Anda di halaman 1dari 9

KOLABORASI PERAWAT BERSAMA BALAWISTA DALAM

PELATIHAN PENYELAMAT WISATAWAN SERTA PEMANFAATAN


KLINIK WISATA DI PANTAI KUTA

Indonesia, adalah negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa


dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan
Samudra Hindia. Indonesia adalah negara yang mempunyai banyak sekali pulau-
pulau yang terbentang dari sabang sampai merauke. Jumlah pulau yang ada di
Indonesia berdasarkan data Dewan Ketahanan Nasional terdapat 17.504 pulau
yang dimana sudah termasuk pulau yang belum mempunyai nama dan merupakan
negara yang memiliki pulau terbanyak di dunia. Dari banyaknya pulau yang ada di
Indonesia, Pulau Bali adalah salah satu pulau yang sering dijadikan tujuan wisata
baik oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Sehingga dalam
hal ini mempunyai andil terhadap kondisi perkembangan kesehatan masyarakat.
Pelayanan kesehatan yang baik dan terarah yang dilakukan oleh petugas kesehatan
terhadap wisatawan, dapat menjadikan nilai plus atau malah menggambarkan nilai
negatif bila petugas kesehatan kurang sigap memberikan pelayanan yang
maksimal baik preventif, promotif, kuratif maupun rehabilitatif.

Di Pulau Bali sendiri mempunyai banyak tempat wisata yang menjadi


tujuan wisatawan, salah satunya yaitu pantai. Pantai merupakan salah satu tempat
wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun
mancanegara. Salah satu dari sekian banyak potensi alam tersebut adalah Pantai
Kuta yang terletak di Kabupaten Badung. Menurut (Kusuma & Suryawan, 2016)
berdasarkan data dari Badan Penyelamat Wisata Tirta Badung tahun 2013
didapatkan tingginya aktivitas wisatawan membuat potensi terjadinya kecelakaan
saat beraktivitas di Pantai Kuta juga tinggi, dimana tercatat 5 kasus kecelakaan
wisatawan saat beraktivitas di Pantai Kuta yang berhasil ditangani balawista yaitu
diantaranya 4 orang berhasil diselamatkan dan 1 orang meninggal dunia.

Hal inilah yang pada akhirnya berdampak pada aktifitas kepariwisataan di


pantai yang terkadang menimbulkan risiko kesehatan, sehingga perlu dilakukan
upaya nyata agar keamanan dan kenyamanan wistawan dapat terjaga. Risiko
kecelakaan yang sering dialami wisatawan di pantai seperti tenggelam, heat
stroke, luka tusukan benda laut, hipotermi, patah tulang dan perdarahan akibat
selancar, luka bakar merupakan keadaan yang memerlukan penanganan petugas
profesional kesehatan. Kasus kecelakaan di Pantai Kuta rata-rata tiap bulannya
mengalami kenaikan 40- 50 wisatawan di pantai, sehingga memerlukan kerjasama
lintas program dan sektoral baik melalui sektor pariwisata dan sector
kesehatannya.

Salah satu upaya yang telah dilakukan yaitu pelatihan penyelamat wisata
tirta di Kabupaten Badung yang bertujuan untuk mendidik, melatih tenaga-tenaga
terampil dalam upaya penyelamatan setiap penikmat wisata tirta, meningkatkan
kualitas dan kuantitas pelayanan, menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para
wisatawan yang memanfaatkan pantai dan wisata tirta serta menambah wawasan
kepada para peserta untuk memahami prilaku dan budaya wisata dan
meningkatkan kapasitas anggota balawista selain sebagai penyelamat pantai juga
selaku duta-duta wisata. Selain balawista, peran profesi perawat dalam hal ini
dapat turut andil dalam mengikuti pelatihan yang diadakan, karena dalam upaya
meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan terutama dalam bidang kesehatan
perawat tidak hanya mengandalkan apa yang sudah diberikan pengarahan-
pengarahan saja tanpa adanya kerja nyata. Tidak hanya turut andil dalam pelatihan
saja, perawat serta balawisata juga dapat berbagi ilmu yang dimiliki untuk
terciptanya upaya penyelamatan bagi wisatawan di Pantai Kuta. Selain itu
berbekal pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seorang perawat bisa
melakukan pertolongan dalam berbagai bentuk. Perawat bersama dengan dokter
merupakan ujung tombak kesehatan pada saat terjadi kecelakaan selama dalam
kondisi kritis dan gawat darurat. Kolaborasi antara balawista dan perawat akan
memaksimalkan usaha penyelamatan wisatawan yang mengalami keadaan
kegawatdaruratan seperti wisatawan tenggelam, terluka karena papan surfing
ataupun batu, dan lain sebagainya. Sehingga akan meminimalisir terjadinya
kedaan yang lebih berat lagi serta meminimalisir terjadinya kematian pada
wisatawan.

Tidak hanya mengadalkan pada penjagaan atau kewaspadaan yang


mungkin akan terjadi kapan saja oleh wisatawan. Menurut (Juniawan, Karini, &
Dewi, 2017) berdasarkan pada persepsi kenyamanan wisatawan yang datang di
Pantai Kuta salah satunya karena lingkungannya yang bersih, selain itu juga
hampir seluruh wisatawan mancanegara yang dijadikan sebagai responden
memiliki motivasi berkunjung ke Pantai Kuta adalah untuk memenuhi kebutuhan
fisiknya. Sebanyak 103% responden memiliki motivasi berkunjung untuk
menyegarkan tubuh dan pikiran mereka, bertujuan untuk kesehatan, olahraga,
ataupun untuk bersenang-senang. Karena hal inilah yang menyebabkan
pentingnya menjaga lingkungan sehingga dapat meminimalisir terjadinya
kecelakaan yang dapat terjadi pada wisatawan. Selain untuk meminimalisir
kecelakaan, dengan menjaga lingkungan agar tetap kondusif hal lain yang harus
dilakukan baik oleh seluruh warga yang berada di lingkungan pantai hingga
wisatawan baik domestik ataupun mancanegara adalah menjaga kebersihan pantai
dengan tidak membuang sampah sembarangan di sekitar pantai atau membuat
sampah ke laut, apabila hal tersebut sudah berjalan dengan baik maka
kenyamanan akan tetap dapat dirasakan sampai kedepannya.

Selain untuk menikmati pantai dengan bermain di laut seperti berselancar,


ada hal lain yang dapat ditemukan di pinggiran pantai, salah satunya adalah seni
tato. Menurut (Setiawan, 2016) pariwisata di Bali sangat erat hubungannya
dengan budaya begitu juga sebaliknya. Salah satu seni yang diminati oleh
wisatawan mancanegara adalah seni tato. Tato sendiri ada yang permanen ada
juga yang temporary yaitu tato non permanen dengan alat yang lebih sederhana.
Tato yang bersifat temporary sering tidak memperhatikan sterilitas dan risiko
yang akan diakibatkan untuk selanjutnya. Pembuatan gambar permanen pada
tubuh secara garis besar yaitu : 1) retas tubuh, yaitu menggores permukaaan kulit
dengan benda tajam, sehingga akan terbentuklah tonjolan pada permukaan kulit;
2) melubangi permukaan kulit dengan benda yang runcing sesuai dengan gambar
yang diinginkan, lalu dari lubang itulah tinta dimasukkan kedalam permukaan
kulit. Hal inilah akan berdampak buruk untuk kedepannya, karena banyaknya
penyakit yang akan mengintai para wisatawan mulai dari penyakit kulit ringan
sampai berat seperti kanker kulit atau bahkan akan berakibat pada kematian.
Menurut (Prabawa, 2014) berwisata baik secara langsung atau tidak
langsung dapat menyebabkan berbagai risiko kesehatan tergantung dari keadaan
fisik wisatawan maupun tipe perjalanannya seperti contohnya wisatawan mungkin
terpapar secara tiba-tiba dengan perubahan ketinggian, kelembaban, suhu, dan
mikroba dimana hal tersebut dapat menyebabkan masalah kesehatan. Sehubungan
dengan hal diatas maka telah tersedia fasilitas pelayanan kesehatan khusus
menangani masalah kesehatan pada wisatawan di kawasan wisata yang dikenal
dengan nama klinik wisata (Travel Clinic). Klinik wisata merupakan suatu
fasilitas kesehatan dimana sifat pelayanan yang diberikan meliputi konsultasi pra-
perjalanan, selama berwisata, setelah berwisata, serta upaya vaksinasi dan edukasi
akan resiko terpapar agen infeksi dimana sebenarnya dapat dicegah sesuai dengan
prinsip ilmu Travel Medicine. Pada saat ini di kawasan Pantai Kuta sudah terdapat
klinik-klinik seperti klinik dokter umum, klinik wisata (Travel Clinic) Swasta dan
klinik yang terdapat pada hotel-hotel di sekitar kawasan wisata, selain klinik
terdapat juga puskesmas terdekat di sekitar tempat wisata. Meskipun pada setiap
klinik dan puskesmas sudah terdapat fasilitas yang memadai tetapi masih banyak
wisatawan baik domestik atau mancanegara yang belum paham mengenai peran
dan fungsi klinik wisata dengan pelayanan primer pada umumnya yang
berpengaruh pada sikap yang diambil terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan
klinik wisata tersebut.

Menurut (Prabawa, 2014) dalam penelitiannya dari 50 responden yang


diwawancarai sebanyak 47 orang (94%) tidak pernah mengunjungi klinik wisata
sedangkan 3 orang (6%) pernah mengunjungi klinik wisata. Sedangkan
berdasarkan tingkat pengetahuan wisatawan domestik ataupun manca negara
seputar klinik wisata sebagian besar memiliki pengetahuan yang baik yaitu pada
wisatawan domestik terdapat 32 orang (64%) sedangkan 12 orang (24% )
memiliki pengetahuan yang cukup dan 6 orang lainnya (12%) mempunyai
pengetahuan yang kurang. Kemudian dari segi pengetahuan wisatawan manca
negara terdapat 31 orang (62%) mempunyai pengetahuan yang baik, 11 orang
(22%) mempunyai pengetahuan yang cukup, dan 8 orang lainnya (16%)
mempunyai pengetahuan yang kurang. Dari segi kemauan, dari 50 wisatawan
domestik diketahui 32 orang (64%) diantaranya memiliki kemauan untuk
memanfaatkan klinik wisata dan 18 orang (36%) sisanya tidak memiliki kemauan
untuk memanfaatkan klinik wisata. Sedangkan hasil serupa juga diperoleh pada
wisatawan mancanegara dimana dari 50 wisatawan mancanegara diketahui 33
orang (66%) diantaranya memiliki kemauan untuk memanfaatkan klinik wisata
dan 17 orang (34%) sisanya tidak memiliki kemauan untuk memanfaatkan klinik
wisata. Hal inilah yang menjadi permasalahan bagaimana cara agar dapat
menjalankan klinik wisata dengan baik.

Dengan mengetahui keberadaan serta peran dari klinik wisata dalam hal
memberikan pelayanan kesehatan terhadap risiko perjalanan wisata tentunya akan
memberikan manfaat tersendiri khususnya bagi para wisatawan. Para wisatawan
baik domestik maupun mancanegara akan bahaya yang daoat dialami ketika
berwisata. Hal ini dikarenakan sifat dari pelayanan di klinik wisata bersifat
paripurna yakni memberikan konsultasi kesehatan sebelum berwisata, selama
berwisata, serta setelah berwisata sehingga memudahkan para wisatawan untuk
mendapatkan informasi yang akan meningkatkan kemauan para wisatawan dalam
memanfaatkan klinik wisata. Akan tetapi, untuk membuat para wisatawan mau
melakukan konsultasi, banyak kendala yang akan dialami salah satunya adalah
bahasa, dalam hal ini yang sering menjadi masalah adalah bahasa asing. Bahasa
asing kerap kali menjadi hambatan bagi perawat untuk memberikan pelayanan
kesehatan baik itu ketika melakukan tindakan keperawatan ataupun memberikan
konsultasi ke wisatawan. Meskipun Pulau Bali terutama Pantai Kuta yang
merupakan salah satu destinasi yang diminati wisatawan, tidak menjamin bahwa
semua yang bersangkutan di lingkungan tersebut dapat melakukan komunikasi
dengan bahasa asing. Sehingga, masih perlu adanya inisiatif ataupun kemauan
dari perawat untuk dapat mempelajari bahasa asing itu sendiri agar
mempermudam pemberian pelayanan terutama untuk wisatawan mancanegara.

Selain bahasa, masalah lain yang dihadapi yaitu sebagian besar wisatawan
tersebut tidak mengetahui lokasi klinik wisata yang tersebar di sekitar kawasan
wisata Pantai Kuta. Tidak tahunya wisatawan mengenai lokasi klinik wisata tidak
terlepas dari cara pemberitahuan mengenai klinik wisata itu sendiri tidak optimal
sehingga ketika wisatawan ingin mendapatkan pelayanan kesehatan atau
berkonsultasi mengenai kesehatannya, wisatawan akan langsung ke puskesmas
atau klinik dokter terdekat. Padahal yang seharusnya memberikan pelayanan
terlebih dahulu adalah klinik wisata yang ada di tempat tersebut, apabila klinik
wisata tidak dapat menanganinya barulah dibawa ke puskesmas terdekat.
Informasi mengenai klinik wisata biasanya diketahui oleh wisatawan melalui
ajakan teman atau keluarga dan televisi. Informasi yang diberikanpun terkadang
terbatas, padahal untuk mengetahui lebih jauh mengenai lokasi klinik wisata dpat
di lihat di internet sehingga informasi yang didapat lebih optimal dan tepat. Tidak
hanya itu saja, untuk mendapatkan informasi mengenai lokasi-lokasi yang
strategis dimana saja ada klinik wisata, petugas kesehatan dalam hal ini perawat
dapat memberitahukan dengan cara mendatangi langsung wisatawan tersebut,
kemudiam menawarkan pemeriksaan tekanan darah, ketika melakukan kegiatan
inilah waktu yang tepat bagi perawat untuk mengajak wisatawan datang ke klinik
wisata, baik itu ketika mengalami kecelakaan ataupun tidak. Meskipun sebagian
besar wisaawan datang ke Pantai Kuta lebih dari sekali dan klinik wisata yang ada
tersebar disekitaran Pantai Kuta, apabila tidak adanya upaya oleh perawat untuk
turun langsung memberikan informasi mengenai klinik wisata, maka hanya
beberapa orang saja yang akan mengetahui keberadaan klinik wisata dan
mengunjungi klinik wisata, bahwakan kebanyakan tidak pernah sama sekali
mendatangi klinik wisata yang ada sehingga hal ini berdampak hilangnya fungsi
dari klinik wisata itu sendiri. Padahal dengan semakin banyak wisatawan yang
mengetahui klinik wisata maka akan semakin banyak yang mempunyai kemauan
untuk mendatangi klinik wisata sehingga pemanfaatan klinik wisata berjalan
sesuai dengan fungsi sebenarnya.

Walaupun kebanyakan wisatawan tidak terlalu memahami mengenai klinik


wisatadan sedikit kemauan untuk datang ke klinik wisata. Tetapi, sebagian besar
wisatawan baik domestik maupun mancanegara tidak setuju untuk membeli obat
di warung saat mengalami gangguan kesehatan selama berwisata. Para wisatawan
cenderung lebih setuju untuk pergi ke klinik wisata yang terdapat di sekitar
kawasan wisata Pantai Kuta, apabila mengalami gangguan kesehatan. Selain
faktor kesehatan para wisatawan juga menyatakan akan mengunjungi klinik
wisata jika ada dokter yang berjaga serta kliniknya bersih dan nyaman. Sikap
positif yang ditunjukkan para wisatawan tersebut ternyata berkaitan dengan
persepsi yang baik akan bagaimana seharusnya fasilitas pelayanan dari klinik
wisata tersebut bekerja. Hal inipun sesuai dengan teori kualitas pelayanan dimana
disebutkan bahwa kualitas pelayanan merupakan kesesuaian antara pengguna
produk untuk memenuhi kebutuhan dengan kepuasan pelanggan. Sehingga, dapat
disimpulkan hubungan antara sikap dan tingkat pengetahuan seputar klinik wisata
terhadap pemanfaatan klinik wisata yang terdapat di kawasan wisata Pantai Kuta
saling berkaiatan serta mengindikasikan bahwa semakin baik sikap maupun
tingkat pengetahuan seputar klinik wisata baik pada wisatawan domestik maupun
mancanegara maka akan semakin besar kemungkinan wisatawan tersebut
memiliki kemauan untuk memanfaatkan klinik wisata yang terdapat di kawasan
wisata Pantai Kuta, sesuai keperluannya. Tetapi meskipun demikian tetap saja,
sebagian besar wisatawan meskipun telah mengunjungi kawasan wisata pantai
Kuta, lebih dari sekali masih banyak yang belum mengetahui keberadaan serta
berkesempatan mengunjungi klinik wisata yang tersebar di sekitar kawasan wisata
Pantai Kuta tersebut.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa jika perawat dan balawista berkolaborasi


akan menghasilkan hal positif yang akan berpengaruh pada kepariwisataan di
Pulau Bali terutama tempat wisata Pantai Kuta. Salah satu hal positif yang dapat
dirasakan baik oleh perawat ataupun balawista adalah lebih optimalnya proses
penyelamatan wisatawan sehingga upaya penyelamatan wisatawan baik dalam
keadaan kegawatdaruratan ataupun kecelakaan kecil dapat dilakukan secara
optimal. Akan tetapi, tidak berarti tidak akan ada kendala yang akan dialami baik
oleh perawat maupun oleh balawista sendiri. Kendala yang akan dialami dalam
berkolaborasi antara perawat dan balawista diantaranya komunikasi dan
perbedaan persepsi, sehingga diperlukan adanya pelatihan bersama agar
kolaborasi dapat berjalan dengan baik dan menyamakan persepsi.
Selain berkolaborasi antara perawat dengan balawista dalam hal
penyelamatan wisatawan di pantai, sebagai perawat harus dapat memanfaatkan
klinik wisata secara optimal. Perawat harus dapat meningkatkan kemauan
wisatawan dalam hal pemanfaatan klinik wisata maka perlu sekiranya
meningkatkan pengetahuan serta sikap yang baik pada wisatawan seputar klinik
wisata. Hal ini dapat dilakukan seperti contohnya dengan meningkatkan
penyebaran informasi seputar sifat dan peran klinik wisata secara langsung kepada
wisatawan dan juga meningkatkan fasilitas pelayanan sesuai harapan wisatawan
yang hendak memanfaatkan klinik wisata.
Maka diharapkan pembaca baik itu masyarakat umum, perawat ataupun
balawista dapat bekerja sama sehingga menghasilkan apa yang diharapkan dan
dapat menjaga kepariwisataan di Bali dan menjalankan fungsi klinik wisata
dengan optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Juniawan, I. M., Karini, N. M. O., & Dewi, L. G. L. K. (2017). WISATAWAN


MANCANEGARA DI PANTAI KUTA BALI Ni Made Oka Karini wisatawan
perempuan Karakteristik berdasarkan rentang umur / usia didominasi oleh
wisatawan berdasarkan pekerjaan didominasi oleh wisatawan dengan latar
belakang pekerjaan sebagai Pelajar / Maha, 5(1), 24–28.

Kusuma, S,W., & Suryawan, I. B. (2016). Penerapan Keselamatan Dan


Kesehatan Kerja Balawista di Pantai Kuta, 4(1), 31-35

Pemerintah Kabupaten Badung. 2016. Pelatihan Penyelamat Wisata Kabupaten


Badung (https://badungkab.go.id/index.php/baca-berita/1350/Pelatihan-
Penyelamat-Wisata-Tirta-di-Badung.html) diakses tanggal 8 September
2017 pukul 13.05 WITA

Politekknik Kesehatan Denpasar. 2016. Pelayanan Keperawatan Komunitas


Pantai (Nursing Care For Beach Community) (http://www.poltekkes-
denpasar.ac.id/pelayanan-keperawatan-komunitas-pantai-nursing-care-
for-beach-cummunity/) diakses tanggal 8 September 2017 pukul 11.30
WITA

Prabawa, I. P. Y. (2014). Hubungan Antara Sikap dan tingkat Pengetahuan


Seputar Kinik Wisata Pada Wisatawan Domestik Maupun Mancanegara
Terhadap Pemanfaatan Klinik Wisata di Kawasan Wisata Pantai Kuta,
Bali. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia, 2(2), 27–40
Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional R.I. 2016. Jumlah Pulau di
Indonesia (https://dkn.go.id/ruang-opini/9/jumlah-pulau-di-indonesia.html)
diakses tanggal 12 September 2017 pukul 12.15 WITA
Setiawan, I. N. A. F. (2016). LAPORAN RISET TATO DALAM SENI DAN
PARIWISATA DI BALI. Jurnal Studi Kultural, 1, 2.