Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH AIK

FALSAFAH MUAMALAT

Disusun oleh Kelompok 2 :

1. CINDY ARIESTA (16.0101.0138)


2. AGUS DEVI RIYANTI (16.0101.0139)
3. WIDYA ANISSA S (16.0101.0140)
4. NUR ABITA P (16.0101.0141)
5. METI AZUMASTUTI (16.0101.0144)
6. FITRIA DWI NANDA (16.0101.0145)
7. NINO ARDIANSAH A (16.0101.0147)
8. CHINDI TIA PRATIWI (16.0101.0149)
9. ILHAM YUSRIL P. (16.0101.0151)
10. DOMI RAHARDIAN (16.0101.0152)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI MANAJEMEN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2018/2019
BAB 6

FALSAFAH MUAMALAT

Hukum-hukum syariat Islam memiliki dua ciri penting (Qantaqji, 2012). Pertama, berupa
ushul (pokok-pokok ajaran) yang tertuang dalam nushush (teks-teks) Al-Qu’an dan Sunnah yang
bersifat tsabitah (permanen). Sebagai ajaran permanen, ulama Islam telah menyepakati (ijma’),
baik berupa perintah, larangan, atau sanksi dalam rangka mewujudkan maqashid syariah (tujuan-
tujuan syariah). Kedua, syariah Islam juga memiliki ciri insaniyah (kemanusiaan), berupa
pemahaman kaum muslimin sebagai aplikasi dari ajaran ushul yang disebut dengan fikih Islam.

Kata muamalat berkembang berasal dari kata ta’mul 9Syubir,2014) yang berarti interaksi
timbal balik dakam hubungan sosial. Muamalat menunjukkan arti bahwa pihak-pihak yang
berinteraksi dalam posisi saling membutuhkan, sebagaimana karakternya aebagai makhluk sosial
yang tidak mungkin hidup menyendiri. Al Insanu madaniyuun bi thab’ihi, secara natural manusia
adalah makhluk sosial.

A. FIKIH MUAMALAT
Muamalat memiliki wilayah garapan yang paling luas, dibanding bidang-bidang
lainnya. Pada akidah dan ibadah tidak diperkenankan menambah atau mengurangi. Berbeda
dengan muamalat yang cukup akomodatif terhadap perubahan bahkan penambahan melalui
ijtihad yang benar dan akurat. Interaksi manusia dewngan sesama bersifat dinamis, seiring
perkembangan waktu dan tempat serta perkembangan hbungan manusia dalam rangka
memenuhi kebutuhannya. Dinamika ini menuntut kepastian hukum sebagai bentuk
kerundukan kepada Allah SWT.
Islam melihat bahwa individu merupakan bagian dari masyarakat, bahkan
menganggap manusia sebagai makhluk sosial. Individu pasti membutuhkan pihak lain dalam
hidupnya sebagaimana masyarakat juga membutuhkan individu untuk menjaga
eksistensinya, kebutuhan timbal balik dalam lingkungan sosial ini membutuhkan interaksi
yang teratur dan rapi demi terpenuhinya kebutuhanmasing-masing pihak. Aturan interaksi
ini diperlukan mengingat para aktor (individu) memiliki kecenderungan-kecenderungan
negatif. Manusia memiliki sifat cenderung melampaui batas (QS-Al-Alaq 96:6) suka
berkeluh kesah dan kikir (QS AL-Ma’rij 70:19) serta sangat zalim dan sangat mengingkari
(QS Ibrahim 14:34).
Dalam tradisi salaf pengetahuan tentang muamalat menjadi syarat bagi pelaku bisnis.
Bahkan diantara pelaku bisnis adalah fuqaha (para ahli fikih), semisal Imam Abu Hanifah.
Imam ahli al ra’yi itu seorang pedagang. Beliau dalam menjalankan bisnisnya biasa
membawa dagangan ke Baghdad kemudian kulakan untuk dipasarkan di Kuffah. Beliau
terbiasa mengumpulkan laba bisnisnya, tahun demi tahun. Bila terkumpul uang itu dibelikan
berbagai keperluan hidup para ahli hadis, baik makanan maupun pakaian. Bila ada sisa, maka
diberikan kepada para ahli hadis itu. Imam Abu Hanifah pun berpesan kepada mereka
(Qardhawi, 1995).

B. Motif dan Tujuan Muamalat

Muamalat dalam Islam memiliki dua aspek : Objektif dan Subjektif (Shadir 1411/1991).
Aspek Objektif terkait dengan sarana yang digunakan, modal yang disediakan, tenaga kerja
yang dicurahkan, serta bahan baku (Sumber Daya Alam). Sedangkan aspek subjektif tercermin
pada motif dan tujuan bermuamalat. Aspek objektif bermuamalat dalam Islam dalam beberapa
hal memiliki kesamaan dengan praktik ekonomi orang lain dalam rangka penggunaan dan
pemanfaatan sumber daya untuk mendapatkan hasil yang diterapkan.
Aspek subjektif dalam muamalat sangat spesifik. Subjektivitas seorang mus.lim dalam
muamalat akan berbeda dengan orang lain. Bagi seorang uslim, interaksi social meskipun
berlangsung dalam dunia material tidak bias lepas dari nilai-nilai trasedental. Seorang muslim
tidak hanya menggunakan standar-standar finansial-material yang biasa digunakan dalam
masyarakat kapitalis dalam melakukan evaluasi muamalat.
Islam menempatkan manusia sebagai Abdullah (hamba Allah) yang berbunyi (QS Al-
Dzariyat [51]: 56):

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Secara fisiologis, manusia telah diciptakan sebagai makhluk yang siap untuk beribadah.
Allah menganugerahkan kepada manusia akal, indra lahir, dan indra batin serta potensi lainnya
yang menunjang misi ubudiyah (Al-Alusy, 2007. Prespektif maqashid syariah (tujuan-tujuan
syariah) menegaskan bahwa beban-beban syariah (taklif) bertujuan untuk kemanfaatan dunia
dan akhirat serta kesempurnan hidup manusia. Li ya’ budun (agar mereka menyembah Allah –
subhanahu wa ta’ala) artiya tidaklah Allah mencptakan manusia kecuali dengan maksud agar
kehidupan mereka teratur selaras dengan batas-batas beban syariat, perintah dan larangan
sehingga ibadah yang dilakukan oleh manusia kepada Tuhannya tidak akan menyimpang dari
tujuan penciptaannya (Asyur, 1984).

Predikat sebagai ‘abdullah’ menetapkan hakikat manusia sekaligus tujuan keberadaannya.


Sebagai Abdullah, manusia berkewajiban ibadatillah. Kehidupan manusia adalah kehidupan
ubudiyah (penghambaan) dalam arti ritual dan suluk (perilaku) yang mencangkup segenap
aspek : ekonomi, sosial, politik, dan pendidikan.

Spiritual-material dan ibadah muamalat merupakan nagian melekat dengan agama. Ibadah
memiliki fungsi disamping sebagai ritual dogmatic yang menggambarkan hubungan langsung
antara manusia dengan Tuhannya, ia juga berupa aktivitas lahir karena menjadi jabaran konkret
dari perintah-perintah agama.

Imam Syaibani (Syaibani, 1938) menyatakan bahwa al iktisab (profesi, pekerjaan,


muamalat) merupakan sebab bagi adanya ibadah. Artinya, manusia bekerja untuk memil.iki,
dan kepemilikannya merupakan sarana untuk beribadah. Kepemilikan kekayaan memengaruhi
adanya ibadah zakat dan haji serta ibadah maaliyah (harta) lainnya. Mengutip kaidah fikih, suati
kewajiban yang tidak sempurna (pelaksanaannya) kecuali dengan sebuah sarana, maka sarana
itu menjdi wajib hukumnya. Paradigma taklif ini pada akhirnya akan melahirkan ciri-ciri homo
islamicus, yaitu sebagai berikut :

 Pertama, taklif (beban tugas) ibadah menjadi penggerak utama tindakan individu. Semua
aktivitasnya-ritual maupun material-terbingkai oleh konsep taklif. Sehingga segala
tidakannya dalam kapasitas menjalani kewajiban lillahi (untuk Allah) dan demi perbaikan
dan kebaikan (QS Hud [11] : 88). Tidak dipungkiri bahwa homo islamicus juga memiliki
self interest, hanya saja makna self interest dalam muamalat berangkat dari asumsi sifat
altruistic manusia. Dengan demikian, muamalat Islam mengacu pada doktrin ini dan
menganggap kemuliaan manusia adalah sesnsial sehingga self interest dalam motif-motif
muamalat homo islamicus bersifat sangat unik.
 Kedua, pertimbangan kepentingan diri, sosial, dan pengabdian kepada Allah pertimbangan
ini berbeda dengan homo economicus yang self-centredness. Pada ajaran Islam, manusia
merupakan entitas individu yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab. Pada konteks
muamalat, ia terbebani oleh kewajiban ekonomi, seperti bekerja dan komitmen pada
transaksi. Bertolak dari kewajiban kepada diri, kepada masyarakat dan kepada Allah.
 Ketiga, konsep rasionalitas dalam muamalat memiliki dimensi luas, tidak hanya didasarkan
pada nilai guna atau ukuran-ukuran material lainnya (Hartono, 2007). Ada pertimbangan
aspek-aspek lain sebagai berikut :
1. Respek terhadap pilihan-pilihan logis ekonomi dan factor-faktor eksternal, seperti
tindakan altruis dan harmoni sosial (Siddqi, 1992).
2. Memasukkan dimensi waktu yang melampaui horizon duniawi sehingga segala
kegiatan ekonomi berorientasi dunia dan akhirat (Kahf, 1992)
3. Memenuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam (Kahn, 1992)
4. Rasionalitas sebagai pewujudan dimensi dalam ekonomi
5. Menurut (Agil, 1992) menjelaskan bahwa muslim yang rasional akan mendorong
individu untuk berada pada suatu tingkat yang berada diantara pemubziran dan
kecukupan rasional dalam mengonsumsi menurut modelnya adalah konsumen yang
rasional tidak akan berpuas hati sebelum sampai ke tahap barang kecukupan yang
mampu diusahakan, karena akan dihukum bersalah dan dianggap menimbulkan
penganiayaan terhadap diri dan keluarga, tidak melebihi garis tabzir (perbuatan
mubazir), karena dilarang islam. Konsumen tidak menggunakan bahan terlarang ,
karena berakibat buruk di akhirat dan bersedia share sebagian dari konsumsinya
dengan orang laim sebagai sikap mematuhi prinsip islam, seperti zakat, sedekah,
dan infaq.
6. Kegiatan muamalat sebagai usaha-usaha yang menunjang misi ubudiyah demi
meraih falah (kebahagiaan dunia dan akhirat).

Teori ekonomi menjelaskan utilitas sebagai upaya menguasai atau memiliki barang
dan jasa guna memuaskan keinginan manusia. Namun dalam muamalat hanya
barang/jasa yang dapat mengembangkan dan menopang maslahah saja yang dapat
dikategorikan sebagai barang/jasa yang mengandung maslahah. Oleh Karenanya,
dalam muamalat seorang muslim didorong untuk memperoleh atau memproduksi
barang/jasa yang mengandung kemaslahatan.

C. Karakteristik Fikih Muamalat


Hukum muamalat dalam lslam memiliki karakter yang spesifik dibanding bidang lain dari
cabang fikih Islam. Bagi pemerhati problematika muamalat dan praktisi muamalat pemahaman
tentang karakteristik ini akan membantu dalam memahami, menyikapi dan mengembangkan
praktik muamalat yang dinamis.
Adapun karakteristikflkih muamalar adalah sebagai berikul (Syubir, 1992):
1. Fikih Muamalat berbasis prinsip-prinsip umum.
Fikih muumalat memiliki kesamaan dengan cabang-cabang fikih, lainnya yaitu bersifat
Rabbani. Semua cabang fikih, baik ibadat maupun mumalat bersumber dari Allah (Al-Qur'an
dan Sunnah) dan keduanya juga bertujuan untuk menggapai ridha Allah. Akan tetapi antara
muamalat dengan cabang fikih lainnya, seperti ibadah, berbeda dalam hal-hal tertentu.
Tasyri‘ ibadah lebih bersifat rinci sedangkan muamalat bersifat global dan didasarkan pada
prinsip umum dan kaidah-kaidah global. Hal ini menjadikan fikih muamalat bersifat dinamis
dan terbuka bagi pintu ijtihad, seiring dengan dinamika problematika sosial.
2. Hukum asal muamalah adalah boleh
Penetapan hukum muamalat berbeda dengan ibadah. Hukum dasar ibadah adalah terlarang
(al hadhru) hingga dijumpai dalil yang memerintahkannya. Sedangkan hukum dasar
muamalat adalah boleh (al ibahah). Praktik muamalat yang berkembang di masyarakat tidak
dilarang kecuali bila dijumpai nash (dalil) yang sharih (jelas) dan qazh'y (pasti) yang
melarangnya. Bila tidak dijumpai dalil yang melarang, maka status muamalat kembali ke
hukum asal yang boleh.
a. Karakteristik ini didasarkan pada beberapa dalil berikut:
Dalam Al~Qur'an Surat Al- jatsiyah (45): 12-13:
Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dan
berlayarpadanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian
karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu
apayang ada di Iangit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat)
daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-
tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.
b. Dalam Al-Qur’an Surat Yunus (10): 59:
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu,
lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebaginnya) halal".
Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu
mengada-ada saja saja terhadap Allah?".
c. Dalam Al-Qur’an An Nahl (16): 116:
Dan jarnganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara
dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.
Sesungguhya orang-orang yang mengad-adakan kebohorngan terhadap Allah tiadalah
beruntung.
d. Diriwayatkan dalam HR Bukhari, Rasulullah bersabda:
“Kaum muslimin terikat oleh syarat-syarat mereka"
e. Diriwayatkan dalam HR At-Tirmidzi disebutkan:
“Kaum Muslim terikat dengan syarat-syarat mereka, kecuali syarat yang
mengharamkan apa yang halal, atau menghalaikan yang haram. "
Berdasar prinsip ini, dijumpai bentuk baru dari suatu muamalat yang dilakukan oleh
masyarakat, maka hukum asalnya adalah boleh dilakukan. Akan tetapi, diharuskan untuk
mencermati dalil-dalil Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, serta kaidah-kaidah umum dan maqashid
syariah (tujuan-tujuan syariah) untuk melihat apakah masalah baru itu tidak bertentangan
dengan dalil dan kaidah umum syariah. Bagi seorang peneliti hokum Islam, khususnya
bidang muamalat, saat menjumpai masalah baru bidang muamalat, maka yang harus
dilakukan adalah:
a. Meminta penjelasan kepada pihak yang berkompeten dengan masalah yang dihadapi.
Bila masalah yang acla terkait dengan bidang ekonomi, keuangan, dan perbankan,
maka sebelum menetapkan hukumnnya terlebih dulu harus meminta penjelasan
kepada ahli ekonomi, keuangan atau perbankan terkajt hakikat dan substansi masalah
yang dihadapi.
b. Melihat dalil-dalil, kaidah, maqashid, guna memastikan masalah baru itu tidak
bertentangan dengannya. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah tentang
muamalat: “Secara umum, larangan-larangan dalam bidang muamalat yang tersebut
dalam Al-Qur’an dan Sunnah kembali pada dua hal, yaitu dalam rangka mewujudkan
keadilan dan mencegah kezaliman, besar atau kecil. Seperti memakan harta orang lain
dengan cara yang batil, riba, dan judi (Taimiyah, 1419)
3. Konstruksi fikih muamalat dengan memerhatikan illat dan kemaslahatan
Mayoritas hukum-hukum ibadah bersifat dogma (ta’abbudi), irrasional, dan tidak terikat
oleh illat tertentu. Meskipun dijumpai juga banyak ayat atau Hadis saat menjelaskan praktik
ibadah menjelaskan pula hikmah dan tujuannya. Sikap mukallaf terhadap ibadah adalah
komitmen secara total, meskipun tidak memahami illatnya apa. Seperti bilangan rakaat-
rakaat shalat, mencium hajar aswad, puasa di siang hari, dan sebagainya. Sedangkan
mayoritas hukum muamalat bersifat ma’qulatu al ma'na (rasional) atau didasarkan pada illat
tertentu yang diketahui mukallaf. Seperti yang dikatakan oleh al Syathibi, “Asal ibadah itu
bersifat ra'abbud (dogmatik) tanpa memandang makna. Sedangkan adat (muamalat)
memandang makna dan hikmah.” Dasar pijakan karakter muclmzllul ini adalah istiqm
(induksi) yang dijelaskan oleh Imam Syathibi bahwa tujuan Allah dalam menetapkan hukum
adalah untuk menciptakan kemaslahatan bagi hamba. Hukum-hukum muamalat beredar
bersama tujuan (maslahah) itu, sehingga satu hal bisa saja dilarang karena tidak ada
maslahah, tapi diperbolehkan pada praktik lain mengingat adanya maslahah. Seperti, dirham
dengan dirham secara tangguh, dilarang dalam akad jual-beli (sharf), tapi diperbolehkan
dalam akad utang-piutang (qardl). Imam Syathibi menyebutkan dalil bagi karakteristik ini
bahwa muamalat didasarkan pada illat dan maqashid:
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Nisa' [4]: 29:
janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil.
Dalam Al—Qur’an Surat Al-Maidah [5]: 91:
Bahwasannya setan ingin menjerumuskan kalian dalam permusuhan dan kebencian dalam
khamr dan judi.
4. Fikih muamalat mengandung sisi permanen dan fleksibel
Dalam flkih muamalat ada bagian yang fleksibel, dinamis, dan berubah oleh perubahan illat
dan maqashid; dan ada sisi lain dari muamalat yang permanen, statis, dan tidak berubah oleh
perubahan waktu dan tempat. Sehingga muamalat menggabungkan antara fleksibilitas dan
permanen. Hukum-hukum syariat yang menjadi asas, prinsip, dan dasar bagi konstruksi
muamalat bersifat tetap, seperti saling ridha dalam akad, menepati akad, keharaman riba,
mencegah kezaliman, menjaga harta, dan sebagainya. Adapun hukum-hukum yang
merupakan wasali (sarana) atau yang dirumuskan berdasar ‘urf (adat), dimungkinkan
berubah seiring perubahan saxana dan perkembangan situasi dan kondisi. Uang, misalnya,
sebagai alat pengukur nilai, dulu berupa emas dan perak kemudian berubah menjadi logam
dan kertas. Semuanya clianggap uang yang legal, dan bila maslahah menghendaki
perubahan, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kembali.
D. Ushul Fikih Muamalat
Dalam kajian dan penelitian bidang muamalatmaupun bidang syariah lainnya, merujuk kepada
Al-Quran dan Sunnah menjadi keharusan yang bersifat mutlak. Al-Quran dan Sunnah telah
disepakati menjadi bahan primer dalam penelitian muamalat. Bagi peneliti wajib membaca dengan
teliti teks-teks Al-Quran dan Sunnah. Peneliti membutuhkan beberapa sarana (alat) diantaranya
adalah penguasaan Bahasa Arab , karya-karya para ahli tafsir dan pesyarah Hadist , serta fuqaha
(ahli fikih) dalam proses membaca rujukan utama fikih muamalat itu. Ketika membaca karya para
pendahulu hendaknya bersikap hormat kepada para ilmuwan Muslim itu. Meskipun demikian ,
bukan berarti peneliti memposisikan diri sebagai tape recorder , hanya sebagai perekam. Peneliti
patut mendayagunakan akal yang telah dianugerahkan oleh Allah, dengan syarat ia mmemiliki
piranti yang diperlukan, seperti kemampuan dalam menetapkan batasan (tahshir) ,klasifikasi
(tashnif) , dan anasisis (tahlil).
1. Al-Quran sebagai sumber utama dan doktrin teologis ajaran islam termasuk didalamnya
doktrin ekonomi islam dan praktik muamalat. Sebagai sumber yang utama dan pertama,
Al-Quran harus dinomorsatukan oleh umat Islam dalam menemukan dan menarik doktrin
atau hukum. Ayat-ayat Al-Quran didahulukan dalam menjawab permasalahan-
permasalahan yang muncul ke permukaan dalam nash-nash Al-Quran.
2. Sunnah Nabi Saw. Sebagai sumber kedua. Sunnah merupakan landasan empiris bagi
konsep-konsep Islam, mengingat sumber hukum kedua dalam Islam ini merupakan aplikasi
dan praktik dari ajaran-ajaran normatif Al-Quran, baik dalam perkataan , perbuatan
maupun ketetapan Nabi Muhammad Saw. Penggunaan Sunnah Nabi sebagai sumber kedua
ini didasarkan pada kedudukannya terhadap Al-Quran yang berfungsi sebagai berikut
(Khatib, 1989) :
a. Sunnah memperkuat apa yang telah ditetapkan oleh Al-Quran.
b. Sunnah berfungsi sebagai penjelas Al-Quran dengan cara merinci ayat-ayat Al-Quran
yang global; membatasi ayat-ayat yang mutlak; mnghkususkan ayat-ayat yang bersifat
umum dalam aplikasinya.
c. Sunnah berfungsu menetapkan hukum yang belum diatur di dalam Al-Quran.
3. Pendapat-pendapat ulama Islam yang telah memberikan pendapat-pendapat legal formal
ihwal doktrin dan hukum muamalat, maupun berupa pandangan-pandangan hukum yang
bersifat teknis yang berhubungan dengan ranah kajian muamalat.

Terhadap sumber-sumber ini langkah-langkah prosedural yang akan dilalui oleh peneliti
bidang muamalat adalah sebagai berikut:

a. Pertama , mengumpulkan teks-teks berupa ayat-ayat Al-Quran dan Hadist–Hadist Nabi


Saw. Guna menraik sejumlah aturan dan konsepsi Islam sebagai langkah awal merumuskan
teori-teori doktrinal ekonomi Islam yang bersifat umum (al-nadhariyaat al mazhabiyyah
al’ammah) atau menarik jawaban atas persoalan dan kasus yang dikaji.
b. Kedua, mengumpulkan teks-teks Al-Quran spesifik terkait dengan persoalan dan kasus
yang dikaji.
c. Ketiga , proses pengumpulkan teks-teks ini dilanjutkan dengan upaya pemahaman
terhadpanya serta upaya penyingkapan kandungannya dengan bantuan karya para ulama
dan fuqaha sebagai hasil kajian dan penelitian terdahulu.
Dalam proses memahami teks-teks ini, demi terjaganya ojektivitas dan orisinialitas itjihad
,Shadr (1991) mengingatkan beberpa hal yang harus dihindari yang teranggap sebagai
elemne-elemen subjektif (al anashir al dzatiyah) dalam proses itjihad dan delusi realitas
aktual (khida al waaqi al tathbiqi). Elemen- elemen subjektif yang dimaksud adalah sebagai
berikut :
1. Tabriru al waqi (justifikasi) yaitu melakukan pembenaran atas realitas yang keliru.
Peneliti menafsirkan suatu teks membenarkan cacat yang ditemui dalam kehidupan. Ia
memandang cacat itu sebagai keniscayaan yang tak teralakan. Kemudian ia
menyesuaikan teks (nash) tersebut dengan realitas , menakwilkan nash teks supaya
tunduk padanya. Bukan mengubah realitas supaya tunduk padanya (nash). Sebagai
contoh praktik justifikasi realitas yang keliru, bila peneliti menafsirkan dasar-dasar
pengharaman riba kemudian mengambil kesimpulan yang bersesuaian dengan realitas
bahwa, islam membolehkan riba selama bukan bunga-berbunga (compound interest).
2. Damju al nash dimna itharin khaashin (interpolasi) yaitu memasukan nash teks ke
sebuah kerangka tertentu. Peneliti telah memiliki kerangka konseptual tertentu yang
non Islam : lalu ia menggunakan kerangka berfikir itu untuk memahami nash (teks).
Bila nash (teks) itu tidak cocok, ia akan mencari nushuh (teks-teks) yang lain atau
menolak nash itu dengan mnegatakan tidak sesuai dengan akal. Misalnya , Shadr
mengutip pendapat seorang peneliti yang menolak nash yang berbunyi : lahan yang
tidak diolah oleh waliyul amri dan dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Si peneliti
sudah memiliki dikarenakan konseptual yang mengagungkan hak miliki individu, dan
menundukan nash untuk dikendalikan oleh konsumsi hak miliki tersebut.
3. Tajriidu al dalil min dhurufihi wa syuruthihi (manipulasi), yaitu melepaskan dalil syar’i
dari situai dan kondisinya. Kekeliruan ini sering kali terjadi dalam memahami sunnah-
sunnah Nabi yang dinyatakan dengan diam, tidak memberikan tanggapan positif atau
negatif atas suatu perilaku atau sikap yang terjadi masa tasyri (legalisasi islam).
Melepaska dalil syar’i dari situasidan kondisinya bisa terjadi melalui salah satu dari
bentuk berikut:
a. Melepaskan perilaku tertentu dari situasu dan kondisinya dan mengagapnya
sebagai perilaku yang terjadi pada masa tasryi. Seorang peneliti hidup dalam suatu
realitas yang didalamnya berkembang suatu perilaku terntetu. Karena demikian
mnegakar terlupakanlah faktor-faktor yang memunculkannya sehingga ia merasa
bahwa perilaku itu telah berlangsung sejak jaman Nabi Saw, padahal kenyataannya
ahir dari realitas masyarakatnya.
b. Meepaskan suatu perilaku yang terjadi pada masa tasryi dari situasi dan kondisinya
dan melakukan generalisasi dengan menerapkannya pada perilaku kontemporer
yang serupa, meskipun dijumpai perbedaan karakteristik.
4. Ittikhad’zu mauqifin mu’ayyanin bi shuratin mushabbaqatin tujaha al nash
(subjektifikasi) yaitu mengambil sikap tertentu secara prematur terhadap nash.
Seorang peneliti memiliki kencenderungan (disposisi) sendiri berkenaan dengan kasus
yang dikaji. Disposisi amat berpengaruh dalam proses memahami teks, yang sangat
dimungkinkan terjadi kekeliruan dalam istinbath (menyimpulkan hukum). Apalagi kalau
kesimpulan itu ditarik secara prematur tanpa melakukan verifikasi. Misalnya, ada dua
peneliti yang mengaji teks-teks hukum; yang satu cenderung pada sisi sosialnya dan apaun
yang berkaitan aturan-aturan dan konsep-konsep islam dengan negara, sementara yang lain
cenderung pada aturan-aturan yang berkaitan dengan praktik partikular individual.

Meskipun berhak berhati-hati terhadap intervensi unsur-unsur subjektif dalam proses


itjuhad, namun subjektifitas untuk menjadi suatu hal yang sulit dihindari. Karena itu
subjektivitas masih ditolerir selama formulasi gagasan umum dan huku itu masih mewakili
itjihad yang sah. Dimungkinkan bagi seorang peneliti memilih bentuk yang mengandug
unsur-unsur yang paling efektif dan paling kuat dalam mengatasi masalah-masalah
kehidupan (sosial, ekonomi , muamalat) dan dalam mewujudkan tujuan-tujuan islam yang
tertinggi. Inilah wilayah pilihan pribadi (ikhtiyar dzati) yang memberi para peneliti
kebebasan memilih. Tapi subjektivitas pilihan ini bukanlah kebebasan mutla, sebab
dibatasi oleh berbagai itjihad yang lain (Shadr, 1411/1991).

d. Keempat , mencari bantuan dan aturan-aturan yang merupakan hasil itjihad dari ulama
bahwa temuan-temuan ulama atau peneliti terdahulu merupakan gambaran realitas legislasi
Islam yang paling akurat dan paling aktual , apalagi temuan-temuan ini pembenaran syara’
karena merupakan hasil itjihad islam yang sah dalam koridor Al- Quran dan sunnah.
E. Maqashid Syariah Dalam Muamalat
Ajaran sosial dan muamalat Islam berorientasi pada tujuan (maqashid, goal
oriented), bahkan maqashid (tujuan-tujuan) itu menjadi inti (shamim) bagi ajaran
muamalat. Sehingga prinsip-prinsip yang mengarahkan pengorganisasian kegiatan-
kegiatan muamalat pada tingkat individu dan kolektif bertujuan untuk mencapai tujuan-
tujuan menyeluruh dalam tata sosial Islam. Dengan demikian, muamalat dalam Islam
memiliki hubungan yang kuat dengan maqashid syariah (Fasy, 1993).
Maqashid syariah adalah makna-makna, hikmah-hikmah yang dikehendaki oleh
Syari' (Allah) dalam hukum-hukumnya dalam rangka merealisasikan kemaslahatan
hamba di dunia dan akhirat (Khulaifi, 2004). Maqashid syariah merupakan salah satu
ajaran yang dengan sempurna menampilkan universalitas Islam adalah lima buah jaminan
dasar (dlaruriyat al khams) yang diberikan agama samawi terakhir ini kepada warga
masyarakat baik secara _ perorangan maupun sebagai kelompok. Kelima jaminan dasar
itu adalah: (1) hifdzu al dini, jaminan perlindungan dan keselamatan agama, (2) hifdzu al
nafsi, jaminan perlindungan dan keselamatan fisik warga masyarakat dari
tindakan badani di luar ketentuan hukum, (3) , hifdzu al nasli, jaminan perlindungan
dan keselamatan keluarga dan keturunan, (4) hzfdzu al maali, jaminan perlindungan dan
keselamatan harta benda dan hak milik, dan (5) hifdzu al aqli, jaminan perlindungan dan
keselamatan pengembangan intelektual (Syathibi, 2004).
Jaminan perlindungan dan keselamatan garna merupakan ajaran asasi agama Islarn.
Pada dasarnya setiap rnanusia mernbutuhkan kepercayaan dan keyakinan. Sejarah
peradaban manusia memberikan bukti bahwa sela1u saja dijumpai adanya tempat-tempat
ibadah atau tempat-ternpat persembahan sebagai wujud aktualisasi dari keyakinan bahwa
ada dzat di luar diri manusia yang diyakini rnerniliki otoritas atas kehidupan insan. Bagi
Islam, secara fitrah setiap manusia memiliki modal keimanan dalam dirinya. Jaminan
dasar akan keselamatan keyakinan agama bagi masyarakat melandasi hubungan antar
warga masyarakat atas dasar sikap saling hormat-menghormati, yang akan mendorong
tumbuhnya kerangka sikap tenggang rasa dan saling pengertian yang besar, lakum
diinukum wa liya dinu.
Hifdzu al nafsi atau jaminan perlindungan dan keselamatan fisik warga masyarakat
dari tindakan badani di luar ketentuan hukum. Jaminan ini mengharuskan adanya
perlakuan adil kepada semua masyarakat tanpa kecuali, sesuai dengan hak masing-
masing. Hanya dengan kepastian hukumlah sebuah masyarakat mampu mengembangkan
wawasan persamaan hak dan derajat antara sesama warganya, sedangkan kedua jenis
persamaan itulah yang menjamin terwujudnya keadilan sosial dalam arti sebenar-
benarnya.
Jaminan dasar akan keselamatan keluarga rnenampilkan sosok moral yang sangat
kuat, baik moral dalam arti kerangka etis yang utuh maupun dalam arti kesusilaan.
Kesucian keluarga dilindungi sekuat mungkin, karena keluarga merupakan ikatan sosial
paling dasar. Kesucian keluarga inilah yang melandasi keimanan yang memancarkan
toleransi dalam derajat sangat tinggi.
Jaminan dasar akan keselarnatan harta-benda (al-milk, property) merupakan sarana
bagi berkembangnya hak-hak individu secara wajar dan proporsional, dalam kaitannya
dengan hak-hak masyarakat atas individu. Masyarakat dapat menentukan kewajiban-
kewajibannya yang diinginkan secara kolektif atas masing-masing individu warga
masyarakat. Tetapi penetapan kewajiban itu ada batas terjauhnya, dan warga masyarakat
secara perorangan tidak dapat dikenakan kewajiban untuk masyarakat lebih dari batas-
batas tersebut.
Muamalat dalam Islam dalam perspektif maqashid syariahstercermin dalam
hubungan antara yang juz’i (partikular) dengan yang kulli (universal), cabang dengan
pokok. Hubungan itu dapat dirumuskan dalam tiga hal berikut:
Pertama, Muamalat dalam Islam sebagai instrumen (wasilah) untuk menciptakan
kermakmuran di muka bumi (‘imarat al ardl) yang menjadi tujuan
Islam. Muamaiat sebagai salah satu aktivitas sosial menjadi instrumen penting bagi
realisasi ayat, "Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan
karnu pernakmurnya." (Hud: 61) Memakmurkan bumi sejatinya melibatkan berbagai
instrumen di antaranya dakwah, memberantas penindasan menebarkan keadilan,
menciptakan keamanan, hingga melalui kegiatan-kegiatan muarnalat berupa transaksi-
transaksi ekonomi dan keuangan.
Kedua, aturan muarnalat sebagai instrumen (wasilah) untuk merealisasikan hifdhu
al maali (perlindungan harta) yang menjadi salah satu tujuan syariat. Bila harta menjacli
inti bagi kegiatan rnuarnalat dalam Isiarn, maka para pakar maqashid menemparkan
masalah harta sebagai maciashid Islam yang menjadi jaminan dasar yang diberikan
kepada manusia, baik perorangan rnauptin sebagai kelompok.
Ketiga, di samping menjadi instrumen perlindungan harta, muarnalat juga sebagai
sarana penting untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia sebagai
objek taklif (beban syariat) yang berkewajiban menyembah dan mengabdi kepada A11ah
-subhanahu wa ta' ala-. Muarnalat dalam Islam secara teoretis bertanggung jawab untuk
mengarahkan segala aktivitas ekonomi untuk menopang tujuan agung ubudiyah ini
dengan mengarahkan manusia menjadi homo Islarnicus, bukan homo economicus yang
bebas nilai.
Hubungan antara maqasid syariah dengan muamalat ini meniscayakan bahwa
muamalat membutuhkan analisis maqashid dalam mernbangun hukum-hukumnya.
Metode magashid ini terbentuk di atas pondasi maqashid syariah yang mengajarkan
bahwa setiap yang diciptakan dan disyariatkan oleh Allah memiliki rnagashid (tujuan).
Maka, wajib untuk memahami maqashid ini dan bertindak sesuai dengan tujuan ini.
Dengan demikian, metode ini mengajak untuk memastikan tujuan (maqashid)
, memastikan landasan, dan menjelaskan prioritas dan kelayakannya, sebelum memasuki
detail-detail tema.
F. Syariat Menjaga Harta Melalui Transaksi
Islam menjadikan hak kepemilikan yang terdefinisi dengan jelas serta terlindungi
dengan kuat sebagai bagian integral dari maqashid syariah (tujuan-tujuan syariah),yaitu al
wudluh (wel defined)atau tsubat (validitas kepemilikan harta) (Hasani,1995).Dengan
kejelasan dan validitas status ini maka suatu hak kepemilikan akan memperoleh jaminan
perlindungan secara diinan wa qadla-an (legalitas agama dan legalitas hukum positif) serta
terhindar dari konflik,perebutan,dan dlalar (tindakan merugikan).
Sebagaimana disebutkan oleh Hasani bahwa kejelasan kepemilikan menjadi syarat mutlak
bagi seluruh transaksi bahkan menjadi bagian dari maqashid syariah (tujuan-tujuan
syariah),berupa jaminan hak kepemilikan.Jaminan ini berupa kaidah-kaidah berikut:
1. Keabsahan suatu akad dibangun diatas syarat kepemilikan
2. Syariat memandang bahwa akad dan transaksi yang dilakukan oleh pemilik suatu
hak bersifat mengikat.
3. Kebebasan transaksi bagi pemilik suatu hak (asset dan harta) dengan batasan tidak
menimbulkan bahaya bagi diri sendiri,orang lain,dan agama
4. Keharusan mencegah terjadinya transaksi yang dilakukan oleh safih,(orang yang
tidak cakap mengelola hartanya)
5. Larangan muamalah yang mengandung unsur riba karena dianggap merugikan
pribadi masyarakat.
6. Tidak diperbolehkan mengambil hak milik orang lain tanpa persetujuannya (ridha)
(Hasani:1995)
Disyariatkan muamalah dalam Islam,utama muamalat secara tangguh,mengandung
maksud menjaga hak milik orang lain jangan sampai hilang atau rusak
(Karim,2001).Fuquha (pakar hukum islam) mencatat paling tidak empat cara atau
prosedur yang bisa ditempuh untuk memberikan jaminan kepemilikan atas hak yang
berbeda ditangan orang lain.
1. Kitabah (pencatatan) Prosedur ini diambil dari pesan suci,
Hai orang-orang yang beriman,apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan,hendaklah kamu menuliskannya (QS.Al-Baqarah[2]:282)
Pencatatan dianggap sebagai cara terpenting bagi bukti kepemilikan,hingga di
antara pakar hukum Islam berpendapat wajibnya pencatatan dalam transaksi-
transaksi muamalah (Hazm,2000).Manfaat dari penacatatan ini sebagaimana
disebutkan oleh Syarakhsi adalah untuk menjaga kepemilikan harta dan asset
pihak-pihak yang melakukan transaksi,menghindari konflik,gugatan,dan
perselisihan,mengantisipasi keraguan yang kadang terjadi dalam suatu perjanjian
serta guna menghindari akad-akad yang keliru dan rusak.
2. Rahn (jaminan,borg,gadai)
Rahn merupakan salah satu jenis perjanjian utang piutang .sebagi suatu
kepercayaan dari kreditor,maka debitur menggadaikan barangnya sebagai jaminan
terhadap utangnya itu.Barang jaminan tetap,milik orang yang menggadaikan
(debitur)tetapi dikuasai penerima gadai (kreditor) (Sholahuddin,2006).Selain itu
Rahn mempunyai nilai sosial yang sangat tinggi dan di lakukan secara suka rela
dan atas dasar tolong-menolong.Dengan rahn itu ini debitur memperoleh sejumlah
uang tertentu untuk digunakan menutupi kebetuhannya,dan memungkinkan
baginya memperoleh kembali rahn-nya setelah ia mengembalikan pinjaman itu.
3. Kafalah
Kafalah atau jaminan (garansi) menjadi hal penting dalam transaksi ekonomi
kontemporer.Dalam dunia usha misalnya,untuk memenuhi kebutuhan
modal,seorang pengusaha bisa enggunakan modal sendiri atau pembiayaan dari
pihak lain.Jaminan perorangan adalah suatu perjanjian antara seorang kreditor
dengan orang ketiga,yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban
debitur.Peran kalafah ini,sebagamana rahn untuk menjamin kenudahan transaksi
sehingga kreditor yang menjadi pemilik modal memperoleh kepastian jaminan
bahwa hak miliknya aman,sekalipun debitur mengalami kesulitan dalam
mengembalikan pinjamannya.
4. Syahadah (saksi)
Dasar bagi kedudukan syahadah (persaksian) sebagai bukti validitas kepemilikan
adalah berdasarkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah [2] 282:
Dan persaksikanlah dengan dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki
(diantaramu).Jika tak ada dua orang lelaki,maka (boleh) seorang lelaki dan dua
orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai,supaya jika seorang lupa maka
yang seorang mengingatkannya.
Kegunaan syahadah dalam sebuah transaksi,sebagaimana dikatakan Hammad
adalah untuk menghindari keraguan (anqa li al raib),melindungi suatu hak (abqa li
al haq) dan mencegah konflik dan pengikraran (ad’a li al tanazu) (Hammad,1990).
Setelah dipastikan adanya kejelasan kepemilikan pada seseorang,maka prinsip
syariah yang berkenaan dengan hifdhu al maal (menjaga harta milik) adalah
keharusan memberdayakan kekayaan hak milik.Metode pemberdayaan hak milik
ini dalam istilah Al-Ghazali adalah jalbi al maslahah (manfaat) dan daf’I mafsadah
(menghindari kerusakan) (Hammad,1417).Wujud dari meraih manfaat dalam
kepemilikan adalah ifnfaq (belanja) dan memanfaatkan asset untuk tujuan-tujuan
produktivitas.
Bila infaqu al maal (membelanjakan harta)menjadi fungsi utama kepemilikan,maka
menimbun harta dan menariknya dari peredaran menganugerahkan harta kepada
hamba-Nya.Infaq sejalan dengan sunnatullah sementara kanz (penimbunan harta)
berlawanan dengan sunatullah dan sekaligus kejahatan sosial (Hasani,1995)
G. Maqashid Syariah Dalam Muamalat Keuangan
Muamalat dalam Islam bersifat goal oriented, memiliki tujuan yang ingin dicapai melalui
hukum-hukumnya. Al Khulaifi (2004) menyebutkan bahwa tujuan syariah dalam muamalat
keuangan adalah sbagai berikut:
1. Mewujudkan keadilan dan mencegah kezaliman. Tujuan ini direalisasikan melalui
larangan terhadap berbagai jenis muamalat yang mengandung unsur kezaliman pada orang
lain. Muamalat dalam islam melarang riba melarang penetapan keuntungan secara fix atas
modal karena yang demikian menzalimi pihak lain.
2. Kesungguhan, kejujuran, dan transparasi. Tujuan ini dapat dicapai melalui serangkaian
muamalat yang diperintahkan sebagai bukti kesungguhan dan kejujuran. Seperti pencatatan
transaksi yang tidak tunai. Persaksian adanya jaminan, dan sebagainya.
3. Perputaran harta. Dalam islam tujuan harta adalah untuk diputar bukan didiamkan. Karena
itu islam mewajibkan zakat sebagai perputaran minimal harta dan kekayaan, melarang
mendiamkan harta, melarang ihtikar (menimbun), menetapkan hukum waris, dan
sebagainya.
4. Menjaga kebersamaan dan kerja sama. Islam mendorong kehidupan yang harmonis, padu,
dan bersatu. Islam mencegah perpecahan dan konflik dalam kehidupan sosial. Perintah
untuk kerja sama dalam kebaikan, perintah untuk berpegang pada tali agama Allah,
larangan hasad, judi, larangan menawar dagangan yang sedang ditawar crang lain, dan
sebagainya.
5. Menciptakan kemudahan-kemudahan yang diciptakan oleh islam di antaranya karakteristik
muamalat yang mmiliki hukum dasar mubah (boleh), beberapa jenis muamalat yang
diperolehkan mengingat sbg kebutuhan dan untuk mencegah kebutuhan yg mendesak.
Seperti, salam, hiwalah, gharar, dan sebagainya.
H. Simpulan
Hukum-hukum syariat islam memiliki dua ciri penting berupa ushul (pokok-pokok ajaran)
yang tertuang dalam nushush (teks-teks) Al-Qur’an dan Sunnah yang bersifat tsabitah
(permanen). Serta memiliki ciri insaniyah (kemanusiaan), berupa pemahaman kaum muslimin
(baca ulama) sbg aplikasi dari ajaran ushul yang disebut dengan fikih islam. Fikih adalah
pemahaman yang menyeluruh terhadap hukum atas persoalan-persoalan kehidupan, seperti
persoalan hubungan manusia dengan Allah (fikih ibadah), dan yang terkait dengan hubungan
sesama manusia (fikih muamalat). Muamalat yang baik adalah cerminan kebaikan agama
seseorang, bukti istiqamahnya, dan menunjukkan kesungguhannya dalam meraih ridha Allah
subhanahu wa ta’ala. Muamalat yang menjadi cermin kebaikan agama itu memiliki prinsip,
yaitu: memberi manfaat kepada diri dan orang lain: tidak merugikan diri dan orang lain,
meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Muamalat adalah hukum-hukum syara’ yang mengatur interaksi keuangan dan harta dalam
kehidupan masyarakat yang mencakup (akad) mubadalat (pertukaran) seperti jual beli dan
sewa, tabarru’at (dunasi, sosial) seperti hibah, wakaf, dan wasiat, isqathat (pengangguran),
seperti membebaskan piutang, musyarakat (kemitraan), dan tautsiqat (autentikasi,
dokumentasi), seperti rahn, kafalah, dan wakalah. Hukum muamalat dalam islam memiliki
karakter yang spesifik sebagai berikut: berbasis prinsip-prinsip umum. Al-Qur’an telah
disepakati menjadi bahan primer dalam kajian bidang muamalat yang mesti dinonor satukan
oleh umat islam dalam menemukan dan menarik doktrin atau hukum.
Landasan empiris bagi konsep0-konsep islam merupakan aplikasi dan praktik dari ajaran-
ajaran normatif Al-Qur’an, baik dalam wujud perkataan, perbuatan, maupun ketetapan Nabi
Muhammad SAW. Beberapa hal yang harus dihindari saat ijtihat adalah 1. Justifikasi yaitu
melakukan pembebaran atas realitas yang keliru. 2. Interpolasi yaitu memasukkan nash (teks)
ke sebuah kerangka tertentu. 3. Manipulasi yaitu melepaskan dalilsyar’i dari situasi dan
kondisi. Ajaran sosial dan muamalat bertujuan dari maqashid dan oriented. Maqashid syariah
adalah makna-makna, hikmah-hikmah yang dikehendaki oleh syari’ (Allah) dalam hukum-
hukumnya dan rangka merelisasikan kemaslahatan hamba di dunia dan akhirat yang berupa
jaminan dasar. Hubungan muamalat dan maqashid syariah sebagai berikut : muamalat sebagai
instrumen (wasilah) untuk menciptakan kemakmuran di muka bumi, muamalat sebagai
instrumen