Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PENERAPAN METODE PEMROGRAMAN LINIER DALAM


OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI PADA INDUSTRI
PENGOLAHAN BESI

Oleh:
THERESIA O. R. PASARIBU
39410086

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2019
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA

PENERAPAN METODE PEMROGRAMAN LINIER DALAM OPTIMASI


PERENCANAAN PRODUKSI PADA INDUSTRI PENGOLAHAN BESI

PROPOSAL TUGAS AKHIR

Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas akhir


Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri,
Universitas Gunadarma

Oleh:
THERESIA O.R. PASARIBU
39410086

Depok, Maret 2013

Disetujui oleh:
Dosen Pembimbing
I. TEMA
OPTIMALISASI PRODUKSI

II. JUDUL TUGAS


PENERAPAN METODE PEMROGRAMAN LINIER DALAM
OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI PADA INDUSTRI
PENGOLAHAN BESI

III. LATAR BELAKANG


Gambaran mengenai kegiatan produksi pada suatu perusahaan dapat
diketahui dengan adanya perencanaan produksi. Perencanaan produksi dapat
dijadikan sebagai acuan maupun pedoman dalam melakukan kegiatan produksi.
Perencanaan produksi merupakan perencanaan tentang produk apa dan berapa
jumlah produk yang akan diproduksi oleh perusahaan dalam waktu satu periode
yang akan datang.
Perencanaan produksi merupakan salah satu bagian dari perencanaan
operasional di dalam perusahaan. Dalam penyusunan perencanaan produksi, hal
yang perlu dipertimbangkan adalah adanya optimasi produksi sehingga akan dapat
dicapai tingkat biaya yang paling rendah untuk pelaksanaan proses produksi.
Optimasi produk dapat terlaksana dengan adanya jumlah permintaan yang bersifat
pasti, sehingga perusahaan dapat mengetahui jumlah produk yang harus di
produksi. Optimasi produksi adalah suatu cara untuk merencanakan atau mengatur
penggunaan sumberdaya yang dimiliki perusahaan seperti bahan baku, tenaga
kerja, modal kerja, dan fasilitas produksi supaya dapat memenuhi permintaan
konsumen, mengoptimalkan bahan baku yang ada dan agar proses produksi dapat
berjalan dengan efektif dan efisien.
Untuk mencapai hal ini, maka perlu dibuat suatu perencanaan produksi
yang mengacu pada metode matematis. Metode pemrograman linier dapat
digunakan untuk memodelkan permasalahan optimasi produksi yang mempunyai
tujuan lebih dari satu, misalnya terpenuhinya tingkat permintaan konsumen,
memaksimalkan penggunaan bahan baku yang ada dan meminimumkan biaya
produksi.
Metode pemrograman linier ini sangat efektif untuk menyelesaikan aspek-
aspek yang bertentangan antara elemen-elemen dalam perencanaan produksi,
yaitu konsumen, produk, dan proses manufaktur. Selain itu metode pemrograman
linier baik digunakan untuk menentukan kombinasi produk yang optimal
sekaligus mencapai sasaran-sasaran yang diharapkan oleh perusahaan.

IV IDENTIFIKASI MASALAH
Permasalahan yang terjadi adalah perusahaan belum menerapkan
penggunaan sumber daya yang optimal. Dapat terlihat terjadinya penumpukan
hasil produksi pada gudang penyimpanan, hal yang lainnya adalah perusahaan
belum dapat menentukan jumlah produksi yang optimal. Akibatnya perusahaan
dapat mengalami kekurangan ataupun kelebihan produksi, yang menyebabkan
keuntungan yang akan diperoleh perusahaan menjadi tidak maksimal.

V PERUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah dalam kasus optmalisasi produksi ini adalah
bagaimana menentukan jumlah produksi yang optimal agar diperoleh keuntungan
yang maksimal, serta bagaimana meminimasi biaya produksi dengan
menggunakan metode pemrograman linier.

VI PEMBATASAN MASALAH
Pengamatan yang dilakukan pada industri pengolahan besi, Tangerang.
Produk yang diamati hanyalah produk stang spion jenis stay yamaha 3XA, stay
yamaha 5TP, stay aski, stay honda OLP, dan stay IYD. Pengolahan data dengan
menggunakan software WINQSB.
VII TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan sebelumnya, terdapat
beberapa tujuan yang terkandung di dalamnya. Berikut merupakan tujuan dari
penelitian yang akan dilaksanakan, yaitu:
1. Menetukan kuantitas produksi yang tepat dari semua produk
2. Mengetahui keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan dalam menerapkan
metode optimasi.

VIII TINJAUAN PUSTAKA


Pemrograman linier adalah suatu cara untuk menyelesaikan persoalan
pengalokasian sumber-sumber yang terbatas di antara beberapa aktivitas yang
bersaing, dengan cara yang terbaik yang mungkin dilakukan. Persoalan
pengalokasian ini akan muncul manakala seseorang harus memilih tingkat
aktivitas-aktivitas tertentu yang bersaing dalam hal penggunaan sumber daya
langka yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut.
Beberapa contoh situasi dari uraian di atas antara lain ialah persoalan
pengalokasian fasilitas produksi persoalan pengalokasian sumber daya nasional
untuk kebutuhan domestik, penjadwalan produksi, solusi permainan dan
pemilihan pola pengiriman. Satu hal yang menjadi ciri situasi di atas ialah adanya
keharusan untuk mengalokasikan sumber terhadap aktivitas (Dimyati, 1994).
Metode matematik dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk
mencapai suatu tujuan seperti memaksimumkan keuntungan dan meminimumkan
biaya. Pemrograman linear banyak diterapkan dalam masalah ekonomi, industri,
militer, sosial dan lain-lain. Pemrograman linear berkaitan dengan penjelasan
suatu kasus dalam dunia nyata sebagai suatu model matematik yang terdiri dari
sebuah fungsi tujuan linier dengan beberapa kendala linier (Siringoringo, 2005).
Pemrograman linier ini menggunakan model matematis untuk menjelaskan
persoalan yang dihadapinya. Sifat linear di sini memberi arti bahwa seluruh fungsi
matematis dalam model ini merupakan fungsi yang linier, sedangkan kata
“program” merupakan sinonim untuk perencanaan aktivitas-aktivitas untuk
memperoleh suatu hasil yang optimum, yaitu suatu hasil yang mencapai tujuan
terbaik di antara seluruh alternatif yang fisibel (Agustini, 2004).

Karakteristik Pemrograman linier


Karakteristik permasalahan dalam pemrograman linier ada beberapa
macam. Kapan waktu pemakaian pemograman linier ini tergantung dari
penyelesaian persoalan, yaitu (Dimyati, 1994):
1. Semua permasalahan program linier memiliki tujuan (objective function)
untuk memaksimumkan atau meminimumkan sesuatu (kuanti-tas), seperti
profit atau biaya
2. Permasalahan program linier memiliki restriksi (konstrain) yang membatasi
tingkatan pencapaian tujuan (objective function)
3. Adanya beberapa alternatif tindakan yang bisa dipilih. Sebagai contoh, kalau
suatu perusahaan menghasilkan tiga produk maka alternatif solusinya adalah
apakah ia akan mengalokasikan semua resources untuk satu produk, membagi
rata sumber daya untuk ketiga produk, atau mendistribusikannya dengan cara
yang lainnya
4. Fungsi tujuan dan kendala (konstrain) dalam permasalahan program linier
diekspresikan dalam bentuk persamaan atau pertidaksamaan liner
Masalah-masalah dalam dunia nyata data dapat diselesaikan dengan metode
program linear bila mengandung enam karakteristik khusus berikut (Agustini,
2004):
1. Pengetahuan yang pasti mengenai parameter
2. Jarang sekali kita mengetahui nilai yang konstan dari suatu input (parameter)
dalam satu model, kecuali satu perkiraan yang paling mendekati nilai
sebenarnya
3. Penjumlahan
4. Karakteristik ini menyatakan bahwa variabel-variabel fungsi tujuan
merupakan penjumlahan dari semua komponen yang membentuknya
5. Proposional Langsung Karakteristik ini menunjuk pada koefisien dari
variabel keputusan, yakni bahwa nilai koefisien adalah tetap.
6. Pecahan
Karakteristik ini berkaiatan dengan asumsi divisibility yang telah
disinggung diatas. Pecahan menyatakan bahwa nilai koefisien variabel keputusan
tidak harus berupa bilangan bulat Pemrograman linier merupakan alat analisis
atas masalah yang mempunyai variabel-variabel bersifat deterministik (terukur)
dan masing-masing mempunyai hubungan linear satu sama lain. Pemrograman
linier ditemukan oleh George Dantzig. Analisis ini berkembang secara
menakjubkan dan mampu memecahkan berbagai masalah yang terdapat dalam
kehidupan nyata. George Dantzig adalah orang yang pertama memformulasikan
general Pemrograman linier kemudian mengembangkannya dalam bentuk metode
simpleks (Dimyati, 1994).

Kesamaan dan Ketidaksamaan Matematik dalam Program Linear


Meskipun kesamaan lebih populer dibandingkan dengan ketidaksamaan
namun ketidaksamaan merupakan suatu hubungan yang penting dalam program
linear. Apakah perbedaannya? Kesamaan digambarkan oleh tanda ”=” dan
merupakan pernyataan khusus dalam matematik. Namun banyak persoalan
perusahaan yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk kesamaan yang jelas dan
rapi. Hitungan yang dicari tidak selalu satuan bulat tetapi bisa juga berupa
angka kira-kira. Untuk itu dibutuhkan ketidaksamaan yakni hubungan lain yang
dinyatakan dalam bentuk matematik. Sebagian besar batasan dalam persoalan
program linear dinyatakan sebagai ketidaksamaan. Seperti akan terlihat nanti,
kebanyakan di atas atau di bawah batas dan tidak dinyatakan pada tingkat
yang pasti, sehingga membuka banyak kemungkinan.

Perhitungan Metode Grafik


Solusi grafik adalah untuk mengubah suatu situasi deskriptif ke dalam
bentuk model pemrograman linier dengan menentukan variabel-variabelnya,
konstanta-konstantanya, fungsi obyektifnya dan kendala-kendalanya sehingga
masalah tersebut dapat disajikan ke dalam bentuk grafis dan diinterpretasikan
solusinya. Tahapan-tahapan yang dapat digunakan dalam penyelesaian solusi
grafik adalah sebagai berikut (Anugerah, 1993):
1. Identifikasi variabel keputusan.
2. Identifikasi fungsi obyektif.
3. Mengidentifikasi kendala.
4. Menentukan titik potong.
5. Menentukan grafik
6. Mengidentifikasi daerah solusi.
7. Menentukan nilai optimum.
8. Kesimpulan

Perhitungan Metode Simpleks


Solusi Simpleks merupakan prosedur aljabar yang bersifat iterative, yang
bergerak selangkah demi selangkah, dimulai dari suatu titik ekstrem pada daerah
fisibel (ruang solusi) menuju ke titik ekstrem yang optimum. Solusi ini pertama
kali metode ini digunakan untuk menyelesaikan masalah Pemrograman Linier
melalui tahapan (perhitungan ulang) dimana langkah-langkah perhitungan yang
sama diulang sampai tercapai solusi yang optimal. Berikut ini tahapan metode
simpleks (Anugerah, 1993):
1. Model matematika fungsi tujuan dan kendala.
2. Mengubah model umum matematika menjadi bentuk umum simpleks
3. Menentuka terlebih dahulu elemen pivot.
4. Iterasi selesai karena nilai Z telah optimum.
Bentuk umum dari pemrograman linier dapat dijelaskan atau diterangkan dari
fungsi maksimumkan atau minimumkan nilai z dan simbol yang digunakan dalam
metode simpleks, adalah sebagai berikut (Nasution, 2006):
Fungsi tujuan memaksimumkan atau minimumkan z = c1x1 + c2x2 + ... + cnxn
Sumber daya yang membatasi:
a11x1 + a12x2 + ... + a1nxn = /≤ / ≥ b1
a21x1 + a22x2 + … + a2nxn = /≤ / ≥ b2

am1x1 + am2x2 + … + amnxn = /≤ / ≥ bm
x1, x2, …, xn ≥ 0
Simbol x1, x2, ..., xn (xi) menunjukkan variabel keputusan. Jumlah variabel
keputusan (xi) oleh karenanya tergantung dari jumlah kegiatan atau aktivitas yang
dilakukan untuk mencapai tujuan. Simbol c1,c2,...,cn merupakan kontribusi
masing-masing variabel keputusan terhadap tujuan, disebut juga koefisien fungsi
tujuan pada model matematiknya.Simbol a11, ...,a1n,...,amn merupakan penggunaan
per unit variabel keputusan akan sumber daya yang membatasi, atau disebut juga
sebagai koefisien fungsi kendala pada model matematiknya. Simbol b1,b2,...,bm
menunjukkan jumlah masing-masing sumber daya yang ada. Jumlah fungsi
kendala akan tergantung dari banyaknya sumber daya yang terbatas.
Pertidaksamaan terakhir (x1, x2, …, xn ≥ 0) menunjukkan batasan non negatif.
Membuat model matematik dari suatu permasalahan bukan hanya menuntut
kemampuan matematik tapi juga menuntut seni permodelan. Menggunakan seni
akan membuat permodelan lebih mudah dan menarik.
Kasus program linier sangat beragam. Dalam setiap kasus, hal yang penting
adalah memahami setiap kasus dan memahami konsep permodelannya. Meskipun
fungsi tujuan misalnya hanya mempunyai kemungkinan bentuk maksimisasi atau
minimisasi, keputusan untuk memilih salah satunya bukan pekerjaan mudah.
Tujuan pada suatu kasus bisa menjadi batasan pada kasus yang lain. Harus hati-
hati dalam menentukan tujuan, koefisien fungsi tujuan, batasan dan koefisien pada
fungsi pembatas.

Istilah-Istilah Dalam Metode Simpleks


Metode simpleks terdapat beberapa istilah yang sangat sering digunakan.
Istilah-istilah yang sering digunakan dalam metode simpleks antara lain sebagai
berikut (Pangestu, 2000):
1. Iterasi adalah tahapan perhitungan dimana nilai dalam perhitungan itu
tergantung dari nilai tabel sebelumnya.
2. Variabel non basis adalah variabel yang nilainya diatur menjadi nol pada
sembarang iterasi. Dalam terminologi umum, jumlah variabel non basis selalu
sama dengan derajat bebas dalam sistem persamaan.
3. Variabel basis merupakan variabel yang nilainya bukan nol pada sembarang
iterasi. Pada solusi awal, variabel basis merupakan variabel slack (jika fungsi
kendala merupakan pertidaksamaan ≤) atau variabel buatan (jika fungsi
kendala menggunakan pertidaksamaan ≥ atau =). Secara umum, jumlah
variabel basis selalu sama dengan jumlah fungsi pembatas (tanpa fungsi non
negatif).
4. Solusi atau nilai kanan merupakan nilai sumber daya pembatas yang masih
tersedia. Pada solusi awal, nilai kanan atau solusi sama dengan jumlah sumber
daya pembatas awal yang ada, karena aktivitas belum dilaksanakan.
5. Variabel basis adalah variabel yang ditambahkan ke model matematik kendala
untuk mengkonversikan pertidaksamaan (≤) menjadi persamaan (=).
Penambahan variabel ini terjadi pada tahap inisialisasi. Variabel surplus
adalah variabel yang dikurangkan dari model matematik kendala untuk
mengkonversikan pertidaksamaan ≥ menjadi persamaan (=). Penambahan ini
terjadi pada tahap inisialisasi. Pada solusi awal, variabel surplus tidak dapat
berfungsi sebagai variabel basis.
6. Variabel buatan adalah variabel yang ditambahkan ke model matematik
kendala dengan bentuk (≥) atau (=) untuk difungsikan sebagai variabel basis
awal. Penambahan variabel ini terjadi pada tahap inisialisasi. Variabel ini
harus bernilai 0 pada solusi optimal, karena kenyataannya variabel ini tidak
ada. Variabel hanya ada di atas kertas.
7. Kolom pivot (kolom kerja) adalah kolom yang memuat variabel masuk.
Koefisien pada kolom ini akn menjadi pembagi nilai kanan untuk menentukan
baris pivot (baris kerja).
8. Baris pivot (baris kerja) adalah salah satu baris dari antara variabel basis yang
memuat variabel keluar.
Elemen pivot (elemen kerja) adalah elemen yang terletak pada perpotongan
kolom dan baris pivot. Elemen pivot akan menjadi dasar perhitungan untuk
tabel simpleks berikutnya.
9. Variabel masuk adalah variabel yang terpilih untuk menjadi variabel basis
pada iterasi berikutnya. Variabel masuk dipilih satu dari antara variabel non
basis pada setiap iterasi. Variabel ini pada iterasi berikutnya akan bernilai
positif.
10. Variabel keluar adalah variabel yang keluar dari variabel basis pada iterasi
berikutnya dan digantikan oleh variabel masuk. Variabel keluar dipilih satu
dari antara variabel basis pada setiap iterasi. Variabel ini pada iterasi
berikutnya akan bernilai nol.
Sebelum melakukan perhitungan iteratif untuk menentukan solusi optimal,
pertama sekali bentuk umum program linier dirubah ke dalam bentuk baku
terlebih dahulu. Bentuk baku dalam metode simpleks tidak hanya mengubah
persamaan kendala ke dalam bentuk sama dengan, tetapi setiap fungsi kendala
harus diwakili oleh satu variabel basis awal. Variabel basis awal menunjukkan
status sumber daya pada kondisi sebelum ada aktivitas yang dilakukan. Dengan
kata lain, variabel keputusan semuanya masih bernilai nol. Dengan demikian,
meskipun fungsi kendala pada bentuk umum program linier sudah dalam bentuk
persamaan, fungsi kendala tersebut masih harus tetap berubah (Anugerah, 1993).

IX METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian yang dipergunakan oleh penulis dalam melakukan
pengambilan dan penelitian adalah sebagai berikut:
Mulai

Penelitian
Pendahuluan

Pengumpulan
Data

Tidak

Data Cukup

Ya

Pengolahan Data
dan Analisis

Kesimpulan

Selesai

Gambar 1. Tahapan Penelitian

X DAFTAR PUSTAKA

Ayu, Media Anugerah. 1993. Pengantar Riset Operasional. Jakarta: Universitas


Gunadarma
Dimyati, Tjutju Tarliah dan Ahmad, 1994. Operations Research. Bandung: PT.
Sinar Baru Algesindo
Siringoringo, Hotniar. 2005. Seri Teknik Riset Operasional. Yogyakarta: Graha
Ilmu