Marsetyo (2010: 4), penyediaan makan pada anak-anak yang
sebenarnya tidak berbeda dengan penyediaan makanan pada orang dewasa, baik
dalam hal jenis makanan, proporsi maupun cara penyajian.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
92

Anak yang sulit untuk makan, lebih menyukai jajan dibanding dengan makan nasi
dirumah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Judarwanto (2005), kesulitan
makan yang dialami oleh anak usia sekolah disebabkan oleh banyak faktor
diantaranya karena adanya interaksi antara faktor keluarga, sosial dan psikologis.
Dari hasil pengkajian pada beberapa keluarga binaan 60% anak tidak menyukai
sayur sayuran. Kandungan sayuran sangat dibutuhkan tubuh anak untuk bisa
sebagai zat pengatur agar timbulnya masalah kesehatan. Menurut Pollitt, Et All.
Tahun 1981, menyatakan 40% AUS tidak makan sayur-sayuran, kecuali kentang
dan saus tomat, 20% tidak makan buah; 36 % makan minimal empat jenis snack
setiap hari dan lebih banyak melewatkan sarapan. Penelitian anak yang dilakukan
kepada anak usia sekolah yang sarapan memiliki sikap dan prestasi sekolah lebih
baik. Pollitt, Leibel dan Greenfield menemukan bahwa anak usia 9-11 tahun
bergizi baik ketika mereka mengkonsumsi sarapan pagi sedangkan yang tidak
sarapan menunjukkan penurunan respon dalam pemecahan masalah (Nicklas, TA,
1993).

Gizi menjadi masalah yang penting bagi anak sekolah, karena gizi bisa
mencerdaskan anak. Anak yang kekurangan gizi mudah mengantuk dan kurang
bergairah yang dapat menganggu proses belajar di sekolah dan menurun prestasi
belajarnya, daya pikir anak juga akan kurang, karena pertumbuhan otaknya tidak
optimal. Pola asupan makanan yang tidak seimbang pada anak usia sekolah dalam
jangka waktu yang lama akan menyebabkan kurangnya gizi dalam tubuh. Anak
usia sekolah sangat memerlukan asupan makanan yang seimbang untuk
menunjang tumbuh kembang anak. Peran orang tua sangat berpengaruh terutama
pada ibu, karena seorang ibu berperan dalam pengelolaan rumah tangga dan
berperan dalam mementukan jenis makanan yang akan dikonsumsi keluarganya.

Hasil intervensi yang dilakukan keluarga anak usia sekolah yang mengalami gizi
kurang menurut analisa penulis, pemanfaat gizi seimbang yang dilakukan kepada
anak membuat terkontrolnya asupan nutrisi yang diberikan keluarga untuk proses
tumbuh kembang anak. Nutrisi yang adekuat akan membuat tumbuh kembang
anak optimal, konsentrasi belajar baik, daya tahan tubuh baik dan anak tidak

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
93

gampang sakit. Proses pemenuhan nutrisi gizi seimbang merupakan program dari
PUGS untuk bisa meningkat kebutuhan nutrisi pada setiap individu untuk
mencegah timbulnya masalah gizi atau masalah kesehatan lainnya. Upaya untuk
meningkatkan asupan nutrisi yang seimbang kepada anak dengan memotivasi dan
memberikan penghargaan dalam perilaku positif dilakukan anak. Memotivasi
anak dan memberikan reinforcement positif akan memberikan perilaku gizi yang
sehat pada anak usia sekolah, pendapat Cameron, Blanko dan Peirce (2001)
menjelaskan penghargaan cara efektif merubah perilaku makan anak dan
penelitian Lowe et al (2004) menjelaskan penghargaan juga dapat meningkatkan
konsumsi anak makan buah dan sayur.

Perawatan dalam menanggulangi masalah gizi kurang anak karena nafsu makan
anak yang kurang dengan memodifikasi makanan seimbang dan memberikan
ramuan temulawak. Menurut Lubis (1992) menjelaskan memberikan makanan
adalah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi serta tumbuh dan kembang anak, oleh
karena itu anak yang susah makan dapat diberi penambah nafsu makan dalam hal
ini obat tradisional Indonesia dapat diberikan. Alternatif dalam mengatasi masalah
kurang nafsu makan pada anak digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah
simplisia tanaman asli Indonesia yang telah digunakan masyarakat sebagai
penambah nafsu makan (Wijayakusuma, 1984). Istilah awam jamu tradisional
yang digunakan untuk menambah nafsu makan ini adalah jamu cekok. Ramuan
tradisional temulawak (Curcuma Xanthorrhizae) memiliki efek hepatoprotektif
yang dapat juga meningkatkan nafsu makan pada orang yang sulit makan
(Limananti dan Triratnawati, 2003).

Pernyataan Jurnal Turmeric and Curcumin : Biological Actions and Medicinal


Applicationsmenyatakan Curcuma sp dapat memberikan efek pencernaan lipid
oleh lipase yang lebih cepat dan meningkatkan sekresi kelenjar empedu untuk
mengemulsi lemak sehingga secara tidak langsung dapat mempercepat
pengosongan lambung karena secara fisiologis tubuh kita memerlukan waktu yang
lebih lama untuk mencerna lemak sehingga makanan akan lebih lama di saluran
cerna oleh karena dasar ini maka curcuma dapat juga meningkatkan nafsu makan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
94

pada anak yang kekurangan nafsu makan dan secara sejalan peningkatan nafsu
makan tentu akan menambah berat badan pada anak dan fungsi dari curcumin
yang katanya dapat juga meningkatkan nafsu makan melalui fungsinya sebagai
karminativum (antiflatulent).

Upaya Dinas Kesehatan yaitu penjaringan dengan mengukur status gizi anak
merupakan upaya preventif dalam mengetahui status gizi anak usia sekolah.
Program penjaringan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan anak akan
memberi informasi tentang proses tumbuh kembang anak khsuusnya untuk status
gizi anak usia sekolah. Upaya lain adalah dengan PHBS pada tatanan rumah
tangga juga memberikan dampak positif karena lingkungan mempengaruhi proses
tumbuh kembang anak sesuai dengan tahapannya. PHBS dalam tatanan rumah
tangga akan meningkatkan derejat kesehatan anggota keluarga (Notoatmojo,
2008). Pola hidup bersih dan sehat merupakan upaya preventif untuk tidak
timbulnya masalah kesehatan (Dinkes, 2006).

5.1.3 Asuhan Keperawatan Komunitas


Asuhan keperawatan komunitas yang dilakukan dengan menggunakan model
community as patner. Proses yang dilakukan dari tahap pengkajian hingga
evaluasi dan rencana tindak lanjut mengatasi masalah atau hambatan yang ada.
Hasil evaluasi terdapat peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan
masyarakat terutama bagi keluarga anak gizi kurang dalam mengatasi masalah
gizi kurang. Terdapatnya peningkatan status gizi anak dengan bertambahnya berat
badan tiap. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh
cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan
pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara
umum pada tingkat semaksimal mungkin. Pengetahuan yang baik akan
mempengaruhi pola konsumsi makanan sehingga akan terjadi status gizi yang
baik

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
95

Masyarakat atau keluarga mampu menerapakn KM GASS dengan tepat dan


pelaksanaan GASS dapat dilakukan mandiri oleh keluarga dan anak usia sekolah
gizi kurang. Pelaksanaan program GASS oleh masyarakat terutama pada keluarga
anak sekolah gizi kurang dengan melaksanakan 8 komponen dalam KM GASS
untuk bisa mengatasi masalah gizi kurang. Dengan berbagai cara untuk
meningkatakan pengetahuan masyarakat sehingga masyarakat mampu mengatasi
masalah gizi kurang yang terjadi pada anak usia sekolah mereka.

Pendidikan gizi dalam melakukan upaya menanggulangan masalah gizi kurang


pada anak usia sekolah merupakan upaya dalam mengatasi gizi kurang. Menurut
Hartmann dan Kochar (1994 dalam Hitchcock, Schubert & Thomas, 1999),
menjelaskan berbagai therapi modalitas dalam pendidikan kesehatan, yaitu
workshops, lectures, support groups, computer-assisted instruction, self-help
groups, dan interactive videotapes. Program pendidikan gizi dapat memberikan
pengaruh terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku anak terhadap kebiasaan
makannya (Soekirman,2000). Menurut Almatsir (2002) pengetahuan gizi adalah
sesuatu yang diketahui tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan
optimal. Pengetahuan gizi meliputi pemilihan dan konsumsi makanan sehari-hari
dengan memberikan semua sat gizi yang dibutuhkan untuk proses tumbuh
kembang yang optimal.

Terpenuhinya kebutuhan gizi seimbang sangat penting bagi tubuh manusia,


karena kekurangan asupan gizi akan menimbulkan efek negatif bagi tubuh kita,
seperti diungkapkan oleh Marsetyo (1995) bahwa kekurangan gizi akan berakibat:
(1) pertumbuhan dan perkembangan kurang normal, dan (2) kelesuan, tidak
bergairah melakukan kegiatan sehari hari. Zat gizi seimbang tersebut telah
dijadikan patokan oleh para ahli gizi sehingga lahirlah apa yang disebut Pedoman
Umum Gizi Seimbang (PUGS). PUGS menganjurkan agar 60-75% kebutuhan
energi diperoleh melalui karbohidarat (terutama berkarbohidrat komplek), 10-15%
dari protein, dan 10-25% dari lemak. Usia sekolah berada pada masa pertumbuhan
dan perkembangan, karena itu anak usia sekolah sangat membutuhkan zat gizi
untuk pertumbuhan dan perkembangan khususnya energi dan protein.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
96

Intervensi yang dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan program GASS


adalah dengan menilai status gizi anak usia sekolah minimal 3 bulan sekali untuk
selalu dipantau. Standar kecukupan gizi diperlukan sebagai pedoman yang
dibutuhkan oleh individu secara rata-rata dalam sehari untuk mencapai derajat
kesehatan yang optimal. Kebutuhan gizi setiap individu berbeda-beda tergantung
beberapa faktor yang mempengaruhinya. Penilaian standar kecukupan gizi
bepedoman pada Angka Kebutuhan Gizi (AKG) (Yuniastuti, 2008). Perhitungan
status gizi yang dilakukan adalah dengan menilai berdasarkan indek masa tubuh
anak dengan mengukur tinggi badan dan berat badan anak usia sekolah, diketahui
indeks masa tubuh kemudian dibandingkan dengan tabel antropometri dari
Kepmenkes RI (2010).

5.2 Keterbatasan
Keterbatasan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan komunitas dalam
melaksanakan strategi intervensi gizi anak sekolah seimbang (GASS) dengan
melibatkan kader, keluarga, anak usia sekolah gizi kurang yaitu: (1) adanya
hambatan dari program anak usia sekolah gizi kurang belum termasuk program
utama Dinkes Depok, dan Puskesmas Cimanggis; (2) program anak usia sekolah
hanya sebatas program untuk sekolah saja, belum ada program langsung
kemasyarakat; (3) sosialisasi mengenai pelaksanaan kegiatan GASS dilakukan
pada saat lokakarya mini belum mencapai target karena Dinas Kesehatan Depok
dan Puskesmas Cimanggis yang datang bukan dari pemegang program anak usia
sekolah sehingga program GASS dimungkin tidak sampai kepada megang
program; (4) tenaga kesehatan pemegang program anak usia sekolah dimasyarakat
belum ada; (5) kader kesehatan (KP GASS) yang belum terampil melakukan
skrining; (6) Distribusi pelaksanaan KM GASS kurang merata pada tiap RW
khususnya kepada anak usia sekolah gizi kurang dikarenakan waktu dan tenaga
KP GASS yang terbatas; (7) masalah anak usia sekolah gizi kurang, menurut
masyarakat dan keluarga masih bukan merupakan masalah utama dikarenakan
pemahaman masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang untuk proses tumbuh
kembang masih terbatas; (8) Dukungan lingkungan sekitar khususnya para

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
97

pedagang yang menjual makanan dan minuman yang masih kurang pengetahuan
tentang makanan dan minuman yang sehat bergizi seimbang.

5.3 Implikasi Keperawatan


5.3.1 Praktik Keperawatan Komunitas
Bentuk strategi intervensi GASS merupakan suatu proyek inovasi yang digunakan
untuk mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah dan meningkatkan
status gizi anak usia sekolah. Hasil penerapan program inovasi GASS
memberikan manfaat bagi keluarga anak usia sekolah gizi kurang untuk mengatasi
masalah kesehatan yang timbul disebabkan karena faktor langsung dan tidak
langsung dari penyebab gizi kurang. Manfaat GASS yang diterapkan keluarga
untuk memandirikan keluarga dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak
usia sekolah. 7 komponen dari GASS dan skrining status gizi anak usia sekolah
yang diterapkan keluarga dan anak usia sekolah akan meningkatkan status gizi
anak dan proses tumbuhkembang anak sesuai dengan tahapannya serta
mengurangi risiko meningkatnya angka kejadian gizi kurang pada anak usia
sekolah. Motivasi dan dukungan dari KP GASS akan memberikan manfaat bagi
keluarga dalam penerapan GASS, memberikan implikasi secara psikologis dan
perubahan perilaku keluarga dan anak usia sekolah dalam pemenuhan kebutuhan
nutrisi yang sehat dan seimbang.

Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang seimbang oleh keluarga dengan memantau


konsumsi makanan yang dimakan anak akan meningkatkan motivasi (memberikan
reinfcement positif pada setiap perilaku positif) anak dalam pemilihan makanan
yang sehat dan meningkatkan komunikasi antara keluarga (ibu) dan anak dalam
terpenuhinya kebutuhan nutrisi sesuai dengan keinginan anak namun kandungan
gizi tetap terjaga keseimbangan antara zat tenaga, zat pengatur dan pembangun.
Pola asuh nutrisi yang tepat dipilih keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
bagi anak usia sekolah gizi kurang akan meningkatkan dukungan psikologis anak
dengan merasa diperhatikan, dilindungi dan meningkatnya asah asih ibu kepada
anak. Dengan modifikasi makanan yang diberikan dapat meningkatkan nafsu
makan anak terhadap makanan yang sehat bergizi seimbang.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
98

KP GASS dalam penerapan program inovasi GASS kepada masyarakat, keluarga


dan anak usia sekolah, dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan dan
keterampilan dalam mengatasi masalah gizi kurang dengan berbagai model dalam
cara penyampaian GASS. KP GASS akan merasakan manfaat keberadaaan KP
GASS bagi masyarakat terutama bagi anak usia sekolah gizi kurang melalui
pemanfaatan KM GASS untuk memantau status gizi anak usia sekolah dan
penatalaksanaan GASS oleh masyarakat, keluarga dan anak usia sekolah gizi
kurang. KP GASS yang dibentuk sangat bermanfaat sehingga penyampaian GASS
kepada masyarakat lebih disesuaikan dengan kondisi masyarakat, karena
hubungan yang sudah lebih dahulu tercipta antara KP GASS dengan masyarakat.

Dinas Kesehatan Kota Depok, Puskesmas Cimanggis dan Kelurahan Cisalak


Pasar akan memperoleh gambaran bahwa karya ilmiah akhir hasil praktik
residensi mahasiswa spesialis keperawatan komunitas, memiliki implikasi dalam
mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah di tatanan masyarakat.
Penatalaksanaan GASS yang dilakukan oleh masyarakat, keluarga dan anak usia
sekolah dengan KP GASS sebagai pendukung dalam penerapan GASS yang juga
sebagai motivator membutuhkan pemahaman yang lebih baik lagi dalam
meningkatkan status gizi dimasyarakat dengan adanya tenaga kesehatan yang
professional akan memberikan kontribusi bagi KP GASS untuk bisa
terpantauanya kemampuan dan penerapan KM GASS sehingga bila ditemukan
masalah lebih lanjut akibat gizi kurang akan segera cepat ditangani oleh tenaga
kesehatan yang ahli dengan adanya rujukan dari tenaga kesehatan yang
professional.

5.3.2 Perkembangan Pendidikan Ilmu Keperawatan


Implikasi keperawatan untuk perkembangan pendidikan ilmu keperawatan dalam
melakukan pelayanan keperawatan komunitas dalam melaksanakan upaya
mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah dengan strategi GASS.
Suatu institusi pendidikan dimana perawat memiliki peran untuk mengembangkan
teori ilmu keperawatan dengan mengaplikasikan ilmu yang ada kemasyarakat

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
99

sehingga akan mengahasilkan suatu pelayanan kesehatan yang berkesinambungan


antara teori dengan praktik pelayanan keperawatan khususnya pada perawatan
anak usia sekolah gizi kurang. Karya ilmiah akhir dapat memberikan manfaat
gambaran kepada institusi pendidikan bagaimana penerapan pelayanan asuhan
keperawatan dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah, dan
institusi keperawatan sebagai tempat menghasilkan perawat-perawat professional
yang mampu melakukan praktik asuhan keperawatan komunitas kepada
masyarakat. Karya ilmiah akhir yang menggambarkan praktik asuhan
keperawatan komunitas pada anak usia sekolah gizi kurang dengan program
inovasi GASS. Upaya dan strategi yang digunakan untuk penerapan KM GASS
untuk menilai status gizi dan penatalaksanaan penerapan GASS oleh keluarga
anak usia sekolah gizi kurang, pemberdayaan KP GASS sebagai pengelola dan
memotivasi keluarga dalam penerapan GASS untuk mengatasi masalah gizi
kurang, sehingga keluarga mandiri dalam mengatasi masalah gizi kurang pada
anak usia sekolah.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
100

BAB 6
SIMPULAN DAN SARAN

Bab 6 menjelaskan tentang simpulan dan saran dari hasil kegiatan praktik asuhan
keperawatan komunitas, keperawatan keluarga, dan manajemen keperawatan
dengan strategi intervensi GASS dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak
usia sekolah.

6.1. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan pada bab sebelumnya, maka
dapat disimpulkan bahwa model intervensi program inovasi penerapan gizi anak
sekolah seimbang (GASS) dengan pemanfaatan KM GASS (kartu menuju gizi
anak sekolah seimbang) dapat dijadikan pilihan intervensi untuk mengatasi
masalah gizi kurang pada anak usia sekolah. Berdasarkan tujuan maka dapat
disimpulkan sebagai berikut
6.1.1 Terbentuknya kelompok pendukung (KP GASS) dalam upaya pelaksanaan
strategi intervensi GASS dengan pemanfaatan KM GASS sebagai lembar
evaluasi pelaksanaan GASS
6.1.2 Peningkatan kemampuan perilaku (pengetahuan, keterampilan, dan sikap)
anggota KP GASS dengan nilai hasil evaluasi baik terhadap
penanggulangan masalah gizi kurang melalui pelaksanaan GASS pada
kelompok anak usia sekolah di Kelurahan Cisalak Pasar
6.1.3 KP GASS terampil dalam melakukan supervisi dan umpan balik
pelaksanaan GASS pada kelompok anak usia sekolah dengan gizi kurang di
Kelurahan Cisalak Pasar
6.1.4 Peningkatan perilaku kelompok anak usia sekolah dengan gizi kurang
mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap terhadap perawatan anak
usia sekolah dengan gizi kurang di Kelurahan Cisalak Pasar.
6.1.5 Peningkatan status gizi anak usia sekolah minimal status gizi anak usia
sekolah dengan kategori status gizi kurus (-3 SD sampai dengan < -2 SD)

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
101

setelah pelaksanaan GASS pada kelompok anak usia sekolah dengan gizi
kurang di Kelurahan Cisalak Pasar.
6.1.6 Perilaku keluarga meningkat meliputi pengetahuan, keterampilan, dan
sikap dalam melakukan perawatan anak usia sekolah dengan gizi kurang di
Kelurahan Cisalak Pasar.
6.1.7 Keluarga mampu mandiri dalam melakukan perawatan anak usia sekolah
dengan gizi kurang di Kelurahan Cisalak Pasar.

6.2 Saran
6.2.1 Untuk Pelayanan Kesehatan
6.2.1.1 program yang dibuat Dinas Kesehatan Depok dapat memasukkan
kedalam Renstra jangka pendek atau jangka panjang dalam upaya
mengatasi masalah anak usia sekolah gizi kurang.
6.2.1.2 Pemegang program anak usia sekolah melaporkan hasil penjaringan
kepada kepala Dinkes untuk sebagai pertimbangan evaluasi peningkatan
program anak usia sekolah khususnya pada temuan peningkatan kasus
gizi kurang pada anak usia sekolah
6.2.1.3 Melakukan pemberdayaan SDM yang ada, melalui pelatihan ketrampilan
monitoring dan evaluasi kegiatan supervisi dan evaluasi kinerja
pemegang progam.
6.2.1.4 Dinas kesehatan dapat menempatkan tenaga kesehatannya untuk bisa
melaksanakan sosialisai program anak usia sekolah seperti melakukan
penjaringan hanya pada anak pertama masuk sekolah (kelas satu) tapi
juga penjaringan kepada seluruh anak usia sekolah kemasyarakat
langsung tidak hanya pada tatanan Puskesmas ataupun di Sekolah.
6.2.1.5 Menempatkan perawat spesialis komunitas untuk mengembangkan
program inovasi dan program kerja pelayanan kesehatan di tingkat Dinas
Kesehatan.

6.2.2 Untuk Perawat Komunitas


6.2.2.1 Perawat yang berada di masyarakat (komunitas) dapat melakukan
koordinasi dengan instansi pelayanan kesehatan (Dinas Kesehatan dan

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
102

Puskesmas) dan pelayanan masyarakat (Kelurahan dan Kecamatan) serta


instansi pendidikan (SD dan UPT khusus untuk pendidikan) tentang hasil
program GASS dalam mengatasi gizi kurang pada anak sekolah .
6.2.2.2 Perawat komunitas melakukan kerjasama dengan masyarakat untuk
memotivasi masyarakat sebagai kader kesehatan untuk bisa mandiri
dalam mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah seperti
sosialisasi kepada masyarakat tentang gizi seimbang bagi pemenuhan
kebutuhan nutrisi setiap anggota keluarga
6.2.2.3 pemegang program AUS terutama Puskesmas diharapkan dapat
memberikan motivasi dan memonitoring program GASS yang telah
dilaksanakan di masyarakat Kelurahan Cisalak Pasar

6.2.3 Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan


6.2.3.1 Pelaksanaan praktik asuhan keperawatan komunitas langsung
kemasyarakat dengan memberikan pelatihan dan cara perawatan gizi
kurang pada anak usia sekolah sehingga masyarakat bisa mandiri dalam
meningkat derajat kesehatannya.
6.2.3.1 Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat atau
mengevaluasi keefektifan atau hubungan strategi intervensi GASS dalam
mengatasi masalah gizi kurang pada anak usia sekolah dan
membandingkan dengan kelompok kontrol dengan kelompok yang tidak
dilakukan intervensi.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
DAFTAR PUSTAKA

Allender, J.A & Spradley, B.W. (2005), Community health nursing: promoting and
protecting the public health, sixth edition. Philadelphia: Lippincott

Allender, J.A & Spradley, B.W. (2001), Community health nursing: concepts and
practice, fifth edition. Philadelphia: Lippincott

Almatsier, S. (2003). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Anderson, E.T. & McFarlane, J. (2004). Community as partner: Theory and Practice
in Nursing . Fourth edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins

Anindya. (2009). Kebutuhan Gizi Seimbang Anak Usia Sekolah.


www.rajawana.com/artikel/kesehatan/384-kebutuhan-gizi-seimbang-usia-
sekolah.html diakses pada tanggal 23 Oktober 2013

Ariani, N.,P., Sahar J., (2006). Hubungan karakteristik remaja, keluarga dan pola
asuh keluarga dengan perilaku remaja :Merokok, agresif, dan seksual pada
siswa SMA dan SMK di Kecamatan Bogor:Jawa Barat. Tesis. Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia.

Arisman, M.B. (2009). Gizi dalam daur Kehidupan. Jakarta. EGC

Aritonang,I., (2002). Krisis ekonomi: Akar masalah Gizi, Sebelas maret University
Press, Surakarta

Armelia, & Muljati,.S. (1991). Status Gizi anak di Samplak, Kabupaten Bogor

Apicella, et. al (2010). Breakfast clubs:availability for British schoolchildren and the
nutritional, social and academic benefits. Nutrition Bulletin

Aprillia, A.B. (2011). Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Makanan


Jajanan Pada Anak Sekolah Dasar. Skripsi

Asiah. (2001). Hubungan pola pengasuhan ibu terhadap pola makan anak di
masyarakat bugis Mandar

Aisyah, St. (2010). Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Tingkat Agresivitas
Anak. Jurnal MEDTEK. Volume 2 Nomor 1

Azwar, S. (2005). Tes Prestasi: Fungsi & Pengembangan Prestasi Belajar. Edisi
Kedua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Bailon, S.G. & Maglaya, A.S. (1997). Family health Nursing: The Process.
Philiphines: UP College on Nursing Diliman

Badan Pusat Statistik (2012). Perkembangan beberapa indicator utama sosial


ekonomi Indonesia. Pada tanggal 9 November 2012.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Baumrind, Diana (2011). Prototypical Descriptions of 3 parenting styles. [Online].
Tersedia : http://www.devpsy.org/teaching/parent/Baumrind parenting styles.
pdf.

Bahar., U., (1998). Dampak Krisis Moneter dan kekeringan terhadap status
kesehatan dan gizi anak dalam prihatin lahir dan batin Dampak Krisis
Moneter dan bencana Elnino terhadap masyarakat, Keluarga, Ibu dan Anak
di Indonesia dan pilihan intervensi, Edisi II, Puslitbang Kependudukan dan
Ketenagakerjaan, LIPI dan UNICEF, Jakarta: 133-147

Baliwati, F.Y., Khomsan., A., Dwi Riani, M.C., (2004). Pengantar Pangan dan Gizi,
Penebar Swadaya, Jakarta

Bapeda dan BPS Jawa Barat (2004). Penyusunan data survei sosial ekonomi daerah
(SUSEDA). Propinsi Jawa Barat.

Badan. Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Penyusunan indeks


komposit perlindungan anak. Jakarta : Bappenas. 2010,
www.bapenas.go.id/get-file-server/node/334 diakses pada tanggal 23
oktober 2011

Beck., ME., (1993), Ilmu Gizi dan Diet, Hubungan dengan Penyakit-penyakit: untuk
Perawat dan Dokter. Yayasan Essentia Medica, Yogyakarta

Berg, Alan. 1986. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Rajawali

Berg. 1986. Ibu-ibu yang bekerja sampai dengan sore tidak memiliki waktu luang
keluarga.

Brown,.E.,J. (2005). Metode mencari penyebab kekurangan gizi pada anak-anak,


Depkes. RI. Jawa Tengah.

Budiarto. E. (2001). Biostatika untuk kedokteran dan kesehatan masyarakat. Cetakan


I. Jakarta . EGC

Burn, N & Groove, S.K (2005). The Practice of Nursing Research : appraisal,
Synthesis, and generation of evidence. St. Louis : Saunders Elsevier

Camaron,J., Banko,K.M., & Peirce,W.D., (2001). Pervasive negative effects of


reward on intrinsic motivation:the myth continues. Behavior Analyst, 24, 1-
44

Contento, I.R. (2010). Overview of Determinants of Food choice and dietary change:
implications for nutrition education. Published in Nutrition Education:
Linking Research, Theory, And Practice.

Cousens, Simon. 2008. Large Number Of Preventable Deaths Among Under 3s In


Poor Countries. (http://www.medicalnewstoday.com enviromental influences

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
on children’s diets: result from focus group with African, Euro and Mexican-
American children and their parents. Health Education, Res, 15, 581-590

Cullen,K.W., Baranowski, T., Rittenberry,L. & Olvera,N. (2000). Social


Enviromental Influences on children’s diets:results from focus group with
African, Euro dan Mexican-American children and their parents. Health
Education, Res, 15,581-590

Dahlan, M.S. (2008). Langkah-langkah membuat proposal penelitian bidang


kedokteran dan kesehatan. Jakarta : Sagung Seto

Darmayanti, (2011) Hubungan pengetahuan ibu dengan status gizi anak di Desa
Gedang sewu Kec Boyolali, Tulungagung

Dempsey, P.A. & Dempsey, A.D. (2002). Riset Keperawatan: buku ajar dan latihan.
Jakarta. EGC

Depkes RI. 1992. Strategi Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Jakarta:Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat.

Depkes RI.(2002). Profil Kesehatan Indonesia 2001. Jumal Kesehatan. Jakarta :


Depkes RI

Depkes RI. (2005). Pedoman Gizi seimbang. www.gizi.net/pugs/index.shtml. diakses


tanggal 5 februari 2012)

Departemen Kesehatan RI. 2007. Peta Kesehatan Indonesia 2007. Jakarta: Depkes
RI

(2009). Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta. DIPA. 2009

Depkes RI. (2002). Profil Kesehatan Indonesia 2001. Jurnal Kesehatan. Jakarta :
Depkes RI

(2007). Riskesdas 2007. www.balitbangkes.gi.id. Diakses tanggal


24 Oktober 2013

(2010). Laporan nasional Riskesdas tahun 2010.


www.depkes.gi.id. Diakses tanggal 24 oktober 2013

Desmita. (2005). Psikology perkembangan. Bandung: PT Rosdakarya

Dinas Kesehatan Kota Depok. (2012). Visi Misi Dinas Kesehatan Kota Depok Tahun
2011-2016. Retrieved From
http://dinkes.depok.go.id/index.php?option=com_content&view=article&i
d=92&Itemid=90

Dirjen Bina Kesehatan. (2002). Buku Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang.
Jakarta.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Edelman, C.L. (2006). Health promotion throughout the life span, sixt editon. ST.
Louis, Missouri : Mosby

Engle, P.C., P. Menon, & L. Haddad. (1997) Care and Nutrition: Concept and
Measurement. Washington DC: International Food Policy Research Institute.

Ervin, NF. (2002). Advanced community health nursing : Concept and practice. (5 th
ed). Philadelphia: Lippincot

Ezzel,I., and Gordon.,L.,J. (1984). Malnutrition in Chronic Obstructive Pulmonary


disease, American Jurnal Clinical Nutrition

Friedman,. M,. Bowden, V.R,. Jones, E.G. (2003). Family nursing : Research theory
& Practice. Fifth edition. New Jersey. Person Education Inc.

Gibson RS. (2005). Principles of Nutritional Assessment.2nd. New Zaeland. Oxford


University Press

Gillies, D.A. (2000). Nursing Management: A Sytem Approach. 3th edition.


Philadelphia : W.B. Saunders Company

Green, L.W & Kreuter, M.W. (2005). Health prohram planning an educational and
ecological approach. Fourth edition. New York. The McGraw-Hill
Companies,Inc

Grodner. M,. Long. S., Walkingshaw. B.C. (2007). Foundations and clinical
applications of nutrition : a nursing approach. Fourth edition. St. Louis
Missouri. Mosby. Inc

Gunarsa dan Yulia, S.G. (2004). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta :
BPK Gunung Mulia

Handayani, N. (2006). Peran Orang Tua, Sekolah, dan Pedagang Pada Makanan
Jajanan Anak. http://www.gizi.net/

Hardivian, Sylvia Licha, Pengaruh Karakteristik Ibu dan Pendapatan Keluarga


Terhadap Tingkat Kecukupan Energi dan Protein Serta Status Gizi Anak
Balita di Desa Suwawal Barat, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara.
2003, www.eprint.undip.ac.id diakses 23 Agustus 2012.

Harsiki,.MM,.T,. (2002). Hubungan pola asuh anak dan faktor lain dengan mutu
balita keluarga miskin di pedesaan dan di perkotaan propinsi Sumatra Barat.

Hartono, R., Ipa, A., & Rusli. (2011). Studi Penggunaan Bahan Tambahan
Makanan Jajanan di Kota Makassar. Makassar: Poltekes Makassar

Hastono, S.P. (2007). Analisis data kesehatan. Fakultas kesehatan masyarakat


Indonesia. Tidak publikasi

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Helvie, C.O. (2002). Advanced community health nursing practice : population-
focused care. USA. Sage publications. Inc

Hittchock, J.E., Schubert, P.E., dan Thomas, S.A. (1999). Community heath
nursing: Caring in action, Washington: Delmar Publisher

Hockembery, M.J & Wilson. D. (2009). Wong’s essentials pediatric nursing. Eight
edition. St. Louis Missouri. Mosby. Inc

Hurlock, Elisabeth. 2006. Psikologi Perkembangan Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga

Husaini. (2008). Peranan Gizi dalam meningkatkan kualitas Tumbuh kembang anak

InfoPOM. (2011). Pentingnya Promosi Keamanan Pangan di Sekolah untuk


Menyelamatkan Generasi Penerus. Vol. 12 No. 6 November- Desember 2011

Irmawati., (2002)., Motivasi Berprestasi dan Pola Pengasuhan pada suku Bangsa
Batak di desa Parpadean II dan Suku Bangsa Melayu di Desa Bogak. Tesis.
Universitas Indonesia.

Kementrian Kesehatan RI. (2007). Riset Kesehatan Dasar 2007

Jahari,. (2002). Antropometri sebagai indikator status gizi, Gizi Indonesia Vol XIII
No.2 (23-30)

Jefrey,T., Marcia,B.,H., & Susan,T. (2004). Parents have their say....about their
College-Age Children’s Career from the winter. NACE journal

Judarwanto,.W. (2003),. Perilaku makan anak sekolah. http://gizi.depkes.go.id.


Diunduh pada tanggal 18 Oktober 2013

Judarwanto, Widodo. (2006) Perilaku Makan Anak Sekolah.


http://gizi.depkes.go.id/makalah/download/perilaku%20makan%20anak%20s
ekolah.pdf

Jus’at, Idrus dan Abas Basuni Jahari. 2000. Review Antropometri Secara Nasional
dan Internasional. Bogor

(2008). Permasalahan umum kesehatan anak usia sekolah. www:


pdpersi.co.id.diunduh tanggal 30 Oktober 2013

Kamus besar bahasa Indonesia. http://www.scribd.com/doc/21746354

Kelurahan Cisalak Pasar. (2011). Laporan Tahunan TP. PKK Kelurahan Cisalak
Pasar Thun 2011. Retrieved. from.

Kenny, J., & Kenny, M. (1991). Dari Bayi Sampai Dewasa. Jakarta: PT BPK
Gunung Mulia.

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Kozier. B, Erb. G, Berman. A, & Snyder. S.J. (2010). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan: Konsep, Proses, & Praktik. Jakarta: EGC

Kementrian Kesehatan RI. (2007). Riset Kesehatan Dasar 2007.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Profil Kesehatan Indonesia


2010. Jakarta: Kementrian Kesehatan Indonesia Republik Indonesia.

Khomsan, A. (2002) Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta. Rajagrafindo


Persada

Kurniasih, D., Hilamnsyah, H., Astuti, M.P., & Imam, S. (2010). Sehat dan bugar
berkat gizi seimbang. Jakarta. Gramedia

Kusumaningrum N.R., dan Wiyono V.H., Pengaruh Tingkat Pendidikan Ibu,


Aktivitas Ekonomi Ibu dan Pendapatan Keluarga Terhadap Status Gizi Balita
di Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, JPP; 3 (2):105 – 125, 2003

Lameshow, S., Hosmer, D.W., Klar, J.L., Wanga, S.K. (1997). Besar sampel dalam
penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Lowe,C.F., Horne,P.J., Tapper, K., Bowdery,M., & Egerton,C. (2004). Effects of


peer modeling and reward-based intervention to increase fruit and vegetable
consumption in children. European Journal of Clinical Nutrition, 58, 510-
522.

Maglaya, A. S., Cruz-Earnshaw, R. G., Pambid-Dones, L. B. L., Maglaya, M. C. S.,


Lao-Nario, M. B. T., & Leon, W. O. U.-D. (2009). Nursing Practice in the
Community. Marikina: Argonauta Corporation. p. 80

Marquis, B.L., Huston, C.J. (2006). Leadership Roles and Roles Management
Fuctions in Nursing: Theory and Application. 5th edition. Philadelphia :
Lippincott.

Masithah,. Soekirman,. Martianto,. (2005). Hubungan pola asuh makan dan


kesehatan dengan status Gizi anak batita di desa Mulya Harja. Diaksesn
tanggal 12 Oktober 2013
Maurer, F.a & Smith, C.M. (2005). Community public health nursing practice :
Health for families and population, thurd edition

McKinney, E.S., Ashwil, J.W., Murray, S.S., James, S.R., Gorrie, T.M., Droske, S.C.
(2000). Maternal-child nursing. Philadelphia: W.B. Saumders Company.

McMurray, A. (2003). Community and wellness a socioecological approach. Second


edition. Australia. Mosby

Moehji, S. (1982) Ilmu Gizi. Edisi ke-1. Jakarta : Bhatara Karya Pustaka

Moore,M.C. (2009). Nutritional assessment and care. 6th Edition. St.Louis,


Missouri. Mosby

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Muhilal. Hardiansyah. (2000). Penentuan kebutuhan gizi dan kesepakatan
harmonisasi di Asia Tenggara. Prosiding Widya karya Pangan dan Gizi VII;
Jakarta, Indonesia

,. (2002)., Peranan Gizi dalam meningkatkan kualitas sumber daya


manusia:telaah dari aspek biokimia gizi seimbang. Depdikbud
Unpad.Bandung

Muscary, M.E. (2001). Advanced pediatric clinical assessment and care. Sixth
edition. St.Louis. Missouri. Mosby

Neelu,S., Bhatnagar,M., Garg,S.K., Chopra,H., Bajpai,S.K. (2010). Nutriotional


status of urban school children in meerut. Internet Journal epidemiology

Nelson & Behrman, K.A. (2000). Ilmu kesehatan Anak. Jakarta : EGC

Neumark,S.D., Hannan,P.J., Story,M., Croll,J., Perry, C. (2003). Family meal


pattern:associations with sociodemographiccharacteristics and improved
dietary intake among adolesence. Journal of America Diet Association, 103,
317-22

Nicklas,T.A., & Baranowski,T., Cullen,K.W., Barenson,G. (2001). Eating Patterns,


Dietary quality and obesity, Journal of America cll nutrition, 20, 599-608

Nies, M.A., & McEwen, M. (2007). Community/ Public Health Nursing:Promoting


the Health of Populations. St. Louis, Missouri: Saunders Elsevier

Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:


Rineka Cipta

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nuraini. 2007. Pentingnya pola asuh ibu terhadap Gizi Anak. Graha Ilmu.2005

Nursalam. (2003). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan :


pedoman skripsi, tesis dan instrument penelitian keperawatan. Edisi pertama.
Jakarta : Salemba Medika

Nursalam. (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan, Konsep dan Praktek.


Jakarta: Salemba Medika

Oliveria,S.A.,Ellison,R.C., Moore,L.L., Gilman,M.W., Garrahie,.E.J.,


Singer,M.R.(1992). Parent-child relationships in nutrient intake: The
framingham children’s study. America journal of clinic nutrion, 56,593-98

Papalia. (2008). Human Development, Perkembangan Manusia. Jakarta: Salemba


Humanika

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Perry dan Potter. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan : Konsep, proses, dan
praktik, vol I, F/4, Alih bahasa Yasmin Asih dkk. Jakarta: EGC

Pelaksana Harian Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota
Depok. (2012). Tugas Pokok dan Fungsi Pelaksana Seksi Kesehatan
Keluarga Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota
Depok: Program Kesehatan Lanjut Usia. Retrieved. from

Pemerintah Kota Depok. (2012). Visi Dan Misi Kota Depok 2011 - 2016. Retrieved.
from http://www.depok.go.id/profil-kota/peta.

Pender,N.J., Murdaugh,C.L., & Parsons, M.A. (2002). Health Promotion in nursing


practice. Fifth edition. New Jersey. Pearson education Inc.

Pemerintah Kota Depok. (2012). Visi Dan Misi Kota Depok 2011 - 2016. Retrieved.
from http://www.depok.go.id/profil-kota/peta.

Polit, D.F., & Hungler, B.P. (1999). Nursing research: Principles and methods.
Fourth edition. Philadephia: Lippincott

Purtiantini,. (2010) Hubungan Pengetahuan dan sikap mengenai pemilihan makanan


jajanan dengan prilaku anak memilih makanan di SDIT Muhammadiyah Al
Kautsar Gumpang Kartasura

Puskesmas Cimanggis. (2011). Data Anak Usia Sekolah Kota Depok 2011.
Retrieved. from

Rahmawati, E. BBM naik, gizi buruk meningkat (serial online) Available from
http://www.Kompas.com

RISKESDAS 2010. (2010). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan


Departemen Kesehatan, Republik Indonesia Desember 2008

Rohmulyati,. (2011) Hubungan tingkat Pengetahuan ibu tentang gizi seimbang


dengan status gizi anak di desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari,
Gunungkidul

Ruel, M.T., & P. Menon. (2002). Child feeding practices are associated with child
nutritional status in Latin Amercia:innovative uses of the demographic and
health surveys.

Sabri,. S., Hastono, S.P. (2006).: Statistik Kesehatan., Jakarta PT. RajaGrafindo
Persada

Saifah,A., Sahar, J., (2011). Hubungan peran keluarga, guru, teman sebaya dan
media massa dengan perilaku gizi anak usia sekolah darar wilayah kerja
puskesmas Mabelopura Kota Palu. Tesis. Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia

Santrock, J.W. (2007). Perkembangan Anak. Edisi 11. Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Sastroasmoro, S., Ismael, S. (2002). Dasar-dasar metodeologi penelitian klinis.
Jakarta. Sagung Seto

Satoto. (2002). Pertumbuhan dan perkembangan anak, pengamatan anak umur 0-18
bulan di Kabupaten Jepara Jawa tengah

Saucier, L.K., Janes, S., (2009). Community health nursing; caring for the public’s
health. Second edition. USA: Jones and Bartlett Publisher, LLC.

Soekirman. “Susu untuk Anak Sekolah diPedesaan.” Suara Pembaruan, 9


September"2009

Soekirman. (2009). Ilmu Gizi dan aplikasinya untuk keluarga dan masyarakat.
Jakarta Dirjen Depdiknas

Soemantri, AG. (2009). American Journed Pf Clinical Nutrition

Soenarjo. (2000). Peranan pangan dan Gizi. Bumi Aksara

Sugiyono. (2005). Statistika untuk penelitian. Cetakan kedelapan. Jawa Barat.


Alfabeta

Suhardjo. (1998). Sosio Budaya Gizi, Pusat Antar Universitas, Intitut Pertanian
Bogor

Sulistyoningsih, H. (2011). Gizi untuk kesehatan ibu dan anak. Edisi pertama.
Cetakan pertama. Yogyakarta. Graha Ilmu

Supariasa, ID Nyoman dkk. (2002). Penilaian Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Supariasa., Bakri., Fajar., (2001). : Penilaian status gizi. Jakarta. EGC

Suryani. (2002). Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. Direktorat Jenderal Pendidikan


Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Susanto, Widyaningsih. (2004). Dasar-Dasar Ilmu Pangan Dan Gizi. Akademika


Yogyakarta.

Stanhope, M. & Lancaster, J. (2004). Community health nursing (4th ed). St. Louis :
Mosby.

Steinberg Laurence. (2002). Adolescence (edisi Keenam). New York : McGraw Hill

Swanburg, R. C. (2000). Pengantar Kepemimpinan & Manajemen Keperawatan


Untuk Perawat Klinis. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Swanson, J.M., dan Nies, M.A. (1997). Community health nursing:


Promoting the health aggregates, 2nd Ed, Philadelphia: W.B Saunders

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Tarmudji., (2001). Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan agersivitas remaja di
Kota Semarang. Pusat Informasi Pendidikan Indonesia. Editorial Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan. Edisi 36

Tim Pembina UKS Pusat UKS. 2007. Pedoman Pembinaan dan pengembangan
Usaha Kesehatan Sekolah. Jakarta

Tomey Ann Marriner, Alligood Raile, dan Martha. 2002. Nursing Theorist and Their
Work. United State of America : Mosby Elsevier

UNSCN. (2012). Nutrition Information in Crisis Situations (formerly RNIS).


Februari 2012. http://www.unscn.org

Unicef, (1998). Focus on Nutrion. The State of The World’s Chidren 1998. New
York, University Press

Wijayanto (2011). Hubungan BB/U dengan prestasi Belajar pada murid SD


pembangunan Jaya

Widjaja. (1993). Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bumi Aksara

Winarno, E.G. (1990). Gizi dan makanan. Pustaka Sinar harapan, Jakarta, 1990

Wong, D.L., Perry, S.E, Hockenberry, M.J. (2002). Maternal Child nursing care.
Second edition. USA : Mosby, Inc

Zeitlin, M., (2000). Peran Pola Asuh Anak: Pemantauan Hasil Studi Penyimpangan
Positif untuk Program Gizi. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan
Gizi VII: Jakarta: LIPI

www.depdiknas.go.id/jurnal/37/hub_pola_asuh_orang_tua.htm. di Download tanggal


12 Oktober 2013

Universitas Indonesia
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
LAMPIRAN

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


Lampiran 1

PENAPISAN MASALAH MANAJEMEN PELAYANAN KEPERAWATAN

No Diagnosa Keperawatan Pembobotan Jml


A B C D E F G H I J K
1 Belum optimalnya 4 3 4 3 4 5 3 3 2 4 3 38
perencanaan masalah gizi
kurang pada anak usia
sekolah

2 Belum adanya wadah 4 3 5 4 4 3 4 4 4 4 3 42


dalam menanggulangi
masalah gizi kurang pada
anak usia sekolah

3 Belum optimalnya 3 4 5 4 3 3 4 3 3 4 3 37
pelaksanaan program dalam
penanganan anak usia
sekolah gizi kurang

4 Belum terkoordinasinya 3 3 3 4 4 3 3 3 3 4 2 35
program kegiatan anak usia
sekolah di masyarakat

5 Belum optimalnya 2 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 32
pengawasan , monev
terhadap masalah kesehatan
pada anak usia sekolah gizi
kurang

Keterangan Pembobotan

1= Sangat rendah A: Risiko terjadi G: Tempat


2= Rendah B : Risiko parah H: Waktu
3= Cukup C: Potensial penkes I : Dana
4= Tinggi D : Minat masyarakat J: Fasilitas Kesehatan
5= Sangat tinggi E : Kemungkinan diatasi K: Sumber Daya
F: Sesuai Program Pemerintah

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


[Type text] Lampiran 2

KUMPULAN MODUL

KELOMPOK PENDUKUNG GIZI ANAK


SEKOLAH SEIMBANG
(KP GASS)

Kontributor materi:
HERLINA

PROGRAM SPESIALIS PEMINATAN KOMUNITAS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2013
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

KUMPULAN MODUL
KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GIZI ANAK SEKOLAH SEIMBANG
(KP GASS)

KONTRIBUTOR MATERI :
HERLINA

SUPERVISOR
Dra. Junaiti Sahar SKp, M.App.Sc, Ph.D
Poppy fitri, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom
Ns. Widyatuti, S.Kep., M.Kep., Sp.Kom
Henny Permatasari, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom

PROGRAM SPESIALIS PEMINATAN KOMUNITAS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2013

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 2

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat-Nya,
modul ini dapat tersusun. Modul ini merupakan panduan yang dapat digunakan dalam
peningkatan pengetahuan tentang Kelompok Pendukung GASS. Modul ini diharapkan
dapat memberikan informasi kepada KP GASS di wilayah Kelurahan Cisalak Pasar
Kecamatan Cimanggis Kota Depok.

Dengan adanya modul ini diharapkan KP GASS memiliki sumber informasi yang lebih
akurat, terkait penanganan maupun pencegahan GIZI KURANG yang ditemukan pada
anak usia sekolah. Modul ini memuat informasi terkait Kelompok Pendukung GASS
(KPG)

Kami menyadari, bahwa modul ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan, sehingga masukan dari semua pihak sangat kami harapkan.

Depok, 10 Mei 2013

Penyusun

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 3

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

DAFTAR ISI
Halaman
Judul ................................................................................................................................... 1
Kata Pengantar .................................................................................................................... 3
Daftar Isi .............................................................................................................................. 4

Kelompok Pendukung.................................................... ..................................... ................6


Kepemimpinan..................................................... ..................................... ..........................7
Komunikasi...................................................... .................................... ...............................9
Dinamika Kelompok.................................... ................................. ....................................12
Status gizi…………. .................................................................................................... ….14
Gizi Kurang................................................... .................................. ..................................15
GASS Gizi kurang................................................. ........................ ....................................17

Lembar Evaluasi dan Observasi

Daftar Pustaka

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 4

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 5

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

KELOMPOK PENDUKUNG

A. Pengertian
Kelompok yang terdiri dari beberapa orang kader kesehatan mempunyai tujuan dan
keinginan untuk peduli terhadap permasalahan terkait gizi kurang pada anak usia
sekolah serta aktif untuk memfasilitasikeluarga

B. Tujuan
Memberikan bantuan dalam perawatan dengan penerapan program program
penanggulangan gizi yaitu GASS untuk masalah gizi kurang dan resiko gizi kurang
anak usia sekolah .

C. Anggota
- Petugas Puskesmas
- Kader RW

D. Tugas Anggota Kelompok Pendukung GASS

1. Memberikan informasi kesehatan kepada keluarga yang memiliki anak usia


sekolah yang mengalami gizi kurang atau resiko gizi kurang.
2. Melakukan penerapan GASS gizi kurang yang terdiri dari :

- Gizi seimbang
- Tumbuh kembang anak
- Menu seimbang
- Modifikasi makanan

E. Pendampingan Kelompok Pendukung GASS

Mahasiswa residen melaksanakan pendampingan pada anggota KP GASS dalam


melaksanakan tugas-tugasnya. Pendampingan ini dilaksanakan saat KP GASS
melaksanakan kegiatan :

- Memberikan penyuluhan kepada keluarga anak usia sekolah gizi kurang berobat
ke Puskesmas atau saat kunjungan rumah.
- Memberikan penyuluhan oleh Keluarga pada saat anak usia sekolah gizi kurang
datang atau berkunjung ke rumah.

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 6

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

KEPEMIMPINAN

A. Pengertian
1. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan
langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan
tertentu.
2. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas
untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang
diatur untuk mencapai tujuan bersama.

B. Tujuan
1. Mengupayakan kesejahteraan bagi orang banyak sehingga menjadi berguna bagi
semua orang. Bukan sebaliknya.
2. Menolong setiap anggota mengembangkan potensinya secara penuh sehingga
bisa lebih produktif dan efisien.
3. Menolong kelompok dalam pencapaian tujuan atau visi-misi pelayanan melalui
kerja tim yang efektif.

C. Peranan Pemimpin
1. Sebagai Pelaksana
2. Sebagai Perencana
3. Sebagai Seorang Ahli
4. Mewakili Kelompok
5. Merupakan bagian dari Kelopmpok
6. Merupakan Lambang Kelompok
7. Pemegang Tanggungjawab

D. Tugas Pemimpin

1. Bersikap Adil
2. Mendukung Tercapainya Tujuan
3. Menciptakan Rasa Aman
4. Sebagai Wakil Organisasi
5. Sumber Inspirasi
6. Bersikap Menghargai

E. Sifat Pemimpin

Sifat-sifat yang diperlukan seorang pemimpin agar dapat sukses dalam


kepemimpinannya, lima sifat pemimpin menurut Ghizeli dan Stogdil:
1. Kecerdasan
2. Kemampuan mengawasi
3. Inisiatif
4. Ketenangan diri
5. Kepribadian

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 7

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

KOMUNIKASI

A. Pengertian Komunikasi
1. Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna
yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi.
2. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau
informasi tentang pikiran atau perasaan.
3. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke
orang lain.

B. Tujuan
1. Mempelajari atau mengajarkan sesuatu
2. Mempengaruhi perilaku seseorang
3. Mengungkapkan perasaan
4. Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain
5. Berhubungan dengan orang lain
6. Menyelesaian sebuah masalah
7. Mencapai sebuah tujuan
8. Menurunkan ketegangan dan menyelesaian konflik
9. Menstimulasi minat pada diri sendiri atau orang lain

C. Proses Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses yang mempunyai komponen dasar sebagai berikut
:Pengirim pesan , penerima pesan dan pesan

Gangguan Balikan Gangguan

Pengirim Penerima

Pesan Pesan

Simbol/Isyarat Media Mengartikan


(Saluran) Kode/Pesan

Diagram 1 : Proses Komunikasi


( Saluran
SPESIALIS KEPERAWATAN )
KOMUNITAS FIK UI 2013 8

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

D. Jenis komunikasi terdiri dari:


1. Komunikasi verbal dengan kata-kata
2. Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh

E. Hambatan Komunikasi
1. Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas
bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi
emosional.
2. Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media
komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat
mendengarkan pesan.
3. Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima
/mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari
informasi lebih lanjut.
4. Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak
menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu
atau tidak jelas dan sebagainya.

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 9

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

DINAMIKA KELOMPOK

A. Pengertian Dinamika Kelompok


Dinamika kelompok adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu
yang memiliki hubungan psikologis secara jelas berpengaruh terhadap kehidupan
individu antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi sama yang
dialami.

Dinamika kelompok berasal dari kata dinamika dan kelompok. Dinamika berati
interaksi atau interdependensi antara kelompok satu dengan yang lain, sedangkan
Kelompok adalah kumpulan individu yang saling berinteraksi dan mempunyai tujuan
bersama.

B. Fungsi
1. Membentuk kerjasama saling menguntungkan dalam mengatasi masalah kesehatan.
2. Memudahkan pekerjaan.
Mengatasi pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dan mengurangi beban
pekerjaan yang terlalu besar sehingga selesai lebih cepat, efektif dan efisien. Salah
satunya dengan membagi pekerjaan besar sesuai bagian kelompoknya masing-masing
atau sesuai keahlian
3. Menciptakan iklim demokratis dalam kehidupan masyarakat dengan memungkinkan
setiap individu memberikan masukan, berinteraksi, dan memiliki peran yang sama
dalam masyarakat.

C. Ciri Kelompok Sosial


1. Memiliki motif yang sama antara individu satu dengan yang lain
2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain
3. Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas
dan terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing
4. Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur
interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 10

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

D. Keunggulan dan Kelemahan dalam Kelompok


1. Kelebihan Kelompok
- Keterbukaan antar anggota kelompok untuk memberi dan menerima informasi &
pendapat anggota yang lain
- Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya
dengan menekan kepentingan pribadi demi
- Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan telah disepakati
kelompok.
2. Kekurangan Kelompok Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu
penugasan, tempat atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat
mempengaruhi kualitas dan kuantitas pertemuan.

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 11

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

STATUS GIZI

A. Pengertian STATUS GIZI


Status gizi adalah suatu kondisi tubuh sebagai hasil akhir dari : keseimbangan antara
makanan (zat gizi) yang masuk ke dalam tubuh & kebutuhan tubuh akan zat gizi untuk
berbagai fungsi biologis: pertum-buhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan
kesehatandan lainnya)

B. Indikator Status Gizi:


Tanda-tanda yang dapat memberikan gambaran tentang keadaan keseimbangan antara
asupan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh
contoh: pertumbuhan fisik ukuran tubuh antropometri (berat badan, tinggi badan,
dan lingkar lengan atas (LLA), lingkar kepala)

Rumus indeks masa tubuh (status gizi):

R IMT = Berat Badan (BB) Kg


Tinggi Badan (TB) 2 meter

R = IMT  umur (tahun,bulan) status gizi

“ Lihat tabel antropometri dari Kemenkes RI 2010”

C. Macam-macam status gizi”


1. Status gizi normal : keadaan ttubuh yang mencerminkan kesimbangan antara
konsumsi dan penggunaan gizi oleh ttubuh
2. Malnutrisi : keadaan patologis akibat kekurangan atau kelebihan secara relatif
maupun absolut satu atau llebih zat gizi.

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 12

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

GIZI KURANG ANAK USIA SEKOLAH

A. Pengertian Gizi kurang


Gizi kurang adalah kurangnya asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh yang dapat
mempengaruhi berat badan, tinggi badan anak yang tidak sesuai usianya atau tidak
normal (stunting)
.
B. Penyebab gizi kurang
1. Perekonomian yang kurang
2. Pemberian makan anak
3. Penyakit infeksi dan kronis
4. Pemilihan, Pengolahan bahan makanan dan penyimpanan makanan yang salah
5. Komposisi makanan tidak seimbang
6. Ketersediaan air minum yang memadai
7. Kondisi lingkungan
8. Gizi ibu saat hamil
9. Pola asuh keluarga

C. Tanda dan gejala


1. Berat anak berada dibawah ideal
2. Badan kurus, tidak mau makan
3. Rambut tipis mudah dicabut
4. Lemah/pucat
5. Kulit kering dan kusam
6. Pusing
7. Kaki dan tangan bengkak
8. Otot mengecil atau lembek

D. Akibat
1. Gangguan dalam pertumbuhan
2. Daya tahan tubuh kurang
3. Mudah terkena penyakit
4. Kecerdasan berkurang
5. Perilaku tidak tenang, mudah tersinggung, cengang dan apatis

E. Penangangan anak gizi kurang


1. Makan-makanan padat energi yang
diperkaya dengan vitamin dan mineral
2. Makanan dengan bentuk cair, lumat, lembik
dan padat
3. Makanan siap saji : minyak, susu, tepung,
gula, kacang-kacangan dan sumber hewani

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 13

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

GIZI SEIMBANG
ANAK SEHAT, ANAK CERDAS, ANAK KREATIF

GIZI SEIMBANG
SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 14

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

A. Definisi
Gizi adalah Merupakan zat makanan pokok yang diperlukan bagi pertumbuhan dan
kesehatan badan

Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari–hari yang mengandung zat-zat gizi
dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan
prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat
badan ideal.

B. Prinsip Prinsip Gizi Seimbang


Digambarkan dalam bentuk yang sesuai dengan budaya Di Indonesia dalam bentuk
tumpeng yang disebut sebagai “Tumpeng Gizi Seimbang” (TGS).
4 prinsip Gizi Seimbang:
1. Aneka ragam makanan sesuai kebutuhan
2. Pola hidup bersih
3. Pola hidup aktif dan olah raga
4. memantau berat badan ideal

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 15

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

C. Penggolongan gizi seimbang


1. Zat tenaga/sumber energi
contoh; karbohidrat
2. Zat pembangun contoh;
protein, lemak,
3. Zat pengatur/pelindung
contoh; vitamin dan
mineral

D. 13 pesan gizi seimbang :


1. Makanlah aneka ragam makanan sumber zat tenaga, zat pembangun & zat
pengatur
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kebutuhan energi yaitu dari 3 sumber
utama (karbohidrat, protein dan lemak)
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat 1/2 dari keb.energi.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai ¼ dari kec.energi
5. Gunakan garam beriodium untuk cegah timbulnya gangguan akibat kekurangan
iodium (GAKI).
6. Makanlah makanan untuk mencegah anemia.
7. Berikan ASI saja kepada bayi sampai berumur 6 bulan
8. Biasakan makan pagi atau sarapan
9. Minumlah air bersih, aman dan cukup jumlahnya
10. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur
11. Hindari minum-minuman beralkohol
12. Makanlah-makanan yang aman bagi kesehatan
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas

E. Manfaat gizi seimbang


1. Anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik
2. Anak tidak mudah terserang penyakit
3. Membantu perkembangan otak dan tingkat kecerdasan yang optimal

F. Akibat dari gizi yang tidak seimbang


a. Marasmus:
1. Anak sangat kurus
2. Wajah seperti orangtua
3. Kulit keriput
4. Pantat kendur
5. Perut cekung

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 16

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

b. Kwashiorkor: wajah bulat dan sembab, rambut tipis, kedua punggung kaki
bengkak, bercak merah kehitaman ditungkai atau dipantat
c. Marasmus-kwashiorkor:
1. Sangat kurus
2. Rambut jagung
3. Mudah rontok
4. Punggung kaki bengkak
5. Cengeng
d. Anemia Gizi Besi (AGB): kekurangan zat besi dalam jumlah yang tidak
mencukupi kebutuhan sehari-hari.
e. Kekurangan vitamin A: konsumsi vitamin A tidak mencukupi kebutuhan.
f. Gangguan akibat kekurangan yodium: karena konsumsi yodium tidak mencukupi
kebutuhan

G. Cici-ciri anak bergizi baik


1. Bertambah umur, bertambah berat, bertambah tinggi
2. Postur tubuh tegap dan otot padat
3. Rambut berkilau dan kuat
4. Kulit dan kuku bersih, tidak ucat
5. Wajah ceria, mata bening, dan bibir segar
6. Gigi bersih dan guzi merah muda
7. Nafsu makan baik dan buang air besar secara teratur
8. Bergerak aktif dan berbicara lancar sesuai umur
9. Penuh perhatian dan beraksi aktif
10. Tidur nyenyak

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 17

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

FORMAT PENILAIAN SELF EVALUATION


PENERAPAN GASS GIZI KURANG DI KELUARGA

No. Aspek yang dinilai Bobot Skor Nilai


(%) (skor x bobot)
1 a. Persiapan pelaksanaan GASS gizi
kurang
 Keluarga menyiapkan semua
peralatan dan sarana untuk
pelaksanaan
30
b. Keterlibatan anggota keluarga
dalam pelaksanaan GASS gizi
kurang

2. c. Pelaksanaan yang dilakukan


terhadap 50
 Anak usia sekolah
 Keluarga
3. d. Evaluasi:
 Kemampuan keluarga melakukan 20
secara mandiri
TOTAL 100

Keterangan:
Skor pada rentang 1 – 4
Skor 1 : Kurang Skor 2 : Cukup Skor 3 : Baik Skor 4 : Sangat baik
Nilai = Skor x Bobot
4 Depok, ............................2013
Penilai

(...............................................)

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 18

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

FORMAT OBSERVASI PENERAPAN GASS GIZI KURANG DI KELUARGA

NO KOMPONEN BOBOT NILAI KOMENTAR


1 Persiapan kegiatan: lingkungan 10
2 Keterlibatan anggota keluarga dalam 10
pelaksanaan kegiatan
3 jenis atau menu makanan 30
4 modifikasi makanan 30
5 Proses evaluasi kegiatan 10
6 Perencanaan tindak lanjut 10
TOTAL

Depok,
Penilai

(…………………….)

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 19

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUMPULAN MATERI KEGIATAN KELOMPOK PENDUKUNG GASS ( KPG)

Daftar Pustaka

Almatsier, Sunita. Pinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama .2009
Depkes RI, 2011 Lintas Diare , Dirjen P2PL Departemen Kesehatan RI
Dirjen Bina Kesehatan. Buku Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Jakarta. 2002
Friedman, M., Bowden, V., Jones, E. (2003). Family Nursing Research, Theory &
Practice. New Jersey: Pearson Education
Keputusan Kementrian Kesehatan TI. 2010. Standar Antropometri penilaian Status Gizi anak
Mc Murray. 2003. Community Health And Wellness: A Socioecological Approach.
Australia: Harcourt, Mosby.
Riset Kesehatan Dasar. (2007). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan, Republik Indonesia
Stanhope, M., & Lancaster, J. (2004). Community And Public Health Nursing. 5th edition. St.
Louis: Mosby-Year Book, Inc
Soekirman. Buku Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama. 2010

SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS FIK UI 2013 20

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


SOAL PRE TEST
LAMPIRAN 3
Nama Peserta : ..........................RT ...........RW .........
No Soal Benar Salah
1. Gizi kurang adalah merupakan masalah anak-anak
2. penyebab terjadinya gizi kurang adalah anak yang tidak mau makan dan
komposisi makanan yang tidak seimbang
3. gejala yang dapat dijumpai pada anak gizi kurang badan kurus dan tidak mau
makan
4. akibat anak usia sekolah gizi kurang adalah gangguan dalam pertumbuhan
5. anak usia sekolah yang sering jajan tidak akan menyebabkan anak gizi kurang
6. suplemen penambah nafsu makan harus diberikan kepada anak gizi kurang
7. makan yang seimbang antara nasi, sayur, dan lauk-pauk dapat mencegah anak
gizi kurang
8. anak yang mengalami gizi kurang harus selalu di pantau timbang berat badan
dan ukur tinggi badan untuk mengetahui status gizi
9. untuk mengetahui status gizi dapat diukur dengan BB (Kg) dibagi TB (m)2 dan
melihat antropometri
10. gizi kurang dapat sembuh secara sendirinya
11. kader GASS (gizi anak sekolah seimbang) bila terdapat masalah gizi kurang,
maka perlu dibina dan diberi penyuluhan dan penangan pertama sebagai kader
kesehatan dan melapor ke Puskesmas
12. anak perlu diajarkan secara dini tentang gizi seimbang
13. sarapan pagi tidak perlu diberikan kepada anak sekolah
14. perlunya pemantauan TB dan BB anak setiap 3 bulan atau 6 bulan sekali
15. anak gizi kurang harus lebih ditingkatkan asupan nutrisi gizi seimbang dari pada
anak yang sehat

_________________________________________________________________________________________________

SOAL POST TEST

Nama Peserta : ..........................RT ...........RW .........


No Soal Benar Salah
1. Gizi kurang adalah merupakan masalah anak-anak
2. penyebab terjadinya gizi kurang adalah anak yang tidak mau makan dan
komposisi makanan yang tidak seimbang
3. gejala yang dapat dijumpai pada anak gizi kurang badan kurus dan tidak mau
makan
4. akibat anak usia sekolah gizi kurang adalah gangguan dalam pertumbuhan
5. anak usia sekolah yang sering jajan tidak akan menyebabkan anak gizi kurang
6. suplemen penambah nafsu makan harus diberikan kepada anak gizi kurang
7. makan yang seimbang antara nasi, sayur, dan lauk-pauk dapat mencegah anak
gizi kurang
8. anak yang mengalami gizi kurang harus selalu di pantau timbang berat badan
dan ukur tinggi badan untuk mengetahui status gizi
9. untuk mengetahui status gizi dapat diukur dengan BB (Kg) dibagi TB (m)2 dan
melihat antropometri
10. gizi kurang dapat sembuh secara sendirinya
11. kader GASS (gizi anak sekolah seimbang) bila terdapat masalah gizi kurang,
maka perlu dibina dan diberi penyuluhan dan penangan pertama sebagai kader
kesehatan dan melapor ke Puskesmas
12. anak perlu diajarkan secara dini tentang gizi seimbang
13. sarapan pagi tidak perlu diberikan kepada anak sekolah
14. perlunya pemantauan TB dan BB anak setiap 3 bulan atau 6 bulan sekali
15. anak gizi kurang harus lebih ditingkatkan asupan nutrisi gizi seimbang dari pada
anak yang sehat

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

PAKET PERLENGKAPAN

KP GASS (KELOMPOK PENDUKUNG GIZI ANAK SEIMBANG) DALAM


PELAKSANAAN KM-GASS (KARTU MENUJU GIZI ANAK SEKOLAH
SEIMBANG) UNTUK MENGATASI MASALAH GIZI TIDAK SEIMBANG
KELURAHAN CISALAK PASAR

NAMA KADER :

NO KP GASS :

PROGRAM SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA

2013

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

FORMAT PENILAIAN

KADER DALAM PELAKSANAAN KM-GASS (KARTU MENUJU GIZI ANAK


SEKOLAH SEIMBANG) DALAM PENERAPAN GIZI SEIMBANG KELUARGA
ANAK USIA SEKOLAH KELURAHAN CISALAK PASAR

NO KOMPONEN PENILAIAN BOBOT NILAI

FASE PRA INTERAKSI

1. - Persiapan alat : Kartu Menuju Gizi Anak Sekolah Seimbang (KM- 10


GASS), set pengukuran statu gizi, buku catatan KP GASS dan
stiker gizi seimbang, alat tulis

- Persiapan kader : Cek kembali keluarga yang akan dikunjungi

- Persiapan lingkungan : Persiapkan lingkungan yang mendukung


untuk pelaksanaan KM GASS lingkungan yang aman dan nyaman
untuk dilakukan kegiatan

FASE ORIENTASI

2 - Pemberian salam pada keluarga 20

- Perkenalan yang melakukan supervisi

- Kontrak waktu selama 30 menit

- Tujuan kegiatan untuk melakukan penerapan KM GASS yang


dilakukan keluarga

FASE KERJA

3 - Kegiatan observasi skrining status gizi AUS 50

- Kegiatan tanya jawab untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga

- Kegiatan observasi menu makanan saat kunjungan rumah

- Kegiatan penilaian yang dicapai keluarga untuk penerapan gizi


seimbang keluarga

- Kegiatan pemberian umpan balik pada keluarga terhadap penerapan


GASS keluarga dengan pemberian stiker gizi seimbang

- Kegiatan pemberian saran dan masukan terhadap keluarga untuk


penerapan GASS yang dilakukan keluarga

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

FASE TERMINASI

4 - Evaluasi keluarga terhadap kegiatan yang dilakukan oleh kader 20

- Rencana tindak lanjut yang akan dilakukan selanjutnya

- Berpamitan

- Dokumentasi

TOTAL NILAI 100

Catatan :....................................................................................................................................

....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................

Depok, September 2013

Penilai

( )

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

KARTU PENERAPAN KM GASS (KARTU MENUJU GIZI


ANAK SEKOLAH SEIMBANG)

Nama KK :
Nama AUS :
Umur AUS :
Anak Ke :
Alamat :
Masalah Kesehatan/penyakit :
___________________________________________________________________________

Petunjuk Pengisian KM GASS


1. Kartu ini digunakan untuk memantau kegiatan penerapan KM GASS yang dilakukan
keluarga di rumah
2. Kartu ini disimpan oleh keluarga untuk diisi oleh keluarga sendiri dalam cara
pemenuhan kebutuhan nutrisi dan enerapan gizi seimbang dalam keluaraga dan kader
kesehatan mudah memantau status gizi AUS
3. Tanda bintang cheklist ( √ ) pada komponen anak dan keluarga lakukan dalam
penerapan gizi seimbang
4. Penilaian setiap item yang dilakukan yaitu:
- Nilai 1 bila dilakukan
- Nilai 0 bila tidak dilakukan
- Total tiap komponen GASS 10
5. Penilaian keseluruhan komponen :
- Dikatakan baik jika 8 komponen GASS yang terlaksana
- Dikatakan cukup jika 7 komponen GASS yang terlaksana
- Dikatakan kurang bila 6 komponen GASS yang terlaksana
___________________________________________________________________

GIZI ANAK SEKOLAH SEIMBANG

Nilai Keterangan
No Komponen Dilakukan Tidak
dilakukan
A Kandungan gizi pada makanan
1 Zat Tenaga : Nasi, Kentang, Roti
2 Zat pembangun : Ikan, tahu/tempe, telur,ayam,
daging, kacang-kacangan
3 Zat pengatur : sayur-sayuran dan buah-buahan

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

B Cara pengolahan makanan :


4 Mencuci tangan dengan sabun sebelum masak
5 Kebersihan alat masak & penutup
6 Dicuci – masak
7 Penyajian makanan menarik
C Menu seimbang :
8 Jadwal/pola makan anggita keluarga
9 a. Sarapan pagi
10 b. Makan siang
11 c. Makan malam
12 d. Makanan selingan/cemilan
13 Keaneka ragaman jenis dan kandungan makanan
setiap hari berbeda
14 Warna, rasa,aroma,ukuran dalam penyajian
makanan
D Pola asuh keluarga
15 Membuat aturan makan untuk anak
16 Menyuapi anak makan
17 Anak mengambil makanan sendiri
18 Memaksa anak makan
19 Membebaskan anak untuk jajan makanan
20 Makan bersama
21 Memberikan makanan pengganti (mie instan
sehat) bila anak tidak mau makan nasi
22 Memberikan sanksi bila anak tidak makan
seharian
23 Modifikasi makanan untuk mencegah kebosanan
E PHBS rumah tangga
24 Ketersediaan air bersih/air minum
25 Cuci tangan pakai sabun
26 Penggunaan jamban sehat
27 Makan buah dan sayur tiap hari

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

28 Aktivitas fisik
29 Tidak merokok dalam rumah
F Pengukuran status gizi
30 Penimbangan BB
31 Pengukuran TB
G Cara keluarga mengatasi gizi tidak seimbang
32 Memberikan vitamin
33 Membuat cemilan/makanan selingan sehat
34 Membuat ramuan penambah nafsu makan
(pudding temulawak)
35 Membuat bekal kesekolah anak
36 mengajarkan cara membeli jajanan yang sehat
H Pemeriksaan kesehatan rutin
TOTAL

“Pemberian Gizi Seimbang Sangat Baik Untuk Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak”

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

ZAT PEMBANGUN ZAT PEMBANGUN

ZAT PENGATUR ZAT PENGATUR

ZAT ZAT
TENAGA TENAGA

GIZI SEIMBANG GIZI SEIMBANG

ZAT PEMBANGUN ZAT PEMBANGUN

ZAT PENGATUR ZAT PENGATUR

ZAT ZAT
TENAGA TENAGA

GIZI SEIMBANG GIZI SEIMBANG

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

FORMAT PENILAIAN KEGIATAN KM GASS

NAMA KADER :
TGL PELAKSANAAN :

TEMPAT :

NO ASPEK YANG DINILAI 2 3 4


1
A. Persiapan (10)

1. Kontrak dengan keluarga (membuat janji)


2. Menyiapkan lembar KM GASS
3. Menyiapkan lembar balik GASS
4. Menyiapkan leaflet
5. Membawa alat tulis
6. Membawa Set Status Gizi (Timbangan,
Meteran dan Antropometri)
7. Membawa buku kerja

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

2. Pelaksanaan (80)
1. Kader menanyakan keluhan /kondisi
keluargadengan anak usia sekolah dengan
berat badan tidak ideal
2. Kader melakukan skrining
3. Kader menjelaskan kegunaan kartu KM
GASS
4. Kader menjelaskan komponen dari KM
GASS dan cara pengisiannya
5. Kader menanyakan kepada keluarga adakah
yang ingin ditanyakan mengenai KM
GASS/masalah dalam memberikan nutrisi
dalam keluarga
6. Kader berdiskusi dengan keluarga untuk
mencari solusi
7. Kader memberi motivasi kepada keluarga
untuk meningkatkan pengetahuan, prilaku
dan sikap mengenai pemenutrisi bagi anak
usia sekolah mereka.
8. Kader memberi kesempatan keluarga untuk
bertanya
9. Kader menanyakan beberapa pertanyaan
mengenai gizi seimbang untuk anak usia
sekolah
10. Kader mencatat evaluasi hasil pelaksanaan
KM GASS
11. Kader memberikan reinforcement terhadap
pencapaian positif dari keluarga

3 Terminasi

1. Kader meminta keluarga untuk menjelaskan


kembali kegunaan KM GASS
2. Kader meminta keluarga menjelaskan kembali
atas jawaban dari pertanyaan yang keluarga
tanyakan
3. Kader mengingatkan keluarga untuk
membawa KM GASS pada saat penimbangan
anak usia sekolah
4. Kader membuat kontrak/janji untuk kunjungan
selanjutnya

Keterangan :

Skor pada rentang 0-4

1 = kurang tidak dilakukan sama sekali

2 = Cukup ada salah satu atau lebih bagian tidak dilakukan

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

3 = Baik dilakukan semua komponen tetapi tidak sesuai dengan pedoman

4 = sangat Baik dilakukan semua dan sesuai dengan pedoman

Depok, Oktober 2013

Penilai,

( )

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

CATATAN KUNJUNGAN KADER

NO HARI/ NAMA HASIL KUNJUNGAN TTD TTD


KELUARGA KELUARGA KADER
TANGGAL

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

REKAPITULASI TIAP KELUARGA


KARTU MENUJU GIZI ANAK SEKOLAH SEIMBANG (KM-GASS)
KELURAHAN CISALAK PASAR

NAMA KK :
NAMA AUS:
UMUR AUS :
ALAMAT :

KOMPONEN
KJ A B C D E F G H
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 1 1 1 1 1 1 1 1 2 21 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3
0 2 3 4 5 6 7 8 9 0 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7
BULAN OKTOBER
1
2
3
4
5
BULAN NOVEMBER
1
2
3

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

4
BULAN DESEMBER
1
2
3
4

Nama Kader:
RT/RW:

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

REKAPITULASI
KARTU MENUJU GIZI ANAK SEKOLAH SEIMBANG PADA KELUARGA
(KM-GASS)
KELURAHAN CISALAK PASAR

NAMA KADER :
NO KP-GASS :
ALAMAT :

Petunjuk Pengisian Setiap item yang dinilai yang sudah diberi warna akan diberi
penilaian yaitu :
- Baik jika tidak ada tanda merah disemua item (B)
- Cukup jika ada 1 tanda merah disemua item (C)
- Kurang jika lebih dari 2 tanda merah disemua item (K)

N NAMA KK FEBUARI MARET APRIL


O
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

10

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


LAMPIRAN 4

ALUR KEGIATAN PENERAPAN SAKA DIARE KELUARGA

KELURAHAN CISALAK PASAR 2013

- Dilakukan kunjungan rumah - Pendidikan kesehatan tentang balita diare

Balita - Melakukan observasi komponen Sanitasi dan - Demonstrasi cara mencuci tangan
Dilakukan
BAB cair Area
Intervensi
lebih - Demonstrasi kreasi pembuatan LGG dan
Keperawata
dari 3x - Melakukan wawancara untuk komponen oralit
n secara
sehari Keluarga dan Anak
individu atau
- Demonstrasi tentang senam balita
kelompok
Balita - Melakukan penilaian penerapan SAKA di
beresiko keluarga - Demonstrasi tentang terapi gurita
terkena
diare - Melakukan umpan balik terhadap hasil yang - Demonstrasi nutrisi balita diare dengan
dilakukan pembuatan bubur tempe

PERIODE WAKTU 13 MINGGU (3 BULAN)

Penilaian penerapan SAKA diare adalah 3. Penilaian untuk keseluruhan komponen SAKA

1. Penilaian untuk setiap item SAKA


- Dikatakan baik jika keempat komponen SAKA tidak ada
warna merah
- Nilai 1 jika item dilakukan
- Nilai 0 jika item tidak dilakukan - Dikatakan cukup jika keempat komponen SAKA ada 1 warna
merah
2. Penilaian untuk setiap komponen SAKA
- Dikatakan kurang jika keempat komponen SAKA ada > dari 1

- Total keselurahan item untuk setiap komponen nilai 10 warna merah


- Jika nilai < dari 4 artinya kurang dan diberi warna merah
- Jika nilai 4-6 artinya cukup dan diberi warna kuning
- Jika nilai > 7 artinya baik dan diberi warna hijau

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


Lampiran 5

PENAPISAN MASALAH ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

1. Pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An P

Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran

Sifat Masalah : 3/3 X 1 1 Masalah merupakan aktual, saat ini An.Bu BB:19 Kg,
aktual TB:123 Cm dengan IMT , -3 (status gizi sangat
kurus), An P makan sering 1x sehari, tidak nafsu
makan, badan kurus dan kurang konsentrasi saat
ditanya. Anak badan kurus seperti ini sudah lama
terjadi sejak usia balita. belum pernah konsul ke
dokter atau ahli gizi.

Kemungkinan 2/2 X 2 2 Keluarga Ibu A sangat ingin An P tumbuh seperti


masalah dapat teman-teman seusianya, TB dan BB ideal, namun Ibu
diubah : A bingung dengan cara apalagi agar An P mau makan
sebagian setiap apa yang dimasak Ibu A, Ibu A tidak pernah
membuat menu makanan yang disesuaikan dengan
gizi seimbang

Potensial 3/3 X 1 1 Adanya perhatian dari orang tua untuk membantu


masalah dapat permasalahan An. P dan kemauan dari An. P untuk
dicegah : Tinggi memperbaiki dan meningkatkan kemauan makan
tepat waktu dan banyak serta bergizi

Menonjolnya 1/2 X 1 ½ Ibu A mengatakan jika ada masalah tetapi tidak segera
masalah : Ada perlu ditangani karena masalah ini sudah lama dan
masalah tetapi menurut Ibu A An p seperti ini pemalas makan karena
tidak perlu Ibu A sewaktu kecil seperti An P dan Ibu A yakin jika
segera ditangani anak sekolah atau besar nanti An P secara sendirinya
akan tumbuh besar.

Total 4 1/2

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


No.
ANGKET PENGKAJIAN KOMUNITAS PADA ANAK USIA SEKOLAH DENGAN
MASALAH GIZI KURANG DI KELURAHAN CISALAK PASAR KECAMATAN
CIMANGGIS DEPOK
MAHASISWA RESIDEN 1 MAGISTER ILMU KEPERAWATAN PEMINATAN
KEPERAWATAN KOMUNITAS FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA

PETUNJUK PENGISIAN
1. Lingkarilah jawaban yang Bapak/Ibu pilih atau beri tanda checklist ( √ ) pada
kotak yang tersedia.
2. Isilah titik-titik yang tersedia pada pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan
jelas.
3. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti

I. DATA INTI
1. Nama KK : ………………………
2. Umur : ………………………
3. Jenis Kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan
4. Agama : 1. Islam 2. Kristen Protestan 3. Kristen Katolik
4. Hindu 5. Budha 6. Kepercayaan
lainnya
5. Suku bangsa :……………………….
6. Pendidikan : 1. Tidak Sekolah 2. SD 3. SMP 4. SMA 5. Akademi/
Sarjana
7. Pekerjaan : 1. Pedagang 2. Petani 3. Swasta 4. Buruh 5. TNI/ Polri
6. PNS 7. Lainnya,...
8. Alamat /telp. :
9. Penghasilan per bulan : 1. < Rp 2.042.000,00
2. ≥ Rp 2.042.000,00
10. Tipe Keluarga :
11. Anggota Rumah tangga:

Sex Tgl
No Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Hub dg KK
(L/P) Lahir

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


II. LINGKUNGAN FISIK
A. PERUMAHAN DAN KESEHATAN LINGKUNGAN KELUARGA
a. Kondisi tempat tinggal
1. Jenis rumah : ( ) Permanen ( ) semi permanen ( ) tidak
permanen
2. Lantai rumah : ( ) tanah ( ) papan ( ) tegel/semen
3. Kondisi jamban di rumah : ( ) kotor ( ) bersih
4. Sumber pencahayaan rumah pada siang hari:
( ) sinar matahari ( ) lampu listrik
( ) lampu petroma ( ) tidak
ada/gelap/remang-remang
5. Tempat penyimpanan alat rumah tangga (piring/gelas/sendok/kuali
dll) di Rak/lemari : ( ) terbuka ( ) tertutup
6. Bagaimana kebiasaan keluarga dalam membersihkan rumah:
( ) 1 (satu) kali sehari, ( ) 2 (dua) kali sehari atau lebih, ( ) Jika
kotor saja
b. Bagaimana ketersediaan sumber air bersih di keluarga
1. Penyediaan air bersih : ( ) PDAM, ( ) sumur pompa, ( ) sumur gali,
( ) mata air, ( ) sungai, ( ) beli
2. Penyediaan air minum : ( ) PDAM, ( ) sumur pompa, ( ) sumur
gali,
( ) mata air, ( ) sungai, ( ) beli
3. Pengelolaan air minum : ( ) dimasak, ( ) tidak dimasak/galon
4. Jarak sumber air dengan sistem pembuangan ( ) kurang 10 m, ( )
lebih 10 m
5. Keadaan air:( ) berasa, ( ) berbau, ( ) berwarna

c. Bagaimana ketersediaan kebutuhan pangan di keluarga


1. Pengolahan makanan sehari-hari keluarga: ( ) beli diwarung
( ) masak sendiri ( ) cepat saji/indomie/sardine/kornet
2. Penggunaan bahan tambahan dalam makanan: ( ) pemanis
( ) pewarna ( ) penyedap/vetsin
3. Bagaimana cara mengolah sayuran terlebih dahulu :
( ) dicuci dan dipotong ( ) dipotong dan dicuci

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


4. Pola makan keluarga : ( ) 2 x sehari, ( ) 3x sehari, ( ) 4x sehari
5. Apakah sarapan pagi sebelum beraktivitas : ( ) ya ( ) tidak,
kenapa……...
6. Adakah kegiatan perekonomian di daerah tempat tinggal anda :
( ) Pasar ( ) Warung ( ) Bank ( ) Mall ( ) koperasi

III. PELAYANAN KESEHATAN DAN SOSIAL


1. Jenis pelayanan kesehatan yang ada: ( ) Rumah sakit ( ) Puskesmas
( ) Balai pengobatan ( ) Posyandu ( ) Dokter praktek ( ) Perawat ( )
Bidan
2. Pemanfaatan sarana kesehatan ( ) ya ( ) tidak
3. Bila tidak, alasannya ( ) sulit dijangkau ( ) biaya ( ) lain-lain
sebutkan..................
4. Pembiayaan kesehatan: ( ) Mandiri ( ) Dana Sehat (Jankesda/Jampersal)
( ) Gratis ( ) Asuransi kesehatan
5. Rutinkah pelaksanaan pengukuran atau penimbangan untuk anak sekolah
: ( ) ada ( ) tidak ada, karena……..
6. Apakah ada penyakit yang diderita anggota keluarga :
( ) ada,penyakit…… ( ) tidak ada
7. Apakah pernah dilakukan pendidikan kesehatan oleh
Puskesmas/dokter/perawat/bidan/ahli gizi/fisioterapi di daerah ini:
( ) ada, pendidikan kesehatan tentang……………………. ( ) tidak
8. Apakah ada kader kesehatan di sekitar wilayah tempat tinggal anda :
( ) ada, bentuk kegiatan……….…….. ( ) tidak
9. Apa saja bangunan sekolah yang ada di daerah sekitar anda:
( ) Play group ( ) Taman Kanak-kanak ( ) SD/MI ( ) SMP
( ) SMA ( ) Diploma ( ) Universitas ( ) Pesantren
10. Apakah ada pendidikan di luar sekolah yang ada di masyarakat:
( ) ada ( ) tidak
Jika iya, sebutkan...................................

IV. STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA


1. Dimana kegiatan perekonomian di daerah tempat tinggal anda :
( ) Pasar ( ) Warung ( ) Bank ( ) Mall

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


2. Apakah penghasilan keluarga cukup untuk memenuhi kebutuhan anggota
keluarga sehari-hari : ( ) ya ( ) tidak
3. Jika tidak, apa yang dilakukan oleh keluarga
( ) Meminjam uang pada keluarga ( ) Menggadaikan barang
( ) Berhutang ( ) Lainnya………………
4. Bagaimana keluarga mengatur keuangan untuk makanan
( ) Seadanya dalam membeli makanan
( ) Dana dikeluarkan setiap hari berdasarkan keinginan makan apa
( ) Membeli makanan 1 x seminggu dengan dana 10% dari pendapatan
keluarga
5. Apakah ada perusahaan/home industri/pabrik di dekat rumah anda :
( ) ada,................. ( ) tidak ada
6. apakah ada anggota keluaga yang bekerja ditempat tersebut :
( ) ada ( ) tidak ada

V. TRANSPORTASI
1. Transportasi milik pribadi keluarga: ( ) sepeda, ( ) sepeda motor, ( ) mobil,
( ) truck
2. Transportasi umum yang tersedia : ( ) angkot ( ) Ojek ( ) Becak ( ) Bajaj
( ) Metromini ( )Taxi ( ) Bus ( ) Kereta api ( ) Pesawat ( ) Kapal
3. Kondisi jalan di sekitar daerah tempat tinggal : ( ) rusak, ( ) baik, ( )
sangat baik

VI. KOMUNIKASI
1. Adakah sarana komunikasi keluarga : ( ) ada (HP/Telp) ( ) tidak ada
2. Sumber informasi yang didapatkan di keluarga: ( ) media cetak ( ) radio
( ) televisi ( ) internet ( ) teman ( ) lainnya: ............................
3. Cara keluarga mengatasi masalah :
( ) Musyawarah dengan anggota keluarga ( ) Didiamkan saja

VII. Penyakit yang diderita keluarga (anak balita/anak


sekolah/remaja/dewasa/lansia Dalam 3 Bulan Terakhir .................
No. Jenis penyakit Tidak pernah 1-3 kali > 3 kali
1. Diare
2. ISPA /Flu dan batuk
3. Dermatitis/penyakit kulit

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


4. Gastritis
5. Thipoid/Panas/demam
6. Cacingan
7 DBD/Malaria
8 Anemia
9 TB.paru-paru/ DM (penyakit gula)
10 Hipertensi / Stroke
Jika ada penyakit tersebut diatas, apa usaha orangtua?

( ) Bila demam dikompres dengan air dingin/hangat ( ) Diobati dengan obat


warung

( ) Bila luka, diobati sendiri dengan perban&obat luka ( ) Pergi ke pelayanan


kesehatan

( ) dsb : ........................................................

JIKA MEMILIKI ANAK USIA SEKOLAH (AUS)

I. Data Umum
1. Nama anak : ................................................. L / P
2. Tanggal lahir :
3. TB: … … cm, BB: …….. kg, lingkar lengan …….. cm, IMT ………..
4. TD: …… mmHg, N: …. x/mnt, S: …. 0C, RR: …. x/mnt
5. Masalah Kesehatan/ riwayat sakit dalam 3 bulan terakhir :
…………………………..
6. Adakah ada penyakit turunan/penyakit dari sejak lahir/penyakit dalam 6 atau 3
bulan terakhir?
Ada, ............................... tidak ada
7. Kebiasaan yang sering Aus lakukan ...
Olah raga
Jajan
Les/ekskul
Mengaji
Bermain, PS/gundu dll
Membawa minuman/makanan kesekolah/kemana saja
Istirahat/Tidur siang
8. Apakah anak suka makan-makanan/minum-minuman
Makan nasi
Makan sayur
Makan ikan/ayam/daging
Makan tahu/tempe
Makan buah

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


Minum air putih/susu/teh
Minum pop ice/teh sisri/minuman kemasan/.......................
Snack/chiki/roti/kue biskuit/..............
Makan mie instan/bakso/KFC/siomay/sosis/..................
9. Perawatan gizi Aus yang dilakukan
Minum penambah nafsu makan/vitamin
Makan-makanan bergizi seimbang/minum air putih banyak/minum susu
Berobat kedokter
10. Bagaimana pola makan anak dalam sehari adalah:
Sarapan pagi
Makan siang
Makan sore
Makan malam
Mengemil 3 jam sekali
Istirahat ...... jam

II. Data pengetahuan, sikap dan perilaku

Petunjuk pengisian:
1. Berilah tanda () pada kolom yang tersedia sesuai dengan jawaban Anda
untuk pernyataan bagian A
2. Berilah tanda () pada kolom yang tersedia untuk pernyataan bagian B, jika
jawaban Anda:
Sangat Setuju (SS) : Jika Anda mendukung pernyataan tersebut
Setuju (S) : Jika Anda menerima pernyataan tersebut
Tidak Setuju (TS) : Jika Anda setengah menerima pernyataan tersebut
Sangat Tidak Setuju (STS) : Jika Anda tidak menerima pernyataan tersebut
3. Berilah tanda () pada kolom yang tersedia untuk pernyataan bagian C, jika
jawaban Anda:
Selalu (SL : Jika kegiatan dilakukan setiap hari
Sering (SR) : Jika kegiatan dilakukan minimal 3 hr dalam seminggu
Kadang-kadang (KK) : Jika kegiatan dilakukan dalam 1 minggu sekali
Tidak pernah (TP) : Jika kegiatan tidak dilakukan setiap hari

1. Data pengetahuan
No. Pernyataan Benar Salah
1. Gizi seimbang adalah makanan yang dimakan anak usia sekolah
dalam sehari mengandung zat gizi sebagai tenaga, pengatur,
pembangun yang cukup untuk tubuhnya
2. 2Anak sekolah yang kurang makan bisa menyebabkan gizi kurang
3. 3 kurang pada anak usia sekolah ditandai dengan anak badan
Gizi
. kurus, rambut tipis, dan kulit kering
4. Anak gizi kurang disebabkan oleh makan sekali sehari
5. Anak sekolah yang sehat adalah anak mau makan apa saja dan
jajan apa yang disukainya

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


6. Kebutuhan gizi anak sekolah sama saja dengan kebutuhan makan
orang dewasa
7. Makanan yang bergizi untuk anak sekolah adalah ada nasi, dan
sayuran
8. Akibat gizi kurang anak sekolah adalah anak sering sakit dan
tidak prestasi
9. Makanan yang mengandung zat tenaga berasal dari lauk pauk
(ikan, ayam atau daging)
10 Makanan yang bergizi terdapat pada lauk pauk, buah dan
sayuran

2. Data Sikap
No. Pernyataan Sangat Setuju Kurang Sangat
setuju setuju tidak
setuju
1. Anak sekolah gizi kurang harus ditangani
segera
2. Anak sekolah perlu makan teratur 3x sehari
3. Anak perlu memiliki berat badan
seimbang/normal
4. Anak usia sekolah dengan gizi kurang prestasi
disekolah akan jelek
5. Sarapan pagi tidak penting untuk anak usia
sekolah
6. Anak boleh jajan apa saja yang penting anak
sehat
7. Makanan instan (misalnya; mie instan, sosis,
nugget, chiki) merupakan makanan yang sehat
dan disukai anak
8. Anak sekolah sebaiknya makan makanan yang
mengandung zat tenaga, zat pembangun dan zat
pengatur agar sehat
9. Anak perlu diberi uang jajan disekolah agar
bisa makan yang disukai
10 Anak sekolah yang aktif adalah anak yang
selalu makan makanan yang disiapkan orangtua
(ibu) di rumah

3. Data Perilaku
No. Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak
kadang pernah
1. Anak saya sarapan pagi
2. Anak saya makan nasi/makanan pokok pengganti
(bubur/mie) 2-4 piring sehari
3. Anak saya makan sayuran 1-2 mangkok sedang
4. Anak saya sering makan buah 2-3 potong
5. Anak saya makan daging/ayam/ikan/telur 2-4
potng/butir

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


No. Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak
kadang pernah
6. Saya menyediakan tahu/tempe/oncom sebagai
cemilan keluarga
7. Saya memberikan minim susu/keju 1-2 gelas
sehari untuk anak saya
8. Saya memasak sayur hingga matang benar (lunak)
9. Saya mewajibkan anak saya makan tepat waktu
dan istirahat siang
10 Saya memasak makanan untuk anak sekolah saya
sehari ada nasi, lauk-pauk, sayur, dan
menyediakan buah

Terimakasih atas kesediaan ibu dan keluarga untuk mengisi lembar pertanyaan
ini.

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


KUESIONER

PENGKAJIAN KOMUNITAS PADA AGREGAT ANAK USIA


SEKOLAH DENGAN RESIKO GIZI KURANG

A. INTI KOMUNTAS
1. Sejarah
a. Sejak kapan terbentuknya Kelurahan cisalak pasar?
b. Bagaimana sejarah terbentuknya kelurahan cisalak pasar?
c. Siapakah yang paling lama tinggal di kelurahan cisalak pasar?
d. Adakah visi misi kelurahan cisalak pasar?
e. Adakah tujuan khusus dalam mengatasi masalah pada masyarakat?

2. Demografi
a. Berapa luas wilayah Kelurahan Cisalak Pasar?
b. Bagaimana batas wilayah Kelurahan Cisalak Pasar?
c. Bagaimana kondisi geografis dari Kelurahan Cisalak Pasar?
d. Berapa jumlah penduduk di kelurahan cisalak pasar?
e. Berapa jumlah penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin di kelurahan
cisalak pasar?
f. Berapa jumlah RW di kelurahan cisalak pasar?
g. Berapa jumlah RT dalam 1 RW di kelurahan cisalak pasar?
h. Berapa jumlah penduduk setiap RW dan RT di kelurahan cisalak pasar?
i. Berapa jumlah KK di setiap RT di kelurahan cisalak pasar?
Jenis kelamin
No. Kelompok Umur
Laki-laki Perempuan

1 Neonatus

2 Bayi

3 Pra sekolah

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


4 Sekolah

5 Remaja

6 Dewasa

7 Anak usia sekolah

j. Apa jenis pekerjaan penduduk di kelurahan cisalak pasar?

PNS Polri/ TNI Pegawai Lain-lain


Swasta

Petani Buruh Wiraswasta

k. Apa tingkat pendidikan penduduk di kelurahan cisalak pasar?

Belum sekolah Tidak sekolah/tidak tamat SD SD

SMP SMA Perguruan tinggi


(S1/D3)

l. Apa status perkawinan penduduk di kelurahan cisalak pasar?

Belum menikah Menikah

Cerai

m. Apa tipe keluarga penduduk di kelurahan cisalak pasar?

Keluarga inti Keluarga besar

Keluarga orang tua tunggal Lain-lain……

n. Bagaimana komposisi penduduk berdasarkan ras dan etnis di kelurahan


cisalak pasar?

Betawi Jawa Sunda

Melayu Minang Lain-lain…..

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


3. Statistik Vital
a. Berapa jumlah kelahiran penduduk dalam satu tahun terakhir?
b. Berapa jumlah kelahiran penduduk berdasarkan jenis kelamin bayi yang
dilahirkan dalam satu tahun terakhir?
c. Berapa usia ibu yang melahirkan dalam satu tahun terakhir di kelurahan
cisalak pasar?
d. Berapa jumlah kematian penduduk di kelurahan cisalak pasar dalam satu
tahun terakhir?
e. Berapa jumlah kematian penduduk di kelurahan cisalak pasar dalam satu
tahun terakhir berdasarkan jenis kelamin dan usia?
f. Berapa jumlah kematian penduduk di kelurahan cisalak pasar dalam satu
tahun terakhir berdasarkan faktor penyebab kematian?
g. Berapa jumlah penduduk yang mengalami sakit di kelurahan cisalak pasar
dalam satu tahun terakhir?
h. Berapa jumlah penduduk yang mengalami sakit di kelurahan cisalak pasar
dalam satu tahun terakhir berdasarkan jenis kelamin dan usia?
i. Apa saja 10 penyakit terbanyak di kelurahan cisalak pasar?
j. Berapa jumlah penduduk yang menderita penyakit gizi kurang di kelurahan
cisalak pasar?(anak Usia Sekolah 6-12 tahun)
k. Berapa jumlah penduduk (AUS) yang meninggal karena masalah gizi kurang
atau komplikasinya di kelurahan cisalak pasar?

4. Nilai, Keyakinan, Agama


a. Bagaimana nilai-nilai dalam masyarakat kelurahan cisalak pasar
mempengaruhi perilaku masyarakat dalam pencegahan dan perawatan
masalah gizi kurang pada AUS?
b. Bagaimana persepsi masyarakat kelurahan cisalak pasar tentang masalah gizi
kurang pada AUS?
c. Apa yang dilakukan masyarakat (AUS gizi kurang) dalam mengobati dan
merawat masalah kesehatan?
d. Bagaimana persepsi masyarakat kelurahan cisalak pasar tentang resiko gizi
kurang dalam keluarga Aus?
e. Apa saja agama yang dianut oleh masyarakat di kelurahan cisalak pasar?
f. Apa saja kegiatan keagamaan yang ada di kelurahan cisalak pasar?
g. Siapa saja tokoh agama yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat
kelurahan cisalak pasar?

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


B. SUBSISTEM
1. Lingkungan Fisik
a. Berapa luas wilayah kelurahan cisalak pasar?
b. Bagaimana perbatasan wilayah kelurahan cisalak pasar?
1) Sebelah barat : ………….
2) Sebelah timur : ………….
3) Sebelah utara : ………….
4) Sebelah selatan : ………….
c. Gambarkan peta wilayah kelurahan cisalak pasar?
d. Bagaimana tipe dan karakterisitik bangunan rumah?
1) Permanen : …………
2) Semi permanen : …………
3) Tidak permanen : …………
e. Berapa rata-rata luas bangunan rumah masyarakat cisalak pasar?
f. Bagaimana batas bangunan rumah antar masyarakat di kelurahan cisalak
pasar?
g. Lingkungan terbuka apa saja yang terdapat di kelurahan cisalak pasar?
h. Bagaimana karakteristik lingkungan terbuka terrsebut?
i. Bagaimana pemanfaat lingkungan terbuka tersebut oleh masyarakat di
kelurahan cisalak pasar?
j. Jenis tumbuhan apa yang banyak terdapat di kelurahan cisalak pasar?
k. Bagaimana pemanfaatan tumbuhan tersebut oleh masyarakat kelurahan cisalak
pasar?
l. Jenis hewan apa saja yang terdapat di kelurahan cisalak pasar?
m. Bagaimana pemeliharaan dan pemanfaatan hewan tersebut oleh masyarakat
kelurahan cisalak pasar?
n. Dimanakah lokasi kandang hewan ternak?
o. Bagaimana pemeliharaan kandang hewan ternak?
p. Bagaimana iklim di wilayah kelurahan cisalak pasar?
q. Apakah terdapat sungai/ kali di wilayah kelurahan cisalak pasar?
r. Jika ada, bagaimana kondisi sungai/ kali tersebut?
s. Bagaimana pemanfaatan sungai/ kali tersebut oleh masyarakat di kelurahan
cisalak pasar?
t. Bagaimana kondisi jalan yang terdapat di kelurahan cisalak pasar?
u. Terbuat dari apa jalan yang terdapat di kelurahan cisalak pasar?

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


v. Bagaimana pemanfaatan jalan oleh masyarakat di kelurahan cisalak pasar?
2. Pelayanan Kesehatan dan Sosial
a. Adakah fasilitas pelayanan kesehatan di dalam ataupun di luar wilayah
kelurahan cisalak pasar:
1) Rumah sakit
2) Puskesmas
3) Klinik swasta
4) Praktik dokter
5) Praktik bidan/ perawat swasta?
b. Jenis pelayanan kesehatan apa saja yang terdapat di tempat pelayanan
kesehatan tersebut?
c. Kapan jam pelayanan yang diberikan oleh fasilitas pelayanan kesehatan
tersebut?
d. Apakah fasilitas pelayanan kesehatan tersebut mudah dijangkau oleh
masyarakat di kelurahan cisalak pasar (baik dari segi transportasi ataupun
pembiayaannya)?
e. Bagaimana pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut oleh
masyarakat kelurahan cisalak pasar?
f. Adakah pelayanan khusus untuk pengobatan dan perawatan gizi kurang di
kelurahan cisalak pasar?
g. Adakah fasilitas pelayanan sosial di dalam ataupun di luar wilayah kelurahan
cisalak pasar, seperti rumah sakit, puskesmas, klinik swasta, praktik dokter,
ataupun praktik bidan/ perawat swasta?
h. Jenis pelayanan sosial apa saja yang terdapat di tempat pelayanan kesehatan
tersebut?
i. Kapan jam pelayanan yang diberikan oleh fasilitas pelayanan sosial tersebut?
j. Apakah fasilitas pelayanan sosial tersebut mudah dijangkau oleh masyarakat
di kelurahan cisalak pasar?
k. Bagaimana pemanfaatan fasilitas pelayanan sosial tersebut oleh masyarakat
kelurahan cisalak pasar?
l. Kegiatan kemasyarakatan apa saja yang terdapat di kelurahan cisalak pasar?
m. Kapan dan frekuensi kegiatan kemasyarakatan tersebut diadakan?
n. Bagaimana keterlibatan masyarakat cisalak pasar dalam kegiatan
kemasyarakatan tersebut?
o. Adakah hambatan dalam melaksanakan kegiatan kemasyarakatan tersebut?
3. Ekonomi
a. Berapa rata-rata penghasilan perbulan masyarakat kelurahan cisalak pasar?

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


b. Berapa rata-rata pengeluaran perbulan masyarakat kelurahan cisalak pasar?
c. Adakah sumber penghasilan tambahan masyarakat di kelurahan cisalak pasar?
d. Apakah status pekerjaan masyarakat di kelurahan cisalak pasat?
e. Apakah terdapat tempat industri di wilayah kelurahan cisalak pasar?
f. Apakah terdapat home industry di wilayah kelurahan cisalak pasar?
g. Apakah masyarakat di kelurahan cisalak pasar mempunyai kebiasaan
menabung?
h. Apakah masyarakat mempunyai anggaran untuk kesehatan setiap bulannya?
i. Apakah masyarakat mempunyai asuransi kesehatan (misalnya: pribadi, askes,
jamsostek, jamkesmas, dll)?
4. Keamanan dan Transportasi
a. Bahaya Kebakaran
1) Apakah wilayah kelurahan cisalak pasar rawan terhadap bahaya
kebakaran?
2) Jika ya,berapa frekuensi terjadinya kebakaran di wilayah kelurahan
cisalak pasar?
3) Apakah penyebab kebakaran yang paling sering terjadi?
4) Apakah terdapat fasilitas pemadam kebakaran di wilayah kelurahan
cisalak pasar?
5) Jika tidak, apakah fasilitas pelayanan kebakaran mudah dihubungi oleh
masyarakat kelurahan cisalak pasar?
6) Apakah petugas pemadam kebakaran mudah untuk mengakses lokasi
kebakaran jika terjadi di wilayah kelurahan cisalak pasar?

b. Polisi
1) Apakah terdapat kantor polisi di wilayah kelurahan cisalak pasar?
2) Jika tidak, dimanakah kantor polisi terdekat?
3) Apa saja pelayanan yang diberikan oleh kantor polisi untuk masyarakat?
4) Jenis kriminalitas apa yang pernah/ sering terjadi di kelurahan cisalak
pasar?
5) Tindakan kewaspadaan apa yang dilakukan masyarakat cisalak pasar
untuk menghindari masalah kriminalitas di lingkungannya?

c. Sanitasi

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


1) Berasal dari manakah sumber air yang digunakan masyarakat kelurahan
cisalak pasar untuk kebutuhan hidup sehari-hari, seperti masak, minum,
mandi, mencuci, dan lain-lain?
2) Bagaimanakah kualitas air yang digunakan oleh masyarakat kelurahan
cisalak pasar?
3) Bagaimana cara pemanfaatan air oleh masyarakat cisalak pasar untuk
kebutuhan sehari-hari?
4) Apakah masyarakat cisalak pasar pernah/ sedang/ sering mengalami
kesulitan memperoleh air bersih?
5) Apakah penyakit yang sering diderita masyarakat cisalak pasar terkait
dengan penggunaan air yang tidak bersih/ sehat?
d. Sampah dan Limbah
1) Bagaimana pengolaan sampah dan limbah rumah tangga di kelurahan
cisalak pasar?
2) Apakah terdapat limbah pabrik yang dapat membahaya masyarakat
cisalak pasar?
3) Apakah setiap warga mempunyai MCK pribadi di rumahnya?
4) Apakah setiap rumah mempunyai septik tank?
5) Apakah penyakit yang sering diderita masyarakat cisalak pasar terkait
pengelolaan sampah dan limbah yang tidak baik?
e. Kualitas Udara
1) Apakah terdapat polusi udara di wilayah kelurahan cisalak pasar?
2) Jika ya, berasal dari manakah polusi udara tersebut?
3) Bagaimana masyarakat menghadapi/ mengatasi polusi udara tersebut?
4) Apakah penyakit yang sering diderita masyarakat cisalak pasar terkait
dengan polusi udara?
f. Transportasi
1) Apa saja jenis transportasi pribadi yang sering digunakan oleh
masyarakat di kelurahan cisalak pasar?
2) Apa saja jenis transportasi umum yang sering digunakan oleh masyarakat
di kelurahan cisalak pasar?
3) Bagaimana kondisi jalanan di wilayah kelurahan cisalak pasar?
4) Apakah terdapat trotoar untuk pejalan kaki di sepanjang jalanan di
wilayah kelurahan cisalak pasar?
5) Bagaimana akses ke dalam dan keluar wilayah kelurahan cisalak pasar?
6) Apakah terdapat resiko kecelakaan atau bahaya lalu lintas di wilayah
kelurahan cisalak pasar?

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


7) Tindakan kewaspadaan apa yang dilakukan masyarakat untuk
menghindari bahaya lalu lintas tersebut?
8) Jumlah kecealakaan/ bahaya lalu lintas yang terjadi dalam satu tahun
terakhir?
5. Politik dan Pemerintahan
a. Apakah terdapat program-program kesehatan (khususnya masalah gizi kurang
pada anak sekolah) untuk masyarakat cisalak pasar, baik pada tingkat
kelurahan, RW, ataupun RT?
b. Jika ada, apa saja bentuk kegiatannya?
c. Kapan saja waktu pelaksanaannya?
d. Darimanakah sumber pembiayaannya?
e. Siapakah yang mengelolanya?
f. Bagaimana antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut?
g. Adakah program-program dari luar yang masuk dalam wilayah kelurahan
cisalak pasar, khususnya program dari Dinas Kesehatan, misalnya skrining
gizi kurang pada anak sekolah, pemberian makanan tambahan pada anak
sekolah gratis, penyuluhan kesehatan tentang gizi kurang?

6. Komunikasi
a. Apakah terdapat saluran komunikasi dan informasi (formal dan informal) di
masyarakat kelurahan cisalak pasar? Jika ada, sebutkan.
b. Apa saja sarana komunikasi dan informasi yang dipunyai masyarakat di
wilayah kelurahan cisalak pasar?
c. Bagaiamana terjadinya proses komunikasi formal dan informal di masyarakat
kelurahan cisalak pasar?
d. Bagaimana pemanfaatan sarana komunikasi dan informasi tersebut?
e. Apakah terdapat masalah/ hambatan komunikasi dan informasi di masyarakat
kelurahan cisalak pasar? Jika ada, jelaskan.
f. Bagaimana masyarakat kelurahan cisalak pasar menanggapi dan mengatasi
masalah/ hambatan tersebut?
7. Pendidikan
a. Bagaimana tingkat pendidikan masyarakat di kelurahan cisalak pasar
berdasarkan usia dan jenis kelamin?
b. Apa saja sekolah yang terdapat di kelurahan cisalak pasar?
c. Apakah tipe sekolah yang terdapat di kelurahan cisalak pasar?

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


d. Apakah terdapat sekolah yang berada di sekitar luar wilayah kelurahan cisalak
pasar?
e. Apakah tipe sekolah yang berada di sekitar luar wilayah kelurahan cisalak
pasar?
f. Apakah terdapat pendidikan nonformal/ informal yang terdapat di kelurahan
cisalak pasar atau di sekitar luar wilayah cisalak pasar?
g. Apakah lokasi sekolah/ pendidikan nonformal/ informal mudah dijangkau oleh
masyarakat di kelurahan cisalak pasar?
h. Berapakah biaya pendidikan di wilayah atau luar wilayah kelurahan cisalak
pasar?
i. Apakah biaya pendidikan tersebut terjangkau oleh masyarakat di kelurahan
cisalak pasar?
j. Apakah terdapat beasiswa untuk masyarakat yang berprestasi atau tidak
mampu dalam mendapatkan pendidikan di wilayah atau luar wilayah
kelurahan cisalak pasar?
k. Apakah di sekolah terdapat materi tentang kesehatan khususnya gizi kurang?
l. Apakah sekolah pernah atau mempunyai jadwal khusus untuk penyuluhan
kesehatan khususnya tentang gizi kurang?
8. Rekreasi
a. Apa saja jenis rekreasi yang ada di kelurahan cisalak pasar, khususnya untuk
kelompok anak usia sekolah?
b. Apa sarana rekreasi yang tersedia di kelurahan cisalak pasar khususnya untuk
kelompok anak usia sekolah?
c. Kapan saja sarana rekreasi tersebut bisa digunakan oleh masyarakat?
d. Dimana saja terdapat fasilitas rekreasi di kelurahan cisalak pasar khususnya
untuk kelompok anak usia sekolah?
e. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk masing-masing sarana rekreasi yang ada
di kelurahan cisalak pasar khususnya untuk kelompok usia anak usia sekolah?
f. Kapan dan berapa kali masyarakat di di kelurahan cisalak pasar khususnya
untuk kelompok usia dewasa melakukan rekreasi?
g. Bagaimana persepsi masyarakat di kelurahan cisalak pasar khususnya untuk
kelompok usiadewasa terhadap sarana rekreasi yang ada?
h. Apakah ada hambatan bagi masyarakat di kelurahan cisalak pasar khususnya
untuk kelompok anak usia sekolah untuk menggunakan sarana rekreasi yang
ada? Jelaskan.

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


C. MASALAH KESEHATAN RISIKO GIZI KURANG ANAK SEKOLAH
1. Berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) saat ini:
BB ................... Kg
TB ................... cm
IMT ...........
LILA ...................... cm
2. Adakah penyakit turunan anak sejak lahir?
...............................
3. Adakah penyakit kronis?
.................
4. Apakah dalam 6 atau 3 bulan terakhir anak sakit?, apa penyakitnya?
.................
5. Kebiasaan yang sering Aus lakukan ...
Olah raga
Jajan
Makanan fast food
Makana sayur
Makan ikan
Makan buah
6. Perawatan gizi kurang Aus yang dilakukan
Minum penambah nafsu makan/vitamin
Minum susu
Berobat kedokter
Makan makanan yang bergizi tinggi dan seimbang
7. Menurut keluarga masalah gizi kurang Aus adalah:
Masalah yang sering terjadi pada anak sekolah
Masalah gizi kurang biasanya karena anak tidak mau makan/tidak nafsu
makan
Masalah gizi kurang bisa karena anak penyakitan/tidak mau makan sayur/lauk
pauk
8. Menurut keluarga/anak gizi kurang disebabkan oleh ...
Tidak mau makan
Makan makanan yang tidak bergizi/tidak cukup gizi
9. Menurut keluarga/Aus tanda dan gejala gizi kurang adalah:
Anak pemalas dan daya tangkap belajar kurang
Sering sakit
Indeks prestasi belajar dibawah rata-rata
10. Menurut keluarga/Aus komplikasi yang dapat terjadi pada gizi kurang yang tidak
dirawat dengan baik adalah ...
Gizi buruk
Kebodohan

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


11. Menurut keluarga/Aus perawatan yang perlu dilakukan pada anak yang mengalami
gizi kurang adalah ...
Makan makanan bergizi seimbang
Olah raga/ gerak badan teratur
Pembuatan menu bergizi seimbang
12. Bagaimana pola makan anak dalam sehari adalah:
Sarapan pagi
Makan siang
Makan sore
Makan malam
Mengemil 3 jam sekali
Istirahat ...... jam
13. Aktivitas yang Aus lakukan sehari ....
Sekolah saja
Les
Mengaji
Ekstrakurikuler
Bermain
14. Menurut keluarga/Aus yang penting dan harus dilakukan untuk mengatasi atau
mencegah gizi kurang
Setelah makan-tidur
Banyak istirahat
Membuat jadwal aktivitas
Makana teratur dan bergizi seimbang

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


Lampiran 7

PENAPISAN MASALAH ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

No Diagnosa Keperawatan Pembobotan Jml


A B C D E F G H I J K
1 Risiko peningkatan angka 3 3 5 4 3 5 3 3 3 3 3 38
kejadian gizi kurang pada anak
usia sekolah di Kelurahan
Cisalak Pasar, Cimanggis,
Depok
2 Ketidakefektifan pemeliharaan 3 4 5 4 3 3 4 3 3 4 3 37
kesehatan pada anak usia
sekolah gizi kurang di Cisalak
Pasar, Cimanggis, Depok

Keterangan Pembobotan

1= Sangat rendah A: Risiko terjadi G: Tempat


2= Rendah B : Risiko parah H: Waktu
3= Cukup C: Potensial penkes I : Dana
4= Tinggi D : Minat masyarakat J: Fasilitas Kesehatan
5= Sangat tinggi E : Kemungkinan diatasi K: Sumber Day
F: Sesuai Program Pemerintah

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014


Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014
Lampiran 9

Nama : Herlina
Tempat, tanggal lahir : Dumai, 15 Juli 1982
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Dosen PSIK Universitas Riau
Status : Menikah
Anak : 1 orang
Alamat rumah : Jl. HR. Subrantas Gg. Damai No.10C Panam Pekanbaru
28294
Alamat institusi : Jl. Patimura No. 9 Pekanbaru
Hand Hopne : 085376040646
Alamat email : her_lina82@ymail.com

Riwayat pendidikan :
1. SD Negeri 006 Pekanbaru (1989-1995)
2. SMP Negeri 09 Pekanbaru (1995-1998)
3. SMU Negeri 02 Pekanbaru (1998-2001)
4. Akademi Keperawatan Payung Negeri Pekanbaru (2001-2004)
5. Program Profesi Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (2004-2007)
6. Magister Ilmu Keperawatan FIK-UI (2010-2012)

Riwayat pekerjaan :
1. Dosen PSIK Stikes Hangtuah Pekanbaru (2008)
2. Dosen PSIK Universitas Riau (2008-Sekarang)

Gizi anak …., Herlina, FIK UI, 2014