Anda di halaman 1dari 3

terminologi, usyur berarti pajak yang dikenakan terhadap barang dagangan

yang masuk ke negara Islam atau yang ada di negara Islam itu sendiri. Usyur

atau yang diistilahkan dengan pajak perdagangan ataupun bea cukai ini

sudah ada pada masa sebelum Islam. Pemerintahan Yunani telah memungut

pajak terhadap barang dagangan yang datang dari luar negeri Athena ini.

Pemerintahan Mesir Kuno juga menerapkan hal ini yang justru membawa

besarnya kekuasan Romawi di negeri ini. Pada masa pemerintahan Islam tetap melanjutkan sistem ini.
Negara Islam mengambil bea cukai dari setiap barang dagangab yang datang dinegara lain.

warn

barang dagangan yang datang dari negara lain.

Istilah Usyur belum dikenal pada masa Rasulullah dan masa Abu Bakar

Siddiq. Pajak perdagangan ini mulai dikenal sejak masa kekhalifahan umar

.Ibn Khatab dan terus dikembangkan pada masa sesudah pemerintahannya.

Eatar belakang penerapan usyur ini terjadi, karena pada masa Umar

berdasarkan laporan Musa al-Asy'ari bahwa para pedagang Muslim yang

pemerintah wilayah setempat. Demi menegakkan keadilan dan kesetaraan

am perdagangan internasional Umar ibn Khatab pun memutuskarn

memungut pajak dari orang-orang non-Muslim yang berdagang ke wilayah

Islam. Penduduk yang pertama kali dipungut usyur adalah kafir harbi dari

penduduk Ming. Mereka menulis surat kepada Khalifah Umar ibn Khatab yang isinya: "Izinkan kami
berdagang ke wilayahmu dan ambillah usyur dari kami". Setelah bermusyawarah dengan para sahabat,
Umar ibn Khatab kemudian menetapkan usyur bagi para pedangan non-Muslim yang berdagang
diwilayah islam. Dalam menerapkan usyur, Khalifah Umar menunjuk petugas
yang berwenang untuk memungut usyur dengan mendirikan lembaga

yang bernama Thaifah al-Usyur. Lembaga ini bertugas memungut usyur

dan memberi sertifikat kepada mereka yang telah melunasi usyur ataupun

memberi sanksi kepada mereka yang enggan membayar pajaknya.

b. Kadar usyur

Usyur ini merupakan salah satu sumber pendapatan negara. Pada

awalnya usyur merupakan pajak perdagangan yang dikenakan kepada

pedangang non-Muslim yang melakukan perdagangan di negara Islam

Dalam perkembangan selanjutnya, usyur juga diterapkan kepada pedagang

Muslim. Dalam pemungutan usyur, Umar ibn Khatab mempertimbangkan

dua hal yaitu, pertama, barang-barang yang dikenakan usyur hanya barang

perdagangan. Kedua, nilainya mencapai 200 dirham. Terhadap barang barang kebutuhan pokok, Umar
tidak mengenakan usyur. Menindaklanjuti konsep usyur pada masa Umar ini, menurut Abu Yusuf, bea
masuk dalam perdagangan internasional (usyur) ini, hanya dikenakan pada barang

dagangan, bukan pada barang keperluan pribadi. Dalam Kitab al-Khara

dijelaskan, jika ada orang yang melewati pos bea cukai dengan membawa barang

yang bukan untuk diperdagangkan maka tidak dikenai bea masuk. Jika golongam

zimmah melewati pos bea cukai ia dikenai 5% (nsfal-usyur). Pajak bea masuk (usyura , enk

hanya dikenakan untuk tujuan perdagangan. Abu Yusuf memiliki perhatian yang

sangat tinggi terhadap pos yang satu ini, sehingga banyak memberi masukan

kepada Khalifah Harun al-Rasyid berkaitan dengan bagaimana pengelolaan

usyur tersebut dan pegawai yang mengurus masalah ini.

Rate ofUsyur (tingkat pajak perdagangan) berkisar dari 2,5% per tahun

untuk pedagang Muslim. Kemudian 5% per tahun bagi ahlu zimmah, 10%
per tahun untuk perdagangan kafir harbi. Kadar usyur yang dipungut adalah

omset yang mencapai 20 dinar untuk emas dan 200 dirham untuk pe

Seperti yang terlihat pada cabel di bawah ini: