Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH KEPERAWATAN GERONTIK

KOMUNIKASI LANSIA DENGAN GANGGUAN

PENDENGARAN DAN PENGLIHATAN

Disusun oleh :

Gema Bayurizka R.

Krismawati Dewi

Meylinda Anggita Putry

Monica Marcela

Niki Amalia

Nurmaulidinia

Sa’adatul Rismayanti

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANTEN

PRODI S1 KEPERAWATAN
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan


seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan meningkatkan kontrak dengan orang lain
karena komunikasi dilakukan oleh seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir
bahwa komunikasi adalah sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang
kompleks yang melibatkan tingkah laku dan hubungan serta memungkinkan individu
berasosiasi dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu merupakan peristiwa
yang terus berlangsung secara dinamis yang maknanya dipacu dan ditransmisikan. Untuk
memperbaiki interpretasi pasien terhadap pesan, perawat harus tidak terburu-buru dan
mengurangi kebisingan dan distraksi. Kalimat yang jelas dan mudah dimengerti dipakai
untuk menyampaikan pesan karena arti suatu kata sering kali telah lupa atau ada kesulitan
dalam mengorganisasi dan mengekspresikan pikiran. Instruksi yang berurutan dan sederhana
dapat dipakai untuk mengingatkan pasien dan sering sangat membantu. (Bruner & Suddart,
2001).

Komunikasi adalah proses interpersonal yang melibatkan perubahan verbal dan


nonverbal dari informasi dan ide. Komunikasi mengacu tidak hanya pada isi tetapi juga pada
perasaan dan emosi dimana individu menyampaikan hubungan (Potter-Perry, 301).
Komunikasi pada lansia membutuhkan perhatian khusus. Perawat harus waspada terhadap
perubahan fisik, psikologi, emosi, dan sosial yang mempengaruhi pola komunikasi.
Perubahan yang berhubungan dengan umur dalam sistem auditoris dapat mengakibatkan
kerusakan pada pendengaran. Perubahan pada telinga baguan dalam dan telingan mengalami
proses pendengaran pada lansia sehingga tidak toleran terhadap suara.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi?
2. Apa strategi komunikasi dengan lansia yang mengalami penurunan fungsi ?
1.3 Tujuan
1. Agar pembaca mengetahui pengertian dari komunikasi.
2. Agar pembaca mengetahui strategi komunikasi dengan lansia yang mengalami
penurunan fungsi.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Komunikasi

Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin communication yang bersumber dari kata
communis yang berarti “sama” dan bermakna “sama” (Onong dalam Lubis, dkk., 2001).
Sebagai contoh, apabila dua orang atau lebih mengadakan percakapan, dikatakan komunikatif
apabila kedua belah pihak mengerti bahasa yang digunakan dan mengerti makna bahan yang
diperbincangkan. Dahulu orang menyatakan komunikasi sebagai proses mengirim atau
menerima informasi. Saat ini “berbagai informasi” lebih dekat dengan arti komunikasi
sebenarnya. Komunikasi lebih berarti dua orang atau lebih berbagi informasi bersama
daripada seseorang memberi informasi dan orang lain menerima.

2.2 Strategi Komunikasi dengan lansia yang mengalami penurunan fungsi

Menurut Nugroho (2012), lansia sering mengalami gangguan komunikasi karena


mengalami penurunan penglihatan, wicara dan persepsi. Semua ini menyebabkan penurunan
kemampuan lansia untuk menangkap pesan atau informasi serta melakukan transfer
informasi. Gangguan indra pada lansia yang tinggal di rumah sendiri atau di lingkungan
keluarga, di lingkungan sosial seperti panti werdha, atau di rumah sakit disebabkan oleh
gangguan anatomik organ, gangguan fisiologis organ, kematangan/maturasi, degenerasi atau
gangguan kognitif-persepsi. Ada 2 tingkat gangguan komunikasi, yaitu gangguan pada sistem
pengindraan dan tingkat integratif. Gangguan pengindraan meliputi gangguan penglihatan,
gangguan pendengaran, atau gangguan wicara. Sedangkan gangguan yang melibatkan sistem
integratif yang lebih tinggi adalah gangguan mental, gangguan maturasi pikir (degenerasi
proses pikir), atau gangguan kesadaraan.

1. Lansia dengan gangguan penglihatan

Gangguan penglihatan pada lansia dapat terjadi, baik karena kerusakan organ
misalnya kornea, lensa mata, kekeruhan lensa mata (katarak), atau kerusakan saraf
penghantar impuls menuju otak. Kerusakan di tingkat persepsi adalah kerusakan otak.
Semua ini mengakibatkan penurunan virus hingga dapat menyebabkan visual menurun.
Kemampuan menangkap rangsang ketika berkomunikasi sangat bergantung pada
pendengaran dan sentuhan. Oleh karena itu, komunikasi yang dilakukan perawat atau
pemberi asuhan harus mengoptimalkan fungsi pendengaran dan sentuhan karena fungsi
penglihatan sedapat mungkin harus diganti oleh informasi yang dapat ditransfer melalui
indra yang lain ketika melakukan orientasi ruangan tidur, ruang tamu, ruang makan,
ruang perawatan, ruang rekreasi, kamar mandi atau toilet, dan lain-lain. Klien lansia harus
mendapatkan keterangan yang memvisualisasi kondisi tempat tersebut secara lisan.
Misalnya menerangkan letak meja dan kursi makan, menerangkan berapa langkah posisi
tempat tidur dari pintu, letak kamar mandi, dan sebagainya.

Berikut ini teknik komunikasi yang perlu diperhatikan selama berkomunikasi dengan
lansia yang mengalami gangguan penglihatan :

a. Perawat sedapat mungkin mengambil posisi yang dapat dilihat oleh klien lansia,
bila ia mengalami kebutaan parsial atau memberi tahu secara verbal keberadaan
atau kehadirannya.
b. Perawat menyebutkan identitasnya dan menyebutkan nama serta perannya.
c. Perawat berbicara dengan menggunakan nada suara normal karena kondisi lansia
tidak memungkinkannya menerima pesan nonverbal secara visual.
d. Nada suara perawat memegang peranan besar dan bermakna bagi lansia.
e. Jelaskan alasan perawat menyentuh sebelum melakukan sentuhan pada lansia.
f. Ketika perawat akan meninggalkan ruangan atau hendak memutuskan komunikasi
atau pembicaraan, informasi kepada lansia.
g. Orientasi lansia pada suara-suara yang terdengar di sekitarnya.
h. Orientasikan lansia pada lingkungannya bila lansia dipindahkan ke lingkungan
yang asing baginya.
2. Lansia dengan gangguan pendengaran

Gangguan pendengaran pada lansia dapat terjadi berupa penurunan pendengaran


hingga tuli (tuli lansia). Bentuk ketulian yang selama ini dikenal :

a. Tuli perseptif, yaitu tuli yang terjadi akibat kerusakan sistem saraf.
b. Tuli konduktif, yaitu tuli yang terjadi akibat kerusakan struktur penghantar
rangsang suara.

Pada klien lansia dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling
sering digunakan ialah media visual. Klien lansia menangkap pesan bukan dari suara
yang dikeluarkan perawat/orang lain, tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan
bicaranya. Kondisi visual jadi sangat penting bagi klien lansia ini, sehingga dalam
melakukan komunikasi upayakan agar sikap dan gerakan perawat dapat ditangkap oleh
indra visualnya.

Berikut ini adalah teknik komunikasi yang dapat digunakan pada klien lansia dengan
gangguan pendengaran :

a. Orientasikan kehadiran perawat dengan menyentuh lansia atau memposisikan diri


di depannya.
b. Usahakan menggunakan bahasa yang sederhana dan berbicara dengan perlahan
untuk memudahkan lansia membaca gerak bibir perawat.
c. Usahakan berbicara dengan posisi tepat di depan lansia dan pertahankan sikap
tubuh serta mimik wajah yang lazim.
d. Jangan melakukan pembicaran ketika perawat sedang mengunyah sesuatu
(misalnya permen).
e. Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila diperlukan dan perawat mampu
melaksanakannya.
f. Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, sampaikan pesan dalam
bentuk tulisan atau gambar (simbol).
DAFTAR PUSTAKA

Muhith, Abdul. 2016. Pendidikan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: CV ANDI OFFSET.


Setio, Hingawati. 2013. Panduan Praktik Keperawatan. Yogyakarta : Citra Aji Prama.