Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN SELF EFFICACY DAN REGULASI DIRI TERHADAP


PRESTASI BELAJAR BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS
BENGKULU ANGKATAN 2016

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Mahasiswa adalah kaum intelektual yang terdidik serta dikenal sebagai
agen of change (agen dari perubahan). Istilah itu diberikan kepada
mahasiswa dikarenakan dari pemikiran – pemikiran mahasiswa tercipta
prestasi berupa ide- ide baru, yang mana ide tersebut membawa
perubahan dalam banyak hal. Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 30
Tahun 1990 mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar
di perguruan tinggi tertentu.

Mahasiswa yang memiliki pemikiran – pemikiran yang menghasilkan


ide sehingga membawa perubahan tidaklah datang begitu saja.
Mahasiswa dapat menghasilkan ide yang bagus tentu mahasiswa yang
pintar dan bekerja keras sehingga mereka dapat memahami konsep
pengetahuan yang mereka pelajari yang berakibat meningkatnya
prestasi belajar mereka. Menurut Winkel (2004),prestasi belajar
merupakan suatu gambaran dari penguasaan kemampuan para peserta
didik sebagaimana telah ditetapkan untuk suatu pelajaran tertentu.
Prestasi belajar dinyatakan dengan skor hasil tes atau angka yang
diberikan guru berdasarkan pengamatannya belaka atau keduanya yaitu
hasil tes serta pengamatan guru pada waktu peserta didik melakukan
diskusi kelompok

Prestasi belajar yang berupa ide –ide tersebut terbentuk dari banyak
faktor. Banyak orang beranggapan faktor paling besar dari
meningkatnya prestasi belajar adalah gaya belajar, model
pembelajaran, sumber belajar dan media pembelajaran yang termasuk
kedalam faktor eksternal. Hal tersebut memang penting namun yang
terpenting dalam meningkatkan prestasi belajar adalah self efficacy
dan regulasi diri yang merupakan faktor internal dari mahasiswa itu
sendiri.

Peran mahasiswa itu sendiri sebagai faktor internal merupakan satu hal
yang sangat menentukan. Dimana hasil belajar yang optimal dan
prestasi dapat dicapai salah satunya dengan kemampuan mahasiswa
untuk mengatur dirinya dan keyakinan diri untuk mengatur dan
mengeksekusi program tindakan yang diperlukan, keyakinan dalam
kemampuan seseorang untuk mengatur dan mengeksekusi program
tindakan yang diperlukan untuk menghasilkan pemcapaian yang
diberikan,penyebab iniasiasi perilaku, jumlah usaha yang dikeluarkan,
kegigihan meskipun mengalami hambatan serta akhir dari kesuksesan.

Di dalam proses belajar, mahasiswa akan memperoleh prestasi belajar


yang baik bila menyadari, bertanggung jawab,mengetahui cara belajar
yang efesien, ketahanan terhadap kesulitan dan menghadirkan kognisi
dalam membantu atau menghalangi dan sejauh mana depresi dan stress
yang terjadi pada situasi kondisi yang sulit.. Hal ini tentu
membutuhkan pengaturan diri dan keyakinan diri ( self efficacy ) yang
baik pada mahasiswa sehingga dalam kondisi apapun sehingga
mahasiswa mampu mencapai hasil yang optimal.

Menurut Woolfolk (dalam Aftina, 2014) menyatakan bahwa


kemampuan regulasi diri merupakan hasil dari adanya sense of
personal agency yaitu rasa dimana seseorang menganggap dirinya
bertanggung jawab atas usaha pencapaian hasil. Maka dari itu ia
membuat pilihan, membuat rencana untuk tindakan, memotivasi dan
mengatur jalannya rencana dan tindakan. Zimmerman (dalam Evita,
2014) mengatakan bahwa regulasi diri merupakan sebuah proses
dimana seseorang peserta didik mengaktifkan dan menopang kognisi,
perilaku, dan perasaannya yang secara sistematis berorientasi pada
pencapaian suatu tujuan.

Mahasiswa yang belajar dengan regulasi diri bukan hanya tahu tentang
apa yang dibutuhkan oleh setiap tugas, tetapi mereka juga dapat
menerapkan strategi yang dibutuhkan. Mereka dapat membaca secara
sekilas ataupun secara seksama. Mereka dapat menggunakan berbagai
strategi ingatan atau mengorganisasikan materinya. Ketikamereka
menjadi lebih knowlegeable (memiliki/menunjukkan banyak
pengetahuan, kesadaran, atau inteligensi) di suatu bidang, mereka
menerapkan banyak strategi secara otomatis.

Self efficacy yang didefinisikan oleh Bandura yaitu keyakinan dalam


kemampuan seseorang untuk mengatur dan mengeksekusi program
tindakan yang diperlukan untuk menghasilkan pemcapaian yang
diberikan, penyebab iniasiasi perilaku, jumlah usaha yang dikeluarkan,
kegigihan meskipun mengalami hambatan serta akhir dari kesuksesan.
Bandura juga mengindikasi bahwa self efficacy diyakini
mempengaruhi ketahanan terhadap kesulitan, hadirnya kognisi dalam
membantu atau menghalangi dan sejauh mana depresi dan stress yang
terjadi pada situasi kondisi yang sulit. Apalagi Bandura menyarankan
bahwa keyakinan diri merupakan aspek yang spesifik dan ketepatan
keyakinan harus diukur dalam hal penilaian tertentu pada kemampuan
yang mungkin berbeda dari tuntutan tugas dalam satu aspek aktifitas
tertentu serta dibawah situasi keadaan yang berbeda.

Self efficacy menentukan bagaimana seseorang merasakan,


memikirkan, dan memotivasi dan melakukan perbuatan. Seperti
kepercayaan bermacam-macam efek, termasuk keempat proses mayor,
yaitu kognitif, motivasi, afeksi dan proses seleksi. Self efficacy tentu
dikaitkan dengan kemampuannya mengatasi permasalahan, dengan
perestasi yang pernah dicapainya. Kalau cenderung berhasil, karena
dia cenderung mampu. Kalau orang cenderung kalah, karena selalu
salah. Self efficacy lebih terlihat dari mana asalnya menilai diri dari
kemampuannya menghadapi masalah (Bandura, 1997).

Bandura (1997) mengungkapkan bahwa self efficacy terdiri dari 3


dimensi, yaitu:
a. Level/magnitude, dimensi level berhubungan dengan taraf
kesulitan tugas. Dimensi ini mengacu pada taraf kesulitan tugas
yang diyakini individu akan mampu mengatasinya
b. Strength, dimensi strength berkaitan dengan kekuatan penilaian
tentang kecakapan individu. Dimensi ini mengacu pada derajat
kemantapan individu terhadap keyakinan yang dibuatnya.
Kemantapan ini yang menentukan ketahanan dan keuletan
individu dalam usaha. Dimensi ini merupakan keyakinan
individu dalam mempertahankan perilaku tertentu.
c. Generality, dimensi generality merupakan suatu konsep bahwa
self efficacy seseorang tidak terbatas pada situasi yang spesifik
saja. Dimensi ini mengacu pada variasi situasi di mana penilaian
tentang self efficacy dapat diterapkan.

Pada peneltian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahil Muhyadin,


Habibah Elias, Loha Sau Cheong, Muhd Fauzi Muhammad, Noorem
Nordin dan Maria Chong Abdullah (2006) yang berjudul “The
relationship between students’ self efficacy and their English language
achievement” yang mengindikasikan terdapat bahwa self efficacy
berkorelasi dengan hasil prestasi bahasa inggris. Siswa dengan self
efficacy yang tinggi selalu menampilkan performa yang lebih
komparatifdibandingkan dengan self efficacy yang lebih rendah
sehingga menekankan hubungan antara self efficacy dengan prestasi
belajar dengan siswa sekolah.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan beberapa


mahasiswa dan dosen- dosen yang mengajar mahasisawa pendidikan
biologi universitas Bengkulu angkatan 2016 menununjukkan bahwa
banyak mahasiswa yang tidak bisa mengatur dan memerapkan strategi
yang dibutuhkan, tidak dapat membaca secara sekilas dan seksama hal
yang mereka butuhkan, dan tidak dapat menggunakan berbagai strategi
ingatan atau mengorganisasikan materi yang telah dipelajari
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maja
penelitian ini dilakukan untuk menguji hubungan self efficacy dan
regulasi diri dengan prestasi belajar mahasiswa pendidikan biologi
fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas bengkulu angkatan
2016

2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah self efficacy mahasiswa Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu
Angkatan 2016?
2. Bagaimanakah regulasi diri mahasiswa Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu
Angkatan 2016?
3. Bagaimanakah pengaruh dan hubungan self efficacy dan regulasi
diri terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu
Angkatan 2016?
3. Batasan Masalah
Mahasiswa pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Bengkulu Angkatan 2016

4. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui self efficacy mahasiswa Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu
Angkatan 2016?
2. Untuk mengetahui regulasi diri mahasiswa Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu
Angkatan 2016?
3. Untuk mengetahui pengaruh dan hubungan self efficacy dan
regulasi diri terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan
Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Bengkulu Angkatan 2016?
5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini beramanfaat secara teoritis maupun praktis. Secara
teoritis hasil penelitian ini dpat memperluas pengetahuan tentang
hubungan self efficacy dan regulasi diri dengan prestasi belajar.
Sedangkan manfaat praktis dari penelitian ini adalah sebagai informasi
bagi dosen dan pihak lain yang terkait dengan self efficacy, regulasi
diri dan prestasi belajar.
6. Hipotesis
H 0 = Ada hubungan antara self efficacy dan regulasi diri terhadap
prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu Angkatan
2016
H 1=¿ Tidak ada hubungan antara self efficacy dan regulasi diri
terhadap prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu
Angkatan 2016

B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Prestasi Belajar

Menurut Syah (2003), prestasi belajar merupakan taraf


keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah
yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran
tertentu.

Prestasi belajar merupakan suatu gambaran dari penguasaan


kemampuan para peserta didik sebagaimana telah ditetapkan untuk
suatu pelajaran tertentu. Prestasi belajar dinyatakan dengan skor
hasil tes atau angka yang diberikan guru berdasarkan
pengamatannya belaka atau keduanya yaitu hasil tes serta
pengamatan guru pada waktu peserta didik melakukan diskusi
kelompok (Winkel, 2004).
Prestasi belajar yang diungkapkan oleh Howcroft (1991)
merupakan tanda actual atau skor yang diperoleh dalam
pemeriksaan ujian. Sedangkan prestasi belajar menurut Klobal dan
Muzek (2001) menyatakan bahwa persepsi diri mengenai
keberhasilan tujuan akdemis seseorang (Coetzee, 2011). Prestasi
belajar sebagai suatu tingkatan khusus perolehan atau hasil
keahlian dalam akademis yang dinilai oleh guru-guru, lewat tes-tes
yang dibakukan atau lewat kombinasi keduanya (Chaplin, 1999).

2. Pengertian Self Efficacy


Self efficacy yang didefinisikan oleh Bandura yaitu keyakinan
dalam kemampuan seseorang untuk mengatur dan mengeksekusi
program tindakan yang diperlukan untuk menghasilkan
pemcapaian yang diberikan, penyebab iniasiasi perilaku, jumlah
usaha yang dikeluarkan, kegigihan meskipun mengalami hambatan
serta akhir dari kesuksesan. Bandura juga mengindikasi bahwa self
efficacy diyakini mempengaruhi ketahanan terhadap kesulitan,
hadirnya kognisi dalam membantu atau menghalangi dan sejauh
mana depresi dan stress yang terjadi pada situasi kondisi yang sulit.
Apalagi Bandura menyarankan bahwa keyakinan diri merupakan
aspek yang spesifik dan ketepatan keyakinan harus diukur dalam
hal penilaian tertentu pada kemampuan yang mungkin berbeda dari
tuntutan tugas dalam satu aspek aktifitas tertentu serta dibawah
situasi keadaan yang berbeda. Pendahuluan dari self efficacy
menurut Bandura, termasuk prestasi kinerja sebelumnya, persuasi
verbal, pengalaman terdahulu dan reaksi efektif (Lopez dan
Synder, 2003).
Self efficacy menentukan bagaimana seseorang merasakan,
memikirkan, dan memotivasi dan melakukan perbuatan. Seperti
kepercayaan bermacam-macam efek, termasuk keempat proses
mayor, yaitu kognitif, motivasi, afeksi dan proses seleksi. Self
efficacy tentu dikaitkan dengan kemampuannya mengatasi
permasalahan, dengan perestasi yang pernah dicapainya. Kalau
cenderung berhasil, karena dia cenderung mampu. Kalau orang
cenderung kalah, karena selalu salah. Self efficacy lebih terlihat
dari mana asalnya menilai diri dari kemampuannya menghadapi
masalah (Bandura, 1997).

Bandura (1997) mengungkapkan bahwa self efficacy terdiri dari 3


dimensi, yaitu:
a. Level/magnitude, dimensi level berhubungan dengan taraf
kesulitan tugas. Dimensi ini mengacu pada taraf kesulitan tugas
yang diyakini individu akan mampu mengatasinya
b. Strength, dimensi strength berkaitan dengan kekuatan penilaian
tentang kecakapan individu. Dimensi ini mengacu pada derajat
kemantapan individu terhadap keyakinan yang dibuatnya.
Kemantapan ini yang menentukan ketahanan dan keuletan
individu dalam usaha. Dimensi ini merupakan keyakinan
individu dalam mempertahankan perilaku tertentu.
c. Generality, dimensi generality merupakan suatu konsep bahwa
self efficacy seseorang tidak terbatas pada situasi yang spesifik
saja. Dimensi ini mengacu pada variasi situasi di mana penilaian
tentang self efficacy dapat diterapkan.

3. Pengertian Regulasi Diri

Menurut Woolfolk (dalam Aftina, 2014) menyatakan bahwa


kemampuan regulasi diri merupakan hasil dari adanya sense of
personal agency yaitu rasa dimana seseorang menganggap
dirinya bertanggung jawab atas usaha pencapaian hasil. Maka
dari itu ia membuat pilihan, membuat rencana untuk tindakan,
memotivasi dan mengatur jalannya rencana dan tindakan.
Zimmerman (dalam Evita, 2014) mengatakan bahwa regulasi
diri merupakan sebuah proses dimana seseorang peserta didik
mengaktifkan dan menopang kognisi, perilaku, dan perasaannya
yang secara sistematis berorientasi pada pencapaian suatu
tujuan.

C. METODOLOGI PENELITIAN
1. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan metode
penelitian kolerasi ganda. Bersifat kolerasi dikarenakan penelitian ini
menganalisis dan menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara
variabel – variabel yang diteliti berdasarkan koefisien kolerasinya.
Penelitian korelasi bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya
hubungan antara dua variabel atau lebih, apabila ada sejau mana
tingkat hubungan nya, tanpa mengubah atau memanipulasi data yang
memang sudah ada ( Arikunto , 2004 (dalam Priasmara : 2013).
Metode korelasi ganda dalam penelitian ini digunakan untuk melihat
ada atau tidaknya hubungan antara sel efficacy dan regulasi diri
dengan prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu Angkatan 2016.

2. Subyek Penelitian
Subjek atau populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa
Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Bengkulu Angkatan 2016 berjumlah 44 orang.

3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional


a. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu dua variabel
bebas dan satu variebal terikat. Variabel bebas yang diteliti yaitu
self efficacy, sedangkan variabel terikat adalah prestasi belajar.

b. Definisi Operasional
1. Self efficacy adalah kenyakinan diri mahasiswa pendidikan
biologi dalam mengerjakan sendiri tugas yang sulit, keuletan
dan kemantapan dalam mempertahankan keputusan yang telah
dibuat dan memotivasi diri untuk mencapai apa yang telah
ditetapkan dalam kondisi apapun.
2. Regulasi diri adalah kemampuan mahasiswa dalam mengatur
diri untuk mencapai prestasi belajar yang optimal baik dalam
membuat pilihan, rencana, memotivasi diri dan mengatur
jalannya tindakan sesuai dengan rencana.
3. Prestasi belajar adalah kemampuan mahasiswa untuk
memahami ilmu berserta konsep – konsep pengetahuan yang
dilihat dari hasil belajar. Pada penelitian ini jenis prestasi
belajar yang dilihat adalah IPK mahasiswa pendidikan biologi
melalui ujian akhir semester ganjil tahun ajaran 2018 – 2019.

4. Teknik Pengumpulan Data


a. Angket
Angket merupakan teknik pengambilan data yang dilakukan
dengan cara memberikan sperangkat pertanyaan / pernyataan
tertulis kepada respondrn untuk dijawab ( sugiyono, 2012:142).

Dalam penelitian ini, angket dipilih sebagai salah satu instrument


karen beberapa alasan, yaitu 1) dapat disebarkan secara serentak
untuk responden yang berjumlah besar, 2) waktu yang digunakan
untuk pengisian angket tidak terlal lam adan relative singkat, 3)
dapat dibuat berstandar dan terformat sehingga bagi semua
responden dapat diberi pernyataan yang benar- benar sama, 4) tetap
terjaganya rahasia responden untuk menjawab sesuai dengan
pendapat pribadi dengan tidak mencantumkan nama pada angket
( di buat anonym), 5) dapat menjaring informasi dalam skala luas
dengan waktu cepat ( Darmadi, 2011 : 261).
Pada penelitian ini tahapan – tahapan pengembangan angket yang
dilakukan yaitu sebagai berikut : 1) menentukan variabel penelitian
yaitu self efficacy dan reglasi diri, 2) menentukan indicator dari
variabel self efficacy yaitu lingkungan belajar, perlunya self
efficacy, rasa minder, rasa malu, kegigihan, kejujuran, hambatan,
jumlah usaha yang dilakukan, kesulitan tugas, kenyakinan
menjawab dan kondisi keadaan. Sedangakan indicator dari regulasi
diri adalah kesadara tugas, tanggung jawab terhadap tugas, cara
belajar yang sesuai, membuat pilihan, cara menentukan pilihan,
cara memotivasi diri,cara menjalankan tindakan yang telah
direncanakan, lingkungan rumah dan lingkungan sekolah,3)
selanjutnya indukator – indokator yang telah ada dikembangakan
menjadi butir –butir instrument. Untuk satu tipe butit angket dibuat
dalam dua kelompok yaitu negative dan positif,4) validasi
angket,5) penggandaan atau perbanyakan angket sudah final sesuai
dengan jumlah subyek yang di teliti, 6) penyebaran angket kepada
responden yang menjadi sampel penelitian.

Angket self efficacy dan regulasi diri disusun untuk memperoleh


data tentang sel efficacy dan regulasi diri mahasiswa pendidikan
biologi fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas
bengkulu angkatan 2016. Kisi – kisi angket disusun berdasrakan
kerangka teoritis yang ada . bentuk angket tertutup. Angket tertutup
adalah angket yang digunakan untuk memperoleh data responden
dengan alternative jawaban yang telah disediakan sehingga
responden tinggal memilih (Bungin,2010 :123) angket yang
digunakan berbentuk Skala Linkert. Skala Linkert merupakan
sejumlah pernyataan positif da negative mengenai suatu objek
sikap. Skala Linkert yang mempunyai tingkatan anatara lain :
Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju dan Sangat Tidak Setuju.
Untuk meningkatkan kesahihan angket, maka sebelum dilakukan
penelitianpengumpulan data dilakukan validitas angket terlebih
dahulu. Validitas sebuah angket dapat diketahui dari hasil
pemikiran (validitas logis) dan dari hasil pengalaman (validitas
empiris) (Arikunto,2011:65). Validitas logis dilakukan oleh
pembimbing peneliti sedangkan validitas empiris dilakukan dengan
tahap uji coba dan tahap analisis statistic validitas dan realibilitas
instrument.

Uji coba angket dilakukan dengan mengambil minimal 10 % dari


jumlah mahasiswa yang djadikan subyek penelitian. Pada
penelitian ini,uji coba instrument dilakukan terhadap 5 orang
mahasiswa dari jumlah 44 orang mahasiswa Pendidikan Biologi
Universitas Bengkulu tahun 2016.

Selanjutnya angket akan dianalisis validitas dan realibitas angket.


Untuk mengukur validitas angket digunakan analisis butir dengan
rumus Pearson product moment ( Arikunto, 2011). Rumus korelasi
Pearson product moment adalah sebagai berikut:

r xy = N ∑ XY – ( ∑ X ) ( ∑ Y)

¿ N ∑ 2 - (∑ X ) - ¿ N ∑ 2 - (∑
¿ X ¿ Y
¿ ¿2

Y
)
¿ ¿2

Keterangan : r xy = Koefisien Korelasi Pearson product


moment

X = Skor instrument masing – masing butir

Y = Jumlah skor instrument untuk semua butir


N = Jumlah Subyek penelitian

Setelah nilai korelasi (rhitung) diperoleh, kemudian nilai rhitung


dibandingkan dengan nilai rtabel kaidah keputusannya adalah
sebagai berikut: Jika rhitung>rtabel maka alat ukur atau
instrumen yang digunakan dalam penelitian dinyatakan valid, dan
sebaliknya jika rhitung<rtabel maka alat ukur atau instrumen
yang digunakan dalam penelitian dinyatakan tidak valid dengan
taraf signifikan α = 0,05.

Untuk kevalidan butir instrument ditentukan berdasarkan kategori


validitas nilai instrument menurut Arikunto ( 2011) yaitu:

0,81 -1,00 : Sangat Tinggi

0,61 – 0.80 : Tinggi

0,41 – 0.60 : Cukup

0,21 – 0.40 : Rendah

1.1 – 0, 20 : Sangat Rendah

Butir angket yang validitasnya rendah akan dikaji ulang diperbaiki


lagi.

Untuk mengukur realibitas angket digunakan rumus alpha yang


dikembangkan oleh Popham ( Arikunto, 2010). Rumus alpha
digunakan karena respo bukan berbentuk dikotomi ( benar atau
salah). Rumus alpha yang digunakn adalah sebagai berikut :

k 1−∑ σ i 2
r 11 = ( )( )
k−1 σ i2

Keterangan : r 11 : realibilitas instrument


K : jumlah sampel

2
∑σ i : jumlah varian skor dari tiap tiap
item

σ i 2 : varian total

Dari harga reliabilitas yang diperoleh, hasilnya dikonsultasikan


dengan rtabel rata-rata signifikansi 5% atau internal kepercayaan
95%. Jika harga perhitungan lebih besar dari rtabel maka
instrumen dikatakan reliabel. Reliabilitas instrumen hasil uji coba
kemudian diinterpretasikan berdasarkan tabel berikut:

Interval Koefisien Interpretasi Hubungan


Korelasi

0,80 - 1,00 Sangat Tingi

0,60 - 0,79 Tinggi

0,40 - 0,59 Cukup

0,20 - 0,39 Rendah

0,00 - 0,19 Sangat Rendah

b. Dokumentasi
Teknik dokumentasi di gunakan untuk memperoleh informasi
dar berbagai macam sumber tertulis atau dokumen yang ada
(Sukardi, 2006: 87).Teknik dokumentasi digunakan untuk
melihat data atau nilai prestasi belajar mahasiswa pendidikan
biologi fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas
bengkulu angkatan 2016 melalui ujian akhir semester ganjil
tahun ajaran 2018 – 2019.
5. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh keadaan awal dan data
awal.
b. Tahap persiapan
1. Penyusunan instrument
2. Uji validitas dan realibitas instrument
c. Tahap Pengumpulan data
Pengumpulan data self efficacy dan regulasi diri mahasiswa
Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Bengkulu angkatan 2016 dilakukan diawal
semester 2018- 2019.

Pengumpulan data prestasi belajar mahasiswa Pendidikan


Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Bengkulu angkatan 2016 menggunakan dokumentasi resmi
berupa nilai yang diminta langsung dari dosen . Prestasi belajar
mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Bengkulu angkatan 2016 diambil dari
nilai ujian akhir kuliah.

Pada pengisian angket self efficacy dan regulasi diri, peneliti


menjelaskan tujuan penyebaraa angket dan cara pengisian
angket. Selanjutnya, pengisian angket dilaksanakan selama 15
menit. Setelahnangket diisi, angket dikumpulkan dengan
memperhatikan kelengkapan jawaban. Angket yang tidak
lengkap akan dikembalikan dan dilengkapi oleh mahasiswa,

Respon mahasiswa pada angket diolah dengan


mengkuantifikasikan respon, respon terhadap pernyataan
positif diberi skor positif diberi skor 4 untuk Sangat Setuju, 3
untuk Setuju, 2 Tidak Setuju, dan 1 untuk Sangat Tidak Setuju.
Respon pernyataan negative diberi skor skor 4 untuk Sangat
Setuju, 3 untuk Setuju, 2 Tidak Setuju, dan 1 untuk Sangat
Tidak Setuju
d. Tahapan Analisis Data
e. Tahap Pembuatan Laporan Penelitian

6. Teknik Analisa Data


a. Uji Prasyarat
 Uji normalitas
Pengujian normalitas dilakukan terhadap semua variabel
yang diteliti, yaitu meliputi variabel sel eficacy (X1),
regulasi diri (X2), dan prestasi belajat guru (Y). Uji
normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang
terkumpul berdistribusi normal atau tidak. Dengan uji
normalitas akan diketahui sampel yang diambil berasal dari
populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Apabila
pengujian normal, maka hasil perhitungan statistik dapat
digeneralisasi pada populasinya. Dalam penelitian ini, uji
normalitas dapat digunakan uji Kolmogrov-smirnov,
kriterianya adalah signifikansi untuk uji dua sisi hasil
perhitungan > 0,05 berarti berdistribusi normal.
H0: Data berasal dari sampel tidak berdistribusi normal
H1 : Data berasal dari sampel berdistribusi normal
Kriteria uji: tolak H0 jika nilai sig > 0,05 dan terima H0
untuk selainnya.
 Uji Homogenitas
Uji ini dimaksudkan untuk menguji kesamaan varians
populasi yang berdistribusi normal. Uji homogenitas
menggunakan uji Barletts, jika nilai probabilitasnya > 0, 05
maka data berasal dari populasi yang variansnya sama atau
homogen. Pengujian homogenitas dilakukan terhadap
semua variabel dependen yang diteliti, yaitu meliputi
variabel konsep diri (X1), supervisi akademik kepala
sekolah (X2) dan motivasi berprestasi (X3). Untuk
keperluan pengujian digunakan metode uji analisis One-
Way Anova, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Perumusan Hipotesis:
H0: Varians populasi tidak homogen
H1 : Varians populasi adalah homogen
Dengan kriteria uji: tolak H0jika nilai sig > 0,05 dan terima
H0untuk selainnya.

 Uji Linearitas

Uji yang harus dipenuhi untuk analisis regresi adalah uji


linieritas, bertujuan untuk memastikan hubungan antara
ubahan bebas dan ubahan terikat bersifat linier, kuadratik
atau dalam derajat yang lebih tinggi lagi. Pedoman untuk
melihat kelinieritasan ini adalah menggunakan scaterplot,
jika data tersebar dari arah kiri bawah ke kanan atas
membentuk garis lurus berarti regresinya adalah linier.
Pengujian linieritas persamaan regresi dilakukan dengan
melihat nilai Deviation from linierity pada tabel Anova.
Hipotesis yang digunakan:
H0: Model persamaan regresi tidak linier
H1 : Model persamaan regresi linier
Dengan kriteria uji: tolak H0jika nilai sig dari Deviation
from linierity pada tabel Anova > 0,05, dalam hal lain
H0diterima.

Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi carl pearson dan


korelasi ganda. Sehubungan penelitian ini adalah penelitian populasi,
maka tidak diperlukan uji persyaratan untuk menentukan teknik
analisis statistik yang digunakan.

Teknik analisis data menggunakan teknik korelasi Carl Pearson dan


korelasi ganda. Namun sebelum menggunakan metode tersebut, dicari
dulu skor baku (Tscore) masing-masing data Tscore berfungsi untuk
menyetarakan dari beberapa jenis skor yang berbeda satuan ukurannya
atau berbeda bobot skornya, menjadi skor baku atau skor standar.
Tscore = 50 + 10.Zs
Keterangan :
Tscore : skor baku
Z score : diperoleh dari perhitungan Z score = X i - X
SD

Setelah data tes memiliki nilai baku yang sama, maka data
menggunakan uji korelasi product moment dan korelasi ganda, dengan
rumus sebagai berikut :

a. Mencari Koefisien Korelasi

b. rX y
i
=N∑ Xi Y – ( ∑ Xi ) ( ∑ Y)

Xi ¿ N∑ 2 -
N ∑ X i2 - (∑ 2 ) - ¿ Y
¿¿

Y
(∑ )
¿ ¿2

Keterangan : rX y
i
= Koefisien korelasi
n = Jumlah sampel

X = Skor variabel

Y = Skor variabel Y

ΣX = Jumlah skor variabel X

ΣY = Jumlah skor variabel Y

ΣX2 = Jumlah kuadrat skor variabel X

ΣY2 = Jumlah kuadrat skor variabel Y


Dalam Sugiyono (2008: 226) Kuatnya hubungan antar variabel
dinyatakan dalam koefisien korelasi. Koefisien korelasi positif
terbesar = 1 dan koefisien korelasi negatif terbesar = -1, sedangkan
yang terkecilnadalah 0. Bila hubungan antara dua variabel atau
lebih itu mempunyai koefisien korelasi = 1 atau -1, maka hubungan
tersebut sempurna. Jika didapat r = -1 maka terdapat korelasi
negatif sempurna, artinya setiap peningkatan pada variabel tertentu
maka terjadi penurunan pada variabel lainnya. Sebaliknya jika
didapat r = 1, maka diperoleh korelasi positif sempurna. Artinya
ada hubungan yang positif antara variabel, dan kuat atau tidaknya
hubungan ditunjukkan oleh besarnya nilai koefisien korelasi. Dan
koefisien korelasi adalah 0 maka tidak terdapat hubungan.

Tabel 1. Interpretasi koefisien korelasi nilai r.

Interval Koefisien Interpretasi Hubungan


Korelasi

0,80 - 1,00 Sangat Tingi

0,60 - 0,79 Tinggi

0,40 - 0,59 Cukup

0,20 - 0,39 Rendah

0,00 - 0,19 Sangat Rendah

Untuk mengetahui apakah koefisien korelasi hasil perhitungan


signifikan atau tidak, maka perlu dibandingkan dengan r tabel
Product Moment,= dengan taraf signifikan 0,05 (taraf kepercayaan
95%). Kaidah pengujian signifikan : Jika r hitung ≥ r tabel , maka
tolak Ho artinya ada hubungan yang signifikan dan jika r hitung < r
tabel, maka terima Ho artinya tidak ada hubungan yang signifikan.
Untuk mengetahui hubungan variabel X terhadap Y dicari dengan
menggunakan rumus koefisien determinasi (Sudjana, 2005: 369).
Adapun rumus koefisien determinasi sebagai berikut :

KP = r 2 x 100 %

Keterangan : KP = Nilai koefisien determinasi


r2 = Koefisien korelasi dikuadratkan

b,Mencari Korelasi Ganda

Untuk mencari hubungan kedua variabel bebas dengan


variabel terikat

dengan menggunakan rumus Korelasi Ganda ( R X 1 X 2 Y )

R y (1,2 ) = α 1 ∑ X 1 Y + α 2 ∑ X 2 Y

∑ y2

Keterangan : R y (1,2 ) = Koefisien korelasi antara Y dengan X1,


X2

∑ X1 Y = Jumlah produk antara X1 dengan Y

∑ X2 Y = Jumlah produk antara X2 dengan Y


∑ y 2 = Jumlah kuadrat kriterium Y

α ( 1,2)= Koefisien prediktor menurut Sutrisno Hadi


(2009:33)
Untuk mengetahui sumbangan kedua variabel bebas dengan
variabel terikat, koefisien determinasi dicari dengan mengalikan
koefisisen korelasi ganda yang telah dikuadratkan (R2) dengan
100%.
D. DAFTAR PUSTAKA
Aftina Nurul Husan, dkk, 2014. Regulasi Diri Mahasiswa Berprestasi.
Jurnal Psikologi Undip. Vol. 13 No. (1) Fakultas Psikologi Universitas
Diponogegoro. Semarang. (Online).
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi (Diakses 11 desembar
2018 )
Arikunto,S. 2010. Prosedur Penelitian. Yogyakarta: Rineka Cipta
Arikunto,S. 2011. Dasar – dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara
Bandura, A. 1997. Self efficacy: The Exercise of Control. USA: W.H.
Freemen dan Company
Bungin, B. 2004. Metode Penelitian Kuantitatif. Surabaya: Kencana
Prenada Media Group
Chaplin, J. P. (Ed.). (1999). Kamus lengkap psikologi (K. Kartono, Penerj.).
Jakarta: RajaGrafindoPersada.
Coetzee, Louise Rolene. 2011. The Relationship Between Student’s
Academic Self Concept, Motivation and Academic Achievement At The
University of The Free State. Diakses pada 1 Januari 2013 dari http:
http://uir.unisa.ac.za/bitstream/handle/10500/4346
Darmadi, H. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Evita Tri Purnamasari, 2014. Hubungan Antara Regulasi Diri dengan
Prograsistinasi Menyelesakan Tugas pada Asisten Mata Kuliah
Praktikum. Naskah Publikasi. Fakultas Psikoloi Universitas
Muhammadiyah Surakarta. (Online).
http://eprints.ums.ac.id/31795/18/02._Naskah_Publikasi.pdf (Diakses
11 Desembaer 2018)
Lopez, S. J. & Synder, C.R., 2003. Positive Psychological Assesment A
Handbook of Models and Measurements. American Psychological
Association.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R and D.
Bandung: Alfabeta
Sukardi. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan
Praktiknya. Yogyakarta: Bumi Aksara
Syah, M., M.Ed. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta. PT. Raja Grafindo
Persada.
Winkel, W.S. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta : Media Abadi