Anda di halaman 1dari 10

PARAMETER FISIKOKIMIA DAN ANALISIS KADAR ALLYL DISULFIDE DALAM

EKSTRAK ETANOL 70% BAWANG PUTIH (Allium Sativum L. ) DENGAN


PERBANDINGAN DAERAH TEMPAT TUMBUH

Abstrak
Bawang putih (Allium Sativum L.) merupakan salah satu tanaman obat yang potensial untuk dikembangkan
menjadi obat tradisional. Produk obat tradisional dan tanaman obat yang berkualitas ditentukan salah satunya
oleh mutu dan keamanan ekstrak. faktor yang dapat mempengaruhi mutu salah satunya adalah daerah tempat
tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan beberapa nilai parameter fisikokimia serta kadar
senyawa yang bertanggung jawab atas aktivitas farmakologis dalam ekstrak etanol 70% bawang putih yang
didapat dari dua tempat tumbuh yaitu Bogor dan Wonosobo. Hasil pengujian didapat ekstrak yang berasal
dari Bogor, sari larut air 62,5684%, sari larut etanol 10,0779%, minyak atsiri 0,7477%, kadar allyl disulfide
2,6580% kadar abu 2,3529%, abu tidak larut asam 0,1115% sedangkan yang berasal dari wonosobo, sari larut
air 59,0007%, sari larut etanol 8,9230%, minyak atsiri 0,3400%, kadar allyl disulfide 1,2335%, kadar abu
3,0196%, abu tidak larut asam 0,4974%. Berdasarkan hasil penelitian mutu ekstrak yang paling baik adalah
yang berasal dari Bogor dengan nilai parameter spesifik lebih tinggi dan nilai parameter non spesifik lebih
rendah.

Abstract
Garlic (Allium sativum L.) is one of the medicinal plants that have a potential to be developed become the
traditional medicine. Traditional medicinal products and medicinal plants that is quality determined one of
them by the quality and safety of the extract.factors that can be affect the quality one of which is the area
growing places. This research aimed to compare the value of physicochemical parameters as well as the levels
of compounds responsible for pharmacological activity in ethanol 70% extract of garlic obtained from two
places grow i.e. which were from Bogor and Wonosobo. The test results obtained extracts of derived from
Bogor, compound contents dissolved in water of 62.5684%, compound contents dissolved in ethanol of
10.0779%, essential oils contents of 0.7477%, levels of allyl disulfide 2.6580% , total ash content of
2.3529%,ash content insoluble in acid was 0.1115% , while that derived from Wonosobo,compound contents
dissolved in water of 59.0007%, compound contents dissolved in ethanol of 8.9230%, essential oils contents
of 0.3400%, levels of allyl disulfide 1.2335%, total ash content of 3.0196%, ash content insoluble in acid was
0.4974%.Based on the results the research, the best extract quality of extract was from Bogor with higher
specific parameter values and the non-specific parameter value of lower

Keywords : Garlic (Allium sativum L.) , Physicochemical Parameters , Allyl disulfida

Pendahuluan
Bawang putih merupakan salah satu putih telah banyak dilakukan, tidak hanya
bahan baku obat tradisional yang banyak secara in vivo (dengan hewan percobaan)
penggunaanya di Indonesia. Berbagai tetapi juga in vitro (dalam tabung kultur).
penelitian farmakologi tentang bawang Berbagai penelitian yang telah
dikembangkan menunjukkan bahwa pemanenan, penyimpanan bahan
bawang putih mempunyai efek biologis dan tumbuhan, umur tumbuhan dan bagian
farmakologis seperti antitumorigenesis, yang digunakan (Depkes RI 2000). Lokasi
antiantheroscleriosis, modulasi gula darah tumbuhan sendiri berarti lingkungan (tanah
dan antibiosis, penghambatan pertumbuhan dan atmosfer) tempat tumbuhan
kanker (Wang et al,2011), antihipertensi berinteraksi dengan lingkungan yang
(Qidwai et al.,2000), aktivitas anti- berupa energi (cuaca, suhu, cahaya) dan
oksidatif (Borek, 2001), sebagai antibakteri materi (air, senyawa organik dan senyawa
yang dihasilkan dari isolasi jamur endofit anorganik). Variasi lingkungan inilah yang
dari bawang putih (Hidayanti 2010). dianggap berpengaruh terhadap kualitas
mencegah perkembangan metastasis tumor ekstrak tumbuhan obat (Depkes RI 2000).
(Hu et a., 2002), peningkatan aktivitas Berdasarkan uraian diatas perlu
fibrinolisis (Pizorno dan Murray 2000), dilakukan penetapan standar mutu dan
menghambat pertumbuhan bakteri keamanan dari ekstrak etanol 70% bawang
Salmonella enteritidis, Staphylococcos putih dengan perbandingan tempat tumbuh
aureus, dan Salmonella typosa (Poeloengan untuk mengetahui kualitas mana yang lebih
2001). Selain itu, bawang putih juga dapat baik. Pada penelitian ini ekstrak yang
menurunkan gejala aflotoksin (Maryam digunakan berasal dari simplisia yang
dkk. 2003). didapat dari dua tempat tumbuh yang
Obat tradisional dan berbagai berbeda, yaitu daerah Bogor dan
tanaman obat memiliki peran penting dalam Wonosobo. Pemilihan kedua tempat
bidang kesehatan. Produk obat tradisional tersebut berdasarkan perbedaan ketinggian
dan tanaman obat yang berkualitas dilihat dari letak geografis dari masing-
ditentukan salah satunya oleh mutu dan masing daerah. Daerah Bogor memiliki
keamanan dari ekstrak yang digunakan. ketinggian 190-350 m dpl, sedangkan
Penetapan standar mutu dan keamanan daerah Wonosobo memiliki ketinggian
ekstrak dapat berupa rangkaian proses 250-2.250 m dpl (Agung 2004)
yang melibatkan berbagai metode analisis Penetapan standar mutu ekstrak
kimiawi berdasarkan data farmakologis, yang dilakukan yaitu penetapan sari larut
dan analisis fisik suatu ekstrak alam air dan sari larut etanol, kadar air, kadar
(Saifudin et al,2011). abu,dan kadar abu tidak larut asam, serta
Faktor yang mempengaruhi mutu kadar minyak atsiri dalam bawang putih.
ekstrak yaitu Faktor biologi meliputi: Sedangkan untuk penetapan kadar senyawa
spesies tumbuhan, lokasi tumbuh, waktu dalam ekstrak etanol 70% bawang putih
adalah senyawa Allyl disulfida karena remaserasi sebanyak 3 kali dengan
senyawa ini memiliki peranan penting perbandingan pelarut yang sama. Maserat
dalam aktifitas farmakologis dari ekstrak yang didapatkan kemudian dipekatkan
bawang putih serta dapat digunakan sebagai dengan menggunakan vacuum rotary
marker atau senyawa identitas pada minyak evaporator kemudian dilanjutkan dengan
maserasi bawang putih yang dikemukakan waterbath hingga diperoleh ekstrak kental.
oleh Dubey et al (2012). Metode analisa C. Pengujian Parameter Fisikokimia
kuantitatif, menggunakan KLT- Data parameter fisikokimia
densitometri karena metode ini memiliki diperoleh berdasarkan pengujian
kepekaan dan ketelitian yang tinggi laboratorium yang mencangkup parameter
sehingga dapat dimanfaatkan untuk tujuan spesifik yaitu: kadar sari larut air, kadar sari
analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa larut etanol, kadar minyak atsiri, penapisan
dalam campuran dengan waktu yang fitokimia, karateristik fluoresensi dan
singkat, relatif sederhana, murah serta penetapan kadar allyl disulfide sedangkan

mudah dilaksanakan dan dapat parameter non spesifik yaitu: kadar abu, kadar
abu tidak larut asam dan kadar air.
dilaksanakan untuk kadar yang kecil
D. Penetapan Kadar Allyl Disulfide
(Depkes RI 2008).
(Dubey et al. 2012)
Metode Penelitian 1. Pembuatan Larutan Standar
A. Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Dibuat larutan induk allyl disulfide
Melakukan pengamatan dengan konsentrasi 50.000 µg/ml dalan
makroskopik secara langsung berdasarkan acetonitril. Lalu dibuat larutan deret standar
bentuk dan ciri organoleptik bagian-bagian allyl disulfide dengan 6 tingkat konsentrasi
dari tanaman bawang putih menurut berbeda yaitu 800µg/ml, 1600µg/ml,
literatur secara umum. Dan pengamatan 2400µg/ml, 3200µg/ml, 4000µg/ml,
mikroskopik terhadap simplisia yang diiris 4800µg/ml.
melintang dan pengamatan pada serbuk 2. Pembuatan Larutan Uji
simplisia untuk menemukan bagian Timbang ekstrak bawang putih
simplisia dan fragmen pengenal dalam sebanyak 10 g dan tambahkan 50 ml
bentuk sel, isi sel atau jaringan tanaman acetonitril campurkan pada suhu 500C
umbi bawang putih. selama 20 menit. Campuran tersebut di
B. Pembuatan Ekstrak sentrifugasi pada 2000 rpm selama 20
Bawang putih segar dimaserasi menit 40C, lalu supernatant dikumpulkan
emnggunakan etanol 70% selama 3 hari. dan residu diresuspensi dalam acetonitril
Maserat kemudian disaring lalu dilakukan dan ulangi sampai tidak berwarna.
Supernatan dikumpulkan dan dipekatkan parenkim dengan tetes minyak, korteks,
pada suhu ruang. Kemudian ekstrak yang kristal ca oksalat, dan rambut penutup.
terbentuk ditimbang seksama kurang lebih Hasil dapat dilihat pada tabel 2 dan 3.
50 mg dan di larutkan dengan acetonitril B.Ekstrak Etanol 70% Bawang Putih
sebanyak 0,5 ml. Tahap ekstraksi dilakukan dengan
3.Pengukuran Kadar Allyl Disulfide cara maserasi menggunakan pelarut etanol
larutan standar allyl disulfide dan 70%. Etanol memiliki kemampuan menyari
larutan uji masing-masing ditotolkan dengan polaritas yang lebar mulai dari
sebanyak 5µl pada plat KLT, plat kemudian senyawa non polar sampai polar (Saifudin
dielusi menggunakan fase gerak n-heksan dkk.2011). Penggunaan etanol 70% karena
kemudian dikeringkan dan diukur dengan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
densitometer pada panjang gelombang juniawati dan miskiyah (2014) pelarut
maksimum standar allyl disulfide yaitu yang baik digunakan untuk maserasi
296nm. Kadar allyl disulfide dalam sampel bawang putih adalah etanol 70% karena
dihitung menggunakan persamaan regresi. dari hasil analisis menggunakan GC-MS
Hasil Dan Pembahasan menunjukkan kandungan Allysin dan
Hasil determinasi menunjukkan turunannya lebih banyak dibandingkan
bahwa kedua sampel yang digunakan dengan ekstrak lainnya. Hasil ekstraksi
adalah tanaman bawang putih (Allium dapat dilihat pada tabel 4.
sativum L.) famili amaryllidaceae. C. Pengujian Parameter Fisikokimia
A. Uji Karakteristik Simplisia 1. Parameter Spesifik
Hasil uji makroskopik yang Hasil uji parameter fisikokimia
dilakukan dengan pengamatan langsung berdasarkan parameter spesifik dari kedua
terhadap bentuk fisik tanaman bawang ekstrak etanol 70% bawang putih dapat
putih menunjukkan bahwa tanaman umbi dilihat pada tabel 5. Pada pengujian
bawang putih yang digunakan memenuhi senyawa yang larut dalam pelarut tertentu
persyaratan yang sesuai untuk tanaman yaitu menggunakan etanol dan air, hasil
bawang putih yang tercantum dalam pengujian kedua ekstrak menunjukkan
berbagai literatur secara umum. hasil dapat bahwa ekstrak lebih larut dalam air. Hal ini
dilihat pada tabel 1. Hasil mikroskopik pada dikarenakan ekstraksi yang dilakukan
penampang melintang umbi bawang putih menggunakan bawang putih segar sehingga
dan serbuk bawang putih yang berasal dari kandungan air didalamnya masih cukup
Bogor dan Wonosobo ditemukan banyak dan ekstraksi yang dilakukan
epidermis, parenkim, berkas pengangkut, menggunakan etanol 70% dimana
kandungan air mencapai 30% sehingga zat kandungan mineral tempat hidupnya.
yang terlarut lebih banyak akan bersifat Lingkungan juga dapat mengubah jumlah
polar (larut dalam air). Pada penetapan dan kualitas minyak yang dihasilkan. Pada
kadar senyawa larut air dan etanol ini tempat yang terbuka selama penyimpanan
bertujuan sebagai perkiraan kasar sejumlah minyak atsiri akan menguap
kandungan senyawa-senyawa aktif yang disertai pula oleh proses oksidasi yang
bersifat polar (larut air) dan senyawa aktif menyebabkan penurunan mutu (Ketaren,
yang bersifat semi polar-non polar (larut 1987) Hasil analisa pada kadar minyak
etanol) (Saifudin dkk.2011). Dari hasil atsiri dari kedua sampel terdapat perbedaan
analisa data pada kadar senyawa larut air bermakna antara kedua sampel .
ekstrak etanol 70% bawang putih dari Tahap skrining fitokimia dilakukan
kedua sampel terdapat perbedaan bermakns untuk mengetahui kandungan golongan
antara kedua sampel, sedangkan hasil metabolit sekunder dalam ekstrak etanol
analisa kadar sari larut etanol dari kedua 70% bawang putih serta menjadi gambaran
sampel tidak ada perbedaan bermakna kandungan ekstrak secara kualitatif.
antara kedua sampel. berdasarkan reaksi warna dan skrining
Pengujian kadar minyak atsiri menggunakan KLT hasil menunjukkan
dengan simplisia bawang putih ini bahwa ekstrak etanol 70% bawang putih
menggunakan penyulingan uap air secara yang berasal dari kedua tempat tersebut
tidak langsung dimana bahan diletakkan positif mengandung senyawa alkaloid,
ditempat tersendiri yang dialiri dengan uap flavonoid dan triterpenoid. Hasil dapat
air yaitu diletakkan diatas air mendidih. dilihat pada tabel 6 .
Menurut farmakope herba indonesia (2008) Pengujian karakteristik fluoresensi
kandung minyak atsiri pada simplisia yang dilakukan terhadap serbuk dan ekstrak
bawang putih tidak kurang dari 0,5% v/b. bawang putih termasuk juga kedalam uji
Hasil menunjukkan kadar minyak atsiri pendahuluan untuk melihat beda antara
pada bawang putih yang berasal dari serbuk dan ekstrak bawang putih. pengujian
wonosobo tidak memenuhi persyaratan. karakteristik fluoresensi menggunakan
Kandungan minyak atsiri dipengaruhi oleh pereaksi H2SO4,NaOH, HCl, HNO3, dan
kondisi topografi yang berbeda dan aquadest yang kemudian diamati pada sinar
dipengaruhi juga oleh faktor iklim dan tampak, sinar UV 254nm dan 366nm. hasil
curah hujan didaerah tersebut. Selain itu dapat dilihat pada tabel 7dan 8.
kandungan minyak atsiri dalam suatu bahan 2.Parameter Non Spesifik
tergantung dari umur tanaman dan
Pengujian parameter non spesifik Penetapan kadar allyl disulfide
hasil dapat dilihat pada tabel 9. Hasil dilakukan analisis kualitatif terlebih dahulu.
pengujian kadar abu total yang dilakukan Pengujian kualitatif menggunakan metode
bertujuan untuk memberikan gambaran KLT untuk mengetahui adanya kandungan
kandungan mineral internal dan eksternal allyl disulfide dalam ekstrak etanol 70%
yang berasal dari proses awal sampai bawang putih dengan menggunakan
terbentuknya ekstrak (Depkes RI 2000). parameter perbandingan nilai Rf standar
hasil kadar abu dan kadar abu tidak larut allyl disulfide dan ekstrak etanol 70% dari
asam ekstrak etanol 70% bawang putih kedua sampel.Hasil dari kromatogram uji
yang berasal dari kedua tempat kualitatif dan nilai Rf standar dari kedua
menunjukkan perbedaan yaitu bawang sampel dapat dilihat pada gambar 3
putih yang berasal dari bogor menunjukkan menunjukkan nilai Rf yang sama yaitu 0,52
sisa anorganik dan adanya kontaminasi maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak
bahan-bahan yang mengandung silika etanol 70% dari sampel Bogor dan sampel
seperti tanah dan pasir yang terdapat dalam Wonosobo mengandung senyawa allyl
ekstrak etanol 70% bawang putih yang disulfide.
berasal dari Bgor memiliki persentase yang Allyl disulfide merupakan senyawa
lebih kecil dibandingkan yang berasal dari dekomposisi dari allisin. allisin merupakan
wonosobo. Hasil analisis data senyawa yang terbentuk setelah proses
menunjukkan perbedaan bermakna pada pengolah bawang putih. setelah bawang
kadar abu dan kadar abu tidak larut asm putih diiris dan dihaluskan dalam prose
antara kedua sampel tersebut. Sedangkan pembuatan ekstrak, enzim allinase menjadi
Pada hasil kadar air kedua ekstrak aktif dan menghidrolisis alliin
menunjukkan ekstrak yang berasal dari menghasilkan senyawa intermediet asam
Bogor lebih tinggi dibandingkan yang allil sulfenat. Kondensasi asam tersebut
berasal dari wonosobo. Penetapan kadar air menghasilkan allisin, asam piruvat, dan ion
di dalam ekstrak, dilakukan secara destilasi. NH4+. (Zhang, 1999). Allisin bersifat tidak
Tujuan penetapan kadar air adalah stabil (Amagase et al.,2001), sehingga
mengetahui besarnya kandungan air, terkait mudah mengalami reaksi lanjut, tergantung
dengan kemurnian dan kontaminasi yang kondisi pengolahan atau faktor eksternal
mungkin terjadi. Hasil analisi data dari lain seperti penyimpanan, suhu, dan lain-
kedua sampel tidak ada perbedaan lain. Ketidak stabil alisin tersebut
bermakna antar kedua sampel tersebut. membentuk senyawa lain yaitu salah
D.Penetapan Kadar Allyl Disulfide satunya allyl disulfide.
Sebelum menghitung kadar perlu disulfide. Hasil dapat dilihat pada tabel 12.
dibuat kurva kalibrasi hubungan antara Didapat persen kadar rata-rata untuk
berat senyawa standar allyl disulfide sampel Bogor sebesar 2,6580% dan untuk
dengan luas area. Kurva kalibrasi dibuat sampel Wonosobo sebesar 1,2335%.
dengan menotolkan enam seri konsentrasi Setelah dianalisa dengan uji t dependent
standar allyl disulfide pada plat KLT. Plat didapatkan hasil terdapat perbedaan
KLT yang telah ditotolkan kemudian bermakna antara kedua sampel tersebut.
dielusi dengan n-heksana. digunakan n- Hasil ini sesuai dengan uji kadar minyak
heksana sebagai fase gerak karena bersifat atsiri bawang putih dimana allyl disulfide
non polar sehingga dapat memisahkan termasuk salah satu komponen senyawa
senyawa allyl disulfide yang bersifat non dalam minyak atsiri bawang putih,
polar juga dari kandungan ekstrak lainnya. didapatkan hasil bawang putih yang
Plat yang telah dielusi kemudian berasal dari Bogor memiliki persentase
dikeringkan dengan cara diangin-anginkan yang lebih tinggi dibandingkan bawang
pada suhu ruang. Setelah selesai kemudian putih yang berasal dari Wonosobo.
plat dibaca pada alat TLC-scanner dengan
panjang gelombang maksimal 296 nm. Berdasarkan uji parameter fisikokimia
Hasil yang diperoleh dari analisis maupun dilihat dari kadar allyl disulfide.
menggunakan TLC-scanner dapat dilihat Hasil yang didapat menunjukkan bahwa
pada Tabel 10 diperoleh persamaan garis ekstrak bawang putih yang berasal dari
linear a= 224,1 ; b=2,0702 dan R =0,9990. Bogor memiliki nilai yang paling baik
Hasil kurva kalibrasi tersebut menunjukkan dengan parameter spesifik paling tinggi
hubungan yang linear antara konsentrasi (kadar sari larut air 62,899%, sari larut
dengan luas area allyl disulfide yang etanol 10,078%, minyak atsiri 0,743%,
terdeteksi pada alat densitometer dimana kadar allyl disulfide 2,6580%) dan kadar
semakin tinggi konsentrasi allyl disulfide non spesifik paling rendah (kadar abu
semakin tinggi luas areanya. 2,3529%, abu tidak larut asam 0,1115%).
Hasil pengukuran allyl disulfide Hal ini dapat disebabkan karena faktor
dalam ekstrak bawang putih dengan KLT- biologi yang mempengaruhi ekstrak yaitu
densitometri didapat Rf yang tidak jauh lokasi tumbuh. Lokasi tumbuh dalam hal ini
beda dengan standar allyl disulfide Luas berkaitan dengan ketinggian tempat
area sampel dapat dilihat pada tabel 11 lalu tumbuh. Ketinggian tempat sangat
luas area dimasukkan ke dalam persamaan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman
garis linear sehingga diperoleh kadar allyl karena sangat erat berkaitan dengan
keadaan iklim setempat, seperti suhu udara, Jakarta: Direktorat Perencanaan dan
Evaluasi Pembangunan Daerah
kelembapan udara, curah hujan dan
Amagase, H., B.L. Petesch, H. Matsuura, S.
keadaan penyinaran cahaya matahari. Kasuga, and Y. Itakura. 2001.
Intake Of Garlic And Bioactive
Setiap kenaikan 100 m diatas permukaan
Components. Journal of Nutrition
laut, keadaan suhu udara akan turun sebesar 131 (3): 955S– 962S.
Borek, C. 2001. Antioxidant Health Effects
0,50OC,tetapi keadaan kelembapan udara,
Of Aged Garlic Extract. Journal of
keadaan curah hujan dan intensitas cahaya Nutrition 131: 1010S–1015S.
Departemen Kesehatan RI. 2000.
mataharinya akan meningkat (tinggi)
Parameter Standar Umum Ekstrak
(Samadi 2000). Selain keadaan iklim, Tumbuhan Obat.Jakarta:Direktorat
Jendral POM Depkes RI
kondisi tanah yang berinteraksi dengan
Departemen Kesehatan RI. 2008.
materi (air, senyawa organik dan Farmakope Herba Indonesia edisi I.
Jakarta : Departemen Kesehatan RI
anorganik) juga dapat mempengaruhi mutu
Dubey N, Dubey N, Mehta R.
ekstrak. .2012.Validation Of HPTLC
Methods For The Quantitative
Determination Of Allyl Disulfide In
Some Polyherbal Oils. India .dalam
: journal of AOAC International
Kesimpulan .Vol 95, no 6,2012
Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia
Ekstrak etanol 70% bawang putih yang Penentuan Cara Modern
paling baik adalah yang berasal dari Bogor Menganalisis Tumbuhan,
terjemahan :Kosasih Padmawinata.
jawa barat (190-350 m dpl) dengan nilai ITB. Bandung
parameter non spesifik (kadar abu, abu Hidayahti, Nurul. 2010. Isolasi Dan
Identifikasi Jamur Endofit Pada
tidak larut asam) lebih rendah dan nilai Umbi Bawang Putih (Allium
parameter spesifik (kadar sari larut air, Sativum)Sebagai Penghasil
Senyawa Antibakteri Terhadap
kadar sari larut etanol, kadar minyak atsiri Bakteri Streptococcus Mutans Dan
dan kadar allyl disulfide) lebih tinggi. Escherichia Coli. Skripsi fakultas
sains dan teknologi Universitas
Islam Negri Malang (UIN)
Acknowledgement Hu, X., B.N. Cao, G. Hu, J. He, D.Q. Yang,
and Y.S. Wan. 2002. Attenuation of
Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada cell migration and induction of cell
Kemenristek DIKTI yang telah mendanai death by aged garlic extract in rat
sarcoma cells.International Journal
dalam penelitian ini. of Molecular Medicine 9: 641–643.
Juniawati , miskiyah .2014. aktivitas
ekstrak bawang putih (Allium
Daftar Acuan Sativum)terhadap pertumbuhan
Agung, fery. 2004. Indonesian Investment bakteri escherichia coli dan
and Trading Opportunity by staphylococcus aureus. Bogor
Province, Regency, City, Volume 4.
dalam:seminar nasional teknologi Qidwai, W., R. Qureshi, S.N. Hasan, S.I.
peternakan dan veteriner 2014 Azam. 2000. Effect of dietry garlic
Ketaren, 1987, Minyak atsiri, UI Press, (Allium sativum) on the blood
Terjemahan : Guenther, E., 1947, pressure in humans: a pilot study.
Essential Oils, Vol.1, John Willey Journal of PakistaniMedical
and Sons, New York, Hal : 21-25, Association 50 (6): 204–207.
90, Saifudin, A.,Rahayu, & Teruna.
132-134, 244-245 2011.Standarisasi Bahan Obat
Maryam R, Yulvian S, Siti R, Rachmat F, Alam.Graha Ilmu: Yogyakarta
Miharja. 2003. Efektivitas ekstrak Samadi Budi.2000.Usaha Tani Bawang
bawang putih (Allium sativum Putih. Yogyakarta.kanisius
Linn.) dalam penanggulangan Wang, Xin., Jiao, F., Wang, Q.W., Wang, J
aflotoksin pada ayam petelur. et al. 2011. Aged Black Garlic
Media Peternakan. 8: 239-246. Extract Induces Inhibition of
Gastric Cancer Cell Growth in Vitro
and in Vivo. The Journal of
Molecular Medicine Reports.
Zhang, X. 1999. WHO Monographs on
Selected Medicinal Plants: Bulbus
Pizorno, J.E. and M.T. Murray. 2000. A Allii Sativii. Geneva: World
Textbook of Natural Medicine: HealthOrganization.
Allium sativum. Edisi ke-2.
Washington: Bastyr University.
Poeloengan M. 2001. Pengaruh bawang
putih (Allium sativum) terhadap
pertumbuhan S. enteritidis, S.
typosa, dan S. aureus. Media
Peternakan. 24: 42-44