Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP,

LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN

2.1. Tinjauan pustaka

2.2.1 Akupresur

2.2.1.1 Pengertian

Akupresur merupakan suatu metode tusuk jari yang didasarkan pada

pengetahuan bahwa semua organ tubuh manusia dihubungkan satu sama lain oleh

suatu saluran (meridian) yang menjelajahi seluruh permukaan tubuh untuk

menghantarkan energi ke seluruh tubuh (Sunetra, 2004). Akupresur adalah salah

satu bentuk pelayanan kesehatan tradisional jenis keterampilan dengan cara

merangsang titik tertentu melalui penekanan pada permukaan tubuh dengan

menggunakan jari maupun benda tumpul untuk tujuan kebugaran atau membantu

mengatasi masalah kesehatan (Kemenkes, 2011). Menurut Wong, (2011),

menjelaskan perbedaan akupresur dengan akupunktur, akupresur dilakukan

dengan menggunakan jari tangan sedangkan akupunktur dengan menggunakan

jarum, namun menggunakan titik tekan yang sama pada meridian organnya.

Meridian merupakan jalur-jalur aliran energi vital yang ada pada tubuh manusia

yang menghubungkan masing-masing bagian tubuh membentuk sebuah kesatuan

yang utuh dalam tubuh (Kemenkes, 2015).

1
2.2.1.2 Macam – macam rangsangan

Akupuntur adalah ilmu akomodatif yang dapat dilakukan dengan berbagai

cara. Penekanan dengan atau tanpa alat (akupresur), jarum (akupunktur), panas

(thermis), listrik, magnet, getaran suara, obat-obatan, laser, serta kombinasi dari

berbagai manipulasi itu adalah berbagai cara manipulasi yang telah digunakan

dalam pelayanan akupuntur/akupresur (Dharmojono, 2001).

2.2.1.3 Mekanisme kerja

Menurut Saputra, (2000) menjelaskan bahwa mekanisme kerja dari

akupunktur/akupresur masih belum bisa dijelaskan secara tuntas oleh para

peneliti. Hal tersebut juga didukung oleh Sunetra, (2004) yang menjelaskan

bahwa berbagai penelitian yang dilakukan oleh peneliti di negara China dan

negara-negara barat, belum dapat menjelaskan secara menyeluruh tentang

mekanisme kerja dari akupuntur/akupresur. Teori (endorfin) dan teori kekebalan

tubuh menjelaskan bahwa penekanan pada permukaan tubuh akan merangsang

keluarnya zat-zat yang dapat menghilangkan rasa nyeri dan meningkatkan daya

tahan tubuh terhadap penyakit (Kemenkes, 2015).

2.2.1.4 Cara penekanan

Penekanan atau pemijatan pada titik akupresur dilakukan dengan

mempertimbangkan reaksi “yang“ yaitu reaksi yang menguatkan energi (qi)

sedang yang melemahkan energi (qi) disebut reaksi “yin”. Reaksi “yang dan yin”

dipengaruhi oleh lamanya penekanan atau arah penekanan. Penekanan yang

bereaksi menguatkan “yang”, dilakukan sebanyak 30 kali tekanan dengan putaran

mengikuti arah jarum jam atau searah dengan jalannya meridian. Sedangkan

2
penekanan untuk melemahkan atau menguatkan “yin” dilakukan sebanyak 50 kali,

putaran yang berlawanan dengan jarum jam, berlawanan arah dengan meridiannya

(Sunetra, 2004).

2.2.1.5 Manfaat

Akupresur dapat dimanfaatkan untuk pencegahan penyakit, penyembuhan,

rehabilitasi, menghilangkan rasa sakit, serta mencegah kekambuhan penyakit

(Sunetra, 2004). Di dalam tubuh manusia terdapat 12 (dua belas) meridian umum

dan 2 (dua) meridian istimewa yang mewakili organ-organ dalam tubuh, yang

dapat dimanipulasi untuk melancarkan energi (qi), sehingga tubuh menjadi

seimbang/sehat (Wong, 2011). Menurut Kemenkes, (2015) menjelaskan bahwa

akupresur dapat digunakan untuk meningkatkan stamina tubuh, melancarkan

peredaran darah, mengurangi rasa sakit, serta mengurangi stres/menenangkan

pikiran. Penelitian uji klinis tentang pengaruh akupresur pada titik neiguan pada

pasien sectio caesaria yang dilakukan di Rumah Sakit Sin-Lau, Taiwan,

menyimpulkan bahwa akupresur pada titik tersebut dapat menurunkan kecemasan,

persepsi nyeri, serta meningkatkan kenyamanan pasien selama dilakukan tindakan

operasi (Chen et al., 2005). Hal senada juga disimpulkan dalam penelitian Reza et

al., (2010) yang menyimpulkan bahwa akupresur efektif untuk memperbaiki

kualitas tidur pada usia lanjut yang dirawat di rumah di Negara Iran. Penelitian uji

klinis yang dilakukan oleh Gharloghi et al., (2012) juga menjelaskan bahwa

akupresur pada titik (Sp.6) dan (Sp. 8) dapat mengatasi nyeri pada saat haid.

3
2.2.1.6 Larangan pemijatan

Akupresur sebaiknya tidak dilakukan pada daerah yang terasa nyeri, suhu

badan meningkat, influenza berat, nyeri rematik, tidak sadar, daerah kemaluan,

serta tidak dilakukan pada kamar yang lembab (Sunetra, 2004).

Pemanfaatan akupresur sebaiknya tidak dilakukan pada pasien dalam keadaan

terlalu lapar, kenyang, capai, emosi, setelah donor darah, serta setelah berolahraga

(Kemenkes, 2011). Menurut Kemenkes, (2015) menjelaskan bahwa tindakan

akupresur perlu dilakukan secara hati-hati atau dikonsultasikan dengan dokter

sebelum melakukan akupresur mandiri, seperti pada pasien yang mengalami

gangguan pembekuan darah, kasus gawat darurat, memerlukan tindakan operasi,

menggunakan obat pengencer darah, tumor ganas, serta dalam keadaan hamil.

2.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pengobatan tradisional

akupresur di fasilitas layanan kesehatan

Berikut akan diuraikan beberapa penelitian terdahulu tentang faktor - faktor

yang mempengaruhi penerimaan pengobatan tradisional termasuk akupresur dari

sudut pandang penerima layanan yang meliputi persepsi, pengalaman pengobatan

tradisional sebelumnya, serta dukungan dari pihak keluarga. Dari sudut pandang

pemberi layanan akan diuraikan tentang persepsi dan pengalaman petugas tentang

pengobatan tradisional termasuk akupresur di fasilitas kesehatan.

2.2.2.1 Persepsi

Faktor persepsi memiliki hubungan yang erat dengan praktek atau prilaku

seseorang di bidang kesehatan (Notoatmodjo, 2003). Makin positif persepsi yang

dimiliki oleh pasien tentang pengobatan tradisional khususnya akupresur, maka

4
makin mudah seorang pasien menerima metode pengobatan tersebut sebagai suatu

terapi. Dari sudut pandang pasien akan diuraikan tentang persepsi keparahan,

persepsi manfaat, serta persepsi hambatan, terkait pengobatan tradisional

termasuk akupresur. Dari sudut pandang pemberi layanan akan diuraikan tentang

persepsi manfaat dan hambatan petugas kesehatan terkait pengobatan tradisional

termasuk akupresur di fasilitas layanan kesehatan.

1) Persepsi keparahan.

Penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Wang, (2011) pada penderita kanker

yang mendapatkan kombinasi pengobatan konvensional dan tradisional

dilaksanakan di Taiwan. Hasil dari penelitian itu menyimpulkan bahwa pasien

mempersepsikan penyakit kanker sebagai penyakit yang sangat parah dan menjadi

ancaman yang serius terhadap kesehatannya, sehingga seorang pasien termotivasi

untuk memanfaatkan suatu pengobatan tradisional. Penelitian yang dilakukan oleh

Eaves et al., (2015) menjelaskan bahwa pasien yang menderita nyeri pinggang

kronis (Law Back Pain Chronic) / LBP kronis sulit disembuhkan dengan

pengobatan modern saja, sehingga pasien termotivasi dalam memanfaatkan

pengobatan tradisional, karena pasien memandang bahwa, pengobatan tradisional

mempunyai strategi atau pendekatan yang berbeda untuk mengatasi keluhan nyeri,

serta memberi harapan pada kesembuhan pasien. Pernyataan tersebut juga

diungkapkan dalam penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Suhami et al.,

(2016) pada penderita kanker di Malaysia. Hasil dari penelitiannya,

menyimpulkan bahwa pasien memandang penyakit kanker adalah penyakit yang

sangat parah, sehingga memutuskan untuk melakukan semua metode pengobatan,

5
termasuk pengobatan tradisional. Pasien mempersepsikan bahwa dengan

menggunakan pengobatan tradisional akan memberikan harapan tentang

kesembuhan dirinya. Hasil penelitian kualitatif yang dilakukan pada 15 wanita

hamil di sebuah klinik bersalin di Brazil menyimpulkan bahwa, para responden

memandang kehamilan adalah hal yang baru bagi dirinya, sehingga sangat

membutuhkan suatu metode pengobatan yang mampu mengatasi keluhan yang

menyertai kehamilan seperti kram, kelelahan, sakit kepala, serta nyeri pinggang

yang sangat menggangu selama kehamilan (Silva et al., 2016).

2) Persepsi manfaat

Penelitian yang dilakuakan oleh Wang, (2011) menyimpulkan bahwa alasan

pasien untuk memanfaatkan pengobatan tradisional karena dapat mengurangi efek

kemoterapi, tidak membahayakan tubuh, tidak memperparah penyakit, serta dapat

meningkatkan stamina tubuh. Penelitian yang dilakukan oleh Gyasi, (2015) di

Ghana, Afrika menyimpulkan bahwa responden tetap memanfaatkan pengobatan

tradisional meskipun tidak ditanggung dalam asuransi kesehatan nasional di

negara tersebut. Responden merasakan manfaat yang positif dari pengobatan

tradisional, sehingga tetap menggunakannya, meskipun mereka harus

mengeluarkan sejumlah uang. Sebuah penelitian kualitatif yang di lakukan pada

responden yang memanfaatkan dan yang tidak memanfaatkan metode pengobatan

akupunktur di Hongkong menyimpulkan bahwa, alasan responden untuk memilih

metode akupunktur sebagai suatu metode pengobatan, karena akupunktur adalah

terapi yang efektif dengan efek samping yang minimal (Chan et al., 2016). Dari

penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa pasien memanfaatkan terapi

6
akupunktur, karena mempunyai persepsi adanya keuntungan yang akan diperoleh

jika melakukan metode pengobatan tersebut yaitu, keluhan nyeri pada penyakit

LBP kronis akan dapat diatasi. Sebuah penelitian kualitatif yang berkolaborasi

dengan penelitian uji klinis yang dilaksanakan pada wanita hamil di Australia,

dilakukan oleh Mollart et al., (2016). Hasil dari penelitian itu menyatakan bahwa,

faktor - faktor yang menyebabkan responden untuk menerima layanan akupresur

sebagai sebuah terapi, karena responden memiliki persepsi yang positif terhadap

tindakan akupresur sebagai penggobatan tradisional yang efektif, serta tidak ada

efek samping. Menurut penelitian kualitatif yang dilakukan Silva et al., (2016)

menjelaskan bahwa pasien mengungkapkan respon yang positif terkait tindakan

akupresur yang telah mereka terima. Akupresur di rasakan sebagai metode

pengobatan yang alami, tanpa efek samping, manusiawi, tidak traumatis, serta

dapat mengurangi berbagai ketidaknyamanan akibat kehamilan. Akupresur

dilakukan oleh para profesional kesehatan, sehingga memberi rasa aman pada

pasien karena dilakukan oleh orang yang kompeten (tenaga kesehatan). Pasien

menganggap bahwa, pemberian tindakan atau terapi dengan menggunakan metode

akupresur akan sangat menguntungkan bagi dirinya, sehingga mereka

merekomendasikan tindakan akupresur wajib diperkenalkan oleh para perawat /

bidan pada masa pre natal.

Manfaat dari suatu metode pengobatan tradisional, termasuk akupresur akan

mempengaruhi penerimaan suatu metode pengobatan tradisional oleh masyarakat.

Penelitian kualitatif yang dilakukan pada perawat di Norwegia dilakukan oleh

Johannessen, (2009) bertujuan untuk mengetahui alasan perawat lebih memilih

7
menekuni pengobatan tradisional dari pada bertugas sebagai perawat pada

umumnya. Hasil dari penelitian itu menyimpulkan bahwa perawat membutuhkan

metode pengobatan tradisional untuk dimanfaatkan untuk mengembalikan hakikat

profesi yang mempunyai kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan

atau suatu tindakan kesehatan tertentu kepada pasien. Hal senada juga dinyatakan

pada penelitian kualitatif yang dilakukan pada perawat keluarga dan pembantu

perawat di Norwegia. Hasil dari penelitian itu menyimpulkan bahwa, perawat

memandang pengobatan tradisional itu sebagai suatu kebutuhan yang dapat

digunakan untuk meningkatkan harga diri perawat (Johannessen & Garvik, 2015).

Hal senada juga dinyatakan pada penelitian Mollart et al., (2016) menyatakan

faktor - faktor yang menyebabkan pemberi layanan (bidan) untuk menerima

layanan akupresur sebagai suatu terapi, karena memandang metode akupresur

dapat mengatasi masalah atau keluhan pasien dan tidak menimbulkan efek

samping (aman). Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa, para pemberi

layanan (bidan) mempunyai persepsi positif dengan mempertimbangkan

keuntungan yang diperoleh, jika melaksanakan pengobatan tradisional akupresur,

yaitu terapi yang efektif serta tanpa efek samping.

3) Persepsi hambatan

Penelitian kualitatif yang di lakukan oleh Bishop, (2010) di Inggris,

menyatakan bahwa alasan utama konsumen untuk tidak menggunakan pengobatan

tradisional adalah masalah pembiayaan. Hal serupa juga dinyatakan dalam

penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Wang, (2011), yang menyimpulkan

bahwa salah satu alasan pasien untuk tidak memanfaatkan layanan akupresur

8
disebabkan oleh karena akupresur membutuhkan banyak waktu untuk

menghasilkan efek terapi sehingga menimbulkan ketidakpuasan pada pasien.

Penelitian yang dilakukan oleh Chan et al., (2016) mengungkapkan bahwa alasan

responden yang tidak mengunakan metode akupunktur disebabkan oleh

pandangan responden yang memandang layanan akupunktur sebagai metode

pengobatan yang beresiko tinggi, serta kurang mempunyai dasar ilmiah. Alasan

beberapa pasien hamil untuk tidak memanfaatkan layanan akupresur karena

akupresur memerlukan waktu yang lama untuk menghasilkan efek terapi dan

adanya keinginan pasien sendiri untuk tetap menggunakan pengobatan yang

terstandar (Mollart et al., 2016).

Persepsi hambatan dari petugas kesehatan sebagai pemberi layanan juga

mempengaruhi penerimaan pengobatan tradisional termasuk akupresur di fasilitas

layanan kesehatan. Penelitian yang dilakukan Lorenc et al., 2010) menyimpulkan

bahwa hambatan dari dokter untuk memberikan pengobatan tradisional, karena

kurangnya teori – teori, serta hasil penelitian ilmiah dari metode pengobatan

tradisional. Hal senada juga diungkapkan oleh sebuah survey yang dilakukan pada

132 perawat khusus kanker di rumah sakit rujukan kanker di karachi, Pakistan.

Hasil dari penelitian itu menyimpulkan bahwa mayoritas (78 %) perawat di

Pakistan tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang pengobatan

tradisional (Somani et al., 2014). Hasil penelitian yang dilakukan di rumah sakit

pendidikan di Sokoto, Barat Daya Nigeria menunjukkan bahwa 47,5 % dokter

mengatakan bahwa, metode pengobatan tradisional tidak aman digunakan sebagai

tindakan pengobatan (Jimoh & Bakare, 2014). Hal senada juga di ungkapkan oleh

9
Kostania, (2015), yang menyebutkan bahwa salah satu hambatan bidan untuk

memberikan layanan pengobatan tradisional adalah adanya persepsi dari

masyarakat yang beranggapan bahwa, pemberian pengobatan tradisional adalah

tidak termasuk tugas dari seorang tenaga kesehatan, sehingga mengurangi minat

masyarakat dalam memanfaatkan pengobatan tradisional yang dilaksanakan oleh

tenaga kesehatan. Salah satu hambatan dari pelaksanaan pengobatan tradisional

yang dilakukan oleh perawat di Norwegia adalah kurangnya pengetahuan perawat

tentang pengobatan tradisional (Johannessen & Garvik, 2015). Penelitian

kualitatif yang berkolaborasi dengan penelitian uji klinis yang dilaksanakan pada

wanita hamil di Australia menyatakan alasan para dokter tidak memberikan

layanan pengobatan dengan akupresur, karena para dokter masih memerlukan

bukti - bukti ilmiah tentang pengobatan tradisional akupresur (Mollart et al.,

2016).

2.2.2.2 Pengalaman pengobatan tradisional sebelumnya

Pengalaman positif pasien tentang penggunaan pengobatan tradisional

sebelumnya, akan menentukan penerimaan seorang pasien terhadap suatu metode

pengobatan tradisional. Penelitian kualitatif yang di lakukan oleh Bishop, (2010)

di Inggris, menyatakan bahwa, alasan utama konsumen untuk tetap menggunakan

suatu metode pengobatan tradisional karena pengalaman sebelumnya dalam

memanfaatkan pengobatan tradisional. Makin positif pengalaman seseorang

dalam memanfaatkan salah satu metode pengobatan tradisional, maka akan

semakin mudah seseorang dalam menerima metode pengobatan tradisional

tersebut, sebagai terapi atau pengobatan. Hal senada juga dinyatakan dalam

10
penelitian yang dilakukan di Berlin, Jerman yang dilakukan Stöckigt et al.,

(2013). Hasil dari penelitian itu menyimpulkan bahwa, pasien - pasien yang

berusia lanjut, lebih memilih menggunakan pengobatan tradisional, karena mereka

mempunyai pengalaman positif tentang pengobatan tradisional ketika mereka

masih kanak - kanak. Responden memandang bahwa, pengobatan tradisional

sangat efektif dan alami, sehingga sangat menguntungkan bagi kesehatannya.

Pengalaman pengobatan tradisional yang dilihat dari sudut pandang pemberi

layanan sangat mempengaruhi penerimaan dan penggunaan dari pengobatan

tradisional. Penelitian yang dilaksanakan oleh Maha & Shaw, (2007) menyatakan

bahwa, pengalaman yang dialami oleh seorang dokter, akan menentukan

keputusan dalam menggunakan metode pengobatan tradisional. Makin positif

pengalaman tentang pengobatan tradisional yang pernah dialami, akan

memudahkan para dokter tersebut menjadi tertarik dengan pengobatan tradisional.

Hasil survey yang dilakukan oleh Somani et al., (2014) pada 132 perawat khusus

kanker di rumah sakit rujukan kanker di Karachi, Pakistan menunjukkan bahwa

50 % perawat tidak pernah mendengar tentang berbagai jenis pengobatan

tradisional dan hanya 4 % perawat memiliki sertifikat pelatihan tentang

pengobatan tradisional. Kesimpulan dari penelitian itu adalah, sebagian besar

perawat memiliki pengetahuan yang rendah tentang pengobatan tradisional, tetapi

mempunyai pengalaman positif tentang penggunaan pengobatan tradisional.

Makin positif pengalaman individu tentang pengobatan tradisional, maka semakin

mudah mereka menerima suatu metode pengobatan tradisional.

11
Penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Johannessen & Garvik, (2015) pada

perawat keluarga dan pembantu perawat di Norwegia bertujuan untuk mengetahui

pengalaman perawat keluarga dan pembantu perawat dalam menggunakan

berbagai pengobatan tradisional. Hasil dari penelitian itu menyimpulkan bahwa,

perawat memiliki pengalaman yang baik tentang beberapa metode pengobatan

tradisional, sehingga mereka sangat profesional dalam melakukan beberapa

pengobatan tradisional. Makin positif pengalaman petugas terkait pengobatan

tradisional, makin mudah seorang petugas akan menerapkan pengobatan

tradisional kepada masyarakat yang membutuhkan layanan pengobatan

tradisional.

2.2.2.3. Dukungan keluarga

Dukungan keluarga terutama orang tua merupakan sumber dukungan sosial

yang paling penting. Penelitian yang dilakukan oleh Lorenc et al., (2010)

menyimpulkan bahwa, orang tua sangat berperan dalam pemilihan pengobatan

tradisional terhadap anaknya. Pengobatan tradisional yang digunakan para

orangtua, merupakan faktor terpenting yang dapat memprediksi penggunaan

pengobatan tradisional pada anak dari orangtua tersebut (Gad et al., 2013).

Penelitian yang dilaksanakan di wilayah Sabah, Malaysia yang dilakukan oleh

Dyana et al., (2015) menyatakan bahwa keyakinan keluarga tentang pengobatan

tradisional akan menentukan jenis metoda pengobatan tradisional yang dipilih

oleh suatu masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya. Hal senada juga

dinyatakan dalam penelitian kualitatif yang dilakukan Suhami et al., (2016) pada

penderita kanker di Malaysia. Hasil dari penelitian tersebut, menyimpulkan

12
bahwa, keluarga sangat mempengaruhi pasien dalam memilih metode pengobatan

tradisional. Dorongan dari keluarga, serta orang terdekat sangat memotivasi

pasien dalam menggunakan pengobatan tradisional. Makin positif dukungan

keluarga pasien tentang pengobatan tradisional, semakin besar juga pengaruhnya

pada pasien dalam menentukan jenis atau metode pengobatan tradisional yang

digunakan untuk menanggulangi masalah kesehatannya.

2.2. Konsep penelitian

2.2.1. Persepsi.

Kondisi diri dan kemampuan sangat berpengaruh dalam terbentuknya

persepsi seseorang. Persepsi memiliki hubungan erat dengan praktek kesehatan

atau perilaku kesehatan. Notoatmodjo, (2003) menjelaskan apabila seorang

individu telah memahami sebuah stimulus atau objek kesehatan dan melakukan

penilaian terhadap objek tersebut, diharapakan seorang individu itu dapat

mengambil keputusan dan melakukan sesuatu yang telah diketahuinya dan

dipahaminya melalui penilaian dan pembentukan persepsi pada proses

sebelumnya.

2.2.2. Pengalaman

Pengalaman merupakan salah satu cara memperoleh kebenaran pengetahuan

secara tradisional atau non ilmiah dengan cara mengulang kembali pengalaman

yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan pada masa lalu (Kholid, 2014).

Pengalaman merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan

seseorang, sangat berharga bagi pribadi seseorang, serta dapat dibagikan kepada

siapa saja agar dapat digunakan sebagai pembelajaran. Pengalaman seseorang

13
dalam memanfaatkan pengobatan tradisional dimasa lalu akan mempengaruhi

keputusan seseorang untuk menerima layanan pengobatan tradisional sebagai

salah satu cara untuk mengatasi permasalahan kesehatan seorang pasien maupun

sebagai petugas kesehatan.

2.2.3. Dukungan keluarga

Keluarga merupakan bagian dari masyarakat namun jumlahnya kecil dan

mempunyai hubungan yang sangat erat antara anggota keluarga satu dengan yang

lain dalam sebuah lingkungan sosial bersama yang memiliki aturan dan perilaku

tersendiri (Soemanto 2014). Peranan keluarga dalam praktik kesehatan yaitu dapat

memberikan kenyamanan dan keamanan, serta berperan penting dalam segi

ekonomi untuk menyediakan sumber - sumber ekonomi yang berfungsi untuk

mendukung pemanfaatan layanan akupresur di puskesmas. Selain itu keluarga

juga memiliki fungsi yang sangat penting dalam memberikan masukan,

meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan jalan keluar pada setiap

permasalahan kesehatan pasien.

2.3. Hipotesis penelitian

- Penerimaan layanan akupresur dari sudut pandang penerima layanan

dipengaruhi oleh faktor persepsi, pengalaman pengobatan tradisional

sebelumnya, serta dukungan keluarga.

- Penerimaan layanan akupresur dari sudut pandang pemberi layanan

dipengaruhi oleh persepsi dan pengalaman pengobatan tradisional

sebelumnya.

14
2.4. Landasan teori

Landasan teori yang dipakai acuan dalam penelitian ini adalah Health Belief

Model (Rosenstock, 1974). Health Belief Model (HBM) lebih menekankan faktor

internal dari individu. Komponen utama dalam HBM adalah persepsi kerentanan

individu terhadap suatu penyakit (perceived suseptibility), persepsi terhadap

beratnya suatu penyakit (perceived severity), persepsi individu terhadap

keuntungan yang akan diperoleh bila melakukan suatu tindakan (perceived

benefits), persepsi individu terhadap hambatan-hambatan yang akan dihadapi bila

melakukan suatu tindakan (perceived barriers), faktor pencetus yang

menyebabkan individu bersedia melakukan suatu tindakan (cues to action),

variabel sosial demografis (pengetahuan, pendidikan, umur, pekerjaan) serta

variabel lain (jarak, sarana, prasarana, dukungan petugas kesehatan, dukungan

keluarga, dukungan teman sebaya, serta keterpaparan informasi. Faktor - faktor

yang mempengaruhi penerimaan suatu metode pengobatan dipengaruhi oleh

penilaian individu terhadap sebuah pengobatan, karakteristik individu sendiri,

serta pengalaman pengobatan sebelumnya sebagai usaha untuk mengurangi resiko

penyakit dari dalam lingkungan individu sendiri. Dorongan dalam lingkungan

individu, akan membuat seseorang mengubah prilakunya. Penerimaan individu

terhadap suatu metode pengobatan tradisional termasuk akupresur dipengaruhi

oleh persepsi individu tentang keparahan terhadap suatu penyakit, persepsi

manfaat, persepsi hambatan, serta faktor pencetus sehingga individu bersedia

melakukan suatu tindakan.

15
Sudut Pandang Penerima
Layanan
 Persepsi
 Pengalaman
pengobatan
tradisional
sebelumnya
 Dukungan keluarga
Penerimaan
pengobatan
tradisional
akupresur

Sudut Pandang Pemberi


Layanan
 Persepsi
 Pengalaman
pengobatan
tradisional
sebelumnya

Gambar 2.1 Model penelitian : Penerimaan layanan akupresur yang dipandang

dari sudut pemberi dan penerima layanan akupresur di puskesmas di

Kabupaten Tabanan.

Sumber : Rosenstock, (1974).

16