Anda di halaman 1dari 6

1.

Secara leksikal, kata din (agama) berasal dari bahasa Arab yang berarti ketaatan dan
balasan. Sedangkan secara teknis, din berarti iman kepada pencipta manusia dan alam
semesta serta hukum praktis yang sesuai dengan keimanan tersebut. Seperti
disabdakan Nabi, “Segala sesuatu menjadi dapat dibedakan melalui kebalikannya”.
Begitu halnya dengan din. Dari kata din-lah maka muncul kata al-ladin, yakni orang
yang tidak beragama atau orang yang tidak mengimani adanya Wujud Pencipta alam
secara mutlak. Apa pun definisi yang diberikan kepada konsep agama, pasti
dimengerti bahwa “kepercayaan kepada sesuatu kekuatan Mutlak atau kehendak
Mutlak sebagai kepedulian tertinggi” adalah hakikat esensial konsep ini dalam semua
budaya dan dalam semua variasinya.
Dalam hal ini, fitrah adalah sesuatu yang universal bagi manusia. Tidak ada satu pun
manusia yang dapat menyangkalnya. Ia tidak hanya terbatas pada keyakinan akan ke-
Esa-an Tuhan, melainkan juga mencakup seluruh ajaran dan prinsip yang benar.
Kalau benar fitrah itu bersifat universal bagi manusia.

Fitrah adalah keswasenyataan yang paling jelas, karena tidak ada satu permasalahan
pun yang melebihi kejelasannya. Tidak seorang pun mengingkarai hal ini. Oleh
karenanya fitrah adalah salah satu yang paling jelas dan paling nyata dari sekian
banyak prinsip yang pasti benarnya. Dalam ayat yang sama tersebut di atas
menjelaskan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.
Menurut M.T Misbah yazdi, sebagian ahli psikologi bahwa beragama dan beribadah
kepada Allah itu sebenarnya satu kecenderungan fitrah tersendiri, yang basisnya
disebut sebagai rasa beragama, mereka menempatkan rasa beragama sebagai naluri
keempat manusia, disamping naluri rasa ingin tahu (kuriostika), rasa ingin berbuat
baik (etika), dan rasa ingin keindahan (estetika). Para sejarawan dan arkeolog
menemukan fakta bahwa rasa beragama dan beribadah Allah adalah fenomena yang
merata dan umum pada setiap generasi manusia sepanjang sejarah. Fenomena ini
adalah salah satu bukti kuat bahwa religiusitas adalah fitrah yang bersifat universal.
Maka tidak salah, dari fenomena religiusitas setiap peradaban, melahirkan sebuah
istilah umum, “Agama adalah jantung peradaban.” Setiap peradaban mempunyai
pandangan dunia holistik, dimana dimensi metafisik, filosofis dan teologis termasuk
di dalamnya.

2. HAM Barat

stilah hak asasi manusia baru muncul setelah Revolusi Perancis, dimana para tokoh
borjuis berkoalisi dengan tokoh-tokoh gereja untuk merampas hak-hak rakyat yang
telah mereka miliki sejak lahir. Akibat dari penindasan panjang yang dialami
masyarakat Eropa dari kedua kaum ini, muncullah perlawanan rakyat dan yang
akhirnya berhasil memaksa para raja mengakui aturan tentang hak asasi manusia.

Diantaranya adalah pengumuman hak asasi manusia dari Raja John kepada rakyat
Inggris tahun 1216. Di Amerika pengumuman dilakukan tahun 1773. Hak asasi ini
lalu diadopsi oleh tokoh-tokoh Revolusi Perancis dalam bentuk yang lebih jelas dan
luas, serta dideklarasikan pada 26 Agustus 1789. Kemudian deklarasi Internasional
mengenai hak-hak asasi manusia dikeluarkan pada Desember 1948.
Akan tetapi sebenarnya bagi masyarakat muslim, belum pernah mengalami
penindasan yang dialami Eropa, dimana sistem perundang-undangan Islam telah
menjamin hak-hak asasi bagi semua orang sesuai dengan aturan umum yang diberikan
oleh Allah kepada seluruh ummat manusia.

Dalam istilah modern, yang dimaksud dengan hak adalah wewenang yang diberikan
oleh undang-undang kepada seseorang atas sesuatu tertentu dan nilai tertentu. Dan
dalam wacana modern ini, hak asasi dibagi menjadi dua:

a. Hak asasi alamiah manusia sebagai manusia, yaitu menurut kelahirannya,


seperti: hak hidup, hak kebebasan pribadi dan hak bekerja.

a. Hak asasi yang diperoleh manusia sebagai bagian dari masyarakat sebagai
anggota keluarga dan sebagai individu masyarakat, seperti: hak memiliki, hak
berumah-tangga, hak mendapat keamanan, hak mendapat keadilan dan hak persamaan
dalam hak.

Terdapat berbagai klasifikasi yang berbeda mengenai hak asasi manusia menurut
pemikiran barat, diantaranya :

Pembagian hak menurut hak materiil yang termasuk di dalamnya; hak keamanan,
kehormatan dan pemilihan serta tempat tinggal, dan hak moril, yang termasuk di
dalamnya: hak beragama, hak sosial dan berserikat.

Pembagian hak menjadi tiga: hak kebebasan kehidupan pribadi, hak kebebasan
kehidupan rohani, dan hak kebebasan membentuk perkumpulan dan perserikatan.

Pembagian hak menjadi dua: kebebasan negatif yang memebentuk ikatan-ikatan


terhadap negara untuk kepentingan warga; kebebasan positif yang meliputi pelayanan
negara kepada warganya.

Dapat dimengerti bahwa pembagian-pembagian ini hanya melihat dari sisi larangan
negara menyentuh hak-hak ini. Sebab hak asasi dalam pandangan barat tidak dengan
sendirinya mengharuskan negara memberi jaminan keamanan atau pendidikan, dan
lain sebagainya. Akan tetapi untuk membendung pengaruh Sosialisme dan
Komunisme, partai-partai politik di Barat mendesak agar negara ikut campur-tangan
dalam memberi jaminan hak-hak asasi seperti untuk bekerja dan jaminan sosial.
Dalam Pandangan Barat

 Bersifat antroposentris ( segala sesuatu berpusat kepada manusia )


 Manusia lah yang menjadi tolak ukur segala sesuatu

HAM Islam

Hak asasi dalam Islam berbeda dengan hak asasi menurut pengertian yang umum
dikenal. Sebab seluruh hak merupakan kewajiban bagi negara maupun individu yang
tidak boleh diabaikan. Rasulullah saw pernah bersabda: "Sesungguhnya darahmu,
hartamu dan kehormatanmu haram atas kamu." (HR. Bukhari dan Muslim). Maka
negara bukan saja menahan diri dari menyentuh hak-hak asasi ini, melainkan
mempunyai kewajiban memberikan dan menjamin hak-hak ini.

Sebagai contoh, negara berkewajiban menjamin perlindungan sosial bagi setiap


individu tanpa ada perbedaan jenis kelamin, tidak juga perbedaan muslim dan non-
muslim. Islam tidak hanya menjadikan itu kewajiban negara, melainkan negara
diperintahkan untuk berperang demi melindungi hak-hak ini. Dari sinilah kaum
muslimin di bawah Abu Bakar memerangi orang-orang yang tidak mau membayar
zakat.

Negara juga menjamin tidak ada pelanggaran terhadap hak-hak ini dari pihak
individu. Sebab pemerintah mempunyai tuga sosial yang apabila tidak dilaksanakan
berarti tidak berhak untuk tetap memerintah. Allah berfirman:

"Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukannya di muka bumi, niscaya
mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan
mencegah perbuatan munkar. Dan kepada Allah-lah kembali semua urusan." (QS.
22: 4)

Jaminan Hak Pribadi

Jaminan pertama hak-hak pribadi dalam sejarah umat manusia adalah dijelaskan Al-
Qur’an:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan
rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya... dst." (QS.
24: 27-28)

Dalam menjelaskan ayat ini, Ibnu Hanbal dalam Syarah Tsulatsiyah Musnad Imam
Ahmad menjelaskan bahwa orang yang melihat melalui celah-celah ointu atau melalui
lubang tembok atau sejenisnya selain membuka pintu, lalu tuan rumah melempar atau
memukul hingga mencederai matanya, maka tidak ada hukuman apapun baginya,
walaupun ia mampu membayar denda.

Jika mencari aib orang dilarang kepada individu, maka itu dilarang pula kepada
negara. Penguasa tidak dibenarkan mencari-cari kesalahan rakyat atau individu
masyarakat. Rasulullah saw bersabda: "Apabila pemimpin mencari keraguan di
tengah manusia, maka ia telah merusak mereka." Imam Nawawi dalam Riyadus-
Shalihin menceritakan ucapan Umar: "Orang-orang dihukumi dengan wahyu pada
masa rasulullah saw. Akan tetapi wahyu telah terhenti. Oleh karenanya kami hanya
menghukumi apa yang kami lihat secara lahiriah dari amal perbuatan kalian."

Muhammad Ad-Daghmi dalam At-Tajassus wa Ahkamuhu fi Syari’ah


Islamiyah mengungkapkan bahwa para ulama berpendapat bahwa tindakan penguasa
mencari-cari kesalahan untuk mengungkap kasus kejahatan dan kemunkaran,
menggugurkan upayanya dalam mengungkap kemunkaran itu. Para ulama
menetapkan bahwa pengungkapan kemunkaran bukan hasil dari upaya mencari-cari
kesalahan yang dilarang agama.
Perbuatan mencari-cari kesalahan sudah dilakukan manakala muhtasib telah berupaya
menyelidiki gejala-gejala kemunkaran pada diri seseorang, atau dia telah berupaya
mencari-cari bukti yang mengarah kepada adanya perbuatan kemunkaran. Para ulama
menyatakan bahwa setiap kemunkaran yang berlum tampak bukti-buktinya secara
nyata, maka kemunkaran itu dianggap kemunkaran tertutup yang tidak dibenarkan
bagi pihak lain untuk mengungkapkannya. Jika tidak, maka upaya pengungkapan ini
termasuk tajassus yang dilarang agama.

Dalam Pandangan Islam

 Bersifat teosentris ( segala sesuatu berpusat kepada Tuhan )


 Allah – lah yang menjadi tolak ukur segala sesuatu, sedangkan manusia
adalah ciptaan Alla h untuk mengabdi kepada – Nya

3. demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dengan kekuasaan tertinggi berada di


tangan rakyat dan dijalankan langsung oleh mereka atau wakil-wakil yang mereka
pilih di bawah sistem pemilihan bebas. Lincoln (1863) menyatakan “Demokrasi
adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” Secara teori, dalam
sistem demokrasi, rakyatlah yang dianggap berdaulat, rakyat yang membuat hukum
dan orang yang dipilih rakyat haruslah melaksanakan apa yang telah ditetapkan rakyat
tersebut.
Selain itu, demokrasi juga menyerukan kebebasan manusia secara menyeluruh dalam
hal :
a. Kebebasan beragama
b. Kebebasan berpendapat
c. Kebebasan kepemilikan
d. Kebebasan bertingkah laku

Inilah fakta demokrasi yang saat ini dianut dan digunakan oleh hampir semua negara
yang ada di dunia. Tentu saja dalam implementasinya akan mengalami variasi-variasi
tertentu yang dilatar belakangi oleh kebiasaan, adat istiadat serta agama yang dominan
di suatu negara. Namun demikian variasi yang ada hanyalah terjadi pada bagian
cabang bukan pada prinsip tersebut.
Menurut Syaikh Abdul Qadim Zallum, dalam kitabnya Demokrasi Sistem Kufur,
demokrasi mempunyai latar belakang sosio-historis yang tipikal Barat selepas Abad
Pertengahan, yakni situasi yang dipenuhi semangat untuk mengeliminir pengaruh dan
peran agama dalam kehidupan manusia. Demokrasi lahir sebagai anti-tesis terhadap
dominasi agama dan gereja terhadap masyarakat Barat. Karena itu, demokrasi adalah
ide yang anti agama, dalam arti idenya tidak bersumber dari agama dan tidak
menjadikan agama sebagai kaidah-kaidah berdemokrasi. Orang beragama tertentu
bisa saja berdemokrasi, tetapi agamanya mustahil menjadi aturan main dalam
berdemokrasi. Secara implisit, beliau mencoba mengingatkan mereka yang menerima
demokrasi secara buta, tanpa menilik latar belakang dan situasi sejarah yang
melingkupi kelahirannya.
4. Kedudukan hukum Islam dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak terlepas
pengaruhnya masuknya Islam ke nusantara pada abad ke 12 dan ke 13 masehi di mana
pada masa itu para penyebar agama Islam di nusantara menganut mazhab syafi’i.
Perjalanan sejarah transformasi Hukurn Islam sarat dengan berbagai dimensi
historis, filosofis, politik, sosiologis dan yuridis. Hukum Islam di Indonesia terlihat
dari dua sisi. Pertama, hukum Islam berlaku secara yuridis formal atau
dikodifikasikan dalam struktur hukum nasional. Kedua, hukum Islam berlaku secara
normatif yakni diyakini memiliki sanksi atau padanan hukum bagi masyarakat
muslim.
Beberapa hukum Islam sudah mulai diterapkan di Indonesia. Hal ini bisa dilihat pada
sistem perekonomian yang berbasiskan Islam, seperti diterapkannya bank berbasis
syari'ah, koperasi syari'ah dan lainnya.
"Saat ini orang sudah mulai sadar sistem perekonomian kapitalis dan sistem
perekonomian sosialis yang menguasai dunia memiliki kekurangan. Disitulah saatnya
orang ingin melihat sistem perekonomian Islam, bisa atau tidak menggantikan dua
sistem perekonomian tersebut.”
Selain hukum perekonomian, juga sudah diterapkan Undang-Undang No. 1 tahun
1974 tentang Perkawinan. Undang-undang ini diakuinya sebagai undang-undang yang
bersifat umum untuk semua pemeluk agama, namun bagi umat Islam praktiknya bagi
umat Islam lebih diperinci sesuai dengan kebutuhan Konfilasi Hukum Islam (KHI)
atau sekumpulan materi hukum Islam yang ditulis pasal demi pasal.
Dikatakan, masyarakat memiliki pandangan tersendiri mengenai hukum perkawinan
ini. Ada yang berpendapat perkawinan itu sah katika syarat dan rukunnya terpenuhi,
tapi ada juga yang berpandangan hal itu belum memadai, harus dilakukan
pembaharuan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Pembaharuan ini sudah mulai tampak pada pernikahan dan perceraian yang mesti
dilakukan di depan pengadilan, agar dapat dicatat negara demi perlindungan umat.
"Hukum Islam ini dipatuhi secara keseluruhan atau tidak, tergantung kepada
pemahaman, kesadaran dan kebutuhan umat Islam terhadap aturan yang ada dalam
agamanya.”
5. Dua peran yang dipegang manusia di muka bumi, sebagai khalifah dan ‘abdun ,
merupakan perpaduan tugas dan tanggung jawab yang melahirkan dinamika hidup,
yang syarat dengan kreativitas dan amaliah yang selalu berpihak pada nilai-nilai
kebenaran. Oleh karena itu hidup seorang muslim akan dipenuhi dengan amaliah,
kerja keras yang tiada henti , sebab kerja bagi seorang muslim adalah membentuk
amal shalih. Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan hamba Allah,
bukanlah dua posisi yang bertentangan, melainkan satu kesatuan yang padu dan tak
terpisahkan. Kekhalifahan adalah realisasi dari pengabdiannya kepada Allah yang
menciptakannya. Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap
muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidak seimbangan, maka akan lahir sifat-
sifat tertentu, yang menyebabkan derajat manusia jatuh ke tingkat yang rendah.