Anda di halaman 1dari 6

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare merupakan penyakit yang ditandai dengan perubahan konsistensi

tinja akibat kandungan air di dalam tinja melebihi normal (10 mL/KgBB/hari)

dengan peningkatan frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari. Diare

yang tidak ditangani menyebabkan tubuh kekurangan cairan atau dehidrasi,

yang dapat berujung pada kematian (Amin, 2015). Sekitar 2,5 juta kasus

kematian karena diare terjadi setiap tahunnya Di negara berkembang, diare

infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun (Meliyanti,

2016). Diare tidak hanya menjadi masalah kesehatan di negara berkembang,

tetapi juga di negara maju. Insiden diare di negara maju diperkirakan sekitar

0,5-2 episode/orang/tahun (Bakri et al, 2015).

Kejadian diare di Indonesia pada tahun 2015 tercatat adanya Kejadian

Luar Biasa (KLB) diare yaitu sebanyak 18 kali dengan jumlah penderita 1.213

dan kematian 30 orang. Menurut Kemenkes RI (2017) dalam Profil Kesehatan

Indonesia tahun 2016, perkiraan kasus diare di fasilitas kesehatan yaitu

6.897.463 yang mana meningkat lebih dari 1 juta kasus dibanding tahun 2015.

Di Kabupaten Banyumas sendiri, diare menjadi penyakit endemis dan potensial

KLB. Kasus diare di Kabupaten Banyumas dari tahun ke tahun masih tetap

tinggi dibanding kasus penyakit lainnya. Angka kesakitan diare pada tahun

2015 yaitu sebesar 214/1000 penduduk, hal ini sama dengan kasus tahun 2014,

yaitu 214/1000 penduduk (Dinkes Kabupaten Banyumas, 2015).

Diare banyak disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, maupun parasit.

Esherichia coli adalah salah satu bakteri yang sering menyebabkan diare (Roza

1
2

et al, 2015). Pada dasarnya, E. coli dapat hidup di dalam usus besar manusia

yang berfungsi untuk menguraikan dan membusukkan sisa makanan yang sudah

diserap usus halus. E. coli dapat bersifat patogen apabila jumlahnya meningkat

di dalam saluran cerna atau berada di luar usus besar. E. coli dapat masuk ke

dalam saluran cerna bersama dengan masuknya air atau minuman dan makanan

yang terkontaminasi. E. coli yang berkolonisasi di usus halus menyebabkan

gastroenteritis dan diare. Selain itu, E. coli yang berkolonisasi di ekstraintestinal

dapat menyebabkan penyakit infeksi saluran kemih (sistitis), meningitis dan

sepsis (Bakri et al, 2015).

Penanganan utama diare yaitu dengan rehidrasi atau penggantian cairan

tubuh yang hilang, misalnya dengan pemberian oralit. Pada pasien diare yang

disebabkan oleh bakteri juga perlu diberikan antibiotik untuk memutus

kolonisasi bakteri patogen tersebut. Namun, akhir-akhir ini banyak kejadian

resistensi antibotik yang menyebabkan kurang efektifnya pengobatan dengan

antibiotik tunggal. Beberapa penelitian menunjukkan E. coli mulai resisten

terhadap streptomisin, kloramfenikol, dan antibiotik golongan tetrasiklin

(Sasongko, 2014). Oleh karena itu, pencegahan terhadap penyakit diare ini

sangat dibutuhkan. Menurut Astawan et al (2012), salah satu upaya untuk

mencegah diare yang disebabkan oleh bakteri patogen usus yaitu dengan

mengkonsumsi minuman probiotik. Bakteri probiotik yang terkandung dalam

minuman probiotik dapat mencegah kolonisasi bakteri patogen di epitel usus

dengan menempati epitel tempat bakteri patogen melekat (Amin, 2015).

Dewasa ini banyak ditemukan industri pangan yang menggunakan bahan

dasar susu. Salah satu produk olahan dari susu yang banyak beredar di
3

masyarakat adalah yoghurt. Yoghurt adalah produk fermentasi susu yang baik

bagi kesehatan tubuh. Yoghurt dibuat dari susu yang telah dipasteurisasi, lalu

difermentasi dengan bakteri tertentu sampai menghasilkan bau, tingkat

keasaman dan rasa yang khas, dengan atau tanpa penambahan bahan lain.

Yoghurt sebagai minuman fungsional memiliki sifat menguntungkan bagi

kesehatan karena adanya pertumbuhan bakteri asam laktat (Poeloengan, 2014).

Mengkonsumsi yoghurt secara rutin dapat menurunkan risiko penyakit saluran

cerna dan meningkatkan kekebalan tubuh (Jaya et al, 2011).

Bakteri asam laktat (BAL) yang terkandung di dalam yoghurt umumnya

adalah Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus (Rachman et

al, 2015). Menurut Rahmah et al (2013), BAL berguna dalam menjaga

keseimbangan flora normal usus dan menghambat pertumbuhan bakteri

patogen. Hal ini disebabkan karena BAL menghasilkan bakteriosin dan

kemampuan dalam menciptakan suasana asam di saluran cerna. Bakteriosin ini

bersifat bakteriostatik dan bakterisidal sehingga dapat melawan bakteri lain.

Penelitian secara in-vitro yang dilakukan oleh Roza et al (2015) membuktikan

bahwa bakteri asam laktat yoghurt mampu menghambat kolonisasi bakteri

patogen usus dengan terbentuknya zona hambat yang bermakna.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik melakukan percobaan untuk

menguji kemampuan bakteri asam laktat yoghurt dalam menghambat

kolonisasi E. coli yang menyebabkan diare. Serta, untuk mengetahui pada

konsentrasi berapa atau minimal inhibitory concentration (MIC) BAL dalam

yoghurt mampu menghambat pertumbuhan E. coli serta untuk menyajikan data

yang bersifat kuantitatif, maka penulis akan menguji secara in-vitro dengan
4

metode dilusi cair. Metode pengujian in-vitro pada penelitian ini berbeda dari

penelitian serupa sebelumnya yang menggunakan metode difusi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, rumusan masalah yang

didapatkan adalah sebagai berikut:

“Apakah aktivitas bakteri asam laktat yoghurt dapat menghambat pertumbuhan

isolat Escherichia coli?”

C. Tujuan

1. Tujuan umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas bakteri

asam laktat (L. bulgaricus dan S. thermophilus) yoghurt dalam menghambat

pertumbuhan isolat E. coli penyebab diare.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui pengaruh aktivitas bakteri asam laktat dalam menghambat

pertumbuhan isolat bakteri E. coli

b. Mengetahui konsentrasi yoghurt yang efektif atau konsentrasi minimal

yoghurt dalam menghambat pertumbuhan isolat bakteri E. coli

penyebab diare.

D. Manfaat

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai

pengaruh pemberian yoghurt terhadap penghambatan pertumbuhan isolat E.

coli.
5

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai sumber informasi bagi masyarakat mengenai khasiat

mengkonsumsi yoghurt dalam mencegah terjadinya diare.

b. Sebagai upaya untuk mengurangi penggunaan antibiotik saat diare jika

terbukti yoghurt dapat mencegah terjadinya diare.

c. Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya mengenai pengaruh

yoghurt dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli penyebab diare.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian ini dilakukan atas dasar penelitian terdahulu yang tercantum pada

Tabel 1.1.
6

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

No Judul Penelitian Persamaan Perbedaan


1 Judul: Aktivitas Penelitian sama- a. Metode uji
Antibakteri Bakteri sama bertujuan mikrobiologi yang
Asam Laktat dari untuk menguji digunakan dalam
Yoghurt Kemasan dan aktivitas BAL pada penelitian tersebut
Produksi Industri yoghurt terhadap adalah difusi sumur
Rumah Tangga pertumbuhan E. agar.
Terhadap Escherichia coli, dan juga b. Penelitian tersebut
coli dan Salmonella dengan uji coba menggunakan dua
typhi secara in vitro. spesies bakteri yaitu
Penulis: Rodesia E. coli dan S. typhi.
Mustika Roza, Atria
Martina, Ike Yuliana,
Liliyani
Tahun penelitian: 2015
Hasil penelitian:
terdapat zona bening di
cawan koloni E. coli dan
S. typhi sebagai aktivitas
antibakteri yang dimiliki
BAL yoghurt.
2 Judul: Penelusuran a. Penelitian a. Metode in vitro pada
Antibakteri Bakteriosin dilakukan penelitian tersebut
dari Bakteri Asam dengan menguji yaitu difusi agar.
Laktat dalam Yoghurt pengaruh Sedangkan penelitian
Asal Kabupaten yoghurt ini dengan metode
Bandung Barat terhadap bakteri dilusi.
Terhadap S. aureus dan E. coli. b. Penelitian tersebut
E. coli b. Sama-sama menggunakan produk
Penulis: Rini Hendriani, melakukan yoghurt komersial
Tina Rostinawati, Sri penelitian asal Kabupaten
Agung Fitri Kusuma. secara in-vitro Bandung Barat.
Tahun penelitian: 2009 Sedangkan penelitian
Hasil penelitian: ini menggunakan
Sampel yoghurt yoghurt yang dibuat
menunjukkan adanya sendiri oleh penulis.
aktivitas bakteriosin
dengan ditandai adanya
zona hambat pada
cawan uji