Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN TUTORIAL KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

“MODUL LUKA/TRAUMA”

TUTOR : dr. INEZ TIENEKE HASUBA

Disusun Oleh:

Kelompok 11
Ahmad Yarid Pujianto K1A1 14 004
Helvina Emha Yanti K1A1 14 128
Fadel Rajab Nugraha K1A1 15 011
Meildy Susanty Samuddin K1A1 15 025
Sasqia Pratiwi Iqbal K1A1 15 040
Iis Ainu Rahma K1A1 15 055
Riskayani Mantu K1A1 15 071
Muhammad Zainsa Asfar K1A1 15 086
Nurfadhilah Ngani K1A1 15 100
Siti Hariyati Nur Amalia K1A1 15 115
Wilda Lestari Ayu K1A1 15 128
Pratiwi K1A1 15 146
Ahmad Munif Makarim K1A1 15 162

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman mengenai
mekanisme dasar yang berkaitan dengan terjadinya luka/trauma dan kondisi yang
berhubungan dengan luka/trauma serta karakteristik luka. Hal ini termasuk luka yang
disebabkan oleh tikaman, luka akibat benda tumpul (tinju, tendangan, pukulan, dll),
cekikan, gigitan, luka tembak, luka akibat jatuh dari ketinggian, tertabrak kendaraan, dan
trauma ledakan akibat bahan peledak. Sebagai tambahan, mahasiswa juga diharapkan
dapat membedakan waktu terjadinya luka/trauma, apakah luka tersebut terjadi ante-
mortem atau post-mortem (sebelum atau setelah kematian korban), dan untuk
menetapkan penyebab luka/trauma paling mungkin (cause of damage) menggunakan
pendekatan proximus morbus (PMA)
II. Sasaran Pembelajaran
Setelah pembelajaran dengan modul ini mahasiswa diharapkan dapat:

1. Mendeskripsikan karakteristik luka.

2. Menyimpulkan diagnosis (kategorisasi luka).

3. Menjelaskan patomekanisme luka/trauma menggunakan pengetahuan tentang


tentang anatomi, histologi, dan fisiologi tubuh manusia.

4. Menetapkan penyebab luka paling mungking (CODamage) menggunakan


pendekatan Proximus Morbus (PMA).

5. Menjelaskan karakteristik kemungkinan ‘agen’ penyebab luka.

6. Menjelaskan keparahan/derajat luka sesuai dengan hukum yang berlaku.

III. Skenario 1.5


Seorang Laki-laki berusia 30 tahun datang ke UGD RS dan mengaku sebagai korban
tabrak lari. Berdasarkan hasil anamnesis, pasien mengaku diserempet oleh sepeda motor
saat sedang berjalan kaki dan sempat terguling di aspal sehingga mengalami luka di
dekat siku knan. Tidak ada riwayat penurunan kesadaran atau muntah.

IV. Kata / Kalimat Kunci


1. Laki-laki umur 30 tahun
2. Korban tabrak lari
3. Pasien mengaku diserempet saat berjalan kaki

2
4. Tidak ada riwayat penurunan kesadaran atau muntah
5. Luka dekat siku kanan

V. Pertanyaan
1. Jelaskan Anatomi dan Fisiologi dari kulit
2. Jelaskan klasifikasi luka dan deskripsi luka secara umum
3. Bagaimana deskripsi luka pada scenario
4. Jelaskan patomekanisme luka pada scenario
5. Jelaskan karakteristik agen penyebab luka
6. Jelaskan derajat keparahan luka sesuai hukum yang berlaku
7. Jelaskan penyebab luka yang paling mungkin (CODamage)
8. Jelaskan tahapan pemeriksaan Visum et Repertum dari skenario
VI. Jawaban pertanyaan
1) Anatomi dan Fisiologi dari Kulit
A. Anatomi Kulit

Gambar 1. Anatomi Kulit

Kulit atau dalam bahasa ilmiahnya integumentum communae merupakan organ


terbesar dan terpenting dalam tubuh yang menutupi otot-otot dan organ-organ
interna. Kulit mencerminkan status kesehatan individu.

Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu
lapisan epidermis atau kutikel, lapisan dermis, dan subkutis. Subkutis ditandai
dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan jaringan lemak.

3
1) Lapisan Epidermis

Epidermis merupakan lapisan terluar dari kulit yang selalu tumbuh dan
berganti. Regenerasi sel-sel kulit akan terus terjadi akibat pengikisan sel-sel luar
dan akan diganti sel- sel lain yang matang dan bergerak keatas untuk
menggantikan sel yang rusak. Epidermis bervariasi dalam ketebalan. Epidermis
mengalami karatinasi (kornifikasi) dan dapat berdiferensiasi menjadi footpads,
teracak, dan lain-lain. Didaerah yang terbuka, didaerah kepala dan punggung,
epidermis lebih tebal dibandingkan dengan daerah seperti ketiak dan perut.

2) Dermis
Dermis terletak di profundal epidermis, mengambil posisi terbesar dari
integumen, dan menjadi pembentuk struktur kulit serta menjadi kekuatan kulit.
Dermis terdiri dari dua lapisan utama, yaitu:
a. Lapisan papilaris: lapisan papilaris ini tipis dan berbatasan dengan epidermis
serta membentuk dermal papillae.
b. Lapisan retikularis: lapisan retikularis ini tebal dibandingkan dengan lapisan
papilaris. Selain itu terdapat juga unsur-unsur lain seperti pembuluh darah,
limfe, dan saraf. Terdapat juga folikel rambut yang memproduksi rambut,
kelenjar keringat.
3) Hypodermis (subkutaneus)
Lapisan tebal dipropundal dermis dan berisi jaringan lemak, pembuluh
darah, dan limfe. Di hypodermis ini terdapat Corpusculus pacini (tekanan
keras) dan Corpusculus meissner (tekanan ringan). Hypodermis disusun oleh
jaringan ikat sehingga tidak terjadi perlekatan dengan jaringan profundalnya
sehingga kulit dapat bergerak bebas. (Tortora, 2009)

B. Fisiologi Kulit
1) Fungsi Proteksi
Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap :
a. Gangguan fisis/ mekanis, misalnya: tekanan, gesekan, tarikan
b. Gangguan kimiawi, misalnya: zat-zat kimia terutama yang bersifat iritan.
Contoh: lisol, karbol, dll
c. Gangguan yang bersifat panas, misalnya: radiasi, sengatan sinar ultraviolet
d. Gangguan infeksi luar, kuman/bakteri maupun jamur

4
Hal tersebut dimungkinkan karena adanya :
a. Bantalan lemak tebalnya lapisan kulit dan serabut-serabut jaringan penunjang
yang berperan sebagai pelindung terhadap gangguan fisis.
b. Proteksi rangsangan kimia dapat terjadi karena stratum korneum yang
impermeabel terhadap pelbagai zat kimia dan air, dismping itu terdapat lapisan
keasaman kulit yang melindungi kontak zat-zat kimia dengan kulit. (Terbentuk
dari hasil eskresi keringat dan sebum).
c. Keasaman kulit menyebabkan pH kulit berkisar pada pH 5-6.5, sehingga
merupakan perlindungan kimiawi terhadap infeksi bakteri maupun jamur.
d. Proses keratinisasi sebagai sawar mekanis karena sel-sel mati melepaskan diri
secara teratur
2) Fungsi Absorbsi
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat, tetapi
cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitupun yang larut lemak.
Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2 ,dan uap air memungkinkan kulit ikut
mengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorbsi kulit dipengaruhi
oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembapan, metabolisme dan jenis vehikulum.
Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antara sel, menembus sel-sel
epidermis atau melalui muara saluran kelenjar; tetapi lebih banyak yang melalui
sel-sel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar.
3) Fungsi Ekskresi
Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi/sisa
metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat,amonia.
4) Fungsi Persepsi
Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis:
a. Terhadap rangsangan panas; badan-badan Ruffini di dermis dan subkutis
b. Terhadap rangsangan dingin; badan-badan Krause di dermis
c. Terhadap rabaan halus; badan taktil Meissner di papilla dermis
d. Terhadap rabaan kasar; badan Merkel Ranvier di epidermis
e. Terhadap tekanan; badan Paccini di epidermis
5) Fungsi Pengatur Suhu Tubuh
Kulit melakukan peran ini dengan cara mengeluarkan keringat dan
mengerutkan (otot berkontraksi) pembuluh darah kulit.
6) Fungsi Pembentukan Pigmen

5
Sel pembentuk pigmen (melanosit), terletak di lappisan basal, dan sel ini
berasal dari rigi saraf. Pada pulasan H.E. sel ini jernih berbentuk bulat dan
merupakan sel dendrit, disebut pula sebagai clear cell.
Melanosom dibentuk oleh alat Golgi dengan bantuan enzim tirosinase, ion
Cu dan O2. Pajanan sinar matahari memperngaruhi produksi melanosom.
Pigmen disebar ke epidermis melalui tangan-tangan dendrit, sedangkan ke
lapisan dibawahnya dibawa oleh sel melanofag (melanofor).
7) Fungsi Keratinisasi
Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan, sel basal yang
lain akan berpindah keatas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin
ke atas sel menjadi makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin
lama inti menghilang dan keratinosit ini menjadi sel tanduk yang amorf. Proses
ini berlangsung seumur hidup.
8) Fungsi Pembentukan Vitamin D
Dimungkinkan dengan mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan
sinar matahari. Tetapi kebutuhan tubuh akan vitamin D tidak cukup hanya dari
hal tersebut, sehingga pemberian vitamin D sistemik masih tetap diperlukan.
(Djuanda, 2011)

2) Klasifikasi Luka dan Deskripsi Luka Secara Umum

A. Klasifikasi luka secara umum

1) Jenis luka akibat kekerasan benda tumpul (blunt force injury).

Benda tumpul bila mengenai tubuh dapat menyebabkan luka yaitu luka
lecet, memar dan luka robek atau luka robek atau luka terbuka. Dan bila
kekerasan benda tumpul tersebut sedemikian hebatnya dapat pula menyebabkan
patah tulang.

a. Luka lecet (abrasion)

Luka lecet adalah luka yang superficial, kerusakan tubuh terbatas hanya
pada lapisan kulit yang paling luar/kulit ari. Walaupun kerusakan yang
ditimbulkan minimal sekali, luka lecet mempunyai arti penting di dalam Ilmu
Kedokteran Kehakiman, oleh karena dari luka tersebut dapat memberikan
banyak hal.
6
1. Luka lecet tekan pada kasus penjeratan atau penggantungan, akan tampak
sebagai suatu luka lecet yang berwarna merah-coklat, perabaan seperti
perkamen, lebarnya dapat sesuai dengan alat penjerat dan memberikan
gambaran/cetakan yang sesuai dengan bentuk permukaan dari alat
penjerat, seperti jalianan tambang atau jalinan ikat pinggang. Luka lecet
tekan dalam kasus penjeratan sering juga dinamakan “jejas jerat”,
khususnya bila alat penjerat masih tetap berada pada leher korban.
2. Di dalam kasus kecelakaan lalu lintas dimana tubuh korban terlindas oleh
ban kendaraan, maka luka lecet tekan yang terdapat pada tubuh korban
seringkali merupakan cetakan dari ban kendaraan tersebut, khususnya bila
ban masih dalam keadaan yang cukup baik, dimana “kembang” dari ban
tersebut masih tampak jelas, misalnya berbentuk zig-zag yang sejajar.
Dengan demikian di dalam kasus tabrak lari, informasi dari sifat-sifat luka
yang terdapat pada tubuh korban sangat bermanfaat di dalam penyidikan.
3. Dalam kasus penembakan, yaitu bila moncong senjata menempel pada
tubuh korban, akan memberikan gambaran kelainan yang khas yaitu
dengan adanya “jejas laras”, yang tidak lain merupakan luka lecet tekan.
Bentuk dari jejas laras tersebut dapat memberikan informasi perkiraan dari
bentuk moncong senjata yang dipakai untuk menewaskan korban.
4. Di dalam kasus penjeratan dengan tangan (manual strangulation), atau
yang lebih dikenal dengan istilah pencekikan, maka kuku jari pembunuh
dapat menimbulkan luka lecet yang berbentuk garis lengkung atau bulan
sabit; dimana dari arah serta lokasi luka tersebut dapat diperkirakan
apakah pencekikan tersebut dilakukan dengan tangan kanan, tangan kiri
atau keduanya. Di dalam penafsiran perlu hati-hati khususnya bila pada
leher korban selain didapatkan luka lecet seperti tadi dijumpai pula alat
penjerat; dalam kasus seperti ini pemeriksaan arah lengkungan serta ada
tidaknya kuku-kuku yang panjang pada jari-jari korban dapat memberikan
kejelasan apakah kasus yang dihadapi itu merupakan kasus bunuh diri
atau kasus pembunuhan, setelah dicekik kemudian digantung.
5. Dalam kasus kecelakaan lalu-lintas dimana tubuh korban bersentuhan
dengan radiator, maka dapat ditemukan luka lecet tekan yang merupakan
cetakan dari bentuk radiator penabrak.

7
Gambar 2. Luka lecet jenis geser akibat kecelakaan lalu lintas

b. Luka memar (contusion)

Luka memar adalah suatu keadaan dimana terjadi pengumpulan darah


dalam jaringan yang terjadi sewaktu orang masih hidup, dikarenakan
pecahnya pembuluh darah kapiler akibat kekerasan benda tumpul. Bila
kekerasan benda tumpul yang mengakibatkan luka memar terjadi pada
daerah dimana jaringan longgar, seperti di daerah mata, leher, atau pada
orang yang lanjut usia, maka luka memar yang tampak seringkali tidaka
sebanding dengan kekerasan, dalam arti seringkali lebih luas; dan adanya
jaringan longgar tersebut memungkinkan berpindahnya “memar” ke daerah
yang lebih rendah, berdasarkan gravitasi.

Salah satu bentuk luka memar yang dapat memberikan informasi


mengenai bentuk dari benda tumpul, ialah apa yang dikenal dengan istilah
“perdarahan tepi” (marginal haemorrhages), misalnya bila tubuh korban
terlindas ban kendaraan, dimana pada tempat yang terdapat tekanan justru
tidak menunjukkan kelainan, kendaraan akan menepi sehingga terbentuk
perdarahan tepi yang bentuknya sesuai dengan bentuk celah antara kedua
kembang ban yang berdekatan.

Hal yang sama misalnya bila seseorang dipukul dengan rotan atau benda
yang sejenis, maka akan tampak memar yang memanjang dan sejajar yang
membatasi darah yang tidak menunjukkan kelainan; darah antara kedua
memar yang sejajar dapat menggambarkan ukuran lebar dari alat pengukur
yang mengenai tubuh korban.

8
Gambar 3. Luka memar akibat gigitan (Bite mark)

c. Luka robek, retak, koyak (laceration)

Luka robek atau luka terbuka yang disebabkan oleh kekerasan benda
tumpul dapat terjadi bila kekerasan yang terjadi sedemikian kuatnya hingga
melampaui elastisitas kulit atau otot, dan lebih dimungkinkan bila arah dari
kekerasan tumpul tersebut membentuk sudut dengan permukaan tubuh yang
terkena benda tumpul.

Dengan demikian bila luka robek tersebut salah satu tepinya terbuka ke
kanan misalnya, maka kekerasan atau benda tumpul tersebut datang dari arah
kiri; jika membuka ke depan maka kekerasan benda tumpul datang dari arah
belakang.

Luka robek atau luka terbuka akibat kekerasan benda tumpul dapat
dibedakan dengan luka terbuka akibat kekerasan benda tajam, yaitu dari
sifat-sifatnya serta hubungan dengan jaringan sekitar luka. Luka robek
mempunyai tepi yang tidak teratur, terdapat jembatan-jembatan jaringan
yang menghubungkan kedua tepi luka, akar rambut tampak hancur atau
tercabut bila kekerasannya di daerah yang berambut, di sekitar luka robek
ssring tampak adanya luka lecet atau luka memar.

9
Gambar 4. Luka robek pada tungkai akibat kecelakaan lalu lintas

2) Jenis luka akibat benda tajam.


Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka seperti ini adalah benda yang
memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari
alat-alat seperti golok, pisau, dan sebagainya hingga keeping kaca, gelas, logam,
sembilu bahkan tepi kertas atau rumput.
Putusnya atau rusaknya continuitas jaringan karena trauma akibat
alat/senjata yang bermata tajam dan atau berujung runcing. Luka akibat benda
tajam pada umumnya mudah dibedakan dari luka yang disebabkan oleh benda
tumpul dan dari luka tembakan senjata api.
Pada kematian yang disebabkan oleh benda tajam, walaupun tetap harus
dipikirkan kemungkinan karena suatu kecelakaan; tetapi pada umumnya karena
suatu peristiwa pembunuhan atau peristiwa bunuh diri.
a. Luka iris / luka sayat (incised wound), Adalah luka karena alat yang tepinya
tajam dan timbulnya luka oleh karena alat ditekan pada kulit dengan
kekuatan relatif ringan kemudian digeserkan sepanjang kulit.

Gambar 5. Luka Iris

b. Luka tusuk (stab wound) Luka akibat alat yang berujung runcing dan
bermata tajam atau tumpul yang terjadi dengan suatu tekanan tegak lurus
atau serong pada permukaan tubuh. Contoh: belati, bayonet, keris, clurit,
kikir, tanduk kerbau. Selain itu, pada luka tusuk , sudut luka dapat

10
menunjukkan perkiraan benda penyebabnya, apakah berupa pisau bermata
satu atau bermata dua.

Gambar 6. Luka tusuk

c. Luka bacok (chop wound) Adalah luka akibat benda atau alat yang berat
dengan mata tajam atau agak tumpul yang terjadi dengan suatu ayunan
disertai tenaga yang cukup besar. Contoh : pedang, clurit, kapak, baling-
baling kapal.

Gambar 7. Luka bacok

d. Luka akibat benda yang mudah pecah (kaca) Kekerasan oleh benda yang
mudah pecah (misalnya kaca), dapat mengakibatkan luka-luka campuran;
yang terdiri atas luka iris, luka tusuk, luka lecet. (Budiyanto, 1997)
B. Deskripsi luka meliputi :
1) Jumlah luka.
2) Lokasi luka, meliputi:
a. Lokasi berdasarkan regio anatomiknya.

11
b. Lokasi berdasarkan garis koordinat atau berdasarkan bagian-bagian tertentu
dari tubuh. Menentukan lokasi berdasarkan garis koordinat dilakukan untuk
luka pada regio yang luas seperti di dada, perut, penggung. Koordinat tubuh
dibagi dengan menggunakan garis khayal yang membagi tubuh menjadi dua
yaitu kanan dan kiri, garis khayal mendatar yang melewati puting susu, garis
khayal mendatar yang melewati pusat, dan garis khayal mendatar yang
melewati ujung tumit. Pada kasus luka tembak harus selalu diukur jarak luka
dari garis khayal mendatar yang melewati kedua ujung tumit untuk
kepentingan rekonstruksi. Untuk luka di bagian punggung dapat
dideskripsikan lokasinya berdasarkan garis khayal yang menghubungkan
ujung bawah tulang belikat kanan dan kiri.
3) Bentuk luka, meliputi :
b. Bentuk sebelum dirapatkan
c. Bentuk setelah dirapatkan
4) Ukuran luka, meliputi sebelum dan sesudah dirapatkan ditulis dalam bentuk
panjang x lebar x tinggi dalam satuan sentimeter atau milimeter.
5) Sifat-sifat luka, meliputi :
a. Daerah pada garis batas luka, meliputi :

1. Batas (tegas atau tidak tegas)

2. Tepi (rata atau tidak rata)

3. Sudut luka (runcing atau tumpul)

b. Daerah di dalam garis batas luka, meliputi:

1. Jembatan jaringan (ada atau tidak ada)

2. Tebing (ada atau tidak ada, jika ada terdiri dari apa)

3. Dasar luka

c. Daerah di sekitar garis batas luka, meliputi :

1. Memar (ada atau tidak)

2. Lecet (ada atau tidak)

3. Tatoase (ada atau tidak). (Budiyanto, 1997)

12
3) Deskripsi Luka Pada Skenario
Deskripsi luka pada skenario yaitu:
A. Jumlah luka : Tiga
B. Jenis luka
1) Luka Pertama: Luka memar
2) Luka Kedua: Luka lecet serut
3) Luka Ketiga: Luka lecet gores
C. Lokasi: Di lengan kanan bawah dekat siku
D. Pengukuran luka
1) Luka Pertama: Panjang 11,1 cm, Lebar 3,2 cm
2) Luka Kedua: 4,5 cm
3) Luka Ketiga: 2,1 cm
E. Lokasi (absis dan ordinat) : Sulit ditentukan karena gambar tidak memperlihatkan
secara anatomis
F. Karakteristik luka
1) Tepi tegas
2) Tampak kemerahan
3) Terlihat pengelupasan kulit ari

4) Patomekanisme Luka Pada Skenario


Luka lecet adalah luka yang superficial, kerusakan tubuh terbatas hanya pada
lapisan kulit epidermis. Jika abrasi terjadi lebih dalam dari lapisan epidermis. Pembuluh
darah dapat terkena sehingga terjadi perdarahan. Arah dari pengelupasan dapat
ditentukan dengan pemeriksaan luka.Dua tanda yang dapat digunakan. Tanda yang
pertama adalah arah dimana epidermis bergulung, tanda yang kedua adalah hubungan
kedalaman pada luka yang menandakan ketidakteraturan benda yang mengenainya.
Pada skenario didapatkan dua jenis luka lecet yaitu:
A. Luka lecet gores
Diakibatkan oleh benda runcing ( misalnya kuku jari yang menggores kulit)
yang menggeser lapisan permukaan kulit (epidermis) di depannya dan
mengakibatkan lapisan tersebut terangkat, sehingga dapat menunjukan arah
kekerasan yang terjadi.
B. Luka lecet serut

13
Adalah variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan
permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan di tentukan dengan melihat letak
tumpukan epitel.

Selain luka lecet, ditemukan juga memar pada skenario. Memar adalah suatu
perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat pecahnya kapiler dan vena, yang
disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. (Budiyanto, 1997)

5) Karakteristik Agen Penyebab Luka


Sesuai dengan mekanisme terjadinya,luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai luka
lecet gores (scratch), luka lecet serut (graze), luka lecet tekan (impression, impact
abrasion) dan luka lecet geser (friction abrasion).
A. Luka Lecet Gores
Luka lecet gores diakibatkan oleh benda runcing (misalnya kuku jari yang
menggoreskulit) yang menggeser lapisan permukaan kulit (epidermis) di depannya
dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat sehingga dapat menunjukan arah
kekerasan yang terjadi.
B. Luka Lecet Serut
Luka lecet serut adalah variasi dari luka gores yang daerah persentuhannya
dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak
tumpukan epitel.Luka lecet serut pada korban kecelakaan lalu lintas, pada awal luka
lecet, tampak batas yang lebih tegas sedangkan pada akhir luka lecet ,batas tidak
tegas dan terdapat penumpukan kulitari yang tergeser.
C. Luka Lecet Tekan
Luka lecet tekan disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit.Karena
kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama
dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut, tetapi masih memungkinkan
identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk khasmisalnya kisi-kisi radiator
mobil, jejas gigitan dan sebagainya. Luka akibat gigitan (bite-mark) sering juga
diklasifikasikan sebagai luka akibat kekerasan benda setengah tajam.
D. Luka Lecet Geser
Luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan
bergeser, misalnya pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut. Luka lecet

14
geser yang terjadi semasa hidup mungkin sulit dibedakan dari luka lecet geser yang
terjadi segera pasca mati. (Budiyanto, 1997)

6) Derajat Keparahan Luka Sesuai Hukum yang Berlaku

Derajat luka berdasarkan ketentuan dalam KUHP, penganiayaan ringanadalah


penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan
jabatan atau pekerjaan, sebagaimana bunyi pasal 352 KUHP, umumnya yang dianggap
sebagai hasil dari penganiayaan ringan dalah korban dengan tanpa luka atau dengan
luka lecet atau memar kecil di lokasi yang tidak berbahaya/yang tidak menurunkan
fungsi alat tubuh tertentu. Luka-luka tersebut kita masukkan ke dalam kategori luka
ringan atau luka derajat Satu .

KUHP tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan penganiayaan,tetapi


jurisprudensi Hoge Raad tanggal 25 juni 1894 menjelaskan bahwa menganiaya adalah
dengan sengaja menimbulkan sakit atau luka . yang penting bagi dokter adalah
menentukkan keaadan bagaimanakah yang dimaksud dengan sakit atau luka. Oleh
karena batasan luka ringan sudah disebutkan diatas,maka semua keadaan yang ‘’lebih
berat’’ dari luka ringan dimasukkan kedalam batasan sakit atau luka.selanjutnya dokter
tinggal membaginya kedalam kategori luka sedang (luka derajat dua) dan luka berat
(luka derajat tiga)

KUHP pasal 90 telah memberikan batasan tentang luka berat,yaitu : jatuh sakit atau
mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali atau yang
menimbulkan bahaya maut yang menyebabkan seseorang teus meneus tidak mampu
untuk menjalankan tugas atau jabatan atau pekerjaan pencaharian yang menyebabkan
kehilangan salah satu panca indra yang menimbulkan cacat berat (verminking) yang
mengakibatkan terjadinya keaadaan lumpu terganggunya daya piker selama empat
minggu atau lebih serta terjadinya gugur atau matinya kandungan seseorang
perempuan. Dengan demikian keadaan yang terletak diantara luka ringan dan luka berat
adalah keadaan yang dimaksud dengan luka sedang

Korban dengan luka ringan dapat merupakan hasil dari tindak pidana penganiayaan
ringan (pasal 352 KUHP) Sedangkan korban dengan luka sedang dapat merupakan
hasil dari tindak penganiayaan (pasal 351 (1) atau 353 (1)).Korban dengan luka berat
(pasal 90 KUHP ) dapat merupakan hasil dari tindak pidana penganiayaan dengan

15
akibat luka berat (pasal 351 (2) atau 353 (2) ) atau akibat penganiayaan berat (pasal 354
(1) atau 355(1)). (Budiyanto, 1997)

7) Penyebab Luka yang Paling Mungkin (CODamage)


Untuk menentukan penyebab luka yang paling mungkin (CODamage) digunakan
pendekatan Proximus Morbis yaitu:
Temuan (Damage): Luka lecet dan memar di lengan kanan bawah dekat siku
A1 (Penyebab langsung damage): Cedera pada epidermis dan perdarahan dalam
jaringan bawah kulit
A2 (Penyebab antara): Benda tumpul
B (Faktor Kontribusi): Tidak ada

8) Tahapan Pemeriksaan Visum et Repertum Dari Skenario


Tahapan pemeriksaan Visum et Repertum dari skenario, yaitu:
A. Projustitia
Kata projustitia yang diletakkan di atas. Kata ini menjelaskan bahwa visum et
repertum khusu dibuat untuk tujuan peradilan. Visum et repertum tidak membutuh
kan meterai untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti di depan siding pengadilan yang
mempunyai kekuatan hokum
B. Pendahuluan
Kata “pendahuluan” sendiri tidak di tulis didalam visum et repertum, melainkan
langsung di tuliskan berupa kalimat-kalimat dibawah judul. Bagian ini menerangkan
nama dokter pembuat visum et repertum dan isntitusi kesehatannya, instansi
penyidik pemintanya, tempat dan waktu pemeriksaan serta identitas korban yang
diperiksa.
Contoh :

16
Atas permintaan tertulis dari pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia
Daerah Jawa Tengah Wilayah kota Semarang, dengan suratnya No.Pol:
R/01/VER/2010/DOKPOL tertanggal 27 januari 2010 pukul 15.30, yang
ditandatangani oleh henry s,pd pangkat ajun komisaris polisi NRP 70050470,maka
dengan ini saya dokter bella dari Bagian Forensik Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro, selaku dokter jaga forensic dibantu oleh dokter
mudayanis,ked, pada tanggal 28 januari 2010 pukul 10.00 Waktu Indonesia bagian
Tengah, bertempat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Bhayangkara Semarang,
telah memeriksa satu barang bukti medis hidup, yang menurut penyidik bernam
aaris,umur 30 tahun, jeniskelamin laki-laki…, alamat jl. Prof. soedarto, tembalang,
semarang, suku bangsa bugis dan pekerjaan pegawai neger isipil. Korban tersebut
adalah korban tabrak lari berdasarkan laporan polisi.
C. Pemberitaan.
Bagian ini berjudul “Hasil Pemeriksaan” dan berisi hasil pemeriksaan medic
tentang keadaan kesehatan atau sakit atau luka korban yang berkaitan dengan
perkaranya.
Contoh:
Fakta dari keadaan umum:
Tingkat Kesadaran : Kompos mentis
Anamnesis : Laki-laki berusia 30 tahun mengaku sebagai korban tabrak
lari. Terdapat luka lecet pada bagian dekat siku kanan dengan
tepi rata dan bentuk garis mendatar
Tekanan Darah : 110/80
Denyut Nadi : 62x/menit
Pernapasan : 18-20x/menit
D. Kesimpulan
Bagian ini berjudul kesimpulan dan berisi pendapat dokter berdasarkan
keilmuannya, mengenai jenis perlukaan/cidera yang ditemukan dan jenis kekerasan
atau zat penyebabnya, serta derajat perlukaan atau sebab kematiannya
“Pada korban wanita ini di temukan luka lecet serut sepanjang siku kanan,
akibat kekerasan benda tumpul yang tidak menyebabkan penyakit atau halangan
dalam melakukan pekerjaan”
E. Penutup

17
Bagian ini tidak berjudul dan berisikan kalimat “demikianlah visum et repertum
dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuannya saya dan dengan kalimat sumpah
sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana”. (Budiyanto, 1997)

18
DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto, Arif, Dkk. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia Jakarta
Djuanda, Adhi, dkk. 2011. Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi keenam. Jakarta : Balai
penerbit fakultas kedokteran Universitas Indonesia
Tortora, G.J dan Derricsokson, B.H. 2009. Principles of anatomy and physicology. Twelfth
edition. Asia : Wiley

19