Anda di halaman 1dari 23

BAB I

A. LATAR BELAKANG
Banyak penyakit yang menganggu kelangsungan hidup masyarakat
banyak. Penyakit-penyakit ini bukan hanya muncul dikarenakan keteledoran
daripada si pengidap itu sendiri. Melainkan juga dari lingkungan luar yang
ada di sekitarnya. Biasanya para pasien yang ada di rumah sakit paling
gampang tertular dengan berbagai macam penyakit yang dapat
membahayakan kehidupannya sendiri. Tahapan penting yang mutlak harus
dilakukan selama bekerja di ruang praktikum mikrobiologi adalah sterilisasi.
Bahan atau peralatan yang digunakan harus dalam keadaan steril. Sterilisasi
adalah proses penghilangan semua jenis organisme hidup, dalam hal ini
adalah mikroorganisme yang terdapat dalam suatu benda. Proses ini
melibatkan aplikasi biocidal agent atau proses fisik dengan tujuan untuk
membunuh atau menghilangkan mikroorganisme. Setiap proses baik fisika,
kimia dan mekanik yang membunuh semua bentuk kehidupan terutama
mikroorganisme disebut sterilisasi. Adanya pertumbuhan mikroorganisme
menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri masih berlangsung dan tidak
sempurnanya sterilisasi.
Sterilisasi didesain untuk membunuh atau menghilangkan
mikroorganisme. Target suatu metode inaktivasi tergantung dari metode dan
tipe mikroorganisme yaitu tergantung dari asam nukleat, protein atau
membrane mikroorganisme tersebut. Agen kimia untuk sterilisasi
disebut sterilant (Pratiwi,2006). Sterilisasi banyak dilakukan di rumah sakit
melalui proses fisik, kimia dan mekanik. Setiap proses (baik fisika, kimia
maupun mekanik) yang membunuh semua bentuk kehidupan terutama
mikrooranisme disebut dengan sterilisasi. Adanya pertumbuhan
mikroorganisme menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri masih
berlangsung dan tidak sempurnanya proses sterilisasi. Jika sterilisasi
berlangsung sempurna, maka spora bakteri yang merupakan bentuk paling
resisten dari kehidupan mikroba, akan diluluhkan (Cappuccino, 1983).
Pembiakan mikroba dalam laboratorium memerlukan medium yang berisi zat
hara serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai dengan mikroorganisme.
Zat hara digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan, sintesis sel,
keperluan energi dalam metabolisme, dan pergerakan. Lazimnya, medium
biakan berisi air, sumber energi, zat hara sebagai sumber karbon, nitrogen,
sulfur, fosfat, oksigen, hidrogen, serta unsur-unsur lainnya. Dalam bahan
dasar medium dapat pula ditambahkan faktor pertumbuhan berupa asam
amino, vitamin, atau nukleotida (Lim, 1998).
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pengertian sterilisasi?
2. Bagaimana klasifikasi dan penggolongan sterilisasi?
3. Bagaimana penggunaan sterilisasi?
4. Bagaimana metode sterilisasi panas kering (dry heat)?
5. Bagaimana syarat tindakan aseptic?
C. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Pengertian sterilisasi.
2. Klasifikasi dan penggolongan sterilisasi.
3. Penggunaan sterilisasi.
4. Metode sterilisasi panas kering (dry heat).
5. Syarat tindakan aseptic.
D. MANFAAT
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk:
1. Menambah wawasan mahasiswa tentang sterilisasi
2.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN STERILISASI
Sterilisasi adalah proses penghilangan semua jenis organisme hidup,
dalam hal ini adalah mikroorganisme (protozoa, fungi, bakteri, mycoplasma,
virus) yang terdapat dalam suatu benda. Proses ini melibatkan aplikasi
biocidal agent atau proses fisik dengan tujuan untuk membunuh atau
menghilangkan mikroorganisme. Sterilisasi di desain untuk membunuh atau
menghilangkan mikroorganisme. Target suatumetode inaktivasi tergantung
dari metode dan tipe mikroorganisme yaitu tergantung dari asam nukleat,
protein atau membran mikroorganisme tersebut. Agen kimia untuk sterilisasi
disebut sterilant (Pratiwi, 2006). Tujuan dari sterilisasi adalah untuk:
1. Menyiapkan peralatan perawatan dan kedokteran dalam keadaan siap
pakai
2. Mencegah peralatan cepat rusak
3. Mencegah terjadunya infeksi silang
4. Menjamin kebersihan alat
5. Me netapkan produk akhir dinyatakan sudah steril dan aman digunakan
pasien.
Proses sterilisasi dipergunakan pada bidang mikrobiologi untuk
mencegah pencernaan organisme luar, pada bidang bedah untuk
mempertahankan keadaan aseptis, pada pembuatan makanan dan obat-obatan
untuk menjamin keamanan terhadap pencemaran oleh miroorganisme dan di
dalam bidang-bidang lain pun sterilisasi ini juga penting.
Sterilisasi banyak dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik maupun
kimiawi. Steralisasi juga dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman
patogen atau kuman apatogen beserta spora yang terdapat pada alat perawatan
atau kedokteran dengan cara merebus, stoom, menggunakan panas tinggi, atau
bahkan kimia. Jenis sterilisasi antara lain sterilisasi cepat, sterilisasi panas
kering, steralisasi gas (Formalin H2 O2), dan radiasi ionnisasi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam steralisasi di antaranya:
1. Sterilisator (alat untuk mensteril) harus siap pakai, bersih, dan masih
berfungsi.
2. Peralatan yang akan di steralisasi harus dibungkus dan diberi label yang
jelas dengan menyebutkan jenis peralatan, jumlah, dan
tanggal pelaksanaan sterilisasi.
3. Penataan alat harus berprinsip bahwa semua bagian dapat steril.
4. Tidak boleh menambah peralatan dalam sterilisator sebelum waktu
mensteril selesai.
5. Memindahklan alat steril ke dalam tempatnya dengan korentang steril.
6. Saat mendinginkan alat steril tidak boleh membuka pembungkusnya,
bila terbuka harus dilakukan steralisasi ulang.
B. KLASIFIKASI DAN PENGGOLONGAN STERILISASI
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara
mekanik, fisik dan kimiawi:
1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi)
Di dalam sterilisai secara mekanik (filtrasi), menggunakan suatu
saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron)
sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan
untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan
antibiotik.
Jika terdapat beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau
tekanan tinggi akan mengalami perubahan atau penguraian, maka
sterlisasi yang digunakan adalah dengan cara mekanik, misalnya dengan
saringan. Didalam mikrobiologi penyaringan secara fisik paling banyak
digunakan adalah dalam penggunaan filter khusus misalntya filter
berkefeld, filter chamberland, dan filter seitz. Jenis filter yang dipakai
tergantung pada tujuan penyaringan dan benda yang akan disaring.
Penyaringan dapat dilakukan dengan mengalirkan gas atau cairan
melalui suatu bahan penyaring yang memilki pori-pori cukup kecil
untuk menahan mikroorganisme dengan ukuran tertentu. Saringan akan
tercemar sedangkan cairan atau gas yang melaluinya akan steril. Alat
saring tertentu juga mempergunakan bahan yang dapat mengabsorbsi
mikroorganisme. Saringan yang umum dipakai tidak dapat menahan
virus. Oleh karena itu, sehabis penyaringan medium masih harus
dipanasi dalam otoklaf. Penyaringan dilakukan untuk mensterilkan
substansi yang peka tehadap panas seperti serum,enzim,toksin
kuman,ekstrak sel,dsb.
2. Sterilisasi secara fisik
Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan,
pasteurisasi, dan penyinaran.
a. Pemanasan
Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api
secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L,
dll. 100 % efektif namun terbatas penggunaanya.
Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C.
Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca
misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll. Waktu relatif lama sekitar
1-2 jam. Kesterilaln tergnatung dengan waktu dan suhu yang
digunakan, apabila waktu dan suhu tidak sesuai dengan ketentuan
maka sterilisasipun tidak akan bisa dicapai secara sempurna.
Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan
yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini
supaya tidak terjadi dehidrasi Teknik disinfeksi termurah Waktu
15 menit setelah air mendidih Beberapa bakteri tidak terbunuh
dengan teknik ini:Clostridium perfingens dan Cl. botulinum
Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf
menggunakan suhu 121 C dan tekanan 15 lbs, apabila sedang
bekerja maka akan terjadi koagulasi. Untuk mengetahui autoklaf
berfungsi dengan baik digunakanBacillus stearothermophilus Bila
media yang telah distrerilkan. diinkubasi selama 7 hari berturut-
turut apabila selama 7 hari: Media keruh maka otoklaf rusak Media
jernih maka otoklaf baik, kesterilalnnya, Keterkaitan antara suhu
dan tekanan dalam autoklaf.
b. Pasteurisasi: Pertama dilakukan oleh Pasteur, Digunakan pada
sterilisasi susu Membunuh kuman: tbc, brucella, Streptokokus,
Staphilokokus, Salmonella, Shigella dan difteri (kuman yang
berasal dari sapi/pemerah) dengan Suhu 65 C/ 30 menit.
c. Penyinaran dengan sinar UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses
sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel
pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV
Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa
desinfektan antara lain alkohol. Beberapa kelebihan sterilisasi
dengan cara ini:
1) Memiliki daya antimikrobial sangat kuat.
2) Daya kerja absorbsi as. Nukleat.
3) Panjang gelombang: 220-290 nm paling efektif 253,7 nm.
4) Kelemahan penetrasi lemah.
5) Sinar Gamma Daya kerjanya ion bersifat hiperaktif Sering
digunakan pada sterilisasi bahan makanan, terutama bila
panas menyebabkan perubahan rasa, rupa atau
penampilan Bahan disposable: alat suntikan cawan petri dpt
distrelkan dengan teknik ini. Sterilisasi dengan sinar gamma
disebut juga “sterilisasi dingin”
3. Sterilisasi Secara Kimiawi
Biasanya sterilisasi secara kimiawi menggunakan senyawa
desinfektan antara lain alkohol. Antiseptik kimia biasanya dipergunakan
dan dibiarkan menguap seperti halnya alkohol. Umumnya isopropil
alkohol 70-90% adalah yang termurah namun merupakan antiseptik
yang sangat efisien dan efektif. Penambahan yodium pada alkohol akan
meningkatkan daya disinfeksinya. Dengan atau iodium, isopropil tidak
efektif terhadap spora. Solusi terbaik untuk membunuh spora adalah
campuran formaldehid dengan alkohol, tetapi solusi ini terlalu toksik
untuk dipakai sebagai antiseptik.
Pemilihan antiseptik terutama tergantung pada kebutuhan
daripada tujuan tertentu serta efek yang dikehendaki. Perlu juga
diperhatikan bahwa beberapa senyawa bersifat iritatif, dan kepekaan
kulit sangat bervariasi. Zat-zat kimia yang dapat dipakai untuk sterilisasi
antara lain yaitu halogen (senyawa klorin, iodium),
alkohol,fenol,hidrogen feroksida,zat warna ungu kristal, derivat akridin,
rosanalin, detergen, logam berat (hg,Ag,As,Zn), aldehida, dll.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada disinfeksi kimia
a. Rongga (space).
b. Sebaiknya bersifat membunuh (germisid).
c. Waktu (lamanya) disinfeksi harus tepat.
d. Pengenceran harus sesuai dengan anjuran.
e. Solusi yang biasa dipakai untuk membunuh spora kuman biasanya
bersifat sangat mudah menguap.
f. Sebaiknya menyediakan hand lation àmerawat tangan setelah
berkontak dengan disinfekstan
Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi dengan cara kimia:
a. Jenis bahan yang digunakan.
b. Konsentrasi bahan kimia.
c. Sifat Kuman
d. pH
e. Suhu
Beberapa Zat Kimia yang sering digunakan untuk sterilisasi
a. Alkohol
1) Paling efektif utk sterilisasi dan desinfeksi.
2) Mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi à membran sel
rusak & enzim tdk aktif.
b. Halogen, mengoksidasi protein kuman.
c. Yodium
1) Konsentrasi yg tepat tdk mengganggu kulit.
2) Efektif terhadap berbagai protozoa
d. Klorin
1) Memiliki warna khas dan bau tajam.
2) Desinfeksi ruangan, permukaan serta alat non bedah.
e. Fenol (as. Karbol)
1) Mempresipitasikan protein secara aktif, merusak membran
sel menurunkan tegangan permukaan.
2) Standar pembanding untuk menentukan aktivitas suatu
desinfektan.
f. Peroksida (H2O2)
1) Efektif dan nontoksid
2) Molekulnya tidak stabil
3) Menginaktif enzim mikroba
4) Gas Etilen Oksida
5) Mensterilkan bahan yang terbuat dari plastic
C. PENGGUNAAN STERILISASI
Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau penghancuran semua
bentuk kehidupan mikroba yang dilakukan dirumah sakit melalui proses fisik
maupun kimiawi. Sterilisasi juga dikatakan sebagai tindakan untuk
membunuh kuman pathogen atau apatogen beserta spora yang terdapat pada
alat perawatan atau kedokteran dengan cara merebus, stoom, menggunakan
panas tinggi, atau bahan kimia. Jenis sterilisasi antara lain sterilisasi cepat,
sterilisasi panas kering, sterilisasi gas (formalin, H2O2).
Teknik steril biasanya di gunakan dalam ruangan operasi dan ruang
bersalin, selain menggunakan teknik steril pada tempaat tidur pasien untuk
prosedur invasive seperti:

1. Mengisap jalan napas pasien


2. Memasukkan kateter urinarius
3. Mengganti balutan luka
Daerah steril biasanya dibatasi dengan duk steril atau lapisan tebal
kertas berlilin atau kemasan terbuka tempat bahan-bahan steri dikemas.
Banyak rumah sakit mempunyai pusat penyedian, yaitu tempat kebanyakan
peralatan dan suplai dibersihkan serta desterilkan. Hasil prose ini dimonitor
oleh laboratorium mirobiologi secara teratur.
Kecenderungan di rumah sakit untuk menggunakan alat-alat serta bahan
yang dijual dalam keadaan steril dan sekali pakai, seperti alat suntik, jarum,
srung tangan dan masker, tidak saja mengurangi waktu yang diperlukan untuk
membersihkan, menyiapkan, serta mensterilkan peralatan, tetapi juga
mengurangi pemindah sebaran patogen melalui infeksi silang.
1. Sanitasi lingkungan rumah sakit
Tujuan sanitasi lingkungan ialah membunuh atau menyingkirkan
pencemaran oleh mikrobe dari permukaan. Untuk mengevaluasi
prosedur dan cara-cara untuk mengurangi pencemaran, dilakukan
pengambilan contoh mikroorganisme sewaktu-waktu dari permukaan.
Pinggan-pinggan petri yang menunjukan adanya pertumbuhan mikrobe
sebelum dan sesudah pembersihan merupakan alat pengajar yang
meyakinkan untuk melatih para petugas yang baru.
Pengurangan kontaminasi oleh mikroba paling baik dicapai
dengan kombinasu pergeseran dan penggsokan, serta air dan deterjen.
Ini sudah cukup, kecuali bila spencemrannya hebat, maka perlu
digunakan desinfektan. Agar efektif, desinfektan digunakan dalam
konsentrasi yang cukup selama waktu tertentu. Penggunaan desinfektan,
misalnya, membantu menjaga air untuk mengepel agar tidak tercemar.
Kain pel harus di cuci dan di keringkan baik-baik setiap hari untuk
mengurangi pencemaran. Seember larutan dan kain pel basah sering kali
di gunakan untuk membersihkan permukaan benda lain selain lantai.
Bila larutan yang sam dipakai seharian, maka dapat mengakibatkan
pencemaran oleh mikrobe yang lebih parah dibandingkan sebelum di
bersihkan.
Dengan keadaan yang bersih di rumah sakit maka keadaan asepsis
lebih mudah dicapai.
2. Universal Precaution
Pengendalian infeksi untuk penyakit-penyakit yang menular
malalui darah. Berlaku universal ,tidak memandang apa atau siapa yang
dirawat, tahu ataupun tidak tahu status infeksinya. Setiap tenaga medis
harus menyadari bahwa semua pasien berpotensi menularkan berbagai
penyakit.
3. Cuci Tangan
Adalah pencegahan infeksi yang paling penting Harus merupakan
kebiasaan yang mendarah daging bagi tenaga kesehatan Harus selalu
dilakukan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan
walaupun memakai sarung tangan atau yang lainya (cuci tangan tidak
bisa digantikan dengan sarung tangan).
Selain itu selalu gunakan alat pelindungan diri secara lengkap
ketika melakukan prosedur invasive, ataupun bedah. Seperti:
a. Gown/barakschort
b. Masker
c. Sarung Tangan
d. Kaca mata pelindung/goggles.
4. Pengolaan Sampah Medis Dan Air Limbah
Perlu diatur sedemikian rupa agar alat atau ruang tetap bersih atau
steril,tidak berdekatan dengan limbah atau sampah medis. Membakar
sampah medis sampai menjadi arang.
5. Sterilisasi Dan Desinfeksi Alat-Alat Medis
Desinfekatan :
a. Aseptik/Asepsis :
Suatu istilah umum yg digunakan untuk menggambarkan
upaya kombinasi untuk mencegah masuknya mikroorganisme ke
dalam area tubuh manapun yg sering menyebabkan infeksi.
Tujuannya :
Mengurangi jumlah mikroorganisem baik pada permukaan
hidup maupun benda mati agar alat-alat kesehatan dapat dengan
aman digunakan.
b. Antisepsis :
Proses menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit,
selaput lendir atau bagian tubuh lainnya dengan menggunakan
bahan antimikrobial (antiseptik)
c. Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT).
Proses yg menghilangkan semua mikroorganisme kecuali
beberapa endospora bakteri pada benda mati dengan merebus,
mengukus atau penggunaan desinfektan kimia
Sterilisasi :
Upaya pembunuhan atau penghancuran semua bentuk
kehidupan mikroba yg dilakukan di RS melalui proses fisik
maupun kimiawi.
Proses yang menghilangkan semua mikroorganisem (bakteri,
virus, fungi dan parasit) termasuk endospora bakteri pada benda
mati dengan uap air panas tekanan tinggi (otoclaf), panas kering
(oven), sterilan kimia atau radiasi.
6. Pemprosesan Alat
a. Dekontaminasi :
Proses yg membuat benda mati lebih aman ditangani staff
sebelum dibersihkan. Tujuan dari tindakan ini dilakukan agar
benda mati dapat ditangani oleh petugas kesehatan secara aman,
terutama petugas pembersih medis sebelum pencucian
berlangsung.

b. Pencucian/ bilas
Proses yg secara fisik membuang semua debu yg tampak,
kotoran, darah, atau cairan tubuh lainnya dari benda mati ataupun
membuang sejumlah mikroorganisme untuk mengurangi resiko
bagi mereka yg menangani objek tersebut. Prosesnya terdiri dari
mencuci sepenuhnya dengan sabun atau detergen dan air,
membilas dengan air bersih dan mengeringkannya.
c. Sterilisasi/DTT
Proses yg menghilangkan semua mikroorganisme kecuali
beberapa endospora bakteri pada benda mati dengan merebus,
mengukus atau penggunaan desinfektan kimia
D. METODE STERILISASI PANAS KERING (DRY HEAT)
1. Pembakaran
Alat yang Dapat diartikan suatu pelintasan alat gelas (ujung pinset,
bibir tabung, mulut erlenmeyer, dll) melalui nyala api. Cara ini
merupakan hal darurat dan tidak memberikan jaminan bahwa
mikroorganisme yang melekat pada alat dengan pasti terbunuh. Yang
digunakan adalah lampu spiritus/bunsen. Pembakaran dapat dilakukan
dengan cara :
a. Memijarkan
Pembakaran dengan cara ini hanya cocok untuk alat-alat
logam (ose, pinset, dll), yang dibiarkan sampai memijar. Dengan
cara ini seluruh mikroorganisme, termasuk spora, dapat dibasmi.
b. Menyalakan
Cara mensterilkan ose :
Ose disterilkan dengan cara dibakar pada nyala api lampu
spiritus atau lampu gas. Pada waktu memanaskan ose, dimulai dari
pangkal kawat dan setelah terlihat merah berpijar secara pelan-
pelan pemansan dilanjutkan ke ujung ose. Hal ini dimaksudkan
untuk mencegah terloncatnya kuman akibat pemanasan langsung
dan terlalu cepat pada mata ose. Nyala api pada sterilisator
mempunyai perbedaan dalam derajat panas.
ABCD (diarsir) : merupakan ruang oksidasi
ABCD : merupakan ruang reduksi
AB : dasar api
a : ruang oksidasi atas
b : ruang oksidasi bawah
c : ruang reduksi atas
d : ruang reduksi bawah
e : bagian yang paling tidak panas
Tempat yang paling panas adalah ruang oksidasi bawah yang
letaknya kira-kira sepertiga bawah dari tingginya nyala api. Yang
perlu diperhatikan :
a. Jangan memegang mata ose dengan tangan sebelum ose
disterilkan
b. Jangan meletakkan ose di atas meja, tetapi letakkan pada
tempat yang disediakan setelah disterilkan.
2. Dengan udara panas (hot air oven)
Cara ini menggunakan udara yang dipanaskan dan kering, serta
berlangsung dalam sterilisator udara panas (oven). Pemanasan dengan
udara panas dugunakan untuk sterilisasi alat-alat laboratorium dari gelas
misalnya : petri, tabung gelas, botol pipet dll, juga untuk bahan-bahan
minyak dan powder misalnya talk. Bahan dari karet, kain, kapas dan
kasa tidak dapat ditserilkan dengan cara ini.
Setelah dicuci alat-alat yang akan disterilkan dikeringkan dan
dibungkus dengan kertas tahan panas, kemudian dimasukkan dalam
oven dan dipanaskan pada temperatur antara 150 - 170ºC, selama kurang
lebih 90 – 120 menit. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa di
antara bahan yang disterilisasi harus terdapat jarak yang cukup, untuk
menjamin agar pergerakan udara tidak terhambat.

E. SYARAT TINDAKAN ASEPTIK


Aseptik berarti 'tanpa mikro-organisme'. Teknik aseptik mengacu pada
praktek yang digunakan untuk menghindari kontaminasi organisme patogen.
Tujuan utama dari teknik aseptik adalah untuk melindungi pengguna dari
kontaminasi oleh organisme patogen selama prosedur medis dan keperawatan
dan untuk melindungi dari hal-hal yang berpotensi menular dari
mikroorganisme tersebut. Hal ini dapat dicapai dengan memastikan bahwa
hanya peralatan steril (Wilson 2006).
Bekerja secara aseptik yang dilakukan dapat mencegah kontaminasi
mikroba selama prosedur invasif atau perawatan dalam integritas kulit. Dua
jenis asepsis dapat dilakukan pada mikrobiologi klinis ialah asepsis medis dan
bedah. Aseptik medis digunakan untuk menekan jumlah organisme dan
mencegah penyebaran mereka dan terutama digunakan di daerah lingkungan
dan beberapa daerah perawatan lainnya, misalnya rawat jalan klinik.
Asepsisis Bedah proses yang ketat dan termasuk prosedur untuk
menghilangkan mikro-organisme dari suatu daerah dan dipraktekkan oleh
perawat dan petugas kesehatan lainnya (Ayliffe 2000).
Teknik aseptik harus digunakan selama prosedur invasif yang
pertahanan alami tubuh, misalnya kulit atau selaput lendir. Asepsis harus
selalu dilakukan pada kondisi apapun. Mempertahankan sterilitas bisa sulit
tetapi penting untuk mencegah kontaminasi pada peralatan yang digunakan
(Dawe 2011).
1. Aseptik medis
Aseptik medis adalah teknik atau prosedur yang dilakukan untuk
mengurangi jumlah mikroorganisme disuatu objek, serta menurunkan
kemungkinan penyebaran dari mikro organisme tersebut.. Aseptik
medis sangat penting untuk diterapkan saat merawat individu yang
rentan terhadap infeksi baik karena penyakitnya, pembedahan atau
karena immonosupresi. Selama proses keperawatan, perawat melakukan
kontak dengan banyak pasien dirumah sakit, oleh karena itu perawat
harus menyadari dan mengetahui akan prinsip-prinsip aseptik medis
sebagai upaya untuk menghindari transfer kuman dari pasien ke perawat,
dari perawat ke pasien, dari perawat ke perawat lain atau petugas
kesehatan lain, serta dari satu pasien ke pasien lainnya.
Suatu objek dikatakan terkontaminasi bila objek tersebut menjadi
tidak steril atau bersih. Dalam aseptik medik suatu area atau objek
dikatakan terkontaminasi bila terdapat atau objek dicurigai mengandung
kuman pathogen, misalnya tempat tidur (badpan) yang telah dipakai,
lantai dan kasa basah yang telah dipakai. Mata rantai infeksi yang paling
mudah untuk di putus adalah cara penularannya. Dalam lingkungan
perawatan kesehatan lingkungan, mencuci tangan adalah merupakan
teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan
penularan infeksi nosokomia. Menurut Larson dalam Dwi Handayani
(2003), Mencuci tangan adalah menggosok dengan sabun secara
bersama seluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas yang
kemudian di bilas dibawah air mengalir. Oleh karena itu, mencuci
tangan menjadi metode pencegahan dan pengendalian infeksi yang
paling penting.
Tujuan mencuci tangan adalah menurunkan Bioburden(jumlah
mikroorgsnisme) pada tangan dan untuk mencegah penyebaranya ke
area yamg tidak terkontaminasi. Mencuci tangan yang kurang tepat
menempatkan baik pasien dan tenaga perawatan kesehatan pada resiko
terhadap infeksi atau penyakit. Tenaga perawatan kesehatan yang
mencuci tangan kurang adekuat dapat memindahkan organisme-
organisme sepertistaphylococcus, escheria coli, pseudomonas dan
klebisellasecara langsung ke pada hospes yang rentan, yang
menyebabkan infeksi nasokomial dan endemik disemua jenis
lingkungan pasien.
Adapun teknik cuci tangan yang efektif sesuai prosedur cuci
tangan menurut WHO (2007) yaitu sebagai berikut :
a. Dimulai cuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan bersih.
b. Menggunakan sabun cair atau sabun batangan, menggosokan
sabun tersebut sampai berbusa banyak.
c. Menggosokan ke bagian punggung tangan dengan jari tangan
menjalin secara bergantian, sebanyak 3 (tiga) kali.
d. Mengepalkan salah satu tangan dan menggosokan ke permukaan
tangan lainnya dimulai dengan menggosokan buku-buku jari
tangan, kuku tangan, dan ujung-ujung jari tangan secara
bergantian, sebanyak 3 (tiga) kali.
e. Memutar-mutar ibu jari tangan dengan salah satu tangan yang
dilakukan secara bergantian, sebanyak 3 (tiga) kali.
f. Membilas tangan dengan air mengalir mulai dari permukaan
tangan sampai dengan sikut tangan.
g. Mengeringkan tangan.
2. Aseptik bedah
Aseptik bedah atau teknik steril termasuk prosedur yang
digunakan untuk membunuh mikroorganisme. Setelah objek menjadi
tidak steril maka objek tersebut telah terkontaminasi, misalnya alat-alat
perawatan luka yang telah dipakai atau tersentuh objek yang tidak steril.
Pada aseptik bedah, suatu area atau objek dinyatakan terkontaminasi
jika disentuh oleh setiap objek yang tidak steril. Teknik steril sering
dilakukan dalam berbagai tindakan keperawatan di ruang keperawatan,
seperti dalam perawatan luka operasi (mengganti balutan).
Keefektifan tindakan pencegahan luka operasi bergantung pada
motivasi perawat dalam menggunakan teknik aseptik. Perawat yang
bekerja dengan lingkungan yang steril atau dengan peralatan yang seteril
harus mengerti bahwa kegagalan sekecil apapun dalam teknik ini
mengakibatkan kontaminasi yang akan membuat pasien beresiko
terkena infeksi luka operasi yang dapat menghambat proses
penyembuhan ( Schaffer dkk, 2004).
Kulit yang sehat dan utuh serta memberan mukosa dapat
memberikan suatu barier yang efektif terhadap mikroorganisme, tetapi
jaringan yang di bawahnya merupakan media yang sangat baik untuk
pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu saat jaringan bawah kulit
terbuka akibat luka karena prosedur operasi, maka untuk melindungi
daerah tersebut dari mikroorganisme harus digunakan teknik steril.
Adapun prosedur-prosedur steril perawatan luka menurut Ellis, et al
(1999) adalah sebagai berikut:
a. Menata area steril
1) Mencuci tangan.
2) Pililah permukaan yang datar, kuat dan kering untuk
menyiapkan alat steril, dengan luas kurang lebih 12x12 inci.
3) Sebelum dilakukan sterilisasi, alat-alat dibungkus rapat agar
tidak terkontaminasi , sehingga saat dibuka alat-alat yang
sudah steril tersebut tidak akan terkontaminasi.
4) Apabila ingin menambah alat - alat yang steril, tempatkan ke
sisi area yang steril.
b. Membuka bungkusan steril.
1) Mencuci tangan.
2) Ketika membuka bungkusan steril, jangan sampai
menyentuh objek yang steril atau areah yang steril.
3) Peganglah hanya pada sisi luar pembungkusnya.
4) Jangan membiyarkan sesuatu yang tidak steril menyentuh isi
bungkusan steril.
c. Menambahkan alat-alat ke dalam area steril
Ketika menambahkan alat-alat steril ke area steril, hal yang
harus diperhatikan adalah menjaga agar tidak terjadi kontaminasi.
1) Mencuci tangan.
2) Membuka pembungkus tanpa menyentu area steril.
3) Tempatkan alat-alat tersebut pada bidang yang steril dan jaga
agar tangan tidak menyentu bidang steril. Bila alat-alat
tersebut besar atau berat atau secara hati-hati pada bidang
steril atau bisa menggunakan korentang steril.
4) Jaga agar tangan tidak menyentu bidang steril.
d. Menambahkan cairan ke dalam area steril
1) Mencuci tangan.
2) Tuangkan sedikit cairan, misalnya betadin kedalam tempat
pembuangan sebelum menuangkannya kedalam wadah steril.
3) Tuangkan cairan ke dalam wadah steril, tuangkan kira-kira
6-8 inchi di atasnya.
4) Tuangkan secara perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya
percikan.
5) Jagalah agar tidak bersentuhan langsung dengan area steril.
e. Menggunakan sarung tangan steril
1) Cuci tangan secara menyeluruh.
2) Buka pembungkus kemasan bagian luar dengan hati-hati
menyibakkannya ke samping.
3) Pegang kemasan bagian dalam dan letak pada permukaan
yang datar dan bersih tepat diatas ketinggian pergelangan
tangan. Buka kemasan, pertahankan sarung tangan pada
permukaan dalam pembungkus.
4) Identifikasi tangan kanan dan kiri. Setiap sarung tangan
mempunyai manset kurang lebih 5 cm, kenakan sarung
tangan pada tangan dominan terlebih dahulu.
5) Dengan ibu jari dan 2 jari lainnya dari tangan non dominan,
pegang tepi manset sarung tangan untuk tangan dominan.
Sentuh hanya pada permukaan dalam sarung tangan.
6) Dengan hati-hati tarik sarung tangan pada tangan dominan,
lebarkan manset dan pastikan bahwa manset tidak
menggulung pada pergelangan tangan. Pastikan juga bahwa
ibu jari dan jari-jari pada posisi yang tepat.
7) Dengan tangan dominan yang telah menggunakan sarung
tangan, masukan jari-jari tangan manset sarung tangan kedua.
8) Dengan hati-hati tarik sarung tangan kedua pada tangan non
dominan. Jangan biyarkan jari-jari dan ibu jari sarung tangan
dominan menyentuh bagian tangan non dominan yang
terbuka. Pertahankan ibujari tangan non dominan abduksi ke
belakang.
9) Manakala sarung tangan kedua telah terpasang, cakupkan
kedua tangan anda. Manset biasanya terlepas setelah
pemasangan. Pastikan untuk hanya menyentuh bagian yang
steril.
f. Merawat luka
Menurut David dalam Dwi Handayani (2003), perawatan
luka paska bedah adalah tanggung jawab perawat bangsal. Adapun
tujuan perawatan luka menurut Smith, et al dalam Wina Jivika P
(2007). adalah sebagai berikut :
1) Mengangkat jaringan mati, sehingga mendukung proses
penyembuhan luka.
2) Mencegah terjadinya infeksi pada luka.
3) Absorbsi cairan eksudat.
4) Mempertahankan kelembaban daerah sekitar luka.
5) Melindungi luka dari kerusakan lebih lanjut.
6) Melindungi daerah sekitar luka dari infeksi dan trauma.
Menurut Ignatavicius, et al dalam Dwi Handayani (2003),
perawatan luka paska bedah terdiri dari mengganti balutan,
merawat balutan, membersihkan luka dan perawatan drain.
Perawatan luka paska bedah yang baik memberikan
penyembuhan luka yang baik. Dalam hal ini yang terpenting
adalah penggunaan pembalut. Pembalutan pada luka paska bedah
berfungsi untuk memberikan lingkungan yang sesuai untuk
penyembuhan luka, untuk menyerap drainase, untuk membebat
dan mengimobilisasi luka, untuk melindungi luka dan jaringan
epitel baru dari cedera mekanik, untuk melindungi luka dari
kontaminasi bakteri dan pengotoran oleh faeses, muntahan dan
urine, untuk meningkatkan hemostatis, seperti pada balutan
tekanan dan untuk memberikan kenyamanan mental dan fisik bagi
pasien.
3. Teknik aseptik dalam perawatan luka operasi
Menurut David dalam Dwi Handayani (2003) dalam pelayanan
keperawatan, perawatan luka operasi adalah tanggung jawab perawat.
Berikut adalah tatacara perawatan luka operasi dengan teknik aseptik.
a. Siapkan peralatan
b. Cek pembalut pasien
c. Pasang peralatan
d. Jelaskan prosedur tindakan pada pasien
e. Cuci tangan dengan efektif, sesuai prosedur cuci tangan menurut
WHO.
f. Pakai sarung tangan steril
1) Ambil sarung tangan secara hati-hati dari wadahnya dengan
menggunakan korentang.
2) Pegang sarung tangan pertama pada bagian dalam.
3) Masukan tangan yang tidak memegang sarung tangan
dengan hati-hati tanpa menyentuh bagian luar sarung tangan.
4) Ambil sarung tangan kedua dengan tangan yang sudah
terpasang sarung tangan pada bagian luar pada lipatan.
5) Masukan tangan yang kedua tanpa terkontaminasi.
6) Atur sarung tangan yang sudah terpasang agar pas ditangan.
7) Menjaga tangan yang sudah terpasang sarung tangan steril
agar tidak terkontaminasi, dan selalu berada di atas pinggang.
g. Lepaskan plester menggunakan pinset.
h. Buang pembalut kotor pada tempat yang telah disediakan.
i. Perhatikan luka dengan teliti untuk menandai terhadap infeksi dan
penyembuhan.
j. Buka bak instrument.
k. Siapkan larutan pembersih.
l. Jika bekerja sendiri, letakan sarung tangan steril pada tangan yang
dominan, biarkan tangan yang lain bebas untuk bekerja dengan
peralatan yang tidak steril.
m. Bersihkan luka. Ketika membersihkan area, selalu mulai pada
daerah terbersih dan kerjakan menjauh dari area tersebut.
n. Jika ada drain, bersihkan dibawah saluran dan sekitar lokasi
dengan lapisan kasa 4 x 4 Cm dan larutan pembersih.
o. Letakan beberapa kain kasa di bawah drain.
p. Letakan beberapa kasa betadin 4 x 4 Cm di atas luka dan plester.
q. Buang sarung tangan.
r. Tutup kantong plastik dan buang pada kantong isolasi bahan
s. Cuci tangan dengan efektif.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Steralisasi adalah suatu cara untuk membebaskan sesuatu
(alat,bahan,media, dan lain-lain) dari mikroorganisme yang tidak diharapkan
kehadirannya baik yang patogen maupun yang apatogen. Atau bisa juga
dikatakan sebagai proses untuk membebaskan suatu benda dari semua
mikroorganisme, baik bentuk vegetative maupun bentuk spora. Pada
prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik,
fisik dan kimiawi
Kesalahan dalam melaksanakan proses sterilisaasi dapat berakibat
fatal,karena akan terjadi penularan penyakit dari satu individu ke individu
yang lain atau bahkan terjadi infeksi yang akut terhadap pejamu rentan.
B. SARAN
Sebelum melakukan sterilisasi dengan kimiawi perlu dikaji terlebih
dahulu benda yang akan di sterilisasi. Setelah itu pilih bahan yang efektif
sesuai dengan tujuan sterilisasi. Saat memegang alat sebaiknya menggunakan
handscound, agar dipastikan alat benar-benar steril.
DAFTAR PUSTAKA

Iman, M. S. 2010. Sterilisasi Dan Pembuatan Media Mikroba. Program Studi


Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat.
Banjarbaru.
Jawetz, J. Melnick, EA, Adeberg (1986), Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan,
EGC, Jakarta.
Azis, alimul H.2006.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia.Jakarta:Salemba
Medika
Ester, Monica.2005.Pedoman Perawatan Pasien.Jakarta:EGC
Pelczar,M.J, E.C.S. Chan. 1988. “Dasar-Dasar Mikrobiologi”. Jilid 2. Jakarta :
Universitas Indonesia (UI- Press).
Anonim, 1995 Farmakope Indonesia, IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia,
Jakarta.
Fardiaz, Srikandi. 1992. ikrobiologi Pangan. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. PAU Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.
Lay, B. W. dan Hastowo. 1982.Mikrobiologi. Rajawali Press Jakarta.
Hadioetomo, R.S. 1985. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. PT.Gramedia.Jakarta.
Volk, W.A. dan Wheeler, M.F. 1988. Mikrobiologi Dasar. Penerbit Erlangga.
Jakarta