Anda di halaman 1dari 36

Alter Love

"Nobuo, apa yang sedang kamu


lakukan ?"

"Yah, seperti yang kamu lihat,


aku sedang berusaha
menganyam topi jerami ..."

Jawabku kepada
perempuan yang berada didalam
tepatnya dibalik jendela rumah
itu, benar, sebuah rumah
sederhana yang hanya
bertembok anyaman bambu
dengan atap dari jerami ini aku
dan dia tinggal.

Minami Kikyo nama


perempuan yang tinggal
serumah denganku itu, kira-kira
usianya adalah 19 tahun 3 tahun
lebih muda dariku dan dia
berambut hitam panjang dengan
mata berwarna biru safir.
Yah seperti yang kalian
bayangkan, aku dan Kikyo
merupakan sepasang kekasih
yang sudah bersama cukup lama.

"Mo, Nobuo apakah kamu akan


menjual topi jerami itu lagi
kedesa ?"

"Yah, tentu saja."

Aku menoleh kearahnya,


kulihat dia mengembungkan
kedua pipinya, yang aku bisa
lakukan hanya membalasnya
dengan sebuah senyuman.

"Jadi kamu akan meninggalkanku


sendirian dirumah ?"

Terdengar bagiku itu


adalah sebuah nada halus yang
memintaku untuk tidak pergi.

Aku berdiri, kemudian berjalan


kearahnya—
Jendela memang menjadi
pembatas antara aku dan dia
namun itu tidak menghentikan
langkahku sedikitpun.

Saat aku tepat berada


didepannya, aku mengisyaratkan
sebuah kode dengan tangan agar
dia mau mendekat.

Yah, saat kepalanya


cukup dekat denganku dan

Cup~

"Ah ...!!"

Aku mengecup tepat


dikeningnya, terlihat kedua
pipinya yang memerah, yah aku
tidak tahu reaksi apa itu tapi
yang aku tahu saat aku
melakukan kecupan dikening,
maka dia akan menjadi sedikit
tenang.
Aku menyentuh atas
kepalanya dan tersenyum
padanya.

"Kikyo, aku harus melakukan ini


demi kehidupan kita
kedepannya, aku juga tidak
tahan kok pergi lama-lama tanpa
ada kamu ..."

"Itu tidak adil ..."

Kulihat Kikyo berjalan


menjauh dari jendela dan berlari
kebelakang, saat aku menoleh ke
arah pintu rumah ini, dia muncul
dan berlari kearahku, dan tentiu
tiba-tiba saja dia memelukku.

Hmm, aku dapat


merasakan tubuhnya walau 'itu'
terhalang oleh pakaian, terasa
sensasi yang lembut.

"Itu tidak adil, jika kamu yang


selalu memulainya Nobuo."
"Ah, ya, maaf deh .."

"Aku akan memaafkanmu jika


kamu memberiku ciuman
dibibir ..."

"Baiklah ..."

Setelah percakapan itu,


Kikyo melepaskan pelukannya
dariku.

Terlihat dia memejamkan


matanya sambil menolehkan
wajahnya ke wajahku, tubuhnya
yang mungil membuat aku harus
menundukkan kepala
kepadanya.

Saat wajah kami sangat


dekat, aku dapat merasakan
hembusan nafasnya yang tak
beraturan, apakah dia malu ?
atau ketakutan ?
Aku tak tahu apa yang
dipikirkannya, tapi yang ku tahu
dia memiliki kemauan yang
keras.

Cup~

Ahh~

Ahhh~

***

"Baiklah aku pergi dulu, Kikyo ..."

"Iya, hati-hati dijalan ..."

Cuaca hari ini cukup


cerah, aku mulai menarik
gerobakku dan meninggalkan dia
dirumah.

Sesaat setelah beberapa langkah


aku berjalan sambil menarik
gerobak ini, aku tehenti dan
melihat kebelakang, kulihat Kikyo
masih berada didepan rumah itu.

Sungguh aku merasa


bahagia akan kehidupanku kali
ini, karena dewa telah
menganugerahi aku seorang
perempuan cantik sebagai
pasangan hidupku.

Saat sudah selesai


melihatnya aku kembali berjalan.

Sudah cukup jauh aku


berjalan dari rumah, aku melihat
sekeliling, berjalan diatas tanah
setapak dengan jalur yamg sudah
ada, terlihat di depanku sebuah
bukit kecil dimana jalan ini
mengarah dan tak luput juga
hamparan rumput hijau dengan
disebelah kiri ku agak jauh
terlihat sungai kecil.
Suasana yang sangat
tenang, hangat dan nyaman dari
alam sekitar, tidak ada monster
yang mengerikan seperti dihutan
tempatku tinggal.

Saat aku berjalan menuju


bukit kecil di hadapanku aku
melihat sekelompok orang yang
membawa berbagai jenis
perlengkapan, itu terlihat seperti
mereka membawa
perlengkapan, seperi membawa
tongkat kayu, garpu besar dan
cangkul.

Semakin dekat semakin


jelas juga, saat mereka
melewatiku, aku bertanya
kesalah satu orang yang ikut
kelompok itu.

"Anu, permisi, ini ada apa ya ?"

"Oh anak muda, kami baru saja


mendapat petunjuk dari Great
Sage bahwa dari arah sini,
tepatnya dihutan depan sana ada
sebuah bangunan rumah yang
ditinggali oleh the Immortal ..."

Tunggu sebentar,
bukankah itu arah ke tempatku
tinggal ?

Aku sedikit terkejut,


mereka pergi kearah tempat
tinggalku, lalu soal Great Sage
dan the Immortal itu juga.

Aku mungkin terlalu


sedikit khawatir soal ini, sampai
akhirnya aku mencoba bertanya
lagi ke laki-laki tua dihadapanku
ini.

"Ngomong-ngomong bagaimana
ciri-ciri dari the Immortal itu
menurut Great Sage ?"

Terlihat pak tua


dihadapanku itu berfikir, dia
melihat kelangit sebentar sampai
akhirnya dia menjawab
pertanyaanku.

"Oh, dia berkelamin perempuan,


beramput panjang warna hitam
dengan ciri-ciri khusus kaum the
Immortal itu sendiri, mata
berwarna biru safir."

"Apa !!!"

Tanpa sengaja aku


mengucapkan kata itu, aku
terkejut dengan ciri-ciri yang
dikatakan pak tua itu, aku
melepaskan gerobak yang sedari
tadi kupegang.

Bruk

"Nak, ada apa ?"

"Ah, tidak apa-apa ..."


"Oh, baiklah saya pergi dulu,
duh, mereka cepat sekali
jalannya ..."

Pak tua yang tadi


akhirnya pergi menyusul
rekannya yang lebih dulu. Tapi,
aku merasa lemas dan putus asa
mendengar pernyataan dari pria
tua tadi.

Akhirnya kuputuskan.

"Baiklah, aku harus segera


bergegas pulang, tunggu
seingatku aku membawa
gulungan teleportasi ?"

Secepatnya aku mencari


gulungan itu di gerobak itu, aku
merogoh di banyak tempat
sampai akhirnya gulungan itu
kutemukan.

"Nah, baiklah waktunya


pulang ..."
Segera setelah
mendapatkan gulungan itu aku
membukanya dan membaca
mantra didalamnya.

"Neamhtheoranta, Spás, Am,


Achar, Teleportation ..."

Sebuah simbol lingkaran


magis muncul dari bawahku,
lingkaran magis dengan aksara
yang sulit dipahami itu
mengeluarkan cahaya bewarna
putih, yang menandakan sihir
teleportasi berhasil.

Sementara itu gulungan


yang sebelumnya kugunakan
juga lenyap.

"Tunggu aku, Kikyo ..."

***

"Hem, hem, hem ~"


Wush~

"Ah, apa itu ?"

Kikyo segera berdiri dari


tempat dia duduk. Sementara itu
dari balik ruangan yang terhalang
tembok kayu itu.

"Kikyo dimana kamu ?"

Aku berteriak dengan


panik, mencari dimana Kikyo
berada.

"Ada apa Nobuo, kenapa kamu


teriak-teriak ?"

Aku melihat Kikyo keluar


dari bilik sebelah, segera aku
berjalan kearahnya dan
memegang tangan kanannya
dengan tangan kiriku.

"Ah, ada apa Nobuo ?"


"Kenapa, kenapa kamu tak bilang
kalau kamu berasal dari ras the
Immortal ?"

Kulihat wajah Kikyo


seperti tersentak kaget.

"A-apa maksudmu Nobuo ?"

Aku merasakannya, diluar


terasa ada aura banyak orang
yang sedang mendekat.

"Cih, aku terlambat, ayo ikut aku,


kita harus segera pergi dari
rumah ini !!"

"Ah ..."

Aku menariknya dengan


lembut, menggandeng tangan
kananya dan berjalan lewat pintu
belakang, saat aku membuka
pintu dan lekas mau berlari tiba-
tiba sebuah Zona magis muncul.

"Sial, kita terkepung ..."


Kulihat dari balik pohon-
pohon itu, dibalik batang itu
terlihat banyak sosok Magister
sementara diatas pohon itu, itu
seperti para pemburu dan
pembunuh bayaran.

"Oh, ternyata 2 orang ya ..."

Sosok yang bebicara itu


muncul dari balik batang pohon
didepanku.

"Kau, Kash ..."

Kataku pada Magister di


hadapanku itu.

"Loh, Nobuo ya, kenapa kamu


bisa tinggal dengan the
Immortal ?"

"Itu bukan masalahmu, Kash !!

Aku menggertaknya.

"Wah wah, aku takut ..."


"Kikyo tetap dibelakangku ..."

Sesaat kulihat Kikyo


berjalan kebelakangku, aku tak
menyangka kalau dia adalah the
Immortal.

"Maaf Kash, jika kau memang


menginginkan Kikyo maka
lawanlah aku !!"

"Oh, berani coba ?"

"Siapa takut ..."

...

Aku melihatnya,
keadaanku yang sekarang
membut kami tidak bisa
melarikan diri dari sini, belum
lagi disaat aku harus berhadapan
dengan seorang magister
berjubah hitam, Kash.

Dia terlihat sangat ambisius ingin


menghabisi Kikyo.
"Aku mulai, Nobuo ! Keluarlah !!"

Saat Kash mengucapkan


kata itu, aku terfokus dengan
lingkaran sihir yang keluar dari
belakangnya.

Itu terlihat seperti dia


sedang memanggil sesuatu yang
akan keluar dari sana.

Grrr—

"Itu ..."

"Hahaha, apa kau terkejut ?


Inilah makhluk yang aku panggil,
Phantera Rion !!!"

Aku terkejut melihat


makhluk buas yang keluar dari
lingkaran sihir itu, wujudnya
sama persis seperti seekor
harimau loreng namun dia
memiliki surai di kepala dan
taring yang menonjol keluar, saat
itu juga aku langsung memasang
kuda-kuda.

"Nobuo, maaf, gara-gara aku,


kamu jadi terkena masalah ini ..."

Aku mendengar ucapan


Kikyo dari belakang, kata-kata itu
terdengar seperti penyesalan
baginya, yah.

"Kamu tak perlu minta maaf,


sepertinya ini memang
kesalahanku yang tidak
mengetahui jati dirimu—

Aku menghelai nafas


sesaat dan menoleh kearah
Kikyo, melihatnya untuk saat ini
membuat semua rasa lelah dan
kesalku sirna, mungkin sedikit
memasang senyum kepadanya
tidak masalah bukan.

"Kalau saja aku diberi


kesempatan kedua oleh dewa,
aku akan melindungimu dan
tetap mencintaimu, berapa kali
pun aku hidup dan mati, aku
akan tetap mencintaimu."

Entah kenapa aku


mengucapkannya, kata-kata itu
keluar begitu saja mengikuti
naluri dan suasana hatiku.

Menatapnya sesaat, dia


terlihat meneteskan air mata,
aku tak begitu tahu apa yang dia
rasakan tapi aku berharap ini
akan segera usai.

"Bukan saatnya terbawa


suasana, Maju Phantera !!!"

Rrroooaaaahhhh—

Makhluk itu datang


kearahku dengan cepat, tapi dia
bukanlah tandinganku si
pemegang pedang terkutuk :
Avarita.
"Kau meremehkanku Kash !!
Keluarlah Avarita !!!"

Sebuah wujud pedang


muncul dari kananku, dengan
mata pedang berwarna hijau
zamrud dan gagang emas dengan
hiasan ular itu melayang.

Ya, pedang itu melayang


disamping kananku dan
secepatnya itu juga aku langsung
mengambilnya.

Sementara makhluk buas


itu terus maju kearahku, saat dia
sudah sangat dekat, tanpa basa-
basi aku langsung menebasnya
menjadi dua.

"Cih, para magister persiapkan


segelnya sekarang !!"

"Baik ..."

"Siap ..."
"Dimengerti ..."

Para Magister itu terlihat


seperti bersiap untuk
merapalkan mantra, entah apa
itu yang penting bagiku sekarang
adalah maju dan menghabisi
mereka.

"Huh ? Apa yang terjadi ?"

"Apa kau lupa ? Kau berada di


zona magis kami, hahaha."

"Sial !!!"

Aku tak bisa bergerak


sedikit pun, bagaimana aku bisa
lupa ? Tak biasanya aku menjadi
gegabah begini dan terkena
jebakan lawan, apa ini karena
efek pedang terkutuk ini, tidak.
Aku pikir ini karena prioritas
utamaku yaitu melindungi Kikyo
sehingga aku menjadi tidak
sabaran.
"Nobuo !"

"Tch, aku tak apa Kikyo, Kash apa


yang ingin kau lakukan pada
Kikyo sebagai gantinya,
lakukanlah padaku !!"

"Hmm, sayang sekali, tapi the


Immortal itu harus dihabisi
karena ini adalah perintah
mutlak dari sang agung, Great
Sage !!!"

"KAAAAASH ...!!!"

Aku bertiak padanya,


sungguh muak rasanya
mendengar ocehannya,
membuatku semakin ingin
menghajarnya.

"Ho, tenang saja —

Kash berjalan mendekat


kearahku, dia berhenti tepat
disampingku dan memegang
lembut pedang yang aku pakai
dengan jemarinya.

"Sebelum aku membunuhnya,


aku akan menikmatinya dulu ..."

"!!!"

Aku terkejut dengan


ucapannya, sekarang aku benar-
benar sudah berada dipuncak
amarah.

"BERANINYA KAU BICARA


BEGITU !!!"

Wooossh~

Terlihat Kash yang


terdorong muncur karena
hembusan angin yang
kukeluarkan.

"Dasar sinting, apa gunanya kau


hidup bersamanya Nobuo ? Dia
hanya akan
memanfaatkanmu !!"
"Aku tak akan membiarkanmu
menyentuh Kikyo !"

"Bodoh, Kalian gunakan segel


kedua !!"

"Baik ..."

Deg.

Perasaan ini, terasa


seperti sihir pelemahan, tubuhku
terasa berat, badanku lemas,
pandanganku mulai kabur.

"Kalian berani-beraninya
melakukan itu kepada Nobuo !!!"

Brugh

Aku tersungkur ditanah


dan melepaskan pedangku,
terbaring lemah tak berdaya.

"Kalian, hentikan amukan the


Immortal itu dengan segel empat
pondasi !!!"
"Siap ..."

Aku sedikit melirikkan


mata kearah Kikyo, meskipun
agak buram aku bisa merasakan
auranya.

Disisi lain juga ku


merasakan aura para warga desa
yang sebelumnya ku temui,
mereka sudah berada didepan
rumah kami.

"Uaaaaghhh ...!!!"

Teriakan ini, Kikyo


terdengar kesakitan karena
sesuatu.

Sial, andai saja aku dapat


menggerakan sedikit tubuhku

"!"

Itu dia, baru terpikirkan di


benakku, aku bermiat
menggunakannya.
Sebuah cincin ditangan
kananku ini memiliki semacam
energi sihir dan didalamnya
ternaman sihir teleportasi,
sebenarnya aku berniat
menggunakan ini untuk keadaan
tertentu tapi kali ini, demi Kikyo
akan kulakukan.

"Rrre- re ..."

Sial, kenapa begitu sulit


mengucapkan mantra cincin ini
dengan sihir pelumpuh ini

"Guh .."

"Akhirnya kau berhasil kami


tangkap, berikutnya langsung
saja aku akan membuatmu
tertidur lelap ..."

Aku mendengarnya Kash


brengsek, kumohon ucapkan,
bergeraklah mulutku,
bergeraklah
"Re-reversal Magic Ring :
Teleportation !!!"

Akhirnya aku berhasil


mengucapkannya, dan sekarang
sihir ini akan langsung mengarah
ke seorang yang ku tuju, Kikyo.

"Apa ini ?"

"Sial, bukankah lingkaran sihir


ini ? Sihir teleportasi !!"

"Kapten Kash, kami tak dapat


membatalkan sihirnya ..."

"Brengsek kau Nobuo !!"

"Nobuo, kenapa kamu


melakukan ini demi diriku ?"

Ah, sayang sekali Kikyo,


aku harus menteleportasi kamu
ketempat yang aman karena
cincin ini hanya mampu
mengirim satu orang saja.
"Nobuo, jawab ak—

Siiing—

Sihir teleportasi sukses,


sekarang kau aman Kikyo,
sementra itu Kash berjalan
kearahku, dia terlihat mengambil
pisau dari balik jubahnya.

"Brengsek, kau benar-benar


kurang ajar !!!"

Melihat wajahnya yang


kesal sudh cukup membuatku
senang.

"Sebagai gantinya, kau harus


mati Nobuo, tidak, teman masa
kecilku ..."

Jleb—

Ugh

Dia menusukku tepat di


jantungku, rasa sakit ini,
kebahagia yang kualami selama
ini hanyalah hal semu belaka,
sementara yang datang padaku
malah kematian yang nyata.

Aku melihat wajah Kash


untuk sesaat, dia tidak beranjak
berdiri dari tempatnya, tetap
terjongkok disampingku, wajah
itu, kenapa dia menangis ?
Apakah dia sedih karen gagal
dalam misinya.

"Sial kau Nobuo, kalau saja dari


awal kau mau menjadi magister
dan menolak menjadi petualang,
hal seperti ini tidak akan
terjadi—

Jadi itu alasannya dia


menangis.

"Andai saja waktu itu aku


berhasil menghentikanmu,
Nobuo, maafkan aku ..."
Aku memaafkanmu, jalan
yang kupilih memang barbar tapi
percayalah hanya kamulah
teman masa kecilku yang
berharga.

Pandanganku mulai sirna,


kegelapan semu mulai merayap
disekelilingku, tubuhku terasa
dingin, jadi inikah kematian,
kematian untukku yang lebih
memilih memihak Kikyo
dibanding Kash.

"Hu, hu ..."

"Kapten kita harus pergi, para


warga yang berkumpul juga
sudah kami himbau untuk
kembali .."

"Aku tahu ..."

Saat Kash beranjak dari


tempatnya, dia melihat kearah
pedang terkutuk Avarita.
"Pedang itu akan aku bawa, kau
ambil dan bawa pedangnya !"

"Baik kapten ..."

Jawab sosok berjubah


yang sama dengan Kash.

"Aku yakin dia akan kembali


kesini, jadi aku akan
meninggalkanmu disini, Nobuo."

Kash berjalan menjauh


bersama para anggota magister
yang lainnya, dia membiarkan
tubuh Nobuo yang tak bernyawa
sendirian di hutan, tempat
dimana dia tinggal dan
membangun rumah.

***

Sore hari, dihutan yang


mulai gelap, terlihat sosok yang
berlari dengan cepatnya tanpa
menghiraukan halang rintang
didepannya.

Saat dia sampai didepan


rumah itu, dia berjalan masuk
kedalam, sesekali dia melihat
sekeliling dengan sedikit
nostalgia.

Akhirnya, Kikyo sampai di


pintu belakang rumah, dia
terlihat gemetar saat akan
membuka pintu.

Kreek—

Terlihat dihadpannya
tidak begitu jauh, tubuh Nobuo
yang tergeletak tak bernyawa
dengan luka didada kirinya.

"Akh, ah, No-nobuo ..."

Kikyo berjalan kearah


raga yang sudah terbaring
ditanah itu, dia gemetar dan
merasa tidak percaya dengan
apa yang dilihatnya.

Dia terhenti tepat


disamping tubuh itu.

Bruk ...

Kikyo menjatuhkan diri


dan terduduk disampingnya, dia
mulai menunduk dan memegang
kepala Nobuo dengan kedua
tangannya, mendekatkan kepala
kearah Nobuo.

Tubuh yang tak bernyawa


itu terasa dingin, itulah kesan
pertamanya.

"Uh, Kenapa, kenapa kamu


meninggalkanku Nobuo !"

Kikyo mulai menangis,


isak tangis yang tak tertahan
darinya.
Dia mengecup kening
Nobuo, terlihat bibirnya yang
gemetar, air mata yang mengalir
dan tertetes ke wajah Nobuo.

"Huwaa~ hiks, hiks, No-nobuo


yang ku sayang ..."

Sore yang terlewat


malam, hutan yang semakin
gelap ini hanya meninggalkan
sisa-sisa kenangan pahit bagi
Kikyo, rembulan yang seharusnya
nampak pun juga malu tertutup
dengan awan gelap.

Inilah akhir dari dua


pasangan yang memiliki dunia
berbeda, cinta antara manusia
dan the Immortal adalah hal
yang tabu, jadi mereka akhirnya
akan menerima kosekuensi jika
melanggar larangan ini.

Ini juga awal bagi dua


pasangan itu, dimana dimasa
depan kelak mereka akan
merubah pandangan dunia soal
hubungan cinta mereka dan tak
membeda bedakan ras.

Fin~

BIODATA PENULIS

V. Anggi P. atau akrab


dipanggil Theoo, adalah seorang
kelahiran Blitar 14 Oktober 1998.
Yang menamatkan jenjang
sekolah di SMK Brantas
Karangkates, Malang. Mengambil
jurusan Instalasi Tenaga Listrik
(ITL).

Memiliki banyak hobi


terutama dalam bidang olah raga
Basket, bermain gitar, Riding
motor dan menulis cerita sebagai
sebuah hobi dan juga pengisi
kebosanan saat senggang.
Memiliki banyak sekali cerita
yang belum di lanjutkan karena
kesibukannya di dunia kerja saat
ini. Disisi lain kini dia sedang
berusaha menyelesaikan semua,
baik pekerjaan dan karya sastra
yang ada. So, yah…

Memiliki cita-cita sebagai


seorang TNI, walaupun beberapa
kali gagal. Tapi inilah kehidupan,
semoga kalian lekas sukses juga.