Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH HAK TANGGUNGAN

Dosen Pengampu: Fitria Agustin

Disusun oleh:
Eva Veronica
61117017

Ilmu Hukum
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Serang Raya
2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan yang maha esa atas segala
limpahan rahmat,sehinga saya dapat menyelesaikan susunan makalah ini
dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini
dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kepadanya dapat lebih baik. Saya
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan, oleh karena itu segala kritik dan saran yang membangun akan
diterima dengan senang hati untuk perbaikan makalah ini. Akhir kata, kami
sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga AllAh
SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita, amin.

Penulis,

Eva Veronica

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

A. Latar Belakang................................................................................................ 1

B. Identifikasi Masalah ........................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 2

2.1. Pengertian Hak tanggungan .......................................................................... 2

2.2 Dasar Hukum Hak Tanggungan .................................................................... 2

2.3 Objek Hak Tanggungan................................................................................. 3

2.4 Pemberi dan pemegang hak tanggungan ....................................................... 4

2.5 Tata cara pemberian, pendaftaran, peralihan dan hapusnya hak tanggungan 4

2.6 Eksekusi Hak Tanggungan ............................................................................ 7

2.7 Pencoretan Hak Tanggungan ......................................................................... 7

2.8 Sanksi Administratif ...................................................................................... 8

2.9 Ketentuan Peralihan ...................................................................................... 8

BAB III PENUTUP ................................................................................................ 9

3.1 Kesimpulan .................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 10

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hak atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah yang
selanjutnya disebut Hak Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan pada
hak atas tanah yang sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang Nomor 5
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok – Pokok Agraria berikut atau tidak
berikut benda – benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah-tanah itu,
untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan kreditor
lertentu terhadap kreditor-kreditor lainnya. Hak-hak atas tanah yang dapat
dibebani Hak Tanggungan adalah Hak Milik, Hak Guna Usaha, dan Hak Guna
Bangunan. Selain Hak Milik, Hak Guna Usaha, dan Hak Guna Bangunan, hak
atas tanah berupa Hak Pakai atas tanah Negara yang menurut ketentuan yang
berlaku wajib didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan dapat juga
dibebani Hak Tanggungan.

Pemberian Hak Tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan


Hak Tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu, yang dituangkan di
dalam perjanjian dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari perjanjian utang-
piutang yang bersangkutan atau perjanjian lainnya yang menimbulkan utang
tersebut. Hak tanggungan wajib didaftarkan pada Kantor Pertanahan. Pendaftaran
tersebut dilakukan selambat – lambatnya 7 hari kerja setelah penandatanganan
Akta Pemberian Hak Tanggungan.

Namun pada prakteknya di masyarakat, sering kali terjadi ketidaksesuaian


antara peraturan perundang – undangan dengan pelaksanaanya. Hak Tanggungan
ada yang tidak didaftarkan di Kantor Pertanahan. Hal ini menimbulkan
permasalahan terhadap hak tanggungan tersebut. Selain itu juga sering kali
pendaftaran Hak Tanggungan dilakukan terlambat dari jangka waktu yang
ditentukan oleh Undang – Undang Hak Tanggungan.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka identifikasi masalah yang bisa
ditarik adalah:
1. Apa dasar hukum hak tanggungan dan bagaimana tata cara
pendaftaran,peralihan,pemberian dan hapusnya hak tanggungan?
2. Apakah akibat hukum dari hak tanggungan yang tidak didaftarkan di
Kantor Pertanahan?

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Hak tanggungan

Pengertian Hak tanggungan dapat kita baca dalam pasal 1 Ayat 1 UU No.
4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang
berkaitan dengan tanah bunyi pasal tersebut sebagai berikut:
“Hak tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan
tanah yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang
dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksudkan dalam UU No 5
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak
berikut benda-benda lain yang merupakan suatu kesatuan dengan tanah itu, untuk
pelunasan utang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada
kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain.”
Dalam penjelasan UU No 4 Tahun 1996 tersebut ialah bahwa Hak
Tanggungan adalah “hak jaminan atas tanah untuk pelunasan utang tertentu, yang
memberikan kedudukan diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-
kreditor lain. Dalam arti, bahwa jika debitor cedera janji, kreditor pemegang Hak
Tanggungan berhak menjual melalui pelelangan umum tanah yang dijadikan
jaminan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan
dengan hak mendahului dari pada kreditor-kreditor yang lain. Kedudukan
diutamakan tersebut sudah barang tentu tidak mengurangi prefensi piutang-
piutang negara menurut ketentuan hukum yang berlaku”
2.2 Dasar Hukum Hak Tanggungan
Dasar Hukum Hak Tanggungan adalah sebagai berikut:
1. Pasal 25 UUPA yang berbunyi “Hak Milik dapat dijadikan jaminan
hutang dengan dibebani hak tanggungan”
2. Pasal 35 UUPA jo. Pasal 15 PP No. 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna
Usaha
Hak Guna Bangunan dan Hak Guna Pakai Atas Tanah, yang berbunyi:
“Hak Guna Usaha dapat dijadikan jaminan hutang dengan dibebani hak
tanggungan” (pasal 33 UUPA)
“Hak Guna Usaha dapat dijadikan jaminan hutang dengan dibebani hak
tanggungan” (pasal 15 PP N0. 40/1996)
3. Pasal 39 UUPA jo. Pasal 33 PP No. 40 tahun 1996, yang berbunyi:
“Hak Guna Bangunan dapat dijadikan jaminan hutang dengan dibebani
hak tanggungan” (Pasal 39 UUPA)

2
“Hak Guna Bangunan dapat dijadikan jaminan hutang dengan dibebani
hak tanggungan”
(Pasal 33 PP No. 40/1996)
4. Pasal 53 PP No. 40 Tahun 1996, yang berbunyi:
“Hak pakai atas tanah negara dan atas tanah hak pengelolaan dapat
dijadikan jaminan hutang dengan dibebani Hak Tanggungan” (Pasal 53
PP No. 40/1996)
5. UU No.4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-
benda yang berkaitan dengan tanah.
6. Peraturan menteri negara agraria/kepala BPN No. 3 Tahun 1996 tentang
bentuk surat kuasa membebankan hak tanggungan, buku tanah hak
tanggungan, akta pemberian hak tanggungan, buku tanah hak tanggungan
dan sertifikat hak tanggungan
7. Peraturan menteri negara agraria/kepala BPN No. 5 Tahun 1996 tentang
pendaftaran hak tanggungan
Undang-undang No. 4 Tahun 1996 adalah UU yang diperintahkan oleh
pasal 51 UU No 5 Tahun 1960 (UUPA) yang berbunyi: “Hak Tanggungan yang
dapat dibebankan pada hak milik, hak guna usaha dan hak guna bangunan
tersebut dalam pasal 25, 33 dan 39 diatur dengan UU”
Oleh karena itu dengan berlakunya undang-undang tersebut, maka
ketentuan yang mengatur tentang Hyphoteek dan Credietverband dinyatakan tidak
berlaku. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam pasal 29 UU tersebut yang
berbunyi sebagai berikut
“Dengan berlakunya undang-undang ini, ketentuan mengenai
Credietverband sebagaimana tersebut dalam Stbl. 1908-542 jo. Stbl. 1909-586
dan Stbl 1909-584 jo. Sebagaimana yang telah diubah dengan Stbl. 1937-190 jo.
Stbl. 1937-191 dan ketentuan mengenai Hyphoteek sebagaimana tersebut dalam
buku II Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia sepanjang mengenai
pembebanan Hak Tanggungan pada hak atas tanah beserta benda-benda yang
berkaitan dengan tanah, dinyatakan tidak berlaku lagi”
2.3 Objek Hak Tanggungan
Hak tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan kepada hak atas
tanah sebagaimana dimaksud dalam UUPA. Pasal 4 menyebutkan hak-hak yang
yang dapat menjadi objek hak tanggungan yaitu:
1) Hak Milik
2) Hak Guna Usaha
3) Hak Guna Bangunan

3
4) Hak pakai atas tanah negara menurut ketentuan yang berlaku wajib
didaftar dan menurut sifatnya dapat dipindahtangankan
5) Hak atas tanah berikut bangunan, tanaman, dan hasil karya yang telah ada
atau akan ada yang merupakan suatu kesatuan dengan tanah tersebut, yang
pembebanannya dengan tegas dinyatakan dalam akta Pemberian Hak
Tanggungan yang bersangkutan.
Hak Tanggungan dengan jaminan hak guna usaha, hak guna bangunan dan
hak pakai hapus dengan hapusnya hak-hak tersebut.
Hak pakai yang dapat dibebani dengan hak tanggungan adalah hak pakai
atas tanah negara dan atas tanah hak pengelolaan. Sedangkan hak pakai atas tanah
milik tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan. Namun hak pakai atas tanah
milik ini dibuka kemungkinannya untuk kemudian hari dijadikan jaminan utang
dengan dibebani hak tanggungan, jika telah dipenuhi persyaratan (penjelasan
umum angka A. 1. 5 UU No. 4 Tahun 1996)
Suatu obyek tanggungan dapat dibebani dengan lebih dari satu hak
tanggungan, sebagai jaminan pelunasan lebih dari satu utang. Apabila hal ini
terjadi, peringkat masing-masing hak tanggungan ditentukan menurut tanggal
pendaftarannya dikantor pertahanan.
Suatu obyek hak tanggungan ada kemungkinan beralih atau
berpindahtangan dari pemegang hak pertama kepada pihak lain. Apabila hal ini
terjadi hak tanggungan tetap mengikuti obyeknya, dalam tangan siapapun obyek
hak tanggungan itu berada. Kreditor masih tetap dapat menggunakan haknya
melakukan eksekusi,jika debitor cidera janji, siapapun pemengang hak obyek hak
tanggungan tersebut.
2.4 Pemberi dan pemegang hak tanggungan
Pemberi hak tanggungan adalah orang perseorangan atau badan hukum
yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap obyek
hak tanggungan yang bersangkutan kewenangan tersebut harus ada pada pemberi
hak tanggungan pada saat pendaftaran hak tanggungan dilakukan.
Karena lahirnya hak tanggungan adalah pada saat didaftarnya hak
tanggungan tersebut, maka kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum
terhadap obyek hak tanggungan diharuskan ada pada pemberi hak tanggungan
pada saat pembuatan buku tanah hak tanggungan. Sedang pemegang hak
tanggungan adalah perseorangan atau badan hukum yang berkedudukan sebagai
pihak yang berpiutang.

2.5 Tata cara pemberian, pendaftaran, peralihan dan hapusnya hak


tanggungan

4
1. Cara pemberian hak tanggungan
Pemberian hak tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan hak
tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu dan jaminan pelunasan
utang itu dicantumkan didalamnya. Pemberian hak tanggungan kemudian
dilakukan dengan pembuatan akta pemberian hak tanggungan oleh PPAT.
Pengaturan pembuatan akta ini antara lain diatur oleh peraturan menteri negara
agraria/kepala BNN No. 3 tahun 1997 pasal 95 dst.
Apabila obyek hak tanggungan berupa hak atas tanah berasal dari konversi
hak lama yang belum dilakukan pendaftaran, pemberian hak tanggungan
dilakukan bersamaan dengan permohonan pendaftaran hak atas tanah yang
bersangkutan.
Dalam akta hak tanggungan wajib dicantumkan:
1) Nama dan identitas pemegang dan pemberi hak tanggungan
2) Domisili pemegang dan pemberi hak tanggungan
3) Penunjukan secara jelas utang atau utang-utang yang dijamin dengan
obyek hak tanggungan yang bersangkutan
4) Nilai tanggungan
5) Uraian yang jelas mengenai hak tanggungan
Selain hal – hal yang wajib dicantumkan dalam akta hak tanggungan
diatas, dalam akta hak tanggungan tersebut dapat dicantumkan pula janji-janji
diantara pemberi dan pemegang hak tanggungan, sepanjang tidak melanggar
perundang-undangan yang berlaku. Umpama janji yang membatasi kewenangan
pemberi hak tanggungan untuk menyewakan obyek hak tanggungan, atau janji-
janji lainnya sebagaimana disebutkan dalam pasal 11 ayat 2. Apabila janji-janji itu
dimuat dalam akta hak tanggungan yang kemudian didaftarkan di kantor
pertanahan, maka janji-janji itu mempunyai kekuatan hukum dan mengikat
terhadap pihak ketiga.

Janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang hak tanggungan


untuk memiliki obyek hak tanggungan apabila dibitor cedera janji, batal demi
hukum (pasal 12) demi melindungi kepentingan debitor dan pemberi hak
tanggungan lainnya, terutama jika nilai obyek hak tanggungan melebihi besarnya
utang yang dijamin. Pemegang hak tanggungan dilarang untuk secara serta merta
menjadi pemilik obyek hak tanggungan karna debitor cidera janji, wwalaupun
demikian tidaklah dilarang bagi pemegang hak tanggungan untuk menjadi
pembeli obyek hak tanggungan asalkan melalui prosedur eksekusi hak tanggungan
sebagaimana diatur oleh pasal 20 (penjelasan pasal 12).

2. Pendaftaran hak tanggungan

5
Pemberian hak tanggungan wajib didaftarkan pada Kantor Pertanahan.
Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah penandatangan akta pemberian
hak tanggungan, PPAT wajib mengirimkan akta pemberian hak tanggungan
tersebut dan warkah lain yang diperlukan ke kantor pertanahan untuk didaftarkan.
Pendaftaran hak tanggungan dilakukan dengan membuatkan buku tanah
hak tanggungan. Sebagai tanda bukti adanya hak tanggungan, kantor pertanahan
menerbitkan sertifikat hak tanggungan. Hak tanggungan lahir pada hari tanggal
pencatatan dalam buku tanah hak atas tanah yang menjadi obyek hak tanggungan
(pasal 13 ayat 4 dan 5). Sertifikat hak tanggungan diserahkan kepada pemegang
hak tanggungan (pasal 14 ayat 5)
Tata cara lebih lanjut tentang pendaftaran hak tanggungan diatur oleh
peraturan menteri negara agraria/kepala BNN No. 5 Tahun 1996 tentang
pendaftran hak tanggungan jo. Pasal 44 dst. PP No. 24 tahun 1997 tentang
pendaftaran tanah jo. Pasal 114 dst. PMNA/Kepala BPN No. 3 Tahun 1997
tentang ketentuan pelaksanaan PP No. 24 tahun 1997.
3. Peralihan hak tanggungan
Jika piutang yang dijamin dengan hak tanggungan beralih karena cessie,
subrogasi, pewarisan, atau sebab-sebab lain, hak tanggungan tersebut ikut bberalih
karena hukum kepada kreditor yang baru, beralihnya hak tanggungan tersebut
wajib didaftarkan oleh kreditor baru ke kantor pertanahan.
Sebagaimana diketahui, cessie adalah perbuatan hukum mengalihkan
piutang oleh kreditor pemegang hak tanggungan kepada pihak lain. Subrogasi
adalah penggantian kreditor oleh pihak ketiga yang melunasi hutang debitor.
Sedangkan yang dimaksud dengan sebab-sebab lain adalah hal-hal lain selain
yang dirinci dalam pasal tersebut, misalnya terjadi pengambilalihan atau
penggabungan perusahaan sehingga menyebabkan beralihnya piutang dari
perusahaan semula kepada perusahaan yang baru.
4. Hapusnya hak tanggungan
Hak tanggungan hapus karena hal-hal sebagai berikut (pasal 18):

a) Hapusnya utang yang dijamin dengan hak tanggungan


b) Dilepaskannya hak tanggungan oleh pemegang hak tanggungan
c) Pembersihan hak tanggungan berdasarkan penetapan peringkat oleh ketua
pengadilan negeri
d) Hapusnya hak atas tanah yang dibebani hak tanggungan

Hapusnya hak tanggungan karena dilepaskan oleh pemegangnya dilakukan


dengan pemberian pernyataan tertulis oleh pemegang hak tanggungan kepada

6
pemberi hak tanggungan. Hapusnya hak tanggungan karena pembersihan hak
tanggungan berdasarkan penetapan peringkat oleh ketua pengadilan, terjadi karena
permohonan pembeli hak atas tanah yang dibebani hak tanggungan tersebut, agar
hak atas tanah yang dibelinya itu dibersihkan dari beban hak tanggungan
sebagaimana diatur oleh pasal 19. Sedang hapusnya hak tanggungan karena
hapusnya hak atas tanah yang dibebani hak tanggungan, tidak menyebabkan
hapusnya utang yang dijamin.

2.6 Eksekusi Hak Tanggungan


Apabila debitor cedera janji, maka obyek hak tanggungan dijual melalui
pelelngan umum menurut tata cara yang ditentukan dalam peraturan perundang-
undangan untuk pelunasan piutang pemegang hak tanggungan dengan hak
mendahului dari pada kreditor-kreditor lainnya. Penjualan obyek hak tanggungan
tersebut berdasarkan (pasal 20 ayat 1):

a) Hak pemegang hak tanggungan pertama untuk menjual obyek hak


tanggungan sebagaimana dimaksud oleh pasal 6, atau
b) Title ekskutorial yang terdapat dalam sertifikat hak tanggungan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 ayat 2

Atas kesepakatan pemberi dan pemegang hak tanggungan, penjualan


obyek hak tanggungan dapat dilaksanakan di bawah tangan, jika dengan demikian
akan menguntungkan semua pihak (pasal 20 ayat 20). Pelaksanaan penjualan
dibawah tangan, hanya dapat dilakukan setelah lewat 1 (satu) bulan sejak
diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan/atau pemegang hak tanggungan
kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikit-dikitnya dalam
dua surat kabar setempat dan/atau media massa setempat, serta tidak ada pihak
yang menyatakan keberatan (pasal 20 ayat 3). Setiap janji untuk melaksanakan
eksekusi hak tanggungan dengan cara yang bertentangan dengan ketentual pasal
20 ayat 1 dan ayat 2, batal demi hukum.

Apabila pemberi hak tanggungan dinyatakan pailit, pemegang hak


tanggungan tetap berwenang melakukan segala hak yang diperolehnya menurut
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

2.7 Pencoretan Hak Tanggungan


Apabila hak tanggungan hapus sebagaimana diatur dalam pasal 18, maka
kantor pertanahan mencoret hak tanggungan tersebut pada buku hak atas tanah
dan sertifikatnya. Dengan hapusnya hak tanggungan , maka sertifikat hak
tanggungan yang bersangkutan ditarik dan bersama-sama buku tanahnya
dinyatakan tidak berlaku oleh kantor pertanahan.

7
2.8 Sanksi Administratif
Setiap pejabat yang melanggar atau lalai dalam melaksanakan tugasnya
sebagaimana diatur dalam undang-undang N0. 4 Tahun 1996 ini dapat dikenakan
sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 23 secara khusus mengatur tentang ancaman pelanggaran pasal 11


ayat 1, pasal 13 ayat 2, pasal 15 ayat 1 dengan sanksi administratif berupa:

a) Teguran lisan;
b) Teguran tertulis
c) Pemberhentian sementara dari jabatan
d) Pemberhentian dari jabatan

Materi yang diatur oleh pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut:

a) Pasal 11 ayat 1 (tentang data yang wajib dicantumkan dalam akta


pemberian hak tanggungan)
b) Pasal 13 ayat 2 (tentang kewajiban PPAT mengirim akta pemberian hak
tanggungan kepada kantor pertanahan)
c) Pasal 15 ayat 1 (tentang pembuatan dan persyaratan surat kuasa
membebankan hak tanggungan)

Kepada setiap pejabat yang melanggar atau lalai dalam melaksanakan


tugasnya, selain dikenakan sanksi administratif atau sanksi pidana, apabila
memenuhi syarat yang diperlukan, yang bersangkutan masih dapat digugat secara
perdata, terhadap kerugian yang diderita oleh pihak lain.

2.9 Ketentuan Peralihan


Pasal 24 mengatur tentang ketentuan peralihan yang menyebutkan bahwa
hak tanggungan yang ada sebelum berlakunya UU No 4 Tahun 1996 ini, yang
menggunakan ketentuan tentang hyphoteek dan credietverband sebagaimana
diatur oleh pasal 57 UUPA tetap diakui. Selanjutnya hyphoteek dan
credietverband tersebut berlangsung sebagai hak tanggungan menurut UU itu
sampai dengan berakhirnya hak tersebut.

8
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Hak Tanggungan adalah hak atas tanah beserta benda-benda yang


berkaitan dengan tanah. Hak Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan
pada hak atas tanah yang sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok - Pokok Agraria berikut atau tidak
berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah-tanah itu,
untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan
kreditor lertentu terhadap kreditor-kreditor lainnya. Hak Tanggungan diatur dalam
Undang-undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Lahirnya undang-
undang tersebut diharapkan dapat memberikan suatu kepastian hukum tentang
pengikatan jaminan dengan tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan
tanah tersebut sebagai jaminan yang selama ini pengaturannya menggunakan
ketentuan-ketentuan Creditverband dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUH Perdata).
Hak Tanggungan wajib didaftarkan ke Kantor Pertanahan, hal ini diatur
dalam Pasal 13 Undang-Undang Hak Tanggungan, bahwa pemberian hak
tanggungan wajib didaftarkan pada Kantor Pertanahan selambat-lambatnya tujuh
(7) hari kerja setelah penandatanganan akta pemeberian hak tanggungan, PPAT
wajib mengirimkan akta tersebut dan warkah lain yang diperlukan. Sebagai bukti
adanya hak tanggungan, Kantor Pertanahan menerbitkan sertifikat hak
tanggungan. Apabila hak tanggungan tersebut terlambat didaftarkan, bukan suatu
persoalan penting karena Kantor Pertanahan tetap memproses pendaftaran Hak
Tanggungan. Bagi pihak yang terlambat mendaftarkan hak tanggungan hanya
diberikan sanksi administratif berupa teguran lisan atau teguran tertulis.
Lain halnya apabila hak tanggungan tersebut tidak didaftarkan. Jika hak
tanggungan tidak didaftarkan, maka hak tanggungan tidak akan mendapatkan
sertifikat hak tanggungan. Sertifikat hak tanggungan dikeluarkan oleh Kantor
Pertanahan Nasional. Sertifikat hak tanggungan menurut Pasal 14 Undang –
Undang Hak Tanggungan merupakan bukti dari adanya hak tanggungan. Dengan
tidak didaftarkannya hak tanggungan kepada Kantor Pertanahan maka hak
tanggungan tidak memiliki sertifikat hak tanggungan yang didalamnya
memberikan hak – hak kepada kreditur seperti sertifikat hak tanggungan dapat
dijadikan barang bukti di pengadilan, dan kekuatan eksekutorial yang sama
dengan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum yang tetap.

9
DAFTAR PUSTAKA

10