Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Makalah ini membahas tentang materi mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) serta Hak dan
Kewajiban Warga Negara dan perbedaannya dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
Dalam bab ini pembaca khususnya mahasiswa diajak mengenal, memahami dan menganalisis
pengertian, karakteristik serta berbagai permasalahan yang berkaitan dengan konsep serta
pelaksanaan Hak Asasi Manusia (HAM) serta Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia.
Sehingga setelah mempelajari materi pada bab II mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan
sebagai berikut:
1. Dapat memahami materi tentang HAM.
2. Dapat memahamai materi Hak dan Kewajiban Warga Negara.
3. Dapat memahami dan menjelaskan pelaksanaan HAM di Indonesia.
Sebagai makhluk bermartabat, manusia memiliki sejumlah hak dasar yang wajib
dilindungi, seperti hak hidup, hak beropini, hak berkumpul, serta hak beragama dan hak
berkepercayaan. Nilai-nilai HAM mengajarkan agar hak-hak dasar yang asasi tersebut dilindungi
dan dimuliakan. HAM mengajarkan prinsip persamaan dan kebebasan manusia sehingga tidak
boleh ada diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan terhadap manusia dalam bentuk apapun dan juga
tidak ada pembatasan dan pengekangan apa pun terhadap kebebasan dasar manusia. Oleh karena
masalah Hak Asasi Manusia telah merambah di dalam kehidupan masyarakat dan merupakan
persoalan bersama, maka masyarakat atau siswa, seyogyanya dikenalkan pada masalah HAM, agar
mereka mengetahui dan menyadari akan hak dan kewajiban asasi dirinya dan hak asasi orang lain
sehingga mereka akan terbiasa untuk menghormati diri dan hak-hak asasi orang lain.

1
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, sebagai berikut:
1. Apa pengertian HAM ?
2. Apa saja ciri-ciri HAM?
3. Apa saja macam-macam HAM?
4. Pengertian Pelanggaran HAM
5. Macam-macam pelanggaran HAM
6. Bagaimana upaya pemerintah dalam penegakkan HAM?
7. Peran serta masyarakat dalam penegakkan HAM
8. Apa saja macam-macam perlindungan terhadap korban dan saksi pelanggaran HAM?
9. Apa penyebab terjadinya pelanggaran HAM?
10. Pengertian hak, kewajiban dan warga negara?
11. Bagaimana keterkaitan antara hak dan kewajiban sebagai warga negara?
12. Apa hak dan kewajiban warga negara Indonesia yang telah diatur dalam UUD 1945?

C. Tujuan
Tujuan penulisan dalam makalah ini agar dapat memahami pembahasan dari rumusan masalah
dalam makalah ini. Adapun tujuan penulisan makalah, sebagai berikut:
1. Memahami pengertian dari hak, kewajiban, dan warga negara.
2. Memahami keterkaitan antara hak dan kewajiban sebagai warga negara.
3. Mengetahui bagaimana hak dan kewajiban seorang warga negara Indonesia diatur dalam
UUD 1945 dan peraturan perundangan lainnya.
4. Mengetahui tentang pelaksanaan hak dan kewajiban warga negara Indonesia dalam
kehidupan sehari-hari.
5. Untuk mengetahui pengertian Hak Asasi Manusia, serta mengetahui ruang lingkup Hak
AsasiManusia
6. Untuk mengetahui ciri-ciri dan tujuan Hak Asasi Manusia
7. Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kasus pelanggaran Hak Asasi
Manusia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hak Asasi Manusia


Pengertian HAM (Hak Asasi Manusia) menurut para ahli:
1. John Locke
Menurut John Locke, pengertian HAM adalah hak-hak yang langsung diberikan Tuhan
kepada manusia sebagai hak yang kodrati. Oleh karena itu, tidak ada kekuatan apapun di
dunia yang bisa mencabutnya. HAM ini sifatnya mendasar (fundamental) bagi kehidupan
manusia dan pada hakikatnya sangat suci.
2. Jan Materson
Menurut Jan Materson (komisi HAM PBB), pengertian HAM adalah hak-hak yang ada
pada setiap manusia yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia.
3. Miriam Budiarjo
Menurut Miriam Budiarjo, pengertian HAM adalah hak yang dimiliki setiap orang sejak
lahir ke dunia, hak itu sifatnya universal sebab dimiliki tanpa adanya perbedaan kelamin,
ras, budaya, suku, dan agama.
4. Prof. Koentjoro Poerbopranoto
Menurut Prof. Koentjoro Poerbopranoto, pengertian HAM adalah suatu hak yang sifatnya
asasi atau mendasar. Hak-hak yang dimiliki setiap manusia berdasarkan kodratnya yang
pada dasarnya tidak akan bisa dipisahkan sehingga bersifat suci.
5. Oemar Seno Adji
Menurut Oemar Seno Adji, pengertian HAM adalah hak yang melekat pada setiap
martabat manusia sebagai insan dari ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang sifatnya tidak
boleh dilanggar oleh siapapun.
6. Jack Donnely
Menurut Jack Donnely, definisi HAM adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-
mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya
oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan
martabatnya sebagai manusia.

3
7. UU No 39 Tahun 1999
Menurut UU No 39 Tahun 1999 pasal 1, pengertian HAM adalah seperangkat hak yang
melekat pada diri manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dimana hak
tersebut merupakan anugerah yang wajib di dilindungi dan hargai oleh setiap manusia.
8. David Beetham dan Kevin Boyle
Menurut David Beetham dan Kevin Boyle, pengertian HAM dan kebebasan-kebebasan
fundamental adalah hak-hak individual yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan serta
kapasitas-kapasitas manusia.

B. Ciri-ciri Hak Asasi Manusia


Hak Asasi Manusia memiliki ciri khusus yang tidak terdapat pada jenis hak lainnya. Berikut ini
adalah ciri khusus Hak Asasi Manusia:
a) Hak Asasi Manusia tidak diberikan kepada seseorang, melainkan merupakan hak semua
orang, baik itu hak sipil, hak politik, hak ekonomi, hak sosial, dan hak budaya.
b) Hak Asasi Manusia tidak dapat dicabut, dihilangkan, atau diserahkan
c) Hak Asasi Manusia bersifat hakiki, yaitu hak yang sudah ada sejak manusia lahir ke
dunia
d) Hak Asasi Manusia sifatnya universal sehingga berlaku bagi semua manusia tanpa
memandang status, suku, gender, dan berpedaan lainnya.

C. Macam-macam Hak Asasi Manusia


Setelah memahami apa pengertian Hak Asasi Manusia dan ciri-cirinya, selanjutnya kita juga
perlu mengetahui apa jenis-jenis Hak Asasi Manusia. Berikut ini adalah macam-macam HAM:
1. Hak Asasi Pribadi (Personal Rights)
Ini merupakan hak asasi yang berhubungan dengan kehidupan pribadi setiap individu.
Beberapa contoh hak asasi pribadi diantaranya:
a) Kebebasan untuk bepergian, bergerak, berpindah ke berbagai tempat.
b) Kebebasan dalam menyampaikan pendapat.
c) Kebebasan dalam berkumpul dan berorganisasi.
d) Kebebasan dalam memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan
sesuai keyakinan masing-masing individu.
2. Hak Asasi Politik (Political Rights)
Ini merupakan hak asasi yang terkait dengan kehidupan politik seseorang. Beberapa contoh
hak asasi politik diantaranya:

4
a) Hak untuk untuk dipilih dan memilih dalam suatu pemilihan.
b) Hak dalam keikutsertaan kegiatan pemerintahan.
c) Hak dalam mendirikan partai politik dan organisasi politik.
d) Hak dalam membuat usulan petisi.
3. Hak Asasi Hukum (Legal Equality Rights)
Ini adalah hak mendapatkan kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan.
Beberapa contoh hak asasi hukum diantaranya:
a) Hak untuk mendapat perlakukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan.
b) Hak seseorang untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil.
c) Hak untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanaan hukum.
4. Hak Asasi Ekonomi (Property Rigths)
Ini merupakan hak masing-masing individu terkait dengan kegiatan perekonomian. Beberapa
contoh hak-hak asasi ekonomi diantaranya:
a) Kebebasan dalam kegiatan jual-beli.
b) Kebesasan dalam melakukan perjanjian kontrak.
c) Kebebasan dalam penyelenggaraan sewa-menyewa dan hutang-piutang.
d) Kebebasan dalam memiliki sesuatu.
e) Kebebasan dalam memiliki pekerjaan yang pantas.
5. Hak Asasi Peradilan (Procedural Rights)
Ini merupakan hak untuk mendapat perlakuan sama dalam tata cara pengadilan. Beberapa
contoh hak-hak asasi peradilan diantaranya:
a) Hak untuk mendapatkan pembelaan hukum di pengadilan.
b) Hak untuk mendapatkan persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan,
penahanan, dan penyelidikan di muka hukum.
6. Hak Asasi Sosial Budaya (Social Culture Rights)
Ini merupakan hak individu terkait dengan kehidupan bermasyarakat. Beberapa contoh hak
asasi sosial budaya diantaranya:
a) Hak untuk menentukan, memilih, dan mendapatkan pendidikan.
b) Hak untuk mendapatkan pengajaran.
c) Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat.

5
D. Pengertian Pelanggaran HAM
Pelanggaran HAM dapat diartikan sebagai adanya tindakan dari seseorang atau
sekelompok orang, termasuk aparat negara baik sengaja maupun tidak sengaja mengurangi,
membatasi, menghalangi, menghilangkan, mengabaikan bahkan mencabut hak seseorang atau
individu dan sekelompok orang yang mendapat jaminan undang-undang dan mekanisme hukum
sebagai warga negara.

E. Macam-Macam Pelanggaran HAM


Secara ada dua macam / jenis pelanggaran HAM yaitu :
1. Pelanggaran HAM berat
Yang termasuk pelanggaran HAM yang berat antara lain :
- Pembunuhan secara sewenang-wenang yang tidak mengikuti keputusan pengadilan dan
hukum yang berlaku.
- Melakukan segala bentuk penyiksaan.
- Melakukan sistem perbudakan dan diskriminasi secara sistematis
- Pembunuhan secara massal.
- Menghilangkan seseorang secara paksA
2. Pelanggaran HAM ringan
Berikut adalah penjelasan mengenai kasus pelanggaran yang ringan
- Melakukan kekerasan, pemukulan, penganiayaan dll
- Melakukan pencemaran nama baik seseorang.
- Melakukan pengancaman.
- Menghalangi seseorang untuk menyampaikan aspirasi.
- Menghalangi seseorang dalam melakukan perjalanan.

F. Upaya pemerintah dalam menegakkan HAM di Indonesia


1. Penegakkan Undang-Undang
Undang-undang merupakan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Terdapat beberapa
undang-undang yang mengatur tentang perlindungan terhadap hak-hak asasi yang dimiliki oleh
setiap warga negara. Adapun undang-undang yang berkaitan dengan hak asasi yang dimiliki
oleh Indonesia adalah:
- Undang-Undang No. 1 Tahun 1974
Undang-Undang No.1 Tahun 1974 merupakan udang-undang yang berkaitan upaya
pemerintah dalam menegakkan HAM entang perkawinan di Indonesia.

6
- TAP MPR Nomor XVII/MPR/1998
Dalam ketetapan MPR ini, hak asasi manusia diakui oleh negara sebagai hak yang
diberikan oleh Tuhan kepada ciptaannya. Selain itu, hak asasi manusia juga diakui sebagai
hak-hak yang mendasar dan melekat dalam diri manusia sejak manusia berada di dalam
kandungan. Beberapa hak asasi manusia yang terdapat dalam ketetapan MPR ini antara
lain Hak untuk hidup, berkeluarga, melakukan pengembangan diri, mendapatkan keadilan,
mendapatkan kemerdekaan, kebebasan informasi, rasa aman, kesejahteraan. Ketetapan
MPR MPR Nomor XVII/MPR/1998 ini sudah tidak berlaku lagi karena telah melebur pada
Undang-Undang No. 39 Tahun 1999.
- Undang-Undang No. 39 Tahun 1999
Undang-undang ini berisi mengenai hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh setiap warga
negara tanpa terkecuali. Karena Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 adalah
penyempurnaan dari Ketetapan MPR MPR Nomor XVII/MPR/1998, terdapat beberapa
penambahan mengenai hak-hak asasi manusia sebagai warga negara Indonesia, yaitu hak
untuk berperan serta dalam sistem pemerintahan, hak perempuan dan anak-anak.
- Undang-Undang No. 23 Tahun 2004
Undang-undang ini berisi tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Undang-
undang ini menindaklanjuti Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 yang mengatur tentang
perkawinan. Undang-undang ini mengatur mengenai perwujudan rasa bahagia serta rasa
aman terhadap seluruh anggota keluarga.
- Undang-Undang No. 35 Tahun 2014
Undang-Undang ini merupakan undang-undang mengenai Perlindungan Anak. Di dalam
undang-undang ini menekankan mengenai perlindungan hak-hak anak sehingga anak
tersebut dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan
harkat dan martabat secara kemanusiaan.
- UUD 1945 Pasal 27 – 34
Isi dari UUD 1945 pasal 27 sampai dengan pasal 34 mengatur dan menjamin hak-hak
warga negara Indonesia dalam berbagai aspek.

2. Pembentukan Komisi Nasional


Pemerintah membentuk beberapa komisi nasional untuk membantu pemerintah dalam
menegakkan hak asasi. Adapun komisi nasional tersebut antara lain Komisi Nasional
Perempuan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dalam menjalankan perannya,
Komisi Nasional Perempuan bertujuan untuk menghapuskan kekerasan pada wanita dan

7
menegakkan hak perempuan. Sedangkan KPAI bertugas melakukan pengawasan terhadap
perlindungan hak anak dan menekankan tentang pentingnya Pendidikan dari usia dini.

3. Pembentukan Pengadilan HAM


Pengadilan HAM ini dibentuk berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
Dalam menjalankan perannya, pengadilan ini berperan khusus dalam mengadili kejahatan
genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

4. Penegakan Melalui Proses Pendidikan


Penegakan hak asasi manusia juga dilakukan melalui proses pendidikan, baik itu dalam
pendidikan formal, informal, maupun non formal. Penegakan HAM dalam pendidikan formal
yaitu melalui proses belajar mengajar di sekolah, dengan cara menanamkan konsep HAM
kepada siswa melalui mata pelajaran PPKn dan agama. Diharapkan melalui penanaman konsep
HAM melalui pendidikan, seseorang dapat melakukan penegakan HAM secara sederhana di
lingkungan sekitar dari usia dini, misalnya dengan melakukan penerapan Pancasila dalam
kehidupan bermasyarakat.

G. Peranserta Masyarakat Dalam Penegakan HAM


Peran serta masyarakat dalam penegakan HAM telah diatur dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang
HAM antara lain yaitu :
1. Pihak yang berhak berpatisipasi dalam penegakan HAM adalah:
- Individu - LSM
- Kelompok - Tinggi
- Organisasi politik - Lembaga Studi
2. Peran serta dalam penegakan HAM yang dapat dilakukan adalah
a) Menyampaikan laporan atas terjadinya pelanggaran HAM kepada Komnas HAM
atau lembaga lain yang berwenang dalam rangka perlindungan dan pemajuan
HAM
b) Memajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakan yang berkaitan dengan
HAM kepada Komnas HAM dan atau lembaga lainnya
c) Secara sendiri-sendiri maupun bekerja bersama-sama dengan Komnas HAM dapat
melakukan penelitian , pendidikan dan penyebarluasan informasi megenai HAM

8
3. Wujud peran serta masyarakat dalam penegakan HAM antara lain:
a) Wujud partisipasi warga Negara dalam penegakan HAM dalam hubungan dengan
pemerintah, antara lain:
- Mendirikan LSM atau NGO (Non Government Organazation)
- Mengajukan laporan atau pengaduan, baik lisan atau tertulis kepada
Komnas HAM untuk meminta perlindungannya dengan syarat telah
memiliki alasan dan bukti yang kuat bahwa hak asasinya telah dilanggar.
- Menyampaikan pendapat dimuka umum atas terjadinya suatu kasus
pelanggaran HAM sesuai dengan UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang
Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
- Menyampaikan kritik atau saran kepada pemerintah, tentang pelaksanaan
HAM
- Melakukan penelitian dan menyampaikan hasil penelitian atas suatu kasus
pelanggaran HAM secara professional dan proporsional, dan lain-lain.
b) Wujud partisipasi warga Negara dalam penegakan HAM dalam hubungan dengan
sesama warga Negara dalam pergaulan hidup sehari-hari, antara lain:
- Mengakui persamaan derajat, hak dan kewajiban sesama manusia
- Mengembangkan sikap saling menghormati dan mencintai sesama
- Bersikap tenggang rasa terhadap orang lain
- Tidak semena-mena terhadap orang lain
- Bersikap adil terhadap sesama manusia
- Berani membela kebenaran dan keadilan

H. Macam-macam perlindungan terhadap korban dan saksi pelanggaran HAM


- Menurut pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara
Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia Yang
Berat menyebutkan bahwa :
Perlindungan adalah suatu bentuk pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh aparat penegak
hukum atau aparat keamanan untuk memberikan rasa aman, baik fisik maupun mental,
kepada korban dan saksi, dari ancaman, gangguan, terror, dan kekerasan dari pihak
manapun yang diberikan pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan atas
pemeriksaan di sidang pengadilan

9
- Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara
Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia Yang
Berat menyebutkan bahwa :
Korban adalah orang perorangan atau kelompok orang yang mengalami penderitaan
sebagai akibat pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang memerlukan perlindungan
fisik dan mental dari ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak mana pun.
- Pasal 1 angka 3 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara
Perlindungan Terhadap Korban Dan Saksi Dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia Yang
Berat menyebutkan bahwa :
Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan,
penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang perkara
pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang ia dengar sendiri, lihat sendiri, dan alami
sendiri, yang memerlukan perlindungan fisik dan mental dari ancaman, gangguan, teror,
dan kekerasan dari pihak manapun.

Dari pengertian perlindungan, korban dan saksi diatas, terdapat bermacam kendala untuk
memberikan keterangan baik adanya ancaman, terror dan kekerasan, maka perlu untuk memberikan
perlindungan kepada korban dan saksi baik pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan
pemeriksaan di sidang pengadilan.
Perlindungan korban memiliki dua makna yaitu :
 Dapat diartikan sebagai perlindungan hukum untuk tidak menjadi korban tindak pidana (berarti
perlindungan HAM atau kepentingan seseorang)
 Dapat diartikan sebagai perlindungan untuk memperoleh jaminan/santunan hukum atas
penderitaan/orang yang telah menjadi korban tindak pidana.

Perlindungan hukum yang diberikan kepada korban dan saksi dalam pelanggaran hak asasi manusia
yang berat menurut peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelanggaran hak asasi
manusia yang berat adalah sebagai berikut :
Perlindungan korban dan saksi pelanggaran hak asasi manusia tersirat dalam beberapa penafsiran
pasal-pasal dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia seperti
berikut :
1. Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan perlakukan hukum yang adil
serta mendapat kepastian hukum dan perlakuan yang sama di depan hukum (pasal 3ayat (2)).

10
2. Setiap orang diakui sebagai manusia pribadi yang berhak menuntut dan memperoleh perlakuan
serta perlindungan yang sama sesuai dengan martabat kemanusiaan di depan hukum (pasal 5
ayat (1)).
3. Setiap orang berhak mendapatkan bantuan dan perlindungan yang adil dari pengadilan yang
objektif dan tidak berpihak (pasal 5 ayat(2)).
4. Setiap orang tanpa diskriminasi, berhak untuk memperoleh keadilan dengan mengajukan
permohonan, pengaduan dan gugatan, baik dalam perkara pidana,perdaata, maupun
administrasi, serta diadili melalui proses pengadilan yang bebas dan tidak memihak, sesuai
dengan hukum acara yang menjamin pemeriksaan yang objektif oleh hakim yang jujur dan adil
untuk memperoleh putusan yang adil dan benar (pasal 17).
5. Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi,keluarga, kehormatan, martabat dan hak
miliknya (pasal 29 ayat (2))
6. Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi di mana saja ia
berada (pasal 29 ayat (2)).
7. Setiap orang berhak atas rasa aman tentram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan
untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu (pasal 30).

Perlindungan korban dan saksi menurut Pasal 34 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan Hak Asasi Manusia adalah:
1. Setiap korban dan saksi dalam pelanggaran hak asasi manusia yang berat berhak atas
perlindungan fisik dan mental dari ancaman, gangguan, terror, dan kekerasan dari pihak
manapun.
2. Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilaksanakan oleh aparat penegak
hukum dan aparat keamanan secara cuma-cuma.
3. Ketentuan mengenai tata cara perlindungan terhadap korban dan saksi diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban
Dan Saksi Dalam Pelanggaran HAM Yang Berat menentukan perlindungan yang diperoleh korban dan
saksi adalah:
1. Setiap korban atau saksi dalam pelanggaran hak asasi manusia yang berat berhak memperoleh
perlindungan dari aparat penegak hukum dan aparat kemanan

11
2. Perlindungan oleh aparat penegak hukum dan aparat kemanan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) diberikan sejak tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan atau pemeriksaan di sidang
pengadilan.

Sedangkan pada Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perlindungan Terhadap
Korban Dan Saksi Dalam Pelanggaran HAM Yang Berat, perlindungan yang diberikan meliputi :
1. Perlindungan atas keamanan pribadi korban atau saksi dari ancaman fisik dan mental;
2. Perahasiaan identitas korban dan saksi;
3. Pemberian keterangan pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan tanpa bertatap muka dengan
tersangka.

Terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara perlindungan Korban Dan
Saksi Dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia Yang Berat belum dilengkapi prosedur teknis pemberian
perlindungan dan pengamanan saksi secara detail. Terhadap kekurangan yang terdapat dalam peraturan
pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tersebut maka dikeluarkanlah Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006
Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban.

Dikeluarkannya undang-undang perlindungan saksi dan korban adalah untuk melengkapi kelemahan
yang terdapat dalam peraturan pemerintah Nomor 2 tahun 2002 tentang Tata Cara Perlindungan
Terhadap Korban Dan Saksi Dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia Yang Berat.

Selain perlindungan korban kejahatan, korban pelanggaran hak asasi manusia yang berat juga
dilindungi. Itu dapat dilihat dari pasal 5, 6, 8 dan 9 undang-undang perlindungan saksi dan
korban.Dalam undang-undang ini dibentuk Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). LPSK
siap memfasilitasi Korban pelanggaran hak asasi manusia yang berat untuk mendapatkan bantuan baik
psikis maupun psikologis.

Prosedur pemberian perlindungan terhadap korban dan saksi diatur dalam pasal 5 Peraturan Pemerintah
Nomor 2 Tahun 2002 yaitu:
1. Perlindungan terhadap korban dan saksi dilakukan berdasarkan :
 Inisiatif aparat penegak hukum dan aparat kemanan; dan atau
 Permohonan yang disampaikan oleh korban dan saksi.
2. Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b disampaikan kepada :
 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, pada tahap penyelidikan;

12
 Kejaksaan, pada tahap penyidikan dan penuntutan;
 Pengadilan, pada tahap pemeriksaan.
3. Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) disampaikan lebih lanjut kepada aparat
keamanan untuk ditindaklanjuti.
4. Permohonan perlindungan dapat disampaikan secara langsung kepada aparat keamanan.
Dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara Perlindungan
Terhadap korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat disebutkan
setelah menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam pasal 5, aparat penegak hukum atau
aparat keamanan melakukan :
 Klarifikasi atas kebenaran permohonan; dan
 Identifikasi bentuk perlindungan yang diperlukan.

Baik dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM maupun Peraturan
Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap korban dan Saksi
dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat, memang tidak diatur secara detail dan secara
rinci bagaimana teknisnya pemberian perlindungan hukum korban dan saksi pelanggaran HAM
yang berat, tetapi hanya menjelaskan tentang bentuk perlindungan, syarat adanya perlindungan,
persetujuan adanya perlindungan, oleh karenanya teknis perlindungan ini juga kemudian mengacu
pada ketentuan dalam KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana-UU Nomor 8 Tahun
1981), karena berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000, hukum acara pengadilan HAM
yang tidak diatur dalam UU tersebut akan mengacu pada KUHAP.

Dalam hal prosedur penghentian pemberian perlindungan tidak diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Tata Cara Perlindungan Korban Dan Saksi Dalam Pelanggaran Hak
Asasi Manusia Yang Berat sehingga sehingga mengacu pala undang-undang Nomor 13 Tahun 2006
tentang Perlindungan Saksi Dan Korban bahwa LPSK sudah menyusun Standar Operasional
Prosedur (SOP) untuk mengatur kekurangan yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2
Tahun 2002 tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban Dan Saksi Dalam Pelanggaran Hak
Asasi Manusia Yang Berat tersebut.

13
I. Penyebab Terjadinya Pelanggaran HAM
Beberapa faktor terjadinya pelanggaran HAM, antara lain :
1. Faktor Internal.
Fakor Internal merupakan faktor yang timbul dari diri pelanggar HAM itu sendiri. Contoh
faktor internal antara lain :
 Tingkat kesadaran terhadap HAM yang rendah.
 Egois dan Individualis.
 Psikologis yang terganggu seperti memiliki sifat psikopat.
 Memiliki Emotional Quotient yang rendah.
 Memiliki dendam, dsb.
2. Faktor Eksternal.
Faktor Eksternal merupakan faktor yang timbul dari luar diri pelanggar HAM. Contoh faktor
eksternal antara lain :
 Lemahnya penegakan Hukum.
 Minimnya sosialisasi terhadap pentingnya HAM.
 Adanya Struktur Politik dan Sosial yang memungkinkan terjadinya pelanggaran HAM.
 Penyebaran Infrastruktur dan Pembangunan yang tidak merata.
 Terdapat Kesenjangan Ekonomi yang tinggi, dsb.

J. Pengertian Hak
Hak adalah segala sesuatu yang memang harus didapatkan (mutlak) oleh setiap manusia sejak ia
diciptakandan penggunaannya tergantung kepada kita sendiri. Menurut Prof. Dr. Notonagoro
mendefinisikannya sebagai berikut: “Hak adalah kuasa untuk menerima atau melakukan suatu yang
semestinya diterima atau dilakukan melulu oleh pihak tertentu dan tidak dapat oleh pihak lain
manapun juga yang pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya.
Menurut Sudikno Hak dibagi menjadi dua yaitu:
1. Hak Absolut (absolute rechten, onpersoonlijke rechten).Hak absolut adalah hubungan
hukum antara subyek hukum dengan obyek hukum yang menimbulkan kewajiban pada
setiap orang lain untuk menghormati hubungan hukum itu. Hak absolut memberi
wewenang bagi pemegangnya untuk berbuat atau tidak berbuat, yang pada dasarnya dapat
dilaksanakan terhadap siapa saja dan melibatkan setiap orang. Isi hak absolut ini ditentukan
oleh kewenangan pemegang hak. Kalau ada hak absolut pada seseorang maka ada
kewajiban bagi setiap orang lain untuk menghormati dan menanggungnya. Pada hak
absolut pihak ketiga berkepentingan untuk mengetahui eksistensinya sehingga

14
memerlukan publisitas. Hak absolut terdiri dari hak absolut yang bersifat kebendaan dan
hak absolut yang tidak bersifat kebendaan. Hak absolut yang bersifat kebendaan meliputi
hak kenikmatan (hak milik, hak guna bangunan dan sebagainya) dan hak jaminan.
2. Hak Relatif (nisbi, relative rechten, persoonlijke rechten).Hak relatif adalah hubungan
subyek hukum dengan subyek hukum tertentu lain dengan perantaraan benda yang
menimbulkan kewajiban pada subyek hukum lain tersebut. Hak relatif adalah hak yang
berisi wewenang untuk menuntut hak yang hanya dimiliki seseorang terhadap orang-orang
tertentu. Jadi hanya berlaku bagi orang-orang tertentu; (kreditur dan debitur tertentu).

Menurut Soerjono Soekanto:


1. Hak searah atau relatif, muncul dalam hukum perikatan atau perjanjian. Misal hak menagih
atau melunasi prestasi.
2. Hak jamak arah atau absolut, terdiri dari :
- Hak dalam HTN (Hukum Tata Negara) pada penguasa menagih pajak, pada warga hak
asasi
- Hak kepribadian, hak atas kehidupan, hak tubuh, hak kehormatan dan kebebasan;
- Hak kekeluargaan, hak suami istri, hak orang tua, hak anak
- Hak atas objek imateriel, hak cipta, merek dan paten.

K. Pengertian Kewajiban
Wajib adalah beban untuk memberikan sesuatu yang semestinya dibiarkan atau diberikan melulu
oleh pihak tertentu tidak dapat oleh pihak lain manapun yang pada prinsipnya dapat dituntut secara
paksa oleh yang berkepentingan (Prof. Dr. Notonagoro). Sedangkan Kewajiban adalah Sesuatu
yang harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.
Pengertian kewajiban lainnya adalah:
1. Kewajiban mutlak, tertuju kepada diri sendiri maka tidak berapsangan dengan hak dan
melibatkan hak di pihak lain
2. Kewajiban publik, dalam hukum publik ialah wajib mematuhi hak publik dan kewajiban
pardata timbul dari perjanjian berkolerasi dengan hak perdata
3. Kewajiban positif, menghendaki dilakukan sesuatu dan kewajiban negatif, tidak
melakukan sesuatu
4. Kewajiban universal atau umum ditujukan ke semua warga negara atau umum , ditujukan
kepada golongan tertentu dan kewajiban khusus, timbul dari bidang hukum tertentu,
perjanjian;

15
5. Kewajiban primer, tidak timbul dari perbuatan ,melawan hukum, misal kewawjiban untuk
tidak mencemarkan nama baik dan kewajiban yang bersifat memberi sanksi, timbul dari
perbuatan melawan hukum misal membayar kerugian dalam hukum perdata.

L. Pengertian Warga Negara


Warga Negara adalah penduduk yang sepenuhnya dapat diatur oleh Pemerintah Negara tersebut
dan mengakui Pemerintahnya sendiri. Adapun pengertian penduduk menurut :
- Kansil adalah mereka yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh
peraturan negara yang bersangkutan, diperkenankan mempunyai tempat tinggal pokok
(domisili) dalam wilayah negara itu.
- Menurut Koerniatmanto S, warga negara merupakan anggota negara yang mempunyai
kedudukan khusus terhadap negaranya, mempunyai hubungan hak & kewajiban yang
bersifat timbal-balik terhadap negaranya.
- Menurut A.S. Hikam, mengungkapka bahwa warga negara merupakan terjemahan dari
“citizenship” yaitu merupakan anggota dari sebuah kelompok atau komunitas yang
membentuk negara itu sendiri. Menggunakan istilah tersebut menurutnya lebih pas & lebih
berarti daripada kawula negara yang artinya objek atau orang- orang yang dimiliki negara
& mengabdi kepada pemiliknya (Negara).
- Menurut Wolhoff, mengatakan bahwa Kewarganegaraan merupakan keanggotaan dari
suatu bangsa tertentu yakni sejumlah manusia yang terikat dengn yang lainnya karna
kesatuan bahasa kehidupan sosial & budaya serta kesadaran nasionalnya.
Kewarganegaraan ini memiliki kemiripan dengan kebangsaan yang membedakannya ialah
hak-hak untuk aktif dalam perpolitikan. Dan ada kemungkinan untuk memiliki kebangsaan
tanpa menjadi seorang warga negara Sebagai contoh secara hukum berpartisispasi dalam
politik. Juga dimungkinkan untuk memiliki hak politik tanpa menjadi anggota bangsa dari
suatu negara.
- Menurut Ko Swaw Sik ( 1957 ), mengungkapkan bahwa Kewarganegaraan merupakan
ikatan hukm antara Negara & seseorang. Dan ikatan itu menjadi suatu “kontrak politis”
antara Negara yang mndapat status sebagai Negara yang berdaulat & diakui karena
memliki tata Negara. Kewarganegaraan juga merupakan bagian dari konsep kewargaan.
Dan didalam pengertian ini, warga suatu kota atau kapubaten disebut juga sebagai warga
kota atau warga kabupaten, karena keduanya juga merupakan satuan politik. Dalam
otonomi daerah, kewargaan ini menjadi penting, karena msing-masing satuan politik akn
memberikan hak (biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi warganya.

16
M. Bagaimana keterkaitan antara hak dan kewajiban sebagai warga negara
Hak adalah sesuatu yang mutlak yang dimiliki seseorang sejak dia lahir dan Kewajiban adalah
sesuatu hal yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Hubungannya adalah hubungan timbal balik. Artinya seseorang akan mendapatkan haknya apabila
orang tersebut telah melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara dan sebaliknya

N. Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia Menurut Undang-Undang


Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang satu sama lain tidak terkecuali. Persamaan
antara manusia selalu dijunjung tinggi untuk menghindari berbagai kecemburuan sosial yang dapat
memicu perselisihan di kemudian hari. Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 terdapat beberapa pasal yang mengatur hak dan kewajiban seorang warga negara.
- HAK WARGA NEGARA INDONESIA
1. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
"Tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan" (pasal 27 ayat 2).
2. Hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupan
"Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak untuk mempertahankan hidup dan
kehidupannya" (pasal 28A).
3. Hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang
sah (pasal 28B ayat 1).
4. Hak atas kelangsungan hidup
"Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang".
5. Hak untuk mengembangkan diri dan melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya dan
berhak mendapatkan pendidikan, ilmu pengethauan dan teknologi, seni dan budaya
demi meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan hidup manusia (pasal 28C
ayat 1).
6. Hak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk
membangun masyarakat, bangsa dan negaranya (pasal 28C ayat 2).
7. Hak atas pengakuan, jaminan, pelrindungan dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di depan hukum (pasal 28D ayat 1).
8. Hak untuk memiliki hak milik pribadi, hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak
kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak.

17
9. Hak untuk diakui sebagai peribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas
dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi
dalam keadaan apapun (pasal 28I ayat 1).

- KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA


1. Wajib menaati hukum dan pemerintahan
"Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan
dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya"
(pasal 27 ayat 1).
2. Wajib ukut serta dalam upaya bela negara
"Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara"
(pasal 27 ayat 3).
3. Wajib menghormati hak asasi manusia orang lain
"Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain" (pasal 28J ayat 1).
4. Wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang
"Dalam menjalankan hak dan kewajibannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan oran glain dan untuk memenuhi
tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai agama, keamanan dan
ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis" (pasal 28J ayat 2).
5. Wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara
"Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan
keamanan negara" (pasal 30 ayat 1).

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Hak merupakan segala sesuatu yang pantas dan mutlak untuk didapatkan oleh individu
sebagai anggota warga negara sejak masih berada didalam kandungan , sedangkan kewajiban
merupakan suatu keharusan / kewajiban bagi individu dalam melaksanakan peran sebagai
anggota warga negara guna mendapat pengakuan akan hak yang sesuai dengan pelaksanaan
kewajiban tersebut . Hak dan kewajiban merupakan suatu hal yang terikat satu sama lain ,
sehingga dalam praktik harus dijalankan dengan seimbang .
Pasal 27 ayat 2 UUD 1945 berbunyi “ Tiap – tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan “ . Pasal tersebut menjelaskan bahwa setiap
individu sebagai anggota warga negara berhak untuk mendapatkan pekerjaan serta kehidupan
yang layak dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa , dan bernegara . Lapangan pekerjaan
merupakan sarana yang dibutuhkan guna menghasilkan pendapatan yang akan digunakan
dalam pemenuhan kehidupan yang layak . Penghidupan yang layak diartikan sebagai
kemampuan dalam melakukan pemenuhan kebutuhan dasar , seperti : pangan , sandang , dan
papan .
HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan kiprahnya. Setiap
individu mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu hal yang perlu kita ingat
bahwa Jangan pernah melanggar atau menindas HAM orang lain. HAM setiap individu dibatasi
oleh HAM orang lain. Dalam Islam, Islam sudah lebih dulu memperhatikan HAM. Ajaran
Islam tentang Islam dapat dijumpai dalam sumber utama ajaran Islam itu yaitu Al-Qur’an dan
Hadits yang merupakan sumber ajaran normatif, juga terdapat dalam praktik kehidupan umat
Islam.
Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan dilindungi oleh perundang-undangan RI,
dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang dilakukan oleh seseorang, kelompok atau
suatu instansi atau bahkan suatu Negara akan diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM,
pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara peradilan HAM
sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang pengadilan HAM.

19
B. Saran
Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan memperjuangkan HAM
kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati dan menjaga HAM orang lain
jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Dan Jangan sampai pula HAM kita
dilanggar dan dinjak-injak oleh orang lain.
Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu menyelaraskan dan mengimbangi antara HAM
kita dengan HAM orang lain.
Hak dan kewajiban merupakan suatu instrumen yang saling terkait , sehingga
pelaksanaan hal tersebut harus dilakukan secara seimbang agar tidak terjadi ketimpangan
yang akan menyebabkan timbulnya gejolak masyarakat yang tidak diinginkan .

20
DAFTAR PUSTAKA

https://www.eduspensa.id/hak-dan-kewajiban-warga-negara/#a

https://www.kompasiana.com/drake1405/5a70fc1ccf01b42dbc4b0ba4/hak-dan-kewajiban-
warga-nergara-indonesia?page=all

https://guruppkn.com/contoh-hak-dan-kewajiban-warga-negara

https://www.romadecade.org/pengertian-ham/#!

https://www.maxmanroe.com/vid/sosial/pengertian-ham.html

https://www.zonareferensi.com/pengertian-hak-asasi-manusia/

21