Anda di halaman 1dari 28

MANAJEMEN NYERI DI AREA PERAWATAN KRITIS

Ida Rosidawati, S.Kep., Ners., M.Kep


Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

A. Latar Belakang
Nyeri adalah kekhawatiran terbesar pasien di unit perawatan intensif (ICU).
Sebagian besar pasien sakit kritis mengalami nyeri sedang sampai hebat. Penatalaksanaan
nyeri telah menjadi prioritas nasional dalam beberapa tahun terakhir, namun nyeri terus
disalah artikan, dikaji dengan buruk, dan tidak ditangani dengan adekuat di ICU dan
banyak tatanan perawatan kesehatan lainnya. Nyeri yang tidak terkontrol memicu respon
stres fisik dan emosional, menghambat penyembuhan, meningkatkan resiko komplikasi
lainnya dan meningkatkan masa rawat inap di ICU (Gonce P, Fontaine D, Hudak C, Gallo
B, 2012).
Banyak pasien sakit kritis di unit perawatan intensif (ICU) menderita nyeri, terutama
yang menggunakan ventilasi mekanik. Dari 35% menjadi 55% perawat telah dilaporkan
meremehkan nyeri pasien, dan sebuah studi praktek saat mengungkapkan pada saat
diamati penilaian nyeri selama prosedural pada pasien ventilasi mekanik masih di bawah
40%. Para peneliti telah mengakui bahwa rasa sakit dan nyeri yang tidak memadai adalah
penyebab utama kesulitan fisiologis dan stres emosional. Oleh karena itu, tampaknya
penting untuk mencapai manajemen yang efektif dari analgesik, namun sebelumnya harus
mengukur rasa nyeri dengan cara yang valid dan reliabel (Ahlers S dkk, 2010).
Penilaian skala nyeri dapat dibagi atas pasien yang memiliki kemampuan verbal
dan dapat melaporkan sendiri rasa sakitnya (self reported) dan pasien dengan
ketidakmampuan verbal baik karena terganggu kognitifnya, dalam keadaan tersedasi,
ataupun berada dalam mesin ventilator. Salah satu alat yang paling umum digunakan di
ICU adalah Critical-Care Pain Observation Tool (CPOT), yang telah terbukti dapat
diandalkan dan valid dalam berbagai populasi pasien sakit kritis (Gelinas C dkk, 2006).
Penilaian nyeri yang tepat merupakan bagian penting dari perawatan berkualitas bagi
pasien sakit kritis, dan penggunaan ukuran nyeri yang valid dapat membantu dalam
evaluasi teknik manajemen nyeri multidisiplin untuk pasien sakit kritis nonverbal.

ii
B. Konsep dasar Nyeri
1. Definisi
International Society for the Study of Pain mendefinisikan nyeri sebagai suatu
pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan
kerusakan jaringan aktual maupun potensial atau digambarkan sebagai kerusakan itu
sendiri (Gonce P, Fontaine D, Hudak C, Gallo B, 2012)
Nyeri pada perawatan kritis merupakan sebuah pengalaman subjektif dan
multidimensi. Pengalaman nyeri pada pasien kritis adalah akut dan memiliki banyak
sebab, seperti dari proses penyakitnya, monitoring dan terapi (perangkat ventilasi,
intubasi endotrakheal), perawatan rutin (suction, perawatan luka, mobilisasi),
immobilitas berkepanjangan dan trauma. Nyeri dilaporkan nyeri sedang-berat. Nyeri
yang berkepanjangan dpt mengurangi mobilitas pasien shg bisa menimbulkan emboli
paru dan pneumonia.
2. Komponen nyeri
a. Komponen sensori
Persepsi tentang karakteristik nyeri seperti intensitas, lokasi dan kualitas nyeri
b. Komponen afektif
Termasuk emosi yang negatif seperti keadaan yang tidak menyenangkan,
kecemasan, ketakutan yang dihubungkan dengan pengalaman nyeri.
c. Komponen kognitif
Berkenaan dengan interpretasi nyeri oleh orang berdasarkan pengalamannya.
d. Komponen tingkah laku
Termasuk strategi yang digunakan oleh seseorang untuk mengekspresikan,
menghindari atau mengontrol nyeri.
e. Komponen fisiologis
Berkenaan dengan nociseptif dan respon stres (Urden L, Stacy K, 2010)
3. Jenis-jenis nyeri yang sering dijumpai di bagian gawat darurat
a. Nyeri akut
1) Karakteristik : serangan datang mendadak, terjadi akibat kerusakan jaringan,
durasinya singkat kurang dari 6 bulan, bisa diidentifikasi area nyerinya, tanda dan
gejala objektifnya spesifik seperti takikardi, hipertensi, diaforesis, midriasis dan
pucat, serta timbul kecemasan
2) Penyebab : trauma, pembedahan, prosedur, fraktur, infeksi, pankreatitis

ii
b. Nyeri kronis
1) Karakteristik : nyeri yang menetap selama lebih dari 6 bulan, disertai awitan yang
temporer yang batasnya tidak jelas.
2) Penyebab : artritis, migrain, nyeri pelvis, low back pain
c. Nyeri kanker
1) Karakteristik : nyeri kanker dapat akut, kronik, intermiten atau campuran juga
bisa berupa kombinasi dari berbagai nyeri.
2) Penyebab : Tumor, HIV/AIDS, kemoterapi, terapi radiasi
d. Nyeri neuropathic
1) Karakteristik : digambarkan seperti rasa terbakar, tertusuk seperti sensasi kejut,
atau seperti dijepit. Nyeri ini dibagi menjadi tiga kategori utama yaitu nyeri
deaferentasi akibat kerusakan, nyeri yang melewati jaras simpatis akibat trauma,
nyeri neuropatik perifer pada cedera saraf.
2) Penyebab : lesi primer, disfungsi sistem saraf pusat dan saraf perifer
e. Nyeri Viseral
1) Karakteristik : digambarkan sebagai nyeri konstan, sulit dilokalisasi, dalam atau
meremas-remas dan biasanya mengacu pada sisi kutaneus. Nyeri visera akut dapat
disertai gejala otonom seperti mual muntah.
2) Penyebab : iskemia, oklusi vena, obstruksi usus
f. Nyeri Somatik
1) Karakteristik : digambarkan sebagai nyeri konstan, terlokalisasi, berdenyut, perih
atau tajam.
2) Penyebab : metastase kanker tulang (Kemp C, 2010)
4. Fisiologi nyeri
a. Rasa Nyeri
Rasa Nyeri (Nociception), adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan bagaimana nyeri menjadi disadari. Secara klinis nyeri dapat diberi
label “nosiseptif” jika melibatkan nyeri yang berdasarkan aktivasi dari sistem
nosiseptif karena kerusakan jaringan. Meskipun perubahan neuroplastik (seperti hal-
hal yang mempengaruhi sensitisasi jaringan) dengan jelas terjadi, nyeri nosiseptif
terjadi sebagai hasil dari aktivasi normal sistem sensorik oleh stimulus noksius,
sebuah proses yang melibatkan transduksi, transmisi, modulasi, dan persepsi.
Nyeri karena pembedahan mengalami sedikitnya dua perubahan,
pertama karena pembedahan itu sendiri, menyebabkan rangsang nosiseptif, kedua

ii
setelah pembedahan karena terjadinya respon inflamasi pada daerah sekitar operasi
dimana terjadi pelepasan zat-zat kimia oleh jaringan yang rusak dan sel-sel
inflamasi. Zat-zat kimia tersebut antara lain adalah prostaglandin, histamine,
serotonin, bradikinin, substansi P, leukotrien; dimana zat-zat tadi akan ditransduksi
oleh nosiseptor dan ditransmisikan oleh serabut saraf A delta dan C ke neuroaksis.
Transmisi lebih lanjut ditentukan oleh modulasi kompleks yang
mempengaruhi di medula spinalis. Beberapa impuls diteruskan ke anterior dan
anterolateral dorsal horn untuk memulai respon refleks segmental. Impuls lain
ditransmisikan ke sentral yang lebih tinggi melalui tractus spinotalamik dan
spinoretikular, dimana akan dihasilkan respon suprasegmental dan kortikal. Respon
refeks segmental diasosiasikan dengan operasi termasuk peningkatan tonus otot
lurik dan spasme yang diasosiasikan dengan peningkatan konsumsi oksigen dan
produksi asam laktat. Stimulasi dari saraf simpatis menyebabkan takikardi,
peningkatan curah jantung sekuncup, kerja jantung, dan konsumsi oksigen
miokard. Tonus otot menurun di saluran cerna dan kemih. Respon refleks
suprasegmental menghasilkan peningkatan tonus simpatis dan stimulasi
hipotalamus. Konsumsi dan metabolisme oksigen selanjutnya akan meningkat.
b. Perjalanan nyeri
Ada empat proses yang terjadi pada perjalanan nyeri yaitu transduksi,
transmisi, modulasi, dan persepsi.
1) Transduksi merupakan proses perubahan rangsang nyeri menjadi suatu
aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf sensorik. Rangsang ini
dapat berupa stimulasi fisik, kimia, ataupun panas yang merusak jaringan. Pada
perawatan kritis banyak rangsangan rasa nyeri termasuk kondisi penyakit pasien,
terpasang berbagai alat teknologi yang canggih seperti ventilator, dan banyak
tindakan lain yang harus dijalani oleh pasien. Rangsangan tersebut akan
merangsang pelepasan banyak zat-zat kimia seperti prostaglandin, bradikinin,
serotonin, histamin, glutamate dan zat P.
2) Transmisi adalah proses penyaluran impuls listrik yang dihasilkan oleh proses
transduksi sepanjang jalur nyeri, dimana molekul - molekul di celah sinaptik
mentransmisi informasi dari satu neuron ke neuron berikutnya. Secara umum ada
2 cara bagaimana sensasi nosiceptive dapat mencapai sistem saraf pusat yaitu
melalui traktus neospinotalamikus untuk nyeri cepat yang melalui serat A-delta
dan traktus paleospinotalamikus untuk nyeri lambat yang melalui serat C.

ii
Serabut A-delta mentransmisikan nyeri tajam dan tusukan, sedangkan serat C
menghantarkan sensasi berupa sentuhan, getaran, suhu dan tekanan halus.
3) Modulasi adalah proses modifikasi terhadap rangsang. Modifikasi ini dapat
terjadi pada sepanjang titik dari sejak transmisi pertama sampai ke korteks
serebri. Modifikasi ini dapat berupa augmentasi (peningkatan) ataupun inhibisi
(penghambatan).

4) Persepsi adalah proses terakhir saat stimulasi tersebut sudah mencapai korteks
sehingga mencapai tingkat kesadaran, selanjutnya diterjemahkan dan
ditindaklanjuti berupa tanggapan terhadap nyeri tersebut. (Urden L, Stacy K,
2010)

c. Respon stres Fisiologis


Merupakan sebuah stressor yang diaktifkan oleh nyeri. Respon stres ini melibatkan
sistem saraf, endokrin dan kekebalan tubuh dalam hipotalamo-pituitary-adrenal axis.
Pada kondisi nyeri hipotalamus akan melepaskan mediator kortikotropin (CRF) yang
mengaktifkan sistem saraf simpatis kemudian norepineprin dikeluarkan dari terminal
saraf simpatis dan epineprin dikeluarkan dari saluran luar adrenal. Dampak dari hormon
stres ini menyebabkan pengamatan terhadap respon fisiologis yang terkait dengan
aktivasi sistem saraf simpatis, yaitu sebagai berikut :
• Meningkatnya denyut jantung
• Meningkatnya tekanan darah
• Meningkatnya frekuensi napas
• Dilatasi pupil
• Mual dan muntah
• Pucat

ii
Setelah respon stres diatas, CRF dikeluarkan dari hipotalamus dan merangsang
kelenjar hipofise anterior untuk melepaskan hormon ACTH sedangkan kelenjar
hipofise posterior melepaskan hormon vasopresin dan ADH. ACTH mengaktifkan sal
luar adrenal utk melepaskn hormon aldosteron dan kortisol. Vasopresin dan aldosteron
meningkatkan penyimpanan sodium dan air sehingga volume intravaskuler
meningkat, diuresis menurun sehingga tekanan darah menjadi meningkat. Kortisol
mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan 2 cara : immunosupresi dan pelepasan
sitokin
5. Etiologi dan faktor resiko
a. Kondisi akut
1) Pembedahan (insisi, adanya drain, tube, perangkat keras ortopedi )
2) Trauma (fraktur, laserasi)
3) Kondisi medis (pankreatitis, kolitis ulseratif, migrain)
4) Kondisi psikologis (kecemasan) yang dapat meningkatkan persepsi nyeri,
memperpanjang rasa nyeri dan menurunkan ambang nyeri.
b. Prosedur (suction, paracentesis, pemasangan atau pencabutan kateter)
c. Immobilitas
d. Kondisi nyeri kronis, seperti kondisi muskuloskeletal (artritis, low back pain,
fibromialgia) dan kondisi lainnya (kanker, stroke, neuropati diabetikum)
(Alspach J, 2006)
6. Tanda dan gejala
Respon manusia terhadap rasa nyeri bisa terjadi dari keduanya baik fisik dan emosional.
respon fisiologis terhadap nyeri adalah hasil dari aktivasi hipotalamus dari sistem saraf
simpatik yang berhubungan dengan respon stres. aktivasi simpatik menyebabkan:
a. Perpindahan darah dari pembuluh darah yang dangkal ke otot, jantung, paru-paru dan
sistem saraf
b. Dilatasi bronkhial untuk meningkatkan oksigenasi
c. Meningkatkan kontraktilitas jantung
d. Menghambat sekresi dan kontraksi lambung
e. Meningkatkan sirkulasi gula darah untuk energi
Tanda dan gejala aktivasi simpatik sering menyertai nosisepsi dan nyeri:
a. Meningkatnya denyut jantung
b. Meningkatnya tekanan darah
c. Meningkatnya frekuensi napas
ii
d. Dilatasi pupil
e. Mual dan muntah
f. Pucat
Pada pasien sakit kritis ekspresi nyeri bisa secara verbal maupun non verbal sebagai
berikut:
Isyarat Verbal Isyarat Wajah Gerakan tubuh
Mengerang Meringis Splinting
Menangis Mengernyit Menggosok
Menjerit Sinyal mata Mengayun
Diam gerakan rhytmic ekstremitas.
gemetar atau menekan rel tempat tidur.
meraih lengan perawat
Sumber : (Chulay M, Burns S, 2006)
7. Pengkajian nyeri
Menurut American Pain Society, kegagalan staf untuk secara rutin mengkaji nyeri
dan peredaan nyeri adalah alasan yang paling umum untuk nyeri yang tidak reda pada
pasien yang dirawat di rumah sakit. Pengkajian nyeri sama pentingnya dengan metode
terapi. Nyeri pasien harus dikaji pada interval teratur untuk menentukan keefektifan terapi,
munculnya efek samping, kebutuhan penyesuaian dosis, atau kebutuhan akan dosis
tambahan guna mengatasi nyeri akibat prosedur. Nyeri harus dikaji ulang pada interval
yang tepat setelah pemberian obat nyeri atau intervensi lainnya, seperti 30 menit setelah
dosis morfin IV.
Dalam perawatan kritis, berbagai kondisi bisa menyertai sehingga pengkajian nyeri
pasien dan terapi lanjutannya sulit dilakukan. Kondisi ini meliputi :
• Penurunan kesadaran
• Terpasang ventilator
• Intubasi endotrakheal
• Pengaruh obat sedasi
• Kaum lansia dan anak-anak
• Pengaruh Budaya
• Kurangnya pengetahuan
Kesalahan yang umum terjadi di kalangan profesional perawatan kesehatan adalah bahwa
mereka yang paling berkualifikasi untuk menentukan adanya dan keparahan nyeri pasien. Tidak
adanya tanda fisik atau perilaku seringkali salah diinterpretasikan sebagai tidak ada nyeri. Agar

ii
dapat melakukan pengkajian nyeri yang efektif, perawat perawatan kritis harus mendapatkan
laporan diri pasien. Pengamatan perilaku dan perubahan parameter fisik harus dipertimbangkan
dengan laporan diri pasien.
a. Laporan diri pasien
Karena nyeri adalah pengalaman subjektif, laporan diri pasien adalah sumber
informasi yang paling andal mengenal adanya nyeri dan intensitasnya. Laporan diri
pasien harus diperoleh tidak hanya pada saat intirahat, namun selama aktifitas rutin,
seperti pada saat batuk, napas dalam dan miring. Apabila pasien dapat berkomunikasi
perawat perawatan kritis harus menerima gambaran nyeri pasien sebagai sesuatu yang
valid. Dalam mengkaji kualitas nyeri, perawat harus mendapatkan gambaran verbal
spesifik mengenai nyeri pasien misalnya seperti “terbakar”, “remuk”, “tertusuk”,
“tumpul” atau “tajam” dengan teknik PQRSTU,yaitu :
• P : Provokatif/ Paliatif
• Q : Quality
• R : Region/ Radiation
• S : Severity
• T : Timing
• U : Understanding/ Pemahaman tentang nyeri
b. Observasi
Pasien yang mengalami nyeri dapat memperlihatkan manifestasi perilaku khusus.
Perilaku perlindungan seperti guarding, menarik diri, dan menghindari gerakan akan
melindungi pasien dari stimulus yang menimbulkan nyeri. Upaya yang dilakukan oleh
pasien untuk meredakan nyeri seperti menggosok daerah nyeri, mengganti posisi atau
meminta obat pereda nyeri adalah perilaku paliatif. Menangis, merengek atau menjerit
adalah perilaku afektif dan menggambarkan respon emosional terhadap nyeri.
Pasien yang tidak dapat bicara dapat menggunakan ekspresi wajah atau mata,
gerakan tangan atau tungkai untuk menyatakan nyerinya. Kegelisahan atau agitasi dapat
terlihat pada pasien yang tidak dapat memberikan respon. Masukan dari keluarga dapat
membantu menginterpretasikan manifestasi perilaku nyeri yang spesifik berdasarkan
pengetahuan mereka terhadap perilaku nyeri pasien sebelum dirawat di rumahsakit.
c. Parameter Fisiologis
Perawat perawatan kritis terampil dalam mengkaji status fisik pasien yang
meliputi perubahan tekanan darah, frekuensi jantung atau pernapasan. Oleh karena itu
masuk akal apabila observasi terhadap efek fisiologis nyeri akan membantu pengkajian
ii
nyeri. Akan tetapi, pada pasien yang sakit kritis, mungkin sulit menghubungkan
perubahan fisiologis ini secara khusus dengan nyeri bukan penyebab lainnya.
Kadangkala terdapat perbedaan antara laporan diri pasien dengan manifestasi
perilaku dan fisiologis. Sebagai contoh, satu orang pasien dapat melaporkan nyeri
bernilai 2 dari 10, sementara ia mengalami takikardi, diaforesis, dan splinting
pernapasan. Pasien yang lain dapat memberikan laporan diri 8 dari 10 sambil
tersenyum. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh penggunaan aktivitas pengalihan,
keterampilan koping, kepercayaan mengenai nyeri, latar belakang budaya, ketakutan
akan kecanduan, atau takut menyusahkan staf keperawatan (Gonce P, Fontaine D,
Hudak C, Gallo B, 2012)
8. Pengukuran intensitas nyeri

Nyeri dinilai berdasarkan tingkah laku manusia, yang secara kultur mempengaruhi,
sehingga latar belakang mempengaruhi ekspresi dan pemahaman terhadap nyeri.
Nyeri merupakan respon fisiologis terhadap kerusakan jaringan dan juga mempengaruhi
respon emosional dan tingkah laku berdasarkan pengalaman nyeri seseorang dimasa lalu
dan persepsi terhadap nyeri.
Definisi nyeri sendiri dalam asuhan keperawatan adalah ketika seseorang merasakan
nyeri dan menyatakannya. Perhatian harus diberikan kepada pasien yang tidak
mampu berkomunikasi secara verbal. Persepsi dan interpretasi terhadap input nosiseptif,
respon emosional terhadap persepsi (misal, depresi, takut, cemas, dan menderita), dan
tingkah laku sebagai respon terhadap emosi dan persepsi yang menuntun observer untuk
yakin bahwa seseorang sedang merasakan nyeri (misal, mengeluhkan nyeri, meringis).
Persepsi nyeri kelihatannya sama pada berbagai suku akan tetapi batas ambang nyeri
berbeda antara suku atau ras.
Penilaian skala nyeri dapat dibagi atas pasien yang memiliki kemampuan verbal
dan dapat melaporkan sendiri rasa sakitnya (self reported) dan pasien dengan
ketidakmampuan verbal baik karena terganggu kognitifnya, dalam keadaan tersedasi,
ataupun berada dalam mesin ventilator.
a. Skala nyeri verbal (Self Reported)
Ada beberapa skala nyeri yang dapat digunakan. Pada umumnya skala ini
dibagi atas skala kategorik (tidak sakit, sakit ringan, sakit sedang, dan sakit berat).
Ataupun penggunaan skala yang digambarkan sebagai garis horizontal atau vertikal
yang ujung-ujungnya diberi nilai “0” menandakan tidak ada nyeri dan “10”
menandakan nyeri yang hebat.

ii
1) Verbal Rating Scale
Verbal Rating Scale terdiri dari beberapa nomor yang menggambarkan tingkat
nyeri pada pasien. Pasien ditanya bagaimana sifat dari nyeri yang dirasakannya.
Peneliti memilih nomor dari skor tingkat nyeri tersebut dari apa yang dirasakan
pasien. Skor tersebut terdiri dari empat poin yaitu :
• 0 = Tidak ada nyeri atau perasaan tidak enak ketika ditanya
• 1 = Nyeri yang ringan yang dilaporkan pasien ketika ditanya
• 2 = Nyeri sedang yang dilaporkan pasien ketika ditanya
• 3 = Nyeri dihubungkan dengan respon suara, tangan atau lengan tangan, wajah
merintih atau menangis
Keempat poin ini secara luas digunakan oleh klinisi untuk menentukan tingkat
kebenaran dan keandalan. Untuk pasien yang memiliki gangguan kognitif,
skala nyeri verbal ini sulit digunakan.
2) Visual Analogue Scale
Cara lain untuk menilai intensitas nyeri yaitu dengan menggunakan Visual
Analog Scale (VAS). Skala berupa suatu garis lurus yang panjangnya biasaya 10
cm (atau 100 mm), dengan penggambaran verbal pada masing-masing ujungnya,
seperti angka 0 (tanpa nyeri) sampai angka 10 (nyeri terberat). Nilai VAS 0 - <4
= nyeri ringan, 4 - <7 = nyeri sedang dan 7-10 = nyeri berat.

3) Wong Baker Faces Pain Scale


Banyak digunakan pada pasien pediatrik dengan kesulitan atau keterbatasan
verbal. Dijelaskan kepada pasien mengenai perubahan mimik wajah sesuai rasa nyeri
dan pasien memilih sesuai rasa nyeri yang dirasakannya.

Gambar 4 Wong Baker


ii Faces Pain Scale
b. Skala Nyeri Non Verbal

Biasanya digunakan untuk pasien yang mengalami limitasi verbal baik karena
usia, kognitif, maupun karena berada dibawah pengaruh obat sedasi dan di dalam mesin
ventilator. Berdasarkan guidelines yang dikeluarkan AHCPR tahun 1992 menyatakan
penggunaan baik fisiologis dan respon tingkah laku terhadap nyeri untuk dilakukan
penilaian ketika self-report tidak bisa dilakukan
1) Skala FLACC
Skala ini merupakan skala perilaku yang telah dicoba pada anak usia 3-7
tahun. Setiap kategori (Faces, Legs,Activity, Cry, dan Consolability) diberi nilai 0-2
dan dijumlahkan untuk mendapatkan total 0-10

2) Behavioral Pain Scale


Penggunaan indikator tingkah laku dan fisiologis untuk menilai nyeri pada
pasien dewasa yang tidak responsif, tidak komunikatif telah dikemukakan oleh
Payen pada tahun 2001. Payen membandingkan prospektif 30 pasien yang berada
dalam mekanikal ventilator yang mendapat sedasi dan analgesi. BPS digunakan
untuk menilai rasa nyeri yang dialami pasien pada prosedur yang menyakitkan
seperti tracheal suctioning ataupun mobilisasi tubuh. Skala ini sudah divalidasi.
BPS terdiri dari tiga penilaian, yaitu ekspresi wajah, pergerakan ekstremitas, dan
komplians dengan mesin ventilator. Setiap subskala diskoring dari 1 (tidak ada
respon) hingga 4 (respon penuh). Karena itu skor berkisar dari 3 (tidak nyeri)
hingga 12 (nyeri maksimal).
ii
Skor BPS sama dengan 6 atau lebih dipertimbangkan sebagai nyeri yang tidak
dapat diterima (unacceptable pain).
I Description Score
t
Facial expression
e Relaxed 1
m Partially tightened 2
Fully tightened 3
Grimacing 4
Upper Limbs No movement 1
Partially bent 2
Fully bent with finger flexion 3
Permanently retracted 4
Compliance with Tolerating movement 1
ventilation
Coughing but tolerating ventilation 2
for most of the time

Fighting ventilator 3
Unable to control ventilation 4
Total 3 to 12

(Sumber : Urden L, Stacy K, 2010)


3) Colorado Behavioral Numerical Pain Scale (CBNPS)
CBNPS dikembangkan dari skala BPS oleh Salmore tahun 2002 untuk menilai
nyeri pada pasien yang tersedasi yang menjalani pemeriksaan saluran cerna, baik
endoskopi maupun kolonoskopi. Rasa nyeri pasien dinilai dengan skala yang lebih
mudah, tanpa harus menggunakan ekspresi verbal. Skala CBNPS dibentuk
berdasarkan keadaan yang dinilai sesuai dengan penilaian nyeri oleh Agency of
Health Care (USA) tahun 1992. CBNPS menilai tingkah laku yang dideskripsikan
dengan skala 0-5, yang berkorelasi dengan peningkatan nyeri. Pada penelitian
Salmore juga dikemukakan persamaan skor dalam numerik, dengan nilai 0 tidak ada
nyeri hingga 5 yaitu nyeri hebat
SKOR TINGKAH LAKU
0 Rileks, tidak ada ekspresi wajah
1 Mengeluh, mengerutkan dahi, gelisah/tidak tenang
2 Wajah meringis, memproteksi posisi tubuh
3 Menangis, Resistif
4 Menjerit, melempar sesuatu
5 Melawan

ii
4) Four score

Petunjuk kategori pengkajian individu dengan menggunakan 4 skor, yaitu:


a. Respon mata, tingkat respon terbaik setidaknya setelah 3 percobaan dalam upaya
untuk memperoleh tingkat kesadaran terbaik.
• E4 : jika mata tertutup, pemeriksa harus membukanya dan memeriksa
dengan penelusuran jari atau benda. 1 kelopak mata membuka akan cukup
dalam kasus kelopak mata edema trauma wajah. jika tidak ada penelusuran
horizontal, penelusuran vertikal periksa. berkedip apabila di perintah harus
didokumentasikan. Hal ini berarti pasien sadar sepenuhnya.
ii
• E3 : menunjukkan kelopak mata terbuka tapi tidak tidak ada tracking
• E2 :menunjukkan kelopak mata terbuka dengan suara yang keras
• E1 : menunjukkan kelopak mata terbuka dengan rangsangan nyeri
• E0 :menunjukkan kelopak mata tidak terbuka walaupun dengan
rangsangan nyeri
b. Respon motorik, tingkatan respon terbaik dari lengan
• M4 : menunjukkan bahwa pasien menunjukkan setidaknya 1 dari 3 posisi
tangan (acungan jempol, kepalan tangan atau peace sign) dengan kedua tangan
• M3 : menunjukkan bahwa pasien menyentuh tangan pemeriksa setelah
diberikan rangsangan nyeri dengan menekan sendi temporomandibular atau
saraf supraorbital (dapat melokalisasi nyeri).
• M2 :menunjukkan respon fleksi tungkai atas terhadap nyeri
• M1 :menunjukkan ekstensi tungkai
• M0 :tidak ada respon terhadap nyeri atau mioklonus status epileptikus
c. Refleks Brainstem, tingkat respon terbaik. Dengan memeriksa refleks pupil dan
kornea. Refleks kornea di tes dengan meneteskan 2-3 tetes cairan steril pada kornea
dengan jarak 4-6 inchi, cotton swab bisa dipergunakan. Refleks batuk pada
pengisapan trakhea di tes hanya ketika refleks pupil dan kornea tidak ada.
• B4 : menunjukkan refleks pupil dan kornea ada, baik
• B3 : menunjukkan salah satu pupil lebar dan tetap
• B2 : menunjukkan salah satu refleks tidak ada, refleks pupil atau kornea
• B1 :refleks pupil dan refleks kornea tidak ada
• B0 : refleks pupil, refleks kornea dan refleks batuk (yang menggunakan
pengisapan trakhea) tidak ada
d. Respirasi, memastikan pola pernapasan spontan pada pasien tidak terintubasi.
• R4 : Tidak terintubasi, pola napas reguler
• R3 : Tidak terintubasi, pola napas cheyne-stokes
• R2 : Tidak terintubasi, pola napas irreguler
• R1 : bernafas dengan menggunakan ventilator, namun PaCO2 masih dalam
batas normal
• R0 : bernafas dengan menggunakan ventilator atau apneua
(Mayo, 2005)

ii
5) Critical-Care Pain Observation Tool (CPOT)
Salah satu alat yang paling umum digunakan di ICU adalah Critical-Care Pain
Observation Tool (CPOT), yang telah terbukti dapat diandalkan dan valid dalam
berbagai populasi pasien sakit kritis. Alat ini memerlukan evaluasi dari 4 kategori
berikut:
Indikator Skor Deskripsi
Ekspresi wajah Rileks, netral 0 Tidak terlihat adanya ketegangan
otot
Tegang 1 Merengut, menurunkan alis
Meringis 2 semua gerakan wajah sebelumnya
ditambah kelopak mata tertutup
rapat (pasien bisa juga dengan
mulut terbuka atau menggigit
tabung endotrakeal)
Gerakan tubuh Adanya gerakan 0 tidak bergerak sama sekali (tidak
atau posisi selalu berarti tidak adanya rasa
normal sakit) atau posisi normal (gerakan
tidak ditujukan terhadap adanya
lokasi nyeri atau tidak dibuat untuk
tujuan perlindungan)
Gerakan 1 lambat, gerakan hati-hati,
perlindungan menyentuh lokasi nyeri, mencari
perhatian melalui gerakan
Gelisah 2 menarik tabung, mencoba untuk
duduk, bergerak badan atau
meronta-ronta, tidak mengikuti
perintah, mencoba untuk bangun
dari tempat tidur
Kepatuhan Toleran terhadap 0 Alarm tidak aktif, ventilasi mudah
dengan ventilator dan
ventilator gerakan
(pasien Batuk tapi masih 1 Batuk, alarm mungkin aktif tapi
diintubasi) toleran berhenti secara spontan
Melawan 2 Tidak sinkron : blocking ventilasi,
ventilator alarm aktif secara terus menerus
vokalisasi Berbicara dengan 0 Berbicara dengan nada normal atau
(pasien nada normal atau tidak ada suara
diekstubasi). tidak ada suara
Mendesah, 1 Mendesah, mengerang
mengerang
Menangis 2 Menangis terisak-isak
terisak-isak
Ketegangan otot Rileks 0 Tidak resisten terhadap gerakan
pasif
Tegang 1 Resistan terhadap gerakan pasif
Sangat tegang 2 Resisten kuat terhadap gerakan
pasif

ii
Skor 0-2 untuk setiap kategori, tergantung pada tingkat respon pasien. Total skor
maksimum adalah 8. Penilaian nyeri yang tepat merupakan bagian penting dari perawatan
berkualitas bagi pasien sakit kritis, dan penggunaan ukuran nyeri yang valid dapat
membantu dalam evaluasi teknik manajemen nyeri multidisiplin untuk pasien sakit kritis
nonverbal (Gelinas C dkk, 2006).
Keterbatasan dari banyak alat penilaian perilaku nyeri (seperti CPOT) adalah perlunya
perhatian khusus pada setiap gerakan, sehingga penting bagi perawat untuk hati-hati
mengevaluasi setiap kemampuan pasien untuk menunjukkan perilaku yang diperlukan dalam
penilaian.
ALGORITMA PENGKAJIAN NYERI DENGAN CPOT

Pasien dengan kecurigaan


nyeri

ya
Pernyataan nyeri Kemampuan komunikasi Tanyakan skala nyeri
baik

Tdk dpt
dikaji Kemampuan
Tanyakan nyeri/tidak
komunikasi kurang
Pernyataan dengan CPOT
≤2

≥2 Nyeri (-)

Berikan analgesik

Puncak efek obat

Pengkajian dengan CPOT Penurunan skor ≤ 2


Pertimbangkan
Penurunan skor ≥ 2 alternative terapi lain

Terapi efektif

9. Manajemen nyeri
Perawat berperan penting dalam memberikan peredaan nyeri. Meskipun intervensi
farmakologis adalah strategi yang paling sering digunakan, penatalaksanaan keperawatan
terhadap nyeri juga mencakup tindakan fisik, kognitif dan perilaku. Selain memberikan
obat-obatan atau memberikan terapi alternatif, peran perawat meliputi mengukur respon

ii
pasien terhadap terapi tersebut. Karena nyeri dapat berkurang atau pola nyeri dapat
berubah, penyesuaian terapi perlu dilakukan sebelum terlihat perbaikan.
Panduan umum untuk intervensi keperawatan pada peredaan nyeri yaitu:
• Lakukan pengkajian nyeri yang sistematik pada semua pasien yang sakit kritis
• Kaji ulang kebutuhan akan dosis aman analgesik
• Apabila pasien mengalami kondisi atau prosedur yang diperkirakan menimbulkan nyeri,
dan laporan pasien tidak bisa diperoleh anggap nyeri itu ada dan atasi nyeri tersebut
• Ingatlah bahwa pasien sakit kritis yang tidak sadar, dibawah pengaruh obat bius, atau
mendapatkan blokade neuromuskular sangat beresiko mengalami nyeri yang
penanganannya tidak adekuat
• Cegah nyeri dengan mengatasinya terlebih dahulu
• Apabila pasien sering atau mengalami nyeri yang kontinyu berikan analgesik melalui
infus intravena kontinyu atau 24 jam bukan sesuai kebutuhan.
a. Intervensi Farmakologi
1) Analgetik Non opioid
Menurut American Pain Society Guidelines, tiap regimen analgesik harus
mencakup obat-obatan non opioid, bahkan apabila nyeri cukup berat sehingga juga
membutuhkan oipiod. Asetaminofen adalah obat yang paling sering digunakan pada
perawatan kritis. Ketika digunakan dengan opioid, obat ini menghasilkan efek yang
lebih besar dibandingkan dengan opioid tunggal. Selain memberikan analgesia
ringan, asetaminofen adalah antipiretik efektif, namun menmpunyai potensi
menyebabkan kerusakan hati. Dosisnya harus dibatasi sampai maksimum 2 gr per
hari apabila pasien memiliki riwayat, atau berpotensi tinggi mengalami kerusakan
hati.
2) Opioid
Opioid adalah landasan farmakologis penatalaksanaan nyeri pascaoperatif.
Opioid meredakan nyeri karena berikatan dengan berbagai tempat reseptor dalam
medula spinalis, sistem saraf pusat, dan sistem saraf perifer sehingga mengubah
persepsi nyeri. Menurut Society of Critical Care Medicine morfin sulfat, fentanil,
dan hidromorfin adalah agens pilihan apabila diperlukan opioid IV. Opioid lain yang
digunakan adalah kodein, oksikodan, dan metadon.
Pemberian opioid IV secara kontinu memberikan banyak keuntungan bagi
pasien sakit kritis, khususnya mereka yang mempunyai masalah untuk menyatakan

ii
nyerinya karena perubahan tingkat kesadaran atau terpasang slang endotrakhea. Infus
IV kontinu mudah dimulai dan mempertahankan kadar obat dalam serum secara
konsisten. Untuk infus opioid IV kontinu, fentanil dan morfin paling sering
digunakan karena waktu paruh eliminasinya pendek. Sebelum memulai infus IV
kontinu, dosis muatan IV awal diberikan untuk mencapai kadar serum yang optimal.
Pemberian dosis dan titrasi yang tepat harus sesuai pasien, dan hal ini dapat sulit
dilakukan karena banyak pasien sakit kritis yang menderita disfungsi hati atau ginjal
yang menyebabkan penurunan metabolisme opioid. Kerugian dari infus IV kontinu
adalah nyeri yang terjadi selama prosedur mungkin tidak dapat ditangani kecuali
diberikan injeksi bolus IV tambahan.
Opioid menyebabkan efek samping yang tidak diharapkan seperti konstipasi,
retensi urine, sedasi, depresi pernapasan dan mual. Efek samping tersebut mewakili
kekurangan utama dari penggunaan opioid. Cara penanganannya adalah dengan
mengurangi dosis opioid, menghindari pemberian dosis sesuai kebutuhan,
menambahkan AINS ke dalam rencana penatalaksaan nyeri.
Obat Dosis Dosis Keterangan Peringatan
Oral IM/IV
(mg) (mg)
Morfin 30 10 Dianggap standar Gunakan dengan hati-hati
emas pada kerusakan ventilasi.
perbandingan Tidak dianjurkan pada
opioid. Tersedia ketidakstabilan
dalam bentuk oral hemodinamik atau
lepas-lama, sekali insufisiensi ginjal
sehari dan rektal
Fentanil 0,1 Obat pilihan Pada bentuk transdermal
untuk awitan tertunda 12 sampai 24 jam
cepat analgesia untuk mencapai efek
pada pasien yang puncak, demam dapat
mengalami meningkatkan dosis dan
distress akut laju penyerapan
Hydromorfin 7,5 1,5 Lebih paten dan
durasinya sedikit
lebih singkat
dibandingkan
morfin
Meferidin 300 75 Kerjanya lebih Metabolit toksik
singkat terakumulasi yang
dibandingkan menyebabkan eksitasi SSP
morfin
Metadon 20 10 Potensi oral baik, Terakumulasi dengan dosis
waktu paruh ulang yang menyebabkan

ii
panjang (24-36 sedasi yang berlebihan.
jam)
Oksikodon 20-30 Sebagai entitas Pemeberian dosis harus
tunggal disesuaikan dengan pasien
bermanfaat untuk karena tingginya
nyeri hebat variabilitas farmakokinetik
Sumber : Gonce P, Fontaine D, Hudak C, Gallo B, 2012

3) Antagonis opioid
Apabila terjadi depresi pernapasan serius, nalokson suatu antagonis opioid
murni yang membalik efek opioid dapat diberikan. Dosis nalokson dititrasi hingga
mencapai efeknya yang berarti membalik sedasi yang berlebihan dan depresi
pernapasan bukan membalik analgesia. Nalokson harus diencerkan (0,4 mg dalam 10
ml salin) dan diberika melalui IV secara perlahan. Pemberian obat yang terlalu cepat
atau terlalu banyak dapat menyebabkan nyeri hebat, gejala putus zat, takikardi,
disritmia, dan henti jantung. Setelah memberikan nalokson terus lakukan
pengamatan terhadap pasien dengan ketat untuk mengetahui apakah terjadi sedasi
yang berlebihan dan depresi pernapasan karena waktu paruh nalokson lebih pendek
dari kebanyakan opioid (1,5 sampai 2 jam).
4) Sedasi dan Ansiolisis
Nyeri akut sering kali disertai dengan kecemasan dan kecemasan dianggap
meningkatkan persepsi nyeri pasien. Ketika menangani nyeri akut ansiolitik dapat
digunakan untuk melengkapi analgesia dan meningkatkan kenyamanan pasien secara
menyeluruh. Hal ini merupakan pertimbangan penting khususnya sebelum dan
selama prosedur yang menimbulkan nyeri.
Tabel perbandingan sedatif yang umum digunakan pada perawatan kritis
Agens Anjuran pemakaian Awitan (IV) Efek merugikan yang khas
Diazepam Untuk sedasi cepat pada 2-5 menit Flebitis
pasien agitasi akut
Lorazepam Untuk sedasi jangka 5-20 menit Asidosis atau gagal ginjal
panjang pada kebanyakan pada dosis tinggi
pasien melalui infus
interniten atau kontinu
Midazolam Untuk sedasi sadar atau 2-5 menit Terjaga lama dan
sedasi cepat pada pasien penundaan penyapihan dari
agitasi akut hanya untuk ventilator, apabila
pemakaian jangka pendek digunakan jangka panjang
Propofol Sedatif pilihan apabila 1-2 menit Nyeri pada tempat injeksi
pasien perlu terjaga dan peningkatan trigliserida
dengan cepat
Sumber : Gonce P, Fontaine D, Hudak C, Gallo B, 2012

ii
b. Tindakan Non farmakologi
1) Modifikasi Lingkungan
Pada perawatan kritis, intervensi non farmakologis paling dasar dan masuk
akal adalah modifikasi lingkungan. Kebisingan dan cahaya berlebihan di ICU dapat
mengganggu tidur dan meningkatkan kecemasan dan kegelisahan yang kemudian
menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan. Oleh karena itu asuhan harus
direncanakan terlebih dahulu guna meminimalkan kebisingan dan gangguan selama
jam tidur normal dan menciptakan suatu pola cahaya yang meniru pola siang-malam
yang normal. Earphone, dengan musik pilihan pasien dan sumbat telinga juga
dianjurkan digunakan di ICU.
2) Distraksi
Distraksi membantu pasien mengalihkan perhatian mereka dari sumber nyeri
atau ketidaknyamanan ke hal-hal yang lebih menyenangkan. Mengawali sebuah
percakapan dengan pasien selama suatu prosedur yang tidak nyaman, menonton
televisi, dan kunjungan keluarga semuanya adalah sumber distraksi yang sempurna.
3) Teknik Relaksasi
Latihan relaksasi melibatkan fokus berulang pada kata, frase, doa, atau
aktivitas muskular dan upaya sadar untuk menolak pikiran lain yang menyusup.
Relaksasi dapat memberikan rasa kendali pada pasien terhadap bagian tubuh
tertentu. Kebanyakan metode relaksasi membutuhkan lingkungan yang tenang,
posisi yang nyaman, sikap yang pasif, dan konsentrasi. Tiga hal tersebut merupakan
tantangan untuk dapat diterapkan di ICU.
4) Sentuhan
Sejak dahulu salah satu kontribusi terhebat yang diberikan perawat adalah
dalam memberikan kenyamanan dan perhatian terhadap kehadiran dan sentuhan.
Kontribusi ini masih mempunyai tempat penting di ICU dengan teknologi canggih
saat ini. Perawat saat menggunakan sentuhan biasanya berusaha menyampaikan
pemahaman, dukungan, kehangatan, kepedulian dan kedekatan dengan pasien.
Sentuhan mempunyai pengaruh positif terhadap kemampuan persepsi dan kognitif
dan dapat mempengaruhi parameter fisiologis seperti pernafasan dan aliran darah.
5) Masase
Masase permukaan mengawali respons relaksasi dan terbukti meningkatkan
jumlah tidur pada pasien ICU. Meskipun punggung adalah tempat masase yang
paling sering digunakan, punggung seringkali sulit diakses pada pasien ICU. Tangan,
ii
kaki dan bahu juga merupakan tempat yang baik untuk masase. Masase adalah
intervensi yang sempurna yang dapat digunakan anggota keluarga guna memberikan
kenyamanan bagi orang yang sakit kritis.
(Gonce P, Fontaine D, Hudak C, Gallo B, 2012)
10. Penatalaksaan nyeri pada populasi khusus
a. Pertimbangan untuk pasien pediatrik yang mengalami nyeri
1) Nyeri yang dialami pada bayi baru lahir bisa mempunyai pengaru jangka panjang
pada persepsi dan perilaku nyeri di masa yang akan datang
2) Karena keterbatasan kemampuan mereka untuk berkomunikasi, anak yang sakit
kritis sebaiknya tidak dibatasi untuk mendapatkan obat-obatn nyeri hanya sesuai
kebutuhan
3) Analgesik intramuskular tidak boleh digunakan pada anak yang terpasang jalur IV
yang berfungsi
4) Dosis analgesik harus didasarkan pada berat badan anak bukan berdasarkan usia
5) Banyak anak yang menyangkal nyeri karena mereka takut disuntik atau takut jarum
6) Orangtua harus didorong untuk memberikan dukungan pada anak merka selama
prosedur yang menimbulkan nyeri
b. Pertimbangan untuk pasien lansia yang mengalami nyeri
1) Penyakit kronis yang menyebabkan nyeri seringkali meningkatkan nyeri akut akibat
sakit kritis pada pasien lansia
2) Artritis, penyebab nyeri kronis yang paling sering pada pasien lansia, seringkali
mengganggu punggung, pinggang, lutut dan bahu yang meningkatkan nyeri pada
saat mengubah posisi di ICU
3) Beberapa pasien lansia dapat mengalami keadaan yang menimbulkan nyeri akut
seperti infark miokardium atau apendisitis tanpa adanya nyeri
4) Pemberi perawatan di keluarga dapat membantu mengkaji nyeri pada pasien lansia
yang mengalami hambatan kognitif atau bahasa
5) Pasien lansia sangat peka terhadap opioid yang dapat mencapai konsentrasi puncak
yang lebih tinggi dan durasi yang lebih lama
6) Meperidin, pentazosin, propoksifen dan metadon tidak boleh digunakan untuk
mengatasi nyeri pada lansia
7) Pasien lansia sering mengalami peningkatan kebutuhan akan sentuhan yang
bermakna selama episode kritis.
(Gonce P, Fontaine D, Hudak C, Gallo B, 2012)

ii
C. Nyeri di area kritis
1. Pendahuluan
Nyeri merupakan masalah penting pada pasien yang dikelola pada unit perawatan
kritis (ICU). Dalam studi terbaru 49-64% pasien melaporkan sakit parah. Namun, hanya
14,9% tidak puas dengan manajemen nyeri yang mereka terima. International Society for
the Study of Pain mendefinisikan nyeri sebagai 'pengalaman sensorik dan emosional yang
tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial,
atau yang dapat digambarkan dalam hal kerusakan tersebut'. Oleh karena itu, persepsi
nyeri dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kepribadian, latar belakang budaya,
lingkungan yang tidak dikenalnya dan ketakutan. Hal ini membuat penilaian nyeri sulit,
terutama dalam ICU karena pasien dapat dibius, diintubasi, takut, bingung atau pada usia
lansia.
Pasien di area perawatan kritis (ICU dan HCU) mungkin memiliki rasa sakit tidak
hanya timbul dari penyakit utama mereka tetapi juga dari prosedur terapi (misalnya
suction, endotrakeal). Tidur yang terganggu dan kecemasan dapat meningkatkan persepsi
nyeri dan imobilitas berkepanjangan dapat menyebabkan nyeri sendi, kontraktur atau ulkus
dekubitus. Kegagalan untuk mengatasi rasa sakit secara efektif dapat mengakibatkan
peningkatan dorongan simpatik menyebabkan ketidakstabilan kardiovaskular,
vasokontriksi, atelektasis basal, peningkatan konsumsi oksigen dan iskemia jaringan
(Chong C & Burchett K, 2003).
Nyeri merupakan diagnosa yang sering pada perawatan kritis sehingga harus
menjadi perhatian dan tanggungjawab perawat profesional untuk mengatur nyeri pasien
dengan efektif. Perawat di perawatan kritis harus memahami mekanisme nyeri, proses
pengkajian nyeri dan pengukuran intensitas nyeri yang tepat agar manajemen nyeri dapat
berjalan dengan baik.
2. Alat Pengkajian yang digunakan di ruang ICU
Disarankan bahwa laporan diri pasien tentang nyeri harus diperoleh sesering mungkin
sebagai "standar emas." Sayangnya dalam perawatan kritis, banyak faktor yang dapat
mengubah komunikasi verbal dengan pasien, membuat pengkajian terhadap lebih sulit.
Kemajuan ilmiah dalam memahami mekanisme nyeri, metode multidimensi penilaian nyeri,
dan farmakologi analgesik telah meningkatkan strategi manajemen nyeri. Namun,
penilaian nyeri untuk pasien nonverbal dalam perawatan kritis terus menyajikan tantangan
bagi dokter dan peneliti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan Penilaian
Nyeri dengan (PAINAD) dan CPOT skor untuk penilaian pada pasien perawatan kritis
ii
nonverbal. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan penilaian nyeri menggunakan
skala PAINAD dan CPOT skor untuk menilai nyeri pasien nonverbal dalam perawatan
kritis. Penelitian lebih lanjut dalam penilaian nyeri untuk pasien nonverbal dalam
perawatan kritis diperlukan (Paulson C M ; Leske J ; Maidl C ; Hanson A ; Dziadulewicz
L, 2010).
Gelinas dkk (2011) mengevaluasi sebelum dan sesudah pelaksanaan CPOT pada
penilaian nyeri/ manajemen praktik keperawatan di Unit Perawatan Intensif ( ICU ) di
Kanada dengan pasien orang dewasa nonverbal yang sakit kritis. Semua perawat ICU
dilatih untuk menggunakan CPOT tersebut. dipilih jika pasien adalah 18 tahun atau lebih ,
telah menggunakan ventilasi mekanik untuk jangka waktu ≥ 24 jam, tidak mampu
berkomunikasi , dan memiliki fungsi motorik utuh. Dilaksanakan melalui tiga langkah : 1 )
tahap pra - pelaksanaan , 2 ) tahap implementasi , dan 3 ) fase pasca - implementasi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa CPOT ini berhasil dilaksanakan dan tampaknya
memiliki efek positif pada penilaian nyeri dan praktik keperawatan manajemen nyeri
dalam ICU. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat dampaknya terhadap hasil
pasien.
Nyeri di unit perawatan intensif merupakan masalah yang sering dan sering tidak
terorganisir dengan baik, terutama karena alat penilaian nyeri yang tepat untuk pasien non
komunikatif masih sulit. CPOT saat ini dianggap sebagai salah satu skala terbaik, baik
untuk sifat psikometrik dan kelayakan klinis. Stefani dkk (2011) menganalisis reliabilitas
dan validitas dari CPOT di rumah sakit, dan kelayakan klinis. Penelitian ini dilakukan oleh
50 anggota staf keperawatan dari tiga perawatan kritis yang berbeda dari Rumah Sakit
Vicenza memberikan penilaian CPOT pada 121 pasien, saat istirahat dan setelah kegiatan
perawatan biasa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa CPOT menunjukkan sifat
psikometrik baik dalam hal reliabilitas dan validitas, hasil ini, ditambahkan ke evaluasi
perawat yang positif, mendukung utilitas dan digunakan dalam pengaturan klinis.
Voepel, dkk (2010) telah mengevaluasi alat penilaian nyeri dalam pengaturan
perawatan kritis. Dengan menggunakan skala perilaku (FLACC) dalam menilai nyeri pada
orang dewasa dan anak-anak sakit kritis yang dapat melaporkan nyeri. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa meskipun serupa dalam konten untuk skala nyeri lainnya perilaku,
FLACC dapat digunakan di seluruh populasi pasien dan pengaturan, dan nilai yang
sebanding dengan yang umum digunakan skala penilaian numerik 0-10.
Menilai nyeri pada pasien sakit kritis yang menggunakan ventilasi mekanik
merupakan suatu tantangan besar. Ada kebutuhan khusus untuk alat ukur nyeri yang
ii
memadai yang digunakan pada pasien dibius sadar dan mampu berkomunikasi. Ahlers S,
dkk (2010) mengevaluasi penggunaan Skala Nyeri Perilaku ( BPS ) pada pasien dibius
sadar dibandingkan dengan penggunaannya pada pasien yang dibius tidak sadar. Selain itu,
pada pasien dibius sadar, kombinasi dari BPS dan pasien rentang Verbal Rating Scale (
VRS - 4 ) dievaluasi. Peneliti melakukan studi evaluasi prospektif pada 80 pasien dewasa
sakit kritis non paralisi unit perawatan intensif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa BPS
adalah alat yang valid untuk mengukur nyeri pada pasien dibius sadar selama prosedur
yang menyakitkan. Dengan demikian, untuk pasien tidak bisa berkomunikasi dan yang
menggunakan ventilasi mekanik, hal itu dapat dianggap sebagai jembatan antara skala
pengamatan digunakan oleh perawat dan VRS - 4 digunakan oleh pasien yang mampu
nyeri laporan diri.

Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi adaptasi dari Skala Nyeri Perilaku (BPS)
yang digunakan pada pasien non-intubasi di unit perawatan intensif (ICU) karena
terjadinya delirium. Vokalisasi dimasukkan untuk membangun skala BPS non diintubasi
(BPS-NI), mulai dari 3 (tidak sakit) sampai 12 (paling nyeri). Desain: studi psikometri di
ICU medis-bedah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nyeri saat pra prosedur dirasakan
bahkan pada pasien ICU non-diintubasi dengan delirium. Pada pasien, tingkat rasa sakit
dapat dinilai dengan skala BPS-NI karena instrumen ini menunjukkan sifat psikometrik
yang baik.

Berdasarkan hasil review dari beberapa jurnal dan hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa untuk alat pengkajian nyeri yang digunakan di ruang perawatan kritis adalah The
behavioral pain scale dan the Critical-Care Pain Observation Tool adalah alat penilaian
nyeri yang valid dan handal yang dapat digunakan untuk menilai nyeri nonverbal pasien
dewasa dengan fungsi motorik utuh. Sedangkan skala FLACC baik digunakan untuk
pasien anak-anak.
3. Manajemen Nyeri di area kritis
Ada kurangnya studi menggambarkan bagaimana perawat perawatan kritis
mengalami menilai dan mengobati nyeri pada pasien yang menerima perawatan
pascaoperasi di unit perawatan intensif (ICU). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menggambarkan pengalaman-pengalaman. Wawancara pribadi kualitatif dengan enam
perawatan kritis nursesin ICU di Swedia utara dilakukan selama tahun 2009. Teks-teks
wawancara menjadi sasaran analisis isi kualitatif, yang mengakibatkan dalam perumusan
satu tema dan empat kategori. Itu penting untuk dapat mengenali tanda-tanda nyeri pada

ii
pasien tidak dapat berkomunikasi secara verbal. Pada pasien yang lebih tua, kecemasan
dapat diartikan sebagai indikasi rasa sakit. Nyeri terutama dinilai melalui skala analog
visual. Karena tidak bisa mengobati rasa sakit berhasil dialami sebagai gagal dalam
pekerjaan seseorang. Farmakologis pengobatan selalu menjadi pilihan pertama untuk
bantuan. Lingkungan dialami sebagai halangan untuk perawatan yang optimal, karena
semua pasien pascaoperasi berbagi kamar dengan hanya tirai antara mereka. Karya menilai
dan memperlakukan pasien rawat inap nyeri menerima perawatan pasca operasi
merupakan tugas penting dan sering bagi perawat perawatan kritis, dan pengetahuan di
lapangan adalah penting jika pasien menerima perawatan yang optimal dan pengobatan.
Pasien dirawat di ICU mungkin manfaat dari perawatan nonpharmacologic. Menjadi tanpa
rasa sakit setelah operasi menyiratkan peningkatan kesejahteraan dan rawat inap lebih
pendek untuk pasien (Lindberg JO ; Engström Å, 2010)
Penilaian yang akurat dan pengelolaan nyeri pada pasien sakit kritis yang nonverbal
atau gangguan kognitif yang menantang. Tidak ada alat penilaian diterima secara luas saat
ini di tempat untuk menilai nyeri pada pasien ini. Topolovec J (2010) mengevaluasi
pengaruh penerapan alat penilaian nyeri baru di unit perawatan intensif trauma / bedah
saraf. Metode Staf dan kuesioner kepuasan pasien dan retrospektif review grafik yang
digunakan sebelum dan sesudah implementasi dari Skala Nyeri nonverbal. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa Skala Nyeri Nonverbal dalam perawatan kritis akan meningkatkan
pengalaman rasa sakit mereka, dokumentasi ditingkatkan oleh perawat, dan peningkatan
kepercayaan perawat dalam menilai nyeri pada pasien nonverbal.
Manajemen nyeri di ICU memerlukan pemilihan yang cermat obat-obatan dan rute
administrasi. Dalam pengaturan ini, pasien lebih rentan daripada populasi umum untuk
efek samping dan dosis yang lebih tinggi. Menggunakan lebih dari satu obat dari kelas
yang berbeda dapat bekerja secara sinergis, menjaga dosis masing-masing rendah dan
menghindari efek samping. Pengetahuan tentang farmakologi berbagai obat dan status
fisiologis pasien sangat penting. Menjadi andalan pengobatan pasien di ICU adalah opioid,
tapi kelas lain obat dapat dan digunakan dalam hubungannya dengan opioid. Ini termasuk
asetaminofen, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dan siklooksigenase-2 (COX-2)
inhibitor, antidepresan trisiklik (TCA) seperti amitriptyline, dan obat-obatan
antineuropathic seperti gabapentin (Purvez A, 2010).
Menurut Bar J dkk (2013) dalam manajemen nyeri di ruang ICU mereka
merekomendasikan bahwa intervensi nonpharmacologic (misalnya, relaksasi) bisa
diberikan untuk mengurangi rasa sakit pada pasien ICU dewasa sebelum pengangkatan
ii
selang dada, Sebaiknya dalam pemberian obat intravenous (iv) opioid dianggap sebagai
kelas obat pilihan lini pertama untuk mengobati nyeri neuropatik pada pasien kritis. Kami
juga menyarankan bahwa analgesik nonopioid dipertimbangkan untuk mengurangi jumlah
opioid yang diberikan (atau menghilangkan kebutuhan untuk iv opioid sama sekali) dan
untuk mengurangi efek samping opioid terkait.
Berdasarkan hasil review dari beberapa jurnal dan hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa manajemen nyeri di ruang perawatan kritis adalah Manajemen nyeri di ICU
memerlukan pemilihan yang cermat obat-obatan dan rute administrasi. Terapi farmakologi
yang menjadi andalan adalah opioid.
D. Simpulan
Nyeri merupakan diagnosa yang paling sering pada perawatan kritis dan
meningkatkan perhatian juga tanggungjawab para profesional untuk mengatasi nyeri
pasien dengan efektif. Pasien yang tidak bisa melaporkan nyeri sangat bergantung pada
perawat untuk menilai nyeri secara akurat dan untuk memberikan intervensi yang tepat.
Perawat memiliki beberapa alat penilaian perilaku nyeri yang tersedia. Namun, beberapa
studi telah menyelidiki alat-alat penilaian nyeri tersebut benar-benar berguna dalam
pengkajian nyeri dan manajemen nyeri secara bed side.
Menilai tingkat nyeri secara akurat pada semua pasien sakit kritis adalah langkah
pertama dalam mengevaluasi delirium yang mungkin terjadi pada pasien. The behavioral
pain scale dan the Critical-Care Pain Observation Tool adalah alat penilaian nyeri yang
valid dan handal yang dapat digunakan untuk menilai nyeri nonverbal pasien dengan
fungsi motorik utuh.
Perawat berperan penting dalam memberikan peredaan nyeri. Meskipun intervensi
farmakologis adalah strategi yang paling sering digunakan, penatalaksanaan keperawatan
terhadap nyeri juga mencakup tindakan fisik, kognitif dan perilaku. Selain memberikan
obat-obatan atau memberikan terapi alternatif, peran perawat meliputi mengukur respon
pasien terhadap terapi tersebut. Karena nyeri dapat berkurang atau pola nyeri dapat
berubah, penyesuaian terapi perlu dilakukan sebelum terlihat perbaikan.

ii
DAFTAR PUSTAKA

Ahlers, S. J. G. M., A. M. v. d. Veen, et al. (2010). "The Use of the Behavioral Pain Scale to
Assess Pain in Conscious Sedated Patients." Critical Care and Trauma 110.

Ahlers S, Aletta M,Tibboel M, Knibbe C, Pharm D. (2010). “Comparison of different


pain scoring systems in critically ill patients in a general ICU”. Criticall Care

Alspach, J. (2006). Core Curriculum for Critical Care Nursing. America, American
Association of Critical Care Nursing.

Bar J, Puntillo K, et all. (2013). “Clinical Practice guidelines for the management of
pain, agitation, and delirium in adult patients in the intensive care unit”. Am J
Health- Syat Pharm

Chanques G, Grégoire P, Sylvie M, Boris E, Lefrant J, Jaber S. (2009). “Assessing pain in


non-intubated critically ill patients unable to self report: an adaptation of the
Behavioral Pain Scale”. Intensive Care Med

Chong C & Burchett K. (2003). “Pain management in critical care”. British Journal of
Anaesthesia
Chulay, M. and Burns,S. (2006). AACN Essentials of Critical Care Nursing. America, Mc
Graw Hill.

Gélinas, C., L. Fillion, et al. (2006). "Validation of the Critical-Care Pain Observation Tool in
Adult Patients." American Association of Critical-Care Nurses.

Gélinas C ; Arbour C ; Michaud C ; Vaillant F ; Desjardins S. (2011). “Implementation of


the critical-care pain observation tool on pain assessment/management nursing
practices in an intensive care unit with nonverbal critically ill adults: a before and after
study”. International Journal Of Nursing Studies

Howard, p. K. (2010). Sheehy's Emergency Nursing Principles and Practice. America, Mosby
Elsevier.

Kemp, C. (2010). Penatalaksanaan Pasien Sakit Terminal. EGC, Jakarta.

Lindberg JO ; Engström Å. (2010). “Critical care nurses' experiences: "a good relationship
with the patient is a prerequisite for successful pain relief management". The American
Society Of Pain Management

Morton, P. G., D. Fontaine, et al. (2012). Keperawatan Kritis Pendekatan Asuhan Holistik.
Jakarta, EGC.

Paulson C M ; Leske J ; Maidl C ; Hanson A ; Dziadulewicz L. (2010). “Comparison of


two pain assessment tools in nonverbal critical care patients”. Official Journal Of The
American Society
Schell, H. and Puntillo K. (2006). Critical Care Nursing Secrets. America, Mosby Elsevier.

ii
Skrobik, Y dan Chanques G. (2013). “The pain, agitation, and delirium practice guidelines for
adult Criticall ill patients: a post-publication perspective”. Annals of Intensive Care

Stefani F ; Nardon G ; Bonato R ; Modenese A ; Novello C ; Ferrari R. (2011). “The


validation of CPOT (Critical-Care Pain Observation Tool) scale: a tool for
assessing pain in intensive care patients”. Assistenza Infermieristica E Ricerca
Topolovec J, Canzian S, Innis J, Pollmann M, McFarlan A and Baker A. (2010). “Patient
Satisfaction and Documentation of Pain Assessments and Management After
Implementing the Adult Nonverbal Pain Scale”. American Journal of Critical Care

Urden, L. and Stacy K. (2010). Critical Care Nursing Diagnosis ang Management. Canada,
Mosby Elsevier.

Voepel , Zanotti J, Dammeyer J and Merkel S. (2010). “Reliability and Validity of the Face,
Legs, Activity, Cry, Consolability Behavioral Tool in Assessing Acute Pain in
Critically Ill Patients”. American Journal of Critical Care

ii