Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

Terminologi (bahasa Latin: terminus) atau peristilahan adalah ilmu tentang istilah dan
penggunaannya . Patologi berasal dari bahasa yunani,pathos (penyakit atau kelainan) dan
logos (ilmu). Ilmu patologi dan kedokteran pada umumnya mengalami kemajuan pesat
dengan digunakannya mikroskop cahaya untuk mempelajari jaringan yang sakit yang
dimulai sekitar tahun 1800.

Kajian terminologi antara lain mencakup pembentukannya serta kaitan istilah dengan
suatu budaya. Ahli dalam terminologi disebut dengan juru istilah "terminologist” .
Terminologi Istilah istilah penyakit pada manusia yang harus sama erat kaitannya dengan
penetapan teknik radiografi.

Dengan mikroskop dapat memperlihatkan adanya microorganisme disekitar manusia,


dimana hal ini memberi konstribusi yang besar terhadap asumsi sebelumnya sehingga
menyangkal teori penyakit timbul secara spontan melainkan beberapa disebabkan oleh
mikroorganisme patologis berupa bakteri, parasit, dan jamur. Patologi menekankan pada
aspek aspek penyakit yang dapat diukur, seperti perubahan struktur sel, jaringan dan
organ, serta temuan laboratorium atau radiologi-Imejing.

1.2 Rumusan masalah


A. Bagaimana cara pencegahan timbulnya penyakit
B. Apa yang dimaksud termonologi patologi?
C. Proses timbulnya penyakit ?
D. Bagaimana proses penularan penyakit
E. Apa saja jenis jenis penyakit ?

1
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Terminologi patofisiologi

Pengertian terminologi :

Istilah istilah penyakit pada manusia yang harus sama erat kaitannya dengan penetapan
teknik radiograf

Pengertian patologi :

Ilmu yang mempelajari tentang penyakit dan proses yang tidak sehat disebabkan penyakit
berasal dari bahasa yunani (pathos = penderita atau penyakit, logos = ilmu). Patologi
menekankan pada aspek aspek penyakit yang dapat diukur, seperti perubahan struktur sel,
jaringan dan organ, serta temuan laboratorium atau radiologi-Imejing.

2.2 Pengertian dan Proses Terjadinya Suatu Penyakit

Menurut Wahyudin Rajab (1872), Penyakit/sakit adalah kegagalan mekanisme adaptasi


suatu organisme untuk bereaksi secara tepat terhadap rangsangan atau tekanan sehingga
timbul gangguan pada fungsi atau struktur organ atau sistem tubuh.
Sedangkan menurut Daldiyono Hardjodisastro (2006), penyakit adalah sesuatu yang
abnormal (misalnya rasa sakit) yang merugikan yang terdapat pada seseorang yang semula
sehat. Defnisi lain yang dimuat dalam Butterworth Medical Dictionary, agaknya baik untuk
dikutip disini agar pengertian tentang istilah penyakit menjadi jelas.

Penyakit adalah kondisi yang berubah dari keadaan sehat atau penyakit adalah sekumpulan
reaksi individu baik fsik maupun mental terhadap bibit penyakit (penyebab = agent) yaitu
bakteri, jamur, protozoa, virus, dan racun, yang masuk atau mengganggu individu; trauma,
kelainan metabolik, kekurangan gizi, proses degenerasi, atau kelainan sejak lahir
(kongenital).

Kajian utama epidemiologi adalah hubungan kasus klasik dengan masalah kesehatan
masyarakat, karena epidemiologi tidak mempelajari tentang rasa sakit tetapi mempelajari
tentang penyakit. Jadi penyebab penyakit adalah kejadian, kondisi, sifat ataupun kombinasi
dari faktor-faktor tersebut diatas yang berperan penting dalam kejadian penyakit.

Pemahaman tentang konsep penyebab timbulnya penyakit perlu dimiliki untuk dapat
menjelaskan bagaimana mekanisme terjadinya dan penyebarannya. Banyak model konsep
penyebab penyakit yang dikembangkan oleh para ahli, dari zaman generasi pertama
Hipocrates dengan konsep “Airs, Waters and Places”, Galen dengan konsep “Experimental
Medicine”, dan Hieronymous Fracastorius (1478-1553) dan Igmatz Semmelweis (1818-1865)
dengan konsep “Contagion Germ”.

2
Menjelang akhir abad ke-19, para pakar mengklasifkasi penyebab timbulnya penyakit
menjadi dua yaitu single causation (penyebab tunggal) dan multiple causation (penyebab
majemuk). Pemikiran para ahli pada waktu itu menuntut bahwa tiap penyakit harus dapat
ditemukan penyebabnya (kuman) yang spesifk untuk penyakit yang diderita seseorang. Para
ahli perintis teori kuman (bakteriologi) seperti Robert Koch atau Louis Pasteur mulai
mengidentifkasi jenis kuman untuk tiap jenis penyakit menular. Konsep penyebab tunggal
ini sempat berlangsung lama sampai orang mulai menyadari bahwa berkembangnya
penyakit tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengenali jenis penyebabnya saja yang
spesifk.

Proses terjadinya penyakit sebenarnya telah dikenal sejak zaman Romawi yaitu pada masa
Galenus (205-130 SM) yang mengungkapkan bahwa penyakit dapat terjadi karena adanya
faktor predisposisi, faktor penyebab, dan faktor lingkungan. (Eko Budiarto dan Dewi
Anggraeni, 2003).

A. Agen Penyakit

Agen penyakit atau faktor penyebab penyakit dapat berupa benda hidup atau mati
dan faktor mekanis, namun kadang-kadang untuk penyakit tertentu penyebabnya
tidak diketahui seperti pada penyakit ulkus peptikum, penyakit jantung koroner dan
lain-lain. Agen penyakit dapat diklasifkasikan menjadi lima kelompok yaitu :

1. Agen Biologis

Terdiri dari virus, bakteri, fungi, riketsia, protozoa dan metazoa.

2. Agen Nutrisi

Terdiri dari protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan lainnya.

3. Agen Fisik

Contohnya panas, radiasi, dingin, kelembaban, tekanan, cahaya dan kebisingan.

4. Agen Kimiawi

Dapat bersifat endogen seperti asidosis, diabetes (hiperglikemia), uremia dan bersifat
eksogen seperti zat kimia, allergen, gas, debu dan lainnya.

5. Agen Mekanis

Gesekan, benturan, pukulan yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan pada


tubuh host (pejamu)

3
B. Manusia / Pejamu

Faktor manusia sangat kompleks dalam proses terjadinya penyakit dan tergantung
pada karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing individu antara lain :

1. Umur

Menyebabkan adanya perbedaan penyakit yang diderita seperti penyakit campak


pada anak-anak, penyakit kanker pada usia pertengahan dan penyakit aterosklerosis
pada usia lanjut.

2. Jenis Kelamin

Frekuensi penyakit pada laki-laki lebih tinggi dibandingkaan pada wanita dan
penyakit tertentu seperti penyakit pada kehamilan serta persalinan hanya terjadi
pada wanita sebagaimana halnya penyakit hipertrof prostat hanya dijumpai pada
laki-laki.

3. Ras

Hubungan antara ras dan penyakit tergantung pada tradisi, adat istiadat dan
perkembangan kebudayaan. Terdapat penyakit tertentu yang hanya dijumpai pada
ras tertentu seperti sickle cell anemia pada ras Negro.

4. Genetik

Ada penyakit tertentu yang diturunkan secara herediter seperti mongolisme,


fenilketonuria, buta warna, hemoflia dan lain-lain.

5. Pekerjaan

Status pekerjaan mempunyai hubungan erat dengan penyakit akibat pekerja seperti
keracunan, kecelakaan kerja, silikosis dan lainnya.

6. Status Nutrisi

Gizi jelek mempermudah seseorang menderita penyakit infeksi seperti TBC dan
kelainan gizi seperti obesitas, kolesterol tinggi dan lainnya.

7. Status Kekebalan

Reaksi tubuh terhadap penyakit tergantung pada status kekebalan yang dimiliki
sebelumnya seperti kekebalan terhadapa penyakit virus yang tahan lama dan seumur
hidup.

8. Adat-istiadat

4
Ada beberapa adat-istiadat yang dapat menimbulkan penyakit seperti kebiasaaan
makan ikan mentah dapat menyebabkan penyakit cacing hati.

9. Gaya Hidup

Kebiasaan minum alcohol, narkoba dan merokok dapat menimbulkan gangguan pada
kesehatan.

10. Psikis

Faktor kejiwaaan seperti emosional, stress dapat menyebabkan terjadinya penyakit


hipertensi, ulkus peptikum, depresi, insomnia dan lainnya.

C. Lingkungan

Lingkungan hidup manusia pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yaitu lingkungan
hidup internal berupa keadaan yang dinamis dann seimbang yang disebut
hemostasis, dan lingkungan hidup eksternal di luar tubuh manusia. Lingkungan hidup
eksternal ini terdiri dari tiga komponen yaitu:

1. Lingkungan Fisik

Bersifat abiotik atau benda mati seperti air, udara, tanah, cuaca, makanan, rumah
panas, sinar, radiasi dan lain-lain.

2. Lingkungan Biologis

Bersifat biotik atau benda hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, virus, bakteri,
jamur, parasite, serangga dan lain-lain yang dapat berfungsi sebagai agen penyakit,
reservoir infeksi, vector penyakit atau pejamu (host) intermediate. Hubungan
manusia dengan lingkungan biologisnya bersifat dinamis dan bila terjadi
ketidakseimbangan antara hubungan manusia dengan lingkungan biologisnya maka
manusia akan menjadi sakit.

3. Lingkungan Sosial

Berupa kultur, adat-istiadat, kebiasaan, kepercayaan, agama, sikap, standard an gaya


hidup, pekerjaan, kehidupan kemasyarakatan, organisasi sosial dan politik. Manusia
dipengaruhi oleh lingkungan sosial melalui berbagai media seperti radio, TV, pers,
seni, literatur, cerita, lagu dan sebagainya. Bila manusia tidak dapat menyesuaikan
diri dengan lingkungan sosial, maka akan terjadi konflik kejiwaan dan menimbulkan
gejala psikosomatik seperti stress, insomnia, depresi dan lainnya. (Budiman Chandra,
2009).

5
2.3 Jenis-jenis Penyakit serta penyebabnya

A.Cogenital and hereditary diesase

Congenital : suatu penyakit bawaan sudah ada dalam kandungan yang disebabkan
oleh virus, bakteri, dan obat-obatan, kecelakaan waktu hamil

Hereditary : suatu penyakit yang turun menurun yang disebabkan oleh kromosom
atau genetica. Contohnya seperti bibir sumbing, asma, buta warna, hemofili.

Penyebab :

 Genetic atau kelainan kromosom

 Cidera intrauterine

 Interaksi faktor genetik dan lingkungan

 Penyakit jantung turun menurun

B. Inflammatory diesese (penyakit inflamasi dan peradangan)

Upaya tubuh untuk perlindungan diri, tujuannya adalah untuk menghilangkan


ramgsangan berbahaya, termasuk sel-sel rusak, iritasi, phatogen dan memulai proses
penyembuhan. Contohnya rematik, bronchitis akut, usus buntu akut, sinusitis akut,
tonsilitas akut, sakit tenggorokan dari pilek atau flu, goresan atau luka dikulit.

Penyebab :

 Bakteri, virus, parasit (malaria)

 Alergi

 Suatu penyakit imunitas yang menyerang diri sendiri contoh rematik

 Etiologi penyakit yang belum diketahui

 Pneumonia, hay fever, reunatroid arthritis

C. Degenerative disease (penurunan Fungsi)

Hasil dari proses berkelanjutan berdasarkan perubahan degeneratif sel, memengaruhi


jaringan atau organ, yang akan semakin memburuk dari waktu ke waktu. Contohnya
seperti pikun, ginjal, hati, arteriosklerosis

6
Penyebab :

 Generasi dari bagian tubuh

 Proses penuaan

 Pembuluh darah mengeras (arteriosklerosis) alzhaemer

D.Metabolic disease ( berhubungan dengan metabolisme tubuh)

Terganggunya proses metabolisme dalam tubuh. Contohnya seperti ginjal, diabetes,


gangguan elektrolit tubuh, addision, racun dalam darah.

E.Neoplastic disease ( pertumbuhan dimana pertumbuhan jaringan melebihi


pertumbuhan normal )

 Benign (jinak) : tidak merusak jaringan seperti kista

 Malignant (ganas) : contohnya seperti tumor bisa jadi kanker, pankreas

7
2.4 Proses Penularan Penyakit
Beberapa Cara Penularan Penyakit
1. Melalui kontak jasmani (Personal contact)
Cara penularan ini dibagi
a. Kontak langsung yaitu cara penularan penyakit karena kontak antara badan
dengan badan,antara penderita dengan orang yang ditulari, misalnya " penyakit
kelamin dan lain-lain.
b. Kontak tidak langsung yaitu cara penularan dengan perantara benda-benda
kontaminasi karena telah berhubungan dengan penderita. misalnya " pakaian dan
lain-lain.

2. Melalui makanan dan minuman (Food borne infection)


Melalui makan dan minuman yaitu cara penularan suatu penyakit melalui perantara
makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Penyakit yang menular dengan
cara ini biasanya penyakit saluran pencernaan, misalnya " cacingan, demam tifoid dan
lain-lainnya. Cara penularan ini jugadisebut sebagai (ater borne diseases) dimana
kebanyakan masyarakat menggunakan air yang tidak memenuhisyarat kesehatan
untuk keperluan rumah tangga.).

3. Melalui serangga (Artropod borne infections)


Melalui serangga yaitu cara penularang penyakit dengan perantara serangga
(arthropoda-insekta). Serangga tersebut bisa sebagai hospes ataupun transmitter saja.
Misalnya penyakit malariayang disebabkan oleh parasit Palsmodium sp yang
ditularkan oleh nyamuk.

8
4. Melalui udara (air borne infections)
Melalui udara yaitu cara penularan penyakit melalui udara terutama pada
penyakitsaluran pernafasan. Seperti melalui debu diudara yang sangat banyak
mengandung bibit penyakit, seperti pada penularan penyakit Tuberculosa. Dan melaui
tetes ludah halus (Droplet infections) penularan penykit dengan percikan ludah seperti
pada pederita yang sakit batuk atau sedang berbicara misalnya pada penyakit
Dhiphtheri

2.5 Pencegahan Timbulnya Penyakit

Salah satu kegunaan pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit adalah untuk
dipakai dalam merumuskan dan melakukan upaya pencegahan. Artinya, dengan
mengetahui perjalanan penyakit dari waktu ke waktu serta perubahan yang terjadi di
setiap masa/fase, dapat dipikirkan upaya-upaya pencegahan apa yang sesuai dan
dapat dilakukan sehingga penyakit itu dapat dihambat perkembangannya sehingga
tidak menjadi lebih berat, bahkan dapat disembuhkan. Upaya pencegahan yang
dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit itu dari waktu
ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu di bagi atas berbagai tingkat sesuai dengan
perjalanan penyakit.

Ada empat tingkat utama dalam pencegahan penyakit, yaitu :

1. Pencegahan tingkat awal (Priemodial Prevention)

· Pemantapan status kesehatan (underlying condition)

2. Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)

· Promosi kesehatan (health promotion)

· Pencegahan khusus

3. Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)

· Diagnosis awal dan pengobatan tepat (early diagnosis and prompt treatment)

· Pembatasan kecacatan (disability limitation)

4. Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)

· Rehabilitasi (rehabilitation).

9
Pencegahan tingkat awal dan pertama berhubungan dengan keadaan penyakit yang
masih dalam tahap prepatogenesis, sedangkan pencegahan tingkat kedua dan ketiga
sudah berada dalam keadaan pathogenesis atau penyakit sudah tampak.

Tingkat Pencegahan Dan Kelompok Targetnya Menurut Fase Penyakit

Tingkat pencegahan Fase penyakit Kelompok target

Primordial Kondisi normal kesehatan Populasi total dan


kelompok terpilih

Primary Keterpaparan factor Populasi total dan


penyebab khusus kelompok terpilih dan
individu sehat

Secondary Fase patogenesitas awal Pasien

Tertiary Fase lanjut (pengobatan Pasien


dan rehabilitasi)

Sumber : Beoglehole, WHO 1993

Hubungan Kedudukan Riwayat Perjalanan Penyakit, Tingkat Pencegahan Dan Upaya


Pencegahan

Riwayat penyakit Tingkat pencegahan Upaya pencegahan

Pre-patogenesis Primordial prevention Underlying condition

Primary prevention Health promotion

Specifc protection

Patogenesis Secondary prevention Early diagnosis and


prompt treatment

Disability limitation

Rehabilitation
Tertiary prevention

Sumber : Beoglehole, WHO 1993

10
Salah satu teori public health yang berkaitan dengan pencegahan timbulnya penyakit
dikenal dengan istilah 5 Level Of Prevention Against Diseases. Leavel dan Clark dalam
bukunya Preventive Medicine For The Doctor In His Community mengemukakan
adanya tiga tingkatan dalam proses pencegahan terhadap timbulnya suatu penyakit.
Kedua tingkatan utama tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :

1) Fase sebelum sakit

Fase pre-pathogenesis dengan tingkat pencegahan yang disebut pencegahan primer


(primary prevention). Fase ini ditandai dengan adanya keseimbangan
antara agent (kuman penyakit/ penyebab),host (pejamu)
dan environtment (lingkungan).

2) Fase selama proses sakit

Fase pathogenesis, terbagi dalam 2 tingkatan pencegahan yang disebut pencegahan


sekunder (secondary prevention) dan pencegahan tersier (tertiary prevention). Fase
ini dimulai dari pertama kali seorang terkena sakit yang pada akhirnya memiliki
kemungkinan sembuh atau mati.

Tingkat pencegahan penyakit:

1. Pencegahan tingkat Dasar (Primordial Prevention)

Pencegahan tingkat dasar merupakan usaha mencegah terjadinya risiko atau


mempertahankan keadaan risiko rendah dalam masyarakat terhadap penyakit secara
umum.

Tujuan primordial prevention ini adalah untuk menghindari terbentuknya pola hidup
social-ekonomi dan cultural yang mendorong peningkatan risiko penyakit . upaya ini
terutama sesuai untuk ditujukan kepada masalah penyakit tidak menular yang
dewasa ini cenderung menunjukan peningkatannya.

Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan mempertahankan kebiasaan atau


pola hidup yang sudah ada dalam masyarakat yang dapat mencegah meningkatnya
risiko terhadap penyakit dengan melestarikan pola atau kebiasaan hidup sehat yang
dapat mencegah atau mengurangi tingkat risiko terhadap penyakit tertentu atau
terhadap berbagai penyakit secara umum. Contohnya seperti memelihara cara
makan, kebiasaan berolahraga, dan kebiasaan lainnya dalam usaha mempertahankan
tingkat risiko yang rendah terhadap berbagai penyakit tidak menular.

Selain itu pencegahan tingkat dasar ini dapat dilakukan dengan usaha mencegah
timbulnya kebiasaan baru dalam masyarakat atau mencegah generasi yang sedang
tumbuh untuk tidak melakukan kebiasaan hidup yang dapat menimbulkan risiko

11
terhadap berbagai penyakit seperti kebiasaan merokok, minum alkhohol dan
sebagainya. Sasaran pencegahan tingkat dasar ini terutama kelompok masyarakat
usia muda dan remaja dengan tidak mengabaikan orang dewasa dan kelompok
manula. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pencegahan awal ini diarahkan
kepada mempertahankan kondisi dasar atau status kesehatan masyarakat yang
bersifat positif yang dapat mengurangi kemungkinan suatu penyakit atau factor risiko
dapat berkembang atau memberikan efek patologis. Factor-faktor itu tampaknya
banyak bersifat social atau berhubungan dengan gaya hidup atau pola makan. Upaya
awal terhadap tingkat pencegahan primordial ini merupakan upaya
mempertahankan kondisi kesehatan yang positif yang dapat melindungi masyarakat
dari gangguan kondisi kesehatan yang sudah baik.

Dari uraian diatas dapat dimengerti bahwa usaha pencegahan primordial ini sering
kali disadari pentingnya apabila sudah terlambat. Oleh karena itu, epidemiologi
sangat penting dalam upaya pencegahan penyakit.

2. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)

Pencegahan tingkat pertama merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang


sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit (Eko budiarto,
2001). Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) dilakukan dengan dua cara :
(1) menjauhkan agen agar tidak dapat kontak atau memapar penjamu, dan (2)
menurunkan kepekaan penjamu. Intervensi ini dilakukan sebelum perubahan
patologis terjadi (fase prepatogenesis). Jika suatu penyakit lolos dari pencegahan
primordial, maka giliran pencegahan tingkat pertama ini digalakan. Kalau lolos dari
upaya maka penyakit itu akan segera dapat timbul yang secara epidemiologi tercipta
sebagai suatu penyakit yang endemis atau yang lebih berbahaya kalau tumbuldalam
bentuk KLB.

Pencegahan tingkat pertama merupakan suatu usaha pencegahan penyakit melalui


usaha-usaha mengatasi atau mengontrol faktor-faktor risiko dengan sasaran
utamanya orang sehat melalui usaha peningkatan derajat kesehatan secara umum
(promosi kesehatan) serta usaha pencegahan khusus terhadap penyakit tertentu.
Tujuan pencegahan tingkat pertama adalah mencegah agar penyakit tidak terjadi
dengan mengendalikan agent dan faktor determinan. Pencegahan tingkat pertama
ini didasarkan pada hubungan interaksi antara pejamu (host), penyebab (agent atau
pemapar), lingkungan (environtment) dan proses kejadian penyakit.

Pejamu (host) : perbaikan status gizi, status kesehatan dan pemberian


imunisasi.

12
Penyebab (agent) : menurunkan pengaruh serendah mungkin seperti
dengan penggunaan desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi,
penyemprotan insektisida yang dapat memutus rantai
penularan.

Lingkungan (environment): perbaikan lingkungan fsik yaitu dengan perbaikan air bersih,
sanaitasi lingkungan dan perumahan.

Usaha pencegahan penyakit tingkat pertama secara garis besarnya dapat dibagi
dalam usaha peningkatan derajat kesehatan dan usaha pencegahan khusus. Usaha
peningkatan derajat kesehatan (health promotion) atau pencegahan umum yakni
meningkatkan derajat kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal,
mengurangi peranan penyebab dan derajat risiko serta meningkatkan lingkungan
yang sehat secara optimal. contohnya makan makanan bergizi seimbang, berperilaku
sehat, meningkatkan kualitas lingkungan untuk mencegah terjadinya penyakit
misalnya, menghilangkan tempat berkembang biaknya kuman penyakit, mengurangi
dan mencegah polusi udara, menghilangkan tempat berkembang biaknya vektor
penyakit misalnya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya
nyamuk Aedesatau terhadap agent penyakit seperti misalnya dengan memberikan
antibiotic untuk membunuh kuman.

Adapun usaha pencegahan khusus (specific protection) merupakan usaha yang ter-
utama ditujukan kepada pejamu dan atau pada penyebab untuk meningkatkan daya
tahan maupun untuk mengurangi risiko terhadap penyakit tertentu. Contohnya yaitu
imunisasi atau proteksi bahan industry berbahaya dan bising, melakukan kegiatan
kumur-kumur dengan larutan Flour untuk mencegah terjadinya karies pada gigi.
Sedangkan terhadap kuman penyakit misalnya mencuci tangan dengan larutan
antiseptic sebelum operasi untuk mencegah infeksi, mencuci tangan dengan sabun
sebelum makan untuk mencegah penyakit diare.

Terdapat dua macam strategi pokok dalam usaha pencegahan primer, yakni : (1)
strategi dengan sasaran populasi secara keseluruhan dan (2) strategi dengan sasaran
hanya terbatas pada kelompok risiko tinggi. Strategi pertama memiliki sasaran lebih
luas sehingga lebih bersifat radikal, memiliki potensi yang besar pada populasi dan
sangat sesuai untuk sasaran perilaku. Sedangkan pada strategi kedua, sangat mudah
diterapkan secara individual, motivasi subjek dan pelaksana cukup tinggi serta rasio
antara manfaat dan tingkat risiko cukup baik.

Pencegahan pertama dilakukan pada masa sebelum sakit yang dapat berupa :

a) Penyuluhan kesehatan yang intensif.

b) Perbaikan gizi dan penyusunan pola menu gizi yang adekuat.

13
c) Pembinaan dan pengawasan terhadap pertumbuhan balita khususnya anak-
anak, dan remaja pada umumnya.

d) Perbaikan perumahan sehat.

e) Kesempatan memperoleh hiburan yang sehat untuk memungkinkan


pengembangan kesehatan mental maupu sosial.

f) Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung jawab.

g) Pengendalian terhadap faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi timbulnya


suatu penyakit.

h) Perlindungan terhadap bahaya dan kecelakaan kerja.


Pencegahan primer merupakan upaya terbaik karena dilakukan sebelum kita jatuh
sakit dan ini adalah sesuai dengan “konsep sehat” yang kini dianut dalam kesehatan
masyarakat modern.

3. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)

Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit atau yang terancam
akan menderita penyakit tertentu melalui diagnosis dini untuk menemukan status
patogeniknya serta pemberian pengobatan yang cepat dan tepat. Tujuan utama
pencegahan tingkat kedua ini, antara lain untuk mencegah meluasnya penyakit
menular dan untuk menghentikan proses penyakit lebih lanjut, mencegah komplikasi
hingga pembatasan cacat. Usaha pencegahan penyakit tingkat kedua secara garis
besarnya dapat dibagi dalam diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis
and promt treatment) serta pembatasan cacat.

Tujuan utama dari diagnosa dini ialah mencegah penyebaran penyakit bila
penyakit ini merupakan penyakit menular, dan tujuan utama dari pengobatan segera
adalah untuk mengobati dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang
sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat. Cacat yang terjadi diatasi
terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan
terjadinya kecacatan yang lebih baik lagi.

Salah satu kegiatan pencegahan tingkat kedua adalah menemukan penderita secara
aktif pada tahap dini. Kegiatan ini meliputi : (1) pemeriksaan berkala pada kelompok
populasi tertentu seperti pegawai negeri, buruh/ pekerja perusahaan tertentu, murid
sekolah dan mahasiswa serta kelompok tentara, termasuk pemeriksaan kesehatan
bagi calon mahasiswa, calon pegawai, calon tentara serta bagi mereka yang
membutuhkan surat keterangan kesehatan untuk kepentingan tertentu ; (2)
penyaringan (screening) yakni pencarian penderita secara dini untuk penyakit yang
secara klinis belum tampak gejala pada penduduk secara umum atau pada kelompok

14
risiko tinggi ; (3) surveilans epidemiologi yakni melakukan pencatatan dan pelaporan
sacara teratur dan terus-menerus untuk mendapatkan keterangan tentang proses
penyakit yang ada dalam masyarakat, termasuk keterangan tentang kelompok risiko
tinggi.

Selain itu, pemberian pengobatan dini pada mereka yang dijumpai menderita atau
pemberian kemoproflaksis bagi mereka yang sedang dalam proses patogenesis
termasuk mereka dari kelompok risiko tinggi penyakit menular tertentu.

4. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)

Pencegahan pada tingkat ketiga ini merupakan pencegahan dengan sasaran


utamanya adalah penderita penyakit tertentu, dalam usaha mencegah bertambah
beratnya penyakit atau mencegah terjadinya cacat serta program rehabilitasi. Tujuan
utamanya adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut, seperti pengobatan dan
perawatan khusus penderita kencing manis, tekanan darah tinggi, gangguan saraf
dan lain-lain serta mencegah terjadinya cacat maupun kematian karena penyebab
tertentu, serta usaha rehabilitasi.

Rehabilitasi merupakan usaha pengembalian fungsi fsik, psikologis dan sosial


seoptimal mungkin yang meliputi rehabilitasi fsik/medis (seperti pemasangan
protese), rehabilitasi mental (psychorehabilitation) dan rehabilitasi sosial, sehingga
setiap individu dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif dan berdaya guna.

15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Termonologi adalah Istilah istilah penyakit pada manusia yang harus sama erat kaitannya
dengan penetapan teknik radiografi. Sedangkan Patologi menekankan pada aspek aspek
penyakit yang dapat diukur, seperti perubahan struktur sel, jaringan dan organ, serta
temuan laboratorium atau radiologi-Imejing.

Ada banyak Jenis-jenis penyakit umum diantaranyaseperti batuk, flu, sariawan, sembelit.
Beberapa Cara Penularan Penyakit saja bisa dari kontak jasmani, melalui serangga,
melalui udara maupun melalui makanan dan minuman.

Tapi tidak perlu khawatir karena penyakit bisa saja dicegah dengan cara hati hati dalam
Memperhatikan kebersihan masakan serta mencuci tangan sebelum makan dsb.

.3.2 saran
Untuk mendapatkan manfaat yang sempurna dari Makalah yang penulis buat ini,
hendaknya Pembaca Memberikan Kritik dan saran serta melakukan Pengkajian ulang
(diskusi) terhadap penulisan sehinga penulis terhindar dari keliruan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Diakses pada tanggal 10 maret 2019


https://www.academia.edu/32890275/MEMAHAMI_TERMINOLOGI_PATOFISIOLOGI

https://www.academia.edu/6023500/konsep_dasar_terjadinya_penyakit

https://bloguntuknegeri.wordpress.com/2014/03/24/pengertian-penyebab-penyakit-dan-faktor-
faktor-penyebab-penyakit/

http://iqummarpaung.blogspot.com/2014/05/makalah-konsep-pencegahan-penyakit.html

17