Anda di halaman 1dari 75

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Apabila kita berbicara tentang pernikahan maka dapatlah kita memandangnya dari dua buah sisi.
Dimana pernikahan merupakan sebuah perintah agama. Sedangkan di sisi lain adalah satu-satunya jalan
penyaluran sexs yang disah kan oleh agama.dari sudut pandang ini, maka pada saat orang melakukan
pernikahan pada saat yang bersamaan dia bukan saja memiliki keinginan untuk melakukan perintah
agama, namun juga memiliki keinginan memenuhi kebutuhan biologis nya yang secara kodrat memang
harus disalurkan.

Sebagaimana kebutuhan lain nya dalam kehidupan ini, kebutuhan biologis sebenar nya juga harus
dipenuhi. Agama islam juga telah menetapkan bahwa stu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan
biologis manusia adalah hanya dengan pernikahn, pernikahan merupakan satu hal yang sangat menarik
jika kita lebih mencermati kandungan makna tentang masalah pernikahan ini. Di dalam al-Qur’an telah
dijelaskan bahwa pernikahan ternyata juga dapat membawa kedamaian dalam hidup seseorang
(litaskunu ilaiha). Ini berarti pernikahan sesungguhnya bukan hanya sekedar sebagai sarana penyaluran
kebutuhan sex namun lebih dari itu pernikahan juga menjanjikan perdamaian hidup bagi manusia
dimana setiap manusia dapat membangun surge dunia di dalam nya. Smua hal itu akan terjadi apabila
pernikahan tersebut benar-benar di jalani dengan cara yang sesuai dengan jalur yang sudah ditetapkan
islam.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas timbul permasalahan yang perlu di dibahas sedikit tentang:

1. Definisi pernikahan

2. Hikmah/manfaat pernikahan

3. Tujuan Pernikah dalam islam

4. Hukum nikah

5. Bagaimana bimbingan memilih jodoh menurut islam

C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui makna dari pernikahan itu

2. Untuk memahami hikmah, hukum-hukum, dan tujuan pernikahan

3. Agar bisa memilih pasangan hidup dengan tepat menurut pandangan islam
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pernikahan

Perkahwinan atau nikah menurut bahasa ialah berkumpul dan bercampur. Menurut istilah syarak
pula ialah ijab dan qabul (‘aqad) yang menghalalkan persetubuhan antara lelaki dan perempuan yang
diucapkan oleh kata-kata yang menunjukkan nikah, menurut peraturan yang ditentukan oleh Islam.
Perkataan zawaj digunakan di dalam al-Quran bermaksud pasangan dalam penggunaannya perkataan ini
bermaksud perkahwinan Allah s.w.t. menjadikan manusia itu berpasang-pasangan, menghalalkan
perkahwinan dan mengharamkan zina.

Adapun nikah menurut syari’at nikah juga berarti akad. Sedangkan pengertian hubungan badan itu
hanya metafora saja.

Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak ada
suatu masalah pun, dalam kehidupan ini, yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satu pun masalah yang
tidak disentuh nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele. Itulah Islam, agama yang
memberi rahmat bagi sekalian alam. Dalam masalah perkawinan, Islam telah berbicara banyak. Dari
mulai bagaimana mencari kriteria calon calon pendamping hidup, hingga bagaimana memperlakukannya
kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya. Begitu pula Islam mengajarkan bagaimana
mewujudkan sebuah pesta pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak
melanggar tuntunan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dengan pernikahan
yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Melalui makalah yang singkat ini insyaallah kami
akan membahas perkawinan menurut hukum islam.

Pernikahan adalah sunnah karuniah yang apabila dilaksanakan akan mendapat pahala tetapi apabila
tidak dilakukan tidak mendapatkan dosa tetapi dimakruhkan karna tidak mengikuti sunnah rosul.[1]

Arti dari pernikahan disini adalah bersatunya dua insane dengan jenis berbeda yaitu laki-laki dan
perempuan yang menjalin suatu ikatan dengan perjanjian atau akad.

Suatu pernikahan mempunyai tujuan yaitu ingin membangun keluarga yang sakinah mawaddah
warohmah serta ingin mendapatkan keturunan yang solihah. Keturunan inilah yang selalu didambakan
oleh setiap orang yang sudah menikah karena keturunan merupakan generasi bagi orang tuanya.[2]

B. Hikmah Pernikahan

Allah SWT berfirman :


“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum
yang berfikir.”(Ar-ruum,21)

Pernikahan menjadikan proses keberlangsungan hidup manusia didunia ini berlanjut, darigenerasi ke
generasi. Selain juga menjadi penyalur nafsu birahi, melalui hubungan suami istri serta menghindari
godaan syetan yang menjerumuskan. Pernikahan juga berfungsi untuk mengatur hubungan laki-laki dan
perempuan berdasarkan pada asas saling menolong dalam wilayah kasih sayang dan penghormatan
muslimah berkewajiban untuk mengerjakan tugas didalam rumah tangganya seperti mengatur rumah,
mendidik anak, dan menciptakan suasana yang menyenangkan. Supaya suami dapat mengerjakan
kewajibannya dengan baik untuk kepentingan dunia dan akhirat.[3]

Adapun hikmah yang lain dalam pernikahannya itu yaitu :

a) Mampu menjaga kelangsungan hidup manusia dengan jalan berkembang biak dan berketurunan.

b) Mampu menjaga suami istri terjerumus dalam perbuatan nista dan mampu mengekang syahwat
seta menahan pandangan dari sesuatu yang diharamkan.

c) Mampu menenangkan dan menentramkan jiwa denagn cara duduk-duduk dan bencrengkramah
dengan pacarannya.

d) Mampu membuat wanita melaksanakan tugasnya sesuai dengan tabiat kewanitaan yang
diciptakan.[4]

C. Tujuan Pernikahan dalam Islam

1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi

Perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan
aqad nikah (melalui jenjang perkawinan), bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-
cara orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain
sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.

2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur

Sasaran utama dari disyari’atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi
martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat
manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif
untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka
nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan
barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat
membentengi dirinya”.

3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq (perceraian), jika suami
istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah dalam ayat
berikut :

“Artinya : Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma’ruf
atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang
telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan
hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri
untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa
yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim.”

Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari’at Allah. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah
lagi) bila keduanya sanggup menegakkan batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat
Al-Baqarah lanjutan ayat di atas :

“Artinya : “Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang kedua), maka perempuan itu
tidak halal lagi baginya hingga dikawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu
menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang pertama dan istri) untuk kawin
kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum
Allah, diterangkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui “ .

Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari’at Islam dalam rumah
tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari’at Islam adalah wajib.

4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah

Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada
sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan
dan amal shalih di samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi istri-pun
termasuk ibadah (sedekah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda
Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan
nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab :
“Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah
mereka berdosa .? Jawab para shahabat :”Ya, benar”. Beliau bersabda lagi : “Begitu pula kalau mereka
bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala !” .

5. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih

Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, Allah
berfirman :

“Artinya : Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari
istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah
mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”.

Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha
mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa
kepada Allah.Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam
yang benar.

D. Hukum Nikah

Nikah merupakan amalan yang disyari’atkan, hal ini didasarkan pada firman Allah SWT :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana
kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.
kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil. Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-
budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”(An-Nisaa’,
3)

Dari keterangan diatas disimpulkan bahwa hukum nikah ada 5 :

· Wajib kepada orang yang mempunyai nafsu yang kuat sehingga bias menjerumuskannya ke lembah
maksiat (zina dan sebagainya) sedangkan ia seorang yang mampu.disini mampu bermaksud ia mampu
membayar mahar (mas berkahminan/dower) dan mampu nafkah kepada calon istrinya.

· Sunat kepada orang yang mampu tetapi dapat mengawal nafsunya.

· Harus kepada orang yang tidak ada padanya larangan untuk berkahwin dan ini merupakan hukum
asal perkawinan

· Makruh kepada orang yang tidak berkemampuan dari segi nafkah batin dan lahir tetapi sekadar
tidak memberi kemudaratan kepada isteri.

· Haram kepada orang yang tidak berkempuan untuk memberi nafkah batin dan lahir dan ia sendiri
tidak berkuasa (lemah), tidak punya keinginan menikah serta akan menganiaya isteri jika dia menikah.[5]

E. Memilih Jodoh Menurut Islam


Setiap orang yang berumah tanggah tentu mengharapkan keluarganya akan menjdi keluarga yang
sakinah mawadah warakhmah. Kehidupan rumah tangganya dapat menjadi surga didunia dapat menjadi
diri dan keluarganya. Apalagi pada saat ini banyak sekali kasus peceraian keluarga dijumpai ditengah-
tengah masyakat yang semakin berkembang ini. Alasan dalam peceraian itu bermacam-macam, dari alas
an pendapatan istri lebih besar dari pada suami, selingkuh dengan adanya orang ke tiga, kekerasan
dalam rumah tanggah, dan lain-lain.

Maka dari itu dalam membanggun mahligai surge rumah tangga persiapan awal harus dilakukan pada
saat memilih jodoh. Islam mengangjurkan kepada umatnya ketika mencari jodoh itu harus berhati-hati
baik laki-laki maupun perempuan, hal ini dikarenakan masa depan kehidupan rumah tangga itu
berhubungan sangat erat dengan cara memilih suami maupun istri. Untuk itu kita sebagai umat muslim
harus memperhatikan kriteria dalam memilih pasangan hidup yang baik.

Dasar firman Allah SWT yang berbunyi :

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari
hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin
Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha
mengetahui.”(An-Nisa’, 31)

Dan dari sabda Rasullah yang artinya :

“Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabdah : sesunguhnya seorang wanita itu
dinikahi atas empat perkara, yaitu : harta, nasab, kecantikan, dan agamanya, maka perolehlah yang
mempunyai agama maka akan berdeburlah tanganmu.”[6]

Dalam memilih istri hendaknya menjaga sifat-sifat wajib. Syeh jalaluddin Al-qosimi Addimasya’i dalam
kitab Al-mauidotul Mukminin menyebutkan ada kriteria bagi laki-laki dalam memilih jodoh :

a) Baik agamanya : hendaknya ketika memilih istri itu harus memperhatikan agama dari sisi istri
tersebut.

b) Luhur budi pekertinya : seorang istri yang luhur budi pekertinya selalu sabar dan tabah
menghadapi ujian apapun yang akan dihadapi dalam perjalanan hidupnya.

c) Cantik wajahnya : setiap orang laki-laki cenderung menyukai kecantikan begitu pula sebaliknya.
Kecantikan wajah yang disertai kesolehahhan prilaku membuat pasangan tentram dan cenderung
melipahkan kasih sayangnya kepadanya, untuk sebelum menikah kita disunahkan untuk melihat
pasangan kita masing-masing.

d) Ringan maharnya : Rasullullah bersabda : “salah satu tanda keberkahan perempuan adalah cepat
kawinnya, cepat melahirkannya, dan murah maharnya.

e) Subur : artinya cepat memperoleh keturunan dan wanita itu tidak berpenyakitan.
f) Masih perawan : jodoh yang terbaik bagi seorang laki-laki perjaka adalah seorang gadis. Rasullullah
pernah mengikatkan Jabbir RA yang akan menikahi seorang janda : “alangkah baiknya kalau istrimu itu
seorang gadis, engkau dapat bermain-main dengannya dan ia dapat bermain-main denganmu.”

g) Keturunan keluarga baik-baik : dengan sebuah hadist Rasullallah besabda : “jauhilah dan hindarkan
olehmu rumput mudah tumbuh ditahi kerbau”. Maksudnya : seorang yang cantik dari keturunan orang-
orang jahat.

h) Bukan termasuk muhrim : kedekatan hubungan darah membuat sebuah pernikahan menjadi
hambar, disamping itu menurut ahli kesehatan hubungan darah yang sangat dekat dapat menimbulkan
problem genetika bagi keturunannya.

Dalam memilih calon suami bagi anak perempuan hendaknya memilih orang yang memiliki akhlak,
kehormatan dan nama baik. Dengan demikian jika ia menggauli istrinya maka istrinya maka ia
menggaulinya dengan baik, jika menceraikan maka ia menceraikan dengan baik.

Rasullah bersabda :”barang siapa mengawinkan anak perempuannya denga orang yang fasik
makasungguh dia telah memutuskan hubungan persaudaraan.”

Seorang laki-laki berkata kepada hasan bin ali, “sesungguhnya saya memiliki seorang anak perempuan
maka siapakah menurutmu orang cocok agar saya dapat menikahkan untuknya ?” hasan menjawab
:”nikahkanlah dia dengan seorang yang beriman kepada Allah SWT, jika ia mencintainya maka dia akan
memuliahkannya dan jika dia membencinya maka dia tidak mendoliminya.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Arti dari pernikahan disini adalah bersatunya dua insane dengan jenis berbeda yaitu laki-laki dan
perempuan yang menjalin suatu ikatan dengan perjanjian atau akad.

2. Hikmah dalam pernikahannya itu yaitu :

a. Mampu menjaga kelangsungan hidup manusia dengan jalan berkembang biak dan berketurunan.

b. Mampu menjaga suami istri terjerumus dalam perbuatan nista dan mampu mengekang syahwat
seta menahan pandangan dari sesuatu yang diharamkan.

c. Mampu menenangkan dan menentramkan jiwa denagn cara duduk-duduk dan bencrengkramah
dengan pacarannya.

d. Mampu membuat wanita melaksanakan tugasnya sesuai dengan tabiat kewanitaan yang
diciptakan.

3. Tujuan pernikahan :

a) Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi

b) Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur

c) Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami

d) Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah

e) Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih


B. Saran

Dari beberapa Uraian diatas jelas banyaklah kesalahan serta kekeliruan, baik disengaja maupun tidak,
dari itu kami harapkan kritik dan sarannya untuk memperbaiki segala keterbatasan yang kami punya,
sebab manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

DAFTAR PUSTAKA

Rafi Baihaqi, Ahmad, Membangun Surga Rumah Tangga, (surabayah:gita mediah press, 2006)

At-tihami, Muhammad, Merawat Cintah Kasih Menurut Syriat Islam, (surabayh : Ampel Mulia, 2004)

Muhammad ‘uwaidah, Syaikh Kamil, Fiqih Wanita, (Jakarta:pustaka al-kautsar, 1998)

BERANDA

Afrizaldi Firdani

Top of Form

Search

Bottom of Form

HOME

BUSINESS»

DOWNLOADS»

PARENT CATEGORY»

FEATURED
HEALTH»

UNCATEGORIZED

Diberdayakan oleh Blogger.

MENGENAI SAYA

AFRIZALDI FIRDANI

LIHAT PROFIL LENGKAPKU

MAKALAH PERNIKAHAN DALAM AGAMA ISLAM

06.18 3 comments

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk yang memiliki naluri ataupun keinginan didalam dirinya. Pernikahan
merupakan salah satu naluri serta kewajiban dari seorang manusia. Sesungguhnya Islam telah
memberikan tuntunan kepada pemeluknya yang akan memasuki jenjang pernikahan, lengkap dengan
tata cara atau aturan-aturan Allah Swt. Sehingga mereka yang tergolong ahli ibadah, tidak akan memilih
tata cara yang lain. Namun di masyarakat kita, hal ini tidak banyak diketahui orang. Menikah merupakan
perintah dari Allah Swt. Seperti dalil berikut ini:

‫ّللاه‬ َُ َ‫ل أَز َوا ًجا أَنفه ِس هكمُ مِ نُ لَ هكمُ َجع‬


َُ ‫ل َو‬ ِ ‫ت مِ نَُ َو َرزَ قَ هكمُ َو َحفَ َُدُة ً بَُنِينَُ أَز َو‬
َُ َ‫اج هكمُ مِ نُ لَ هكمُ َو َجع‬ َ ۚ‫ل‬
ُِ ‫الطيِبَا‬ ُِ ِ‫ت أَفَبِالبَاط‬ َُِ ُ‫يَكفه هرونَُ ههم‬
ُِ ‫ّللا يهؤمِ نهون ََوبُِنِع َم‬

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak
dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman
kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?”(An-Nahl;72)
Adapun secara Islam pernikahan itu sendiri mempunyai tatacara, syarat, tujuan, hukum, serta
hikmahnya tersendiri. Berdasarkan dalil dibawah ini merupakan salah satu tujuan dari pernikahan:

ُِ َ‫ام ال َحال‬
ُ‫ل َبينَُ َما فَص هل‬ ُِ ‫ُّف َوال َح َر‬
ُُّ ‫صوتهُ الد‬
َ ‫َاح فِي َوال‬
ُِ ‫النِك‬

“Pemisah antara apa yang halal dan yang haram adalah duff dan shaut (suara) dalam pernikahan.” (HR.
An-Nasa`i no. 3369, Ibnu Majah no. 1896. Dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa`
no. 1994)

Berdasarkan dalil-dalil diatas jelas sekali Allah Swt. Telah mengatur sedemikian rupa permasalahan
mengenai pernikahan. Adapun pernyempurnaan dari wahyu yang diturunkan oleh Allah swt. Telah
disempurnakan oleh ahli tafsir dengan mengeluarkan dalil yang dapat memperjelas mengenai
pernikahan tanpa mengubah ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.

B. Rumusan Masalah

Beberapa Permasalahan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Pengertian Pernikahan dari segi bahasa maupun istilah

2. Hukum Pernikahan

3. Peminangan (Khitbah)

4. Syarat Pernikahan

5. Tujuan Pernikahan

6. Pemilihan Calon suami/istri

7. Thalak (Perceraian)

8. Iddah

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca mengetahui pentingnya pengetahuan terhadap
Pernikahan (Munahakat) dimana setiap orang pasti akan mengalami sebuah Pernikahan.

D. Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari makalah ini adalah:

1. Pembaca dapat memahami pengertian dari Pernikahan.

2. Pembaca dapat mengetahui proses dalam sebuah Pernikahan secara Islam.

3. Pembaca dapat mengetahui tujuan serta hikmah dari Pernikahan yang benar secara Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PERNIKAHAN

Pernikahan atau Munahakat artinya dalam bahasa adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah lain
juga dapat berarti akad nikah (Ijab Qobul) yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan
yang bukan muhrim sehingga menimbulkan hak dan kewajiban diantara keduanya yang diucapkan oleh
kata-kata , sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam. Kata zawaj digunakan dalam al-Quran artinya
adalah pasangan yang dalam penggunaannya pula juga dapat diartikan sebagai pernikahan, Allah s.w.t.
menjadikan manusia itu saling berpasangan, menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina.

B. HUKUM PERNIKAHAN

Menurut sebagian besar Ulama’, hukum asal menikah adalah mubah, yang artinya boleh dikerjakan dan
boleh tidak. Apabila dikerjakan tidak mendapatkan pahala, dan jika tidak dikerjakan tidak mendapatkan
dosa. Namun menurut saya pribadi karena Nabiullah Muhammad SAW melakukannya, itu dapat
diartikan juga bahwa pernikahan itu sunnah berdasarkan perbuatan yang pernah dilakukan oleh Beliau.
Akan tetapi hukum pernikahan dapat berubah menjadi sunnah, wajib, makruh bahkan haram,
tergantung kondisi orang yang akan menikah tersebut.

· Pernikahan Yang Dihukumi Sunnah

Hukum menikah akan berubah menjadi sunnah apabila orang yang ingin melakukan pernikahan tersebut
mampu menikah dalam hal kesiapan jasmani, rohani, mental maupun meteriil dan mampu menahan
perbuatan zina walaupun dia tidak segera menikah. Sebagaimana sabda Rasullullah SAW :

“Wahai para pemuda, jika diantara kalian sudah memiliki kemampuan untuk menikah, maka hendaklah
dia menikah, karena pernikahan itu dapat menjaga pandangan mata dan lebih dapat memelihara
kelamin (kehormatan); dan barang siapa tidak mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa
itu menjadi penjaga baginya.” (HR. Bukhari Muslim)

· Pernikahan Yang Dihukumi Wajib

Hukum menikah akan berubah menjadi wajib apabila orang yang ingin melakukan pernikahan tersebut
ingin menikah, mampu menikah dalam hal kesiapan jasmani, rohani, mental maupun meteriil dan ia
khawatir apabila ia tidak segera menikah ia khawatir akan berbuat zina. Maka wajib baginya untuk
segera menikah

· Pernikahan Yang Dihukumi Makruh

Hukum menikah akan berubah menjadi makruh apabila orang yang ingin melakukan pernikahan
tersebut belum mampu dalam salah satu hal jasmani, rohani, mental maupun meteriil dalam menafkahi
keluarganya kelak

· Pernikahan Yang Dihukumi Haram

Hukum menikah akan berubah menjadi haram apabila orang yang ingin melakukan pernikahan tersebut
bermaksud untuk menyakiti salah satu pihak dalam pernikahan tersebut, baik menyakiti jasmani, rohani
maupun menyakiti secara materiil.
C. PEMINANGAN (KHITBAH)

Pertunangan atau bertunang merupakan suatu ikatan janji pihak laki-laki dan perempuan untuk
melangsungkan pernikahan mengikuti hari yang dipersetujui oleh kedua pihak. Meminang merupakan
adat kebiasaan masyarakat Melayu yang telah dihalalkan oleh Islam. Peminangan juga merupakan awal
proses pernikahan. Hukum peminangan adalah harus dan hendaknya bukan dari istri orang, bukan
saudara sendiri, tidak dalam iddah, dan bukan tunangan orang. Pemberian seperti cincin kepada wanita
semasa peminangan merupakan tanda ikatan pertunangan. Apabila terjadi ingkar janji yang disebabkan
oleh sang laki-laki, pemberian tidak perlu dikembalikan dan jika disebabkan oleh wanita, maka
hendaknya dikembalikan, namun persetujuan hendaknya dibuat semasa peminangan dilakukan. Melihat
calon suami dan calon istri adalah sunat, karena tidak mau penyesalan terjadi setelah berumahtangga.
Anggota yang diperbolehkan untuk dilihat untuk seorang wanitaialah wajah dan kedua tangannya saja.

Hadist Rasullullah mengenai kebenaran untuk melihat tunangan dan meminang:

"Abu Hurairah RA berkata,sabda Rasullullah SAW kepada seorang laki-laki yang hendak menikah dengan
seorang perempuan: "Apakah kamu telah melihatnya?jawabnya tidak(kata lelaki itu kepada
Rasullullah).Pergilah untuk melihatnya supaya pernikahan kamu terjamin kekekalan." (Hadis Riwayat
Tarmizi dan Nasai)

Hadis Rasullullah mengenai larangan meminang wanita yang telah bertunangan:

"Daripada Ibnu Umar RA bahawa Rasullullah SAW telah bersabda: "Kamu tidak boleh meminang
tunangan saudara kamu sehingga pada akhirnya dia membuat ketetapan untuk
memutuskannya". (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim(Asy-Syaikhan))

D. SYARAT PERNIKAHAN

1.Rukun nikah

Pengantin laki-laki

Pengantin perempuan

Wali

Dua orang saksi laki-laki

Mahar

Ijab dan kabul (akad nikah)

2.Syarat calon suami

Islam
Laki-laki yang tertentu

Bukan lelaki muhrim dengan calon istri

Mengetahui wali yang sebenarnya bagi akad nikah tersebut

Bukan dalam ihram haji atau umroh

Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan

Tidak mempunyai empat orang istri yang sah dalam suatu waktu

Mengetahui bahwa perempuan yang hendak dinikahi adalah sah dijadikan istri

3.Syarat calon istri

Islam

Perempuan yang tertentu

Bukan perempuan muhrim dengan calon suami

Bukan seorang banci

Bukan dalam ihram haji atau umroh

Tidak dalam iddah

Bukan istri orang

4.Syarat wali

Islam, bukan kafir dan murtad

Lelaki dan bukannya perempuan

Telah pubertas

Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan

Bukan dalam ihram haji atau umroh

Tidak fasik

Tidak cacat akal pikiran, gila, terlalu tua dan sebagainya

Merdeka

Tidak dibatasi kebebasannya ketimbang membelanjakan hartanya


Sebaiknya calon istri perlu memastikan syarat WAJIB menjadi wali. Jika syarat-syarat wali terpenuhi
seperti di atas maka sahlah sebuah pernikahan itu.Sebagai seorang mukmin yang sejati, kita hendaklah
menitik beratkan hal-hal yag wajib seperti ini.Jika tidak, kita hanya akan dianggap hidup dalam
berzinahan selamanya.

5.Jenis-jenis wali

Wali mujbir: Wali dari bapaknya sendiri atau kakek dari bapa yang mempunyai hak mewalikan
pernikahan anak perempuannya atau cucu perempuannya dengan persetujuannya (sebaiknya perlu
mendapatkan kerelaan calon istri yang hendak dinikahkan)

Wali aqrab: Wali terdekat yang telah memenuhi syarat yang layak dan berhak menjadi wali

Wali ab’ad: Wali yang sedikit mengikuti susunan yang layak menjadi wali, jikalau wali aqrab berkenaan
tidak ada. Wali ab’ad ini akan digantikan oleh wali ab’ad lain dan begitulah seterusnya mengikut
susunan tersebut jika tidak ada yang terdekat lagi.

Wali raja/hakim: Wali yang diberi hak atau ditunjuk oleh pemerintah atau pihak berkuasa pada negeri
tersebut oleh orang yang telah dilantik menjalankan tugas ini dengan sebab-sebab tertentu.

6.Syarat-syarat saksi

Sekurang-kurangya dua orang

Islam

Berakal

Telah pubertas

Laki-laki

Memahami isi lafal ijab dan qobul

Dapat mendengar, melihat dan berbicara

Adil (Tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak terlalu banyak melakukan dosa-dosa kecil)

Merdeka

7.Syarat ijab

Pernikahan nikah ini hendaklah tepat

Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran

Diucapkan oleh wali atau wakilnya


Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti mutaah(nikah kontrak atau pernikahan (ikatan suami istri)
yang sah dalam tempo tertentu seperti yang dijanjikan dalam persetujuan nikah muataah)

Tidak secara taklik(tidak ada sebutan prasyarat sewaktu ijab dilafalkan)

Contoh bacaan Ijab:Wali/wakil Wali berkata kepada calon suami:"Aku nikahkan Anda dengan Diana Binti
Daniel dengan mas kawin berupa seperangkap alat salat dibayar tunai".

8.Syarat qobul

Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan ijab

Tidak ada perkataan sindiran

Dilafalkan oleh calon suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu)

Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti mutaah(seperti nikah kontrak)

Tidak secara taklik(tidak ada sebutan prasyarat sewaktu qobul dilafalkan)

Menyebut nama calon istri

Tidak ditambahkan dengan perkataan lain

Contoh sebutan qabul(akan dilafazkan oleh bakal suami):"Aku terima nikahnya dengan Diana Binti
Daniel dengan mas kawin berupa seperangkap alat salat dibayar tunai" ATAU "Aku terima Diana Binti
Daniel sebagai istriku".

Setelah qobul dilafalkan Wali/wakil Wali akan mendapatkan kesaksian dari para hadirin khususnya dari
dua orang saksi pernikahan dengan cara meminta saksi mengatakan lafal "SAH" atau perkataan lain yang
sama maksudya dengan perkataan itu.

Selanjutnya Wali/wakil Wali akan membaca doa selamat agar pernikahan suami istri itu kekal dan
bahagia sepanjang kehidupan mereka serta doa itu akan diAminkan oleh para hadirin. Bersamaan itu
pula, mas kawin/mahar akan diserahkan kepada pihak istri dan selanjutnya berupa cincin akan
dipakaikan kepada jari cincin istri oleh suami sebagai tanda dimulainya ikatan kekeluargaan atau simbol
pertalian kebahagian suami istri.Aktivitas ini diteruskan dengan suami mencium istri.Aktivitas ini disebut
sebagai "Pembatalan Wudhu".Ini karena sebelum akad nikah dijalankan suami dan isteri itu diminta
untuk berwudhu terlebih dahulu.

Suami istri juga diminta untuk salat sunat nikah sebagai tanda syukur setelah pernikahan berlangsung.
Pernikahan Islam yang memang amat mudah karena ia tidak perlu mengambil masa yang lama dan
memerlukan banyak aset-aset pernikahan disamping mas kawin,hantaran atau majelis umum (walimatul
urus)yang tidak perlu dibebankan atau dibuang.

E. TUJUAN PERNIKAHAN

1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia yang Asasi

Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan
‘aqad nikah (melalui jenjang pernikahan), bukan dengan cara yang amat kotor dan menjijikkan, seperti
cara-cara orang sekarang ini; dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain
sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.

2. Untuk Membentengi Akhlaq yang Luhur dan untuk Menundukkan Pandangan

Sasaran utama dari disyari’atkannya pernikahan dalam Islam di antaranya adalah untuk membentengi
martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabat
manusia yang luhur. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif
untuk me-melihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan.

3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami

Dalam Al-Qur-an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya thalaq (perceraian), jika suami isteri
sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam
ayat berikut:

َ ‫َان‬
ُ‫الط َال هق‬ ُِ ‫ساكُ ۚ َم َرت‬ َ ‫سانُ ت َس ِريحُ أَوُ بِ َمع هروفُ فَإِم‬ َ ‫ل ۚ بِإِح‬ ُُّ ِ‫هن مِ َما ت َأ هخذهوا ُأ َنُ لَ هكمُ يَح‬
َُ ‫ل َو‬ َُ ِ‫ّللاِ هحدهو َُد أ َ َليهقِي َما يَخَافَا أَنُ إ‬
َُ ‫ل شَيئًا آت َيت ه هموه‬ َُ ۚ ُ‫خِ فتهمُ فَإِن‬
َُ َ ‫ّللاِ هحدهو َُد يهقِي َما أ‬
‫ل‬ َُ ‫ال‬ َُ ‫علَي ِه َما هجنَا‬
ُ َ َ‫ح ف‬ َ ‫ّللا هحدهو هُد تِلكَُ ۚ ِب ُِه افت َ َدتُ فِي َما‬ ُ َ َ‫ّللا َيت َ َع َُد َو َمنُ ۚ ت َعتَدهوهَا ف‬
َُِ ‫ال‬ َٰ
َُِ ‫الظا ِل همونَُ هه هُم فَأهولَئِكَُ هحدهو َد‬
َ

“Thalaq (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau
melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan
kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan isteri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum
Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka
keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh isteri) untuk menebus dirinya. Itulah
hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah,
mereka itulah orang-orang zhalim.” [Al-Baqarah : 229]
4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah

Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk mengabdi dan beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa
Jalla dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu
lahan subur bagi peribadahan dan amal shalih di samping ibadah dan amal-amal shalih yang lain, bahkan
berhubungan suami isteri pun termasuk ibadah (sedekah)

5. Untuk Memperoleh Keturunan Yang Shalih

Tujuan pernikahan di antaranya adalah untuk memperoleh keturunan yang shalih, untuk melestarikan
dan mengembangkan bani Adam, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

‫ّللاه‬ َُ َ‫ل أَز َوا ًجا أَنفه ِس هكمُ مِ نُ لَ هكمُ َجع‬


َُ ‫ل َو‬ ِ ‫ت مِ نَُ َو َرزَ قَ هكمُ َو َحفَ َُدُة ً َبنِينَُ أَز َو‬
َُ ‫اج هكمُ مِ نُ لَ هكمُ َو َج َع‬ َ ۚ‫ل‬
ُِ ‫الط ِي َبا‬ ُِ ِ‫ت يهؤمِ نهونَُ أَفَ ِبال َباط‬
ُِ ‫َيكفه هرونَُ اللَ ِه ههمُ َوُِبنِع َم‬

“Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak
dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman
kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” [An-Nahl : 72]

F. PEMILIHAN CALON SUAMI/ISTRI

1. Ciri-ciri bakal suami

beriman & bertaqwa kepada Allah s.w.t

bertanggungjawab terhadap semua benda

memiliki akhlak-akhlak yang terpuji

berilmu agama agar dapat membimbing calon isteri dan anak-anak ke jalan yang benar

tidak berpenyakit yang berat seperti gila, AIDS dan sebagainya

rajin bekerja untuk kebaikan rumah tangga seperti mencari rezeki yang halal untuk kebahagiaan
keluarga.

2. Ciri-ciri bakal istri

· Wanita itu shalihah


· Wanita itu subur rahimnya. Tentunya bisa diketahui dengan melihat ibu atau saudara
perempuannya yang telah menikah.

· Wanita tersebut masih gadis, yang dengannya akan dicapai kedekatan yang sempurna.

· Taat kepada Allah dan taat kepada Rasul-Nya,

· Taat kepada suami dan menjaga kehormatannya di saat suami ada atau tidak ada serta menjaga
harta suaminya,

· Menjaga shalat yang lima waktu,

· Melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan,

· Memakai jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj)
seperti wanita Jahiliyyah.

· Berakhlak mulia,

· Selalu menjaga lisannya,

· Tidak berbincang-bincang dan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya karena yang
ke-tiganya adalah syaitan,

· Tidak menerima tamu yang tidak disukai oleh suaminya,

· Taat kepada kedua orang tua dalam kebaikan,

· Berbuat baik kepada tetangganya sesuai dengan syari’at.

ُ ‫اريَ ُةً فَ َه‬


َ‫ال‬ ِ ‫َوتهالَ ِعبهكَ ؟ تهالَ ِعبه َها َج‬

“Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis hingga engkau bisa mengajaknya bermain dan dia bisa
mengajakmu bermain?!”

3. Perempuan yang Haram dinikahi

Perempuan yang diharamkan menikah oleh laki-laki disebabkan karena keturunannya (haram
selamanya) serta dijelaskan dalam surah an-Nisa: Ayat 23 yang berbunyi, “Diharamkan kepada kamu
menikahi ibumu, anakmu, saudaramu, anak saudara perempuan bagi saudara laki-laki, dan anak saudara
perempuan bagi saudara perempuan.”:

Ibu

Nenek dari ibu maupun bapak

Anak perempuan & keturunannya


Saudara perempuan segaris atau satu bapak atau satu ibu

Anak perempuan kepada saudara lelaki mahupun perempuan, uaitu semua anak saudara perempuan

Perempuan yang diharamkan menikah oleh laki-laki disebabkan oleh susuan ialah:

Ibu susuan

Nenek dari saudara ibu susuan

Saudara perempuan susuan

Anak perempuan kepada saudara susuan laki-laki atau perempuan

Sepupu dari ibu susuan atau bapak susuan

Perempuan muhrim bagi laki-laki karena persemendaan ialah:

Ibu mertua

Ibu tiri

Nenek tiri

Menantu perempuan

Anak tiri perempuan dan keturunannya

Adik ipar perempuan dan keturunannya

Sepupu dari saudara istri

Anak saudara perempuan dari istri dan keturunannya

G. THALAK (PERCERAIAN)

Di dalam Islam, penceraian merupakan sesuatu yang tidak disukai oleh Islam tetapi dibolehkan dengan
alasan dan sebab-sebab tertentu.Talak menurut bahasa bermaksud melepaskan ikatan dan menurut
syarak pula, talak membawa maksud melepaskan ikatan perkahwinan dengan lafaz talak dan
seumpamanya. Talak merupakan suatu jalan penyelesaian yang terakhir sekiranya suami dan isteri tidak
dapat hidup bersama dan mencari kata sepakat untuk mecari kebahagian berumahtangga. Talak
merupakan perkara yang dibenci Allah s.w.t tetapi dibenarkan.

Hukum talak

Hukum Penjelasan
a) Jika perbalahan suami isteri tidak dapat didamaikan lagi
b) Dua orang wakil daripada pihak suami dan isteri gagal
membuat kata sepakat untuk perdamaian rumahtangga mereka
Wajib
c) Apabila pihak kadi berpendapat bahawa talak adalah lebih baik
d) Jika tidak diceraikan keadaan sedemikian, maka berdosalah
suami

a) Menceraikan isteri ketika sedang haid atau nifas


b) Ketika keadaan suci yang telah disetubuhi
c) Ketika suami sedang sakit yang bertujuan menghalang isterinya
Haram daripada menuntut harta pusakanya
d) Menceraikan isterinya dengan talak tiga sekali gus atau talak
satu tetapi disebut berulang kali sehingga cukup tiga kali atau
lebih

a) Suami tidak mampu menanggung nafkah isterinya


Sunat
b) Isterinya tidak menjaga maruah dirinya

Suami menjatuhkan talak kepada isterinya yang baik, berakhlak


Makruh
mulia dan mempunyai pengetahuan agama

Suami yang lemah keinginan nafsunya atau isterinya belum


Harus
datang haid atau telah putus haidnya

Rukun talak

Perkara Syarat

Berakal
Suami Baligh
Dengan kerelaan sendiri

Akad nikah sah


Isteri
Belum diceraikan dengan talak tiga oleh suaminya

Ucapan yang jelas menyatakan penceraiannya


Lafaz
Dengan sengaja dan bukan paksaaan
Contoh lafaz talak

1. Talak sarih

Lafaz yang jelas dengan bahasa yang berterus-terang seperti “Saya talak awak” atau “Saya ceraikan
awak” atau “Saya lepaskan awak daripada menjadi isteri saya” dan sebagainya.

2. Talak kinayah

Lafaz yang digunakan secara sindiran oleh suami seperti “Pergilah awak ke rumah mak awak” atau
“Pergilah awak dari sini” atau “Saya benci melihat muka awak” dan sebagainya. Namun, lafaz kinayah
memerlukan niat suaminya iaitu jika berniat talak, maka jatuhlah talak tetapi jika tidak berniat talak,
maka tidak berlaku talak.

Jenis talak

1. Talak raj’i

Suami melafazkan talak satu atau talak dua kepada isterinya. Suami boleh merujuk kembali isterinya
ketika masih dalam idah. Jika tempoh idah telah tamat, maka suami tidak dibenarkan merujuk
melainkan dengan akad nikah baru.

2. Talak bain

Suami melafazkan talak tiga atau melafazkan talak yang ketiga kepada isterinya. Isterinya tidak boleh
dirujuk kembali. Si suami hanya boleh merujuk setelah isterinya berkahwin lelaki lain, suami barunya
menyetubuhinya, setelah diceraikan suami barunya dan telah habis idah dengan suami barunya.

3. Talak sunni

Suami melafazkan talak kepada isterinya yang masih suci dan tidak disetubuhinya ketika dalam tempoh
suci

4. Talak bid’i

Suami melafazkan talak kepada isterinya ketika dalam haid atau ketika suci yang disetubuhinya.
5. Talak taklik

Talak taklik ialah suami menceraikan isterinya bersyarat dengan sesuatu sebab atau syarat. Apabila
syarat atau sebab itu dilakukan atau berlaku, maka terjadilah penceraian atau talak. Contohnya suami
berkata kepada isteri, “Jika awak keluar rumah tanpa izin saya, maka jatuhlah talak satu.” Apabila
isterinya keluar dari rumah tanpa izin suaminya, maka jatuhlah talak satu secara automatik.

FASAKH

Arti fasakh menurut bahasa ialah rosak atau putus. Manakala menurut syarak pula, pembatalan nikah
disebabkan oleh sesuatu sifat yang dibenarkan syarak, misalnya, perkahwinan suami isteri yang
difasakhkan oleh kadi disebabkan oleh suaminya tidak mempu memberi nafkah kepada isterinya. Fasakh
tidak boleh mengurangkan bilangan talaknya.

Cara melakukan fasakh

Jika suami atau isteri mempunyai sebab yang megharuskan fasakh

Membuat aduan kepada pihak kadi supaya membatalkan perkahwinan mereka

Jika dapat dibuktikan pengaduan yang diberikan adalah betul, pihak kadi boleh mengambil tindakan
membatalkannya

Pembatalan perkahwinan dengan cara fasakh tidak boleh dirujuk kembali melainkan dengan akad nikah
yang baru.

KHULUK

Perpisahan antara suami dan isteri melalui tebus talak sama ada dengan menggunakan lafaz talak atau
khuluk. Pihak isteri boleh melepaskan dirinya daripada ikatan perkahwinan mereka jika ia tidak berpuas
hati atau lain-lain sebab. Pihak isteri hendaklah membayar sejumlah wang atau harta yang dipersetujui
bersama dengan suaminya, maka suaminya hendaklah menceraikan isterinya dngan jumlah atau harta
yang ditentukan.

Tujuan khuluk

Memelihara hak wanita

Menolak bahaya kemudaratan yang menimpanya

Memberi keadilan kepada wanita yang cukup umurnya melalui keputusan mahkamah.

RUJUK
Menurut bahasa rujuk boleh didefinisikan sebagai kembali. Manakala menurut syarak, ia membawa
maksud suami kembali semula kepada isterinya yang diceraikan dengan ikatan pernikahan asal (dalam
masa idah) dengan lafaz rujuk.

Hukum rujuk

Hukum Penjelasan

Bagi suami yang menceraikan isterinya yang belum


Wajib
menyempurnakan gilirannya dari isteri-isterinya yang lain

Suami merujuk isterinya dengan tujuan untuk menyakiti atau


Haram
memudaratkan isterinya itu

Makruh Apabila penceraian lebih baik antara suami dan isteri

Harus Sekirannya rujuk boleh membawa kebaikan bersama

Rukun rujuk

Perkara Syarat

Berakal
Suami Baligh
Dengan kerelaan sendiri

Telah disetubuhi
Berkeadaan talak raj’i
Isteri Bukan dengan talak tiga
Bukan cerai secara khuluk
Masih dalam idah

Ucapan yang jelas menyatakan rujuk


Tiada disyaratkan dengan khiar atau pilihan
Lafaz
Disegerakan tanpa dikaitkan dengan taklik atau bersyarat
Dengan sengaja dan bukan paksaan

Contoh lafaz rujuk

1. Lafaz sarih

Lafaz terang dan jelas menunjukkan rujuk. Contoh : “Saya rujuk awak kembali” atau “Saya kembali
semula awak sebagai isteri saya.”

2. Lafaz kinayah
Lafaz kiasan atau sindiran. Contoh : “Saya jadikan awak milik saya semula” atau “Saya pegang awak
semula”. Lafaz kinayah perlu dengan niat suami untuk merujuk kerana jika dengan niat rujuk, maka
jadilah rujuk. Namun jika tiada niat rujuk, maka tidak sahlah rujuknya.

H. IDDAH

Iddah adalah waktu menunggu bagi mantan istri yang telah diceraikan oleh mantan suaminya, baik itu
karena thalak atau diceraikannya. Ataupun karena suaminya meninggal dunia yang pada waktu tunggu
itu mantan istri belum boleh melangsungkan pernikahan kembali dengan laki-laki lain. Pada saat iddah
inilah antara kedua belah pihak yang telah mengadakan perceraian, masing-masing masih mempunyai
hak dan kewajiban antara keduanya.Lamanya masa iddah bagi perempuan adalah sebagai berikut:

a. Perempuan yang masih mengalami haid secara normal, iddahnya tiga kali suci

b. Perempuan yang tidak mengalami lagi haid (menopause) atau belum mengalami sama sekali,
iddahnya tiga bulan

c. Perempuan yang ditinggal mati suaminya, iddahnya empat bulan sepuluh hari

d. Perempuan yang sedang hamil, iddahnya sampai melahirkan

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Pernikahan adalah akad nikah (Ijab Qobul) antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya
sehingga menimbulkan kewajiban dan hak di antara keduanya melalui kata-kata secara lisan,
sesuai dengan peraturan-peraturan yang diwajibkan secara Islam. Pernikahan merupakan sunnah
Rasulullah Saw. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah:

“nikah itu Sunnahku, barang siapa membenci pernikahan, maka ia bukanlah ummadku”.

Hadis lain Rasulullah Bersabda:

“Nikah itu adalah setengah iman”.


Maka pernikahan dianjurnya kepada ummad Rasulullah, tetapi pernikahan yang mengikuti aturan yang
dianjurkan oleh ajaran agama Islam. Adapun cangkupan pernikahan yang dianjurkan dalam Islam yaitu
adanya Rukun Pernikahan, Hukum Pernikahan, Syarat sebuah Pernikahan, Perminangan, dan dalam
pemilihan calon suami/istri. Islam sangat membenci sebuah perceraian, tetapi dalam pernikahan itu
sendiri terkadang ada hal-hal yang menyebabkan kehancuran dalam sebuah rumah tangga. Islam secara
terperinci menjelaskan mengenai perceraian yang berdasarkan hukumnya. Dan dalam Islam pun
dijelaskan mengenai fasakh, khuluk, rujuk, dan masa iddah bagi kaum perempuan.

B. KRITIK DAN SARAN

Berdasarkan apa yang telah kami jelaskan dalam makalah mengenai pernikahan ini pasti ada kekurangan
maupun kelebihannya. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat
menambah wawasan pembaca mengenai pernikahan berdasarkan Islam. Adapun kritik maupun saran
dapat disampaikan ke penulis agar dapat memperbaiki makalah ini baik dari segi penulisan, materi,
maupun tata bahasa yang disampaikan. Penulis mengharapkan pembaca dapat mengambil manfaat dari
makalah yang telah dibuat.

DAFTAR PUSTAKA

http://syahadat.blogspot.com/2011/03/hukumpernikahan.htmp

Munarki, Abu. Membangun Rumah Tangga dalam Islam, Pekanbaru : PT. Berlian Putih,2006

Abdullah, Samsul. Tatacara Pernikahan, Jakarta: PT. Gramedia,2011

http://wikiplediaIndonesia.com/01/pernikahansecaraIslam.htmp

http://admin.blogspot.com/2009/01/iddah

http://madinatulilmi.com/index.php?prm=posting&kat=1&var=detail&id=79

Suhaimi.Diktat Pendidikan Agama Islam. Banda Aceh: Unsyiah,2013

Nurcahya. Pernikahan secara Umum. Bandung: Husaini Bandung,1999


Ais, Chatamarrasjid,dkk. Proses Pernikahan.Solo: PT. Anugerah,2000

http://Islamiyah.blogspot.com/2010/02/syaratpernikahanIslam/index.phpm?=posting.htmp

http://munakahat.blogspot.com/2010.htmp

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

3 komentar:

Ahmadi DENI - RISVI10 November 2017 04.39

Insha Allh berkah

Balas

Balasan

Afrizaldi Firdani5 Maret 2018 15.08

Amiiin..
Terimakasih..

Balas

Purnomo jepara2 Januari 2018 14.09

OBYEK PENDIDIKAN ISLAM DALAM QS. AS-SYU’ARA AYAT 214


ALIRAN-ALIRAN DALAM ILMU KALAM
HUBUNGAN USHUL FIQH , QAWAI'D FIQH DAN FIQH KHUSUSNYA DALAM MUAMALAH
METODE PENDIDIKAN ISLAM DALAM QS. IBRAHIM AYAT 24-25
Syarat rukun dan sunnah wudhu
bidang bimbingan konseling
eksistensi tasawuf di era modern
Hadits Tentang Pernikahan

Balas

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

SOCIAL PROFILES

Top of Form

Search

Bottom of Form

Popular Posts

Archives

MAKALAH PENGELOLAAN SAMPAH LINGKUNGAN

PENGELOLAAN SAMPAH LINGKUNGAN Makalah disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah
Pembangunan Berkelanjutan oleh ...

KARYA ILMIAH MENURUNNYA MINAT BACA BUKU DIKALANGAN SISWA

KARYA ILMIAH MENURUNNYA MINAT BACA buku diKALANGAN SISWA SMAN 1 LHOKSEUMAWE ...

MAKALAH PERNIKAHAN DALAM AGAMA ISLAM

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia merupakan makhluk yang memiliki naluri ataupun
keinginan didalam dirinya. Perni...

MAKALAH RADIOAKTIF

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring perkembangan teknologi masa kini dengan
adanya radioaktif membawa perkemb...

MAKALAH AGAMA ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

A GAMA ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN Makalah disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah umum
Pendidikan Agama Islam ...
MAKALAH HUBUNGAN ILMU KIMIA DENGAN PERTAMBANGAN

HUBUNGAN ILMU KIMIA DENGAN PERTAMBANGAN Makalah disusun untuk melengkapi tugas mata
kuliah Kimia Dasar oleh ...

PERAN PENDUDUK DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Peran Penduduk Dalam Pembangunan Berkelanjutan Penduduk atau masyarakat merupakan bagian
penting atau titik sentral dalam pembangunan...

Makalah Analisis Kesalahan Ejaan dan Kalimat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk komunikasi dalam
masyarakat . Komunikasi i...

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DALAM PERTAMBANGAN EMAS

Kata Pengantar Alhamdulillah. Puji syukur kami panjatkan kepada Allah swt yang telah member rahmad
dan kesempatan sehingga kami dapat m...

MAKALAH PENGARUH EKOLOGI INDUSTRI DENGAN INDUSTRI PERTAMBANGAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah
untuk menciptakan keseimbangan...

BLOGGER NEWS

ABOUT

PAGES

Beranda

Copyright © 2019 Afrizaldi Firdani | Powered by Blogger

Design by FThemes | Blogger Theme by Lasantha - Free Blogger Themes | NewBloggerThemes.com

PERNIKAHAN DALAM ISLAM


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa terlepas dari ketergantungan dengan orang
lain. Menurut Ibnu Khaldun, manusia itu (pasti) dilahirkan di tengah-tengah
masyarakat, dan tidak mungkin hidup kecuali di tengah-tengah mereka pula. Manusia
memiliki naluri untuk hidup bersama dan melestarikan keturunannya. Ini diwujudkan
dengan pernikahan. Pernikahan yang menjadi anjuran Allah dan Rasull-Nya ini
merupakan akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah
Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Pernikahan yang telah diatur sedemikian rupa dalam agama dan Undang-undang ini
memiliki tujuan dan hikmah yang sangat besar bagi manusia sendiri. Tak lepas dari
aturan yang diturunkan oleh Allah, pernikahan memiliki berbagai macam hokum dilihat
dari kondisi orang yang akan melaksanakan pernikahan.

Dalam makalah ini akan menjelaskan pernikahan, tujuan dan hikmah pernikahan,
hokum pernikahan, nilai pernikahan dan bentuk perkawinan yang telah dihapus oleh
Islam.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian nikah menurut bahasa, istilah, UU perkawinan dan KHI?


2. Apa hikmah dan tujuan perkawinan?
3. Bagaimana hukum dari perkawinan?
4. Bagaimana nilai ubudiyah dan bukan ubudiyah dalam perkawinan?
5. Apa bentuk perkawinan yang telah dihapuskan oleh Islam?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian nikah menurut bahasa, istilah, UU


perkawinan dan KHI.
2. Untuk mengetahui dan memahami hikmah dan tujuan perkawinan.
3. Untuk mengetahui dan memahami hukum dari perkawinan.
4. Untuk mengetahui dan memahami nilai ubudiyah dan bukan ubudiyah dalam
perkawinan.
5. Untuk mengetahui dan memahami bentuk perkawinan yang telah dihapuskan oleh
Islam.

PEMBAHASAN

PERNIKAHAN DALAM NIKAH

1. Pengertian Nikah
Perkawinan disebut juga “pernikahan”, berasal dari kata nikah yang menurut bahasa
artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh
(wathi). Menurut istilah hukum Islam, pernikahan adalah:
‫بالرجل المرأة استمتاع وحل بالمرأة الرجل استمتاع ملك ليفيد الشارع وضعه عقد هو شرعا الزواج‬.
Perkawinan menurut syara’ yaitu akad yang ditetapkan syara’ untuk membolehkan
bersenang-senang antara laki-laki dengan perempuan dan menghalalkan bersenang-
senangnya perempuan dengan laki-laki.
Para ulama Hanafiah mendefinisikan bahwa nikah adalah sebuah akad yang
memberikan hak kepemilikan untuk bersenang-senang secara sengaja.
Dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, perkawinan ialah ikatan
lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan
tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Berdasarkan pasal 2 Kompilasi Hukum Islam (KHI), Perkawinan menurut hukun Islam
adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk
mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

2. Hikmah dan Tujuan Perkawinan


Allah mensyariatkan pernikahan dan dijadikan dasar yang kuat bagi kehidupan manusia
karena adanya beberapa nilai yang tinggi dan beberapa tujuan utama yang baik bagi
manusia. Dengan pernikahan tali keturunan bisa diketahui dan hal ini sangat
berdampak besar bagi perkembangan generasi selanjutnya. Tujuan pernikahan dalam
Islam tidak hanya sekedar pada batas pemenuhan nafsu biologis atau pelampiasan
nafsu seksual, tetapi memiliki tujuan-tujuan penting yang berkaitan dengan sosial,
psikologi dan agama.
Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah,
mawaddah, dan rahmah. Kita bisa mengatakan bahwa tujuan dari ditetapkannya
pernikahan pada umumnya adalah untuk menghindarkan manusia dari praktik
perzinaan dan seks bebas.
Adapun hikmah-hikmah perkawinan adalah dengan pernikahan maka akan memelihara
gen manusia, menjaga diri dari terjatuh pada kerusakan seksual, sebagai tiang
keluarga yang teguh dan kokoh serta dorongan untuk bekerja keras.

3. Hukum Perkawinan
Nikah ditinjau dari segi hukum syar’i ada lima macam, secara rinci jumhur ulama
menyatakan hukum perkawinan itu dengan melihat keadaan orang-orang tertentu:
a. Sunnah bagi orang-orang yang telah berkeinginan untuk menikah, telah pantas
untuk menikah dan dia telah mempunyai perlrngkapan untuk melangsungkan
perkawinan.
b. Makruh bagi orang-orang yang belum pantas untuk menikah, belum berkeinginan
untuk menikah, sedangkan perbekalan untuk perkawinan juga belum ada. Begitu pula
ia telah mempunyai perlengkapan untuk perkawinan, namun fisiknya mengalami cacat
impoten, berpenyakitan tetap, tua Bangka dan kekurangan fisik lainnya.
c. Wajib bagi orang-orang yang telah pantas untuk menikah, berkeinginan untuk
menikah dan memiliki perlengkapan untuk menikah, ia khawatir akan terjerumus ke
tempat maksiat kalau ia tidak menikah.
d. Haram bagi orang-orang yang tidak akan dapat memenuhi ketentuan syara’ untuk
melakukan perkawinan atau ia yakin perkawinan itu tidak akan memcapai tujuan
syara’, sedangkan dia meyakini perkawinan itu akan merusak kehidupan pasangannya.
e. Mubah bagi orang-orang yang pada dasarnya belum ada dorongan untuk menikah
dan perkawinan itu tidak akan mendatangkan kemudaratan apa-apa kepada siapapun.
Golongan Zhahiriyah berpendapat bahwa nikah itu wajib. Sedangkan ulama Syafi’iyah
mengatakan bahwa hukum asal nikah adalah mubah, di samping ada yang sunnah,
wajib, haram dan yang makruh.

4. Nilai Ubudiyah dan Bukan Ubudiyah Dalam Perkawinan


a. Nilai ubudiyah dalam perkawinan
Perkawinan dalam Islam bukan semata-mata hubungan atau kontrak keperdataan
biasa, tetapi mempunyai nilai ibadah, sebagaimana dalam KHI ditegaskan bahwa
perkawinan merupakan akad yang sangat kuat untuk menaati perintah Allah dan
pelaksanaannya merupakan ibadah sesuai dengan pasal 2 Kompilasi Hukum Islam.
Perkawinan merupakan salah satu sunnatullah yang berlaku pada semua makhluk
Tuhan, baik pada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Perkawinan merupakan cara
yang dipilih Allahsebagai jalan bagi manusia untuk beranak pinak, berkembang biak
dan melestarikan hidupnya setelah masing-masing pasangan siap melakukan perannya
yang positif dalam mewujudkan tujuan perkawinan.
Allah tidak menjadikan manusia seperti makhluk lainnya yang hidup bebas mengikuti
nalurinya dalam hubungan secara anarki tanpa aturan. Demi menjaga kehormatan dan
martabatnya sehingga hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur secara
terhormat dan berdasarkan rasa saling meridhai.
Jadi dilihat dari nilai ubudiyah bahwa seorang yang menjalankan sunnah Allah dan
Rasul-Nya merupakan suatu ibadah, dalam perkawinan banyak suruhan yang terdapat
dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sehinggaorang yang menjalankan perkawinan akan
dihitung ibadah.
b. Nilai bukan ubudiyah dalam perkawinan
Nilai-nilai perkawinan selain nilai ubudiyah atau ibadah yaitu nilai akidah dan
muamalah. Dilihat dari nilai akidah dalam sahnya dalam perkawinan juga memuat
aspek akidah, karena di dalam perkawinan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Sedangkan dilihat dari nilai muamalah perkawinan merupakan perbuatan yang
melibatkan dua orang sehingga perkawinan tersebut dapat dinamakan hablun minan
annas, yaitu hubungan manusia dengan manusia.

5. Bentuk Perkawinan yang Telah Dihapus Oleh Islam


Tujuan perkawinan bisa dicapai dengan adanya prinsip bahwa perkawinan adalah untuk
selamanya, bukan hanya dalam waktu tertentu saja. Karena prinsip perkawinan dalam
Islam seperti itu, maka Islam tidak membenarkan:
a. Nikah Mut’ah
Nikah mut’ah adalah perkawinan untuk masa tertentu, dalam arti pada waktu akad
dinyatakan masa tertentu yang bila masa itu telah datang, perkawinan terputus dengan
sendirinya.
b. Muhallil Nikah
Nikah Muhallil adalah perkawinan yang dilakukan untuk menghalalkan orang yang telah
melakukan talak tiga untuk segera kembali pada isterinya.
c. Nikah Syigar
Nikah Syigar adalah seorang wali mengawinkan puterinya dengan seorang laki-laki
dengan syarat agar laki-laki itu mengawinkan puterinya dengan si wali tadi tanpa bayar
mahar.

PENUTUP
A. Kesimpulan
perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai
suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah,
mawaddah, dan rahmah. Adapun hikmah-hikmah perkawinan adalah dengan
pernikahan maka akan memelihara gen manusia, menjaga diri dari terjatuh pada
kerusakan seksual dll.
Nikah ditinjau dari segi hukum syar’i ada lima macam ialah sunnah, mekruh, wajib,
haram dan mubah.
Nilai Ubudiyah dan Bukan Ubudiyah Dalam Perkawinan : 1. Nilai ubudiyah dalam
perkawinan ialah perkawinan bukan semata-mata hubungan atau kontrak keperdataan
biasa, tetapi mempunyai nilai ibadah. 2. Nilai-nilai perkawinan selain nilai ubudiyah
atau ibadah yaitu nilai akidah dan muamalah.
Bentuk Perkawinan yang Telah Dihapus Oleh Islam yaitu nikah mut’ah, nikah muhallil
dan nikah syigar.

B. Saran
Demikianlah makalah tentang “Nikah” yang dapat kelompok kami sampaikan. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan banyak kesalahan.
Untuk itu kami mohon maaf dan kritikannya yang membangun untuk perbaikan
makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini bisa bermanfaat. Amin.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah memberikan
kenikamatan kepada kita semua yaitu nikamat islam dan iman. Shalawat dan salam
selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata
kuliah Agama Islam.

Pernikahan merupakan sunah nabi Muhammad saw. Perkawinan diisyaratkan


supaya manusia mempunyai keturunan dan keluarga yang sah menuju kehidupan
bahagia di dunia dan akhirat, di bawah naungan cinta kasih dan ridha Allah SWT, dan
hal ini telah diisyaratkan dari sejak dahulu, dan sudah banyak sekali dijelaskan di dalam
al-Qur’an:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba
sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka
dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS.
an-Nuur ayat 32).

Makalah yang kami sajikan berdasarkan berbagai sumber informasi, referensi, dan
berita. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Mercu
Buana. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari
sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya meminta masukannya demi
perbaikan pembuatan makalah saya di masa yang akan datang dan
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR..........................................................................................................
DAFTAR
ISI.........................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN................................................................................................................

A.LATAR
BELAKANG......................................................................................................
B. RUMUSAN
MASALAH.................................................................................................
C. TUJUAN
PENULISAN...................................................................................................
BAB II
PEMBAHASAN...................................................................................................................

A.PENGERTIAN DAN RUKUN


NIKAH..................................................................................
B. PERNIKAHAN DALAM PANDANGAN ISLAM.........................................
C. HIKAMAH DAN TUJUAN PERNIKAHAN.............................................
BAB III
PENUTUP...........................................................................................................................
..
KESIMPULAN.....................................................................................................................

DAFTAR
PUSTAKA...........................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dalam Islam, Pernikahan adalah sesuatu yang luhur dan sakral, bermakna ibadah
kepada Allah, mengikuti Sunnah Rasulullah dan dilaksanakan atas dasar keikhlasan,
tanggungjawab, dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum yang harus diindahkan.
Dalam Undang-Undang RI Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Bab I pasal 1,
perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia
dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Allah s.w.t. berfirman dalam surat Ar-Rumُ ayatُ 21ُ “Danُ diُ antaraُ tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di
antaramu rasa kasih sayang (mawaddah warahmah). Sesungguhnya pada yang
demikian itu menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orangُ yangُ berfikir”.ُ
Mawaddah warahmah adalah anugerah Allah yang diberikan kepada manusia, ketika
manusia melakukan pernikahan.

Pernikahan merupakan sunah nabi Muhammad saw. Perkawinan diisyaratkan supaya


manusia mempunyai keturunan dan keluarga yang sah menuju kehidupan bahagia di
dunia dan akhirat, di bawah naungan cinta kasih dan ridha Allah SWT, dan hal ini telah
diisyaratkan dari sejak dahulu, dan sudah banyak sekali dijelaskan di dalam al-Qur’an:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba
sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka
dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS.
an-Nuur ayat 32).

BAB II
PERNIKAHAN DALAM ISLAM

A. Definisi Pengertian Nikah.


Istilahُ nikahُ berasalُ dariُ bahasaُ Arab,ُ yaituُ (ُ ‫) ُالنكاح‬,ُ adapulaُ yangُ mengatakanُ
perkawinanُ menurutُ istilahُ fiqhُ dipakaiُ perkataanُ nikahُ danُ perkataanُ zawaj.ُ
Sedangkanُ Perkawinanُ adalahُ ;
‫ُوالشروط‬ ‫ُاألركان‬ ‫ُعلى‬ ‫ُالمشتمل‬ ‫ُالمشهور‬ ‫ُالعقد‬ ‫ُعن‬ ‫عبارة‬
Sebuah ungkapanُtentangُakadُyangُsangatُjelasُdanُterangkumُatasُrukun-rukunُdanُ
syarat-syarat.
Paraُulamaُfiqhُpengikutُmazhabُyangُempatُ(Syafi’i,ُHanafi,ُMaliki,ُdanُHanbali)ُpadaُ
umumnyaُ merekaُ mendefinisikanُ perkawinanُ padaُ :
‫ُمعناهما‬ ‫ُأو‬ ‫ُتزويج‬ ‫ُأو‬ ‫ُانكاح‬ ‫ُبلفظ‬ ‫ُوطء‬ ‫ُملك‬ ‫ُيتضمن‬ ‫عقد‬
Akad yang membawa kebolehan (bagi seorang laki-laki untuk berhubungan badan
dengan seorang perempuan) dengan (diawali dalam akad) lafazh nikah atau kawin,
atau makna yang serupa dengan kedua kata tersebut.
Dalam kompilasi hukum islam dijelaskan bahwa perkawinan adalah pernikahan, yaitu
akad yang kuat atau mitsaqan ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan
melaksanakannya merupakan ibadah. Dari beberapa terminologi yang telah
dikemukakan nampak jelas sekali terlihat bahwa perkawinan adalah fitrah ilahi. Hal ini
dilukiskan dalam Firman Allah
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.ُ Sesungguhnyaُ padaُ yangُ demikianُ
ituُ benar-benarُ terdapatُ tanda-tandaُ bagiُ kaumُ yangُ berfikir.ُ (QS.Ar-Rumُ ayatُ 21)
B. ُ Rukunُ Nikah
1. ُ WALI
Berdasarkanُ sabdaُ Rasulullahُ Sallallahuُ `Alaihiُ Wasallam:

ُ ‫اط‬
‫ل‬ ِ َ‫ُب‬ .‫اطل‬
ِ َ‫ُب‬ ‫ُ َف ِن َك هح َها‬ ،‫ُو ِلي َها‬
َ ُِ ‫ُاذ‬
‫ِن‬ ‫ُبِغَي ِر‬ ‫ُ هن ِك َحت‬ ِ‫ُام َرأة‬ ‫ايُّ َما‬
Artinyaُ :ُ “ُWanitaُmanaُ sajaُ yangُ menikahُ tanpaُ izinُ walinyaُ makaُ nikahnyaُ batal…ُ
batal..ُ batal.”ُ (HRُ Abuُ Daud,ُ At-Tirmidzyُ danُ Ibnuُ Majah)
2. ُ SAKSI
Rasulullahُ sallallahuُ `Alaihiُ Wasallamُ bersabda:
ُِ ‫ُ َعد‬
‫ل‬ ‫ُشَا ِه َدي‬ ‫ُو‬
َ ‫ي‬ ‫ل‬
ِ ‫و‬
َِ ‫ب‬ُ َ ‫ل‬‫ُا‬ ‫ح‬
َ ‫ا‬ُ
‫ك‬َ ‫ن‬
ِ ُ َ‫ل‬
Artinyaُ:ُ“Tidakُadaُnikahُkecualiُdenganُwaliُdanُduaُsaksiُyangُadil.”(HRُAl-Baihaqi
dan Ad-Daaruquthni. Asy-Syaukaniُ dalamُ Nailulُ Athaarُ berkataُ :ُ “Hadistُ diُ
kuatkandengan hadits-haditsُ lain.”)
3. AKAD NIKAH
Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang melangsungkan
pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul.
Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan dari
pihak kedua. Ijab dari pihak wali si perempuan denganُ ucapannya,ُ misalnya:ُ “Sayaُ
nikahkan anak saya yang bernama si A kepadamu dengan mahar sebuah kitab
Riyadhusُ Shalihin.”
Qabulُadalahُpenerimaanُdariُpihakُsuamiُdenganُucapannya,ُmisalnya:ُ“Sayaُterimaُ
nikahnya anak Bapak yang bernama si A dengan mahar sebuah kitab Riyadhus
Shalihin.”

Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi:
1. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
2. Adanya Ijab Qabul.
3. Adanya Mahar.
4. Adanya Wali.
5. Adanya Saksi-saksi.

Untuk terjadinya aqad yang mempunyai akibat-akibat hukum pada suami istri haruslah
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Kedua belah pihak sudah tamyiz.
2. Ijab qobulnya dalam satu majlis, yaitu ketika mengucapkan ijab qobul tidak boleh
diselingi dengan kata-kata lain, atau menurut adat dianggap ada penyelingan yang
menghalangi peristiwa ijab qobul.

Di dalam ijab qobul haruslah dipergunakan kata-kata yang dipahami oleh masing-
masing pihak yang melakukan aqad nikah sebagai menyatakan kemauan yang timbul
dari kedua belah pihak untuk nikah, dan tidak boleh menggunakan kata-kata kasar. Dan
menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu yang
dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat.

Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazaairi berkata dalam kitabnya MinhaajulُMuslim.ُ“Ucapanُ


ketikaُ akadُ nikahُ seperti:ُ Mempelaiُ lelakiُ :ُ “Nikahkanlahُ akuُ denganُ putrimuُ yangُ
bernamaُ Fulaanah.”ُWaliُwanitaُ :ُ “Akuُ nikahkanُ kamuُ denganُ putrikuُ yangُ bernamaُ
Fulaanah.”ُ Mempelaiُ lelakiُ :ُ “Akuُ terimaُ nikahُ putrimu.”

4. MAHAR (MAS KAWIN)


Mahar adalah tanda kesungguhan seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita.
Mahar juga merupakan pemberian seorang laki-laki kepada perempuan yang
dinikahinya, yang selanjutnya akan menjadi hak milik istri secara penuh. Kita bebas
menentukan bentuk dan jumlah mahar yang kita inginkan karena tidak ada batasan
maharُ dalamُ syari’atُ Islam,ُ tetapiُ yangُ disunnahkanُ adalahُ maharُ ituُ disesuaikanُ
dengan kemampuan pihak calon suami. Namun Islam menganjurkan agar meringankan
mahar. Rasulullah saw. bersabda:ُ “Sebaik-baik mahar adalah mahar yang paling
mudahُ (ringan).”(H.R.ُ Al-Hakim: 2692)

C. Khitbah ( peminangan )
Seorang lelaki yang telah berketetapan hati untuk menikahi seorang wanita, hendaknya
meminang wanita tersebut kepada walinya.

Apabilaُ seorangُ lelakiُ mengetahuiُ wanitaُ yangُ hendakُ dipinangnyaُ telahُ terlebihُ
dahuluُ dipinangُ olehُ lelakiُ lainُ danُ pinanganُ ituُ diterima,ُ makaُ haramُ baginyaُ
meminangُ wanitaُ tersebut.ُ Karena

Rasulullahُ Shallallahuُ 'alaihiُ waُ sallamُ pernahُ bersabda:


َُ‫ُيَت هرك‬ ‫ُأَو‬ ‫ُيَن ِك َح‬ ‫ُ َحتَى‬ ‫ُأ َ ِخي ِه‬ ‫ُخطبَ ِة‬
ِ ‫ُ َعلَى‬ ‫ُالر هج هل‬
َ ُ‫ُيَخ ه‬
‫طبه‬ َ‫ل‬
“Tidakُbolehُseseorangُmeminangُwanitaُyangُtelahُdipinangُolehُsaudaranyaُhinggaُ
saudaranyaُituُmenikahiُsiُwanitaُatauُmeninggalkannyaُ(membatalkanُpinangannya).”ُ
(HR. Al-Bukhari no. 5144)

Yang perlu diperhatikan oleh wali


Ketika wali si wanita didatangi oleh lelaki yang hendak meminang si wanita atau ia
hendak menikahkan wanita yang di bawah perwaliannya, seharusnya ia memerhatikan
perkara berikut ini:
1. Memilihkan suami yang shalihُdanُbertakwa.ُBilaُyangُdatangُkepadanyaُlelakiُyangُ
demikianُdanُsiُwanitaُyangُdiُbawahُperwaliannyaُjugaُmenyetujuiُmakaُhendaknyaُ
iaُ menikahkannyaُ karenaُ Rasulullahُ Shallallahuُ 'alaihiُ waُ sallamُ pernahُ bersabda:
َُ ‫ض‬
‫ُو‬ ِ ‫ ُ ِإلَ ُت َف َعلهوا ُت َ هكن ُ ِفتنَة ُ ِفي ُاألَر‬،‫ُو هخلهقَهه ُفَزَ ِو هجوهه‬ َ ‫ب ُإُِلَي هكم ُ َمن ُت َر‬
َ ‫ضونَ ُدِينَه ه‬ َ ‫ع ِريض ُ ِإذَا ُ َخ‬
َ ‫ط‬ َ َ‫ف‬
َ ُ ‫ساد‬

“Apabilaُ datangُ kepadaُ kalianُ (paraُ wali)ُ seseorangُ yangُ kalianُ ridhaiُ agamaُ danُ
akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkan orang
tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi
fitnahُ diُ bumiُ danُ kerusakanُ yangُ besar.”ُ (HR.ُ At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-
Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)
2. Meminta pendapat putrinya/wanita yang di bawah perwaliannya dan tidak boleh
memaksanya.
Persetujuan seorang gadis adalah dengan diamnya karena biasanya ia malu.

D. Hukum Menikah
Adapun hukum menikah, dalam pernikahan berlaku hukum taklifi yang lima yaitu :
1. Wajib bagi orang yang sudah mampu nikah,sedangkan nafsunya telah mendesak
untuk melakukan persetubuhan yang dikhawatirkan akan terjerumus dalam praktek
perzinahan.
2. Haram bagi orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nafkah lahir dan batin
kepada calon istrinya,sedangkan nafsunya belum mendesak.
3. Sunnah bagi orang yang nafsunya telah mendesak dan mempunyai kemampuan
untuk nikah,tetapi ia masih dapat menahan diri dari berbuat haram.
4. Makruh bagi orang yang lemah syahwatnya dan tidak mampu member belanja calon
istrinya.
5. Mubah bagi orang tidak terdesak oleh alas an-alasan yang mewajibkan segera nikah
atau karena alas an-alasan yang mengharamkan untuk nikah.

E. Anjuran Islam
Islam telah menganjurkan kepada manusia untuk menikah. Dan adaُbanyakُhikmahُdiُ
balikُ anjuranُ tersebut.ُ Antaraُ lainُ adalahُ :

1. ُ Sunnahُ Paraُ Nabiُ danُ Rasul


ُ‫ل ُأ َ َجل ُ ِكتَاب‬ ُِ ‫ي ُ ِبآيَُة ُإِلَ ُ ِبإِذ ِن ُّللاِ ُ ِل هك‬
َ ‫ت‬
ِ ‫أ‬ ‫ي‬
َ ُ ‫ن‬َ ‫أ‬ ُ ‫ول‬ ‫س‬
‫ه‬ ‫ر‬ َ ‫ل‬
ِ ُ َ‫ان‬ َ
‫ك‬ ُ ‫ا‬ ‫م‬ ‫ُو‬
َ َ ً ‫ة‬‫ي‬
َ ‫ر‬‫ه‬
ِ َ‫ذ‬ ‫ُو‬ ‫ا‬ ‫ج‬
ً ‫ا‬ ‫و‬
َ ‫ز‬َ ‫أ‬ ُ ‫م‬ ‫ه‬
‫ه‬ َ ‫ل‬ ُ ‫َا‬ ‫ن‬‫ل‬ ‫ع‬ ‫ج‬ ‫ُو‬
َ َ َ ‫ل‬
َ‫ِك‬ ‫ب‬َ ‫ق‬ ُ ‫ن‬ ‫ُم‬
ِ ً ‫ال‬‫س‬‫ه‬ ‫ُر‬
‫ه‬ ‫َا‬ ‫ن‬‫ل‬ َ ‫َولَقَد ُأَر‬
‫س‬
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami
memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang
Rasul mendatangkan sesuatu ayat melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa
adaُ Kitab.ُ (QS.ُ Ar-Ra'dُ :ُ 38).
2. ُ Bagianُ Dariُ Tandaُ Kekuasanُ Allah
َُ‫َُليَات ُِلقَوم ُيَتَفَ َك هرون‬ َ َ‫ُو َرح َُمةً ُإِ َن ُفِي ُذَلِك‬ َ ً ‫ُو َجعَ َل ُبَي َن هكم ُ َم َو َدة‬ َ ‫ُمن ُأَنفه ِس هكم ُأَز َوا ًجا ُِلت َس هكنهوا ُإِلَي َها‬ ِ ‫َو ِمن ُآيَاتِ ِه ُأَن ُ َخلَقَ ُلَ هكم‬
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benarُ terdapatُ tanda-tandaُ bagiُ kaumُ yangُ berfikir.(QS.ُ Ar-Ruumُ :ُ 21)
3. ُ Salahُ Satuُ Jalanُ Untukُ Menjadiُ Kaya
ُ‫ع ِليم‬
َ ُ ‫ّللاه ُ َوا ِسع‬ َ ‫ُو‬ َ
َ ‫ُمن ُُفض ِل ِه‬ ِ ‫ُّللاه‬ َ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬
َ ‫ُوإِ َمائِكم ُإِن ُيَكونوا ُفق َراء ُيهغ ِن ِه هم‬ ‫ه‬ ‫ه‬
َ ‫ُمن ُ ِعبَا ِدكم‬ ِ َ‫صا ِل ِحين‬ َ ‫ُوال‬ َ ‫ُمنكم‬ ‫ه‬ ِ ‫َوأَن ِك هحوا ُاأليَا َمى‬
َ
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang
layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.
Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui.(QS. An-Nur : 32)
4. Ibadah Dan Setengah Dari Agama
Dari Anas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang diberi rizki oleh Allah SWT
seorang istri shalihah berarti telah dibantu oleh Allah SWT pada separuh agamanya.
Maka dia tinggal menyempurnakan separuh sisanya. (HR. Thabarani dan Al-Hakim
2/161).
5. Tidak Ada Pembujangan Dalam Islam
Islam berpendirian tidak ada pelepasan kendali gharizah seksual untuk dilepaskan
tanpa batas dan tanpa ikatan. Untuk itulah maka diharamkannya zina dan seluruh yang
membawa kepada perbuatan zina.

Tetapi di balik itu Islam juga menentang setiap perasaan yang bertentangan dengan
gharizah ini. Untuk itu maka dianjurkannya supaya kawin dan melarang hidup
membujang dan kebiri.

Seorang muslim tidak halal menentang perkawinan dengan anggapan, bahwa hidup
membujang itu demi berbakti kepada Allah, padahal dia mampu kawin; atau dengan
alasan supaya dapat seratus persen mencurahkan hidupnya untuk beribadah dan
memutuskan hubungan dengan duniawinya.
Abu Qilabah mengatakan "Beberapa orang sahabat Nabi bermaksud akan menjauhkan
diri dari duniawi dan meninggalkan perempuan (tidak kawin dan tidak menggaulinya)
serta akan hidup membujang. Maka berkata Rasulullah s.a.w, dengan nada marah
lantas ia berkata:
'Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur lantaran keterlaluan, mereka
memperketat terhadap diri-diri mereka, oleh karena itu Allah memperketat juga, mereka
itu akan tinggal di gereja dan kuil-kuil. Sembahlah Allah dan jangan kamu
menyekutukan Dia, berhajilah,ُberumrahlahُdanُberlakuُluruslahُkamu,ُmakaُAllahُpunُ
akanُ meluruskanُ kepadamu.
Kemudianُ turunlahُ ayat:
َ
ُِ ‫ُول ُت َعتَدهوا ُإِ َن ُّللاَ ُل ُي‬
َُ‫هحبُّ ُال همعتَدِين‬ َ ‫ه‬ َ َ ِ ‫يَا ُأَيُّ َها ُالذِينَ ُآ َمنهوا ُل ُت َح ِر هموا ُطيِبَا‬
َ ‫ت ُ َما ُأ َح َل ُّللاه ُلكم‬ َ ‫ه‬ َ َ
Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu mengharamkan yang baik-baik dari apa
yang dihalalkan Allah untuk kamu dan jangan kamu melewati batas, karena
sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melewati batas. (QS. Al-
Maidah: 87)
6. Menikah Itu Ciriُ Khasُ Makhlukُ Hidup
Selainُ ituُ secaraُ filosofis,ُ menikahُ atauُ berpasanganُ ituُ adalahُ merupakanُ ciriُ dariُ
makhluqُhidup.ُAllahُSWTُtelahُmenegaskanُbahwaُmakhluq-makhluqُciptaan-Nyaُiniُ
diciptakanُ dalamُ bentukُ berpasanganُ satuُ samaُ lain.
َ َ
َُ‫ُتَذك هرون‬ ‫ه‬ َ َ
‫ُلعَلكم‬ ‫ُزَ و َجي ِن‬ َ
‫ُ َخلقنَا‬ ‫ُشَيُء‬ ‫ه‬
‫ُك ِل‬ ‫َو ِمن‬
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat
kebesaran Allah.(QS. Az-Zariyat : 49)

F. Tujuan Nikah
Orang yang menikah sepantasnya tidak hanya bertujuan untuk menunaikan
syahwatnyaُ semata,ُ sebagaimanaُ tujuanُ kebanyakanُ manusiaُ padaُ hariُ ini.ُ Namunُ
hendaknyaُ iaُ menikahُ karenaُ tujuan-tujuanُ berikutُ ini:

1. ُ Melaksanakanُ anjuranُ Nabiُ Shallallahuُ 'alaihiُ waُ sallamُ dalamُ sabdanya:


ُ‫ُفَل َيتَزَ َوج‬ َ ‫ُال َبا َءة‬ ‫ُمن هُك هم‬
ِ ‫ع‬ َ َ ‫ُاست‬
َ ‫طا‬ ‫ُ َم ِن‬ ‫ب‬ َ ‫ُال‬
ِ ‫ش َبا‬ ‫ُ َمعش ََر‬ ‫ َيا‬...
“Wahaiُsekalianُparaُpemuda!ُSiapaُdiُantaraُkalianُyangُtelahُmampuُuntukُmenikahُ
makaُ hendaknyaُ iaُ menikah….”
2. ُ Memperbanyakُ keturunanُ umatُ ini,ُ karenaُ Nabiُ Shallallahuُ 'alaihiُ waُ sallamُ
bersabda:
‫ُاأل ه َم َُم‬ ‫ُبِ هك هم‬ ‫ُ همكَاثِر‬ ‫ُفَإِنِي‬ ،‫ُال َولهو َد‬ ‫ُالُ َودهو َد‬ ‫ت َزَ َو هجوا‬
“Menikahlahُkalianُdenganُwanitaُyangُpenyayangُlagiُsubur,ُkarenaُ(padaُhariُkiamatُ
nanti) aku membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umatُyangُlain.”
3. Menjaga kemaluannya danُ kemaluanُ istrinya,ُ menundukkanُ pandangannyaُ
danُ pandanganُ istrinyaُ dariُ yangُ haram.ُ Karenaُ Allahُ Subhanahuُ waُ Ta'alaُ
memerintahkan:
ُ‫ُمن‬ ِ َ‫ت ُيَغضهضن‬ َ َ‫ظواُفه هرو َج ههم ُذَلِكَ ُأَزكَىُلَ ههم ُإِ َن ُهللاَ ُ َخبِير ُبِ َُماُيَصنَعهون‬
ِ ‫ُوقهل ُ ِلل همؤ ِمنَا‬. ‫ُويَحفَ ه‬
َ ‫ارهِم‬
ِ ‫ص‬َ ‫ُّواُمن ُأَب‬
ِ ‫قهل ُ ِلل همؤ ِمنِينَ ُ َيغهض‬
َُ ‫ُفه هرو َج هه‬
‫ن‬ َ‫ُويَحفَظن‬
َ ‫اره َِن‬ِ ‫ص‬ َ ‫أَب‬
“Katakanlahُ (yaُ Muhammad)ُ kepadaُ laki-lakiُ yangُ beriman:ُ ‘Hendaklahُ merekaُ
menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang
demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
merekaُ perbuat.’ُ Danُ katakanlahُ kepadaُ wanita-wanitaُ yangُ beriman:ُ ‘Hendaklahُ
mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan
mereka…’.”ُ (An-Nur: 30-31)

G. Hikmah adanya Pernikahan


1. Untuk menjaga kesinambungan generasi manusia.
2. Menjaga kehormatan dengan cara menyalurkan kebutuhan biologis secara syar'i.
3. Kerja sama suami-istri dalam mendidik dan merawat anak.
4. Mengatur rumah tangga dalam kerjasama yang produktif dengan memperhatikan hak
dan kewajiban.

H. Pemikiran Tentang Pencatatan Perkawinan di Indonesia.


Undang-undang RI tentang Perkawinan No. 1 tahun 1974 diundangkan pada tanggal 2
Januari 1974 dan diberlakukan bersamaan dengan dikeluarkannya peraturan
pelaksanaan yaitu Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU
No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.
Menurut UU Perkawinan, perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan
seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1 UU
Perkawinan).

Mengenai sahnya perkawinan dan pencatatan perkawinan terdapat pada pasal 2 UU


Perkawinan, yang berbunyi:
1. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya itu;

2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Hal ini terus terjadi karena perkawinan menurut agama dan kepercayaannya sudah
dianggap sah, banyak pasangan suami istri tidak mencatatkan perkawinannya. Alasan
yang paling umum adalah biaya yang mahal dan prosedur berbelit-belit. Alasan lain,
sengaja untuk menghilangkan jejak dan bebas dari tuntutan hukum dan hukuman
administrasi dari atasan, terutama untuk perkawinan kedua dan seterusnya (bagi
pegawai negeri dan ABRI). Perkawinan tak dicatatkan ini dikenal dengan istilah
perkawinan bawah tangan atau nikah sirri.

Secara garis besar, perkawinan yang tidak dicatat di negara Indonesia ini sama saja
dengan membiarkan adanya hidup bersama dengan status hukum yang tidak tetap, dan
ini sangat merugikan para pihak yang terlibat (terutama perempuan), terlebih lagi kalau
sudah ada anak-anak yang dilahirkan. Mereka yang dilahirkan dari orang tua yang
hidup bersama tanpa dicatatkan perkawinannya, memiliki akibat hukum dengan
dijadikannya satus anak tersebut sama dengan anak yang lahir dari perkawinan diluar
nikah, sehingga anak tersebut hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibunya,
dalam arti tidak mempunyai hubungan hukum dengan bapaknya. Dengan perkataan
lain secara yuridis tidak mempunyai bapak.

Sebenarnya, tidak ada paksaan bagi masyarakat untuk mencatatkan perkawinan.


Dalam artian, jika kita tidak mencatatkan perkawinan, bukan berarti kita melakukan
suatu kejahatan. Namun jelas pula bahwa hal ini memberikan dampak atau
konsekuensi hukum tertentu yang khususnya merugikan perempuan dan anak-anak.
Kemudian, ketika seseorang tidak dapat membuktikan terjadinya perkawinan dengan
akta nikah, dapat mengajukan permohonan itsbat nikah (penetapan atau pengesahan
nikah) kepada pengadilan agama.

I. Nikah Siri
Pernikahan siri sering diartikan oleh masyarakat umum dengan

1. Pernikahan tanpa wali. Pernikahan semacam ini dilakukan secara rahasia (siri),
dikarenakan pihak wali perempuan tidak setuju atau karena menganggap absah
pernikahan tanpa wali atau hanya karena ingin memuaskan nafsu syahwat belaka
tanpa mengindahkan lagi ketentuan-ketentuan syariat.
2. Pernikahan yang sah secara agama namun tidak dicatatkan dalam lembaga
pencatatan negara.

Faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya pernikahan sirri adalah:

1. Nikah sirri dilakukan karena hubungan yang tidak direstui oleh orang tua kedua pihak
atau salah satu pihak. Misalnya orang tua kedua pihak atau salah satu pihak berniat
menjodohkan anaknya dengan calon pilihan mereka. Orang tuanya menikahkan siri
dengan tujuan untuk mengikat dulu supaya tidak diambil oleh orang lain.
2. Nikah sirri dilakukan karena adanya hubungan terlarang, misalnya salah satu atau
kedua pihak sebelumnya pernah menikah secara resmi dan telah mempunyai istri atau
suami yang resmi, tetapi ingin menikah lagi dengan orang lain.
3. Nikah sirri dilakukan dengan dalih menghindari dosa karena zina. Kekhawatiran
karena hubungannya yang semakin hari semakin dekat, menimbulkan kekhawatiran
akan terjadinya perbuatan yang melanggar syariah. Pernikahan siri dianggap sebagai
jalan keluar yang mampu menghalalkan gejolak cinta sekaligus menghilangkan
kekhawatiran terjadinya zina.
4. Nikah sirri dilakukan karena pasangan merasa belum siap secara materi dan secara
sosial. Hal ini biasa dilakukan oleh para mahasiswa, disamping karena khawatir terjadi
zina, mereka masih kuliah, belum punya persiapan jika harus terbebani masalah rumah
tangga. Status pernikahanpun masih disembunyikan supaya tidak menghambat
pergaulan dan aktivitas dengan teman-teman di kampus.
5. Nikah sirri dilakukan karena pasangan memang tidak tahu dan tidak mau tahu
prosedur hukum. Hal ini bisa terjadi pada suatu masyarakat wilayah desa terpencil yang
jarang bersentuhan dengan dunia luar. Lain lagi dengan komunitas jamaah tertentu
misalnya, yang menganggap bahwa kyai atau pemimpin jamaah adalah rujukan utama
dalam semua permasalahan termasuk urusan pernikahan. Asal sudah dinikahkan oleh
kyainya, pernikahan sudah sah secara Islam dan tidak perlu dicatatkan, juga nikah sirri
dilakukan untuk menghindari beban biaya dan prosedur administrasi yang berbelit-belit.
6. Nikah sirri dilakukan hanya untuk penjajagan dan menghalalkan hubungan badan
saja. Bila setelah menikah ternyata tidak ada kecocokan maka akan mudah
menceraikannya tanpa harus melewati prosedur yang berbelit-belit di persidangan.
Dilihat dari tujuannya, hal ini sangat merendahkan posisi perempuan yang dijadikan
objek semata, tanpa ada penghargaan terhadap lembaga pernikahan baik secara islam
maupun secara hukum.

K. Hak istri atas suami (yaitu hak istri yang harus dipenuhi oleh suami)1) Terkait
kebendaan
Salah satunya adalah memberikan mahar. Karena mahar merupakan keadilan dan
keagungan bagi para wanita. Harta suami adalah harta istri, harta istri adalah miliknya
sendiri.
“Berikanlahُ maskawinُ kepadaُ wanitaُ (yangُ kamuُ nikahi)ُ sebagaiُ pemberianُ yangُ
wajib, kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu
dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang
sedapُ lagiُ baikُ akibatnya.”ُ (QSُ Anُ Nisaُ 4)
Kedua adalah memberikan belanja (nafkah)
Memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, pakaian, pengobatan. Dan kadar nafkah
yang harus diberikan kepada istri janganlah berlebihan. Berikan secara wajar.
“…danُ kewajibanُ ayahُ memberiُ makanُ danُ pakaianُ kepadaُ paraُ ibuُ denganُ caraُ
ma’ruf.ُ Seseorangُ tidakُ dibebaniُ melainkanُ menurutُ kadarُ kesanggupannya.”ُ (QSُ Alُ
Baqarah 233)

2) Hak bukan kebendaan (rohaniyah)


Pertama, mendapatkan pergaulan secara baik dan patut.
“…pergaulilahُ merekaُ (istri-istrimu) secara baik. Kamu tidak menyukai mereka
(bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan
padanya kebaikan yang banyak.”ُ (QSُ Anُ Nisaُ 19)
Kedua,Jangan sampai perbuatan dan perkataan suami menyakiti hati istrinya. Tahu
sendiri kan hati wanita itu seperti apa? Banyak ditemukan suami yang menghardik
istrinya karena tak bisa melampiaskan kekesalan yang ada dalam hatinya.
Ketiga, mendapatkan perlindungan dari segala sesuatu yang mungkin melibatkannya
pada suatu perbuatan dosa dan maksiat atau ditimpa oleh kesulitan dan mara bahaya.
Maka, jika dia adalah suami yang baik, dia tak akan pernah menjual istrinya ke rumah-
rumah bordil atau tampil seksi di depan umum hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.
Hal itu bukanlah pernikahan. Jika terjadi seperti itu, gugat cerailah, karena pernikahan
seperti itu tak akan mendatangkan manfaat.
Keempat, mendapatkan rasa tenang, kasih sayang, dan rasa cinta dari suaminya.
Kelima, mendapatkan pengajaran ilmu syariat dan akhlak. Kalau ada istri yang telah
menunaikan kewajibannya dengan baik sebagai maka suami TIDAK BOLEH
melarangnya untuk menghadiri majelis ilmu selama suami belum bisa memenuhi
kebutuhan tersebut.
Keenam, berlaku adil ketika melakukan poligami. Tenang, nggak semua pria ingin
melakukan poligami kok. Jadi jangan anti dengan kata yang satu ini.

L. Hak suami atas istri (Yaitu kewajiban yang HARUS dipenuhi istri kepada
suaminya)
Hak suami yang wajib dipenuhi istri adalah hak yang sifatnya bukan benda, karena istri
seharusnya tak dibebani kewajiban kebendaan yang diperlukan untuk mencukupkan
kebutuhan hidup dalam rumah tangga. Bahkan diutamakan istri tak bekerja mencari
nafkah. Hal ini dimaksudkan agar istri dapat fokus membina keluarga. Menjadi
perkecualian jika tulang rusuk telah menjadi tulang punggung keluarga, yang muncul
sepertiُkasusُTKWُyangُbekerjaُdiُluarُnegeriُsedangkanُsuaminyaُ“angon”ُdiُrumah,ُ
atau wanita sebagai single parent yang dicerai atau suaminya meninggal.
Pertama, menggauli suaminya secara layak sesuai dengan fitrahnya.
Kedua, memberikan rasa tenang dalam rumah tangganya.
Ketiga, taat dan patuh pada suami selama suami tidak menyuruhnya untuk melakukan
perbuatan maksiat.
Keempat, menjaga dirinya dan harta suamninya bila suaminya tidak ada di rumah.
Kelima, menjauhkan sesuatu dari segala perbuatan yang tidak disukai suaminya.
Termasuk di dalamnya adalah mengundang teman lelaki dan perempuan nya ke rumah
selama suami tidak ada.
Keenam, menjauhkan dari memperlihatkan muka yang tidak enak dipandang dan
suara yang tidak enak didengar.
Ketujuh, tidak keluar rumah tanpa seizin suami. Seiring teknologi yang semakin
canggih izin lebih mudah dilakukan dengan mengirim sms, telepon dan media yang
lain.

M. Hak bersama suami istri

Telah dihalalkan bergaul dan bersenang-senang di antara keduanya. Hanya saja


dilarang untuk mendatangi istri di saat haid, nifas, ihram, dzihar (menyamakan
punggung istrinya seperti punggung ibunya sehingga tak ada keinginan untuk
menggaulinya). Seorang suami yang mendzihar istrinya harus membayar kafarat
(denda) dengan membebaskan 1 budak atau puasa selama 2 bulan berturut-turut jika
ingin kembali pada istrinya.
1. Pertama, hak untuk saling mendapatkan warisan
2. Kedua, Hak untuk mendapatkan perwalian nasab anak
3. Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-
Rum: 21)
4. Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya.
(An-Nisa’:ُ 19ُ Al-Hujuraat: 10)
5. Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’:ُ 19)
6. Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)
7. Sedangkan kewajiban yang harus dilakukan bersama dalam rumah tangga bagi
suami istri adalah memelihara dan mendidik anak keturunan yang lahir dari pernikahan
dan memelihara kehidupan pernikahan yang sakinah, mawaddah, dan rohmah

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Istilah nikah berasal dari bahasa Arab, yaituُ (ُ ‫) ُالنكاح‬,ُ adapulaُ yangُ mengatakanُ
perkawinan menurut istilah fiqh dipakai perkataan nikah dan perkataan zawaj.

pasangan suami isteri sebaiknya mengikuti segala aturan undang-undang. Tetapi ketika
ada kebutuhan untuk melakukan pernikahan tanpa pencatatan, pernikahan ini boleh-
boleh saja dilakukan. Dan memang, tidak ada cukup alasan fiqh untuk melarang apalagi
mentidaksahkan pernikahan ini.

Mencatatkan perkawinan mengandung manfaat atau kemaslahatan, kebaikan yang


besar dalam kehidupan masyarakat. Sebaliknya apabila perkawinan tidak diatur secara
jelas melalui peraturan perundangan dan tidak dicatatkan akan digunakan oleh pihak-
pihak yang melakukan perkawinan hanya untuk kepentingan pribadi dan merugikan
pihak lain.

DAFTAR PUSTAKA
 Kamal, Mukhtar. 1974. Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan. Jakarta: Bulan Bintang
 Mubarok, Jaih. 2002. Metodologi Ijtihad Hukum Islam. Yogyakarta: UII Press
Redaksi Sinar Grafika. 2000. Undang-Undang Pokok Perkawinan Beserta Peraturan
Perkawinan Khusus Untuk Anggota ABRI; Anggota POLRI; Pegawai Kejaksaan; Pegawai
Negeri Sipil. Jakarta: Sinar Grafika
 Sudarsono. 1997. Hukum Keluarga Nasional. Jakarta: Rineka Cipta
 Fatwa Tarjih Hukum Nikah Sirri, Muktamar Muhammadiyah ke-35 disidangkan pada: Jum'at,
8 Jumadil Ula 1428 H / 25 Mei 2007 M
 Situs Resmi Majelis Ulama Indonesia, http://www.mui.or.id
Pernikahan atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah lain juga dapat
berarti Ijab Qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia yang
diucapkan oleh kata-kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang
diwajibkan oleh Islam[1]. Kata zawaj digunakan dalam al-Quran artinya adalah pasanganyang dalam
penggunaannya pula juga dapat diartikan sebagai pernikahan, Allahs.w.t. menjadikan manusia itu
saling berpasangan, menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina.

Daftar isi

 1Hikmah Pernikahan
 2Pemilihan calon
o 2.1Ciri-ciri bakal suami
 3Penyebab haramnya sebuah pernikahan
 4Peminangan
 5Nikah
o 5.1Rukun nikah
o 5.2Syarat calon suami
o 5.3Syarat bakal istri
o 5.4Syarat wali
o 5.5Jenis-jenis wali
o 5.6Syarat-syarat saksi
o 5.7Syarat ijab
o 5.8Syarat qobul
 6Wakil Wali/ Qadi
 7Lihat juga
 8Referensi
 9Pranala luar

Hikmah Pernikahan[sunting | sunting sumber]


 Cara yang halal dan suci untuk menyalurkan nafsu syahwat melalui ini selain lewat perzinahan,
pelacuran, dan lain sebagainya yang dibenci Allah dan amat merugikan.
 Untuk memperoleh ketenangan hidup, kasih sayang dan ketenteraman
 Memelihara kesucian diri
 Melaksanakan tuntutan syariat
 Membuat keturunan yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.
 Sebagai media pendidikan: Islam begitu teliti dalam menyediakan lingkungan yang sehat untuk
membesarkan anak-anak. Anak-anak yang dibesarkan tanpa orangtua akan memudahkan
untuk membuat sang anak terjerumus dalam kegiatan tidak bermoral. Oleh karena itu, institusi
kekeluargaan yang direkomendasikan Islam terlihat tidak terlalu sulit serta sesuai sebagai
petunjuk dan pedoman pada anak-anak
 Mewujudkan kerjasama dan tanggungjawab
 Dapat mengeratkan silaturahim

Pemilihan calon[sunting | sunting sumber]


Islam mensyaratkan beberapa ciri bagi calon suami dan calon isteri yang dituntut dalam Islam.
Namun, ini hanyalah panduan dan tidak ada paksaan untuk mengikuti panduan-panduan ini.

Ciri-ciri bakal suami[sunting | sunting sumber]


Sekadar gambar hiasan: Sebuah acara pernikahan di Indonesian dan diadakan dengan budaya Jawa

 beriman & bertaqwa kepada Allah s.w.t


 bertanggungjawab terhadap semua benda
 memiliki akhlak-akhlak yang terpuji
 berilmu agama agar dapat membimbing calon isteri dan anak-anak ke jalan yang benar
 tidak berpenyakit yang berat seperti gila, AIDS dan sebagainya
 rajin bekerja untuk kebaikan rumahtangga seperti mencari rezeki yang halal untuk kebahagiaan
keluarga.

Penyebab haramnya sebuah pernikahan[sunting | sunting sumber]


 Perempuan yang diharamkan menikah oleh laki-laki disebabkan karena keturunannya (haram
selamanya) serta dijelaskan dalam surah an-Nisa:ُAyatُ23ُyangُberbunyi,ُ“Diharamkanُkepadaُ
kamu menikahi ibumu, anakmu, saudaramu, anak saudara perempuan bagi saudara laki-laki,
dan anak saudara perempuanُbagiُsaudaraُperempuan.”:
 Ibu
 Nenek dari ibu maupun bapak
 Anak perempuan & keturunannya
 Saudara perempuan segaris atau satu bapak atau satu ibu
 Anak perempuan kepada saudara lelaki mahupun perempuan, uaitu semua anak saudara
perempuan

 Perempuan yang diharamkan menikah oleh laki-laki disebabkan oleh susuan ialah:
 Ibu susuan
 Nenek dari saudara ibu susuan
 Saudara perempuan susuan
 Anak perempuan kepada saudara susuan laki-laki atau perempuan
 Sepupu dari ibu susuan atau bapak susuan

 Perempuan muhrim bagi laki-laki karena persemendaan ialah:


 Ibu mertua
 Ibu tiri
 Nenek tiri
 Menantu perempuan
 Anak tiri perempuan dan keturunannya
 Adik ipar perempuan dan keturunannya
 Sepupu dari saudara istri
 Anak saudara perempuan dari istri dan keturunannya

Peminangan[sunting | sunting sumber]


Pertunangan atau bertunang merupakan suatu ikatan janji pihak laki-laki dan perempuan untuk
melangsungkan pernikahan mengikuti hari yang dipersetujui oleh kedua
pihak. Meminang merupakan adat kebiasaan masyarakat Melayu yang telah dihalalkan oleh Islam.
Peminangan juga merupakan awal proses pernikahan. Hukum peminangan adalah harus dan
hendaknya bukan dari istri orang, bukan saudara sendiri, tidak dalam iddah, dan bukan tunangan
orang. Pemberian seperti cincin kepada wanita semasa peminangan merupakan tanda ikatan
pertunangan. Apabila terjadi ingkar janji yang disebabkan oleh sang laki-laki, pemberian tidak perlu
dikembalikan dan jika disebabkan oleh wanita, maka hendaknya dikembalikan, namun persetujuan
hendaknya dibuat semasa peminangan dilakukan. Melihat calon suami dan calon istri adalah sunat,
karena tidak mau penyesalan terjadi setelah berumahtangga. Anggota yang diperbolehkan untuk
dilihat untuk seorang wanitaialah wajah dan kedua tangannya saja.
Hadist Rasullullah mengenai kebenaran untuk melihat tunangan dan meminang:
"Abu Hurairah RA berkata,sabda Rasullullah SAW kepada seorang laki-laki yang hendak
menikah dengan seorang perempuan: "Apakah kamu telah melihatnya?jawabnya tidak(kata
lelaki itu kepada Rasullullah).Pergilah untuk melihatnya supaya pernikahan kamu terjamin
kekekalan." (Hadis Riwayat Tarmizi dan Nasai)

Hadis Rasullullah mengenai larangan meminang wanita yang telah bertunangan:


"Daripada Ibnu Umar RA bahawa Rasullullah SAW telah bersabda: "Kamu tidak boleh
meminang tunangan saudara kamu sehingga pada akhirnya dia membuat ketetapan untuk
memutuskannya". (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim(Asy-Syaikhan))

Nikah[sunting | sunting sumber]


Rukun nikah[sunting | sunting sumber]
 Pengantin laki-laki
 Pengantin perempuan
 Wali
 Dua orang saksi laki-laki
 Mahar
 Ijab dan kabul (akad nikah)
Syarat calon suami[sunting | sunting sumber]
 Islam
 Laki-laki yang tertentu
 Bukan lelaki muhrim dengan calon istri
 Mengetahui wali yang sebenarnya bagi akad nikah tersebut
 Bukan dalam ihram haji atau umroh
 Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
 Tidak mempunyai empat orang istri yang sah dalam suatu waktu
 Mengetahui bahwa perempuan yang hendak dinikahi adalah sah dijadikan istri
Syarat bakal istri[sunting | sunting sumber]
 Islam
 Perempuan yang tertentu
 Bukan perempuan muhrim dengan calon suami
 Bukan seorang banci
 Bukan dalam ihram haji atau umroh
 Tidak dalam iddah
 Bukan istri orang
Syarat wali[sunting | sunting sumber]
 Islam, bukan kafir dan murtad
 Lelaki dan bukannya perempuan
 Telah pubertas
 Dengan kerelaan sendiri dan bukan paksaan
 Bukan dalam ihram haji atau umroh
 Tidak fasik
 Tidak cacat akal pikiran, gila, terlalu tua dan sebagainya
 Merdeka
 Tidak dibatasi kebebasannya ketimbang membelanjakan hartanya
Sebaiknya calon istri perlu memastikan syarat WAJIB menjadi wali. Jika syarat-syarat wali terpenuhi
seperti di atas maka sahlah sebuah pernikahan itu.Sebagai seorang mukmin yang sejati, kita
hendaklah menitik beratkan hal-hal yag wajib seperti ini.Jika tidak, kita hanya akan dianggap hidup
dalam berzinahan selamanya.

Jenis-jenis wali[sunting | sunting sumber]


 Wali mujbir: Wali dari bapaknya sendiri atau kakek dari bapa yang mempunyai hak mewalikan
pernikahan anak perempuannya atau cucu perempuannya dengan persetujuannya (sebaiknya
perlu mendapatkan kerelaan calon istri yang hendak dinikahkan)

 Wali aqrab: Wali terdekat yang telah memenuhi syarat yang layak dan berhak menjadi wali

 Wali ab’ad: Wali yang sedikit mengikuti susunan yang layak menjadi wali, jikalau wali aqrab
berkenaanُtidakُada.ُWaliُab’adُiniُakanُdigantikanُolehُwaliُab’adُlainُdanُbegitulahُ
seterusnya mengikut susunan tersebut jika tidak ada yang terdekat lagi.

 Wali raja/hakim: Wali yang diberi hak atau ditunjuk oleh pemerintah atau pihak berkuasa pada
negeri tersebut oleh orang yang telah dilantik menjalankan tugas ini dengan sebab-sebab
tertentu
Syarat-syarat saksi[sunting | sunting sumber]
 Sekurang-kurangya dua orang
 Islam
 Berakal
 Telah pubertas
 Laki-laki
 Memahami isi lafal ijab dan qobul
 Dapat mendengar, melihat dan berbicara
 Adil (Tidak melakukan dosa-dosa besar dan tidak terlalu banyak melakukan dosa-dosa kecil)
 Merdeka
Syarat ijab[sunting | sunting sumber]
 Pernikahan nikah ini hendaklah tepat
 Tidak boleh menggunakan perkataan sindiran
 Diucapkan oleh wali atau wakilnya
 Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti mutaah(nikah kontrak atau pernikahan (ikatan
suami istri) yang sah dalam tempo tertentu seperti yang dijanjikan dalam persetujuan nikah
muataah)
 Tidak secara taklik(tidak ada sebutan prasyarat sewaktu ijab dilafalkan)
Contoh bacaan Ijab:Wali/wakil Wali berkata kepada calon suami:"Aku nikahkan Anda dengan Diana
Binti Daniel dengan mas kawin berupa seperangkap alat salat dibayar tunai".

Syarat qobul[sunting | sunting sumber]


 Ucapan mestilah sesuai dengan ucapan ijab
 Tidak ada perkataan sindiran
 Dilafalkan oleh calon suami atau wakilnya (atas sebab-sebab tertentu)
 Tidak diikatkan dengan tempo waktu seperti mutaah(seperti nikah kontrak)
 Tidak secara taklik(tidak ada sebutan prasyarat sewaktu qobul dilafalkan)
 Menyebut nama calon istri
 Tidak ditambahkan dengan perkataan lain
Contoh sebutan qabul(akan dilafazkan oleh bakal suami):"Aku terima nikahnya dengan Diana Binti
Daniel dengan mas kawin berupa seperangkap alat salat dibayar tunai" ATAU "Aku terima Diana
Binti Daniel sebagai istriku".

Setelah qobul dilafalkan Wali/wakil Wali akan mendapatkan kesaksian dari para hadirin khususnya
dari dua orang saksi pernikahan dengan cara meminta saksi mengatakan lafal "SAH" atau
perkataan lain yang sama maksudya dengan perkataan itu.
Selanjutnya Wali/wakil Wali akan membaca doa selamat agar pernikahan suami istri itu kekal dan
bahagia sepanjang kehidupan mereka serta doa itu akan diAminkan oleh para hadirin
Bersamaan itu pula, mas kawin/mahar akan diserahkan kepada pihak istri dan selanjutnya berupa
cincin akan dipakaikan kepada jari cincin istri oleh suami sebagai tanda dimulainya ikatan
kekeluargaan atau simbol pertalian kebahagian suami istri.Aktivitas ini diteruskan dengan suami
mencium istri.Aktivitas ini disebut sebagai "Pembatalan Wudhu".Ini karena sebelum akad nikah
dijalankan suami dan isteri itu diminta untuk berwudhu terlebih dahulu.
Suami istri juga diminta untuk salat sunat nikah sebagai tanda syukur setelah pernikahan
berlangsung. Pernikahan Islam yang memang amat mudah karena ia tidak perlu mengambil masa
yang lama dan memerlukan banyak aset-aset pernikahan disamping mas kawin,hantaran atau
majelis umum (walimatul urus)yang tidak perlu dibebankan atau dibuang.

Wakil Wali/ Qadi[sunting | sunting sumber]


Wakil wali/Qadi adalah orang yang dipertanggungjawabkan oleh institusi Masjid atau jabatan/pusat
Islam untuk menerima tuntutan para Wali untuk menikahkan/mengahwinkan bakal istri dengan bakal
suami.Segala urusan pernikahan,penyediaan aset pernikahan seperti mas kawin,barangan
hantaran(hadiah),penyedian tempat pernikahan,jamuan makan kepada para hadirin dan lainnya
adalah tanggungjawab pihak suami istri itu. Qadi hanya perlu memastikan aset-aset itu telah
disediakan supaya urusan pernikahan berjalan lancar.Disamping tanggungjawabnya menikahi
suami istri berjalan dengan sempurna,Qadi perlu menyempurnakan dokumen-dokumen berkaitan
pernikahan seperti sertifikat pernikahan dan pengesahan suami istri di pihak tertinggi seperti mentri
agama dan administratif negara.Untuk memastikan status resmi suami isteri itu sentiasa sulit dan
terpelihara.Qadi selalunya dilantik dari kalangan orang-orang alim(yang mempunyai pengetahuan
dalam agama Islam dengan luas) seperti Ustaz,Muallim,Mufti,Sheikh ulIslam dan sebagainya.Qadi
juga mesti merupakan seorang laki-laki Islam yang sudah merdeka dan telah pubertas
Fiqih Pernikahan : Pengertian, Hukum dan
Rukunnya
Pernikahan adalah anjuran Allah SWT bagi manusia untuk mempertahankan keberadaannya dan
mengendalikan perkembangbiakan dengan cara yang sesuai dan menurut kaidah norma agama. Laki-laki
dan perempuan memiliki fitrah yang saling membutuhkan satu sama lain. Pernikahan dilangsungkan
untuk mencapai tujuan hidup manusia (baca tujuan pernikahan dalam islam) dan mempertahankan
kelangsungan jenisnya.
ads

Fiqih pernikahan atau munakahat adalah ilmu yang menjelaskan tentang syariat suatu ibadah termasuk
pengertian, dasar hukum dan tata cara yang dalam hal ini menyangkut pernikahan. Adapun hal-hal
tersebut dapat disimak dalam penjelasan berikut ini

Pengertian Nikah
Pernikaan adalah salah satu ibadah yang paling utama dalam pergaulan masyarakatagama islam dan
masyarakat. Pernikahan bukan saja merupakan satu jalan untuk membangun rumah tanggadan
melanjutkan keturunan. Pernikahan juga dipandang sebagai jalan untuk meningkatkan ukhuwah
islamiyah dan memperluas serta memperkuat tali silaturahmi diantara manusia. Secara etimologi bahasa
Indonesia pernikahan berasal dari kata nikah, yang kemudian diberi imbuhan awalan “per” dan akhiran
“an”.

Pernikahan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia berarti diartikan sebagai perjanjian antara laki-laki dan
perempuan untuk menjadi suami istri. Pernikahan dalam islam juga berkaitan dengan pengertian
mahram (baca muhrim dalam islam) dan wanita yang haram dinikahi.

1. Pengertian menurut etimologi


Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist, pernikahan disebut denganberasal dari kata an-nikh dan azziwaj yang
memiliki arti melalui, menginjak, berjalan di atas, menaiki, dan bersenggema atau bersetubuh. Di sisi lain
nikah juga berasal dari istilah Adh-dhammu, yang memiliki arti merangkum, menyatukan dan
mengumpulkan serta sikap yang ramah. adapun pernikahan yang berasalh dari kata aljam’u yang berarti
menghimpun atau mengumpulkan. Pernikahan dalam istilah ilmu fiqih disebut ) ‫ ( نكاح‬,) ‫ ( زواج‬keduanya
berasal dari bahasa arab. Nikah dalam bahasa arab mempunyai dua arti yaitu ) ‫ ( الوطء والضم‬baik arti
secara hakiki ) ‫ ( الضم‬yakni menindih atau berhimpit serta arti dalam kiasan ) ‫ ( الوطء‬yakni perjanjian atau
bersetubuh.

2. Pengertian Menurut Istilah


Adapun makna tentang pernikahan secara istilah masing-masing ulama fikih memiliki pendapatnya
sendiri antara lain :

1. Ulama Hanafiyah mengartikan pernikahan sebagai suatu akad yang membuat pernikahan menjadikan
seorang laki-laki dapat memiliki dan menggunakan perempuan termasuk seluruh anggota badannya
untuk mendapatkan sebuah kepuasan atau kenikmatan.
2. Ulama Syafi’iyah menyebutkan bahwa pernikahan adalah suatu akad dengan menggunakan lafal ‫حاكَكنِن ح‬
, atau َ‫ ج ح وا كَ ز ك‬, yang memiliki arti pernikahan menyebabkan pasangan mendapatkan kesenanagn.
3. Ulama Malikiyah menyebutkan bahwa pernikahan adalah suatu akad atau perjanjian yang dilakukan
untuk mendapatkan kepuasan tanpa adanya harga yang dibayar.
4. Ulama Hanabilah menyebutkan bahwa pernikahan adalah akad dengan menggunakan lafal ‫ان‬ ِ ‫ح ح كا كَ ن ن‬
atau َ‫ ج ح ن و ِن ن ك‬yang artinya pernikahan membuat laki-laki dan perempuan dapat memiliki kepuasan
satu sama lain.
5. Saleh Al Utsaimin, berpendapat bahwa nikah adalah pertalian hubungan antara laki-laki dan perempuan
dengan maksud agar masing-masing dapat menikmati yang lain dan untuk membentuk keluaga yang
saleh dan membangun masyarakat yang bersih
6. Muhammad Abu Zahrah di dalam kitabnya al-ahwal al-syakhsiyyah, menjelaskan bahwa nikah adalah
akad yang berakibat pasangan laki-laki dan wanita menjadi halal dalam melakukan bersenggema serta
adanya hak dan kewajiban diantara keduanya.

Dasar Hukum Pernikahan


Sebagaimana ibadah lainnya, pernikahan memiliki dasar hukum yang menjadikannya disarankan untuk
dilakukan oleh umat islam. Adapun dasar hukum pernikahan berdasarkan Al Qur’an dan Hadits adalah
sebagai berikut :

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri,
dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)
nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Q.S. An-Nisaa’ : 1(.

”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu,dan orang-orang yang layak (berkawin) dari
hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin
Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian- Nya) lagi Maha
mengetahui” .(Q.S. An-Nuur : 32)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan- Nya diantaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum
yang berfikir”. (Q.S. Ar-Ruum : 21).

”Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah memiliki kemampuan untuk menikah,
hendaklah dia menikah; karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.
Adapun bagi siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa; karena berpuasa itu
merupakan peredam (syahwat)nya”.

Hukum Pernikahan
Dalam agama islam pernikahan memiliki hukum yang disesuaikan dengan kondisi atau situasi orang
yang akan menikah. Berikut hukum pernikahan menurut islam

 Wajib, jika orang tersebut memiliki kemampuan untuk meinkah dan jika tidak menikah ia bisa tergelincir
perbuatan zina (baca zina dalam islam)
 Sunnah, berlaku bagi seseorang yang memiliki kemampuan untuk menikah namun jika tidak menikah ia
tidak akan tergelincir perbuatan zina
 Makruh, jika ia memiliki kemampuan untuk menikah dan mampu menahan diri dari zina tapi ia memiliki
keinginan yang kuat untuk menikah
 Mubah, jika seseorang hanya menikah meskipun ia memiliki kemampuan untuk menikah dan mampu
menghindarkan diri dari zina, ia hanya menikah untuk kesenangan semata
 Haram, jika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk menikah dan dikhawatirkan jika menikah ia akan
menelantarkan istrinya atau tidak dapat memenuhi kewajiban suami terhadap istri dan sebaliknya istri
tidak dapat memenuhi kewajiban istri terhadap suaminya. Pernikahan juga haram hukumnya apabila
menikahi mahram atau pernikahan sedarah.

Rukun dan Syarat Pernikahan


Pernikahan dalam islam memiliki beberapa syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar pernikahan
tersebut sah hukumnya di mata agama baik menikah secara resmi maupun nikah siri. Berikut ini
adalah syarat-syarat akad nikah dan rukun yang harus dipenuhi dalam sebuah pernikahan
misalnya nikah tanpa walimaupun ijab kabul hukumnya tidak sah.

a. Rukun Nikah
Rukun pernikahan adalah sesuatu yang harus ada dalam pelaksanaan pernikahan, mencakup :

1. Calon mempelai laki-laki dan perempuan


2. Wali dari pihak mempelai perempuan
3. Dua orang saksi
4. Ijab kabul yang sighat nikah yang di ucapkan oleh wali pihak perempuan dan dijawab oleh calon
mempelai laki-laki.

b. Syarat Nikah
Adapun syarat dari masing-masing rukun tersebut adalah

1. Calon suami dengan syarat-syarat berikut ini

 Beragama Islam
 Berjenis kelamin Laki-laki
 Ada orangnya atau jelas identitasnya
 Setuju untuk menikah
 Tidak memiliki halangan untuk menikah

2. Calon istri dengan syarat-syarat

 Beragama Islam ( ada yang menyebutkan mempelai wanita boleh beraga nasrani maupun yahudi)
 Berjenis kelamin Perempuan
 Ada orangnya atau jelas identitasnya
 Setuju untuk menikah
 Tidak terhalang untuk menikah

3. Wali nikah dengan syarat-syarat wali nikah sebagai berikut (baca juga urutan wali nikah).
 Laki-laki
 Dewasa
 Mempunyai hak perwalian atas mempelai wanita
 Adil
 Beragama Islam
 Berakal Sehat
 Tidak sedang berihram haji atau umrah

4. Saksi nikah dalam perkawinan harus memenuhi beberapa syarat berikut ini ;

 Minimal terdiri dari dua orang laki-laki


 Hadir dalam proses ijab qabul
 mengerti maksud akad nikah
 beragama islam
 Adil
 dewasa

5. Ijab qobul dengan syarat-syarat, harus memenuhi syarat berikut ini :

 Dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti kedua belah pihak baik oleh pelaku akad dan
penerima aqad dan saksi. Ucapan akad nikah juga haruslah jelas dan dapat didengar oleh para saksi.

Fikih pernikahan atau munakahat adalah salah satu ilmu yang mesti dipelajari dan diketahui umat islam
pada umumnya agar pernikahan dapat berjalan sesuai dengan tuntunan syariat agama dan
menghindarkan hal-hal yang dapat membatalkan pernikahan.

Makalah Pernikahan
Dalam Islam
Minggu, 01 November 2015

Pernikahan dalam Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Di dalam agama Islam, Allah menganjurkan kita untuk melaksanakan pernikahan. Pernikahan
merupakan sebuah proses dimana seorang perempuan dan seorang laki-laki menyatukan hubungan
mereka dalam ikatan kekeluargaan dengan tujuan mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan.

Pernikahan dalam Islam merupakan sebuah proses yang sakral, mempunyai adab-adab tertentu
dan tidak bisa di lakukan secara asal-asalan. Jika pernikahan tidak dilaksanakan berdasarkan syariat
Islam maka pernikahan tersebut bisa menjadi sebuah perbuatan zina. Oleh karena itu, kita sebagai umat
Islam harus mengetahui kiat-kiat pernikahan yang sesuai dengan kaidah agama Islam agar pernikahan
kita dinilai ibadah oleh Allah SWT.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dan tujuan pernikahan menurut pandangan Islam ?

2. Bagaimanakah hukum pernikahan menurut pandangan Islam ?

3. Bagaimanakah cara-cara pernikahan yang sah menurut pandangan Islam?

4. Apa hikmah pernikahan menurut pandangan Islam ?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pernikahan
Menurut Bahasa, pernikahan adalah al-jam’u dan al-dhamu yang berarti berkumpul atau bergabung.
Sedangkan menurut istilah, pernikahan adalah akad serah terima antara laki-laki dan perempuan dengan
tujuan untuk saling memuaskan diri antara satu sama lain untuk membentuk sebuah bahtera rumah
tangga yang sakinah serta masyarakat yang sejahtera. Dalam pandangan Islam, pernikahan merupakan
ikatan yang amat suci dimana dua insan yang berlainan jenis dapat hidup bersama dengan direstui
agama, kerabat, dan masyarakat.

Sebelum Islam datang, hubungan lawan jenis pria dan wanita tidak terarah dan terjaga, maka
datanglah Islam dengan syariat nikah yang mulia. Berikut ini di antara pernikahan jahiliyyah yang
dibatalkan oleh Islam:

1. Nikah khidn, yakni wanita mencari laki-laki tertentu sebagai kawan untuk melakukan perzinaan
dengannya secara sembunyi-sembunyi. (lihat QS. An Nisaa’: 25).

2. Nikah Badal, yakni seorang laki-laki berkata kepada laki-laki lain, “Taruhlah istrimu kepadaku, nanti aku
akan taruh istriku dan aku akan berikan tambahan.”

3. Nikah Istibdhaa’, yakni seorang suami berkata kepada istrinya setelah istrinya selesai haidh, “Pergilah
kepada si fulan, dan berhubunganlah dengannya agar kamu mendapatkan bibit yang baik," lalu
suaminya menjauhinya sampai istrinya hamil. Ketika jelas hamilnya, maka ia menggauli jika mau. Nikah
ini tujuannya untuk mendapatkan bibit unggul.

4. Ada juga pernikahan dengan cara sekumpulan laki-laki (kurang dari sepuluh) menemui seorang wanita,
semuanya menjima’inya. Ketika wanita itu sudah hamil, lalu melahirkan dan telah lewat beberapa hari,
wanita itu mengirim seseorang kepada sekumpulan laki-laki itu, di mana masing-masing mereka tidak
dapat menolak. Ketika mereka telah berkumpul di hadapan wanita itu, wanita itu berkata, “Kalian sudah
tahu tentang perbuatan kalian. Sekarang saya sudah melahirkan. Anak ini adalah anakmu wahai fulan,"
wanita itu menentukan laki-laki yang disukainya untuk menasabkan anaknya kepada laki-laki itu, dan
laki-laki itu tidak bisa menolaknya.

5. Ada juga cara lain selain di atas, yaitu ketika orang-orang berkumpul, kemudian mereka menemui kaum
wanita pelacur, di mana kaum wanita itu tidak menolak orang yang datang kepadanya. Wanita-wanita
pelacur ini biasanya memasang bendera di pintunya sebagai tanda bolehnya siapa saja mendatanginya
dan menggaulinya. Ketika wanita ini hamil kemudian selesai melahirkan, orang-orang berkumpul di
hadapannya dan mengundang qaaffah (ahli nasab dengan cara melihat kesamaan), lalu menasabkan
anak itu kepada orang yang mereka lihat mirip.

Aqad nikah dalam Islam berlangsung sangat sederhana, terdiri dari dua kalimat "ijab dan qabul". Tapi
dengan dua kalimat ini telah dapat menaikkan hubungan dua makhluk Allah dari bumi yang rendah ke
langit yang tinggi. Dengan dua kalimat ini berubahlah kekotoran menjadi kesucian, maksiat menjadi
ibadah, maupun dosa menjadi amal sholeh. Aqad nikah bukan hanya perjanjian antara dua insan. Aqad
nikah juga merupakan perjanjian antara makhluk Allah dengan Al-Khaliq. Ketika dua tangan diulurkan
(antara wali nikah dengan mempelai pria), untuk mengucapkan kalimat baik itu, diatasnya ada tangan
Allah SWT, "Yadullahi fawqa aydihim". Begitu sakralnya aqad nikah, sehingga Allah menyebutnya
"Mitsaqon gholizho" atau perjanjian Allah yang berat. Juga seperti perjanjian Allah dengan Bani Israil
dan juga Perjanjian Allah dengan para Nabi adalah perjanjian yang berat, Allah juga menyebutkan aqad
nikah antara dua orang anak manusia sebagai "Mitsaqon gholizho". Karena janganlah pasangan suami
istri dengan begitu mudahnya mengucapkan kata cerai.

B. Tujuan Pernikahan

Allah SWT. sangat menganjurkan ummatnya untuk melakukan pernikahan apabila telah memenuhi
syarat untuk menikah. Sebagaiman firman Allah dalam (Q.S. AR-Ruum : 31) yang berbunyi :

ً‫َو ِم ْن َءا َٰيَتِ ِهۦٓ أ َ ْن َخلَقَ لَ ُكم ِ ِّم ْن أَنفُ ِس ُك ْم أ َ ْز َٰ َو ًجا ِلِّت َ ْس ُكنُوا ِإلَ ْي َها َو َج َع َل بَ ْينَ ُكم َّم َودَّة ً َو َر ْح َمة‬
ٍ َ‫ِإ َّن فِى َٰذَ ِل َك َل َءا َٰي‬
َ‫ت ِلِّقَ ْو ٍم يَتَفَ َّك ُرون‬
Artinya :

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. [QS. Ar. Ruum (30):21].

Dan adapun hadist yang menganjurkan untuk melakukan pernikahan yaitu :

‫ص ُن‬ َ َ‫َض ِل ْلب‬


َ ‫ َوأ َ ْح‬, ‫ص ِر‬ ُّ ‫ فَإِنَّهُ أَغ‬, ْ‫ع ِم ْن ُك ُم ا َ ْلبَا َءة َ فَ ْليَت َزَ َّوج‬ َ َ ‫ب َم ِن ا ْست‬
َ ‫طا‬ ِ ‫شبَا‬ َّ ‫يَا َم ْعش ََر اَل‬
‫ص ْو ِم ; فَإِنَّهُ لَهُ ِو َجاء‬ َّ ‫ َو َم ْن لَ ْم يَ ْست َ ِط ْع فَعَلَ ْي ِه بِال‬, ِ‫" ِل ْلفَ ْرج‬.
Artinya :

Wahai para pemuda! Siapa saja di antara kamu yang mampu menikah, maka hendaknya ia menikah.
Karena nikah itu dapat menundukkkan pandangan dan menjaga kehormatan. Namun barang siapa yang
tidak mampu, hendaknya ia berpuasa, karena puasa dapat memutuskan syahwatnya. (HR. Bukhari dan
Muslim)

Adapun tujuan pernikhan dalam Islam :

1. Menjaga diri dari perbuatan haram

2. Memperbaiki keturunan

3. Dapat menyalurkan naluri seksual dengan cara sah dan terpuji.

4. Memelihara dan memperbanyak keturunan dengan terhormat, sehingga dapat menjaga kelestarian
hidup umat manusia.
5. Naluri keibuan dan kebapakan akan saling melengkapi dalam kehidupan berumah tangga bersama anak-
anak.

Hubungan ini akan menumbuhkan rasa kasih sayang, sikap jujur, dan keterbukaan, serta saling
menghargai satu sama lain sehingga akan meningkatkan kualitas seorang manusia.

6. Melahirkan organisasi (tim) dengan pembagian tugas/tanggungjawab tertentu, serta melatih


kemampuan bekerjasama.

7. Terbentuknya tali kekeluargaan dan silaturahmi antar keluarga, sehingga memupuk rasa sosial dan
dapat membentuk masyarakat yang kuat serta bahagia.

C. Hukum Pernikahan

Dalam kehidupan sehari-hari manusia sudah diatur oleh hukum, baik itu hukum negara, hukum
agama, maupun hukum adat, semuanya sudah diatur sedemikian mungkin. Didalam hal perkawinan pun
juga telah diatur menurut agamanya masing-masing, agama manapun telah mengatur hukum tentang
perkawinan. Begitu pun dalam Agama Islam telah diatur hukum-hukum pernikahan yang sesuai dengan
kaidah-kaidah Islam. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum pernikahan. Ada yang mengatakan
hukum pernikahan itu wajib, ada juga sebagian mengatakan sunnah, dan selebihnya berkata hukum
pernikahan itu mubah. Perbedaan pendapat ini disebabkan adanya perbedaan penafsiran terhadap
bentuk kalimat perintah dalam Al-Qur’an maupun hadist yang berkaitan dengan masalah ini.

Terlepas dari pendapat para Imam / Madzhab yang berbeda pendapat didalam mendefinisikan dan
menafsirkan arti perkawianan. Berdasarkan Al-qur’an dan As-sunnah, islam sangat menganjurkan
kepada kaum muslimin yang mampu untuk melangsungkan perkawinan. Namun demikian kalau dilihat
dari segi kondisi orang yang melaksanakan perkawinan serta tujuan dari perkawinan, maka
melaksanakan suatu perkawinan itu dapat dikenakan hukum Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, dan bisa
menjadi haram.

1. Pernikahan Hukumnya Wajib

Suatu pernikahan dapat menjadi wajib hukumnya apabila seseorang sudah mampu melakukan
perkawinan dan nafsunya sudah mendesak dan ditakutkan akan terjerumus dalam perzinaan, maka
baginya wajib melakukan pernikahan. Imam Al-Qurtubi berkata bahwa para ulama tidak berbeda
pendapat tentang wajibnya seorang untuk menikah bila dia adalah orang yang mampu dan takut
tertimpa resiko zina pada dirinya. Dan bila dia tidak mampu, maka Allah SWT pasti akan membuatnya
cukup dalam masalah rezekinya, sebagaimana firman-Nya :

ْ َ‫َّللاُ ِم ْن ف‬
‫ض ِل ِه‬ ِ ‫َو ْل َي ْست َ ْع ِف‬
َّ ‫ف الَّذِينَ ََل َي ِجدُونَ ِن َكا ًحا َحت َّ َٰى يُ ْغ ِن َي ُه ُم‬
Artinya :
Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah
memampukan mereka dengan karunia-Nya. [Q.S. An-Nur (24) : 33]

2. Pernikahan Hukumnya Sunnah

Adapun bagi orang-orang yang nafsunya telah mendesak lagi mampu kawin, tetapi masih dapat
menahan dirinya dari berbuat zina, maka sunnahlah ia kawin. Berkata Imam Nawawi : “Ini adalah
madzhab kita (Syafi’iyah) dan madzhab seluruh ulama, bahwa perintah menikah di sini adalah anjuran,
bukan kewajiban… dan tidak diketahui seseorang mewajibkan nikah kecuali Daud dan orang-orang yang
setuju dengannya dari pengikut Ahlu Dhahir (Dhahiriyah), dan riwayat dari Imam Ahmad. “ Sebagaimana
Allah SWT. berfirman :

‫ع‬ َ ‫اء َمثْنَى َوث ُ ََل‬


َ ‫ث َو ُربَا‬ ِ ‫س‬َ ِِّ‫اب لَ ُك ْم ِمنَ الن‬ َ ‫ط‬ َ ‫طوا فِي ْاليَتَا َمى فَا ْن ِك ُحوا َما‬ ُ ‫َو ِإ ْن ِخ ْفت ُ ْم أ َ ََّل ت ُ ْق ِس‬
‫ت أ َ ْي َمانُ ُك ْم ذَ ِل َك أ َ ْدنَى أ َ ََّل تَعُولُوا‬
ْ ‫احدَة ً أ َ ْو َما َملَ َك‬
ِ ‫فَإ ِ ْن ِخ ْفت ُ ْم أ َ ََّل ت َ ْع ِدلُوا فَ َو‬
Artinya :

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim
(bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua,
tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah)
seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada
tidak berbuat aniaya. [Q.S. An-Nisa (4) : 3]

3. Pernikahan Hukumnya Makruh

Makruh kawin bagi seorang yang lemah syahwat dan tidak mampu memberi belanja istrinya, walaupun
tidak merugikan istri, karena ia kaya dan tidak mempunyai keinginan syahwat yang kuat. Juga makruh
hukumnya jika karena lemah syahwat itu ia berhenti dari melakukan sesuatu ibadah atau menuntut
sesuatu ilmu.

4. Pernikahan Hukumnya Mubah

Bagi laki-laki yang tidak terdesak oleh alasan-alasan yang mewajibkan segera kawin atau karena alasan-
alasan yang mengharamkan untuk kawin, maka hukumnya mubah.

5. Pernikahan Hukumnya Haram

Bagi seseorang yang tidak mampu memenuhi nafkah lahir dan batin kepada istrinya serta nafsunyapun
tidak mendesak, haramlah ia kawin. Qurthuby berkata : “Bila seorang laki-laki sadar tidak mampu
membelanjai istrinya atau membayar maharnya atau memenuhi hak-hak istrinya, maka tidaklah boleh ia
kawin, sebelum ia terus terang menjelaskan keadaannya kepada istrinya atau sampai datang saatnya ia
mampu memenuhi hak-hak istrinya. Allah berfirman :
...... ‫ َو ََل ت ُ ْلقُوا بِأ َ ْيدِي ُك ْم إِلَى الت َّ ْهلُ َك ِة َوأ َ ْح ِسنُوا‬.....
Artinya :

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri. [Q.S.
Al-Baqarah (2) : 195]

D. Cara-cara Pernikahan

Di dalam Islam, di jelaskan tentang cara-cara pernikahan yang sah yang sesuai dengan syariat Islam.
Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita tidak di perkenankan melakukan pernikahan yang tidak
sesuai dengan kaidah-kaidah agama Islam karena jika itu terjadi pernikahan yang awalnya bernilai
ibadah bisa berubah menjadi suatu perzinaan jika pernikahan yang dilakukan diluar syariat Islam.
Adapun larangan-larangan pernikahan menurut hukum islam, syarat dan rukun pernikahan dalam Islam
yang akan di jelaskan di bawah ini.

1. Larangan Pernikahan Munurut Hukum Islam

Di dalam asas-asas Agama Islam, dirumuskan beberapa larangan perkawinan, dengan siapa dia boleh
melakukan perkawinan dan dengan siapa dia dilarang (tidak boleh menikah).

Larangan pernikahan karena berlainan agama

Sebagaimana firman Allah :

َ‫ت َحتَّى يُؤْ ِم َّن َوأل َ َمة ُّمؤْ ِمنَة َخي ُْر ِ ِّمن ُّم ْش ِر َك ٍة َولَ ْو أ َ ْع َج َبتْ ُك ْم َوَل‬ ِ ‫َوَلَ ت َ ْن ِك ُحوا ْال ُم ْش ِر َكا‬
‫تُن ِك ُحوا ْال ُم ْش ِر ِكينَ َحتَّى يُؤْ ِمنُوا َولَعَبْد ُّمؤْ ِمن َخي ُْر ِ ِّمن ُّم ْش ِركٍ َولَ ْو أ َ ْع َجبَ ُك ْم أ ُ ْوَلَئِ َك‬
ِ َّ‫عوا ِإلَى ْال َجنَّ ِة َو ْال َم ْغ ِف َرةِ ِبإ ِ ْذنِ ِه َويُبَ ِيِّ ُن َءايَاتِ ِه ِللن‬
‫اس لَ َعلَّ ُه ْم‬ ُ ‫ار َوهللاُ يَ ْد‬ِ َّ‫يَ ْدعُونَ ِإلَى الن‬
َ‫يَتَذَ َّك ُرون‬
Artinya :

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita
budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu
menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman.
Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka
mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinNya. Dan Allah
menerangkan ayat-ayatNya (perintah-perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengambil
pelajaran." [QS. Al-Baqarah (2) : 221].

Larangan Pernikahan Karena Hubungan Darah Yang Terlampau Dekat


Dan sudut Ilmu Kedokteran (kesehatan keluarga), perkawinan antara keluarga yang berhubungan darah
yang terlalu dekat itu akan mengakibatkan keturunannya kelak kurang sehat dan sering cacat bahkan
kadang-kadang inteligensinya kurang cerdas, (lihatlah Dr. Ahmad ramali Jalan Menuju Kesehatan Jilid I,
halaman 221). Allah berfirman :

‫ت‬
ِ ‫األخ‬ْ ُ‫ت َعلَ ْي ُك ْم أ ُ َّم َهات ُ ُك ْم َو َبنَات ُ ُك ْم َوأَخ ََوات ُ ُك ْم َو َع َّمات ُ ُك ْم َوخَاَلت ُ ُك ْم َو َبنَاتُ األخِ َو َبنَات‬ ْ ‫ُح ِ ِّر َم‬
َ ِ‫ضا َع ِة َوأ ُ َّم َهاتُ ن‬
‫سائِ ُك ْم َو َربَائِبُ ُك ُم الَلتِي‬ َ ‫الر‬ َّ َ‫ض ْعنَ ُك ْم َوأَخ ََوات ُ ُك ْم ِمن‬ َ ‫َوأ ُ َّم َهات ُ ُك ُم الَلتِي أ َ ْر‬
‫سائِ ُك ُم الَلتِي دَخ َْلت ُ ْم بِ ِه َّن فَإ ِ ْن لَ ْم ت َ ُكونُوا دَخ َْلت ُ ْم بِ ِه َّن فََل ُجنَا َح َعلَ ْي ُك ْم‬ َ ِ‫ور ُك ْم ِم ْن ن‬ ِ ‫فِي ُح ُج‬
َ‫َّللاَ َكان‬ َّ ‫ف ِإ َّن‬ َ َ‫سل‬ ْ
َ ‫األختَي ِْن ِإَل َما قَ ْد‬ َ‫صَل ِب ُك ْم َوأ َ ْن ت َ ْج َمعُوا بَيْن‬ ْ َ ‫َو َحَلئِ ُل أ َ ْبنَائِ ُك ُم الَّذِينَ ِم ْن أ‬
‫ورا َر ِحي ًما‬ ً ُ‫َغف‬
Artinya :

Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang
perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-
anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu
yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu
istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri
yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan),
maka tidak berdosa kamu menikahinya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu),
dan diharamkan mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang
telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Q.S. An-
Nisaa (4) : 23]

Larangan Pernikahan Karena Hubungan Sesusuan

Maksudnya ialah bahwa seseorang laki-laki dengan wanita yang tidak mempunyai hubungan darah,
tetapi pernah menyusu (menetek) dengan ibu (wanita) yang sama dianggap mempunyai hubungan
sesusuan, oleh karenanya timbul larangan menikah antara keduanya karena alasan sesusu (sesusuan).
Tentulah akan timbul persoalan lain yaitu beberapa kalikah menyusu itu atau berapa lama menyusu itu
yang menimbulkan larangan menikah itu. Larangan ini minimal 5 (lima) kali sampai kenyang setiap kali
menyusu itu, dengan tidak dipersoalkan kapan waktu-waktu menyusu itu, apakah sehari itu menyusu
lima kali itu, atau berjarak dua atau tiga hari atau seminggu. Maka barulah timbul larangan
perkawinannya. Pendapat ini adalah pendapat imam syafi’i dengan para penganutnya. Larangan ini juga
dijelaskan dalam Q.S. An-Nisaa Ayat 23 yang bermaksud semua yang dipelihara oleh ibu yang sama
meskipun tidak sekandung.

Larangan Pernikahan Karena Hubungan Semenda


Hubungan semenda artinya ialah setelah hubungan perkawinan yang terdahulu, misalnya kakak
adik perempuan dari istri kamu (laki-laki). Laki-iaki (kamu) telah menikahi kakaknya yang
perempuan atau adiknya yang perempuan maka timbullah larangan perkawin antara suami dari
kakak adik perempuan itu dengan kakaknya perempuan itu.

Larangan Perkawinan masih dalam Rangka Hubungan Semenda, tetapi Lebih Bersifat Khusus

Larangan perkawinan masih dalam rangka hubungan semenda, tetapi lebih bersifat khusus atau
istimewa, karena ayat Quran mengenal larangan ini diwahyukan Tuhan khusus untuk melarang
perkawinan yang demikian ini yaitu:

‫شةً َو َم ْقتًا‬ َ َ‫سل‬


ِ َ‫ف إِنَّهُ َكانَ ف‬
َ ‫اح‬ َ ‫اء إَِل َما قَ ْد‬
ِ ‫س‬َ ِِّ‫َوَل ت َ ْن ِك ُحوا َما نَ َك َح آبَا ُؤ ُك ْم ِمنَ الن‬
‫سبِيَل‬
َ ‫سا َء‬ َ ‫َو‬

Artinya :

Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali
(kejadian) pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu sangat keji dan dibenci dan
seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). [Q.S. An-Nisaa (4) : 22].

Larangan Pernikahan Poliandri

Poliandri adalah seorang wanita yang sudah bersuami menikah lagi dengan lelaki lain (belum cerai).
Larangan pernikahan poliandri di tegaskan dalam Q.S. An-Nisaa ayat 24 yang berbunyi :

‫اء‬
ِ ‫س‬ َ ‫َو ْال ُم ْح‬
َ ِّ‫صنَاتُ ِمنَ ال ِن‬
Artinya :

Dan (diharamkan juga atas kalian untuk menikahi) perempuan-perempuan yang telah
bersuami..........[Q.S.An-Nisaa (4) : 24]

Larangan Pernikahan Terhadap Wanita yang di Li’ an

Li’an adalah saling menjauh, yakni suami-istri saling menjauh setelah


terjadi li’an selamanya. Li’an adalah sumpah suami bahwa istrinya telah berzina (berselingkuh) dengan
orang lain dan anak yang dilahirkan istrinya akibat zina (jika ada) bukanlah anaknya. Jika seseorang
menuduh istrinya berzina tanpa bukti, maka ia telah melakukan qadzaf (‫ )قذف‬dan berhak mendapatkan
hukum had berupa 80 kali cambukan. Allah Ta’alaberfirman :
ً ‫اج ِلدُو ُه ْم ث َ َمانِينَ َج ْلدَة‬ ُ ‫ت ث ُ َّم لَ ْم يَأْتُوا بِأ َ ْربَعَ ِة‬
ْ َ‫ش َهدَا َء ف‬ َ ‫َوالَّذِينَ يَ ْر ُمونَ ْال ُم ْح‬
ِ ‫صنَا‬

Artinya :

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak
mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali
cambukan.[QS. An Nuur (4) : 4]

Larangan Menikahi Wanita Pezina maupun Laki-laki Pezina

Tujuan perkawinan sifatnya adalah suci. Ia harus dicegah dari segala unsur penodaan, pengotoran
karena itulah ia menjadi lembaga keagamaan. Haramlah yang tidak melindungi, mengawal dan
mengamankan kesucian perkawinan. Perkawinan yang didasarkan sekuler saja (menurut apa adanya
saja, kebudayaan saja) tidak akan dapat menjaga atau tidak akan mampu menjaga kesucian itu, seperti
yang dijelaskan dalam Q.S. An-Nuur Ayat 3 yang berbunyi :

‫زان أ َ ْو ُم ْش ِرك َو َو ُح ِ ِّر َم ذ ِل َك‬ َّ ‫الزاني َل يَ ْن ِك ُح إَِلَّ زانِيَةًأ َ ْو ُم ْش ِر َكةً َو‬


ٍ َّ‫الزانِيَةُ َل يَ ْن ِك ُحها ِإَل‬ َّ
َ‫َعلى ا لَ ُمؤْ ِمنِيْن‬
Artinya :

Orang laki-laki pezina, yang dinikahinya ialah perempuan pezina pula atau perempuan musyrik.
Perempuan pezina jodohnya ialah laki-laki pezina pula atau laki-laki musyrik , dan diharamkan yang
demikian itu atas orang yang beriman. [Q.S.An-Nuur (24) : 3]

Larangan Suami Menikahi Mantan Istri yang telah di Talak Tiga

Seorang suami yang telah mentalak tiga mantan istrinya, tidak diperkenankan menikahinya kembali
kecuali jika mantan istri telah dinikahi oleh seorang laki-laki lain dengan syarat harus di campuri dulu
oleh suaminya kemudian diceraikan, barulah suami pertama boleh menikahinya kembali. Akan tetapi,
dalam hal ini tidak boleh dilakukan secara sengaja, misalnya si suami berkata kepada orang yang akan
menikahi istrinya “Saya izinkan kamu menikahi mantan istriku, dan kamu boleh mencampurinya
kemudian kamu ceraikan dia untukku”. Tidak boleh ada unsur perencanaan dalam hal ini. Allah SWT.
berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah Ayat 230 yang berbunyi :

‫طلَّقَ َها َفَلَ ُجنَا َح َعلَ ْي ِه َمآ أَن‬َ ‫طلَّقَ َها فََلَ ت َ ِح ُّل لَهُ ِمن بَ ْعد ُ َحتَّى تَن ِك َح زَ ْوجا ً َغي َْرهُ فَإِن‬ َ ‫فَإِن‬
َ‫ظنَّا أَن يُ ِقي َما ُحدُودَ هللاِ َوتِ ْل َك ُحد ُودُ هللاِ يُبَ ِيِّنُ َها ِلقَ ْو ٍم َي ْعلَ ُمون‬
َ ‫َيت َ َرا َج َعآ ِإن‬
Artinya :
Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal
baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya,
maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya
berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkanNya
kepada kaum yang (mau) mengetahui.” [Q.S.Al-Baqarah (2) : 230]

Larangan Menikah Lagi Bagi Seorang Laki-laki yang Sudah Beristri Empat

Prinsip Pernikahan dalam Islam itu monogami, artinya boleh seorang lelaki menikahi dua sampai emapat
perempuan, dengan syarat ia harus bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya baik itu yang bersifat
kebutuhan seksual maupun kebutuhan materi. Jika seorang suami sudah memiliki empat istri maka
baginya larangan untuk menikah lagi bila ia tidak menceraikan sala satunya. Sebagaimana dijelaskan
dalam Hadist yang berbunyi :

‫ي أ َ ْسلَ َم َو ِع ْندَهُ َع ْش ُر‬َّ ‫سلَ َمةَ الثَّقَ ِف‬


َ َ‫ أ َ َّن َغيَْلنَ بْن‬، ‫َّللاُ َع ْن ُه َما‬
َّ ‫ي‬َ ‫ض‬ِ ‫ َع ْن أَبِي ِه َر‬، ‫سا ِل ٍم‬ َ ‫َع ْن‬
‫سائِ َر ُه َّن أ َ ْخ َب َرنَا َما ِلك‬
َ ‫ار ْق‬ ِ َ‫ِك أ َ ْر َبعًا َوف‬
ْ ‫ أ َ ْمس‬: ‫ي صلى هللا عليه وسلم‬ ُّ ‫ فَقَا َل لَهُ النَّ ِب‬، ٍ‫نِ ْس َوة‬
َ ‫ َحد‬، ِ ‫ي‬
َ‫ِيث َغيَْلن‬ ُّ ‫ َع ِن‬،
ِّ ‫الز ْه ِر‬

Artinya :

Dari Salim, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Ghalian Ibnu Salamah masuk Islam dan ia memiliki
sepuluh orang istri yang juga masuk Islam bersamanya. Lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam
menyuruhnya untuk memilih empat orang istri di antara mereka dan ceraikan selebihnya. Hadits ini
didapat dari Imam Malik dari Zuhri, Hadits Ghailan. (Musnad Imam Syafi’i : 1338)

2. Syarat dan Rukun Pernikahan Dalam Islam

‘Syarat, yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah dan tidaknya suatu pekerjaan (ibadah),
tetapi sesuatu itu tidak termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu, seperti menutup aurat untuk sholat”
atau menurut islam calon pengantin laki-laki/perempuan itu harus beragama islam.

Rukun, yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah atau tidaknya suatu pekerjaan (ibadah),
dan sesuatu itu bermaksud dalam rangkaian pekerjaan itu, seperti membasuh muka untuk wudhu’
dan takbiratul ihramuntuk shalat. Atau adanya calon pengantin laki-laki/perempuan dalam perkawinan.

1. Syarat-Syarat Pernikahan Dalam Islam

 Mempelai laki-laki (calon suami), syarat-syaratnya :

a. Beragama Islam
b. Lelaki yang tertentu

c. Bukan mahram dengan bakal istri

d. Bukan dalam ihram haji atau umrah

e. Dengan kerelaan sendiri

f. Mengetahui wali yang sah bagi akad nikah tersebut

g. Mengetahui bahawa perempuan itu boleh dan sah dinikahi

h. Tidak mempunyai empat orang isteri yang sah dalam satu masa

 Mempelai Wanita (calon istri), syarat-syaratnya :

a. Beragama Islam

b. Bukan seorang khunsa (perempuan yang merasa dirinya laki-laki)

c. Perempuan yang tertentu

d. Tidak dalam masa Iddah

e. Bukan dalam ihram haji atau umrah

f. Dengan rela hati

g. Bukan perempuan mahram dengan bakal suami

h. Bukan istri orang atau masih ada suami

 Wali, syarat-syarat wali :

a. Adil

b. Beragama Islam

c. Baligh

d. Lelaki

e. Merdeka

f. Tidak fasik, kafir, atau murtad

g. Bukan dalam ihram haji atau umrah


h. Waras (tidak cacat pikiran dan akal)

i. Dengan kerelaan sendiri

j. Tidak muflis (ditahan hukum atau harta)

Adapun macam-macam wali dalam Pernikahan :

1. Wali Nasab yaitu orang-orang yang terdiri dari keluarga calon mempelai wanita yang berhak
menjadi wali. Yang termasuk wali nasab yaitu ayah kandung, kakek (dari garis ayah) dan
seterusnya keatas dalam garis laki-laki, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki
seayah, anak laki-laki saudara laki-laki sekandung, anak laki-laki saudara laki-laki seayah,
anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki sekandung, anak laki-laki dari anak laki-
laki saudara laki-laki seayah, saudara laki-laki ayah sekandung (paman), saudara laki-laki
ayah seayah (paman seayah), anak laki-laki paman sekandung, anak laki-laki paman seayah,
saudara laki-laki kakek sekandung, anak laki-laki saudara laki-laki kakek sekandung, anak
laki-laki saudara laki-laki kakek seayah.

2. Wali Hakim, yaitu orang yang diangkat oleh pemerintah (Menteri Agama) untuk bertindak
sebagai wali dalam suatu pernikahan yaitu apabila seorang calon mempelai wanita dalam
kondisi tidak mempunyai wali nasab sama sekali, atau walinya mafqud (hilang tidak
diketahui keberadaannya), atau wali sendiri yang akan menjadi mempelai laki-laki sedang
wali yang sederajat dengan dia tidak ada, atau wali yang berada di tempat jauh sejauh
masafaqotul qosri (sejauh perjalanan yang memperbolehkan shalat qasar yaitu 92,5 kilo
meter), atau wali berada dalam penjara atau tahanan yabg tidak boleh di jumpai, atau wali
adhol yaitu tidak bersedia atau menolak untuk menikahkannya, atau wali sedang
melaksanakan ibadah umrah atau haji.

3. Wali Muhakam yaitu wali yang diangkat oleh kedua calon suami-istri untuk bertindak sebagai
wali dalam akad nikah mereka. Kondisi ini terjadi apabila suatu pernikahan yang seharusnya
dilaksanakan oleh wali hakim, padahal disini wali hakimnya tidak ada maka pernikahannya
dilaksanakan oleh wali muhakam.

 Dua orang saksi, :

Adapun syarat saksi yang menghadiri akad nikah haruslah dua orang laki-laki, muslim, baligh, berakal,
melihat dan mendengar serta mengerti (paham) akan maksud akad nikah.

Adapun kewajiban adanya saksi tidak lain, hanyalah untuk kemaslahatan kedua belah pihak dan
masyarakat. Misalnya, salah seorang mengingkari, hal itu dapat dielakkan oleh adanya dua orang saksi.
Juga misalnya apabila terjadi kecurigaan masyarakat, maka dua orang saksi dapatlah menjadi pembela
terhadap adanya akad perkawinan dari sepasang suami istri. Disamping itu, menyangkut pula keturunan
apakah benar yang lahir adalah dari perkawinan suami istri tersebut. Dan di sinilah saksi itu dapat
memberikan kesaksiannya.

 Ada Ijab dan Qabul, :

Pada hakikatnya ijab adalah suatu pernyataan dari perempuan untuk mengikatkan diri dengan seorang
laki-laki untuk dijadikan sebagai suami yang sah. Sedangkan qabul adalah pernyataan menerima dengan
sepenuh hati untuk menjadikan seorang perempuan tersebut menjadi istri yang sah.

Di dalam ijab dan qabul ini di sebutkan mahar atau mas kawin. Mahar ini bukan termasuk syarat atau
pun rukun pernikahan, akan tetapi mahar ini termasuk kewajiban suami terhadap istri, kewajiban yang
berupa pemberian. Menurut mazhab Maliki, mahar adalah sebagai sesuatu yang menjadikan istri halal
untuk digauli.

Contoh Lafadz Ijab :

“Daku nikahkan dikau dengan ….. binti …. (sebutkan nama pengantin perempuan) dengan mas kawin
…….”

Contoh Lafadz Qabul :

“Daku terima nikahnya ….. binti …. (sebutkan nama pengantin perempuan) dengan mas kawin …….”

2. Rukun Pernikahan dalam Islam

 Ada Calon Suami dan Istri

 Ada Wali Nikah

 Dua orang saksi

 Ada Ijab dan Qabul

E. Hikmah Pernikahan dalam Islam

Anjuran telah banyak disinggung oleh Allah dalam al-Quran dan Nabi lewat perkataan dan
perbuatannya. Hikmah yang terserak di balik anjuran tersebut bertebaran mewarnai perjalanan hidup
manusia. Secara sederhana, setidaknya ada 5 (lima) hikmah di balik perintah menikah dalam Islam.

o Sebagai wadah birahi manusia secara halal

Allah ciptakan manusia dengan menyisipkan hawa nafsu dalam dirinya. Ada kalanya nafsu bereaksi
positif dan ada kalanya negatif.
Manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsu birahi dan menempatakannya sesuai wadah yang
telah ditentukan, akan sangat mudah terjebak pada ajang baku syahwat terlarang. Pintu
pernikahan adalah sarana yang tepat nan jitu dalam mewadahi ‘aspirasi’ nulari normal seorang
anak keturunan Adam.

o Meneguhkan Akhlaq Terpuji

Dengan menikah, dua anak manusia yang berlawanan jenis tengah berusaha dan selalu berupaya
membentengi serta menjaga harkat dan martabatnya sebagai hamba Allah yang baik.

Akhlak dalam Islam sangatlah penting. Lenyapnya akhlak dari diri seseorang merupakan
lonceng kebinasaan, bukan saja bagi dirinya bahkan bagi suatu bangsa. Kenyataan yang ada
selama ini menujukkkan gejala tidak baik, ditandai merosotnya moral sebagian kawula muda
dalam pergaulan.

o Membangun Rumah Tangga Islami

Slogan “sakinah, mawaddah, wa rahmah” tidak akan menjadi kenyataan jika tanpa dilalui proses
menikah. Tidak ada kisah menawan dari insan-insan terdahulu maupun sekarang hingga mereka sukses
mendidik putra-putri dan keturunan bila tanpa menikah yang diteruskan dengan membangun biduk
rumah tangga islami.

Layaknya perahu, perjalanan rumah tangga kadang terombang-ambing ombak di lautan. Ada aral
melintang. Ada kesulitan datang menghadang. Semuanya adalah tantangan dan riak-riak yang
berbanding lurus dengan keteguhan sikap dan komitmen membangun rumah tangga ala Rasul dan
sahabatnya.

o Memotivasi Semangat Ibadah

Risalah Islam tegas memberikan keterangan pada umat manusia, bahwa tidaklah mereka diciptakan
oleh Allah kecuali untuk bersembah sujud, beribadah kepada-Nya.

Dengan menikah, diharapkan pasangan suami-istri saling mengingatkan kesalahan dan kealpaan.
Dengan menikah satu sama lain memberi nasihat untuk menunaikan hak Allah dan Rasul-Nya.

o Melahirkan Keturunan yang Baik

Hikmah menikah adalah melahirkan anak-anak yang salih, berkualitas iman dan takwanya, cerdas secara
spiritual, emosional, maupun intelektual.
Dengan menikah, orangtua bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya sebagai generasi yang
bertakwa dan beriman kepada Allah. Tanpa pendidikan yang baik tentulah tak akan mampu melahikan
generasi yang baik pula.

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Pernikahan adalah akad serah terima antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan untuk saling
memuaskan diri antara satu dengan yang lain untuk membentuk sebuah bahtera rumah tangga yang
sakinah serta masyarakat yang sejahtera.

Pernikahan bertujuan untuk menjaga diri dari perbuatan zina, memelihara keturunan, dapat
menyalurkan naluri seksual dengan halal dan terpuji, memelihara dan memperbanyak keturunan secara
terhormat, naluri keibuan dan kebapakan akan akan saling melengkapi dalam kehidupan berumah
tangga bersama anak-anaknya, melatih kemampuan bekerja sama, serta terbentuknya tali kekeluargaan
dan silaturahmi antar keluarga.

Di dalam agama Islam, hukum pernikahan dilandaskan terhadap keadaan yang di alami seseorang. Ada
yang hukumnya wajib, sunnah, mubah, makruh bahkan haram.

Hikmah dari pernikahan itu sendiri adalah sebagai wadah birahi manusia secara halal, meneguhkan
akhlaq terpuji, membangun rumah tangga islami, memotivasi semangat ibadah, serta melahirkan
keturunan yang baik dan terhormat.

C. Saran

Dengan adanya pernikahan diharapkan dapat membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan
warahmah, dunia dan akhirat.

Pernikahan menjadi wadah bagi pendidikan dan pembentukan manusia baru yang kedepannya
diharapkan mempunyai kehidupan dan masa depan yang lebih baik.

Dengan adanya kepala keluarga yang memimpin bahtera rumah tangga , kehidupan diharapkan
menjadi lebih bermakna, dan suami-suami dan istri-istri akhir zaman ini memiliki semangat yang tinggi di
jalan Allah SWT. Aamiin.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nyalah
sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan sebaik mungkin. Makalah yang berjudul
“Pernikahan dalam Islam” ini kami tulis untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan
Agama Islam.

Dalam penyusunan makalah ini tentunya kami mendapat banyak donasi dari berbagai pihak.
Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya dalam menyelesaikan makalah ini,
serta ucapan terima kasih kami terkhusus kepada Ibu ST. Mutmainnah, S.Ag., M.Ag selaku dosen mata
kuliah yang memberikan kami amanah untuk menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh
karena itu kami selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
kepada pembaca. Akhirnya, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya
kepada penulis sendiri.

Makassar, 15 Oktober 2015

Penulis

DAFTAR PUSTAKA

Dandelion, Momoy. 2010. Konsep Pernikahan dalam Pandangan Islam.

(online), (http://momoydandelion.blogspot.com/).

Suparta. Zainuddin, Djejen. 2005. Fiqih. Semarang : PT. Karya Toha Putra.

Hadzan, Ibnul. 2007. Konsep Pernikahan dalam Islam.

(online), (http://koswara.wordpress.com/).

Kumpulan Makalah. 2009. Konsep Islam Tentang Pernikahan.

(online), (http://kumpulan-makalah-dlords.blogspot.com/).
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................

DAFTAR ISI..........................................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang....................................................................................................

B. Rumusan Masalah...............................................................................................

BAB II : PEMBAHASAN

A. Pengertian Pernikahan........................................................................................

B. Tujuan Pernikahan..............................................................................................

C. Hukum Pernikahan.............................................................................................

D. Cara-Cara Pernikahan.........................................................................................

E. Hikmah Pernikahan............................................................................................

BAB III : PENUTUP

A. Kesimpulan........................................................................................................

B. Saran..................................................................................................................

Daftar Pustaka.....................................................................................................................
Tugas Kelompok

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


(PERNIKAHAN DALAM ISLAM)

Oleh :
Kelompok 4
Nama : Asridawati 1552132007
A. Iin Safitri 15521320
Hasrifani 15521320
Kelas : Business English / A

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR


TAHUN 2015
Diposting oleh Akemi -chan di 05.18

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

4 komentar:
1.

Nisa Mazaya8 Oktober 2016 09.07

padat dan jelas... makasih banyakk


Balas

2.

Akemi -chan27 Oktober 2016 06.07


thanks sudah berkunjung
Balas

3.

Purnomo jepara2 Januari 2018 14.08

OBYEK PENDIDIKAN ISLAM DALAM QS. AS-SYU’ARA AYAT 214


ALIRAN-ALIRAN DALAM ILMU KALAM
HUBUNGAN USHUL FIQH , QAWAI'D FIQH DAN FIQH KHUSUSNYA DALAM
MUAMALAH
METODE PENDIDIKAN ISLAM DALAM QS. IBRAHIM AYAT 24-25
Syarat rukun dan sunnah wudhu
bidang bimbingan konseling
eksistensi tasawuf di era modern
Hadits Tentang Pernikahan
Balas

4.

contact anaria8 Oktober 2018 20.09

bagus banget artikelnya bermanfaat sekali untuk muda-mudi agar lebih mengenal Islam dan
untuk meluruskan niat karena semua bermula dari niat

Anaria Wedding - 0812 7537 5986


www.anariasouvenir.com
Balas

Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya

Akemi -chan
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog
 ▼ 2015 (1)
o ▼ November (1)
 Pernikahan dalam Islam
Tema Tanda Air. Diberdayakan oleh Blogger.