Anda di halaman 1dari 7

Pentingnya Imunisasi bagi Bayi dan Balita di Indonesia

Anastasya Putri Liara


102018144 – C
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, 11510
Email: anastasya.2018fk144@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak:
Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah penularan penyakit
dan sangat berperan dalam menanggulangi masalah kesehatan. Dengan demikian, bayi dan
balita tidak mudah tertular infeksi, tidak mudah menderita sakit, pencegahan terjadinya wabah
dan mencegah kemungkinan terjadinya kematian karena suatu penyakit. Pentingnya imunisasi
didasarkan pada pemikiran paradigma sehat bahwa upaya promotif dan preventif merupakan
hal terpenting dalam peningkatan status kesehatan. Program imunisasi yang dilakukan oleh
pemerintah secara nasional adalah imunisasi dasar (BCG, Polio, DPT, Hepatitis B, dan
Campak) yang diberikan kepada bayi dan balita. Kegiatan imunisasi merupakan upaya yang
paling cost effective dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yang diharapkan akan berdampak pada penurunan
angka kematian bayi dan balita. Universal Child Immunization (UCI) Desa/Kelurahan secara
nasional setiap tahunnya selalu tidak mencapai target.
Kata kunci: Imunisasi, penyakit, kematian, bayi, balita

Abstract:
Immunization is one of the effective ways to prevent transmission of the disease and
was instrumental in tackling health problems. Thus, infants and toddlers are not easy to get an
infection, it is not easy to illness, prevention of the outbreak and prevent the possibility of death
due to an illness. The importance of immunization is based on the idea that a healthy paradigm
promotive and preventive efforts is the cornerstone of improved health status. The
immunization program conducted by the national government is the primary immunization
(BCG, Polio, DPT, Hepatitis B and Measles) given to infants and toddlers. Immunization
activities is the most cost-effective efforts to reduce morbidity and mortality due to diseases
preventable by immunization (PD3I) that are expected to impact on the mortality rate of infants
and toddlers. Universal Child Immunization (UCI) Village / Sub nationally every year has not
hit the target.
Keywords: Immunization, disease, death, infant, toddler

Pendahuluan
Masalah kesehatan pada anak menjadi salah satu permasalahan yang utama yang terjadi
di Indonesia.1 Banyak masyarakat yang masih meremehkan tentang pentingnya imunisasi
untuk bayi dan balita, sehingga banyak bayi dan balita yang masih belum mendapatkan
pelayanan imunisasi. Imunisasi merupakan pelayanan kesehatan masyarakat yang telah
diselenggrakan di Indonesia. Di Indonesia program imunisasi ini sudah memperoleh Universal
Child Imunization (UCI) di akhir tahun 1990.2 Untuk mencegah penularan penyakit dan
mengatasi permasalahan kesehatan, imunisasi menjadi salah satu cara yang sangat ampuh.
Dengan melakukan imunisasi, anak tidak rentan tertular infeksi, tidak rentan terkena penyakit,
menjegah terjadinya kematian karna disebabkan oleh suatu penyakit. Dasar pentingnya
imunisasi pada anak berasal dari paradigma sehat karna didalam paradigma sehat terdapat
upaya dari pemikiran promotip dan preventip yang merupakan hal penting untuk meningkatkan
status kesehatan. Dengan adanya kegiatan imunisasi juga upaya hemat biaya dalam hal
menurunkan tingkat dampak penyakit dan kematian pada bayi dan balita.

Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata “imun” yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi
merupakan pemberian kekebalan tubuh untuk suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu
kedalam tubuh agar tubuh dapat bertahan terhadap penyakit yang sedang menular atau
berbahaya bagi diri seseorang.3
Imunisasi ini adalah program yang digunakan untuk mengurangi tingkat kesakitan,
kematian, dan kecacatan bayi maupun balita. Program ini dilakukan untuk mencegah berbagai
penyakit dengan imunisasi seperti difteri, tetanus, TBC, pertussis, hepatitis B, campak, dan
polio.4
Imunisasi juga merupakan suatu upaya untuk memperkuat kekebalan tubuh secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga tidak akan menimbulkan penyakit. Sehingga orang tua dapat
berperan dalam upaya untuk melengkapi kebutuhan dasar imunisasi dan anak tersebut
terhindari dari Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Program yang sudah
terbukti keefektifan akibat PD3I adalah Imunisasi.5
Tujuan Imunisasi
Tujuan dari diadakannya program imunisasi ini adalah:
1. Dengan melakukan pencegahan melalui imunisasi dapat menurunkan angka kematian
dan kesakitan. Penyakit-penyakit yang sedang melanda pada saat ini adalah tetanus,
disentri, tuberculosis, polio, batuk rejan (pertusis), dan cacar (measles).3
2. Untuk menghilangkan atau mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang,
sekelompok masyarakat (populasi), maupun dari dunia seperti imunisasi cacar
variola.6
3. WHO (World Health Organization) mengatakan, dengan melakukan imunisasi akan
menurunkan angka terjadinya kematian dan penyakit di Indonesia.7

Jenis-jenis Imunisasi
1. Imunisasi Aktif (Active Immunization)
Imunisasi aktif adalah imunisasi yang bertujuan untuk merangsang tubuh
sehingga mampu memproduksi anti bodi senditi dengan cara memasukkan virus yang
sudah dimatikan atau dilemahkan ke dalam tubuh.
Jenis Imunisasi aktif untuk anak adalah:
a. BCG, mencegah TBC
b. DPT, mencegah penyakit tetanus, difteri, dan pertussis
c. HB, mencegah hepatitis B
d. Polio, mencegah penyakit poliomyelitis
e. Campak, mencegah penyakit campak
Selain untuk anak, imunisasi aktif juga diberikan kepada ibu hamil. Jenis
imunisasi tersebut adalah tetanus toxoid untuk mencegah penyakit tetanus yang terjadi
pada bayi yang akan dilahirkan.3
2. Imunisasi Pasif (Pasif Immunization)
Imunisasi pasif merupakan antibody yang diberikan kepada resipien. Antibody
yang diberikan bertujuan untuk pencegahan maupun pengobatan terhadap infeksi, baik
untuk infeksi bakteri atau virus. Selama antibody masih aktif didalam tubuh, proteksi
akan bersifat sementara dan perlindungan yang didalam tubuh akan sangat singkat
karena memori terhadap pathogen atau antigen spesifik.6
Kelengkapan Imunisasi Dasar
Dengan imunisasi (PD3I) penyakit-penyakit yang dapat dicegah seperti TBC, Campak,
Difteri, Hepatitis B, pertussis, polio, dan tetanus. Ideal untuk pemberian imunisasi pada bayi
harus mendapatkan imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4
kali, HB 3 kali, dan Campak 1 kali. Untuk menilai kelengkapan status imunisasi dasar lengkap
bagi bayi dapat dilihat dari cakupan imunisasi campak, karena imunisasi campak merupakan
imunisasi yang terakhir yang diberikan pada bayi dengan harapan imunisasi sebelumnya sudah
diberikan dengan lengkap.4
a. Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Imunisasi ini bertujuan untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit TBC
yang berat. Karena, terjadinya penyakit TBC yang primer atau ringan dapat terjadi
walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG. Imunisasi ini berguna sebagai bentuk
pencegahan TBC berat, seperti TBC pada selaput otak, TBC miller pada seluruh lapangan
paru, dan TBC tulang.8
Imunisasi BCG merupakan vaksin beku kering yang mengandung Mycrobacterium
bovis hidup yang telah dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah satu kali
dan waktu pemberian pada umur 0-11 bulan, namun pada umumnya diberikan pada bayi
umur 2 atau 3 bulan.9
Pemberian vaksin ini dengan disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan
atas dengan dosis pemberian 0,05 ml. Efek samping yang dapat timbul adalah ulkus pada
darah bekas suntikan, lymphadenitis regionalis, dan reaksi panas.9
b. Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus)
Imunisasi ini bertujuan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus, pertusis (batuk
rejan). Imunisasi DPT ini merupakan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang
telah dihilangkan sifat racunnya, tetapi masih dapat merangsang pembentukan zat anti
(toksoid).8
Frekuensi pemberian imunisasi ini sebanyak 3 kali dengan satu dosis anak adalah
0,5 ml.9 Waktu pemberian imunisasi DPT antara umur 2-11 bulan dengan interval 4
minggu.8 Pemberian vaksin ini dengan disuntikkan secara intramuscular pada anterolateral
paha atas. Efek samping dari imunisasi DPT ini dapat menimbulkan reaksi local sementara
maupun reaksi berat. Reaksi lokal sementara, seperti bengkak, nyeri, dan kemerahan pada
lokasi bekas suntikkan yang kadang-kadang disertai dengan demam dalam beberapa kasus.
Reaksi berat, seperti demam tinggi, irritabilitas, kesadaran menurun, terjadi kejang,
encephalopathy dan shock.9
c. Imunisasi Polio
Imunisasi polio bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang
dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak. Kandungan vaksin ini adalah suspensi virus
yang sudah dilemahkan.8
Frekuensi pemberian imunisasi polio adalah empat kali.8 Waktu pemberian
imunisasi polio pada umur 0-11 bulan dengan interval pemberian 4 minggu.9 Pemberian
imunisasi ini melalui oral (mulut). Sangat jarang terjadi reaksi sesudah imunisasi polio
oral.8 Setelah mendapat vaksin polio oral bayi atau balita boleh makan dan minum seperti
biasa. Apabila muntah dalam 30 menit segera diberi dosis ulang dan orangtua tidak perlu
melakukan tindakan apa pun.9
d. Imunisasi Campak
Imunisasi campak bertujuan untuk pemberian kekebalan aktif guna mencegah
terjadinya penyakit campak pada anak, karena penyakit ini sangat menular. Kandungan
vaksin ini adalah virus yang dilemahkan.8
Frekuensi pemberian imunisasi campak adalah satu kali.8 Waktu pemberian
imunisasi campak pada umur 9-11 bulan dengan dosis 0,5 ml. Pemberian imunisasi ini
dengan disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas atau anterolateral paha. Efek
samping imunisasi campak menyebabkan hingga 15% pasien dapat mengalami demam
ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi.9
e. Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis yang
kandungannya adalah HbsAg dalam bentuk cair. Kandungan vaksin ini adalah virus
rekombinan dan bersifat non-infecious.8
Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis sebanyak tiga kali dengan interval satu
bulan dan lima bulan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah HB PID. Waktu pemberian imunisasi
hepatitis B pada umur 0-11 bulan. Pemberian imunisasi ini secara intramuskuler ,
sebaiknya pada anterolateral paha. Efek samping yang dapat timbul dari imunisasi ini
adalah reaksi lokal, seperti rasa sakit, kemerahan, dan pembengkakan di sekitar tempat
penyuntikan yang biasanya hilang setelah 2 hari.9
Tempat Penyelenggaraan Pelayanan Imunisasi Wajib
Tempat pelayanan imunisasi wajib dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Pelayanan imunisasi di dalam gedung (komponen statis), seperti puskesmas, puskesmas
pembantu, rumah sakit, bidan praktik, dokter praktik.
2. Pelayanan imunisasi di luar gedung (komponen dinamis), seperti posyandu, di sekolah
atau melalui kunjungan rumah.10

Kesimpulan
Imunisasi merupakan salah satu tindakan preventif terpenting untuk menjaga kesehatan
anak-anak guna menekan angka kematian pada bayi ataupun balita. Dengan adanya imunisasi
bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh dengan cara memasukkan virus yang sudah
dilemahkan yang diharapkan tubuh dapat menghasilkan zat anti sebagai proteksi untuk
melawan bakteri atau bibit penyakit yang akan menyerang tubuh.
Masyarakat perlu untuk lebih memahami mengenai imunisasi dasar khususnya bagi
para orangtua demi kesehatan anaknya. Imunisasi dasar yang perlu diberikan kepada bayi
adalah imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak, dan imunisasi Hepatitis B. Itu semua bisa kita
dapatkan di posyandu, puskesmas, rumah sakit, dan tempat pelayanan kesehatan masyarakat
lainnya.
Oleh karena itu, melalui tulisan ini diharapakan dapat menambah pengetahuan
masyarakat dan orangtua agar dapat memperhatikan kesehatan anggota keluarganya terutama
kesehatan anak dengan memberikan imunisasi sedini mungkin di tempat pelayanan kesehatan
setempat demi meningkatkan status kesehatan.
Daftar Pustaka

1. WHO. Prgram Kesehatan Anak dan Remaja. (2002) http://www.who.or.id. Diakses pada
tanggal 18 November 2018
2. Departemen Kesehatan. Program Imunisasi di Indonesia. Bagian I. Direktorat Epim-
Kesma. Ditjen PPM & PL. Jakarta. 2003.
3. Soekidjo Notoatmodjo, 2007, Ilmu Kesehatan Masyarakat Seni dan Aplikasi, Jakarta :
Rineka Cipta.
4. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2004, Profil Kesehatan Jawa Tengah Tahun
2003.
5. Hardinegoro, Sri R. 2011, Panduan Imunisasi Anak Mencegah Lebih Baik dari pada
Mengobati, Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak, Indonesia, Jakarta
https://www.google.co.id/url?s a=t&rct=j/ diakses pada tanggal 19 November 2018
6. I.G.N Ranuh, Dkk, 2008, Pedoman Imunisasi di Indonesia, Jakarta : Ikatan Dokter
Anak Indonesia.
7. Umar Fahmi Achmadi, 2006, Imunisasi Mengapa Perlu, Jakarta : Buku Kompas
8. Hidayat AAA. Siapa bilang anak sehat pasti cerdas. Jakarta : Elex Media; 2007.
9. Hadianti DN, Mulyati E, Ratnaningsih E, dkk. Buku ajar imunisasi. Jakarta: Pusat
Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan; 2014.
10. Hidayat AAA. Asuhan neonatus bayi dan balita. Cetakan 1. Jakarta: buku kedokteran
ECG; 2009.