Anda di halaman 1dari 66

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh

infeksi Mycobacterium tuberculosis dan dapat disembuhkan. Tuberkulosis dapat

menyebar dari satu orang ke orang lain melalui transmisi udara (droplet dahak

pasien tuberkulosis). Pasien yang terinfeksi Tuberkulosis akan memproduksi

droplet yang mengandung sejumlah basil kuman TB ketika mereka batuk,

bersin, atau berbicara. Orang yang menghirup basil kuman TB tersebut dapat

menjadi terinfeksi Tuberkulosis. Bersama dengan malaria dan HIV/AIDS,

Tuberkulosis menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi

komitmen global dalam MDG’s (Kemenkes, 2015).

Penyakit Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan utama di

dunia. Hal tersebut menyebabkan gangguan kesehatan jutaan orang pertahun dan

menduduki peringkat ke dua sebagai penyebab utama kematian akibat penyakit

menular di dunia setelah HIV. Pada tahun 2014, diperkirakan 9,6 juta kasus TB

baru yaitu 5,4 juta adalah laki-laki, 3,2 juta di kalangan perempuan dan 1,0 juta

anak-anak. Penyebab kematian akibat TB Paru pada tahun 2014 sangat tinggi

yaitu 1,5 juta kematian (1,1 juta di antara orang HIV- negatif dan 0,4 juta di

antara HIV- positif ), dimana sekitar 890.000 adalah laki-laki, 480.000 adalah

perempuan dan 140.000 anak-anak (WHO, 2015).


Gejala sisa akibat TB masih sering ditemukan pada pasien pasca

TB dalam praktik klinik. Gejala sisa yang paling sering ditemukan yaitu

gangguan faal paru dengan kelainan obstruktif yang memiliki gambaran

klinis mirip Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Inilah yang dikenal

sebagai Sindrom Obstruksi Pasca TB (SOPT). Patogenesis timbulnya

SOPT sangat kompleks, kemungkinan penyebabnya adalah akibat infeksi

TB yang dipengaruhi oleh reaksi imunologis perorangan sehingga terjadi

mekanisme makrofag aktif yang menimbulkan reaksi peradangan

nonspesifik yang luas. Peradangan yang berlangsung lama ini

menyebabkan proses proteolisis dan beban oksidasi sangat meningkat

untuk jangka lama sehingga destruksi matriks alveoli terjadi cukup luas

dan akhirnya mengakibatkan gangguan faal paru

Untuk prevalensi penyakit Syndrome Obstruktif Post Tuberculosis

di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Makassar pada 10

bulan terakhir yaitu pada bulan Januari hingga awal bulan Desember

tahun 2018 terdapat orang penderita yang dirujuk ke poli Fisioterapi

BBKPM.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Kasus

1. Anatomi Fisiologi

Sistem pernapasan termasuk hidung, rongga hidung dan sinus, faring, laring

(kotak suara), trakea (tenggorokan) , dan saluran-saluran yang lebih kecil yang

mengarah ke pertukaran gas di permukaan paru-paru . Saluran pernapasan terdiri

dari saluran udara yang membawa udara dari dan ke permukaan tersebut. Saluran

pernapasan dapat dibagi menjadi bagian konduksi dan bagian pernapasan. Bagian

konduksi terdapat dari jalan masuk udara dihidung ke rongga hidung ke bronkiolus

terkecil dari paru-paru. Bagian pernapasan termasuk saluran bronkiolus

pernapasan dan kantung udara halus, atau alveoli ( al - VE ) , di mana terjadi

pertukaran gas . Sistem pernapasan termasuk saluran pernapasan dan jaringan

terkait , organ , dan struktur pendukung . Saluran-saluran kecil ini menyesuaikan

kondisi udara dengan menyaring , pemanasan , dan melembabkan itu , sehingga

melindungi bagian konduksi yang peka dan melindungi pertukaran sistem

pernapasan bawah dari partikel-partikel , patogen , dan lingkungan ekstrem.


Gambar 2.1

Anatomi Sistem Pernapasan

Saluran pernafasan dari atas kebawah dapat dirinci sebagai berikut, rongga

hidung, faring, laring, trakea, percabangan bronkus, paru- paru

(bronkiolus,alveolus). Rongga hidung dilapisi selaput lendir yang sangat kaya

akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan faring dan selaput lender.

Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai

persambungannya dengan oesofagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Faring

terbagi menjadi 3 bagian yaitu nasofaring, orofaring dan laringofaring kemudian

Laring, laring berperan untuk pembentukan suara dan untuk melindungi jalan

nafas terhadap masuknya makanan dan cairan. Trakea, merupakan lanjutan dari

laring yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin kartilago yang terdiri dari

tulangtulang rawan yang terbentuk seperti C.


Bronkus merupakan percabangan trachea. Setiap bronkus primer bercabang

9 sampai 12 kali untuk membentuk bronki sekunder dan tersier dengan diameter

yang semakin kecil. Struktur mendasar dari paru-paru adalah percabangan

bronchial yang selanjutnya secara berurutan adalah bronki, bronkiolus, bronkiolus

terminalis, bronkiolus respiratorik, duktus alveolar, nose, nasal cavity, oral cavity,

larynx, trachea, pharynx, right primary bronchus, lungs dan alveoli. Dibagian

bronkus masih disebut pernafasan extrapulmonar dan sampai memasuki paru-paru

disebut intrapulmonary. Terakhir adalah paru-paru yang berada dalam rongga

thorax, yang terkandung dalam susunan tulang-tulang iga dan letaknya disisi kiri

dan kanan mediastinum yaitu struktur blok padat yang berada dibelakang tulang

dada. Paru-paru berbentuk seperti spins dan berisi udara dengan pembagian udara

antara Paru kanan, yang memiliki tiga lobus dan paru kiri dua lobus.

a. Anatomi Rongga Dada

Gambar 2.2 Anatomi Rongga Dada


Tulang dada (sternum) berfungsi melindungi paru-paru, jantung, dan

pembuluh darah besar. Bagian luar rongga dada terdiri atas 12 pasang tulang

iga (costae). Diafragma terletak di bawah rongga dada. Diafragma berbentuk

seperti kubah pada keadaan relaksasi. Pleura merupakan membran serosa yang

menyelimuti paru-paru. Pleura ada dua macam yaitu pleura parietal yang

bersinggungan dengan rongga dada (lapisan luar paru-paru) dan pleura visceral

yang menutupi setiap paru-paru (lapisan dalam paru-paru).

Secara anterior, rangka dada terdiri dari sternum, dimana terbagi

menjadi tiga bagian. Bagian superior adalah manubrium, bagian medial/tengah

adalah corpus dan merupakan bagian yang terbesar dari sternnum, dan bagian

inferior adalah procesus xipoideus yang merupakan bagian terkecil dari

sternum.

Adapun fungsi thoraks yaitu:

1) Melindungi organ dalam respirasi, sirkulasi dan saluran pencernaan

2) Tempat melekatnya otot respirasi secara mekanikal mengembang saat

inspirasi dan mengempis saat ekspirasi

3) Tempat melekat otot extremitas superior yang berfungsi saat mengangkat ,

menekan , mendorong saat beraktifitas aktivitas selalu berkaitan dengan

usaha inspirasi.

Secara umum toraks berfungsi tempat melekatnya otot-otot dan alat

gerak saat mendorong, mengangkat. Kavum thorax atau rongga thorak dibatasi

oleh dinding thorak yang tersusun oleh os sternum pada bagian anterior,
vertebra thorakal pada bagian posterior,costae pada bagian lateral, dan

diafragma yang membatasi pada bagian inferior. Rongga thorak barisi paru-

paru, jantung, organ-organ respiratori, sistem limfatik, bagian inferior dari

esofagus serta kelenjar thimus.

Sebelah kanan dan kiri dari rongga thorak terisi penuh oleh paru-paru

beserta pembungkus paru-paru yang diebut pleura. Pleura ini membungkus

setiap bagian paru-paru dan membentuk batas lateral pada mediastinum.

b. Anatomi Saluran Nafas Atas

Gambar 2.3 Anatomi Hidung

1) Hidung

Hidung luar berbentuk pyramid dengan bagian-bagiannya dari atas

ke bawah: Pangkal hidung (bridge), batang hidung, (dorsum nasi), puncak

hidung (tip), ala nasi, kolumela, dan lubang hidung (nares anterior).

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang 1) tulang hidung (os

nasal), 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal;


serta tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot

kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung.

Udara memasuki hidung dan melewati permukaan konka nasal

(nasal turbinates) yang luas. Permukaan yang luas dan bergelombang ini

berfungsi untuk menghangatkan, melembabkan, dan menyaring udara yang

masuk.

Bagian dari rongga hdung atau kavum nasi yang letaknya sesuai

dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anterior, disebut vestibulum.

Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea

dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. Tiap kavum nasi

mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial (septum nasi), dinding

lateral (terdapat 4 buah konka), dinding inferior dan superior.

Hidung dibagi menjadi bagian eksternal dan internal. Hidung

eksternal merupakan bagian dari hidung yang terlihat pada wajah dan

terdiri dari kerangka penunjang tulang dan kartilago hialin yang dilingkupi

dengan otot dan kulit, dan dibatasi oleh membrane mukosa. Rangka tulang

hidung eksternal dibentuk dari tulang frontalis, tulang nasale, dan maksilae.

Struktur inferior hidung eksternal memiliki 3 fungsi, yaitu:

(a) Menghangatkan, melembabkan, dan menyaring udara yang masuk.

(b) Mendeteksi stimulus olfaktori.

(c) Memodifikasi vibrasi suara ketika melewati ruang yang besar

beresonasi.
Hidung internal merupakan suatu rongga besar di anterior tulang

yang membentang inferior ke os nasale dan superior mulut. Secara anterior,

hidung internal berbatasan dengan hidung eksternal, dan di posterior

berhubungan dengan faring melalui dua pintu bernama nares internal atau

choana. Lantai hidung dibentuk oleh palatum yang memisahkan rongga

hidung dari rongga mulut di bawahnya. Di anterior, di mana palatum

disokong oleh processuss maksilaris dan tulang palatum, dinamakan

palatum durum (hard palate). Di posterior yang tidak disoking adalah otot

palatum molle (soft palate).

Rongga hidung memiliki 3 regio, yaitu:

(a) Vestibulum : sebuah pelebaran tepat di sebelah dalam nares yang

dilapisi kulit yang mengandung bulu hidung, berguna untuk menahan

aliran partikel yang terkandung di dalam udara yang dihisap

(b) Penghindu : di sebelah cranial; dimulai dari atap rongga hidung meluas

sampai setinggi concha nasalis superior dan bagian septum nasi di

hadapan concha tersebut. Region ini terdiri dari reseptor bau.

(c) Pernapasan : bagian rongga hidung selebihnya, Dinding lateral hidung

memperlihatkan tiga elevasi, yaitu concha nasalis puperior, medius,

dan inferior. inferolateral terhadap masing-masing concha nasalis ini

terdapat meatus nasi yang sesuai. Susunan concha dan meatus

meningkatkan area permukaan hidung internal dan mencegah dehidrasi

dengan menangkap tetesan air selama ekshalasi.


2) Faring

Gambar 2.4 Anatomi Faring

Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti

corong, yang besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah serta terletak

pada bagian anterior kolum vertebra. Kantong ini mulai dari dasar

tengkorak terus menyambung ke esophagus setinggi vertebra servikal ke-6.

Ke atas, faring berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke

depan berhubungan dengan rongga mulut melalui ismus orofaring,

sedangkan dengan laring di bawah berhubungan melalui aditus laring dan

ke bawah berhubungan dengan esophagus. Panjang dinding posterior faring

pada orang dewasa kurang lebih 14 cm; bagian ini merupakan bagian

dinding faring yang terpanjang. Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam

keluar) selaput lendir, fasia faringobasiler, pembungkus otot dan sebagian

fasia bukofaringeal. Faring terbagi atas nasofaring, orofaring dan


laringofaring (hipofaring). Unsur-unsur faring meliputi mukosa, palut

lendir (mukosa blanket) dan otot.

Adapun faring yang terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

(a) Nasofaring

Batas nasofaring di bagian atas adalah dasar tengkorak, di

bagian bawah adalah palatum mole, ke depan adalah rongga hidung

sedangkan ke belakang adalah vertebra servikal. Nasofaring yang

relatif kecil, mengandung serta berhubungan erat dengan beberapa

struktur penting, seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding lateral

faring dengan resesus faring yang disebut fosa Rosenmuller, kantong

Rathke, yang merupakan invaginasi struktur embrional hipofisis

serebri, torus tubarius, suatu refleksi mukosa faring di atas penonjolan

kartilago tuba Eustachius, koana, foramen jugulare, yang dilalui oleh

n. glosofaring, n. vagus dan n.asesorius spinal saraf cranial dan

v.jugularis interna, bagian petrosus os temporalis dan foramen laserum

dan muara tuba Eustachius.

(b) Orofaring

Orofaring disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah

palatum mole, batas bawah adalah tepi atas epiglottis, ke depan adalah

rongga mulut, sedangkan ke belakang adalah vertebra sevikal. Struktur

yang terdapat di rongga orofaring adalah dinding posterior faring,


tonsil palatine, fosa tonsil serta arkus faring anterior dan posterior,

uvula, tonsil lingual dan foramen sekum.

(c) Laringofaring (Hipofaring)

Batas laringofaring di sebelah superior adalah tepi atas

epiglotis, batas anterior ialah laring, batas inferior ialah esofagus, serta

batas posterior ialah vertebra servikal. Struktur pertama yang tampak

di bawah lidah ialah valekula. Bagian ini merupakan dua cengkungan

yang dibentuk oleh ligamentum glosoepiglotika medial dan

ligamentum glosoepiglotika lateral pada tiap sisi. Valekula disebut

juga “kantong pil” (pill pockets) sebab pada beberapa orang, kadang –

kadang bila menelan pil akan tersangkut di situ. Di bawah valekula

terdapat epiglotis. Pada bayi epiglotis ini berbentuk omega dan pada

perkembangannya akan lebih melebar, meskipun kadang – kadang

bentuk infantile (bentuk omega) ini tetap sampai dewasa. Dalam

perkembangannya, epiglotis ini dapat menjadi demikian lebar dan

tipisnya. Epiglotis berfungsi juga untuk melindungi glotis ketika

menelan minuman atau bolus makanan, pada saat bolus tersebut

menuju ke sinus piriformis dan ke esophagus.


3) Laring

Gambar 2.5 Anatomi Laring.

Laring merupakan bagian yang terbawah dari saluran napsa bagian

atas. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas

lebih besar daripada bagian bawah. Bangunan kerangka laring tersusun dari

satu tulang, yaitu tulang hyoid, dan beberapa buah tulang rawan. Tulang

hyoid berbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya dihubungkan

dengan lidah, mandibula, dan tengkorak tendo dan otot-otot. Sewaktu

menelan, kontraksi otot-otot ini akan menyebabkan laring tertarik ke atas,

sedangkan bila laring diam, maka otot-otot ini bekerja untuk membuka

mulut dan membantu menggerakan lidah.

Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglottis,

kartilago tiroid, kartilago krikoid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata,

kartilago kuneiformis dan kartilago tritisea. Kartilago krikoid dihbungkan


dengan kartilago tiroid oleh ligamentum krikotiroid. Bentuk kartilago

krikoid berupa lingkaran.

Gambar 2.6 Ligament pada Laring.

Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum

seratokrikoid (anterior, lateral, dan posterior), ligamentum krikotiroid

medial, ligamentum krikotiroid posterior, ligamentum kornikulofaringal,

ligamentum hyoid lateral, ligamentum hiotiroid medial, ligamentum

hioepiglotika, ligamentum ventrikularis, ligamentum vokale yang

menghubungkan kartilago aritenoid dengan kartilago tiroid, dan

ligamentum tiroepiglotika.

Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik

dan otot-otot intrinsik. Otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring


secara kesulruhan,sedangkan otot-otot intrinsic menyebabkan gerak

bagian-bagian laring tertentu yang berhubungan dengan pita suara.

Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas tulang hyoid

(suprahioid), m. digastrikus, m. geniohioid. Otot intrinsik laring ialah m.

krikoaritenoid lateral, m. tiroepiglotika.

Gambar 2.7 Musculus pada Laring.

Epiglotis membantu melindungi laring saat proses menelan

dengan mengarahkan makanan kearah esophagus. Kartilago aritenoid yang

membantu proses pembukaan dan penutupan glotis kurang jelas terlihat

pada anak dibandingkan orang dewasa. Ruang subglotis menyempit kea rah

krikoid yang meruupakan bagian dari trakea. Pada anak usia kurang dari 3

tahun, cincin krikoid (cincin trakea pertama yang berbentuk lingkaran utuh)

merupakan bagian tersempit jalan napas, sementara pada anak besar atau

dewasa, glotis merupakan bagian tersempit.


Gambar 2.8 Laring dan Pita Suara

4) Trakhea

Trakea merupakan suatu saluran rigid yang memeiliki panjang

11-12 cm dengan diametel sekitar 2,5 cm. Terdapat pada bagian

oesephagus yang terentang mulai dari cartilago cricoid masuk ke dalam

rongga thorax. Tersusun dari 16 – 20 cincin tulang rawan berbentuk huruf

“C” yang terbuka pada bagian belakangnya. Didalamnya mengandung

pseudostratified ciliated columnar epithelium yang memiliki sel goblet

yang mensekresikan mukus. Terdapat juga cilia yang memicu terjadinya

refleks batuk/bersin. Trakea mengalami percabangan pada carina

membentuk bronchus kiri dan kanan.

c. Anatomi Saluran Nafas Bawah

1) Bronkus
Gambar 2.9 Bronkus

Bronkus terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri. Bronkus lobaris

kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus). Bronkus lobaris

kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri

terbagi menjadi 9 bronkus segmental. Bronkus segmentalis ini kemudian

terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan

ikat yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf.

(a) Bronkus Primer (Utama) kanan berukuran lebih pendek, lebih tebal,

dan lebih lurus dibandingkan bronkus primer kiri karena arkus aorta

membelokkan trakea bawah ke kanan. Objek asing yang masuk ke

dalam trakea kemungkina di tempatkan dalam bronkus kanan.

(b) Setiap bronkus primer bercabang sembilan sampai dua belas kali untuk

membentuk bronki sekunder dan tertier dengan diameter yang semakin

kecil. Saat tuba semakin menyempit, batang atau lempeng kartilago

mengganti cincin kartilago.

(c) Bronkiolus adalah bronkus segmental bercabang-cabang menjadi

bronkiolus. Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang


memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk

melapisi bagian dalam jalan napas.Dinding bronkiolus mengandung

otot polos & dipersarafi oleh sistem saraf otonom, peka terhadap

hormon tertentu dan zat kimia tertentu.

(d) Bronkiolus terminalis adalah bronkiolus membentuk percabangan

menjadi bronkiolus terminalis (yang tidakmempunyai kelenjar lendir

dan silia).

(e) Bronkiolus respiratori adalah bronkiolus terminalis kemudian menjadi

bronkiolus respiratori. Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran

transisional antara jalan napas konduksi dan jalan udara pertukaran

gas.

(f) Duktus alveolar dan Sakus alveolar bronkiolus respiratori kemudian

mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar dan kemudian

menjadi alveoli.

2) Alveoli

Pertukaran O2dan CO2 terjadi di alveoli. Terdapat sekitar 300 juta

yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2. Alveoli dan

kapiler polmuner, Arteri polmuner membawa O2 dari jantung ke paru-paru.

Melalui vena polmuner darah kembali ke jantung.


Gambar. 2.10 Alveoli

3) Paru-paru

Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan

inferior. Paru kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. Tiap

lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe,

arteriola, venula, bronchial venula, ductus alveolar, sakkus alveolar dan

alveoli. Diperkirakan bahwa setiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli,

sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat

permukaan/pertukaran gas.

Gambar 2.11

Paru-paru
(a) Paru kanan dibagi atas tiga lobus yaitu:

(1) Lobus superior terdiri dari 3 segmen yaitu segment apical,

posterior, dan anterior.

(2) Lobus medius terdiri dari 2 segment yaitu segmen lateral dan

medial.

(3) Lobus inferior terdiri dari 5 segment yaitu segmen

superior,medial basal, anterior basal, lateral basal,dan posterior

basal.

(b) Paru kiri dibagi dua lobus yaitu

(1) Lobus superior terdiri dari 3 segmen apical, posterior, dan

anterior.

(2) Lingual terdiri dari segmen superior dan inferior.

(3) Lobus inferior terdiri dari 4 segment yaitu segmen anterior

basal, lateral basal, superior dan posterior basal.


Gambar 2.12 Segmen Paru.

Paru-paru dibungkus oleh pleura. Pleura ada yang menempel

langsung ke paru, disebut sebagai pleura visceral. Sedangkan pleura

parietal menempel pada dinding rongga dada dalam.

Diantara pleura visceral dan pleura parietal terdapat cairan pleura

yang berfungsi sebagai pelumas sehingga memungkinkan pergerakan dan

pengembangan paru secara bebas tanpa ada gesekan dengan dinding dada.

(a) Volume Paru-paru

(1) Volume dan Kapasitas Paru. Volume udara dalam paru-paru dan

kecepatan pertukaran saat inspirasi dan ekspirasi dapat diukur

melalui spirometer.

(2) Volume Tidal (VT), yaitu volume udara yang masuk dan keluar

paru-paru selama ventilasi normal biasa. Nilai VT pada dewasa

normal sekitar 500 ml untuk laki-laki dan 380 ml untuk wanita.

(3) Volume Cadangan Inspirasi (VCI), yaitu volume udara ekstra

yang masuk ke paru-paru dengan inspirasi maksimum di atas

inspirasi tidal. CDI berkisar 3100 ml pada laki-laki dan 1900 ml

pada perempuan.

(4) Volume Cadangan Ekspirasi (VCE) yaitu volume ekstra udara

yang dapat dengan kuat dikeluarkan pada akhir ekspirasi tidak

normal. VCE berkisar 1200 ml pada laki-laki dan 800 ml pada

perempuan.
(5) Volume Residual (VR), yaitu volume sisa dalam paru-paru setelah

melakukan ekspirasi kuat. Rata-rata pada laki-laki 1200 ml dan

pada perempuan 1000 ml. Volume residual penting untuk

kelangsungan aerasi dalam darah saat jeda pernapasan.

(b) Kapasitas Paru-paru

(1) Kapasitas Residual Fungsional (KRF) adalah penambahan

volume residual dan volume cadangan ekspirasi. Kapasitas ini

merupakan jumlah udara sisa dalam sistem respiratorik setelah

ekspirasi normal. Nilai rata-ratanya adalah 2200 ml. jadi nilai

(KRF=VR+VCE).

(2) Kapasitas inspirasi (KI) adalah penambahan volume tidal dan

volume cadangan inspirasi. Nilai rata-ratanya adalah 3500 ml.

jadi nilai (KI=VT+VCI)

(3) Kapasitas Vital (KV) yaitu penambahan volume tidal, volume

cadangan inspirasi dan volume cadangan ekspirasi

(KV=VT+VCI+VCE). Nilai rata-ratanya sekitar 4500 ml.

(4) Kapasitas Total Paru (KTP) adalah jumlah total udara yang dapat

ditampung dalam paru- paru dan sama dengan kapasitas vital

ditambah volume residual (KTP=KV+VR). Nilai rata-ratanya

adalah 5700 ml.


d. Otot-otot Respirasi

1) Inspirasi

a) Diaphragma

Otot ini letaknya diantara rongga perut dan rongga dada dan di

bagian tengahnya berbentuk kubah. Otot ini adalah otot utama yang

besar dari inspirasi yang akan bekerja selama inspirasi rileks. Otot ini

disarafi oleh nervus Phernic dari akar saraf C3-C5.

(1) Intercostalis External

Otot ini akan berperan aktif saat inspirasi secara rileks sebagai otot

utama sedang otot intercostalos internal dan transversal

berpartisipasi sangat minimal. Fungsi dari otot ini adalah

memelihara space intercostalis dan mempertahankan tonus otot

intercostalis saat terjadi perubahan tekanan dalam intrathoracal.

Otot ini juga akan menaikkan costa dan meningkakan diameter

rongga thorax kearah anterior-posterior dan transversal secara

langsung saat terjadi inspirasi. Otot ini dipersarafi oleh akar saraf

T1-T12.

(2) Otot-otot Bantu Inspirasi (Accessory Muscle Inspirasi)

Selama inspirasi normal/rileks ada beberapa otot yang tidak

berperan secara langsung dan aktif dalam menggerakkan costa,

akan tetapi akan berperan aktif bahkan kadang menjadi otot utama

jika seseorang berusaha melakukan inspirasi kuat misalnya:


Beraktivitas fisik yang berat atau bila diaphragm tidak bekerja

secara aktif atau mengalami kelemahan akibat penyakit paru-paru

kronik dan neuromuscular.

Yang termasuk dalam otot bantu pernapasan ini adalah :

a. Sternocleidomastoideus (SCM)

Fungsi utama dari otot ini adalah mengangkat sternum untuk

menambah diameter anterior-posterior thorax. Bila seorang pasien

mengalami kelemahan otot diaphragm maka otot SCM ini akan berperan

aktif sebagai otot utama inspirasi. Otot ini dipersarafi oleh nervus XI dan

C1-C3.

b. Upper Trapezius

Fungsi utama dari otot ini adalah bersama dengan scaleni sebagai

stabilisasi leher dan berperan aktif untuk mengangkat shoulder dan costa

bila terjadi kesulitan inspirasi serta dipersarafi oleh nervus XI.

c. Scaleni

Fungsinya adalah menstabilkan costa I dan selama inspirasi normal

perannya sangat minimal tetapi pada seseorang yang melakukan Deep

Breathing atau mengalami gangguan pernapasan maka otot ini akan

berperan aktif menstabilkan dan mengangkat costa 1-2 serta meningkatkan

diameter rongga (cavun) thorax bila perlekatan dibagian posteriornya di

fiksasi.
d. Otot-otot lain seperti serratus anterior, pectoralis mayor dan minor juga

akan berperan aktif selama Deep Inspirasi untuk mengangkat dan menarik

kedepan costa bila upper extremitas di fiksasi.

2) Ekspirasi

a) Ekspirasi Rileks

Yang dimaksud dengan ekspirasi rileks adalah suatu proses pasif saat

seseorang rileks atau istirahat yang dimulai setelah diaphragma

kontraksi lalu bagian kubah atau sentral diaphragm naik kembali ke

posisi semula dan costa menjadi turun ke posisi semula. Elastisitas

recoil dari jarigan thoraks juga akan menurunkan meningkatkan

tekanan intrarhoracal sehingga terjadi ekspirasi.

b) Aktif Ekspirasi

Yang dimaksud dengan aktif ekspirasi adalah ekspirasi yang

dilakukan secara sadar dengan terkontrol, kuat dan panjang sehingga secara

aktif otot ekspirasi berkontraksi khususnya otot abdominal dan otot

intercostalis internal.

1. Otot Abdominalis

Otot ini terdiri dari Rectus Abdominalis, internal, eksternal dan

transversal yang terkontraksi menurunkan rongga thoraks dan menaikkan

isi abdomen yang akan mendorong diaphragma lebih kuat sehingga

tekanan intrathoracal meningkat dan udara menjadi kuat keluar dari paru-

paru. Otot ini dipersarafi oleh nervus T10-T12.


2. Otot Intercostalis Internal

Otot ini akan berperan sebagai otot utama untuk menekan kuat

costa saat seseorang melakukan ekspirasi kuat.

e. Mekanisme Pernapasan

1) Mekanisme Pernapasan Dada

(a) Fase Inspirasi Pernapasan Dada

Mekanisme inspirasi pernapasan dada sebagai berikut:

Otot antar tulang rusuk (muskulus intercostalis eksternal) berkontraksi

 tulang rusuk terangkat (posisi datar)  paru-paru mengembang 

tekanan udara dalam paru-paru menjadi lebih kecil dibandingkan

tekanan udara luar  udara luar masuk ke paru-paru.

(b) Fase Ekspirasi Pernapasan Dada

Mekanisme ekspirasi pernapasan perut adalah sebagai berikut:

Otot antar tulang rusuk relaksasi  tulang rusuk menurun paru-paru

menyusut  tekanan udara dalam paru-paru lebih besar dibandingkan

dengan tekanan udara luar  udara keluar dari paru-paru.

2) Mekanisme Pernapasan Perut

a) Fase Inspirasi Pernapasan Perut

Mekanisme inspirasi pernapasan perut sebagai berikut: Sekat

rongga dada (diafraghma) berkontraksi posisi dari melengkung

menjadi mendatar paru-paru mengembang  tekanan udara dalam

paru-paru lebih kecil dibandingkan tekanan udara luar  udara masuk.


b) Fase Ekspirasi Pernapasan Perut

Mekanisme ekspirasi pernapasan perut sebagai berikut: Otot

diafraghma relaksasi  posisi dari mendatar kembali melengkung 

paru-paru mengempis  tekanan udara di paru-paru paru lebih besas

dibandingkan tekanan udara luar  udara keluar dari paru-paru.

2. Fisiologi Sistem Pernapasan

Respirasi adalah suatu peristiwa ketika tubuh kekurangan oksigen ()2) dan

O2 yang berada di luar tubuh dihirup (inspirasi) melalui organ pernapasan. Pada

keadaan tertentu tubuh kelebihan karbon diksida (CO2), maka tubuh berusaha

untuk mengeluarkan kelebihan tersebut dengan menghembuskan napas (ekspirasi)

sehingga terjadi suatu keseimbangan antara O2 dan CO2 di dalam tubuh. Sistem

respirasi berperan untuk menukar udara ke permukaan dalam paru.

Udara masuk dan menetap dalam sistem pernapasan dan masuk dalam pernapasan

otot. Trakea dapat melakukan penyaringan, penghangatan, dan melembapakan

udara yang masuk, melindungi permukaan organ yang lembut. Hantaran tekanan

menghasilkan udara ke paru melalui saluran pernapasan atas. Tekanan ini berguna

untuk menyaring, mengatur udara, dan mengubah permukaan saluran napas

bawah. (Syaifuddin, 2012)

Proses pernapasan berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu :

a. Ventilasi paru, yang berarti pertukaran udara antara atmosfer dan alveolus

paru.

b. Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan darah.


c. 3) Pengangkutan oksigen dan karbondioksida dalam darah dan cairan tubuh ke

dan dari sel jaringan tubuh (Guyton, 2006).

Udara bergerak masuk dan keluar paru karena adanya selisih tekanan yang

terdapat antara atmosfer dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Diantaranya

itu perubahan tekanan intrapulmonar, tekanan intrapleural, dan perubahan

volume paru (Guyton, 2006).

3. SOPT (Syndrome Obstructive Post Tuberculosis)

a. Definisi

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit yang telah lama

dikenal dan sampai saat ini masih menjadi penyebab utama kematian di dunia.

Prevalensi TB di Indonesia dan negara-negara sedang berkembang lainnya

cukup tinggi.

Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SOPT) adalah obstruksi jalan

nafas yang muncul setelah tuberkulosis (TB) akibat mekanisme imunologi

selama proses TB. Pada sebagian penderita TB, secara klinik timbul gejala

sesak terutama pada aktivitas, gambaran radiologi menunjukkan gambaran

bekas TB (fibrotik, kalsifikasi) yang minimal, dan uji faal paru menunjukkan

gambaran obstruksi jalan napas yang tidak reversibel. Kelompok penderita

tersebut dimasukkan dalam kategori penyakit Sindrom Obstruksi Pasca

Tuberkulosis (SOPT)

b. Etiologi
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang sebagian besar disebabkan

oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Spesies lain yang dapat

menyebabkan tuberkulosis adalah Mycobacterium kansasii, Mycobacterium

bovis, dan Mycobacterium intracellulare, bakteri ini berbentuk batang lurus

atau bengkok, dengan panjang 1-4 mikron dengan lebar 0,2-0,8 mikron.

Mycobacterium tuberculosis merupakan aerob obligat yang dapat tumbuh

dengan baik dalam jaringan yang memiliki kadar oksigen yang tinggi seperti

paru-paru. Pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis berlangsung cukup

lambat dengan waktu generasi 12-18 jam.

c. Tanda dan Gejala

Gejala sisa akibat TB masih sering ditemukan pada pasien pasca TB

dalam praktik klinik. Gejala sisa yang paling sering ditemukan yaitu

gangguan faal paru dengan kelainan obstruktif yang memiliki gambaran klinis

mirip Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Inilah yang dikenal sebagai

Sindrom Obstruksi Pasca TB (SOPT). Adapun gejala yang timbul pada

pengidap TBC dan SOPT yaitu :

1) Demam,

2) Batuk atau batuk berdarah,

3) Sesak nafas,

4) Nyeri dada,

5) Malas
d. Patologi

Batuk yang merupakan salah satu gejala tuberkulosis paru, terjadi

karena kelainan patologik pada saluran pernapasan akibat kuman

M.tuberculosis. Kuman tersebut bersifat sangat aerobik, sehingga mudah

tumbuh di dalam paru, terlebih di daerah apeks karena pO2 alveolus paling

tinggi. Kelainan jaringan terjadi sebagai respons tubuh terhadap kuman.

Apabila bakteri tuberkulosis dalam jumlah yang banyak berhasil

menembus mekanisme pertahanan sistem pernapasan dan berhasil menempati

saluran napas bawah, maka pejamu akan melakukan respon imun dan

peradangan yang kuat di alveoli (parenkim) paru dan bronkus. Proses radang

dan reaksi sel menghasilkan nodul pucat kecil yang disebut tuberkel primer.

Di bagian tengah nodul terdapat basil tuberkel. Bagian luarnya mengalami

fibrosis, bagian tengah mengalami kekurangan makanan sehingga terjadi

nekrosis. Proses terakhir ini dinamakan perkijuan. Perkijuan tersebut dapat

menyebabkan erosi dinding bronkus. Materi cair ini dapat dibatukkan keluar,

meninggalkan kerusakan fibrosis tanpa atau dengan perkijuan dan perkapuran

yang tampak pada foto toraks (Tambayong, 2001). Perlukaan atau jaringan

fibrous inilah yang menyebabkan terjadinya SOPT dalam saluran pernapasan.


B. Tinjauan Tentang Asesmen Dan Pengukuran Fisioterapi

1. Algoritma Assesment

Nama Pasien : Tn. S Umur : 40 tahun Jenis Kelamin : Laki-

laki

Kondisi/Penyakit :

History Taking :
Pada tanggal 20-12-2018 pasien datang berobat di BBKPM
Makassar dengan keluhan nyeri dada, sesak nafas, dan batuk
berdahak.

Inspeksi :
1. Statis :
a. Bentuk dada pasien normal
b. Pola nafas lambat dan sulit.
2. Dinamis : Saat berjalan masuk ke poli fisioterapi pasien merasa sesak.

Pemeriksaan Fisik

Pem. Spirometri Pengukuran Pengukuran Derajat Sesak


Hasil : Obstructive Mobilitas Sangkar Hasil : Nilai 7
Spirometry; Vey Severe. Thorax (Sesak Nafas Sangat Berat)
Palpasi : Tidak ada nyeri Hasil : Terjadi
tekan pada dada dan Pengukuran Nyeri
penurunan mobilitas Hasil : Nilai 7 (Nyeri Berat)
M.Pectoralis Mayor, thorax.
M.Pectoralis Minor,
M.Sternocleidomastoideus,
dan M.Upper Trapezius.
Pemeriksaan Aukultasi
Muscle Length Test
Hasil : Normal pada semua otot. Hasil : Terdapat bunyi ronchi
(M.Pectoralis Mayor, M.Pectoralis pada regio anterior apical kanan
Minor, M.Sternocleidomastoideus, dan dan kiri, serta pada segmen
M.Upper Trapezius) middle kanan dan kiri.

Pemeriksaan Penunjang :
1. Xpert MTB-RIF
Hasil : MTB NOT DETECED.
2. Tes VCT Antibody (31 Januari 2017)
Hasil : Non Reaktif tidak termasuk pemaparan terhadap HIV yang terjadi baru-
baru ini.
3. Pem. Laboratorium
Pem. Dahak (23 November 2017)
Hasil : Dahak Pagi dan Sewaktu : Negatif

2. Pengukuran Fisioterapi

a. Auskultasi

Untuk mendengar suara khususnya suara nafas. Bunyi nafas normal

dan abnormal terjadi akibat gerakan udara di airway selama inspirasi dan

expirasi.

1) Persiapan pasien : Posisi pasien duduk comfortable dan rileks.

2) Teknik pelaksanaan :
a) Tempatkan stetoskop pada dada pasien.

b) Kemudian stetoskop digerakkan dengan pola simetris (S) pada

dinding dada lalu posisi lateral dinding dada setinggi T2, T6, T10.

c) Minta pasien untuk deep inspirasi melalui hidung dan ekspirasi

melalui mulut beberapa kali dan bersamaan dengan itu terapis

menggerakkan stetoskop pada tiap tiap dinding dada pasien.

Kanan Kiri
Regio
Ves Ronchi Whes Ves Ronchi Whes

Apical

Middle

Lower

Posterior

b. Muscle Length Test

1) M. Pectoralis Mayor

(a) Posisi pasien : Supine lying.

(b) Teknik pelaksanaan : Instruksikan pasien untuk mengangkat

kedua tangannya ke atas sampai full ROM atau sampai

menyentuh bed. M. pectoralis mayor dikatakan memendek


apabila salah satu atau kedua lengan tidak dapat menyentuh

bed.

2) M. Pectoralis Minor

a) Posisi pasien : Supine lying.

b) Teknik pelaksanaan : Instruksikan pasien untuk menggerakkan

bahunya menyentuh bed. M. pectoralis minor dikatakan memendek

apabila salah satu atau kedua bahu tidak dapat menyentuh bed.

3) M. Upper Trapezius

a) Posisi pasien : Supine lying, dengan kepala pasien berada diluar bed

dan disanggah oleh tangan terapis.

b) Teknik pelaksanaan : Terapis menggerakkan kepala pasien kearah

lateral fleksi dengan memberikan caunter fleksi pada bahu pasien.

M. Upper trapezius dikatakan memendek apabila pasien merasa

nyeri.

4) M. Sternocleidomastoideus

a) Posisi pasien : Supine lying, dengan kepala pasien berada diluar bed

dan disanggah oleh tangan terapis.

b) Teknik pelaksanaan : Terapis menggerakkan leher pasien kearah

ekstensi, rotasi. M. Sternocleidomastoideus dikatan memendek

apabila ada nyeri.


c. Pemeriksaan Spirometri

Pemeriksaan Spirometri dilakukan untuk melihat fungsi paru dari

komponen volume, kecepatan dan waktu yang berhubungan dengan penyakit

paru. Hal yang dapat mempengaruhi volume paru dan kecepatan aliran

adalah usia, jenis kelamis, ras serta Tinggi badan. Berat Badan tidak

mempengaruhi nilai prediksi normal.

Prosedurnya :

1) Tahap persiapan :

a) Hidupkan alat, biarkan  10 menit.

b) Tekan tombol ID.

c) Masukkan data pasien : ID, umur, tinggi badan, berat badan, jenis

kelamin, race dan % race.

2) Pengukuran Vital Capacity (VC)

(a) Pakai penjepit hidung.

(b) Pasang mouthpiece ke mulut, dengan posisi bibir rapat pada

mouthpiece.

(c) Lakukan pernapasan biasa melalui alat (pernapasan melalui mulut).

(d) Tekan tombol VC, tekan start.

(e) Pasien bernapas biasa, setelah  3-4 dtk akan terdengar bunyi TIT,

pasien disuruh mengambil napas sedalam-dalamnya dan kemudian


membuang napas sampai habis secara perlahan. Kemudian bernapas

biasa kembali.

(f) Tekan tombol stop untuk mengakhiri pemeriksaan. Lakukan

pemeriksaan sampai 3 kali.

(g) Tekan tombol display, catat data : EVC, VC, % VC.

3) Pengukuran Force Vital Capacity (FVC)

a) Pakai penjepit hidung.

b) Pasang mouthpiece ke mulut, dengan posisi bibir rapat pada

mouthpiece.

c) Lakukan pernapasan biasa melalui alat (pernapasan melalui mulut).

d) Tekan tombol FVC, tekan start.

e) Pasien bernapas biasa, setelah  3-4 dtk akan terdengar bunyi TIT,

pasein disuruh mengambil napas sedalam-dalamnya dan kemudian

membuang napas secara cepat dan dihentakkan.

f) Tekan tombol stop untuk mengakhiri pemeriksaan. Lakukan

pemeriksaan sampai 3 kali.

g) Tekan tombol analyse, kemudian tekanprint dan catat data : FVC,

FEV1.
d. Pengukuran Nyeri Dada menggunakan VAS

VAS digunakan untuk mengukur kwantitas dan kwalitas nyeri yang

pasien rasakan, dengan menampilkan suatu kategorisasi nyeri mulai dari

“tidak nyeri, ringan, sedang, atau berat”.

Skala Keterangan

0 Tidak nyeri

1–3 Nyeri ringan

4–6 Nyeri sedang

7–9 Nyeri berat terkontrol

10 Nyeri berat tidak terkontrol

e. Pengukuran Skala Sesak Nafas menggunakan Skala Borg

Skala ini digunakan untuk membantu penderita menderajatkan

intensitas sesak dari derajat ringan sampai berat.


SKALA DERAJAT SESAK

0 Tidak sesak sama sekali

0,5 Sesak sangat ringan

1 Sesak nafas sangat ringan

2 Sesak nafas ringan

3 Sedang

4 Sesak nafas cukup berat

5 Sesak berat

6 Sesak berat

7 Sesak nafas sangat berat

8 Sesak nafas sangat berat

9 Sangat-sangat berat (hampir maksimal)

10 Maksimal

f. Pengukuran Mobilitas Sangkar Thoraks menggunakan Meteran

1) Axilla

a) Persiapan pasien : Posisi pasien dalam keadaan duduk rileks dengan

pakaian di lepaskan dari tubuh.

b) Teknik pelaksanaan :

1) Tempatkan meteran pada axilla, kemudian lihat dan catat angka

awal.
2) Kemudian instruksikan pasien untuk deep inspirasi dan

ekspirasi.

3) Lihat dan catat angka pada meteran pada saat pasien inspirasi

dan ekspirasi.

2) Papilla Mammae

a) Persiapan pasien : Posisi pasien dalam keadaan duduk rileks di atas

bed dengan pakaian di lepaskan dari tubuh.

b) Teknik pelaksanaan :

1) Tempatkan meteran pada papilla mammae, kemudian lihat dan

catat angka awal.

2) Kemudian instruksikan pasien untuk deep inspirasi dan

ekspirasi.

3) Lihat dan catat angka pada meteran pada saat pasien inspirasi

dan ekspirasi.

3) Processus Xhypoideus

a) Persiapan pasien : Posisi pasien dalam keadaan duduk rileks I atas

bed dengan pakaian di lepaskan dari tubuh.

b) Teknik pelaksanaan :

1) Tempatkan meteran pada processus xhypoideus, kemudian lihat

dan catat angka awal.

2) Kemudian instruksikan pasien untuk deep inspirasi dan

ekspirasi.
3) Lihat dan catat angka pada meteran pada saat pasien inspirasi

dan ekspirasi.

C. Tinjauan intervensi

Tinjauan intervensi fisioterapi berdasarkan evidence based dan yang

dilakukan di BBKPM pada kondisi SOPT diantaranya :

1. MWD

MWD adalah suatu aplikasi terapeutik dengan menggunakan

gelombang mikro dalam bentuk radiasi elektromagnetik yg akan dikonversi

dalam bentuk dengan frekuansi 2456 MHz dan 915 MHz dengan panjang

gelombang 12,25 arus yang dipakai adalah arus rumah 50 HZ, penentrasi hanya 3

cm yang efektif pada otot .

Tujuan MWD yaitu:

Dapat memberi efek yang melancarkan sirkulasi darah, memperbaiki

sirkulalsi jaringan local, percepatan fase awal dan akhir peradangan,

memproduksi kolagen yang hilang dan memberikan efek vasodilatasi sehingga

elastisitas jaringan meningkat dan nyeri berkurang serta meningkatkan rileksasi

otot sehingga mudah diberikan exercise.

Indikasi dan kontra indikasi pada MWD yaitu:

a. Indikasi

1) Post akut musculoskeletal injuri


2) Kerobekan otot dan tendon

3) Penyakit degenerasi sendi

4) Peningkatan extensibilitas collagen

5) Mengurangi kekakuan sendi dan bursitis

6) Lesi kapsul

7) Myofascial trigger point

8) Mengurangi nyeri subakut dan nyeri kronik.

b. Kontraindikasi

1) Akut traumatik musculoskeletal injuri

2) Kondisi-kondisi akut inflamasi

3) Area ischemia dan efusi sendi

4) Mata, Contact Lens

5) Malignancy

6) Area pelvic selama menstruasi, testis dan kehamilan

7) Pemasangan metal/besi pada tulang, cardiac pacemakers, alat-alat

intrauterine

2. TENS

a. Definisi

Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) merupakan

suatu cara penggunaan energi listrik yang digunakan untuk merangsang

sistem saraf dan peripheral motor yang berhubungan dengan perasaan


melalui permukaan kulit dengan penggunaan energi listrik dan terbukti

efektif untuk merangsang berbagai tipe nyeri. TENS mampu mengaktivasi

baik syaraf berdiameter besar maupun kecil yang akan menyampaikan

berbagai informasi sensoris ke saraf pusat. Efektifitas TENS dapat

diterangkan lewat teori gerbang kontrol.

TENS memiliki tiga bentuk pulsa, antara lain adalah:

1) Monophasic memiliki bentuk gelombang rectangular, trianguler dan

gelombang separuh sinus searah.

2) Biphasic memiliki bentuk gelombang simetris.

3) Polyphasic ada rangkaian gelombang sinus dan bentuk interfensi atau

campuran.

b. Kontra Indikasi

Kontra indikasi dari TENS antara lain , hipersensitif kulit karena

penggunaan TENS dalam waktu lama dengan intensitas tinggi dapat

menyebabkan resiko elektrical damage.

3. Postural Drainage

Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk

melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan

pengaruh gaya gravitasi.. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada
berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan

kelainan parunya. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1

jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari.

Postural drainase (PD) dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya

sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret

sehingga tidak terjadi atelektasis. Pada penderita dengan produksi sputum

yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating.

4. Breathing Exercise

Ditujukan Untuk melatih otot Respirasi dan memperbaiki ventilasi

dan Oxygenation, Aktif ROM pada shoulder dan Trunk juga membantu

ekspansi thorax dan memudahkan Deep Breathing serta merangsang refleks

Batuk .

Indikasi BE yaitu:

a. Penyakit paru-paru akut atau kronik

1) Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)

2) Pneumonia

3) Atelectasis

4) Pulmonary Embolism

5) Acute Repiratory Disease

b. Nyeri (Pain) akibat Post Operasi atau Trauma

c. Obstruksi sekunder airway akibat Broncus Spasma atau Sekresi


d. Gangguan SSP yang menyebabkan kelemahan otot misalnya high spinal

cord injury dan akut , kronik , atau progressive myopathic atau neurophatic

e. Gangguan Orthopedik misalnya scoliosis atau kyphosis yang mengganggu

fungsi respirasi

Diaphragmatic breathing exercise ditujukan untuk memperbaiki

efisiensi Ventilasi, mengurangi kerja pernafasan, meningkatkan

pengembangan (descent or ascent) diaphragma, memperbaiki pertukaran

gas. Diaphragma juga digunakan untuk mobilisasi sekresi paru selama

Postural Drainage (PD). Dilakukan dengan cara memaksimalkan fungsi

paru-paru sampai ke paru-paru bagian bawah sehingga dapat meningkatkan

kapasitas paru-paru dalam bernapas atau dengan cara membesarkan perut

ke depan dan dilakukan secara perlahan ketika menghembuskannya.

Latihan ini selain untuk mengatur pernapasan jika terasa akan datang

serangan, ataupun sewaktu serangan asma juga untuk mengatasi masalah

penurunan volume paru pada arus puncak ekspirasi (APE) (Jones, et al.,

2003).

5. Tapotement

Tapotement merupakan gerakan pukulan ringan yang dilakukan secara

berirama yang ditujukan pada bagian yang berdaging. Tujuannya adalah

mendorong atau memudahkan sirkulasi darah dan mendorong keluar sisa-sisa

pembakaran dari tempat persembunyiannya. Tapotement/memukul yaitu

dengan kepalan tangan, jari lurus, setengah lurus atau dengan telapak tangan
yang mencekung, dengan dipukulkan ke bagian otot-otot besar seperti otot

punggung. Tujuannya yaitu untuk merangsang serabut saraf tepi dan

merangsang organ-organ tubuh bagian dalam.

Teknik dasar manipulasi tapotement merupakan teknik yang dilakukan

dengan tangan yang melibatkan pergelangan dan jari-jari yang rileks dan

digerakkan dengan cepat bergantian kanan-kiri.

Dalam pelaksanannya chest physiotherapy ini selalu disertai dengan

tapotemen atau tepukan dengan tujuan untuk melepaskan mukus dari dinding

saluran nafas dan untuk merangsang timbulnya reflek batuk, sehingga dengan

reflek batuk mukus akan lebih mudah dikeluarkan. Jika saluran nafas bersih

maka pernafasan akan menjadi normal dan ventilasi menjadi lebih baik (Putri

dan Soemarno, 2013).

Teknik tapotement terdiri dari :

a. Hacking ( Mencincang)

b. Beating (dengan kepalan)

c. Clapping ( dengan telapak jari)

d. Cupping (dengan telapak tangan di cekungkan)

e. Typing ( seperti mengetik)

f. Spatting ( cipratan)

g. Chucking (tarikan lepas)

6. Infra Red
Menurut penelitian Anita Puji Lestari di RS Paru Dr. Ario Wirawan

Salatiga pada tahun 2015, modalitas yang sesuai untuk mengurangi derajat

sesak napas dan nyeri dada pada pasien yaitu pemberian modalitas berupa

infra red dan pruse lip breathing. Dimana IR menghasilkan efek termal pada

superfisial epidermis, sehingga pembuluh darah mengalami pelebaran yang

mengakibatkan jaringan terpenuhi oleh nutrisi dan oksigen. Hal tersebut akan

membuat otot-otot menjadi rileks (Kutono, 2005).

a. Efek Fisiologis

Jika sinar IR di asorbsikan oleh kulit, maka panas akan timbul pada

tempat dimana sinar tadi di asorbsikan. Dengan adanya panas ini maka

temperatur naik dan pengaruh lainnya akan terjadi yaitu :

1) Meningkatkan proses metabolism pembuluh darah.

2) Pengaruh pada urat syaraf sensoris.

3) Pengaruh terhadap jaringan otot.

4) Mengaktifkan kerja kelenjar keringat.

5) Efek Terapeutik

6) Mengurangi nyeri. Nyeri ditimbulkan oleh karena adanya akumulasi sisa

- sisa hasil metabolisme yang disebut zat“P” yg menumpuk di jaringan.

Dengan adanya IR yang memperlancar sirkulasi darah maka zat “P” aka

ikut terbuang sehingga nyeri berkurang.

7) Relaksasi otot.
8) Meningkatakan suplai darah.

9) Menghilangkan sisa hasil metabolisme.

b. Indikasi dan Kontraindikasi

Kondisi peradangan setelah sub akut :

1) Muscle strain, muscle sprain.

2) Arthritis : Osteoarthritis, Rheumatoid Arthritis.

3) Persiapan exercice dan massage.

4) Post Fraktur.

Kontra :

1) Gangguan sensibilitas kulit.

2) Adanya kecenderungan terjadinya pendarahan.

c. Bahaya-Bahaya:

1) Luka Bakar.

2) Electric shock (bahaya kabel).

3) Pusing.

4) Kerusakan pada mata.

5) Menggigil.

6) Pingsan tiba-tiba.

7. Pursed Lip Breathing

Menurut penelitian Anita Puji Lestari di RS Paru Dr. Ario Wirawan

Salatiga pada tahun 2015, modalitas yang sesuai untuk mengurangi derajat

sesak napas dan nyeri dada pada pasien yaitu pemberian modalitas berupa
infra red dan pruse lip breathing.Disaat otot dalam keadaan rileks, pemberian

Pursed Lip Breathing jauh lebih mudah. Selama Pursed Lip Breathing tidak

ada udara ekspirasi yang mengalir melalui hidung. Dengan Pursed Lip

Breathing akan terjadi peningkatan tekanan pada rongga mulut, kemudian

tekanan ini akan diteruskan melalui cabang-cabang bronkus sehingga dapat

mencegah air trapping dan kolaps saluran napas kecil pada waktu ekspirasi

(Harisma, 2012).

Pursed lip breathing dengan tujuan untuk mempermudah proses

pengeluaran udara yang terjebak oleh saluran napas dalam upaya

meningkatkan kekuatan otot pernapasan yang terfokus pada latihan ekspirasi

(Basuki, 2008). napasan yang menekankan pada proses ekspirasi yang

dilakukan secara tenang dan rileks dengan tujuan untuk mempermudah proses

pengeluaran udara yang terjebak oleh saluran napas (Nerini, dkk. 2011).

Melalui teknik ini, maka udara yang ke luar akan dihambat oleh kedua bibir,

yang menyebabkan tekanan dalam rongga mulut lebih positif. Tekanan

posistif ini akan menjalar ke dalam saluran napas yang menyempit dan

bermanfaat untuk mempertahankan saluran napas untuk tetap terbuka. Dengan

terbukanya saluran napas, maka udara dapat ke luar dengan mudah melalui

saluran napas yang menyempit serta dengan mudah erpengaruh pada kekuatan

otot pernapasan untuk mengurangi sesak napas (Alsagaf, 2012).

8. ACBT ( Active Cycle Breathing Tekhnique)


Active Cycle Breathing Technique (ACBT) adalah suatu teknik latihan

bernapas yang digunakan untuk memindahkan sputum dari paru-paru. Teknik

ini menggunakan kedalaman bernapas untuk memindahkan sputum dari

saluran udara kecil di bagian bawah paru paru menuju ke saluran udara yang

lebih besar di bagian atas, sehingga mudah untuk dikeluarkan dengan cara

dibatukkan (Pryor, 2008). ACBT terdiri dari tiga tahapan yaitu Breathing

control, deep breathing dan huffing.

a. Breathing Control

Kontrol pernapasan digunakan untuk merilekskan saluran pernapasan dan

meringankan sesak napas yang dirasakan oleh pasien . Hal ini dapat

dilakukan dengan cara:

a) Letakkan satu tangan diatas perut dan biarkan bahu dalam posisi rileks

b) Bernapasalah dengan tenang dan lembut.

Lamanya waktu yang digunakan untuk melakukan kontrol pernapasan ini

bervariasi, tergantung sejauh mana pasien merasakan sesak napasnya.

Tiga atau 4 kali bernapas dirasa cukup pada keadaan sesak napas yang

ringan dan lebih dari itu jika disertai adanya infeksi.

b. Deep Breathing

Napas dalam digunakan untuk mendapatkan udara dibelakang sputum

yang terjebak di saluran napas kecil. Langkah yang harus dilakukan yaitu:

a) Rilekskan dada bagian atas

b) Tarik napas secara perlahan dan dalam


c) Bernapaslah perlahan hingga udara dalam paru-paru kosong, dengan

tidak memaksakan udara keluar

d) Ulangi 3 hingga 4 kali. Jika merasa ringan, ulangi kembali dari kontrol

pernapasan awal.

Setelah melakukan latihan pernapasan, kembali ke kontrol pernapasan

lagi untuk memastikan saluran napas benar-benar rileks. Terkadang jika

pasien sedang dalam kondisi yang kurang sehat, atau dahaknya sulit untuk

dibersihkan, disarankan agar pasien mengulangi latihan pernapasan dalam

untuk kedua kalinya sebelum terengah atau batuk.

c. Huffing

Huffing digunakan untuk menggerakkan sputum dari saluran napas

kecil ke saluran napas yang lebih besar, yang nantinya akan dikeluarkan

melalui batuk. Batuk saja tidak dapat menghilangkan sputum dari saluran

napas kecil.

Menurut penelitian Ririt Ika Lestari di Rumah Sakit Paru dr Ario

Wirawan Salatiga pada tahun 2015, dimana ACBT dapat mengurangi sesak

napas dan pasien lebih mudah mengeluarkan sputum.

Breathing exercise akan meningkatkan kapasitas inspirasi dan

merangsang kerja otot-otot pernapasan. Latihan huffing meningkatkan tidal

volume dan membuka sistem colateral saluran napas sehingga sputum mudah

dikeluarkan. Breathing Control (BC) bertujuan mendidik kembali pola

pernapasan tenang dan ritmis sehingga penderita dapat menghemat energi


untuk bernapas serta penderita akan terbiasa melakukan pernapasan yang

teratur ketika serangan sesak napas. Sedangkan perpaduan dari kedua

subteknik dapat dilakukan bersama – sama dengan latihan mobilisasi sangkar

torakal atau Thoracic Expansion Exercise (TEE), yang bertujuan

meningkatkan mobilisasi sangkar torakal dan memperbaiki postural.


BAB III

PROSES FISIOTERAPI

A. Identitas Umum Pasien

1. Nama : TN. S

2. Umur : 40 Tahun

3. Jenis Kelamin : Laki-laki

4. Agama : Islam

5. Pekerjaan : Karyawan

6. Alamat : Jl. Andalas

B. Anamnesis Khusus

1. Keluhan utama : Sesak napas, nyeri dada dan batuk berdahak

2. Riwayat merokok : Pernah

3. Faktor yang memperberat keluhan : Sesak timbul terutama setelah

melakukan aktivitas seperti berjalan lama.

4. Faktor yang memperingan keluhan : Beristirahat dan menggunakan inhaler

5. Riwayat perjalanan penyakit : Pasien datang ke BBKPM pada tanggal

20 Desember 2018 dengan keluhan sesak, nyeri dada dan batuk berdahak. Nyeri

dirasakan pasien walau tidak sedang sesak. Keluhan dirasakan sejak tahun 2005

dan di opname selama sebulan di RSUP Wahidin Sudirohusodo. Pasien

memiliki riwayat pengobatan 6 bulan yang dilakukan pada tahun 2005 dan
tuntas di tahun 2006. Pasien mulai berobat di BBKPM Makassar pada tahun

2006 dan diopname selama 2 Minggu. Sampai sekarang pasien masih berobat

dan melakukan control di BBKPM sambil menunggu dokter untuk melakukan

operasi paru.

6. Riwayat keluarga dan status social

a. Riwayat keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit

yang sama

b. Status social

Pasien bekerja dibagian lapangan yang memungkinkan pasien untuk

terapar debu saat bekerja. Sedangkan, pasien mengaku tinggal di

lingkungan yang bebas polusi dan asap serta tidak memiliki hewan

peliharaan.

7. Riwayat penyakit terdahulu dan penyerta : Pasien tidak memiliki riwayat asma

tetapi memiliki riwayat batuk darah.

C. Vital Sign

1. Tekanan darah : 130/80 mmHg

2. Frekuensi nadi : 79 kali / menit

3. Suhu : 360

4. Frekuensi nafas : 20 kali/menit

5. SaO2 : 98 %
D. Inspeksi/Observasi

1. Statis

a. Bentuk dada : Normal

b. Pola nafas : Lambat dan sulit

2. Dinamis : Saat berjalan masuk ke poli fisioterapi pasien tampak sesak

3. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada M. Pectoralis Major dan Minor, M.

Upper Trapezius dan M. Sternocledomastoid

E. Assesmen dan Pengukuran Fisioterapi

1. Pengukuran Skala Sesak Dengan Borg Scale

SKALA DERAJAT SESAK


0 Tidak sesak sama sekali
0,5 Sesak sangat ringan
1 Sesak nafas sangat ringan
2 Sesak nafas ringan
3 Sedang
4 Sesak nafas cukup berat
5 Sesak berat
6 Sesak berat
7 Sesak nafas sangat berat
8 Sesak nafas sangat berat
9 Sangat-sangat berat (hampir maksimal)
10 Maksimal
Interpretasi : 7 ( sesak nafas sangat berat)

2 Pengukuran Mobilitas Thorax Menggunakan Meteran

Selisih
Titik Ukur Inspirasi Awal Ekspirasi
Inspirasi Ekspirasi

Axilla 95 cm 94 cm 94 cm 1 cm -

Papilla Mamae 95.5 cm 95.5 cm 95 cm - 0.5

Xyphoid 92 cm 91.5 cm 91 cm 0.5 cm -

Interpretasi : Terjadi penurunan mobilitas thorax karena selisih normal

untuk pengembangan thorax adalah 3,5-5 cm.

3 Auskultasi

Kanan Kiri
Regio
Ves Ronchi Whes Ves Ronchi Whes

√ √
Apical

√ √
Middle

Lower

Posterior
Interpretasi : Terdapat bunyi bunyi whezzing pada regio anterior apical

kanan dan kiri serta pada segmen middle kanan dan kiri.

4 Pemeriksaan Spirometri

Interpretasi : Obstructive abnormality : obstruktif sangat berat

5 Muscle Length Test

a. Musculus Pectoralis Mayor

1) Teknik penatalaksanaan : pasien dalam posisi supine lying kemudian

secara aktif minta pasien untuk melakukan fleksi elevasi shoulder.

2) Interpreatasi : otot memendek apabila terdapat celah antara lengan

dengan bed atau pasien tidak mempu melakukannya dan timbu nyeri

regang

3) Hasil : pada pasien tidak terjadi pemendekan.

b. Musculus Pectoralis Minor

1) Teknik penatalaksanaan : pasien dalam posisi supine lying kemudian

secara aktif minta pasien untuk menekan bed menggunakan bahunya.


2) Interpreatasi : otot memendek apabila terdapat celah antara bahu

dengan bed atau pasien tidak mempu melakukannya dan timbu nyeri

regang

3) Hasil : pada pasien tidak terjadi pemendekan.

c. Musculus Upper Trapezius

1) Teknik penatalaksanaan : pasien dalam posisi supine lying kemudian

secara pasif gerakkan kepala pasien lateral fleksi kontralateral.

2) Interpreatasi : otot memendek apabila end-feel teras “hard” sebagai

pengganti “soft”, timbul nyeri regang atau bahu ipsi terjadi elevasi.

3) Hasil : pada pasien tidak terjadi pemendekan.

d. Musculus Sternocledomastoideus

1) Teknik penatalaksanaan : pasien dalam posisi supine lying kemudian

secara pasif gerakkan kepala pasien sedikit ekstensi, kontra lateral

fleksi dan rotasi ipsilateral.

2) Interpreatasi : otot memendek apabila end-feel teras “hard” sebagai

pengganti “soft”, timbul nyeri regang.

3) Hasil : pada pasien tidak terjadi pemendekan.

6 Pengukuran Nyeri Dada Dengan Vas


Interpretasi: 7 (nyeri berat)

7 Pemeriksaan Toleransi Aktivitas

a Tujuan : untuk megukur toleransi aktivitas

b Teknik : Sebelum pasien melakukan tes, lakukan pemeriksaan vital

sign, kemudian diminta untuk berjalan 25 meter bolak-balik ( 1 track) dan

berikan instruksi sesuai prosedur pelaksanaan test. Beri informasi kepada

pasien mengenai waktu yang sudah berjalan.

c Syarat : hasil SaO2 tidak kurang dari 95%, hasil dari pemeriksaan

nyerinya dada dan sesak tidak lebih dari nilai 3.

d Hasil : Tes tidak di lakukan karena pasien sesak dan nyeri dada

F. Pemeriksaan Penunjang

1. Tes Cepat Molekuler (Xpert MTB-RIF)

Hasil : MTB NOT DETECTED


2. Tes VCT antibody tanggal 31 Januari 2017

Hasil : Non Reaktif tidak termasuk pemaparan terhadap HIV yang terjadi

baru-baru ini

3. Pemeriksaan Laboratorium :

Pemeriksaan dahak

a. Dahak Pagi (23 November 2017) : negatif

b. Dahak sewaktu (23 November 2017) : negative

G. Diagnosa Dan Problematik Fisioterapi (Icf)

1. Diagnosa Fisioterapi
“Gangguan Fungsional respirasi with chest pain and retensi sputum Et
Causa SOPT”
2. Problematik Fisioterapi

a. Impairment (Body structure and function)


1) Sesak napas
2) Nyeri dada
3) Batuk Berdahak
4) Penurunan mobilitas thorax
5) Penurunan volume paru
6) Penurunan toleransi aktivitas
b. Activity Limitation
Pasien kesulitan melakukan kegiatan seperti berjalan jauh
c. Participation Restrriction
Pasien tidak dapat aktif dalam melakukan kegiatan di masyarakat dan
bekerja di kantor.

H. Tujuan Fisioterapi

1. Tujuan Jangka Pendek


a. Mengurangi sesak
b. Mengajarkan cara batuk efektif
c. Menurunkan atau mengontrol frekuensi pernapasan yang tidak normal
d. Meningkatkan volume paru
e. Meningkatkan toleransi aktivitas
2. Tujuan Jangka Panjang
a. Mengembalikan fungsional respirasi pasien.
b. Melanjutklan tujuan jangka pendek.
c. Meningkatkan mobilitas sangkar thoraks
I. Program Intervensi Fisioterapi

1. Oxigen
2. MWD

Tujuan : Untuk mengurangi nyeri ,meningkatkan rileksasi lokal di dada pasien dan

melancarkan sirkulasi darah.

Persiapan alat :

a. Tes alat

b. Pre pemanasan 5-10 menit

c. Jarak ± 10 cm dari kulit

Persiapan pasien :

a. Sebelum memberikan modalitas Fisioterapi, pasien terlebih dahulu di beritahukan

efek dari alat yang akan diberikan.

b. Bebaskan daerah yang akan di berikan alat dari pakaian dan perhiasan.

c. Posisikan pasien senyaman mungkin.

d. Jarak antara kulit pasien dengan alat adalah 5-10 cm.

e. Durasi pemberian yakni ±15 menit.

Teknik pelaksanaan ;

a. Arahkan MWD ke middle thoraks kanan dan kiri pasien.

b. Jarak 10 cm.

c. Intensitas 34 w, arus intermitten

d. Waktu 10 menit
3. Transcutaneus eletrical muscle stimulation (TENS).

Tujuan : Untuk mengurangi nyeri

Persiapan alat:

a. Tes alat

b. Basahi spons yang akan digunakan.

Persiapan pasien :

a. Sebelum memberikan modalitas Fisioterapi, pasien terlebih dahulu di beritahukan

efek dari alat yang akan diberikan.

b. Bebaskan daerah yang akan di berikan alat dari pakaian dan perhiasan.

c. Posisikan pasien senyaman mungkin.

d. Tes sensibilitas.

e. Tempatkan pad pada daerah yang diinginkan.

f. Durasi pemberian yakni ±15 menit.

g. Intensitas sesuai toleransi pasien , dengan 2 pad.

Teknik pelaksanaan ;

a. Lekatkan pad (vasotron) pada thoraks kanan dan kiri pasien.

b. Pilih arus Assimetrycal Alternating

c. Waktu 10 menit

d. Intesitas 9.0 mA

4. Postural Drainase
Tujuan : Untuk mengalirkan mucus dari berbagai segmen paru ke saluran napas

yang lebih besar dengan bantuan gravitasi.

Teknik Pelaksanaan :

a. Posisikan pasien dengan benar untuk drainage dan pastikan pasien pasien

comfortable dan rileks (pada pasien postural drainage untuk segmen apical dengan

posisi half lying).

b. Pertahankan posisi 10-20 menit jika pasien dapat mentoleransi posisi tersebut atau

selama posisi tersebut produktif.

c. Pasien diinstrukikan bernapas dalam dan rileks .

d. Anjurkan pasien tarik napas dalam dan batuk 2x, jika pasien tidak mampu batuk,

lakukan vibrasi pada akhir ekspirasi untuk membantu pasien.

e. Dapat dilakukan 1-2 kali dalam sehari.

5. Tapotement

Tujuan : Untuk melepaskan perlengketan sputum agar mudah dilirkan ke

sentral bronkus.

a. Persiapan alat : Persediaan handscoon untuk terapis.

b. Persiapan pasien : Posisikan pasien dengan benar untuk drainage kemudian pasien

diinstruksikan bernapas dalam dan rileks.

c. Teknik Pelaksanaan : Lakukan pekusi/ tapotemen diatas segmen yang akan diberi

postural drainage. Anjurkan pasien tarik napas dalam dan batuk 2x , jika pasien

tidak mampu batuk, lakukan vibrasi pada akhir ekspirasi untuk membantu pasien.

Jika pasien tidak batuk dan tidak produktif setelah 5-10 menit setelah diposisikan
maka lanjut ke posisi berikutnya. Biasanya sekresi akan di batukkan setelah 30

menit atau 1 jam setelah pengobatan.

6. Breating Exercise (dengan teknik pursed lip bterathing)

a. Tujuan : Untuk melatih otot-otot pernapasan, memperbaiki ventilasi dan

merangsang reflex batuk.

b. Teknik Pelaksaan : Pasien di posisikan serileks mungkin, tangan pasien berada

diatas rektus abdominali pasien, kemudian tangan fisioterapis diatasnya.

Instruksikan pasien menarik napas dengan hidung dan keluarkan dari mulut seperti

meniup lilin (ekspirasi panjang) dengan 8x repetisi kemudian istirahat.

c. Dosis : 2 x 8 (60 detik istirahat)


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tuberkulosis (TBC atau TB) merupakan suatu penyakit infeksi yang
disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini merupakan
bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk
mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru
dibandingkan bagian lain tubuh manusia.
SOPT (Syndrome Obstuctive Post Tuberculosis). adalah Gejala sisa
akibat TB yang sering ditemukan pada pasien pasca TB. Gejala sisa yang paling
sering ditemukan yaitu gangguan faal paru dengan kelainan obstruktif yang
memiliki gambaran klinis mirip Penyakit Paru Obruksi Kronik).
Pasien atas nama: Abd. Rahman, 62 tahun, dengan diagnosaSOPT,
dengan keluhan batuk berdahak, sesak nafas serta penuruan sangkar thoraks.
Telah diberikan terapi dengan modalitas Oksigen, MWD, TENS, BE, postural
drainage, tapotement,dan mobilisasi sangkar thoraks sebanyak 2x terapi telah
merasakan penurunan sesak napas.
B. Saran
1. Saran bagi pasien
Penulis menyarankan kepada pasien untuk menghindari dan menjauhi
hal-hal atau tindakan yang dapat memicu terjadinya penyakit tersebut.
Selain itu pada saat pasien akan tidur malam, pasien disarankan untuk
menggunakan posisioning atau posisi saat tidur yang tepat guna menjaga
bronkus atau menghindari penumpukan mukus pada saluran pernapasan,
yaitu dengan posisi kepala lebih rendah dari pada dada dan pasien
disarankan untuk banyak mengkonsumsi air putih serta menggunakan
masker saat beraktivitas.
2. Saran bagi keluarga
Penulis menyarankan kepada keluarga pasien untuk selalu menjaga
dan mengontrol keadaan pasien dengan memberikan support, dan menjaga
asupan makanan dan selalu mengingatkan untuk selalu menjaga kesehatan
dengan berolahraga.