Anda di halaman 1dari 12

HUKUM DALAM KONTEKS HAM

Dosen pengampu : Rokilah, MH

Disusun oleh:
Eva Veronica 61117017
Dyan Febrya A 61117061
Messi Ratapan 61117010

Ilmu Hukum
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Serang Raya
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan yang maha esa atas segala limpahan rahmat,

sehingga saya dapat menyelesaikan susunan makalah ini dalam bentuk maupun

isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah

satu acuan, petunjuk maupun pedoman. Harapan saya semoga makalah ini

membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga

saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat

lebih baik. Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak

terdapat kekurangan, oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun akan

diterima dengan senang hati untuk perbaikan makalah ini. Akhir kata, kami

sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam

penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa

meridhoi segala usaha kita, amin.


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................................. 2
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 5
1.3 Tujuan dan Manfaat .................................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................. 6
2.1 HAM ............................................................................................................................. 6
2.2 Konsep Dasar Hak Asasi Manusia (HAM) ................................................................... 6
2.3 Hukum dalam Konteks HAM ....................................................................................... 8
BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 11
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai negara yang menganut prinsip negara hukum dan
demokrasi ternyata masih banyak melakukan pelanggaran atas Hak Asasi Manusia
(HAM), baik pelanggaran yang masif dan berat. Misalnya, pembantaian masal 1965,
peristiwa Tanjung Priok pada tahun 1984, Penembakan Misterius “Petrus”, Semanggi
I, Semanggi II, dan peristiwa Mei 1998 merupakan sebagian kasus-kasus pelanggaran
HAM di indonesia. Prinsip negara hukum dan demokrasi merupakan hubungan yang
tidak dapat dipisahkan dengan konsep HAM. Konsep HAM, negara hukum, dan
demokrasi, merupakan interplay satu sama lain. HAM dan demokrasi tanpa hukum
akan menciptakan individualisme dan egoisme kelompok. Sementara negara hukum
yang kontennya tanpa adanya pengakuan HAM dan demokrasi akan menciptakan
kekuasaan yang otoriter.
Konsepsi HAM dan demokrasi dalam perkembangannya sangat terkait dengan
konsepsi negara hukum. Dalam sebuah negara hukum, sesungguhnya yang
memerintah adalah hukum, bukan manusia. Hukum dimaknai sebagai kesatuan
hirarkis tatanan norma hukum yang berpuncak pada konstitusi. Hal ini berarti
bahwa dalam sebuah negara hukum menghendaki adanya supremasi konstitusi.
Supremasi konstitusi disamping merupakan konsekuensi dari konsep negara hukum,
sekaligus merupakan pelaksanaan demokrasi karena konstitusi adalah wujud
perjanjian sosial tertinggi.
Konstitusi dalam pandangan Soetandyo Wignjosobreoto sebagai sejumlah
ketentuan hukum yang disusun secara sistematis untuk menata Indonesia sebagai
negara yang menganut prinsip negara hukum ini sejak awal telah terwujud dalam
pembukaan, batang tubuh dan bunyi penjelasan UUD 1945. Dalam isi pembukaan
dan batang tubuh UUD 1945 yang secara tegas menyebutkan adanya prinsip
demokrasi dan pengakuan serta perlindungan HAM. Bahkan adanya konstitusi itu
sendiri merupakan bukti pula bahwa Indonesia menganut prinsip negara hukum dan
demokrasi. Namun dalam kenyataannya, terjadinya pelanggaran HAM tidak dapat
dibantahkan meskipun sejak awal negara Indonesia menganut prinsip negara hukum
dan demokrasi. Kasus-kasus pelanggaran HAM dimasa lalu menjadi hutang yang
harus diselesaikan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu HAM?
2. Apa saja konsep dasar HAM?
3. Apa yang dimaksud Hukum dalam Konteks HAM?

1.3 Tujuan dan Manfaat


Berdasarkan rumusan masalah yang dipaparkan, tujuan dari makalah ini
untuk mengetahui hukum dalam konteks HAM yang berada di Indonesia

Manfaat Penelitian

1. Makalah ini diharapkan dapat memberikan edukasi kepada pembaca dan


menambah pengetahuan tentang Hukum dalam konteks HAM yang ada di
Indonesia.
2. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana HAM sangat dijunjung tinggi di
Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 HAM
Hak Asasi Manusia (HAM) dan permasalahannya merupakan topik tertua dan
aktual, yang selalu ada di setiap peradaban manusia. Penegakkan HAM masih
terkendala dengan kesadaran dan kesungguhan para penguasa serta pemahaman
warga negara akan hakikat HAM di berbagai negara di dunia termasuk Indonesia.

Untuk mengawal penegakkan HAM di Indonesia, diperlukan partisipasi


masyarakat, baik secara pribadi maupun secara institusi seperti Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM), Lembaga Pendidikan, Media dan Pers, dan lembaga-lembaga
lainnya. Hal ini dirasakan sangat efektif dalam membangun opini secara meluas akan
pelanggaran HAM yang terjadi di sekitar kita. Transparansi dan perjuangan tanpa
henti dalam menegakkan HAM sepatutnya menjadi budaya bangsa.

2.2 Konsep Dasar Hak Asasi Manusia (HAM)


Konsep Hak Asasi Manusia (HAM) dapat diuraikan dengan pendekatan bahasa
(etimologi) maupun pendekatan istilah. Secara etimologi, kata “hak” merupakan
unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman perilaku, melindungi kebebasan,
kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan
martabatnya. Sedangkan kata “asasi” berarti yang bersifat paling mendasar yang
dimiliki oleh manusia sebagai fitrah, sehingga tak satupun makhluk dapat
mengintervensinya apalagi mencabutnya. Misalnya hak hidup sebagai hak paling
dasar yang dimiliki manusia, sehingga tak satupun manusia ini memiliki kewenangan
untuk mencabut kehidupan manusia yang lain.

Komisi HAM PBB, mengutarakan bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak
yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup
sebagai manusia. Sedangkan menurut John Locke, seorang ahli pakar di bidang Ilmu
Negara berpendapat bahwa hak-hak asasi manusia adalah hak-hak yang diberikan
langsung oleh Tuhan sebagai hak yang kodrati. Ia memperinci hak asasi sebagai
berikut: :

- hak hidup (the right to life)


- hak kemerdekaan (right to liberty)

- hak milik (right to property).

Konsep Hak Asasi Manusia terus mengalami transformasi. Pada tanggal 6 Januari
1941, F. D. Roosevelt memformulasikan empat macam hak-hak asasi (the four
freedoms) di depan Kongres Amerika Serikat, yaitu:

- bebas untuk berbicara (freedom of speech)

- bebas dalam memeluk agama (freedom of religion)

- bebas dari rasa takut (freedom of fear) dan

- bebas terhadap suatu keinginan/kehendak (freedom of from want).

Dimensi yang dirumuskan oleh F.D. Roosevelt menjadi inspirasi dan bagian
yang tidak terpisahkan dari Declaration of Human Right 1948, di mana seluruh umat
manusia melalui wakil-wakilnya dalam organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) sepakat dan bertekad memberikan pengakuan dan perlindungan secara
yuridis formal terhadap hak-hak asasi dan merealisasikannya.

Secara teoritis, hak-hak yang terdapat di dalam The Universal Declaration of


Human Rights dapat dikelompokkan dalam tiga bagian: 1. yang menyangkut hak-hak
politik dan yuridis

2. yang menyangkut hak-hak atas martabat dan integritas manusia

3. yang menyangkut hak-hak sosial, ekonomi dan budaya

Hak asasi manusia pada dasarnya bersifat umum atau universal, karena
diyakini bahwa beberapa hak yang dimiliki manusia tidak memandang bangsa, ras,
atau jenis kelamin. Dasar dari hak asasi manusia adalah bahwa manusia harus
memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat dan cita-citanya.
Hak asasi manusia juga bersifat supralegal, artinya tidak tergantung pada negara
atau undang-undang dasar, dan kekuasaan pemerintah. Bahkan HAM memiliki
kewenangan lebih tinggi karena berasal dari sumber yang lebih tinggi, yaitu Tuhan.
Di Indonesia, hal ini ditegaskan dalam UU No. 39/1999 tentang hak asasi manusia,
yang mendefinisikan hak asasi manusia sebagai seperangkat hak yang melekat pada
hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan YME.

Permasalahan dan Penegakan HAM di Indonesia


Indonesia merupakan salah satu negara yang masih buruk dalam upaya
penegakkan HAM-nya. Beberapa tokoh Indonesia pernah menjadi sorotan
Internasional berkaitan pelanggaran HAM di Timor-timor beberapa waktu yang lalu.
Kasus yang juga mencuat hingga mata dunia terbelalak yaitu pembunuhan aktivis
sejati HAM di Indonesia, yaitu Munir. Hingga kini, pembunuhan Munir masih dalam
proses hukum, walaupun sangat sulit diungkapkan, karena melibatkan oknum
anggota Badan Intelejen di Indonesia.

Sesuai dengan amanat konstitusi, Hak Asasi Manusia di Indonesia didasarkan


pada Konstitusi NKRI, yaitu:

1. Pembukaan UUD 1945 (alinea 1); 2. Pancasila sila keempat; 3. Batang Tubuh UUD
1945 (Pasal 27, 29, dan 30); 4. UU Nomor 39/1999 tentang HAM dan UU Nomor
26/2000 tentang Pengadilan HAM.

Hak asasi di Indonesia menjamin hak untuk hidup, hak berkeluarga, dan melanjutkan
keturunan, hak mengembangkan diri, hak memperoleh keadilan, hak atas kebebasan,
hak atas rasa aman, hak atas kesejahteraan, hak turut serta dalam pemerintahan, hak
wanita, dan hak anak.

Program penegakan hukum dan HAM (PP Nomor 7 Tahun 2005), meliputi
pemberantasan korupsi, antiterorisme, dan pembasmian penyalahgunaan narkotika
dan obat berbahaya. Oleh sebab itu, penegakan hukum dan HAM harus dilakukan
secara tegas, tidak diskriminatif, dan konsisten.

2.3 Hukum dalam Konteks HAM


Menurut Lawrence Meir F (1975,1998) terdapat tiga unsur dalam sistem
hukum yaitu:

A. Substansi hukum (legal substance)


Substansi merupakan produk yang dihasilkan oleh orang yang berada dalam
sistem hukum yang mencakup keputusan yang mereka keluarkan, aturan baru
yang mereka susun. Substansi juga mencakup hukum yang hidup (living law),
bukan hanya aturan yang ada dalam kitab UU (law books). Substansi hukum
berkaitan dengan proses pembuatan suatu produk hukum yang dilakukan
oleh pembuat UU. Substansi dari HAM itu sendiri terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Non Derogable (Absolut) adalah hak-hak yang bersifat absolut yang tidak
boleh dikurangi pemenuhannya oleh negara, walaupun negara dalam
kondisi darurat. Hak yang termasuk jenis ini yakni:
 Hak atas hidup
 Hak bebas dari penyiksaan
 Hak bebas dari perbudakan
 Hak bebas dari penahanan karena gagal dari memenuhi perjanjian
(seperti, hak bebas dari pemidanaan yang berlaku surut, hak sebagai
subjek hukum, hak atas kebebasan berfikir, keyakinan dan agama)

Pelanggaran terhadap hak jenis ini akan mendapatkan kecaman sebagai


pelanggaran serius HAM.

2. Derogable (tidak mutlak) adalah hak-hak yang boleh dikurangi atau


dibatasi pemenuhannya oleh negara. Termasuk dalam jenis hak ini,yakni:
 Hak atas kebebasan berkumpul secara damai
 Hak atas kebebasan berserikat termasuk membentuk dan menjadi
anggota serikat buruh
 Hak atas kebebasan menyatakan pendapat atau berekspresi
termasukkebebasan mencari,menerima dan memberikan informasi dan
segala macam gagasan (lisan-tulisan)

Negara diperbolehkan mengurangi atas kewajiban dalam memenuhi hak-hak


tersebut. Akan tetapi pengurangan hanya dapat dilakukan apabila sebanding dengan
ancaman yang dihadapi dan tidak diskriminatif, yaitu demi menjaga keamanan
nasional, ketertiban umum, menghormati hak atau kebebasan orang lain.

B. Substansi hukum ( legal structure) kerangka atau rangkanya, bagian yang


tetap bertahan, bagian yang memberi semacam bentuk dan batasan secara
keseluruhan. Struktur hukum disini meliputi lembaga negara penegak hukum
seperti pengadilan, kejaksaan, kepolisian, advokat dan lembaga penegak
hukum yang secara khusus diatur oleh undang-undang seperti KPK.
Kewenangan lembaga penegak hukum dijamin oleh UU. Unsur-unsur struktur
hukum meliputi:
 Jumlah dan jenis pengadilan
 Yurisdriksinya
 Jumlah hakim agung dan hakim lainnya
Lembaga- lembaga yang berhubungan dengan penegakan HAM:

1. Komnas HAM: Sebuah lembaga mandiri dengan fungsi melaksanakan kajian,


perlindungan, penelitian, penyuluhan, pemantauan, investigasi, dan mediasi
terhadap persoalan-persoalan HAM
2. Peradilan HAM (Genosida, kejahatan perang, pelanggaran HAM, dll)

Sebagai perangkat kelembagaan dasar peningkatan upaya penghormatan dan


perlindungan HAM melalui prosen pengadilan perkara HAM

C. Kultur Hukum menurut Lawrence Meir F adalah sikap manusia terhadap


hukum dan sitem hukum kepercayaan, nilai, pemikiran, serta harapannya.
Kultur hukum adalah suasana pemikiran sosial dan kekuatan sosial yang
menentukan bagaimana hukum digunakan, dihindari atau disalahgunakan.

Diakuinya eksistensi HAM dalam sistem hukum di Indonesia tidak terlepas dari
pengaruh dan pergaulan Internasional. Terlepas dari pelaksanaan penegakan hukum
HAM oleh aparat negara, secara konsep HAM telah tertuang dalam berbagai bentuk
peraturan perundang-undangan baik eksplisit (tersurat) maupun implisit (tersirat)
yang tujuan utamanya memberikan perlindungan hukum terhadap warga negara
terhadap tindakan keseenangan yang dilakukan penguasa maupun pihak mayoritas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA