Anda di halaman 1dari 4

WEDA SEBAGAI SUMBER HUKUM HINDU.

WEDA SEBAGAI SUMBER HUKUM HINDU.


Pengertian Umum
Sumber asal Hukum yaitu peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan yang mengatur tingkah laku
manusia baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok agar tercipta suasana hidup yang serasi.
berdaya guna dan tertib Hukum ini ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis. Hukum inilah yang
merupakan undang-undang.
Manusia dalam pergaulan mereka, didalam menjalankan kehidupan mereka diatur oleh UU yang dibuat
oleh lembaga pembuat UU. dibikin oleh manusia karena itu UU. adalah buatan manusia. Disamping UU.
itu ada pula UU. yang bersifat murni, yaitu UU. yang dibuat oleh Tuhan juga disebut Wahyu Tuhan.
Wahyu inilah yang dihimpun dan dikodifikasi menjadi “KITAB SUCI”. Jadi kitab suci adalah semacam UU
yang pembuatnya adalah Tuhan, bukan manusia (apauruseya).
Didalam negara, UU. dari semua UU. disebut UUD. UUD. Itu mengatur pokok-pokok yang menjadi sendi
kehidupan bernegara dan dari UUD. itu dibuat UU. Pokoknya. Seperti halnya dengan UUD. itu, dalam
kehidupan beragama, semua peraturan dan ketentuan-ketentuan selanjutnya dirumuskan lebih
terperinci dengan menafsirkan ketentuan-ketentuan yang terdapat didalam kitab suci itu.
Tingkah laku manusia baik yang menjadi tujuan didalam pengaturan kehidupan ini disebut Dharmika
adalah perbuatan-perbuatan yang mengandung hakekat kebenaran yang menyangga masyarakat
(Dharma dharayate prajah).
Untuk memperoleh kepastian tentang kebenaran ini setiap tingkah laku harus mencerminkan kebenaran
hukum (Dharma), artinya tidak bertentangan dengan UU yang menguasainya. Dalam hal ini bagi umat
beragarna yang juga merupakan warga Negara mereka harus tunduk pada dua kekuasaan hukum yaitu:
Hukum yang bersumber pada perundang-undangan Negara seperti UUD, UUP, UU dan peraturan-
peraturan pelaksanaan lainnya. Hukum yang bersumber pada kitab suci, sesuai menurut agamanya.
Bagi umat Hindu atau kelompok masyarakat yang beragama Hindu maka kitab suci yang menjadi sumber
hukurn bagi mereka adalah Weda. Ketentuan mengenai Weda sebagai sumber hukum dinyatakan
dengan tegas didalam berbagai kitab suci, antara lain:
I. Manawadharmacastra.
a. MDs. II. 6. Weda’khilo dharma mulam smrti sile ca tad widäm, acãrasca iwa
sadhunama atmanastustirewaca.
Artinya :
Seluruh Weda merupakan sumber utama dan pada dharma 1) (Agama Hindu) kemudian barulah Smrti
disamping Sila (kebiasaan-kebiasaan yang baik dan orang-orang yang menghayati Weda) dan kemudian
acara tradisi-tradisi dan orang-orang suci) serta akhirnya atmanastusti (rasa puas diri sendiri). Dari pasal
ini, kita mengenal sumber-sumber buku sesuai urut-urutannya adalah seperti istilah berikut:
1. Weda, 2. Smrti, 3. Sila, 4. Acara (Sadacara) dan, 5. Atmanastusti.
Untuk lebih menegaskan tentang kedudukannya sumber-sumber hukum itu. lebih Ianjut dinyatakan
didalam pasal berikut. Manawadharmaçastra II. 10.
• II. 10. Çrutistu Wedo wijneyo dharmaçastram tu wai smrtih,
e sarwarthawam imamsye tãbhbyãm dharmohi nirbabhau.
Artinya:
Sesungguhnya Sruti (Wahyu) adalah Weda demikian pula Smrti itu adalah dharmasastra, keduanya tidak
boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari
Agama Hindu (Dharma).
Dari pasal ini ditegaskan dua dari kelima jenis sumber hukum Hindu, Sruti dan Smrti, merupakan dasar
utama yang kebenarannya tidak boleh dibantah. Kedudukan pasal II.10 dan II.6, merupakan dasar yang
harus dipegang teguh dalam hal kemungkinan timbulnya perbedaan pengertian mengenai penafsiran
hukum yang terdapat didalam berbagai kitab agama rnaka yang pertama lebih penting dari yang
berikutnya. Ketentuan ini ditegaskan lebih lanjut di dalam Manawadharmasastra II. 14. sbb :
__________________________
1). Dharma adalah nama asal agama Hindu. luga disebut Sanatana Dharma. Nama Hindu baru-baru saja
dimaksud untuk menyebutkan agama dan kepercayaan termasuk semua kebudayaan yang berkembang
dilembah sungai Indus (Pakistan dan India Utara) yaitu agama yang bersumber pada Wedà.
• MDs. II. 14. Çrutidwaidham tu yatrasyattatra dharmawubhau smrtau,
ubhawapi hi tau dharmau samyaguktau manisibhih.
Artinya :
Bila dua dan kitab Sruti bertentangan satu dengan yang lain, keduanya diterima sebagai hukum karena
keduanya telah diterima oleh orang-orang suci sebagai hukum.
Dari ketentuan ini maka tidak ada ketentuan yang membenarkan adanya pasal yang satu harus
dihapuskan oleh pasal yang lain melainkan keduanya harus diterima sebagai hukum.
Disamping pasal-pasal masih ada pasal Iainnya yang penting pula artinya didalam memberi definisi
tentang pengertian sumber hukum itu, yaitu Manawadharmasastra II, 12 yang lengkapnya berbunyi
sbb.:
• MDs. II. 12. Wedah smrtih sadacarah swasya ca priyamatmanah.
etaccaturwidham prahuh saksad dharmasya laksanam.
Artinya :
Weda, Smrti, sadacara dan atmanastusti mereka nyatakan sebagal empat tingkat usaha untuk
mendefinisikan dharma.
Dari Bab II pasal 12 ini menyederhanakan pasal 6 dengan meniadakan “Sila” karma Sila dan Sadacara,
artinya juga kebiasaan. Sila berarti kebiasaan, sedangkan sãdãcãra adalah tradisi. Tradisi dan kebiasaan
adalah kebiasaan pula.
Sarasamuccaya.
Kitab ini hanya memberi penjelasan singkat mengenai status Weda dimana dalam ps. 37 dan 39 kita
jumpai keterangan berikut:
(a). SS. 37. Çrutirwedah samakhyate dharmaçastram tu wai smrti,
te sarwatheswamimamsye tabhyam dharmo winirbhrtah.
Artinya:
Ketahuilah olehmu cruti itu adalah Weda (dan) Smrti itu sesungguhnya adalah dharmacastra : keduanya
barus diyakini dan dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu.
Penjelasan dan terjemahan didalam kitab Sarasamuccaya yang diterbitkan oleh Departemen Agama
hanya mendasarkan terjemahan bahasa kuno Jawa kunonya, dimana menurut terjemahan Jawa kunonya
itu telah diperluas artinya seperti istilah Weda diterjemahkan dengan catur Weda, walaupun demikian
pengertian semula tidak merobah maknanya.
Yang menarik perhatian dan perlu dicamkan ialah bahwa baik Manawadharmaçastra maupun
Sarasamuccaya menganggap bahwa Sruti dan Smrti itu adalah dua sumber pokok dari pada Dharma.
(b). SS. 39. Itihãsapurãnãbhyãm wedam samupawrmhayet,
bibhetyalpaçrutãdvedo mãmayam pracarisyati.
Artinya :
Hendaknya Weda itu dihayati dengan sempurna melalui mempelajari otihasa dan Purina karena
pengetahuan yang sedikit itu menakutkan (dinyatakan) janganlah mendekati saya.
Penjelasan Sloka ini dan ayat terdahulu telah pula diperluas artinya sehingga dengan demikian akan jelas
artinya. Yang terpenting dapat kita pelajari dan ketentuan itu ialah penambahan ketentuan ilmu bantu
yang dapat dipelajari dan kitab Itihãsa dan Purna. Kitab-kitab Itihsa ini adalah kitab-kitab Mahbharata
dan Ramayana sedangkan Purna adalah merupakan kitab-kitab kuno, misa babad-babad, yang memuat
sejarah keturunan, Dinasti raja-raja Hindu. Jadi secara ilmu hukum modern kedua jenis buku ini
merupakan buku tambahan yang memuat ajaran-ajaran hukum yang bersifat dokrinair, memuat sumber
keterangan mengenai Jurisprudensi dalam bidang hukum Hindu.
Weda sebagai sumber hukum bersifat memaksa.
Ketentuan-ketentuan yang menggariskan Weda sebagai sumber hukum, bersifat memaksa dan mutlak
karena didalam Manawadharmaastra dinyatakan sehagai berikut :
a). M. Ds. II. 2. Kămătmată na prasastă na cai wehăstya kamata, kãmyohi
wedădhigamah karmayogasca waidikah.
Artinya :
Berbuat hanya karena nafsu untuk memperoleh pahala tidaklah terpuji namun berbuat tanpa keinginan
akan pahala tidak dapat kita jumpai di dunia ini karena keinginan-keinginan itu bersumber dan
mempelajari Weda dan karena itu setiap perbuatan diatur oleh Weda.
b). M. Ds. II. 5. Tesu samyang warttamăno gacchatya maralokatam,
yathă samkalpitămcceha sarwăn kámăn samasnute.
Artinya :
Ketahuilah bahwa ia yang selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah diatur dengan cara yang
benar, mencapai tingkat kebebasan yang sempurna kelak dan memperoleh semua keinginan yang ia
mungkin inginkan.
c). M. Ds. II. 11. Yo ‘wamanyeta te mûle hetu śastra śrayad dwijah.
sa sădhubhir bahiskaryo năstiko wedanindakah.
Artinya :
Setiap dwijati yang menggantikan dengan lembaga dialektika dan dengan memandang rendah kedua
sumber hukum (śruti-smrti) harus dijauhkan dari orang-orang bajik sebagai seorang atheis dan yang
menentang Weda.
d). M. Dhs. XII. 94. Pitridewamanusyănăm wedaścaksuh śănatanah,
aśakyamcă prameyamca weda śăstramiti sthitih.
Artinya :
Weda adalah mata yang abadi dari para leluhur, dewa-dewa dan manusia; peraturan-peraturan dalam
Weda sukar dipahami manusia dan itu adalah kenyataan.
e). M. Dhs. XII. 95. Ya weda wăhyăh smrtayo yăśca kăsca kudrstayah,
sarwastanisphalăh pretya tamo nisthăhităh smrtah.
Artinya :
Seamua tradisi dan sistim kefilsafatan yang tidak bersumber pada Weda tidak akan memberi pahala
kelak sesudah mati karena dinyatakan bersumber pada kegelapan.
f). Dhs. XII. 96. Utpadyante syawante ca ynyato nyani knicit,
tänyarwakkalikataya nisphaIinyanrt ni ca,
Artinya :
Semua ajaran yang timbul yang menyimpang dari Weda segera akan musnah tidak berharga dan palsu
karena tak berpahala.
g). M. Dhs. XII. 99 Wibharti sarwabhtitni wedaastram santanam,
tasmdetat param manye yajjantorasya sdhanam.
Artinya :
Ajaran Weda menyangga semua mahkluk ciptaan ini, karena itu saya berpendapat, itu harus dijunjung
tinggi sebagai jalan menuju kebahagiaan semua insan.
h). M. Dhs. XII. 100. Senapatyam ca rajyam ca dandanetri twamewa ca,
sarwa lokadhipatyam ca wedaastrawid arhati.
Artinya :
Panglima Angkatan Bersenjata, Pejabat Pemerintah, Pejabat Pengadilan dan penguasa atas semua dunia
ini hanya layak kalau mengenal ilmu Weda itu.
Masih beberapa pasal yang menekankan pentingnya Weda, baik sebagai ilmu maupun sebagai alat
didalam membina masyarakat. Oleh karena itu berdasarkan ketentuan-ketentuan itu penghayatan Weda
bersifat penting karena bermanfaat bukan saja kepada orang itu tetapi juga kepada yang akan dibinanya.
Karena itu Weda bersifat obligator baik untuk dihayati, diamalkan dan sebagai ilmu.
Dengan mengutip beberapa pasal yang relatif penting artinya dalam menghayati Weda itu, kiranya akan
jelas mengapa Weda, baik Sruti maupun Smrti sangat penting sekali artinya. Kebajikan dan kebahagiaan
adalah karena Dharma berfungsi sebagaimana mestinya. Inilah yang menjadi kakekat dan tujuan dari
pada weda itu