Anda di halaman 1dari 15

Pendahuluan

Bab 1
Latar belakang

1. Latar Belakang Pendidikan Multikultural

Sebagai sebuah ide, pendidikan multikultural dibahas dan diwacanakan pertama kali di
Amerika dan negara-negara Eropa Barat pada tahun 1960-an oleh gerakan yang menuntut
diperhatikannya hak-hak sipil (civil right movement). Tujuan utama dari gerakan ini adalah
untuk mengurangi praktik driskriminasi di tempat-tempat publik, di rumah, di tempat-tempat
kerja, dan di lembaga-lembaga pendidikan, yang dilakukan oleh kelompok mayoritas
terhadap kelompok minoritas. Selama itu, di Amerika dan negara-negara Eropa Barat hanya
dikenal adanya satu kebudayaan, yaitu kebudayaan kulit putih yang Kristen. Golongan-
golongan lainnya yang ada dalam masyarakat-masyarakat tersebut dikelompokkan sebagai
minoritas dengan pembatasan hak-hak mereka (Pardi Suparlan, 2002: 2-3). Gerakan hak-hak
sipil ini, menurut James A. Bank (1989: 4-5), berimplikasi pada dunia pendidikan, dengan
munculnya beberapa tuntutan untuk melakukan reformasi kurikulum pendidikan yang sarat
dengan diskriminasi. Pada awal tahun 1970-an muncullah sejumlah kursus dan program
pendidikan yang menekankan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan etnik dan
keragaman budaya (cultural diversity).

Alasan lain yang melatarbelakangi adanya pendidikan multikultural adalah keberadaan


masyarakat dengan individu-individu yang beragam latar belakang bahasa dan kebangsaan
(nationality), suku (race or etnicity), agama (religion), gender, dan kelas sosial (social class).
Keragaman latar belakang individu dalam masyarakat tersebut berimplikasi pada keragaman
latar belakang peserta didik dalam suatu lembaga pendidikan (James A. Bank, 1989: 14).
Dalam konteks Indonesia, peserta didik di berbagai lembaga pendidikan diasumsikan juga
terdiri dari peserta didik yang memiliki beragam latar belakang agama, etnik, bahasa, dan
budaya. Asumsi ini dibangun berdasarkan pada data bahwa di Indonesia terdapat 250
kelompok suku, 250 lebih bahasa lokal (lingua francka), 13.000 pulau, dan 5 agama resmi
(Leo Suryadinata, dkk., 2003: 30, 71, 104, dan 179). Paling tidak keragaman latar belakang
siswa di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia terdapat pada paham keagamaan, afiliasi
politik, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat, jenis kelamin, dan asal daerahnya (perkotaan
atau pedesaan).

Hal lain yang melatarbelakangi adanya pendidikan multikultural adalah adanya 3 (tiga)
teori sosial yang dapat menjelaskan hubungan antar individu dalam masyarakat dengan
beragam latar belakang agama, etnik, bahasa, dan budaya. Menurut Ricardo L. Garcia (1982:
37-42) ketiga teori sosial tersebut adalah: (1) Melting Pot I: Anglo Conformity, (2) Melting
Pot II: Ethnic Synthesis, dan (3) Cultural Pluralism: Mosaic Analogy. Ketiga teori tersebut
populer dengan sebutan teori masyarakat majmuk (communal theory).

2. Teori-teori pendidikan multikultural


 Teori pertama, Melting Pot I: Anglo Conformity, berpandangan bahwa masyarakat
yang terdiri dari individu-individu yang beragam latar belakang seperti agama, etnik,
bahasa, dan budaya harus disatukan ke dalam satu wadah yang paling dominan. Teori
ini melihat individu dalam masyarakat secara hirarkis, yaitu kelompok mayoritas dan
minoritas. Bila mayoritas individu dalam suatu masyarakat adalah pemeluk agama
Islam, maka individu lain yang memeluk agama non-Islam harus melebur ke dalam
Islam. Bila yang mendominasi suatu masyarakat adalah individu yang beretnik Jawa,
maka individu lain yang beretnik non-Jawa harus mencair ke dalam etnik Jawa, dan
demikian seterusnya. Teori ini hanya memberikan peluang kepada kelompok
mayoritas untuk menunjukkan identitasnya. Sebaliknya, kelompok minoritas sama
sekali tidak memperoleh hak untuk mengekspresikan identitasnya. Identitas di sini
bisa berupa agama, etnik, bahasa, dan budaya. Teori ini tampak sangat tidak
demokratis.
 Karena teori pertama tidak demokratis, maka muncullah teori kedua, yaitu Melting
Pot II: Ethnic Synthesis. Teori yang dipopulerkan oleh Israel Zangwill ini
memandang bahwa individu-individu dalam suatu masyarakat yang beragam latar
belakangnya, disatukan ke dalam satu wadah, dan selanjutnya membentuk wadah
baru, dengan memasukkan sebagian unsur budaya yang dimiliki oleh masing-masing
individu dalam masyarakat tersebut. Identitas agama, etnik, bahasa, dan budaya asli
para anggotanya melebur menjadi identitas yang baru, sehingga identitas lamanya
menjadi hilang. Bila dalam suatu masyarakat terdapat individu-individu yang beretnik
Jawa, Sunda, dan Batak, misalnya, maka identitas asli dari ketiga etnik tersebut
menjadi hilang, selanjutnya membentuk identitas baru. Islam Jawa di kraton dan
masyarakat sekitarnya yang merupakan perpaduan antara nilai-nilai Islam dan nilai-
nilai kejawen adalah salah satu contohnya. Teori ini belum sepenuhnya demokratis,
karena hanya mengambil sebagian unsur budaya asli individu dalam masyarakat, dan
membuang sebagian unsur budaya yang lain.
 Mengingat teori kedua belum sepenuhnya demokratis, maka muncullah teori ketiga,
yaitu Cultural Pluralism: Mosaic Analogy. Teori yang dikembangkan oleh Berkson ini
berpandangan bahwa masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang beragam
latar belakang agama, etnik, bahasa, dan budaya, memiliki hak untuk
mengekspresikan identitas budayanya secara demokratis. Teori ini sama sekali tidak
meminggirkan identitas budaya tertentu, termasuk identitas budaya kelompok
minoritas sekalipun. Bila dalam suatu masyarakat terdapat individu pemeluk agama
Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu, maka semua pemeluk
agama diberi peluang untuk mengekspresikan identitas keagamaannya masing-
masing. Bila individu dalam suatu masyarakat berlatar belakang budaya Jawa,
Madura, Betawi, dan Ambon, misalnya, maka masing-masing individu berhak
menunjukkan identitas budayanya, bahkan diizinkan untuk mengembangkannya.
Masyarakat yang menganut teori ini, terdiri dari individu yang sangat pluralistik,
sehingga masing-masing identitas individu dan kelompok dapat hidup dan
membentuk mosaik yang indah.
 Dari ketiga teori komunal di atas, teori ketigalah yang dijadikan dasar oleh
pendidikan multikultural, yaitu teori Cultural Pluralism: Mosaic Analogy. Untuk
konteks Indoneisa, teori ini sejalan dengan semboyan negara Indonesia, Bhinneka
Tunggal Ika. Secara normatif, semboyan tersebut memberi peluang kepada semua
bangsa Indonesia untuk mengekspresikan identitas bahasa, etnik, budaya, dan agama
masing-masing, dan bahkan diizinkan untuk mengembangkannya.
 Lebih jauh, menurut Jose A. Cardinas (1975: 131), pentingnya pendidikan
multikultural ini didasarkan pada lima pertimbangan:
(1) incompatibility (ketidakmampuan hidup secara harmoni),
(2) other languages acquisition (tuntutan bahasa lain),
(3) cultural pluralism (keragaman kebudayaan),
(4) development of positive self-image (pengembangan citra diri yang positif),
(5) equility of educational opportunity (kesetaraan memperoleh kesempatan pendidikan).
 Di pihak lain, Donna M. Gollnick (1983: 29) menyebutkan bahwa pentingnya pendidikan
multikultural dilaterbelakangi oleh beberapa asumsi:
(1) bahwa setiap budaya dapat berinteraksi dengan budaya lain yang berbeda, dan
bahkan dapat saling memberikan kontribusi;
(2) keragaman budaya dan interaksinya merupakan inti dari masyarakat Amerika dewasa
ini;
(3) keadilan sosial dan kesempatan yang setara bagi semua orang merupakan hak bagi
semua warga negara;
(4) distribusi kekuasaan dapat dibagi secara sama kepada semua kelompok etnik;
(5) sistem pendidikan memberikan fungsi kritis terhadap kebutuhan kerangka sikap dan
nilai demi kelangsungan masyarakat demokratis; serta
(6) para guru dan para praktisi pendidikan dapat mengasumsikan sebuah peran
kepemimpinan dalam mewujudkan lingkungan yang mendukung pendidikan
multikultural.

3. KONSEPSI GENDER
Secara historis, konsep gender pertama sekali dibedakan oleh sosiolog asal Inggris yaitu
Ann Oakley yaitu ia membedakan antara gender dan seks. Perbedaan seks berarti perbedaan atas
dasar ciri-ciri biologis yaitu yang menyangkut prokreasi (menstruasi, hamil, melahirkan, dan
menyusui). Perbedaan gender adalah perbedaan simbolis atau sosial yang berpangkal pada
perbedaan seks tetapi tidak selalu identik dengannya. Jadi kelihatan di sini gender lebih
mengarah kepada simbol-simbol sosial yang diberikan pada suatu masyarakat tertentu.Sebagai
contoh kalau untuk bayi perempuan yang baru lahir diberikan perlengkapan dengan nuansa
merah jambu sedangkan bayi laki-laki yang lahir diberikan perlengkapan dengan nuansa warna
biru muda. Perbedaan itu juga pada pola pengasuhan dan pola permainan. Anak perempuan
diberikan mainan boneka dan permainan yang berisiko rendah, sedangkan anak laki-laki
diberikan permainan mobil-mobilan, tembak-tembakan dengan risiko yang tinggi. Hal ini terus
berlanjut sampai kepada pertumbuhan mereka sampai dewasa. Pada norma yang berlaku sangat
tegas sekali perbedaan peran antara perempuan dan laki-laki. Pada satu sisi perbedaan itu
memberikan kondisi yang merugikan pada diri kaum perempuan akan tetapi hal itu juga
merugikan kepada kaum laki-laki walaupun relatif sangat kecil.
G e n d e r adalah pembedaan peran, perilaku, perangai laki-laki dan perempuan oleh
budaya/masyarakat melalui interpretasi terhadap
perbedaan biologis laki-laki dan perempuan. Jadi gender, tidak diperoleh sejak lahir tapi dikenal
melalui proses belajar (sosialisasi) dari masa anak-anak hingga dewasa. Oleh karena itu, gender
dapat disesuaikan dan diubah.
Setiap masyarakat mengembangkan identitas gender yang berbeda, tetapi kebanyakan
masyarakat membedakan laki-laki dan perempuan dengan maskulin dan feminim. Maskulin
identik dengan keperkasaan, bergelut di sektor publik, jantan dan agresif. Sedangkan feminim
identik dengan lemah lembut, berkutat di sektor domestic (rumah), pesolek, pasif, dan lain-lain.
Disebabkan oleh pembedaan yang tegas terhadap peran laki-laki dan perempuan yang
selama ini terjadi didukung oleh budaya patriarkhi yang sangat mendominasi menyebabkan
ketimpangan gender itu terjadi. Di dalam kehidupan sosial muncul stereotip tertentu terhadap
laki-laki dan perempuan. Padahal gender ini sifatnya netral dan tidak memihak. Peran laki-laki
dan perempuan sangat ditentukan dari suku, tempat, umur, pendidikan serta perkembangan
zaman. Selama ini yang terjadi adalah bias gender yang berpihak kepada laki-laki.

ISI

Analisa situasi saat ini

Gender mengacu pada atribut sosial dibangun menjadi perempuan atau laki-laki, atau
feminitas dan maskulinitas.. Masyarakat memiliki konsep yang berbeda dari jenis kelamin
perempuan dan laki-laki, yang mempengaruhi persepsi tentang bagaimana seseorang harus
bersikap dan bertindak. Konsep-konsep membangun sebuah ideologi, yang tercermin dalam
peraturan dan struktur di empat lingkup kehidupan: (i) keluarga dan rumah tangga, (ii) pasar, (iii)
masyarakat dan (iv) negara.

Sektor pendidikan tinggi, menjadi bagian dari masyarakat juga dipengaruhi oleh kategori
gender dan stereotip yang ada masyarakat. Pembagian daya masyarakat antara pria dan wanita
tercermin dalam akademisi. Meskipun akademisi yang memandang dirinya sebagai bagian
progresif dari masyarakat, yang merupakan kunci untuk inovasi, kenyataan terlihat berbeda.

Di hampir semua negara Eropa jumlah siswa perempuan dan laki-laki kurang lebih sama.
Di beberapa negara, jumlah perempuan dalam pendidikan tersier melebihi jumlah laki-laki. Ini
bertentangan dengan kurangnya besar perempuan dalam posisi terkemuka sektor pendidikan
tinggi, ekonomi dan dalam politik. Meskipun perempuan di banyak negara lebih banyak dan
lebih terdidik daripada rekan-rekan pria mereka, mereka masih tidak mencapai posisi tinggi di
masyarakat dan untuk hidup mereka.struktur informal yang mengakibatkan langit-langit kaca ""
yang mencegah wanita dari mencapai posisi yang lebih tinggi.

Pilihan mata pelajaran pendidikan di perguruan tinggi sangat terkait dengan jenis kelamin
siswa. Meskipun jumlah lulusan wanita di bidang matematika, ilmu pengetahuan dan teknologi
telah agak meningkat selama beberapa tahun terakhir, kebanyakan laki-laki mendaftar
sedemikian subjects. subyek. Di sisi lain lebih dari 80% dari siswa di "pendidikan" dan
"kesehatan & kesejahteraan" adalah perempuan. Tingkat mahasiswa doktor menunjukkan
gambaran yang sangat berbeda. In some countries, the participation of women in this level
decreases by nearly 30%. Di beberapa negara, partisipasi perempuan dalam tingkat ini turun
hampir 30 Akibatnya, perempuan tidak memiliki akses ke posisi yang lebih tinggi dengan cara
yang sama dengan pria dan karena itu juga memiliki akses lebih sedikit uang dan pekerjaan yang
kuat.

Segregasi gender dapat ditemukan pada semua tingkat pendidikan tinggi. Hal ini juga
dilengkapi dengan wajah yang berbeda pada tingkat yang berbeda.. stereotip jender, yang hadir
dalam masyarakat, juga membuat gambar seorang mahasiswa biasa di setiap mata pelajaran,
mahasiswa program doktor khas, seorang profesor khas dan gubernur khas lembaga. Stereotip
ini mungkin memaksa mereka yang ingin berhasil dalam pendidikan tinggi untuk bertindak,
berpikir dan bertindak dengan cara tertentu. Orang yang tidak berpegang pada aturan
kemungkinan menghadapi diskriminasi dan harus berjuang lebih banyak dan kuat untuk hasil
yang sama. Hal ini mempengaruhi baik pria maupun wanita dan memiliki dampak negatif pada
banyak individu. Kebanyakan stereotip adalah untuk kepentingan orang-orang. Oleh karena itu
pendidikan tinggi memiliki dampak yang tinggi bagi masa depan masyarakat, seperti penelitian
dan pengembangan adalah produk dari berpikir dan bertindak dari itu. ESU stands for a higher
education area, which is free of discrimination and unequal treatment. ESU berdiri atas bidang
pendidikan tinggi, yang bebas dari diskriminasi dan perlakuan yang tidak adil. II. II. Students
within Higher Education Siswa dalam Pendidikan Tinggi

Akses ke Pendidikan Tinggi


Pada pandangan pertama, ada tampaknya tidak menjadi masalah dengan ketidaksetaraan
gender di pintu masuk pendidikan yang lebih tinggi. Di banyak negara, jumlah perempuan
sedikit melebihi jumlah siswa laki-laki pada siklus pertama, yang masih tidak dapat dilihat
sebagai alasan untuk mengabaikan ketidaksetaraan gender atau bahkan berpikir bahwa hal ini
bisa mengakibatkan kesetaraan gender. Pemilihan mata pelajaran masih didorong oleh stereotip
jender. Biasanya keputusan-pra sudah dibuat di sekolah. Ketika anak-anak memilih mata
pelajaran mereka dalam pendidikan menengah mereka dipengaruhi oleh apa yang guru mereka,
keluarga dan teman-teman berpikir. Guru dan perilaku mereka di sekolah berdampak pada
bagaimana anak perempuan dan anak laki-laki mengembangkan minat mereka pada subyek yang
berbeda dan disiplin. itu pendidikan Guru perlu fokus pada pembangunan dan stereotip jender di
sekolah-sekolah, sebagai guru perlu menyadari prasangka mereka sendiri saat menemani murid
mereka.. spesifik berpikir Jender dalam keluarga harus diperhitungkan ketika sebuah keputusan
tentang profesi lebih lanjut, pilihan sekolah tertentu / universitas atau cabang diambil.. Ini hanya
dapat dicapai dengan kerjasama yang baik dari siswa, orang tua dan guru.

Sejak profesi yang berbeda tidak memiliki dampak yang sama pada situasi pribadi masa
depan, pendapatan yang diharapkan dan posisi, pilihan subjek lebih dari satu pilihan untuk
membaca buku-buku apa dan apa isi ketahui. Pilihan harus dipimpin oleh minat yang tulus di
lapangan. Ini hanya mungkin jika kemungkinan masa depan perempuan dan laki-laki dalam
bidang tertentu adalah sama. prasyarat ini akan dihapus pada saat seks tidak harus menjelaskan
atau membenarkan pilihan mata pelajaran sendiri. Jadi, apa pun dari konsep 'norma tradisional'
dalam hal pilihan mata pelajaran untuk kedua jenis kelamin harus dihapuskan. Iklan dan
informasi program harus dipertimbangkan mengenai dampak gender mereka. Mereka presentasi
serta ilustrasi buku pelajaran dan kurikulum harus memiliki strategi yang jelas untuk
memecahkan stereotip jender dan menunjukkan gambar akademis yang tidak biasa.

ujian Masuk cenderung memperkuat efek dijelaskan di atas. Sementara siswa harus
membuat keputusan yang membuat ruang lebih sedikit untuk pengalaman dan pengujian tanpa
kerugian, ujian masuk adalah suatu hambatan untuk keputusan yang tidak biasa tentang studi di
masa depan Seorang wanita yang berlaku untuk program teknik di depan tim wawancara laki-
laki dari profesor, dan harus menjelaskan mengapa dia ingin menjadi insinyur akan menghadapi
sebagai stereotip banyak sebagai orang yang berlaku untuk TK's guru program di depan sebagian
besar perempuan TK guru. Bagi keduanya kurang kemungkinan untuk memasukkan program
daripada rekan-rekan gender mereka. Buka akses ke pendidikan tinggi membuka lebih banyak
kemungkinan bagi mereka yang tidak berpegang pada norma dan ide-ide mereka yang sudah
dalam pendidikan tinggi.

Pertanyaan pembiayaan masih merupakan aspek utama untuk keputusan untuk


mengambil kursus atau tidak. Tuition Biaya pendidikan dan kurangnya keuangan membuat orang
muda jauh dari pendidikan tinggi. Pengalaman dari beberapa negara telah menunjukkan, bahwa
efek buruk dari pinjaman dan hutang pelajar yang lebih kuat pada wanita dari pada laki-laki.
Sebagai perempuan mendapatkan uang kurang pada rata-rata dan berharap banyak lebih sering
untuk meninggalkan pekerjaan mereka untuk alasan keluarga, mereka jauh lebih menderita dari
utang. Mengetahui tentang biaya dan kurangnya dukungan keuangan ini dapat menjauhkan
mereka dari pendidikan yang lebih tinggi Pinjaman dan hasil bunga dalam beban keuangan yang
lebih tinggi untuk orang-orang yang meninggalkan pekerjaan untuk perawatan keluarga -
biasanya perempuan. Oleh karena itu biaya juga harus dihapuskan karena alasan kesetaraan
gender. Sebuah pembiayaan berkelanjutan biaya hidup sangat penting untuk keputusan bebas
dari profesi dan subjek dari perspektif jender.

Jangka waktu dalam lembaga

Siswa di lembaga pendidikan tinggi sangat tergantung pada dosen dan guru sebagai
hakim pada mereka kerja yang dilakukan oleh para siswa melalui ujian dan nilai. Mereka
membentuk keputusan masa depan siswa sangat banyak. Menganggap stereotip laki-laki dan
perempuan merupakan bagian dari penilaian dan guru harus menyadari fakta bahwa.. pendidikan
profesional guru dan dosen harus mencakup pelatihan kesadaran gender untuk menghindari
perlakuan tidak adil siswa berdasarkan gender. situasi Pemeriksaan adalah kemungkinan terbaik
untuk perlakuan yang tidak adil dan penilaian berdasarkan stereotip Lembaga harus memastikan,
bahwa prosedur pemeriksaan mereka memastikan bahwa semua siswa diperlakukan sama..
Kinerja penilaian harus transparan sebelum ujian dimulai. Terutama ujian lisan yang harus
diambil misalnya oleh dua pemeriksa, yang adalah gender seimbang, atau termasuk bias and
sexual harassment. eksternal, dalam rangka untuk menghindari bias gender dan pelecehan
seksual Selain itu, kerangka hukum harus diberikan, melarang diskriminasi gender
mempertimbangkan evaluasi dan keputusan mengenai kemajuan studi, akses dan pilihan dalam
pendidikan tinggi. Efisien sistem pengaduan dan banding harus ada untuk memerangi encountred
diskriminasi berbasis jender.

Guru juga memainkan peran penting sebagai model peran bagi siswa untuk bekerja
ilmiah atau untuk melanjutkan dalam dunia akademis. Tujuan dari setiap instansi harus mencapai
sebuah hubungan yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam posisi yang lebih tinggi dari
universitas untuk memberikan model peran yang terpisah dari subjek yang khas dan pembagian
tugas. Jadi, ini juga harus menjadi aspek substansial untuk pemilihan ahli, apabila mereka
dimasukkan dalam kurikulum.

mobilitas horizontal memiliki aspek spesifik jender yang kuat. Sambil melihat siswa
mobile, banyak negara memiliki partisipasi siswa perempuan lebih besar dari luar negeri. This
is also due to the gender specific choice of subjects that lead women more into subjects that are
usually more mobile, such as language, social sciences and cultural science. Hal ini juga
disebabkan oleh spesifik gender pilihan mata pelajaran yang mengarah ke dalam mata pelajaran
lebih banyak perempuan yang biasanya lebih mobile, seperti bahasa, ilmu sosial dan ilmu
budayaTapi di sisi lain, akses untuk mobilitas lebih ditekankan bagi siswa perempuan di bagian
lain dunia. Di beberapa negara, perempuan bahkan tidak diizinkan untuk studi atau mereka
menghadapi diskriminasi besar. Perempuan dalam mata pelajaran, yang berfokus pada negara-
negara dan wilayah, kelemahan wajah, ketika mobilitas menjadi isu utama bagi pekerjaan masa
depan. Lembaga harus memastikan bahwa kerjasama kelembagaan sama terbuka untuk semua
mahasiswa dan bahwa dukungan dan konseling dari lembaga tersebut mendukung siswa di
negara-negara di mana bahkan tidak ada kesetaraan hukum yang diberikan.

Seluruh Eropa, 5-10% dari mahasiswa memiliki anak dan harus menggabungkan
penitipan anak dengan studi mereka. Di hampir semua negara perempuan lebih dari laki-laki
mempunyai anak saat mereka belajar. Dalam sebagian besar negara-negara, tidak ada dukungan
finansial khusus bagi siswa dengan anak-anak. Sebuah dukungan keuangan konsisten adalah
diperlukan bagi siswa biaya tambahan dengan anak-anak harus membayar. Tapi penitipan anak
tidak hanya masalah keuangan untuk siswa tapi juga masalah waktu dan ketersediaan.
Pengasuhan anak harus tersedia untuk 'anak-anak siswa selama waktu kelas. kurikulum yang
fleksibel diperlukan untuk orangtua siswa untuk menggabungkan ketidakpastian penitipan anak
dengan studi mereka. Hanya kondisi belajar yang baik bagi orangtua siswa mengaktifkan sebuah
divisi yang sama dari penitipan anak antara perempuan dan laki-laki. Seks melarang diskriminasi
dalam pekerjaan, pendidikan, penyediaan barang, sarana dan jasa dan dalam pembuangan atau
manajemen gedung. Tugas Jender akan bertujuan untuk memastikan bahwa kebijakan badan
publik 'dan layanan peka terhadap kebutuhan yang berbeda dari perempuan dan laki-laki;
bertindak adil badan-badan publik sebagai majikan terhadap perempuan dan laki-laki, dan, baik
mereka bekerja untuk mengatasi ketidaksetaraan dan memberikan hasil yang wajar.

Tugas umum akan membutuhkan otoritas publik untuk memiliki memperhatikan


kebutuhan untuk menghapus diskriminasi melanggar hukum, dan untuk memajukan persamaan
kesempatan antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan dan Kesetaraan Unit dalam DTI saat ini menganalisis tanggapan untuk konsultasi
baru pada usulan kebijakan untuk memperkenalkan tugas sektor publik untuk mempromosikan
kesetaraan gender.

Semua bangsa berkomitmen, melalui keikutsertaan dari MDGs, untuk menghilangkan


disparitas gender dalam pendidikan selama beberapa tahun mendatang Prioritas perubahan
kebijakan. Untuk mencapai tujuan jender terbaik dapat diinformasikan oleh pemahaman tentang
penyebab ketidaksetaraan yang ada, yang tergantung pada nasional konteks, sejarah dan sosial
dan kondisi ekonomi. Namun demikian, ada beberapa situasi umum penting bersama oleh
banyak negara, dan diskusi tentang sifat dan sejauh dapat membantu menginformasikan strategi
untuk mengatasi mereka. Apa itu, yang dibutuhkan? diskriminasi pendidikan merupakan sebuah
sebab dan akibat dari diskriminasi yang lebih luas terhadap anak perempuan dan perempuan
dalam masyarakat. The ketidakadilan gender yang paling ditandai akan ditemukan di negara-
negara dan wilayah di mana peran perempuan yang dibatasi oleh prinsip-prinsip patrilineal
warisan dan keturunan, dengan pernikahan dini, oleh keluarga sumber daya dikendalikan oleh
anggota rumah tangga laki-laki senior dan kadang-kadang oleh batasan-batasan tradisional
mencegah perempuan berpartisipasi dalam ranah publik.

tradisi seperti ini sering lebih kuat di negara-negara termiskin, yang juga jauh dari
sekolah mencapai universal. Hal ini mengejutkan bahwa, di negara-negara dimana partisipasi di
sekolah rendah, anak laki-laki cenderung diberikan preferensi dalam akses ke sekolah. Dalam
circumsntances, menciptakan lingkungan di mana kesetaraan antara perempuan dan laki-laki
adalah prinsip penting untuk meningkatkan peluang pendidikan anak perempuan dan hasil
agenda tersebut melibatkan. pembaruan hukum keluarga, memberikan harta warisan perempuan
dan hak-hak dan kesempatan yang sama merancang undang-undang perubahan itu biasanya
kontroversial,. tapi mereka memberikan yang menentukan imbangan untuk norma-norma sosial
yang tertanam juga mempengaruhi apakah atau tidak anak-anak pergi ke sekolah.
Merancang kurikulum sensitif gender dan pelatihan guru 'gender-sadar' bukanlah proses
yang sederhana Fakta bahwa perempuan yang masih kurang terwakili dalam mata pelajaran ilmu
pengetahuan di negara-negara industri di tingkat sekunder dan tersier poin untuk bias bertahan..
Di negara berkembang, meskipun kemajuan telah sering dibuat dalam menghilangkan dari teks-
teks sekolah gambaran tentang perempuan dalam kegiatan stereotip, di banyak negara, audit
reguler gender bahan kurikuler diperlukan jika hambatan harus dipecah.

Terlepas dari desain kurikulum, cara yang diinterpretasikan oleh para guru mempunyai
pengaruh yang penting pada siswa Guru dapat memberikan model peran, dan rasa pengarahan
dan dorongan untuk baik laki-laki dan perempuan.. Namun, mereka tidak dapat diharapkan untuk
memisahkan diri mereka sendiri dengan mudah dari norma-norma budaya dan sosial yang kuat
dengan yang mereka sendiri telah tumbuh dewasa. Di lingkungan sangat patriarki, perempuan
menghadapi hambatan guru yang kuat dalam memilih karier mereka sendiri dan kegiatan, dan
dalam keadaan seperti itu, program kepekaan gender jarang bagian standar dari program
pelatihan guru .

Meskipun kesulitan ini, mempekerjakan lebih banyak guru perempuan dan melatih
mereka dengan baik adalah prioritas utama bagi negara-negara di mana perbedaan gender tetap
tinggi. Di Sub-Sahara Afrika, perempuan memegang hanya satu-ketiga, atau kurang, dari posting
mengajar, dan di beberapa negara jumlah mereka korelasi kuat sangat kecil. Ada antara
mahasiswa, anak perempuan di tingkat dasar dan keberadaan guru perempuan dan, dimana
rasio / guru wanita laki-laki rendah, langkah-langkah kebijakan yang disengaja untuk
meningkatkan harus menjadi komponen utama dari setiap strategi gender. Ada inisiatif untuk
memimpin jalan: di beberapa negara Afrika Sub-Sahara, Forum untuk Afrika pendidik
Perempuan (FAWE) telah menetapkan 'pusat keunggulan' untuk membangun kapasitas guru
melalui program pada kepekaan dan kesadaran gender, ajaran ilmu pengetahuan , matematika
dan teknologi, dan pelatihan dalam metodologi responsif jender.

Sekolah sering tidak tempat yang aman untuk belajar: kekerasan terhadap perempuan
dengan siswa lainnya dan bahkan oleh para guru membantu untuk mengabadikan kesenjangan
gender dalam pendidikan Sejumlah penelitian dari Afrika menunjukkan bahwa banyak kekerasan
gender di sekolah-sekolah berjalan tidak dilaporkan karena siswa takut korban, atau hukuman.
ejekan. Menempatkan sekolah dekat dengan rumah juga penting di banyak negara - di mana
jarak ke sekolah cukup besar, keamanan anak-anak selama perjalanan ke sekolah sangat
berpengaruh dalam mempengaruhi keputusan orang tua untuk mengirim anak mereka ke sekolah.
Gadis memiliki kesempatan yang jauh lebih tinggi dari menghadiri sekolah jika ibu mereka
terdidik - bahkan jika pendidikan seperti itu yang diakuisisi pada usia dewasa. Program
keaksaraan terikat pada kegiatan yang menghasilkan pendapatan, dan untuk kesehatan dan
kampanye kesadaran hak asasi manusia telah menunjukkan potensi besar untuk memberdayakan
perempuan. Menghubungkan program-program seperti itu untuk perawatan anak usia dini dan
pendidikan menghasilkan manfaat yang kuat, sering dengan biaya rendah Karena link yang kuat
antara pertemuan. oleh anak-anak di program pra-sekolah dan pendaftaran selanjutnya mereka di
sekolah dasar, suatu pengakuan yang efektif dari link di antara generasi yang berbeda dari
peserta didik menjadi batu loncatan menuju kesetaraan yang lebih besar, dalam pendidikan dan
seterusnya.
Tentu saja, tidak ada penyebab tunggal ketidaksetaraan dalam pendidikan, dan reformasi
banyak berada di tangan yang mampu mengatasi itu Tapi negara memiliki peran penting dalam
menciptakan lingkungan yang promotif kesetaraan yang lebih besar melalui. Legislatif dan
reformasi kebijakan . Ada kebutuhan untuk target sumber daya untuk pendidikan perempuan, dan
untuk memperkenalkan tindakan sengaja untuk mengurangi ketidakadilan Komitmen politik
yang perlu, keahlian dan sumber daya perlu dimobilisasi, sehingga untuk menanggapi urgensi
tugas.. Argumen bahwa persamaan tidak dapat diberikan, atau bahwa perubahan kebijakan
tersebut akan menghasilkan tekanan yang bertentangan dengan yang lain, yang lebih mendesak,
prioritas pembangunan, sebagian besar sesat. Pada Sebaliknya, pergeseran berkomitmen menuju
terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan akan merangsang berbagai pribadi, ekonomi dan
sosial manfaat yang baik melebihi biaya mereka. Ini akan memberikan landasan untuk
membolehkan perempuan dan laki-laki untuk menikmati hak-hak dan kebebasan yang
dituangkan dalam Piagam PBB tentang Hak Asasi Manusia lebih dari setengah abad lalu, dan
yang dunia telah recommitted sendiri untuk mencapai atas tahun 2015.

Gender mengacu pada atribut sosial dibangun menjadi perempuan atau laki-laki, atau
feminitas dan maskulinitas. Dalam pendidikan multicultur sex atau gender tidak dijadikan
hambtan dalam proses pendidikan,baik pria maupun wanita berhak mendapatkan pelayanan dan
kesetaraan dalam menerima pendidikan. Karena pada dasaranya manusia itu adalah makhluk
yang berfikir,dimana dalam proses berfikir diperlukan belajar dan belajar didapatkan dari
pendidikan. Maka dari itu baik wanita maupun pria berhak mendapatkan kesetaraan dalam
pendidikan. Pendidikn sendiri bertujuan untuk menjadikan manusia yang seutuhnya,tidak
dibedakan sex atau gendernya melainkan melihat kapasitas yang ada pada diri masing-masing
manusia tersebut. Dalam pendidikan multicultural yang memiliki berbagai macam pendidikan,
bukan hanya dalam bidang IQ (Intelegent Quantion), EQ (Emosianal Quantion), SQ (Spiritual
Quantion) melainkan harus memuluki MI (Multiple Intelegent), karena manusia memiliki
kecerdasan yang banyak dan bermacam-masm maka diperlukan juga pendidikan multicultural.

CONTOH
Pendidikan multikultural (multicultural education) sesungguhnya bukanlah pendidikan
khas Indonesia. Pendidikan multikultural merupakan pendidikan khas Barat. Kanada, Amerika,
Jerman, dan Inggris adalah beberapa contoh negara yang mempraktikkan pendidikan
multikultural. Ada beberapa nama dan istilah lain yang digunakan untuk menunjuk pendidikan
multikultural. Beberapa istilah tersebut adalah: intercultural education, interetnic education,
transcultural education, multietnic education, dan cross-cultural education (L.H. Ekstrand dalam
Lawrence J. Saha, 1997: 345-6).

BAB 3
Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Untuk konteks Indonesia, pendidikan multikultural baru sebatas wacana. Sejak tahun
2002 hingga sekarang ini wacana pendidikan multikultural berhembus di Indonesia. Beberapa
tulisan di media, seminar, dan simposium cukup gencar mewacanakan pentingnya pendidikan
multikultural di Indonesia. Simposium internasional di Universitas Udayana, Denpasar, Bali,
pada tanggal 16-19 Juli 2002 adalah salah satu contoh simposium yang mewacanakan
pentingnya pendidikan multikultural di Indonesia. Seminar kali ini juga memiliki concern yang
sama, bahwa wacana pendidikan multikultural perlu terus-menerus dihembuskan, bahkan perlu
diujicobakan.

Untuk membahas topik ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pedagogik.
Pendekatan ini digunakan untuk membahas bagaimana mengasuh, membesarkan, dan mendidik
peserta didik melalui pendidikan multikultural. Dalam kaitan ini, ada dua hal penting yang perlu
ditekankan, yaitu masalah didaktik dan metodik. Masalah didaktik perlu mendapat tekanan
dalam tulisan ini dengan alasan bahwa didaktik merupakan bagian dari ilmu pendidikan yang
membahas tentang cara membuat persiapan pembelajaran dan mengorganisir bahan
pembelajaran. Dalam tulisan ini, didaktik akan dikaitkan dengan bahan, materi, dan silabus, atau
kurikulum dalam pendidikan multikultural. Masalah metodik juga akan ditekankan di sini,
karena metodik merupakan bagian dari ilmu pendidikan yang membahas tentang cara
mengajarkan suatu mata pelajaran. Dalam tulisan ini, metodik akan dikaitkan dengan
manajemen dan strategi pembelajaran dalam pendidikan multikultural.

Saran

Kami sadar dalam pembuatan makalah ini, masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu
kami meminta maaf dan menerima kritik serta saran dari semua pihak.Yang baik datangnya dari
Allah SWT dan kesalahan datangnya dari kami.

KATA PENGANTAR
TUGAS KELOMPOK

MAKALAH

Pendidikan multicultural dalam Kesetaraan Seks atau Gender


Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah perspektif global

Dosen pembimbing : Dra.Hj. Tati Hertati. Mpd

LAMBANG UNPAS

Disusun oleh :

Anisa Fauziah Safitri 095060209

Agista Lumika Fasha 095060226

Detty Taufiyati 095060214

Fauziyah Nur Aisyah 095060221

Ina Fadillah 095060235

Raissa Dias Lestari 095060224

Ratmi Susilawati 095060210

Seni Septriani Soemantri 095060212

Vina Febiani Musyadad 095060217

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PASUNDAN

BANDUNG

2009-2010