Anda di halaman 1dari 32

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa penulis mengucapkan puji
dan syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
nikmat-Ny, sehingga penulis dapat menyelasaikan laporan tugas besar “Rekayasa
Hidrologi”.
Laporan tugas besar ini telah penulis susun dengan maksimal dan
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
penyusunan laporan tugas besar ini. Untuk itu penulis menyampaikan banyak
terima kasih keapada :
1. Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayah
sehingga dapat menyelesaikan laporan tugas besar ini dengan baik.
2. Orang tua, yang telah mendukung dan memberikan doa.
3. Prof. Ir. Indratmo Soekarno, M .Sc, Ph .D ., selaku dosen penanggung jawab
mata kuliah “Rekayasa Hidrologi”.
4. Ayudia Hardiyani Kiranaratri, S.T ., M.T ., selaku dosen pengajar mata
kuliah “Rekayasa Hidrologi”.
5. Elian Zhafira, selaku asisten tugas besar “Rekayasa Hidrologi” di Institut
Teknologi Sumatera.
6. Seluruh teman-teman prodi Teknik Sipil angkatan 2016 Institut Teknologi
Sumatera
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan laporan
praktikum ini masih banyak kekurangan. Saran dan kritik yang membangun sangat
diharapkan penulis, semoga laporan praktikum ini dapat bermanfaat bagi pembaca

Lampung Selatan, April 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................... ii


DAFTAR ISI ....................................................................... iii
DAFTAR TABEL..........................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakanng ....................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 2
1.3 Tujuan Masalah........................................................................................2
1.4 Manfaat Penelitian....................................................................................2

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Metode Pengolahan Data...........................................................................3
2.2 Distribusi Frekuensi, uji Chi-Square, uji Semirnov Kolmogrov................7
2.3 Metode Talbhot...........................................................................................15
2.4 Debit Curah Hujan Rencana.......................................................................16

BAB III SOAL


3.1 Soal Tugas Besar Semester Genap (2017/2018) .............................. 17

BAB IV: PEMBAHASAN


4.1 Menghitung Distribusi Curah Hujan............................................................... 18
4.2 Analisis............................................................................................................ 37

BAB V: KESIMPULAN

iii
5.1 Kesimpulan ....................................................................... 38

5.2 Saran ....................................................................... 38

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1.1 Curah Hujan Tahun 1996....................................................... 17

Tabel 4.1.2 Curah Hujan Tahun 1997....................................................... 17

Tabel 4.1.3 Curah Hujan Tahun 1998....................................................... 18

Tabel 4.1.4 Curah Hujan Tahun 1999....................................................... 18

Tabel 4.1.5 Curah Hujan Tahun 2000........................................................19

Tabel 4.1.6 Curah Hujan Tahun 2001........................................................19

Tabel 4.1.7 Curah Hujan Tahun 2002........................................................20

Tabel 4.1.8 Curah Hujan Tahun 2003........................................................20

Tabel 4.1.9 Curah Hujan Tahun 2004........................................................21

Tabel 4.1.10 Curah Hujan Tahun 2005.......................................................21

Tabel 4.2.1 Perhitungan Distribusi Normal.................................................22

Tabel 4.2.2 Perhitungan Dispersi log............................................................23

Tabel 4.2.3.1 Metode Distribusi Normal.............................................24

Tabel 4.2.3.2 Metode Distribusi Log Normal.......................................24

Tabel 4.2.3.3 Metode Log Person Tipe 3..............................................25

Tabel 4.2.3.4 Metode Gumbel................................................................25

Tabel 4.2.3.5 Dispersi.............................................................................26

Tabel 4.2.3.6 Uji Chi-Square...................................................................27

Tabel 4.2.3.7 Semirnov Kolmogrov........................................................28

Tabel 4.3.1 Talbhot Log Person Tipe 3 Periode ulang 2 tahun............................30

Tabel 4.3.2 Talbhot Log Person Tipe 3 Periode ulang 5 tahun.............................30

Tabel 4.3.3 Talbhot Log Person Tipe 3 Periode ulang 10 tahun.............................31

v
Tabel 4.3.4 Talbhot Log Person Tipe 3 Periode ulang 25 tahun............................31

Tabel 4.4.1 Debit 5 Tahun.................................................................................33

Tabel 4.4.2 Debit 10 Tahun...............................................................................33

Tabel 4.4.3 Debit 25 Tahun................................................................................34

Tabel 4.4.4 Debit 50 Tahun.................................................................................34

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sebagian besar kegiatan pemngembangan sumberdaya air memerlukan


informasi hidrologi untuk dasar perencanaan dan perancangan. Akibatnya apabila
informasi hidrologi tidak dihasilkan dengan cermat, maka akan menghasilkan
rancangan yang tidak akurat. Informasi hidrologi seprti data curah hujan sudah
dapat dilakukan analisis permodelan periodik stokastik dengan tingkat akurasi yang
baik.

Informasi hidrologi khususnya data curah hujan yang diamati, seringkali tid
ak tersedia atau dengan kata lainterdapat data yang hilang. Ketidaktersediaan data
yang lengkap menjadi masalah pentinguntuk proses pengolahan data selanjutnya.
Adanya data yang hilang akan mengurangi informasi yang terkandung pada data.
Sampai saat ini belum ada media yang menyediakan layanan akses dalam
mengumpulkan data curah hujan secara cepat dan mudah.

Perkembangan teknologi informasi dewasa ini kian hari kian pesat.


Pertukaran informasi yang cepat membawa dunia ke era modern saat ini. Kemajuan
teknologi informasi yang pesat sudah dapat diaplikasikandiberbagai bidang
keilmuan. Hal ini menjadi solusi dibidang hidrologi seperti membangun sebuah
sistem informasi dan analisis data curah hujan harian.

Sistem informasi dan analisis data curah hujan harian merupakan sebuah
sistem informasi yang dapat digunakan untuk pengolahan data curah hujan. Sistem
informasi ini dapat memberikan akses, pengolahan dan analisis data curah hujan
harian kepada pengguna.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud ilmu hidrologi dan bagaimana menerapkannya?


2. Bagaimana cara menghitung distribusi curah hujan menggunakan metode
thiessen?
3. Bagaimana cara menghitung analisa frekuensi, intensitas curah hujan,
dan debit menggunakan metode rasional?

1.3 Tujuan Masalah

1. Agar mahasiswa dapat memahami ilmu hidrologi dan menerapkannnya

2. Untuk menentukan distribusi curah hujan menggunakan metode thiessen

3. Agar mahasiswa dapat menghitung analisa frekuensi, intensitas curah


hujan, dan debit dengan Q rencana menggunakan metode rasional

1.4 Manfaat Penelitian

1. Agar mahasiswa dapat mendalami imu hidrologi dan menerapkannya


masyarakat
2. Sebagai syarat untuk memenuhi kelulusan pada Mata Kuliah Rekayasa
Hidrologi
3. Untuk mempermudah mahasiswa dalam penyusunan tugas besar
4. Untuk mengetahui dan dapat menggunakan program-program komputer
seperti autocad, Microsoft excel, dan Microsoft word.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Metode Pengolahan Data

Ada 3 macam cara yang dapat digunakan untuk menghitung hujan lokal
(point ) menjadi hujan rata-rata daerah aliran sungai (areal rainfall) yaitu :

A. Metode rata-rata aljabar


B. Metode Aritmatik
C. Metode poligon Thiessen
D. Metode Isohyet
Berikut adalah keterangannya:
A. Metode rata-rata aljabar
Merupakan metode paling sederhana untuk menghitung hujan rata-rata yang
jatuh di dalam & sekitar daerah.

Hasilnya memuaskan jika daerahnya datar dan alat ukur tersebar merata serta
distribusi hujan relatif merata pada seluruh DAS.

Makin banyak stasiun hujannya, akan makin banyak informasi yang diperoleh
tetapi biaya mahal, penempatan stasiun sebaiknya merata.

Keuntungan, lebih obyektif jika dibandingkan dengan metode Isohyet yang masih
mengandung faktor subyektif.

B. Metode Aritmatik

1 n
P  di
n i 1
1
 ( PA  PB  PC )
3

3
C. Metode Thiessen

Metode ini memperhitungkan bobot/daerah pengaruh dari masing-masing


stasiun hujan  asumsi : hujan yang terjadi pada suatu luasan dalam DAS = hujan
yg tercatat di sta. terdekat  jadi mewakili luasan tsb.

Jumlah stasiun hujan minimum 3 buah.


Penyebaran stasiun hujan bisa tidak merata.
Tidak sesuai untuk daerah bergunung.

DAS dibagi menjadi poligon, stasiun pengamat hujan sebagai pusat.

Apabila ada penambahan/pemindahan stasiun pengamat hujan, akan mengubah


seluruh jaringan dan mempengaruhi hasil akhir perhitungan.

Tidak memperhitungkan topografi.

Lebih teliti dibandingkan dengan cara Aljabar.

a) Metode Thiessen
1. relatif lebih teliti
2. kurang fleksibel
3. tidak memperhitungkan faktor topografi
4. objektif

N
P   i.P
i
i 1
Dengan
N : jumlah stasiun
Pi : kedalaman hujan di stasiun I
i : bobot stasiun I =Ai / Atotal
Ai : luas daerah pengaruh sta. I
Atotal : luas total

4
n
P  i Pi
i 1

  A PA   B PB  C PC

Cara :
1. Hubungkan lokasi stasiun pengamat hujan.
2. Gambar garis bagi tegak lurus pada tiap sisi segitiga.
3. Hitung faktor pemberat Thiessen Ai/ΣAi.
4. Curah hujan dalam tiap poligon dianggap diwakili oleh curah hujan dari titik
pengamatan dalam tiap poligon tersebut.
5. Luas poligon dapat diukur dengan planimeter atau kertas milimeter.

D. Metode Isohyet
Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan kedalaman
hujan yang sama. Diasumsikan bahwa : hujan pada suatu daerah diantara 2 garis
isohyet merata dan = nilai rata-rata dari kedua garis isohyet tersebut.

- Digunakan di daerah datar / pegunungan.

- Stasiun curah hujan tersebar merata & harus banyak.

- Bermanfaat untuk curah hujan yang singkat, metode

paling teliti tetapi analisisnya harus berpengalaman.

I I I I I I
n
I i  I i 1
A1 1 2  A2 2 3  ......  An n n 1
2 2 2
A i
2
P  i 1
A1  A2  ....... An n

A
i 1
i

Proses tahapannya :

1. Plot Stasiun hujan & besar kedalaman curah hujan.

2. Dari nilai kedalaman hujan di stasiun yang berdampingan, dibuat interpolasi


dengan pertambahan nilai yang ditetapkan.

3. Buat kurva dengan menghubungkan titik-titik interpolasi dengan kedalaman


hujan yang sama.

5
4. Ukur luas daerah antara 2 isohyet yang berurutan, kalikan dengan nilai rerata dari
nilai kedua garis isohyet.

5. Jumlah hitungan pada butir 4 untuk seluruh garis isohyet dibagi dengan luas
daerah yang ditinjau.

Tebal hujan :

Jumlahkan hasil kali tebal hujan dengan luas DAS yang dibatasi oleh 2 garis
yang membagi jarak yang sama diantara 2 Isohyet yang berdekatan

a) Metode Isohyet
1. fleksibel

2. perlu kerapatan jaringan yang cukup untuk membuat peta isohyet yang akurat
subjektif

1 n P P
P 
A i
Ai i i 1
2

dengan:
n : jumlah luasan
Pi : kedalaman hujan di kontur i
i : bobot stasiun I =Ai / Atotal
Ai : luas daerah antara dua garis
kontur kedalam hujan
Atotal : luas total

1 n d d
P 
A i 1
Ai i 2
2
d d d d
A1 1 2    A5 5 6
 2 2
A

6
Penentuan atau pemilihan metode curah hujan daerah dapat dihitung dengan
parameter luas daerah tinjauan sebagai berikut (Sosrodarsono, 2003: 51):

1. Untuk daerah tinjauan dengan luas 250 ha dengan variasi topografi kecil
diwakili oleh sebuah stasiun pengamatan.

2. Untuk daerah tinjauan dengan luas 250 – 50.000 ha yang memiliki 2 atau
3 stasiun pengamatan dapat menggunakan metode rata-rata aljabar.

3. Untuk daerah tinjauan dengan luas 120.000 – 500.000 ha yang memiliki


beberapa stasiun pengamatan tersebar cukup merata dan dimana curah
hujannya tidak terlalu dipengaruhi oleh kondisi topografi dapat
menggunakan metode rata-rata aljabar, tetapi jika stasiun pengamatan
tersebar tidak merata dapat menggunakan metode Thiessen.

4. Untuk daerah tinjauan dengan luas lebih dari 500.000 ha menggunakan


metode Isohiet atau metode potongan antara

2.2 Distribusi Frekuensi, Uji Chi-Square, Semirnov Kolmogrov

Langkah Perhitungan Analisis Frekuensi:

1. Pemilihan Agihan Frekuensi


2. Pemilihan Jenis Sebaran
Syarat untuk EJ. Gumbell, Ck = 5,40 dan Cs = 1,14,

Log Pearson III harga Cs dan Cvnya bebas, dan untuk Log Normal Cs = 0,00.

a) Pengujian Kesesuaian Distribusi Frekuensi


i. Uji Chi - Square (X2) Test
ii. Uji Smirnov Kolmogorov
Pemilihan Agihan Frekuensi
Adapun langkah-langkah dalam pemilihan agihan frekuensi adalah
(Subarkah, 1980):

1. Menghitung curah hujan maksimum rerata dengan persamaan

1 n
Xo   Xi
n i 1

7
2. Menghitung simpangan baku, dengan persamaan
n

 X  Xo 
2
i
Sx  i 1
n 1

3. Menghitung parameter statistik yang meliputi koefisien


skewness/penyimpangan (Cs), koefisien varians (Cv) dan koefisien
kurtosis (Ck) dengan persamaan :

n
n2  X i  X o 
4

Ck  i 1

n  1n  2n  3S x 3


n
n X i  X o 
3

Cs  i 1

n  1n  2S x 3
Sx
Cv 
Xo

Keterangan :

Xi = curah hujan (mm)


Sx = standar deviasi
Xo = curah hujan
Cs = koefisien skewness
rata- rata(mm)
Cv = koefisisen varians
n = jumlah data
Ck = koefisien kurtori

1. Metode Distribusi Normal


Distribusi normal atau kurva normal disebut juga distribusi Gauss.

XT  X  KT . S

XT : Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi periode ulang T


X : Nilai rata-rata hitung variat
S : Deviasi standar nilai variat

8
KT : Faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode
ulang dan tipe model matematik distribusi peluang yang
digunakan untuk analisis peluang. Nilai faktor frekuensi dapat
dilihat pada tabel Reduksi Gauss

2. Metode Distribusi Log Normal

Log X T  Log x  (K T . S Log x)

Log XT : Perkiraan nilai yang diharapkan dengan periode ulang T


Log x : Nilai rata-rata hitung variat

𝚺 𝐥𝐨𝐠 𝐗𝐢
𝐋𝐨𝐠 𝐱 =
𝐧

S Log x : Deviasi standar nilai variat

𝚺 (𝐋𝐨𝐠 𝐗𝐢 − 𝐋𝐨𝐠 𝐗)𝟐


𝐒 𝐋𝐨𝐠 𝐱 =
𝐧 −𝟏

KT : Faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode


ulang dan tipe model matematik distribusi peluang yang digunakan untuk
analisis peluang. Nilai faktor frekuensi dapat dilihat pada tabel Reduksi
Gauss

R T  Xr  K T . Sx

RT : Perkiraan nilai ang diharapkan terjadi dengan periode ulang T


Xr : Nilai rata-rata hitung variat
Sx : Deviasi standar nilai variat
KT : Faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau
periode ulang dan tipe model matematik distribusi peluang
yang digunakan untuk analisis peluang. Nilai factor frekuensi dapat
dilihat pada tabel Reduksi Gauss

9
Distribusi log normal merupakan hasil transformasi dari distribusi normal,
yaitu dengan mengubah nilai variat X menjadi nilai logaritmik variat X.
Distribusi log-Pearson Type III akan menjadi distribusi log Normal apabila
nilai koefisien kemencengan CS = 0,00
3. Metode Log Pearson Type III
Pearson telah mengembangkan serangkaian fungsi probabilitas yang dapat
dipakai untuk hampir semua distribusi probabilitas empiris.
Tiga parameter penting dalam Metode Log Pearson Tipe III, yaitu:
1. Harga rata-rata ( R )
2. Simpangan baku (S)
4. Koefisien kemencengan (G)
Hal yang menarik adalah jika G = 0 maka distribusi kembali ke distribusi
Log Normal.
Distribusi Log Pearson Tipe III, mempunyai koefisien kemencengan
(Coefisien of skwennes) atau CS ≠ 0.

Langkah-langkah penggunaan distribusi Log Pearson Tipe III

1. Tentukan logaritma dari semua nilai varant x


2. Hitung harga rata-rata :
n

 logX
Log x  i1

3. Hitung harga simpangan baku/Standar deviasi dari log x :

n 2

(log x  log x )
S log x  i1
n 1

4. Hitung koefisien kemencengan :

n
n  (logX  log x )3
Cs  i 1
3
(n  1)(n  2)(S log x)

10
5. Hitung logaritma hujan dengan periode ulang T dengan persamaan :

R T  log x  G .( S.log x)

6. Menentukan anti log dari log Rt, untuk mendapat nilai Rt


yg diharapkan terjadi pada tingkat peluang atau periode
tertentu sesuai dengan nilai Csnya.

4. Metode Distribusi Gumbel


Langkah-langkah perhitungan curah hujan rancangan dengan metode
gumbel :

1. Mengumpulkan data hujan harian maksimum tahunan masing-masing tahun


untuk masing-masing stasiun
2. Mencari nilai hujan rerata daerah untuk masing-masing tahun (Ri)
3. Mencari nilai rata-rata data (R’)
4. Mencari nilai standar deviasi (S) dari data dengan rumus:

5. Mencari nilai koefisien rata-rata (reduced mean), (dari tabel Yn)


6. Mencari nilai koefisien standar deviasi (reduced standard deviation) dari
tabel sn

7. Mencari nilai koefisien variasi (reduced variate), dengan rumus:


 Tr  1
YTr   ln  ln
 Tr 
11
YTr = reduced variant
Tr = Kala Ulang dalam tahun
8. Mencari nilai koefisien frekuensi gumbel (K) dengan rumus:
YTr  Yn
K
Sn

Yn = reduced mean yang tergantung pada jumlah sampel atau data n


Sn = reduced standard deviation yang tergantung pada jumlah sampel
YTr = reduced variate yang dihitung dengan persamaan :
9. Mencari nilai hujan rancangan (RT) dengan rumus:

RT  R'  K.S

Keterangan:
RT = curuh hujan rancangan T tahunan (mm)
R’ = rata-rata data
K = koefisien frekuensi Gumbel
S = standar deviasi data

Pengujian Kesesuaian Distribusi Frekuensi


1. Metode Chi Kuadrat (Chi Square Test)

12
Untuk menguji kebenaran suatu sebaran data curah hujan, maka metode
yang digunakan yaitu Metode Uji Chi Kuadrat (Chi Square Test) atau uji
sebaran.
Uji chi square dimaksudkan untuk menentukan apakah persamaan distribusi
peluang yang telah dipilih dapat mewakili dari distribusi statistik sampel
data yang dianalisis.
1. Hitung jumlah kelas (K)
𝑲 = 𝟏 + 𝟑, 𝟑𝟐𝟐 𝐥𝐨𝐠 𝒏

Dimana : K = jumlah kelas


N = jumlah data
2. Hitung Derajat Kebebasan (DK)
𝑫𝑲 = 𝑲 − (𝑷 + 𝟏)

Dimana : DK = Derajat Kebebasan


K = jumlah kelas
P = Parameter hujan ( P = 1)
3. Mencari harga X2 Cr dilihat dari derajat kebebasan (DK) dan taraf
signifikasi (X) (lihat tabel distribusi chi-kuadrat)
4. Hitung nilai yang diharapkan (EF)
𝒏
𝑬𝑭 = 𝑲

Dimana : EF = Nilai yang diharapkan


K = jumlah kelas
n = Jumlah data

5. Hitung X2 Cr

13
6. Bandingkan X2 Cr hasil tabel, dengan X2 Cr hasil perhitungan

X2 Cr hitungan < X2 Cr tabel

7. Hitung koefisien skewness (Cs)

8. Hitung koefisien variasi (Cv)

9. Hitung koefisien Kwitosis (Ck)

10. Menentukan curah hujan yang akan dipakai dalam perencanaan

14
Interpretasi hasil dari uji chi square adalah :

a. Apabila peluang lebih besar dari 5%, maka persamaan distribusi


teoritis yang digunakan dapat diterima.

b. Apabila peluang lebih kecil 1%, maka persamaan distribusi


teoritis yang digunakan tidak dapat diterima.

c. Apabila peluang berada diantara 1 - 5% adalah tidak mungkin


mengambil keputusan, misal perlu penambahan data.

2. Uji Smirnov Kolmogorov


Kolmogorov–Smirnov test (K-S test) merupakan pengujian statistik
non-parametric yang paling mendasar dan paling banyak digunakan,
pertama kali diperkenalkan dalam makalahnya Andrey Nikolaevich
Kolmogorov pada tahun 1933 dan kemudian ditabulasikan oleh Nikolai
Vasilyevich Smirnov pada tahun 1948.
(Pmax | Pe –Pt | ) < ΔCr, α
Umumnya taraf signifiksi atau derajat nyata (α) diambil sebesar 5%
dengan asumsi bahwa 5 dari 100 kesimpulan kita akan menolak hipotesa
yang seharusnya kita terima atau kira-kira 95% konfiden bahwa kita
telah membuat kesimpulan yang benar.

2.3 Metode Talbhot

Untuk Mencari Intensitas Metode Talbhot

𝑎
I = +b
𝑡

I = Intensitas curah hujan

t = Lamanya curah hujan

a & b = Konstanta yang bergantung pada lamanya curah hujan

15
2.4 Debit Curah Hujan Rencana

Salah satu metode yang umum digunakan untuk memperkirakan laju aliran
puncak (debit banjir atau debit rencana) yaitu Metode Rasional USSCS (1973).
Metode ini digunakan untuk daerah yang luas pengalirannya kurang dari 300 ha
(Goldman et.al., 1986, dalam Suripin, 2004). Metode Rasional dikembangkan
berdasarkan asumsi bahwa curah hujan yang terjadi mempunyai intensitas seragam
dan merata di seluruh daerah pengaliran selama paling sedikit sama dengan waktu
konsentrasi (tc). Persamaan matematik Metode Rasional adalah sebagai berikut :

Q=0,278.C.I.A

dimana :

Q : Debit (m3/detik)

0,278 : Konstanta, digunakan jika satuan luas daerah menggunakan km2

C : Koefisien aliran

I : Intensitas curah hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)

A : Luas daerah aliran (km2)

Di wilayah perkotaan, luas daerah pengaliran pada umumnya terdiri dari


beberapa daerah yang mempunyai karakteristik permukaan tanah yang berbeda
(subarea), sehingga koefisien pengaliran untuk masing-masing subarea nilainya
berbeda, dan untuk menentukan koefisien pengaliran pada wilayah tersebut
dilakukan penggabungan dari masing-masing subarea. Variabel luas subarea
dinyatakan dengan Aj dan koefisien pengaliran dari tiap subarea dinyatakan dengan
Cj.

16
BAB III
SOAL TUGAS SEMESTER GENAP
REKAYASA HIDROLOGI (T.A. 2017/2018)

Dari data-data yang tersedia antara lain :

a. Data curah hujan Stasiun Hujan Pahoman (PH-001), Sukarame (PH-003), Sumur
Putri (PH-004) dan Sumberejo (PH-005) tahun 1996-2005
b. Data DAS A, B, C
c. Daerah Perkotaan (Sub-Urban)

1. Hitung:
 Peta Poligon Thiessen (untuk NIM genap) dan Isohyet (untuk NIM ganjil)
 Distribusi Curah Hujan
2. Hitung Analisis Frekuensi dan tentukan R2, R5, R10, R25, R50, dan R100
3. Hitung Intensitas Curah Hujan dengan menggunakan data curah hujan dengan
Metode Mononobe (asisten 1), Talbhot (asisten 2), Sherman (asisten 3) dan
Ishiguro (asisten 4).
4. dan tentukan Q2, Q5, Q10, Q25, Q50, dan Q100 menggunakan metode rasional

NB : pada data curah hujan ditambahkan 2 digit NIM terakhir (0,xx),


namun pada data hujan yang bernilai nol tetap.

17
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Dari data curah hujan yang ada di 4 stasiun yaitu PH-001, PH-002, PH-003,
dan PH-004, dilakukan serangkaian perhitungan untuk mendapatkan debit curah
hujan pada kala ulang 2, 5, 10, 25, 50, dan 100 tahun. Dimulai dengan mencari
Prerata, kemudian frekuensi hujan, intensitas hujan, lalu didapat debit pada kala ulang
tersebut. Untuk menentukan Prerata dari data diatas digunakan metode thiessen,
untuk menentukan frekuensi hujan digunakan distribusi Gumbel dan Log Person III
yang selanjutnya diuji dengan uji Chi Kuadrat (Chi Square Test) dan uji Semirnov
Kolmogrov. Untuk mencari intensitas curah hujan, digunakan metode Sherman.
Dari perhitungan yang didapat diperoleh debit air hujan tertinggi akan terjadi
pada kala ulang 100 tahun.

5.2 Saran

1. Lebih teliti dalam menentukan curah hujan maksimal pada tiap stasiun
hujan.
2. Hati-hati dalam melakukan perhitungan.
3. Jangan lupa lakukan cek distribusi yang cocok digunakan terlebih
dahulu.
4. Cek kembali hasil distribusi.
5. Usahakan jangan sampai salah menggunakan metode atau salah
memasukkan rumus.

40
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Ir. Arifin, MS, 2010. Modul klimatologi. Fakultas Pertanian : Universitas
Brawijaya.

Prof. Dr. Ir. Syamsul Bahri, MS, 2010. Modul klimatologi. Fakultas Pertanian :
Universitas Brawijaya.

Togani Cahyani Upomo, Rini Kusumawardani. 2016. Jurnal Pemilihan Distribusi


Probabilitas pada Analisa Hujan dengan Metode Goodness of Fit Test. Semarang
: Universitas Negeri Semarang.

41
LAMPIRAN

42
KOEF G

43
KOEF C

44
DATA HUJAN

45
PERHITUNGAN

46
PETA THIESSEN

47
40