Anda di halaman 1dari 3

Adakah cinta yang jatuh kepadamu melebihi cintaku?

-Aan Mansyur-

Setelah dua surat sebelumnya yang telah kukirim melalui surel, surat yang satu ini (atas
pertimbangan banyak hal) aku menulisnya di sini.

-Kepada F, dan semua hal yang bisa aku tuliskan.

Kutulis surat ini di sebuah tempat yang bukan di sisimu, tentu saja. Kutulis surat ini di
tempat yang memampukanku untuk mendengar irama jam dan jantung yang berdetak
nyaris bersamaan, mengamati tumpukan buku yang kuhutangi untuk diselesaikan dan merasai
titik keringat yang tiba-tiba muncul ketika surat ini meminta dituntaskan.

Setelah pertemuan tidak disengaja itu (jika kau masih ingat), pada sebuah sore ketika senja
sedang lamat-lamat melamur di barat langit Fort Rotterdam, aku, dengan segenap pertahanan
diri, berusaha menitipkan gejala dan kemungkinan pada sekilas tatap. Senyummu yang serupa
bahasa puisi menawarkanku metafora lain.

Sayangnya, F. Sayang sekali, senyummu tak kutemukan semiripnya sampai hari ini, sampai
tulisan ini kubuat dan kuselesaikan.

Kini, pencarian itu membawaku semakin jauh ke rimba tak bernama. Perjalanan itu mengutukku
menjadi pengelana yang kehilangan pulang. Lalu, perasaan tersesat melatihku setiap hari untuk
menulis surat semacam ini.

Kutulis surat ini untukmu, F. Agar kau menemukan surat ini lalu tidak sengaja membacanya.
Seperti ketidaksengajaanku ketika perasaan ini perlahan tumbuh hingga tiba pada titik tidak
terkendali. Biar kuhabiskan separuh diriku menghabisi perasaan-perasaan tidak bernama seperti
ini, ia akan jadi lilin yang akan membakar dirinya sendiri, melelah hingga akhirnya meleleh
bersama sepi.

Biarlah peristiwa menguji bahwa mencintai dengan tidak mengungkapkan adalah cinta yang
amat gelisah.

Kutulis surat ini khusus untukmu, F. Anggaplah ini keyakinan bahwa mencintaimu adalah
hukuman, aku hanya terdakwa dengan pasal berlapis yang kemudian tidak berdaya di hadapan
hakim dan jaksa.

Hukum perdata apa yang akan jatuh untuk perasaan memiliki yang tidak bisa kuupayakan?

Adakah pledoi yang bisa kurangkap lalu kubaca di putusan sela?

Kutulis surat ini untukmu, F. Hanya untukmu. Sejujurnya, pernah kubangun sebuah dinding
bengala kaca, jauh di dalam diriku, untuk menghalau antara perasaan cinta dan kagum yang
seringkali menghianati disposisi dan asumsi. Perasaan seringkali begitu ceroboh untuk
menghianati dan membodohi dirinya sendiri.
Tulisan ini tidak meminta untuk kau balas, F. Ia hanya menuntut dibaca olehmu. Jika sudah
selesai, biarlah nanti ia membakar dirinya sendiri.

Mencintaimu biarlah menjadi urusanku, persoalan kau mencintaiku atau tidak, biarlah itu
menjadi urusanmu dengan Tuhan.

Hanya ini yang bisa kutuliskan untukmu, F. Kelak, pada titik terjauhnya; perasaan akan hilang
dan menguap dengan sendirinya.

Lalu sebagai penutup,

Maukah kau kembali ke pertanyaan yang menjadi pembuka tulisan ini?

Makassar, 7 Maret 2019

Terimakasih karena telah membaca artikel kami di:


https://bacaan.id/film-komedi-thailand-terlucu-dan-bikin-ngakak/