Anda di halaman 1dari 19

Kata Pengantar

Dengan menyebut nama allah SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang.kami
panjatkan puja dan puji syukur kehadirat allah SWT yang mana telah melimpahkan nikmat
islam,nikmat iman dan nikmat ihsan.serta telah senantiasa memberikan taufiq,rahmat,hidayah
dan inayahnya.sehingga kami bisa menyelesaikan makalah tentang Asset and Liability
Management mata kuliah manajemen bank syariah

Makalah ini telah kami susun dengan semaksimal mungkin dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan
berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.oleh karena itu dengan tangan terbuka kami
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap makalah tentang Asset and Liability Management ini dapat
memberikan manfaat dan inspirasi bagi pembaca.amin.

Malang................................2018

(.................................................)

i
Daftar Isi
KATA PENGANTAR............................................................................................................... i

DAFTAR ISI............................................................................................................................. ii

BAB 1 PENDAHULUAN........................................................................................................ 1

A. Latar Belakang............................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah........................................................................................................ 1
C. Tujuan.......................................................................................................................... 1

BAB II ISI & PEMBAHASAN………………………………………………………………. 2

A. Pengertian asset & liability management..................................................................... 2


B. Tugas Asset dan Liability Management (ALMA)…………………………………... 3
C. Fungsi Asset and Liability Management (ALMA)………………………………...... 4
D. Kesesuaian Penerapan Asset and Liability Management Pada Perbankan Syari’ah… 4
E. Risiko-Risiko Asset-Liability Management (ALMA)………………………………. 7
F. Risiko likuiditas……………………………………………………………………… 8
G. Integrasi Manajemen Aset Dengan Manajemen Liabilitas………………………….. 10

BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………

A. Kesimpulan…………………………………………………………………………...
B. Saran ………………………………………………………………………………....

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………….

ii
iii
Bab I
Pendahuluan
A. Latar belakang
Bank syaraiah merupakan bisnis jasa yang menawarkan berbagai jasa yang
berbasis syariat islam. Dimana semua transaksinya menggunakan hukum-hukum yang
termaktub dan berada pada al-quran dan hadist. Pada zaman sekarang ini bisnis
perbankan mengalami gejolak yang tumbuh pesat bersamaan dengan itu juga mengalami
persaingan yang sungguh ketat dengan bank-bank lainnya. Oleh karena itu bank syariah
memerlukan sebuah dorongan baru yang mampu bersaing dengan bank lainnya. Dengan
tidak mengorbankan likuiditas bank tersebut. Dengan permaasalahan tersebut perbankan
harus benar-benar bisa menerapkan asset dan liability managemen yang baik, Hal ini
dapat meningkatkan asset bank itu sendiri dan mampu bersaing di penyaluran dana
(lending) dan penghimpunan dana (funding), tingkat bunga (pricing) tanpa
mengorbankan likuiditas.
B. Rumusan masalah
1) Apa pengertian Asset & Liabiliti manajemen ?
2) Apa saja tugas Asset &Liability Manajemen ?
3) Apa fungsi Asset and Liability Management (ALMA)
4) Bagaimana kesesuaian Penerapan Asset and Liability Management Pada Perbankan
Syari’ah?
5) Apa risiko-risiko Asset-Liability Management (ALMA)?
6) Apa saja yang termasuk risiko likuiditas?

C. Tujuan
1) Untuk mengetahui pengertian asste & liabiliti management.
2) Untuk mengetahui apa saja tugas Asset &Liability Manajemen.
3) Untuk mengetahui fungsi Asset and Liability Management (ALMA).
4) Untuk mengetahui bagaimana kesesuaian Penerapan Asset and Liability
Management Pada Perbankan Syari’ah.
5) Untuk mengetahui apa risiko-risiko Asset-Liability Management (ALMA).
6) Untuk mengetahui apa saja yang termasuk risiko likuiditas.

1
Bab II
Isi dan Pembahasan

A. Pengertian Asset & Liability Management

Alma Suatu usaha untuk mengoptimumkan struktur neraca bank sedemikian rupa agar
memperoleh laba yang maksimal dan sekaligus membatasi risiko menjadi sekecil mungkin
khususnya risiki-risiko diluar kredit. Kemampuan mengelola bank akan sangat menentukan
kelangsungan hidup dan pertumbuhan suatu bank sehingga diperlukan tenaga-tenaga yang
terampil, handal, jujur, dan profesional di semua lini, tenaga-tenaga yang kritis dan kreatif serta
tanggap terhadap perubahan lingkungan. ALMA (Asset & Liability Management) dapat
diartikan dengan pengelolaan sumber dan penggunaan dana bank yang saat ini menjadi salah
satu titik sentral perhatian manajemen bank, karena meningkatnya kompleksisitas karakteristik
asset dan liabilities, tajamnya persaingan antar bank dan ketidakpastian perekonomian. Dengan
ketidakpastian usaha maka mendorong manajemen bank melakukan pendekatan yang bertitik
berat pada interaksi antara sisi Asset & Liability.

Jadi, Asset & liability management merupakan langkah awal pengendalian dari kekayaan
suatu perusahaan yang saling berhubungan dalam usaha mencapai keuntungan bank. Asset &
liability management adalah keputusan atau kebijakan jangka pendek yang akan menargetkan
mencapai tujuan tahunan. Alma adalah suatu proses perencanaan, pengendalian,
pengorganisasian, dan pengawasan melalui pengumpulan, proses, analisa, laporan, dan
menetapkan strategi guna mengatasi risiko-risiko yang timbul dikemudian hari. Adapun risiko-
risiko tersebut adalah :

1) Risiko likuiditas yaitu risiko dimana bank tidak mampu mngelola dana dalam
kegiatan operasional.
2) Risiko suku bunga yaitu risiko yang disebabkan karena posisi reviewing asset
liability
tidak searah dengan perubahan suku bunga.
3) Risiko nilai tukar yaitu risiko yang disebabkan oleh asset dan liability dalam mata
uang asing yang tidak searah dengan nilai tukar.
4) Risiko portepel yaitu risiko yang disebabkan oleh posisi asset dan liabiliti tidak
mendukung efisiensi operasi,seperti komposisi asset kurang menghasilkan
keuntungan dan komposisi liabiliti mengarah ke biaya lebih tinggi.

Menurut Gerald O. Hatler yang dikutip oleh syafi’i antonio mengatakan bahwa fokus
manajemen asset dan liabilitas adalah mengkoordinasikan portofolio asset/liabilitas bank dalam

2
rangka memaksimalkan profit bagi bank dan hasil yang dibagikan kepada para pemegang saham
dalam jangka panjang dengan memperhatikan kebutuhan likuiditas. Dengan demikian tujuan dari
ALMA adalah untuk menjaga kesehatan bank yang dapat diukur dengan CAMEL serta
melakukan antisipasi terhadap perubahan eksternal yang berkaitan dengan inflasi dan tingka
suku bunga serta perubahan atas nilai tukar mata uang. Selain itu ALMA dimaksudkan agar bank
memperoleh net income yang optimal bagi bank dengan pengendalian yang tepat atas aktiva dan
passiva bank diharapkan bank dapat memperoleh pendapatan dari kegiatannya tersebut.

Dalam mengelola aset dan liabilitas bank, ada dua pendekatan yang sering digunakan,
yaitu :

1) Pool of fund approach


Pendekatan ALMA berdasarkan asumsi bahwa dana bank yang diperoleh dari
berbagai sumber yang diperlukan sebagai dana tunggal sehingga sumber dana tidak lagi
dapat diidentifikasi secara individual. Oleh karrna itu, dana yang dikelola bank menurut
pendekatana ini tidak lagi dibedakan jenis dan sifat sumber dana, jangka eaktu, biaya
sdari masing-masing bank.
2) Asset allocation approach
Assetallocational approach merupakan koreksi atas konsep pendektan atas aser-
liabilitas yang sebelumnya, Konsep ini sering pula disebut conversion of funds approach,
pada dasarnya konsep ini menyatakan bahwa tidaklah realitis menganggap total dana
yang dihimpun bank merupakan suatu sumber dana tunggal, karena dalam kenyataannya
masing-masing sumber dana memiliki sifat sendiri. Oleh karena itu, dalam prioritas
pengalokasianya, sumber-sumber dana harus diperlukan secara individu denagn
mempertimbangkan karakteristik masing-masing dana. Dana yang dimiliki sifat
perputarannya cukup tinggi hendaknya penggunaannya di prioritaskan dalam cadangan
primer dan sekunder. Sedangkan dana yang perputaranny relatif rendaah
pengalokasianya dapat di prioritaskan pad pemberiankredit dan aktiva jangka panjang
lainnya.

B. Tugas Asset dan Liability Management (ALMA)

Peran ALMA adalah mengelola dua sisi yaitu yang pertama dari sisi asset yang berisi kas
dan setara kas serta pembiayaan dalam bank konvensional maupun bank islam berupa harta yang
dimiliki oleh bank. Sedangkan yang dimaksud liabilitas adalah kewajiban yang dimiliki bank
terhadap nasabah serta modal yang dimiliki oleh bank.

Pada asset bank islam memiliki dua jenis asset yang penting yaitu asset pembiayaan dan
aset investasi. Asset pembiayaan adalah total pembiayaan berbasis akad jual beli atau sewa
(Murabahah, Salam, Ijarah, Isthisna) yang bank salurkan kepada masyarakat. Sementara aset
investasi adalah total pembiayaan berbasis akad penyertaan (mudharabah, musyarakah).
Sementara aset bank islam yang masuk dalam kategori fee based servise biasanya merupakan

3
aset bank Islam yang digunakan untuk menyelenggarakan jasa pelayanan perbankan kepada
masyarakat.

Pada aset liabilitas, terdapat empat komponen liabilitas yang berasal dari simpanan
nasabah, yaitu giro dengan akad wadi’ah, tabungan dengan akad mudharabah, deposito dengan
akad mudharabah dan akun investasi terikat dengan akad mudharabah atau musyarakah. Pada
sisi liabilitas terdapat juga ekuitas yaitu modal disetor, tambahan modal serta saldo laba/rugi.

C. Fungsi Asset and Liability Management (ALMA)

Focus asset and liability management adalah mengkoordinasi portofolio aset/liabilitas


bank dalam rangka memaksialkan profit bagi bang dan hasil yang dibagikan kepada para
pemegang saham dalam jangka panjang dengan memperhatikan kebutuhan likuiditas dan kehati-
hatian.

Secara umum, tanggung jawab ALCO adalah mengelola posisi dan alikasi dana-dana
bank agar tersedia likuiditas yang cukup, memaksimalkan profitabilitas, dan meminimalkan
risiko.

Sebagaimana diketahui manajemen tidak bisa semaunya menarik nasabah untuk


menyimpan uangnya di bank, tanpa adanya keyakinan bahwa dana itu dapat diinvestasikan
secara menguntungkan dan dapat dikembalikan ketika dana itu sewaktu-waktu ditarik oleh
nasabah atau dana tersebut telah jatuh tempo. Oleh karena itu, manajemen juga harus secara
simultan mempertimbangkan berbagai resiko yang berpengaruh pada perubahan tingkat laba
yang diperoleh. Hal ini juga meliputi penilaian budget dan rencana pendapatan, penilaian kinerja
investasi perusahaan masa lalu, memantau distribusi aset/liabilitas bank, dan menerapkan strategi
manajemen aset/liabilitas. Ruang lingkup dan teknik manajemen aset/liabilitas bergantung pada
sifat dari sumber-sumber dana dan sifat investasi atas dana-dana tersebut.

D. Kesesuaian Penerapan Asset and Liability Management Pada Perbankan Syari’ah

Manajemen aset bank syari’ah tidak dapat dipisahkan dari manajemen liabilitas karena
keduanya saling terhubung dimana sumber ast bank syari’ah sebagian besar berasal dari
kewajiban (liabilitas) berupa Dana Pihak Ketiga. Hal ini merupakan implikasi dari sistem yang
digunakan bank syari’ah, yakni sistem wadi’ah dan mudharabah mutlaqah. Kedua sistem ini
digunakana untuk menghimpun dana dari nasabah guna mengembangkan aset bank. Sistem
tersebut diaplikasi pada produk berikut ini:

a. Simpana wadi’ah
Simpana wadi’ah terdiri dari dua produk utama, yakni produk giro dan tabungan. Giro
merupakan suatu produk bank dalam bengtk simpanan yang yang penarikan dapat dilakukan
kapan saja baik menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya ataupun

4
pemindahbukuan. Lain halnya dengan produk tabungan, yaitu simpanan yang penarikan
hanya dapat dilakukan dengan menggunakan buku tabungan, slip enarikan, kwitansi atau
menggunakan sarana Autamated Teller Machine (ATM). Walaupun kedua produk ini
menggunakan prinsip wadi’ah. Tetapi kedua produk tersebut berbeda dalam segi flesibilitas
penarikan. Produk giro lebih fleksibel dari pada produk tabungan karena sarananya giro
sangan likuid dibandingkan sarana tabungan.
Sumber dana dari dua produk diatas tidak dapat leluasa diguakan oleh bank
syari’ahdisebabkan konsep wadi’ah yadh dhamanah. Konsep ini membatasi bank syari’ah
mengelola dana tersebut, dimana dana yang diperoleh merupakan simpanan yang harus
dikembalikan oleh bank sewaktu-waktu nasabah melakukan penarikan. Dengan kata lain
dana ini lebih bersifat kewajiban (liabilitas) yang mesti dijamin keutuhannya. Sehingga bank
syari’ah hanya dapat menggunakan dana ini untuk kebutuhan likuiditas atau diinvestasikan
pada usaha beresiko rendah, seperti Pembiayaan Murabahah, Salam dan Istishna’.
Kelebihan penggunaan sistem ini adalah bank syari’ah tidak perlu mengeluarkan biaya
mahal karena bonus yang diberikan tergantung kebijakan bank itu sendiri serta bonus
tersebut tidak harus diberikan kepada nasabah. Untuk melihat sistem operasional prinsip
wadi’ah yadh dhmanah pada bank syari’ah, berikut digambarkan skema penerapannya:

2. Memberikan Bonus

1. Menitip Dana
Nasabah Sebagai Bank Sebagai
Penyimpan Dana Penerima Simpanan
(Mawaddi’) (Mustawda’)

3. Memanfaatkan Dana 4. Keuntungan

Sektor Usaha baik


Financial atau
sector rill

b. Investasi mudharabah
Investasi mudharabah pada perbankan syari’ah diaplikasi pada produk tabungan dan
deposito. Kedua produk ini biasanya menggunakan konsep mudharabah mutlaqah, namun
keduanya berbeda dalam ketentuan penarikan. Produk tabungan dengan prinsip mudharabah
tidak berbeda dengan produk tabungan wadi’ah terkait sarana penarikannya. Tetapi
tabungan ini merupakan investasi nasabah kepada bank, dimana nasabah menyerahkan
5
sepenuhnya pengelolaan dananya pada investasi-investasi yang halal dan menguntungkan.
Produk ini sebenarnya tidak cocok dengan prinsip mudharabah karena simpanan yang dapat
ditarik sewaktu-waktu oleh nasabah. Sehingga bila bank menggunakan produk ini untuk
investasi, maka ia harus mempunyai cadangan likuiditas yang cukup demi memenuhi
transaksi penarikan dari nasabah. Berbeda halnya dengan produk deposito mudharabah,
dimana bank telah mengetahui secara pasti kapan jatuh tempo simpanan yang diterimanya.
Sehingga bank dapat menggunakan dana ini lebih leluasa tanpa takut kekurangan likuiditas.
Kedua produk diatas tidak memiliki biaya apapun bagi bank syari’ah karena bagi hasil
hanya diberikan bila bank memperoleh keuntungan daari dana yang diinvestasikan sesuai
dengan nisbah yang disepakati. Adapun skema penerapan konsep mudharabah mutlaqah
pada bank syari’ah ialah sebagai berikut:

2. Alokasi Bagi Hasil

1. Investasi Dana
Nasabah Sebagai Bank Sebagai
Penyimpan Dana Penerima Simpanan
(Shahibul Mal) (Mudharib)

3. Memanfaatkan Dana 4. Keuntungan

Sektor Usaha baik


Financial atau
sector rill

Selain prinsip mudharabah di atas, bank syari’ah juga menggunakan prinsip mudharabah
muqayyadah dalam roduk deposito. Penggunaan prinsip membatasi kewenangan bank dalam
hal pengelolaan dana, dimana nasabah menetapkan syarat bahwa dana tersebut harus
diinvestasikan pada sector usaha yang dituju oleh nasabah. Oleh sebab itu, bank
memisahkan dana ini dari Dana Pihak Ketiga lainnya ( al-mudharabah muqayyadah off
balance sheet). Tetapi bank dapat juga menyatukan dana tersebut, bila nasabah-nasabah
tidak mengharuskan pemisahan dananya (mudharabah muqayyadah on balance sheet).
Berdasarkan konsep diatas, baik itu wadi’ah yadh dhamanah, mudharabah mutlaqah
maupun mudharabah muqayyadah dapat dilihat bahwa dasarnya sumber aset bank syari’ah
tidak mengeluarkan biaya tetap sebagaimana bank konvensional. Lebih lanjut, konsep biaya
pada bank konvensional tidak sesuai dengan konsep imbal hasil dari simpanan yang

6
diberikan oleh bank syari’ah karena biaya pada bank konvenional bersifat tetap dan telah
ditentukan di awal, sedangkan bonus merupakan apresiasi bank yang dapat diberikan atau
ditiadakan tergangung pada kebijakan bank. Begitu juga dengan bagi hasl, bagi hasil tidak
dapat dikatakan sebagai biaya karena itu hak nasabah yang hanya diperoleh bila dananya
memperoleh keuntungan. Bila terjadi sebaliknya, nasabah tidak berhak menuntut apapun
dari pengelolaan dananya.
Bila menyimak konsep mudharabah diatas, dapat disimpulkan bahwa dana yang
diperoleh dari mudharabah berbentuk investasi nasabah kepada bank syari’ah. Bila itu
sifatnya investasi, maka bank syari’ah tidak berkewajiban mengembalikan dananya dengan
kata lain bank tidak perlu menjamin dana tersebut. Akan tetapi, mayoritass bank syari’ah
saat ini dituntut menjamin pengembalian Dana Pihak Ketiga yang diterimanya.hal ini di
sebabkan bank syari’ah menggunakan sistem bagi hasil revenue sharing bukan profit and
loss sharing. Implikasi penggunaan sistem bagi hasil revenue sharing ini ialah bank
syari’ah tidak mempertimbangkan biaya yang dikeluarkan terkait pengelolaan Dana Pihak
Ketiga, sehingga bank mendistribusikan pendapatan hasil usahanya. Dengan kata lain bagi
hasil yang diberikan berupa pendapatan sebelum dikurangi biaya (gross profit). Dampaknya
bank hanya berbagi pendapatan sebelum pengurangan biaya, sedangkan resiko kerugian
ditanggung sepenuhnya oleh bank syari’ah sebagai akibat dari penerapan mudharabah
mutlaqah dan sistem revenue sharing. Oleh sebab itulah Dana Pihak Ketiga diakui sebagai
kewajiban (liabilitas) yang harus dikembalikan oleh bank syari’ah. Inilah latar belakanag
bank syari’ah menggunakan teori ALMA (Asset and Liability Management) dalam
pengelolaan asetnya.
Realitas diatas, membuat bank syari’ah tetap mengakui seluruh Dana Pihak Ketiganya
menjadi kewajiban yang harus dikembalikan setiap jatuh tem[o atau setiap penarikan oleh
nasabah. Padahal, bentuk dna yang dihimpun oleh bank syari’ah tidak semanya dapat
dikategorikan sebagai pinjaman, tetapi sebagiannya dihimpun dalam bentuk investasi. Hal
ini dapat dilihat dari komposisi dana yang telah dijelaskan diatas, yakni prinsip mudharabah.
Prinsip ini mengharuskan bank mengakui dana yang dihimpun sebagai investasi, dimana
pihak bank bertindak sebagai pengelola (mudharib), dan nasabah sebagai pemilik dana
(shahibul mal). Akan tetapi, pada praktik perbankan syari’ah dana investasi ini diperlakukan
sebagai dana yang dihimpun dengan prinsip wadi’ah yadh dhamanah. Oleh sebab itulah,
penggunaan ALMA telah sesuai dengan sisitem perbankan syariah, meskipun secara prinsip
tidak sepenuhnya dapat dipaksakan sesuai karena keuinikan prinsip operasional bank
syari’ah yang tidak bisa disamakan dengan prinsip konvensional.

E. Risiko-Risiko Asset-Liability Management (Alma)

ALMA merupakan manajemen struktur neraca bank dengan tujuan untuk


mengoptimalkan pendapatan dan meminimalkan biaya dalam batas-batas risiko tertentu. Risiko-
risiko ALMA dalam suatu bank pada umumnya berupa :

7
a. Financing risk, yaitu debitur akan memenuhi kewajibannya (keterlambatan angsuran atau
pelunasan) tepat pada waktunya. Risiko kredit dapat menimbulkan risiko likuiditas.

b. Liquidity risk, yaitu risiko bahwa bank tidak dapat memenuhi kewajibannya pada
waktunya atau hanya dapat memenuhi kewajiban melalui pinjaman darurat (bagi hasil
yang tinggi) dan atau menjual aktivanya dengan harga yang rendah.

c. Pricing risk, yaitu risiko kerugian dengan akibat perubahan tingkat bagi hasil,
menentukan bentuk penurunan margin dari penanaman atau kerugian sebagai akibat
menurunnya nilai aktiva. Risiko ini sebagai akibat Net Interest Margin (NIM) atau tidak
terpenuhinya likuiditas, atau terjadinya gap karena tidak tepatnya perhitungan pricing
atas aset dan liabilitas.

d. Foreign exchage risk, yairu risiko kerugian sebagai akibat perubahan tingkan kurs
terhadap ”open position” karena adanya pergerakan kurs yang merugikan.

e. Gap risk, yaitu resiko kerugian dari ketidakseimbangan interest rate maturity karena
adanya pergerakan tingkat bunga yang merugikan.

f. Kontijen risk, yaitu risiko yang timbul sebagai akibat transaksi kontijen. Contohnya bank
generasi dan kontrak valuta asing berjangka.

g. Risiko likuiditas adalah risiko yang ada diperbankan yang biasanya timbul dari cara bank
mengelola primary reserve dapat berupa:

1) Reserve yang dikelola terlalu tinggi dari yang dibutuhkan.


2) Reserve recruitment tidak dapat dipenuhi sehingga berakibat dikenakan pinalti atau
sanksi oleh Bank Indonesia serta timbulnya masalah bagi bank sendiri.

F. Risiko likuiditas

Likuiditas secara luas dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk memenuhi


kebutuhan dana (cash flow) dengan segera dan dengan biaya yang sesuai. Risiko likuiditas
adalah risiko dalam perbankan yang biasanya timbul dari cara bank mengelola primary dan
secondary reserve serta pendanaannya sehari-hari.

a. Risiko yang ada dalam pengelolaan primary reserve dapat berupa risiko berikut ini :

1) Reserve yang dipelihara terlalu tinggi dari yang dibutuhkan. Keadaan ini berakibat
pada pengorbanan tingkat bunga.

8
2) Reserve requirement tidak dapat dipenuhi, sehingga dapat berakibat dikenakan pinalti
oleh bank indinesia serta timbulnya masalah bagai bank sendiri.

b. Risiko yang berkaitan dengan pengelolaan secondary reserve bisa terjadi karena hal-hal
berikut :

1) Manajemen terlalu berhati-hati sehingga cadangan yang dipelihara lebih tinggi dari
tingkat yang seharusnya dengan konsekuensi mengorbankan suatu jumlah tertentu
dari pendapatan dari pendapatan bunga.

2) Dana yang ada tidak dapat memenuhi kewajiban, hingga akan menyebabkan:
a) Tingginya biaya dana untuk menutup kekurangan dana yang diperlukan.
b) Turunnya reputasi bank karena bank tidak dapat memenuhi kewajibannya.

c. Risiko yang terdapat dalam pengelolaan dana sehari-hari bisa berupa risiko berikut ini:

1) Kemungkinan bank harus membayar bunga yang terlalu tinggi untuk likuiditas yang
dibelinya jika kebutuhan dana tidak diidentifikasikan secara tepat waktu hingga
dealer dipaksa masuk ke pasar pada waktu yang tidak menguntungkan.

2) Kelebihan likuiditas mungkin terpaksa ditempatkan dengan raate yang tidak


menguntungkan karena bank terlambat mengidentifikasi adanya kelebihan tersebut,
sehingga dealer tidak mempunyai kesempatan untuk menjual/menawarkannya pada
waktu yang tepat.

Sebaliknya, kesempatan untuk meningkatkan kinerja bank melalui pengelolaan likuiditas


yang efektif adalah cukup besar.

a. Pengelolaan yang ketat terhadap posisi cadangan wajib akan menjamin bahwa sambil
menjaga cadangan yang dipersyaratkan, giro di Bank Indonesia dan uang kas akan
dapat dikndalikan pada jumlah yang minimal, hingga suatu hasil yang berharga dapat
dicapai dengan tingkat marginal cost dari kelebihan likuiditas tersebut, misalnya
antara 14%-16%.

b. Pengelolaan secondary reserve yang efektif juga sangat berarti bagi bank karena hal-
hal berikut.

1) Reputasi bank akan terjaga baik karena senantiasa dapat memenuhi kewajibannya.
2) Pembiayaan darurat yang terlalu tinggi dapat dihindarkan.

9
c. Akhirnya pengelolaan secara baik dan mantap dalam operasi sehari-hari akan
menghasilkan dua dampak positif, yaitu sebagai berikut.

1) Setiap kelebihan likuiditas akan dapat diketahui dan di atur pemanfaatannya


dalam waktu yang tepat.
2) Kekurangan likuiditas dapat diketahui sejak dini, hingga penambahannya dapat
dilakukan dengan biaya pantas.

F. Integrasi Manajemen Aset Dengan Manajemen Liabilitas

Bab-bab yang lalu, membahas kebijakan dan teknik-teknik manajemen untuk bidang
yang berhubungan dengan asset dan liabilitas bank, seperti manajemen sumber dana, manajemen
asset, manajemen kredit, manajemen likuiditas dan seterusnya yang memiliki permasalahan
kompleks. Karena kompleksnyapermasalahannya, maka manajemen bank-bank yang cukup
besar, harus diintegrasikan kedalam suatu sistem yang dinamakan “system of asset – liability
management” yaitu suatu pendekatan manajemen neraca dari sisi asset dan liabilitas secara
terpadu pada tingkat manajemen puncak. Hal ini didorong oleh semakin langkanya dana dan
meningkatnya persaingan perbankan, sehingga penting sekali perencanaan dan pengendalian
dana dan perumusan strategi pendanaan. Dalamrangka menetapkan strategi dan kebijaksanaan
dalam manajemen dana secara keseluruhan dan terpadu itu, maka pada sebagian bank, proses
manajemen pada sistem ini dikoordinasikan pada satu panitia yang lazim disebut Asset - Liability
Committee (ALCO)

1. Asset-Liability Committee

Dalam manajemen dana sedikitnya terdapat tiga jenis risiko yang saling terkait satu sama
lainnya, yaitu risiko likuiditas, risiko rentabilitas dan risiko kesenjangan (gap) pendanaan.
Pengendalian risiko ini dilakukan oleh panitia yang beranggotakan manajer puncak dari setiap
manajemen yang terkait. Panitia ini disebut Asset-Liability Committee (ALCO). Pelaksana
harian dilakukan oleh Unit Treasury.

2. Net Interest Margin

Net Interest Margin (NIM) adalah selisih antara semua penerimaan bunga atas asset bank
dan semua biaya bunga atas dana bank yang diperoleh. Sebagian manager bank memasukkan
PPAP (Penyisihan Pengahapusan Aktiva Produktif) untuk kerugian kredit sebagai biaya
bunga. Ada tiga ukuran yang paling banyak dipakai untuk interest margin yaitu:

a. Net Interest Margin dalam rupiah,

b. Net Interest Margin dalam persentase, dan

10
c. Interest Spread

Net Interest Margin dalam rupiah adalah selisih antara semua penerimaan bunga dan
semua biaya bunga dinyatakan dalam rupiah.

Net Interest Margin dalam persentase adalah total net interest margin dalam rupiah
dibagi dengan total earning assets.

Interest Spread adalah selisih penerimaan bunga dengan pengeluaran bunga. Spread juga
bisa dinyatakan dalam presentase.

Penerimaan bunga Pengeluaran bunga


spread = −
𝑒𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 dana yang berbeban bunga

3. Memperoleh Interest Margin yang Mencukupi

Persaingan dalam pasar, baik untuk sumber dana, maupan untuk penggunaan dana telah
menghambat setiap bank untuk mencapai interest margin yang tinggi.

Misalkan sebuah bank menargetkan spread 4% , sedangkan menurut keadaan sekarang,


rata-rata penghasilan atas asset dalah 13% dan biaya dana rata-rata adalah 10%. Menurut
keadaan spread hanya bisa diperoleh sebesar 3%.

Karena itu, untuk mencapai target, bank ini harus meningkatkan penghasilan rata-rata
atas asset atau berusaha menekan biaya dana atau kombinasi keduanya sebesar 1%.

4. Memanajemeni Kepekaan Tingkat Bunga (Managing Interest Sensivity)

Kepekaan tingkat bunga (interest sensivity) adalah istilah yang menyatakan kepekaan
atau fluktuasi interest margin. Kepekaan ini disebabkan oleh :

a. Faktor Internal, yang meliputi:

 Komposisi asset bank yang bersangkutan


 Komposisi liabilitas bank yang bersangkutan
 Kualitas dan jatuh tempokredit
b. Faktor Eksternal, yang meliputi:

 Pergerakan naik turunnya tabungan, atau kredit


11
 Kebijaksanaan fiscal
 Kebijaksanaan moneter
c. Fluktuasi Tingkat Bunga di Pasar Uang

Meski fluktuasi perekonomian tidak mengikuti pola tertentu, namun analisis pasar dapat
mengikuti scenario dari sifat siklus perekonomian. Kebijaksanaan moneter yang ketat
mempengaruhi pinjaman rumah tangga. Karena ketersediaan dana menyusut, syarat
pinjman diperketat, dan tingkat bunga naik, maka pinjaman rumha tangga menurun.

5. Manajemen Kesenjangan Dana (Funds Gap Managements)

Perbedaan kinerja kepekaan bunga dari berbagai bank, dan perbedaan prediksi naik
turunnya tingkat bunga di masa mendatang mengharuskan setiap bank membangun suatu
sistem untuk memanajemeni kepekaan tingkat bunga. Sistem ini disebut sistem manajemen
kesenjangan dana (funds gap managements). Dalam sistem ini, asset dan liabilitas dibagi
menjadi kelompok yang sensitive dan kelompok yang tidak sensitive.

Asset atau liabilitas dinyatakan sensitive bila perubahan aliran kasnya sama dengan
perubahan tingkat bunga jangka pendek.

Kesenjangan dikatakan positif jika jumlah asset yang sensitive melebihi liabilitas yang
sensitive. Sebaliknya, kesenjangan dikatakan negative jika jumlah liabilitas yang sensitive
melebihi asset yang sensitive.

Dengan kesenjangan dana yang negative, interest margin akan menurun dan tingkat
bunga jangka pendek naik. Sebaliknya, dengan kesenjangan dana yang positif, interest
margin akan naik dan tingkat bunga jangka pendek akan menurun.

Jika sebuah bank mempunyai lebih banyak liabilitas yang peka bunga dibanding asset
yang peka bunga, maka penurunan tingkat bunga akan meningkatkan net interest margin
dan laba.

6. Analisis Kesenjangan Penghasilan

Analisis kesenjangan penghasilan adalah pengukuran kepekaan laba bank terhadap


perubahan tingkat bunga. Jumlah asset yang sensitive terhadap bunga dikurangi dengan
jumlah liabilitas yang sensitive terhadap bunga. Dengan rumus dapat dinyatakan sebagai
berikut:

K = As - Ls

12
K= Kesenjangan

As = Jumlah asset yang sensitive

Ls = Jumlah liabilitas yang sensitive

P = K x i

P = Perubahan laba

i = Perubahan tingkat bunga

Contoh 1:

Jika sebuah bank memiliki jumlah asset sensitive sebesar Rp 130 miliar, jumlah liabilitas
sensitive 147,5 miliar, dan kenaikan tingkat bunga sebesar 5%. Maka berapakah perubahan
laba bank tersebut?

K = As – Ls

K = Rp 130 miliar – Rp 147,5 miliar

K = - Rp 17,5 miliar (kesenjangan negatif)

P = K x i

P = - Rp 17,5 miliar x 0,05s

P = - Rp 0,9 miliar

Dari hasil perhitungan diatas, tingkat laba bank tersebut turun sebesar Rp 0,9 miliar.

7. Dinamika dalam Analisis Kesenjangan

13
Analisis kesenjangan memiliki permasalahan, seperti asset dan liabilitas yang jatuh
temponya berbeda-beda. Untuk menghaluskan perhitungan dapat dilakukan dengan
mengukur kesenjangan beberapa subinterval jatuh tempo, seperti untuk satu tahun, dua
tahun, dan seterusnya. Dengan pendekatan ini, manajer bank dapat memprediksi kondisi
laba bank beberapa tahun yang akan datang bila terjadi perubahan-perubahan tingkat
bunga.

8. Durasi

Durasi adalah umur rata-rata tertimbang arus kas yang dihasilkan oleh asset financial.

9. Analisis Durasi

Analisis durasi didasarkan pada konsep Macaulay, yang mengukur rata-rata umur dari
pembayaran suatu sekuritas. Perkiraan kepekaan perubahan nilai pasar suatu sekuritas,
dipakai rumus berikut:

∆𝑖
% ∆𝑃 ≈ −𝐷𝑈𝑅 ×
1+𝑖

% i = persentase perubahan dalam nilai pasar dari sekuritas

DUR = durasi

i = tingkat bunga

Analisis kesenjangan durasi menguji kepekaan perubahan nilai pasar dari kekayaan
bersih (net worth) untuk menghadapi perubahan tingkat bunga.

Contoh 2:

Manajer dari sebuah bank ingin mengetahui apa yang akan terjadi bila tingkat bunga naik
dari 10% menjadi 15%. Nilai asset bank tersebut adalah Rp 100 milyar dan total nilai
liabilitasnya adalah Rp 95 milyar. Bank ini telah menghitung durasi, yang besarnya 2,70
untuk asset dan 1,03 untuk liabilitas.

14
Penyelesaian:

Untuk asset:

0,05
%∆𝑃 ≈ −270 × = −0,123 = −12,3%
1 + 0,10

Perubahan nilai pasar asset (Rp 10 milyar x – 0,123) = - Rp 123 milyar.

Jadi, nilai pasar asset turun sebesar Rp 12,3 milyar.

Untuk liabilitas:

− 0,05
%∆𝑃 ≈ −1,03 × = −0,047 = −4,7
1 + 0,10

Perubahan nilia pasar liabilitas = (Rp 95 milyar x – 0,047) = - Rp 4,5 milyar.

Jadi, nilai pasar liabilitas turun sebesar Rp 4,5 milyar.

Dari hasil perhitungan diatas dapat dihitung perubahan nilai kekayaan netto dari bank itu
yaitu : -12,3 milyar – (-4,5 milyar) = -Rp 7,8 milyar.

Jadi kekayaan netto turun sebesar Rp 7,8 milyar.

10. Menghitung Kesenjangan Durasi

Kesenjangan durasi (duration gap) dapat dicari dengan mempergunakan rumus berikut:

𝐿
𝐷𝑈𝑅𝑔𝑎𝑝 = 𝐷𝑈𝑅𝑎 ( ) × 𝐷𝑈𝑅𝑙
𝐴

DURa = durasi rata-rata asset

DURl = durasi rata-rata liabilitas

L = rata-rata durasi liabilitas

A = rata-rata durasi asset

15
Untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada nilai pasar kekayaan jika tingkat bunga
berubah, dapat dipergunakan DURgap. Sedangkan untuk mengetahui persentase perubahan
nilai pasar kekayaan (net worth) dapat digunakan rumus berikut:

∆𝑖
%∆𝑁𝑊 ≈ −𝐷𝑈𝑅𝑔𝑎𝑝 ×
1+𝑖

%NW = perubahan net worth

i = tingkat bunga

Contoh 3:

Jika diketahui dalam sebuah bank durasi rata-rata asset (DURa) dan durasi rata-rata
liabilitas (DURl) adalah 2,70 dan 1,03 . sedangkan rata-rata durasi liabilitas dan rata-rata
durasi asset adalah 95 dan 100. Maka berapakah kesenjangan durasi (DURgap) bank
tersebut?

95
𝐷𝑈𝑅𝑔𝑎𝑝 = 2,70 ( ) × 103 = 1,72 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
100

Dan dari hasil diatas, jika diketahui tingkat unga naik dari 10% menjadi 15%, hitunglah
perubahan nilai net worth sebagai persentase dari total asset.

0,05
%∆𝑁𝑊 ≈ −1,72 × = −0,78 𝑎𝑡𝑎𝑢 − 7,8%
1 + 0,10

Jadi dengan mempergunakan rumus diatas diperoleh penurunan nilai pasar sebesar 7,8%.

16