Anda di halaman 1dari 15

REKAYASA IDE

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN “ VAK ” (VISUAL,


AUDITORIAL, DAN KINESTETIK) UNTUK MENINGKATKAN HASIL
BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 1

DIAN PERMANA SILITONGA ( 4183311040 )

INTAN RAMADHANI GULTOM ( 4183311031 )

LOLA RESSA BR TARIGAN ( 4183111095 )

NAHLIRA ANGGI NASUTION ( 4183311036 )

RIA ELISABETH MARPAUNG ( 4181111047 )

TRI ANANDA GIRSANG ( 4182111028 )

KELAS : MATEMATIKA DIK D 2018

DOSEN PENGAMPU : NINDYA AYU PRISTANTI, M.Pd

MATA KULIAH : PSIKOLOGI PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

APRIL 2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI................................................................................................................ 2

RINGKASAN .............................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 4

A) Latar Belakang Masalah ................................................................................ 4

B) Tujuan dan Manfaat ...................................................................................... 5

BAB II KERANGKA PEMIKIRAN / GAMBARAN UMUM ................................... 6

BAB III METODE PELAKSANAAN ........................................................................ 9

BAB IV PEMBAHASAN.......................................................................................... 13

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 15


RINGKASAN

Model pembelajaran Visual Auditori Kinestetik (VAK) adalah model


pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan alat indra
yang dimiliki siswa. Pembelajaran dengan model pembelajaran Visual Auditori
Kinestetik (VAK) adalah suatu pembelajaran yang memanfaatkan gaya belajar setiap
individu dengan tujuan agar semua kebiasaan belajar siswa akan terpenuhi.

Model pembelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif


dengan memperhatikan potensi siswa yaitu manfaatkan potensi siswa yang dimiliki
dengan melatih dan mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah
pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.

Jadi model pembelajaran Visual Auditori Kinestetik (VAK) adalah model


pembelajaran yang mengkombinasikan ketiga gaya belajar (melihat, mendengar, dan
bergerak) setiap individu dengan cara memanfaatkan potensi yang telah dimiliki
dengan melatih dan mengembangkannya, agar semua kebiasaan belajar siswa
terpenuhi.

Model pembelajaran visual, auditory, kinesthetic atau VAK adalah model


pembelajaran yang menjadikan siswa mudah memahami materi yang diajarkan guru
karena mengoptimalkan ketiga modalitas belajar tersebut. Pembelajaran dengan
model ini mementingkan pengalaman belajar secara langsung dan menyenangkan
bagi siswa. Pengalaman belajar secara langsung dengan mengingat (visual), belajar
dengan mendengar (auditory), dan belajar dengan gerak dan emosi (kinestethic).
Pembelajaran dilaksanakan dengan memanfaatkan potensi siswa yang telah
dimilikinya dengan melatih dan mengembangkannya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model ini memberikan


kesempatan kepada siswa untuk belajar langsung dengan bebas menggunakan
modalitas yang dimilikinya untuk mencapai pemahaman dan pembelajaran yang
efektif. Ketiga modalitas tersebut dikenal dengan gaya belajar.
BAB I

PENDAHULUAN

A) Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan


manusia baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa. Kemajuan
suatu bangsa ditentukan olah keberhasilan pendidikan. Pendidikan juga
merupakan salah satu tempat untuk belajar berusaha mengembangkan bakat
diri sendiri, menambah pengetahuan, dan pengalaman yang menyangkut
aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan
tertentu. Belajar adalah usaha seseorang atau individu untuk mengubah cara
hidupnya dari yang tidak tahu menjadi tahu. Belajar juga merupakan kegiatan
yang tidak terpisahkan dari aktifitas sehari-hari siswa baik disekolah maupun
dirumah.
Gaya belajar setiap siswa berbeda-beda. Ketiga gaya belajar tersebut
sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Gaya belajar visual adalah salah
satu gaya belajar siswa yang pada dasarnya lebih menekankan pada
bagaimana seorang siswa lebih mudah mempelajari materi pelajarannya
melalui melihat, memandangi, atau mengamati objek belajaranya. Gaya
belajar auditori lebih mengedepankan indra pendengar. Mendengar dilakukan
seperti audio, ceramah, diskusi, dan debat. Gaya belajar kinestetik lebih
menyukai belajar atau menerima informasi melalui keterlibatan langsung yang
berupa bergerak, menyentuh, dan merasakan / mengalami sendiri.
Tugas pendidik atau guru adalah menciptakan suasana pembelajaran
yang dapat membuat siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan
bersemangat. Suasana pembelajaran yang demikian akan berdampak positif
dalam pencapaian prestasi belajar yangoptimal. Guru sebaiknya memiliki
kemampuan dalam memilih metode atau strategi pembelajaran yang tepat.
Ketidaktepatan dalam penggunaan metode atau strategi pembelajaran akan
menimbulkan kejenuhan bagi siswa dalam menerima materi yang
disampaikan sehingga materi kurang dapat dipahami yang akan
mengakibatkansiswa menjadi apatis.
Oleh karena itu guru tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan dan
kemampuan mengajar, tetapi juga mewujudkan kompleksitas peran sesuai
dengan tugas dan fungsi yang diembannya secara kreatif.
B) Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari Rekayasa Ide ini adalah :

1. Untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa dalam


pembelajaran.
2. Untuk mendekatkan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa,
agar saling berkolaborasi satu sama lain.
3. Untuk menyelesaikan salah satu tugas KKNI dalam mata kuliah
Psikologi Pendidikan.

Manfaat dari Rekayasa Ide ini adalah :

1. Motivasi dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran meningkat


2. Hubungan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa saling dekat
agar saling berkolaborasi satu sama lain
3. Menyelesaikan salah satu tugas KKNI
BAB II

KERANGKA PEMIKIRAN / GAMBARAN UMUM

Gaya belajar ada tiga macam yang pokok, tetapi sering kali terjadi seorang
anak memiliki gabungan beberapa gaya belajar. Gaya belajar yang pertama yaitu
gaya belajar Visual, misalnya membaca buku, melihat demonstrasi yang dilakukan
guru, melihat contoh-contoh yang terbesar di alam atau fenomena alam dengan cara
observasi, atau melihat pembelajaran yang disajikan melalui TV atau video kaset.
Gaya belajar yang kedua, yaitu gaya belajar Audio, seorang anak akan lebih mudah
belajar dengan cara mendengarkan. Disini penerapan metode ceramah, tanya jawab
dan diskusi lebih efektif. Siswa dapat belajar melalui mendengarkan radio
pendidikan, kaset pembelajaran, video kaset, gaya belajar yang ketiga yaitu gaya
belajar kinestetik, siswa belajar melalui gerakan-gerakan fisik. Misal, dengan
berjalan-jalan, menggerak-gerakkan kaki atau tangan, melakukan eksperimen yang
memerlukan aktivitas fisik dan sebagainya. (Sumani, 2011:149)

Meskipun kebanyakan orang memiliki akses ketiga gaya VAK, hampir semua
orang cenderung pada salah satu gaya belajar yang berperan sebagai saringan untuk
pembelajaran, pemrosesan, dan komunikasi. Orang tidak hanya cenderung pada satu
gaya belajar, mereka juga memanfaatkan kombinasi gaya belajar tertentu yang
memberi mereka bakat dan kekurangan alami tertentu. (Bobi De Porter,2010:123)

Model pembelajaran VAK adalah model pembelajaran yang mengoptimalkan


ketiga gaya belajar tersebut untuk menjadikan peserta didik merasa nyaman. Model
pembelajaran ini merupakan anak dari model pembelajaran Quantum yang berprinsip
untuk menjadikan situasi belajar menjadi lebih nyaman dan menjanjikan kesuksesan
bagi peserta didik di masa depan. Pada pembelajaran VAK, pembelajaran difokuskan
pada pemberian pengalaman belajar secara langsung (direct experience) dan
menyenangkan. Pengalaman belajar secara langsung dengan cara belajar dengan
mengingat (Visual), belajar dengan mendengar ( Auditory ) dan belajar dengan gerak
dan emosi (Kinestetic).

Cara belajar merupakan hasil dari kombinasi bagaimana kita menyerap, lalu
mengatur dan mengolah informasi. Isyarat Verbal ( visual, auditorial dan kinestetik )
dapat membantu dalam menemukan gaya belajar agar tidak salah arah. Agar
mengetahui golongan visual, auditorial atau kinestetik, maka perlu mengetahui
terlebih dahulu karakteristik-karakteristik pada masing-masing isyarat verbal tersebut.
Mengidentifikasi gaya belajar dan komunikasi dari tiga gaya belajar ini adalah
sebagai berikut:
1. Gaya Visual ( Belajar dengan cara melihat )

Belajar harus menggunakan indra mata melalui, mengamati,


menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat
peraga. Seorang sisiwa lebih suka melihat gambar atau diagram, suka
pertunjukan, peragaan atau menyaksikan video.bagi siswa yang bergaya
visual, yang memegang peranan penting adalah mata/penglihatan. Dalam hal
ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak dititik
beratkan pada peragaan atau media, ajak siswa ke objek-objek yang berkaitan
dengan pelajaran tersebut atau dengan cara menunjukkan alat peraganya
langsung pada siswa atau menggambarkannya dipapan tulis.

Ciri-ciri siswa yang lebih dominan memiliki gaya belajar visual


misalnya lirikan mata keatas bila berbicara danberbicara dengan cepat. Anak
yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat behasa tubuh dan ekspresi
muka gurunya untuk mengerrti materi pelajaran. Siswa cenderung untuk
duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Siswa berfikir menggunakan
gambar-gambar di otak dan belajar lebih cepat dengan menggunakan
tampilan-tampilan visual seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan
video. Di dalam kelas anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya
untuk mendapatkan informasi.

Ketajaman Visual, meskipun lebih menonjol pada sebagian orang,


sangat kuat dalam diri setiap orang. Alasannya adalah bahwa di dalam otak
terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual daripada
semua indera yang lain.

2. Gaya Auditori ( belajar dengan cara mendengar)

Belajar haruslah mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi,


mengemukakan pendapat, gagasan, menanggapi dan beragumentasi. Seorang
siswa lebih suka mendengarkan kaset audio, ceramah-kuliah, diskusi, debat,
dan instruksi (perintah) verbal. Alat perekam sangat membantu pembelajaran
pelajar tipe auditori.

Ciri-ciri siswa yang lebih dominan memiliki gaya belajar auditori


misalnya lirikan mata ke arah kiri/kanan, mendatar bila berbicara dan sedang-
sedang saja. Untuk itu, guru sebaiknya harus memperhatikan sisiwanya
hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori
dapat belajar cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan
apa yang guru katakan. Anak auditori mencerna makna yang disampaikan
melalui tone,suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara, dan hal-hal
auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim
bagi anak auditori. Anak-anak seperti ini biasanya dapat menghafal lebih
cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga kita
terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa
kita sadari. Dan ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa
area penting di otak kita menjadi aktif.

Dalam merancang pelajaran yang menarik bagi saluran auditori yang


kuat dalam diri pembelajar, carilah cara untuk mengajak mereka
membicarakan apa yang sedang mereka pelajari. Suruh mereka
menerjemahkan pengalaman mereka dengan suara. Mintalah mereka
membaca keras-keras secara dramatis jika mereka mau. Ajak mereka
berbicara saat mereka memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan
informasi, membuat rencana kerja, menguasai keterampilan, membuat
tinjauan pengalaman belajar, atau menciptakan makna-makna pribadi bagi diri
mereka sendiri.

3. Gaya belajar Kinestetik (belajar dengan cara bergerak)


Belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung. Seorang
siswa lebih suka menangani, bergerak, menyentuh dan merasakan/mengalami
sendiri gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik). Bagi sisiwa kinestetik belajar
itu haruslah mengalami dan melakukan. Ciri-ciri siswa yang lebih dominan
memiliki gaya belajar kinestetik misalnya lirikan mata kebawah bila berbicara
dan berbicara lebih lambat. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-
jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat.
Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Menurut Bobbi De Porter (2010:217), pendidik harus mendorong sisiwa untuk


menerapkan semua metode ini dalam belajar. Anda mungkin juga ingin memberi tahu
orang tua tentang tipe belajar si anak dan mengajarkan mereka strategi yang
mendukung gaya belajar tersebut.

Dikarenakan model pembelajaran VAK sejalan dengan gerakan Accelerated


Learning, maka prinsipnya juga sejalan, yaitu sebagai berkut:

1) Pembelajaran melibatkan seluruh fikiran dan tubuh


2) Pembelajaran berarti berkreasi bukan mengkonsumsi
3) Kerjasama membantu proses pembelajaran
4) Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan
5) Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri dengan umpan balik
6) Emosi positif sangat membantu pembelajaran
7) Otak menyerap informasi secara langsung dan otomatis.
BAB III

METODE PELAKSANAAN

Pembelajaran VAK dapat direncanakan dan dikelompokan menjadi 4 tahap yaitu:

1. Tahap Persiapan ( Kegiatan pendahuluan )


Pada kegiatan pendahuluan, guru memberikan motivasi untuk membangkitkan
minat siswa dalam belajar, memberikan perasaan positif mengenai
pengalaman belajar yang akan datang kepada siswa, dan menempatkan
mereka dalam situasi optimal untuk menjadikan siswa lebih siap dalam
menerima pelajaran.

2. Tahap Penyampaian ( Kegiatan Inti pada Eksplorasi )


Pada kegiatan ini guru mengarahkan siswa untuk menemukan materi pelajaran
yang baru, secara mandiri, menyenangkan, relevan, melibatkan panca indera,
yang sesuai dengan gaya belajar VAK. Tahap ini biasa disebut eksplorasi.

3. Tahap Pelatihan ( Kegiatan Inti pada Elaborasi )


Pada tahappelatihan, guru membantu siswa untuk mengintegerasi dan
menyerap pengetahuan serta keterampilan baru dengan berbagai cara yang
disesuaikan dengan gaya belajar VAK.

4. Tahap Penampilan Hasil ( Kegiatan Inti pada Konfirmasi )


Tahap penampilan hasil merupakan tahap seorang guru membantu siswa
dalam menerapkan dan memperluas pengetahuan maupun keterampilan baru
yang mereka dapatkan, pada kegiatan belajar sehingga hasil belajar
mengalami peningkatan. (yusyusi.wordpress.com.2012)
Pengaplikasian Model Pembelajaran VAK untuk materi Bangun Datar Persegi
dan Persegi Panjang berdasarkan sintaks ( langkah- langkah) model pembelajarannya
adalah sebagai berikut:

A. Tahap Persiapan

1. Kegiatan Guru
- Guru mempersiapkan materi mengenai menghitung luas dan keliling
persegi dan persegi panjang dengan satuan tak baku dan baku; bahan, alat
dan perangkat yang digunakan dalam proses pembelajaran.
- Guru melakukan tes awal tentang materi menghitung luas dan keliling
persegi dan persegi panjang dengan satuan tak baku dan baku untuk
menentukan skor dasar siswa.
- Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok
terdiri dari 4-5 orang yang heterogen

2. Kegiatan Siswa
- Siswa mempersiapkan bahan dan perangkat yang digunakan dalam proses
pembelajaran ( kinestetik ).
- Siswa mengerjakan tes awal tentang materi menghitung luas dan keliling
persegi dan persegi panjang dengan satuan tak baku dan baku yang
diberikan guru ( kinestetik ).
- Siswa membentuk kelompok belajar yang terdiri dari 4-5 orang yang
heterogen ( kinestetik )

B. Tahap Penyampaian ( Presentasi Kelas )

1. Pendahuluan
- Kegiatan Guru
Guru melakukan apersepsi, yaitu dengan memunculkan rasa ingin tahu
siswa dengan menggunakan media gambar bangun persegi dan persegi
panjang, sehingga membantu siswa dalam berimajinasi dalam kehidupan
sehari-hari.\
- Kegiatan Siswa
Siswa mengamati gambar bangun persegi dan persegi panjang, kemudian
menggambar kembali gambar persegi dan persegi panjang tersebut pada
buku catatan ( Visual dan Kinestetik)
2. Pengembangan
- Kegiatan Guru
 Guru memotivasi siswa dalam mempelajari konsep tentang luas dan
keliling persegi dan persegi panjang dengan satuan tak baku dan baku
 Guru menyampaikan tujuan mempelajari konsep tentang luas dan
keliling persegi dan persegi panjang dengan satuan baku dan tak baku
yang ingin dicapai dalam pembelajaran
 Guru menyampaikan konsep mengenai rumus luas dan keliling persegi
dan persegi panjang dengan satuan tak baku dan baku.
 Guru memeriksa pemahaman siswa dengan memberikan pertanyaan-
pertanyaan mengenai luas dan keliling persegi dan persegi panjang
dengan satuan tak baku dan baku
 Guru melanjutkan materi jika siswa telah memahami konsep mengenai
luas dan keliling persegi dan persegi panjang dengan satuan tak baku
dan baku

- Kegiatan Siswa
 Siswa mendengarkan dan menyimak motivasi yang diberikan guru
tentang konsep luas dan keliling persegi dan persegi panjang dengan
satuan tak baku dan baku ( Visual dan Auditory )
 Siswa mengamati dan menyimak tujuan mempelajari konsep tentang
luas dan keliling persegi dan persegi panjang dengan satuan tak baku
dan baku yang hendak dicapai dalam pembelajaran . (visual,auditori)
 Siswa menyimak konsep yang disampaikan oleh guru kemudian
membuat catatan penting mengenai konsep rumus luas persegi dan
persegi panjang dengan satuan tak baku dan baku pada buku catatan (
audio, kinestetik )
 Siswa mendengarkan pertanyaan – pertanyaan dari guru mengenai luas
dan keliling persegi dan persegi panjang dengan satuan tak bau dan
baku kemudian menanggapinya ( auditori )
 Siswa menyusun pertanyaan – pertanyaan bila ada konse yang belum
dimengerti kemudian menanyakannya kepada guru (Kinestetik)

C. Tahap Pelatihan ( mengerjakan Tes/ soal)

1. Kegiatan Guru
Guru meminta siswa mengerjakan soal-soal atas pertanyaan yang diajukan
tentang luas dan keliling persegi dan persegi panjang

2. Kegiatan Siswa
Perwakilan dari kelompok menyelesaikan soal tentang luas dan keliling
persegi dan persegi panjang dengan bantuan arahan dari guru ( auditori dan
kinestetik )
D. Tahap Penampilan Hasil

1. Kegiatan kelompok membahas hasil presentasi


- Kegiatan Guru
 Guru memberikan lembar soal ( LKS) dan lembar jawaban kepada
siswa tentang luas dan keliling persegi dan persegi panjang dengan
satuan tak baku dan baku untuk melatih keterampilan yang diajarkan
dan untuk menguji kemampuan atau dirinya sendiri selama belajar
kelompok.
 Guru memberikan kesempatan pada perwakilan masing-masing
kelompok untuk menyampaikan hasil diskusinya yang disampaikan.
 Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk
menanggapi hasil diskusi yang disampaikan.
- Kegiatan Siswa
 Siswa melakukan diskusi verbal terkait dengan soal-soal luas dan
keliling persegi dan persegi panjang, serta mengerjakan soal-soal yang
ada pada LKS. ( auditori dan kinestetik ).
 Salah seorang siswa perwakilan dari masing-masing kelompok
membaca dengan keras mempresentasikan hasil diskusi. ( visual dan
kinestetik ).
 Siswa dari kelompok lain mendengarkan, mengemukakan pendapat,
memberikan gagasan, dan mananggapi presentasi dari kelompok lain
tentang keliling dan luas persegi dan persegi panjang ( Visual,
Auditori dan Kinestetik ).

2. Pelaksanaan tes / kuis


- Kegiatan Guru
Guru membagikan tes akhir kepada siswa untuk mengetahui beberapa
besar keberhasilan belajar yang dicapai siswa, siswa diberikan nilai.
- Kegiatan siswa
Siswa menjawab tes akhir secara individu, menerima penilaian individu
dan kelompok (kinestetik).
BAB IV

PEMBAHASAN

Setiap model pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebihan, tidak


terkecuali model pembelajaran VAK juga memiliki kelemahan dan kelebihan,
diantaranya yaitu:

1. Kelemahan
Kelemahan dari model pembelajaran VAK yaitu tidak banyak orang yang
mampu mengkombinasikan ketiga gaya belajar tersebut. Sehingga orang yang
hanya mampu menggunakan satu gaya belajar, hanya akan mampu
menangkap materi jika menggunakan metode yang lebih memfokuskan
kepada salah satu gaya belajar yang didominasi.

2. Kelebihan
Kelebihan dari pembelajaran Visuali auditori kinestetik (VAK) adalah sebagai
berikut:
a. Pembelajaran akan lebih efektif, karena mengkombinasikan ketiga gaya
belajar.
b. Mampu melatih dan mengembangkan potensi siswa yang telah dimiliki
oleh pribadi masing-masing.
c. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa.
d. Mampu melibatkan siswa secara maksimal dalam menemukan dan
memahami suatu konsep melalui kegiatan fisik seperti demonstrasi,
percobaan, observasi, dan diskusi aktif.
e. Mampu menjangkau setiap gaya pembelajaran siswa.
f. Siswa yang memiliki kemampuan bagus tidak akan terhambat oleh siswa
yang lemah dalam belajar. Karena model ini mampu melayani kebutuhan
siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Model pembelajaran VAK adalah model pembelajaran yang mengoptimalkan


ketiga modalitas belajar tersebut untuk menjadikan sibelajar merasa nyaman. Model
pembelajaran ini merupakan anak dari model pembelajaran Quantum yang berprinsip
untuk menjadikan situasi belajar menjadi lebih nyaman dan menjanjikan kesuksesan
bagi pebelajarnya di masa depan.

Model pembelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif


dengan memperhatikan potensi siswa yaitu manfaatkan potensi siswa yang dimiliki
dengan melatih dan mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah
pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.

Jadi model pembelajaran Visual Auditori Kinestetik (VAK) adalah model


pembelajaran yang mengkombinasikan ketiga gaya belajar (melihat, mendengar, dan
bergerak) setiap individu dengan cara memanfaatkan potensi yang telah dimiliki
dengan melatih dan mengembangkannya, agar semua kebiasaan belajar siswa
terpenuhi.
DAFTAR PUSTAKA

DePorter, Bobi. 2010. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa

Sumani, Mukhlas. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja


Rosdakarya

Mardina., Rosmawati., Asyari, A. (2015). Analisis Belajar Siswa SD Negeri 006


Tanjung Medan. Jurnal Online Mahasiswa, Vol. 2 No. 1 . 1-10

Nurellah, A ., Panjaitan, R.L., Maulana. (2016). Penerapan Model Pembelajaran


Visual, Auditorial, dan Kinestetik untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Sekolah Dasar. Jurnal Pena Ilmiah, Vol. 1 No. 1 . 431-440

Fitriani, C.H. (2017). Gaya Belajar Siswa Kelas III B SDN Tukangan Yogyakarta.
Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Vol. 1 No. 6. 18-27