Anda di halaman 1dari 12

AKUNTANSI MANAJEMEN

COST VOLUME PROFIT ANALYSIS

Oleh:
Kelompok 2

Nama NIM No. Absen


A A Ngr. Agung Wira Gita 1881611052 1
Justina Laurena 1881621003 4
Putu Ayu Diah Widari Putri 1881621004 5
Dewa Ketut Wira Santana 1881621005 6

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019

0
1. TITIK IMPAS DALAM UNIT (BREAK-EVENT POINT)
Suatu titik dimana perusahaan belum memperoleh keuntungan tetapi juga tidak dalam
kondisi rugi atau sering disebut dengan break event point (BEP). BEP dengan kata lain adalah
titik impas dalam unit merupakan suatu titik yang menggambarkan analisa hubungan antara
biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume aktivitas. Masalah BEP baru akan muncul
dalam perusahaan apabila perusahaan tersebut mempunyai biaya variabel dan biaya tetap.
Suatu perusahaan dengan volume produksi tertentu dapat menderita kerugian dikarenakan
penghasilan penjualannya hanya mampu menutup biaya variabel dan hanya bisa menutup
sebagian kecil biaya tetap. Ditinjau dari konsep kontribusi margin, BEP dapat menunjukkan
bahwa pada titik volume penjualan, kontribusi margin sama besarnya dengan total biaya
tetap. Adapun manfaat dari analisis titik impas adalah sebagai berikut:
1) Jumlah penjualan minimal harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami
kerugian;
2) Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu;
3) Seberapa jauhkah yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu;
4) Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi
5) Untuk mengetahu bagaimana efek perubahan harga jual biaya dan volume penjualan
terhadap keuntungan yang diperoleh.
1.1 Pendekatan Laba Operasi
Laporan laba rugi merupakan suatu alat yang berguna untuk mengorganisasikan biaya-
biaya perusahaan dalam kategori tetap dan variabel. Laporan laba rugi dapat dinyatakan
sebagai persamaan berikut.

Laba operasi = Pendapatan penjualan – Beban variabel – Beban tetap

Berdasarkan persamaan tersebut, istilah laba operasi digunakan untuk menunjukkan


penghasilan atau laba sebelum pajak penghasilan. Laba operasi hanya mencakup pendapatan
dan beban dari operasional normal perusahaan. Sedangkan, laba bersih adalah laba operasi
dikurangi pajak penghasilan. Jika ukuran unit yang terjual sudah dibentuk, maka dapat
dikembangkanlah persamaan laba operasi denganmenyatakan pendapatan penjulan dan beban
variabel dalam jumlah unit dolar dan jumlah unit. Secara lebih spesifik, pendapatan penjualan
dinyatakan sebagai harga jual per unit dikali jumlah unit yang terjual, dan total biaya variabel
adalah biaya variabel per unit dikali jumlah unit yang terjual. Dengan demikian, persamaan
laba operasi menjadi sebagai berikut:
Laba operasi = (Harga x Jumlah unit terjual) – (Biaya Variabel per unit x jumlah unit
terjual ) – Total biaya tetap

1
1.2 Pendekatan Margin Kontribusi
Margin kontribusi adalah jumlah yang tersisa dari pendapatan dikurangi beban variabel.
Pendekatan ini meninjau jumlah yang tersedia untuk menutup beban tetap dan kemudian
menjadi laba untuk periode tersebut. Margin kontribusi digunakan terlebih dahulu untuk
menutup beban tetap dan sisanya akan menjadi laba. Jika margin kontribusi tidak cukup
untuk menutup beban tetap perusahaan, maka akan terjadi kerugian untuk periode tersebut.
Ketika titik impas dicapai, laba bersih akan bertambah sesuai dengan margin kontribusi per
unit untuk setiap tambahan produk yang terjual. Untuk memperkirakan pengaruh kenaikan
penjualan yang direncanakan terhadap biaya, manajer cukup mengalikan peningkatan dalam
unit yang terjual dengan margin kontribusi yang per unit. Hasilnya akan menggambarkan
peningkatan laba yang diharapkan.
1.3 Target Keuntungan
Penjualan dalam unit yang diperlukan untuk mencapai target laba meskipun titik impas
merupakan informasi yang berguna, sebagian besar perusahaan ingin memperoleh laba
operasi lebih besar daripada nol. Analisis cost volume profit menyediakan suatu cara
menentukan jumlah unit yang harus dijual untuk menghasilkan target laba tertentu. Target
laba di sini adalah laba operasi di atas nol (titik impasnya), yang dapat dinyatakan dengan
jumlah dolar atau sebagai persentase dari pendapatan penjualan. Untuk mencari target laba,
pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan pendekatan laba operasi atau pendekatan
margin kontribusi.
1.4 Target Keuntungan Setelah Pajak
Target laba setelah pajak pada saat menghitung titik impas, pajak penghasilan tidak
berperan. Ini disebabkan karena pajak yang dibayar atas laba nol adalah nol. Namun, ketika
perusahaan ingin mengetahui berapa unit yang harus dijual untuk menghasilkan laba bersih
tertentu, maka diperlukan beberapa pertimbangan tambahan. Ingat kembali, bahwa laba
bersih adalah laba operasi setelah pajak penghasilan dan bahwa angka target laba dinyatakan
dalam kerangka sebelum pajak. Dengan demikian, ketika target laba dinyatakan sebagai laba
bersih, harus menambahkan kembali pajak penghasilan untuk memperoleh laba operasi.
Umumnya, pajak dihitung sebagai persentase dari laba. Laba setelah pajak dihitung dengan
mengurangkan pajak dari laba operasi (atau laba sebelum pajak).

2. TITIK IMPAS DALAM DOLAR PENJUALAN


Pada beberapa kasus yang menggunakan analisis CVP, manajer mungkin lebih suka
menggunakan pendapatan penjualan sebagai ukuran aktivitas penjualan daripada unit yang
2
terjual. Suatu ukuran unit yang terjual dapat dikonversikan menjadi suatu ukuran pendapatan
penjualan hanya dengan mengalikan harga jual per unit dengan unit yang terjual. Setiap
jawaban yang dinyatakan dalam unit yang terjual dapat secara mudah dikonversi menjadi satu
jawaban yang dinyatakan dalam pendapatan penjualan, tetapi jawaban tersebut bisa dihitung
secara lebih langsung dengan mengembangkan rumus terpisah untuk kasus pendapatan
penjualan. Dalam kasus ini, variabel yang penting adalah dolar penjualan, sehingga
pendapatan maupun biaya variabel harus dinyatakan dalam dolar, bukan unit. Karena
pendapatan penjualan selalu dinyatakan dalam dolar, maka pengukuran variabel tidak
menjadi masalah. Untuk menghitung titik impas dalam dolar penjualan, biaya variabel
didefenisikan sebagi suatu persentase dari penjualan bukan sebagai sebuah jumlah per unit
yang terjual. Dapat diilustrasikan mengenai pembagian pendapatan penjualan menjadi biaya
variabel dan margin kontribusi sebagai berikut:
2.1 Target Keuntungan
Secara umum dengan asumsi biaya tetap tidak berubah, rasio margin kontribusi dapat
digunakan untuk mengetahui dampak terhadap laba atas perubahan pendapatan penjualan.
Untuk memperoleh total perubahan dalam laba yang diakibatkan oleh perubahan pendapatan,
kalikan rasio margin kontribusi dengan perubahan dalam penjualan.
2.2 Membandingkan Kedua Pendekatan
Biasanya ketika akan mengatur produk tunggal, pengubahan titik impas dalam unit
menjadi impas dalam pendapatan penjualan. Hal itu dikarenakan adanya masalah pengalian
harga jual per unit dengan unit yang terjual sehingga menimbulkan dua alasan yang membuat
manajemen menggunakan kedua rumus tersebut, yaitu:
1) Rumus pendapatan penjualan memungkinkan kita untuk mencari pendapatan secara
langsung jika hal tersebut dikehendaki
2) Pendekatan pendapatan penjualan jauh lebih mudah untuk digunakan dalam pengaturan
multiproduk yang memiliki harga yang bervariasi.

3. ANALISIS MULTI PRODUK


Banyak perusahaan memproduksi dan menjual sejumlah produk atau jasa.
Kompleksitas konseptual dari analisis CVP lebih tinggi dalam situasi multi produk, namun
pengoperasiannya tidak berbeda jauh. Terdapat pemisahan beban tetap langsung dari beban
tetap umum. Beban tetap langsung adalah biaya tetap yang dapat ditelusuri ke setiap produk
dan akan hilang jika produk tersebut tidak ada. Beban tetap umum adalah biaya tetap yang
tidak dapat ditelusuri ke produk dan akan tetap muncul meskipun salah satu produk
dieliminasi.
3
Mesin Manual Mesin Otomatis Total
Penjualan $3,000,000 $1,800,000 $4,800,000
Beban Variabel 1,800,000 900,000 2,700,000
Margin Kontribusi $1,200,000 $ 900,000 $2,100,000
Beban Tetap Langsung 250,000 450,000 700,000
Margin Produk $ 950,000 $ 450.000 $1,400,000
Beban Tetap Umum 600.000
Laba Operasi $ 800,000

3.1 Titik Impas dalam Unit


Titik impas dalam unit untuk analisis multi produk diterapkan secara terpisah ke setiap
lini produk. Hal ini membuat titik impas individu akan diperoleh jika laba didefinisikan
sebagai margin produk.
Ilustrasi pada kedua produk Whittier Company :
Unit impas mesin manual = Biaya Tetap / Margin Kontribusi
= $250.000 / $16
= 15,625 unit
Unit impas mesin otomatis = Biaya Tetap / Margin Kontribusi
= $450.000 / $30
= 15,000 unit
Pada contoh diatas, margin produk impas hanya menutupi biaya tetap langsung, namun
biaya tetap umum masih belum tertutupi. Penjualan kedua produk dalam jumlah tersebut
akan menimbulkan kerugian biaya tetap umum. Perlu dilakukan pengalokasian biaya tetap
umum ke setiap lini produk sebelum menghitung titik impas.
Permasalahannya adalah alokasi biaya tetap umum bersifat acak. Jadi, tidak ada volume
impas yang tampak secara langsung. Kemungkinan pemecahannya adalah mengkonversikan
masalah multi produk menjadi masalah produk tunggal. Jika hal ini dapat dilakukan, maka
seluruh metodelogi CVP produk tunggal dapat diterapkan secara langsung. Kunci dari
konversi ini adalah mengidentifikasi bauran penjualan yang diharapkan dalam unit dari
produk–produk yang dipasarkan.
3.2 Bauran Penjualan dan Analisis CVP
Bauran penjualan (sales mix) adalah kombinasi relatif dari berbagai produk yang dijual
perusahaan. Bauran penjualan dapat diukur dalam unit yang akan dijual atau bagian dari
pendapatan. Apabila penjualan direncanakan sebanyak 75,000 mesin pemotong rumput
manual dan 30,000 mesin pemotong rumput otomatis, maka bauran penjualan dalam unit
adalah 75,000:30,000 atau 5:2.
Ilustrasi pada kedua produk mesin pemotong rumput Whittier Company :
Produk Harga Biaya Bauran Margin
Variabel Kontribusi Harga Kontribusi
Per Unit per Unit per Paket
Mesin Manual $24 $16 $40 5 $80
Mesin Otomatis 30 30 60 2 60
Total Paket $140

4
Dalam proyeksi laba rugi Whittier, total biaya tetap perusahaan adalah $96.250
sehingga perhitungan titik impasnya sebagai berikut :
Paket Impas = Biaya Tetap / Margin Kontribusi per Paket
= $1,300,000/$140
= 9,285.71 Paket
3.3 Titik Impas dalam Dolar Penjualan
Titik impas dalam dolar penjualan dapat dihitung dengan membagi biaya tetap dengan
rasio margin kontribusi. Dalam ilustrasi Whittier Companya, biaya tetap adalah sebesar
$1,300,000 dan rasio margin kontribusi 0,4375 ($2,100,000/$4.800.000) sehingga
perhitungan penjualan impas sebagai berikut :
Penjualan Impas = Biaya Tetap / Rasio Margin Kontribusi
= $1,300,000/0,4375
= $2,971,429

4. REPRESENTASI GRAFIS DARI HUBUNGAN CVP


4.1 Grafik Laba Volume
Grafik laba volume (profit-volume graph) menggambarkan hubungan antara laba dan
volume penjualan secara visual. Grafik laba volume merupakan grafik dari persamaan laba
operasi :

Laba operasi = (Harga x Unit) - (Biaya Variabel per Unit x Unit) – (Biaya Tetap).

Dalam grafik ini laba operasi merupakan variabel terikat yang diukur pada sumbu
horizontal dan unit merupakan variabel bebas yang diukur pada sumbu vertikal.

5
4.2 Grafik Biaya Volume Laba
Grafik biaya volume laba (cost volume-profit graph) menggambarkan hubungan antara
biaya, volume, dan laba. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih terperinci, perlu dibuat
grafik dengan dua garis terpisah yaitu garis total pendapatan dan garis total biaya yang
disajikan dalam dua persamaan berikut :
Pendapatan = Harga x Unit
Total Biaya = (Biaya Variabel per Unit x Unit) + Biaya Tetap

6
4.3 Asumsi–Asumsi Pada Analisis Biaya Volume Laba
Grafik laba volume dan biaya volume laba mengandalkan beberapa asumsi penting
yaitu:
1) Fungsi Linier
Analisis mengasumsikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya berbentuk linier. Jika
kuantitas yg dijual meningkat pendapatan juga meningkat, begitu juga dengan biaya, jika
kuantitas produk yang dihasilkan meningkat, maka biaya juga meningkat.
2) Rentang yang Relevan
Analisis mengasumsikan harga, total biaya tetap, dan biaya variabel per unit dapat
diidentifikasikan secara akurat dan tetap konstan sepanjang rentang yang relevan.
Rentang yang relevan yaitu rentang operasi berjalan yang menggambarkan hubungan
biaya dan pendapatan linier yang berlaku.
3) Produksi Sama dengan Penjualan
Analisis mengasumsikan apa yg diproduksi dapat dijual. Tidak ada perubahan persediaan
selama periode tersebut.
4) Bauran Penjualan yang Konstan
Untuk analisis multiproduk, diasumsikan bauran penjualan diketahui. Analisis impas
multiproduk mensyaratkan suatu bauran penjualan yang konstan.
5) Harga dan Biaya diketahui dengan Pasti
Diasumsikan harga jual dan biaya diketahui secara pasti. Pada kenyataanya perusahaan
jarang mengetahui harga, biaya variabel, dan biaya tetap secara pasti. Suatu perubahan
pada satu variabel biasanya mempengaruhi nilai variable lainnya.

5. PERUBAHAN DALAM VARIABEL CVP


Perusahaan beroperasi dalam dunia yang dinamis, mereka harus memperhatikan
perubahan-perubahan yang terjadi dalam harga, biaya variabel, dan biaya tetap. Perusahaan
juga harus memperhitungkan pengaruh resiko dan ketidakpastian. Kita akan membahas
pengaruh dari perubahan harga, margin kontribusi per unit, dan biaya tetap terhadap titik
impas. Kita juga akan membahas cara–cara yang dapat ditempuh para manajer untuk
menangani risiko dan ketidakpastian dalam kerangka CVP
5.1 Memperkenalkan Risiko dan Ketidakpastian
Asumsi penting dari analisis CVP adalah harga dan biaya diketahui dengan pasti.
Risiko dan ketidakpastian adalah bagian dari pengambilan keputusan bisnis dan
bagaimananpun hal itu harus ditangani. Secara formal, risiko berbeda dengan ketidakpastian.
Distribusi probabilitas variabel pada risiko dapat diketahui, sedangkan distribusi probabilitas
variabel pada ketidakpastian tidak diketahui. Namun, pada tujuan pembahasan kita, kedua
istilah tersebut akan digunakan secara bergantian.

7
1) Margin pengaman (margin of safety)
Merupakan unit yang terjual atau diharapkan terjual atau pendapatan yang dihasilkan atau
diharapkan untuk dihasilkan yang melebihi volume impas. Margin pengaman dapat
dipandang sebagai ukuran kasar dari risiko. Pada kenyataannya peristiwa yang tidak
diketahui selalu muncul ketika rencana disusun. Hal itu dapat menurunkan penjualan di
bawah jumlah yang diharapkan. Apabila margin pengaman perusahaan adalah besar atas
penjualan tertentu yang diharapkan tahun depan, maka risiko menderita kerugian jika
penjualan menurun lebih kecil daripada margin pengamannya kecil. Manajer yang
menghadapi margin pengaman yang rendah mungkin ingin mempertimbangkan berbagai
tindakan untuk meningkatkan penjualan atau mengurangi biaya.
2) Pengungkit Operasi
Merupakan penggunaan biaya tetap untuk menciptakan perubahan persentase laba yang
lebih tinggi ketika aktivitas penjualan berubah. Tingkat pengungkit operasi untuk tingkat
penjualan tertentu dapat diukur dengan menggunakan rasio margin kontribusi terhadap
laba.
Tingkat pengungkit operasi = Margin kontribusi / laba
5.2 Analisis Sensitivitas dan CVP
Meluasnya penggunaan computer dan spreadsheet telah memudahkan para manajer
melakukan analisis sensitivitas. Sebagai sebuah alat penting, analisis sensitivitas adalah
teknik “bagaimana-jika” yang menguji dampak dari perubahan asumsi–asumsi yang
mendasarinya terhadap suatu jawaban.

6. ANALISIS CVP DAN PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN AKTIVITAS


Analisis CVP konvensional mengasumsikan semua biaya perusahaan dapat
dikelompokkan dalam dua kategori: biaya yang berubah sejalan dengan volume penjualan
(biaya variabel) dan biaya yang tidak berubah (biaya tetap). Selanjutnya biaya diasumsikan
sebagai fungsi linier dari volume penjualan. Pada sistem perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas, biaya dibagi dalam kategori berdasarkan unit dan non-unit. Persamaan biaya ABC
dapat dinyatakan sebagai berikut:

Total biaya = Biaya tetap + (Biaya variabel per Unit x Jumlah unit) + (Biaya pengaturan x
Jumlah pengaturan) + (Biaya rekayasa x Jumlah jam rekayasa)

Laba operasi, seperti sebelumnya, adalah total pendapatan dikurangi total biaya. Hal ini
dinyatakan sebagai berikut:

Laba operasi = Total pendapatan – [Biaya tetap + (Biaya variabel per unit x Jumlah Unit)
+ (Biaya pengaturan x Jumlah Pengaturan) + (Biaya rekayasa x Jumlah jam rekayasa)]
8
Menggunakan pendekatan margin kontribusi untuk menghitung titik impas dalam unit. Pada
impas, laba operasi adalah nol, dan jumlah unit yang harus dijual untuk mencapai impas
adalah sebagai berikut:

Unit impas = [(Biaya tetap + (Biaya pengaturan x Jumlah pengaturan) + (Biaya rekayasa
x Jumlah jam rekayasa)] / (Harga – Biaya variabel per unit)

6.1 Contoh Perbandingan Penggunaan Analisis CVP dan Analisis ABC


Diasumsikan bahwa suatu perusahaan ingin menghitung jumlah unit yang harus dijual
untuk menghasilkan laba sebelum pajak sebesar $20.000. Analisis ini didasarkan pada data
berikut:

Penggerak Biaya variable per unit ($) Tingkat aktivitas


Unit terjual 10 -
Pengaturan 1.000 20
Jam rekayasa 30 1.000
Data lainnya:
Total biaya tetap (konvensional) $100.000
Total biaya tetap (ABC) 50.000
Harga jual per unit 50

Dengan menggunakan analisis CVP, jumlah yang harus terjual untuk menghasilkan laba
sebelum pajak sebesar $20.000 dihitung sebagai berikut:
Jumlah unit = (Target laba + Biaya)/(Harga-Biaya variabel per unit)
= ($20.000 + $100.000)/($20-$10)
= $120.000/$10
= 12.000

Dengan menggunakan persamaan ABC, jumlah unit yang harus terjual untuk
menghasilkan laba operasi sebesar $20.000 dihitung sebagai berikut:
Jumlah unit = [$20.000 + $50.000 + ($1.000x20) + ($30x1.000)]/($20-$10)
= 12.000 unit

6.2 Implikasi Strategis: Analisis CVP Konvensional Versus Analisis ABC


Misalkan bahwa setelah dilakukan analisis CVP konvensional, departemen pemasaran
menyarankan bahwa penjualan 12.000 unit mustahil dicapai. Hanya 10.000 unit yang

9
mungkin dapat terjual. Presiden direktur perusahaan kemudian memerintahkan para insinyur
perancang produk mencari suatu cara mengurangi biaya pembuatan produk. Para insinyur
juga diminta untuk mempertahankan persamaan biaya konvensional, yaitu biaya tetap sebesar
$100.000 dan biaya variabel $10. Biaya variabel per unit sebesar $10 terdiri atas tenaga
langsung, $4 ; bahan baku langsung, $5 ; dan overhead variabel , $1.
Guna memenuhi permintaan untuk mengurangi titik impas,departemen teknik
memproduksi suatu rancangan baru yang membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja.
Rancangan baru tersebut mengurangi biaya tenaga kerja langsung sebesar $2 per unit.
Dengan demikian,biaya variabel yang baru adalah $8 per unit dan titik impas adalah sebagai
berikut:
Jumlah unit = biaya tetap : (harga – biaya variabel per unit )
= $ 100.000 : ($ 20 - $ 8)
= 8.333 unit

Proyeksi laba jika 10.000 unit terjual dihitung sbb :

Penjualan ($20 x 10.000) $ 200.000


Dikurangi : beban variabel ($8 x 10.000) 80.000
Margin kontribusi $ 120.000
Dikurangi : beban tetap 100.000
Laba operasi $ 20.000

Satu tahun kemudian, Presiden Direktur mendapati bahwa peningkatan laba yang
diharapkan tidak terjadi. Sebaliknya, perusahaan mengalami kerugian, mengapa? Jawabannya
di berikan oleh pendekatan ABC pada analysis CVP. Hubungan biaya ABC awal pada contoh
tersebut adalah sebagai berikut:
Total biaya = $50.000 + ($10 x unit ) + ( $1000 x pengaturan) + ($30.000 x jam rekayasa)
Misalkan bahwa rancangan baru tersebut membutuhkan pengaturan yang lebih rumit,
sehingga meningkatkan biaya per pengaturan dari $1000 menjadi $1600. Juga misalkan
bahwa rancangan baru itu, karena peningkatan kandungan teknis, membutuhkan dukungan
teknik tambahan sebesar 40 persen (dari 1000 jam menjadi 1400 jam). Persamaan biaya yang
baru, termasuk pengurangan biaya variabel tingkat unit, adalah :
Total biaya = $ 50.000 + ($ 8 x unit) + ($ 1600 x pengaturan) + ($ 30 x jam rekayasa)
Titik impas, dengan laba operasi nol dan menggunaan persamaan ABC, dihitung:
(anggap bahwa 20 pengaturan masih di lakukan)
Jumlah unit = [ ( $ 50.00 + ($ 1600 x 20 ) + ( $ 30.000 x 1400 ) ] : ($ 20 - $ 8)

10
= $ 124.000 : $ 12
= 10.333 unit.

Dan laba operasi untuk 10.000 unit dihitung sbb :


(inget kembali bahwa jumlah maksimal yang dapat terjual adalah $ 10.000)
Penjualan ($ 20 x 10.000) $ 200.000
Dikurangi: beban variabel berdasarkan unit ($8 x 10.000) 80.000
Margin kontribusi $120.000
Dikurangi: beban variabel berdasarkan non unit:
Pengaturan ($1600 x 20) $32.000
Dukungan teknik ($ 30 x 1400) 42.000 74.000
Margin yang dapat di telusuri $46.000
Dikurangi: beban tetap 50.000
(rugi) operasional $ (4000)

6.3 Analisis CVP dan JIT


Variabel tingkat batch menjadi hilang (pada sistem JIT batch-nya adalah satu unit).
Dengan demikian, persamaan biaya pada JIT dapat dinyatakan sbb :

Total biaya = biaya tetap + ( biaya variabel per unit x jumlah unit ) + ( biaya rekayasa x
jumlah jam rekayasa)

DAFTAR PUSTAKA

Guan, L., Hansen, D. R., and Mowen, M. M. (2009). Cost Management: Accounting and
Control. Sixth Edition. United States: South-Western.

11