Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

“Ca Mammae”

Di susun oleh :

Nama : Shizuoka Aryoni


Nim : 820163092
Prodi : S1 - Ilmu Keperawatan
Kelas : 3-A
Semester : 6 (enam)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS


TAHUN AJARAN 2018/2019
Jln. Ganesha I, Purwosari, Kudus 59316, Telp/Fax. +62 291 437 218
Website: www.umkudus.ac.id Email: sekretariat@umkudus
LAPORAN PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN

Ca mammae merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan


payudara. Kanker bisa tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan
lemak, maupun jaringan ikat pada payudara ( Wijaya, 2005).

Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara


yang terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk
benjolan di payudara. Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias
bermestastase pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bias terjadi pada
kelenjar getah bening ketiak ataupun diatas tulang belikat. Seain itu sel-sel
kanker bias bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik
T, 2005)

Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya


onkogen yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan
payudara (Karsono, 2006).

B. ETIOLOGI

Sebab-sebab keganasan pada mammae masih belum diketahui secara


pasti (Price & Wilson, 1995), namun ada beberapa teori yang menjelaskan
tentang penyebab terjadinya Ca mammae, yaitu:

Mekanisme hormonal

Steroid endogen (estradiol & progesterone) apabila mengalami perubahan


dalam lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi
ca mammae (Smeltzer & Bare, 2002:

1589).
Virus
Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya massa
abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.

Genetik

Ca mammae yang bersifat herediter dapat terjadi karena adanya “linkage


genetic” autosomal dominan (Reeder, Martin, 1997). Penelitian tentang
biomolekuler kanker menyatakan delesi kromosom 17 mempunyai
peranan penting untuk terjadinya transformasi malignan (Reeder, Martin,
1997). Mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada klien
dengan riwayat keluarga kanker mammae dan ovarium (Robbin & kumar,
1995) serta mutasi gen supresor tumor p 53 (Murray, 2002).

Defisiensi imun
Defesiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan produksi
interferon yang berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan
jaringan kanker dan meningkatkan aktivitas antitumor .

Etiologi ca mamae tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor


resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian ca mamae, yaitu :
a. Tinggi melebihi 170 cm
b. Masa reproduksi yang relatif panjang.
c. Faktor Genetik
d. Ca Payudara yang terdahulu
e. Keluarga

Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi keturunan ini,


dikuatkan bila 3 anggota keluarga terkena carsinoma mammae.

f. Kelainan payudara ( benigna )


g. Kelainan fibrokistik ( benigna ) terutama pada periode fertil, telah
ditunjukkan bahwa wanita yang menderita / pernah menderita yang
porliferatif sedikit meningkat.

a. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain


b. Faktor endokrin dan reproduksi
c. Graviditas matur kurang dari 20 tahun dan graviditas lebih dari 30
tahun, Menarche kurang dari 12 tahun
e. Obat anti konseptiva oral

f. Penggunaan pil anti konsepsi jangka panjang lebih dari 12 tahun


mempunyai resiko lebih besar untuk terkena kanker.

C. MANIFESTASI KLINIS

Gejala umum Ca mamae adalah :

a. Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara


b. Payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena
mulai timbul pembengkakan.
c. Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar puting
susu, mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada payudara.
d. Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan , panas.
e. Ada cairan yang keluar dari puting susu.
f. Ada perubahan pada puting susu : gatal, ada rasa seperti terbakar, erosi dan
terjadi retraksi
g. Ada rasa sakit.
h. Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium
darah meningkat.
i. Ada pembengkakan didaerah lengan.
j. Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara.
k. Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar.
l. Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah
diobati, serta puting susu seperti koreng atau eksim dan tertarik ke dalam.
m. Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d'

Orange).

n. Benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah berdarah.


o. Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat tubuh lain.

D. PATOFISIOLOGI

Carsinoma mammae berasal dari jaringan epitel dan paling sering


terjadi pada sistem duktal, mula – mula terjadi hiperplasia sel – sel dengan
perkembangan sel – sel atipik. Sel - sel ini akan berlanjut menjadi carsinoma
insitu dan menginvasi stroma. Carsinoma membutuhkan waktu 7 tahun untuk
bertumbuh dari sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar untuk
dapat diraba ( kira – kira berdiameter 1 cm). Pada ukuran itu kira – kira
seperempat dari carsinoma mammae telah bermetastasis. Carsinoma mammae
bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya dan juga
melalui saluran limfe dan aliran darah ( Price, Sylvia, Wilson Lorrairee M,
1995 )

1. Komplikasi

Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke


paru,pleura, tulang dan hati. Selain itu Komplikasi Ca Mammae yaitu:

a. metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe dan pembuluh


darahkapiler ( penyebaran limfogen dan hematogen0, penyebarab
hematogen dan limfogen dapat mengenai hati, paru, tulang, sum-sum
tulang ,otak ,syaraf.
b. gangguan neuro varkuler
c. Faktor patologi
d. Fibrosis payudara
e. kematian

E. PATHWAY
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan :

1. Pemeriksaan payudara sendiri

2. Pemeriksaan payudara secara klinis


3.
Pemeriksaan labortorium meliputi:
Morfologi sel darah, LED, Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma,
Pemeriksaan sitologis
4. Test diagnostik lain:

Non invasive: Mamografi, Ro thorak, USG, MRI, PET


Invasif : Biopsi, Aspirasi biopsy (FNAB), True cut / Care biopsy, Incisi
biopsy, Eksisi biopsy

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Pembedahan

a. Mastectomy radikal yang dimodifikasi

Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot


pectoralis mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun
otot pectoralis minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.

b. Mastectomy total

Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot
pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot
dinding dada tidak diangkat.

c. Lumpectomy/tumor

Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut


diangkat. Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara
normal yang berada di sekitar tumor tersebut.

d. Wide excision/mastektomy parsial.


Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.

e. Ouadranectomy.

Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot
pectoralis mayor.

2. Prognosis

Banyak faktor yang mempengaruhi prognosis, tapi yang jelas


berpengaruh adalah kondisi kelenjar limfe dan stadium. Survival 5 tahun pasca
operasi pada kasus kelenjar limfe negatif dan positif adalah masing-masing
80% dan 59%, survival 5 tahun untuk stadium 0-I, II, dan III adalah masing-
masing 92%, 73%, dan 47%. Sedangkan pada yang non-operabel, survival 5
tahun kebanyakan dilaporkan dalam batas 20%. Oleh karena itu dalam kondisi
dewasa ini untuk meningkatkan angka kesembuhan kanker mammae kuncinya
adalah penemuan dini, diagnosis dini, terapi dini dan tepat.
H. PENGKAJIAN

Data fokus yang perlu dikaji:

1. Pengkajian Keperawatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang

Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang
menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak dan
nyeri.

2) Riwayat Kesehatan Dahulu


Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae, kebiasaan
makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada sehingga pernah
mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun mengidap penyakit kanker
lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga

Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada kemungkinan klien


mengalami ca mammae atau pun keluarga klien pernah mengidap penyakit kanker
lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.

4) Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat
dengan tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.
b. Rambut : biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu
berminyak.
c. Mata : biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata
anemis, tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
d. Telinga : normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda
infeksi dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
e. Hidung : bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
f. Mulut : mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
g. Leher : biasanya terjadi pembesaran KGB.
h. Dada : adanya kelainan kulit berupa peau d’orange, dumpling, ulserasi
atau tanda-tanda radang.
i. Hepar : biasanya tidak ada pembesaran hepar.
j. Ekstremitas: biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.

5. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon

a. Persepsi dan Manajemen


Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada
payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.
b. Nutrisi – Metabolik
Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan
terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi makanan
mengandung MSG.
c. Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena, nyeri
saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.
d. Aktivitas dan Latihan
Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien terganggu
karena terjadi kelemahan dan nyeri.
e. Kognitif dan Persepsi
Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga kemungkinan ada
komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.
f. Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.
g. Persepsi dan Konsep Diri
Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan akibat
operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan kehilangan haknya
sebagai wanita normal.
h. Peran dan Hubungan
Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam melakukan
perannya dalam berinteraksi social.
i. Reproduksi dan Seksual
Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat
kepuasan.
j. Koping dan Toleransi Stress
Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputus asaan.
k. Nilai dan Keyakinan
Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan lapang
dada.
2. Pemeriksaan Diagnostik
a. Scan (mis, MRI, CT, gallium) dan ultrasound. Dilakukan untuk diagnostik,
identifikasi metastatik dan evaluasi.
b. biopsi : untuk mendiagnosis adanya BRCA1 dan BRCA2
c. Penanda tumor
d. Mammografi
e. sinar X dada

I. DIAGNOSA

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien :

1) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembedahan, mis;


anoreksia
2) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses pembedahan
3) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pengangkatan bedah jaringan
4) Ansietas berhubungan dengan diagnosa, pengobatan, dan prognosanya.
5) Kurang pengetahuan tentang Kanker mammae berhubungan dengan kurang
pemajanan informasi
6) Gangguan body image berhubungan dengan kehilangan bagian dan fungsi tubuh.
7) Potensial disfungsi seksual berhubungan dengan kehilangan bagian
tubuh,perubahan dalam citra diri.

J. INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Tujuan Intervensi


Keperawatan
Nyeri akut b/d agen Setelah dilakukan Manajemen nyeri
injuri (fisik, kelainan tindakan 1. Lakukan pengkajian
muskuloskeletal dan keperawatan selama nyeri
system syaraf 3 x 24 jam nyeri secarakomprehensif
(lokasi, karateristik,
berkurang / hilang
Vaskuler durasi, frekuensi,
dengan kriteria : kualitas, dan faktor
Batasan presipitasi).
Tingkat nyeri
Karakteristik 2. Observasi reaksi non
1. Melaporkan nyeri verbal dari
Verbal berkurang / hilang ketidaknyamanan.
2. Frekuensi nyeri 3. Gunakan teknik
1. Menarik napas berkurang / hilang komunikasi terapetik
panjang dan 3. Lama nyeri untuk mengetahui
merinti berkurang pengalaman nyeri klien.
2. Mengeluh nyeri 4. Ekspresi oral 4. Evaluasi pengalaman
Motorik berkurang / hilang nyeri masa lampau.
5. Ketegangan otot 5. Evaluasi bersama klien
1. Menyeringaikan dan tim kesehatan lain
berkurang / hilang
wajah tentang ketidak efektifan
6. Dapat istirahat
2. Langkah yang kontrol nyeri masa
7. Skala nyeri
terseok-seok lampau.
berkurang /
3. Postur yang kaku/ 6. Bantu klien dan keluarga
menurun
tidak stabil untuk mencari dan
Kontrol nyeri
4. Gerakan yang menemukan dukungan.
amat lambat atau 1. Mengenal faktor- 7. Kontrol lingkungan
terpaksa faktor penyebab yang dapat
Respon autonom 2. Mengenal onset mempengaruhi nyeri
nyeri (suhu ruangan,
- Perubahan vital pencahayaan, dan
3. Jarang / tidak
sign kebisingan)
pernah
menggunakan 8. Kurangi faktor
analgetik presipitasi nyeri.
4. Jarang / tidak 9. Pilih dan lakukan
pernah penanganan nyeri
melaporkan nyeri (farmokologi, non
kepada tim farmakologi dan
kesehatan. interpersonal)
5. Nyeri terkontrol 10. Kaji tipe dan sumber
Tingkat nyeri untuk menentukan
kenyamanan intervensi.
11. Ajarkan tentang teknik
1. Klien melaporkan non farmakologi.
kebutuhan 12. Berikan analgetik untuk
istirahat tidur mengurangi nyeri.
tercukupi 13. Evaluasi keefektifan
2. Melaporkan kontrol nyeri
kondisi fisik 14. Tingkatkan istirahat
baikMelaporkan 15. Kolaborasi dengan
kondisi psikis dokter jika ada keluhan
baik dan tindakan nyeri tidak
berhasil
16. Monitor penerimaan
klien tentang manajemen
nyeri.
Administrasi analgeik

1. Tentukan lokasi,
karateristik kualitas, dan
derajat nyeri sebagai
pemberian obat
2. Cek riwayat alergi
3. Pilih analgenik yang
diperlukan atau
kombinasi dari analgetik
ketika pemberian lebih
dari satu.
4. Tentukan pilihan
analgesik tergantung tipe
dan beratnya nyeri.
5. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
6. Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat
nyeri hebat.
7. Evaluasi efektifitas
analgesik tanda dan
gejala (efek sampingan).
Hambatan mobilitas Setelah dilakukan 1. Koreksi tingkat
fisik b.d nyeri, tindakan kemampuan mobilisasi
kerusakan keperawatan selama dengan sekala 0-4
0: Klien tidak tergantung
muskuloskeletal, 3 x 24 jam klien
pada orang lain
kekakuan sendi atau mampu mencapai
1: Klien butuh sedikit
kontraktur. mobilitas fisik
bantuan
dengan kriteria :
Batasan 2: Klien butuh bantuan
karakteristik Mobiliti level sederhan
3 : Klien butuh bantuan
1. Postur tubuh kaku 1. Klien dapat banyak
tidak stabil. melakukan
4 :Klien sangat
2. Jalan terseok- mobilitas secara
seok bertahap dengan tergantung pada
3. Gerak lambat tanpa merasakan pemberian pelayanan
4. Membatasi nyeri
perubahan gerak 2. Penampilan 2. Atur posisi klien
yang mendadak seimbang 3. Bantu klien melakukan
atau cepat 3. Menggerakkan perubahan gerak.
otot dan sendi 4. Observasi / kaji terus
4. Mampu pindah kemampuan gerak
tempat tanpa motorik, keseimbangan
bantuan 5. Ukur tanda-tanda vital
5. Berjalan tanpa sebelum dan sesudah
bantuan melakukan latihan.
6. Anjurkan keluarga klien
untuk melatih dan
memberi motivasi.
7. Kolaborasi dengan tim
kesehatan lain
(fisioterapi untuk
pemasangan korset)
8. Buat posisi seluruh
persendian dalam letak
anatomis dan nyaman
dengan memberikan
penyangga pada lekukan
lekukan sendi serta
pastikan posisi
punggung lurus.

Gangguan pola tidur Setelah dilakukan Peningkatan tidur/ sleep


b.d nyeri, tidak tindakan enhancement
nyaman keperawatan selama 1. Kaji pola tidur / pola
3 x 24 jam klien aktivitas
Batasan dapat terpenuhi 2. Anjurkan klien tidur
karakteristik kebutuhan tidurnya secara teratur
dengan kriteria : 3. Jelaskan tentang
1. Pasien menahan pentingnya tidur yang
sa-kit (merintih, Tidur cukup selama sakit dan
me-nyeringai) a. Jumlah jam tidur terapi.
2. Pasien cukup 4. Monitor pola tidur dan
mengungkapkan b. Pola tidur normal catat keadaan fisik,
tidak bisa tidur c. Kualitas tidur psykososial yang
karena nyeri cukup mengganggu tidur
d. Tidur secara 5. Diskusikan pada klien
teratur dan keluarga tentang
e. Tidak sering tehnik peningkatan pola
terbangun tidur
f. Tanda vital Manajemen lingkungan
dalam batas
1. Batasi pengunjung
normal
Rest 2. Jaga lingkungan dari
a. Istirahat Cukup bising
b. Kualitas istirahat 3. Tidak melakukan
baik tindakan keperawatan
c. Istirahat fisik pada saat klien tidur
cukup
d. Istirahat psikis Anxiety reduction
cukup 1. Jelaskan semua prosedur
Anxiety control termasuk pera-saan yang
a. Tidur adekuat mungkin dialami selama
b. Tidak ada men-jalani prosedur
manifestasi fisik 2. Berikan objek yang
c. Tidak ada dapat memberikan rasa
manifestasi aman
perilaku 3. Berbicara dengan pelan
d. Mencari dan tenang
informasi untuk 4. Membina hubungan
mengurangi saling percaya
cemas 5. Dengarkan klien dengan
e. Menggunakan penuh perhatian
teknik 6. Ciptakan suasana saling
relaksasi untuk percaya
mengurangi 7. Dorong orang tua
cemas mengungkapkan pera-
f. Berinteraksi saan, persepsi dan cemas
sosial secara verbal
8. Berikan peralatan /
aktivitas yang
menghibur untuk
mengurangi ketegangan
9. Anjurkan untuk
menggunakan teknik
relaksasi
10. Berikan lingkungan yang
tenang
11. Batasi pengunjung
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius

Marilyan, Doenges E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatyan px) Jakarta : EGC

Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions Classification (NIC). St.
Louis :Mosby Year-Book.

Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :Mosby Year-
Book

Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 10.Jakarta:EGC

Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4.
Jakarta. EGC

Sjamsulhidayat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC : Jakarta.

Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah :
Brunner Suddarth, Vol. 2. EGC : Jakarta.

Sjamsuhidajat. R (1997), Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta

Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition &


Classification 2009-2011, NANDA.Singapura:Markono print Media Pte Ltd