Anda di halaman 1dari 30

TUGAS TENTANG ELEMEN-ELEMEN DALAM JEMBATAN

I. Pondasi Tiang Pancang

Secara definitif, tiang pancang adalah bagian-bagian konstruksi yang dibuat dari
berbagai bahan bangunan (kayu, beton atau baja) yang digunakan untuk mentransmisikan
beban-beban permukaan ke tingkat-tingkat permukaan yang lebih rendah dalam massa tanah.
Hal tersebut dapat merupakan distribusi vertikal dari beban sepanjang poros tiang pancang
aau pemakaian beban secara langsung terhadap lapisan yang lebih rendah sepanjang ujung
tiang pancang.

Pondasi tiang pancang digunakan untuk mentransfer beban yang dipikul pondasi
(struktur serta penggunanya) ke lapisan tanah yang dalam, dimana dapat dicapai daya dukung
yang lebih baik. Pondasi tiang pancang ini juga berguna untuk menahan gaya angkat akibat
tingginya muka air tanah dan gaya dinamis akibat gempa.

Jika dilihat dari pemakaiannya, maka pondasi tiang pancang dapat dibedakan menjadi
2 jenis, yaitu tiang pancang tunggal dengan tiang pancang kelompok. Sedangkan, bila dilihat
dari bahan yang dipakai menjadi tiang pancang, maka tiang pancang dapat dibedakan menjadi
tiang pancang kayu, tiang pancang baja, tiang pancang beton pracetak, tiang pancamg beton
prategang dan tiang pancang komposit.

Kegunaan Pondasi Tiang Pancang

Secara terperinci, kegunaan dari pondasi tiang pancang ini meliputi beberapa hal, yaitu
diantaranya adalah :

1. Untuk membawa beban-beban konstruksi di atas permukaan tanah ke dalam tanah melalui
lapisan tanah. Dalam hal ini, trasfer gaya yang terjadi tidak hanya menyangkut beban gaya
vertikasl saja, namun juga meliputi gaya lateral.

2. Untuk menahan gaya desakan ke atas yang sering kali menyebabkan terjadinya kegagalan
guling, seperti untuk telapak ruangan bawah tanah di bawah bidang batas air jenuh.
Pondasi telapak dapat juga dipakai untuk menopang kaki-kaki menara terhadap kegagalan
guling, dimana gaya momen yang dihasilkan dari beban horisontal (dalam hal ini beban
angin) dapat ditahan oleh gaya friksi tanah terhadap permukaan pondasi tiang pancang.
3. Dapat memampatkan endapan tak berkohesi yang bebas lepas di dalam tanah dengan
melalui kombinasi perpindahan isi tiang pancang dan getaran dorongan saat
pemancangan. Dalam pelaksanaannya, pondasi tiang pancang tersebut dapat ditarik keluar
kemudian.

4. Mengontrol penurunan bila kaki-kaki yang tersebar atau telapak berada pada tanah tepi
atau didasari oleh sebuah lapisan yang kemampatannya tinggi.

5. Membuat tanah di bawah pondasi sebuah mesin menjadi kaku untuk mengontrol
amplitudo getaran dan frekwensi alamiah dari sistem mesin tersebut bila dijalankan.
Dalam hal ini, transfer beban dinamis akibat getaran (vibrasi) sebuah mesin dapat
dilaksanakan dengan baik tanpa harus mengubah struktur tanah, dimana tanah menjadi
kaku dan teredam dari vibrasi mesin.

6. Sebagai faktor keamanan tambahan di bawah tumpuan jembatan dan tiang khususnya, jika
erosi merupakan persoalan yang potensial. Dengan adanya pondasi tiang pancang,
kegagalan gelincir yang dapat disebabkan oleh erosi dan beban horisontal akan dapat
diatasi.

7. Dalam konstruksi yang didirikan pada lepas pantai, pondasi tiang pancang digunakan untuk
meneruskan beben-beban yang terjadi di atas permukaan air pada struktur ke dalam air
dan ke dalam dasar tanah yang mendasari air tersebut. Hal ini berlaku pada pondasi tiang
pancang yang ditanamkan sebagian ke dalam tanah pada dasar air dan yang terpengaruh
oleh beban vertikal dan tekuk serta beban lateral. Dengan demikian, dengan dipakainya
pondasi tiang pancang pada suatu struktur pada lepas pantai, selain memanfaatkan daya
dukung tanah seperti pondasi pada umumnya, juga memanfaatkan daya dukung air untuk
menjaga kestabilan struktur.

Macam – macam Tiang pancang jika dilihat dari bahan penyusunnya ada 3 yaitu :

1. Tiang pancang kayu

2. Tiang pancang beton

3. Tiang pancang baja


A. Tiang Pancang Kayu
Tiang pancang kayu dibuat dari batang pohon yang cabang-cabangnya telah dipotong
dengan hati-hati, biasanya diberi bahan pengawet dan didorong dengan ujungnya yang kecil
sebagai bagian yang runcing. Kadang-kadang ujungnya yang besar didorong untuk maksud-
maksud khusus, seperti dalam tanah yang sangat lembek dimana tanah tersebut akan bergerak
kembali melawan poros. Kadang kala ujungnya runcing dilengkapi dengan sebuah sepatu
pemancangan yang terbuat dari logam bila tiang pancang harus menembus tanah keras atau
tanah kerikil.
Pemakaian tiang pancang kayu ini adalah cara tertua dalam penggunaan tiang pancang
sebagai pondasi. Tiang kayu akan tahan lama dan tidak mudah busuk apabila tiang kayu
tersebut dalam keadaan selalu terendam penuh di bawah muka air tanah. Tiang pancang dari
kayu akan lebih cepat rusak atau busuk apabila dalam keadaan kering dan basah yang selalu
berganti-ganti.
Sedangkan pengawetan serta pemakaian obat-obatan pengawet untuk kayu hanya akan
menunda atau memperlambat kerusakan dari pada kayu, akan tetapi tetap tidak akan dapat
melindungi untuk seterusnya. Pada pemakaian tiang pancang kayu biasanya tidak diijinkan
untuk menahan muatan lebih besar dari 25 sampai 30 ton untuk setiap tiang.
Tiang pancang kayu ini sangat cocok untuk daerah rawa dan daerah-daerah dimana
sangat banyak terdapat hutan kayu seperti daerah Kalimantan, sehingga mudah memperoleh
balok/tiang kayu yang panjang dan lurus dengan diameter yang cukup besar untuk di gunakan
sebagai tiang pancang.
 Keuntungan pemakaian tiang pancang kayu

• Tiang pancang dari kayu relative lebih ringan sehingga mudah dalam pengangkutan.
• Kekuatan tarik besar sehingga pada waktu pengangkatan untuk pemancangan tidak
menimbulkan kesulitan seperti misalnya pada tiang pancang beton precast.

• Mudah untuk pemotongannya apabila tiang kayu ini sudah tidak dapat masuk lagi ke
dalam tanah.

• Tiang pancang kayu ini lebih baik untuk friction pile dari pada untuk end bearing pile
sebab tegangan tekanannya relative kecil.

• Karena tiang kayu ini relative flexible terhadap arah horizontal di bandingkan dengan
tiang-tiang pancang selain dari kayu, maka apabila tiang ini menerima beban horizontal
yang tidak tetap, tiang pancang kayu ini akan melentur dan segera kembali ke posisi
setelah beban horizontal tersebut hilang. Hal seperti ini sering terjadi pada dermaga
dimana terdapat tekanan kesamping dari kapal dan perahu.

 Kerugian pemakaian tiang pancang kayu

• Karena tiang pancang ini harus selalu terletak di bawah muka air tanah yang terendah agar
dapat tahan lama, maka kalau air tanah yang terendah itu letaknya sangat dalam, hal ini
akan menambah biaya untuk penggalian.

• Tiang pancang yang di buat dari kayu mempunyai umur yang relative kecil di bandingkan
dengan tiang pancang yang di buat dari baja atau beton, terutama pada daerah yang muka
air tanahnya sering naik dan turun.

• Pada waktu pemancangan pada tanah yang berbatu ( gravel ) ujung tiang pancang kayu
dapat dapat berbentuk berupa sapu atau dapat pula ujung tiang tersebut hancur. Apabila
tiang kayu tersebut kurang lurus, maka pada waktu dipancangkan akan menyebabkan
penyimpangan terhadap arah yang telah ditentukan.

• Tiang pancang kayu tidak tahan terhadap benda-benda yang agresif dan jamur yang
menyebabkan kebusukan.

Gambar Tiang Pancang Kayu


B. Tiang Pancang Beton
1. Precast Renforced Concrete Pile
Precast Renforced Concrete Pile adalah tiang pancang dari beton bertulang yang
dicetak dan dicor dalam acuan beton ( bekisting ), kemudian setelah cukup kuat lalu diangkat
dan di pancangkan. Karena tegangan tarik beton adalah kecil dan praktis dianggap sama
dengan nol, sedangkan berat sendiri dari pada beton adalah besar, maka tiang pancang beton
ini haruslah diberi penulangan-penulangan yang cukup kuat untuk menahan momen lentur
yang akan timbul pada waktu pengangkatan dan pemancangan. Karena berat sendiri adalah
besar, biasanya pancang beton ini dicetak dan dicor di tempat pekerjaan, jadi tidak membawa
kesulitan untuk transport.
Tiang pancang ini dapat memikul beban yang besar ( >50 ton untuk setiap tiang ), hal
ini tergantung dari dimensinya. Dalam perencanaan tiang pancang beton precast ini panjang
dari pada tiang harus dihitung dengan teliti, sebab kalau ternyata panjang dari pada tiang ini
kurang terpaksa harus di lakukan penyambungan, hal ini adalah sulit dan banyak memakan
waktu.
Reinforced Concrete Pile penampangnya dapat berupa lingkaran, segi empat, segi delapan.

 Keuntungan pemakaian Precast Concrete Reinforced Pile

• Precast Concrete Reinforced Pile ini mempunyai tegangan tekan yang besar, hal ini
tergantung dari mutu beton yang di gunakan.

• Tiang pancang ini dapat di hitung baik sebagai end bearing pile maupun friction pile.

• Karena tiang pancang beton ini tidak berpengaruh oleh tinggi muka air tanah seperti tiang
pancang kayu, maka disini tidak memerlukan galian tanah yang banyak untuk poernya.

• Tiang pancang beton dapat tahan lama sekali, serta tahan terhadap pengaruh air maupun
bahan-bahan yang corrosive asal beton dekkingnya cukup tebal untuk melindungi
tulangannya.

 Kerugian pemakaian Precast Concrete Reinforced Pile

• Karena berat sendirinya maka transportnya akan mahal, oleh karena itu Precast reinforced
concrete pile ini di buat di lokasi pekerjaan.

• Tiang pancang ini di pancangkan setelah cukup keras, hal ini berarti memerlukan waktu
yang lama untuk menunggu sampai tiang beton ini dapat dipergunakan.
• Bila memerlukan pemotongan maka dalam pelaksanaannya akan lebih sulit dan
memerlukan waktu yang lama.

• Bila panjang tiang pancang kurang, karena panjang dari tiang pancang ini tergantung dari
pada alat pancang ( pile driving ) yang tersedia maka untuk melakukan panyambungan
adalah sukar dan memerlukan alat penyambung khusus.

2. Precast Prestressed Concrete Pile


Precast Prestressed Concrete Pile adalah tiang pancang dari beton prategang yang
menngunakan baja penguat dan kabel kawat sebagai gaya prategangnya
 Keuntungan pemakaian Precast prestressed concrete pile

• Kapasitas beban pondasi yang dipikulnya tinggi.

• Tiang pancang tahan terhadap karat.

• Kemungkinan terjadinya pemancangan keras dapat terjadi.

 Kerugian pemakaian Precast prestressed concrete pile

• Pondasi tiang pancang sukar untuk ditangani.

• Biaya permulaan dari pembuatannya tinggi.

• Pergeseran cukup banyak sehingga prategang sukar untuk disambung.


3. Cast in Place Pile
Pondasi tiang pancang tipe ini adalah pondasi yang di cetak di tempat dengan jalan
dibuatkan lubang terlebih dahulu dalam tanah dengan cara mengebor tanah seperti pada
pengeboran tanah pada waktu penyelidikan tanah. Pada Cast in Place ini dapat dilaksanakan
dua cara:
1. Dengan pipa baja yang dipancangkan ke dalam tanah, kemudian diisi dengan beton dan
ditumbuk sambil pipa tersebut ditarik keatas.

2. Dengan pipa baja yang di pancangkan ke dalam tanah, kemudian diisi dengan beton,
sedangkan pipa tersebut tetap tinggal di dalam tanah.

 Keuntungan pemakaian Cast in Place

• Pembuatan tiang tidak menghambat pekerjan.

• Tiang ini tidak perlu diangkat, jadi tidak ada resiko rusak dalam transport.

• Panjang tiang dapat disesuaikan dengan keadaan dilapangan.


 Kerugian pemakaian Cast in Place
• Pada saat penggalian lubang, membuat keadaan sekelilingnya menjadi kotor akibat tanah
yang diangkut dari hasil pengeboran tanah tersebut.
• Pelaksanaannya memerlukan peralatan yang khusus.
• Beton yang dikerjakan secara Cast in Place tidak dapat dikontrol.

Gambar dan Foto Tiang Pancang Beton


C. Tiang Pancang Baja.
Kebanyakan tiang pancang baja ini berbentuk profil H. karena terbuat dari baja maka
kekuatan dari tiang ini sendiri sangat besar sehingga dalam pengangkutan dan pemancangan
tidak menimbulkan bahaya patah seperti halnya pada tiang beton precast. Jadi pemakaian
tiang pancang baja ini akan sangat bermanfaat apabila kita memerlukan tiang pancang yang
panjang dengan tahanan ujung yang besar.
Tingkat karat pada tiang pancang baja sangat berbeda-beda terhadap texture tanah, panjang
tiang yang berada dalam tanah dan keadaan kelembaban tanah.
a. Pada tanah yang memiliki texture tanah yang kasar/kesap, maka karat yang terjadi karena
adanya sirkulasi air dalam tanah tersebut hampir mendekati keadaan karat yang terjadi
pada udara terbuka.
b. Pada tanah liat ( clay ) yang mana kurang mengandung oxygen maka akan menghasilkan
tingkat karat yang mendekati keadaan karat yang terjadi karena terendam air.

c. Pada lapisan pasir yang dalam letaknya dan terletak dibawah lapisan tanah yang padat
akan sedikit sekali mengandung oxygen maka lapisan pasir tersebut juga akan akan
menghasilkan karat yang kecil sekali pada tiang pancang baja.

Pada umumnya tiang pancang baja akan berkarat di bagian atas yang dekat dengan
permukaan tanah. Hal ini disebabkan karena Aerated-Condition ( keadaan udara pada pori-
pori tanah ) pada lapisan tanah tersebut dan adanya bahan-bahan organis dari air tanah. Hal ini
dapat ditanggulangi dengan memoles tiang baja tersebut dengan ( coaltar ) atau dengan sarung
beton sekurang-kurangnya 20” ( ± 60 cm ) dari muka air tanah terendah.
Karat /korosi yang terjadi karena udara ( atmosphere corrosion ) pada bagian tiang yang
terletak di atas tanah dapat dicegah dengan pengecatan seperti pada konstruksi baja biasa.

 Keuntungan pemakaian Tiang Pancang Baja.


• Tiang pancang ini mudah dalam dalam hal penyambungannya.

• Tiang pancang ini memiliki kapasitas daya dukung yang tinggi.

• Dalam hal pengangkatan dan pemancangan tidak menimbulkan bahaya patah.

 Kerugian pemakaian Tiang Pancang Baja.


• Tiang pancang ini mudah mengalami korosi.

• Bagian H pile dapat rusak atau di bengkokan oleh rintangan besar.


Gambar dan Foto Tiang Pancang Baja
Pondasi Sumuran
Pondasi sumuran adalah jenis pondasi dalam yang dicor di tempat dengan
menggunakan komponen beton dan batu belah sebagai pengisinya. Disebut pondasi sumuran
karena pondasi ini dimulai dengan menggali tanah berdiameter 60 - 100 cm seperti menggali
sumur.
Kedalaman pondasi ini dapat mencapai 8 meter. Pada bagian atas pondasi yang
mendekati sloof, diberi pembesian untuk mengikat sloof. Pondasi jenis ini digunakan bila
lokasi pembangunannya jauh sehingga tidak memungkinkan dilakukan transportasi untuk
mengangkut tiang pancang.
Pada umumnya pondasi sumuran ini terbuat dari beton bertulang atau beton pracetak,
yang umum digunakan pada pekerjaan jembatan di Indonesia adalah dari silinder beton
bertulang dengan diameter 250 cm, 300 cm, 350 cm, dan 400 cm.

Persyaratan Pondasi Sumuran

1. Daya dukung pondasi harus lebih besar daripada beban yang dipikul oleh pondasi
tersebut.
2. Penurunan yang terjadi harus sesuai dengan batas yang diijinkan (toleransi) yaitu 1"
(2,54cm).

Alasan Menggunakan Pondasi Sumuran


Pondasi sumuran adalah pondasi yang khusus, dalam perakteknya terdapat beberapa kondisi
yang dapat dijadikan alasan untuk penggunaannya, diantaranya adalah sebagai berikut :

 Bila tanah keras terletak lebih dari 3 m, pondasi plat kaki atau jenis pondasi langsung
lainnya akan menjadi tidak hemat (galian tanahnya terlalu dalam & lebar).
 Bila air permukaan tanah terletak agak tinggi, konstruksi plat beton akan sulit
dilaksanakan karena air harus dipompa dan dibuang ke luar lubang galian.
 Dalam kondisi ini, pondasi sumuran menjadi pilihan tepat untuk konstruksi yang tanah
kerasnya terletak 3-5 m.

Walaupun lokasi pembangunan memungkinkan, pondasi jenis ini jarang digunakan.


Selain boros adukan beton, penyebab lainnya adalah sulit dilakukan pengontrolan hasil cor
beton di tempat yang dalam.
Kelebihan :

 Alternatif penggunaan pondasi dalam, jika material batu banyak dan bila tidak
dimungkinkan pengangkutan tiang pancang.
 Tidak diperlukan alat berat.
 Biayanya lebih murah untuk tempat tertentu.

Kekurangan :

 Bagian dalam dari hasil pasangan pondasi tidak dapat di kontrol (Karena batu dan adukan
dilempar/ dituang dari atas)
 Pemakaian bahan boros.
 Tidak tahan terhadap gaya horizontal (karena tidak ada tulangan).
 Untuk tanah lumpur, pondasi ini sangat sulit digunakan karena susah dalam menggalinya.

Gambar dan Foto Pondasi Sumuran


II. Pondasi Boring

Seiring perkembangan jaman, pembangunan di Indonesia telah menyebar, tidak hanya


terpusat di kota-kota besar saja, tapi telah merambah ke daerah-daerah, di seluruh pelosok
tanah air. Dalam pembangunan tersebut banyak bangunan besar seperti gedung, jembatan,
menara dan bangunan lain didirikan. Untuk menahan beban bangunan yang berat tersebut
tentunya diperlukan pondasi yang kokoh. Apabila kondisi tanah di permukaan tidak mampu
menahan bangunan tersebut, maka beban bangunan harus diteruskan ke lapisan tanah keras di
bawahnya. Untuk itu sering dipakai konstruksi pondasi dalam berupa tiang pancang atau
bored pile. Pondasi tiang pancang sering dipakai pada lahan yang masih luas dan kosong,
dimana getaran yang ditimbulkan pada saat aktifitas pemancangan berlangsung tidak
mengganggu lingkungan sekitarnya, Namun jika bangunan tersebut didirikan di lokasi yang
telah padat penduduknya, maka getaran yang ditimbulkan akan menimbulkan masalah karena
sangat mengganggu dan dapat merusak bangunan di sekitarnya. Dalam hal ini pemakaian
pondasi bored pile merupakan pilihan pondasi yang tepat. Pada proyek besar dimana sarana
transportasinya mendukung, dalam pembuatan bored pile sering digunakan alat berat berupa
crane. Namun untuk proyek kecil apalagi jika sarana transportasinya kurang mendukung,
penggunaan crane sering mengalami kesulitan karena untuk mobilisasinya dibutuhkan
pendanaan yang cukup besar, sehingga biaya proyek menjadi tidak ekonomis lagi.
Pengeboran dengan sistem dry drilling :
tanah dibor dengan menggunakan mata bor spiral dan diangkat setiap interval
kedalaman 0,5 meter. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai kedalaman yang ditentukan.
Pengeboran dengan sistem wash boring :
tanah dikikis dengan menggunakan mata bor cross bit yang mempunyai kecepatan
putar 375 rpm dan tekanan +/- 200 kg. Pengikisan tanah dibantu dengan tiupan air lewat
lubang stang bor yang dihasilkan pompa sentrifugal 3″. Hal ini menyebabkan tanah yang
terkiki terdorong keluar dari lubang bor.
Setelah mencapai kedalaman rencana, pengeboran dihentikan, sementara mata bor
dibiarkan berputar tetapi beban penekanan dihentikan dan air sirkulasi tetap berlangsung terus
sampai cutting atau serpihan tanah betul-betul terangkat seluruhnya. Selama pembersihan ini
berlangsung, baja tulangan dan pipa tremi sudah disiapkan di dekat lubang bor. Setelah cukup
bersih, stang bor diangkat dari lubang bor. Dengan bersihnya lubang bor diharapkan hasil
pengecoran akan baik hasilnya.
Gambar dan Foto Pondasi Boring
III. Pondasi Kayu
Pondasi kayu dengan bahan material kayu dapat digunakan sebagai pondasi pada suatu
dermaga. Pondasi kayu dibuat dari batang pohon yang cabang-cabangnya telah dipotong
dengan hati-hati, biasanya diberi bahan pengawet dan didorong dengan ujungnya yang kecil
sebagai bagian yang runcing. Kadang-kadang ujungnya yang besar didorong untuk maksud-
maksud khusus, seperti dalam tanah yang sangat lembek dimana tanah tersebut akan bergerak
kembali melawan poros. Kadang kala ujungnya runcing dilengkapi dengan sebuah sepatu
pemancangan yang terbuat dari logam bila tiang pancang harus menembus tanah keras atau
tanah kerikil.
Pemakaian ponasi kayu ini adalah cara tertua dalam penggunaan sebagai pondasi.
Tiang kayu akan tahan lama dan tidak mudah busuk apabila tiang katu tersebut dalam
keadaan selalu terendam penuh di bawah muka air tanah. Pondasi dari kayu akan lebih cepat
rusak atau busuk apabila dalam keadaan kering dan basah yang selalu berganti-ganti.
Sedangkan pengawetan serta pemakaian obat-obatan pengawet untuk kayu hanya akan
menunda atau memperlambat kerusakan daripada kayu, akan tetapi tetap tidak akan dapat
melindungi untuk seterusnya. Pondasi kayu ini sangat cocok untuk daerah rawa dan daerah-
daerah dimana sangat banyak terdapat hutan kayu seperti daerah Kalimantan, sehingga mudah
memperoleh balok/tiang kayu yang panjang dan lurus dengan diameter yang cukup besar
untuk digunakan sebagai Pondasi.
Persyaratan dari pondasi yang terbuat dari tongkat kayu tersebut adalah : bahan kayu
yang dipergunakan harus cukup tua, berkualitas baik dan tidak cacat, contohnya kayu berlian.
Semula tiang pancang kayu harus diperiksa terlebih dahulu sebelum ditancapkan untuk
memastikan bahwa pondasi kayu tersebut memenuhi ketentuan dari bahan dan toleransi yang
diijinkan. Semua kayu lunak yang digunakan untuk tiang pancang memerlukan pengawetan,
yang harus dilaksanakan sesuai dengan AASHTO M133 – 86 dengan menggunakan instalasi
peresapan bertekanan.
Bilamana instalasi semacam ini tidak tersedia, pengawetan dengan tangki terbuka
secara panas dan dingin, harus digunakan. Beberapa kayu keras dapat digunakan tanpa
pengawetan, tetapi pada umumnya, kebutuhan untuk mengawetkan kayu keras tergantung
pada jenis kayu dan beratnya kondisi pelayanan.

Keuntungan pemakaian pondasi kayu


 Pondasi dari kayu relatif lebih ringan sehingga mudah dalam pengangkutan.
 Kekuatan tarik besar sehingga pada waktu pengangkatan tidak menimbulkan kesulitan
 Mudah untuk pemotongannya apabila tiang kayu ini sudah tidak dapat masuk lagi ke
dalam tanah.
 Pondasi kayu ini lebih baik untuk friction pile dari pada untuk end bearing pile sebab
tegangan tekanannya relatif kecil
 Karena tiang kayu ini relatif flexible terhadap arah horizontal dibandingkan dengan
selain dari kayu, maka apabila tiang ini menerima beban horizontal yang tidak tetap,
pondasi kayu ini akan melentur dan segera kembali ke posisi setelah beban horizontal
tersebut hilang.

Kerugian pemakaian pondasi kayu:


 Karena pondasi kayu ini harus selalu terletak di bawah muka air tanah yang terendah
agar dapat tahan lama, maka kalau air tanah yang terendah itu letaknya sangat dalam,
hal ini akan menambah biaya untuk penggalian.
 Pondasi yang di buat dari kayu mempunyai umur yang relatif kecil di bandingkan
dengan yang di buat dari baja atau beton terutama pada daerah yang muka air
tanahnya sering naik dan turun.
 Pada waktu pemancangan pada tanah yang berbatu (gravel) ujung kayu dapat
berbentuk berupa sapu atau dapat pula ujung tiang tersebut hancur. Apabila tiang kayu
tersebut kurang lurus, maka pada waktu ditancapkan akan menyebabkan
penyimpangan terhadap arah yang telah ditentukan.
 Pondasi kayu tidak tahan terhadap benda-benda yang agresif dan jamur yang
menyebabkan kebusukan.

Gambar Pondasi Kayu


IV. Abutment
Pada jembatan ada yang disebut dengan kepala jembatan (abutment) yang merupakan
bagian dari bawah bangunan jembatan. Abutment mempunyai fungsi untuk memikul semua
beban yang bekerja pada bangunan atas jembatan serta berfungsi untuk meneruskan beban
yang dipikul bangunan atas ke lapisan tanah dasar dengan aman sekaligus sebagai bangunan
penahan tanah serta menerima tekanan dan diteruskan ke pondasi.
Ada berbagai bentuk dan jenis abutment tetapi dalam pemilihannya perlu dipertimbangkan
bentuk dari bangunan atas, kondisi tanah pondasi serta kondisi bangunannya. Adapun jenis-
jenis abutment terdiri dari beberapa tipe atau bentuk yang umum diantaranya :
1. Abutment tipe Gravitasi :
Memperoleh kekuatan dan ketahanan terhadap gaya-gaya yang bekerja dengan
menggunakan berat sendiri, karena bentuknya yang sederhana begitu juga dengan
pelaksanaannya tidak begitu rumit maka abutment jenis ini sering dipakai pada struktur
yang tidak terlalu tinggi dan tanah pondasinya yang baik. Pada umumnya material yang
dipakai merupakan pasangan batu atau beton tumbuk.
2. Abutment tipe T terbalik :
Merupakan tembok penahan dengan balok kantilever tersusun dari suatu tembok
memanjang sebagai suatu pelat kekuatan dari tembok. Ketahanan dari gaya-gaya yang
bekerja diperoleh dari berat sendiri serta berat tanah diatas pelat tumpuan. Abutment jenis
ini bentuknya lebih langsing dari pada tipe gravitasi dan digunakan pada konstruksi yang
lebih tinggi dan material yang digunakan adalah beton bertulang.
3. Abutment tipe dengan penopang :
Tipe ini hampir mirip dengan abutment tipe T terbalik tetapi abutmen ini diberi penopang
pada sisi belakangnya (counterfort) yang bertujuan untuk memperkecil gaya yang bekerja
pada tenbok memanjang dan pada tumpuan. Abutmen tipe ini digunakan pada struktur
yang tinggi dan menggunakan material beton bertulang.

Gambar Abutment Jembatan


V. Balok Gelagar
Balok gelagar merupakan komponen struktur lentur yang tersusun dari beberapa
elemen pelat. Balok gelagar pada dasarnya adalah balok dengan ukuran penampang melintang
yang besar serta bentang yang panjang. Penampang melintang yang besar tersebut merupakan
konsekuensi dari panjangnya bentang balok.
Definisi lainnya yaitu Gelagar plat (girder plate), yaitu balok yang dibentuk dari
elemen-elemen pelat untuk mencapai penataan bahan yang lebih effisien dibanding dengan
yang biasa peroleh dari balok profil pabrikasi. Ada dua kegagalan yang dapat terjadi pada
komponen struktur lentur profil I yang mengelami lentur. Kegagalan pertama profil akan
mengalami lateral-torsional buckling (tekuk lateral) yang diakibatkan adanya displacemen
dan rotasi di tengah bentang, namun hal ini tidak mengalami perubahan bentuk. Kegagalan
kedua, profil akan mengalami local buckling (tekuk lokal) pada sayap tekan dan juga pada
pelat badan, sehingga mengakibatkan berubahnya bentuk profil, hal ini diakibatkan oleh
adanya rasio kelangsingan yang relatif sangat besar antara tinggi pelat badan terhadap
tebalnya (h/t). Hal tersebut dapat diatasi dengan cara memasang pertambatan lateral diantara
kedua tumpuannya.
Beban yang diterima oleh girder biasanya sangat besar, sehingga jika kita menggunakan
profil hasil pabrikasi (profil standar), akan menghasilkan berat sendiri yang cukup besar pula,
sehingga tidak effisien. Salah satu jalan untuk mengurangi berat sendiri, yaitu dengan cara
mempertinggi profil (membuat profil yang tidak standar). Namun dengan cara ini akan
mengakibatkan profil menjadi langsing dan akan mengalami local buckling bagian badan
profil, atau dengan kata lain bahwa profil akan berubah bentuknya.
Aplikasi balok gelagar pada dunia konstruksi pada umumnya digunakan untuk
konstruksi jembatan. Pada konstruksi jembatan, gelagar digunakan pada struktur atas. Fungsi
gelagar pada jembatan adalah memikul beban dari struktur yang berada di atasnya, kemudian
meneruskan beban tersebut ke abutment dan diteruskan lagi ke poer. Teknologi terbaru dalam
balok gelagar adalah gelagar baja dengan system flens prategang yaitu dengan penambahan
kabel baja / strand yang letakan pada flens bagian bawah gelagar guna meningkatkan
kapasitas gelagar baja dengan adanya momen balik (negatif momen) untuk mengurangi
momen positif. Penambahan kabel baja / strand pada gelagar baja komposit dapat
mengurangi penggunaan baja struktur gelagar baja komposit sehingga dapat mereduksi berat
sendiri baja dan mengurangi biaya konstruksi. Pada awalnya teknologi ini dimuai dengan
adanya teknologi perkuatan gelagar baja komposit dengan sistem eksternal prestressing.
Dengan demikian teknologi ini gelagar baja komposit yang telah terpasang/ lama dapat
ditingkatkan kapasitasnya. Akan tetapi pada beberapa kondisi perkuatan dengan sistem
eksternal prestresing terdapat kelemahan yaitu dengan adanya kebutuhan eksentrisitas yang
lebih untuk meningkatkan momen balik (negatif) sehingga dengan adanya eksentrisitas
tersebut dapat mengurangi tinggi bebas di bawah jembatan.

Gambar dan Foto Gelegar Beton dan Baja


VI. Rangka Jembatan

Perkembangan jembatan menurut Supriyadi dan Muntohar (2007) dapat diklasifikasikan


menjadi beberapa bentuk struktur atas jembatan yang telah berkembang hingga saat ini,
seperti yang diuraikan berikut ini:

1. Jembatan lengkung (arch bridge)

Jembatan lengkung busur dari bahan dasar batu, telah ditemukan pada masa lampau dimasa
Babylonia. Pada perkembangannya jembatan jenis ini telah semakin banyak ditinggalkan, jadi
hanya berupa sejarah. Jembatan jenis ini mempunyai struktur yang cukup kuat dilihat dari
bahannya

2. Jembatan rangka (truss bridge)

Jembatan rangka dapat terbuat dari bahan beton, kayu atau Baja. Jembatan kayu (wooden
truss) termasuk tipe klasik yang sudah banyak tertinggal mekanika bahannya. Jembatan
rangka kayu hanya terbatas untuk mendukung beban yang tidak terlalu besar. Pada
perkembangannya setelah ditemukan bahan baja, tipe rangka kayu jarang digunakan.
Jembatan rangka baja terbuat dari bahan baja dan dibuat menyambung beberapa batang
dengan las atau pun baut yang membentuk pola-pola segitiga. Jembatan rangka baja biasanya
digunakan untuk bentang 20 m sampai 375 m.

3. Jembatan gantung (suspension bridge)

Jembatan gantung terdiri dari dua kabel besar/utama yang menggantung dari dua pilar/tiang
utama dimana ujung-ujung kabel tersebut diangkurkan pada fondasi yang biasanya terbuat
dari beton.

4. Jembatan kabel (cable stayed bridge)

Jembatan ini sangat baik dan menguntungkan bila digunakan pada jembatan yang mempunyai
bentang cukup panjang. Kombinasi penggunaan kabel dan dek beton prategang merupakan
keunggulan jembatan ini. Jembatan jenis ini juga memiliki kekuatan dan arsitektural yang
sangat tinggi.
Gambar dan Foto Rangka
VII. PLAT LANTAI
Unit pracetak biasanya dibuat di luar lokasi dan dibuat dalam kuantitas yang cukup, sehingga
dapat dibenarkan penggunaan acuan yang tahan lama dan bermutu tinggi. Bagian – bagian
pracetak yang tipikal dari bangunan atas jembatan adalah papan – papan lantai, pelat lantai,
gelagar, pelat soffit lantai, unit kereb dan tiang (post).
Dalam pekerjaan pracetak, diharapkan adanya keseragaman mutu, bentuk, warna dan
penampilan umum, dan ciri – ciri tersebut dipengaruhi oleh kuantitas acuan, jenis minyak
acuan dan bahan pelapas acuan, perubahan dalam sifat atau proporsi bahan mentah yang
dipakai, jumlah atau jenis getaran, jenis perawatan, umur pada pembongkaran dan bahkan
pada perubahan cuaca.
Unit – unit pracetak dapat mudah rusak pada waktu penanganan, penumpukan dan
pengangkutan. Jika tersedia alat – alat pengangkut dalam unit, alat tersebut harus dipakai. Bila
titik – titik penyangga pada waktu penumpukan tidak terlihat pada gambar rencana, harus
dimintakan nasehat perencana. Penyanggaan pada lebih dari dua titik dapat menyebabkan
kerusakan berat. Ketika menumpuk unit serupa, penyangga harus diletakkan satu di atas
lainnya dengan tepat. Bahan pembungkus (packing) harus dari bahan tetap (inert), atau kalau
dari kayu hard wood (keras) harus dibungkus plastik untuk menghindari kelunturan.
Pelendutan (sagging) atau pemuntiran dari unit yang tipis dan panjang mungkin terjadi jika
kurang diperhatkan desain system penyangga pada waktu penyimpanan. Gerakan relative
penggetar awal (premovement) dan trailer harus dipertimbangkan untuk mencegah keretakan
torsi, pecah atau gesekan pada waktu mengangkut unit. Unit pracetak dipasang dengan
menggunakan satu crane atau dua crane.
Jembatan beton bertulang ini dipasang dengan menggunakan perancah. Perancah yang dibuat
harus memperhatikan kondisi aliran sungai pada waktu banjir, apabila dilaksanakan pada saat
kemungkinan adanya banjir. Kestabilan dan kekuatan perancah sangat dominan. Setelah
perancah selesai dibuat dan diyakini stabil dan kuat, mulai dibuat acuan atau bekisting untuk
gelagar beton bertulang.
Acuan dibuat dengan dimensi sesuai dengan Gambar Rencana, mempunyai kelurusan yang
baik dan tidak bocor.
Setelah acuan selesai, mulai dipasang baja tulangan dalam acuan tersebut, dengan
memperhatikan selimut tebal selimut beton dengan menahan baja tulangan dengan beton
decking. Mutu beton decking harus lebih tinggi dari beton yang akan di cor.
Setelah semua baja tulangan selesai dipasang dan acuan dibersihkan dari kotoran-kotoran
yang ada, maka barulah dilakukan pengecoran beton dengan mengacu pada pelaksanaan
pekerjaan beton.
Perancah baru boleh dilepas setelah beton mempunyai kuat tekan minimal 85% dari beton
karakteristik. Untuk bentang pendek dapat dicor bersama-sama dengan lantai.
Acuan lantai dapat dilepas atau ditinggal di tempat. Yang ditinggalkan biasanya terbuat dari
baja galvanisasi, semen serat kompresi (compressed fibre-cement or concrete) atau beton.
Acuan baja galvanisasi yang akan ditinggal di tempat biasanya merupakan lantai baja trough
yang disangga balok memanjang dan gelagar melintang. Bagian bawah dari lantai beton
dengan acuan yang ditinggal tidak dapat diperiksa, oleh karena itu perlu perhatian khusus
pada waktu pengecoran dan penggetaran beton untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya
beton berpori pada bagian bawah.
Lantai kantilever dan trotoar adalah bagian yang paling kelihatan dari jembatan. Gelagar
jembatan melendut pada waktu pelat lantai sedang dicor, dan lendutan ini harus
diperhitungkan pada waktu memasang acuan pinggir, sehingga pinggir lantai merupakan garis
menerus, lurus atau dengan lawan lendut (camber) pada bentang tengah. Acuan lantai harus
disangga dari gelagar dan bukan dari tanah, pilar atau kepala jembatan.
Pada waktu lantai dicor, penting untuk melindungi gelagar luar dan landasan terhadap
pengaruh momen torsi yang disebabkan oleh perputaran lantai kantilever dan trotoar. Ini
dilakukan dengan mengikat bagian atas gelagar menjadi satu dengan batang penguat yang
dilas dan perkuatan (strutting) pada permukaan flens bawah.
Setelah acuan untuk pelat lantai telah selesai dan diperiksa kekuatannya, pengerjaannya,
kerapatan adukan, ketinggian dan kebersihan, penulangan dapat dipasang. Perlu untuk sering
memeriksa ukuran pada waktu pembengkokan di lokasi, atau tepat sesudah pengiriman ke
lokasi jika tulangan dibengkokan di luar lokasi. Penggunaan kayu, rak baja atau penyangga
lain adalah supaya penulangan tidak mengenai tanah atau lumpur sampai siap dipakai. Cat,
minyak, lemak, Lumpur, mill scale lepas atau karat lepas akan mengurangi sifat pelekatan
dari batang sederhana khususnya dan harus dilepas. Penutup (selimut) sangat penting
terutama pada pelat lantai yang relative tipis, kurangnya selimut dapat mengakibatkan
berkaratnya batang dan terkikisnya beton, sedangkan terlalu banyak selimut dapat
mengakibatkan kekuatan rencana diperkirakan dari pelat tidak tercapai.
Pengikat kawat sama cepat berkarat seperti batang biasa, dan ujung pengikat harus dijauhkan
dari permukaan beton.
Blok adukan dan dudukan (chair) plastik dipakai untuk memelihara selimut lebih disukai
daripada dudukan baja dengan pinggiran plastik. Beberapa dudukan plastik mempunyai luas
dasar yang kurang, dan dapat hancur bila dibebani, apalagi dalam cuaca panas. Bila dudukan
dipakai pada posisi horizontal untuk memegang penulangan vertikal kadang – kadang
berputar kecuali jika dipasang dengan baik.
Penulangan harus ditopang sedemikian rupa sehingga tidak berpindah, distorsi, atau rusak
dengan cara apapun pada waktu pengecoran pelat lantai.

GAMBAR DAN FOTO PLAT LANTAI


VIII. JOIN

Berbeda dengan rangka atap baja ringan, konstruksi jembatan pasti memakai sendi dan roll.
Jembatan merupakan struktur yang melintasi sungai, teluk, atau kondisi-kondisi lain berupa
rintangan yang berada lebih rendah, sehingga memungkinkan kendaraan, kereta api maupun
pejalan kaki melintas dengan lancar dan aman. Jika jembatan berada di atas jalan lalu lintas
biasa maka biasanya dinamakan viaduct. Jembatan dapat dikatakan mempunyai fungsi
keseimbangan (balancing) sistem transportasi, karena jembatan akan menjadi
pengontrol volume dan berat lalu lintas yang dapat dilayani oleh sistem transportasi. Bila
lebar jembatan kurang menampung jumlah jalur yang diperlukan oleh lalu lintas, jembatan
akan menghambat laju lalu lintas.

Perubahan-perubahan beban karena beraneka ragam jenis dan berat kendaraan yang
melewatinya di tambah dengan penambahan gaya saat misal ada kendaraan yang melaju
kencang, mengerem tiba-tiba, atau mungkin berhenti, akan membuat beban yang di tanggung
oleh sebuah jembatan juga akan berubah-ubah.

Jembatan merupakan bentangan yang duduk pada tumpuan di kedua ujung atau pada pilar di
tengah jika bentangannya cukup panjang. Nah, tempat duduk nya jembatan tadi itu disebut
andas/bearing. Ujung bentang yang satu memiliki andas mati, dan satu nya lagi memiliki
andas hidup. Jadi dalam satu bentang jembatan andas ini selalu berpasangan, hidup dan mati.
Para insinyur jembatan menyebutnya istilah jenis andas ini dengan “sendi” dan “rol”

Salah satu kegunaan diadakannya andas hidup ini adalah untuk bisa “melepaskan” beban yang
berubah-ubah ini. Dengan demikian jembatan akan menerima beban yang disebar ke segala
arah mengikuti bentuk beban yang muncul.

Perletakan sendi roll berfungsi untuk menyalurkan beban jembatan keseluruhan ke pilar atau
kepala jembatan. Perletakan yang ada harus sesuai antara perencanaan dengan kenyataan
dilapangan. Apabila pelaksanaan perletakan tidak sesuai dengan perencanaan maka pada
rangka utama akan timbul gaya-gaya ekstra yang cukup besar. Gaya-gaya ekstra tersebut
mengakibatkan penambahan atau pengurangan gaya-gaya batang. Bahkan mungkin gaya
batang tarik berubah menjadi batang tekan atau sebaliknya. Pada jembatan menggunakan
sendi-rol sebagai perletakan yang terbuat dari baja.
Dalam rangka atap baja ringan, struktur harus kaku, beban mati yang bekerja diatas seperti
angin, penutup atap (genteng, spandek, metal sheet) dan orang yang bekerja. Karena beban
yang ada diatas tetap dan tidak berubah-ubah, maka penggunaan sendi dan roll dalam baja
ringan menjadi tidak efektif. Sekali lagi kita lihat bahwa perletakan sendi roll berfungsi untuk
menyalurkan beban keseluruhan ke pilar atau kepala (apex). Keberadaan sendi dan roll ini
adalah untuk bisa melepaskan beban yang berubah-ubah. Dengan demikian dalam jembatan,
sendi dan roll akan menerima beban yang disebar ke segala arah mengikuti bentuk beban
yang muncul.

GAMBAR DAN FOTO JOIN


IX. KARET ELASTOMER JEMBATAN

Dengan berkembangnya tekhnologi dalam berbagai bidang, tidak ketinggalan pula


dibidang Tekhnik Sipil Khususnya Konstruksi Jembatan yang saat ini sudah berkembang
pesat di Indonesia. Dimana salah satu komponen penahan beban Girder sudah banyak
menggunakan Karet Elastomer Bantalan Jembatan. Dimana Karet Elastomer Jembatan
(Elastomeric Bearing Pads) sudah diharuskan pemakaiannya dalam konstruksi Jebatan, Fly
Over (High Way) dan konstruksi lainnya.

Fungsi dari Karet Elastomer Bantalan jembatan (Elastomeric Bearing Pads /


Rubber Bearing Pads) Tersebut adalah menahan beban antara Beton Pondasi & Girder.
Sehingga dengan pemakaian Karet Elastomer Jembatan tersebut keretakan atau pun pecahnya
Girder yang diakibatkan oleh tekanan Girder pada beton dapat diminimalisir oleh Karet
Bantalan Jembatan yang terpasang pada pondasi konstruksi jembatan tersebut.

Pada umumnya type Karet Tatakan Jembatan (Karet Bantalan Jembatan) ada 2 Type,
yaitu Polos & Plate. Type polos adalah Karet Elastomer Jembatan yang diproduksi tanpa ada
plat baja yang tertanam didalamnya. Sedangkan Karet Bantalan Jembatan ( Elastomer
Jembatan ) type Plate adalah jenis Karet Elastomer ( Karet Tatakan Jembatan ) yang
diproduksi dengan tertanam Plat Baja didalamnya. Diproduksi dengan system Vulkanisasi
Khusus pada Karet dan plate. Sistem perekat antara karet & plat divulkanisasi dengan tekanan
tinggi sehingga kekuatan dan penyatuan antara karet dengan plat baja tersebut sangat kuat.

Ukuran dan penentuan jenis kebutuhan Karet Elastomer Bantalan Jembatan tersebut
disesuaikan dengan kebutuhan di proyek, karena ukuran sangat bervariasi tergantung dari
Beban Jembatan, Beban Kendaraan yang melewati jembatan tersebut baik beban vertical
maupun beban horizontal. Dan standart ukuran Karet Elastomer Jembatan (Elastomeric
Bering Pads) dari Kementrian Pekerjaan Umum ( DPU )ada tiga (3) Jenis yaitu : Jenis I 300
X 350 X 36 mm Jenis II 400 X 350 X 39 mm Jenis III 400 X 450 X 45 mm.

Elastomeric Bearing Pads atau Karet Bantalan Jembatan, merupakan salah satu jenis dari
bantalan penahan beban Jembatan. Karet Elastomer Jembatan diperlukan untuk menyalurkan
reaksi girder (balok penopang jembatan) tanpa memberi tekanan berlebihan sehingga akan
mendukung fungsi Jembatan sebagaimana mestinya.
Elastomeric Bearing Pads terbagi menjadi dua jenis, yaitu Plain Bearing Pad (hanya
terdiri dari elastomer) dan Laminated (Steel Reinforced) Bearing Pad (terdiri dari lempengan
baja untuk membantu menahan daya dan dilekatkan bersama dengan elastomer).
Elastomer sendiri merupakan suatu polimer dengan viskoelastisitas yang memiliki modulus
Young yang rendah dan yield strain yang tinggi dibanding dengan jenis lain. Istilah Elastomer
diperoleh dari kata polimer elastis, atau bisa dikenal sebagai karet, meskipun karet lebih
dikaitkan dengan istilah vulkanisat. Setiap monomer yang terikat satu sama lain membentuk
suatu polimer yang terdiri dari karbon, hidrogen, oksigen, dan atau silikon. Pada temperatur
ruangan, karet bersifat relatif lembut dan dapat diubah bentuknya. Rantai polimer yang
panjang dan bersilangan terbentuk dengan proses vulkanisasi.
Struktur molekul dari elastomer dapat diumpamakan seperti “spageti dan bola
daging” dengan “bola daging” yang menandakan persilangan. Sifat elastis diperoleh dari
kemampuan rantai panjang untuk mengatur rantai-rantai tersebut kembali ke bentuk atau
susunan semula ketika tekanan dilepaskan. Sebagai efek dari sifat fleksibel yang eksrim ini,
elastomer dapat ditarik ulur memanjang dan melebar sampai 5-700%, tergantung dari sifat
materialnya. Tanpa rantai yang saling bersilangan, rantai-rantai molekul elastomer tidak dapat
dengan mudah kembali ke susunan semula, sehingga apabila diberi tekanan akan berubah
bentuk secara permanen. Temperatur juga mempengaruhi sifat elastisitas polimer. Elastomer
yang didinginkan menjadi fase kristalin akan memiliki rantai yang bersifat sulit bergerak dan
kurang elastis. Beberapa contoh dari elastomer, yaitu Natural polyisoprene/cis 1,4-
polyisoprene Natural Rubber dari golongan karet tidak jenuh, dan EPM (ethylene propylene
rubber) dari golongan karet jenuh.

Dari sifat elastomer yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa elastomeric
bearing pad bersifat elastis dan fleksibel. Bearing pad jenis ini akan mengikuti alur tekanan
yang diberikan pada jembatan, memanjang dan memendek, dan dapat kembali ke bentuk
semula ketika tekanan dilepaskan. Elastomeric bearing pad didesain untuk menyangga beban
dan mengakomodasi pergerakan antara jembatan dan struktur penyangga jembatan.
Elastomeric bearing pad memiliki kegunaan membantu menahan tekanan dari struktur girder.
FOTO ELASTOMER JEMBATAN
X. TROTOAR DAN SANDARAN

Lantai trotoar, terletak di pinggir sepanjang lantai kendaraan yang elevasinya lebih tinggi 15

cm dari lantai kendaraan yang berfungsi sebagai tempat pejalan kaki dan terbuat dari beton.

Pipa sandaran, terbuat dari baja yang dipasang diantara tiang-tiang sandaran di pinggir

sepanjang jembatan atau tepi lantai trotoar dan merupakan pembatas dari kedua sisi samping

jembatan. Tiang sandaran, terbuat dari beton bertulang atau baja profil dan ada juga yang

langsung dipasang pada rangka utama, gunanya untuk menahan pipa sandaran.

GAMBAR DAN FOTO TROTOAR DAN SANDARAN