Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Leukemia merupakan kanker yang terjadi pada sel darah manusia. Untuk
mengetahui tentang leukemia, kita harus mengenal dahulu sel-sel darah yang
normal serta apa yang terjadi jika terkena leukemia. Darah manusia terdiri dari
cairan yang disebut sebagai plasma darah, dan tiga kelompok sel
darah. Kelompok sel darah itu dibedakan menjadi sel darah merah, sel darah
putih, dan keping-keping darah. Sel darah putih atau leukosit berfungsi untuk
melindungi tubuh terhadap infeksi atau serangan penyakit lainnya. Sel darah
merah atau eritrosit berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke
seluruh jaringan tubuh, dan mem bawa karbon dioksida dari jaringan tubuh
kembali ke paru-paru. Keping-kepi ng darah atau trombosit sangat berperan
dalam proses pembekuan darah. Ketika terjadi leukemia, tubuh akan
memproduksi sel-sel darah yang abnormal dan dalam jumlah yang besar. Pada
leukemia, sel darah yang abnormal tersebut adalah kelompok sel darah putih.
Sel-sel darah yang terkena leukemia akan sangat berbeda dengan sel darah
normal, dan tidak mampu berfungsi seperti layaknya sel darah normal.
(Handayani, 2008).
Peran perawat sangatlah penting pada kasus ini. Peran perawat sangat
berguna untuk memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan standar
keperawatan dan kode etik dalam menangani pasien dengan diagnosa
leukemia. Penyebab leukemia sejauh ini belum diketahui. Namun banyak
penelitian yang dilakukan untuk memecahkan masalah ini. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa leukemia lebih sering menyerang kaum pria dibandingkan
kaum wanita, dan juga pada kelompok orang kulit putih dibandingkan dengan
orang kulit hitam. Namun sampai saat ini belum diketahui mengapa hal
tersebut dapat terjadi. Dalam makalah ini kami sebagai penulis akan
menerangkan asuhan keperawatan pada konsep teori penyakit leukemia dengan
asuhan keperawatan pada kasus penyakit leukemia tersebut (Kusumawardani,
2010).

1
2

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi leukemia ?
2. Bagaimana etiologi leukemia ?
3. Bagaimana patofisiologi leukemia ?
4. Apa saja klasifikasi leukemia ?
5. Apa saja manifestasi klinik leukemia ?
6. Apa saja komplikasi leukemia ?
7. Apa saja pemeriksaan diagnostik leukemia ?
8. Bagaimana penatalaksanaan medis leukemia ?
9. Bagaimana pengkajian dari asuhan keperawatan leukemia ?
10. Apa diagnosa keperawatan leukemia ?
11. Bagaimana intervensi keperawatan leukemia ?
12. Apa hasil yang diharapkan asuhan keperawatan leukemia ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa mampu memahami tentang Konsep asuhan keperawatan
leukemia
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang :
a. Definisi leukemia
b. Etiologi leukemia
c. Patofisiologi leukemia
d. Klasifikasi leukemia
e. Manifestasi klinik leukemia
f. Komplikasi leukemia
g. Pemeriksaan diagnostik leukemia
h. Penatalaksanaan medis leukemia
i. Pengkajian
j. Diagnosa keperawatan
k. Intervensi keperawatan
l. Hasil yang diharapkan
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Leukemia adalah penyakit mengenai sel darah putih yang mengalami
pembelahan yang berulang-ulang, penyakit ini semacam kanker yang
menyerang sel-sel darah putih. Akibatnya fungsi sel darah putih terganggu,
bahkan sel-sel darah merah dapat terdesak karena pertumbuhan yang
berlebihan ini jumlah sel darah merah menurun (Irianto, 2009). Leukemia
(kanker darah) merupakan suatu penyakit yang ditandai pertambahan
jumlah sel darah putih (leukosit). Pertambahan ini sangat cepat dan tak
terkendali serta bentuk sel-sel darah putihnya tidak normal. Leukemia
merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan proliferasi dini yang
berlebihan dari sel darah putih. Dari beberapa pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa Leukemia adalah suatu penyakit sistem hematologi
yang ditandai dengan proliferasi yang berlebihan dan tidak normal pada sel
darah putih yang mengakibatkan fungsi sel darah putih terganggu
(Handayani, 2008). Leukimia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel
darah berupa proliferasio patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh
adanya kegagalan sum-sum tulang dalam membentuk sel darah normal dan
adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain (Smeltzer, 2013).

B. Klasifikasi
Menurut Kiswari (2014), klasifikasi leukemia dapat dibedakan menjadi 4
bagian antara lain :
1. Leukemia Mielogenus Akut (LMA)
LMA mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke semua
sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit. Semua
kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai bertambahnya
usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
2. Leukemia Mielogenus Kronis (LMK)

3
4

LMK juga di masukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun
lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih
ringan. LMK jarang menyerang individu di bawah 20 tahun. Manifestasi
mirip dengan gambaran LMA tetapi tanda dan gejala lebih ringan, pasien
menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit
kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.
3. Leukemia Limfositik Akut (LLA)
LLA dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada
anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden usia
4 tahun, setelah usia 15 LLA jarang terjadi. Manifestasi limfosit immatur
berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga
mengganggu perkembangan sel normal.
4. Leukemia Limfositik Kronis (LLC)
LLC merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70
tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa
saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.

C. Etiologi
Menurut Hoffbrand (2008), penyebab yang pasti belum di ketahui, akan tetapi
terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya Leukemia, antara
lain:
1. Genetik
a. Keturunan
1) Adanya Penyimpangan Kromosom
Insidensi leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital,
diantaranya pada sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s
Anemia, sindroma Wiskott-Aldrich, sindroma Ellis van Creveld,
sindroma Kleinfelter, D-Trisomy sindrome, sindroma von
Reckinghausen, dan neurofibromatosis. Kelainan-kelainan kongenital
ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan informasi gen, misal pada
kromosom 21 atau C-group Trisomy, atau pola kromosom yang tidak
stabil, seperti pada aneuploidy.
5

2) Kelainan herediter : kembar monozigot


Dilaporkan adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar
identik dimana kasus-kasus leukemia akut terjadi pada tahun pertama
kelahiran. Hal ini berlaku juga pada keluarga dengan insidensi
leukemia yang sangat tinggi.
b. Faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan di ketahui dapat menyebabkan kerusakan
kromosom dapatan, misal : radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang
dihubungkan dengan insiden yang meningkat pada leukemia akut,
khususnya ANLL.
2. Virus
Dalam banyak percobaan telah didapatkan fakta bahwa RNA virus
menyebabkan leukemia pada hewan termasuk primata. Penelitian pada
manusia menemukan adanya RNA dependent DNA polimerase pada sel-sel
leukemia tapi tidak ditemukan pada sel-sel normal dan enzim ini berasal
dari virus tipe C yang merupakan virus RNA yang menyebabkan leukemia
pada hewan. Salah satu virus yang terbukti dapat menyebabkan leukemia
pada manusia adalah Human T-Cell Leukemia. Jenis leukemia yang
ditimbulkan adalah Acute T-Cell Leukemia. Virus ini ditemukan oleh
Takatsuki dkk.
3. Bahan Kimia dan Obat-obatan
a. Bahan Kimia
Paparan kromis dari bahan kimia (misal : benzen) dihubungkan dengan
peningkatan insidensi leukemia akut, misal pada tukang sepatu yang
sering terpapar benzen. Selain benzen beberapa bahan lain dihubungkan
dengan resiko tinggi dari AML, antara lain : produk-produk minyak, cat,
ethylene oxide, herbisida, pestisida, dan ladang elektromagnetik.
b. Obat-obatan
Obat-obatan anti neoplastik (misal : alkilator dan inhibitor topoisomere
II) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang menyebabkan
AML. Kloramfenikol, fenilbutazon, dan methoxypsoralen dilaporkan
menyebabkan kegagalan sumsum tulang yang lambat laun menjadi AML.
6

4. Radiasi
Hubungan yang erat antara radiasi dan leukemia (ANLL) ditemukan
pada pasien-pasien anxylosing spondilitis yang mendapat terapi radiasi, dan
pada kasus lain seperti peningkatan insidensi leukemia pada penduduk
Jepang yang selamat dari ledakan bom atom. Peningkatan resiko leukemia
ditemui juga pada pasien yang mendapat terapi radiasi misal : pembesaran
thymic, para pekerja yang terekspos radiasi dan para radiologis.
5. Leukemia Sekunder
Leukemia yang terjadi setelah perawatan atas penyakit malignansi lain
disebut Secondary Acute Leukemia (SAL) atau treatment related leukemia.
Termasuk diantaranya penyakit Hodgin, limphoma, myeloma, dan kanker
payudara. Hal ini disebabkan karena obat-obatan yang digunakan termasuk
golongan imunosupresif selain menyebabkan dapat menyebabkan kerusakan
DNA.

D. Patofisiologi
Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh
terhadap infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai perintah, dapat
dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh. Leukemia meningkatkan produksi
sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal. Mereka terlihat
berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi seperti biasanya. Sel
leukemi memblok produksi sel darah normal, merusak kemampuan tubuh
terhadap infeksi. Sel leukemia juga merusak produksi sel darah lain pada
sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana sel tersebut berfungsi untuk
menyuplai oksigen pada jaringan.
Analisis sitogenik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai aberasi
kromosomal yang terdapat pada pasien dengan leukemia. Perubahan
kromosom dapat meliputi perubahan angka, yang menambahkan atau
menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan struktur termasuk
translokasi (penyusunan kembali), delesi, inversi dan insersi. Pada kondisi ini,
dua kromosom atau lebih mengubah bahan genetik, dengan perkembangan gen
yang berubah dianggap menyebabkan mulainya proliferasi sel abnormal.
7

Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah
putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan.
Perubahan tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari
kromosom (bahan genetik sel yang kompleks). Translokasi kromosom
mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga sel
membelah tidak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini
menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang
menghasilkan sel-sel darah yang normal. Kanker ini juga biasa menyusup ke
dalam organ lainnya termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening, ginjal, dan
otak (Kiswari, 2014).
8

Faktor etiologi
Faktor pencetus

Mutasi sometik sel


induk

Proliferasi neoplastik dan differentiation arrest

Akumulasi sel muda dalam sumsum


tulang

Hiperkatabolik Gagal sumsum tulang

Katabolisme
Anemia
meningkat Perdarahan dan infeksi
Kaheksia Keringat
malam
Hiperurikemia Inhibisi hematopoiesis
Sel leukimia normal

Gagal Gout
Infiltrasi ke organ
ginjal

Tulang Darah RES Tempat ekstramedular


lain

Nyeri tulang Sindrom Limfadenopati Meningitis, lesi kulit


Hepatomegali Pembesaran testis
Hiperviskosit Splenomegali
as
9

E. Manifestasi Klinik
Menurut Handayani (2008), gejala yang ditemui pada penderita leukemia
antara lain :
1. Anemia, pada penderita leukemia biasanya akan terjadi anemia karena
banyaknya sel darah merah (eritrosit) yang dirusak oleh sel darah putih
imatur sehingga tubuh kekurangan darah. Padahal fungsi sel darah merah
adalah membawa oksigen dan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh untuk
metabolisme sel dan menghasilkan energi. Maka pada penderita leukemia
orang tersebut akan cenderung terlihat lemah, letih, lesu, mudah capek
bahkan terlihat pucat.
2. Perdarahan, terjadi karena keping darah yang fungsinya untuk pembekuan
darah. Sehingga tubuh yang kekurangan keping darah (trombosit) beresiko
besar terjadi perdarahan. Biasanya terjadi mimisan, perdarahan pada gusi
dan perdarahan gastrointestinal.
3. Resiko infeksi, pada penderita leukemia sel darah putih imatur yg
berkembang sangat cepat sehingga akan mendesak sel darah putih yang
normal, sehingga tubuh kekurangan sel darah putih (leukosit) dan beresiko
terserang infeksi.
4. Nyeri perut, terjadi karena organ hati, lambung, ginjal, pankreas, empedu
terserang sel darah putih imatur sehingga terjadi peradangan karena
kerusakan organ tersebut (hati, lambung, pankreas, ginjal dsb). Maka timbul
nyeri pada daerah perut penderita.
5. Nyeri tulang dan sendi, terjadi karena peradangan sendi dan kerusakan
tulang yang disebabkan oleh invasi sel darah putih imatur tersebut.
6. Pembengkakan yang terdapat pada ketiak atau leher dikarenakan
peradangan pada kelenjar getah bening.

F. Komplikasi
Menurut Muttaqin, Arif (2009), komplikasi dari leukemia antara lain :
1. Infeksi : Leukemia menyebabkan Leukopenia normal, terutama neutropenia,
sementara kemoterapi dan faktor lainnya juga menyebabkan kurangnya
PMN, sehingga pasien rentan terhadap infeksi serius atau sepsis. Sering
10

disebabkan oleh infeksi bakteri adalah: Gram-positif bakteri, seperti


Staphylococcus aureus, streptokokus hemolitik, Corynebacterium, seperti
basil Gram-negatif, seperti Pseudomonas aeruginosa, E. coli, Klebsiella
basil seperti. infeksi jamur Candida albicans, Aspergillus, infeksi jamur
terjadi di banyak jangka panjang Darun myeloid demam kurang atau
persisten dan antibiotik pada pasien dengan non-sensitif. Beberapa
menerima pasien yang diobati dengan kortikosteroid, karena fungsi
kekebalan seluler yang lebih rendah, lebih rentan terhadap infeksi virus,
seperti cacar air dengan herpes-seperti virus, herpes simplex virus. Selain itu
pneumocystis carinii infeksi juga umum, infeksi saluran pernapasan atas dan
pneumonia untuk jenis yang umum.
2. Kegagalan usus : pengobatan leukemia karena obat kemoterapi, radioterapi
sarana untuk mempengaruhi fungsi pencernaan, dan menyebabkan
kegagalan lambung takut, pasien dengan suplemen nutrisi menjadi masalah
menonjol, penggunaan saat kanulasi vena subklavia untuk vena kava
superior dengan tinggi- nutrisi hanya bagian dari solusi, kekurangan gizi
dapat terjadi pneumonia, enteritis dan komplikasi lain.
3. Bukti asam urat darah tinggi : Normal karena penguraian metabolisme asam
nukleat, asam urat setiap hari kemih dari 300-500 mg. Pasien leukemia
karena jumlah besar dekomposisi asam nukleat sel leukemia dapat
meningkatkan ekskresi asam urat beberapa lusin kali. Ketika pasien yang
menjalani kemoterapi, radioterapi dan perawatan lainnya muncul
hiperurisemia, aplikasi seperti kortikosteroid dapat meningkatkan defisiensi
asam urat tinggi, konsentrasi tinggi jenuh asam urat dan curah hujan cepat,
menyebabkan kerusakan ginjal dan berbagai penumpang kecil dan kalkulus
asam urat, dapat menyebabkan oliguria, anuria. Oleh karena leukemia harus
cukup untuk mengisi cairan dalam rangka untuk menjamin volume tertentu,
dan memegang mulut dalam alkohol allopurinol, seperti kegagalan ginjal
terjadi pembatasan volume rehidrasi, dan pengobatan dialisis.
4. Perdarahan : Leukemia pasien karena hiperplasia sel leukemia ganas, nyata
mengurangi platelet dan mudah untuk menyebabkan saluran pernafasan,
saluran pencernaan, perdarahan saluran kemih, terutama perdarahan
11

intrakranial, menurut penyebab untuk melawan sehingga mengambil


langkah-langkah aktif untuk menghentikan pendarahan, termasuk infus
trombosit berkonsentrasi.
5. Penyakit paru : Leukemia pasien karena neutropenia matang normal, fungsi
kekebalan, biasanya menyebabkan infeksi paru. Dalam sel-sel leukemia
Selain itu, infiltrasi mungkin obstruksi pembuluh darah kecil paru, kesulitan
pernapasan bronkial dan, sindrom gangguan pernapasan, dada sinar-X
mungkin memiliki kaca atau miliaria seperti mesh, dapat digunakan untuk
paru-paru terapi radiasi percobaan.
6. Ketidakseimbangan elektrolit : Backlog perjalanan penyakit putih
pengobatan sering disebabkan oleh kerusakan sel-sel leukemia over-atau
cedera imbas obat kemoterapi ginjal, seperti alasan penjadwalan, terlalu
banyak kalium. Untuk karena kemoterapi diinduksi diet yang buruk,
gangguan sistem pencernaan, kekurangan volume inklusi diinduksi
hipokalemia. atau kerusakan sel-sel leukemia, sehingga peningkatan
pelepasan fosfor, kalsium dan penyebab lainnya. Oleh karena itu, dalam
pengobatan harus memperhatikan kalium, natrium kalsium, dan konsentrasi
elektrolit lain.

G. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Kiswari (2014), pemeriksaan diagnostik yang digunakan untuk
penderita leukemia antara lain :
1. Pemeriksaan darah : Laboratorium akan melakukan hitung darah lengkap
untuk memeriksa jumlah sel darah putih, sel darah merah, dan platelet.
Leukemia menyebabkan jumlah sel darah putih sangat tinggi. Juga
seringkali ditemukan rendahnya tingkat trombosit dan hemoglobin dalam
sel darah merah.
2. Biopsi : Biopsi adalah satu-satunya cara pasti untuk mengetahui apakah sel-
sel leukemia ada dalam sumsum tulang Anda. Hal ini memerlukan anestesi
lokal untuk membantu mengurangi rasa sakit. Dokter akan mengambil
beberapa sumsum tulang dari tulang pinggul atau tulang besar lainnya.
12

3. Aspirasi sumsum tulang : menggunakan jarum berongga tebal, yang diambil


hanya sumsum tulang
4. Biopsi sumsum tulang : menggunakan jarum berongga sangat tebal untuk
mengangkat sepotong kecil tulang dan sumsum tulang.
5. Sitogenetik : Laboratorium akan meneliti kromosom dari sampel sel darah,
sumsum tulang, atau kelenjar getah bening. Jika kromosom abnormal
ditemukan, tes dapat menunjukkan jenis leukemia yang Anda miliki.
Misalnya, orang dengan CML memiliki kromosom abnormal yang disebut
kromosom Philadelphia.
6. Spinal Tap : Dokter Anda dapat mengambil beberapa cairan cerebrospinal
(cairan yang mengisi ruang di dalam dan sekitar otak dan sumsum tulang
belakang). Dokter menggunakan jarum panjang tipis untuk mengeluarkan
cairan dari tulang punggung bagian bawah. Prosedur ini memakan waktu
sekitar 30 menit dan dilakukan dengan anestesi lokal. Anda harus berbaring
selama beberapa jam setelahnya, agar tidak pusing. Laboratorium akan
memeriksa cairan untuk meneliti adanya sel-sel leukemia atau tanda-tanda
lain dari masalah.
7. Pemeriksaan Rongent Dada : untuk mengidentifikasi masa mediastinum,
untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan di area dada pasien. Seperti
pembesaran jantung (kardiomegali), udem paru ataupun penyakit lainnya.
8. Darah tepi : gejala yang terlihat pada darah tepi berdasarkan kelainan pada
sumsum tulang berupa adanya pansitopenia, limfositosis yang kadang-
kadang menyebabkan darah tepi mononton dan terdapat sel blast.
Terdapatnya sel blast dalam darah tepi merupakan gejala patognomik untuk
leukemia.
9. Asam urat serum : pemeriksaan untuk mengetahui kadar asam di dalam
darah, atau perubahan pH darah.

H. Penatalaksanaan Medis
Menurut Kiswari (2014), penatalaksanaan medis dari leukemia antara lain :
13

1. Transfusi darah, biasanya diberikan jika kadar Hb kurang dari 69%. Pada
trombositopenia yang berat dan perdarahan masif, dapat diberikan transfusi
trombosit dan bila terdapat tanda-tanda DIC dapat diberikan heparin.
2. Kortikosteroid (prednison, kortison, deksametason dan sebagainya). Setelah
dicapai remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhirnya dihentikan.
3. Sitostatika. Selain sitostatika yang lama (6-merkaptopurin atau 6-mp,
metotreksat atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih
poten seperti vinkristin (Oncovin), rubidomisin (daunorubycine) dan
berbagai nama obat lainnya. Umumnya sitostatika diberikan dalam
kombinasi bersama-sama dengan prednison. Pada pemberian obat-obatan ini
sering terdapat efek samping berupa alopesia (botak), stomatitis, leukopenia,
infeksi sekunder atau kandidiasis. Bila jumlah leukosit kurang dari
2000/mm3 pemberiannya harus hati-hati. Pasien penderita leukimia yang
menderita stomatitis harus dialkukan pemantauan nutrisi dengan cara
menjaga diet yang baik, seperti Buah-buahan seperti nangka, durian, nanas,
lengkeng, anggur, karena beberapa buah ini mengandung zat yang dapat
mendorong tumbuhnya sel kanker. Cabai, tauge, Sawi putih dan kangkung,
Semua makanan yang diawetkan dan di bakar, Seafood.
4. Infeksi sekunder dihindarkan (lebih baik pasien dirawat di kamar yang suci
hama/ steril). Pasien yang mengalami leukimia jika di rawat di ruang isolasi
sosial akan merasa dirinya tidak diperlukan lagi dan dia akan merasa
kehilangan perannya. Sebagai keluarga harus memberikan support system
kepada pasien.
5. Imunoterapi, merupakan cara pengobatan terbaru. Setelah tercapai remisi
dan jumlah sel leukemia cukup rendah (105-106), imunoterapi mulai
diberikan (mengenai cara pengobatan yang terbaru masih dalam
pengembangan. Satu siklus kemoterapi berlangsung sekitar 3 minggu yaitu
dari hari dimana awal melakukan kemoterapi, diperlukan sekitar 3 minggu
untuk ke sesi kemoterapi berikutnya.
Cara pengobatan berbeda-beda pada setiap klinik bergantung dari pengalaman,
tetapi prinsipnya sama, yaitu dengan pola dasar :
14

1. Induksi : Dimaksud untuk mencapai remisi dengan bebagai obat tersebut


sampai sel blas dalam sumsum tulang kurang dari 5%.
2. Konsolidasi : Bertujuan agar sel yang tersisa tidak cepat memperbanyak diri
lagi.
3. Rumat : Untuk mempertahankan masa remisi agar lebih lama. Biasanya
dengan memberikan sitostatika setengah dosis biasa.
4. Reinduksi : Dimaksukan untuk mencegah relaps. Biasanya dilakukan setiap
3-6 bulan dengan pemberian obat-obat seperti pada induksi selama 10-14
hari.
5. Mencegah terjadinya leukemia pada susunan syaraf pusat. Diberikan MTX
secara intratekal dan radiasi kranial.
6. Pengobatan imunologik.
ASUHAN KEPERAWATAN LEUKEMIA
I. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan pada klien dengan leukemia adalah sebagai berikut:
1. Data demografi
Usia merupakan data dasar yang penting, karena ada beberapa gangguan
hematologi yang menyebabkan klien tidak berusia panjang (6-7 tahun).
Golongan darah sangat penting dikaji untuk memperoleh kecocokan dengan
donor darah klien bila diperlukan transfusi darah. Tempat tinggal juga
merupakan data yang perlu dikaji untuk mengetahui lingkungan klien,
karena ada beberapa gangguan hematologi yang dikaitkan dengan faktor
lingkungan.
2. Riwayat kesehatan keluarga
Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami
gangguan seperti yang dialami klien atau gangguan tertentu yang
berhubungan langsung dengan gangguan hematologi seperti leukemia.
3. Riwayat pemajaman pada faktor-faktor pencetus, seperti pemajaman pada
dosis besar radiasi, obat-obatan tertentu secara kronis, dan riwayat infeksi
virus kronis.
4. Pemeriksaan fisik dapat menunjukkan manifestasi :
15

Pembesaran sumsum tulang dengan sel-sel leukemia yang selanjutnya


menekan fungsi sumsum tulang, sehingga menyebabkan beberapa gejala
dibawah ini :
a. Anemia : penurunan berat badan, kelelahan, pucat, malaise, kelemahan,
dan anoreksia.
b. Trombositopenia : perdarahan gusi, mudah memar, petekie, dan
ekimosis.
c. Netropenia : demam tanpa adanya infeksi, berkeringat malam hari.
Infiltrasi organ lain dengan sel-sel leukemia yang menyebabkan beberapa
gejala seperti hepatomegali, splenomegali, limfadenopati, nyeri tulang dan
sendi, serta hipertrofi gusi.
5. Masalah kesehatan klien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelelahan, malaise, kelemahan, ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas biasanya
Tanda : Kelelahan otot, peningkatan kebutuhan tidur, somnolen
b. Sirkulasi
Gejala : Palpitasi
Tanda : Takikardi, murmur jantung, kulit dan membrane mukosa
pucat, deficit saraf cranial, tanda perdarahan serebral
c. Integritas Ego
Gejala : Perasaan tidak berdaya/tak ada harapan
Tanda : Depresi, menarik diri, ansietas, takut, marah, mudah
terangsang, perubahan alam perasaan, kacau
d. Eliminasi
Gejala : Diare, nyeri tekan perianal, darah merah terang pada tissue,
feses hitam, darah pada urine, penurunan haluaran urine.
Tanda : Depresi, menarik diri, ansietas, takut, marah, mudah
terangsang, perubahan alam perasaan, kacau
e. Makanan/cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, anoreksia, muntah,
perubahan/penyimpangan rasa, penurunan BB, faringitis,
16

disfagia.
Tanda : Distensi abdominal, penurunan bunyi usus, splenomegali,
hepatomegali, ikterik, stomatitis, ulkus mulut, hipertropi gigi
(infiltrasi gusi mengindikasikan leukimia monositik akut)
f. Neurosensori
Gejala : Kurang/penurunan koordinasi, perubahan alam perasaan,
kacau, disorientasi kurang konsentrasi, pusing, kebas,
kesemutan, parastesia
Tanda : Otot mudah terangsang, aktivitas kejang
g. Nyeri/keamanan
Gejala : Nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang/sendi, nyeri tekan
sterna, kram otot
Tanda : Perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah, focus pada diri sendiri
h. Pernafasan
Gejala : Nafas pendek dengan kerja minimal
Tanda : Dispnea, takipnnea, batuk, gemericik, ronkhi, penurunan
bunyi napas
i. Keamanan
Gejala : Riwayat infeksi saat ini/dahulu, riwayat jatuh, gangguan
penglihatan/kerusakan, perdarahan spontan tak terkontrol
dengan trauma minimal
Tanda : Demam, infeksi, kemerahan, purpura, perdarahan retinal,
perdarahan gusi, epistaksis, pembesaran nodus limfe, limpa
atau hati (sehubungan dengan invasi jaringan), papiledema
dan eksoptalmus, infiltrasi leukimia pada dermis.
j. Seksualitas
Gejala : Perubahan libido, perubahan aliran mentruasi, menoragia,
impoten.
k. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat terpajan pada kimiawi, kadar ionisasi radiasi
berlebihan, pengobatan kemoterapi sebelumnya, gangguan
kromosom.
17

J. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan infiltrasi leukosit jaringan sistemik.
2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan efek
toksik obat keemoterapi
3. Kelemahan berhubungan dengan anemia
4. Berduka berhubungan dengan kehilangan, kemungkinan terjadi karena
perubahan peran fungsi
5. Gangguan integritas kulit : alopesia berhubungan dengan efek toksik
kemoterapi
6. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan penampilan,
fungsi, dan peran
18

K. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan (NOC) (NIC)
1 2 4 5 6
1 Nyeri Setelah dilakukan tindakan a. Kaji karakteristik nyeri : lokasi, a. Memberikan dasar untuk mengkaji
berhubungan keperawatan selama ...x 24 kualitas, frekuensi dan durasi. perubahan pada tingkat nyeri dan
dengan infiltrasi jam klien menunjukkan mengevaluasi intervensi.
leukosit jaringan masalah nyeri teratasi dengan b. Tenangkan klien bahwa anda b. Rasa takut bahwa nyerinya tidak
sistemik. kriteria hasil : mengetahui nyeri yang dianggap nyata dapat meningkatkan
a. Melaporkan penurunan dirasakannya adalah nyata dan ansietas dan mengurangi intoleransi
tingkat nyeri bahwa anda akan membantu klien nyeri.
b. Menjelaskan bagaimana dalam mengurangi nyeri tersebut.
keletihan dan ketakutan c. Kaji faktor lain yang menunjang c. Memberikan data tentang faktor-
memengaruhi nyeri. nyeri, keletihan, dan marah klien. faktor yang menurunkan kemampuan
c. Menerima medikasi nyeri klien untuk menoleransi nyeri dan
sesuai dengan yang meningkatkan tingkat nyeri klien.
diresepkan. d. Berikan analgetik untuk d. Analgetik cenderung lebih efektif
d. Menunjukkan penurunan meningkatkan peredaran nyeri ketika diberikan secara dini pada
tanda-tanda fisik dan optimal dalam batas resep dokter. siklus nyeri.

17
19

perilaku rentang nyeri. e. Kaji respon perilaku klien e. Memberikan informasi tambahan
e. Mengambil peran aktif terhadap nyeri dan pengalaman tentang nyeri klien
dalam pemberian nyeri.
analgetik. f. Kolaborasikan dengan klien, f. Metode baru pemberian analgetik
f. Mengidentifikasi strategi dokter dan tim perawatan harus dapat diterima klien, dokter, dan
peredaan nyeri. kesehatan lain ketika mengubah tim perawatan kesehatan lain agar
g. Menggunakan strategi penatalaksanaan nyeri diperlukan. dapat efektif, partisipasi klien
peredaan nyeri dengan menurunkan rasa ketidakberdayaan
tepat. klien.
g. Berikan dukungan penggunaan g. Memberikan dorongan strategi
strategi pereda nyeri yang telah peredaan nyeri yang dapat diterima
klien terapkan dengan berhasil klien dan keluarga.
pada pengalaman nyeri
sebelumnya.
h. Ajarkan klien strategi baru untuk h. Meningkatkan jumlah pilihan dan
meredakan nyeri : distraksi, strategi yang tersedia bagi klien.
imajinasi, relaksasi, dan stimulasi
kutan.

18
20

2 Gangguan Setelah dilakukan tindakan a. Sesuaikan diet sebelum dan a. Setiap klien berespons secara berbeda
nutrisi kurang keperawatan selama ...x 24 sesudah pemberian obat sesuai terhadap makanan setelah kemoterapi,
dari kebutuhan jam klien mengurangi mual dengan kesukaan dan toleransi makanan kesukaan dapat meredakan
tubuh muntah sebelum, selama, dan klien. mual dan muntah klien.
berhubungan sesudah pemberian b. Cegah pandangan, bau, dan b. Sensasi tidak menyenangkan dapat
dengan efek kemoterapi dengan kriteria bunyi-bunyi yang tidak menstimulasi pusat mual dan muntah.
toksik obat hasil : menyenangkan di lingkungan. c. Menurunkan ansietas yang dapat
keemoterapi a. Melaporkan penurunan c. Gunakan distraksi, relaksasi, dan menunjang mual muntah.
mual imajinasi sebelum dan sesudah d. Kombinasi terapi obat berupaya untuk
b. Melaporkan penurunan kemoterapi. mengurangi mual muntah melalui
muntah d. Berikan anti emetik, sedatif dan kontrol berbagai faktor pencetus.
c. Mengonsumsi cairan dan kartikosteroid yang diresepkan. e. Volume cairan yang adekuat akan
makanan yang adekuat e. Pastikan hidrasi cairan yang mengencerkan kadar obat,
d. Menunjukkan penggunaan adekuat sebelum, selama, dan mengurangi stimulus reseptor muntah.
distraksi, relaksasi, dan sesudah pemberian obat. Kaji f. Mengurangi rasa kecap yang tidak
imajinasi ketika intake output cairan. menyenangkan.
diindikasikan f. Berikan dukungan kepada klien g. Meningkatkan rasa nyaman akan
e. Menunjukkan turgor kulit agar dapat menjaga personal meningkatkan toleransi fisik terhadap
normal dan membran gigiene dengan baik. gejala yang dirasakan.

19
21

mukosa yang lembap. g. Berikan tindakan pereda nyeri


f. Melaporkan tidak adanya jika diperlukan.
penurunan berat badan
tambahan.
3 Kelemahan Setelah dilakukan tindakan a. Berikan dorongan untuk istirahat a. Selama istirahat, energi dihemat dan
berhubungan keperawatan selama ...x 24 beberapa periode selama siang tingkat energi diperbarui. Beberapa
dengan anemia jam terjadi penurunan tingkat hari, terutama sebelum dan kali metode istirahat singkat mungkin
keletihan dengan kriteria hasil sesudah latihan fisik. lebih bermanfaat dibandingkan satu
: b. Tingkatkan jam tidur total pada kali periode istirahat yang panjang.
a. Melaporkan penurunan malam hari. b. Tidur membantu untuk memulihkan
tingkat keletihan c. Atur kembali jadwal setiap tidur tingkat energi.
b. Meningkatnya dan atur aktivitas untuk c. Pengaturan kembali aktivitas dapat
keikutsertaan dalam menghemat pemakaian energi. mengurangi kehilangan energi dan
aktivitas secara bertahap d. Berikan masukan protein dan mengurangi stresor.
c. Istirahat ketika mengalami kalori yang adekuat d. Penipisan kalori dan protein
keletihan e. Berikan dorongan untuk teknik menurunkan toleransi aktivitas.
d. Melaporkan dapat tidur relaksasi imajinasi e. Peningkatan relaksasi dan istirahat
lebih baik f. Kolaborasi pemberian produk psikologis dapat menurunkn keletihan
e. Melaporkan energi yang darah sesuai yang diresepkan fisik.

20
22

adekuat untuk ikut serta f. Penurunan hemoglobin akan


dalam aktivitas mencetuskan klien pada keletihan
f. Mengonsumsi diet dengan akibat penurunan ketersediaan
masukan protein dan oksigen.
kalori yang dianjurkan

4 Berduka Setelah dilakukan tindakan a. Bantu klien untuk a. Dasar pengetahuan yang akurat dan
berhubungan keperawatan selama ...x 24 mengungkapkan ketakutan, meningkat akan mengurangi ansietas
dengan jam klien mampu melewati kekhawatiran, dan pertanyaan dan meluruskan miskonsepsi.
kehilangan, proses berduka dengan sesuai tentang penyakit, pengobatan,
kemungkinan dengan kriteria hasil : serta implikasinya dimasa yang
terjadi karena a. Klien dan keluarga akan akan datang.
perubahan peran berkembang melalui fase- b. Berikan dukungan partisipasi b. Partisipasi aktif akan
fungsi fase berduka. aktif dari klien dan keluarganya mempertahankan kemandirian dan
b. Klien dan keluarga dalam keputusan perawatan dan kontrol emosi klien.
mengidentifikasi sumber- pengobatan.
sumber yang tersedia c. Berikan dukungan agar klien c. Hal ini memungkinkan untuk
untuk membantu strategi dapat membuang perasaan mengekspresikan emosional tanpa

21
23

koping selama berduka. negatif. kehilangan harga diri.


c. Klien dan keluarga d. Berikan waktu untuk klien d. Perasaan ini diperlukan untuk
menggunakan sumber- menangis dan mengekspresikan terjadinya perpisahan dan
sumber dan dukungan kesedihannya. kerenggangan.
secara sesuai. e. Libatkan petugas sesuai dengan e. Guna memfasilitasi proses berduka
d. Klien dan kluarga yang diinginkan oleh klien dan dan perawatan spiritual.
mendiskusikan keluarga.
kekhawatiran dan f. Sarankan konseling profesional f. Hal ini memfasilitasi proses berduka.
perasaan secara terbuka sesuai yang diindikasikan bagi
satu sama lain. klien dan kluarganya untuk
e. Klien dan keluarga menghilangkan proses berduka
menggunakan ekspresi yang patologis.
non verbal tentang g. Ciptakan situasi yang g. Proses berduka beragam. Oleh karena
kekhawatiran mereka memungkinkan untuk beralih itu, untuk menyelesaikan proses
terhadap satu sama lain. melewati proses duka. berduka, keragaman ini harus
dibiarkan terjadi.

5 Gangguan Setelah dilakukan tindakan a. Diskusikan potensial kerontokan a. Memberikan informasi sehingga klien
integritas kulit : keperawatan selama ...x 24 rambut dan pertumbuhan kembali dan keluarganya dapat mulai untuk

22
24

alopesia yang jam maka gangguan integritas rambut bersama klien dan bersiap diri secara kognitif dan
berhubungan kulit tidak terjadi dengan keluarga. emosional terhadap kerontokan.
dengan efek kriteria hasil : b. Cegah atau minimalkan dampak b. Meminimalkan kerontokan rambut
toksik a. Mengidentifikasi alopesia kerontokan rambut melalui akibat beban berat dan tarikan pada
kemoterapi sebagai potensial efek langkah-langkah berikut ini : rambut.
samping dan pengobatan. 1) Potong rambut yang panjang
b. Mengidentifikasi perasaan sebelum pengobatan
negatif dan positif serta 2) Hindari pemakaian sampo
ancaman terhadap citra yang berlebihan
diri. 3) Menggunakan sampo ringan
c. Mengungkapkan dan kondisioner
mengenai adanya 4) Menghindari penggunaan
kemungkinan kerontokan pengeriting listrik, pemanas,
rambut yang dimiliki. pengering rambut, penjepit.
d. Menyebutkan rasional 5) Hindari menyisir berlebihan,
untuk modifikasi dalam gunakan sisir yang bergerigi
perawatan rambut dan lebar. c. Membantu dalam mempertahankan
pengobatan. c. Cegah trauma pada kulit kepala. pertumbuhan rambut.
e. Melakukan langkah- d. Sarankan cara untuk membantu d. Menyamarkan kerontokan rambut.

23
25

langkah untuk mengatasi dalam mengatasi kerontokan


kemungkinan kerontokan rambut sepeerti memakai wig
rambut. atau mengenakan top.
e. Jelaskan bahwa pertumbuhan e. Menenangkan klien bahwa
rambut biasanya mulai kembali kerontokan rambut biasanya bersifat
ketika pengobatan telah selesai. sementara.

6 Gangguan Setelah dilakukan tindakan a. Kaji perasaan klien tentang a. Setiap klien berespon secara berbeda
gambaran diri keperawatan selama ...x 24 gambaran dan tingkat harga diri. terhadap makanan setelah kemoterapi,
yang jam, maka citra tubuh dan makanan kesukaan dapat meredakan
berhubungan harga diri klien dapat mual muntah klien.
dengan diperbaiki dengan kriteria b. Berikan motivasi untuk b. Memberikan motivasi memungkinkan
perubahan hasil : keikutsertaan yang kontinou kontrol kontinou terhadap kejadian
penampilan, a. Mengidentifikasi hal-hal dalam aktifitas dan pembuatan dan diri klien.
fungsi, dan yang penting keputusan.
peran b. Mengambil peran aktif c. Berikan dukungan pada klien c. Mengidentifikasi kekhawatiran
dalam aktifitas untuk mengungkan merupakan satu tahapan penting
c. Mempertahankan peran kekhawatirannya. dalam mengatasinya.

24
26

sebelumnya dalam d. Bantu klien dalam perawatan diri d. Kesejahteraan fisik meningkatkan
pembuatan keputusan ketika keletihan. harga diri.
1) mengungkapkan e. Berikan motivasi pada klien dan e. Memberi kesempatan untuk
perasaan dan reaksi pasangannya untuk saling berbagi mengekspresikan kekhawatirannya.
terhadap kehilangan kekhawatiran mengenai
2) ikut serta dalam perubahan fungsi seksual.
aktifitas perawatan diri

25
26

L. Hasil yang Diharapkan


1. Diagnosa keperawatan : Nyeri berhubungan dengan infiltrasi leukosit
jaringan sistemik.
a. Klien melaporkan penurunan tingkat nyeri
b. Klien menunjukkan keletihan dan ketakutan yang memengaruhi nyeri
berkurang.
c. Klien menerima medikasi nyeri sesuai dengan yang diresepkan.
d. Klien menunjukkan penurunan tanda-tanda fisik dan perilaku rentang
nyeri.
e. Klien memahami strategi peredaan nyeri dengan tepat sehingga nyeri
dapat berkurang
2. Diagnosa keperawatan : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan efek toksik obat keemoterapi
a. Klien melaporkan penurunan mual
b. Klien melaporkan penurunan muntah
c. Klien mengonsumsi cairan dan makanan yang adekuat
d. Klien menunjukkan penggunaan distraksi, relaksasi, dan imajinasi ketika
diindikasikan
e. Klien menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang
lembap.
f. Klien melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan.
3. Diagnosa keperawatan : Kelemahan berhubungan dengan anemia
a. Klien melaporkan penurunan tingkat keletihan
b. Klien meningkatkan keikutsertaan dalam aktivitas secara bertahap
c. Kebutuhan istirahat klien terpenuhi
d. Klien melaporkan dapat tidur lebih baik
e. Klien melaporkan energi yang adekuat untuk ikut serta dalam aktivitas
f. Klien mengonsumsi diet dengan masukan protein dan kalori yang
dianjurkan
4. Diagnosa keperawatan : Berduka berhubungan dengan kehilangan,
kemungkinan terjadi karena perubahan peran fungsi
a. Klien dan keluarga akan berkembang melalui fase-fase berduka.
27

b. Klien dan keluarga mengidentifikasi sumber-sumber yang tersedia untuk


membantu strategi koping selama berduka.
c. Klien dan keluarga menggunakan sumber-sumber dan dukungan secara
sesuai.
d. Klien dan keluarga mendiskusikan kekhawatiran dan perasaan secara
terbuka satu sama lain.
e. Klien dan keluarga menggunakan ekspresi non verbal tentang
kekhawatiran mereka terhadap satu sama lain.
5. Diagnosa keperawatan : Gangguan integritas kulit, alopesia berhubungan
dengan efek toksik kemoterapi
a. Klien mengidentifikasi alopesia sebagai potensial efek samping dan
pengobatan.
b. Klien mengidentifikasi perasaan negatif dan positif serta ancaman
terhadap citra diri.
c. Klien mengungkapkan mengenai adanya kemungkinan kerontokan
rambut yang dimiliki.
d. Klien menyebutkan rasional untuk modifikasi dalam perawatan rambut
dan pengobatan.
e. Klien melakukan langkah-langkah untuk mengatasi kemungkinan
kerontokan rambut.
6. Diagnosa keperawatan : Gangguan gambaran diri berhubungan dengan
perubahan penampilan, fungsi, dan peran
a. Klien mengidentifikasi hal-hal yang penting
b. klien mengambil peran aktif dalam aktifitas
c. klien mempertahankan peran sebelumnya dalam pembuatan keputusan
28

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Leukemia (kanker darah) adalah neoplasma ganas sel darah putih
(Leukosit) yang ditandai dengan bertambah banyaknya sel darah putih
abnormal dalam aliran darah. Sel-sel tersebut tersebut berinfiltrasi secara
progresif ke dalam jaringan tubuh, terutama pada sumsum tulang. Akibatnya,
sumsum tulang rusak dan kehilangan fungsinya untuk membuat sel darah
merah dan sel darah putih normal serta platelets (trombosit). Sebagai akibat
kekurangan sel darah merah, maka akan terjadi anemia. Jika kekurangan sel
darah putih ini dapat mengakibatkan penurunan sistem kekebalan tubuh. Selain
itu, kurangnya produksi platelets dapat mengakibatkan perdarahan yang parah.
Sel darah putih berasal dari sel stem di sumsum tulang. Leukemia terjadi
jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih mengalami
gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan tersebut
seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan
genetik sel yang kompleks). Penyusunan kembali kromosom (translokasi
kromosom) mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga
sel membelah tak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini
menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang
menghasilkan sel-sel darah yang normal. Kanker ini juga bisa menyusup ke
dalam organ lainnya, termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening, ginjal dan
otak.
B. Saran
Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi semua orang yang
membacanya. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membantu dalam
proses, selain itu diperlukan lebih banyak referensi dan penyusunan makalah
yang lebih baik lagi.

28
29

DAFTAR PUSTAKA

Kiswari Rukman. (2014). Hematologi dan transfusi. Jakarta : Erlangga


Mehta Atul, Hoffbrand victor. (2008). At a glance hematologi edisi kedua. Jakarta
: Erlangga
Muttaqin, Arif. (2009). Buku ajar asuhan keperawatan klien dengan gangguan
sistem kardivaskular dan hematologi. Jakarta : Salemba Medika
Handayani W., Hariwibowo A.S. (2008). Asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan sistem hematologi. Jakarta: Salemba Medika
Kusumawardani Endah. (2010). Waspada penyakit darah mengintai anda.
Yogyakarta : EGC