Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asam urat adalah asam yang berbentuk kristal-kristal yang merupakan hasil akhir dari
metabolisme purin (bentuk turunan nukleoprotein), yaitu salah satu komponen asam nukleat
yang terdapat pada intisel - sel tubuh. Secara alamiah, purin terdapat dalam tubuh kita dan
dijumpai pada semua makanan dari sel hidup, yakni makanan dari tanaman (sayur, buah,
kacang-kacangan) atau pun hewan (daging, jeroan, ikan sarden).
Di masyarakat kini beredar mitos bahwa ngilu sendi berarti asam urat. Pengertian ini
perlu diluruskan karena tidak semua keluhan dari nyeri sendi disebabkan oleh asam urat.
Pengertian yang salah ini diperparah oleh iklan jamu/obat tradisional. Penyakit rematik
banyak jenisnya. Tidak semua keluhan nyeri sendi atau sendi yang bengkak itu berarti asam
urat. Untuk memastikannya perlu pemeriksaan laboratorium.Sedangkan pemicunya adalah
makanan dan senyawa lain yang banyak mengandung purin. Sebetulnya, tubuh menyediakan
85% senyawa purin untuk kebutuhan setiap hari. Ini berarti bahwa kebutuhan purin dari
makanan hanya sekitar 15%. Sayangnya, fakta ini masih belum diketahui secara luas oleh
masyarakat.Produk makanan mengandung purin tinggi kurang baik bagi orang-orang tertentu,
yang punya bakat mengalami gangguan asam urat. Jika mengonsumsi makanan ini
tanpa perhitungan, jumlah purin dalam tubuhnya dapat melewati ambang batas normal.
Beberapa jenis makanan dan minuman yang diketahui bisa meningkatkan kadar asam urat
adalah alkohol, ikan hearing, telur, dan jeroan. Ikan hearing atau sejenisnya (sarden), dan
jeroan merupakan sumber senyawa sangat potensial.
Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukan berlebihan atau
penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat adalah produk akibat metabolism
purin. Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui prekursor
nonpurin. Substrat awalnya adalah ribose -5- fosfat yang di ubah melalui serangkaian zat
antara menjadi nukleotida purin (asam inosinat, asam guanilat, asam adenilar ).
Dalam hal ini, sebagai perawat, hendaknya memberikan edukasi atau penyuluhan segala
hal tentang asam urat terutama hal-hal yang dapat memicu timbulnya asam urat tersebut.
Perawat dapat memberikan intervensi berupa tindakan mandiri maupun tindakan kolaborasi
jika penyakit asam urat yang dialami oleh pasien tersebut tidak dapat diatasi secara mandiri

1
oleh perawat. Perawat juga dapat memberikan terapi farmakologi atau non farmakologi terkait
masalah asam urat yang dihadapi saat ini.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari gout?
2. Bagaimana etiologi dari gout?
3. Apa saja klasifikasi dari gout?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari Gout?
5. Bagaimana patofisiologi dari Gout?
6. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari gout?
7. Bagaimana pemeriksaan fisik dari gout?
8. Bagaimana penatalaksanaan medis dari gout?
9. Bagaimana penatalaksanaan keperawatan dari gout?
10. Bagaimana komplikasi pada gout?
11. Bagimana asuhan keperawatan pada penyakit gout?

1.3 Tujuan
1. Untuk Mengetahui Pengertian
2. Untuk mengetahui Etiologi
3. Untuk Mengetahui Klasifikasi
4. Untuk mengetahui Manifestasi Klinis
5. Untuk Mengetahui Patofisiologi
6. Untuk mengetahui Pemeriksaan Penunjang
7. Untuk mengetahui Pemeriksaan Fisik
8. Untuk mengetahui Penatalaksanaan Medis
9. Untuk mengetahui Penatalaksanaan keperawatan
10. Untuk mengetahui Komplikasi
11. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan

1.4 Manfaat
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat
meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab serta upaya pencegahan
penyakit Gout agar terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik. Bagi pembaca
diharapkan agar pembaca dapat mengetahui tentang Gout lebih dalam sehingga dapat

2
mencegah serta mengantisipasi diri dari penyakit Gout. Bagi petugas kesehatan diharapkan
dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan Gout sehingga dapat
meningkatkan pelayanan keperawatan yang baik. Bagi institusi kesehatan dapat menambah
informasi tentang Gout sehingga tercipta proses belajar mengajar yang efektif.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Artritis gout atau arthritis pirai adalah suatu peradangan sendi sebagai manifestasi dari
akumulasi endapan kristal monosodium urat, yang terkumpul didalam sendi sebagai akibat
dari tingginya kadar asam urat didalam darah (hiperurisemia). Tidak semua orang dengan
hiperurisemia adalah penderita arthritis pirai atau sedang menderita arthritis pirai . akan tetapi
resiko terjadi arthritis pirai lebih besar dengan meningkatnya konsentrasi asam urat darah.
Gout berhubungan erat dengan gangguan metabolisme purin yang memicu terjadinya
peningkatan kadar asam urat di dalam darah (hiperurisemia), yaitu jika kadar asam urat dalam
darah lebih dari 7,5 mg/dl.

2.2 Etiologi

Penyakit ini dikaitkan dengan adanya abnormalitas kadar asam urat dalam serum
darah dengan akumulasi endapan kristal monosodium urat, yang terkumpul didalam sendi.
Keterkaitan antara gout dengan hiperurisemia yaitu adanya produksi asam urat yang berlebih,
menurunnya ekskresi asam urat melalui ginjal, atau mungkin karena keduanya. Kelebihan
mengonsumsi makanan tinggi purin mengakibatkan kadar purin dalam tubuh menumpuk
sehingga purin yang masuk ke dalam tubuh bermetabolisme menjadi asam urat. Asam urat
yang tinggi mengakibatkan ginjal tidak dapat membuang lebihan asam urat tersebut, sehingga
terjadi pengkristalan urat yang menumpuk pada sendi dan mengakibatkan nyeri di daerah
persendian, radang, bahkan disertai pembengkakan.

2.3 Patofisiologi

Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukan berlebihan
atau penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat adalah produk akibat
metabolism purin.

Secara normal, metabolisme purin menjadi asam urat dapat diterangkan sebagai berikut.

4
1. Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui prekursor
nonpurin. Substrat awalnya adalah ribose -5- fosfat yang di ubah melalui serangkaian
zat antara menjadi nukleotida purin (asam inosinat, asam guanilat, asam adenilar ).
Jalur ini dikendalikan oleh seragkaian mekanisme yang kompleks, dan terdapat
beberapa enzim yang mempercepat reaksi yaitu :5-fosforibosilpirofosfat (PRPP)
sintetase dan amidofosforibosiltransferase (amido-PRT). Terdapat suatu mekanisme
inhibisi umpan balik oleh nukleotida purin yang terbentuk, yang fungsinya untuk
mencegah pembentukan yang berlebihan.
2. Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui basa purin
bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jalur ini tidak melalui zat-
zat perantara seperti pada jaiur de novo. Basa purin bebas (adrenim, guanim,
hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk membentuk prekursor nukleotida purin
dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua enzim : hipoxantin guanin
fosforibosiltrasferase (HGPRT) dan adenin fosforibosiltrasferase (APRT).
Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan difiltrasi secara bebas
oleh glomerulus dan di resorpsi di tubulus proksimal ginjal. Sebagian kecil asam urat
yang diresorpsi kemudian diekskresikan di nefron distal dan dikeluarkan melalui
urine.
Pada penyakit arthritis gout, terdapat gangguan keseimbangan metabolisme
(pembentukan dan ekskresi) dari asam urat tersebut, meliputi hal-hal berikut.
a. Penurunan ekskresi asam urat secara idiopatik.
b. Penurunan ekskresi asam urat sekunder, misalnya karena gagal ginjal.
3. Peningkatan produksi asam urat, misalnya disebabkan oleh tumor (yang meningkatkan
cellular turnover) atau peningkatan sintesis purin (karena defek enzim-enzim atau
mekanisme umpan balik inhibisi yang berperan).
4. Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin.
Peningkatan produksi atau hambatan ekskresi akan meningkatkan kadar asam urat
dalam tubuh. Asam urat ini merupakan suatu zat yang kelarutannya sangat rendah
sehingga cenderung membentuk kristal. Penimbunan asam urat paling banyak terdapat
di sendi dalam bentuk kristal mononatrium urat. Mekanismenya hingga saat ini masih
belum diketahui.

5
6
2.4 Manifestasi Klinik

Manifestasi klinik dibagi atas dua jenis yaitu arthritis gout tipikal dan arthritis gout
atipikal

2.4.1 Arthritis Gout Tipikal

Gambaran klinik sangat khas dengan sifat-sifat sebagai berikut.

1. Beratnya serangan arthritis mempunyai sifat tidak bisa berjalan, tidak dapat
memakai sepatu dan mengganggu tidur. Tanpa pengobatan pada serangan
permulan dapat sembuh dalam 3-4 hari.
2. Serangan biasanya bersifat monoartikuler dengan tanda inflamasi yang
jelas seperti merah, bengkak, nyeri, terasa panas dan sakit jika digerakkan.
Predilokasi pada metatarsophalangeal pertama (MTP-1).
3. Remisi sempurna antara serangan akut.
4. Hiperurisemia. Biasanya berhubungan dengan serangan arthritis gout akut,
tetapi diagnosis arthritis tidak harus disertai hiperurikemia. Fluktuasi asam
urat serum dapat mempresipitasi serangan gout.
5. Faktor pencetus. Faktor pencetus adalah trauma sendi, alkohol, obat-obatan
dan tindakan pembedahan. Biasaya faktor-faktor ini sudah diketahui
penderita.

2.4.2 Arthritis Gout Atipikal

Gambaran klinik yang khas seperti arthritis berat, monoartikuler, dan remisi
sempurna tidak ditemukan. Tofi yang biasanya timbul beberapa tahun sesudah
serangan pertama ternyata ditemukan bersama dengan serangan akut. Jenis atipikal ini
jarang ditemukan dalam menghadapi kasus gout yang atipikal, diagnosis harus
dilakukan secara cermat. Untuk hal ini diagnosis dapat dipastikan dengan melakukan
punksi cairan sendi dan selanjutnya secara mikroskopis dilihat kristal urat.

Dalam evolusi artritis gut didapatkan 4 fase, yaitu sebagai berikut:

1. Artritis gout akut


Manifestasi serangan akut memberikan gambaran yang khas dan dapat langsung
menegakkan diagnosis. Sendi yng paling sering terkena adalah sendi

7
metatarsophalangeal pertama (75%). Pada sendi yang terkena jelas terlihat gejala
inflamasi yang lengkap.
2. Artritis gout interkritikal
Fase ini adalah fase antara dua serangan akut tanpa gejala klinik. Walaupun tanpa
gejala, kristal monosodium dapat ditemukan pada cairan yang diaspirasi dari sendi.
Kristal ini dapat ditemukan pada sel sinovia, pada vakuola sel sinovia, dan pada
vakuola sel mononuklear leukosit.
3. Hiperurikemia asimtomatis
Fase ini tidak identik dengan artritis gout. Pada penderita dengan keadaan ini
sebaiknya diperiksa juga kadar kolesterol darah karena peninggian asam urat darah
hampir selalu disertai peninggian kolesterol.
4. Artritis gout menahun dengan tofi
Tofi adalah penimbunan kristal urat subkutan sendi dan terjadi pada artritis gout
menahun yang biasanya sudah berlangsung lama kurang lebih antara 5-10 tahun.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik

2.5.1 Laboratorium
1. Pemeriksaan cairan sinovia didapatkan adanya kristal monosodium urat
intraselular.
2. Pemeriksaan serum asam urat meningkat >7 mg/dL.
3. Urinalisis 24 jam didapatkan ekskresi >800 mg asam urat.
4. Urinalisis untuk mendeteksi risiko batu asam urat.
5. Pemeriksaan kimia darah untuk mendeteksi fungsi ginjal, hati,
hipertrigliseridemia, tingginya LDL, dan adanya diabetes melitus.
6. Leukositosis didapatkan pada fase akut.
2.5.2 Radiodiagnostik
1. Radiografi untuk mendeteksi adanya klasifikasi sendi.
2. Radiografi didapatkan adanya erosi pada permukaan sendi dan kaspsul sendi.

8
2.6 Penatalaksanaan

Sasaran terapi gout artritis yaitu mempertahankan kadar asam urat dalam serum di bawah
6 mg/dL dan nyeri yng diakibatkan oleh penumpukan asam urat. Tujuan terapi yang ingin
dicapai yaitu mengurangi peradangan dan nyeri sendi yang ditimbulkan oleh penumpukan
kristal monosodium urat monohidrat. Kristal tersebut ditemukan pada jaringan kartilago
subkutan dan jaringan partikular, tendon, tulang, ginjal, serta beberapa tempat lainnya. Selain
itu, terapi gout juga bertujuan untuk mencegah tingkat keparahan penyakit lebih lanjut karena
penumpukan kristal dalam medula ginjal akan menyebabkan chronic urate nephropathy serta
meningkatkan resiko terjadinya gagal ginjal. Terapi obat dilakukan dengan mengobati nyeri
yang timbul terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pengontrolan dan penurunan kadar
asam urat dalm serum darah.

2.6.1 Diet
Penyebab kelebihan asam urat/hiperurikemia adalah diet tinggi purin, obesitas,
konsumsi alkohol, dan penggunaan beberapa obat seperti tiazid dan diuretik kuat
akan menghambat ekskresi asam urat di ginjal, serta aspirin dosis rendah <3g
memperburuk hiperurisemia.
Diet bagi para penderita gangguan asam urat mempunyai syarat-syarat
sebagai berikut:
1. Pembatsan purin
Apabila telah terjadi pembengkakan sendi, maka penderita gangguan asam
urat harus melakukan diet bebas purin. Namun, karena hampir semua bahan
makanan sumber protein mengandung nukleoprotein, maka hal ini hampir tidak
mungkin dilakukan. Tindakan yang harus dilakukan adalam membatasi asupan
purin menjadi asupan purin menjadi 100-150 mg purin perhari (diet normal
biasanya mengandung 600-1.000 mg purin menjadi perhari).
2. Kalori sesuai dengan kebutuhan
Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh
berdasarkan pada tinggi dan berat badan. Penderita gangguan asam urat yang
kelebihan berat badan, berat badannya harus diturunkan dengan tetap
memperhatikan jumlah konsumsi kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga

9
bisa meningkatkan kadar asam urat karena adanya badan keton yang akan
mengurangi pengeluaran asam urat melalui urine.
3. Tinggi karbohidrat
Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat baik
dikonsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan
pengeluaran asam urat melalui urine. Konsumsi karbohidrat kompleks ini sebaiknya
tidak kurang dari 100 gram perhari. Karbohidrat sederhana jenis fruktosa seperti
gul, permen, arum manis, gulali dan sirop sebaiknya dihindari karena fruktosa akan
meningkatkn kadar asam urat dalam darah.
4. Rendah protein
Protein terutama yang berasal dari hewan dapat meningkatkan kadar asam
urat dalam darah. Sumber makanan yang mengandung protein hewani dalam
jumlah yang tinggi, misalnya hati, ginjal, otak, paru dan limpa. Asupan protein
yang dianjurkan bagi penderita gangguan asam urat adalah sebesar 50-70 g/hari
atau 0,8-1/kg berat badan/hari. Sumber protein yang disarankan adalah protein
nabati yang berasal dari susu, keju dan telur.
5. Rendah lemak
Lemak dapat menghambat ekskresi asam urat melalui urine. Makanan
yang digoreng, bersantan, serta margarine dan mentega sebaiknya dihindari.
Konsumsi lemak sebaiknya sebanyak 15% dari total kalori.
6. Tinggi cairan
Konsumsi cairan yang tinggi dapat membantu membuang asam urat
melalui urine. Oleh karena itu, disarankan untuk menghabiskan minum minimal
sebanyak 2,5 l atau 10 gelas sehari. Air minum ini bisa berupa air putih masak, teh,
atau kopi. Selain dari minuman, cairan bisa diperoleh melalui buah-buahan segar
yang mengandung banyak air. Buah-buahan yang disarankan oleh semangka,
melon, blewah, nanas, belimbing manis, dan jambu air. Selain buah-buahan
tersebut, buah-buahan yang lain juga boleh dikonsumsi karena buah-buahan sangat
sedikit mengandung purin. Buah-buahan yang sebaiknya dihindari adalah alpukat
dan durian karena keduanya mempunyai kandungan lemak yang tinggi.
7. Tanpa alkohol
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kadar asam urat mereka yang
mengonsumsi alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak

10
mengonsumsi alkohol. Hal ini adalah karena alkohol akan meningkatkan
asam laktat plasma. Asam laktat ini akan menghambat pengeluaran asam
urat dari tubuh.

2.7 Pengobatan artritis gout


1. Nonsteroid Anti-inflammatory Drugs (NSAIDs).
Terdapat beberapa jenis NSAIDs, namun tidak semua memiliki efektivitas dan
keamanan yang baik untuk terapi gout akut. Beberapa NSAID yang diindikasikan
untuk mengatasi gout artritis akut dengan kejadian efek samping yang jarang terjadi
yaitu: naproxen dan natrium diklofenak.
2. Colchine
Colchine tidak direkomendasikan untuk terapi jangka panjang gout akut. Colchine
hanya digunakan selama saat kritis untuk mencegah serangan gout.
3. Cortikosteroid
Kortikosteroid sering digunakan untuk menghilangkan gejala gout akut dan akan
mengontrol serangan. Kortikosteroid ini sangat berguna bagi pasien yang
dikontraindikasikan terhadap golongan NSAID. Jika goutnya monartikular, pemberian
intra-artikular yang paling efektif.
4. Prebenecid
Digunakan terutama pad kondisi insufisiensi ginjal (GFR <50 mL/min).
5. Allopurinol
Sebagai penghambat xantin oksidase, allopurinol segera menurunkan plasm urat dan
konsentrasi asam urat di saluran urine, serta memfasilitasi mobilisasi benjolan. Obat
ini sangat bermanfaat bagi pasien dengan gagal ginjal atau batu urat yang tidak dapat
diberi urocisuric. Biasanya obat ini diberikan sekali sehari sebab metabolit aktif
allopurinol waktu paruhnya panjang. Dosis awalnya 100 mg diberikan selama 1
minggu kemudian dinaikkan jika kadar asam urat masih tinggi. Kadar asam urat serum
akan dicapai dengan dosis harian 200-300 mg. Sering kali kombinasi allopurinol
dengan uricosuric akan sangatn membantu. Allopurinol tidak dianjurkan untuk
pengbatan hiperurisemia asimtomatik dan gout yang aktif.
6. Uricosuric
Obat ini memblok reabsorbsi tubular di mana urat disring sehingga mengurangi
jumlah urat metabolik, mencegah pembentukan benjolan baru, dan memperkecil

11
ukuran benjolan yang telah ada. Uricosuris seperti probenesid dan sulfinpirazon dapat
diberikan sebagai pengganti allopurinol, namun probenesid tidak diindikasikan untuk
gout yang akut. Pembentukan kristal urat dalam urine bisa terjadi dengan urocisuric
dan penting untuk memastikan jumlah urine cukup yaitu 2.000 ml atau lebih untuk
mencegah pengendapan kristal urat di saluran urine. Saat diberikan secara kombinasi
dengan colchine, akan mengurangi frekuensi kekambuhan gout akut. Uricosuric tidak
efektif pada pasien dengan gangguan ginjal dengan serum kreatinin lebih dari 2
mg/dL.

2.8 Intervensi bedah

Apabila intervensi dan diagnosis artritis gout dilakukan pada fase awal, intervensi
ortopedi jarang dilaksanakan. Pembedahan dengan bedah perbaikan dilakukan pada kondisi
artritis gout kronik.

12
BAB III

TEORI ASKEP

3.1 Pengkajian
1. Anamnesis
Identitas ( Meliputi nama, jenis kelamin yang sering adalah pria, usia yang sering
terkena gout adalah usia 40 tahun ketas tetapi tidak menutup kemungkinan usia 30
tahun bisa terkena arthtritis gout , alamat, agama, bahasa yang digunakan, status
perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi kesehatan, golongan darah, nomor
register, tanggal masuk rumah sakit, dan diagnosis medis.
2. Keluhan utama
Kaji keluhan yang sedang dirasakan pasien pada saat itu juga, biasanya klien
merasakan nyeri pada sendi jari kaki, pergelangan kaki, lutut, jari tangan dan
pergelangan tangan.
3. Riwayat penyakit sekarang
Pengumulan data dilakukan sejak munculnya keluhan dan secara umum mencakup
awal gejala dan bagaimana gejala tersebut berkembang. Penting ditanyakan berapa
lama pemakaian obat analgesic, allopurinol. Seperti beberapa hari yang lalu klien
mengeluh nyeri pada sendi jari kaki, pergelangan kaki, lutut, jari tangan atau
pergelangan tangan. Dan klien mengatakan sakit jika melakukan aktivitas.
4. Riwayat penyakit dahulu
Pada pengkajian ini, ditemukan kemungkinan penyebab yang mendukung
terjadinya gout ( misalnya penyakit gagal ginjal kronis, leukemia,
hiperparatiroidisme). Masalah lain yang perlu ditanyakan adalah pernakah klien
dirawat dengan maslah yang sama. Kaji adanya pemakaian alkohol yang
berlebihan, penggunaan obat diuretic.
5. Riwayat penyakit keluarga
Kaji adanya keluarga dari generasi terdahulu yang mempunyai keluhan yang sama
dengan klien karena klien gout dipenagruhi oleh faktor genetic. Ada
produksi/sekresi asam urat yang berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya. Dan
kaji apakah klien ada penyakit penyerta seperti DM, hipertensi dll.
6. Genogram
Silsilah keluarga pasien yang terdiri dari tiga generasi termasuk pasien tersebut

13
7. Riwayat alergi
Kaji riwayat alergi yang dimiliki pasien baik dari makanan, obat, atau apapun yang
dapat membuat pasien memiliki alergi
8. Riwayat psikososial
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam
keluarga dan masyarakat. Respon didapat meliputi adanya kecemasan yang
berbeda dan berhubungan erat dengan adanya sensanyi nyeri, hambatan mobilitas
fisik akibat respon nyeri, dan ketidaktahuan akan program pengobatan dan
prognosis penyakit dan peningkatan asam urat pada sirkulasi. Adanya perubahan
peran dalam keluarga akibat adanya nyeri dan hambatan mobilitas fisik
memberikan respon terhadap konsep diri yang maladaptif.

OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK ( Review Of System )

Keadaan umum : klien bergantung pada lokasi timbulnya lesi,dan daya tahan tubuh
klien menurun

Kesadaran : komposmetis

Tanda vital

TD : 120/80 mmHg nadi : 85x/menit suhu : 37ᵒC

RR : 22x/menit

Antropometri

TB : 170cm BB sebelum sakit :78kg

BB setelah sakit : 60kg

Pernafasan B1 (Breath)

Bentuk dada : Normocest Pergerakan : Tidak ada

Otot bantu nafas tambahan : Tidak ada Jika ada, jelaskan : Tidak ada

Irama nafas : Regular Kelainan : Tidak ada

14
Pola nafas : Eupnea

Taktil/ vocal fremitus :Terasa bergetar

Suara nafas : Vesikuler

Suara nafas tambahan : (Tidak ada)

Whizing :(Tidak ada)

Rongki :(Tidak ada)

Sesak nafas : Tidak ada Batuk : Tidak ada

Sputum : Tidak ada Warna : Tidak ada

Ekskresi : Tidak ada

Sianosis : Tidak ada Jika ada, lokasi :Tidak ada

Kemampuan aktivitas : Tidak ada

MASALAH : Tidak ada masalah keperawatan

Kardiovaskuler dan limfatik B2 (Blood)

Ictus cordis : Mid clavikula sinistra ICS V

Irama jantung : Reguler

Nyeri dada : Tidak ada Jika ya, jelaskan: -

Bunyi jantung : S1 S2 tunggal

Bunyi jantung tambahan : Tidak ada

CRT : ≤ 2 detik Akral : Dingin

Bunyi jantung tambahan : Murmur (Tidak ada) Gallop :(Tidak ada)

Oedema : Tidak ada Jika ya, jelaskan:-

Pembesaran kelenjar getah bening : Tidak ada Jika ada, jelaskan: -


15
Perdarahan : Tidak ada

MASALAH : Tidak ada masalah keperawatan

Persarafan B3 ( Brain ) Penginderaan

GCS eye : 4 verbal : 5 motorik : 6 total : 15

Refleks fisiologis : bisep (+), trisep (+), patela (+), acites (+)

Refleks patologis : kaki kuduk (-), brudzinski 1 dan 2 (-)

Nervus Kranial I : pasien mampu mencium bau

Nervus Kranial II : pasien mampumembaca jarak 30cm

Nervus Kranial III : pasien mampu menggerakkan bola mata

Nervus Kranial IV : pasien mampu menggerakkan bola mata

Nervus Kranial V : pasien mampu merasakan rangsangan

Nervus Kranial VI : pasien mampu menggerakkan bola mata

Nervus Kranial VII : pasien mampu mengerutkan dahi

Nervus Kranial VIII : tidak ada lateralisasi pada kedua telinga

Nervus Kranial IX : pasien mampu menelan

Nervus Kranial X : pasien mampu menelan

Nervus Kranial XI : otot bantu nafas tidak ada

Nervus Kranial XII : pasien mampu menjulurkan lidah

Kepala : tidak ada benjolan

Nyeri kepala : tidak ada jika ya, jelaskan : tidak ada

Paralisis :

Penciuman

bentuk hidung : simetris


16
Septum : di tengah polip : tidak ada

Gangguan/kelainan : tidak ada

Wajah dan penglihatan

Mata : simetris kelainan : tidak ada

Pupil : isokor Reflex cahaya : baik

Konjungtiva : anemis Sklera : ikterik (-)

Lapang pandang : kesegala arah Gangguan/kelainan : tidak ada

Pendengaran

Telinga : simetris kelainan : tidak ada

Kebersihan : bersih

Gangguan : tidak ada alat bantu : tidak ada

Lidah

Kebersihan : bersih uvula : simetris

Kesulitan telan : tidak ada berbicara :normal/lancar

MASALAH : Tidak ada masalah keperawatan

17
Kebersihan :bersih

ekskresi :

Kandungkemih :tidak ada

nyeritekan : tidak ada

Eliminasi urine SMRS Frek :

jumlah : warna: putih

Eliminasi urine MRS frek :

jumlah : warna: kuning


B4 (Bladder) danGenetalia

Alat bantu : tidak ada


Perkemihan

Gangguan : tidak ada

Masalah Tidak ada masalah keperawatan

Mulut : bersih Membran Mukosa : lembab


Pencernaaan B5 (Bowel)

Gigi / Gigi Palsu : tdk ada gigi palsu Faring :-

Pola makan & minum SMRS : Makan : 3x Jenis :

Minum : 12 gelas Pantangan : -

Pola makan & minum di RS Diit : - Frekuensi : -

18
Nafsu makan : turun

Muntah : - Mual : -

Jenis : - NGT :-

Porsi : ½ porsi

Frekuensi minum : ketika haus Jumlah : 1,5 l Jenis : air miner

Abdomen Bentuk perut : simetris Peristaltik :

Kelainan abdomen : tdk ada

Hepar :-

Lien : -

Nyeri abdomen : -

Rectum dan anus :

Eliminasi alvi SMRS Frekuensi : 1x sehari Warna : coklat kekuningan

Konsistensi : lembek

Eliminasi alvi MRS Frekuensi : 2 hr sekali Warna : coklat

Konsistensi : keras Colostomy : -

Masalah Tidak ditemukan masalah keperawatan

19
Rambut, kulit kepala : Bersih

kuku : bersih

Warna kulit : kemerahan

jika terbatas pada sendi : ya

Turgor kulit : lembab

ROM : pergerakan sendi jari kaki : 20 derajat , pergerakan pergelangan


kaki : 10 derajat

Kekuatan otot : 5543 5543


Muskuloskeletal & integumen

Kelainan/jaringan : tidak ada 554 3 5543

Lain-lain : tidak ada


B4 (Bone)

Masalah Hambatan mobilitas fisik

Thyroid :-
Hiperglikemia : -
Endokrin

Hipoglikemia : -
Masalah Tidak ditemukan masalah keperawatan

20
Menstruasi terakhir :-
Masalah menstruasi :-
Pap smear terakhir :-
Seksual-reproduksi

Pemeriksaan payudara/testis sendiri tiap bulan : -


Masalah seksual yang berhubungan dengan penyakit : -

Masalah Tidak ditemukan masalah keperawatan

Kemampuan Perawatan Diri

SMRS MRS Skor

Mandi 1 3 1: Mandiri

Berpakaian / dandan 1 3 2: Alat bantu

Toileting /eliminasi 1 3 3: Dibantu orang lain


/ alat

Mobilitas ditempat 1 3 4: Tergantung / tidak


tidur mampu

Berpindah 1 3

Berjalan 1 3

Naik tangga 1 3

Berbelanja 1

Memasak 1
Alat antu berupa :
Pemeliharaan umum 1

Masalah : tidak ada masalah

21
Personal Hygiene

Mandi SMRS : 2 kali/hari Mandi MRS : 1 kali sehari

Keramas : 1 kali/hari Keramas : belum keramas

Ganti pakaian : 2 kali/hari Ganti pakaian : 1 kali

Menyikat gigi : 2 kali sehari Menyikat gigi : 1 kali

Memotong kuku : 1 kali sehari Memotong kuku : belum

MASALAH : tidak ada masalah

Istirahat Tidur

Istirahat Tidur SMRS : 21.00 - 04.30 Jam tidur siang : 2 jam Jumlah : -

Kualitas Tidur : nyenyak Kebiasaan tidur : tidak ada

Masalah : Tidak ada masalah Penyebab :-

MASALAH : Tidak ada masalah

Kognitif –persepsi-psiko-sosio-spiritual

Persepsi terhadap sehat sakit : pasien merasa sakitnya karena cobaan dari Tuhan

Konsep diri :

Kemapuan berbicara : baik Bahasa Sehari-hari:bahasa indonesia

Kemampuan adaptasi terhadap masalah: baik

Ansietas :- jika ya,jelaskan :-

Aktivitas sehari-hari smrs : baik

Aktivitas sehari-hari mrs : terhambat

Rekreasi : pasien rekreasi sebulan sekali

Olah raga : pasien olah raga seminggu sekali sebelum sakit

Sistem pendukung :- Hubungan dengan orang lain: baik


22
Kegiatan ibadah : baik

MASALAH : Intoleransi Aktivitas

3.2 Analisa Data


Menentukan data subjektif dan objektif dari pengkajian yang didapat dari pasien
sehingga dapat memunculkan masalah keperawatan

3.3 Diagnosa yang mungkin muncul


 Nyeri sendi b/d peradangan sendi, penimbunan Kristal pada membrane
sinovia, tulang rawan artikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan
pembentukan panus.
 Hambatan mobilitas fisik b/d penurunan rentang gerak, kelamahan otot pada
rentang gerakan, dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi tulang
rawan dan pembentukan panus.
 Gangguan citra diri b/d perubahan bentuk kaki dan terbentuknya tofus.
3.4 Prioritas Masalah
Tata urutan masalah keperawatan dari diagnosa yang mungkin muncul untuk
diprioritaskan terlebih dahulu mana yang harus diberi ditangani dan diberikan
intervensi terlebih dahulu.

3.5 Intervensi
 Diagnosa I
Nyeri sendi b/d peradangan sendi, penimbunan Kristal pada membrane
sinovia, tulang rawan artikular, erosi tulang rawan, prolifera sinovia dan
pembentukan panus.
Tujuan Keperawatan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam, nyeri yang
dirasakan klien berkurang
Dengan kriteria hasil :
- Klien melaporkan penelusuran nyeri
- Menunjukkan perilaku yang lebih rileks
- Skala nyeri nyeri berkurang dari 0 – 1 atau teratasi.
Intervensi :

23
a. Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri. Observasi kemajuan nyeri kedaerah
yang baru. Kaji nyeri dengan skala 0 – 4.
b. Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor pencetus.
c. Jelaskan dan bantu klien terkait dengan tindakan pereda nyeri non
farmakologi dan non invasive.
d. Ajarkan relaksasi : teknik terkait ketegangan otot rangka yang dapat
mengurangi intensitas nyeri nyeri.
e. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
f. Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dan hubungan dengan
berapa lama nyeri akan berlangsung.
g. Hindarkan klien meminum alkohol, kafein dan diuretic.
h. Kolaborasi dengan dokter pemberian allopurinol.
 Diagnosa II
Hambatan mobilitas fisik b/d penurunan rentang gerak, kelamahan otot
pada rentang gerakan, dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat erosi
tulang rawan dan pembentukan panus.
Tujuan Keperawatan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien mampu melaksanakan
aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya. Dengan kriteria hasil:
- Klien ikut dalam program latihan
- Tidak mengalami kontraktur sendi
- Kekuatan otot bertambah
- Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas dan
mempertahankan koordinasi optimal.
Intervensi :
a. Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya peningkatan kerusakan.
b. Ajarkan klien melakukan latihan room dan perawatan diri sesuai
toleransi.
c. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.

 Diagnosa III
Gangguan citra diri b/d perubahan bentuk kaki dan terbentuknya tofus.
Tujuan keperawatan

24
Citra diri meningkat.
Kriteria hasil
- Klien mampu mengatakan dan mengkomunikasikan dengan orang
terdekat
tentang situasi dan perubahan yang terjadi
- Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi.
- Mengakui dan menggabungkan dalam konsep diri
Intervensi :
a. Kaji perubahan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan
b. Tingkatkan kembali realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang
sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat
c. Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan
d. Anjurkan orang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan sebanyak
mungkin hal untuk dirinya.
e. Bersama klien mencari alternative koping yang ositif.
f. Dukung erilaku atau usaha peningkatan minat atau partisipasi dalam
aktivitas rehabilitasi.
g. Kolaborasi dengan ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi.

25
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Arthritis gout adalah penyakit yang terjadi akibat adanya endapan kristal-kristal
monosodium urate dalam sendi yang akan berdampak terjadinya inflamasi dan nyeri pada
sendi. Adapun faktor predisposisi yaitu gen dan usia, faktor presipitasi yaitu obat-obatan, stres
dll.

Artritis gout dapat disembuhkan bila penanganannya cepat dan tepat. Sasaran terapi
gout arthritis yaitu mempertahankan kadar asam urat dalam serum di bawah 6 mg/dL dan
nyeri yang di sebabka oleh penumpukan asam urat. Dan diet bagi penderita gout arthritis
adalah pembatasan purin, kalori sesuai kebutuhan, tinggi karbohidrat, rendah protein, rendah
lemak, tinggi cairan, dan tanpa alcohol.

4.2 Saran

1. Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang


rencana keperawatan pada pasien dengan gout artritis, pendokumentasian harus jelas
dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien.
2. Dalam rangka mengatasi masalah resiko pada klien dengan gout artritis maka tugas
perawat yang utama adalah sering mengobservasi akan kebutuhan klien yang
mengalami gout artritis.
3. Untuk perawat diharapkan mampu menciptakan hubungan saling percaaya dengan
keluarga sehingga keluarga diharapkan mampu membantu dan memotivasi klien
dalam proses penyembuhan.

26
DAFTAR PUSTAKA

Noor Zairin. 2016. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal edisi 2. Jakarta:Salemba Medika.

http://penyakitgout.com/

Helmi Zairin. 2014. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta:Salemba Medika

27