Anda di halaman 1dari 11

A.

Stunting
Menurut data yang dilansir WHO, 178 juta anak di bawah lima tahun mengalami
stunted. Stunting (tubuh pendek) adalah keadaan tubuh yang sangat pendek hingga
melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan populasi yang
menjadi referensi internasional. Stunting adalah keadaan dimana tinggi badan
berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek
dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009). Stunted adalah tinggi
badan yang kurang menurut umur (<-2SD),ditandai dengan terlambatnya
pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang
normal dan sehat sesuai usia anak. Stunted merupakan kekurangan gizi kronis atau
kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang
untuk gizi kurang pada anak.Bila kita merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 tanggal 30 Desember 2010 tentang Standar
Antropometri Penilaian Status Gizi Anak, pengertian Pendek dan Sangat Pendek
adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U)
atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted
(pendek) dan severely Dengan kata lain stunting dapat diketahui bila seorang balita
sudah ditimbang berat badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu
dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara fisik
balita akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya
B. Status gizi
Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka dalam
menunjukkan keadaan gizi kurang bila dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan
dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi kurus/wasting < -2SD diatas 10 %
menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius dan
berhubungan langsung dengan angka kesakitan.
C. Asi eksklusif

Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan sampai

bayi berusia enam bulan tanpa menambahkan makanan dan atau mengganti dengan makanan

atau minuman lain (Kemenkes, 2012)

Menurut WHO (2005, dalam Wahyuti, 2012) ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja

kepada bayi sejak lahir tanpa makanan dan minuman tambahan lain kecuali vitamin, mineral,

atau obat dalam bentuk tetes atau sirup sampai bayi berusia enam bulan.

ASI eksklusif berarti bahwa bayi tidak mendapatkan air putih, air gula, jus, atau cairan

lainnya, susu sapi, susu kaleng, susu formula, atau makanan lunak dan padat lainnya kecuali

sirup yang mengandung vitamin, mineral, atau obat (Februhartanty, 2006 dalam Biswas,

2010)

Manfaat pemberian ASI esklusif

1. Manfaat untuk bayi


ASI merupakan sumber makanan yang higienis untuk energi, nutrisi yang penting, air, dan

mengandung faktor imunitas protektif sehingga dapat mencegah penyakit anak yang umum

dan kurang gizi (UNICEF, 2008) sehingga menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi

(Kakute et al, 2005). Selain itu ASI mengandung nutrisi yang lengkap untuk perkembangan

psikososial bayi (Dakshani&Gangadar, 2008).

ASI melindungi bayi dari masalah kesehatan. ASI mengandung faktor protektif untuk bayi

seperti enzim aktif, immunoglobulin, hormon, dan faktor pertumbuhan. ASI memiliki efek

yang signifikan dalam mencegah penyakit infeksi. ASI memiliki perlindungan terhadap

patogen dengan menyediakan substansi antivirus dan bakteri yang menstimulasi sistem imun.

Sistem imun tersebut akan menurunkan insidensi dan keparahan penyakit infeksi seperti

diare, infeksi saluran nafas, necrotizing enterocolitis, otitis media, infeksi saluran kemih, dan

sepsis. ASI juga melindungi melawan alergi.

ASI mengurangi insiden syndrome kematian mendadak, diabetes, obesitas,

hiperkolesterolemia, dan asma.

ASI sangat mudah untuk dicerna. ASI sangat efektif untuk melindungi bayi dari diare.

Bayi yang tidak mendapatkan ASI memiliki risiko 2-3 kali lebih besar untuk terserang

diare dan 3-5 lebih besar untuk terserang pneumonia dibandingkan bayi yang

mendapatkan ASI. ASI eksklusif selama enam bulan pertama dapat mengurangi diare

dan pneumonia sampai 3 dan 2,5 kali berturut-turut (Imtiaz&Saleem, 2009)

Untuk bayi prematur ASI mengurangi risiko penyakit yang mengancam jiwa seperti

penyakit pada sistem pencernaan dan penyakit menular lainnya. ASI secara signifikan

memperpendek lama rawat inap dan biaya rumah sakit. Penelitian yang

membandingkan bayi prematur yang mendapatkan ASI dan bayi prematur yang

mendapatkan susu formula menunjukkan bayi yang diberikan susu formula memiliki

intelligence quetion (IQ) lebih rendah 8-15 poin. Bayi yang mendapatkan ASI
memiliki IQ yang lebih tinggi (US Breastfeeding Committee, 2002). Selain itu ASI

meningkatkan perkembangan neurologis, visual dan oral bayi.

D. Imunisasi dasar
1. Pengertian Imunisasi Dasar
Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal untuk mencapai kadar kekebalan
diatas ambang perlindungan.2
2. Jenis-Jenis Imunisasi Dasar
Ada 5 jenis imunisasi dasar yang diwajibkan pemerintah dan harus diperoleh bayi
sebelum usia 1 tahun yaitu : Imunisasi BCG, Imunisasi DPT, Imunisasi polio,
Imunisasi Campak, Imunisasi Hepatitis B.
a. Imunisasi BCG
1) Pengertian Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan untuk
menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit TBC.
2) pemberian imunisasi BCG dan usia pemberian, frekuensi pemberian imunisasi
BCG adalah 1 kali dan tidak perlu di ulang (boster), karena vaksin BCG berisi
kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkan tinggi terus
3) cara pemberian imunisasi BCG adalah melalui intradermal dengan lokasi
penyuntikan pada lengan kanan atas (sesuai anjuran WHO) atau penyuntikan
pada paha.
4) tanda keberhasilan, adalah timbulnya indurasi (benjolan) kecil dan eritema
(merah) didaerah beks suntikan setelah 1 atau 2 minggu kemudian yang
berubah menjadi pustula, kemudian pecah menjadi ulkus (luka). tidak
menimbulkan nyeri dan panas. luka ini akan sembuh sendiri dan
meninggalkan tanda parut.
5) efek samping imunisasi BCG : umumnya tidak ada.
6) kontra indikasi imunisasi BCG : imunisasi BCG tidak dapat diberikan pada
anak yang berpenyakit TB atau menunjukan uji Mantoux positif.
b. Imunisasi Polio
1) Pengertian imunisasi polio adalah imunisasi yang diberikan untuk
menimbulkan kekebalan terhadap penyakit poliomielitis, yaitu penyakit
radang yang menyerang saraf dan dapat mengakibatkan kelumpuhan.
2) Waktu pemberian adalah pada bayi usia 0-11 bulan, namun biasanya
pemberian vaksin DPT
3) Cara pemberian imunisasi polio melalui oral /mulut
4) Efek samping imunisasi polio, hampir tidak ada efek samping, hanya sebagian
kecil yang mengalami pusing, diare ringan, dan sakit otot, itupun sangan
jarang
c. Imunisasi DPT
1) pengertian imunisasi DPT adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah
terjadinya penyakit difteri, pertusis, dan tetanus.
2) pemberian imunisasi dan usia pemberian, imunisasi DPT diberikan sebanyak 3
kali yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan
3) cara pemberian: disuntikan melalui intamuskuler(IM)
4) efek samping Imunisasi DPT: biasanya hanya demam dan rewel selama 1-2
hari, kemerahan, pembengkakan, agak nyeri atau pegal-pegal pada daerah
penyuntikan yang akan hilang sendiri dalam beberapa hari. Bila demam dapat
diberikan penurun panas.
5) kontra indikasi, imunisasi DPT tidak dapat diberikan pada bayi yang sedang
demam, mudah kejang, dan menderita infeksi otak.
d. Imunisasi Cmpak
1) Pengertian Imunisasi Campak adalah imunisasi yang diberikan untuk
mencegah penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat menular
2) Pemberian imunisasi dan usia pemberian, frekuensi pemberian imunisasi
campak adalah 1 kali dan diberikan pada usia bayi 9 bulan.
3) Cara pemberian, adalah melalui suntikan subkutan
4) Efek samping imunisasi, jarang terjadi reaksi akibat imunisasi, namun kadang
terjadi demam ringan dan efek kemerahan/ bercak merah pada pipi dibawah
telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan.
5) Kontra indikasi imunisasi campak, adalah infeksi akut yang disertai demam,
TBC tanpa pengobatan, dan kekurangan gizi berat.
e. Imunisasi Hepatitis B
1) Pengertian imunisasi hepatiti B adalah imunisasi yang diberikan untuk
mencegah penyakit hepatitis B yaitu penyakit infeksi yang dapat merusak hati.
2) pemberian imunisasi dan usia pemberian, sebaiknya diberikan dalam 12 jam
setelah kelahiran dengan syarat kondisi bayi stabil, tidak ada gangguan paru-
paru dan jantung, dilanjutkan pada usia 1 bulan, dan usia 3-6 bulan
3) cara pemberian imunisasi hepatitis B , adalah melalui intra muskuler(IM)
4) efek samping imunisasi hepatitis B, umumnya tidak terjadi, jika pun
terjadi(namun sangat jarang) berupa nyeri pada tempat penyuntikan atau
demam ringan namun akan menghilang dalam 2 hari
3. Jadwal pemberian imunisasi dasar
Tabel 1. Jadwal pemberian imunisasi dasar
Umur Jenis
0 bulan Hepatitis B0
1 bulan BCG, Polio 1
2 bulan DPT-HB-Hib 1, Polio 2
3 bulan DPT-HB-Hib 2, Polio 3
4 bulan DPT-HB-Hib 3, Polio 4
9 bulan Campak
Catatan:
- Bayi lahir di Institusi Rumah Sakit, Klinik dan Bidan Praktik Swasta, imunisasi
BCG dan Polio 1 diberikan sebelum dipulangkan.
- Bayi yang telah mendapatkan imunisasi dasar DPT-HB-Hib 1, DPT-HB-Hib 2,
dan DPT-HB-Hib 3, dinyatakan mempunyai status imunisasi T2.

E. Imunisasi tambahan
1. Pengertian Imunisasi Lanjutan
Imunisasi lanjutan merupakan imunisasi ulangan untuk mempertahankan tingkat
kekebalan atau untuk memperpanjang masa perlindungan. Imunisasi lanjutan
merupakan kegiatan yang bertujuan untuk melengkapi imunisasi dasar pada bayi yang
diberikan kepada anak Batita, anak usia sekolah, dan wanita usia subur (WUS)
termasuk ibu hamil.
2. Jenis imunisasi lanjutan
a. Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia bawah tiga tahun (Batita)
terdiri atas:
1) Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis B (DPT-HB) atau Diphtheria Pertusis
Tetanus-Hepatitis B-Hemophilus Influenza type B (DPT-HB-Hib)
2) Campak.
b. Imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar diberikan pada Bulan Imunisasi
Anak Sekolah (BIAS). Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia
sekolah dasar terdiri atas:
1) Diphtheria Tetanus (DT),
2) Campak,
3) Tetanus diphteria (Td).
c. Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada wanita usia berupa Tetanus Toxoid
(TT). Imunisasi lanjutan pada WUS salah satunya dilaksanakan pada waktu
melakukan pelayanan antenatal.
3. Jadwal imunisasi lanjutan
a. Jadwal imunisasi lanjutan pada anak di bawah tiga tahun
Tabel 2. Jadwal imunisasi lanjutan pada anak di bawah tiga tahun
Umur Jenis Imunisasi
18 bulan DPT-HB-Hib
24 bulan Campak

b. Jadwal imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar


Tabel 3. Jadwal imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar
Sasaran Imunisasi Waktu Pelaksanaan
Kelas 1 SD Campak Agustus
DT November
Kelas 2 SD Td November
Kelas 3 SD Td November
Catatan:
- Batita yang telah mendapatkan imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib
dinyatakan mempunyai status imunisasi T3.
- Anak usia sekolah dasar yang telah mendapatkan imunisasi DT dan Td
dinyatakan mempunyai status imunisasi T4 dan T5.
c. Jadwal Imunisasi Lanjutan Pada Wanita Usia Subur (WUS)
Tabel 4. Jadwal Imunisasi Lanjutan Pada Wanita Usia Subur (WUS)
Status Interval Minimal Masa
Imunisasi Pemberian Perlindungan
T1 - -
T2 4 minggu setelah T1 3 tahun
T3 6 bulan setelah T2 5 tahun
T4 1 tahun setelah T3 10 tahun
T5 1 tahun setelah T4 lebih dari 25 tahun
Catatan:
- Sebelum imunisasi, dilakukan penentuan status imunisasi T (screening)
terlebih dahulu, terutama pada saat pelayanan antenatal.
- Pemberian imunisasi TT tidak perlu diberikan, apabila pemberian
imunisasi TT sudah lengkap (status T5) yang harus dibuktikan dengan
buku Kesehatan Ibu dan Anak, rekam medis, dan/atau kohort.
4. Cara pemberian
Jenis vaksin dosis Cara Lokasi Injeksi
HB 0,5 ml IM Paha kanan
BCG 0,05 ml IC Lengan kanan atas
Polio 2 tetes Oral Mulut
DPT-HB-Hib 0,5 ml IM Paha untuk bayi
Lengan kanan
untuk balita
Campak 0,5 ml SC Lengan kiri atas
DT 0,5 ml IM Lengan kiri atas
Td 0,5 ml IM Lengan kiri atas
TT 0,5 ml IM Lengan kiri atas1

F. Cuci tangan pakai sabun

Mencuci tangan adalah menggosok air dengan sabun secara bersama-


sama seluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas
kemudian dibilas dibawah aliran air (Larsan, 1995).
B. Tujuan Mencuci Tangan
Mencuci tangan merupakan satu tehnik yang paling mendasar untuk
menghindari masuknya kuman kedalam tubuh.
Dimana tindakan ini dilakukan dengan tujuan:
1. Supaya tangan bersih
2. Membebaskan tangan dari kuman dan mikroorganisme
3. Menghindari masuknya kuman kedalam tubuh
C. Bagi setiap orang, mencuci tangan adalah satu tindakan yang
takkan lepas kapanpun. Karena merupakan proteksi diri terhadap
lingkungan luar. Nah sebenarnya kapan waktu yang tepat untuk
melakukan cuci tangan?
1. Sebelum dan sesudah makan
Untuk menghindari masuknya kuman kedalam tubuh saat kita
makan
2. Setelah buang air besar
Besar kemungkinan tinja masih tertempel di tangan, sehingga
diharuskan untuk mencuci tangan
3. Setelah bermain
Kebiasaan anak kecil adalah bermain ditempat yang kotor.Seperti
tanah. Dimana kita tahu bahwa banyak sekali kuman didalam tanah,
jadi selesai bermain harus mencuci tangan supaya kuman dari tanah
hilang dan tidak menempel ditangan.
4. Sebelum dan sesudah melakukan tindakan
Bagi adik-adik mencuci tangan ini juga bisa dilakukan sebelum dan
sesudah belajar, sebelum dan sesudah bangun tidur dan sesudah
melakukan kegiatan yang lain.

D. Langkah-langkah dalam mencuci tangan


Langkah-langkah dalam melakukan cuci tangan yang benar dan
sehat adalah
1. Gulung lengan baju sampai atas pergelangan tangan ,lepaskan
cincin, jam tangan dan perhiasan tangan lain
2. Basahi tangan sampai sepertiga lengan dibawah air mengalir
3. Ambil sabun cair kira-kira 5 ml,ratakan pada tangan yang telah
dibasahi
4. Gosok bagian telapak tangan dengan telapak tangan satunya lalu
masukan jari-jari tangan kanan ke sela-sela jari-jari tangan kiri
5. Pindahkan telapak tangan kanan ke punggung tangan kiri
gosokan, tanpa saling melepaskan lalu masukan jari-jari tangan
kanan ke sela0sela tangan kiri. Lakukan pada tangan yang sama.
6. Lakukan penggosokan kuku-kuku
7. Bersihkan jempol tangan kanan dengan menggegamnya dengan
tangan kiri lalu diputar-putar, lakukan pada tangan yang satunya.
8. Kadang perlu menggosok garis telapak tangan
9. Bersihkan dengan air mengalir lalu kerigkan.

G. Proses pencucian alat makan untuk anak

Sesaat si kecil mengonsumsi makanan padat pertama, hal yang menjadi perhatian ibu yang
memberi ASI adalah kebersihan alat makan si kecil. Hal ini penting, karena berhubungan
dengan kekebalan tubuh anak yang masih berkembang, dan rentan mengalami sakit karena
infeksi.

Agak berbeda dari periode ASI eksklusif, risiko anak mengalami gangguan pencernaan
cenderung meningkat setelah ia berkenalan dengan makanan padat pertama. Bukan saja
karena reaksi alergi, melainkan karena paparan virus atau bakteri dari alat makan yang tak
terjaga kebersihannya. Demi meminimalkan hal kejadian ini, kita perlu cermat menjaga
kebersihan alat makan, sejak mencuci hingga menyimpannya.

Tak sekadar mencuci

1. Cuci setiap alat makan bayi yang baru Anda beli, dan setiap kali akan digunakan.
2. Gunakan sabun cair, jika mungkin beli sabun khusus untuk mencuci peralatan bayi
yang tidak mengandung bahan kimia dan terjamin tidak berbahaya bagi bayi
3. Bilas dengan air bersuhu panas, jika mungkin gunakan air panas dari keran yang
mengalir. Pastikan tidak ada residu sabun yang tersisa dengan cara menggosok ulang
setiap sisi alat makan
4. Lakukan langkah sterilisasi dengan menggunakan electric sterilizer atau bisa
menggunakan metode tradisional dengan cara merebus semua alat makan itu hingga
air rebusan mendidih.

Menyimpan aman

1. Setelah langkah sterilisasi dilakukan angkat alat makan dan tengkurapkan di atas lap
bersih. Pisahkan jauh dari alat makan lain. Biarkan kering secara natural.
2. Setelah kering, masukkan alat makan ke dalam lemari atau wadah tertutup rapat agar
terhindar dari debu, simpan alat makan dengan posisi siap pakai (tidak tengkurap).
Ingatlah untuk selalu mencuci tangan hingga bersih, sebelum menyentuh alat makan
si kecil.