Anda di halaman 1dari 39

ANATOMI KLINI S DA N EM

BRI OLO GI SIST EM REPR


ODUKSI

PENU LIS: Dwi Yu da Herdanto (KU-


11829)
E ditor & Layou t: Dwi Yuda Herdanto

Penerbit:
yudah erdantoprodu ction
Dapa t di-dow nload di www.yudaherdanto.
com
yudaherd antoproduct ion
www.yudaherdanto.co m
Ten tang P enulis… ..
“Alhamdulillah… segala puji bagi Allah SWT… semoga catatan singkat ini bisa bermanfaat bagi kemajua n ilmu
kedokteran dan ilmu anatomi, serta dapat membantu kita semua insyaAllah dalam berjihad di jalan Alla h SWT
sebagai seorang dokter masa depan…amin”

Nama: Dwi Yuda Herdanto


Nicknam e: Yuda – Danto
NIM: 06 /195395/KU/11829
Agama: Islam
Jenis Kelamin: Laki-Laki
Golongan Darah: B
Tempat Tanggal Lahir: Yogyakarta, 27 Ja nuari 1990
Alamat: Jalan Prof. Dr. Soepomo 131 RT 35 RW 0 9
Warungboto Umbulharjo Yogya karta Indonesia
E-Mail: yuda27011990@yahoo.co.id
Website: www.yudaherdanto.com
Nomor HP: + 62 8586 8 2727 87
Riwayat Pendidikan:
࿿࿿࿿16 TK PEMBINA Y ogyakarta (1993-1994)
࿿࿿࿿17 TK TUNAS HARAPAN Sub Unit Dharma Wanita
Pertamina Pangkalan Susu, Sumatera Utara (1994-
1995)
࿿࿿࿿18 SD 2 Dharma Patra YKPP Pangkalan S usu,
Sumatera Utara (1995-1997)
࿿࿿࿿19 SD Dharma Patra 1 YKPP Rantau, Aceh Timur
(1997-1998)
࿿࿿࿿20 SD GLAGAH 1 Yogyakarta (1998-2001)
࿿࿿࿿21 SMP N 4 Yogyakarta (2001-2004)
࿿࿿࿿22 SMAN 3 Yogyakarta (2004-2006)
࿿࿿࿿23 Fakultas Kedo kteran UGM Pendidikan Dokter
2006 (2006-……)

yudaherd antoproduction
www.yudaherdanto.com
DAFTAR ISI
0 REFERENSI………….……………………………………………………………………………………………………………………….3
1 REVIEW STRUKTUR ANATOMI SISTEM REPRODUKSI
5888 Genitalia Masculina..
………………………………………………………………………………………………………4 o Genitalia
Feminina……………………………………………………………………………………………………….12 o Table
homolog……………………………………………………………………………………………………………..17 o Related
Structure…………………………………………………………………………………………………………18 o
Pelvis……………………………………………………………………………………………………………………………18
5889 ANATOMI KLINIS
DASAR……………………………………………………………………………………………………………23
5890 EMBRIOLOGI SISTEM
REPRODUKSI……………………………………………………………………………………………30
5891 REVIEW EMBRIOLOGI………..…………………………………………………………………………………
lampiran 35‐36

REFERENSI

PUTZ & PABST – SOBOTTA ATLAS ANATOMI MANUSIA

KEITH L MOORE ‐ CLINICALLY ORIENTED ANATOMY

NETTER – CIBA’S REPRODUCTIVE SYSTEM

MOORE & PERSAUD – THE DEVELOPING HUMAN CLINICALLY ORIENTED EMBRIOLOGY

RISANTO SISWOSUDARMO & OVA EMILIA – OBSTETRI FISIOLOGI

PRACTICAL SESSION OF ANATOMY DEPARTMENT


yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
GENITALIA MASCULINA
SCROTUM – TESTIS – EPIDIDIMIS
Perjalanan sperma:
Tubulus seminiferous Æ tubulus rect Æ rete tests Æ ductus efferentes Æ ductus epididimis Æ ductus deferens

LAPISAN DARI SCROTUM HINGGA TESTIS!


Lapisan dari luar ke dalam (bagian scrotum),
23 Cutis & Subcutis (akan membentuk raphe scrotii)
24 Tunica dartos (akan membentuk septum scrotii), terdiri atas Fascia dartos & M.Dartos.
Lapisan dari luar ke dalam (bagian tests),
25 Fascia spermatica externa
23 Merupakan lanjutan dari Aponeurosis M.Obliquus Externus Abdominis
24 M.Cremaster & Fascia Cremaster
23 Merupakan lanjutan dari M.Obliquus internus abdominis dan Fascia‐nya
5888 M.Cremasterica berfungsi dalam elevasi testis, sebagai thermoregulator tests.
• Menilai reflex cremasterica:
← Reflex cremasterica adalah elevasi pada tests ketka aplikator diketukkan pada paha
yang satu sisi dengan tests yang mengalami elevasi.
← Memukul ringan kulit pada aspek superior paha medial, hal ini berkaitan dengan
N.Illioinguinal.
← Refleks cremasterica yang hiperaktif berkaitan dengan cryptorchidism
← Fascia spermatica interna
• Merupakan lanjutan dari Fascia Transversalis
← Tunica vaginalis
• Lamina parietal (periorchium)
← Lamina visceral (epiorchium)
• Diantara lamina parietal dan lamina visceral terdapat “Cavum Vaginale” / “Cavum Serosum
Scrotii”.
← Tunica albuginea

STRUKTUR TESTIS!
Testis kiri lebih rendah dibanding testis kanan,
← Funniculus spermaticus
← Batas‐batas testis:
o Extremitas superior & inferior
o Margo anterior & posterior o
Facies mediale & laterale
← Appendix testis (sisa dari ujung cranial ductus paramesonephricus)

STRUKTUR EPIDIDIMIS!
Terletak pada facies lateral dari margo posterior tests
← Caput epididimis (terdapat ligamentum epididimis superior)
← Corpus epididimis (mengandung ductus epididimis)
← Cauda epididimis (terdapat ligamentum epididimis inferior)
← Conus epididimidis (kumpulan ductuli efferentes testis)
← Sinus epididimis (yaitu bagian dari cavum vaginale yang terletak diantara tests dan epididimis)
← Appendix epididimis (sisa dari ujung cranial ductus mesonephricus)
← Paradidimis (sisa dari tubulus mesonephricus)

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
KOMPONEN FUNNICULUS SPERMATICUS!
← Dinding funniculus spermaticus, terdiri atas:
o Fascia spermatca externa
o M.Cremaster & Fascia Cremaster
o Fascia spermatca interna
← Isi dalam funniculus spermaticus, terdiri atas:
o Vas deferens
o A.Testcularis (cabang A.Spermatica Interna)
o A.Cremasterica (cabang A.Epigastrica inferior)
o A.Deferensialis (cabang A.Vesicalis inferior)
o Plexus Pampiniformis (akan bermuara menuju V.Testicularis)
o N.Genitofemoralis, R.Genitalis (Inervasi M.Cremasterica)
o Serabut syaraf:
• Simpats (inervasi untuk arteri)
• Simpats & Parasimpats (inervasi untuk vas deferens)
o Pembuluh limfatk (menuju lnn.aortici)

“funniculus spermatcus akan berjalan melalui canalis inguinalis bersama dengan N.Illioinguinalis. Apabila kita
telusuri perjalanan funniculus spermatcus dari dalam scrotum, maka funniculus spermatcus pertama‐tama akan
melalui annulus inguinalis superficial, lalu berjalan didalam canalis inguinalis, dan akhirnya keluar melalui annulus
inguinalis profundal”

TERMOREGULATOR TESTIS!
← Plexus pampiniformis
← M.Cremaster Æ bekerja pada otot lurik, sehingga terjadi elevasi tests.
← M.Dartos Æ mengkerutkan otot polos scrotum, sehingga testis akan mengalami elevasi tidak langsung

VASKULARISASI SCROTUM!
← A.Scrotalis Anterior
Cabang dari A.Pudenda Externa
Memvaskularisasi bagian anterior scrotum
A.Scrotalis Posterior
Cabang dari A.Pudenda Interna
Memvaskularisasi bagian posterior scrotum
A.Spermatica Externa / A.Cremasterica
Cabang dari A.Epigastrica inferior
Memvaskularisasi bagian interna scrotum
Nama vena mengikut nama arteri Æ bermuara pada V.Pudenda Externa

INERVASI SCROTUM!
N.Scrotalis Anterior (Cabang N.Illioinguinalis) Æ Inervasi aspek anterior scrotum
N.Spermaticus externus (Cabang N.Genitofemoralis, Rr.Genitalis) Æ Inervasi aspek antero‐lateral scrotum
N.Scrotalis Posterior (Cabang N.Pudendus, R.Perinealis superficialis) Æ Inervasi aspek posterior scrotum
N.Cutaneus femoris posterior , Rr.Perinealis Æ Inervasi aspek postero‐lateral scrotum

“N.Pudendus, R.Perinealis profundalis akan menginervasi diafragma urogenital”

LIMFONODI SCROTUM!
Lnn.Inguinalis superficialis

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
INERVASI TESTIS!
Plexus testicularis (plexus spermaticus internus)
Simpatis: Corda Spinalis Segmen T7
Parasimpatis: N.Vagus

LIMFONODI TESTIS!
Lnn.lumbales (aortici lateral) & Lnn.preaortici

VAS DEFERENS
Merupakan lanjutan dari cauda epididimis, dimana terdapat bagian yang paling besar dari struktur vas
deferens yaitu ampulla vas deferens. Vas deferens akan menyilangi A.Illiaca externa & masuk ke dalam pelvis
melalui dinding lateral pelvis. Vas deferens juga akan menyilangi aspek superior dari ureter. Dimana vas deferens
akan berkelanjutan menjadi ductus ejaculatorius (Gabungan dari ampulla ductus deferens & ductus excretorius
vesikula seminalis).

VASCULARISASI VAS DEFERENS!


A.Vesicalis inferior Æ A.Deferensialis Æ akan beranastomosis dengan A.Testicularis

INERVASI VAS DEFERENS!


Plexus hipogastricus inferior,
Simpatis: N.Splanchnicus Lumbalis
Parasimpatis: N.Splanchnicus Pelvici

LIMFONODI VAS DEFERENS!


Lnn.Illiaca externa

VESICULA SEMINALIS
BATAS‐BATAS VESICULA SEMINALIS!
Anterior: fundus vesica urinaria
Posterior: fascia Denonvillier (rectum)

Vesikula seminalis terletak oblique‐superior terhadap prostat. Bagian superior dari vesikula seminalis
diliputi oleh peritoneum dan terletak posterior dari ureter, sedangkan ujung inferior berhubungan dengan rectum
(septum rectovesical). Vesicular seminalis memiliki ductus excretorius vesicula seminalis, yang akan bergabung
dengan vas deferens, menjadi ductus ejaculatorius.

VASKULARISASI VESIKULA SEMINALIS!


A.Vesicalis inferior
A.Rectalis medius

INERVASI VESICULA SEMINALIS!


Plexus hypogastricus inferior,
Simpatis: N.Splanchnicus Lumbalis
Parasimpatis: N.Splanchnicus Pelvici

LIMFONODI VESICULA SEMINALIS!


Lnn.Illiaca interna

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
DUCTUS EJACULATORIUS
Ductus ejaculatorius merupakan saluran lanjutan dari gabungan ductus ekskretorius (vesikula seminalis)
dan vas deferens. Dimana ductus ejaculatorius muncul didekat cervix vesica urinaria dan berjalan secara antero‐
inferior untuk menembus bagian posterior dari prostat (pada colliculus seminalis).

VASKULARISASI VESIKULA SEMINALIS!


A.Vesicalis inferior Æ A.Deferentialis
Pembuluh vena Æ Plexus venosus prostaticus & vesicalis

INERVASI VESICULA SEMINALIS!


Plexus hypogastricus inferior,
Simpatis: N.Splanchnicus Lumbalis
Parasimpatis: N.Splanchnicus Pelvici

LIMFONODI VESICULA SEMINALIS!


Lnn.Illiaca externa

PROSTAT
STRUKTUR PROSTAT!
Basis prostat (didekat cervix vesicae urinaria)
Apex prostat (bersinggungan dengan fascia pada aspek superior dari M.Perineal Profundus)
Facies anterior (berbatasan dengan lemak retroperitoneal)
Facies posterior (berbatasan dengan ampulla rectum)
Facies inferolateral (berhubungan dengan M.levator ani)

LOBUS PROSTAT!
Isthmus (terletak didepan dari urethra)
Lobus posterior (terletak posterior dari urethra dan terletak inferior dari ductus ejaculatorius)
Lobus lateral dextra et sinistra (terletak disamping urethra)
Lobus medius
Bagian yang ditembus oleh uretra & ductus ejaculatorius (terletak diantara urethra dan ductus
ejaculatorius)
Dapat membesar pada BPH, jika membesar akan menekan uvula vesicae

ZONA PROSTAT!
• Zona peripheral • Zona transitional
Zona central

STRUKTUR PROSTAT!
Sinus Prostatica
Urethra pars prostatica
Crista urethralis Æ merupakan lanjutan uvula vesicae pada dinding dorsal pars prostatica urethrae
Colliculus seminalis / veromontanum (homolog dengan hymen pada wanita)
Utriculus prostaticus (homolog dengan vagina pada wanita, dan merupakan sisa dari sinus
urogenitalis)
Ductus ejaculatorius
Ductus prostatica

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
VASKULARISASI PROSTAT!
A.Vesicalis Inferior, Rr.Prostaticus
A.Rectalis Media
A.Pudenda interna
Plexus venosus prostaticus, V.Illiaca interna

INERVASI PROSTAT!
Plexus prostaticus
Simpatis: Nukleus intermediolateralis L1‐3 Æ N.Splanchnicus Lumbalis Æ Ganglion Mesenterica inferior
Plexus hypogastricus inferior Æ N.Hypogastricus dexter et sinister Æ Plexus hemorrhoidalis medius
Plexus prostaticus
Parasimpatis: Nukleus intermedius S2‐4 Æ N.Splanchnicus pelvicus (S2‐S4) Æ Plexus hemorrhoidalis medius Æ
Plexus prostaticus

LIMFONODI PROSTAT!
Lnn.Illiaca interna & Lnn.Sacral

URETHRA
Urethra pria memiliki panjang 18‐20cm, dimana pada kondisi flaccid (non‐erect) memiliki 2 buah
kurvatura.

STRUKTUR DARI URETHRA!


Ostium urethrae internum
Urethra pars intramuralis / pre‐prostatica
Urethra pars prostatica (merupakan urethra yang paling lebar & paling mudah dilatasi), terdapat: o
Sinus prostatica
o Crista urethralis
o Colliculus seminalis / veromontanum
Utriculus prostaticus
Ductus ejaculatorius
Ductus prostatica
Urethra pars membranacea (bagian urethrae yang menembus trigonum urogenital. Paling pendek, sempit &
susah berdilatasi).
Urethra pars spongiosa, (bagian uretra paling panjang), terdapat pelebaran urethra yaitu:
Fossa intrabulbaris Æ pada bulbus penis, sebagai muara Gl.Bulbourethralis
Fossa navicularis / terminalis Æ sebelum muara ostium urethrae externum
Ostium urethrae externum (Lokasi yang paling sempit & susah berdilatasi)

KELENJAR PADA URETHRA

GLANDULA BULBOURETHRALIS / GLANDULA COWPER!


Homolog dengan gl.vestbularis major (Bartholini) pada wanita. Glandula bulbourethral terletak didalam
diafragma urogenital. Letaknya pada aspek posterolateral dari urethra.

GLANDULA URETHRALES!
Homolog dengan gl.vestibularis minor pada wanita, terdiri atas:
Gl.Paraurethral (didalam trabeculae corpus cavernosum)
Gl.Lacunae (didalam epitel, pada dinding dorsal fossa navicularis)

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
VASKULARISASI URETHRAE!
Pars Pre‐prostatica & Prostatica Æ A.V.Vesicalis Inferior & A.V.Rectalis Medius
Pars Membranacea & Spongiosa Æ A.V.Urethralis (Cabang A.Pudenda interna)

“Pada wanita vaskularisasi urethra oleh A.Pudenda interna & A.Vaginalis”

INERVASI URETHRAE!
Simpatis Æ N.Pudendus
Parasimpatis Æ N.Splanchnicus Pelvici
Serabut afferent Æ N.Splanchnicus pelvicus

LIMFONODI URETHRAE!
Pars prostatica & membranacea Æ Lnn.Illiaca interna
Pars spongiosa Æ Lnn.Inguinal profundal, (sedikit aliran limfonodi juga menuju Lnn.Illiaca Externa)

PENIS
BAGIAN PENIS!
Pars fixa, terdiri atas: o
Crus penis o
Bulbus penis
Pars libera, terdiri atas:
Corpus cavernosa o
Corpus spongiosum o
Glans penis

PELAPIS PENIS!
Dari superficial ke profundal:
Cutis
Fascia Colles (Fascia Penis Superficial)
Berasal dari fascia Scarpa (dari abdomen)
Akan menjadi fascia perineum superficial (pada perineum)
Fascia Buck (Fascia Penis Profundal)
Akan menjadi fascia perineum profundal/fascia Galaudet (pada perineum)
Tunica albuginea
Hanya melapisi corpus cavernosa penis
Akan membentuk septum penis, diantara 2 corpus cavernosa.

STRUKTUR PADA BAGIAN DORSAL PENIS!


Struktur pada sub‐kutis (Fascia Colles),
V.Dorsalis penis superficial
Struktur pada fascia penis profunda (Fascia Buck),
N.Dorsalis penis
A.Dorsalis penis
V.Dorsalis penis profunda

STRUKTUR PENIS!
Lig. Fundiforme Æ berasal dari linea alba, dimana akan membentuk menjadi septum scrotii
Lig. Suspensorium penis Æ merupakan kondensasi dari fascia penis profundal dari permukaan anterior
simfisis pubis.

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
Radix Penis Æ terletak pada spasium perineum superficial, diantara membrane perineal & fascia perineum
profundal. Tersusun atas:
o Bulbus penis, dengan M.Bulbospongiosus Æ berfungsi untuk memijat fossa intrabulbaris
(mencegah stasis urin/semen yang ada dalam daerah tersebut)
o Crus penis, dengan M.Ischiocavernosis Æ berfungsi dalam ereksi dengan menegangkan tunica
albuginea
Corpus spongiosum penis
Merupakan kelanjutan dari bulbus penis
Didalamnya terdapat urethra & A.Urethrales
Corpus cavernosum penis
Merupakan kelanjutan dari crus penis
Didalamnya terdapat caverna yang pada saat ereksi akan terisi oleh darah
Terdapat juga A.Profundal Penis dengan cabangnya A.Helicinae. Bentuk A.Helicinae adalah:
Pada kondisi flaccid (non‐erect) Æ Helix
Pada kondisi erect Æ Lurus
Raphe penis
Preputium penis
Frenulum preputii
Corona glandis & Sulcus coronarius
Glans penis
Hanya terdiri oleh satu corpus, yaitu corpus cavernosa glandis, yang merupakan lanjutan dari corpus
spongiosum penis.
Terdapat septum glandis

VASKULARISASI PENIS!
A.Illiaca interna Æ A.Pudenda Interna:
A.Dorsalis penis (jaringan fibrosa & kulit)
A.Profundal penis (jaringan erektil) Æ A.Helicinae
A.Urethralis (bagian posterior corpus spongiosum & kelenjar bulbourethral)
A.Pudenda Externa (kulit penis)
Darah dari superficial Æ V.Dorsalis penis superficial Æ bermuara menuju V.Pudenda externa Æ V.Saphena
magna Æ V.Femoralis
Darah dari cavern Æ V.Dorsalis penis profunda
Sejumlah darah juga bermuara pada V.Pudenda lateral

INERVASI PENIS!
N.Dorsalis penis (lanjutan dari N.Pudendus Segmen S2‐4)
N.Illioinguinal Æ somatis afferent radix penis
N.Pudendus Rr.Perinealis Æ Inervasi pada M.Bulbospongiosus & M.Ischiocavernosus

LIMFONODI PENIS!
Lnn.Inguinal superficial Æ Cutis penis & Preputium penis
Lnn.Inguinal profundal Æ Glans Penis & Urethra distal
Lnn.Illiaca interna Æ Corpus cavernosa & Urethra proximal

REFLEKS EREKSI!
Refleks parasimpatis,
Ereksi adalah kondisi dimana penis mengalami perubahan dari kondisi flaccid (non‐erect) menjadi erect.
Reseptor refleks ereksi: Glans penis
Afferen: N.Dorsalis penis Æ N.Pudendus Æ Cornu posterior S2‐4 Æ Centrum
Centrum (Pusat refleks): Nukleus intermedius S2‐4 (Centrum genitospinale)
Efferen: N.Splanchnicus Pelvici Æ Plexus cavernosus

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
Efektor: Vasodilatasi A.Helicinae, sehingga cavernae akan terisi darah dan tunica albuginea menegang,
menyebabkan vena terbendung.

REFLEKS EJAKULASI!
Refleks simpatis dan parasimpatis,
Reseptor: Glans penis
Afferen: N.Dorsalis penis Æ N.Pudendus Æ Cornu posterior S2‐4 Æ Centrum
Centrum (Pusat refleks): Nukleus intermediolaterale L1‐3
Efferen: Ganglion mesenterica inferior Æ Plexus hypogastricus Æ Plexus hemorrhoidalis medius, kemudian
berlanjut pada:
o Plexus prostaticus (mensekresikan semen)
o Plexus vesicalis (menutup sphincter urethra interna)
o Plexus deferentialis (melakukan kontraksi peristaltc untuk melakukan emisi sperma)
Efektor:
Emisi: terjadinya pengisian semen & spermatozoa dari ductus Ejaculatorius ke dalam urethra
pars prostatca.
Ekspulsi: terjadinya pengeluaran sperma dari urethra ke luar penis.

EMISI!
Terjadi akibat refleks simpatis N.Splanchnicus Lumbales L1‐2
Mengkontraksikan otot‐otot ductus ejaculatorius
Mengkontraksikan otot‐otot Sphincter Urethra Interna untuk mencegah “Retrograde Ejaculation”

EKSPULSI!
Refleks parasimpatis N.Splanchnicus Pelvici S2‐4
Mengkontraksikan otot‐otot urethra
Kontraksi M.Levator ani
Kontraksi M.Ischiocavernosus & M.Bulbospongiosus

ORGASME!
Sensasi yang terjadi pada saat tepat sebelum terjadinya ejakulasi
Rangsangan berasal dari dinding ductus deferens, vesicula seminalis, prostat, urethra pars cavernosa & otot
dasar pelvis Æ cornu posterior segmen L1‐3 Æ Tractus spinothalamicus anterior Æ Thalamus pars lateral
Æ Cortex gyrus post‐centralis

POLLUTIO!
Dikenal juga sebagai mimpi basah, pada prinsipnya mekanisme sama sepert ejakulasi. Namun rangsangan
terjadi akibat reseptor pada dinding vesicular seminalis, prostat & cauda epididimis terisi penuh oleh cairan
ejakulat.

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
GENITALIA FEMININA
OVARIUM
“Ovarium terletak dalam pelvis minor pada fossa ovarica (fossa ovarica dibatasi Bifurcato A.Illiaca communis)”

STRUKTUR OVARIUM!
Batas‐batas ovarium,
Ekstremitas tubaria
Ekstremitas uterine
Facies medialis
Facies lateralis
Margo mesovaricus
Margo libera
Penggantung ovarium,
Mesovarium (merupakan bagian dari lig.latum uteri)
Lig.Suspensorium ovarii
Melekatkan ovarium (ekstremitas tubaria) menuju lateral
Dilalui oleh A.V.Ovarica
Lig.Ovarii propium
Melekatkan ovarium (ekstremitas uterine) menuju uterus
Dilalui oleh A.Uterina, Rr.Ovaricus

VASKULARISASI OVARIUM!
Aorta abdominalis Æ A.Ovarica
A.Uterina, Rr.Ovaricus
V.Ovarica dextra Æ Vena cava inferior
V.Ovarica sinistra Æ V.Renalis sinistra

INERVASI OVARIUM!
Plexus ovaricus,
Simpatis: Corda Spinalis Segmen T10
Parasimpatis: N.Vagus

LIMFONODI OVARIUM!
Lnn.Aortici

TUBA UTERINA
STRUKTUR TUBA UTERINA!
Dari medial ke lateral,
Ostium Uterine
Tuba uterine
Pars Uterina Tuba uterine o
Isthmus Tuba uterine
o Ampulla Tuba uterine
o Infundibulum Tuba uterine (memiliki tangan‐tangan yang dikenal sebagai Fimbriae)
• Ostium Abdominale

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
Struktur yang menggantung tuba uterine,
Mesosalphinx (merupakan bagian dari Lig.Latum uteri) o
Mengandung epoophoron
o Terdiri atas:
Ductus transversus
Ductus longitudinalis epoophori
Appendix vesiculosa (merupakan pembesaran dari ductus transversus pertama)

VASKULARISASI TUBA UTERINA!


A.Uterina, Rr.Tubarius
A.Ovarica, Rr.Tubarius
Plexus venosus uterina

INERVASI TUBA UTERINA!


Plexus ovarian
Plexus uterina

LIMFONODI TUBA UTERINA!


Lnn.Aortici (lumbalis)

UTERUS
STRUKTUR UTERUS!
Fundus uterus
Corpus uterus & Cavitas uterus
Memiliki 2 permukaan yaitu facies vesicalis dan facies intestnalis
Isthmus uterus, memiliki struktur:
Ostum uteri internum histologicum
Ostum uteri internum anatomicum
Cervix uterus, memiliki stuktur:
Porto vaginalis
Porto supravaginalis
Canalis cervicis, terdapat:
Muara dari gl.cervicalis
Plica palmatae / arbor vitae
Ostium uteri externum

“uterus disokong oleh diafragma pelvis. Adanya peningkatan tonus dan tekanan intra‐abdominal akan
ditransmisikan melalui organ pelvic sekitar & fascia endopelvina”

STRUKTUR YANG MEMBENTUK DINDING UTERUS!


Perimetrium (dilapisi peritoneum)
Myometrium
Endometrium

LIGAMENTUM PENGGANTUNG UTERUS!


Lig.Teres Uteri / Lig.Rotundum
Melekat pada uterus – labium major o
Akan masuk kedalam canalis inguinalis
o Fungsi: mempertahankan posisi uterus (anteversi‐antefleksi), sehingga mencegah prolapse uterus

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
Lig.Latum Uteri
Merupakan bagian dari peritoneum
Membungkus parametrium (jaringan di lateral uterus)
Akan membentuk Mesometrium (merupakan bagian dari Lig.Latum uteri)
Lig.Uterosacral
Melekat pada sisi cervix – pertengahan sacrum
Terdapat M.Uterosacralis dan plica rectouterina
Membentuk cavum Douglas
Lig.Cardinale / Lig.Transversus cervicalis
Menghubungkan cervix dan fornix lateral – dinding lateral cavum pelvis
Terdapat A.Uterina

VASKULARISASI UTERUS!
A.Uterina
Rr.Vaginalis
Rr.Ovaricus
Rr.Tubarius
Plexus venosus uterine Æ bermuara menuju V.Illiaca interna

VASKULARISASI BERDASARKAN LAPISAN UTERUS!


Perimetrium Æ A.Arcuata
Myometrium Æ A.Radialis
Endometrium
Stratum basale Æ A.Basalis
Stratum fungsional Æ A.Spiralis

INERVASI UTERUS!
Plexus uterovaginal
Simpatis Æ N.Splanchnicus Lumbalis
Parasimpatis Æ N.Splanchnicus Pelvici

LIMFONODI UTERUS!
Fundus uterus Æ Lnn.Aortici
Corpus uterus
Lnn.Illiaca interna (berjalan bersama A.Uterina)
Lnn.Inguinalis superficialis (berjalan bersama lig.teres uterus)

“posisi uterus dapat berubah‐ubah berdasarkan derajat kepenuhan vesica urinaria dan rectum”

VAGINA
STRUKTUR VAGINA!
Batas vagina:
Anterior Æ basis vesica urinaria & urethra
Lateral Æ M.Levator ani, fascia pelvic viscera, ureter.
Posterior (inferior atau superior) Æ canalis analis, rectum, spasium rectouteri
Introitus vaginae / ostium vaginae
Rugae vaginae (pelipatan mukosa pada vagina)
Hymen (terletak pada 1/3 distal dari introitus vaginae)
Sisa dari hymen setelah hymen robek disebut “Caruncula hymenalis” / “Caruncula Mirtiformis”

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
Variasi hymen:
Hymen annularis (membentuk cincin)
Hymen semilunaris (membentuk bulan sabit)
Hymen cribiformis (membentuk jaring‐jaring)
Hymen fimbriata (membentuk jari‐jari)
Hymen septata (terdapat septum pada hymen)
Hymen perforasi incomplete (perforasi sebagian hymen)
Hymen microperforata (hanya terdapat perforasi kecil dari hymen)
Hymen imperforata (hymen abnormal, tidak berlubang)
Fornix vaginae (suatu alur pelebaran dari vagina yang mengelilingi portio cervix uteri)
Fornix lateral
Fornix anterior
Fornix posterior (fornix yang dilapisi oleh peritoneum, dan berhubungan dengan cavum
rectouterina/Douglas)

OTOT‐OTOT VAGINA!
Otot‐otot pada vagina berfungsi dalam mengkontraksikan vagina, yaitu:
M.Pubovaginalis
M.Bulbospongiosus
Diafragma urogenital (M.Sphincter Urethra Externa & M.Sphincter Uretro Vagina)

VASKULARISASI VAGINA!
A.Uterina, Rr.Vaginalis (1/3 proximal vagina)
A.Rectalis media, Rr.Vaginalis & A.Pudenda interna (bagian medial & distal vagina)
Plexus venosus vaginalis & Plexus venosus uterovaginalis

INERVASI VAGINA!
4/5 superior vagina di‐inervasi oleh plexus uterovaginal
Simpatis Æ N.Splanchnicus lumbalis
Parasimpatis Æ N.Splanchnicus pelvicus
1/5 inferior vagina di‐inervasi oleh N.Pudendus (sensitive terhadap sentuhan dan temperature)

LIMFONODI VAGINA!
Lnn.Illiaca interna & externa Æ Bagian superior vaginae
Lnn.Illiaca interna Æ Bagian medial vaginae
Lnn.Sacral, Lnn.Illiaca communis & Lnn.Inguinalis superficial Æ Bagian inferior vaginae

“keunikan vagina adalah kemampuannya mengalami distensi secara anterior‐posterior. Mengapa distensi tdak
kearah lateral? Hal ini karena dibatasi oleh spina ischiadica & lig.sacrospinosum”

GENITALIA EXTERNA FEMININA


VULVA
Mons pubis
Sebagai bantalan lemak pada aspek anterior symphisis pubis dan suprapubis.
Labium major
Memiliki ruangan didalamnya yang dinamai sebagai “rima pudendi”
Terdapat “pudendal cleft” Æ yaitu alur yang terbentuk yang dikelilingi oleh labium major. o
Batas‐batas labium major:
Anterior: Commisura labialis anterior
Posterior: Commisura labialis posterior

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
Facies lateralis & facies medialis
Vaskularisasi: A.Labialis anterior & A.Labialis posterior
Inervasi:
N.Labialis Anterior (Cabang N.Illioinguinalis) Æ Inervasi aspek anterior labium major
N.Genitofemoralis, Rr.Genitalis Æ Inervasi aspek antero‐lateral labium major
N.Labialis Posterior (Cabang N.Pudendus, R.Perinealis superficialis) Æ Inervasi aspek
posterior labium major
N.Cutaneus femoris posterior, Rr.Perinealis Æ Inervasi postero‐lateral labium major
Clitoris
Terdiri atas:
Corpora cavernosa clitoridis
Glans clitoridis
Preputium clitoridis (bagian yang menutupi klitoris)
Fascia clitoridis, akan membentuk:
Fascia superficialis abdominis
Fascia superficialis perinealis
M.Ischiocavernosus
Lig.Suspensorium clitoridis
Vaskularisasi: A.Pudenda Interna Æ A.Clitoridis
Inervasi: N.Clitoridis
Labium minor
Memiliki ruangan diantara 2 labium minor yang dinamai sebagai “vestibulum vaginae”
Batas‐batas labium minor:
Anterior: frenulum clitoridis
Posterior: frenulum labiorum minorum (fourchette)
Struktur ketika labium minora dibuka, terdapat:
Ostium urethra externum
Introitus vaginae / ostium vaginae
Muara dari gl.paraurethralis (ada disisi lateral ostium urethra externa) Æ homolog dengan
prostat
Muara dari gl.vestibularis minor (ada diantara ostium urethra externa dan introitus vaginae)
Æ homolog dengan gl.urethrales
Muara dari gl.vestibularis major/Bartholini (ada disisi lateral introitus vaginae) Æ homolog
dengan gl.bulbourethrales
Bulbus vestibuli
Merupakan jaringan erektil yang terdiri dari plexus venosus
Terletak pada sisi kaudal trigonum urogenitale & sisi lateral vestbulum vaginae o
Vaskularisasi: A.Bulbi Vestibuli (cabang A.Clitoridis)

VASKULARISASI VULVA!
A.Pudenda externa
A.Pudenda interna (bagian kulit, sex organ & otot perineum) o
Selain itu juga bercabang menjadi A.Labialis
Bermuara menuju V.Pudenda Interna

LIMFONODI VULVA!
Lnn.Inguinalis superficialis

REFLEKS EREKSI WANITA!


Refleks parasimpatis,
Reseptor refleks ereksi: Glans clitoridis, labia minora, vestibulum vaginae, mukosa vaginae (vagina pars distal)

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
Afferen: N.Dorsalis clitoridis Æ N.Pudendus Æ Cornu posterior S2‐4 Æ Centrum
Centrum (Pusat refleks): Nukleus intermedius S2‐4 (Centrum genitospinale)
Efferen: N.Splanchnicus Pelvici Æ Plexus uterovaginalis
Efektor: Vasodilatasi arteri clitoridis, bulbus vestibule & labia minora

REFLEKS ORGASME WANITA!


Reseptor refleks ereksi: Glans clitoridis, labia minora, vestibulum vaginae, mukosa vaginae (vagina pars distal)
Afferen: N.Dorsalis clitoridis Æ N.Pudendus Æ Cornu posterior S2‐4 Æ Centrum
Centrum (Pusat refleks): Nukleus intermediolateralis L1‐3 (Centrum genitospinale)
Efferen: Plexus hypogastricus superior Æ Plexus hypogastricus inferior Æ Plexus uterovaginalis
Efektor: kontraksi vagina & uterus, kontraksi otot‐otot:
M.Levator ani (mengecilkan vagina)
M.Bulbocavernosus (mengecilkan vestibulum vagina) & M.Ischiocvernosus o
M.Sphincter ani eksternus
o Otot abdomen

DAFTAR HOMOLOG
PRIA WANITA
Penis Klitoris
Scrotum Labia majora
Prostat Gl.Paraurethral (disisi lateral ostium urethra externa)
Colliculus seminalis / veromontanum Hymen
Utriculus prostaticus Vagina
Gl.Urethralis Gl.Vestibularis minor (diantara ostium urethra
externa dan introitus vaginae)
Gl.Bulbourethralis / Cowper Gl.Vestibularis major / Bartholini (disisi lateral
introitus vaginae)

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
STRUKTUR LAIN
CANALIS INGUINALIS!
Canalis inguinalis pada pria dilalui terutama oleh funniculus spermaticus, sedangkan pada wanita
terutama dilalui oleh Lig.Teres Uteri. Struktur canalis inguinalis:
Annulus inguinalis profundal
Annulus inguinalis superficialis, terdapat suatu pemisah yang dikenal sebagai: o
Crus mediale Æ crista pubicus
Crus laterale Æ berlekatan dengan tuberculum pubicus
Terdapat “serabut intercrural” dimana fungsinya untuk mencegah penyebaran / pelebaran crus.
Dinding canalis inguinalis:
Anterior Æ aponeurosis M.Obliquus externus abdominis o
Posterior Æ fascia transversalis
o Atap Æ Serabut M.Obliquus internus abdominis & M.Transversus abdominis
o Lantai Æ aspek superior lig.inguinal

PENGGANTUNG VESICA URINARIA!


Plica umbilicalis mediana (berisi Lig. Umbilicale mediana, merupakan sisa dari urachus) Æ menghubungkan
antara apex vesica urinaria dengan umbilicus.
Plica umbilicalis mediale (berisi Lig. Umbilicale mediale, merupakan sisa dari A.Umbilicalis) Æ terletak disisi
lateral dari plica umbilicalis mediana
Plica umbilicalis laterale (berisi A.Epigastrica Inferior) Æ terletak disisi lateral dari plica umbilicalis mediale

Diantara plica umbilicalis mediana dan mediale terdapat fossa supravesicalis. Diantara plica umbilicalis
mediale dan laterale terdapat fossa inguinal mediale atau “trigonum inguinale”/”trigonum Hassl‐Bach” (sebagai
lokus minoris pada hernia inguinal direct). Disebelah lateral dari plica umbilicalis laterale terdapat fossa inguinal
laterale (sebagai lokus minoris pada hernia inguinal indirect) & canalis inguinalis.

BATAS‐BATAS TRIGONUM HASSL‐BACH!


Aspek Superior & Medial: M.Rectus Abdominis
Aspek Lateral: Plica Umbilicalis Laterale
Aspek Inferior: Tractus Illiopubicus

PELVIS
Cavum pelvis merupakan ruangan yang menopang vesica urinaria, ureter distal, organ genital & rectum.
Batas superior dari bagian ini adalah appertura pelvis superior, dengan batas inferior‐nya adalah appertura pelvis
inferior, dimana hubungan antara pintu masuk dan keluar ini akan membentuk “pelvic canal” / “birth canal”.
Secara umum, pelvis dibagi 2, yaitu:
Pelvis major (spuria) Æ Os pelvis yang berada diatas linea terminalis
Pelvis minor (vera) Æ Os pelvis yang berada dibawah linea terminalis

BATAS APPERTURA PELVIS SUPERIOR / ADITUS PELVIS!


Bagian ini dibatasi oleh linea terminalis
Anterior: tepi atas symphisis pubis
Antero‐lateral: crista pubicus
Lateral: pecten os pubis
Postero‐lateral: linea arcuata os illium
Posterior: ala os sacrum & promontorium

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
BATAS APPERTURA PELVIS INFERIOR / EXITUS PELVIS!
Anterior: tepi bawah symphisis pubis
Antero‐lateral: ramus inferior os pubis & tuberositas ischiadica
Postero‐lateral: Lig.Sacrotuberale
Posterior: Os Coccygeus

BATAS PINTU TENGAH PANGGUL!


PTP merupakan pintu paling sempit, hal ini karena terdapat spina ischiadica.
Anterior: tepi bawah symphisis pubis
Lateral: spina ischiadica
Posterior: Os sacrum setinggi S3‐4

PERBEDAAN STRUKTUR PELVIS PRIA & WANITA!


STRUKTUR PELVIS PRIA WANITA
Struktur Umum Tebal & berat Tipis & ringan
Pelvis major Mencekung kedalam Cenderung dangkal
Pelvis minor Sempit & dalam Lebar & pendek
Appertura pelvic superior Berbentuk “jantung” “oval” atau “bulat”
Appertura pelvic inferior Kecil Besar
Arcus pubicus & sudut sub‐pubis Sempit Lebar
Foramen obturatorium Bulat Oval
Acetabulum Besar Kecil

TIPE PELVIS!
Menurut Caldwell Moloy, tipe pelvis dibagi menjadi:
Android Æ Pria, wanita kulit putih
Berbentuk jantung
Diameter transversa >12cm & diameter AP 11cm / (T > AP) atau (T = AP ????)
Arcus pubicus <90o
Ginekoid Æ Wanita (kulit putih & kulit hitam)
Berbentuk oval
Diameter transversa >12cm & diameter AP 11cm (T>AP)
o
Arcus pubicus >90
Anthropoid Æ Pria, wanita kulit hitam
Diameter transversa <12cm & diameter AP >12cm (T<AP)
o
Arcus pubicus <90
Platypelloid Æ Pria & wanita
Diameter transversa >12cm & diameter AP 10cm (T>AP)
o
Arcus pubicus >90

UKURAN‐UKURAN PENTING DALAM PENILAIAN PELVIS!


PAP (Pintu Atas Panggul)
Conjugata anatomica / vera Æ jarak promontorium dengan tepi atas symphisis pubis
Conjugata obstetrica Æ jarak promontorium dengan pertengahan symphisis pubis (paling pendek)
Conjugata diagonalis Æ jarak promontorium dengan tepi bawah symphisis pubis (paling panjang)
Diameter transversa Æ merupakan garis tengah tegak lurus terhadap conjugata anatomica
Diameter oblique I / Linea Oblique Dexter Æ Jarak Art.Sacroilliaca dexter dengan eminentia
illiopubica sinister
Diameter oblique II / Linea Oblique Sinister Æ Jarak Art.Sacroilliaca sinister dengan eminentia
illiopubica dexter

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
PTP (Pintu Tengah Panggul)
Distansia interspinosa Æ jarank antara dua spina ischiadica
PBP (Pintu Bawah Panggul)
Distansia intertuberosa Æ jarak antara dua tuber ischiadicum

“diameter anterior‐posterior paling pendek dalam pelvis adalah KONJUGATA OBSTETRIKA, sedangkan diameter
transversa paling pendek dalam pelvis adalah DISTANSIA INTERSPINOSA”

“diameter anterior‐posterior paling panjang dalam pelvis adalah pada PTP, sedangkan diameter transversa paling
panjang dalam pelvis adalah pada PAP”

“sudut inklinasi, yaitu sudut yang dibentuk dari garis antara tepi atas simfisis pubis dengan promontorium dan
garis antara tepi atas simfisis pubis dengan os coccygeus, besarnya sekitar 60o”

BIDANG HODGE TERHADAP PELVIS!


Di Indonesia, Hodge dinyatakan sebagai penurunan bagian terendah dari janin didalam pelvis selama persalinan.
Hodge I Æ Janin pada batas setinggi Appertura Pelvic Superior (tepi atas simfisis pubis‐promontorium)
Hodge II Æ Janin pada batas setinggi tepi bawah simfisis pubis (garis sejajar Hodge I)
Hodge III Æ Janin pada batas setinggi spina ischiadica (garis sejajar Hodge I)
Hodge IV Æ Janin pada batas setinggi Art.Sacrococcygea (garis sejajar Hodge I)

FASCIA PELVIC
Fascia pelvic adalah jaringan ikat yang melapisi rongga diantara membrane peritoneum & dinding otot
pelvis juga lantai pelvis.

MACAM‐MACAM FASCIA PELVIC!


Fascia pelvic parietal Æ lapisan yang melapisi aspek profundal otot sehingga membentuk dinding & lantai
pelvis. Fascia ini akan melapisi:
o M.Piriformis
o M.Obturator internus
o M.Coccygeus
o M.Sfingter uretra
o M.Levator Ani
Fascia pelvic visceral Æ lapisan yang secara langsung membungkus organ pelvis

Pertemuan antara fascia parietal & fascia visceral membentuk Arcus Tendinosa Fascia Pelvica. Memiliki bagian:
Bagian anterior Æ Lig.Puboprostatic (pria) & Lig.Pubovesicalis (wanita)
Bagian posterior Æ Lig.Sacrogenital
Lig.Uterosacaral (wanita) o
Lig.Rectoprostatica (pria)

“Fascia Denonvillier Æ duplikatura fascia antara rectum & prostat, berguna sebagai “biological barrier cancer”

DINDING PELVIS!
Dinding anterior Æ Corpus os pubis, Ramus os pubis, Simfisis pubis
Dinding lateral Æ Pelvis, Foramen obturatorius (dilapisi oleh membrane obturator), M.Obturatorius internus
o Pada sisi medial M.Obturatorius internus terdapat N.Obturatorius, A.Illiaca interna. o
M.Obturatorius meninggalkan pelvis minor melalui incisura ischiadica minor

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
Dinding posterior Æ Os Sacrum, Os Coccygea, M.Piriformis
Pada sisi medial M.Piriformis terdapat plexus sacralis
M.Piriformis meninggalkan pelvis minor melalui incisura ischiadica major

DIAFRAGMA PELVIS/PELVIS FLOOR!


Diafragma pelvis memiliki bentuk “funnel‐shape” atau “hammock‐like floor” terhadap cavitas pelvis & “V‐
Shaped roof” terhadap fossa ischioanal (dilewati oleh N.Pudendus). Diafragma pelvis dibentuk oleh:
M.Levator ani Æ otot paling penting dalam diafragma pelvis (menyokong viscera abdominopelvic & viscera
pelvis, meningkatkan tekanan intraabdomen)
o M.Pubococcygeus
Otot ini melapisi urethra, vagina, canalis analis
Otot yang dapat mengalami cedera saat persalinan
M.Puborectalis o
M.Illiococcygeus
M.Coccygeus / M.Ischiococcygeus
Fascia superior et inferior (pelapis otot)

“Diafragma pelvis membentuk tendo bersama pada Arcus Tendinosa M.Levator Ani”

EXCAVATIO CAVUM PELVIS!


Excavatio pre‐vesicae / retro‐pubis / Retzius (PRIA & WANITA)
Excavatio vesicouterina (WANITA)
Excavatio rectovesicalis (PRIA)
Excavatio rectouterina / cavum Douglas (WANITA) Æ ruangan paling kaudal dari cavum abdomen, dapat
terjadi akumulasi cairan pada daerah ini.

ISI CAVUM PELVIS!


Isi yang terdapat diantara fascia visceral & fascia parietal pelvis adalah jaringan fibroadiposum, yaitu:
Fibrosa / ligament
Lig.Lateral vesicae (diisi oleh A.Vesicalis superior et inferior)
Lig.Lateral recti (diisi oleh A.Rectalis superior, media, inferior)
Pada wanita, Lig.Cardinale (diisi oleh A.Uterina)
Jaringan Adiposum
Terutama pada spatium pre‐vesicae
Dan pada spatium pre‐sacral

PERINEUM
Perineum terletak dibagian inferior dari appertura pelvic inferior, dan dipisahkan oleh diafragma pelvis.
Perineum memiliki bentuk diamond (apabila paha di‐abduksi).

BATAS PERINEUM!
Anterior Æ Simfisis pubis
Antero‐lateral Æ Ramus pubis inferior & ramus ischiadicus
Lateral Æ Tuberositas ischiadica
Postero‐lateral Æ Ligamentum sacrotuberalis
Posterior Æ Os Sacrum & Os Coccygeus

PEMBAGIAN PERINEUM!
Garis transversal yang menghubungkan kedua ujung anterior tuberositas ischiadica pada aperture pelvic
inferior, membagi perineum menjadi 2, yaitu:

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
Trigonum urogenital Æ area yang terdapat didepan garis transversal, berisi radix scrotum, radix penis (pria) &
genitalia externa (wanita). Terdiri atas:
o Fascia diafragmatica urogenitalis superior et inferior
o M.Transversus perinei profundus
o M.Sfingter uretra membranacea
Trigonum analis Æ area yang terdapat dibelakang garis transversal

Membrane perineal / diafragma urogenital Æ terletak diantara 2 sisi arcus pubicus dan melapisi bagian anterior
dari aperture pelvic inferior.

Corpus perineal Æ merupakan titik tengah dari garis tranversal, sebagai tempat perlekatan otot‐otot perineal.
Yaitu:
M.Bulbospongiosus
M.Sfingter anal external
M.Transversus perineal profundus & superficial
Pada wanita, corpus perineal sangat penting untuk menyokong viscera pelvis, sehingga mencegah terhadinya
prolapsed vagina, rectocele, dll.

MUSCULUS PERINEAL SUPERFICIALIS!


M.Transversus perineal superficialis
M.Bulbospongiosus
M.Ischiocavernosus

FASCIA PERINEUM!
Fascia perineum profundus (Fascia Galaudet)
Akan membentuk fascia Buck pada penis
Akan membentuk lig.suspensorium penis
Fascia perineum superficialis
Akan membentuk fascia Colles pada penis
Akan membentuk fascia Scarpa pada abdomen o
Akan membentuk tunica Dartos pada scrotum

SPASIUM PERINEUM!
Spasium perineum superficialis (diantara fascia Colles & fascia diafragmatca urogenital inferior)
Wanita: Radix clitoridis (M.Bulbospongiosus & M.Ischiocavernosus), Bulbus vestibuli, M.Perinei
superficialis, Gl.Vestibularis major
Pria: Radix penis (M.Bulbospongiosus & M.Ischiocavernosus), Proximal urethra pars spongiosa,
M.Transversus Perinei superficialis, A.V.Pudenda interna & N.Pudendus
Spasium perineum profundal (diantara fascia diafragmatca urogenital inferior & M.Levator ani)
Wanita: Urethra proximal, M.Sphincter urethra, M.Transversus perinei profundus
Pria: Urethra pars membranacea, M.Sphincter urethra, M.Transversus perinei profundus, Gl.Cowper.

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
ANATOMI KLINIS DASAR
TESTIS‐SCROTUM‐EPIDIDIMIS!
TESTIS ECTOPIC Æ testis tidak berada didalam rongga scrotum, dan letaknya random tidak didalam jalur
penurunan testis. Biasanya akibat gubernaculum melekat pada lokasi abnormal. Lokasi ectopic biasanya
pada:
o Interstitial / aponeurosis M.Obliwuus Externus Abdominis (paling sering terjadi)
o Bagian proximal paha medial
o Dorsal penis
o Crossed ectopic
CRYPTOORCHIDISM Æ testis tidak turun ke dalam rongga scrotum, namun masih ada didalam jalur
penurunan testis semestinya. Biasanya disebabkan defisiensi testosterone.
HYDROCELE Æ merupakan akumulasi cairan serosa (akibat sekresi dari tunica vaginalis lamina visceralis)
pada cavum vaginale akibat patensi proc.vaginalis.
o Secara fisiologis, seorang neonatus juga terdapat akumulasi cairan serosa pada cavum vaginale,
namun dalam perkembangannya cairan itu akan tereabsorbsi sebelum usia 1 tahun.
o Secara patologis,
Pada anak, berhubungan dengan hernia inguinalis indirect
Pada dewasa, berhubungan dengan inflamasi epididimis.
2 tipe hydrocele:
Testis hydrocele Æ terjadi pada scrotum dan mendistensikan tunica vaginalis
Cord hydrocele Æ terjadi pada funniculus spermatcus dan mendistensikan bagian dari
processus vaginalis
Pemeriksaan hydrocel dengan “transillumination” menunjukkan warna merah terang.
HEMATOCELE Æ merupakan akumulasi darah (akibat perdarahan dari plexus pampiniformis atau
A.Testcularis) pada cavum vaginale
Pada pemeriksaan “transillumination”, cahaya tidak dapat menembus.
Berkaitan dengan scrotal hematocele akibat efusi darah dari testis
VARICOCELE Æ merupakan dilatasi plexus pampiniformis. Lebih sering terjadi pada scrotum sinistra
dibanding scrotum dexter akibat seringnya distensi dari V.Renalis sinistra.
Akan tampak mencolok pada saat berdiri atau mengejan, dan akan menghilang pada saat
berbaring.
Palpasi pada varicocele akan terasa seperti memegang sekantung cacing.
SPERMATOCELE Æ akumulasi cairan pada epididimis, biasanya didekat caput epididimis. Spermatocele
mengandung cairan seperti susu
EPIDIDIMAL CYST Æ akumulasi cairan dimana saja pada epididimis
KISTA SCROTUM Æ akibat obstruksi pada kelenjar sebasea dan diikuti oleh overproduksinya kelenjar sebasea
pada scrotum.
TORSIO TESTIS Æ kondisi terjadinya axial rotasi / volvulus pada spermatic cord, sehingga dapat menyebabkan
gangrene pada tests, biasanya disebabkan akibat mobilitas testis yang abnormal akibat mesorchium
yang terlalu panjang.
TORSIO APPENDIX TESTIS Æ struktur appendix testis terputar dan menyebabkan nyeri akut yang menyerupai
appendicits akut.
ORCHITIS Æ inflamasi pada testis, dan berkaitan dengan mumps.
EPIDIDYMITIS Æ inflamasi pada epididimis
KANKER TESTIS Æ Bermetastasis menuju Lnn.Lumbaris
KANKER SCROTUM Æ bermetastasis menuju Lnn.Inguinalis superficial
PATENSI PROC.VAGINALIS dapat menyebabkan:
Hydrocele
Hernia inguinal indirect

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
DISTENSI SCROTUM Æ scrotum adalah jaringan yang mudah terdistensi, sehingga pada hernia inguinal
indirect, usus akan masuk kedalam scrotum menyebabkan scrotum bisa sebesar bola (sepak bola).
Distensi scrotum juga terjadi pada mumps, perdarahan, orchitis, dll.

VESIKULA SEMINALIS!
ABSES VESIKULA SEMINALIS Æ kondisi terlokalisasi pus (abses) dalam vesikula seminalis dapat
menyebabkan rupture vesikula seminalis, sehingga pus dapat menyebar hingga cavum peritoneum.
o Pembesaran vesikula seminalis dapat dipalpasi dengan “pemeriksaan rectal”
o Dapat dilakukan massage untuk mendapatkan sekresi vesikula seminalis untuk pemeriksaan
mikroskopik mikroorganisme (ex: gonococcus).

PROSTAT!
BPH (Benign Prostate Hyperplasia)
Dapat menekan uvula vesica dan terjadi pembesaran lobus medius, sehingga dapat
mengobstruksi orificium urethra interna.
Pemeriksaan: Digital Rectal Examination (pada saat vesica urinaria penuh), yaitu dengan
memeriksa pada lobus lateral & posterior
Treatment:
Resectoscope (instrument yang dimasukkan melalui orificium urethra externa hingga urethra
pars prostatica)
Prostatectomy
KANKER PROSTAT
Biasanya pada lobus posterior
Sel kanker biasanya bermetastasis pada Lnn.Illiaca interna & Lnn.Sacral

URETHRA!
RUPTURE URETHRA ANTERIOR (akibat straddle injury) o
Rupture pada uretra pars spongiosa
o Dapat menyebabkan ekstravasasi urin menuju bulbus penis hingga spasium perineal superficial
RUPTURE URETHRA POSTERIOR (akibat fraktur pelvis)
Rupture urethra biasanya terjadi pada urethra pars membranacea karena paling sempit Æ rupture
akibat fraktur pelvis, sehingga terjadi separasi simfisis pubis dan lig.puboprostatic
Ekstravasasi pada abdomen fascia transversalis & peritoneum parietal o
Derajat rupture “COLLAPINTO”
Derajat 1 Æ peregangan uretra
Derajat 2 Æ Floating prostat
Derajat 3 Æ Floating prostat + Ruptur diafragma urogenital
STRICTURE URETHRA Æ adanya jaringan parut dalam urethra akibat trauma external pada penis atau infeksi
dalam urethra. Untuk mendilatasi stricture urethra, digunakan urethral sound atau businasi
URETHROLITHIASIS Æ batu pada urethra, biasanya pada urethra pars spongiosa “fossa intrabulbaris”.

PENIS!
AGENESIS PENIS Æ Tidak terbentuknya penis akibat kegagalan perkembangan tuberkel genital, sehingga
urethra akan terbentuk pada perineum didekat anus.
BIFID PENIS / DOUBLE PENIS Æ memiliki 2 buah penis, dan berkaitan dengan bladder exstrophy
MIKROPENIS Æ Ukuran penis kecil sehingga kadang tertimbun didalam lemak suprapubis dan biasanya
berkaitan dengan hipopituitarism.
EPISPADIA Æ orificium urethrae externum terletak dibagian dorsal penis.
HYPOSPADIA Æ orificium urethrae externum terletak dibagian ventral penis, akibat plica urethralis (dexter‐
sinister) / plica urogenital tidak melekat

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
PHIMOSIS Æ kondisi ketika preputium penis tidak dapat diretraksikan
PARAPHIMOSIS Æ kondisi ketika preputium penis meretraksi bagian sulcus coronarius penis, dan tidak dapat
diposisikan seperti semula.
PEYRONIE’S DISEASE Æ fibrosis corpus cavernosum sehingga penis membengkok
IMPOTENSI
Generandi (tidak bisa terjadi fertilisasi karena tidak ada sperma dalam ejakulat) o
Coeundi (tidak bisa ereksi)
PRIAPHISMUS Æ ereksi terus menerus, akibat adanya rangsangan terus menerus pada jalur refleks ereksi
ataupun pada pusat ereksi.

TUBA UTERINA!
RUDIMENTER TUBA UTERINA Æ tidak terbentuknya tuba uterine, akibat kegagalan ductus
paramesonephricus membentuk tuba uterine atau kegagalan perkembangan.
ATRESIA TUBA UTERINA Æ kanalisasi tuba uterine yang tidak sempurna, sehingga saluran tuba uterine
buntu.
HIPOPLASIA TUBA UTERINA Æ tuba uterine yang gagal berkembang mencapai ukuran normal.
INFANTILE TUBA UTERINA Æ struktur saluran tuba uterine yang tidak lurus, melainkan berkelok‐kelok.
Sehingga dapat mengganggu gerak peristaltik tuba dan juga retensi ovum yang terfertilisasi (menyebabkan
ectopic pregnancy)
PERISALPHYNGEAL CYST Æ kista yang terbentuk pada tuba uterine, disebabkan akibat oklusi epitel serosa
tuba uterine.
SALPHINGITIS Æ inflamasi pada tuba uterine, biasanya berkaitan dengan infeksi mikroorganisme. Terdapat
beberapa derajat, yaitu:
o Acute salphingitis
o Pyosalphynx / sactosalphynx purulenta Æ kondisi dimana tuba uterine mengalami
pembesaran menjadi “Sausage‐like” akibat oklusi dari ujung ostium uterine, sehingga secret
dari ampulla tuba uterine akan terakumulasi.
o Hydrosalphynx Æ akumulasi cairan serosa pada tuba uterine. Prosesnya:
Kandungan purulen dari pyosalphynx akan mengalami penebalan, dan lama kelamaan akan
digantikan jaringan granulasi (dapat mengalami kalsifikasi).
Selanjutnya, kandungan solid ini akan mengalami liquifikasi menjadi cairan serosa.
Chronic salphingitis Æ berkaitan dengan obliterasi tuba uterine, sehingga tuba uterine susah
dideteksi dalam pemeriksaan X‐RAY. Kondisi salphingitis kronik dapat menyebabkan gangguan
struktur fimbriae tuba uterine, yaitu:
Phimosis fimbriae tuba uterine Æ kondisi ketika fimbriae mengami inversi ke dalam ostium
abdominal.
Paraphimosis fimbriae tuba uterine Æ kondisi ketika terjadi konstriksi kuat pada bagian
medial fimbriae
Clubbing with navel tuba uterine Æ kondisi ketika fimbriae sudah hilang, namun masih
tampak ostium abdominale
Complete clubbing Æ kondisi ketika fimbriae sudah hilang dan juga tidak ada ostium
abdominale
Adhesi ostium tuba Æ perlekatan sepasang tuba uterine pada bagian fimbriae
PARAMETRITITIS Æ inflamasi pada parametrium, biasanya akibat infeksi mikroorganisme.

UTERUS!
APLASIA UTERUS Æ tidak terdapat uterus akibat kegagalan perkembangan uterus, disebabkan kegagalan
uterovaginal primordial membentuk uterus.
UTERUS DIDELPHYS / UTERUS DUPLEX SEPARATUS Æ memiliki 2 uterus, 2 cervix, 2 saluran vagina. Dan juga
kedua uterus tidak berdempetan.

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
UTERUS DUPLEX BICORNU Æ memiliki 2 uterus, 2 cervix, 2 saluran vagina. Namun, kedua uterus saling
berdempetan.
UTERUS BICORNU UNICOLLIS Æ memiliki 2 uterus, 1 cervix, 1 saluran vagina.
UTERUS BICORNU with CORNU RUDIMENTER / ASYMMETRIC TWIN Æ uterus dengan 2 cornu, namun salah
satu sisi uterus (cornu) mengalami rudimenter.
UNICORNUATA UTERUS Æ hanya terbentuk satu tuba uterine dan satu sisi uterus akibat kegagalan
perkembangan salah satu ductus paramesonephricus.
UTERUS SEPTUS Æ memiliki 1 uterus dengan sebuah septum sempurna didalam uterus (membagi hingga
cervix uterus).
UTERUS SUB‐SEPTUS Æ memiliki 1 uterus dengan septum yang tidak sempurna (hanya membagi setengah
bagian superior uterus)
UTERUS ARCUATUS Æ kondisi ketika fundus uterus mengalami pencekungan, sehingga tampak luar uterus
abnormal, namun bagian dalam uterus normal.
SUMBAT KRIESTELLER Æ secara fisiologis terjadi pada glandula cervicalis
KISTA NABOTHI Æ retensi pada sekret gl.cervicalis, menyebabkan pembentukan kistik pada porto cervix uteri
PROLAPSE UTERUS Æ penurunan dari uterus kedalam canalis vaginalis. beberapa derajat dalam CIBA:
st nd
1 degree Æ penurunan sedikit dari uterus menuju vagina o 2
degree Æ uterus prolapsed hingga introitus vaginae
o 3rd degree (complete) Æ procidentia (uterus tampak diluar vaginae)

VAGINA!
GYNATRESIA Æ dikenal juga sebagai absence of vagina atau tidak memiliki vagina, akibat kegagalan bulbus
sinovaginal berkembang menjadi vaginal plate. Berkaitan dengan “Mayer‐Rokitansky‐Kuster‐ Hauser
Syndrome”.
ATRESIA VAGINA Æ Tidak terbentuk saluran vagina, akibat kegagalan kanalisasi lempeng vagina (vaginal
plate). Apabila kegagalan terjadi pada ujung inferior lempeng vagina untuk mengalami perforasi, akan
menyebabkan hymen imperforate.
HYMEN IMPERFORATA Æ kondisi hymen yang mengalami penutupan, hal ini terjadi akibat kegagalan
perforasi pada invaginasi dinding posterior sinus urogenital yang akan membentuk hymen pada akhir
periode perinatal.
FIBROUS HYMEN Æ hymen yang mengalami fibrosis, lebih mudah ditangani dibanding hymen imperforate.
DOUBLE VAGINA Æ memiliki dua saluran vagina. Memiliki 2 introitus vaginae, 2 cervix dan 2 uterus. Juga
diikuti dengan septum yang sempurna.
PARTIAL SEPTATE VAGINA Æ memiliki 2 introitus vaginae, 1 cervix dan 1 uterus. Biasanya septumnya hilang
ketika mendekati daerah cervix.
RUDIMENTARY SECOND VAGINA Æ kondisi ketika ductus paramesonephricus gagal berfusi, namun salah satu
dari ductus paramesonephricus mengalami perkembangan yang tidak sempurna, sehingga menyebabkan
seseorang memiliki 2 uterus dengan 2 cervix namun salah 1 vagina rudimenter dan menjadi kista.
HEMATOCOLPOS Æ akumulasi darah pada vagina
HEMATOMETRA Æ akumulasi darah pada uterus
HEMATOSALPHYNX Æ akumulasi darah pada tuba uterine
VAGINISMUS
Adanya kontraksi berlebihan pada M.Transversus perinealis & M.Bulbospongiosus, sehingga
menyulitkan penetrasi penis.
Dapat menyebabkan dysparenia
PENIS CAPTIVUS Æ Kondisi penis yang terjepit didalam vagina (vaginismus) saat penetrasi penis.
CYSTOCELE Æ prolapse dari vesica urinaria menuju dinding anterior vagina

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
URETHROCELE Æ prolapse dari urethra menuju dinding anterior vagina biasanya berkaitan juga dengan
cystocele
RECTOCELE Æ prolapse dari rectum menuju dinding posterior vagina
ENTEROCELE Æ prolapsed dari usus menuju daerah fornix posterior pada cavum Douglas, kondisi ini berkaitan
dengan congenital pemanjangan dari cul‐de‐sac.
VAGINITIS Æ Inflamasi vagina, biasanya berkaitan dengan zat kimia, benda asing, dan hygiene buruk.
KISTA DUCTUS GARTNER Æ kista yang terbentuk pada sisa dari ductus mesonephricus pada wanita (yang
mengalami regresi), biasanya muncul pada dinding anterolateral vagina.
FISTULA RECTOVAGINALIS, FISTULA URETHRAVAGINALIS Æ terbentuknya suatu hubungan antar organ.

VULVA!
AGENESIS CLITORIS Æ Tidak terbentuknya klitoris akibat kegagalan perkembangan tuberkel genital, sehingga
urethra akan terbentuk pada perineum didekat anus.
VARICOSE VEIN OF VULVA Æ kondisi terhambatnya vena didaerah labium atau klitoris akibat peningkatan
tekanan intrapelvis (biasa pada kehamilan).
VULVITIS Æ peradangan pada vulva, biasanya berkaitan dengan diabetes, gonorrhea & trichomoniasis.
BARTHOLINITIS (Infeksi kelenjar vestibularis major) Æ biasanya disebabkan akibat oklusi pada saluran
kelenjar Bartholini, sehingga dapat menyebabkan pembesaran kelenjar hingga 4‐5cm.
KISTA BARTHOLINI Æ oklusi saluran Gl.Vestibularis major tanpa adanya infeksi dapat menyebabkan
akumulasi mucin didalamnya.
SEBACEOUS CYST Æ akibat oklusi kelenjar sebasea pada labium majora
INCLUSION CYST Æ kista yang biasanya tampak pada perineum, frenulum labiorum minorum, atau didalam
vagina. Biasanya akibat pasca‐operasi laserasi perineum yang menyebabkan partkel epitel tertmbun
didalam jaringan.
CYST OF CANAL NUCK Æ dilatasi kistik pada tonjolan peritoneum yang tdak mengalami obliterasi (analog
processus vaginalis pada pria), biasanya terbentuk pada ½ bagian superior labium major.
ADENOCARCINOMA VULVA Æ biasanya berasal dari Gl.Vestibularis major
TRAUMA VULVA Æ vulva adalah daerah yang penuh dengan vaskularisasi, apabila terjadi trauma pada daerah
vulva (olahraga, perkosaan, dll), dapat menyebabkan hematoma pada labium majora.

GANGGUAN DETERMINASI SEXUAL & GONAD!


TRUE HERMAPHRODITE Æ Memiliki ovum dan testis. Biasanya berwujud sebagai wanita, namun juga bisa
sebagai pria. Terkadang genitalia externa memiliki wujud ambigu.
FEMALE PSEUDOHERMAPHRODITE Æ Memiliki kromosom 46 XX, namun mengalami maskulinisasi (hipertropi
klitoris, penyatuan labium parsial, dan sinus urogenital persisten). Biasanya disebabkan akibat Congenital
Adrenal Hyperplasia
MALE PSEUDOHERMAPHRODITE Æ Memiliki kromosom 46 XY, namun mengalami feminisasi. Biasanya akibat
penurunan produksi testosterone & MIF.
ANDROGEN INSENSITIVITY SYNDROME (AIS) Æ disebut juga sebagai Testcular Feminizaton Syndrome.
Kondisi pasien yang tampak fisik wanita (genital externa & payudara), namun memiliki testis dan
kromosom 46 XY. Tidak terdapat genitalia interna dan tdak terjadi mens. Kondisi ini diakibatkan karena
resistensi aksi testosterone pada tuberkel genital, labioscrotal, dan plica urogenital.
PARTIAL AIS Æ Sama seperti AIS, namun memiliki genitalia externa yang ambigu.
DYSGENESIS OVARIUM Æ Ovarium tidak berkembang, biasanya akibat defisiensi hormone.

HERNIA INGUINALIS!
HERNIA SUPRAVESICAL EXTERNAL Æ hernia yang terjadi diantara plica umbilicalis mediana dan mediale.
Dimana pada rekonstruksi hernia tipe ini, dapat mencederai N.Illiohypogastric.

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
HERNIA INGUINALIS DIRECT Æ Kondisi dimana terjadi penurunan isi rongga peritoneum menembus trigonum
Hassl‐Bach ke dalam rongga scrotum.
o Lokus minoris pada hernia inguinalis direct pada trigonum Hassl‐Bach (fossa inguinal mediale).
o Palpasi hernia inguinalis direct dilakukan dengan meletakkan permukaan palmar dari jari index
dan tertius pada trigonum inguinalis dan menginstruksikan pasien untuk batuk atau mengejan.
Jika (+) hernia, akan terasa impuls pada jari dokter. Selain itu palpasi juga bisa dilakukan pada
annulus inguinalis superficial, dimana dokter akan merasakan impuls disamping jari dokter.
HERNIA INGUINALIS INDIRECT Æ Kondisi anomali kongenital dimana terjadi penurunan isi rongga peritoneum
melalui canalis inguinalis (annulus inguinalis profundus) ke dalam rongga scrotum.
o Lokus minoris pada hernia inguinalis indirect terletak pada fossa inguinal laterale, yaitu lateral
dari Plica Umbilicalis Laterale.
o Palpasi dengan index finger pada annulus inguinal superficial (pada aspek superolateral
tuberkel pubicus). Pada kondisi hernia akan terjadi impuls yang terasa pada ujung jari pemeriksa
ketka pasien disuruh batuk.

GANGGUAN ANATOMI LAIN!


FRAKTUR PELVIS
Daerah‐daerah yang rawan fraktur, adalah:
o Ramus os pubis (Straddle injury) o Ala os ilium
Acetabulum Regio sacroiliaca
DISRUPSI CORPUS PERINEUM (Cedera saat persalinan) Æ pada persalinan tanpa bantuan dokter dapat
menyebabkan kelemahan diafragma pelvis dan juga menyebabkan sobeknya 1/3 caudal dinding posterior
vagina, corpus perineum & kulit. Sehingga perlu dilakukan tindakan episiotomy.
INKONTINENSIA URIN / DRIBBLING URIN Æ Cedera dinding pelvis, yang menyebabkan cedera M.Levator ani
(M.Pubococcygeus). Biasa akibat proses persalinan.
ANORECTAL INCONTINENTIA Æ peregangan N.Pudendus saat persalinan dapat menyebabkan cedera dari
N.Pudendus & menyebabkan inkontinensia anorectal.

GANGGUAN KEHAMILAN!
PLACENTA PREVIA Æ malposisi implantasi plasenta pada segmen inferior uterus. Klasifikasi: o
Marginal: letak plasenta berada didekat batas dari ostium uteri interna.
o Partial: letak plasenta sudah menutupi setengah bagian dari ostium uteri interna
o Total: letak plasenta menutupi seluruh ostium uteri interna.
ABRUPTIO PLACENTA Æ separasi premature dari implantasi plasenta dari uterus. Dapat menyebabkan: o
External bleeding
o Internal bleeding / concealed bleeding
COUVELAIRE UTERUS / UTEROPLACENTAL APOPLEXY Æ kerusakan uterus berat (biasanya berkaitan dengan
abruption placenta), menyebabkan uterus terisi darah dan juga menjadi atonus.
ECTOPIC PREGNANCY Æ kondisi dimana terjadi implantasi ovum yang terfertilisasi diluar
cavum uteri. Predileksi ectopic pregnancy adalah:
o Ovarium o Pars uterina tuba uterine
o Infundibula tuba uterina o Cervical
o Ampulla tuba uterine o Abdominal
Isthmus tuba uterine
ABORTION ECTOPIC PREGNANCY Æ aborsi pada kehamilan ektopik akibat lokasinya yang tidak sesuai,
biasanya terjadi pada:
Tubal abortion Æ fetus mengalami aborsi menuju ostium abdominal tuba uterina
Intraligamentary abortion Æ akibat ruptur tuba uterine, sehingga fetus jatuh ke dalam lig.latum
uteri.
Lithopedion formation Æ fetus mengalami dehidrasi (reabsorbsi cairan amnion) dan mengalami
mumifikasi didalam lokasi predileksi ectopic pregnancy.

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
PROSEDUR TERKAIT!
FEMALE CIRCUMCISION Æ mengambil preputium clitoridis, namun kadang diberbagai daerah prosedur ini
dilakukan dengan mengambil seluruh klitoris & labia minora.
DEFERENTECTOMY / VASECTOMY Æ prosedur sterilisasi pada pria dengan melakukan “double ligasi” pada
setiap ductus deferens, yang selanjutnya diantara ligasi itu dilakukan pemotongan. Sehingga ejakulat
hanya mengandung semen dan tidak mengandung sperma.
TUBECTOMY Æ prosedur sterilisasi pada wanita dengan melakukan “double ligasi” pada setiap ductus
deferens, yang selanjutnya dilakukan pemotongan diantara ikatan tadi. Sehingga ovum tidak dapat
bertemu dengan sperma.
HYSTERECTOMY Æ Prosedur pengangkatan uterus yang dilakukan melalui dinding abdomen anterior atau
vagina. Struktur yang paling rawan dalam hysterectomy adalah ureter (khususnya ureter sinister).
HYMENECTOMY Æ prosedur pengambilan hymen (perforasi hymen) pada hymen imperforate.
SALPHYNGOGRAPHY / HYSTEROSALPHYNGOGRAPHY Æ prosedur radiografi untuk penilaian struktur uterus
dan tuba uterine.
HYSTEROSCOPY Æ Prosedur endoskopi untuk penilaian struktur uterus, dengan memasukkan endoscope
melalui vagina.
CULDOSCOPY Æ instrument endoscopic yang dimasukkan kedalam fornix posterior, untuk mengamat
ovarium dan tuba fallopi. (biasanya pada kasus tubal pregnancy).
o Culdoscopy dilakukan dalam pasien dengan posisi Trendelenburg Positon, dengan mengelevasi
perineum dengan SIMS SPECULUM, dan menjepit cervix dengan VULSELLUM menuju kearah
simfisis pubis, sehingga fornix posterior akan lebih terlihat.
o Laparoscopy menggantikan culdoscopy, laparoscopy lebih fleksible dan lebih baik dalam
memvisualisasi organ pelvis. Laparoscopy lebih tdak berpotensial untuk menginfeksi.
CULDOCENTESIS Æ prosedur untuk mengambil cairan abses pada excavation rectouterina dengan melakukan
insisi pada fornix posterior.
TESTICULAR BIOPSY Æ biopsy pada testis dengan tujuan penilaian fertilitas pria, insisi scrotum dan testis
dilakukan hingga tunica albuginea terpapar, kemudian insisi kecil dibuat pada tunica albuginea, sehingga
parenkim testis akan keluar melalui bagian tersebut, dan parenkim testis diambil.
PALPASI ANNULUS INGUINALIS
Annulus inguinalis superficial: pada aspek superolateral tuberkel pubicus
Annulus inguinalis profundal: depresi kulit pada aspek superior dari ligamentum inguinale

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
EMBRIOLOGI SISTEM
REPRODUKSI
Sistem genital pada awalnya tidak bisa dibedakan antara pria dan wanita, sehingga dibutuhkan suatu
perkembangan lebih lanjut untuk terjadinya diferensiasi. Perkembangan ini dikenal sebagai “indifferent state of
sexual development” yang dimulai pada minggu ke‐5 kehamilan.

TAHAP “INDIFFERENT STATE OF SEXUAL DEVELOPMENT”


Pembentukan gonadal ridge & gonadal cord,
Diawali dengan penebalan mesothelium yang terletak disebelah medial ductus mesonephricus
Area tadi mengalami proliferasi epithelium dan mesenkim, sehingga membentuk “gonadal ridge” dan
selanjutnya akan menjadi “gonadal cord”
Migrasi sel germinal primordial,
Pada minggu ke‐4, tampak sel germinal primordial diantara sel endoderm yolk sac (didekat allantois).
Pada saat pelipatan embrio, pada nantinya bagian dorsal yolk sac akan berhubungan dengan embrio.
Sehingga memfasilitasi sel germinal primordial mengalami migrasi melalui dorsal mesentery (hindgut)
menuju gonadal ridge.
Pada minggu ke‐6, sel germinal primordial akan masuk ke dalam mesenkim dan bergabung dengan gonadal
cord.
Diferensiasi gonad,
Pada kondisi indifferent gonad (gonadal ridge), tampak terdapat cortex external dan medulla internal. Dimana
selanjutnya:
o Pada pria (XY), terjadi diferensiasi medulla menjadi testis, sedangkan cortex akan mengalami
regresi.
o Pada wanita (XX), terjadi diferensiasi cortex menjadi ovarium, sedangkan medulla akan
mengalami regresi
Perbedaan regulator diferensiasi seksual wanita dan pria:
Pada pria, pada lengan pendek kromosom Y terdapat gen SRY (Sexual Region of Y) yang
mengekspresikan TDF (Testis Determining Factor) dan juga terdapat produksi hormone
testosterone dari testis fetus.
Pada wanita, tdak terdapat kromosom Y, sehingga tdak ada ekspresi TDF. Dan juga pada diferensiasi
seksual wanita tdak dipengaruhi oleh hormone.

TAHAP PEMBENTUKAN GONAD


Gonad (testis atau ovarium) berasal dari:
Mesotelium pada dinding posterior abdomen
Mesenkim
Sel germinal primordial

PERKEMBANGAN TESTIS!
Jaringan testis ditentukan oleh TDF yang diekspresikan oleh gen SRY.
Medulla indifferent gonad selanjutnya akan membentuk Seminiferous cord, dimana seminiferous cord akan
berdiferensiasi menjadi:
o Tubulus seminiferous
o Jaringan mesenkim disekitar tubulus seminiferous:

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
Sel interstitial (sel leydig), yang akan menghasilkan testosterone dan androstenedion.
Hormone ini distmulasi oleh hCG.
Pada dinding tubulus seminiferous terdapat sel sertoli yang akan menghasilkan MIS
(Mullerian Inhibiting Substance), untuk menghambat ductus paramesonephricus.
Pada dinding tubulus seminiferous juga terdapat spermatogonia yang merupakan
perkembangan dari sel germinal primordial.
Tubulus recti o
Rete testis
Ductus mesonephricus nantinya pada jaringan testis akan membentuk ductus epididimis dan rete testis.

“rete testis terbentuk melalui anastomosis dari ductus mesonephricus dan seminiferous cord”

PERKEMBANGAN OVARIUM!
Jaringan ovarium ditentukan perkembangannya oleh kromosom X dan gen autosomal.
Medulla indifferent gonad nanti akan membentuk rete ovarii rudimenter, dan biasanya struktur ini akan
menghilang.
Cortex indifferent gonad akan berkembang dan sel germinal primordial akan masuk ke dalam cortex dan akan
membentuk folikel primordial, yang mengandung oogonium.
Mitosis aktf oogonia hanya terjadi pada peri‐natal dan menghasilkan folikel primordial. Selanjutnya, tepat
sebelum lahir banyak oogonia berdegenerasi, namun ada pula yang berkembang menjadi oosit primer.
Epitel dari ovarium dikenal sebagai “germinal epithelium”
Mesovarium terbentuk dari ovarium yang memisahkan diri dari regresi ductus mesonephricus.

PERKEMBANGAN SALURAN GENITAL PRIA


Pada pria terjadi perkembangan dari ductus mesonephricus (wolfii) akibat adanya hormone testosterone
yang akan membentuk:
Ductus efferent o
Ductus epididimis o
Ductus deferens
o Ductus ejaculatorius
o Vesikula seminalis (merupakan pertumbuhan ke‐lateral dari ujung caudal ductus mesonephricus).
Sedangkan ductus paramesonephricus (mullerian) mengalami regresi akibat adanya MIS (yang dihasilkan sel
sertoli), regresi ini terjadi melalui transformasi mesenkim‐epitel.

PERKEMBANGAN PROSTAT & KELENJAR PADA PRIA!


Selanjutnya akan terbentuk PROSTAT yang berasal dari pertumbuhan endodermal pada urethra pars
prostatica, sehingga epitel kelenjar prostat berasal dari sel endodermal, sedangkan stroma & otot polos prostat
berasal dari pertumbuhan mesenkim.
Colliculus seminalis merupakan derivate dari sinus tuberkel (bagian dari ductus paramesonephricus yang
berprojeksi pada sinus urogenital). Utriculus prostaticus merupakan bagian dari ductus paramesonephricus yang
mengalami regresi.

Sedangkan GLANDULA BULBOURETHRAL berasal dari pertumbuhan urethra pars spongiosa, sedangkan
stroma & otot polos kelenjar bulbourethral berasal dari jaringan mesenkim sekitarnya.

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
STRUKTUR SISA DARI PERKEMBANGAN EMBRIO SALURAN GENITAL!
Sisa dari ductus mesonephricus
Ujung cranial ductus mesonephricus akan menjadi Æ appendix epididimis, yang melekat pada caput
epididimis
Tampak sisa dari tubulus mesonephricus yang menjadi Æ paradidimis, yang terdapat pada daerah
caudal dari ductus efferent.
Sisa dari ductus paramesonephricus
Ujung cranial ductus paramesonephricus akan menjadi Æ appendix testis, yang melekat pada polus
superior tests
Pada prostat akan tampak sisa ductus paramesonephricus yang menutup berupa Æ utriculus
prostaticus

PERKEMBANGAN SALURAN GENITAL WANITA


Pada wanita terjadi perkembangan dari ductus paramesonephricus (mullerian) akibat tdak adanya MIS,
dimana ductus paramesonephricus akan bersatu pada bagian ventral dari ductus mesonephricus dan
membentuk “uterovaginal primordium”, dimana uterovaginal primordium akan mengalami projeksi pada dinding
dorsal sinus urogenital yang membentuk “sinus tuberkel (muller)”. Secara rinci, ductus paramesonephricus akan
membentuk:
Ujung cranial ductus paramesonephricus yang tdak mengalami penyatuan Æ tuba uterina
Ujung caudal ductus paramesonephricus yang mengalami penyatuan (Uterovaginal primordium) Æ Uterus &
Vagina (bagian superior)
Mesenkim splanchnic Æ Stroma endometrium & myometrium
Pelipatan peritoneum akibat fusi ductus paramesonephricus Æ Ligamentum latum uteri, spasium
rectouterina & spasium vesicouterina
Proliferasi mesenkim disekitar ductus paramesonephricus Æ Parametrium (jaringan ikat longgar & otot
polos)
Sedangkan ductus mesonephricus (wolfii) mengalami regresi akibat tdak adanya testosterone.

PERKEMBANGAN VAGINA!
Bagian sinus tuberkel (tempat projeksi uterovaginal primordium pada sinus urogenital) akan menginduksi
pembentukan bulbus sinovaginal.
Bulbus sinovaginal Æ akan menyatu dan membentuk lempeng vagina (vaginal plate), dimana selanjutnya,
akan membentuk:
o Bagian central dari lempeng vagina akan menghilang Æ lumen
vagina o Bagian perifer dari lempeng vagina Æ epitel vagina.
1/3 superior berasal dari uterovaginal primordial
2/3 inferior berasal dari sinus urogenital
Mesenkim sekitar vagina Æ Dinding fibromuscular vagina
Sinus urogenital Æ Daerah 2/3 inferior vaginae & introitus vaginae
Hymen Æ Hingga akhir usia fetus, lumen vagina dan cavitas sinus urogenital akan dibatasi oleh suatu
membrane, membrane itu dikenal sebagai hymen. Hymen itu sendiri terbentuk dari invaginasi dinding
posterior sinus urogenital. Hymen ini akan mengalami rupture pada akhir periode perinatal dan
membentuk lipatan tipis membrane mukosa didekat introitus vagina.

PERKEMBANGAN KELENJAR AUXILIARY WANITA!


Gl.Urethralis & paraurethralis (Skene) berasal dari pertumbuhan urethra menuju mesenkim sekitar.
Sedangkan Gl.Vestibularis major (Bartholini) berasal dari pertumbuhan sinus urogenital menuju mesenkim
sekitar

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
STRUKTUR SISA DARI PERKEMBANGAN EMBRIO SALURAN GENITAL!
Sisa dari ductus mesonephricus
Ujung cranial ductus mesonephricus Æ appendix vesiculosa
Bagian ductus mesonephricus yang pada pria akan menjadi ductus efferent dan epididimis akan
mengalami regresi, dan membentuk Æ epoophoron.
Bagian dari ductus mesonephricus yang berada didekat uterus akan mengalami regresi dan
membentuk Æ paraoophoron.
Bagian ductus mesonephricus yang pada pria akan menjadi ductus deferens dan ductus ejaculatorius
akan mengalami regresi, dan membentuk Æ ductus Gartner (pada lapisan dari ligamentum latum
uteri).

Sisa dari ductus paramesonephricus


Ujung cranial ductus paramesonephricus yang tdak berkontribusi dalam pembentukan infundibulum
tuba uterine, akan tersisa sebagai Æ “hydatid Morgagni”

TAHAP PERKEMBANGAN GENITALIA EXTERNA


Pada awalnya, akan terjadi proliferasi mesenkim yang membentuk:
Tuberkel genital (pada ujung cranial membrane cloaca), dimana bagian embriologis ini selanjutnya akan
menjadi phallus primordial
Labioscrotal swelling (disisi samping membrane cloaca)
Plica urogenital (disisi samping membrane cloaca)
Membrane urogenital (pada sulcus urogenital & dikelilingi oleh plica urogenital)

PERKEMBANGAN GENITALIA EXTERNA PADA PRIA!


Perkembangan genitalia externa pada pria terjadi akibat adanya efek testosterone. Dimana menyebabkan:
Phallus primordial membesar dan memanjang menjadi penis, dimana juga terjadi perkembangan mesenkim
pada phallus primordial yang akan membentuk corpus cavernosa & corpus spongiosa.
Plica urogenital akan menutup pada dinding ventral penis (pars spongiosa), sedangkan bagian ectoderm plica
urogenital‐nya akan membentuk raphe penis.
Terjadi pertumbuhan circular dari ectoderm pada bagian perifer glans penis, yang akan membentuk
preputium.
Labioscrotal swelling akan bersatu dan membentuk scrotum, dimana daerah penyatuan dari labioscrotal
swelling dikenal sebagai Raphee Scrotii.

PERKEMBANGAN GENITALIA EXTERNA PADA WANITA!


Perkembangan genitalia externa pada wanita masih belum dipahami, namun dikatakan estrogen dari
plasenta dan fetus juga berperan dalam feminisasi, menyebabkan:
Phallus primordial mengalami penurunan kecepatan pertumbuhan & menjadi klitoris.
Plica urogenital:
Bagian yang tidak mengalami penyatuan akan membentuk labia minora
Dan bagian yang mengalami penyatuan pada bagian posterior akan membentuk frenulum labiorum
minorum.
Labioscrotal swelling:
Bagian yang tidak mengalami penyatuan akan membentuk labia majora
Bagian yang mengalami penyatuan pada aspek anterior akan membentuk commisura labiorum
anterior.
Bagian yang mengalami penyatuan pada aspek posterior akan membentuk commisura labiorum
posterior

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
PERKEMBANGAN CANALIS INGUINALIS

Canalis inguinalis merupakan jalur testis untuk turun menuju intraabdomen. Struktur yang berperan
dalam penurunan testis & pembentukan canalis inguinalis adalah:
Processus Vaginalis Æ suatu tonjolan peritoneum ke testis dimana pada perkembangannya akan mengalami
obliterasi menjadi “lig.vaginale” dan dengan obliterasi struktur ini, akan terbentuk “cavum vaginale”.
Gubernaculum Æ merupakan ligamentum yang berasal dari degenerasi struktur mesonephros.
Gubernaculum melekat menuju permukaan dalam labioscrotal swelling untuk menarik testis turun ke
dalam scrotum (labioscrotal swelling).

PENURUNAN TESTIS!
Penurunan dari testis berlangsung selama 2‐3 hari, dimana penurunan ini dipengaruhi oleh:
Pembesaran testis dan atrofi dari ginjal mesonephric Æ menyebabkan pergerakan testis kearah caudal
disepanjang dinding posterior abdomen
Atrofi ductus paramesonephricus
Peningkatan tekanan abdomen akibat pertumbuhan viscera abdomen
Gubernaculum akan menarik testis ke dalam scrotum
Pembesaran processus vaginalis, yang akan memandu testis kedalam scrotum.
Efek androgen (testosterone) testis mengontrol penurunan testis
Setelah testis turun ke scrotum, canalis inguinalis mengalami kontraksi disekitar funniculus spermaticus, sehingga
akan membentuk suatu ruangan didaerah scrotum & testis yang dikenal sebagai cavum vaginale.

PENURUNAN OVARIUM!
Ovarium mengalami penurunan hingga dibawah pelvic brim dimana penurunannya dipengaruhi oleh:
Gubernaculum melekat menuju uterus didekat tuba uterina, dimana: o
Gubernaculums bagian cranial akan menjadi Lig.Ovarium
o Gubernaculums bagian caudal akan menjadi Lig.Teres Uteri/Rotundum, dimana Lig.Teres Uteri
ini akan berjalan didalam canalis inguinalis dan berakhir pada labia majora.
Processus vaginalis pada wanita akan mengalami obliterasi dan menghilang. Apabila prosesus vaginalis tdak
menghilang maka dikenal sebagai “Canal of Nuck”.

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com
EMBRIOLOGIS PRIA WANITA
Gonadal ridge
• Cortex indifferent gonad Ovum
• Medulla indifferent gonad Testis
Seminiferous cord (gonadal cord) • Tubulus seminiferous
• Jaringan mesenkim disekitar tubulus
seminiferous
• Tubulus recti
• Rete testis
Ductus mesonephricus (wolfii) Jaringan testis Struktur sisa,
• Epididimis • Bagian ductus mesonephricus (didekat uterus)
• Rete testis Æ paraoophoron.
Jaringan saluran genital • Bagian ductus mesonephricus (homolog ductus
• Ductus efferent efferent dan epididimis ) Æ epoophoron
• Ductus epididimis • Bagian ductus mesonephricus (homolog ductus
• Ductus deferens deferens dan ductus ejaculatorius ) Æ ductus
• Ductus ejaculatorius • Gartner
• Vesikula seminalis Ujung cranial ductus mesonephricus Æ
Struktur sisa, appendix vesiculosa
• Ujung cranial ductus mesonephricus Æ
Appendix epididimis
• Tubulus mesonephricus Æ paradidimis

Ductus paramesonephricus (mullerian) Struktur sisa, • Bagian cranial ductus paramesonephricus Æ


• Ujung cranial ductus paramesonephricus Æ tuba uterine
• Appendix testis • Bagian caudal ductus paramesonephricus Æ
Bagian ductus yang mengalami penutupan uterovaginal primordial Æ uterus & vagina
pada prostat Æ Utriculus prostaticus • Uterovaginal primordium (yang berprojeksi
• Bagian ductus paramesonephricus yang pada sinus urogenital) Æ sinus tuberkel Æ
berprojeksi pada sinus urogenital Æ bulbus sinovaginalis Æ vaginal plate:
Colliculus seminalis o Central vaginal plate Æ lumen vaginae
o Perifer vaginal plate Æ epitel vaginae
ƒ 1/3 superior (uterovaginal primordial)
ƒ 2/3 inferior (sinus urogenital)
• Mesenkim disekitar vaginae Æ dinding
fibromuscular vagina

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com LAMPIRAN
• Pelipatan peritoneum akibat fusi ductus
paramesonephricus Æ Lig.Latum uteri,
Spasium rectouterina, & spasium vesicouterina
• Mesenkim sekitar ductus paramesonephricus
o Mesenkim splanchnic Æ endometrium &
myometrium
o Proliferasi mesenkim Æ jaringan
parametrium
Struktur sisa,
• Ujung cranial ductus paramesonephricus Æ
“hydatid Morgagni”

Sinus urogenital • Daerah 2/3 inferior vagina & introitus vaginae


• Gl.Vestibularis major (Bartholini)
Invaginasi dinding posterior sinus urogenital • Hymen
Pertumbuhan urethra • Gl.Urethralis & paraurethralis (Skene)
Pertumbuhan endodermal urethra pars prostatica • Prostat
• Sel endodermal Æ epitel prostat
• Mesenkim Æ stroma & otot polos prostat
Pertumbuhan endodermal urethra pars spongiosa • Gl.Bulbourethral
• Mesenkim Æ Stroma & otot polos
gl.bulbourethral
EMBRIOLOGIS GENITALIA EXTERNA
Tuberculum genital (phallus primordial) Penis Klitoris
Mesenkim phallus primordial Corpus cavernosa & spongiosa penis Corpus cavernosa & spongiosa klitoridis
Plica urogenital Dinding ventral penis pars spongiosa Bagian tidak bersatu Æ labia minora
Bagian bersatu Æ frenulum labiorum minorum
Ectoderm plica urogenital Raphe penis
Labioscrotal swelling Scrotum (raphe scrotii) Bagian tidak bersatu Æ labia majora
Bagian yang bersatu di anterior Æ commisura
labiorum anterior
Bagian yang bersatu di posterior Æ commisura
labiorum posterior
Pertumbuhan circular ectoderm Preputium

yudaherdantoproduction
www.yudaherdanto.com LAMPIRAN