Anda di halaman 1dari 14

KODE ETIK PROFESI AKUNTAN MENUJU ERA GLOBAL

Tugas mata kuliah


Etika Bisnis dan Profesi

OLEH:
1. Triyana Rachmawati 170810301013
2. Josephine Aprilia C.H 170810301111
3. Rifqi Prayogo Alfarizi 170810301184

Program studi Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Jember
TAHUN 2018
PENDAHULUAN

Era globalisasi pada saat ini banyak terjadi kasus pelanggaran etika, dimana
pelanggaran ini terjadi hampir pada setiap kalangan, baik kalangan atas, menengah
maupun kalangan bawah. Pelanggaran-pelanggaran etika yang terjadi tentunya sangat
beragam baik dari hal yang sepele misalnya seperti membuang sampah sembarangan, hal
ini telah termasuk kedalam kategori pelanggaran etika terhadap lingkungan yang tentunya
berdampak besar bagi masyarakat itu sendiri, hingga pelanggaran-pelanggaran besar
misalnya kasus korupsi, suap, nepotisme dan sebagainya yang telah marak saat ini, dan
sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa setiap pelanggaran tentu saja memiliki dampak
yang dapat merugikan semua pihak
Pelanggaran-pelanggaran etika juga dapat terjadi pada suatu profesi,oleh karena
itu setiap profesi tentunya memiliki sebuah etika yang harus dipatuhi, dengan adanya
sebuah etika maka setiap tindakan dan perbuatan dapat dikontrol sehingga dapat
membedakan hal yang harus dilakukan maupun hal yang harus dihindarkan agar setiap
tindakan dan perbutan yang dilakukan tidak sewenang-wenang. Etika sangat berkaitan
dengan kebiasaan hidup yang baik, dimana kebiasaan-kebiasaan baik tersebut akan
melahirkan etika yang baik pada diri seseorang karena etka berkaitan dengan nilai-nilai,
tatacara hidup yg baik, aturan hidup yg baik dan segala kebiasaan yg dianut dan diwariskan
dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu generasi ke generasi yang lain sehingga
dimanapun dia berada tentunya dapat bersosialisasi dengan baik.

1
PEMBAHASAN
2.1 TANTANGAN PROFESI AKUNTAN GLOBAL
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi sistem informasi
dan komunikasi telah ikut mendorong perkembangan ekonomi menuju penyatuan sistem
ekonomi global. Penyatuan sistem ekonomi global ini makin mendorong tumbuhnya
perusahaan multinasional yang beroperasi melampaui batas-batas suatau Negara.
Berbagai kesepakatan dan kerja sama politik yang dicapai oleh para pemimpin Negara-
negara di dunia antara lain perjanjian ASEAN, APEC, Uni Eropa (European Union-EU), dan
terkahir perjanjian WTO, makin mendorong kea rah penyatuan sistem ekonomi dunia.
Pada abad ke-20, dapat dikatakan ada tiga aliran akuntansi dan audit yang dominan
diterapkan oleh perusahaan atau organisasi, yaitu: a) Sistem Anglo-Saxon yang dimotori
oleh AS; b) sistem continental yang berlaku di Belanda, Jerman, dan beberapa Negara
Eropa lainnya; dan c) sistem yang berlaku di Inggris dan Negara-negara persemakmuran.
Perbedaan sistem dan prinsip akuntansi serta audit ini tentu saja sangat menyulitkan
perusahaan multinasional-perusahaan yang telah beroperasi melampaui batas wilayah
Negara-untuk menyusun laporan keuangan gabungan atau laporan keuangan konsolidasi
sebagai satu kesatuan entitas.
Memasuki abad ke-21, profesi akuntan di dunia tercoreng oleh berbagai skandal di
bidang akuntansi dan audit yang sangat merusak citra profesi akuntan itu sendiri. Bagai
tersentak, pemerintah, badan pengatur profesi, dan organisasi profesi akuntan mulai
menyadari pentingnya upaya penegakan dan pengembangan standar kode etik profesi yang
lebih ketat, di samping upaya untuk mengembangkan standar teknis audit dan akuntansi itu
sendiri. Kelambatan dan kesulitan dalam mengembangkan standar teknis audit, akuntansi
dank ode etik profesi akuntan global, antara lain disebabkan oleh banyaknya pihak yang
berkepentingan dan banyaknya badan/lembaga yang merasa punya otoritas untuk
mengembangkan, membina, dan mengawaso profesi akuntan itu sendiri.
Meskipun mengalami banyak hambatan, diharapkan melalui kesadaran semua
pihak tentang pentingnya standar akuntansi, audit, dank ode etik bertaraf internasional,
serta melalui berbagai bentuk kerja sama untuk meningkatkan citra profesi akuntan sedunia,
dapat segera dihasilkan dan disepakati bersama prinsip dan standar audit, akuntansi, dank
ode etik profesi yang berlaku sama di seleuruh dunia.

2.2 KODE ETIK PROFESI AKUNTAN DI AS


Ada enam manfaat dari kode etik profesi, yaitu:
1. Dapat memberikan motivasi melalui penggunaan tekanan dari rekan sejawat (peer
pressure) dengan memelihara seperangkat harapan perilaku yang diakui umum
yang harus dipertimbangkan dalam proses keputusan.
2. Dapat memberikan pedoman yang lebih stabil tentang benar atau salah daripada
mengandalkan keperibadian manusiawi atau keputusan yang selalu bersifat ad hoc.
3. Dapat memberikan tuntunan, terutama dalam menghadapi situasi yang abu-abu
(ambiguous situations).
4. Kode etik tidak dapat menuntun perilaku karyawan (employess), namun dapat juga
mengawsi kekuasaan otokrasi atasan (employers).
5. Kode etik dapat merinci tanggung jawab social perusahaan itu sendiri.

2
6. Kode etik sebenarnya untuk kepentingan bisnis itu sendiri, kalau bisnis tidak mau
mengawasi perilku.
Ada dua organisasi profesi akuntan yang berpangaruh di AS yang telah memberikan
kontibusi bagi penyusunan kode etik profesi akuntan, yaitu American of certified public
accountans (AICPA) dan Institute of Management Accountants (IMA). Kode etik AICPA lebih
ditunjukan untuk para akuntan yang berpraktik pada kantor akuntan public, sedangkan kode
etik IMA lebih ditunjukan bagi para akuntan yang berprofesi sebagai akuntan manajemen di
suatu organisasi perusahaan.
2.3 KODE ETIK PROFESI AKUNTAN DI BEBERAPA NEGARA DI LUAR AS
Ada banyak contoh kode etik profesi akuntan yang berlaku di banyak Negara.
Beberapa kode etik yang berlaku di beberapa Negara, seperti AS, Inggris, Jerman, Kanada,
dan Australia tidak banyak berbeda. Berikut ini salah satu ringkasan etika yang berlaku di
Kanada yang juga dikutip dari buku yang ditulis oleh Brooks (2007). Ringkasan kode etik ini
dapat dilihat pada Tabel 8.2

Pendahuluan Meliputi filosofi yang mealndasi aturan yang


mengikat tanggung jawab seorang
Chartered Accountant.
Karakter seorang profesional Delapan unsur, termasuk subordinasi
kepentingan pribadi atas kepentingan
public.
Prinsip yang mengatur perilaku anggota - Berasal dari kepercayaan public
dan mahasiswa atas kewajaran laporan keuangan
dan nasihat yang kompeten atas
berbagai masalah bisnis.
- Memelihara reputasi, baik profesi
maupun kemampuannya untuk
melayani kepentingan public.
- Dam seterusnya.
Prinsip yang mengatur tanggung jawab - Menciptakan, emmelihara, serta
Firma mempertahankan kebijakan dan
prosedur yang sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
- Kegagalan dalam mematuhi
peraturan akan memicu sanksi
untuk firma secara keseluruhan
atau untuk partner yang mengetahui
dan bertanggung jawab.
Karakter pribadi dan kode etik - Mengikuti prinsip dan aturan etika,
perilaku terhormat melampaui
larangan-larangan tertulis.
Penerapan Aturan Etika - Untuk semua anggota yang
berpraktik sebagai akuntan public,
dan/atau dimana public
dan/asosiasi mengandalkan

3
Individu berdasarkan
keanggotaannya di ICAQ.
- Kepada bukan anggota yang
diawasi oleh atau bersekutu dengan
anggota.
- Didalam yurisdiksi di luar Ontario,
anggita harus menghormati
peraturan local, tetapi menjelekkan
ICAQ.
Aturan Etika Interpretasi/Isu yang diliput:
Umum:
101 Kepatuhan terhadap hokum dan Bersifat “mandatory”, berlaku juga untuk
peraturan mahasiswa
102 tuduhan criminal atau serangan sejenis Bisa berakibat dituntut karena melanggar
kode perilaku professional
102.2 melaporkan penghentian sementara Pemberitahuan secara tegas setiap ada
(suspensi) karena pertimbangan disiplin penghentian sementara
103 Tidak dikaitkan dengan salah saji Pada surat, laporan, pernyataan, atau
representasi atau diakitakan dengan
kandidat sebagai mahasiswa atau anggota.
104 harus secara tertulis dalam melakukan
koresponden dengan Institut
Standar-Standar yang memengaruhi
Kepentingan Publik:
201 Memelihara reputasi baik profesi dan - Selamanya, baik anggota maupun
kemampuan melayani public mahasiswa.
- Pelanggran di luar yurisdiksi kanada
dapat menyeret ICAQ.
- Dukungan terhadap persyaratan
jasa.
202 Integritas dan kehati-hatian
203 memelihara kompetensi professional
203.2 kerja sama dalam penyelidikam dan - Harus berkerja sama dengan
investigasi petugas yang ditunjuk institute
dalam melaksanakan penyelidikan
atau investigasi perilaku
profesional.
204 Independensi dan objektivitas - Harus ada pengungkapan tertulis
atas segala sesuatu yang dianggap
dari sudut pengamat berakal sehat
mencederai independensi dan
objektivitas.
205 Pernyataan palsu atau menyesatkan - Tidak dikaitakan meskipun bila
pendapat disclaimer diberikan.
- Meliputi surat-menyurat, laporan,
representasi, pernyataan, laporan
keuangan, baik lisan, maupun
tertulis

4
2.4 SARBANES-OXLEY ACT
Badai skandal keuangan yang mempertontonkan pelanggaran etika secara nyata
yang dilakukan oleh para eksekutif puncak perusahaan public multinasional yang berkantor
pusat di AS yang juga melibatkan profesi akuntan public ternama, sempat menggoncang
bursa saham dan perekonomian AS. Akibat berbagai skandal ini, pemerintah dan lembaga
legislative AS segera mengeluarkan undang-undang yang sangat terkenal dengan nama
Sarbanes-Oxley Act (SOX).
2.5 KODE ETIK PROFESI AKUNTAN : INTERNATIONAL FEDERATION OF ACCOUNTANTS
(IFAC)
Pada bulan juni 2005, organisasi profesi IFAC telah menerbitkan kode etik secara
lengkap dan sangat rinci sehingga bila dikodifikasikan, akan menjadi satu set buku terpisah
yang isinya sangat tebal. Pedoman kode etik ini terdiri atas tiga bagian; Bagian A berisi
prinsip-prinsip fundamental Etika Profesi yang berlaku untuk seluruh profesi akuntan dan
juga berisi kerangka konsep untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut, Bagian B berisi
penjelasan lebih lanjut mengenai penerapan kerangka konsep dan prinsip-prinsip
fundamental pada Bagian A untuk situasi-situasi khusus, terutama bagi mereka yang
berpraktik sebagai akuntan publik, dan Bagian C berisi penjelasan lebih lanjut mengenai
kerangka konsep dan prinsip-prinsip fundamental pada Bagian A untuk diterapkan pada
situasi-situasi khusus, terutama bagi profesi akuntan bisnis (akuntan manajemen).
A. Struktur dan Kerangka Dasar Kode Etik IFAC
Misi dari International Federation of Accountants sebagaimana dicantumkan
dalam konstitusinya adalah “mengembangkan dan menyempurnakan profesi
akuntan secara global dengan standar-standar yang harmonis sehingga dapat
memberikan pelayanan dengan kualitas tinggi secara konsisten untuk kepentingan
publik”.
Untuk lebih memahami kode etik yang ditetapkan oleh IFAC ini, maka Brooks
(2007) memberikan pendekatan cara memahami filosofi Kode Etik IFAC sebagai
berikut :
1. Memahami struktur Kode Etik (Gambar 8.1)
2. Memahami Kerangka Dasar Kode Etik untuk melakukan penilaian yang bijak
(Gambar 8.2)
3. Proses Menjamin Independensi Pikiran (independence in mind) dan
Independensi Penampilan (independence in appearance) (Gambar 8.3)
4. Pengamanan untuk mengurangi Risiko Situasi Konflik Kepentingan (Gambar
8.4)

Gambar 8.1
Struktur Kode Etik IFAC

5
Gambar 8.2
Kerangka Dasar
Kode Etik IFAC

Gambar 8.3
Proses Menjamin
Independensi Pikiran
dan Independensi
Penampilan

Gambar 8.4
Pengamanan untuk
Mengurangi Risiko
Situasi Konflik
Kepentingan

6
B. Prinsip-Prinsip Fundamental Etika
Prinsip-Prinsip Fundamental Etika terdiri atas :
1. Integritas (integrity)
2. Objektivitas (objectivity)
3. Kompetensi profesional dan kehati-hatian
4. Kerahasiaan (confidentiality)
5. Perilaku Profesional (professional behavior)

C. Independensi
Sebagaimana telah diketahui, ada dua jenis independensi yang dikenal, yaitu
independensi dalam fakta (independence in fact) dan independensi dalam
penampilan (independence in appearance). Untuk independensi dalam fakta, IFAC
menggunakan istilah lain yaitu independensi dalam pikiran (independence in mind).
Independensi dalam pikiran adalah suatu keadaan pikiran yang memungkinkan
pengungkapan suatu kesimpulan tanpa terkena pengaruh yang dapat
mengompromikan penilaian profesional, memungkinkan seorang individu bertindak
berdasarkan integritas, serta menerapkan objektivitas dan skeptisme profesional.
Independensi dalam penampilan adalah penghindaran fakta dan kondisi yang
sedemikian signifikan sehingga pihak ketiga yang paham dan berfikir rasional
dengan memiliki pengetahuan akan semua informasi yang relevan, termasuk
pencegahan yang diterapkan akan tetap dapat menarik kesimpulan bahwa
skeptisme profesional, objektivitas, dan integritas anggota firma atau tim penjaminan
(assurance team) telah dikompromikan.

D. Ancaman Terhadap Independensi


Ancaman terhadap independensi dapat berbentuk :
1. Kepentingan Diri (self-interest)
2. Review Diri (self-review)
3. Advokasi (advocacy)
4. Kekerabatan (familiarity)
5. Intimidasi (intimidation)

E. Ancaman Independensi Akuntan Publik


Ancaman independensi kepentingan diri dapat timbul akibat adanya
kepentingan keuangan, kepentingan keluarga langsung maupun dekat, atau
kepentingan lainnya dari akuntan yang bersangkutan. Kepentingan diri adalah wujud
sifat mengutamakan kepentingan pribadi atau keluarga dari pada kepentingan publik
secara luas. Seorang akuntan yang memiliki kepentingan diri tinggi akan dianggap
memiliki sikap independensi yang kurang baik. Dan secara otomatis hal tersebut
mengartikan bahwa seorang akuntan tersebut tidak profesional dalam menjalankan
profesinya sebagai akuntan publik. Seorang akuntan yang tidak independen
biasanya akan mengutamakan kepentingan tertentu yang bersifat pribadi dari pada
kepentingan publik dan bahkan dapat mengesampingkan kode etik profesi akuntan
itu sendiri. Selain itu seorang akuntan yang tidak independen dapat melakukan
penilaian yang tidak objektif melainkan subjektif dimana penilaian tersebut tidak

7
sesuai dengan keadaan sebenarnya karena alasan yang bersifat pribadi. Contoh
ancaman kepentingan diri untuk akuntan publik adalah:
1. Kepentingan keuangan dalam perusahaan klien atau kepentingan
keuangan bersama pada suatu perusahaan klien
2. Ketergantungan yang tidak wajar pada total imbalan dari klien
3. Memiliki hubungan bisnis yang erat dengan klien
4. Kekhawatiran berlebih jika nantinya kehilangan klien
5. Potensi akan dipekerjakan oleh suatu klien
6. Imbalan kontijensi sehubungan dengan perikatan peminjaman
7. Ada pinjaman dari atau kepada klien penjaminan atau kepada/dari direktur
atau pejabat dari klien
Ancaman review diri dapat timbul jika pertimbangan sebelumnya dievaluasi ulang
oleh akuntan profesional yang sama dan telah melakukan penilaian sebelumnya
tersebut, antara lain :
1. Temuan kesalahan material saat dilakukan evaluasi ulang
2. Pelaporan operasi sistem keuangan setelah terlibat dalam perancangan
dan implementasi sistem tersebut.
3. Terlibat dalam pemberian jasa pencatatan akuntansi sebelum perikatan
penjaminan.
4. Menjadi anggota tim penjaminan setelah baru saja menjadi
karyawan/pejabat di perusahaan klien yang memiliki pengaruh langsung
berkaitan dengan perikatan penjaminan tersebut.
5. Memberikan jasa kepada klien yang berpengaruh langsung pada materi
perikatan penjaminan tersebut.
Ancaman kekerabatan atau kekeluargaan timbul dari kedekatan hubungan dengan
seorang akuntan sehingga akuntan profesional menjadi bersimpati dan berperilaku
subjektif terhadap orang yang memilki kedekatan tersebut. contoh:
1. Anggota tim mempunyai hubungan keluaga dekat dengan seorang
direktur atau pejabat perusahaan klien.
2. Anggota tim mempunyai hunbungan keluarga dekat dengan seorang
karyawan klien yang memiliki jabatan yang berpengaruh langsung dan
signifikan terhadap pokok penugasan.
3. Mantan rekan dari kantor akuntan yang menjadi direktur atau pejabat
klien.
4. Menerima hadiah atau perlakuan khusus dari klien kecuali nilainya tidak
signifikan.
5. Hubungan yang terjalin lama dengan karyawan senior perusahaan klien.
Ancaman kekerabatan terhadap profesionalisme akuntan yang dapat timbul, antara
lain :
1. Seorang akuntan profesional dalam posisi yang dapat memengaruhi
pelaporan keuangan dan nonkeuangan atau keputusan bisnis kerena
memiliki hubungan kekeluargaan yang kuat
2. Hubungan yang lama dengan rekan bisnis mempunyai pengaruh pada
keputusan bisnis.

8
3. Menerima hadiah atau perlakuan khusus dari klien kecuali nilainya tidak
signifikan.
Seorang profesional contohnya seorang akuntan dituntut memilki independensi
dalam melakukan tugasnya barulah seorang akuntan tersbut dapat dikatakan
seorang yang profesional dibidang akuntansi. Akuntan yang tidak melakukan
tugasnya dengan independen akan memengaruhi hasil pelaporan yang dibuat, hasil
pelaporan yang dibuat akuntan akan memiliki unsur yang berbeda dengan keadaan
yang sebenarnya karena alasan pribadi seperti yang telah dijelaskan diatas.

F. Pengamanan terhadap Ancaman


1. Pengamanan melalui profesi, legislasi atau regulasi
Terdapat persyaratan atau kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang
akuntan dalam proses pengamanan profesi, legislasi, dan regulasi antara lain:
a. Persyaratan pendidikan, pelatihan dan pengalaman kerja
b. Persyaratan pengembangan profesi berkelanjuatan.
c. Peraturan tata kelola profesi.
d. Standar-standar profesional .
e. Prosedur pemantauan dan pendisiplinan profesi atau peraturan.
f. Review eksternal oleh pihak ketiga yang berwewenang atas laporan,
pemberitahuan, komunikasi, dan informasi yang dihasilkan ileh akuntan
profesional.
2. Pengamanan lingkungan kerja
a. Melibatkan tambahan seorang akuntan profesional untuk meninjau pekerjaan
yang dilakukan atau memberi nasihat yang diperlukan.
b. Konsultasi dengan pihak ketiga yang independen, seperti komite direktur
independen, badan pengatur, atau akuntan profesional lain.
c. Diskusikan masalah etika dengan pejabat klien yang berwenang tentang
masalah tata kelola.
d. Mengungkapkan kepada pejabat klien yang bertanggung jawab atas tata
kelola tentang sifat jasa dan fee yang dikenakan.
e. Melibatkan firma lain untuk melaksanakan atau melaksanakan kembali
bagian dari penugasan.
f. Rotasi staf senior dari tim penugasan penjaminan.

2.6 PROFESI AKUNTAN INDONESIA DAN IFAC


Profesi akuntan Indonesia mengikuti standar profesi yang diterapkan oleh
negara Amerika Serikat. Namun masuknya era globalisasi menuntut adanya suatu
sistem yang menyeluruh yaitu sebuah sistem yang dapt diberlakukan oleh semua
negara. Perekonomian yang cenderung terus bersifat global membuat seorang
akuntan memilki sistem profesi yang bersifat global juga. Hal inilah yang menjadi
sumberutama pembentukan sistem profesi akuntansi yang universal yang dapat
diterapkan dan diterima di seluruh dunia, sehingga standar yang mengatur profesi
akuntan menjadi satu kesatuan yang diterapkan diseluruh negara. Dengan adanya
sistem yang universal tersebut akan memudahkan dalam proses bisnis dan

9
perekonomian suatu negara terutama yang berhubungan dengan negara lain.
dengan penerapan standar dan prosedur akuntan yang sama disetiap negara
tentunya penilaian terhadap suatu bisnis atau perekonomian dalam segi akuntans
akan sama tanpa adanya konversi atau penyesuaian prosedur tertentu.
menyadari hal tersebut IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) berkali-kali
mengadakan diskusi dan pembicaraan sekitar kesiapan IAI untuk mengadopsi
standar-standar teknis dan kode etik internasional dengan memanfaatkan berbagai
forum, seperti kongres, seminar, loka karya, pelatihan, dan lainnya. Sampai saat ini,
IAI terus bertekad untuk sesegera mungkin agar profesi akuntan Indonesia
mengadopsi standar teknis dan perilaku yang dikeluarkan oleh International
Federation of accountants (IFAC).

10
KESIMPULAN
Di jaman era globalisasi ini, para pelaku profesi harus menjalankan profesinya
secara profesional. Para pelaku profesi harus bekerja secara profesional untuk menghadapi
persaingan yang cukup ketat di dalam dunia usaha. Para pelaku profesi harus memiliki
kemampuan dan keahlian yang dapat tergolong khusus agar dapat bersaing dengan para
pelaku profesi lainnya. Menjalankan suatu profesi tersebut tidaklah mudah, mereka harus
melewati bangku perkuliahan dan mengikuti banyak pelatihan terlebih dahulu agar dapat
menjalankan suatu profesi. Selain kemampuan dan keahlian khusus, para pelaku profesi
harus memperhatikan etika-etika yang ada. Dimana etika-etika tersebut merupakan suatu
aturan khusus atau aturan main dari setiap profesi dan semua peraturan tersebut harus
ditaati oleh semua pelaku profesi. Dasar dari semua etika profesi yang berlaku umum
adalah tanggung jawab terhadap pekerjaannya, baik hasil maupun dampak dari pekerjaan
yang dilakukan dan harus adil dalam memenuhi hak-hak orang lain yang harus kita penuhi
dalam menjalankan suatu profesi.

11
DAFTAR PUSTAKA
Sukrisno Agoes Dan I.C. Ardana. 2014. Etika Bisnis dan Profesi: Tantangan Membangun
Manusia Seutuhnya. Bab I. Edisi Revisi. Jakarta: Salemba Empat.

12
13