Anda di halaman 1dari 6

SEPULUH MENIT TERAKHIR

Oleh : Ummi Chaera


Pagi itu suara wajan beradu dengan spatula terdengar dari ruang belakang. Aku
terbangun. Bergumam dalam hati, pasti Amma’1. Perlahan ia menuangkan nasi goreng ke dalam
kotak bekal sambil bersenandung kecil.
“Eh Ra ko sudah pabolo’2”
Aku mengangguk kecil sambil sesekali menguap. Hari ini adalah hari kelulusanku di
salah satu SMA di pulau yang padat akan penduduk. Pulau dengan luas sekitar delapan hektare
yang biasa orang sebut pulau bungin atau gundukan pasir putih dimana letaknya 70 kilometer
dari arah barat Sumbawa besar. Pulauku dihuni kurang lebih 3.600 manusia dengan hamparan
rumah-rumah yang tumbuh di atas laut dan karang mati. Atap-atapnya saling bersinggungan.
menambah sesak saja
“Andra mau kuliah Ma”
Ucapku ketika sadar sepenuhnya. Ibu terkejut dan menjatuhkan wajan yang ia pegang,
ekspresinya tiba-tiba berubah seakan-akan tidak percaya anak semata wayangnya berucap
seperti itu.
“Ko dah belaw kah3? Pokoknya Amma tidak izinkan” balasnya marah sambil
membersihkan sisa nasi yang terjatuh
“Tapi kenapa Ma? Bukannya Amma senang kalau Andra pulang dengan membawa
gelar. Toh tak ada salahnya Ra pergi merantau untuk kebaikan. Amma kan selalu bilang kalau
pendidikan itu yang utama. Dulu almarhum bapak juga bekerja keras melaut demi Andra
sekolah”
“Amma dan almarhum bapak memang senang kau sekolah tapi tidak harus merantau ke
kampung orang. Kau anak Amma satu-satunya. Bapakmu sudah tak ada dan sekarang ko mau
tinggalkan Amma sendiri? Belum lagi kuliah itu mahal dan di kota siapa yang mengurusmu?”
matanya kini berkaca-kaca
Jujur aku tidak tega melihatnya dengan ekspresi seperti ini, tapi apalah daya aku ingin
sekali berkuliah. Rata-rata penduduk pulau ini hanya tamat sekolah dasar dan memutuskan
untuk menjadi nelayan dibanding mengenyam pendidikan.

1Panggilan untuk ibu (bahasa bajo)


2
Kamu sudah bangun?(Bahasa Bajo (biasanya digunakan oleh yang lebih tua kepada yang lebih muda)
3Kamu sudah gila?
“Masalah biaya Amma tak usah pikirkan. Andra akan cari uang sendiri dan mengurus
beasiswa. Sekarang tugas Amma hanya merestui dan mendoakan Andra saja. Mohonlah Amma
mengerti, ini semua demi keluarga kita” kujelaskan dengan perlahan sambil memegang bahu
yang sudah menua itu.
Amma menangis tersedu-sedu mendengar tekadku yang sudah bulat. Aku memeluknya.
Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi ketika aku sudah memutuskan. Air matanya
mengalir tak ada habisnya. Maaf Amma ini demi keluarga kita, gumamku dalam hati.
∗∗∗
Ahad, 13 desember 2013. Kecamatan Alas, Kepulauan Bungin
Beberapa bulan setelah kelulusanku di SMA, tiba-tiba mba Mimi datang ke rumah
memberi kabar yang sangat baik
“Raa!!!! Andra…….” Teriaknya di teras rumah
“Iya mba ada apa? Kenapa teriak begitu” jawabku singkat
“Kamu lulus Raaa… mba baru liat pengumuman di internet kalau kamu diterima masuk
kedokteran universitas ternama di kota, lewat jalur bebas tes lagi. Wahh Ammamu ndak sia-sia
menyekolahkan anak semata wayangnya. Akhirnya pulau kita ini punya calon dokter dan tidak
perlu lagi jauh-jauh mencari puskesmas” ucapnya bersemangat sambil memperlihatkan
pengumuman dari layar androidnya.
Awalnya aku tidak percaya. Mungkin nama di pengumuman kebetulan sama denganku
atau orang yang memasukkan data dalam keadaan mengantuk sehingga salah tekan dan segala
macam pikiran aneh datang menghampiri, sampai suatu saat pihak universitas langsung
menghubungiku terkait konfirmasi mengenai keputusanku menerima atau menolak untuk
berkuliah disana. Baru saja aku berencana berubah pikiran untuk tidak kuliah dikarenakan
melihat Amma menangis saat memutuskan untuk bekuliah, namun takdir selalu tepat sasaran.
Bagaikan panah yang sudah diarahkan untuk mengenai sebuah titik di papan hitam. Tidak
meleset sama sekali.
Seminggu kemudian….
Lantunan adzan pak Samad membuatku terbangun kaget. Jam menunjukkan pukul 4.30
menandakan fajar akan menyingsing. tiga jam lagi, ujarku pasrah. Hari ini adalah
keberangkatan menuju tempat yang masih samar-samar di benakku. Tak ada gambaran
sedikitpun, hanya berbekal tekad dan restu Amma yang masih berat hati melepasku. Hembusan
angin, deburan ombak, keributan Amma di dapur dan tentunya suara adzan pak Samad akan
sangat kurindukan.
“Ya allah hamba memohon padamu segala kebaikan untuk anak hamba. Ia akan pergi
ke tempat yang asing baginya, luruskan jalannya ketika ia salah haluan. Sabarkan ia
menghadapi segala permasalahan, jauhkan yang haram dan dekatkan yang halal, jadikanlah
ilmunya bermanfaat. Aku ridha akan dirinya dan kumohon Engkau pun rindho terhadap ia.
Tiada daya upaya tanpa belas kasih dan pertolonganmu”
Aku berdiri di daun pintu mendengar doa Amma yang amatlah panjang untukku. Kini
aku paham betapa tinggi derajat seorang ibu dan aku setuju bahwa surga memang terletak di
bawah kakinya. Perempuan yang kupanggil Amma mengasuhku tanpa lelah dan pamrih, belum
lagi ia menjadi orang tua tunggal semenjak kepergian bapak lima tahun silam.
Tepat pukul 7.30 aku akhirnya berangkat menuju kota dengan mengendarai perahu kecil
milik abang samad. Aku berpamitan dengan Amma yang masih saja menitihkan air mata hingga
bola mata putihnya seakan tidak terlihat. Bengkak dan memerah. Hatiku benar-benar sakit
meninggalkan Amma dan semua kenangan di pulau ini, tapi sudahlah untuk apa menyesal jika
sudah diputuskan.
“Amma aku pergi dulu. Doakan selalu anakmu ini semoga sukses di kampung orang
dan dapat pulang kembali dengan membawa gelar dokter” kuraih tangan Amma dan
menciumnya
“Tentu saja sayang, tanpa kau minta pasti Amma lakukan. Selama disana selalu ingat
untuk menghubungi Amma yahh nak. Semoga Amma bisa melihatmu memakai toga, berfoto
di sampingmu dan akan Amma pajang dengan bingkai yang paling besar bahkan mengalahkan
besarnya pulau ini” keadaan hatinya mulai membaik
∗∗∗
Tak terasa sudah hampir tiga setengah tahun aku berkuliah di kota ini dan akhirnya
perjuanganku akan segera tertuntaskan. Aku akan menepati janjiku pada Amma dan pulang
membawa gelar dokterku sekaligus membawakan menantu buat Amma.
“Ra, tapi apa kamu yakin ibumu akan menerimaku? Aku benar-benar takut nantinya
aku tidak sesuai dengan kriteria menantu idamannya” ucapnya khawatir
“Sri bukannya aku sudah bilang kalau ibuku itu bukan tipe pemiih. Kenapa juga kamu
merasa takut? Kamu pintar, baik, solehah dan yang terpenting aku menyukaimu.” Aku mencoba
meyakinkannya.
Sekali lagi ia menghembuskan napas berat. Melihatnya menyadarkanku bahwa kini aku
punya dua orang wanita hebat yang harus kubahagiakan. Amma tunggu anakmu pulang dengan
membawa gelar dokter dan juga calon menantumu. Yakinku dalam hati.
∗∗∗
Hari ini aku menggunakan setelan hitam putih ala mahasiswa baru dengan almamater
dan dasi sebagai pelengkap. Sebelum berangkat aku menyiapkan semua berkas yang
kubutuhkan dan berdoa agar diberi kelancaran. Ujian meja benar-benar membuat jantungku
berdetak melebihi ambang batasnya, bahkan lebih kencang dibanding pertama kali jatuh hati
pada Sri.
“Amma doakan aku yah. Hari ini adalah penentuan kelulusan Andra menjadi seorang
dokter. Mungkin handphone Ra tidak aktif untuk sementara, nanti selesai ujian Andra telpon
Amma lagi”
“Iya nak, Amma tidak akan berhenti mendoakanmu dan kau juga jangan lupa doakan
dirimu sendiri. Bertahun-tahun Amma tidak melihatmu dan Ammaakan menunggu di rumah
kita nak. Doakan Ammadan kau selalu sehat dan kita bisa bertemu”
Aku memang tidak pernah pulang ke kampung semenjak kepergianku tiga setengah
tahun silam dikarenakan biaya dan kekurangan waktu. Aku sudah berjanji untuk pulang setelah
aku dinyatakan lulus dan hal itu akan segera terwujud.
∗∗∗
“Andra putra setiawan, nim C013110907, dinyatakan lulus dengan IPK 3,8 dalam waktu
tiga tahun lima bulan dan berhak mendapat predikat cumlaude”
Alhamdulillah, syukurku dalam hati. Amma anakmu sudah lulus dan akan pulang
membawa toga. Keluar dari ruangan Sri menyambutku dengan senyum sambil memegang
selendang bertuliskan ‘Andra putra setiawan. S.Ked’. Aku membalasa senyumnya dan segera
mengambil ponsel untuk menghubungi Amma.
Mba Mimi, 13 panggilan tak terjawab.
Entah kenapa perasaanku seketika menjadi aneh. Panggilan beruntun mba Mimi sepuluh
menit lalu membuatku gelisah.
“Ada apa mba? Amma mana? Biasanya kan dia yang mengangkat panggilanku”
Terdengar suara isakan tertahan sari seberang sana.
“Ammamu sudah tidak ada Ra.” Ucapnya tersedu-sedu
“Ahh mba pasti bercanda kan? Aku baru mau memberi kabar gembira pada Amma.
Sudahlah mba tidak usah mengerjaiku, berikan ponselnya segera pada Amma. Aku ingin
bicara” balasku dengan candaan
“Ra untuk apa mba bohong masalah nyawa orang. Awalnya ia memanggil mba untuk
membantunya memasak makanan kesukaanmu karena kamu bilang akan segera pulang setelah
ujianmu. Ia memasak sambil tidak berhenti bercerita tentang kehebatanmu. ‘beberapa menit
lagi Andra akan menjadi dokter Mi dan akhirnya dia bisa pulang menemui Ammanya ini’ itu
yang dia katakan padaku Ra” ia tak bisa menahan tangisannya
“Setelah itu tiba-tiba dia pingsan saat akan mengangkat wajan. Otomatis mba kaget dan
segera meminta tolong. Dia dibawa ke kamar dan napasnya tersengal, abang Samad segera
mengucapkan syahadat dekat telinga Ammamu. Hanya mulutnya yang bisa bergerak. Tak ada
suara sama sekali Ra” kini tangisnya meledak
“Tidak. Ini tidak mungkin! Orang yang baru saja berbincang denganku sejam lalu tiba-
tiba dikabarkan tiada. Mana mungkin mba? Amma bilang akan menungguku di rumah, ia bilang
akan berfoto bersamaku sambil memakai toga dan memajangnya dengan bingkai besar. Ini
tidak mungkin. Mba tolong bilang padaku kalau ini bohong mba!” mataku mulai memerah,
napasku mulai tak karuan.
Mba Mimi hanya bisa menangis dan tidak tau harus bagaimana dan kini pikiranku
kosong. Aku menangis sejadi-jadinya, pertahananku runtuh. Aku terjatuh. Sri langsung
mendekatiku dengan ekspresi khawatir.
“Ra… heyy kamu kenapa” tanyanya menyadarkanku
Suaraku tercekat, tak bisa lagi berbicara. wanita yang menjadi alasanku berjuang di
perantau, yang selalu memberi motivasi, mendoakanku dan menungguku di rumah, kini telah
tiada. Ia pergi tanpa berpamitan. Hatiku terkoyak tak bersisa. Aku menangis sejadi-jadinya.
Amma pergi di sepuluh menit terakhir sebelum kabar gembira ini kusampaikan. ‘Kenapa?
Kenapa harus diriku ya Allah? Kenapa harus Amma yang kau ambil.
Takdir selalu tepat sasaran. Bagaikan panah yang sudah diarahkan mengenai sebuah
titik di papan hitam dan kini panah itu mengenai hatiku dan merobeknya tanpa ampun. Ibuku
pergi sebelum aku kembali setelah bertahun-tahun dan akhir dari semua adalah aku tidak bisa
melihat senyum Amma yang terukir saat aku memakai toga. Tak ada lagi yang ribut di dapur
pada pagi hari, tak ada lagi yang memarahiku ketika tidak makan dan taka da lagi sosok Amma
yang amat kusayangi.
“Semoga kau tenang di sana Ammaku sayang dan maafkan anakmu ini terlambat
memberimu kabar gembira. Andra akan memberitahumu ketika sudah kembali ke pangkuan-
Nya juga. Kita akan bertemu disana dengan toga di kepalaku.” Aku mencoba menenangkan diri
dan menghapus air mataku.
Di sepuluh menit krusial dalam hidupku kutemukan pengalaman yang akan kukenang
sampai akhir hayat. Amma pergi dan tak akan kembali. Sepuluh menit terakhir tawa dan duka
menyatu padu mengajarkanku arti ikhlas sebenar-benarnya. Sekali lagi kudengungkan ‘Amma
aku mencintaimu’
BIODATA PENULIS

Nama Lengkap : Ummi Chaera

Email : ummichaera13@gmail.com

Nomor HP : 085398822563

Nomor WhatsApp : 085398822563

Alamat Instagram : @umikhaera