Anda di halaman 1dari 3

Pemilu 2019 dan Persatuan Umat

Oleh : Monsano Andri

Kontestasi pemilu merupakan ajang pesta demokrasi. Pemilu merupakan salah


satu rangkaian proses terjadinya suksesi kepemimpinan di negeri ini,khususnya cabang
kekuasaan legislatif ; Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),Dewan Perwakilan Daerah (DPD),
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan cabang kekuasaan eksekutif ; Presiden
dan Wakil Presiden. Tak ayal persolan pemilu merupakan topik yang selalu hangat untuk
diperbincangkan.

Tahun 2018 merupakan gerbang menjelang tahun politik di 2019 nanti. Iklim
hangat pesta demokrasi negeri ini sudah kian terasa jauh sebelum saat ini dan bahkan
sekali-kali iklim yang semulanya hangat itu berganti menjadi iklim yang “gersang”.
Kegersangan yang kerap menimbulkan keresahan.

Pemilu mempunyai hubungan tersendiri dengan persatuan umat. Beragam


dampak bisa timbul dari hubungan itu. Secara konsepnya tentu kita berharap agar
pemiliu dapat menumbuhkan dan menjaga keutuhan persatuan umat di negeri ini.
Namun secara realitanya barangkali pemilu “Rawan” menimbulkan perpecahan umat
kala terjadi perbedaan pandangan dan perbedaan pilihan. “Rawan” yang dimaksud
semakin nyata terlihat di depan mata kita saat ini,sebab pada pemilu 2019 hanya
terdapat dua kandidat calon presiden dan wakil presiden. Tentu akan meningkatkan
intensitas persaingan para pendukungnya.

Berdasarkan pasal 1 angka (1) Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 yang


dimaksudkan dengan Pemilu adalah sarana kedaulatan rakyat untuk memilih anggota
Dewan Perwakilan Rakyat,anggota Dewan Perwakilan Daerah,Presiden dan Wakil
Presiden dan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang
dilaksanakan secara langsung,umum,bebas,rahasia,jujur dan adil dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
IndonesiaTahun 1945.
Perlu kita ketahui bersama terdapat beberapa perbedaan dalam
penyelenggaraan pemilu 2019 ini jika dibandingkan dengan penyelenggaraan pemilu
sebelumnya. Beberapa arah perkembangan penting dalam UU No.7 Tahun 2017 adalah ;
adanya pemilu serentak pemilihan presiden dan wakil presiden dengan pemilhan
legislative, sistem proporsional terbuka, metode koversi suara sainte lague murni dan
ambang batas serta penguatan fungsi Badan Pengawas Pemilu (Banwaslu). Sebagai
bagian dari bangsa dan negara ini kita tentu berharap Pemilu 2019 nanti dapat
diselenggarakan dan terlaksana sesuai dengan harapan.

Pemilu dapat menumbuhkan persatuan umat untuk kemenangan


Hal seperti ini tentu adalah sesuatu yang sangat kita harapkan timbul dalam
tubuh umat islam Indonesia. Kesadaran yang timbul dari sanubari para individunya
tentang arti penting persatuan. Persatuan umat barangkali bisa melahirkan konsensus
mengenai arah pilihan umat dalam kontestasi pemilu 2019 nanti. Sebagai seorang
muslim tentu kita mepunyai tolak ukur tersendiri dalam memimlih pemimpin.

Dalam pemilu pilpres nanti,Tolak ukur tersebut tentu telah dirumuskan dan
disepakati oleh para ulama dalam bentuk ijtima’. Sebagai seorang muslim yang baik
tentu apa yang telah disampaikan oleh para ulama menjadi pertimbangan tersendiri dan
sangat berpengaruh dalam pribadi umat.

Sebagai percontohan persatuan umat yang telah melahirkan kemenangan,


barangkali kita dapat mengamati pada pemilukada DKI Jakarta pada 2016 lalu. Dimana
berkat suatu usaha bersama umat yang dipimpin oleh para ulama,atas izin Allah dapat
memperoleh kemenangannya. Hal demikian pulalah yang kita harapkan kembali terjadi
di 2019 nanti.

Pemilu “Rawan” menimbulkan perpecahan umat


Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa kontestasi persaingan pilpres
tahun 2019 ini hanya diikuti oleh dua pasang calon. Hal ini barangtentu membuat arus
pilihan politik umat semakin jelas untuk pro terhadap satu calon dan kontra terhadap
calon lainnya,seyogyanya demikian. Realita yang terlihat saat ini adalah masing-masing
calon bersama tim pemenangannya terus menggencarkan usaha untuk memikat simpati
masyarakat guna meraih kemenangan pada pemilu mendatang.

Perbedaan pilihan politik inilah yang menjadi kerawanan perpecahan umat.


Benih-benih perpecahan dikhawatirkan tumbuh subur didalamnya. Bahkan akhir-akhir
ini umat kerap dibenturkan oleh opini yang dibangun elite politk .Apabila perbedaan-
perbedaan yang ada terkait pandangan dan pilihan politik ini terus diperuncing maka
bisa saja umat akan benar-benar terpecah.

Semoga tidak terjadi hal demikian.Karena harapan kita adalah umat ini bersatu
tanpa terpecah dan mampu membawa kemenangan dan kejayaan islam di Indonesia.